Anda di halaman 1dari 18

KOHESI LEKSIKAL SINONIMI, ANTONIMI, DAN REPETISI

PADA RUBRIK CERITA ANAK, CERITA REMAJA, DAN CERITA


DEWASA DALAM SURAT KABAR HARIAN KOMPAS
LEXICAL COHESION OF SYNONYMS, ANTONYMS, AND REPETITIONS ON THE
RUBRIC OF CHILDREN’S, ADOLESCENT’S, AND ADULTS’ STORY
IN THE DAILY NEWSPAPER KOMPAS

Siti Sukriyah, 2Sumarlam, 3Djatmika


1

Pascasarjana, Universitas Sebelas Maret


1

Jalam Ir. Sutami, No. 36 A, Kentingan, Jebres, Surakarta, Indonesia


Telepon (0271) 646994, Fakmisile (0271) 636268
2,3
Pascasarjana, Universitas Sebelas Maret
Jalam Ir. Sutami, No. 36 A, Kentingan, Jebres, Surakarta, Indonesia
Telepon (0271) 646994, Fakmisile (0271) 636268
Pos-el: sitisukriyah79@gmail.com

Naskah diterima: 19 April 2018; direvisi: 23 Agustus 2018; disetujui: 14 Desember 2018

Permalink/DOI: 10.29255/aksara.v30i2.230.267-283

Abstrak
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kepaduan wacana yang didukung oleh aspek kohesi
leksikal, dibatasi pada penggunaan sinonimi, antonimi, dan repetisi dalam rubrik cernak,
roman, dan cerpen dalam surat kabar harian Kompas. Penyediaan data dalam penelitian ini
dilakukan dengan metode simak dan teknik baca; simak bebas libat cakap (SBLC) dan teknik
catat. Data dianalisis dengan metode agih dan teknik bagi unsur langsung (BUL) dan teknik
lanjutan teknik ganti serta teknik lesap. Penelitian ini menggunakan teori wacana Halliday
untuk melihat penanda kohesi leksikal dalam sebuah teks. Hasil dan pembahasaan penelitian
ini menunjukkan aspek kohesi leksikal sinonimi, antonimi, dan repetisi terdapat dalam
setiap cerpen. Dalam rubrik cernak, roman, dan cerpen dalam surat kabar harian Kompas
merupakan sebuah wacana yang padu karena di dukung oleh penanda kohesi leksikal yang
tepat. Secara umum, penanda leksikal yang digunakan pengarang dalam tiga rubrik Kompas
adalah sinonimi, antonimi, dan repetisi. Oleh karena itu, penelitian ini memfokuskan pada
aspek kohesi leksikal yang terdapat pada rubrik cernak, roman, dan cerpen dalam surat
kabar harian Kompas.

Kata kunci: antonimi, kohesi leksikal, repetisi, sinonimi

Abstract
This research aims to describe discourse coherence which is supported by aspects of lexical
cohesion, limited to the use of synonyms, antonyms, and repetition in the cernak, romance,
and short stories in Kompas newspaper. Provision of data in this research was carried out by
using the reading method and reading techniques; simak bebas libat cakap (SBLC) and note
taking technique. Data were analyzed by the method of agih and bagi unsur langsung (BUL)
techniques and advanced ganti techniques and lesap techniques. This study uses Halliday’s
discourse theory to look at markers of lexical cohesion in a text. The results and discussion
of this research indicate aspects of synonymy, antonymy, lexical cohesion, and repetition

ISSN 0854-3283 (Print), ISSN 2580-0353 (Online) , Vol. 30, No. 2, Desember 2018 267
Kohesi Leksikal Sinonimi, Antonimi, dan Repetisi pada Rubrik Cerita Anak dan... Halaman 267 — 283
(Siti Sukriyah, Sumarlam, dan Djatmika)

in every short story. In the cernak, romance, and short stories in Kompas newspaper, it is a
solid discourse because it is supported by appropriate lexical cohesion markers. In general,
the lexical markers used by the authors in the three Kompas rubrics are synonymy, antonym,
and repetition. Therefore, this research focuses on aspects of lexical cohesion found in the
cernak, romance, and short stories rubric in Kompas newspaper.

Keywords: antonymy, lexical cohesion, repeatation, synonymy

How to cite: Sukriyah, S., Sumarlam, & Djatmika. (2018). “Kohesi Leksikal Sinonimi, Antonimi, dan
Repetisi pada Rubrik Cerita Anak, Cerita Remaja, dan Cerita Dewasa dalam Surat Kabar Harian Kompas”.
Aksara, 30(2), 267—283 (DOI: 10.29255/aksara.v30i2.230.267-283).

PENDAHULUAN dipertimbangkan dari segi isi (informasi)


Dalam memenuhi kebutuhan untuk ber­ yang koheren, sedangkan kekohesifannya
komunikasi, manusia membutuhkan sarana. dipertimbangkan dari keruntutan unsur
Sarana itu digunakan untuk mengungkapkan pendukungnya, yaitu bentuk. Djajasudarma
ide, gagasan, maksud, dan sebagainya. Sarana (2012, hlm. 3) menyatakan bahwa wacana
komunikasi tersebut berupa bahasa yang adalah rentetan kalimat yang menghubungkan
sangat efektif prosesnya. Bahasa sebagai alat proposisi yang satu dengan proposisi yang
komunikasi tidak dirinci dalam bentuk bunyi, lain, membentuk satu kesatuan. Pengertian
frasa ataupun kalimat secara terpisah, tetapi yang sejenis juga diungkapkan oleh Badara
dipakai dalam wujud kalimat yang saling (2012, hlm. 16) yang menyatakan bahwa
berkaitan. Kalimat pertama menyebabkan wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan,
timbulnya kalimat kedua, kalimat kedua yang menghubungkan proposisi yang satu
menyebabkan timbulnya kalimat ketiga, dengan proposisi yang lainnya, membentuk
kalimat ketiga mengacu kembali pada kalimat satu kesatuan sehingga terbentuklah makna
pertama dan seterusnya. Rentetan kalimat yang yang serasi di antara kalimat-kalimat itu.
berkaitan akan menghubungkan proposisi yang Pernyataan yang senada juga diungkapkan
lain dan membentuk kesatuan yang disebut oleh Chaer (2012, hlm. 267) yang menyatakan
tuturan atau wacana. Wacana merupakan satuan bahwa wacana merupakan satuan bahasa yang
bahasa di atas tataran kalimat yang digunakan memiliki hierarki tertinggi dalam bahasa dan
untuk komunikasi dalam konteks sosial. Satuan pemahaman atas sebuah wacana memerlukan
bahasa tersebut dapat berupa rangkaian kalimat piranti yang utuh.
atau ujaran. Wacana dapat berbentuk lisan Menurut Kridalaksana (2008, hlm. 179),
atau tulis dan dapat bersifat transaksional wacana adalah satuan bahasa terlengkap;
ataupun interaksional. Dalam komunikasi lisan, dalam hierarki gramatikal merupakan satuan
wacana dipandang sebagai proses komunikasi gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana
antarpenyapa dan pesapa, sedangkan dalam direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh,
komunikasi secara tulis, wacana terlihat sebagai paragraf, kalimat, atau kata yang membawa
hasil dari pengungkapan ide atau gagasan amanat lengkap. Menurut Rusminto (2015, hlm.
penyapa. Wacana bersifat transaksional artinya 3), wacana dapat diartikan sebagai organisasi
wacana dapat melibatkan satu orang saja bahasa yang lebih luas dari kalimat atau
sebagai penutur, sedangkan wacana bersifat klausa, dapat juga dimaksudkan sebagai satuan
interaksional artinya dapat melibatkan dua linguistik yang lebih besar. Satuan pendukung
atau lebih penutur. Wacana yang utuh harus kebahasaan yang meliputi fonem, morfem,

