Anda di halaman 1dari 31

i

TUGAS MANDIRI
MANAJEMEN JASA

MAKALAH MENAJEMENT PERMINTAAN DAN


PENAWARAN

Disusun Oleh :

NAMA
: HENDRA KANG (170910075)
ANGGOTA
: YOGITANTO (170910276)
Dosen : Sunargo, S.E., M.Sc.
KODE KELAS : 191-MN039-M2

PROGRAM STUDI MANAJEMEN BISNIS


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN HUMANIOR
UNIVERSITAS PUTERA BATAM
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA
sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga
mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi
dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.

Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk
maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih


banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.

Batam, November 2019

Penulis

i
DAFATAR ISI

Table of Contents

KATA PENGANTAR ....................................................................................... i


DAFATAR ISI ................................................................................................ ii
BAB I .............................................................................................................. 3
PENDAHULUAN ........................................................................................... 3
1.1. Latar Belakang ..........................................................................................3
1.2. Rumusan Masalah......................................................................................4
1.3. Tujuan Pembahasan...................................................................................4
BAB II ............................................................................................................ 5
PEMBAHASAN .............................................................................................. 5
2.1. Definisi Peramalan .....................................................................................5
2.2. Peramalan Dalam Operasi Jasa .................................................................6
2.3. Proses Peramalan Jasa ...............................................................................7
2.4. Metode - metode Peramalan ..................................................................... 10
2.4.1. Ciri-ciri Situasi Peramalan ................................................................................ 10
2.4.2. Ciri-ciri Metode Peramalan ............................................................................... 13

2.5. Jenis – Jenis Metode Peramalan ............................................................... 15


2.5.1. Metode Kualitatif ................................................................................................ 15
2.5.2. Metode Kuantitatif.............................................................................................. 23

2.6. Karakteristik Permintaan Dan Penawaran Jasa ...................................... 26


BAB III ......................................................................................................... 29
PENUTUP .................................................................................................... 29
3.1. Kesimpulan .............................................................................................. 29
3.2. Saran ........................................................................................................ 29
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 30

ii
3

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Setiap organisasi baik profit maupun nonprofit didirikan dengan


tujuan tertentu. Diantaranya meraih laba, mendapatkan pangsa pasar spesifik,
mempertahankan eksistensi, meraih tingkat penjualan tertentu, mencapai
tingkat pertumbuhan tertentu, memberikan pelayanan sosial, dan
sebagainya.Dalam rangka merealisasikan tujuan tersebut, organisasi atau
produsen berupaya menghasilkan suatu produk baik yang bersifat konkrit
maupun abstrak yang kemudian ditawarkan kepada pasar individual maupun
organisasional.Jenis, kuantitas, maupun kualitas produk sangat tergantung
pada kompetensi inti dan kapasitas produktif organisasi.

Di lain pihak, konsumen memiliki beraneka ragam kebutuhan dan


keinginan yang dapat dipenuhi dengan mengonsumsi produk tertentu. Tetapi
keterbatasan daya beli dan kesediaan untuk membeli membuat tidak semua
kebutuhan dan keinginan bisa direalisasikan.Oleh sebab itu, konsumen
biasanya membuat skala prioritas dan berusaha mencari dan membeli
produk yang dinilai paling sesuai dan memuaskan. Transaksi akan terjadi
apabila kedua belah pihak (produsen dan konsumen) terlibat dalam kegiatan
pertukaran nilai, dimana masing-masing pihak memberikan sesuatu yang
bernilai (barang, jasa, uang, dsb). Kunci keberhasilan terjadinya transaksi ini
dan juga transaksi ulang terletak pada keselarasan antara kepentingan dan
tujuan kedua belah pihak.

Mengingat pentingnya pengelolaan permintaan dan penawaran produk


jasa bagi perusahaan, oleh karena itu penulis menyusun makalah yang
berjudul“Manajemen Permintaan dan Penawaran Jasa”
1.2. Rumusan Masalah

1. Apa itu peramalan dalam operasi jasa?


2. Apa itu proses peramalan jasa ?
3. Apa itu metode-metode peramalan?
4. Bagaimana metode Kuantitatif ?
5. Bagaimana metode Kualitatif ?
6. Bagaimana Karakteristik penawaran dan Permintaan Jasa ?

1.3. Tujuan Pembahasan

Mengacu pada rumusan masalah di atas, maka tujuan penulis


menyusun makalah ini adalah sebagai berikut.

1. Untuk mengetahui peramalan dalam operasi jasa.


2. Untuk mengetahui proses peramalan jasa.
3. Untuk mengetahui metode-metode peramalan.
4. Untuk mengetahui metode Kuantitatif
5. Untuk mengetahui metode Kualitatif.
6. Untuk mengetahui karakteristik permintaan dan penawaran jasa.

