Anda di halaman 1dari 7

Pengganti Praktikum Hari, tanggal : Selasa, 10 Agustus 2019

Biokimia Umum Waktu : 11.00-13.00


PJP : Ukhradiya M. Safira M,si

PROTEIN II

Kelompok 3 :
Wahyu Febry N (J3l118142)

PROGRAM STUDI ANALISIS KIMIA


SEKOLAH VOKASI
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2019
Keracunan Logam Berat di Cina
Cina sering dikritik karena tidak memperhatikan standar keamanan
kerja, di pabrik dan luar pabrik. Menanggapi laporan terbaru mengenai
pekerja yang keracunan logam berat merkuri, juru bicara pabrik Foshan
Electrical and Lighting berkilah bahwa banyak pekerja enggan menggunakan
masker pelindung ketika bekerja dengan cairan air raksa.
Profesor Michael Lentze dari pusat pengawasan bahan beracun di
Jerman mengatakan, tindakan itu dapat sangat berbahaya. Katanya, "Anda
dapat keracunan karena menghirup uap air raksa. Jadi pekerja di kawasan
industri, ketika mereka bekerja dengan air raksa, cairannya dapat menguap
dan jika Anda tidak menggunakan masker di wajah, Anda akan menghirup
uap air raksa dan dapat keracunan."
Lentze menambahkan, air raksa dapat masuk ke dalam tubuh lewat
konsumsi air yang tercemar langsung limbah industri atau bahkan akibat
memakan kerang, karena banyak polutan beracun dan berbahaya yang
dibuang ke laut. Keracunan logam berat dapat mengakibatkan dampak serius
pada tubuh. Lentze menjelaskan, "Keracunan air raksa berdampak pada ginjal
dan otak, dan karenanya dapat mengakibatkan gangguan jaringan syaraf."
Keracunan logam berat bukanlah hal baru di Cina. Sejak Agustus
2009, seluruhnya 3000 anak dilaporkan keracunan timah hitam atau timbal.
Ada pula yang keracunan timbal akibat penggunaan bensin yang mengandung
timbal. Unsur timbal masuk ke dalam tubuh akibat terhirup atau merasuk
lewat kulit. Profesor Lentze menjelaskan, "Timah hitam atau timbal sangat
beracun bagi tubuh. Zat itu meracuni otak, jantung, hati dan ginjal."
Keracunan logam berat dapat pula mengakibatkan rasa cemas
berlebihan, menurunnya daya ingat, dan kerusakan otak. Terdapat beberapa
metode pengobatan untuk membersihkan tubuh dari unsur beracun tersebut,
namun jika keracunan itu terdeteksi dini. Namun pencegahan tentu lebih baik
dari pengobatan.
Direktur organisasi perlindungan lingkungan WWF untuk Cina,
Dermot O'Gorman, menjelaskan, "Apa yang kita lihat beberapa dasawarsa
terakhir ketika Cina berubah menjadi pusat industri dunia, dalam artian
produksi barang murah, juga telah menimbulkan banyak masalah lingkungan.
Yang terlihat tidak hanya polusi air dan masalah polusi lainnya. Tapi saya
pikir kita saat ini sedang melihat upaya pemerintah pusat untuk membersihkan
lingkungan. Tapi masih banyak tantangan pada tingkatan provinsi dalam
menerapkan peraturan perlindungan lingkungan, dan menurut saya
tantangannya masih banyak saat ini."
Lingkungan hidup di Cina menanggung beban paling berat dari
pembangunan pesat ekonomi negara tirai bambu tersebut. Apalagi karena
pemerintah sangat berorientasi pada hasil sesaat dan mengabaikan dampak
lingkungan. Namun, terdapat bukti bahwa pembangunan ekonomi dapat
bersanding dengan produksi ramah lingkungan, dan Cina juga berupaya
melakukannya.
Sarah Berning/Luky Setyarini
Editor: Agus Setiawan

