Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN KASUS

Katarak Senilis Matur

Oleh
Alif Hakim Alamsyah 1902611087
Putu Seriari Ambarini 1902611088

Pembimbing:
dr. Ni Made Ari Suryanthi, M. Biomed, Sp.M (K)

DALAM RANGKA MENJALANI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


DI LAB/SMF ILMU KESEHATAN MATA
RSUP SANGLAH DENPASAR
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas
karunia-Nya, laporan kasus yang berjudul “Katarak Senilis Matur” ini dapat
diselesaikan tepat pada waktunya. Laporan kasus ini disusun dalam rangka mengikuti
Kepaniteraan Klinik Madya di Bagian/ SMF Ilmu Kesehatan Mata FK UNUD/ RSUP
Sanglah Denpasar.
Dalam penyusunan laporan kasus ini, penulis banyak memperoleh bimbingan,
petunjuk serta bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Melalui kesempa-tan ini,
penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat :
1. dr. I Made Agus Kusumadjaja, Sp.M (K) selaku Kepala Departemen/ SMF
Ilmu Kesehatan Mata FK UNUD/ RSUP Sanglah Denpasar,
2. dr. I. G. A. Made Juliari, Sp.M (K) selaku Koordinator Pendidikan Bagian/
SMF Ilmu Kesehatan Mata FK UNUD/ RSUP Sanglah Denpasar yang
membimbing dan memberikan masukan dalam penyusunan laporan ini,
3. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu atas dukungan dan
bantuan yang telah diberikan dalam penyelesaian laporan ini.
Penulis menyadari bahwa laporan ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu,
kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan. Semoga laporan
ini dapat memberikan sumbangan ilmiah dalam masalah kesehatan dan memberi
manfaat bagi masyarakat.

Denpasar, 7 Januari 2020

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................. i


KATA PENGANTAR ......................................................................................... ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................... 2
2.1 Definisi ................................................................................................ 2
2.2 Epidemiologi ....................................................................................... 2
2.3 Anatomi Lensa .................................................................................... 2
2.4 Etiologi dan Faktor Risiko ................................................................. 4
2.5 Patofisiologi ........................................................................................ 5
2.6 Klasifikasi ........................................................................................... 7
2.7 Diagnosis ............................................................................................. 9
2.8 Tatalaksana.......................................................................................... 12
2.9. Prognosis ............................................................................................. 15
BAB III LAPORAN KASUS ........................................................................... 19
BAB IV PEMBAHASAN ................................................................................ 24
BAB V SIMPULAN ....................................................................................... 27
DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................

iii
BAB I
PENDAHULUAN

Katarak merupakan proses degeneratif yang sangat dipengaruhi oleh faktor


usia, namun katarak juga dapat diderita oleh bayi dan anak, yang disebabkan oleh
proses dalam kandungan seperti infeksi. Katarak juga dapat berkembang setelah
cedera mata, peradangan, dan beberapa penyakit mata lainnya. Katarak merupakan
setiap keadaan kekeruhan pada lensa sehingga cahaya sulit mencapai retina,
akibatnya pengelihatan menjadi kabur.1
Katarak menjadi penyebab utama gangguan penglihatan dan kebutaan di
Indonesia dan di dunia. Lebih dari 50% kebutaan yang dialami oleh masyarakat
disebabkan oleh katarak. Berdasarkan World Health Organization (WHO), pada
tahun 2010 katarak bertanggung jawab atas 51% kebutaan di dunia, yaitu pada sekitar
20 juta orang. Katarak merupakan penyebab kebutaan reversibel yang paling utama di
dunia dengan angka insiden sebesar 33% dari seluruh gangguan penglihatan.2
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, dari total responden
semua umur sebesar 1.027.763 orang didapatkan bahwa 1,8% responden menderita
katarak. Prevalensi katarak tertinggi berada di Sulawesi Utara (3,7%), Jambi (2,8%),
dan Bali (2,7%).3 Sebanyak 51,6% dari penderita katarak tidak mengetahui bahwa
dirinya menderita katarak dan tidak mengetahui bahwa katarak dapat dioperasi atau
direhabilitasi sehingga penderita tidak menjalani tindakan operasi. Diperkirakan
setiap tahun kasus baru kebutaan akibat katarak akan selalu bertambah sebesar 0,1%
dari jumlah penduduk atau sekitar 250.000 orang/tahun.3
Katarak merupakan suatu kelainan pada mata yang ditandai dengan adanya
penurunan tajam penglihatan yang tidak membaik dengan koreksi dan disertai dengan
kekeruhan pada lensa. Pasien dengan katarak mengeluhkan pengelihatan seperti
berasap dan tajam penglihatan yang menurun secara progresif. Saat seseorang
menderita katarak, maka akan muncul gangguan dalam beraktivitas sehari-hari
terutama kegiatan lain yang membutuhkan penglihatan yang jernih.1

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Katarak berasal dari kata Yunani “katarrhakies”, inggris “cataract” dan
latin “cataracta” yang berarti air terjun. Dalam Bahasa Indonesia disebut “bular”
dimana penglihatan seperti tertutup air terjun akibat lensa yang keruh. Katarak
merupakan setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang terjadi akibat penambahan
cairan (hidrasi) lensa, denaturasi protein lensa atau akibat keduanya.1 Berdasarkan
World Health Organization (WHO), katarak adalah suatu kondisi keruh pada lensa
yang menyebabkan terhalangnya pengelihatan yang jernih.2
Berdasarkan usia terjadinya, katarak dapat diklasifikasikan menjadi katarak
kongenital, juvenile, dan senilis. Katarak kongenital merupakan katarak yang
sudah terlihat pada usia dibawah satu tahun. Katarak juveil merupakan katarak
yang terjadi sesudah usia satu tahun. Katarak senilis merupakan jenis katarak yang
paling sering ditemukan. Katarak senilis adalah setiap kekeruhan pada lensa yang
terjadi pada usia lanjut, yaitu di atas usia 50 tahun.4