4
5

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Definisi Peramalan

Secara umum yang dimaksud dengan pengertian


peramalan (forecasting)yaitu suatu kegiatan yang bertujuan untuk
memperkirakan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Pengertian
metode peramalan yaitu suatu cara atau teknik dalam memperkirakan
kejadian kejadian pada masa yang akan datang. Kegunaan dari metode
peramalan adalah membantu dalam mengadakan pendekatan analisa
terhadap pola data pada masa yang lalu.

Berikut ini beberapa pengertian atau definisi peramalan atau


forecasting dari beberap sumber buku seperti berikut :

 Menurut Nasution dan Prasetyawan (2008:29), peramalan adalah proses


untuk memperkirakan beberapa kebutuhan di masa datang yang
meliputi kebutuhan dalam ukuran kuantitas, kualitas, waktu dan lokasi
yang dibutuhkan dalam rangka memenuhi permintaan barang ataupun
jasa.
 Menurut Sumayang (2003:24), peramalan adalah perhitungan yang
objektif dan dengan menggunakan data-data masa lalu, untuk
menentukan sesuatu di masa yang akan datang.
 Menurut Supranto (2000), ramalan merupakan dugaan atau perkiraan
mengenai terjadinya suatu kejadian atau peristiwa di waktu yang akan
datang. Ramalan bisa bersifat kualitatif, artinya tidak berbentuk angka
dan bisa bersifat kuantitatif, artinya berbentuk angka, dinyatakan dalam
bilangan.
 Menurut Heizer dan Render (2009:162), peramalan (forecasting) adalah
seni dan ilmu untuk memperkirakan kejadian di masa depan. Hal ini
dapat dilakukan dengan melibatkan pengambilan data historis dan
memproyeksikannya ke masa mendatang dengan suatu bentuk model
matematis. Selain itu, bisa juga merupakan prediksi intuisi yang bersifat
subjektif. Atau dapat juga dilakukan dengan menggunakan kombinasi
model matematis yang disesuaikan dengan pertimbangan yang baik dari
seorang manajer.
 Menurut Murahartawaty (2009:41), peramalan adalah penggunaan data
masa lalu dari sebuah variabel atau kumpulan variabel untuk
mengestimasi nilainya di masa yang akan datang. Jika kita dapat
memprediksi apa yang terjadi di masa depan maka kita dapat mengubah
kebiasaan kita saat ini menjadi lebih baik dan akan jauh lebih berbeda
di masa yang akan datang. Hal ini disebabkan kinerja di masa lalu akan
terus berulang setidaknya dalam masa mendatang yang relatif dekat.

2.2. Peramalan Dalam Operasi Jasa

Peramalan banyak manfaatnya bagi setiap perusahaan, karena


memberikan masukan dan informasi yang berharga bagi proses perencanaan
dan pengarabilan keputusan Peramalan menunjukkan perkiraan yang akan
terjadi pada suatu keadaan tertentu. Perencanaan menggunakan ramalan
tersebut untuk membantu para pengambil keputusan dalam memilih
alternatif tindakan terbaik. Dengan kata lain, peramalan berusaha
memperkirakan apa yang akan terjadi, sedangkan perencanaan nmerupakan
upaya para pengambil keputusan untuk mempengaruhi hasil yang akan
terjadi melalui berbagai strategi, misalnya melalui desain jasa, strategi
penetapan harga, promosi, dan lain-lain

Peramalan memainkan peranan yang sangat penting. Hal ini


dikarenakan adanya karakteristik unik pada perusahaaan jasa, yaitu:

a. Permintaan Jasa Sangat Fluktuatif


Fluktuasi permintaan jasa banyak dipengaruhi oleh kebudayaan dan
kebiasaan masyarakat. Misalnya, orang biasa berangkat kerja dan

6
sekolah antara pukul 06.30 - 08.00. Pada jam tersebut perrnintaan akan
jasa angkutan akan sangat besar, sementara pada waktu lain (misalnya
pukul 22.00 – 04.00) permintaannya rendah.

b. Jasa Tidak Berwujud


Karakteristik ini menyebabkan jasa tidak dapat disimpan untuk
keperluan konsumsi di waktu mendatang, sehingga perusahaan jasa
sulit melakukan penyesuaian mendadak terhadap lonjakan permintaan.
Oleh karena itu dibutuhkan peramalan yang akurat terhadap pola
permintaan pelanggan.

c. Jasa Diproduksi dan Dikonsumsi Secara Simultan (Bersamaan


Waktunya)
Semakin besar kebutuhan akan kehadiran dan partisipasi pelanggan
dalam operasi jasa, maka semakin besar pula variabilitas kualitas jasa
dan permintaan jasa. Akibatnya ada periode sibuk (pelanggan sampai
harus menunggu lama) dan ada pula periode di mana banyak dijumpai
kapasitas menganggur. Melalui peramalan diharapkan kapasitas jasa
yang terbatas dapat dioptimalkan untuk memenuhi permintaan
pelanggan.

