Anda di halaman 1dari 16

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan


kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat
jalan, dan gawat darurat. Rumah Sakit Umum mempunyai misi memberikan pelayanan
kesehatan yang bermutu dan terjangkau oleh masyarakat dalam rangka meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat. Salah satu dimensi mutu pelayanan kesehatan adalah akses
terhadap pelayanan yang ditandai dengan waktu tunggu pasien ( Undang-Undang No. 44
Tahun 2009).

Pelayanan farmasi rumah sakit merupakan salah satu kegiatan di rumah sakit yang
menunjang tercapainya pelayanan kesehatan yang bermutu. Hal tersebut diperjelas
dengan keputusan Menteri Kesehatan Nomor 58 tahun 2014 tentang Standar Pelayanan
Kefarmasian di Rumah Sakit yang menyebutkan bahwa Pelayanan Kefarmasian adalah
suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan
sediaan farmasi yang meliputi obat, bahan obat, obat tradisional, dan kosmetika dengan
maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien. Untuk itu
perlu adanya standar pelayanan kefarmasian yang bertujuan untuk meningkatkan mutu
pelayanan, menjamin kepastian hukum bagi tenaga kefarmasian, dan melindungi pasien
dan masyarakat dari penggunaan obaat yang tidak rasional dalam rangka keselamatan
pasien (Permenkes, 2014).

Pelayanan obat merupakan salah satu bagian yang penting dalam penyelenggaraan
pelayanan rumah sakit dan tidak terpisahkan dari pelayanan medik keperawatan. Di
rumah sakit, pelayanan obat adalah tanggung jawab dari instalasi farmasi yang bekerja 24
jam. Kecermatan, ketepatan dan kecepatan pelayanan farmasi merupakan indikator
penting kepuasan penderita (Megawati, 2015).
Rumah Sakit Islam Banjarmasin adalah Rumah Sakit swasta bertipe C dimilki oleh
Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantn Selatan yang didirikan pada tanggal 19
Agustus 1972. Memiliki fasilitas yaitu: rawat jalan, instalasi gawat darurat (IGD), kamar
bedah (Operasi), kamar bersalin (VK), medical check-up (MCU), hemodialisa (HD),
penunjang medik, rawat inap, dan non medik,

lnstalasi Farmasi Rumah Sakit Islam Banjarmasin memiliki 4 orang Apoteker. Dalam
melakukan tugasnya Apoteker di Instalasi Farmasi Rumah Sakit dibantu oleh 20 orang
tenaga teknis kefarmasian yang terbagi dalam Instalasi Farmasi Farmasi Rawat Inap dan
Instalasi Rawat Jalan.

Standar operasional pelayanan Rumah Sakit Islam adalah penyelenggaraan pelayanan


manajemen rumah sakit, pelayanan medik, pelayanan penunjang, dan pelayanan
keperawatan baik rawat jalan maupun rawat inap yang minimal harus diselenggarakan
oleh rumah sakit Islam. Hal ini akan menjadi quality assurance (jaminan mutu) dari
kegiatan manajerial di rumah sakit, dimana jabatan mutu akan terlihat apabila sudah
dilakukan evaluasi. Standar operasional Pelayanan Rumah Sakit Islam dalam hal
peracikan obat yaitu: Waktu tunggu pelayanan resep racikan 15-30 menit.

Waktu tunggu adalah jangka waktu dari saat pasien menyerahkan resep ke Instalasi
Farmasi Rawat Jalan sampai dengan waktu pasien menerima obat dan meninggalkan
Istalasi Farmasi. Waktu tunggu pelayanan resep racikan di Rumah Sakit Islam
Banjarmasin adalah 15-30 menit.

Sehingga diperoleh informasi bahwa yang juga mempengaruhi waktu proses pelayanan
berdasarkan di Rumah Sakit Islam Banjarmasin adalah karena kurangnya keterampilan
yang dimiliki oleh petugas untuk melaksanakannya semua pekerjaan yang telah
dibebankan kepadanya. Selain itu lama proses pelayanan dirumah Sakit Islam
Banjarmasin dipengaruhi karena kurangnya sarana, fasilitas, dan SDM yang dibutuhkan
dalam melayani kebutuhan pasien. Selain itu juga di pengaruhi oleh jam sibuk pelayanan,
sedangkan resep obat racikan memerlukan waktu pelayanan yang lebih lama, hal ini
dipengaruhi oleh jam sibuk pelayanan, komponen delay, dan jumlah item obat dalam
resep.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana gambaran ketepatan waktu tunggu pelayanan obat racikan pada pasien rawat
jalan berdasarkan Standar Operasional Prosedur (SOP) di Rumah Sakit Islam
Banjarmasin