A) Lensa yang normal, jernih B) Lensa keruh karena katarak

2.2 Epidemiologi
Data WHO pada tahun 2010 menunjukkan bahwa katarak bertanggung
jawab atas 51% kebutaan di dunia yaitu pada sekitar 20 juta penduduk. Hasil
survei kebutaan dengan menggunakan metode Rapid Assessment of Avoidable

1
Blindness (RAAB) yang dilakukan pada 3 provinsi di Indonesia (NTB, Jawa Barat
dan Sulawesi Selatan) tahun 2013-2014 didapatkan prevalensi kebutaan pada
masyarakat usia > 50 tahun rata-rata di 3 provinsi tersebut adalah 3,2 % dengan
penyebab utama adalah katarak (71%). Kebutaan akibat katarak di Indonesia juga
ditemukan semakin meningkat dengan bertambahnya usia, yaitu 20/1000 kasus
pada kelompok usia 45-59 tahun dan 50/1000 kasus pada kelompok usia >60
tahun.5
Data Departemen Kesehatan Republik Indonesia melalui Riset Kesehatan
Dasar yang dilakukan pada tahun 2013, didapatkan bahwa prevalansi katarak
adalah sebesar 1,8 % dengan 1.000 kasus baru per tahunnya. Prevalensi katarak
tertinggi berada di Sulawesi Utara (3,7%), Jambi (2,8%), dan Bali (2,7%),
sedangkan prevalensi katarak yang terendah berada di DKI Jakarta (0,9%) dan
Sulawesi Barat (1,1%).3

2.3 Anatomi Lensa


Lensa mrupakan suatu struktur bikonveks, avaskular, tak berwarna. Lensa
di dalam bola mata terletak di posterior iris yang terdiri dari zat tembus cahaya
berbentuk seperti cakram yang dapat menebal dan menipis pada saat terjadinya
akomodasi. Tebal lensa sekitar 4 mm dan diameternya 9 mm. Lensa dibentuk oleh
sel epitel yang membentuk serat lensa di dalam kapsul lensa. Lensa disangga oleh
serat-serat zonula yang berasal dari corpus ciliare yang menyisip pada bagian
ekuator kapsul lensa. Kapsul lensa adalah suatu membran basalis yang
mengelilingi substansi lensa. Sel-sel epitel dekat ekuator lensa membelah
sepanjang hidup dan terus berdiferensiasi membentuk serat-serat lensa baru
sehingga serat-serat lensa yang lebih tua dipampatkan ke nukleus sentral; serat-
serat muda, yang kurang padat, di sekeliling nukleus menyusun korteks lensa.
Nutrisi lensa didapat dari aqueous humor, sementara metabolismenya terutama
bersifat anaerob akibat rendahnya kadar oksigen terlarut di dalam aqueous.6

2
Gambar 2.1 Anatomi Lensa

a. Kapsul
Kapsul lensa merupakan membran dasar yang elastis dan transparan
tersusun dari kolagen tipe IV yang berasal dari sel-sel epitel lensa. Kapsul ini
mengandung isi lensa serta mempertahankan bentuk lensa pada saat akomodasi.
Bagian paling tebal kapsul berada di bagian anterior dan posterior zona preekuator,
dan bagian paling tipis berada di bagian tengah kutub posterior.1
b. Serat Zonula
Lensa terfiksasi pada serat zonula yang berasal dari badan siliar. Serat
zonula tersebut menempel dan menyatu dengan lensa pada bagian anterior dan
posterior dari kapsul lensa. 1
c. Epitel Lensa
Tepat dibelakang kapsul anterior lensa terdapat satu lapis sel-sel epitel. Sel-
sel epitel lensa dapat melakukan aktivitas seperti yang dilakukan sel-sel lainnya,
seperti sintesis DNA, RNA, protein dan lipid. Sel-sel tersebut juga dapat
membentuk ATP untuk memenuhi kebutuhan energi lensa. Sel-sel epitel yang baru
terbentuk akan menuju equator lalu berdiferensiasi menjadi serat lensa.1

3
d. Nukleus dan Korteks
Sel-sel berubah menjadi serat, lalu serat baru akan terbentuk dan akan
menekan serat-serat lama untuk berkumpul di bagian tengah lensa. Serat-serat
yang baru akan membentuk korteks dari lensa.1

Gambar 2.2 Komponen Lensa

2.4 Etiologi dan Faktor Risiko


Katarak disebabkan oleh berbagai faktor atau multifaktorial, dibagi menjadi
faktor internal dan eksternal.1
2.4.1 Faktor Internal
2.4.1.1 Usia
Proses normal penuaan mengakibatkan lensa menjadi keras dan keruh.
Seiring dengan meningkatnya usia, maka ukuran lensa akan bertambah dengan
timbulnya serat-serat lensa yang baru, lensa berkurang kejernihannya selanjutnya
keadaan ini akan berkembang dengan bertambah beratnya katarak. Prevalensi
katarak meningkat tiga sampai empat kali pada pasien berusia diatas 65 tahun.2
2.4.1.2 Riwayat penyakit
Diabetes Melitus (DM) dapat mempengaruhi kejernihan lensa, indeks
refraksi, dan kemampuan akomodasi. Meningkatnya kadar gula darah, juga akan
meningkatkan kadar glukosa di aqueous humor. Glukosa dari aqueous akan masuk
ke lensa melalui difusi dimana sebagian dari glukosa ini diubah menjadi sorbitol

4
oleh enzim aldose reduktase melalui jalur poliol, yang tidak dimetabolisme dan
tetap tinggal di lensa. Akumulasi intraselular sorbitol menyebabkan perubahan
osmotic sehingga air masuk ke lensa, yang akan mengakibatkan pembengkakkan
serabut lensa. Penelitian pada hewan telah menunjukkan bahwa akumulasi poliol
intraseluler menyebabkan kolaps dan likuifaksi (pencairan) serabut lensa, yang
akhirnya terjadi pembentukan kekeruhan pada lensa.6
2.4.1.3 Herediter
Katarak yang disebabkan oleh herediter sering diakibatkan oleh autosomal
dominan.

