Anda di halaman 1dari 3

Penjual bersyarat (Ta'alluq)

Dalam hal ini terjadinya jual beli tersebut apabila ada dua jenis akad yang saling berkaitan, terjadinya
transaksi pertama dapat dilakukan tergantung kepada akad yang kedua. Sehingganya hal atau rukun yang
terpenting dalam akad yaitu barang atau objek masih belum terpenuhi. Contoh bentuk akad bersyarat
seperti apabila si A menerima penjualan barang jenis x kepada si B apabila si B mau menjual barang
tersebut kembali kepada si A atau dalam contoh lain si A menyatakan menjual barang X kepada si B
apabila barang X tersebut dapat di penuhi oleh si C.

Dalam hadits telah di haramkan jual beli jenis ini.

‫صللىَ ال ععلهوياه هوهسللهم هعون بهويعع هو هشور عط‬


‫نهههىَ هرلسوولل اا ه‬

"Rasulullah saw. melarang jual beli dengan syarat."

Pembelian kembali oleh penjual dari pihak pembeli (Bai' al Inah)

Adalah jenis jual beli yang apabila seseorang dalam hal ini adalah penjual pertama menjual barang
kepada pihak selanjutnya dengan keadaan kredit dengan kesepakatan bahwa barang tersebut akan
kembali di beli oleh penjual pertama dalam bentuk tunai dengan harga yang lebih kecil daripada
penjualan kredit tadi.

Bai’ Al-‘inah sendiri terjadi seolah-olah kedua belah pihak telah melakukan akan jual beli, namun bukan
tujuan untuk memperoleh barang. Melalui transaksi tersebut penjual mengharapkan uang tunai
sedangkan pihak selanjutnya atau pembeli mengharapkan kelebihan dari pembayaran.

Transaksi semacam ini telah jelas dilarang di dalam islam sesuai dengan hadits Nabi SAW. Hal ini di
karenakan untuk mencegah hal manipulasi terjadi terhadap transaksi tersebut serta menjadi wasilah
(perantara) menuju riba. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ْ‫ط ال هعلهويلكوم لذلعل لهيهونازلعهل هشوي ئ‬


‫ئ هحلتىَ تهوراجلعوواَ إاهلىَ ادوينالكوم‬ ‫ع هوتههروكلتـُلم اَولاجههاَهد هسلل ه‬ ‫ب اَولبهقهار هوهر ا‬
‫ضويتلوم اباَللزور ا‬ ‫إاهذاَ تههباَيهوعتلوم اباَولاعوينهاة هوأههخوذتلوم أهوذهناَ ه‬.

“Apabila kalian melakukan jual beli dengan cara ‘inah, berpegang pada ekor sapi, kalian ridha dengan
hasil tanaman dan kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan membuat kalian dikuasai oleh kehinaan
yang tidak ada sesuatu pun yang mampu mencabut kehinaan tersebut (dari kalian) sampai kalian
kembali kepada agama kalian.” [HR. Abu Dawud dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma].
Jual beli dengan cara Tallaqi Al-Rukban

Jual beli dengan bentuk ini di lakukan dengan cara mencegat seseorang yang hendak menjual barangnya
ke suatu tempat sebelum orang tersebut sampai dan mengetahui harga sebenarnya dari barang tersebut
di pasaran. Dalam hal ini si pencegat mengharapkan agar barang yang akan di belinya mengalami
penurunan harga dan lebih rendah daripada harga pasaran sebenarnya dengan keadaan bahwa si
penjual barang belum mengetahui harga barangnya. Cara jual beli seperti tentunya di larang dalam islam.

Rasulullah SAW, menegaskan bahwa talaqqi rukban terlarang dan diharamkan sebagaimana dalam hadis
Rasulullah SAW:

‫صللىَ ال عليه وسللهم عن تههلقىَ اَلرروكهباَن‬


‫نهههىَ اَلنبي ه‬

Yang artinya “Rasulullah SAW, melarang talaqqi rukban”

Prinsip sistem keuangan syariah

Praktik sistem akuntansi syariah sebenarnya telah ada sejak awal masa perkembangan keislaman. Hal ini
di tandai dengan beragam praktik yang terjadi di masyarakat pada masa itu. Prinsip jual beli syariah pada
masa itu menjadi salah satu titik awal perkembangan islam sekaligus menjadi sistem ekonomi yang baik.
Prinsip itu terus di pegang oleh kalangan ummat islam tepat sebelum runtuhnya kerajaan ottoman turki
pada tahun 1924. Salah satu sebab runtuhnya sistem ini adalah pengaruh sistem perbankan barat yang
mulai masuk kedalam tatanan masyarakat islam.

Praktik akan sistem ini kemudian mulai tumbuh kembali bersamaan dengan berkembangnya sistem
perekonomian islam pada tahun 1970-an. Konsep keuangan syariah "bebas bunga" (larangan riba) tidak
hanya melihat interaksi antara faktor produksi dan perilaku yang di kenal pada sistem ekonomi
konvensional, melainkan juga memadukan konsep moral serta etika yang ada dalam ajaran spiritual yang
sesuai dengan syariah.

Berikut ini adalah prinsip sistem keuangan Islam sebagaimana diatur melalui Al -- Qur'an dan As --
Sunah :

Pelarangan Riba. Riba (dalam bahasa Arab) didefinisikan sebagai "kelebihan" atas sesuatu akibat
penjualan ataupun pinjaman. Riba/Ribit (bahasa Yahudi) telah dilarang tanpa adanya perbedaan
pendapat diantara para ahli fikih. Riba merupakan pelanggaran atas sistem keadilan sosial, persamaan
dan hak atas barang.
Pembagian Risiko. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari pelanggaran riba yang menetapkan hasil bagi
pemberi modal di muka. Sedangkan melalui pembagian risiko maka pembagian hasil akan dilakukan di
belakang yang besarannya tergantung dari hasil yang diperoleh.

Menganggap uang sebagai Modal Potensial. Dalam masyarakat industri dan perdagangan yang sedang
berkembang saat ini (konvensional), fungsi uang tidak hanya sebagai alat tukar saja, tetapi juga sebaagai
komoditas (hajat hidup yang sifatnya terbatas) dan sebagai modal potensial. Dalam fungsinya sebagai
komoditas, uang dipandang dalam kedudukan yang sama dengan barang yang dijadikan sebagai objek
transaksi untuk mendapatkan keuntungan (laba).

Larangan melakukan kegiatan Spekulatif. Hal ini sama dengan pelarangan untuk transaksi yang memilliki
tingkat ketidakpastian yang sangat tinggi, judi dan transaksi yang memiliki risiko yang sangat besar.

Kesucian Kontrak. Oleh karena islam menilai perjanjian sebagai suatu yang tinggi nilainya sehingga
seluruh kewajiban dan pengungkapan yang terkait dengan kontrak harus dilakukan. Hal ini akan
mengurangi risiko dan informasi atas informasi yang asimetri dan timbulnya moral hazard.

Aktivitas usaha harus sesuai syariah. Seluruh kegiatan tersebut haruslah merupakan kegiatan yang
diperbolehkan menurut syariah. Dengan demikian, usaha seperti minuman keras, judi, peternakan babi
yang haram juga tidak boleh dilakukan.