1.3 Tujuan Penelitian


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran ketepatan waktu tunggu pelayanan
obat racikan pada pasien rawat jalan berdasarkan Standar Operasional Prosedur (SOP) di
Rumah Sakit Islam Banjarmasin

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Bagi Rumah Sakit
Sebagai bahan masukan bagi pihak Rumah Sakit dalam meningkatkan kualitas
pelayanan kesehatan yang cepat, tepat, dan berkualitas.
1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai salah satu referensi bagi peneliti selanjutnya, khususnya mengenai waktu
tunggu pelayanan resep obat racikan untuk mendapatkan pelayanan kesehatn yang
baik
1.4.3 Bagi penulis
Sebagai mengaplikasikan ilmu.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Instalasi Farmasi di Rumah Sakit


2.1.1 Definisi

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 56


tahun 2014, Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara
paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan dan
rawat darurat. Tugas rumah sakit umum adalah melaksanakan
upaya kesehatan dan memberikan pelayanan kesehatan pada semua
bidang dan jenis penyakit.

Rumah sakit menurut kemampuannya di Indonesia dapat dibedakan macam, yakni:


2.1.1.1 Rumah sakit kelas A adalah Rumah Sakit yang mampu memberikan
pelayanan kedokteran spesialisasi dan subspesialisasi luas. Oleh
pemerintah rumah sakit ini telah ditetapkan sebagai tempat pelayanan
rujukan tertinggi (top referral hospital) atau disebut juga rumah sakit
pusat.
2.1.1.2 Rumah Sakit Kelas B adalah Rumah Sakit yang memberikan pelayanan
kedokteran spesialis luas dan subspesialis terbatas. Direncanakan Rumah
Sakit ini didirikan disetiap ibukota provinsi yang menampung rujukan dari
Rumah Sakit Kabupaten.

2.1.1.3 Rumah Sakit kelas C adalah Rumah Sakit yang mampu memberikan
pelayanan kedokteran spesialis terbatas. Pada saat ini ada empat macam
pelayanan spesialis yang disediakan yakni pelayanan penyakit dalam,
pelayanan bedah, pelayanan kesehatan anak serta pelayanan kebidanan
dan kandungan.
2.1.1.4 Rumah Sakit kelas D adalah Rumah Sakit yang bersifat transisi karena
pada suatu saat akan ditingkatkan menjadikan rumah Sakit kelas C. Pada
saat ini kemampuan Rumah Sakit ini hanyalah memberikan pelayanan
kedokteran umum dan kedokteran gigi.
2.1.1.5 Rumah Sakit Kelas E adalah Rumah Sakit khusu (special hospital) yang
menyelenggarakan satu pelayanan kedokteran saja, misalnya Rumah Sakit
Jiwa, Rumah Sakit Kusta, dan lain-lain. (Siregar & Amalia, 2004)

Secara umum organisasi rumah Sakit dapat dibedakan atas tiga macam kelompok:
2.1.1.1 Para kebijakan Ruamh Sakit, dikenal dengan nam dewan perwakilan
(Boards of trures). Pada saat ini untuk Rumah Sakit swasta anggota dewan
peralian umumnya para pemilik Rumah Sakit sedangkan pada awalnya
adalah wakil-wakil masyarakat.
2.1.1.2 Para pelaksana pelayanan non medis, diwakili kalangan admisnistrator.
Adapun yang dimaksud denag kalangan administrator disini adalah
mereka ysng ditunjuk oleh dewan perwakilan untuk mengelola kegiatan
Rumah Sakit. Tugas utamanya adalah mengelola kegiatan aspek non
medis.
2.1.1,3 para pelaksana pelayanan medis, diwakili oleh kalangan medis (medical
staff). Adapun yang dimaksud dengan pelaksana pelayanan medis disini
adalah mereka yang bekerja di Rumah Sakit untuk menyelenggarakan
pelayanan medis di Rumah Sakit. (Siregar & Amalia, 2004)
2.1.1.4 Ditinjau dari pemiliknya maka Rumah sakit di Indonesia dapat dibedakan
atas dua macam:
a. Rumah Sakit Pemerintah dapat dibedakan menjadi dua:
1) Pemerintah pusat, dapat dibedakan menjadi dua:
a) Dikelola Kementerian Kesehatan, seperti Rumah Sakit Dr,
Mangun Kusomo, dan Rumah Sakit Dr. Soetomo.
b) Dikelola oleh Kementerian lainnya seperti Kementerian
Pertmbangan, Kementerian Pertahanan Keamanan, dan
Kementerian perhubungan.
2) Pemerintah Daerah, sesuai dengan Undang-ndang pokok
pemerintah Daerah no 32 tahun2004, maka Rumah Sakit yang
berada di daerah dikelola oleh Pemerintah Daerah. Pengelola yang
dimaksud disini seperti keuangan, dan kebijakan, seperti
pembangunan sarana, pengadaan peralatan, dan operasionalisai
Rumah Sakit serta penetapan tarif pelayanan.