2.4.2 Faktor eksternal


2.4.2.1 Trauma
Trauma sering menyebabkan katarak unilateral pada individu. Kekeruhan
yang terjadi akibat trauma bervariasi tergantung penetrasi trauma yang mengenai
lensa.
2.4.2.2 Obat-obatan
Toksik, obat-obatan juga dapat mengakibatkan terjadinya katarak diantaranya
kortikosteroid, amiodarone, fenotiazin atau golongan tiazin lainnya dan klorpromazin.
2.4.2.3 Merokok
Merokok dapat meningkatkan risiko terjadinya katarak. Merokok dapat
menyebabkan katarak dengan beberapa mekanisme biologis seperti kerusakan
oksidatif, yang memiliki peran utama dalam pembentukan katarak. Merokok
menyebabkan pertambahan zat oksidatif melalui aktifitas radikal bebas, oksidasi dan
peroksidasi lipid. Selain itu, merokok dapat menyebabkan stres oksidatif (keadaan
dimana jumlah radikal bebas dalam tubuh melebihi kapasitas tubuh untuk
menetralkannya) secara tidak langsung pada lensa melalui penipisan antioksigen
endogen, seperti vitamin C, vitamin E, dan beta-karoten.7

5
2.5 Patofisiologi Katarak Matur
Patogenesis katarak senilis bersifat multifaktorial. Sel lensa terus
bertumbuh sepanjang hidup, tidak ada sel-sel yang dibuang. Semakin bertambah
usia lensa, maka akan semakin tebal dan berat sementara daya akomodasinya
semakin melemah. Pada kondisi lapisan kortikal bertambah dalam pola yang
konsentris, nukleus sentral tertekan dan mengeras, disebut nuklear sklerosis.
Terdapat banyak mekanisme yang memberi kontribusi dalam progresifitas
kekeruhan lensa. Epitel lensa berubah seiring bertambahnya usia, terutama dalam
hal penurunan densitas (kepadatan) sel epitelial dan penyimpangan diferensiasi sel
serat lensa (lens fiber cells). Akumulasi dari serpihan-serpihan kecil epitelial dapat
menyebabkan gangguan pembentukan serat lensa dan homeostasis dan akhirnya
mengakibatkan hilangnya kejernihan lensa walaupun epitel lensa yang mengalami
katarak menunjukkan angka kematian apoptotik yang rendah.8
Bertambahnya usia lensa, penurunan rasio air dan mungkin metabolit larut
air dengan berat molekul rendah dapat memasuki sel pada nukleus lensa melalui
epitelium dan korteks yang terjadi dengan penurunan transport air, nutrien dan
antioksidan. Kerusakan oksidatif pada lensa akibat pertambahan usia kemudian
mengarahkan pada terjadinya katarak senilis.1,6
Mekanisme lainnya yang terlibat adalah konversi sitoplasmik lensa dengan
berat molekul rendah yang larut air menjadi agregat berat molekul tinggi larut air,
fase tak larut air dan matriks protein membran tak larut air. Hasil perubahan
protein menyebabkan fluktuasi yang tiba-tiba pada indeks refraksi lensa,
menyebarkan jaras-jaras cahaya dan menurunkan kejernihan. Area lain yang
sedang diteliti meliputi peran dari nutrisi pada perkembangan katarak secara
khusus keterlibatan dari glukosa dan mineral serta vitamin.6 Selain itu, terjadi
penurunan konsentrasi Glutathione dan Kalium diikuti meningkatnya konsentrasi
Natrium dan Kalsium.9
Selain dari itu, terdapat juga teori free radical, dimana free radical
terbentuk jika terjadi reaksi intermediate reaktif kuat. Free radical mengakibatkan
degenerasi molekul normal, dan dapat dinetralisir oleh vitamin E dan antioksidan.

6
Teori Across-Link dari para ahli biokimia mengatakan terjadi pengikatan asam
nukleat dan molekul protein sehingga terjadi gangguan fungsi.2,7

2.6 Klasifikasi Katarak


2.6.1 Katarak Menurut Usia
2.6.1.1 Katarak Kongenital
Katarak Kongenital merupakan katarak yang mulai terjadi sebelum atau
segera setelah lahir dan bayi berusia kurang dari 1 tahun. Kekeruhan sebagian pada
lensa yang sudah didapatkan pada waktu lahir umumnya tidak meluas dan jarang
sekali mengakibatkan keruhnya seluruh lensa. Letak kekeruhan tergantung pada
saat mana terjadi gangguan pada kehidupan janin. Katarak kongenital dapat terjadi
karena malformasi lensa gestasional, ibu malnutrisi, infeksi, obat-obatan, radiasi,
faktor janin/anoksia infantil, gangguan metabolisme, trauma saat lahir, malnutrisi,
kelainan kongenital, idiopatik. 1,6
2.6.1.2 Katarak Juvenil
Katarak juvenil adalah katarak yang mulai terbentuknya pada usia lebih
dari 1 tahun dan kurang dari 50 tahun. Katarak juvenil merupakan katarak yang
terjadi pada anak-anak sesudah lahir yaitu kekeruhan lensa yang terjadi pada saat
masih terjadi perkembangan serat-serat lensa sehingga biasanya konsistensinya
lembek seperti bubur dan disebut sebagai soft cataract. Biasanya katarak juvenil
merupakan bagian dari suatu gejala penyakit keturunan lain.1,6
2.6.1.3 Katarak Senilis
Katarak senilis adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia
lanjut, yaitu usia di atas 50 tahun kadang-kadang pada usia 40 tahun. Perubahan
yang tampak ialah bertambah tebalnya nukleus dengan berkembangnya lapisan
korteks lensa. Penyebab katarak senilis antara lain perubahan lensa karena
penuaan, penyakit sistemik, merokok, stres oksidatif, dan kurangnya unsur diet
esensial.1,6

