Anda di halaman 1dari 4

5.

Sintetik – misoprostol (cytotec/gastrul)

Misoprostol merupakan obat analog prostaglandin E1 sintetik yang umum digunakan dalam
praktek obstetrik dan ginekologi. Misoprostol dapat menstimulasi reseptor prostaglandin sel otot
polos uterus sehingga dapat menyebabkan efek uterotonik. Selain itu, misoprostol juga
menstimulasi langsung reseptor prostaglandin E1 di gaster yang menyebabkan efek sitoproteksi
mukosa gastrointestinal.

Nama kimia misoprostol adalah 15-deoxy-16-hydroxy-16-methyl PGE1. Misoprostol secara luas


dikenal di masyarakat dengan nama dagang Cytotec. Tersedia dalam bentuk tablet mengandung
100 mg atau 200 mg misoprostol.

Indikasi pemberian misoprostol umumnya untuk pengobatan ulkus peptikum (ulkus pada
gaster dan duodenal), terutama yang disebabkan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS). Obat
misoprostol juga sering digunakan pada praktek obstetrik pada kasus abortus dengan indikasi
medis, pematangan serviks, induksi persalinan, dan penanganan perdarahan postpartum.

Misoprostol diabsorpsi dan di metabolisme di hati menjadi asam bebas. Misoprostol


sebagian besar diekskresi melalui urin dan sedikit melalui feses. Misoprostol dalam jumlah
sedikit keluar di ASI pada ibu menyusui. Misoprostol hanya tersedia dalam bentuk tablet dan
dapat diberikan melalui rute oral, vagina, sublingual, bukal, dan rektal sesuai indikasinya.

Farmakodinamik

Misoprostol (15-deoxy-16-hydroxy-16-methyl PGE1) merupakan analog sintetik


prostaglandin E1. Misoprostol memiliki struktur yang berbeda dengan prostaglandin E dengan
adanya metal ester pada C-1, grup metal pada C-16, dan grup hidroksil pada C-16.

Misoprostol memiliki efek melindungi mukosa lambung dan duodenum dengan cara:

1. Menstimulasi langsung reseptor prostaglandin E1 pada sel parietal gaster yang


menyebabkan inhibisi sekresi asam lambung basal dan nocturnal
2. Meningkatkan produksi bikarbonat dan mucus yang umumnya berkurang akibat
penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS)
3. Menyebabkan edema mukosa dan submukosa yang menyebabkan penebalan lapisan
mukosa sehingga dapat mengurangi aliran balik ion hidrogen.
4. Meningkatkan regulasi aliran darah mukosa sehingga meningkatkan efek mukosa
dalam produksi sel baru.

Selain itu, pengikatan misoprostol pada reseptor prostaglandin di sel miometrium dapat
menyebabkan kontraksi uterus. Misoprostol juga dapat mengikat secara selektif terhadap
reseptor prostanoid EP-2/EP-3 sehingga meningkatkan amplitudo dan frekuensi kontraksi uterus
yang menyebabkan dilatasi serviks.

Farmakokinetik

Farmakokinetik misoprostol sangat beragam tergantung rute penggunaan obat.


Sebelumnya misoprostol hanya untuk rute oral, namun di bidang obstetric misoprostol dapat
digunakan melalui rute vagina, sublingual, bukal, dan rektal.

Rute oral

Penggunaan misoprostol per oral umumnya sangat cepat dan hampir seluruhnya diabsorpsi pada
traktus gastrointestinal. Obat akan mengalami de-esterifikasi secara cepat menjadi asam bebas
yang aktif. Ikatan protein plasma asam misoprostol adalah di bawah 90% dan obat ini
bersifat concentration-independent.

Level plasma pada penggunaan misoprostol 400 ìg secara cepat meningkat dan mencapai puncak
(Tmax) sekitar 30 menit dan berkurang secara cepat juga selama 120 menit. Konsentrasi puncak
misoprostol rute oral adalah 287,6 pg/mL. Konsentrasi maksimum misoprostol dalam plasma
akan berkurang ketika obat diberikan bersamaan dengan makanan.

