Anda di halaman 1dari 34

INDIVIDU DAN MASYARAKAT

MAKALAH
diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Konsep Dasar IPS
Dosen Pengampu
Dra. Hj. Tin Rustini, M.Pd

Disusun oleh
Adelia Nurhaliza (1601027)
Diera Sacharissa S (1605455)
Nurul Saadah Agustina (1606591)
Perawati Tri Nanda (1606326)

Semester 1 – ID PGSD
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
KAMPUS CIBIRU
BANDUNG
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah swt. Karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah
mengenai "Individu dan Masyarakat" ini dengan baik meskipun banyak
kekurangan didalamnya. Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam
rangka menambah wawasan serta pengetahuan kami mengenai peran Mahasiswa
di Indonesia. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini
terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap
adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di
masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran
yang membangun. Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun
yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi
kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf
apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon
kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Bandung, September 2016

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................... i

DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ............................................................................................ 1


B. Rumusan Masalah ....................................................................................... 1
C. Tujuan ......................................................................................................... 1
D. Sitematika Penulisan ................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Individu .................................................................................... 3


B. Pengertian Masyarakat ............................................................................... 7
C. Hubungan Indvidu dan Masyarakat ........................................................... 8
D. Lembaga Masyarakat ................................................................................. 9
E. Stratifikasi Sosial ..................................................................................... 14

BAB III SIMPULAN DAN SARAN .................................................................. 20

A. Simpulan .................................................................................................. 20
B. Saran ......................................................................................................... 20

PENELITIAN PEMBERDAYAAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT…...….. 21

Daftar Pustaka

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manusia pada dasarnya merupakan makhluk individu yang berbeda
dengan individu lainnya atau memiliki ciri khas tersendiri. Manusia selain
sebagai makhluk individu, juga merupakan makhluk sosial yang tidak
dapat hidup sendiri dan saling membutuhkan antar individu dengan
individu lainnya. Maka dari itu individu-individu ini berkumpul
membentuk masyarakat yang saling berhubungan.
Di zaman modern ini manusia dituntut untuk bisa menjadi individu
yang berkualitas agar dapat bersaing dengan individu lainnya. Selain
menjadi individu yang berkualitas bagi dirinya sendiri, manusia juga harus
mampu menjadi masyarakat yang baik. Untuk menjadi individu dan
masyarakat yang berkualitas kita harus mengetahui dan menguasai tentang
kehidupan sosial yaitu mengenai individu dan masyarakat.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan individu?
2. Apa yang dimaksud dengan masyarakat?
3. Apa hubungan antara individu dan masyarakat dalam kehidupan
sosial?
C. Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui dan memahami tentang kehidupan sosial mengenai
individu dan masyarakat serta hubungan individu dan masyarakat.
D. Sistematika Penulisan
1. BAB I PENDAHULUAN
Terdiri dari latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan.
Manfaat penulisan dan sistematika penulisan.
2. BAB II PEMBAHASAN
Terdiri dari pengertian komponen, pengertian PKn, isi komponen PKn
dan tujuan komponen PKn.
3. BAB III SIMPULAN DAN SARAN

1
2

Terdiri dari simpulan dan saran mengenai komponen-komponen PKn


dan tujuan komponen-kopmponen PKn.
4. DAFTAR PUSTAKA
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Individu

Bila kita perhatikan dengan seksama, nampaknya tidak ada dua orang
manusia atau lebih yang persis sama, baik dilihat dari sisi fisik (jasmani)
maupun dari sisi psikis (rohani). Dari sisi fisik mungkin ada yang mirip,
misalnya pada orang yang lahir kembar (lebih-lebih kembar siam). Tetapi dari
sisi kejiwaan (psikis) atau kepribadiannya sangat sulit menemukan dua orang
yang sama persis.

Setiap manusia lahir ke dunia dengan membawa potensi diri masing-


masing yang dapat dikembangkan kemudian hari melalui proses belajar atau
pendidikan. Oleh karena itu manusia lahir sebagai makhluk individu, memiliki
perbedaan yang khas dengan manusia lain, hal ini sesuai dengan pendapat
Allport mengatakan bahwa individu berasal dari kata “ individe “ yang berarti
tak dapat di bagi-bagi, maksudnya bahwa manusia merupakan satu kesatuan
jiwa dan raganya. Kegiatan fisik yang dilakukan manusia merupakan
manifestasi dari kegiatan psikisnya. Contohnya: seseorang melakukan kegiatan
menulis merupakan perintah dari jiwa/psikisnya untuk menyuruh fisik (dalam
hal ini tangannya) untuk menulis sesuatu dengan pulpen pada kertas. Tanpa
adanya keterpaduan dari kedua aspek tersebut maka manusia tidak dapat
melakukan sesuatu secara sempurna.

Allport mengemukakan pula bahwa “ kepribadian adalah organisasi


dinamis dari pada psiko-phikis seorang manusia yang turut menentukan cara-
cara berperilaku dan bersikap yang unik (khas) dalam menyesuaikan diri
dengan lingkungannya. Memperhatikan dari kedua pengertian kepribadian di
atas terdapat beberapa yang sama mengenai kepribadian yaitu:

3
4

Disatu sisi manusia adalah makhluk yang memiliki perbedaan (kekhasan)


bila dibandingkan dengan manusia lainnya; sebagai makhluk individu (manusia
perseorangan), namun dilain sisi manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa
adanya bantuan dari manusia lain, karena manusia memiliki kebutuhan yang
sangat kompleks tetapi ia dapat memenuhi semua kebutuhannya itu.

Bagaimanakah proses pembentukan individu menjadi pribadi itu?


Tumbuhnya individu menjadi manusia yang memiliki kepribadian karena
dipengaruhi dua faktor, yakni faktor pembawaan dan faktor lingkungan. Faktor
pembawaan yang dia miliki berupa potensi fisik-biologis dan potensi mental
psikologis. Kedua potensi ini dibawa seseorang sejak dia lahir. Faktor kedua
yang juga memberikan pengaruh besar bagi perkembangan pribadi seseorang
adalah faktor lingkungan hidup manusia, baik lingkungan sosial, lingkungan
budaya, maupun lingkungan alam.

1. Manusia Sebagai Makhluk Individu


Manusia sebagai makhluk individu dalam suatu organisasi harus
mempunyai kesadaran diri seperti realita, self-respect, egoisme,
kepribadian, perbedaan maupun kesamaan dengan pribadi individu lain.

2. Pertumbuhan Individu
Pertumbuhan setiap yang normal melalui proses pertumbuhan dan
perkembangan lahir batin, bahwa setiap individu atau pribadi
mempunyai jiwa raga dan ciri-ciri khas tersendiri.

Menurut pendirian Nativisik, faktor-faktor yang mempengaruhi


pertumbuhan individu ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak
lahir. Sedangkan menurut pendirian Empiristik dan Environmentalistik
beranggapan bahwa pertumbuhan individu tergantung lingkungannya.
Anggapan lain menurut pendirian Konvergensi dan Interaksionisme
berpendapat bahwa interaksi antara dasar dan lingkunganlah yang
menentukan pertumbuhan individu.
5

3. Tahap Pertumbuhan Individu


Berikut tahap pertumbuhan individu berdasarkan psikologi :
a. Pada masa vital yaitu dari usia 0 sampai sekitar 2 tahun
b. Masa estetik yaitu dari umur sekitar 2 tahun sampai sekitar 7 tahun
c. Masa intelektual yaitu dari umur sekitar 7 tahun sampai sekitar 13
tahun sampai 14 tahun
d. Masa sosial yaitu dari umur sekitar 13 tahun sampai 14 tahun

Pembentukan sikap akan membantu membina kepribadian seseorang.