1. Pendahuluan

Merkuri atau air raksa (Hg) adalah salah satu jenis logam sebagai
senyawa organic dan anorganik yang banyak dtemukan di alam dan
tersebar dalam batu- batuan, biji tambang, tanah, air, dan udara (BPOM,
2004). Merkuri (Hg) merupakan logam yang dalam keadaan normal
berbentuk cairan dengan warna abu-abu dan tidak berbau (BPOM, 2004).
Merkuri memiliki sifat mudah menguap pada suhu ruangan dan dapat
memadat pada tekanan 7.640 Atm. Merkuri juga dapat larut dalam asam
sulfat atau asam nitrit, tetapi tahan terhadap basa. Sifat kimia dari merkuri
yang lainnya adalah merkuri memiliki nomor atom 80 dengan berat atom
200,59 g/mol. Selain itu, merkuri mempunyai titik lebur -38,9oC dan titik
didih sebesar 356,6oC. Menurut WHO dan UNEP (2008), kadar merkuri
normal dalam darah rata- rata berkisar antara 5-10 mg/L, untuk rambut
berkisar antara 1-2 ppm, sedangkan untuk urin konsentrasi merkuri
maksimum adalah 50 mg/g kreatinin. Menurut EPA (2007), dosis letal
akut merkuri inorganik untuk orang dewasa adalah 1-4 gram atau 14-57
mg/kg berat badan untuk seseorang yang memiliki berat badan sebesar 70
kg. Sedangkan, dosis letal minimum metilmerkuri untuk seseorang yang
memiliki berat badan sebesar 70 kg adalah berkisar antara 20-60 mg/kg
berat badan. Widowati et.al. (2008)

2. Pengaruh Toksisitas Merkuri dalam tubuh

Pengaruh toksisitas merkuri terhadap manusia tergantung dari


bentuk komposisi merkuri, rute masuknya kedalam tubuh dan lamanya
terpajan. Toksisitas uap merkuri pada tubuh melalui saluran pernafasan
biasanya menyerang sistem syaraf pusat, sedangkan toksisitas kronik
dapat menyerang ginjal (Darmono, 2001; Iman .R, 2005). Pekerja yang
peka dan terpajan dengan uap merkuri sebesar 0,05 mg/m3 di udara
secara terus-menerus, dapat menimbulkan gejala nonspesifik berupa
neuroasthenia. Menurut ATSDR (2011), merkuri dapat menembus
darah-otak dan plasenta. Diketahui pula bahwa pada anak-anak
peningkatan risiko toksisitas pada paru-paru mungkin terjadi dan dapat
berkembang menjadi gangguan dalam pernafasan (sulit bernafas). (Idris,
1998)

Menurut Silalahi (2005), Hg berpengaruh terhadap proses


ateroskelorsis (penyempitan dan penebalan pembuluh darah) karena Hg
dapat membentuk radikal bebas yang dapat merusak sel. Kandungan
merkuri tinggi, yaitu sebesar > 2,0 mg/g pada rambut pria dewasa dapat
berkolerasi dengan peningkatan risiko PJK, dan atau infarksi miokardial
2-3 kali lipat dibandingkan dengan yang memiliki kandungan merkuri
rendah.

Apabila logam Merkuri Inorganik masuk kedalam tubuh, makan


protin didalam tubuh akan mengalami denaturasi. Denaturasi adalah
proses yang mengubah struktur molekul tanpa memutuskan ikatan
kovalen. Proses ini bersifat khusus untuk protein dan mempengaruhi
protein yang berlainan sampai tingkat yang berbeda pula. Denaturasi
dapat terjadi oleh berbagai penyebab, yang paling penting ialah bahang
(pemanasan), ph, garam, dan pengaruh permukaan. Denaturasi biasanya
dibarengi oleh hilangnya aktivitas biologi dan perubahan yang berarti
pada beberapa sifat fisika dan fungsi seperti kelarutan. (Sudarmaji et.al.
2006.)

