Anda di halaman 1dari 13

Laporan Pendahulan

Pada Klien dengan Tuberculosis Paru

A. Masalah Kesehatan
Tuberkulosis paru
B. Pengertian
Menurut Syvia A.price (dalam Nurarif & Kusuma : 2016) Tuberculosis adalah
penyakit infeksi menular yang di sebabkan mycobacterium tuberculosis yang
menyerang paru-paru dan hampir seluruh organ tubuh lainnya.

C. Gejala dan Tanda


Menurut Werdhani (2015), gejala pada penderita TBC ada gejala umum dan khusus,
yaitu:
1. Gejala sistemik/umum:
• Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah)
• Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam
hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti
influenza dan bersifat hilang timbul
• Penurunan nafsu makan dan berat badan
• Perasaan tidak enak (malaise), lemah
2. Gejala khusus:
• Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan
sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan
kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara “mengi”,
suara nafas melemah yang disertai sesak.
• Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai
dengan keluhan sakit dada.
• Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang
pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di
atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah.
• Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan
disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam
tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.
D. Pohon Masalah

Masuk lewat jalan


Mycobacterium TB Droplet infection
nafas

Menetap di jaringan paru Menempel pada paru

Terjadi proses
peradangan

Pengeluaran zat Tumbuh dan berkembang


pirogen di sitoplasma makrofag

Mempengaruhi Sarang primer atau afek


hipothalasmus primer (fokus ghon)

Mempengaruhi sel
point

Komplek primer Limfangitis local Limfangitis regional


hipertermi

Menyebar ke organ lain Sembuh sendiri Sembuh degan bekas


(paru lain, saluran tanpa pengobatan fibrosis
pencernaan, tulang)
melalui media (bronchogen
percontinuitum,
hematogen, limfogen)

Radang tahunan Pretahanan primer


di bronkus tidak adekuat
Berkembang Pembentukan Kerusakan membran
menghancurkan tuberkel alveolar
jaringan ikat sekitarnya

Pembentukan sputum Menurunnya permukaan


Bagian tengah nekrosis berlebihan efek paru

Membentuk jaringan keju


Ketidak efektif bersihan Alveolus mengalami
jalan nafas konsolidasi & eksudasi
Sekret keluar saat batuk

Batuk produktif (terus menerus) Gangguan pertukaran gas

Droplet infection Batuk berat

Terhirup orang sehat Distensi abdomen

Resiko infeksi Mual, Muntah

Intake nutrisi kurang

Ketidakseimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh

E. Pemeriksaan Diagnostik
Menurut Mansjoer, dkk (dalam Nurarif & Kusuma : 2016), pemeriksaan
diagnostik yang dilakukan pada klien dengan tubeculosis paru, yaitu:
1. Laboratorium darah rutin : LED normal/meningkat, limfositosis
2. Pemeriksaan sputum BTA : untuk memastikan diagnostik TB paru, namun
pemeriksaan ini tidak spesifik karena hanya 30-70% pasien yang dapat
didiagnosis berdasarkan pemeriksaan ini.
3. Tes PAP (Peroksidase Anti Peroksidase), merupakan uji serologi
imunoperoksidase memakai alat histogenstaining untuk menentukan adanya Ig
G spesifik terhadap basil TB.
4. Tes mantaoux / tuberkulin, merupakan uji serologi imunoperoksidase memakai
alat histogen staining untuk menentukan adanya Ig G spesifik terhadap basil TB.
5. Tehnik polymerase chain reaction
Deteksi DNA kuman secara spesifik melalui amplifikasi dalam meskipun
hanya satu mikroorganisme dalam spesimen juga dapat mendeteksi adanya
resistensi.
6. Becton Dickinson diagnostic instrument sistem (BACTEC)
Deteksi growth indeks berdasarkan CO2 yang dihasilkan dari metabolisme
asam lemak oleh mycobacterium tuberculosis.
7. MYCODOT
Deteksi antibodi memakai antigen liporabinomannan yang di rekatkan pada
suatu alat berbentuk seperti sisir plastic, kemudian dicelupkan dalam jumlah
memadai memakai warna sisir akan berubah
8. Pemeriksaan radiology: rontgen thorax PA dan lateral
- Bayangan lesi terletak di lapangan paru atas atau segment apikal lobus
bawah.
- Bayangan berwarna (patchy) / bercak (nodular)
- Adanya kavitas, malik atau ganda
- Kelainan bilateral terutama dilapangan atas paru
- Ada klasifikasi
- Bayangan menetap pada foto ulang beberapa minggu kemudian
- Bayangan millie

