Anda di halaman 1dari 19

BAB III

TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian
Tanggal pengkajian: 19 November 2019
Ruang rawat: Antareja
Tanggal dirawat: 13 November 2019
NO.RM: 06-03-42
Diagnosa medis: Schizofrenia Paranoid
I. IDENTITAS
Nama : Ny.N
Umur : 26 tahun
Status perkawinan: Menikah
Agama : islam
Status perkawinan : Menikah
Suku bangsa : Sunda
Pendidikan : SMP
Alamat : Jl. Cimpaeun RT 01/08. Depok
S.Informasi : Klien, Keluarga, RM

II. ALASAN MASUK


Marah – marah, Curiga
III. FAKTOR PREDISPOSISI
- Klien pernah mengalami gangguan jiwa 4x (2005, 2012, 2017,
2019)
- Pengobatan sebelumnya belum berhasil penuh
- Klien tidak pernah mengalami aniaya fisik, aniaya seksual,
penolakan, kekerasan dalam rumah tangga, tindakan kriminal
masalah keperawatan : Halusinasi
Resiko perilaku kekerasan
Isolasi Sosial
IV. PEMERIKSAAN FISIK
TD : 110/80 mmHg , N : 78x/menit , S : 36,50C , P : 18x/ menit.
Ukuran tubuh TB : 152 cm BB : 53,5 kg
Klien mengatakan tidak ada keluhan fisik
Masalah keperawatannya : tidak di temukan masalah keperawatan
V. PSIKOSOSIAL
1. GENOGRAM
K

Keterangan :
: Wanita
: Pria
: Wanita sudah meninggal
: Pria sudah meninggal
: Klien
: Tinggal serumah

Klien anak pertama dari empat bersaudara, sebelum ibu dan ayahnya
meninggal klien tinggal bersama ayah dan ibu dan ketiga adiknya.
Pola asuh dalam keluarga klien selalu disayang, komunikasi terbuka,
pengambilan keputusan di keluarga yaitu ayahnya. Setelah orang tua
klien meninggal diambil alih oleh bibinya dari pihak ayahnya. Pola
asuh bibi klien tidak mau mengurus klien, lalu klien ditempatkan di
pesantren.
Masalah keperawatan: koping keluarga in efektif
2. KONSEP DIRI
a. Gambaran diri: Klien menganggap dirinya sempurna, dan lebih
dari yang lain
b. Identitas: Klien mengatakan bahwa dirinya seorang perempuan
c. Peran: klien mengatakan sebagai ibu rumah tangga tidak
mampu menjalankan tugasnya sebagai ibu rumah tangga
d. Ideal diri: Klien mengatakan ingin cepat sembuh dan segera
bertemu dengan suami dan anaknya .
e. Harga diri: Klien mengatakan merasa lingkungan sekelilingnya
iri dengan dia
Masalah keperawatannya : Harga Diri Rendah
3. HUBUNGAN SOSIAL
a. Orang yang berarti Klien mengatakan keluarga
b. Peran serta dalam kegiatan kelompok klien mengatakan
tidak mempunyai kegiatan kelompok sosial
c. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain klien
mengatakan lebih senang sendiri, dan berbicara dengan orang
tertentu, dan hanya seperlunya
Masalah keperawatan : isolasi sosial
4. SPIRITUAL
a. Nilai dan keyakinana yang dianut Klien mengatakan
keyakianan yang di anutnya islam
b. Kegiatan ibadah Klien mengatakan ia sedang tidak sholat
karena PMS
Tidak di temukan masalah keperawatan

VI. STATUS MENTAL


1. PENAMPILAN
Penampilan klien rapih , rambut di sisir , tidak ada tercium bau , kuku
klien bersih dan pendek, sering mandi, dan ia tidak suka berdandan
Masalah keperawatan : tidak ada

