Anda di halaman 1dari 3

Hasil Observasi

Hari : Senin

Tanggal : 25 Februari 2019

Tempat : Pengadilan Negeri Surabaya

Jenis Perkara : Pidana Biasa

Nomor Perkara : 3633/Pid.B/2018/PNSby

Agenda Sidang : Pemeriksaan Saksi dan Pemeriksaan Terdakwa

Penuntut Umum : Samsu J. Efendi Banu, SH

Terdakwa : Maria Leda Tondu

Keadaan dalam persidangan

- Ruang sidang tidak kondusif dikarenakan tempat sudah full namun pihak Kejaksaan
terus menerus memasukkan terdakwa yang akan di sidang, sehingga pengunjung tidak
kebagian tempat dan terpaksa berdiri
- Hakim Anggota ada yang tertidur
- Pergantian Hakim seenaknya tidak sesuai dengan prosedur yang ada
- Pakaian Penuntut Umum kurang rapi
- Tidak adanya keadaan formal dalam persidangan

Kaspos

Terdakwa Maria Lenda Tondu menjalin hubungan dengan kekasihnya saat masih berada
dikampungnya di Kab. Sumba Barat- NTT yang menyebabkan terdakwa hamil sehingga
kemudian terdakwa meninggalkan kampungnya menuju Surabaya untuk mencari pekerjaan,
terdakwa diterima bekerja di rumah saksi Joe A. Moy sebagai pembantu rumah tangga dan
oleh karena pekerjaan itu, terdakwa tinggal di rumah majikannya di Jl. Kejawen Putih
Mutiara VIII Blok C-2 No.212 Surabaya, walaupun terdakwa tinggal serumah dengan
majikannya namun terdakwa tetap merahasiakan kehamilannya dan majikannya pun tidak
merasa bahwa terdakwa sedang hamil karena keadaan fisiknya tidak seperti orang hamil dan
tanpa keluhan. Namun ternyata ada beberapa petugas kebersihan di lingkungan tempat
terdakwa tinggal mengetahui bahwa terdakwa hamil karena sering melihat terdakwa ketika
membuang sampah dan mengetahui jika perutnya membesar layaknya orang hamil.

Pada hari Selasa, tanggal 16 Oktober 2018, sekitar pukul 02:00 WIB, terdakwa merasakan
kontraksi pada perutnya karena ternyata sudah waktunya untuk melahirkan dan terdakwa
berniat untuk merahasiakan kelahiran anaknya dari majikannya, lalu terdakwa menyiapkan 1
buah tas plastik ukuran besar warna hitam dengan maksud apabila anak itu nantinya lahir
maka akan dibunuh dan disembunyikan dalam tas plastic itu untuk dibuang. Pada pukul 03:00
WIB, anak dalam rahim terdakwa terus mendesak untuk keluar sehingga terdakwa kemudian
menuju ke kamar mandi belakang yang biasa digunakannya dan disana terdakwa melahirkan
seorang bayi berjenis kelamin perempuan. Ketika bayi tersebut keluar, terdakwa langsung
menariknya keluar sehingga tali plasenta putus yang menyebabkan bayi tersebut sempat
berteriak kemudian dengan menggunakan tangannya, terdakwa langsun menutup hidun dan
mulut bayi selama kurang lebih 10 menit sehingga bayi tersebut kehabisan napas. Selanjutnya
terdakwa membersihkan tubuh bayi tersebut dan memandikannya lalu membungkusnya
dengan baju kaos warna hitam yang semula dipakainya lalu memasukan bayi dan plasentanya
kedalam tas plastic yang sudah dipersiapkannya lalu terdakwa menyembunyikannya dalam
kamar mandi sambil menunggu hingga pagi hari.

Pada pukul 08:00 terdakwa membawa bungkusan plastik berisi bayi tersebut ke sebuah
tempat sampah yang berada jauh dari tempat tinggal. Saksi Cipto Efendi, petugas pengangkut
sampah yang bertugas mengangkut sampah di lokasi perumahan terdakwa memindahkan
bungkusan plastic tersebut tanda adanya rasa curiga, namun ketika siang hari saat saksi
hendak untuk memilah-milah sampah yang telah diangkutnya untuk dibuang ke TPA, saksi
melihat kejanggalan dalam sebuah bungkusan plastic hitam dan setelah dibuka ternyata isinya
adalah mayat seorang bayi beserta plasentanya sehingga saksi melaporkan kejadian tersebut
kepada pimpinannya lalu diteruskan ke pihak kepolisian. Atas dasar laporan tersebut, polisi
kemudian melakukan penyelidikan disekitar tempat sampah dimana bungkusan tas plastic
ditemukan dan atas informasi dari saksi Umamah dan saksi Alifah petugas kebersihan yang
sering melihat terdakwa membuang sampah. Dari kedua saksi tersebut menerangkan bahwa
mereka pernah melihat perut terdakwa sempat membesar dan sekarang sudah berubah, polisi
kemudian menangkap terdakwa, setelah di introgasi terdakwa mengakui bahwa jenasah bayi
yang ditemukan di tempat sampah tersebut adalah anaknya yang terdakwa bunuh sesaat
setelah dilahirkan karena terdakwa malu dan juga takut karena hamil diluar nikah.