Kepribadian yang sering kali muncul dalam diri manusia ada yang secara
terbuka, atraktif, banyak omong, banyak tingkah disebut ekstrovert, ada juga
orang diam dan tidak banyak bicara dalam pergaulannya disebut introvert.
Kepribadian dibentuk oleh beberapa komponen sikap seseorang, yaitu sikap
keagamaan, kesukuan (ethnocentris) sikap politik, serta sikap internasionalis.

Pembentukan kepribadian seseorang merupakan usaha yang secara


integral dari berbagai sikap seseorang terhadap agama, suku, sikap politik dan
internasionalnya.

1. Sikap keagamaan
Seseorang yang beragama dengan baik maka akan membentuk sikap
kepribadian seseorang yang lembut, halus dan hati-hati dalam bicara, bertindak
dan berperilakunya. Dia selalu memperhatikan bukan hanya pada dirinya,
tetapi selalu memperhatikan orang lain, keluarga, dan masyarakatnya. Ketaatan
pada Tuhan diimplementasikan pada ketaatan dan kedisiplinan dalam
kehidupannya bersama-sama dengan warga masyarakat lainnya.

2. Sikap sukuisme
Suku dan keturunan akan membentuk sikap dan kepribadian seseorang,
seperti tata cara berbicara makan minum, berpakaian, bekerja sehingga akan
membedakan antara dia dengan yang lainnya, antara suku satu, bangsa satu
dengan bangsa lainnya. Keramah-tamahan, kesopanan, keluwesan, keberanian,
6

tanggung jawab yang sering kali dimunculkan dan menggambarkan


kepribadian seseorang dari kelompok suku tertentu, atau bangsa tertentu
didunia. Di indonesia karena suku bangsa banyak sehingga menjadi lebih kaya
dan bervariasi budaya dalam kehidupan sehari-hari.

3. Sikap politik
Sikap politik membina kepribadian seseorang untuk dapat menguasai diri
dan orang lain dengan cara tertentu dalam kelompok untuk mencapai tujuan.
Pola hubungan dan keterkaitan dengan tujuan yang mengekspresikan sesuatu
sikap. Kebijakan, siasat, kepentingan kelompok merupakan dasar utama dalam
sikap seseorang.

4. Sikap internasional
Sikap internasional dipengaruhi oleh wawasan kognitif, dinamika
kehidupan seseorang yang membentuk kepribadiannya. Seseorang senang dan
tidak senang pada negara lain ditentukan oleh pengetahuan dan wawasan dia
tentang negara itu. Hubungan antarnegara satu dengan negara lain,
memberikan warna terhadap negara itu. Hubungan antarnegara satu dengan
negara lain, memberikan warna tehadap negara itu, tata cara hubungan politik,
ekonomi, sosial budaya yang saling menguntungkan kedua negara.

Unsur mengenai kepribadian yaitu :


1. Merupakan satu kesatuan fisik dan psikis;
2. Melahirkan pola perilaku yang unik (khas) bagi setiap manusia;
3. Dalam rangka menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Disatu sisi manusia adalah makhluk yang memiliki perbedaan (kekhasan)


bila dibandingkan dengan manusia lainnya sebagai makhluk individu (manusia
perseorangan), namun disisi lain, karena manusia memiliki kebutuhan yang
sangat kompleks tetapi ia tidak dapat memenuhi semua kebutuhannya itu.
7

B. Pengertian Masyarakat
Kata masyarakat merupakan terjemahan dari kata (community atau
komunitas). Secara definitif dapat didefinisikan sebagai kelompok manusia
(individu) yang terdiri dari sejumlah keluarga yang bertempat tinggal disuatu
tempat (wilayah) tertentu baik di desa maupun di kota yang telah terjadi
interaksi sosial antar anggotanya atau adanya hubungan sosial (social
relationship) yang memiliki nilai dan norma tertentu yang harus dipatuhi oleh
semua anggotanya dan memiliki tujuan tertentu pula. Sedangkan Selo
Soemarjan (1962) mengemukakan bahwa: “Masyarakat adalah suatu wilayah
kehidupan sosial yang ditandai oleh suatu derajat hubungan tertentu.”
Pada masyarakat modern sering dibedakan antara masyarakat pedesaan
(rural community) dan masyarakat perkotaan (urban community). Dalam
kehidupan masyarakat pedesaan, hubungan yang terjadi antara anggota
masyarakat terjalin secara erat, mendalam dengan sistem kehidupan
berkelompok. Pekerjaan utama masyarakat biasanya terkonsentrasi pada sektor
pertanian, dalam mengolah pertanian cara-cara yang digunakan masih (sangat)
tradisional dan tidak efisien yang lazim disebut sebagai “subsistence farming”.
Pada umumnya golongan orang-orang tua dijadikan sebagai penasehat dalam
kehidupan, sehingga peranan mereka menjadi begitu penting. Masalah yang
timbul kemudian adalah sulitnya mereka mengadakan perubahan-perubahan.
Hal ini disebabkan pandangan-pandagan mereka yang didasarkan pada tradisi
yang kuat. Karena itu, sulit sekali untuk mengubah pola fikir, sikap maupun
perilaku penduduknya. Kelangkaan alat komunikasi turut mempengaruhi
terhadap proses perubahan-perubahan yang diharapkan. Salah satu arus
komunikasi yang berkembang adalah desas-desus atau isu-isu yang biasanya
negatif sifatnya.
1. Unsur-unsur masyarakat
Menurut Soerjono Soekanto dalam masyarakat setidaknya memuat unsur
berikut :
 Beranggotakan minimal dua orang
 Anggotanya sadar sebagai satu kesatuan
8

 Berhubungan dalam waktu yang cukup lama yang menghasilkan


manusia baru yang saling berkomunikasi dan membuat aturan-
aturan hunbungan antar anggota masyarakat
 Menjadi sistem hidup bersama yang menimbulkan kebudayaan
serta keterkaitan satu sama lain sebagai anggota masyarakat
Beberapa ciri yang menonjol antara masyarakat pedesaan dan perkotaan
diantaranya seperti di bawah ini :
a. Kehidupan keagamaan bagi masyarakat pedesaan cenderung agamais,
sedangkan masyarakat kota mengarah keduniawian dikarenakan cara
berfikir yang berbeda.
b. Jalan pikiran pola fikir rasional masyarakat perkotaan terjadinya interaksi
berlandaskan kepentingan bukan faktor pribadi.
c. Perubahan sosial pada masyarakat kota lebih berguna dibanding desa
karena masyarakat kota lebih terbuka bagi perubahan.

Dalam pengertian sosiologi masyarakat tidak dipandang sebagai suatu


kumpulan individu-individu semata. Masyarakat merupakan suatu pergaulan
hidup, oleh karena itu manusia hidup bersama. Masyarakat adalah sebuah sistem
yang terbentuk dari kehidapan manusia yang disebut kemasyarakatan.
Ciri yang baik untuk mengerti tentang masyarakat adalah dengan melihat
cirri pokok dari masyarakat itu sendiri, maka masyarakat itu memiliki ciri pokok,
yaitu :
1. Manusia hidup bersama secara teoritis manusia yang hidup bersama
berjumlah 2 orang.
2. Bergaul dalam waktu yang lama.
3. Sadar bahwa semua manusia merupakan satu kesatuan.