2.3. Proses Peramalan Jasa

Proses peramalan jasa terdiri atas berbagai langkah, sebagai berikut:

a. Penentuan Tujuan Peramalan


Tujuan peramalan tergantung pada kebutuhan informasi para
manajer. Dalam langkah in ditentukan berbagai hal, seperti variabel
yang akan diestimasi, pengguna ramalan, alasan dibutuhkannya
peramalan, biaya peramalan, jangka waktu peramalan, derajat ketepatan
peramalan, dan saat melakukan peramalan

7
8
9

b. Penyusunan Model
Langkah berikutnya adalah menyusun atau mengembangkan suatu
model, yang merupakan penyajian secara lebih sederhana sistem atau
aspek yang akan diramal (misalnya permintaan akan jasa). Suatu model
seringkali membantu dalam memisahkan pengaruh faktor-faktor
internal dan ekstemal. Faktor internal adalah faktor yang dapat
dikendalikan secara langsung oleh pihak manajemen misalnya biaya
promosi, kualitas produk, harga jual (termasuk diskon), garansi, dan
saluran distribusi. Sedangkan faktor eksternal merupakan faktor yang di
luar kendali manajemen, seperti tingkat inflasi, tingkat pendapatan
masyarakat (konsumen), tingkat pengahgguran, perilaku pesaing, dan
perubahan kebijakan pemerintah.

Pemilihan model yang tepat merupakan aspek yang sangat penting,


karena dapat mempengaruhi validitas (kesahihan) dari reliabilitas
(kehandalan) peramalan. Model yang sebaiknya dipilih adalah model
yang dapat menggambarkan secara realistis perilaku variabel-variabel
yang diramalkan. Misalnya perusahaan meramalkan permintaan yang
perilakunya bersifat linear, maka model yang dipilih bisa trend linier
atau regresi linear.

c. Pengujian Model
Agar dapat memberikan hasil yang memuaskan, model yang dipilih
perlu diuji terlebih dahulu sebelum diterapkan. Dengan demikian
akurasi, validitas, dan reliabilitasnya dapat ditentukan. Pengujian ini
dilakukan dengan cara meramalkan nilai pada periode sekarang di mana
nilai-nilai data historis yang aktual telah diketahui. Dengan
membandingkan nilai ramalan untuk periode sekarang dengan nilai
aktualnya, maka akan diketahui derajat akurasi ramalan dengan model
yang dipilih tersebut.
10

d. Penerapan Model
Setelah tahap pengujian, model yang memiliki tingl ai akin
validitas, dan reliabilitas yang diharapkan, akan diterapkan untuk
melakukan peramalan masa datang sesuai dengan jangka waktu yang
diinginkan.

e. Revisi dan Evaluasi


Ramalan-ramalan yang telah dibuat harus senantiasa
disempur-nakan dan ditinjau kembali. Revisi misalnya harga, biaya
promomungkin perlu dilakukan sehubungan dengan adanya perubahan-
perubahan, baik dalam perusahaan maupun lingkungannya,si, peraturan
pemerintah, dan perkembangan teknologi. Sementara itu evaluasi
merupakan pembandingan ramalan-ramalan dengan hasil-hasil
nyata/aktual untuk menilai ketepatan penggunaan suatu metode
peramalan. Langkah ini dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas
ramalan di masa mendatang.

2.4. Metode - metode Peramalan


2.4.1. Ciri-ciri Situasi Peramalan

Setiap Perusahaan jasa yang ingin menerapkan peramalan


dalam pengambilan keputusan memiliki berbagai alternatif metode
peramalan.Menurut Makridakis & Wheelwright (1989) pemilihan
terhadap metode yang sesuai perlu didasarkan pada pertimbangan
situasional, yaitu penyesuaian kebutuhan spesifik dengan
pendekatan spesifik. Ada 6 karakteristik atau dimensi situasi
perencnaan dan pengambilan keputusan yang memainkan peranan
penting dalam menentukan kebutuhan yang harus dapat dipenuhi
dan ditanggapi oleh peramalan agar peramalan tersebut dapat
efektif.
11

a. Horison waktu
Jangka waktu berlangsungnya dampak dari suatu
keputusan dan sasaran perencanaan sangat mempengaruhi
pemilihan metode peramalan yang sesuai horizon waktu dapat
dibagi menjadi jangka waktu segera (kurang dari satu bulan ),
jangka pendek (satu hingga tiga bulan), jangka menengah (tiga
bulan sampai dua tahun), dan jangka panjang (dua tahun atau
lebih).

b. Tingkat perincian agregat


Pada umumnya semakin tinggi tingkat rincian dn
frekuensinya yang diperlukan , kebutuhan akan prosedur
peramalan yang terotomatisasi semakin besar, dan demikian
pula sebaliknya.