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 341 KUHP
“Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak pada saat anak dilahirkan
atau tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas nyawa anaknya, diancam karena
membunuh anak sendiri, dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.”

Hasil Visum

Diterangkan dalan Surat Visum et Repertum Jenasah dari Rumah sakit Umum Daerah Dr.
Soetomo Surabaya bahwa :

1. Ditemukan Jenasah perempuan, baby X berat badan 2 kg, panjang badan 50 cm,
warna kulit kehitaman, status gizi cukup;
2. Pada pemeriksaan ditemukan :
 Jenasah dalam keadaan membusuk
 Tidak ada tanda-tanda perawatan
 Adanya inti penulangan pada ujung tulang paha yang menunjukan bayi dapat hidup
diluar kandungan tanpa bantua alat khusus
 Paru mengembang dan mengisi rongga dada yang menunjukan bayi pernah bernafas
 Tidak ada kelainan bawaan yang menyebabkan kematian bayi.
Barang Bukti

1. 1 (satu) potong kaos warna hitam.


2. 1 (satu) buat tas plastic warna hitam.

Keterangan saksi

2 orang dari pihak Kepolisian memberikan keterangan sebagai berikut:

- Ada penemuan mayat bayi di tempat sampah, sekitar jam 10/11 tanggal 17 Oktober
2018
- Keadaan bayi berbau busuk yang ditemukan pertama kali oleh tukang pengepul
sampah, lalu dilaporkan kepada pihak kepolisiaan. Adanya laporan tersebut kedua
polisi langsung menuju ke TKP
- Terdakwa ditemukan dengan adanya keterangan dari tukang bersih-bersih di area
perumahan tersebut, ia melihat bahwa Maria sedang hamil namun tidak lama
kemudian perutnya kemps, dilihat dari cara jalannya seperti orang habis melahirkan
- Pihak kepolisian juga mendapat keterangan dari pak RT bahwa tidak ada lagi warga
yang hamil selain terdakwa, info yang didapat pak RT berdasarkan keterangan dari
masyarakat setempat
- Berdasarkan keterangan yang sudah didapat, polisi mendatangi kediaman terdakwa
ternyata terdakwa tinggal bersama dengan majikannya. Terdakwa adalah seorang
pembantu rumah tangga
- Polisi menanyakan bagaimana keadaan terdakwa kepada majikannya, namun ternyata
majikannya tidak mengetahui jika terdakwa sedang hamil.
- Pihak kepolisian kemudian mengintrogasi terdakwa, pada awalnya terdakwa tidak
mau mengaku namun polisi mencoba mengonfirmasi terkait keadaan fisik terdakwa
saat ditemui terlihat sedang tidak sehat akhirnya seketika terdakwa langsung
mengakui bahwa ia habis melahirkan. Terdakwa melahirkan dikamar mandi, bayi
yang dilahirkan berjenis kelamin perempuan pada tanggal 16 Oktober 2018.

Keterangan Terdakwa

- Saat ditanya oleh Hakim terdakwa hamil bulan apa, namuk terdakwa menjawab
bahwa ia tidak ingat.
- Terdakwa sudah mempunyai pacar yang sekarang pacarnya ada di Sumba, namun
pacarnya tidak mengetahui jika Maria hamil.
- Usia hamil sekitar 5 bulanan, jadi belum waktunya untuk melahirkan.
- Pekerjaan terdakwa adalah pembantu rumah tangga, kerja di rumah majikan sekitar 3-
4 bulan.
- Setengah 3 pagi terdakwa merasakan kontraksi, sekitar jam 3 ia melahirkan.
- Terdakwa memberi pengakuan bahwa saat dilahirkan bayi sudah dalam keadaan tidak
bernapas atau dalam keadaan meninggal.
- Maria memberikan keterangan bahwa ia tidak tahu jika hamil.