268 , Vol. 30, No. 2, Desember 2018 ISSN 0854-3283 (Print), ISSN 2580-0353 (Online)
Halaman 267 — 283 Lexical Cohesion of Synonyms, Antonyms, and Repetitions on The Rubric of Children’s, Adolescent’s, and...
(Siti Sukriyah, Sumarlam, dan Djatmika)

kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, hingga dan kohesivitas (Badara, 2012, hlm. 26).
karangan utuh.” Secara singkat wacana adalah Menurut Halliday dan Hasan (1976, hlm. 2),
satuan bahasa yang terlengkap yang dibentuk teks (wacana) juga harus dipahami sebagai satu
dari rentetan kalimat yang kontinuitas, kohesif, kesatuan semantik dan bukan satu kesatuan
dan koheren sesuai dengan konteks situasi. gramatikal (seperti: morfem, kata, klausa,
Dengan kata lain, wacana adalah satuan tuturan atau kalimat). Artinya, sejumlah kalimat dapat
yang merupakan realisasi bahasa yang dapat disebut teks atau wacana apabila memiliki
diwujudkan sekurang-kurangnya satu paragraf, tekstur yang saling terkait sehingga membentuk
paragraf dapat diwujudkan dalam rangkaian suatu maujud. Lebih lanjut dikatakan bahwa
kata, yang dapat direalisasikan dalam bentuk teks mempunyai tekstur (jaringan) dan inilah
novel, buku, majalah, surat kabar, ensiklopedia, yang membedakan dari sesuatu yang bukan
dan wacana lisan. teks. dan untuk membentuk tekstur diperlukan
Bahasa yang diungkap dalam bentuk tulisan ikatan antarbagian di dalam teks. Ikatan di
beragam jenisnya, yaitu bisa berupa wacana. dalam teks itulah disebut kohesi.
Wacana merupakan satuan terlengkap, adapun Kohesi sebagai serangkaian pertalian
wujud konkretnya dapat berupa novel, buku, makna untuk menghubungkan satu komponen
artikel, dan sebagainya. Menurut Sumarlam dalam teks dengan apa yang telah disebutkan
(2013, hlm. 12), Wacana merupakan satuan sebelumnya. Kohesi terjadi bila penafsiran
terlengkap yang dinyatakan secara lisan seperti suatu bagian dalam teks bergantung pada bagian
pidato, ceramah, khotbah, dan dialog, atau yang lain. Dengan kata lain, sejumlah kalimat
secara tertulis seperti cerpen, novel, buku, surat, dapat dianggap suatu teks yang utuh jika kalimat
dan dokumen tertulis, yang dilihat dari struktur tersebut saling berkait.Kohesi adalah perkaitan
lahirnya (dari segi bentuk) bersifat kohesif, antarproposisi yang dinyatakan secara eksplisit
dan dari struktur batinnya (dari segi makna) antarunsur gramatikal dan semantis dalam
bersifat koheren, terpadu. Bahasa tulis tersebut kalimat-kalimat yang membantuk wacana.
diungkapkan melalui media massa cetak dan Tarigan (2009, hlm. 191) menyatakan bahwa
elektronik. Salah satu bentuk media massa kohesi adalah hubungan antarbagian dalam teks
cetak adalah surat kabar, digunakan untuk yang ditandai oleh penggunaan unsur bahasa
menyampaikan informasi tentang berbagai atau kohesi adalah sifat semantis yang mengacu
peristiwa atau hal-hal yang terjadi. Surat kabar pada hubungan makna yang ada dalam teks.
harian Kompas salah satu bentuk media massa Halliday dan Hasan (1976, hlm. 4) berpendapat
cetak yang terdiri dari kolom-kolom, rubrik, bahwa kohesi adalah suatu konsep semantik
berita, maupun artikel. Salah satu kolom dalam yang mengacu pada hubungan makna yang ada
surat kabar harian Kompas yang terbit setiap dalam wacana. Kohesi memungkinkan suatu
minggu adalah kolom cerpen. Salah satu media wacana terpadu dalam suatu gagasan. Dengan
cetak yang menempatkan kolom untuk cerpen kata lain, kohesi berfungsi sebagai pengait
yaitu surat kabar Kompas. Wijana (2004, hlm. antar bagian di dalam wacana sehingga wacana
37) mengatakan bahwa wacana menunjuk yang bersangkutan utuh sebagai satu kesatuan
satuan kebahasaan yang ditransmisikan secara makna.
lisan maupun tulisan, sedangkan istilah teks Kohesi leksikal dilakukan dengan cara
hanya untuk satuan yang disampaikan secara memilih kata yang serasi. Perpaduan leksikal
tertulis saja. Teks juga berhubungan dengan terdiri dari enam jenis yaitu pengulangan
linguistik, misalnya dengan melihat kosakata, (repetition), sinonim, antonim, hiponim,
semantik, tata kalimat, juga koherensivitas, meronim, dan kolokasi. Kohesi adalah sifat

ISSN 0854-3283 (Print), ISSN 2580-0353 (Online) , Vol. 30, No. 2, Desember 2018 269
Kohesi Leksikal Sinonimi, Antonimi, dan Repetisi pada Rubrik Cerita Anak dan... Halaman 267 — 283
(Siti Sukriyah, Sumarlam, dan Djatmika)

semantis yang mengacu pada hubungan makna keterpahaman teks. Dapat dikatakan bahwa
yang ada dalam teks. Kohesi leksikal adalah kohesi mengacu pada aspek bentuk dan
ikatan kohesi yang muncul dalam wacana aspek formal bahasa (language), sedangkan
karena pilihan kata. Ikatan kohesi unsur koherensi mengacu pada aspek makna dan
leksikal lebih sulit diidentifikasi dengan segera aspek ujaran (speech). Dengan demikian,
karena sistem leksikal bahasa bersifat terbuka, jelaslah bahwa “Kohesi merupakan organisasi
sedangkan sistem gramatikal bersifat tertutup sintaktis merupakan wadah kalimat-kalimat
sehingga ikatan kohesi unsur gramatikal terlihat yang disusun secara padu dan padat untuk
lebih nyata dan konsisten (Halliday dan Hasan, menghasilkan tuturan.”
1976, hlm. 6). Halliday dan Hasan (1976, hlm. 6)
Melihat fenomena yang ada, dalam wacana mengemukakan bahwa unsur-unsur kohesi
tulis hubungan antarkalimat harus selalu wacana dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu
diperhatikan untuk memelihara keterkaitan kohesi gramatikal dan kohesi leksikal. Segi
dan keruntutan antar-kalimat. Keterkaitan bentuk atau struktur lahir wacana disebut aspek
dan kerapian bentuk ilmu dalam ilmu Bahasa gramatikal wacana; sedangkan segi makna
dinamakan kohesi dan koherensi. Kohesi dan atau struktur batin disebut aspek leksikal
koherensi mempunyai peran yaitu memelihara wacana. Chaer (2012, hlm. 5) mengatakan
keterkaitan antarkalimat, sehingga wacana sinonimi dapat diartikan sebagai nama lain;
menjadi padu, tidak hanya sekumpulan atau ungkapan yang maknanya kurang lebih
kalimat yang setiap kalimat mengandung sama dengan makna yang lain. Sinonimi
pokok pembicaraan yang berbeda, melainkan dapat dibedakan menjadi sinonimi morfem
satu unsur dalam teks yang harus menyatakan bebas dengan morfem terikat, sinonimi kata
konsep ikatan. dengan kata, sinonimi kata dengan frasa
Pada umumnya wacana yang baik akan atau sebaliknya, sinonimi frasa dengan frasa,
memiliki kohesi dan koherensi. Kohesi adalah dan sinonimi klausa/kalimat dengan klausa/
keserasian hubungan antar unsur yang satu kalimat.
dengan yang lain dalam wacana sehingga Verhaar (2012, hlm. 394) mengatakan
terciptalah pengertian yang baik dan koheren. bahwa “Antonim adalah ungkapan (biasanya
Wacana yang baik pada umumnya memiliki kata, tetapi dapat juga frasa atau kalimat)
keduanya. Kohesi merujuk pada aspek bentuk, yang dianggap bermakna kebalikan dari
sedangkan koherensi merujuk pada aspek ungkapan lain.” Secara sederhana dapat
makna. Kalimat atau frasa yang satu dengan disimpulkan bahwa antonim adalah kata-kata
yang lainnya bertautan; pengertian yang satu yang maknanya berlawanan. Misalnya kata
menyambung dengan pengertian yang lain. bagus berantonim dengan kata buruk; dan kata
Dalam kata kohesi terkandung pengertian membeli berantonim dengan kata menjual.
kepaduan, keutuhan, sedangkan dalam koherensi Antonimi (lawan kata) merupakan bagian
terkandung pengertian pertalian atau hubungan. kohesi leksikal yang berkaitan dengan nama
Dengan adanya kohesi dan koherensi dalam lain untuk benda atau hal yang lain; atau satuan
sebuah wacana, menjadikan wacana tersebut lingual yang maknanya berlawanan/beroposisi
mudah dibaca dan dipahami. Seperti juga dengan satuan lingual yang lain (Sumarlam,
halnya bahasa, teks pun mempunyai bentuk 2013, hlm. 62). Antonimi disebut juga oposisi
(form) dan makna (meaning). Kepaduan makna dimana mencakup konsep yang betul-
makna dan kerapian bentuk merupakan faktor betul berlawanan sampai kepada yang hanya
penting untuk menentukan keterbacaan dan kontras makna saja. Berdasarkan sifatnya,