C. Hubungan Individu dan Masyarakat


Manusia akan selalu memiliki dua keinginan yaitu keinginan untuk
menyatu atau bersama dengan manusia lainnya dan keinginan untuk menyatu
dengan alam lingkungannya. Kedua keinginan tersebut untuk mempermudah
berlangsungnyaa proses kehidupan bermasyarakat.
9

Dalam melangsungkan kehidupannya, dan untuk memenuhi kehidupan


yang sangat kompleks, manusia harus melakukan interaksi atau saling hubungan
sau dengan yang lainnya. Menurut ahli ilmu psikologi sosial bahwa interaksi
social adalah saling berhubungan antar dua manusia atau lebih, dimana satu
dengan yang lainnya saling mempengaruhi. Proses ini dapat terjadi antara
individu dengan individu, individu dengan kelompok, atau kelompok dengan
kelompok Dengan interaksi sosial dimaksudkan adanya pengaruh hubungan
timbal balik antara individu dengan kelompok dalam upaya memecahkan masalah
yang terjadi di lingkungan masyarakat.
Pola interaksi antara individu dan masyarakat dapat dibagi menjadi 2
macam, yaitu :
a. Pola interaksi individu dengan individu dan yang berhubungan secara langsung
adalah antar individu dan keduanya salaing mempengaruhi.
b. Pola interaksi antara individu dengan kelompok. Dimana yang sedang
melakukan hubungan langsung adalah seorang individu dan kelompok
masyarakat tertentu. Misalnya seorang sedang menyampaikan pendapatnya
kepada sebuah kelompok tertentu.
D. Lembaga Masyarakat

1. Pengertian Lembaga Kemasyarakatan


Lembaga kemasyarakatan adalah lembaga yang dibentuk masyarakat
dengan prinsip-prinsip kesukarelaan, kemandirian dan keragaman.
Karakteristiknya terdiri dari lembaga kemasyarakatan yang berbasis:
kewilayahan, keagamaan, profesi, kebudayaan (termasuk adat istiadat),
kepemudaan, gender, dan interest group/kepentingan.

W.G. Sumner (1940) dengan karangannya “folkways”, mengatakan bahwa


lembaga-lembaga kemasyarakatan tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan menjadi
adat istiadat, yang kemudian berkembang menjadi tata kelakuan („mores) dan
akan bertambah matang apabila telah diadakan penjabaran terhadap aturan dan
perbuatan; pada saat itu terbentuklah suatu struktur (yaitu suatu sarana atau
struktur peranan), dan sempurnalah lembaga tersebut. Kebiasaan dan tata
kelakuan, merupakan cara–cara bertingkah laku yang lebih bersifat habitual
10

dan kadang-kadang tidak didasarkan pada penalaran. Kemudian Sumner


beranggapan, bahwa suatu lembaga bukan merupakan aksi atau kaidah, akan
tetapi suatu kristalisasi dari perangkat kaidah-kaidah, yang selanjutnya
mengacu pada organisasi-organisasi abstrak maupun konkrit; dia menganggap
perkawinan sebagai lembaga yang tidak sempurna, oleh karena tidak
berstruktur, akan tetapi keluarga merupakan suatu lembaga.

Lembaga kemasyarakatan ini selalu melekat dalam kehidupan masyarakat,


tidak dipersoalkan apakah bentuk masyarakat itu masih sederhana ataupun
telah maju, setiap masyarakat sudah tentu tidak akan terlepas dengan
kompleks kebutuhan atau kepentingan pokok yang apabila dikelompok-
kelompokkan, terhimpun menjadi lembaga kemasyarakatan , dan wujud
konkrit dari lembaga sosial disebut asosiasi

2. Ciri-Ciri Umum Lembaga Kemasyarakatan

Menurut Gillin, beberapa ciri umum lembaga kemasyarakatan antara lain :

a. Suatu lembaga kemasyarakatan adalah organisasi pola-pola pemikiran


dan pola-pola prilaku yang terwujud melalui aktivitas kemasyarakatan
dan hasil-hasilnya. Lembaga kemasyarakatan terdiri dari adat istiadat,
tata kelakuan, kebiasaan, serta unsur-unsur kebudayaan lainnya yang
secara langsung ataupun tidak langsung tergabung dalam satu unit yang
fungsional
b. Suatu tingkat kekekalan tertentu merupakan ciri dari semua lembaga
kemasyarakatan. System-sistem kepercayaan dan berbagai macam
tindakan, baru akan menjadi bagian lembaga kemasyarakatan setelah
melewati waktu yang relative lama.
c. Lembaga kemasyarakatan mempunyai satu atau beberapa tujuan
tertentu
d. Lembaga kemasyarakatan mempunyai alat-alat perlengkapan yang
dipergunakan untuk mencapai tujuan lembaga yang bersangkutan.
11

e. Langbang-lambang biasanya merupakan ciri khas dari lembaga


kemasyarakatan. Lambing-lambang tersebut secara simbolis
menggambarkan tujuan dan fungsi lembaga yang bersangkutan.
f. Suatu lembaga kemasyarakatan mempunyai tradisi tertulis atau yang
tidak tertulis, yang merumuskan tujuannya, tatatertib yang berlaku, dan
lain-lain.

3. Fungsi Lembaga Kemasyakatan

Secara umum Soekanto mengemukakan bahwa lembaga kemasyarakatan


yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia itu pada dasarnya
mempunyai beberapa fungsi, yaitu :

a. Memberikan pedoman pada anggota masyarakat tentang bagaimana


seharusnya mereka bertingkah-laku atau bersikap di dalam
menghadapi masalah-masalah dalam masyarakatnya, terutama yang
menyangkut berbagai kebutuhan.
b. Menjaga keutuhan masyarakat
c. Memberikan pegangan kepada masyarakat untuk mengadakan sistem
pengendalian sosial (social control); artinya sistem pengawasan
masyarakat terhadap tingkah-laku anggota-anggotanya
4. Tipe-tipe Lembaga Kemsyarakatan
a. Berdasarkan Tujuannya
1) Lembaga sosial yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan
sosial dan kekerabatan (domestic institutions). Contohnya:
pinangan, perkawinan, poligami, perceraian dan keluarga.
2) Lembaga sosial yang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia
untuk mata pencaharian hidup, memproduksi, menimbun,dan
mendistribusikan barang (economic institutions). Contohnya:
pertanian, perikanan, koperasi dan perdagangan.
3) Lembaga sosial yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan
pengetahuan dan pendidikan manusia (educational institutions).
Contohnya: pendidikan masyarakat, TK, SD, SMP, SMA,
12

SMK, perguruan tinggi, tempat-tempat kursus dan tempat-


tempatpelatihan lainnya.
4) Lembaga sosial yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan
ilmiah manusia (scientific institutions). Contohnya: berbagai
macam metode ilmiah dan pendidikan ilmiah lainnya.
5) Lembaga sosial yang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia
untuk menyatakan rasa keindahan dan rekreasi (aesthetic and
uncreational institutions). Contohnya: seni suara, seni rupa,
seni gerak, seni lukis dan seni sastra.
6) Lembaga sosial yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan
manusia untuk berhubungan dengan Tuhan (religius
institutions). Contohnya: Musholla, Masjid, Gereja, Vihara dan
Pura yang merupakan tempat berdoa untuk keselamatan.
7) Lembaga sosial yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan
manusia untuk mengatur kehidupan berkelompok atau
bernegara (political institutions). Contohnya: pemerintahan,
demokrasi, kehakiman, kepolisian dan badan pemerintah.
8) Lembaga sosial yang mengurus kebutuhan jasmani manusia
(somatic institutions). Contohnya: pemeliharaan kecantikan,
kesehatan dan kedokteran.
b. Berdasarkan Sudut Perkembangannya
1) Crescive institutions, yaitu lembaga yang paling primer dan
tumbuh dari adat istiadat. Contohnya: perkawinan, agama, dan
hak milik.
2) Enacted institutions, yaitu lembaga yang dengan sengaja
dibentuk untuk memenuhi kebutuhan atau tujuan tertentu.
Contohnya lembaga pendidikan dan lembaga perdagangan.
c. Berdasrkan dari Sudut Sistem Nilai-Nilai yang Diterima
Masyarakat
1) Basic institutions, yaitu lembaga kemasyarakatan yang sangat
penting untuk memelihara dan mempertahankan tata tertib
13