c. Jumlah item
Semakin sedikit jumlah item yang harus diramalkan, maka
semakin terperinci dan kompleks prosedur yang dipergunakan
dala mempersiapkan ramalan tersebut, dan demikian pula
sebaliknya.

d. Pengendalian versus perencanaan


Dalam pengendalian, manajemen berdasarkan
kekecualian (management by exception) merupakan prosedur
yang umum. Yang dibutuhkan adalah cara untuk mengetahui
sedini mungkin apabila ada proses yang berada diluar kendai
( yaitu bila pola dasar mengalami pergeseran ). Jadi metode
peramalan dalam situasi seperti ini harus mampu mengenali
perubahan-pperubahan dalam pola atau hubungan dasar dalam
tahap dini. Sedangkan di sisi perencanaan, umumnya
diasumsikan bahwa pola yang ada akan berlanjut dimasa

12
13

mendatang., sehingga penekanan utamanya adalah usaha


mengidentifikasi pola tersebut dan mengekstrapolasinya
kemasa yang akan datang.

e. Kestabilan
Meramalkan suatu situasi yang stabil sepanjang waktu
sangat berbeda dengan meramalkan situasi yang
berfluktuasi.Dalam situasi stabil, metode peramalan kuantitatif
dapat diterapkan dan diperiksa secara berkala untuk dinilai
kembali kesesuaiannya.Akan tetapi, dalam situasi yang sering
berubah dan bergejolak, sangat dibutuhkan metode yang dapat
berdaptasi secara terus menerus guna mencerminkan hasil
terakhir dan informasi terbaru.

f. Prosedur perencanaan yang ada


Melembagakan setiap periode peramalan biasanya
melibatkan beberapa perubahan terhadap prosedur
perencanaan dan pengambilan keputusan diperusahaan. Untuk
itu pendekatan yang sesuai adalah melakukan perubahan
secara bertahap terhadap prosedur yang ada saat ini, dimana
sambil jalan akan diperbaharui, diperbaiki, dan disesuaikan
dengan metode baru.

2.4.2. Ciri-ciri Metode Peramalan

Kemampuan & kesesuaian metode peramalan dapat


dicerminkan dari 6 karakteristik berikut.

a. Horison waktu
Ada dua aspek horizon waktu yang berkaitan dengan
setiap metode peramalan.Pertama, jangka waktu ke masa
mendatang yang paling sesuai untuk setiap metode peramalan
14

berbeda-beda.Umumnya metode peramalan kualitatif lebih


banyak dipergunakan untuk peramalan jangka panjang,
semenara metode peramalan kuanitatif untuk peramalan jangka
menengah atau pendek.Aspek kedua adalah jumlah periode
yang diinginkan untuk setiap ramalan juga bervariasi.Ada yang
hanya cocok untuk beberapa periode.Bahkan ada pula
pendekatan yang menggabungkan beberapa horizon waktu
yang memiliki jangka waktu berbeda-beda.

b. Pola data
Sebagian metode peramalan didasari oleh asumsi-asumsi
mengenai jenis polayang ditemukan dalam data yang
diramalkan. Misalnya,beberapa serial data memiliki pola
musiman dan trend, sedangkan data yang lain terdiri dari nilai
rerata dengan fluktuasi random di sekitar nilai itu,dan ada pula
serial data yang mengandung pola siklus.Oleh karena metode
peramalan sangat bervariasi dalam kemampuan memprediksi
jenis pola yang berbeda,maka pola yang diperkirakan perlu
disesuaikan dengan tekhnik yang cocok.

c. Biaya
Umumnya ada tiga unsur biaya yang terlibat dalam
aplikasi prosedur peramalan ,yakni pengembangan,persiapan
data,dan operasi actual.Ada pula biaya kesempatan
(opportunity cost) dalam hal tekhnik-tekhnik lain yang
mungkin diterapkan.

d. Akurasi
Akurasi berkaitn dengan tingkat rincian yang diperlukan
daam suatu ramalan.Dalam situasi tertentu,variasi sebesar 10%
mungkin sudah cukup memadai. Namun dalam situasi lain bisa
jadi variasi 5% menimbulkan bencana.
15

e. Daya Tarik Intuitif, kesederhanaan, dan kemudahan aplikasi


Umumnya hanya metode yang dipahami yang
dipergunakan secara berkelanjutan oleh para pengambil
keputusan.

f. Ketersediaan perangkat lunak komputer


Penerapan metode kuantitatif tertentu jarang sekali
dimungkinkan tanpa adanya program komputer yang
sesuai.program-program tersebut harus mudah
digunakan,disertai dokumentasi yang lengkap,dan bebas dari
kesalahan-kesalahan besar,sehingga para manajer dapat
menggunakannya dan memahami serta
menginterpretasikan hasilnya.

