Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PENDAHULUAN

PNEUMONIA PADA ANAK

A. Definisi
Pneumonia merupakan peradangan pada parenzhim paru yang
disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus. Penyakit ini umum
terjadi pada bayi dan anak, walaupun dapat juga terjadi pada semua
usia dan pneumonia merupakan penyakit infeksi yang
menyebabkan peradangan akut parenkim paru-paru dan pemadatan
eksudat pada jaringan paru. Pneumonia pada anak balita paling
sering disebabkan oleh virus pernapasan dan puncaknya terjadi
pada umur 2-3 tahun, sedangkan pada anak umur sekolah paling
sering disebabkan oleh bakteri Mycoplasma Pneumoniae. Pada
bayi dan anak-anak penyebab yang paling sering adalah : Virus
sinsisial pernapasan, adenovirus, virus parainfluenza, dan virus
influenza (Poetry 2008).
B. Patofisiologi
Pneumonia adalah hasil dari proliferasi patogen mikrobial di
alveolar dan respons tubuh terhadap patogen tersebut. Banyak cara
mikroorganisme memasuki saluran pernapasan bawah. Salah satunya
adalah melalui aspirasi orofaring. Aspirasi dapat terjadi pada kaum geriatri
saat tidur atau pada pasien dengan penurunan kesadaran. Melalui droplet
yang teraspirasi banyak patogen masuk. Pneumonia sangat jarang tersebar
secara hematogen.
Faktor mekanis host seperti rambut nares, turbinasi dan arsitektur
trakeobronkial yang bercabang cabang mencegah mikroorganisme dengan
mudah memasuki saluran pernapasan. Faktor lain yang berperan adalah
refleks batuk dan refleks tersedak yang mencegah aspirasi. Flora normal
jugamencegah adhesi mikroorganisme di orofaring. Saat mikroorganisme
akhirnya berhasil masuk ke alveolus, tubuh masih memiliki makrofag
alveolar. Pneumonia akan muncul saat kemampuan makrofag membunuh
mikroorganisme lebih rendah dari kemampuan mikroorganisme bertahan
hidup. Makrofag lalu akan menginisiasi repons inflamasi host. Pada saat
ini lah manifestasi klinis pneumonia akan muncul.
Respons inflamasi tubuh akan memicu penglepasan mediator
inflamasi seperti IL (interleukin) 1 dan TNF ( Tumor Necrosis Factor)
yang akan menghasilkan demam. Neutrofil akan bermigrasi ke paru paru
dan menyebabkan leukositosis perifer sehingga meningkatkaan sekresi
purulen. Mediator inflamasi dan neutrofil akan menyebabkan kebocoran
kapiler alveolar lokal. Bahkan eritrosit dapat keluar akibat kebocoran ini
dan menyebabkan hemoptisis. Kebocoran kapiler ini menyebabkan
penampakan infiltrat pada hasil radiografi dan rales pada auskultasi serta
hipoxemia akibat terisinya alveolar.
Pada keadaan tertentu bakteri patogen dapat menganggu
vasokonstriksi hipoksik yang biasanya muncul pada alveoli yang terisi
cairan hal ini akan menyebabkan hipoksemia berat. Jika proses ini
memberat dan menyebabkan perubahan mekanisme paru dan volume paru
dan shunting aliran darah sehingga berujung pada kematian.
C. Pathway

