Anda di halaman 1dari 6

Gerak Refleks

Gerak refleks adalah gerak yang dihasilkan oleh jalur saraf yang paling
sederhana. Jalur saraf ini dibentuk oleh sekuen neuron sensor, interneuron, dan
neuron motor yang mengalirkan impuls saraf untuk tipe reflek tertentu. Gerak refleks
yang paling sederhana hanya memerlukan dua tipe sel saraf yaitu neuron sensor dan
neuron motor. Gerak refleks disebabkan oleh rangsangan tertentu yang biasanya
mengejutkan atau menyakitkan. Gerak refleks terjadi apabila rangsangan yang
diterima oleh saraf sensori langsung disampaikan oleh neuron perantara (neuron
penghubung). Pada gerak refleks, impuls melalui jalan pendek atau jalan pintas yaitu
dimulai dari reseptor penerima rangsang, kemudian diteruskan oleh saraf sensori ke
pusat saraf, diterima oleh sel saraf, penghubung (asosiasi) tanpa diolah di dalam otak
dan langsung dikirim tanggapan ke saraf motor untuk disampaikan ke efektor, yaitu
otot dan kelenjar, jalan pintas ini disebut lengkung refleks. (Wilarso, Joko: 2001)

Gambar lengkung refleks

Mekanisme gerak refleks pada manusia

Gerak terjadi melalui mekanisme yang rumit dan melibatkan banyak bagian
tubuh. Terdapat banyak komponen-komponen tubuh yang terlibat dalam gerak, baik
disadari maupun tidak disadari. Seluruh mekanisme gerak yang terjadi di tubuh
manusia tidak terlepas dari peranan sistem saraf. Sistem saraf ini tersusun atas
jaringan saraf yang di dalamnya terdapat sel-sel saraf atau neuron. Meskipun sistem
saraf tersusun dengan sangat kompleks, tetapi sebenarnya hanya tersusun atas dua
jenis sel, yaitu sel saraf dan sel neuroglia. Adapun berdasarkan fungsinya sistem saraf
itu terbagi menjadi 3 jenis. Sel saraf sensorik disebut juga dengan sel saraf indera
karena berhubungan dengan alat indera. Sel saraf motorik berfungsi membawa impuls
berupa tanggapan dari susunan saraf pusat (otak atau sumsum tulang belakang)
menuju kelenjar tubuh. Sel saraf motorik disebut juga sel saraf penggerak, karena
berhubungan erat dengan otot sebagai alat gerak. Sel saraf penghubung disebut juga
sel saraf konektor, hal ini disebabkan karena fungsinya meneruskan rangsangan dari
sel saraf sensorik ke sel saraf motorik. Hal ini berbeda sekali dengan gerak biasa.
Gerak biasa rangsangan akan diterima oleh saraf sensorik dan kemudian langsung
disampaikan ke otak. Dari otak kemudian dikeluarkan perintah ke saraf sensorik dan
kemudian terjadilah gerakan. Pada gerakan biasa, gerakan itu dikonrol oleh otak.
(Wilarso, Joko: 2001)

Lengkung Refleks

Proses yang terjadi pada refleks melalui jalan tertentu disebut lengkung
refleks. Komponen-komponen yang dilalui refleks:

1. Reseptor rangsangan sensoris, peka terhadap suatu rangsangan (misalnya:


kulit).
2. Neuron aferen (sensoris), dapat menghantarkan impuls menuju ke susunan
saraf pusat (medulla spinalis/batang otak).
3. Pusat saraf (pusat sinaps), tempat integrasi masuknya sensoris dan dianalisis
kembali ke neuron eferen.
4. Neuron eferen (motorik), menghantarkan impuls ke perifer.
5. Alat efektor, merupakan tempat terjadinya reaksi yang diwakili oleh suatu
serat otot atau kelenjar.

Reseptor adalah suatu struktur khusus yang peka terhadap suatu bentuk
energi tertentu dan dapat mengubah bentuk energi itu menjadi aksi-aksi
potensial listrik atau impuls-impuls saraf. Efektor adalah percabangan akhir
serat-serat eferen (motoric) di dalam otot serat lintang, otot polos, dan kelenjar
(alat efektor).
Jenis Refleks

Refleks dapat dikelompokkan dalam berbagai tujuan. Refleks dikelompokkan


berdasarkan:

1. Letak reseptor yang menerima rangsangan


a. Refleks eksteroseptif, timbul karena rangsangan pada reseptor permukaan
tubuh.
b. Refleks interoreseptif (viseroreseptif), timbul karena rangsangan pada alat
dalam atau pembuluh darah (misal: dinding kemih, dan lambung).
c. Refleks proreseptif, timbul karena rangsangan pada reseptor otot rangka,
tendo, dan sendi untuk keseimbangan sikap.
2. Bagian saraf pusat yang terlibat:
a. Refleks spinal, melibatkan neuron di medula spinalis.
b. Refleks bulbar, melibatkan neuron di medula oblongata.
c. Refleks kortikal, melibatkan neuron korteks serebri.
3. Jenis atau ciri jawaban
a. Refleks motorik, efektornya berupa otot dengan jawaban berupa relaksasi
atau kontraksi otot.
b. Refleks sekretorik, efektornya berupa kelenjar dengan jawaban berupa
peningkatan atau penurunan sekresi kelenjar.
c. Refleks vasomotor, efektornya berupa pembuluh darah dengan jawaban
berupa vasodilatasi/vasokonstruksi.
4. Timbulnya refleks. Refleks telah timbul sejak lahir.
Refleks dibagi dalam:
a. Refleks tak bersyarat, refleks yang dibawa sejak lahir, bersifat mantap dan
tidak berubah dan dapat ditimbulkan bila ada rangsangan yang cocok.
(misalnya: bayi mengisap jari).
b. Refleks bersyarat, didapat selama pertumbuhan berdasarkan pengalaman
hidup dan memerlukan proses belajar, mempunyai ciri-ciri bersifat
individual (seseorang memiliki namun orang lain belum tentu
memilikinya, tidak menetap.
5. Jumlah neuron yang terlibat:
a. Refleks monosinaps, melalui beberapa sinaps dan dua neuron (satu neuron
aferen, satu neuron eferen) yang langsung berhubungan pada saraf pusat.
Contohnya: refleks tegang.
b. Refleks polisinaps, melalui beberapa sinaps, terdapat beberapa interneuron
yang menghubungkan neuron aferen dengan neuron eferen. Semua refleks
lebih dari satu sinaps kecuali refleks tegang.

Fisiologi Refleks

Bila kita melihat kegiatan biolistrik di masing-masing bagian pada suatu


lengkung refleks, akan didapati:

1. Potensial generator yang timbul karena pemberian rangsangan. Besar


kecilnya potensial ini bergantung pada kuat/ringannya rangsangan. Pada
reseptor tidak timbul potensial aksi tetapi potensial generator berupa
polarisasi.
2. Potensial aksi pertama timbul baru terlihat pada neuron eferen,
dihantarkan sepanjang neuron eferen dengan kecepatan bergantung pada
sifat serat aferen.
3. Pada pusat saraf impuls dan serat aferen akan dihantarkan ke neuron
lainnya melalui sinaps diteruskan ke neuron lain, akan mengalami
perlambatan pusat (sentral delay).
4. Impuls yang sampai di pusat eferen akan diteruskan dalam bentuk
potensial aksi. Kegiatan listrik ini diteruskan hingga sampai pada
hubungan serat eferen dan efektor.
5. Bila efektor berupa otot, selanjutnya di sel otot akan timbul potensi aksi
yang dapat menyebabkan kontraksi otot.

Dengan penjelasan di atas, dapat kita ketahui bahwa berbagai bentuk kegiatan
biolistic dapat ditemukan sepanjang lengkung refleks.

Hantaran impuls dapat dibedakan menjadi:

1. Hantaran orthodromik. Penghantaran kegiatan mulai dari reseptor hingga


efektor yang melalui aferen, saraf pusat, dan eferen. Hantaran impuls
dapat pula berlangsung dari reseptor ke efektor tanpa melalui saraf pusat,
karena saraf pusat memiliki cabang, langsung berhubungan dengan organ
lain yang dapat dipengaruhi.
2. Hantaran antidromik. Penghantaran impuls yang membalik tidak melalui
saraf pusat. Refleks ini tidak melalui sistem saraf pusat dan disebut refleks
akson karena hanya melalui akson saja.

Waktu refleks adalah penghantaran kegiatan sejak pemberian


rangsangan pada reseptor sampai timbul jawaban di efektor, atau masa
pemberian rangsangan hingga timbul jawaban. Waktu refleks ini ditentukan
oleh perlambatan pusat yang dialami terutama bila melalui sinaps. Gangguan
pada masing-masing bagian lengkung refleks dapat memengaruhi waktu
refleks.
Kekuatan refleks ditentukan oleh kekuatan rangsangan serta lama
pemberian rangsangan. 1 Bila diberikan dengan kekuatan yang lebih besar
maka lebih banyak reseptor yang terlihat. Bila terlihat lebih banyak serat
aferen yang meneruskan ke saraf pusat akan lebih banyak serat eferen terlihat
meneruskan kegiatan ke efektor akan mengakibatkan peningkatan jawaban
efektor.

Sering terjadi jawaban refleks terus berlangsung meskipun rangsang


sudah lama hal ini disebut lama refleks atau aksi ikutan refleks.

1
Syaifuddin, Anatomi Fisiologi, Penerbit buku kedokteran EGC, Jakarta, 2016, hlm.
232