2. PEMBICARAAN
Pembicaraan klien Inkoheren
Masalah keperawatan : RPK, Halusinasi

3. AKTIVITAS MOTORIK

Aktivitas motorik klien gelisah , mondar mandir curiga saat suster


mengobrol dengan keluarga klien , tertawa sendiri

Masalah keperawatannya : RPK, halusinasi

4. ALAM PERASAAN
Klien tampak tidak mengakui halusinasinya, tampak curiga
Masalah keperawatan: RPK, Halusinasi

5. AFEK
Afek labil
Masalah keperawatannya : RPK

6. INTERAKSI SELAMA WAWANCARA

Pada saat interaksi selama wawancara klien tampak kooperatif, tetapi


omongan klien inkoheren.
Masalah keperawatan halusinasi

7. PERSEPSI
Klien tampak diam dan tertawa sendiri tetapi mukanya ditutup
Masalah keperawatan : halusinasi pendengaran

8. PROSES PIKIR

Pada saat interaksi , klien terkadang tidak focus dan tidak tatap mata

Tidak di temukannya masalah keperawatan

9. ISI PIKIR
Pada saat ineraksi , ditemukan adanya waham
Masalah keperawatan: waham curiga

10. TINGKAT KESADARAN


Klien mengalami Disorientasi, sudah tidak mengenal diri sendiri
Masalah keperawatan: Waham
11. MEMORI

Gangguan daya ingat jangka panjang

Masalah keperawatan: depersonalisasi

TINGKAT KONSENTRASI DAN BERHITUNG

Tingkat konsentrasi dan berhitung klien baik di buktikan pada saat


dalam pertanyaan hitung-hitungan klien mampu menjawab dengan
benar .

Masalah keperawatan tidak di temukan

13 KEMAMPUAN PENILAIAN

Klien mampu melakukan penilaian sederhana pada saat di berikan 2


pilihan : makan terlebih dahulu atau mandi terlebih dahulu , klien
menjawab mandi terlebih dahulu baru makan

Masalah keperewatan tidak di temukan masalah


14. DAYA TILIK DIRI

Klien mengatakan masuk RS hanya sedang bosan dan sedang bermain


saja

Masalah keperawatan: Halusinasi

VII. KEBUTUHAN PERSIAPAN PULANG


1. Makan
Klien makan sehari 3x/hari , klien makan di meja makan , selalu
cuci tangan sebelum dan sesudah makan, cara makan klien rapih
Masalah keperawatan : tidak ada
2. BAB / BAK
Klien BAB/BAK di toitet dan tanpa bantuan dan mencuci tangan
setelah toileting
Masalah keperawatannya tidak ada .
3. Mandi
Klien mandi 3x/hari dengan menggunakan sabun , sampo dan
pasta gigi , dan dilakukan secara mandiri
Tidak di temukan masalah
4. Berpakian atau berhias
Klien ganti pakaian sehabis mandi dan dilakukan secara mandiri,
klien tidak suka berdandan
Masalah keperawatan: tidak ada

5. Istirahat dan tidur


Klien istirahat tidur siang 2 jam ( 13.00-15.00 ) , klien istirahat
tidur malam 9 jam ( 21.00-04.00 ) , klien tidak ada kegiatan
sebelum dan sesudah tidur
Tidak di temukan masalah
6. Penggunaan obat
Klien tampak minum obat secara teratur.
Tidak ada masalah keperawatan
7. Pemeliharaan kesehatan
Dalam pemeliharaan kesehatan klien membutuhkan perawatan
lanjutan dari RS seperti pemberian obat teratur , dalam perawatan
pendukung klien membutuhkan perawatan dukungan dari keluarga
8. Kegiatan di dalam rumah
Dalam kegiatan di dalam rumah sewaktu sehat klien mampu
menyiapkan makan , mencuci pakaian , menjaga kerapihan rumah
tetapi sewaktu sakit klien tidak mampu mempersiap kan makanan ,
menjaga kerapiharan rumah .
9. Kegiatan di luar rumah
Dalam kegiatan di luar rumah sewaktu sehat klien bekerja di
pabrik.
Tidak ada maslah keperwatan
VIII. MEKANISME KOPING
Mal.adaptif: klien berinteraksi seperlunya dan tidak tau nama teman
sekamar dan lebih suka sendiri
Masalah keperawatan : Isolasi social
IX. MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN
- Klien mengatakan lingkungan dia iri dengan dia karena dia
lebih dari orang sekitar
- Keluarga klien mengatakan klien bekerja di pabrik, tetapi
semenjak terkena penyakit jiwa klien lebih suka dikamar
menyendiri dengan lampu mati, lingkungan dan keluarga klien
peduli
X. PENGETAHUAN KURANG TENTANG :
 Klien kurang penegtahuan tentang penyakit jiwa yang
ia derita .
 Klien kurang pengetahuan tentang penyelesaian
masalah yang ia alami
Masalah keperawatannya kurang pengetahuan tentang penyakit