F. Penatalaksaan Medis
1. Tujuan Pengobatan
Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah kematian,
mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya
resistensi kuman terhadap OAT.
2. Prinsip pengobatan
Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip – prinsip sebagai berikut:
1. OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat, dalam
jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Jangan
gunakan OAT tunggal (monoterapi) . Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis
Tetap (OAT – KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan.
2. Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan pengawasan
langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas
Menelan Obat (PMO).
3. Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan.
 Tahap intensif (awal)
1. Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi
secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat.
2. Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, biasanya pasien
menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.
3. Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam
2 bulan.
 Tahap Lanjutan

1. Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam
jangka waktu yang lebih lama.
2. Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah
terjadinya kekambuhan.

G. Pengkajian Keperawatan
1. Pengumpulan data
Dalam pengumpulan data ada urutan – urutan kegiatan yang dilakukan yaitu :
a) Identitas klien
b) Riwayat penyakit sekarang
c) Riwayat penyakit dahulu
d) Riwayat penyakit keluarga
e) Riwayat psikososial
f) Pola fungsi kesehatan
1) Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Pada klien dengan TB paru biasanya tinggal didaerah yang
berdesak– desakan, kurang cahaya matahari, kurang ventilasi udara
dan tinggal dirumah yang sumpek.
2) Pola nutrisi dan metabolic
Pada klien dengan TB paru biasanya mengeluh anoreksia, nafsu
makan menurun.
3) Pola eliminasi
Klien TB paru tidak mengalami perubahan atau kesulitan dalam
miksi maupun defekasi
4) Pola aktivitas dan latihan
Dengan adanya batuk, sesak napas dan nyeri dada akan
menganggu aktivitas
5) Pola tidur dan istirahat
Dengan adanya sesak napas dan nyeri dada pada penderita TB
paru mengakibatkan terganggunya kenyamanan tidur dan istirahat.
6) Pola hubungan dan peran
Klien dengan TB paru akan mengalami perasaan asolasi karena
penyakit menular.
7) Pola sensori dan kognitif
Daya panca indera (penciuman, perabaan, rasa, penglihatan, dan
pendengaran) tidak ada gangguan.
8) Pola persepsi dan konsep diri
Karena nyeri dan sesak napas biasanya akan meningkatkan emosi
dan rasa kawatir klien tentang penyakitnya.
9) Pola reproduksi dan seksual
Pada penderita TB paru pada pola reproduksi dan seksual akan
berubah karena kelemahan dan nyeri dada.
10) Pola penanggulangan stress
Dengan adanya proses pengobatan yang lama maka akan
mengakibatkan stress pada penderita yang bisa mengkibatkan
penolakan terhadap pengobatan.
11) Pola tata nilai dan kepercayaan
Karena sesak napas, nyeri dada dan batuk menyebabkan
terganggunya aktifitas ibadah klien.
2. Pemeriksaan fisik
a) Berdasarkan sistem – sistem tubuh
1) Sistem integumen
Pada kulit terjadi sianosis, dingin dan lembab, tugor kulit menurun
2) Sistem pernapasan
Pada sistem pernapasan pada saat pemeriksaan fisik dijumpai
· inspeksi : adanya tanda – tanda penarikan paru, diafragma,
pergerakan napas yang tertinggal, suara napas
melemah.
· Palpasi : Fremitus suara meningkat.
· Perkusi : Suara ketok redup.
· Auskultasi : Suara napas brokial dengan atau tanpa ronki
basah, kasar dan yang nyaring.
3) Sistem pengindraan
Pada klien TB paru untuk pengindraan tidak ada kelainan
4) Sistem kordiovaskuler
Adanya takipnea, takikardia, sianosis, bunyi P2 syang mengeras.
5) Sistem gastrointestinal
Adanya nafsu makan menurun, anoreksia, berat badan turun.
6) Sistem muskuloskeletal
Adanya keterbatasan aktivitas akibat kelemahan, kurang tidur
dan keadaan sehari – hari yang kurang meyenangkan.
7) Sistem neurologis
Kesadaran penderita yaitu komposments dengan GCS : 456
8) Sistem genetalia
Biasanya klien tidak mengalami kelainan pada genitalia

