Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN ELECTROCONVULSIVE THERAPY (ECT)

Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas praktik klinik keperawatan 2

Disusun oleh :
Kelompok G
1. Aziz Margo Widodo :17603021
2. Esa Oktasya :17613018
3. Laylatul Dewi Ayu :17613068
4. Leli Handriyani :17613008
5. Zesi Armila N :17613054

PROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONOROGO
2020
A. PENGERTIAN

ECT adalah suatu tindakan terapi dengan menggunakan aliran listrik dan

menimbulkan kejang pada penderita baik tonik maupun konik yaitu bentuk terapi

pada klien dengan mengalirkan arus listrik melalui elektroda yang ditempelkam

pada pelipis klien untuk membangkitkan kejang grandmall (Riyadi, 2009).

Terapi Kejang Listrik adalah suatu terapi dalam ilmu psikiatri yang dilakukan

dengan cara mengalirkan listrik melalui suatu elekktroda yang ditempelkan di

kepala penerita sehingga menimbulkan serangan kejang umum (Mursalin, 2009).

Terapi elektrokonvulsif (ECT) merupakan suatu jenis pengobatan somatik

dimana arus listrik digunakan pada otak melalui elektroda yang ditempatkan pada

pelipis. Arus tersebut cukup menimbulkan kejang grand mal, yang darinya

diharapkan efek yang terapeutik tercapai (Taufik, 2010).

Terapi kejang listrik merupakan alat elektrokonvulsi yang mengeluarkan

listrik sinusoid dan ada yang meniadakan satu fase dari aliran sinusoid itu

sehingga pasien menerima aliran listrik (Maramis, 2004).

ECT (Elektro konvulsi Terapi) merupakan suatu tindakan memberikan aliran

listrik untuk menimbulkan kejang. ECT dengan anestesi (MECTA) adalah terapi

ECT dengan anestesi umum (SOP RSJD Surakarta).

B. INDIKASI

1. Pasien dengan penyakit depresif mayor yang tidak berespon terhadap

antidepresan atau yang tidak dapat meminum obat (Stuard, 2007). Menurut

Tomb (2004) gangguan afek yang berat: pasien dengan gangguan bipolar, atau

depresi menunjukkan respons yang baik dengan ECT. Pasien dengan gejala
vegetatif yang jelas cukup berespon. ECT lebih efektif dari antidepresan untuk

pasien depresi dengan gejala psikotik. Mania juja memberikan respon yang baik

pada ECT, terutama jika litium karbonat gagal untuk mengontrol fase akut.

2. Pasien dengan bunuh diri akut yang cukup lama tidak menerima pengobatan

untuk mencapai efek terapeutik (Stuard, 2007). Menurut Tomb (2004), pasien

bunuh diri yang aktif dan tidak mungkin menunggu antidepresan bekerja.

3. Ketika efek samping Electro Convulsive Therapy yang diantisipasi kurang dari

efek samping yang berhubungan dengan blok jantung, dan selama kehamilan

(Stuard, 2007).

4. Gangguan skizofrenia: skizofrenia katatonik tipe stupor atau tipe excited

memberikan respons yang baik dengan ECT. Cobalah antipsikotik terlebih

dahulu, tetapi jika kondisinya mengancam kehidupan (delyrium hyperexcited),

segera lakukan ECT. Pasien psikotik akut (terutama tipe skizoaktif) yang tidak

berespons pada medikasi saja mungkin akan membaik jika ditambahkan ECT,

tetapi pada sebagian besar skizofrenia (kronis), ECT tidak terlalu berguna

(Tomb, 2004).

C. KONTRAINDIKASI

Tidak ada kontraindikasi yang mutlak. Pertimbangkan resiko prosedur dengan

bahaya yang akan terjadi jika pasien tidak diterapi. Penyakit neurologik bukan

suatu kontraindikasi

1. Resiko sangat tinggi:

a) Peningkatan tekanan intrakranial (karena tumor otak, infeksi sistem saraf

pusat), ECT dengan singkat meningkatkan tekanan SSP dan resiko herniasi

tentorium.
b) Infark miokard.: ECT sering menyebabkan aritmia berakibat fatal jika terdapat

kerusakan otot jantung, tunggu hingga enzim dan EKG stabil.