B. Analisa data

DATA MASALAH
Subjektif :
- Keluarga mengatakan awalnya di guna-guna Gangguan sensori persepsi :
hingga samapi sekarang seperti ini halusinasi
- Keluarga mengatakan halusinasi muncul saat
malam
- Keluarga mengatakan ps sudah dirawat 4x
- Keluarga mengatakan isi halusinasi klien ada
yang bisik-bisik “ada setan”
- Klien mengatakan bahwa ia suka mendengar
suara yang mengajak nyanyi di malam hari
- Klien mengatakan halusinasinya hilang
ketika mengobrol dengan orang lain
Objektif :
- Klien tampak berbicara seperlunya
- Klien tampak menyendiri
- Klien sering mondar – mandir
- Verbal inkoherem
- Ekspresi klien tampak bingung
- Klien tampak bicara sendiri
- Pembicaraan klien spontan
- Klien sudah pernah dirawat sebelumnya
(2005, 2012, 2017, 2019)

Subjectif : Resiko Perilaku Kekerasan


- Klien mengatakan pernah di aniaya oleh
tukang ojek
- Klien mengatakan orang sekitar kadang iri
dengan dirinya
- Klien mengatakan memilih dalam berteman

Objektif :
- Klien tampak selalu waspada
- Klien putus obat 3 minggu sebelum masuk
RS
- Verbal klien inkoheren
- Klien tampak curiga dengan keadaan sekitar
- Klien tampak tidak suka keluarga ngobrol
dengan mahasiswa
- Klien tampak kooperatif saat wawancara
- Klien tampak tenang
- Klien tampak tidak menunjukan perilaku
kekerasan selama di Antareja

Subjektif : Isolasi Sosial


- Klien mengatakan selama di Antareja hanya
mengenal beberapa orang teman
- Klien mengatakan tidak pernah berbicara dengan
teman sekamar keculai diperintah

Objektif :
- Klien mau bercakap – cakap tapi seperlunya
- Klien tampak mau ikut senam
- Perilaku klien diarahkan
- Klien hanya mau berkenalan dengan suster
- Klien tidak mau berkenalan dengan teman
sekamar
- Klien berbicara seperlunya
- Klien tidak berbicara kecuali ada yang mengajak
bicara
- Klien lebih sering menyendiri
- Klien tampak lebih suka tidur
- Klien tampak selalu melamun
- Klien tampak suka mondar - mandir
C. Pohon masalah

Resiko perilaku kekerasan

Gangguan sensori persepsi: halusinasi


pendengaran dan penglihatan

isolasi sosial
(berpakaian) dan
makan

Harga diri rendah

Berduka disfungsional

Koping keluarga in efektif

D. Diagnosa keperawatan
1. Gangguan sensori persepsi: halusinasi pendengaran
2. Resiko perilaku kekerasan
3. Isolasi Sosial
Selasa/19/11/2019 DS: S:
Jam: 11:00 - Klien mengatakan lingkungan - Klien mengatakan
Selasa/19-11-2019 iri dengan dia penyebab ia tidak mau
- Klien mengatakan hanya
Jam : 11.00 WIB berteman dengan orang
orang tertentu jika berteman
lain karena ia merasa
DO:
orang sekitar iri dengan
- Klien hanya suka dikamar
dia
- Klien tampak tidak ingin
- Klien mengatakan sepi
berbaur dengan teman
jika tidak punya teman
sekamarnya
O:
- Klien tampak jarang
- Klien mudah lupa nama
mengobrol dengan teman
teman sekamarnya
sekamar
- Klien tampak
mempraktikan cara
Dx Kep: Isolasi Sosial
berkenalan dengan benar
- Klien dapat menyebutkan
Tindakan:
kerugian dan keuntungan
- Membina hubungan saling
punya teman
percaya kepada klien
- Mengidentifikasi penyebab
A: Isolasi sosial Positif
isos
- Mengidentifikasi
P:
pengetahuan tentang untung
- Anjurkan berkenalan 1x
dan rugi punya/tidak punya
sehari dengan teman
teman
- Memberikan kesempatan sekamar
- Masukan ke dalam jadwal
kepada klien untuk
kegiatan harian klien
berkenalan dengan 1 orang