dalam masyarakat. Di Indonesia yang dianggap sebagai basic


institutions yang pokok misalnya keluarga, sekolah dan negara.
2) Subsidiary institutions, yaitu lembaga sosial yang dianggap
kurang penting, misalnya: kegiatan rekreasi. Ukuran tentang
suatu lembaga bisa dianggap basic institutions atau subsidiary
institutions berbeda pada setiap masyarakat.
d. Berdasarkan dari Sudut Penerimaan Masyarakat
1) Approved atau social sanctined institutions adalah lembaga
yang diterima oleh masyarakat. Misalnya sekolah dan
perusahaan dagang.
2) Unsanctioned institutions adalah lembaga yang ditolak oleh
masyarakat, walaupun kadang-kadang masyarakat tidak
berhasil memberantasnya. Misalnya gerombolan
penjahat,perampok dan pemeras.
e. Berdasarkan Faktor Penyebarannya
1) General institutions adalah lembaga dikenal oleh masyarakat
diseluruh dunia. Misalnya agama.
2) Restricted institutions adalah lembaga yang dianut oleh
masyarakat-masyarakat tertentu di dunia. Misalnya Islam,
Protestan, Katolik, Hindu dan Budha.
f. Berdasarkan Sudut Fungsinya
1) Operative institutions, yaitu lembaga sosial yang berfungsi
untuk menghimpun pola-pola atau tata cara yang diperlukan
untuk mencapai tujuan lembaga yang bersangkutan. Misalnya
lembaga industrialisasi.
2) Regulative institutions, yaitu lembaga yang bertujuan untuk
mengawasi adat atau tata kelakuan yang tidak menjadi bagian
yang mutlak daripada lembaga itu sendiri. Contohnya
kejaksaan dan pengadilan.

Secara umum penelitian ini dimaksudkan mengkaji keberadaan kelembagaan


desa dan kelompok-kelompok lokal dan menindaklanjuti melalui kegiatan
14

revitalisasi pemberdayaan kelembagaan dalam kerangka pembangunan desa


berkelanjutan. Sedangkan secara khusus, tujuan penelitian ini adalah sebagai
berikut:

1. Tersedianya data dan informasi keragaan berbagai kelembagaan desa,


kelembagaan masyarakat, dan kelompok-kelompok lokal.

2. Tersusunnya model kelembagaan desa dan masyarakat yang tangguh, mandiri


dan partisipatif sesuai dengan aspirasi dan kepentingan masyarakat setempat
dalam kerangka pembangunan perdesaan yang berkelanjutan.

3. Terwujudnya kelembagaan desa dan masyarakat sebagai kelas belajar


mengajar, unit produksi, dan wahana kerjasama bagi para anggotanya dalam
upaya meningkatkan kesejahteraannya.

4. Meningkatnya partisipasi petani dan masyarakat perdesaan, termasuk kaum


perempuan, dalam setiap tahapan proses pembangunan berkelanjutan.

Tujuan pertama diharapkan dapat dicapai pada tahun pertama, sedangkan


tujuan kedua, ketiga, dan keempat diharapkan dapat dicapai pada tahun kedua dan
ketiga.

Berbagai kelembagaan dan kelompok-kelompok lokal tersebut memiliki


karakteristik yang khas sesuai dengan jenis kelompok dan proses
pembentukannya. Berikut adalah deskripsi karakteristik beberapa kelembagaan
dan kelompok-kelompok lokal yang ada di desa penelitian.

1. Pemerintahan Desa

> Kelembagaan Desa Sebelum UU No. 5 Tahun 1979. Kelembagaan di bawah


Pemerintahan Desa adalah pemerintahan tingkat kampung (Gubuq) yang dipimpin
oleh seorang kepala kampung (Keliang) yang dipilih oleh masyarakat. Keliang
adalah lembaga pemerintahan yang paling rendah, dan tidak dikenal adanya
Rukun Tetangga (RW) dan Rukun Warga (RW). Menurut Proyek IDKD (1984)
Keliang adalah pembantu Kepala Desa yang terpenting. Urusan yang menjadi
kewajibannya tidak hanya terbatas pada soal-soal pemerintahan, tetapi juga
15

dipercayakan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang menyangkut


perikehidupan warga kampung. Jadi peran Keliang tidak terbatas dalam masalah
administratif, akan tetapi juga pengayom warganya. Keliang mewakili warganya
ke luar atau di dalam kampung bilamana terjadi persengketaan perdata, urusan
adat, perkawinan, kematian, perceraian, mendirikan rumah, urusan pertanian, serta
soal-soal asusila dalam wilayah pemerintahan kampung. Dalam menjalankan
tugasnya, Keliang dibantu oleh seorang Juruarah yang dipilih sendiri oleh
Keliang.

Dalam bidang pertanian, pada suatu daerah irigasi terdapat kelompok petani
pemakai air yang disebut Subak dan dipimpin oleh seorang Pekaseh.
Kelembagaan petani lainnya adalah Banjar Buruh Tani, yaitu suatu organisasi
sosial petani yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya
dengan kegiatan gotong royong dan simpan pinjam.

> Kelembagaan Desa Setelah Berlakunya Undang-undang No. 5 Tahun 1979.


Dengan pertimbangan untuk memperkuat pemerintahan desa agar mampu
menggerakkan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan, dan untuk
menyelenggarakan administrasi desa yang makin meluas dan efektif, Pemerintah
Orde Baru mengeluarkan kebijakan pengaturan pemerintahan desa melalui
Undang-undang No. 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa. UU No. 5/1979
secara jelas menyatakan bahwa kedudukan pemerintahan desa sejauh mungkin
diseragamkan dengan mengindahkan keragaman desa dan adat-istiadat yang
masih berlaku. Dalam bagian penjelasan UU No. 5/1979 dikatakan bahwa
pemerintahan desa yang bentuk dan coraknya masih beraneka ragam kadang-
kadang merupakan hambatan untuk pembinaan dan pengendalian yang intensif.

Arus penyeragaman kelembagaan desa tersebut juga dilakukan di desa penelitian.


Peran dan fungsi Kerama Desa digantikan oleh Lembaga Ketahanan Masyarakat
Desa (LKMD). Kemudian peran Keliang digantikan oleh Kepala Dusun (Kadus).
Di setiap wilayah Dusun dibentuk RT dan RW, namun hasil penelitian Proyek
IDKD (1984) menemukan bahwa kedua lembaga bentukan tersebut tidak
berfungsi sama sekali.
16

Dari hasil FGD terungkap bahwa selain kelembagaan yang diidentifikasi Proyek
IDKD NTB tersebut, juga terdapat banyak kelompok-kelompok yang dibentuk
secara top down. Secara sektoral, hampir semua instansi pemerintah
memanfaatkan eksistensi kelompok sebagai media informasi pembangunan dan
menggerakkan masyarakat. Di sektor pertanian memanfaatkan Kelompok Tani,
sektor pendidikan menggunakan Kelompok Belajar (Kejar) Paket, sektor
penerangan mengunakan Kelompencapir, sektor KB menggunakan Kelompok
Akseptor, dan untuk meningkatkan peranan perempuan dikenal kelompok
Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).

Pada periode tersebut juga dilakukan mobilisasi masyarakat dengan membentuk


berbagai kelompok “sadar”, seperi Kelompok Sadar Hukum, Kelompok Sadar
Wisata, Kelompok Sadar Pajak, dan sebagainya. Dengan alasan percepatan
pembangunan, kelompok-kelompok tradisional yang sebelumnya eksis
diformalkan bentuk dan strukturnya seperti kasus perubahan kelompok pengairan
tradisional Subak di Bali dan Lombok yang diubah menjadi Perkumpulan Petani
Pemakai Air (P3A). Terjadilah proses defungsionalisasi kelembagaan masyarakat
sehingga hampir tidak ada lagi lembaga masyarakat (tradisional) yang berdaya
menghadapi arus penyeragaman yang dimobilisasi sedemikian rupa.