2. Resiko sedang:

a) Osteoatritis berat, osteoporosis, atau fraktur yang baru, siapkan selama terapi

(pelemas otot) dan ablasio retina.

b) Penyakit kardiovaskuler (misalnya hipertensi, angina, aneurisma, aritmia),

berikan premedikasi dengan hati-hati, dokter spesialis jantung hendaknya ada

disana.

c) Infeksi berat, cedera serebrovaskular, kesulitan bernafas yang kronis, ulkus

peptik akut, feokromasitoma (Tomb, 2004).

D. LETAK PENEMPELAN ELEKTRODA

1. ECT Bilateral
Posisi untuk elektroda pada ECT bilateral diilustrasikan pada Gambar

2.7-1 (A). Pusat elektroda harus 4 cm di atas, dan tegak lurus, titik tengah dari

garis antara sudut lateral mata dan meatus auditori eksternal. Satu elektroda

diletakkan untuk setiap sisi kepala, dan posisi ini disebut sebagai ECT

temporal. (Beberapa penulis menyebut ECT frontotemporal.) Ini merupakan

posisi yang direkomendasikan untuk elektroda ECT bilateral karena ini telah

menjadi posisi standar dan tidak dapat diasumsikan bahwa temuan penelitian

terbaru dapat diekstrapolasi untuk posisi lainnya di ECT bilateral . Ada

eksperimen lain untuk posisi elektroda di ECT bilateral yaitu ECT frontal, di

mana jarak elektroda hanya sekitar 5 cm (2 inci) dan masing-masing sekitar 5

cm di atas jembatan hidung. Sebuah modifikasi lebih baru di mana elektroda

diterapkan lebih lanjut selain telah diteliti karena para peneliti menyarankan

bahwa berkhasiat sebagai ECT bilateral tradisional, tetapi dengan risiko yang
lebih rendah dari efek samping kognitif. Inggris ECT Review Group (2003)

tidak menemukan perbedaan yang signifikan antara ECT tradisional dan ECT

bilateral baik dalam kemanjuran klinis atau efek samping kognitif.

Gambar 2.7 Posisi elektroda temporal (A) atau posisi temporopariental /

Elia’s positioning (B)

2. ECT Unilateral

Posisi Elia, di mana salah satu elektroda dalam posisi yang sama seperti

dalam ECT bilateral tradisional dan lainnya diaplikasikan di atas permukaan

parietal dari kulit kepala. Posisi yang tepat pada busur parietal tidak penting,

tujuan adalah untuk memaksimalkan jarak antara elektroda untuk mengurangi

arus listrik dan untuk memilih situs di mana busur elektroda dapat diterapkan

dengan tegas dan datar terhadap kulit kepala. ECT unilateral biasanya

diaplikasikan di atas belahan non-dominan, yang merupakan sisi kanan

kepala di kebanyakan orang . Ini adalah posisi yang dianjurkan dalam ECT

unilateral karena ini telah menjadi standar, dan tidak dapat diasumsikan

bahwa temuan penelitian terbaru dapat diekstrapolasi untuk posisi lainnya.

Telah ditulis bahwa ECT unilateral adalah pengobatan yang lebih sulit untuk

dilakukan. Hal ini terjadi jika dokter yang menangani dibiarkan sendirian.
Posisi tradisional elektroda di ECT unilateral diilustrasikan pada gambar 2.7-

1 (B). Posisi ini biasanya disebut sebagai kepala temporoparietal atau d'ient's

head. ECT unilateral dapat lebih efektif bila dilihat sebagai tanggung jawab

bersama dari tim klinik ECT. Beberapa dokter anestesi secara rutin meminta

pasien untuk mengaktifkan ke sisi kiri sebelum induksi anestesi. Bantuan

perawat atau anggota staf anestesi sangat penting untuk melakukan tugas

memutar kepala pasien.