b. Rumah Sakit Swasta


Sesuai dengan Undang-Undang No 36 tahun 2009, beberapa Rumah
Sakit di Indonesia juga dikelola oleh pihak swasta. Sebagai
dibenarkannya pemilik modal telah bergerak dalam perumah sakitan,
meyebabkan mulai banyak ditemukannya Rumah Sakit Swasta yang
telah dikelola secar komersial serta yang berorientasi mencari
keuntungan Rumah Sakit (profit hospital), walaupun untuk yang
terakhir ini harus mempertahankan fungsi sosial Rumah Sakit Swasta
tersebut dan menyediakan sekurang-kurangnya 20% dari tempat
tidurnya ntuk masyarakat golongan tidak mampu (Anonim, 2008).

Instalasi farmasi di rumah sakit adalah instalasi di rumah sakit


yang dipimpin oleh seorang apoteker dan dibantu oleh beberapa
orang apoteker, tenaga ahli madya farmasi (D-3) dan tenaga
menengah farmasi (AA) yang memenuhi persyaratan peraturan
perundang-undangan yang berlaku, dan merupakan tempat atau
fasilitas penyelenggaraan yang bertanggung jawab atas seluruh
pekerjaan serta pelayanan kefarmasian yang terdiri atas pelayanan
paripurna, mencakup perencanaan, pengadaan, produksi,
penyimpanan perbekalan kesehatan, dispensing obat,
pengendalian mutu dan pengendalian distribusi dan penggunaan
seluruh perbekalan kesehatan di rumah sakit serta pelayanan
farmasi klinik (Menkes RI,2014).
2.1.2 Tugas dan Fungsi Instalasi Farmasi Rumah Sakit

2.1.2.1 Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 58 Tahun


2014 tentang standar pelayanan kefarmasian di Rumah
Sakit, tugas Instalasi Farmasi Rumah Sakit yaitu:
a. Menyelenggarakan, mengkoordinasikan, mengatur dan
mengawasi seluruh kegiatan pelayanan farmasi klinis
yang optimal dan profesional serta sesuai prosedur dan
etikprofesi.
b. Melaksanakan pengelolaan sediaan farmasi, alat
kesehatan, dan bahan medis habis pakai yang efektif,
aman, bermutu danefisien.
c. Melaksanakan pengkajian dan pemantauan penggunaan
sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis
pakai guna memaksimalkan efekterapi dan keamanan
serta meminimalkan risiko.
d. Melaksanakan komunikasi, edukasi dan informasi
(KIE) serta memberikan rekomendasi kepada dokter,
perawat dan pasien.
e. Berperan aktif dalam tim farmasi dan terapi.

f. Melaksanakan pendidikan dan pelatihan serta


pengembangan pelayanan farmasi klinis
g. Memfasilitasi dan mendorong tersusunnya standar
pengobatan dan formularium rumah sakit.