7
2.6.2 Katarak Menurut Lokasi Kekeruhan
2.6.2.1 Katarak Nuklear
Inti lensa dewasa selama hidup bertambah besar dan menjadi sklerotik.
Lama kelamaan inti lensa yang mulanya menjadi putih kekuningan menjadi coklat
dan kemudian menjadi kehitaman. Keadaan ini disebut katarak brunesen atau
nigra.7
2.6.2.2 Katarak Kortikal
Katarak kortikal terjadi akibat penyerapan air sehingga lensa menjadi
cembung dan terjadi miopisasi akibat perubahan indeks refraksi lensa. Keadaan ini
menyebabkan penderita seakan-akan mendapatkan kekuatan baru untuk melihat
dekat pada usia yang bertambah. 7
2.6.2.3 Katarak Subkapsular Posterior
Katarak subkapsular posterior ini sering terjadi pada usia yang lebih muda
dibandingkan tipe nuklear dan kortikal. Katarak ini terletak di lapisan posterior
kortikal dan biasanya axial. Indikasi awal adalah terlihatnya gambaran halus
seperti pelangi dibawah slit lamp pada lapisan posterior kortikal. Pada stadium
lanjut terlihat granul dan plak pada korteks subkapsul posterior ini. Gejala yang
dikeluhkan penderita adalah penglihatan yang silau, penurunan penglihatan di
bawah sinar terang, dan terjadi penurunan penglihatan pada jarak dekat. 7

2.6.3 Katarak Menurut Derajat Kekeruhan


2.6.3.1 Katarak Insipien
Kekeruhan yang tidak teratur seperti bercak-bercak yang membentuk gerigi
dasar di perifer dan daerah jernih membentuk gerigi dengan dasar di perifer dan
daerah jernih di antaranya. Kekeruhan biasanya teletak di korteks anterior atau
posterior. Kekeruhan ini pada umumnya hanya tampak bila pupil dilebarkan.7 Pada
stadium ini terdapat keluhan poliopia karena indeks refraksi yang tidak sama pada
semua bagian lensa. Bila dilakukan uji bayangan iris akan positif.4,7

8
2.6.3.2 Katarak Imatur
Pada stadium yang lebih lanjut, terjadi kekeruhan yang lebih tebal tetapi
tidak atau belum mengenai seluruh lensa sehingga masih terdapat bagian-bagian
yang jernih pada lensa.4,7 Terjadi hidrasi korteks pada stadium ini yang
mengakibatkan lensa menjadi bertambah cembung. Pencembungan lensa ini akan
memberikan perubahan indeks refraksi dimana mata akan menjadi miopik.
Kecembungan ini akan mengakibatkan pendorongan iris ke depan sehingga bilik
mata depan akan lebih sempit.4,7 Pada stadium intumensen ini akan mudah terjadi
penyulit glaukoma. Uji bayangan iris pada keadaan ini positif. 4,7
2.6.3.3 Katarak Matur
Proses degenerasi berjalan terus maka akan menyebabkan terjadinya
pengeluaran air bersama-sama hasil disintegrasi melalui kapsul. Pada stadium ini
lensa akan berukuran normal. Iris tidak terdorong ke depan dan bilik mata depan
akan mempunyai kedalaman normal kembali. Pada stadium ini terlihat lensa
berwarna sangat putih akibat perkapuran menyeluruh karena deposit kalsium. Bila
dilakukan uji bayangan iris akan terlihat negatif.6
2.6.3.4 Katarak Hipermatur
Merupakan proses degenerasi lanjut lensa sehingga korteks mengkerut dan
berwarna kuning. Akibat pengeriputan lensa dan mencairnya korteks, nukleus
lensa tenggelam ke arah bawah (katarak morgagni). Lensa yang mengecil akan
mengakibatkan bilik mata menjadi dalam. Uji bayangan iris memberikan
gambaran pseudopositif. Akibat masa lensa yang keluar melalui kapsul lensa dapat
menimbulkan penyulit berupa uveitis fakotoksik atau glaukom fakolitik.6,10

2.7 Diagnosis
Diagnosis katarak dibuat berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
penunjang yang komperhensif. Pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan untuk
mendeteksi adanya penyakit-penyakit yang menyertai. Tujuan dari evaluasi
komperhensif pada pasien yang mengeluhkan gejala yang berkaitan dengan
katarak adalah untuk menentukan adanya katarak, mengkonfirmasi bahwa katarak