E. PERALATAN DAN OBAT

1. Mesin ECT lengkap

2. Tempat tidur datar beralasan papan

3. Suction

4. Handscoon

5. Gel

6. Spatel karet

7. Bengkok

8. Spuit

9. Kassa

10. Tabung oksigen

11. Monitor bed side

12. OPA

13. IV line

14. Infus : Ringer Lactat atau NaCl

15. Elektroda

16. Bantal pengganjal

17. Obat : Propovol 60 mg, Artacurium 0,3-0,5 mg/ kg, atropin 0,4-0,8 mg IV
F. PROSEDUR PELAKSANAAN

1. Petugas memperkenalkan diri pada pasien.

2. Melakukan Cek in (Cek identitas, inform consent tindakan MECTA, inform

consent anesthesi, mengisi lembar transfer internal dan cek pemeriksaan

penunjang)

3. Memberikan penjelasan tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan

4. Mengganti baju pasien dengan baju MECTA

5. Menimbang berat badan pasien

6. Dokter operator dan dokter anestesi memeriksa pasien untuk memastikan

kondisi pasien dan keadaan umum

7. Menghidupkan power bed side monior, mesin anestesi dan mesin ECT

pastikan alat sudah terkalibrasi dan siap digunakan.

8. Mengecek alat dan obat emergency siap tersedia.

9. Lakukan cuci tangan dengan benar dan petugas memakai APD

10. Atur posisi pasien tidur terlentang

11. Masukkan identitas pasien pada layar monitor mesin ECT

12. Pasang elektrode EEG, EKG, elektroda bilateral temporal, dan bed side

monitor pasien.

13. Memastikan kondisi pasien stabil dengan tanda vital dalam batas normal

14. Memastikan Airway paten dan hemodinamik stabil..

15. Pasang IV line sesuai ukuran, berikan cairan RL, NaCl 0,9 % atau cairan lain

sesuai klinis.

16. Lakukan Time Out

17. Masukkan premedikasi Sulfas Atropin 0,01 mg/kgBB, Midazolam 0.07

mg/kgBB, dan Ondancentron 4 mg jika diperlukan sesuai klinis.


18. Membuka flowmeter Okseigen 6-8 lpm untuk pre-oksigenasi

19. Masukkan agen induksi intravena Propofol 1-3 mg/kgBB IV.

20. Masukkan pelumpuh otot Atracurium dosis 0,1 mg/kg BB.

21. Buka Agen Inhalasi Sevoflurane 2-4 vol % untuk induksi inhalasi

22. Lakukan bantuan nafas dengan face mask 12-16x / menit

23. Tunggu sampai otot pernapasan rilek, pasien tertidur dalam dan onset obat

anestesi tercapai

24. Pasang mouth gage, ganjal bahu menggunakan bantal dan posisikan kepala

pasien hiper-ekstensi

25. Pastikan lampu indikator stimulus menyala, grafik EEG dan EKG terbaca di

layar mesin ECT kemudian operator menekan tombol stimulus kontrol sesuai

dosis energy pada mesin ECT monitor

26. Lepaskan tombol stimulus setelah timbul kejang pada otot wajah

27. Tunggu grafik EEG yang keluar dari mesin ECT sampai kejang berakhir dan

tekan tombol off.

28. Setelah kejang otot wajah berakhir, gantikan mouth gage dengan

Oropharingeal Airway sesuai ukuran.

29. Lakukan bantuan nafas dengan face mask sampai pasien mampu bernafas

spontan dan adekuat.

30. Lakukan suction jika terjadi peningkatan sekret.

31. Lakukan observasi keadaan umum pasien sampai pasien sadar

32. Pindahkan pasien ke ruang pemulihan sampai keadaan umum baik

33. Berikan O2 dengan nasal kanul 2-3 Lpm untuk maintenance sampai nafas

adekuat.
34. Jika alderete skore ≥ 8, Lepas IV line dan pasien diperbolehkan pindah ke

ruangan.

35. Ganti baju pasien, rapikan peralatan dan matikan alat.

36. dokumentasikan selama proses tindakan meliputi : dosis, waktu, tanda vital,

dan tanda tangan penanggung jawab.