2.1.3 Fungsi Instalasi Farmasi Rumah Sakit, meliputi:

2.2.3.1 Pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai.

a. Memilih sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan


medis habis pakai sesuai kebutuhan pelayanan rumah
sakit.
b. Merencanakan kebutuhan sediaan farmasi, alat
kesehatan, dan bahan medis habis pakai secara efektif,
efisien dan optimal.
c. Mengadakan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan
bahan medis habis pakai berpedoman pada
perencanaan yang telah dibuat sesuai ketentuan yang
berlaku.
d. Memproduksi sediaan farmasi, alat kesehatan, dan
bahan medis habis pakai untuk memenuhi kebutuhan
pelayanan kesehatan di rumah sakit.
e. Menerima sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan
medis habis pakai sesuai dengan spesifikasi dan
ketentuan yang berlaku.
f. Menyimpan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan
bahan medis habis pakai sesuai dengan spesifikasi dan
persyaratan kefarmasian.
g. Mendistribusikan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan
bahan medis habis pakai ke unit-unit pelayanan di
rumah sakit.
h. Melaksanakan pelayanan farmasi satu pintu.

i. Melaksanakan pelayanan obat “unit dose”/dosis sehari.

j. Melaksanakan komputerisasi pengelolaan sediaan


farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai
(apabila sudah memungkinkan).
k. Mengidentifikasi, mencegah dan mengatasi masalah
yang terkait dengan sediaan farmasi, alat kesehatan,
dan bahan medis habis pakai.
l. Melakukan pemusnahan dan penarikan sediaan
farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai
yang sudah tidak dapat digunakan.
m. Mengendalikan persediaan sediaan farmasi, alat
kesehatan, dan bahan medis habis pakai.
n. Melakukan administrasi pengelolaan sediaan farmasi,
alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai
2.2.3.2 Pelayananfarmasiklinik.

a. Mengkaji dan melaksanakan pelayanan resep atau permintaan obat.

b. Melaksanakan penelusuran riwayat penggunaan obat.

c. Melaksanakanrekonsiliasiobat.

d. Memberikan informasi dan edukasi penggunaan obat


baik berdasarkan resep maupun obat non resep kepada
pasien/keluarga pasien.
e. Mengidentifikasi, mencegah dan mengatasi masalah
yang terkait dengan sediaan farmasi, alat kesehatan,
dan bahan medis habis pakai.
f. Melaksanakan visite mandiri maupun bersama tenaga kesehatan lain.

g. Memberikan konseling pada pasien dan/atau keluarganya.

h. Melaksanakan pemantauan terapi obat (PTO).

1) Pemantauan efek terapi obat.

2) Pemantauan efek samping obat.

3) Pemantauan kadar obat dalam darah (PKOD).


i. Melaksanakan evaluasi penggunaan obat (EPO).

j. Melaksanakan dispensing sediaan steril.


1) Melakukan pencampuran obat suntik.
2) Menyiapkan nutrisi parenteral.
3) Melaksanakan penanganan sediaan sitotoksik.
4) Melaksanakan pengemasan ulang sediaan steril yang tidak stabil.
k. Melaksanakan pelayanan informasi obat (PIO) kepada
tenaga kesehatan lain, pasien/keluarga, masyarakat
dan institusi di luar RumahSakit.
l. Melaksanakan Penyuluhan Kesehatan Rumah Sakit (PKRS).

2.2 Pelayanan Resep racikan


Resep adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, dokter hewan kepada apoteker
untuk menyediakan obat dan menyerahkan obat bagi pasien sesuai peraturan
perundangan yng berlaku. Pelayanan Resep adalah proses kegiatan yang meliputi aspek
teknis dan non teknis yang harus dikerjakan mulai dari penerimaan resep, peracikan obat
sampai dengan penyerahan obat kepada pasien. Pelayanan terhadap resep merupakan
salah satu pelayanan farmasi di rumah sakit, selain itu penyediaan sediaan farmasi dan
perbekalan farmasi untuk Rumah Sakit. Pelayanan obat bertujuan agar pasien mendapat
obat sesuai dengan resep dokter dan mendapat informasi bagaimana menggunakannya.
Pelayanan obat adalah proses kegiatan yang meliputi aspek teknis dan non teknis yang
harus dikerjakan mulai dari menerima resep dokter sampai penyerahan obat kepada
pasien (Anief, 2007).
2.2.1 Jenis-jenis Resep, berdasarkan (Joenoes 2007)

2.2.1.1 Resep standar (R/ officinalis), yaitu resep yang komposisinya telah
dibukukan dan dituangkan ke dalam buku farmakofe atau buku standar
lainnya. Penulisan resep sesui dengan buku standar.

2.2.1.2 Resep magistrales, yaitu resep yang sudah dimodifikasi atau diformat oleh
dokter, bisa berupa campuran atau tunggal yang diencerkan dalam
pelayananya harus diracik terlebih dahulu.