D. Pengkajian
1. Wawancara
a. Biodata / Identitas
Biodata mencakup nama, umur, jenis kelamin. Biodata ibu perlu
ditanyakan untuk mengetahui status sosial anak meliputi nama,
umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, penghasilan,
dan alamat.
b. Keluhan utama yang sering menjadi alasan klien dengan
pneumonia untuk meminta pertolongan kesehatan adalah sesak
napas, batuk, dan peningkatan suhu tubuh/demam.
c. Riwayat penyakit saat ini
Pengkajian ini dilakukan untuk mendukung keluhan utama.
Apabila keluhan utama adalah batuk, maka perawat harus
menanyakan sudah berapa lama, lama keluhan batuk muncul,
pada klien pneumonia. Keluhan batuk biasanya timbul mendadak
dan tidak berkurang setelah minum obat batuk yang biasa ada di
pasaran. Pada awalnya keluhan batuk nonproduktif, tapi
selanjutnya akan berkembang menjadi batuk produktif dengan
mukus purulen kekuningan, kehijauan, kecoklatan, atau
kemerahan dan sering kali berbau busuk. Klien biasanya
mengeluh mengalami demam tinggi dan menggigil serta sesak
napas, peningkatan frekuensi pernapasan, dan lemas.
d. Riwayat Penyakit dahulu
Penyakit diarahkan pada waktu sebelumnya, apakah klien pernah
mengalami infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dengan gejala
seperti luka tenggorokan, kongesti nasal, bersin, dan demam
ringan.
2. Pemeriksaan Fisik
a. Status penampilan kesehatan : lemah
b. Tingkat kesadaran kesehatan : kesadaran normal, letargi,
strupor, koma, apatis tergantung tingkat penyebaran penyakit.
c. Tanda-tanda Vital
1) Frekuensi nadi dan tekanan darah : takikardi, hipertensi
2) Frekuensi pernapasan: Takipnea, dispnea progresif,
pernafasan dangkal, penggunaan otot bantu pernafasan,
pelebaran nasal.
3) Suhu Tubu: hipertermi akibat penyebaran toksik
mikroorganisme yang direspon oleh hipotalamus.
d. Berat badan dan Tinggi badan
Kecenderungan berat badan anak mengalami penurunan
e. Integumen kulit
Warna : pucat sampai sianosis
Suhu : pada hipertermi kulit terbakar panas akan tetapi
setelah hipertermi teratasi kulit anak akan teraba dingin.
Turgor : menurun pada dehidrasi
Data yang paling menonjol pada pemeriksaan fisik adalah pada
thorax dan paru-paru:
a. Inspeksi
Frekuensi irama, kedalaman dan upaya bernapas antara
lain : takipnea, dispnea progresif, pernapasan dangkal
b. Palpasi
Adanya nyeri tekan, peningkatan fokal fremitus pada daerah yang
terkena
c. Perkusi
Pekak terjadi bila terisi cairan pada paru, normalnya timpani
(terisi udara) resonasi.
d. Auskultasi
Suara bronkoveskuler atau bronkhial pada daerah yang terkena.
Suara napas tambahan ronkhi pada sepertiga akhir inspirasi
(Riyadi & Sukarmin 2009).
3. Pemeriksaan Diagnostik
Menurut (Misnadiarly, 2008) pemeriksaan diagnostik yang dapat
dilakukan adalah :
a. Sinar X
Mengidenfikasi distribusi struktural (misal : lobar, bronchial),
dapat juga menyatakan abses luas/infiltrate, empiema
(stapilococcus); infiltrasi menyebar atau terlokalisasi (bacterial);
atau penyebaran/perluasan infiltrate nodul (lebih sering virus).
Pada pneumonia mikoplasma sinar X dada mungkin lebih bersih.
b. GDA
Tidak normal mungkin terjadi, tergantung pada luas paru yang
terlibat dan penyakit paru yang ada.
c. Jumlah Darah Leukosit
Leukositosis Biasanya ditemukan, meskipun sel darah putih
rendah terjadi pada infeksi virus, kondisi tekanan imun.
d. LED meningkat
e. Elektrolit
Na dan CI mungkin rendah
f. Aspirasi / biopsi jaringan paru
g. Dapat menyatakan intranuklear tipikal dan keterlibatan itoplasmik
(CMV), karakteristik sel raksasa (rubella).
E. Analisa Data
Data Etiologi Diagnosa
Data Subjektif Masuknya Ketidakefektifan pola
 Ibu klen mikroorganisme nafas
mengatakan ↓
anak kesulitan
bernafas mengisi alveoli
Data Objektif: ↓
 klien tampak Reaksi radang pada
menggunakan
otot bantu saluran pernafasan &
pernafasan paremkim paru
 tampak
menggunakan ↓
pernafasan compliance paru
cuping hidung
 takipnea menurun

hiperventilasi
DS : Masuknya Ketidakefektifan
 ibu klien mikroorganisme bersihan jalan nafas
mengatakan ↓
anak batuk mengisi alveoli
berdahak ↓
 ibu mengatakan Reaksi radang pada
anak kesulitan saluran pernafasan &
untuk batuk paremkim paru
DO : ↓
 suara nafas Akumulasi sputum di
bronkovesikuler jalan nafas
 perkusi pekak ↓

 auskultasi Mukus berlebih

terdengan ronki
 takipnea
DS: Masuknya Hipertermia
 ibu mikroorganisme
mengatakan
anak demam ↓
DO: mengisi alveoli
 kulit ↓
tampakkemera
han Reaksi radang pada
 kulit terasa saluran pernafasan &
hangat paremkim paru
 takipnea
 takikardi ↓
Stimulasi hipotalamus