3. Penyebab Merkuri Dapat Masuk kedalam Tubuh

A. Adsorbsi Merkuri

Untuk merkuri elemental (Hg0) tidak diabsorbsi secara signifikan


atau diubah oleh sistem pencernaan manusia. Akan tetapi, untuk paparan
melalui inhalasi penyerapan Hg0 terjadi secara efisien dan cepat melalui
paru-paru karena sekitar 80% dari uap yang terhirup akan diserap oleh
jaringan paru-paru (UNEP dan WHO, 2008). Di dalam darah, merkuri
terdapat pada plasma dan sel darah merah. Sebagian Masuk ke jaringan
otak tanpa teroksidasi, dan sebagian lagi mengalami oksidasi dalam
bentuk ion dan berakumulasi di ginjal. Untuk merkuri elemental dan
organik cenderung berakumulasi di syaraf, sedangkan merkuri anorganik
di ginjal (Matsuo et al., 1989; W. Hartono, 2003). Merkuri elemental
memiliki sifat larut dalam lemak yang tinggi. Karena sifatnya tersebut,
maka merkuri elemental dengan mudah dapat melewati sawar otak dan
plasenta (BPOM 2004).

B. Eksresi

Merkuri ionik utamanya diekskresikan melaui urin dan tinja,


tetapi dapat pula melalui ASI. Sedangkan, untuk metil merkuri, ekskresi
utama melalui feses, rambut dan kurang dari sepertiga dari total ekskresi
melalui urin, tetapi dapat pula melalui ASI dengan kadar yang lebih
rendah (UNEP dan WHO, 2008). Pada proses ekskresi yang terjadi
sangat dipengaruhi dengan waktu paruhnya. Adapun pengertian waktu
paruh yang dimaksud adalah waktu yang dibutuhkan untuk ekskresi
sehingga mencapai separuh kadar yang ada di dalam tubuh. Waktu paruh
merkuri secara biologik sekitar 60 hari atau antara 35-90 hari (W.
Hartono, 2003). Pengeluaran merkuri terutama dalam bentuk urine dan
feses memiliki waktu paruh 40-60 hari. Empedu dan feses merupakan
jalur utama ekskresi metil merkuri yang memiliki waktu paruh sekitar 70
hari (Cakrawati, 2002).

4. Penanggulangan dan Pencegahan Masuknya Merkuri kedalam Tubuh

Penanggulangan masuknya logam berat merkuri kepada pekerja


ialah dengan pemberian APD (Alat Pelindung Diri) kepada setiap
pekerja, pemberian alat pertolongan pertama apabila terkontaminasi,
penerapan dan penekanan untuk setiap kegiatan yang berisiko
terkontaminasi logam berat selama bekerja dan pemberian materi
sebelum bekerja tentang bahaya logam berat apabila terkontaminasi

5. Simpulan

Dapat disimpulkan bahwa logam berat berbahaya untuk tubuh


karena logam berat dapat menyebabkan denaturasi protein sehingga
menyebabkan susunan structural berubah tanpa mengubah ikatan
sehingga dapat mengubah suatu protein kedalam fungsi yang berbeda.
6. Daftar Pustaka

BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia). 2004.


Info POM. Jurnal Vol. 5, No. 4, Juli 2004.

Widowati, Wahyu, et. al. 2008. Efek Toksik Logam: Pencegahan dan
Penanggulangan Pencemaran. Yogyakarta(ID).

Idris, Fachmi. 1998. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kadar


Merkuri dalam Urin Perawat Gigi Puskesmas di Wilayah Jakarta
Selatan. Depok(ID). [Tesis Universitas Indonesia].

Silalahi, Jansen. Merkuri dan Pencemaran Lingkungan. Jurnal Kedokteran


dan Farmasi Medika, Vol. XXXI, No. 3 Agustus 2005: h. 525-528.

Sudarmaji et.al. 2006. Toksikologi Logam Berat B3 dan Dampaknya


Terhadap Kesehatan. Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.2, No.2,
Januari 2006: 129- 142.

Cakrawati, Cucu. 2002. Analisis Faktor Karakteristik Responden dan


Kebiasaan Makan Ikan terhadap Kadar Merkuri dalam Rambut pada
Masyarakat Kota Pontianak Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2000.
Depok(ID). [Tesis Universitas Indonesia]