2.2.1.3 Resep medicinal, yaitu resep obat jadi, berupa obat paten,merek dagang
maupun, generik, dalam pelayanannya tidak mengalami peracikan. Buku
referensi : Organisasi Internasional untuk Standarisasi (ISO), Indonesia
Index Medical Specialities (IIMS), Daftar Obat di Indonesia (DOI), dan
lain-lain.

2.2.1.4 Resep obat generik, yaitu penulisan resep obat dengan nama generik
dalam bentuk sediaan dan jumlah tertentu. Dalam pelayanannya bisa atau
tidak mengalami peracikan.

2.2.2 Menurut Jas (2009), Syarat-syarat dalam penulisan resep :

a. Resep ditulis jelas dengan tinda hitam dan lengkap di kop resep, tidak ada
keraguan dalam pelayanannya dan pemberian obat kepada pasien.
b. Satu lembar copy resep hanya satu pasien
c. Signatura ditulis dalam singkatan latin jelas, jumlah takaran sendok
dengan signa bila genap ditulis angka romawi, tetapi angka pecahan ditulis
arabik.
d. Menulis jumlah wadah atau numero (No.) selalu genap, awalaupun kita
butuh atau setengah botol, harus digenapkan menjadi Fls.II saja.
e. Setelah signatura harus diparaf atau ditandatangani oleh dokter
bersangkutan, menunjukkan keabsahan atau legalitas dari resep tersebut
terjamin.
f. Jumlah obat yang dibutuhkan ditulis dalam angka romawi.
g. Nama pasien dan umur pasien.
h. Khusus untuk peresepan obat narkotik, harus ditandatangani oleh dokter
yang bersangkutan dan dicantumkan alamat pasien dan resep tidak boleh
di ulang tanpa resep dokter.
i. Tidak menyingkat nama obat dengan singkatan tidaka umum (singkatan
sendiri), karena menghindari meterial oriented.
j. Hindari tulisan sulit dibaca hal ini dapat mempersulit pelayanan.
k. Resep merupakan medical record dokter dalam praktuk dan bukti
pemberian obat kepada pasien yang diketahui oleh farmasi di apotek,
kerahasian dijaga.
2.3 Waktu Tunggu

Waktu tunggu pelayanan merupakan masalah yang masih banyak dijumpai dalam praktik
pelayanan kesehatan, dan salah satu komponen yang potensial menyebabkan
ketidakpuasan, dimana dengan menunggu dalam waktu yang lama menyebabkan
ketidakpuasan terhadap pasien. Dikaitkan dengan manajemen mutu, aspek lamanya
waktu tunggu pasien dalam mendapatkan pelayanan kesehatan merupakan salah satu hal
penting dan sangat menentukan kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan oleh suatu
unit pelayanan kesehatan, sekaligus mencerminkan bagaimana rumah sakit mengelola
komponen pelayanan yang disesuaikan dengan situasi dan harapan pasien. Dalam segi
konteks, waktu tunggu adalah masalah yang selalu menimbulkan keluhan pasien di
beberapa rumah sakit, seringkali masalah waktu menunggu pelayanan ini kurang
mendapatkan perhatian oleh pihak manajemen rumah sakit. Suatu rumah sakit
mengabaikan lama waktu tunggu dalam pelayanan kesehatannya maka secara totalitas
kualitas pelayanan rumah sakit dianggap tidak profesional dan dapat menurunkan
kepuasan pasien sekaligus keluarga pasien (Buhang, 2007).

Setiap rumah sakit pada dasarnya dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan dan
kepuasan pasien sebagai pelanggan hal ini juga berlaku di Rumah Sakit Islam
Banjaramsin. Peningkatan mutu pelayanan merupakan prioritas utama dalam sebuah
manajemen rumah sakit, salah satu dimensi mutu pelayanan kesehatan adalah akses
terhadap pelayanan yang ditandai dengan waktu tunggu pasien yang cepat (Buhang,
2007).

Waktu tunggu adalah waktu yang dipergunakan oleh pasien untuk mendapatkan
pelayanan rawat jalan dan rawat inap dari tempat pendaftaran masuk ke ruang
pemeriksaan dokter sampai mendapatakan obat (Depkes RI, 2007).