RTL:
- Evaluasi SP 1 ISOS
- Anjurkan klien berkenalan
dengan 1 orang sesuai dengan
yang dianjurkan
Jum’at, 22/11/2019 DS: - klien mengatakan belum tahu S : -klien mengatakan sudah bisa
Jam : 09.30 WIB manfaat warna obat yang selalu belajar minum obat dengan
diminum prinsip benar obat,benar
- Klien mengatakan selalu pasien,benar waktu, benar
minum obat dosis,benar cara pemberian,benar
DO:- klien tampak kebingungan dokumentasi dan secara teratur
ditanya tentang obat O : - klien tampak kooperatif saat
- Klien tampak diam dikamar diberi penjelasan
dan jarang mengobrol - klien mampu menyebutkan
Dx : gangguan persepsi sensori: warna, nama dan manfaat obat
halusinasi pendengaran
A : halusinasi masih ada
Tindakan keperawatan:
-mengevaluasi jadwal kegiatan P : -anjurkan untuk melakukan
harian klien menghardik jika halusinasi datang
-mengevalusi SP 1 Halusinasi
- melatih klien mengontrol halusinasi
dengan cara minum obat secara
teratur dengan prnsip 6 benar
minum obat
- - menganjurka klien memasukan
kedalam jadwal kegiatan harian

RTL :
- Evaluasi SP 1 dan 2
- Latih SP 3 halusinasi
- Anjurkan untuk memasukan
kedalam jadwal kegiatan
harian
BAB IV
PEMBAHASAN

Pada pembahasan ini, kelompok II akan membahas tentang


kesenjangan antara teori dengan kasus “Asuhan Keperawatan pada Ny. A
dengan gangguan sensori persepsi: Halusinasi Pendengaran di ruang Kresna
Wanita RS Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor”. Dalam melakukan asuhan
keperawatan pada Ny. A dengan perubahan persepsi sensori: Halusinasi
Pendengaran di ruang Kresna Wanita RS Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor,
kelompok kami menerapkan asuhan keperawatan sesuai dengan teori yang
ada, dimulai dengan Pengkajian, Diagnosa Keperawatan, Perencanaan
Keperawatan, Tindakan Keperawatan dan Evaluasi dilaksanakan secara
berkesinambungan.

A. Pengkajian

Pengajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses


keperawatan. Tahap pengkajian terdiri dari faktor predisposisi dan presipitasi
yang dikemukakan oleh Stuart dan Sundeen dengan Halusinasi adalah
meliputi biologis, psikologis, sosial budaya dan genetik. Pada Ny. A
ditemukan faktor predisposisi klien belum pernah mengalami gangguan jiwa
di masa lalu jadi penyakit yang dialami saat ini sangat labil, stimulusnya
sangat kuat, ketika ada yang menyuruh sesuatu dan tidak dia sukai dia akan
melotot dan marah, klien mempunyai keluarga yang mengalami gangguan
jiwa, klien tidak mengalami aniaya fisik, aniaya seksual, penolakan dan
tindakan kriminal tetapi dia mengalami kekerasan dalam keluarga yaitu
dipukuli oleh bibi dan kakeknya sebelum dia menikah.
Faktor prisepitasi sesuai antara teori dan kasus adalah faktor psikologi
dapat dilihat dari adanya stresor saat dia mengalami kekerasan oleh bibi dan
kakeknya. Sedangkan faktor presipitasi yang tidak terdapat dalam kasus dan
ada teori yaitu faktor stress sosial atau budaya, faktor biologis dan faktor
lingkungan.
Berdasarkan data yang diperoleh saat pengkajian pada Ny. A sesuai
dengan kasus yaitu klien mengatakan mendengar suara-suara dari ibunya
mengatakan “Jaga adik-adik mu” suara itu muncul pada saat sedang
sendirian. Suara itu muncul ketika dia dikurung diruang isolasi. Saat suara itu
muncul awalnya klien menangis kemudia mencoba menghardik suara-suara
tersebut.