2.5. Jenis – Jenis Metode Peramalan


menurut Makridakis dan Wheelwright (1989) pemilihan terhadap
metode yang sesuai perlu didasarkan pada pertimbangan situasional, yaitu
penyesuaian kebutuhan spesifik dengan pendekatan spesifik. peramalan
dibagi menjadi 2 yaitu :

2.5.1. Metode Kualitatif


a. Teknik Delphi
Metode Delphi merupakan suatu teknik membuat
keputusan yang dibuat oleh suatu kelompok, dimana
anggotanya terdiri dari para ahli atas masalah yang akan
diputuskan. Proses penetapan Metode Delphi dimulai degan
identifikasi masalah yang akan dicari penyelesaiannya
(Harold dkk, 1975 : 40-55). Metode Delphi yang mula-mula
dikembangkan oleh Rand Corporation untuk keperluan
militer, kini banyak digunakan dalam prakiraan teknologi dan
banyak bidang lain (Maassen dan Van Vought, 1984);
Uniersity of Washington, 1985). Tujuan metode Delphi
adalah untuk mendapatkan konsensus tentang hal-hal yang
tidak

16
17

mempunyai criteria obyektif (University of Washington;


1985 ; Rchel et al, 1985). Metode Delphi pada dasarnya
merupakan suatu konperensi jarak jauh dengan menggunakan
kuisioner.Menurut maassen dan van Vught (1984) hasil
metode Delphi lebih teliti dan tingkat konsensus lebih tinggi
daripada hasil pertemuan tatap muka dalam lokakarya.Hal ini
disebabkan, karena sementara dalam lokakarya sebuah
minoritas yang dominan dapat mendominasi diskusi dan hasil
diskusi, dalam metode Delphi ketidaksetujuan justru
diperhatikan.

Kesulitas dalam metode Delphi ialah untuk


mendapatkan pakar/ahli/anggota panel yang berpengalaman
dan menguasai bidang yang diteliti dan memberian kesediaan
yang serius untuk menjadi anggota panel.

b. Analisis Dampak sebut Silang (cross-impact analysis)


Cross impact analisis adalah suatu metode yang
dimaksudkan untuk merencanakan kejadian dalam sebuah grup
yang dihubungkan dua kejadian. Cross impact analysis adalah
metode yang membantu proses scanning bidang berjangka
yang mungkin untuk mengurangi ketidak pastian. Spesifik
metode cross impact terutama dijelaskan disini adalah
metode cross impact systems and metrces (SMIC), yang
dikembangkan di perancis pada tahun 1974 oleh Duperrin dan
Godet, Saedah Siraj, (Nota Kuliah 2011). Korelasi tersebut
digunakan sebagai dasar untuk mengestimasi kemungkinan
terjadinya kejadian di masa mendatang. Menurut Rochberg,
Goldon, dan Helmer (da lam Makridakis dan Wheelwright,
1989), analisis dampak silang terdiri atas beberapa langkah
berikut:
18

1. Menilai kemungkinan interaksi (dampak silang) di antara


kejadian-kejadian secara individual dalam sekelompok
ramalan dalam bentuk
 arah atau cara interaksi
 kekuatan interaksi
 penundaan waktu pengaruh satu kejadian terhadap
kejadian lainnya b.

2. Memilih kejadian secara random dan memutuskan terjad


inya atau tidak terjad inya kejadian tersebut atas dasar
probabilitas yang diberikan (hal ini semata-mata
merupakan aplikasi simu- lasi).
3. Menyesuaikan probabilitas kejadian-kejadian lainnya
sesuai dengan interaksi yang dinilai pada tahap a.
4. Memilih satu kejadian lainnya di antara kejadian-
kejadian yang masih tersisa dan memutuskan terjadinya
atau tidak terjadinya kejadian tersebut (dengan
menggunakan probabilitasnya yang baru) seperti
sebelumnya (sekali lagi, ini merupakan aplikasi
simulasi).
5. Melanjutkan proses tersebut sampai semua kejadian
dalam kelompok tersebut telah diputuskan.
6. ‘Memainkan' matriks tersebut dengan cara ini beberapa
kali sehingga probabilitas dapat dihitung atas dasar
persentase berapa kali suatu kejadian terjadi selama
pengulangan permainan ini.
7. Mengubah probabilitas awal dari satu kejadian atau lebih
dan mengulangi langkah b sampai

c. Analogi Historis (historical analogies)


Analogi historis mengasumsikan bahwa pola pengenalan
dan per- tumbuhan suatu produk atau jasa baru akan meniru
pola yang telah dibentuk oleh konsep serupa yang datanya
tersedia.