H. Daftar Diagnosa Keperawatan


1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan: Sekret kental atau sekret
darah, Kelemahan, upaya batuk buruk. Edema trakeal/faringeal.
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan: Berkurangnya keefektifan
permukaan paru, atelektasis, Kerusakan membran alveolar kapiler, Sekret yang
kental, Edema bronchial.
3. Resiko tinggi infeksi dan penyebaran infeksi berhubungan dengan: Daya tahan
tubuh menurun, fungsi silia menurun, sekret yang inenetap, Kerusakan jaringan
akibat infeksi yang menyebar, Malnutrisi, Terkontaminasi oleh lingkungan,
Kurang pengetahuan tentang infeksi kuman.
4. Perubahan kebutuhan nutrisi, kurang dari kebutuhan berhubungan dengan:
Kelelahan, Batuk yang sering, adanya produksi sputum, Dispnea, Anoreksia,
Penurunan kemampuan finansial.
I. Intervensi

DX TUJUAN / KRITERIA INTERVENSI RASIONAL


HASIL
1 Bersihan jalan napas tidak 1. Kaji fungsi pernapasan: - Penurunan bunyi napas
efektif berhubungan bunyi napas, kecepatan, indikasi atelektasis,
dengan sekret kental atau imma, kedalaman dan ronki indikasi akumulasi
sekret darah, kelemahan, penggunaan otot aksesori. secret/ketidakmampuan
upaya batuk buruk, edema 2. Catat kemampuan untuk membersihkan jalan
trakeal/faringeal. mengeluarkan secret atau napas sehingga otot
batuk efektif, catat aksesori digunakan dan
Tujuan:
karakter, jumlah sputum, kerja pernapasan
Setelah dilakukan asuhan
adanya hemoptisis meningkat.
keperawatan
3. Berikan pasien posisi - Pengeluaran sulit bila
selama 2x30 menit,diharap
semi atau Fowler, sekret tebal, sputum
kan bersihan jalan napas
Bantu/ajarkan batuk berdarah akibat
pasien efektif dengan
efektif dan latihan napas kerusakan paru atau luka

kriteria hasil : dalam. bronchial yang

- pasien melaporkan 4. Bersihkan sekret dari memerlukan

sesak berkurang mulut dan trakea, suction evaluasi/intervensi

- pernafasan teratur bila perlu. lanjut.