270 , Vol. 30, No. 2, Desember 2018 ISSN 0854-3283 (Print), ISSN 2580-0353 (Online)
Halaman 267 — 283 Lexical Cohesion of Synonyms, Antonyms, and Repetitions on The Rubric of Children’s, Adolescent’s, and...
(Siti Sukriyah, Sumarlam, dan Djatmika)

antonimi dibedakan menjadi oposisi mutlak, penelitian. Tiga teks cerita tersebut adalah teks
oposisi kutub, oposisi hubungan, oposisi cerita pada rubrik Cerita Anak, Cerita Remaja,
hierarkis, dan oposisi majemuk. dan Cerita Dewasa dalam surat kabar Harian
Keraf (2009, hlm. 127) mengemukakan Kompas edisi Mei 2016.
bahwa ada tiga bentuk repetisi, yaitu berbentuk Dalam penelitian ini, penelitian dibatasi
kata, frasa, dan klausa. Kosasih (2008, hlm. masalah penelitian pada kohesi leksikal jenis
45--50) menyatakan bahwa “Frasa adalah sinonimi, antonimi, dan repetisi. Pembatasan
kelompok kata yang tidak melebihi batas masalah ini bertujuan untuk membatasi ruang
fungsi, klausa merupakan kelompok kata yang lingkup penelitian yang akan dilakukan
terdiri atas subjek dan predikat, sedangkan agar lebih terfokus dan terarah. Selain itu,
frasa tidak.” Di samping itu, (Keraf, 2009, penggunaan jenis kohesi leksikal sinonimi,
hlm. 129) juga menyatakan bahwa, “Nilai antonimi, dan repetisi, cenderung lebih dominan
repetisi dalam oratori dianggap tinggi, maka digunakan dalam sebuah wacana. Secara umum
para orator menciptakan bermacam-macam tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan
repetisi yang pada prinsipnya didasarkan pada kohesi leksikal jenis sinonimi, antonimi, dan
tempat kata diulang dalam baris, klausa, atau repetisi dalam rubrik Cerita Anak, Cerita
kalimat. Menurut Sumarlam (2013, hlm. 55-- Remaja, dan Cerita Dewasa dalam surat kabar
56), terdapat sembilan jenis repetisi, “Repetisi Harian Kompas edisi Mei 2016.
epizeuksis, repetisi tautotes, repetisi anafora, Berdasarkan klasifikasinya, rubrik Cerita
repetisi epistrofa, repetisi simploke, repetisi Anak, Cerita Remaja, dan Cerita Dewasa
epanalepsis, repetisi mesodiplosis, repetisi termasuk dalam kategori prosa tulis berbahasa
anadiplosis, dan repetisi utuh/penuh. Indonesia yang bersifat fiktif dan dipaparkan
Cerpen sesuai namanya adalah cerita secara naratif. Ketiganya berbentuk naratif
pendek. Akan tetapi berapa ukuran panjang karena cara pemaparannya berupa kisah-kisah
pendeknya itu memang tidak ada aturannya, atau cerita-cerita. Penelitian ini mengkaji
tak ada satu kesepakatan di antara para kohesi leksikal jenis sinonimi, antonimi, dan
pengarang dan para ahli (Nurgiyantoro, 2012, repetisi dalam surat kabar harian Kompas
hlm. 12). Bahasa yang digunakan wacana dari sudut pandang ketiga teks cerita tersebut
fiksi umumnya menganut azas licentia puitica berdasarkan rubriknya. Hal ini karena teks
(kebebasan berpuisi) dan licentia gramatica cerita dalam ketiga rubrik ini mempunyai
(kebebasan bergramatika) (Nurgiyantoro, 2012, sasaran yang berbeda-beda. Rubrik Cerita Anak
hlm. 1). Istilah fiksi sering digunakan dalam adalah rubrik anak-anak mewakili pembaca dari
pertentangannya dengan realitas –sesuatu yang kalangan anak-anak, kemudian Cerita Remaja
benar ada dan terjadi di dunia nyata sehingga adalah rubrik remaja mewakili pembaca dari
kebenarannya pun dapat dibuktikan dengan kalangan remaja, dan Cerita Dewasa mewakili
data empiris. Menurut Sumardjo (2007, hlm. pembaca dari kalangan dewasa. Dari sisi ketiga
202), cerpen adalah fiksi pendek yang selesai rubrik inilah, maka dapat diketahui penanda
dibaca dalam sekali duduk. Cerita pendek kohesi leksikal jenis sinonimi, antonimi dan
hanya memiliki satu arti, satu krisis, dan satu repetisi yang membentuk keutuhan wacana
efek untuk pembacanya, sehingga cerita fiksi dari masing-masing rubrik yaitu rubrik anak-
ini tetap merupakan cerita yang menarik. Daya anak, remaja, dan dewasa dengan tingkat
tarik cerita inilah yang yang pertama-tama perbandingan penggunaan kohesi leksikal
akan memotivasi orang untuk membacanya. sinonimi, antonimi dan repetisi tersebut.
Peneliti memilih tiga teks cerita sebagai objek Alasan dipilihnya rubrik Cerita Anak,

ISSN 0854-3283 (Print), ISSN 2580-0353 (Online) , Vol. 30, No. 2, Desember 2018 271
Kohesi Leksikal Sinonimi, Antonimi, dan Repetisi pada Rubrik Cerita Anak dan... Halaman 267 — 283
(Siti Sukriyah, Sumarlam, dan Djatmika)

Cerita Remaja, dan Cerita Dewasa dalam The Jakarta Post. Kesamaan antara penelitian
surat kabar harian Kompas karena dalam teks yang terdahulu dengan penelitian ini adalah
ini terdapat berbagai peranti kohesi leksikal, sama-sama mengkaji tentang kohesi. Semua
sinonimi, antonimidan repetisi yang dapat penelitian yang terdahulu mengkaji pada aspek
mendukung kepaduan dari wacana rubrik surat gramatikal dan leksikal serta koherensinya.
kabar harian Kompas ini. Pada penelitian ini mengkaji bagian dari aspek
Beberapa peneliti yang pernah mengkaji leksikal saja; perbedaan antara penelitian
tentang kohesi di antaranya sebagai berikut. terdahulu dengan penelitian ini adalah, kalau
Penelitian yang dilakukan oleh Subuki (2008), penelitian terdahulu fokus pada kohesi dan
yang mengkaji “Kohesi dan Koherensi dalam koherensi, sedang penelitian ini fokus pada
Surat Al-Baqarah”. Penelitian ini menjelaskan aspek sinonimi, antonimi, dan repetisi dalam
bahwa kohesi dapat diwujudkan dalam surat Al- surat kabar harian Kompas.
Baqarah, hubungan perwujudan kohesi dengan Penelitian ini dilakukan dengan pertimbangan
koherensi yang dicapai antarbagian dalam teks sebagai berikut. Teks cerita dalam rubrik Cerita
surat Al-Baqarah, dan kohesi yang dinyatakan Anak, Cerita Remaja, dan Cerita Dewasa
secara eksplisit melalui piranti kohesi yang merupakan teks cerita dengan sasaran pembaca
dapat mencukupi untuk pemahaman teks. yang berbeda-beda. Cerita Anak (cernak)
Penelitian yang dilakukan oleh Chalimah mewakili pembaca dari kalangan anak-anak,
dan Sumarlam (2017) dalam jurnalnya yang pada rubrik ini bahasa yang digunakan masih
berjudul “Substitution on the Famous Indonesia sangat sederhana untuk ukuran anak SD, dalam
Novel Ayat-Ayat Cinta Karya Habiburrahman Cerita Remaja (roman) mewakili pembaca dari
El Sherazy”. Penelitian ini meneliti pada kalangan remaja, dan bahasa yang digunakan
kohesi gramatikal khusus aspek substitusi sudah agak komplek dan pada Cerita Dewasa
saja. Dalam penelitian ini dijelaskan ada empat (cerpen) untuk pembaca kalangan dewasa
jenis substitusi yang ditemukan yaitu, sustitusi dengan bahasa yang lebih complicated lagi. Hal
nomina, substitusi verba, substitusi frasa, dan ini sangatlah menarik untuk diteliti mengingat
substitusi klausa. karakteristik dari masing-masing teks cerita
Penelitian tentang pemakaian kohesi pada tersebut sangatlah berbeda, sebab setiap teks itu
surat kabar pernah dilakukan oleh Triasmoro, ditujukan bagi pembaca yang tingkat usianya
Sumarlam, dan Djatmika (2016), Saidah berbeda-beda pula. Penelitian ini meneliti
(2015), dan Aisiyah dan Hanafiah (2015). analisis kohesi leksikal sinonimi, antonimi dan
Selain itu, Ali (2010) yang mengkaji “Penanda repetisi pada cernak, roman, dan cerpen pada
Kohesi Gramatikal dan Leksikal dalam surat kabar Harian Kompas edisi Mei 2016.
Cerpen The Killer Karya Ernest Hemingway”. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan
Penelitian ini mengkaji sebuah cerpen dengan penanda kohesi leksikal jenis sinonimi,
mendeskripsikan kohesi gramatikal dan leksikal antonimi, dan repetisi yang terdapat cerpen
pada wacana tersebut. Serta menjelaskan alasan surat kabar Harian Kompas edisi Mei 2016.
pemakaian kohesi gramatikal dan leksikal pada Manfaat penelitian ini ada dua yaitu manfaat
cerpen The Killer. teoritis dan manfaat praktis. Manfaat teoritis
Ratnanto (2010) yang mengkaji “Kohesi penelitian ini memperkaya khasanah ilmu
Gramatikal dan Leksikal pada Editorial The pengetahuan khususnya di bidang linguistik.
Jakarta Post”. Penelitian ini mendeskripsikan Manfaat praktis penelitian ini dapat digunakan
jenis dan penggunaan penanda kohesi sebagai bahan acuan bagi yang mengadakan
gramatikal dan leksikal dalam teks editorial penelitian sejenis.