Kelembagaan Desa pada Era Otonomi Daerah. Dengan bergulirnya era


otonomi daerah, Pemerintah Desa memiliki kesadaran untuk memperjuangan
otonomi di tingkat desa meskipun posisi tawar yang dimiliki desa terhadap
Kabupaten tidak lebih baik dari sebelumnya. Adanya Asosiasi Kepala Desa
membuat posisi tawar tersebut menjadi salah satu agenda yang diperjuangkan.
Sedangkan terhadap masyarakat desa sendiri, Kepala Desa dituntut untuk lebih
aspiratif, partisipatif dan transparan, disamping karena makin kuatnya kesadaran
kritis masyarakat untuk ikut berperan dalam pembangunan desa, juga karena
adanya fungsi pengawasan dari Badan Perwakilan Desa (BPD).

2. Badan Perwakilan Desa (BPD)

Pada era UU No. 5/1979, tidak dikenal adanya lembaga legislatif tingkat desa.
Menurut pasal 104 UU No. 22/1999, BPD atau yang disebut dengan nama lain
17

berfungsi mengayomi adat-istiadat, membuat Peraturan Desa, menampung dan


menyalurkan aspirasi masyarakat, serta melakukan pengawasan terhadap
penyelenggaraan Pemerintahan Desa. Memenuhi amanat UU No. 22/1999
tersebut, maka dibentuklah Badan Perwakilan Desa (BPD) di ketiga desa
penelitian pada tahun 2001. Pembentukan BPD dilaksanakan dengan memilih
wakil setiap Dusun melalui proses pemilihan langsung di setiap Dusun.

Dari hasil observasi dan juga seperti terungkap dalam Workshop, kondisi BPD di
ketiga desa penelitian masih memerlukan penguatan kelembagaan, terutama
dalam melakukan legislasi mulai dari penyusunan sampai ke pengawasan
peraturan desa. Euphoria reformasi membuat pemaknaan sebagian anggota
masyarakat terhadap tugas dan fungsi BPD semata-mata sebagai oposisi
Pemerintah Desa daripada sebagai mitra Pemdes dalam melaksanakan proses
pembangunan desa yang berkelanjutan.

3. Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD)

LKMD merupakan lembaga perencanaan pembangunan di tingkat desa. Pada


masa lalu, fungsi LKMD tidak lebih dari pelengkap dan atau pelaksana program-
program pemerintah yang turun dari atas. Keberadaan lembaga tersebut sangat
tergantung pada figur Kepala Desa. Karena jabatannya, Kepala Desa secara ex-
officio menjadi Ketua LMD, dan Sekretaris Desa karena jabatannya menjadi
Sekretaris LMD. Kepala Desa secara ex-officio juga menjabat Ketua Umum
LKMD, dan Ketua II LKMD dijabat oleh Ketua Tim Penggerak PKK yang
notabene adalah istri Kepala Desa. Dengan perubahan nama menjadi LPM,
LKMD diharapkan benar-benar menjadi lembaga perencanaan pembangunan desa
yang mewadahi aspirasi dan partisipasi masyarakat desa secara luas.

Dalam melaksanakan kegiatan perencanaan pembangunan desa, dari hasil


observasi dan workshop, kapasitas dan kapabilitas LKMD atau LPM di ketiga
desa penelitian masih sangat lemah, seperti : kelemahan dalam identifikasi
masalah pembangunan, kurangnya dukungan data dan informasi perencanaan, dan
semuanya bermuara kepada kualitas sumberdaya manusia yang lemah. Di sisi
lain, dalam proses perencanaan pembangunan daerah khususnya di tingkat
18

Kabupaten masih sangat dominannya perencanaan dari atas (top down) dan
perencanaan pembangunan dari bawah (bottom up) melalui Musbangdes hanya
sekedar proforma.

4. Lembaga Keuangan Desa (LKD)

Lembaga Keuangan Desa (LKD) merupakan salah satu lembaga strategis


yang harus ada di desa. Akan sangat sulit dibayangkan keberlanjutan suatu
program pemberdayaan ataupun pengentasan kemiskinan tanpa dukungan suatu
lembaga keuangan yang sehat, kuat, dan mandiri. Pada ketiga desa penelitiaan,
keadaan LKD belum menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. LKD
masih berupa embrio dalam bentuk Unit Usaha Ekonomi Desa Simpan Pinjam
(UED-SP) yang dibina Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (BPMD, dulu
Bangdes) Kabupaten. Aktivitasnya masih terbatas simpan pinjam, sedangkan
modal dan perputaran modal masih relatif kecil.

Salah satu persoalan yang dihadapi oleh pemerintah desa adalah sulitnya
menyatukan berbagai lembaga keuangan mikro ataupun program perkreditan dan
dana bergulir yang selama ini dilaksanakan oleh berbagai instansi pemerintahPola
pembinaan, pertanggung jawaban, bahkan soal-soal teknis pengelolaan dan
penentuan pengelolanya berada pada berbagai instansi. Pemerintah Desa, secara
kelembagaan hampir-hampir tidak terlibat sama sekali. Akibatnya, pemerintah
desa tidak merasa memiliki lembaga tersebut, sehingga tanggung jawab mereka
untuk menjaga keberlanjutannya juga tidak ada.

5. Kelembagaan/Kelompok Petani, Peternak dan Nelayan.

Dibandingkan dengan dua desa lainnya, kelompok petani di Desa Babussalam


tergolong lebih maju. Desa Babussalam merupakan salah satu desa yang
meninggalkan pendekatan hamparan dalam pembentukan kelompok tani, dan
menggantinya dengan membentuk kelompok tani domisili pada tahun 2001.
Sedangkan di kedua desa lainnya, kelompok tani yang ada masih menggunakan
pendekatan hamparan. Pendekatan kelompok tani hamparan tadinya dimaksudkan
untuk lebih memudahkan pengelolaan usaha tani secara berkelompok, dan lebih
memudahkan pembinaan oleh penyuluh. Akan tetapi, kelemahan kelompok tani
19

hamparan adalah rendahnya interaksi antar anggota, terutama bila anggotanya


berasal dari Desa/Dusun yang berlainan. Karenanya, kebijakan pendekatan
hamparan dalam pembinaan kelompok tani yang dilakukan selama ini tidak
efektif.

Selain kelompok tani, kelompok petani lainnya di adalah Perkumpulan


Petani Pemakai Air (P3A). Sebelum diperkenalkannya P3A pada tahun 1980-an,
kelompok petani pemakai air di ketiga desa adalah kelompok Subak yang
dipimpin oleh seorang Pekaseh. Masuknya P3A membuat Subak terpinggirkan
dan berubah menjadi P3A dengan berbagai atribut kelompok seperti
kepengurusan, Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga. Akan tetapi untuk
keperluan mendapatkan air irigasi, petani tetap meminta kepada Pekaseh kendati
sudah ada pengurus P3A.

6. Kelompok Keagamaan

Kelompok-kelompok keagamaan, terutama kelompok-kelompok


keagamaan Islam, terdapat di semua desa di Pulau Lombok. Kelompok-kelompok
keagamaan ini tumbuh, berkembang dan mengakar kuat di masyarakat.
Disamping karena mayoritas penduduk Pulau Lombok pemeluk agama Islam
yang taat, juga karena besarnya pengaruh pemimpin agama yang disebut dengan
Tuan Guru. Kelompok-kelompok ini pada umumnya aktif karena adanya kegiatan
rutin kelompok. Kegiatan yang dilaksanakan tidak terbatas dalam mempelajari
ilmu agama, namun juga menjadi kelompok sosial tolong menolong terutama bila
anggota kelompok mengalami musibah.