Pohon masalah yang muncul dalam kasus sesuai teori terjadi pengembangan pohon
masalah yang terjadi diantaranya pohon masalah yang terjadi diantaranya halusinasi
pendengaran klien mengalami Koping Keluarga tidak Efektif disebabkan almarhum
ibunya yang pada tahun 2005 telah meninggalkan dia dan adiknya. Dari koping
keluarga yang tidak efektif menyebabkan Resiko Perilaku Kekerasan disebabkan
oleh bibi dan kakeknya sering memukulinya. Harga diri rendah disebabkan klien
ketika akan dimasukan ke dalam ruang isolasi karena ia tidak suka dan selalu ingin
meninggal saja jika diperlakukan seperti ini terus. Hambatan dengan orang lain klien
selalu menghindar dan gelisah ketika diajak berkomunikasi, namun klien selalu
mengikuti senam dengan gerakannya sendiri tidak mau mengikuti arahan sampai
pada akhirnya klien mengalami Isolasi Sosial yang mengakibatkan gangguan sensori
persepsi. Dari Harga Diri Rendah mengakibatkan Defisit Perawatan Diri ditandai
dengan cara makan yang tidak sesuai dan sering mengganti pakaian. Pola asuh dalam
keluarga klien selalu disayang, komunikasi terbuka, pengambilan keputusan di
keluarga yaitu ayahnya dan setelah orang tua klien meninggal diambil alih oleh
bibinya dari pihak ayahnya. Pola asuh bibi klien tidak mau mengurus klien, lalu klien
ditempatkan di pesantren mengakibatkan Koping Keluarga in Efektif serta
Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan yaitu pada saat ibunya meninggal
dunia tahun 2005 dan ayahnya meninggal pada tahun 2008 . sampai saat ini klien
mengatakan masih sedih mengakibatkan Berduka Disfungsional.

Faktor pendukung adanya sumber informan dari pasien sendiri, status, perawat
dan keluarga. Adanya sedikit perbedaan format antara institusi dan pengkajian
ruangan. Ada faktor penghambat dalam hal interaksi selama wawancara karena klien
selalu gelisah, cemas, mudah bosan dan tidak suka diajak berinterasi terlalu lama.

B. Diagnosa Keperawatan

Pada kasus Ny. A kelompok menentukan lima diagnosa keperawatan


sesuai dengan teori yaitu Gangguan sensori persepsi: Halusinasi Pendengaran,
Isolasi Sosial, Harga Diri Rendah, Defisit Perawatan Diri: Makan dan Berhias,
Resiko Perlaku Kekerasan.
Sesuai dengan teori yaitu Gangguan sensori persepsi: Halusinasi
Pendengaran diagnosa ini di ambil berdasarkan data-data yang menunjang
seperti, klien mengatakan mendengar suara ibunya yang meminta dia untuk
menjaga adiknya, suara itu muncul disaat dia dimasukan diruang isolasi yang
sedang sendirian, disaat suara itu muncul dia akan menangis kemudian
melakukan menghardik dengan suara kencang.
Diagnosa kedua yaitu Resiko Perilaku Kekerasan yang ditandai
dengan klien yang mengamuk jika diberi arahan untuk melakukan yang benar
dan akan teriak-teriak, meronta-ronta, mengatakan kata-kata kasar,
menendang-nendang bahkan menjambak dan melempar barang-barang jika
akan dimasukkan ke dalam ruang isolasi.
Pada diagnosa ketiga yaitu Harga Diri Rendah klien ketika akan
dimasukan ke dalam ruang isolasi karena ia tidak suka dan selalu ingin
meninggal saja jika diperlakukan seperti ini terus. Hambatan dengan orang
lain klien selalu menghindar dan gelisah ketika diajak berkomunikasi.
Pada diagnosa yang keempat yaitu Isolasi Sosial yang ditandai dengan
hambatan dengan orang lain klien selalu menghindar dan gelisah ketika diajak
berkomunikasi, namun klien selalu mengikuti senam dengan gerakannya
sendiri dan tidak mau mengikuti arahan.
Diagnosa yang kelima Defisit Perawatan Diri: cara makan dan
berhias, klien makan teratur tetapi selalu berantakan, makan cepat, tidak mau
berdoa dan terkadang piringnya tidak mau diletakkan ditempat kotor
sedangkan berhias, klien sering mengganti pakaian meskipun belum mandi.