Misoprostol akan diekskresi dalam bentuk metabolit asam dinor dan tetranor kebanyakan melalui
urin dan sedikit dalam feses. Selain itu, misoprostol juga diekskresi melalui air susu ibu (ASI)
pada ibu yang menyusui dalam waktu 1 jam sebesar 7,6 pg/mL setelah pemberian obat dan akan
berkurang < 1 pg/mL dalam waktu 5 jam setelah pemberian obat.

Rute Vagina
Penggunaan misoprostol per vagina telah ditemukan lebih efektif dibandingkan per oral untuk
abortus dengan indikasi medis. Setelah pemberian melalui rute vagina, konsentrasi misoprostol
dalam plasma akan meningkat secara gradual sampai mencapai level maksimum dalam waktu 70
– 80 menit dan masih terdeteksi di plasma selama 6 jam. Konsentrasi puncak plasma misoprostol
per vagina lebih rendah dibandingkan per oral, yaitu 125,2 pg/mL.

Rute Sublingual

Misoprostol tablet dapat larut ketika diberikan di bawah lidah selama 20 menit. Konsentrasi
plasma tertinggi misoprostol rute sublingual dapat dicapai dalam 30 menit. Konsentrasi puncak
misoprostol rute sublingual merupakan yang tertinggi dibandingkan pemberian rute lainnya,
yaitu sebesar 574,8 pg/mL. Misoprostol tablet rute sublingual memiliki onset aksi yang hampir
mirip dengan rute oral dan lebih cepat dibandingkan dengan rute vagina. Hal ini dikarenakan
cepatnya absorpsi obat melalui mukosa sublingual dan metabolisme obat yang tidak melewati
metabolisme di hati.

Rute Bukal

Misoprostol rute bukal merupakan pemberian obat yang diberikan diantara bagian gigi dan pipi
untuk diabsorpsi oleh mukosa bukal. Level misoprostol pada plasma mencapai puncak selama
kurang lebih 75 menit.

Rute Rektal

Rute rektal umumnya memiliki rerata Tmax sekitar 40 – 65 menit. Misoprostol rute rektal
ditemukan hanya 1/3 dibandingkan dengan rute vagina.

Bentuk Sediaan

Misoprostol di Indonesia tersedia dalam sediaan tablet dengan dosis 100 ìg dan 200 ìg.

Cara Penggunaan
Misoprostol dapat digunakan melalui rute oral, vagina, sublingual, bukal, dan rektal sesuai
dengan indikasi pemberian obat. Pemakaian misoprostol melalui rute oral disarankan digunakan
bersamaan dengan makanan untuk meminimalisasi terjadinya efek samping diare. [1,3] Jika
terjadi diare, dapat diobati dengan larutan rehidrasi oral.

Cara Penyimpanan

Misoprostol sebaiknya disimpan pada ruangan kering dengan suhu ≤ 25°C.

Kombinasi dengan Obat Lain

Sampai saat ini belum terdapat sediaan misoprostol kombinasi dengan obat lain. Akan tetapi,
penggunaan misoprostol yang disertai dengan pemberian mifepristone, telah dilakukan untuk
aborsi medis.

Efek samping misoprostol paling sering adalah diare dan nyeri abdomen, yaitu pada pemberian
dosis 400 atau 800 μg perhari. Interaksi obat misoprostol dengan crofelemer dan eluxadoline
telah dilaporkan dapat meningkatkan level misoprostol dalam serum.

Keuntungan dan Kerugian Misoprostol bagi Ibu dan Janin


Menurut beberapa percobaan klinis yang membandingkan misoprostol dengan oksitosin
sebagai protocol induksi yang paling banyak digunakan saat ini, disebutkan bahwa penggunaan
misoprostol menunjukkan hasil lebih baik. Pada wanita di kelompok
misoprostol, waktu induksi rata – rata diperlukan 253 menit, sedangkan pada oksitosin
diperlukan 352 menit.
Menurut interval dari induksi ke akhir persalinan juga kelompok misoprostol
menunjukkan hasil lebih baik yang signifikan. Pada kelompok misoprostol 81% ibu hamil
melahirkan dalam 24 jam, sedangkan pada kelompok oksitoksin hanya 62%. Persalinan
pervaginam terjadi pada 81% kelompok misoprostol dan 64% pada kelompok oksitosin.
Penggunaan misoprostol sebagai pematangan serviks dan induksi membawa pada penurunan
risiko seksio sesaria sebanyak 47% (risk ratio = 0,53).