Selain Banjar, lembaga-lembaga keagamaan merupakan lembaga asli yang


paling berpengaruh di ketiga desa penelitian. Melebihi peranan lembaga-lembaga
formal, Tuan Guru dan atau tokoh-tokoh agama lebih efektif mengorganisir
kegiatan gotong-royong dan mengumpulkan iuran untuk kegiatan
kemasyarakatan.

7. Banjar
20

Kelembagaan lokal yang begitu kuat mengakar dan berkembang di desa-desa di


Pulau Lombok adalah Banjar, yaitu suatu lembaga sosial masyarakat yang ada di
tingkat kampung. Banjar umumnya terdiri dari Banjar Merararik (perkumpulan
pemuda yang mengumpulkan dana model arisan untuk keperluan pernikahan),
Banjar Mate (perkumpulan anggota masyarakat yang mengumpulkan dana model
arisan untuk keperluan bila terjadi musibah kematian). Melalui Banjar, sangat
terasakan kehidupan gotong-royong dan tolong menolong yang masih asli, yang
dalam kehidupan bermasyarakat “materialistis” saat ini sudah mulai menghilang.

Dari analisis hubungan kelembagaan mengunakan Diagram Venn, Banjar


merupakan lembaga swakarsa asli yang dianggap paling dekat dan paling
berperan di masyarakat. Kelembagaan Banjar sangat kuat mengikat anggota-
anggotanya, disamping karena lembaga tersebut dibentuk dari, oleh dan untuk
masyarakat, serta sangat dirasakan manfaatnya dalam kehidupan sosial
kemasyarakatan, juga karena aturan-aturan (Awiq-awig) Banjar dibuat bersama
dan ditaati oleh semua anggotanya. Adanya sangsi moral terhadap pelanggaran
awiq-awiq membuat anggota Banjar konsekuan dengan hak dan kewajibannya.

 Revitalisasi dan Pemberdayaan Kelembagaan Desa dan Kelompok-


Kelompok Lokal
Hasil yang diperoleh peneliti dari kegiatan survei, kemudian diverifikasi
dalam forum Workshop. Tujuan dari pelaksanaan workshop ini adalah: (1)
Sebagai proses verifikasi dan memperkaya temuan penelitian atau hasil survey
(kesimpulan sementara), dan (2) Untuk memfasilitasi proses belajar masyarakat
dan organisasi - community and organisational learning - melalui identifikasi
masalah-masalah pengembangan kelembagaan, faktor penyebab, dan solusi dalam
bentuk alternatif model pengembangan kelembagaan.
Beberapa kesimpulan dari hasil ketiga Workshop adalah :

1) Lembaga dan kelompok-kelompok lokal yang ada belum berperan secara


optimal dalam pembangunan desa yang berkelanjutan.
2) Kebijakan pembangunan perdesaan yang dilaksanakan pemerintah sebagian
besar kebijakan Pemerintah bernuansa “top-down”, dominasi Pemerintah
sangat tinggi, akibatnya antara lain banyak terjadi pembangunan yang tidak
21

sesuai dengan aspirasi masyarakat, tidak sesuai dengan potensi dan


keunggulan desa, dan tidak banyak mempertimbangkan keunggulan dan
kebutuhan lokal.
3) Pendekatan pembangunan perdesaan yang dilaksanakan pemerintah lebih
kental dengan nuansa proyek dan kurang memperhatikan aspek keberlanjutan,
serta mengedepankan ego sektoral.
4) Pendekatan kelompok yang digunakan dalam pembangunan perdesaan tidak
efektif karena dilakukan secara parsial, tidak terintegrasi dan terkoordinasi.
5) Dalam melaksanakan program-program sektoral, Dinas/Instansi seringkali
langsung ke kelompok tanpa melibatkan pemerintahan Desa.
6) Pemerintahan desa yang otonom akan dapat diwujudkan apabila program-
program pembangunan tidak mengedepankan ego sektoral dan Dinas/Instansi
menempatkan pemerintah desa “saluran” program-program sektoral.
7) Semua program-progam pembangunan, bantuan/dukungan teknis dan
pendanaan, baik dari Dinas/Instansi Pemerintah, Swasta, LSM dan lembaga-
lembaga lainnya harus melalui Pemerintahan Desa yang kemudian bersama-
sama masyarakat melalui LKMD/LPM akan menyesuaikan dengan program
pembangunan desa berkelanjutan.
8) Selain lembaga esksekutif (Pemerintahan Desa), lembaga legislatif (BPD), dan
lembaga perencanan pembangunan desa (LKMD/LPM), kelembagaan lain
dibutuhkan adalah :
a. Kelembagaan Keuangan Desa (LKD) untuk memberikan dukungan
pendanaan kepada kelompok-kelompok lokal dan individu masyarakat,
dan agar dana-dana pembangunan yang masuk ke desa dapat disalurkan
melalui satu pintu.
b. Majelis Kerama Adat Desa (MKAD) sebagai : badan konsultasi dan
penasehat pembangunan desa, badan yang mengatur tata hubungan antar
masyarakat, dan badan yang menyelesaikan persoalan-persoalan yang
menyangkut adat istiadat dan tata hubungan antar masyarakat.
9) BPD melaksanakan fungsi legislasi dan kontrol dalam kedudukan sebagai
mitra pemerintahan desa.
22

10) LKMD/LPM melaksanakan koordinasi terhadap program-program masyarakat


melalui kelompok-kelompok lokal sesuai dengan program pembangunan desa
yang terpadu dan berkelanjutan.
Atas dasar isue dan permasalahan di atas, suatu model bagi
pengembangan kelembagaan dapat dirumuskan secara partisipatif melalui
kegiatan Workshop. Model ini menunjukkan peran strategis kelembagaan dan
kelompok-kelompok lokal dalam menampung dan menyalurkan program-program
pembangunan dari internal dan eksternal desa. Model ini diharapkan dapat
meningkatkan partisipasi semua komponen masyarakat dalam semua tahapan
proses pembangunan desa berkelanjutan.
Beberapa hal yang mendukung model ini adalah : Pertama, melalui proses
pemberdayaan kelompok yang partisipatif, rasa memiliki atas kelompok dapat
dimunculkan, yang pada gilirannya akan melahirkan komitmen dan tanggung
jawab dalam mengembangkan kelompok dan pengambilan peran dalam semua
tahapan proses pembangunan.
Kedua, model ini akan dapat membantu proses konvergensi dan divergensi
sumberdaya pembangunan yang masuk ke desa. Pengalaman pelaksanaan
pembangunan selama ini menunjukkan bahwa kegagalan banyak program
pembangunan disebabkan oleh pendekatan-pendekatan pembangunan yang paralel
dan tidak terintegrasi. Dengan model ini, masalah overlapping dan pemborosan
pembangunan akan dapat diatasi. Pemerintah Desa dengan dukungan BPD dan
MKAD akan berperan sebagai “lensa pembangunan” . Melalui proses konvergensi
dan divergensi yang dilakukan oleh LKMD sebagai lembaga perencana
pembangunan desa, semua dukungan pembangunan yang disalurkan ke desa dapat
dihimpun dan dialokasikan secara efektif dan lebih bermakna.