272 , Vol. 30, No. 2, Desember 2018 ISSN 0854-3283 (Print), ISSN 2580-0353 (Online)
Halaman 267 — 283 Lexical Cohesion of Synonyms, Antonyms, and Repetitions on The Rubric of Children’s, Adolescent’s, and...
(Siti Sukriyah, Sumarlam, dan Djatmika)

METODE berkaitan dengan penelitian dan nota pencatat


Jenis penelitian ini merupakan penelitian data, tabel data, dan perlengkapan tulis.
deskriptif kualitatif, yaitu pengumpulan data Metode yang digunakan dalam penyediaan
berupa kata-kata dan bukan angka-angka dan data dalam penelitian ini adalah metode simak,
disampaikan dalam bentuk verbal. Menurut sedangkan dalam menerangkan metode simak
Sugiyono (2013, hlm. 12) penelitian kualitatif ini akan menggunakan teknik baca sebagai
adalah penelitian yang lebih menekankan pada teknik dasar. Sebagai teknik lanjutan yaitu
informasi dan data yang terkumpul berbentuk teknik simak bebas libat cakap (SBLC) dan
dalam kata-kata sehingga tidak menekankan teknik catat. Data-data yang telah dikumpulkan
pada angka. Seperti juga yang dinyatakan oleh lalu dikelompokkan sesuai dengan rumusan
Subroto (2013, hlm. 25), disebut penelitian masalah untuk dianalisis dan disesuaikan
kualitatif karena tidak didesain berdasarkan dengan landasan teori sehingga akan mudah
hitungan statistik, tetapi berdasarkan model mengklasifikasikan data dan menganalisisnya.
kualitatif. Datanya tidak berupa angka-angka Metode simak dilakukan oleh peneliti dengan
tetapi berdasarkan tuturan atau kutipan dari cara membaca secara berulang ulang hingga
tuturan, atau kata dan frasa yang terdapat menemukan satuan-satuan lingual yang
dalam suatu kalimat. Objek yang akan diteliti dijadikan data penelitian. Menyimak sambil
dalam penelitian ini adalah kohesi leksikal jenis mengambil data-data yang diperlukan, inilah
sinonimi, antonimi dan repetisi pada cernak, teknik dasar yang digunakan. Data yang
roman, dan cerpen surat kabar harian Kompas disimak menggunakan teknik lanjutan pertama
edisi Mei 2016. yaitu dengan teknik simak bebas libat cakap
Sumber data dalam penelitian ini adalah kemudian dicatat. Teknik SLBC disini, peneliti
teks dalam rubrik Cernak, Roman, dan Cerpen bertindak hanya sebagai pemerhati yang dengan
dalam surat kabar harian Kompas edisi Mei penuh minat tekun menyimak apa yang tersedia
2016, diterbitkan oleh Kompas Gramedia dalam sumber data. Dalam teknik SLBC ini,
tahun 2016. Data dalam penelitian ini adalah alat yang digunakan adalah diri peneliti sendiri
data kebahasaan yang berupa satuan-satuan (Sudaryanto, 2015, hlm. 135).
lingual yang mendukung aspek leksikal jenis Teknik lanjutan kedua yaitu teknik catat.
sinonimi, antonimi dan repetisi dalam rubrik Teknik catat dilakukan dengan cara memilah
cernak, roman, dan cerpen dalam surat kabar satuan-satuan lingual yang dibutuhkan
harian Kompas edisi Mei 2016. sebagai data dan dicatat dalam ejaan Bahasa
Teknik pengumpulan data yang digunakan Indonesia yang disempurnakan. Setelah dicatat,
dalam penelitian ini adalah teknik langsung selanjutnya dibaca secara cermat dan teliti agar
dengan cara studi dokumenter. Melalui teknik didapat satuan lingual yang relevan digunakan
studi dokumenter ini peneliti mengumpulkan sebagai data yang dianalisis. Pembacaan yang
data dengan membaca dan menandai data berulang-ulang untuk memperoleh pengamatan
yang ada hubungannya dengan masalah yang benar dalam menentukan apakah itu data
yang akan diteliti melalui arsip atau catatan. atau bukan. Jadi terdapat aspek penyelesian
Alat pengumpul data yang digunakan dalam dalam pengambilan data dari sumber data. Data
penelitian ini adalah peneliti sebagai instrumen yang diperoleh tersebut dicatat dalam tabel
utama yang merupakan perencana, pelaksana, analisis data, dalam hal ini kartu data.
pengumpul data, penganalisis data, dan sebagai Tahap penyediaan data dilakukan untuk
pelapor hasil penelitian. Selain itu, buku-buku mendapatkan fenomena lingual khusus yang
tentang wacana atau buku-buku penunjang yang mengandung keterkaitan dengan rumusan

ISSN 0854-3283 (Print), ISSN 2580-0353 (Online) , Vol. 30, No. 2, Desember 2018 273
Kohesi Leksikal Sinonimi, Antonimi, dan Repetisi pada Rubrik Cerita Anak dan... Halaman 267 — 283
(Siti Sukriyah, Sumarlam, dan Djatmika)

masalah (Sudaryanto, 2015, hlm. 6). Penyediaan hubungan maupun gradasi. Ditemukan juga
data dilakukan untuk kepentingan analisis. penggunaan antonim yang memiliki hubungan
Metode yang digunakan untuk menyajikan perlawanan yang bersifat mutlak dan saling
hasil analisis data dalam penelitian ini adalah melengkapi. Penggunaan antonim pada beberapa
metode formal dan informal. Menurut data dilakukan untuk mendukung kepaduan
Sudaryanto (2015, hlm. 145), metode formal wacana secara leksikal dan semantis, sehingga
adalah perumusan dengan tanda dan lambing- kehadirannya dapat menghasilkan wacana yang
lambang atau an artificial language, antara lain kohesif dan koheren. Antonimi meliputi oposisi
tanda (*) dan lambang huruf sebagai singkatan mutlak, oposisi kutub, oposisi hubungan,
nama S, P, O, K. Selanjutnya Sudaryanto oposisi hirarkial, dan oposisi majemuk.
mengemukakan bahwa metode penyajian Pada penggunaan repetisi, terdapat repetisi
informal adalah perumusan dengan kata-kata epizeuksis, repetisi tautotes, repetisi anafora,
biasa, walaupun dengan terminologi yang repetisi epistrofa, repetisi simploke, repetisi
teknis sifatnya. Dengan demikian, penggunaan mesodiplosis, repetisi epanalepsis, repetisi
kata-kata biasa (an natural language) serta anadiplosis, dan repetisi utuh/penuh. Pengarang
penggunaan tanda dan lambang (an artificial cenderung menggunakan pengulang epizeuksis
language) merupakan teknik hasil penjabaran dalam menyampaikan maksud pemikirannya.
metode penyajian itu. Ketiga cara untuk mencapai kepaduan wacana
melalui aspek leksikal itu akan diuraikan pada
HASIL DAN PEMBAHASAN bagian-bagian di bawah ini.
Hasil penelitian disajikan dalam katagori
kohesi leksikal jenis sinonimi, antonimi dan Kohesi Leksikal Sinonimi
repetisi. Pada penggunaan sinonimi dalam Sinonimi dapat diartikan nama lain atau hal yang
cernak, roman, dan cerpen dalam surat kabar sama; atau ungkapan yang maknanya kurang
harian Kompas dipengaruhi oleh dialek lebih sama dengan ungkapan lain. Sinonimi
dan sosiolinguistik pengarang. Penggunaan berfungsi untuk menjalin hubungan makna yang
sinonim dilakukan guna menjadikan kalimat sepadan antara satuan lingual tertentu dengan
lebih lentur dan tidak menjenuhkan pembaca satuan lingual lain dalam wacana. Berdasarkan
dengan penggunaan bahasa yang monoton satuan lingualnya, sinonimi dibedakan menjadi
dengan penggunaan variasi kata. Selain itu, lima, yaitu sinonimi morfem (bebas) dengan
penggunaan sinonim dalam rubrik cernak, morfem (terikat), sinonimi kata dengan kata,
roman, dan cerpen juga dilakukan guna sinonimi kata dengan frasa atau sebaliknya,
memperoleh kesepadan makna dan kata yang sinonimi frasa dengan frasa, dan sinonimi
berbeda sehingga terjalin kepaduan makna klausa/kalimat dengan klausa/kalimat.
dalam wacana/cerpen tersebut. Dalam hal ini,
sinonimi dibagi menjadi sinonimi morfem bebas Sinonimi Morfem (Bebas) dengan Morfem
dengan morfem terikat, kata dengan kata, kata Terikat
dengan frasa /sebaliknya, frasa dengan frasa, Banyak dijumpai dalam setiap bahasa akan
dan klausa/kalimat dengan klausa/kalimat. ditemukan istilah sinonim berdekatan (near
Pada penggunaan antonimi dalam rubrik synonym); sedangkan apa yang disebut sinonim
cernak, roman, dan cerpen dalam surat mutlak/absolute (absolute synonym) sangat
kabar harian Kompas, pengarang cenderung jarang ditemukan. Sinonim absolut adalah
menggunakan antonim mutlak bersifat sejumlah satuan lingual yang arti leksikalnya