19
20

Metode ini sering digunakan untuk meramalkan penetrasi


pasar siklus hidup suatu produk atau jasa baru. Konsep siklus
hidup produk (product life cycle) yang banyak digunakan
dalam bidang pemasaran meliputi tahap perkenalan,
pertumbuhan, kedewasaan, dan penurunan.

Metode peramalan kualitatif memiliki beberapa keterbatasan


dan kemungkinan bias (Makridakis dan Wheelwright, 1989), di
antaranya:

1. Dalam tahap pemerolehan informasi

a. Ketersediaan
Orang cenderung bergantung pada data yang dapat dengan
mudah diperoleh dan mudah diingat. Misalnya para
peramal mungkin memodifikasi ramalan mereka atas dasar
inform yang kebetulan diperoleh melalui kenalan atau
media berita

b. Persepsi selektif
Orang cenderung mengabaikan atau mengurangi informasi
yang tidak sesuai atau tidak konsisten dengan hipotesisnya
semula. Jadi peramal yang mendukung suatu produk baru
cenderung akan lebih menyukai dan menerima bukti-bukti
atau pernyataan-pernyataan bahwa produk itu akan
berhasil.

c. Informasi konkrit
Kadangkala peramal lebih bergantung pada informasi
konkrit daripada informasi abstrak, padahal belum tentu
informasi konkrit tersebut lebih sahih.
21

d. Ilusi korelasi
Peramal bisa saja membuat ramalan yang keliru karena
dua variabel yang sesungguhnya tidak berkaitan te tapi
terlihat berkaitan (mungkin karena kebetu lan, dalam
jumlah kecil, atau karena tidak dikendalikannya variabel
terdahulu/antese den).

e. Penyajian data
Data dapat ditampilkan dalam bentuk grafik atau tabel
dalam berbagai cara yang menyesatkan. Para peramal
mungkin meng- abaikan asumsi atau kualifikasi yang
mendasari tampilan laporan dan dibutakan dengan
dihapuskannya fakta-fakta penting

2. Dalam tahap pengolahan informasi:

a. Tidak konsisten
Besar kemungkinan seorang peramal tidak mampu
menerapkan strategi penilaian (judgment) yang konsisten.

b. Pandangan konservatif
Pandangan kornservatif dapat membuat oráng tidak
memberi- kan bobot yang mehadai untuk informasi yang
baru diterima. Misalnya, peramal mungkin mengabaikan
tanda-tanda bahwa suatu produk sed ang mengalami
penurunan.

c. Penyesuaian
Kadangkala peramal terlalu terpaku pada satu titik rujukan
ter- tentu dan menyesuaikan ramalan meteka hanya dalam
kaitan- nya dengan titik rujukan itu. Misa lnya pembuatan
22

peramalan penjualan tahun depan dengan menggunakan


persentase ter- tentu atas penjualan tahun ini.

d. Law of small nunbers


Orang sering mengambil kesimpulan dari data yang
terlampau kecil/sedikit. Misalnya ramalan penjualan
didasarkan pada penelitian terhadap segelintir orang dalam
kelompok fokus.

e. Pembenaran
Orang mungkin mendasaři ramalannya derngan aturan
pemrosesan yang 'dijustifikasi' oleh argumen yang
nampak- nya rasional, sekalipun aturan tersebut tidak
sesuai, misalnya sebuah ramalan yang didasari oleh model
canggih dan kom- pleks yang dikembangkan untuk
maksud yang sama sekali ber- beda.

3. Dalam tahap output:

a. Harapan yang berlebihan


Orang cenderung memberikan probabilitas yang lebih
tinggi pada hasil yang lebih ia sukai. Manajer jasa yang
cen- derung optimistik mungkin akan melebihkan angka
penjualan yang akan mereka capai dalam periode tertentu.

b. llusi pengendalian
Setiap kegiatan yang mengarah pada hasil yang tidak pasti
dapat mengarahkan orang untuk merasa bahwa ia
memiliki pengendalian atas hasil tersebut.
23

4. Dalam tahap umpan balik:

a. Hasil tidak relevan dengan struktur belajar


Hasil yang diamati dari ramalan sebelumnya (yaitu
ramalan- ramalan yang akurat selama periode
pertumbuhan stabil) mungkin memberikan gambaran
situasi yang tidak lengkap, yang mengarah pada keyakinan
berlebihan yang tidak pada tempatnya terhadap
kemampuan seseorang dalam membuat ramalan.

b. Kesalahan persepsi terhadap fluktuasi kebetulan


Ketika seorang peramal mengamati banyaknya produk
yang berhasil yang tidak diperkirakan sebelumnya, ia
mungkin mem- berikan probabilitas yang lebih tinggi
daripada yang dapat dibenarkan untuk keberhasilan suatu
produk.

c. Atribusi keberhasilan atau kegagalan


Ada kecenderungan bagi seorang peramal untuk
menganggap ramalan yang tepat sebagai hasil
keterampilannya, sedangkan ramalan yang tidak akurat
disebabkan oleh faktor kebetulan atau faktor lingkungan
lainnya.

d. Hindsiglht Orang jarang terkejut dengan kejadian yang


telah terjadi. Orang dengan mudahnya memberikan
penjelasan kausal setelah kenyataan tersebut terjadi, tetapi
tidak bisa mengetahuinya sebelumnya.