Ketiga, pembentukkan LKM di tingkat desa akan dapat membantu


pemupukan modal di desa yang kemudian akan sangat bermanfaat bagi
pendukung dinamika ekonomi dan pembangunan desa pada umumnya. Tabungan
dan pinjaman dapat dimobilisasi, yang pada gilirannya mendukung aktifitas
perekonomian desa.
23

Keempat, revitalisasi kelembagaan adat akan mengembalikan nilai-nilai,


pranata adat, dan kearifan lokal yang dapat meningkatkan kekompakan dan
kesetia-kawanan sosial masyarakat. Melalui kelembagaan adat, berbagai
permasalahan hubungan sosial antar warga masyarakat akan diatasi sendiri oleh
masyarakat tanpa adanya intervensi pihak luar.

Dari aspek pemberdayaan kelompok lokal, model ini menunjukkan


adanya peran strategis kelompok dalam mendukung pembangunan desa yang
efektif dan berkelanjutan. Peran-peran ini antara lain:

 Memobilisasi anggota untuk berpartisipasi aktif dalam semua tahapan


pembangunan desa yang berkelanjutan
 Mengembangkan rasa memiliki terhadap kelompok dan sekaligus kepedulian
yang tinggi terhadap pembangunan desa yang berkelanjutan
 Memfasilitasi proses belajar - dalam rangka meningkatkan efektifitas
kelompok serta pengambangan kapasitas anggota dalam mencapai tujuan yang
lebih luas.
 Membantu anggota dalam upaya-upaya meningkatkan pendapatan dan
kesejahteraan.

E. Stratifikasi Sosial

Secara harfiah stratifikasi berasal dari bahasa latin stratumyang bermakna


tingkatan. SehinggaStratifikasi sosial adalah perbedaan individu atau kelompok
dalam masyarakat yang menempatkan seseorang pada kelas-kelas sosial yang
berbeda-beda secara hierarki dan memberikan hak serta kewajiban yang berbeda-
beda pula antara individu pada suatu lapisan sosial lainnya.

1. Dasar-Dasar Pembentukan Lapisan Sosial


a. Ukuran kekayaan

Kekayaan (materi atau kebendaan) dapat dijadikan ukuran penempatan


anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial yang ada, barang siapa
memiliki kekayaan paling banyak mana ia akan termasuk lapisan teratas
24

dalam sistem pelapisan sosial, demikian pula sebaliknya, yang tidak


mempunyai kekayaan akan digolongkan ke dalam lapisan yang rendah.
Kekayaan tersebut dapat dilihat antara lain pada bentuk tempat tinggal,
benda-benda tersier yang dimilikinya, cara berpakaiannya, maupun
kebiasaannya dalam berbelanja,serta kemampuannya dalam berbagi
kepada sesama

b. Ukuran kekuasaan dan wewenang

Seseorang yang mempunyai kekuasaan atau wewenang paling besar


akan menempati lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial dalam
masyarakat yang bersangkutan. Ukuran kekuasaan sering tidak lepas dari
ukuran kekayaan, sebab orang yang kaya dalam masyarakat biasanya
dapat menguasai orang-orang lain yang tidak kaya, atau sebaliknya,
kekuasaan dan wewenang dapat mendatangkan kekayaan.

c. Ukuran kehormatan

Ukuran kehormatan dapat terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan atau


kekuasaan. Orang-orang yang disegani atau dihormati akan menempati
lapisan atas dari sistem pelapisan sosial masyarakatnya.

d. Ukuran ilmu pengetahuan


Ukuran ilmu pengetahuan sering dipakai oleh anggota-anggota
masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Seseorang yang
paling menguasai ilmu pengetahuan akan menempati lapisan tinggi
dalam sistem pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan.
Penguasaan ilmu pengetahuan ini biasanya terdapat dalam gelar-gelar
akademik (kesarjanaan), atau profesi yang disandang oleh seseorang,
misalnya dokter, insinyur, doktorandus, doktor ataupun gelar
profesional seperti profesor.
2. Bentuk Stratifikasi Sosial
a. Stratifikasi Sosial Berdasarkan Kriteria Ekonomi
25

Stratifikasi sosial dalam bidang ekonomi akan membedakan penduduk


atau warga masyarakat menurut penguasaan dan pemilikan materi. Dalam
hal ini ada golongan orang-orang yang didasarkan pada pemilikan tanah,
serta ada yang didasarkan pada kegiatannya di bidang ekonomi dengan
menggunakan kecakapan. Dengan kata lain, pendapatan, kekayaan, dan
pekerjaan akan membagi anggota masyarakat ke dalam berbagai lapisan
atau kelas-kelas sosial dalam masyarakat.

Menurut Max Webber, stratifikasi sosial berdasarkan criteria ekonomi


membagi masyarakat ke dalam kelas-kelas yang didasarkan pada
pemilikan tanah dan benda-benda. Kelas kelas tersebut adalah kelas atas
(upper class), kelas menegah (middle class), dan kelas bawah (lower
class). Satu hal yang perlu diingat bahwa stratifikasi sosial berdasarkan
kriteria ekonomi ini bersifat terbuka. Artinya memungkinkan seseorang
yang berada pada kelas bawah untuk naik ke kelas atas, dan sebaliknya
memungkinkan seseorang yang berada pada kelas atas untuk turun ke
kelas bawah atau kelas yang lebih rendah. Hal ini tergantung pada
kecakapan dan keuletan orang yang bersangkutan.

b. Stratifikasi Sosial Berdasarkan Kriteria Sosial

Pada umumnya, stratifikasi sosial berdasarkan kriteria ini bersifat


tertutup. Stratifikasi sosial demikian umumnya terdapat dalam masyarakat
feodal, masyarakat kasta, dan masyarakat rasial

1) Stratifikasi Sosial pada Masyarakat Feodal

Masyarakat feodal merupakan masyarakat pada situasi praindustri,


yang menurut sejarahnya merupakan perubahan dari ikatan budak atau
hamba sahaya dengan tuan tanah. Hubungan antara kedua golongan itu
menjadi hubungan antara yang memerintah dengan yan diperintah, dan
interaksinya sangat terbatas

2) Stratifikasi Sosial pada Masyarakat Kasta


26

Masyarakat kasta menuntut pembedaan antargolongan yang lebih


tegas lagi. Hubungan antargolongan adalah tabu, tertutup, bahkan
dapat dihukum masyarakatnya. Hal demikian terjadi pada masyarakat
kasta di India. Istilah untuk kasta di India adalah yati, dan sistemnya
disebut dengan varna. Menurut kitab Reg Weda dalam masyarakat
India Kuno dijumpai empat varna yang tersusun secara hierarkis dari
atas ke bawah, yaitu brahmana, ksatria, vaisya, dan sudra. Kasta
brahmana adalah kasta yang terdiri atas para pendeta dan dipandang
sebagai kasta tertinggi. Ksatria merupakan kasta yang terdiri atas para
bangsawan dan tentara, serta dipandang sebagai kelas kedua. Vaisya
merupakan kasta yang terdiri atas para pedagang, dan dipandang
sebagai lapisan ketiga. Sedangkan sudra merupakan kasta yang terdiri
atas orangorang biasa (rakyat jelata). Di samping itu terdapat
orangorang yang tidak berkasta atau tidak termasuk ke dalam varna.
Mereka itu adalah golongan paria.uraian di atas dapat diidentifikasikan
bahwa ciri-ciri kasta adalah sebagai berikut.