274 , Vol. 30, No. 2, Desember 2018 ISSN 0854-3283 (Print), ISSN 2580-0353 (Online)
Halaman 267 — 283 Lexical Cohesion of Synonyms, Antonyms, and Repetitions on The Rubric of Children’s, Adolescent’s, and...
(Siti Sukriyah, Sumarlam, dan Djatmika)

sama persis Subroto (2011, hlm. 63-64). aspek leksikal yang berupa sinonimi antara
Berikut ini contoh-contoh data sinonime dari mengawasi pada kalimat pertama dengan
Kompas. melihat pada kalimat kedua pada contoh pada
kutipan (4). Kedua kata tersebut maknanya
Data 1, 2, dan 3 sepadan. Pada tuturan (5) kata kembali pada
(1) Ia mencegah Beni melakukan niat buruknya kalimat pertama bersinonim dengan kata
itu (S.8/CA/K/17-05-2016). pulang pada kalimat kedua juga mempunyai
(2) Aku senang mengajak kamu ke tempat ini
makna yang sepadan. Pada kutipan (6) kata
karena kamu selalu menemukan barang-
gamblang bersinonim dengan kata jelas pada
barang yang kerap membuatku menjadi
seperti alien (S.8/CR/K/27-05-2016). kalimat berikutnya juga mempunyai makna
(3) Aku berjalan dengan meraba cahaya, yang sepadan.
menyelisik suara, dan membaui aroma. Dan
bagiku, itu tak ada kesulitan sama sekali
Sinonimi Kata dengan Frasa atau
(S.104/CD/K/19-05-2016). Sebaliknya
Data yang ditemukan dalam surat kabar
Pada contoh kalimat tersebut morfem Kompas tentang sinonimi kata denfan Frasa
bebas ia pada (1), aku pada (2), dan aku pada atau sebaliknya, meliputi benak, hati kecil,
(3) bersinonim dengan morfem terikat -nya, matahari telah condong, sore, gelap, dan tak
-ku,dan -ku. ada cahaya. Berikut data lengkapnya.

Sinonimi Kata dengan Kata Data 7, 8, dan 9


Sinonim yang kedua adalah sinonim kata (7) Terbersit rencana di dalam benak
dengan kata. Berikut ini bentuk sinonimi kata Beni. Meski hati kecilnya tak ingin
dengan kata yang ditemukan dalam surat kabar mencuri, akhirnya Dhika memilih untuk
Kompas. mempertahankan persahabatannya (S.61/
CA/K/17-05-2016).
(8) Matahari telah condong kearah barat,
Data 4, 5, dan 6
namun tidak menggoyahkan suhu udara
(4) Tapi Beni meminta Dhika tetap waspada
yang masih terasa membakar kulitnya.
mengawasi jalan, sementara ia akan
Menikmati sore dengan menyusuri jalanan
menyolok-nyolok pohon jambu itu agar
kota yang tidak begitu ramai, bersamanya
buahnya berjatuhan .... Meski dalam
(S.126/CR/K/27-05-2016).
hatinya tak tega melihat Beni basah kuyup,
(9) Anak-anak lain suka bertanya, apakah yang
diam-diam Dhika tersenyum simpul (S.49/
aku lihat hanya gelap? Gelap itu artinya
CA/K/17-05-2016).
berwarna hitam. Tak ada cahaya (S.106/
(5) Kembali. Tidak ada hal yang paling
CD/K/19-05-2016).
ditunggunya selain kembali ke kota ini.
Kota yang selalu membuat kakinya terasa
berat untuk melangkah pulang (S.2/ Pada contoh kalimat tersebut, kepaduan
CR/K/27-05-2016). wacananya didukung oleh aspek leksikal
sinonimi antara satuan lingual benak pada
(6) ... aku telah bisa membedakan warna gelap
dan terang denbgan sangat gamblang.
kalimat pertama dengan satuan lingualhati kecil
Begitu terang. Begitu jelas (S.119/CD/
pada kalimat berikutnya seperti pada kutipan
K/17-05-2016).
(7), frasa matahari telah condong bersinonim
dengan kata sore seperti pada kutipan (8),
Pada contoh kalimat tersebut, kepaduan
dan kata gelap bersinonim dengan frasa tak
wacana tersebut antara lain didukung oleh
ada cahaya seperti pada kutipan (9). Masing-

ISSN 0854-3283 (Print), ISSN 2580-0353 (Online) , Vol. 30, No. 2, Desember 2018 275
Kohesi Leksikal Sinonimi, Antonimi, dan Repetisi pada Rubrik Cerita Anak dan... Halaman 267 — 283
(Siti Sukriyah, Sumarlam, dan Djatmika)

masing kutipan tersebut mempunyai makna Sinonimi Klausa/Kalimat dengan Klausa/


yang sepadan. Kalimat
Pada Cerpen Anak, terdapat klausa Beni
Sinonimi Frasa dengan Frasa mengutarakan niat pada kalimat pertama yang
Istilah sinonimi frasa dengan frasa, secara bersinonim dengan klausa Ia menceritakan
umum terdapat aspek leksikal sehingga ada maksud pada kalimat berikutnya seperti pada
makna kesepadanan yang ditemukan pada kutipan (13) mempunyai makna yang sama. Di
harian Kompas. Berikut ini data sinonimi frasa dalam Cerpen Remaja, dan Cerpen Dewasa
dengan frasa. tidak ditemukan adanya sinonimi antara klausa/
kalimat dengan klausa/kalimat.
Data 10, 11, dan 12
(10) Matanya berkeliling melihat suasana Data 13
sepi di gang rumah itu .... Siang yang (13) Kebingungan Dhika terjawab ketika
terik tak menjadi penghalang baginya Benimengutarakan niatnya ....
melaksanakan niatnya. Ia menengok ke Iamenceritakan maksud kedatangannya
kiri ke kanan (S.43/CA/K/17-05-2016). (S.72/CA/K/17-05-2016).
(11) Menikmati sore dengan menyusuri
jalanan kota yang tidak begitu ramai, Penemuan sejumlah data sinonimi secara
bersamanya. Tempat yang kerap mereka
keseluruhan di antara teks pada rubrik Cernak,
jadikan pelabuhan untuk membuang
Roman, dan Cerpen pada ketiga rubrik tersebut,
sauh, melepas lelah setelah seharian
berjalan-jalan keliling kota (S.129/ jumlah yang terbanyak, yaitu pada rubrik
CR/K/27-05-2016). Cernak, diikuti rubrik Roman, dan yang
(12) Ketika aku sampai di rumah sakit, cahaya terakhir adalah rubrik Cerpen. Pemerolehan
melesat di hadapanku. Aku dan ibu telah tersebut didapat karena adanya perbedaan
menunggu ayah di depan pintu stelah satuan lingual yang bersinonim di antara ketiga
beberapa hari ayah pergi ke luar kota
rubrik tersebut. Di dalam rubrik Cerpen, satuan
seperti biasanya (S.179/CD/K/19-05-
lingual yang digunakan tidak sevariatif dengan
2016).
satuan lingual yang digunakan dalam rubrik
Pada contoh kalimat (10) kepaduan wacana Roman. Satuan lingual yang digunakan dalam
aspek leksikal didukung oleh sinonimi antara rubrik Roman tidak sevariatif dibandingkan
frasa matanya berkeliling pada kalimat pertama dengan satuan lingual yang digunakan dalam
yang bersinonim dengan frasa menengok ke rubrik Cernak. Sebagai contoh, pada sinonimi
kiri ke kanan pada kalimat berikutnya. Pada morfem bebas dengan morfem terikat, temuan
contoh kalimat (11) terdapat aspek leksikal di dalam Cernak, yaitu berupa satuan lingual.
sinonimi antara frasa menyusuri jalanan kota Misalnya, Ia  -nya, mereka  -nya. Temuan
pada kalimat pertama bersinonim dengan tersebut ragamnya lebih sedikit daripada yang
frasa keliling kota pada kalimat berikutnya terdapat dalam rubrik Roman, yaitu dia 
juga mempunyai makna yang sepadan. Pada -nya, ia  -nya, Aku  –ku. Dan ragam satuan
kutipan (12) terdapat aspek leksikal sinonimi lingual dalam Cerpen lebih sedikit variasinya
antara frasa di hadapan pada kalimat pertama dibandingkan rubrik Cernak dan rubrik Roman,
bersinonim dengan di depan pada kalimat yaitu berupa aku  -ku.
berikutnya juga mempunyai makna yang
sepadan. Kohesi Leksikal Antonimi
Antonimi dapat diartikan sebagai nama lain