2.5.2. Metode Kuantitatif


Model peramalan kuantitatif dapat diterapkan apabila
terdapat tiga kondisi berikut
24

a. Tersedia informasi tentang masa lalu.


b. Informasi tersebut dapat dikuantitatifkan dalam bentuk data
numerik.
c. Dapat diasumsi kan adanya kontinuitas, yaitu bahwa beberapa
aspek pola masa lalu akan terus berlanjut di masa mendatang.

Metode Kuantitatif di bagi menjadi 2, yaitu :

a. Model runtut waktu


Model ini sesuai untuk data runtut waktu, yaitu data yang
dikum- pulkan, dicatat, atau diobservasi sepanjang waktu yang
berurutan. Ada beberapa metode yang dapat dipergunakan
untuk mela ku kan analisis runtut waktu, di antaranya metode
naif, rata-rata bergerak, dan penghalusan eksponensial
(exponential smoothing).
1. Metode naif (naive model)
Metode naif dipergunakan untuk membuat model-
model yang sederhana yang didasarkan pada asumsi
bahwa periode yang baru saja berlalu (misalnya bulan lalu,
semes ter lalu, atau tahun lalu) merupakan alat peramalan
terbaik untuk meramalkan keadaan di masa mendatang.
2. Metode rata-rata
Asumsi yang mendasari berbagai macam metode rata-
rata ini adalah bahwa fluktuasi masa lalu menunjukkan
perubahan dari suatu kurva yang mulus. Apabila kurva
tersebut teridentifikasi, maka proyeksi ke masa yang akan
datang dapat dilakukan guna menghasilkan suatu ramalan.
Metode rata-rata terdiri atas tiga jenis, yaitu metode rata-
rata sederhana, rata- rata bergerak, dan rata-rata bergerak
ganda.
 Metode rata-rata sederhana Dalam metode ini, kita
menghitung rata-rata dari semua data untuk
melakukan peramalan.
25

 Metode rata-rata bergerak tunggal Dalam.metode rata-


rata bergerak tunggal, peramalan didasarkant pada
perhitungan rata-rata sejumlah nilai observasi tertentu
(misalnya rata-rata 3 mingguan, 5 bulanan, dan seba-
gaifya), dengan jalan menghilang kan data yang
terlama dan memasukkan data yang terbaru. Jumlah
observasi yang diper- gunakan ditentu kan oleh
peramal dan digunakan secara konsisten.
 Metode rata-rata bergerak ganda Sesuai dengan
namanya, metode ini menghitung rata-rata bergerak
dua kali. Yang pertama adalah perhitungan rata-rata
bergerak pada rangkaian dasar. Caranya sama dengan
perhi- tungan pada metode rata-rata bergerak tunggal.
Hasil perhi- tungannya disebut rangkaian data kedua.
Lalu dari rangkaian kedua ini dihitung lagi rata-rata
bergeraknya. Hasilnya itu yang merupakan rata-rata
bergerak ganda.
3. Penghalusan eksponensial
Metode penghalusan eksponensial adalah suatu jenis
teknik peramalan rata-rata bergerak yang melakukan
penimbangan ter- hadap data masa lalu dengan cara
eksponensial sehingga data paling akhir mempunyai bobot
atau timbangan lebih besar dalam rata-rata bergerak. Ada
berbagai jenis metode penghalusan, misalny penghalusan
eksponensial tunggal, penghalus an eksponensial gand
(metode Brown), penghalusan eksponensial untuk data
trend (metode dua parameter Holt), serta pemulusan
eksponensial untuk variasi trend dan musiman (metode
Winter). Dalam pembahasan di sini hanya dikemukakan
penghalusan eksponensial tunggal.
26

b. Model kausal
Asumsi dalam model kausal serupa dengan asumsi model
runtut waktu, yaitu bahwa data mengikuti pola yang dapat
diidentifikasi sepanjang waktu dan ada hubungan yang dapat
diidentifikasi di antara informasi yang diramalkan dan faktor
lainnya
1. Regresi
Tampaknya metode regresi merupa kan metode yang
paling populer dan banyak digunakan dalam praktik
peramalan. Analisis regresi merupakan metode statistik
yang dipergunakan untuk me- nentukan hubungan antar
paling tidak dua variabel, yaitu satu atau lebih variabel
bebas (independent variables) dan satu variabel terikat
(dependent variable). Tujuannya adalah untuk meramalkan
atau mem- perkirakan nilai variabel terikat dalam
hubungannya dengan nilai variabel bebas tertentu.
2. Ekonometrik
Model ekonometrik merupakan versi model regresi
yang menggunakan sistem berbagai persamaan. Model
ekonometrik terdiri atas serangkaian persamaan-
persamaan simultan yang menyatakan variabel terikat
dalam beberapa variabel bebas yang berbeda. Model
ekonometrik cenderung lebih mahal dan kompleks
daripada model regresi lainnya. Oleh karena itu umumnya
hanya dipergunakan dalam peramalan jangka panjang.