Respon menggigil

Reaksi peningkatan suhu
tubuh
F. Diagnosa Keperawatan
Menurut (Riyadi & Suharsono 2010) diagnosa keperawatan yang muncul
pada anak pneumonia yaitu sebagai berikut :
1. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan hiperventilasi.
2. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan mukus
berlebih.
3. Hipertermi berhubungan dengan penyakit.
G. Intervensi Keperawatan

NO DIAGNOSA NOC NIC


KEPERAWATAN
1. Pola napas tidak Status Managemen jalan
efektif pernapasan: nafas
berhubungan ventilasi - Buka jalan nafas,
dengan  Kedalaman guanakan teknik
hiperventilasi. pernapasan chin lift atau jaw
sedang (skala thrust bila perlu
3) dalam - Posisikan pasien
waktu 3x24 untuk
jam memaksimalkan
 penggunaan ventilasi
otot bantu - Identifikasi
pernapasan pasien perlunya
sedang (skala pemasangan alat
3) dalam jalan nafas buatan
waktu 3x24 - Auskultasi suara
jam nafas, catat
 retraksi adanya suara
dinding dada tambahan
sedang (skala - Berikan
3) dalam bronkodilator bila
waktu 3x24 perlu
jam - Monitor respirasi
Tanda-tanda dan status O2
vital
 Frekuensi Monitor pernafasan
pernapasan - Monitor
dalam batas kecepatan,
normal (skala irama,kedalaman
5) dalam dan kesulitan
waktu 3x24 bernafas, catat
jam pergerakan dada,
kessimetrisan,
penggunaan otot
bantu pernafasan,
retraksi dinding
dada
- Monitor suara
nafas tambahan

2. Bersihan jalan status Managemen jalan


napas tidak efektif pernapasan: nafas
berhubungan kepatenan jalan - Buka jalan nafas,
dengan mukus napas guanakan teknik
berlebih.  Frekuensi chin lift atau jaw
pernapasan thrust bila perlu
dalam batas - Posisikan pasien
sedang (skala untuk
3) dalam memaksimalkan
waktu 3x24 ventilasi
jam - Identifikasi
 Irama pasien perlunya
pernapasan pemasangan alat
sedang (skala jalan nafas buatan
3) dalam - Lakukan
waktu 3x24 fisioterapi dada
jam - Keluarkan sekret
 Kedalaman dengan batuk atau
inspirasi suction
sedang (skala - Auskultasi suara
3) dalam nafas, catat
waktu 3x24 adanya suara
jam tambahan
 Klien mampu - Berikan
mengeluarkan bronkodilator bila
sputum secara perlu
efektif (skala - Monitor respirasi
3) dalam dan status O2
waktu 1x24 Pencegahan
jam aspirasi
 akumulasi - Monitor tingkat
sputum cukup kesadaran,
(skala 3) refleks batuk,
dalam waktu kemampuan
2x24 jam menelan
pencegahan - Pertahankan
aspirasi kepatenan jalan
 Secara nafas
konsisten - Jaga kepala
mempertahank tempat tidur
an kebersihan ditinggikan 30-45
mulut (skala menit setelah
5) dalam makan
waktu 1x24 - Beri makan
jam dalam jumlah
 Secara sedikit
konsisten
mempertahank
an posisi
duduk tegak
ketika makan
(skala 5)
dalam waktu
1x24 jam

3. Hipertermia termoregulasi Perawatan


berhubungan a. Penurunan suhu hipertermi
dengan penyakit kulit (skala 5) - monitor tanda
dalam waktu tanda vital
2x24 jam - hentikan aktivitas
b. Melaporkan fisik
kenyamanan - longgarkan atau
suhu (skala 5) lepaskan pakaian
dalam waktu pengaturan suhu
2x24 jam - berikan kompres
c. Denyut nadi hangat
tidak terganggu - sesuaikan suhu
(skala 5) dalam lingkungan untuk
waktu 2x24 jam kebutuhan pasien
- berikan medikasi
antipiretik