276 , Vol. 30, No. 2, Desember 2018 ISSN 0854-3283 (Print), ISSN 2580-0353 (Online)
Halaman 267 — 283 Lexical Cohesion of Synonyms, Antonyms, and Repetitions on The Rubric of Children’s, Adolescent’s, and...
(Siti Sukriyah, Sumarlam, dan Djatmika)

untuk benda atau hal yang lain; atau satuan pula pada kutipan (14) dan (15). Semuanya
lingual yang maknanya berlawanan/beroposisi mempunyai makna yang bertentangan secara
dengan satuan lingual yang lain. Antonimi mutlak.
disebut juga oposisi makna. Pengertian oposisi
makna mencakup konsep yang betul-betul Antonimi Kutub
berlawanan sampai kepada yang hanya makna Antonimi kutub adalah oposisi makna yang
kontras saja. Antonimi dibedakan menjadi 5 yang tidak bersifat mutlak, tetapi bersifat
bagian, yaitu antonimi mutlak, antonimi kutub, gradasi. Artinya, terdapat tingkatan makna pada
antonimi hubungan, antonimi hirarkial, dan kata-kata tersebut.
antonimi majemuk.
Data 17, 18, dan 19
Antonimi Mutlak (17) Dhika terkejut, matanya membesar...Beni
Antonimi mutlak adalah pertentangan makna menugaskan Dhika membawa kantung
plastik. Ia sendiri akan membawa galah
secara mutlak. Oposisi ini bersifat “ya” atau
kecil (A.3/CA/K/17-05-2016).
“tidak” artinya jika salah satu berlaku maka
(18) Dan yang tak pernah terlewat adalah
yang lainnya tidak berlaku. berkeliling di dalam sebuah toko yang
menyediakan banyak barang souvenir
Data 14, 15, dan 16 menarik. Enda menatap Freya beberapa
(14) Dhika tertegun. Ia bimbang harus memilih detik yang membuat garis itu menjadi
antara persahabatan dan bersikap sedikit salah tingkah (A.39/CR/K/27-05-
benar ... “I, iya, Pak. Teman saya tidak 2016).
bersalah, Pak. Saya yang membujuknya. (19) .... aku lupa kapan, tapi itu sudah lama
Kalau Bapak mau memberikan hukuman, sekali, aku telah bisa membedakan gelap
hukum saya saja, Pak,” ucap Beni (A.5/ dan terang dengan sangat gamblang
CA/K/17-05-2016). (A.48/CD/K/19-05-2016).
(15) Kota yang selalu membuatnya enggan
untuk hanya duduk diam .... menghasilkan Pada contoh kutipan tersebut, terdapat
bunyi gemerincing bila ia menggerakkan oposisi kutub (17) antara besar dengan kecil;
tangannya dengan kuat (A.28/CR/K/27-
(18) antara besar dengan kecil; dan (19)
05-2016).
antara gelap dengan terang. Tidak diketahui
(16) Itu adalah salah satu tanda bahwa laki-
laki dan perempuan berbeda (A.18/ yang disebut “besar” itu ukurannya seberapa,
CD/K/19-05-2016). begitupun dengan kecil. Bisa saja dikatakan
“sangat besar” >< “sangat kecil”, “agak besar”
Pada contoh di atas, terdapat oposisi mutlak >< “agak kecil”, “agak besar” >< “sangat kecil”.
(14) antara benar dengan salah; kalau tidak Begitupun juga pada contoh kutipan (18), tidak
benar berarti salah. Kalau tidak salah berarti diketahui yang disebut ‘banyak’ itu ukurannya
benar. (15) antara diam dengan gerak; kalau seberapa bisa “banyak sekali” >< “sedikit
tidak diam berarti gerak. Kalau tidak gerak sekali”, “agak banyak” >< “agak sedikit”, atau
berarti diam. Data (16) antara laki-laki dengan bisa juga “agak banyak” >< “sedikit sekali”.
perempuan dalam satu kalimat. Kata “laki-laki” Begitu juga pada contoh kutipan (19), tidak
tetaplah laki-laki. Walaupun dia waria tetap saja diketahui yang disebut “gelap” itu ukurannya
sejatinya dia laki-laki dan kata “perempuan” seberapa, mungkin bisa “sangat gelap” ><
tetaplah perempuan. Walaupun dia tomboi, “sangat terang”, atau “agak gelap” >< “agak
tetap saja sejatinya dia perempuan. Begitu terang”, atau bisa juga “sangat gelap” >< “agak

ISSN 0854-3283 (Print), ISSN 2580-0353 (Online) , Vol. 30, No. 2, Desember 2018 277
Kohesi Leksikal Sinonimi, Antonimi, dan Repetisi pada Rubrik Cerita Anak dan... Halaman 267 — 283
(Siti Sukriyah, Sumarlam, dan Djatmika)

terang”. Semuanya itu mempunyai makna yang menyatakan deret jenjang atau tingkatan.
yang bertentangan, tetapi bersifat gradasi atau Satuan lingual yang beroposisi hierarkis pada
tingkatan. umumnya kata-kata yang menunjuk pada
nama-nama satuan ukuran (panjang, berat,
Antonimi Hubungan isi), nama satuan hitungan, penanggalan, dan
Antonimi hubungan adalah oposisi makna sejenisnya.
yang bersifat saling melengkapi. Karena
oposisi ini bersifat saling melengkapi, kata Data 23, 24, dan 25
yang satu dimungkinkan ada kehadirannya (23) Siang yang terik tak menjadi penghalang
karena kehadiran kata yang lain yang menjadi baginya melaksanakan niatnya ... Hari
semakin malam, hati-hati, ya (A.17/
oposisinya; atau kehadiran kata yang satu
CA/K/17-05-2016).
disebabkan oleh adanya kata yang lain.
(24) Sampai detik ini dia belum muncul juga
.... Dua puluh menit sudah Freya duduk di
Data 20, 21, dan 22 sana ... Freya menengok jam tangannya
(20) Kamu anak yang baik hati, Dhika. yang serupa dengan charm bracelet
Jangan khawatir, Bapak akan melakukan (A.40/CR/K/27-05-2016).
sesuatu agar Beni jera. Besok kamu tetap (25) Suatu pagi, ibu pernah membawaku ke
ikuti saja keinginan Beni itu,” kata Pak taman ... Cahayanya hangat dan agung,
Gunawan (A.20/CA/K/17-05-2016). raja di siang hari .... Tapi menjelang
(21) Dari muda-mudi yang kasmaran sampai petang mereka selalu pulang ....Pada
kakek-nenek yang ingin mengenal malam yang dialiri angin yang lembut
indahnya masa muda (A.35/CR/K/27- seperti satin (A.84/CD/K/19-15-2016).
05-2016).
(22) Ayah bekerja sebagai pejabat Negara. Pada kutipan tersebut ditemukan satuan
Kata ibu, ayah orang penting (A.19/
lingual yang mendukung kepaduan wacana
CD/K/19-15-2016).
secara leksikal dan semantis, yaitu pada
(23) terdapat oposisi hierarkis siang dan
Pada kutipan tersebut, terdapat oposisi
malam menggambarkan realitas tingkatan
hubungan (20) antara satuan lingual anak
waktu dari pagi sampai malam; (24) terdapat
dengan satuan lingual bapak pada kalimat
oposisi hierarkis detik, menit, dan jam yang
berikutnya. Anak ada karena kehadirannya
menggambarkan realitas tingkatan waktu dari
dilengkapi oleh bapak. Begitu pula dengan
tingkat tercepat detik sampai tingkat terlambat
bapak, kehadirannya akan bermakna jika
jam; (25) terdapat oposisi hierarkis pagi, siang,
dilengkapi dengan anak. Pada (21) antara satuan
petang, malam yang menggambarkan realitas
lingual muda dengan satuan lingual mudi dalam
tingkatan waktu, yaitu antara satuan waktu
kalimat yang sama. Muda dimungkinkan ada
pagi yang dioposisikan dengan siang yang
karena kehadirannya dilengkapi oleh mudi
dioposisikan dengan petang dan dioposisikan
ataupun sebaliknya. Data pada (22) terdapat
pula dengan malam.
satuan lingual ayah dengan satuan lingual ibu
dalam kalimat yang berbeda. Ayah sebagai
realitas dimungkinkan ada karena kehadirannya Antonimi Majemuk
Antonimi majemuk adalah oposisi makna yang
dilengkapi oleh ibu dan sebaliknya.
terjadi pada beberapa kata (lebih dari satu).
Berikut data yang menggambarkan antonimi
Antonimi Hirarkial
majemuk.
Antonimi hierarkis adalah antonimi makna

278 , Vol. 30, No. 2, Desember 2018 ISSN 0854-3283 (Print), ISSN 2580-0353 (Online)
Halaman 267 — 283 Lexical Cohesion of Synonyms, Antonyms, and Repetitions on The Rubric of Children’s, Adolescent’s, and...
(Siti Sukriyah, Sumarlam, dan Djatmika)