- ekspandi dinding dada 5. Pertahankan intake cairan - Meningkatkan ekspansi

simetris minimal 2500 ml/hari paru, ventilasi maksimal

- ronchi tidak ada kecuali kontraindikasi. membuka area

- sputum berkurang 6. Lembabkan udara/oksigen atelektasis dan

atau tidak ada inspirasi. peningkatan gerakan

- frekuensi nafas 7. Berikan obat: agen sekret agar mudah

normal (16- mukolitik, bronkodilator, dikeluarkan

24)x/menit kortikosteroid sesuai - Mencegah


indikasi. obstruksi/aspirasi.
8. Bantu inkubasi darurat Suction dilakukan bila
bila perlu. pasien tidak mampu
mengeluarkan sekret.
- Membantu mengencerkan
secret sehingga mudah
dikeluarkan
- Mencegah pengeringan
membran mukosa.
- Menurunkan kekentalan
sekret, lingkaran ukuran
lumen trakeabronkial,
berguna jika terjadi
hipoksemia pada kavitas
yang luas.
- Diperlukan pada kasus
jarang bronkogenik.
dengan edema laring
atau perdarahan paru
akut.
2 Gangguan pertukaran gas 1. Kaji dispnea, takipnea, Tuberkulosis paru dapat
berhubungan dengan bunyi pernapasan rnenyebabkan meluasnya
berkurangnya keefektifan abnormal. Peningkatan jangkauan dalam paru-
kerusakan membran upaya respirasi, pani yang berasal dari
alveolar kapiler. keterbatasan ekspansi dada bronkopneumonia yang
dan kelemahan meluas menjadi
Tujuan: Setelah diberikan
2. Evaluasi perubahan- inflamasi, nekrosis,
askep selama 2x30 menit
tingkat kesadaran, catat pleural effusion dan
diharapkan pertukaran gas
tanda-tanda sianosis dan meluasnya fibrosis
kembali efektif dengan
perubahan warna kulit, dengan gejala-gejala

kriteria : membran mukosa, dan respirasi distress.

· Pasien melaporkan warna kuku. Akumulasi secret dapat

keluhan sesak 3. Demonstrasikan/anjurkan menggangp oksigenasi di

berkurang untuk mengeluarkan napas organ vital dan jaringan.

· Pasien melaporkan dengan bibir disiutkan, Meningkatnya resistensi


tidak letih atau lemas terutama pada pasien aliran udara untuk
· Napas teratur
· Tanda vital stabil dengan fibrosis atau mencegah kolapsnya
· Hasil AGD dalam batas kerusakan parenkim. jalan napas.
normal (PCO2 : 35-45 4. Anjurkan untuk bedrest, Mengurangi konsumsi
mmHg, PO2 : 95-100 batasi dan bantu aktivitas oksigen pada periode
mmH sesuai kebutuhan. respirasi.
5. Monitor GDA Menurunnya saturasi
6. Berikan oksigen sesuai oksigen (PaO2) atau
indikasi. meningkatnya PaC02
menunjukkan perlunya
penanganan yang lebih.
adekuat atau perubahan
terapi.
Membantu mengoreksi
hipoksemia yang terjadi
sekunder hipoventilasi
dan penurunan
permukaan alveolar
paru.
3 Resiko tinggi penyebaran 1. Review patologi penyakit - Membantu pasien agar
infeksi berhubungan fase aktif/tidak aktif, mau mengerti dan
dengan adanya infeksi penyebaran infeksi menerima terapi yang
kuman tuberkulosis. melalui bronkus pada diberikan untuk mencegah
jaringan sekitarnya atau komplikasi
Tujuan: Tidak terjadi
aliran darah atau sistem - Orang-orang yang
penyebaran infeksi
limfe dan resiko infeksi beresiko perlu program
setelah dilakukan
melalui batuk, bersin, terapi obat untuk
tindakan keperawatan
meludah, tertawa., ciuman mencegah penyebaran
dalam waktu 3x
atau menyanyi. infeksi.
24 jam.
2. Identifikasi orang-orang - Kebiasaan ini untuk

Kriteria Hasil : yang beresiko terkena mencegah terjadinya

- Klien infeksi seperti anggota penularan infeksi.