9
merupakan faktor signifikan yang berkontribusi pada gangguan peneglihatan dan
gejala yang dikeluhkan pasien dan mengidentifikasi kondisi mata dan sistemik
yang berkontribusi pada gangguan pengelihatan.9
Anamnesis yang cermat penting dalam menentukan progresi dan gangguan
fungsional penglihatan akibat katarak dan juga dalam mengidentifikasi penyebab
lain kekeruhan pada lensa. Beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya:
• Penurunan tajam penglihatan
Penurunan tajam penglihatan merupakan keluhan paling umum pada pasien
dengan katarak. Keluhan berupa penglihatan berasap dan tajam penglihatan
yang menurun secara progresif. Visus mundur yang derajatnya tergantung
pada lokalisasi dan tebal tipisnya kekeruhan. Bila kekeruhan lensa tipis,
kemunduran visus sedikit atau sebaliknya. Jika kekeruhan terletak di equator,
penderita tidak akan mengalami keluhan penglihatan.2,6
• Pandangan buram seperti berasap atau berkabut 2,10
• Pandangan silau
Keluhan ini berupa menurunnya sensitivitas kontras pada cahaya terang atau
silau pada siang hari atau pada arah datangnya sinar pada malam hari.
Gangguan seperti ini muncul utamanya pada pasien dengan katarak
subkapsular posterior dan pada pasien dengan katarak kortikal.2,6
• Myopic shift
Progresi katarak seringkali meningkatkan kekuatan dioptrik lensa
menyebabkan terjadinya myopia or myopic shift derajat ringan hingga sedang.
Akibatnya, ada pasien presbiopi melaporkan peningkatan penglihatan jarak
dekat dan tidak membutuhkan kacamata baca saat mereka mengalami hal yang
disebut second sight. Namun, munculnya sementara dan saat kualitas optis
lensa mengalami gangguan, maka second sight tersebut akan hilang. Myopic
shift dan second sight tidak terjadi pada katarak kortikal dan subkapsular
posterior.2,6
Pemeriksaan fisik katarak meliputi pemeriksaan mata lengkap dimulai dari
tes tajam penglihatan. Pada katarak senilis, tajam penglihatan akan menurun secara

10
perlahan-lahan. Pemeriksaan pada lensa dilakukan dengan menyinarinya dari
samping. Lensa akan tampak keruh keabuan atau keputihan dengan latar hitam. 2,6
Pemeriksaan dengan ophthalmoskopi langsung maupun tak langsung
penting untuk mengevaluasi bagian posterior mata sehingga dapat diketahui
prognosis setelah ekstraksi lensa. Pada fundus refleks dengan pemeriksaan
opthalmoskop kekeruhan tersebut tampak hitam dengan latar oranye, dan pada
stadium matur hanya didapatkan warna putih atau tampak kehitaman tanpa latar
orange, hal ini menunjukkan bahwa lensa sudah keruh seluruhnya.2,6
Untuk menilai kondisi, tipe dan derajat katarak dievaluasi dengan
menggunakan slit lamp dan kriteria LOCS III. Terdapat 4 (empat) kondisi dari
klasifikasi LOCS III yaitu: nuclear opalescence (NO), nuclear color (NC), cortical
cataract (C), posterior subcapsular caratact (Pemeriksaan dengan slit lamp juga
penting selain untuk memeriksa kekeruhan lensa juga untuk struktur mata lainnya
(misal konjungtiva, kornea, iris, kamera anterior). 11
Klasifikasi katarak seperti dikemukakan oleh Buratto dan kawan-kawan.
Buratto membagi densitas kekerasan lensa menjadi 5 jenis ; dimana grade 1
adalah katarak yang paling lunak dan grade 5 adalah katarak yang sangat
keras. Klasifikasi katarak menurut burrato adalah sebagai berikut :
Grade 1: Nukleus lunak. Pada katarak grade 1 biasanya visus masih
lebih baik dari 6/12, tampak sedikit keruh dengan warna agak keputihan.
Refleks fundus juga masih dengan mudah diperoleh dan usia penderita juga
biasanya kurang dari 50 tahun.
Grade 2: Nukleus dengan kekerasan ringan. Pada katarak jenis ini tampak
nukleus mulai sedikit berwarna kekuningan, visus biasanya antara 6/12 sampai
6/30. Reflek fundus juga masih mudah diperoleh dan katarak jenis ini paling
sering memberikan gambaran katarak subkapsularis posterior.
Grade 3: Nukleus dengan kekerasan medium. Katarak ini paling sering
ditemukan dimana nukleus tampak berwarna kuning disertai dengan
kekeruhan korteks yang berwarna keabu-abuan. Visus biasanya antara 3/60

11
sampai 6/30 dan bergantung juga dari usia pasien. Semakin tua pasien tersebut
maka semakin keras nukleusnya.
Grade 4: Nukleus keras. Pada katarak ini warna nukleus sudah
berwarna kuning kecoklatan, dimana usia penderita biasanya sudah lebih dari 65
tahun. Visus biasanya antara 3/60 sampai 1/60, dimana reflek fundus maupun
keadaan fundus sudah sulit dinilai.Grade 5 : Nukleus sangat keras. Pada katarak
ini nukleus sudah berwarna kecoklatan bahkan ada yang sampai berwarna
agak kehitaman. Visus biasanya hanya 1/60 atau lebih jelek dan usia penderita
sudah di atas 65 tahun. Katarak ini sangat keras dan disebut juga brumescent
cataract atau black kataract.
Pemeriksaan kelengkungan kornea menggunakan tomografi, topografi, atau
menggunakan keratometri dibutuhkan untuk pasien katarak sehubungan untuk
penentuan lensa intraouler yang akan dipasang. Pemeriksaan biometri diperlukan
untuk mengukur kebutuhan lensa intra okuler.8
Apabila katarak yang terjadi sudah sangat padat, sehingga menyebabkan
segmen posterior mata tak dapat diamati, pemeriksaan ultrasonografi diperlukan
untuk mengevaluasi segmen posterior mata.8
Untuk menegakkan diagnosis lebih lanjut, pada pasien perlu dilakukan
pemeriksaan seperti pemeriksaan menggunakan slit lamp yang dapat membantu untuk
staging dari katarak, pemeriksaan segmen posterior lebih lanjut, pemeriksaan,
biometri, retinometri, ultrasonografi (USG) bola mata, pemeriksaan spekular
mikroskop.