 Keanggotaan berdasarkan kewarisan atau kelahiran. Dalam


kasta, kualitas seseorang tidak menjadi sebuah perhitungan
 Keanggotaan berlangsung seumur hidup, kecuali jika
dikeluarkan dari kastanya.
 Perkawinan bersifat endogen dan harus dipilih orang yang
sekasta. Seorang laki-laki dapat menikah dengan perempuan
yang kastanya lebih rendah, tetapi tidak dapat menikah dengan
perempuan yang memiliki kasta lebih tinggi.
 Hubungan antarkasta dengan kelompok sosial lainnya sangat
terbatas.
 Kesadaran keanggotaan suatu kasta tampak nyata antara lain
pada nama kasta, identifikasi anggota pada kastanya, dan
penyesuaian yang ketat terhadap norma kasta.
 Terikat oleh kedudukan-kedudukan yang secara tradisional
ditetapkan. Artinya kasta yang lebih rendah kurang
mendapatkan akses dalam bidang pendidikan dan
27

kesejahteraan, apalagi menduduki jabatan penting dalam


pemerintahan.
 Prestise suatu kasta benar-benar diperhatikan.
 Kasta yang lebih rendah merupakan bagian dari kasta yang
lebih tinggi, sehingga dalam kesehariannya dapat dikendalikan
secara terus-menerus.
3) Stratifikasi Sosial pada Masyarakat Rasial

Masyarakat rasial adalah masyarakat yang mengenal perbedaan


warna kulit. Sistem stratifikasi ini pernah terjadi di Afrika Selatan, di
mana ras kulit putih lebih unggul jika dibandingkan dengan ras kulit
hitam. Perbedaan warna kulit di Afrika Selatan pada waktu itu
memengaruhi berbagai bidang kehidupan yang kemudian disebut
dengan politik apartheid. Dalam politik apartheid, seluruh aspek
kehidupan, termasuk kesehatan, pendidikan, perumahan, bahkan
pekerjaan ditentukan apakah orang itu termasuk kulit putih ataukah
kulit hitam. Untuk mempertahankan dominasi kekuasaan ekonomi dan
politik, ras kulit putih mengembangkan teori rasisme disertai dengan
tindakan di luar perikemanusiaan.
c. Stratifikasi Sosial Berdasarkan Kriteria Politik

Stratifikasi sosial berdasarkan kriteria politik berhubungan dengan


kekuasaan yang dimiliki oleh anggota masyarakat, di mana ada pihak yang
dikuasai, dan ada pihak yang menguasai. Bentuk-bentuk kekuasaan pada
masyarakat tertentu di dunia ini beraneka ragam dengan polanya masing-
masing.

Bentuk dan sistem kekuasaan selalu menyesuaikan diri dengan adat


istiadat dan pola perilaku yang berlaku pada masyarakat. Batas yang tegas
antara yang berkuasa dengan yang dikuasai selalu ada, dan batas-batas
itulah yang menyebabkan lahirnya stratifikasi atau pelapisan dalam
masyarakat.
28

Mac Iver dalam bukunya yang berjudul "The Web of Government"


menyebutkan ada tiga pola umum system lapisan kekuasaan atau piramida
kekuasaan yaitu:

1) Tipe Kasta

Tipe kasta adalah tipe atau sistem lapisan kekuasaan dengan garis
pemisahan yang tegas dan kaku. Tipe semacam ini biasanya dijumpai
pada masyarakat berkasta yang hampir tidak terjadi mobilitas sosial
vertikal. Garis pemisah antara masing-masing lapisan hampir tidak
mungkin ditembus.

Puncak piramida diduduki oleh penguasa tertinggi, misalnya


maharaja, raja, dan sebagainya, dengan lingkungan yang didukung
oleh kaum bangsawan, tentara, dan para ahli agama. Lapisan
berikutnya berturut-turut adalah para tukang, pelayan, petani, buruh
tani, dan budak.

2) Tipe Oligarkis

Tipe ini memiliki garis pemisah yang tegas, tetapi dasar


pembedaan kelas-kelas sosial ditentukan oleh kebudayaan masyarakat
tersebut. Tipe ini hampir sama dengan tipe kasta, namun individu
masih diberi kesempatan untuk naik lapisan. Di setiap lapisan juga
dapat dijumpai lapisan yang lebih khusus lagi, sedangkan perbedaan
antara satu lapisan dengan dengan lapisan lainnya tidak begitu
mencolok. Lapisan atas terdiri dari raja, pegawai tinggi, pengusaha,
pengacara. Lapisan kedua terdiri dari tukang, petani dan pedagang.
Lapisan ketiga terdiri dari buruh tani dan budak.

3) Tipe Demokratis

Adalah tipe kekuasaan yang menunjukkan kenyataan akan aanya


garis pemisah antara laipsan yang bersifat fleksibel. Kedudukan
seseorang ditentukan oleh kemampuan dan kadang faktor
keberuntungan. Lapisan atas terdiri dari pemimpin parpol, pimpinan
29

organisasi besar, orang-orang kaya. Lapisan menengah terdiri dari


pejabat administrasi, kelas atas dasar keahlian, petani dan pedagang.
Lapisan terakhir terdiri dari pekerja-pekerja dan petani rendahan.
BAB III

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Setiap individu memiiki perbedaan baik dilihat dari fisik, biologisnya,


maupun mental psikologisnya serta masing-masing individu sudah membawa
potensi masing-masing yang dapat dikembangkan dikemudian hari. Potensi
dan kepribadian seorang individu dipengaruhi oleh keluarga dan lingkungan.
Tiga unsur penting dari kepribadian yaitu : (1) merupakan kesatuan jiwa dan
raga manusia yang tak dapat dipisahkan, (2) melahirkan pola prilaku yang
khas antara manusia yang satu dengan yang lain, (3) dalam rangka
menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Disamping manusia sebagai makhluk individu ia juga merupakan makhluk


sosial, yang membutuhkan orang lain dalam memnuhi kebutuhan hidupnya.
Oleh karena itu, manusai harus bergaul dengan manusia lain dan
bermasyarakat.

B. Saran

Sebagai makhluk individu kita harus mampu mengembangkan potensi


yang ada dalam diri kita dengan seoptimal mungkin dan sebagai makhluk
sosial kita harus hidup bermasyarakat untuk memnuhi kebutuhan hidup yang
kompleks karena manusia tidak mampu memnuhi kebutuhannya tanpa
bantuan orang lain.

30
DAFTAR PUSTAKA

Hadi AP, 2003. Penelitian Revitalisasi dan Pemberdayaan Kelembagaan


Masyarakat Perdesaan dalam Kerangka Pembangunan Desa Partisipatif
Berkelanjutan. Universitas Mataran

Kartadinata Sunaryo, 2012. Bahan Ajar Ilmu Pengetahuan Sosial SD/MI.


Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia

Kato Lina. “Pengertian dan Contoh Stratifikasi Sosial Menurut Para Ahi” .

3 Oktober 2016. [ Online ] Diakses dari: http://www.ilmupsikologi.com/2015/10/


pengertian-dan-contoh-stratifikasi-sosial-menurut-para-ahli.html?m=1

Sapriya, dkk. 2013. Konsep Dasar Pendidikan Kewarganegaraan. Bandung:


Laboraturium PKn UPI.

Sapriya, dkk. Konsep Dasar IPS. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Susanto Bob. “ Tipe-Tipe Lembaga Sosial Terlengkap”. 3 Oktober 2016. [Online]


Diakses dari : http://www.seputarpengetahuan.com/2014/10/tipe-tipe-lembaga-
sosial-terlengkap.html

Tillar, R dan Sardin P. 1970. Individu dan Masyarakat. Jakarta: Depdikbud

Van Apeldoorn. 1980. Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta: Pradya Paramita

Veldus, Ruud. 1998. The Art of Teaching Democracy: the Theory. Journal

Winarno. 2009. Padigma Baru Pendidikan Kewarganegaraan . Jakarta: PT Bumi


Aksara

Zaka. “Lembaga Sosial, Pengertian, Ciri-ciri, Fungsi, Macam-macam”. 3 Oktober


2016. [Online] Diakses dari : http://www.artikelsiana.com/2015/06/lembaga-
sosial-pengertian-ciri-fungsi-macam-macam.html?m=1