mengidentifikasi interfensi keluarga, teman, orang - Mengurangi risilio
dalam satu perkumpulan penyebaran infeksi
untuk mencegah resiko 3. Anjurkan pasien menutup - Febris merupakan
penyebaran infeksi mulut dan membuang indikasi terjadinya infeksi
- Klien menunjukkan dahak di tempat - Pengetahuan tentang
teknik untuk melakukan penampungan yang faktor-faktor ini
perubahan pola hidup tertutup jika batuk membantu pasien untuk
dalam melakkan 4. Gunakan masker setiap mengubah gaya hidup dan
lingkungan yangnyaman. melakukan tindakan. menghindari/ mengurangi
- TB yang diderita 5. Monitor temperatur keadaan yang lebih buruk
klien berkurang/ 6. Identifikasi individu yang - Periode menular dapat
sembuhIntervensi berisiko tinggi untuk terjadi hanya 2-3 hari
terinfeksi ulang setelah permulaan
Tuberkulosis paru, seperti: kemoterapi jika sudah
alkoholisme, malnutrisi, terjadi kavitas, resiko,
operasi bypass intestinal, penyebaran infeksi dapat
menggunakan obat berlanjut sampai 3 bulan
penekan imun/ - INH adalah obat pilihan
kortikosteroid, adanya bagi penyakit
diabetes melitus, kanker. Tuberkulosis primer
7. Tekankan untuk tidak dikombinasikan dengan
menghentikan terapi yang obat-obat lainnya.
dijalani. Pengobatan jangka pendek
8. Pemberian terapi INH, INH dan Rifampisin
etambutol, Rifampisin. selama 9 bulan dan
9. Pemberian terapi Etambutol untuk 2 bulan
Pyrazinamid pertama
(PZA)/Aldinamide, para- - Obat-obat sekunder
amino salisik (PAS), diberikan jika obat-obat
sikloserin, streptomisin. primer sudah resisten.
10. Monitor sputum BTA - Untuk mengawasi
keefektifan obat dan
efeknya serta respon
pasien terhadap terapi.
4 Gangguan keseimbangan 1. Catat status nutrisi berguna dalam
nutrisi, kurang dari paasien: turgor kulit, mendefinisikan derajat
kebutuhan berhubungan timbang berat badan, masalah dan intervensi
dengan mual muntah dan integritas mukosa mulut, yang tepat.
intake tidak adekuat. kemampuan menelan, Mengukur keefektifan
adanya bising usus, nutrisi dan cairan
Tujuan: Setelah diberikan
riwayat mual/rnuntah atau Membantu menghemat
tindakan keperawatan
diare. energi khusus saat
diharapkan kebutuhan
2. Kaji pola diet pasien yang demam terjadi
nutrisi adekuat, dengan
disukai/tidak disukai. peningkatan metabolik.

kriteria hasil: 3. Monitor intake dan output Mengurangi rasa tidak

· Menunjukkan berat secara periodik. enak dari sputum atau

badan meningkat 4. Catat adanya anoreksia, obat-obat yang

mencapai tujuan mual, muntah, dan digunakan yang dapat

dengan nilai tetapkan jika ada merangsang muntah.

laboratoriurn normal hubungannya dengan Memaksimalkan intake

dan bebas tanda medikasi. nutrisi dan menurunkan

malnutrisi. 5. Awasi frekuensi, volume, iritasi gaster

· Melakukan perubahan konsistensi Buang Air Memberikan bantuan

pola hidup untuk Besar (BAB). dalarn perencaaan diet

meningkatkan dan 6. Anjurkan bedres dengan nutrisi adekuat

mempertahankan berat 7. Lakukan perawatan mulut unruk kebutuhan

badan yang tepat. sebelum dan sesudah metabolik dan diet.


tindakan pernapasan. Membantu menurunkan
8. Anjurkan makan sedikit insiden mual dan muntah
dan sering dengan karena efek samping
makanan obat.
tinggi protein dan Nilai rendah
karbohidrat. menunjukkan malnutrisi
9. Rujuk ke ahli gizi untuk dan perubahan program
menentukan komposisi terapi.
diet.
10. Konsul dengan tim medis demam meningkatkan
untuk jadwal pengobatan kebutuhan metabolik dan
1-2 jam sebelum/setelah konsurnsi kalori.
makan
11. Awasi pemeriksaan
laboratorium. (BUN,
protein serum, dan
albumin).
12. Berikan antipiretik tepat.

J. Referensi
Nanda. 2015. Diagnosis Keperawatan: Definisi & Klasifikasi, Ed. 10. Jakarta : EGC
Nurarif, A.H. Kusuma. H. 2016. Asuhan Keperawatan Praktis. Yogyakarta:
MediAction
Werdani, R.A. 2015. Patofisiologi, Diagnosis, Dan Klafisikasi Tuberkulosis.
staff.ui.ac.id/system/files/users/retno.asti/material/patodiagklas.pdf. Diakses
tanggal 18 April 2018