2.8 Tatalaksana
Penanganan katarak yang menghasilkan hasil signifikan hingga saat ini
adalah tata laksanan pembedahan. Hingga saat ini belum ditemukan tata laksana
non pembedahan yang efektif untuk menangani pasien katarak. Indikasi utama
dilakukan pembedahan katarak adalah adanya penurunan penglihatan fungsional
yang menyebabkan gangguan aktifitas penderita dan diharapkan pembedahan
dapat memperbaiki penglihatan. Indikasi yang lain adalah: 8

12
1) Anisometropia yang signifikan dengan adanya katarak
2) Kekeruhan lensa mempersulit diagnosis atau manajemen kelainan segmen
posterior
3) Lensa menyebabkan inflamasi atau glaukoma sekunder.
4) Lensa menyebabkan penyempitan sudut bilik mata depan.
5) Indikasi sosial dan kosmetik.

Metode pembedahan yang dapat dipilih untuk tata laksanan katarak : 6


• Metode “Ekstraksi intrakapsuler (ICCE)”, yang jarang lagi dilakukan
sekarang adalah mengangkat lensa in toto yakni berserta kapsulnya (termasuk
kapsul posterior) melalui limbus superior 140-160 derajat. ICCE dilakukan
pada negara-negara dimana terdapat keterbatasan mikroskop untuk melakukan
operasi katarak. ICCE diindikasikan pada kasus-kasus katarak tidak stabil,
intumesen, hipermatur, dan katarak luksasi. Kontraindikasi absolut ICCE
adalah katarak pada anak dan dewasa muda serta katarak traumatik dengan
ruptur kapsul. Kontraindikasi relatif ICCE adalah miopi tinggi, sindrom
Marfan, katarak Morgagni.1,6,8

Gambar 2.7 Teknik ICCE

13
• Metode “Ekstraksi ekstra kapsuler (ECCE)”, yang saat ini masih sering
dipakai juga memerlukan insisi limbus superior. Bagian anterior kapsul
dipotong atau diangkat, nukleus diekstraksi dan korteks lensa dibuang dari
mata dengan irigasi dengan atau tanpa aspirasi, sehingga meninggalkan kapsul
posterior. ECCE diindikasikan untuk operasi katarak yang diiringi dengan
pemasangan IOL atau penambahan kacamata baca, terjadinya perlengketan
luas antara iris dan lensa, ablasi atau prolaps badan kaca. Kontraidikasi ECCE
adalah pada keadaan dimana terjadi insufisiensi zonula zinni.6,8

Gambar 2.8 Teknik ECCE

• Metode “Small Incision Cataract Surgery (SICS)”, teknik ini merupakan


bagian dari ECCE dengan irisan yang lebih kecil sehingga hampir tidak perlu
dijahit. Kondisi ideal untuk dilakukan manual SICS adalah kondisi kornea
jernih, ketebalan normal, endotelium sehat, KOA cukup dalam, dilatasi pupil
cukup, zonula utuh, tipe katarak kortikal, atau sklerosis nuklear derajat II dan
III.1

Gambar 2.9 Teknik SICS

14
• Metode fakoemulsifikasi adalah operasi pemecahan nukleus katarak dan
aspirasi lensa menggunakan ujung yang mengeluarkan gelombang ultrasonik
yang dimasukkan melalui insisi kecil (sekitar 2.2-2.8 mm) pada limbus,
sehingga biasanya tidak membutuhkan penjahitan. Teknik ini diikuti dengan
penanaman foldable IOL. Apabila menggunakan lensa intraokular yang kaku,
maka dibutuhkan insisi yang sedikit lebih besar. Ada berbagai keuntungan dari
metode tersebut, antara lain tanpa dijahit, mempermudah penyembuhan luka
operasi dan keluhan mata merah tidak lama. Ini karena sayatannya kecil.
Kalaupun perlu jahitan hanya satu jahitan. Metode ini adalah metode yang
lebih sering digunakan saat ini.8

Gambar 2.10 Teknik Fakoemulsifikasi


Setelah operasi semua pasien membutuhkan koreksi kekuatan tambahan untuk
memfokuskan benda dekat dibandingkan untuk melihat jauh. Akomodasi
hilang dengan diangkatnya lensa. Kekuatan yang hilang pada sistem optik
mata tersebut harus digantikan oleh kacamata afakia yang tebal, lensa kontak
yang tipis atau implantasi lensa plastik (IOL) di dalam bola mata.12

15
2.9 Prognosis
Prognosis katarak setelah menjalani operasi cukup baik. Hasil tata laksana
dari pasien katarak yang diharapkan pada pasien mencakup penurunan gejala
visual, peningkatan fungsi visual, pencapaian hasil refraktif yang diinginkan, serta
peningkatan fungsi fisik, kesehatan mental, serta kualitas hidup pasien. Penelitian
yang dilakukan oleh American Academy of Opthamology National Eyecares
Outcomes Network (NEON) menunjukkan terjadi perbaikan tajam penglihatan
pada 92% katarak. Sebanyak 89 % kasus terjadi perbaikan dalam perbaikan tajam
penglihatan hingga visus diatas 20/40. Menurut penelitian yang dilakukan oleh The
Cataract Patient Outcomes Research Team (PORT) mengidentifikasi faktor–
faktor memprediksi hasil operasi yang baik antara lain usia muda (di bawah 65
tahun), faktor komorbid yang rendah, serta fungsi visual pre operasi yang baik. 8

16
BAB III
LAPORAN KASUS

3.1 Identitas Pasien


No RM : 180314xx
Nama : IMRT
Umur : 66 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Kewarganegaraan : Indonesia
Status : Menikah
Agama : Hindu
Pekerjaan : Tidak Bekerja
Alamat : Jalan Raya Sesetan, Denpasar
Tanggal Pemeriksaan : 7 Januari pukul 08.30 WITA

3.2 Anamnesis
Keluhan Utama
Pandangan kabur pada mata kanan
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengeluh pandangan kabur yang dirasakan pada mata kanan sejak 1 tahun
yang lalu. Pasien mengaku awalnya masih dapat melihat dan lama kelamaan
makin memberat secara perlahan, hingga 2 minggu yang lalu pasien mengatakan
mata kanannnya sangat kabur. Pandangan kabur menetap sepanjang hari.
Keluhan yang dirasakan tidak membaik dengan obat tetes mata, dan merasa silau
pada siang hari. Selain itu pasien juga mengeluhkan bahwa penglihatannya
seperti tertupi asap. Keluhan seperti nyeri, mata merah, keluar kotoran, dan berair
disangkal oleh pasien.