Data 26, 27, dan 28 pada Roman, bahasa yang digunakan sudah
(26) Meski dalam hatinya tak tega melihat Beni mulai komplek sehingga penggunaan penanda
basah kuyup, diam-diam Dhika tersenyum aspek antonimi juga lebih banyak, dan pada
simpul...Pak Gunawan tertawa terbahak-
Cerpen bahasa yang digunakan sudah lebih
bahak (A.27/CA/K/17-05-2016).
(27) Kota yang selalu membuatnya enggan
bervariasi lagi sehingga penggunaan penanda
untuk hanya duduk diam. Kota yang aspek antonimi juga ikut bervariasi.
selalu membuat kakinya terasa berat
untuk melangkah pulang...Tempat yang Kohesi Leksikal Repetisi
kerap mereka jadikan pelabuhan untuk Repetisi adalah pengulangan satuan lingual
membuang sauh, melepas lelah setelah (bunyi, suku kata, kata, atau bagian kalimat)
seharian berjalan-jalan keliling kota...
yang dianggap penting untuk memberi tekanan
Pikirannya langsung berlari ke Jalan
Malioboro di mana ada sebuah tempat
dalam sebuh konteks yang sesuai. Berdasarkan
makan yang haram untuk dilewatkan tempat satuan lingual yang di ulang dalam baris,
(A.48/CR/K/27-05-2016). klusa, atau kalimat, repetisi dapat dibedakan
(28) Dan hal itu: cahaya, membuatku lebih menjadi sembilan macam, yaitu repetisi
mudah mengayunkan langkah. Aku epizeuksis, repetisi tautotes, repetisi anafora,
berjalan dengan meraba cahaya, repetisi epistrofa, repetisi simploke, repetisi
menyelisik suara, dan membaui aroma
mesodiplosis, repetisi epanalepsis, repetisi
(A.84/CD/K/19-15-2016).
anadiplosis, dan repetisi utuh/penuh.
Pada kutipan tersebut ditemukan satuan
lingual yang mendukung kepaduan wacana Repetisi Epizeuksis
secara leksikal semantis, yaitu pada (26) terdapat Repetisi epizeuksis adalah pengulangan satuan
oposisi hierarkis tersenyum dan tertawa, pada lingual (kata) yang dipentingkan beberapa kali
satuan lingual itu menggambarkan seseorang secara berturut-turut. Contoh repetisi epizeuksis
yang sedang tersenyum tidak harus selalu seperti yang terdapat di bawah ini.
tertawa. Pada kutipan (27) terdapat oposisi
Data 29, 30, dan 31
hierarkis diam, melangkah, berjalan, dan
(29) Karena di halaman rumah itu ada pohon
berlari. Kata diam pada kutipan di atas dapat
jambu yang sedang berbuah lebat. Buat
beroposisi dengan kata melangkah, berjalan, jambu yang berjuntai-juntai itu tampak
dan berlari. Pada kutipan (28) terdapat oposisi ranum. Menggugah selera. Beni berhenti
hierarkis langkah dan jalan. Satuan lingual sejenak memandangi jambu-jambu itu
langkah dapat beroposisi dengan jalan. (R.1/CA/K/17-05-2016).
Penemuan sejumlah data antonimi secara (30) Tidak ada hal yang paling ditunggunya
selain kembali ke kota ini. Kota yang
keseluruhan di antara teks Cernak, Roman,
selalu membuat kakinya terasa berat
dan Cerpen pada ketiga rubrik tersebut, yang
untuk melangkah pulang. Kota yang selalu
terbanyak, yaitu rubrik Cerpen, diikuti rubrik membuatnya enggan untuk hanya duduk
Roman, dan yang terakhir rubrik Cernak. diam. Menikmati sore dengan menyusuri
Perbedaan tersebut diperoleh karena jumlah jalanan kota yang tidak begitu ramai,
penanda aspek antonimi yang ditemukan di akhirnya wajah itu muncul diantara lalu
antara ketiga rubrik tersebut juga berbeda-beda. lalang orang (R.15/CR/K/27-05-2016).
(31) Anak-anak lain suka bertanya, apakah
Pada rubrik Cernak penggunaan bahasa masih
yang aku lihat hanya gelap? Gelap itu
sangat sederhana sehingga penanda aspek
artinya berwarna hitam. Tak ada cahaya.
antonimi yang digunakan juga masih sedikit, Kata mereka, gelap itu seperti ketika kau

ISSN 0854-3283 (Print), ISSN 2580-0353 (Online) , Vol. 30, No. 2, Desember 2018 279
Kohesi Leksikal Sinonimi, Antonimi, dan Repetisi pada Rubrik Cerita Anak dan... Halaman 267 — 283
(Siti Sukriyah, Sumarlam, dan Djatmika)

memejamkan mata (R.24/CD/K/19-15-


2016). Pada Cernak, tidak ditemukan repetisi
anafora. Pada contoh tuturan di atas terdapat (33)
Pada tuturan data tersebut terdapat kata satuan lingual kota yang selalu membuatpada
jambu pada (28), kota pada (29), dan gelap pada kalimat pertama dengan satuan lingual kota
(30) yang diulang beberapa kali secara berturut- yang selalu membuatpada kalimat berikutnya.
turut untuk menekankan pentingnya kata Dan pada (34) terdapat satuan lingual seperti
tersebut dalam konteks tuturan itu. Kata yang dengan seperti pada tiap-tiap baris pertama.
dipilih pada data tersebut menunjukkan bahwa Repetisi seperti ini berfungsi menunjukkan
penggunaan repetisi tidak dapat dihindari dalam makna kata/frasa yang diulang pada tiap baris
karya sastra seperti yang ditemukan pada ketiga pada kalimat tersebut.
rubrik bahasaan penelitian ini.
Repetisi Epistrofa
Repetisi Tautotes Repetisi Epistrofa adalah pengulangan satuan
Repetisi tautotes adalah pengulangan satuan lingual kata/frasa pada akhir baris atau akhir
lingual (sebuah kata) beberapa kali dalam kalimat secara berturut-turut. Contoh repetisi
sebuah konstruksi. Contoh repetisi tautotes epistrofa seperti di bawah ini.
seperti di bawah ini.
Data 35 dan 36
Data 32 (35) “I, iya, Pak. Teman saya tidak bersalah,
(32) Aku duduk di ayunan yang satu, sedangkan Pak (R.19/CA/K/17-05-2016).
Lukas dan Elias duduk di ayunan yang (36) Ibu telah menjelaskan puluhan kali.
lain (R.91/CR/K/27-05-2016). Bahkan mungkin ratusan kali (R.56/
CD/K/19-15-2016).
Di dalam Cernak dan Cerpen tidak
ditemukan adanya data, sedangkan di dalam Pada roman tidak ditemukan repetisi
Roman terdapat kata ayunan seperti pada kutipan epistrofa. Pada contoh tuturan (35) terdapat
(32) yang menggunakan kata ayunan diulang satuan lingual pak dengan pak di akhir kalimat
sebanyak dua kali dalam sebuah konstruksi. secara berturut-turut. Pada (36) terdapat satuan
Hal ini menunjukkan bahwa pengulangan kata lingual kali dengan kali di akhir kalimat secara
tersebut memang dipentingkan. berturut-turut. Hal ini untuk menekankan
pentingnya kata tersebut dalam konteks tuturan
Repetisi Anafora itu.
Repetisi anafora adalah pengulangan satuan
lingual berupa kata atau frasa pertama pada tiap Repetisi Simploke
baris atau kalimat berikutnya. Contoh repetisi Repetisi Simploke adalah pengulangan satuan
anafora seperti di bawah ini. lingual pada awal dan akhir beberapa baris/
kalimat berturut-turut. Pada penelitian ini baik
Data 33 dan 34 cernak, roman, maupun cerpen tidak ditemukan
(33) Kota yang selalu membuat kakinya terasa adanya repetisi simploke.
berat untuk melangkah pulang. Kota yang
selalu membuatnya enggan untuk hanya Repetisi Mesodiplosis
duduk diam. (R.21/CR/K/27-05-2016)
Repetisi Mesodiplosis adalah pengulangan
(34) Seperti apa warna gelap. Seperti apa
satuan lingual di tengan-tengah baris atau
warna hitam. (R.94/CD/K/19-15-2016)

280 , Vol. 30, No. 2, Desember 2018 ISSN 0854-3283 (Print), ISSN 2580-0353 (Online)
Halaman 267 — 283 Lexical Cohesion of Synonyms, Antonyms, and Repetitions on The Rubric of Children’s, Adolescent’s, and...
(Siti Sukriyah, Sumarlam, dan Djatmika)