Sumber : Tindakan Ect Dengan Anestesi (Mecta), Rs. Jiwa Daerah


Surakarta : 2018

G. TAHAPAN KEJANG

1. Laten

Bola mata bergetar

2. Tonik

Peningkatan mendadak tonus otot wajah dan tubuh bagian atas, fleksi lengan

dan ekstensi tungkai. Mata dam kepala berputar ke satu sisi, dapat

menyebabkan henti napas

3. Klonik

Gerakan menyentakak, repetitive, tajam, lambat dan tunggal di daerah tungkai

ataupun lengan

4. Apnea

Tak bernafas

5. Sadar

Pasien sadar

6. Tidur

Pasien tidur kurang lebih 2-3 jam


H. PERAN PERAWAT

1. Peran Perawat Dalam Persiapan Klien Pra ECT

a. Anjurkan pasien dan keluarga untuk tenang dan beritahu prosedur tindakan

yang akan dilakukan.

b. Lakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium untuk mengidentifikasi adanya

kelainan yang merupakan kontraindikasi ECT. Lengkapi anamnesis dan

pemeriksaan fisik, konsentrasikan pada peme¬riksaan jantung dan status

neurologic, pemeriksaan darah perifer lengkap, EKG, EEG atau CT Scan jika

terdapat gambaran Neurologis tidak abnormal. Hal ini penting mengingat

terdapat kontraindikasi pada gangguan jantung, pernafasan dan persarafan.

c. Siapkan surat persetujuan tindakan/informed consent

d. Klien dipuasakan 6 jamuntuk makanan pada dan 4 jam untuk makanan basah

sebelum tindakan.

e. Lepas gigi palsu, lensa kontak, perhiasan atau jepit rambut yang mungkin

dipakai klien.

f. Klien diminta untuk mengosongkan kandung kemih dan defekasi.

g. Klien jika ada tanda ansietas, berikan 5 mg diazepam IM 1-2 jam sebelum

ECT.

h. Jika klien menggunakan obat antidepresan, antipsikotik, sedatif hipnotik, dan

antikonvulsan, harus dihentikan sehari sebelumnya. Litium biasanya

dihentikan beberapa hari sebelumnya karena beresiko organik.

i. Premedikasi dengan injeksi SA (sulfatatropin) 0,6-1,2 mg setengah jam

sebelum ECT. Pemberian antikolinergik ini mengendalikan aritmia vagal dan

menurunkan sekresi gastrointestinal (Riyadi, 2009).


2. Peran perawat post ect

Berikut adalah hal-hal yang harus dilakukan perawat untuk membantu klien

dalam masa pemulihan setelah tindakan ECT dilakukan yang telah dimodifikasi

dari pendapat Stuart (2007) dan Townsen (1998). Menurut pendapat Stuart

(2007) memantau klien dalam masa pemulihan yaitu dengan cara sebagai

berikut:

1. Bantu pemberian oksigen dan pengisapan lendir sesuai kebutuhan.

2. Pantau tanda-tanda vital.

3.Setelah pernapasan pulih kembali, atur posisi miring pada pasien sampai

sadar. Pertahankan jalan napas paten.

4. Jika pasien berespon, orientasikan pasien.

5.Ambulasikan pasien dengan bantuan, setelah memeriksa adanya hipotensi

postural.

6. Izinkan pasien tidur sebentar jika diinginkannya.

7. Berikan makanan ringan.

8. Libatkan dalam aktivitas sehari-hari seperti biasa, orientasikan pasien sesuai

kebutuhan.

9. Tawarkan analgesik untuk sakit kepala jika diperlukan.

Menurut Townsend (1998), jika terjadi kehilangan memori dan kekacauan

mental sementara yang merupakan efek samping ECT yang paling umum hal

ini penting untuk perawat hadir saat pasien sadar supaya dapat mengurangi

ketakutan ketakutan yang disertai dengan kehilangan memori. Implementasi

keperawatan yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Berikan ketenangan dengan mengatakan bahwa kehilangan memori tersebut

hanya sementara.
2. Jelaskan kepada pasien apa yang telah terjadi.

3. Reorientasikan pasien terhadap waktu dan tempat.

4. Biarkan pasien mengatakan ketakutan dan kecemasannya yang berhubungan

dengan pelaksanaan ECT terhadap dirinya.

5. Berikan sesuatu struktur perjanjian yang lebih baik pada aktivitas-aktivitas

rutin pasien untuk meminimalkan kebingungan.

I. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Ansietas b/d prosdur tindakan ECT

2. Defisiensi pengetahuan b/d keterbatasan kognitif

3. Ketidakefektifan bersihan jalan napas b/d obstruksi jalan napas

4. Resiko aspirasi b/d penurunan tingkat kesadaran

5. Nyeri akut b/d agen cedera (fisik)

6. Resiko jatuh b/d agen cedera (fisik)

J. RENCANA INTERVENSI

No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional


Keperaw
atan

1. Ansietas Setelah dilakukan tindakan NIC 1. Untuk


b/d keperawatan 1x24 jam klien mengetahui
prosdur mampu mengontrol kecemasan Penurunan sejauh mana
tindakan sehingga dapat dilakukan Kecemasan kecemasan
ECT tindakan ECT, dengan pasien
1. Identifikasi
NOC : tingkat 2. Penjelasan
kecemasan yang diberikan
Anxiety level sebelum ECT
2. Jelaskan
akan membuat
Kriteria hasil : semua
klien tenang
prosedur dan
1. Klien mampu apa dan siap untuk
yang
mengidentifikasi dan dirasakan melakukan
mengungkapkan gejala cemas selama tindakan ECT
prosedur
2. Mengidentifikasi, 3. Klien
mengungkapkan dan 3. Berikan menjadi lebih
menunjukkan teknik untuk informasi tenang karena
mengontrol cemas faktual terkait mengetahui
diagnosis, penyakitnya
3. Postur tubuh, ekspresi wajah, perawatan dan dan
bahasa tubuh, dan tingkat prognosis perawatannya
aktivitas menunjukkan
berkurangnya kecemasan 4. Kolaborasi 4. Mengurangi
dengan tim kecemasan
medis untuk dengan cara
penggunaan farmakologis
obat-obatan
untuk
mengurangi
kecemasan
secara tepat

2. Defisiens Setelah dilakukan tindakan NIC : 1. Untuk


i keperawatan 1x24 jam klien mengetahui
pengetah mengerti proses penyakitnya Pengajaran: pengetahuan
uan b/d dan program perawatan serta prosedur/pera pasien
keterbata terapi yang diberikan dengan watan mengenai
san prosedur
NOC : 1. Kaji
kognitif tindakan
pengalaman
Knowledge : disease process pasien 2. Pasien
sebelumnya mempunyai
Kriteria Hasil : dan tingkat gambaran
pengetahuan prosedur
1. Pasien dan keluaga
pasien terkait tindakan
menyatakan pemahaman tentang
tindakan yang
penyalit, kondisi, prognosis dan
akan dilakukan 3. Lebih
program pengobatan
memahami
2. Gambarkan prosedur
2. Pasien dan keluarga mampu
aktivitas tindakan
melaksanakan prosedur yang
sebelum
dijelaskan secara benar
prosedur 4. Menambah
3. Pasien dan keluarga mampu /penanganan informasi
menjelaskan kembali apa yang untuk klien
3. Jelaskan
dijelaskan perawat atau tim
prosedur/tinda
kesehatan
kan
4. Dukung
informasi yang
diberikan
petugas
kesehatan lain

3. Ketidakef Setelah dilakukan tindakan NIC: 1. Mengetahui


ektifan keperawatan 1x24 jam klien adanya
bersihan dapat menunjukkan jalan napas Stabilisasi dan sumbatan jalan
jalan yang paten membuka jalan napas atau
napas b/d napas tidak
obstruksi NOC :
1. Monitor 2. Untuk
jalan
Repiratory status : Airway adanya sesak membersihkan
napas
patency napas, sekret
mengorok saar
Kriteria hasil : tube 3. Pasien dan
oro,nasofaring keluarga
1. Menunjukkan jalan napas
terpasang pada mengetahui
yang paten (klien tidak merasa
tempatnya dan lebih
tercekik, irama napas, frekuensi
tenang
pernafasan dalam rentang 2. Suction
normal, tidak ada suara nafas mulut dan 4. Untuk
abnormal) orofaring membantu
jalan napas
3. Jelaskan
pada pasien
dan keluarga
tentang
prosedur
intubasi
4. Kolaborasik
an dengan
dokter untuk
memilih cara
yang tepat
ukuran dan
tipe
tubeendotrakea
l atau tube
trakeostomi