19
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien memiliki riwayat Tuberkulosis paru 15 tahun yang lalu. Pasien juga
memiliki riwayat batuk berdarah diakibatkan oleh Penyakit Paru Obstruksi
Kronis (PPOK) 6 bulan yang lalu. Sejak saat itu pasien tidak mengalami keluhan
saluran pernapasan lainnya.
Pasien tidak memiliki riwayat penyakit mata sebelumnya. Riwayat hipertensi
dan diabetes mellitus disangkal. Pasien tidak pernah melakukan operasi
sebelumnya.

Riwayat Pengobatan
Pasien pernah menggunakan Obat Anti Tuberkolosis (OAT) namun sudah berenti
sejak dinyatakan negatif TB 1 tahun setelah dirawat. Saat ini pasien tidak
menggunakan obat.

Riwayat Penyakit Keluarga


Keluarga pasien tidak ada yang memiliki keluhan yang sama seperti pasien.
Keluarga pasien tidak memiliki riwayat penyakit sistemik seperti hipertensi,
diabetes mellitus.

Riwayat Pribadi dan Sosial


Pasien tidak bekerja. Sehari-hari hanya berkegiatan dirumah bersama dengan
istri pasien. Riwayat merokok sudah berhenti sejak 15 tahun lalu. Riwayat
konsumsi alkohol disangkal oleh pasien.

3.3 Pemeriksaan fisik


Status Present
Kesadaran : GCS E4 V5 M6
Tekanan Darah : 120/70 mmHg
Nadi : 87 kali/menit
Respirasi : 20 kali/menit

20
Suhu Aksila : 36,5 0C
Status Oftalmologi

OD OS
1/60 PH NI Visus 6/21 PH 6/12
Normal Palpebra Normal
Tenang Konjungtiva Tenang
Jernih Kornea Jernih
Dalam Bilik Mata Depan Dalam
Normal Iris Normal
Refleks Pupil (+), Pupil Refleks Pupil (+),
RAPD (-) RAPD (-)
Keruh, Iris Shadow (-) Lensa Normal
Sulit dievaluasi Fuduskopi Reflek Fundus (+)
N/P Tekanan Intra Okular N/P
Normal Kedudukan bola mata Normal
+ + + Lapang pandang + + +
+ + + + + +
+ + + + + +
Baik ke segala arah Gerakan bola mata Baik ke segala arah

Nyeri (-) Nyeri (-)

21
Foto Klinis Pasien

Mata kanan Mata Kiri

3.4 Diagnosis Banding


• OD Katarak senilis mature
• OD Katarak Komplikata
• OD Katarak senilis immature

22
3.5 Diagnosis
• OD Katarak Senilis Matur

3.6 Penatalaksanaan
• OD Pro Ekstrasi lensa + IOL dengan LA

3.7 KIE
• Menjelaskan mengenai penyakit yang diderita pasien. Menjelaskan bahwa
keluhan penglihatan kabur adalah karena kekeruhan pada lensa matanya
(katarak matur kanan)
• Menjelaskan rencana terapi yang akan dilakukan dan menjelaskan prosedur
operasi. Terapi yang diberikan pada pasien ini dengan operasi untuk
mengangkat lensa mata yang keruh dan diganti dengan lensa buatan untuk
mencegah tajam penglihatan.
• Menjelaskan agar menjaga mata atau menghindari mata dari pajanan sinar
matahari berlebihan, dapat menggunakan kacamata pelindung.
• Menjelaskan mengenai resiko dan komplikasi yang mungkin terjadi yakni
diantaranya perdarahan dan infeksi.

3.8 Prognosis
Ad Vitam : Bonam
Ad Functionam : Dubia ad Bonam
Ad Sanationam : Dubia ad Bonam

23
BAB IV
PEMBAHASAN

Pasien mengeluh pandangan kabur yang dirasakan pada mata kanan sejak 1
tahun yang lalu. Pasien mengaku awalnya masih dapat melihat dan lama kelamaan
makin memberat secara perlahan, hingga 2 minggu yang lalu pasien mengatakan
mata kanannnya sangat kabur. Pandangan kabur menetap sepanjang hari. Keluhan
yang dirasakan tidak membaik dengan obat tetes mata, dan merasa silau pada siang
hari. Selain itu pasien juga mengeluhkan bahwa penglihatannya seperti tertupi asap.
Keluhan seperti nyeri, mata merah, keluar kotoran, dan berair disangkal oleh pasien.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan data pemeriksaan status vital dalam batas
normal. Berdasarkan status opthalmologis didapatkan penurunan visus pada mata
kanan yaitu hitung jari serta mata kiri 6/21 PH 6/12, palpebral normal pada kedua
mata, konjungtiva tenang pada kedua mata, kornea jernih pada kedua mata, bilik mata
kanan dan kiri dalam, kedua iris regular dan bulat, kedua reflek pupil (+), pada lensa
mata kanan tampak keruh diseluruh lensa tanpa adanya iris shadow, sedangkan lensa
mata kiri normal. Pergerakan kedua bola mata pasien baik ke segala arah, lapang
pandang mata kanan kiri normal, dan reflex fundus mata kanan sulit untuk dievaluasi
sedangkan mata kiri positif. Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik dapat
digolongkan bahwa keluhan yang dialami oleh pasien termasuk dalam kabur
pengelihatan. Dari kategori ini, diagnosis banding yang dapat diajukan adalah OD
katarak senilis mature, OD katarak komplikata dan OD katarak senilis immature.
Diantara semua diagnosis banding tersebut, pasien diagnosis dengan OD
katarak senilis mature. Untuk menegakkan diagnosis lebih lanjut, pada pasien perlu
dilakukan pemeriksaan seperti pemeriksaan slit lamp, biometri, retinometri,
ultrasonografi (USG) bola mata dan pemeriksaan spekular mikroskop.
Penatalaksanaan pada kasus katarak dengan pembedahan merupakan solusi
terbaik untuk mengobati katarak dengan angka keberhasilan mencapai kurang lebih
95%. Beberapa pilihan terapi pembedahan antara lain ICCE, ECCE, SICS, serta
fakoemulsifikasi. Pada pasien ini indikasi dilakukannya operasi katarak adalah