kalimat secara berturut-turut. Contoh repetisi Repetisi Anadiplosis


mesodiplosis seperti di bawah ini. Repetisi Anadiplosis adalah pengulangan
kata/frasa terakhir dari baris/kalimat itu
Data 37, 38, dan 39 menjadi kata/frasa pertama pada baris/kalimat
(37) Wajah Dhika bingung dengan sikap Beni. berikutnya. Contoh repetisi anadiplosis seperti
Kebingungan Dhika terjawab ketika Beni di bawah ini.
mengutarakan niatnya(R.17/CA/K/17-
05-2016).
Data 41 dan 42
(38) Kota yang selalu membuat kakinya terasa
(41) Setelah pecel tandas, Enda biasanya
berat untuk melangkah pulang. Kota
segera membawa dua gelas minuman
yang selalu membuatnya enggan untuk
kesukaannya, yaitu es dawet. dawetnya
hanya duduk diam (R.35/CR/K/17-05-
yang berwarna hijau berpadu serasi
2016).
dengan santan kental dan es baru yang
(39) Seperti apa warna gelap. Seperti apa
suhunya membuat gelas di tangannya
warna hitam (R.91/CD/K/19-15-2016).
berembun (R.33/CR/K/17-05-2016)
(42) Seperti itulah gelap. Gelap hanya sedikit
Pada contoh tuturan tersebut terdapat satuan berbeda dengan tidak gelap (R.85/
lingual antara (37) Dhika, (38) untuk, dan (39) CD/K/19-15-2016).
warna. Pengulangan satuan lingual pada tiap-
tiap kalimat tersebut terletak di tengah-tengah Pada cernak tidak ditemukan adanya repetisi
baris secara berturut-turut. Pengulangan seperti anadiplosis. Pada contoh tuturan di atas satuan
ini dimaksudkan untuk menekankan makna lingual (41) dawet dan (42) gelap yang terdapat
satuan lingual yang di ulang. pada akhir pada kalimat pertama menjadi kata
pertama pada kalimat yang kedua. Kata dawet,
Repetisi Epanalepsis dan gelap pada akhir kalimat menjadi kata
Repetisi epanalepsis adalah pengulangan satuan pertama pada awal kalimat.
lingual pada kata/frasa terakhir dari baris/
kalimat itu merupakan pengulangan kata/frasa Repetisi Utuh/Penuh
pertama. Contoh repetisi epanalepsis seperti di Repetisi Utuh atau Penuh adalah pengulangan
bawah ini. satuan lingual secara utuh atau secara penuh.
Satuan lingual yang diulang itu dapat berupa
Data 40 satu baris, atau bahkan beberapa kalimat secara
(40) Gelaphanya sedikit berbeda dengan tidak utuh. Pada penelitian ini baik cernak, roman,
gelap (R.93/CD/K/19-15-2016).
maupun cerpen tidak ditemukan adanya repetisi
utuh/penuh.
Pada cernak dan roman tidak ditemukan
adanya repetisi epanalepsis sedangkan pada
SIMPULAN
cerpen. Dalam data analisis ditemukan satu
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan,
repetisi epanalepsis seperti yang terdapat pada
disimpulkan bahwa hasil penelitian dengan
kutipan (40) tersebut. Pada contoh kutipan di
menerapkan teori Halliday pada jenis kohesi
atas, satuan lingual gelap diawal kalimat diulang
leksikal jenis sinonimi, antonimi, dan repetisi,
lagi pada akhir kalimat. Hal ini berfungsi untuk
dalam cernak, roman, dan cerpen pada surat
menekankan pentingnya makna satuan lingual
kabar harian Kompas, terdapat penanda kohesi
yang diulang, yaitu gelap.
leksikal yang meliputi sinonimi, antonimi, dan
repetisi sehingga terjalin wacana yang padu.

ISSN 0854-3283 (Print), ISSN 2580-0353 (Online) , Vol. 30, No. 2, Desember 2018 281
Kohesi Leksikal Sinonimi, Antonimi, dan Repetisi pada Rubrik Cerita Anak dan... Halaman 267 — 283
(Siti Sukriyah, Sumarlam, dan Djatmika)

Pada aspek sinonimi ditemukan pemakaian Humaniora Epigram, Vol. 12(1), hlm.
sinonimi morfem bebas dengan morfem terikat, 55--64, http://jurnal.pnj.ac.id/index.php/
kata dengan kata, kata dengan frasa /sebaliknya, epigram/article/view/696/418.
frasa dengan frasa, dan klausa/kalimat dengan Badara, A. (2012). Analisis Wacana. Jakarta:
klausa/kalimat. Selain itu, ditemukan pula Kencana Prenada Media Group.
penggunaan aspek antonimi, yaitu antonimi
mutlak, antonimi kutub, antonimi hubungan, Chaer, A. (2012). Linguistik Umum. Jakarta:
antonimi hierarkis, dan antonimi majemuk. Hal Rineka Cipta.
yang paling menonjol pada aspek antonimi ini Chalimah dan Sumarlam. (2017). “Substitution
terletak pada kepaduan wacana secara leksikal of the Famous Indonesian Novel Ayat-
semantis yang menggambarkan satuan lingual Ayat Cinta Written by Habiburrahman El
dan oposisi hierarkis sebuah wacana. Shirazy”. Journal of English Language
Pada aspek repetisi dalam penelitian ini Teaching, 4(7), 20–36. http://jurnal.
telah ditemukan sembilan jenis repetisi, di ikipmataram.ac.id/index.php/joelt/article/
view/271.
antaranya repetisi epizeuksis, repetisi tautotes,
repetisi anafora, repetisi epistrofa, repetisi Djajasudarma. (2012). Wacana dan Pragmatik.
simploke, repetisi mesodiplosis, repetisi Bandung: PT Refika Aditama.
epanalepsis, repetisi anadiplosis, dan repetisi
Halliday, M.A.K., & Hasan. (1976). Cohession
utuh/penuh. Penemuan sejumlah data repetisi
in English. London: Longman Group
secara keseluruhan di antara teks cernak, Limited.
roman, dan cerpen pada ketiga rubrik tersebut,
yang terbanyak, yaitu rubrik cerpen diikuti Keraf, G. (2009). Komposisi. Jakarta: Nusa
oleh rubrik roman, dan terakhir adalah rubrik Indah.
cernak. Jumlah itu diperoleh karena dalam Kosasih. (2008). Ketatabahasaan dan
rubrik cerpen, repetisi yang tidak ditemukan Kesusastraan: Cermat Berbahasa
hanya repetisi simploke dan repetisi utuh. Indonesia. Bandung: Yrama Widya.
Kemudian dalam roman, aspek repetisi yang
tidak ditemukan adalah repetisi tautotes, Kridalaksana, H. (2008). Kamus Linguistik.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
repetisi epistrofa, repetisi simploke, repetisi
epanalepsis dan repetisi utuh/penuh. Sementara Nurgiyantoro, B. (2012). Teori Pengkajian Fiksi.
itu, di dalam cernak, aspek repetisi yang tidak Yogyakarta: Gadjah Mada University
ditemukan yaitu repetisi tautotes, anafora, Press.
simploke, anadiplosis, dan utuh/penuh.
Ratnanto, N. (2010). “Kohesi Gramatikal dan
Leksikal Editorial The Jakarta Post”.
DAFTAR PUSTAKA Tesis, Pascasarjana, Magister Linguistik.
Surakarta: Universitas Sebelas Maret.
Ali, S.W. (2010). “Penanda Kohesi Gramatikal
dan Leksikal dalam Cerpen The Killers Rusminto. (2015). Analisis Wacana. Yogyakarta:
Karya Ernest Hemingway. Tesis, Graha Ilmu.
Pascasarjana Magister Linguistik.
Surakarta: Universitas Sebelas Maret. Saidah, S.N. (2015). “Piranti Kohesi di dalam
Majalah Nipponia Edisi Tahun 2007 No.
Aisiyah, S. dan Hanafiah, W. (2015). “Analisis 40”. Skripsi, Program Studi Sastra Jepang.
Kohesi dan Koherensi pada Buletin Jumat”. http://jimbastrafib.studentjournal.ub.ac.id/
Jurnal Penelitian dan Pengembangan index.php/jimbastrafib/article/view/917.

282 , Vol. 30, No. 2, Desember 2018 ISSN 0854-3283 (Print), ISSN 2580-0353 (Online)
Halaman 267 — 283 Lexical Cohesion of Synonyms, Antonyms, and Repetitions on The Rubric of Children’s, Adolescent’s, and...
(Siti Sukriyah, Sumarlam, dan Djatmika)

Subroto, E. (2011). Pengantar Semantik dan Sumarlam. (2013). Teori dan Praktik Analisis
Pragmatik. Surakarta: Cakrawala Media. Wacana. Surakarta: Penerbit KATTA.

Subroto, E. (2013). Pemerian Morfologi Bahasa Tarigan, H. G. (2009). Pengajaran Wacana.


Indonesia. Yogyakarta: Media Perkasa. Bandung: Penerbit Angkasa.

Subuki, M. (2008). Kohesi dan Koherensi dalam Triasmoro, G.J., Sumarlam, dan Djatmika.
Surat Al-Baqarah. Tesis, Pascasarjana. (2016). “Kohesi pada Teks Cerita Rubrik
Depok: Universitas Indonesia. Anak-Anak, Remaja, dan Dewasa dalam
Majalah Penjebar Semangat”. Jurnal
Sudaryanto. (2015). Metode dan Aneka Teknik Lingua, Vol. 23(1), hlm. 19--48. DOI:
Analisis Bahasa. Yogayakarta: Sanata http://dx.doi.org/10.30957/lingua.v13i1.9.
Dharma University Press. http://lingua.pusatbahasa.or.id/index.php/
lingua/article/view/9.
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif,
Kualitatif, dan R&D. Bandung: CV Verhaar, J.W.M. (2012). Asas-Asas Linguistik
Alfabeta. Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Sumardjo, J. (2007). Catatan Kecil Tentang
Menulis Cerpen. Yogyakarta: Pustaka Wijana, I.D. (2004). Kartun: Studi Tentang
Pelajar. Permainan Bahasa. Yogyakarta: Ombak.

ISSN 0854-3283 (Print), ISSN 2580-0353 (Online) , Vol. 30, No. 2, Desember 2018 283
284 , Vol. 30, No. 2, Desember 2018 ISSN 0854-3283 (Print), ISSN 2580-0353 (Online)