4. Resiko Setelah dilakukan tindakan NIC: 1. Untuk


aspirasi keperawatan 1x24 jam klien mengetahui
b/d dapat mengontrol aspirasi 1. Monitor ada tidaknya
penuruna status gangguan
n tingkat NOC : pernafasan
kesadaran 2. Menjaga
Aspiration Control 2. Pertahankan kestabilan
kepatenan jalan napas
Kriteria Hasil : jalan napas
3. Untuk
1. Klien dapat bernafas dengan 3. Posisikan
mempermudah
mudah, irama, frekuensi kepala pasien
pernafasan
pernafasan normal tega lurus,
sama dengan 4. Mengetahui
2. Pasien mampu menelan, atau lebih rute pemberian
mengunyah tanpa terjadi asprasi tinggi dari 30- obat yang tepat
90 derajat
3. Jalan nafas paten, mudah
bernafas, tidak merasa tercekik 4. Kolaborasi
dan tidak ada suara nafas rute dalam
abnormal pemberian obat

5. Nyeri Setelah dilakukan tindakan NIC : 1. Mengetahui


Akut keperawatan 1x24 jam klien tingkat nyeri
agen dapat mengatasi nyeri dengan Manajemen pasien
cedera nyeri
(fisik) NOC : 2. Mengurangi
1. Lakukan nyeri dengan
Pain level pengkajian non
nyeri farmakologis
Kriteria Hasil : komprehensif
yang meliputi 3. Pasien
1. Mampu mengontrol nyeri
lokasi mengetahui
(tahu penyebab nyeri, mampu
karakteristik, mengenai nyeri
menggunakan tehnik
onset/durasi,
nonfarmakologi untuk 4. Mengurangi
kualitas,
mengurangi nyeri, mencari nyeri dengan
intensitas atau
bantuan) melibatkan
beratnya nyeri
orang lain
2. Melaporkan bahwa nyeri dan faktor
berkurang dengan menggunkan pencetus
manajemen nyeri
2. Ajarkan
3. Mampu mengenali nyeri penggunaan
(skala, intensitas, frekuensi, dan teknik non
tanda nyeri) farmakologi
(distraski
4. Menyatakan rasa nyaman relaksasi)
setelah nyeri berkurang
3. Berikan
informasi
mengenai
nyeri, seperti
penyebab
nyeri, berapa
lama nyeri
akan
dirasakan, dan
antisipasi dari
ketidaknyaman
an akibat
prosedur
4. Kolaborasi
dengan pasien,
orang terdekat
dan tim
kesehatan
lainnya untuk
memilih dan
mengimpleme
ntasikan
tindakan
penurunan
nyeri
nonfarmakolog
i, sesuai
kebutuhan

6. Risiko Manajemen 1. Mengamank


Jatuh linkungan : an lingkungan
agen NOC : keselamatan pasien
cedera
Aspiration control 1. Identifikasi 2. Untuk
(fisik)
al-hal yang menghindari
Kriteria hasil :
membhayakan pasien terjatuh
1. Jalan napas paten dan suara di lingkungan
(bahaya fisik, 3. Mengamank
nafas bersih
biologi,dan an lingkungan
kimiawi) sekitar pasien

2. Gunakan 4. Agar
peralatan keamanan
perlindungan lebih terjamin
(pengekangan,
pegangan pada
sisi) untuk
membatasi
mobilitas fisik
atau akses
pada situasi
yang
membahayaka
n
3. Edukasi
individu dan
kelompok yang
berisiko tinggi
terhadap bahan
yang ada di
lingkungan
4. Kolaborasik
an dengan
lembaga lain
untuk
meningkatkan
keselamatan
lingkungan
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, Gloria M dkk. 2013. Nursing Interventions Classification (NIC) edisi 6.


Jakarta: Moco Media

Elektromedik-03.07.01-TINDAKAN-ECT-KONVENSIONAL.pdf diakses pada


tanggal 09 Januari 2020 pukul 14.00

Maramis. 2004. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabay; Airlanggaa

Riyadi, Sujono. 2009. Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Grahaham Ilmu

Stuart, Gail Wiscarz. 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa Edisi 5. Jakarta: EGC

Tomb, D.A. 2004. Buku Saku Psikiatri Edisi 6. Jakarta: EGC

Townsend, Mary C. 1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan pada Keperawatan.


Psikiatri Edisi 3. Jakarta: EGC