24
• Visus mata kanan pasien kurang dari 3/60 adalah indikasi mutlak operasi
• Menghindari terjadinya hiperamature lensa yang nantinya ditakutkan akan
menyebabkan glaukoma sekunder akibat proses fakolitik dan fakotoksik.
Oleh karena itu, sebaiknya dilakukan pengeluaran lensa dan menggantinya
dengan lensa buatan.
• Mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Pada pasien ini, jenis operasi SICS lebih dipilih sebagai saran karena kecurigaan
katarak yang matur pada mata kiri metode ini lebih dipilih pada kasus katarak matur
yang kondisi nukleusnya sudah keras.

25
BAB V
SIMPULAN

Katarak merupakan kekeruhan yang terjadi pada lensa mata, yang


menghalangi sinar masuk ke dalam mata akibat hidrasi lensa atau denaturasi protein
lensa. Katarak masih merupakan penyebab kebutaan paling banyak di dunia dan di
Indonesia. Terjadinya kekeruhan pada lensa dipengaruhi oleh berbagai faktor antara
lain usia, jenis kelamin, herediter, kongenital, trauma, lingkungan, obat-obatan, dan
infeksi. Keluhan yang dialami pasien yang menderita katarak umumnya seperti
pandangan berkabut seperti tertutup asap atau pandangannya mulai kabur, semakin
nyata apabila dalam keadaan gelap. Diagnosis katarak ditegakkan berdasarkan
anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan status
ophtamologis yang khas pada katarak adalah adanya kekeruhan pada lensa.
Tatalaksana pada pasien katarak yaitu dilakukan pembedahan.
Pasien Laki-laki inisial IMRT yang berusia 66 tahun ini, berdasarkan
anamnesis dan pemeriksaan fisik dapat digolongkan bahwa keluhan yang dialami
oleh pasien termasuk dalam penurunan visus perlahan dengan keluhan lain seperti
silau saat terkena cahaya, dan pandangan kabur seperti melihat asap. Selain itu
didapatkan pada pemeriksaan status oftalmologi lensa yang keruh pada seluruh
bagian lensa sehingga diagnosis yang dapat diajukan adalah OD katarak senilis
matur. Untuk menegakkan diagnosis lebih lanjut, pada pasien perlu dilakukan
pemeriksaan seperti pemeriksaan slit lamp, biometri, retinometri, ultrasonografi
(USG) bola mata dan pemeriksaan spekular mikroskop. Pada pasien ini, jenis operasi
SICS lebih dipilih sebagai saran karena kecurigaan katarak yang mature sebagian
besar memiliki tekstur yang sudah keras sehingga tidak efektif dengan tindakan
phacoemulsifikasi.

27
BAB VI
DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas S, dkk. Ilmu Penyakit Mata Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2014.
2. World Health Organization. 2018. Blindness and vision impairment
prevention. [Internet]. Tersedia di: http://www.who.int/news-room/fact-
sheets/detail/blindness-and-visual-impairment
3. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.
Riset Kesehatan Dasar 2013. 2013; h. 231-242.
4. World Health Organization. WHO | Priority eye diseases. 2018. [Internet]
Tersedia di: http://www.who.int/blindness/causes/priority/en/index1.html.
5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2018. Katarak. Tersedia di
www.depkes.go.id. Diakses pada 23 Oktober 2019.
6. Gracella F.L., Sutyawan I.W.E., Putrawati T.A.A.M. 2017. Karakteristik
Penderita Katarak Senilis di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Tahun 2014.
E-Jurnal Medika Udayana, [S.l.], v. 6, n. 12, p. 151-156, dec. 2017. ISSN
2303-1395.Tersedia di: https://ojs.unud.ac.id/index.php/eum/article/view/.
7. Augsburger J. & Asbury T. Vaughan & Asbury’s General Ophtalmology. 18
ed. McGraw-Hill Companies, Inc. New York: McGraw-Hill Companies, Inc.
2015.
8. Johns J.K. Lens and Cataract. Basic and Clinical Science Section 11.
American Academy of Ophthalmology. 2014.
9. Gupta V.B., Rajagopala M., Ravishankar B. Etiopathogenesis of cataract: An
appraisal. Indian J Ophthalmol 2014;62:103
10. Vaughan DG, Asbury T, Riordan Eva P. Oftalmologi Umum. Edisi 14.
Jakarta: Widya Medika, 2015.
11. Magalhães F.P., Costa E.F., Cariello A.J., Rodrigues E.B., Hofling-Lima A.L.
Comparative analysis of the nuclear lens opalescence by the Lens Opacities
Classification System III with nuclear density values provided by Oculus

28
Pentacam: a cross-section study using Pentacam Nucleus Staging software.
Arq. Bras. Oftalmol. [Internet]. 2016. Apr;74 2 ): 110-113. Tersedia
di:http://www.scielo.br/scielo.php?script=sci_arttext&pid=S0004-
27492011000200008&lng=en.
12. Coaxial Phacoemulsification and Coaxial Microincision Phacoemulsification.
Iranian Journal of Opthalmology. 2017; 22(4): 13-24.

29