Waktu tunggu di Indonesia ditetapkan oleh Departemen Kesehatan melalui standr


pelayanan minimal. Setiap rumah sakit harus mengikuti standar pelayanan minimal
waktu tunggu ini. Standar pelayanan resep racikan di Rumah Sakit Isalam Banjarmasin
adalah 15 sampai 30 menit. Pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa waaktu tunggu
adalah waktu yang dipergunakan pasien untuk mendapatkan pelayanan kesehatan
khususnya dalam pelayanan resep racikan (Depkes RI, 2007).

Waktu tunggu pelayanan resep dibagi menjadi 2 (dua) yaitu waktu tunggu pelayanan
resep obat jadi dan waktu tunggu pelayanan resep obat racikan.
a. Waktu tunggu pelayanan resep obat jadi adalah tenggang waktu mulai pasien
menyerahkan resep sampai dengan menerima obat jadi dengan Standar Operasional
Prosedur (SOP) di Rumah Sakit Islam Banjarmasin yang ditetapkan < 15 menit.
b. Waktu tunggu pelayanan obat racikan adalah tenggang waktu mulai pasien menyerahkan
resep sampai dengan menerima obat racikan dengan Standar Operasional Prosedur (SOP)
di Rumah Sakit Islam Banjarmasin yang ditetapkan < 30 menit (Kepmenkes RI, 2008).

2.4 Peracikan Obat


Peresepan obat racikan merupakan bagian dari keputusan dokter dalam melakukan
pengobatan. Obat diracik dan dicampur untuk memenuhi kebutuhan pasien yang spesifik,
dalam hal ini demi menyediakan obat yang tidak tersedia atau tidak sesuai kriteria. Seorang
apoteker telah dilatih untuk melakukan peracikan obat sesuai dengan yang
tertera di resep (Mahuda, 2011).

2.5 Kerangka Konsep


Konsep adalah suatu realita agar dapat dikomunikasikan dalam bentuk teori yang
menjelaskan keterkaitan antara variabel, baik variabel yang diteliti maupun yang tidak
diteliti. Kerangka konsep adalah konsep yang dipakai sebagai landasan berpikir dalam
kegiatan penelitian (Nursalam, 2008).
Kerangka konsep pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

Ketepatan waktu tunggu pelayanan


obat racikan di Rumah Sakit Islam

Ket…… Waktu tunggu resep


racikan ≥ 30 menit
(tidak di teliti)
BAB 3

TINJAUAN KASUS

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

3.1.1 Tempat penelitian

Penelitian dilakukan di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Islam Banjarmasin.

3.1.2 Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2019.

3.2 Gambaran Umum Kasus

Berdasarkan jenis penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pengambilan data
secara retrospektif. Metode deskriptif merupakan suatu metode penelitian yang dilakukan
dengan tujuan utama membuat gambaran atau deskrisi tentang suatu keadaan secara
objetif (Notoatmodjo, 2010). Pengambilan data secara retrospektif berupa pengamatan
terhadap peristiwa-peristiwa yang telah terjadi bertujuan untuk mencari faktor yang
berhubungan dengan penyebab. Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengamatan
langsung yaitu dengan melihat nama pasien di resep dan mencatat waktu tunggu resep
masuk sampai pasien menerima obat dan meninggalkan Instalasi, menghitung waktu
tunggu resep racikan menggunakan alat bantu jam serta buku catatan dan alat tulis.

Berdasarkan penelitian dilakukan pada bulan Mei di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Islam
Banjarmasin. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi waktu tunggu pelayanan resep
racikan di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Islam Banjarmasin. Dimana peneliti melihat
nama pasien dan menghitung waktu pada saat pasien mulai menyerahkan resep sampai
dengan pasien menerima obat dan meninggalkan Instalasi. Waktu tunggu pelayanan obat
racikan adalah tenggang waktu mulai pasien menyerahkan resep sampai dengan
menerima obat racikan yaitu berdasarkan Standar Operasional Prosedur (SOP) di Rumah
Sakit Islam ≤ 30 menit, kemudian dari hasil penelitian dibuat persentase dengan rumus
sebagai berikut:

𝐹
P = 𝑁 X 100%

Keterangan:

P : Jumlah presentase

F : Jumlah sesuai/tidaks esuai

N : Jumlah seluruh sampel

Tabel 3.3 Format pengambilan data

No Nama Pasien Resep racikan Waktu (menit)