2.6. Karakteristik Permintaan Dan Penawaran Jasa


Menyesuaikan kapasitas dan permintaan perusahaan jasa umumnya
sulit dilakukan, karena jasa bersifat tidak tahan lama (perisliable). Selain itu
variabilitas dalam kapasitas jasa juga sangat tinggi. Penyebabnya adalah
partisipasi pelanggan dalam penyampaian jasa, padahal setiap pelanggan
bersifat unik.
27

Sebagian besar operasi jasa memiliki batas maksimum kapasitas pro-


duktif. Jika permintaan melampaui penawaran, maka ada kemungkinan
perusahaan akan kehilangan sebagian pelanggannya atau mungkin juga
pelanggan terpaksa menunggu. Kondisi ini kontras dengan keadaan bila
penawaran melebihi permintaan, di mana kapasitas produktif tersebut akan
hilang begitu saja karena tidak dapat disimpan. Oleh karena itu setiap
perusahaan jasa perlu memahami faktor-faktor yang membatasi
kapasitasnya dan pola permintaan yang dihadapi.

Dalam setiap momen tertentu, jasa berkapasitas tetap akan


menghadapi salah satu dari empat kondisi berikut :

a. Permintaan berlebihan
Dalam kondisi ini, tingkat perminta an jauh melampaui kapasitas
maksimum yang tersedia. Sebagai akibatnya ada sebagian pelanggan
yang tidak dapat dilayani dan perusahaan kehilangan para pelang gan
tersebut.

b. Permintaan melampaui kapasitas optimum


Dalam kondisi ini, tidak ada satupun pelanggan yang ditolak atau
tidak dilayani. Akan tetapi kondisinya sangat ramai/penun sesak,
sehingga hampir semua pelanggan kemungkinan besar mempersepsikan
adanya penurunan kualitas jasa yang diberikan perusahaan.

c. Permintaan dan penawaran seimbang pada ting kat kapasitas optimum


Staf dan fasilitas perusahaan sibuk tanpa harus memiliki beban
kerja yang berlebihan, dan para pelanggan menerima jasa berkualitas
tanpa ada penundaan.

d. Kapasitas berlebihan
Permintaan berada di bawah tingkat kapasitas optimum, sehingga
ada sebagian sumberdaya yang terbuang percuma (ada kapasitas
menganggur)

Pada keempat kondisi di atas, kapasitas maksimum yang tersedia


dibedakan dengan kapasitas optimum. Apabila permintaan melampaui
28

kapasitas maksimum, maka sebagian pelanggan potensial tidak terlay ani


dan perusahaan kemungkinan akan kehilangan mereka selamanya.
Sedangkan jika permintaan berada di antara kapasitas optimum dan
maksimum, maka ada risiko bahwa semua pelanggan yang dilayani pada
saat itu akan menerima pelayanan yang kurang baik, sehingga mereka tidak
puas.
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Hukum permintaan “Semakin turun tingkat harga, maka semakin banyak
permintaan jasa yang bersedia di minta, dan sebaliknya semakin naik tingkat
harga maka semakin sedikit permintaan jasa yang bersedia di minta”, sedangkan
Hukum penawaran “Semakin tinggi tingkat harga, maka semakin banyak jasa
yang bersedia di tawarkan, dan sebaliknya semakin turun tingkat harga maka
semakin sedikit permintaan jasa yang bersedia di tawarkan” seperti tahun baru
tiba maka harga tiket pesawat semakin tinggi karena banyak permintaan.
3.2. Saran

29
DAFTAR PUSTAKA

Fandy Tjiptono, 1996. Manajemen Jasa. Yogyakarta: Andi Ofset

Murahartawaty. 2009. Peramalan. Jakarta: Sekolah Tinggi Teknologi Telkom.

Nasution A.H. dan Prasetyawan Y. 2008. Perencanaan & Pengendalian Produksi,


Edisi Pertama. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Sumayang, Lalu. 2003. Dasar-Dasar Manajemen Produksi dan Operasi. Salemba


Empat,Jakarta.

Supranto J. 2000. Statistik (Teori dan Aplikasi), Edisi Keenam. Jakarta: Erlangga.
Heizer, Jay dan Render, Barry. 2009. Manajemen Operasi, Buku 1 Edisi
9. Jakarta: Salemba Empat.

30