Pada diagnosa keenam Koping Keluarga in Efektif pola asuh dalam


keluarga klien selalu disayang, komunikasi terbuka, pengambilan keputusan
di keluarga yaitu ayahnya dan setelah orang tua klien meninggal diambil alih
oleh bibinya dari pihak ayahnya. Pola asuh bibi klien tidak mau mengurus
klien, lalu klien ditempatkan di pesantren.

Dan diagnosa yang terakhir Berduka Disfungsional pengalaman


masa lalu yang tidak menyenangkan yaitu pada saat ibunya meninggal dunia
tahun 2005 dan ayahnya meninggal pada tahun 2008. Sampai saat ini klien
mengatakan masih sedihs

C. Rencana Keperawatan

Perencanaan meliputi penetuan, tujuan, kriteria evaluasi, intervensi


yang harus disesuaikan dengan kebutuhan serta masalah yang dihadapi klien.
Perencanaan pada Ny. A dengan perubahan sensori persepsi halusinasi
pendengaran dengan mengontrol halusinasi dengan cara menghardik, minum
obat, bercakap-cakap dengan orang lain dan melakukan kegiatan. Pada tahap
ini kelompok menekankan dan memfokuskan pada pemecahan masalah pada
Ny. A dan mengharapkan klien aktif dan ikut bekerjasama sedangkan perawat
membimbing klien untuk tercapainya tujuan keperawatan pada pasien.
Dalam membuat perencanaan keperawatan kelompok mengalami
sedikit hambatan karena kondisi klien yang masih labil dan tidak mau untuk
diajak berinteraksi lama-lama dan petugas ruangan pun turut serta untuk
membantu dengan menggunakan standar yang ada di rumah sakit

D. Implementasi Keperawatan

Pada tahap ini kelompok mengacu pada perencanaan yang telah


dirumuskan sebelumnya dengan memprioritaskan masalah yang ada pada
Ny.A dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi, serta kebutuhan klien pada
saat dilakukan tindakan keperawatan, sebelumnya dilakukan dengan Ny.A
bahwa implementasi mulai pada tanggal 20 Oktober 2015 dimulai dari pukul
07.00-13.00 Wib dilakukan perdiagnosa. Diagnosa satu gangguan sensori
persepsi halusinasi pendengaran. Diagnosa 1 : halusinasi pendengaran
kelompok 4 yaitu yang telah dilakukan yaitu :

SP 1 : Mengajarkan klien untuk mengontrol halusinasinya dengan cara


menghardik

SP 2 : Mengajarkan klien untuk mengontrol halusinasinya dengan cara minum


obat secara teratur

SP 3 : Mengajarkan klien untuk mengontrol halusinasinya dengan cara


bercakap-cakap dengan orang lain

SP 4 : Mengajarkan klien untuk mengontrol halusinasinya dengan cara


melakukan kegiatan yang bisa dilakukan.

E. Evaluasi Keperawatan

Tahap terakhir dalam proses keperawatan adalah evaluasi dimana


merupakan upaya untuk menilai hasil keperawatan yang telah dilakukan
dalam mengatasi masalah klien. Evaluasi dilakukan setiap hari dengan melihat
perubahan perilaku klien sesuai dengan tujuan yang diharapkan dalam
melaksanakan proses keperawatan.
Untuk diagnosa 1 gangguan sensori persepsi : halusinasi pendengaran dan
penglihatan didapatkan hasil SP 1,2,3 dan 4 sebagai berikut :

 SP 1 : Klien dapat mengenal halusinasinya dan mempraktekkan


cara mengontrol halusinasinya dengan menghardik
 SP2 : Klien mampu mengontrol halusinasinya dengan cara
minum obat secara teratur
 SP 3 : Klien mampu mendemonstrasikan cara mengontrol
halusinasi dengan bercakap-cakap dengan orang lain
 SP 4 : Klien mampu mengidentifikasi kegiatan-kegiatan yang
dapat dilakukan jika halusinasi muncul.

BAB V

PENUTUP
Kelompok telah melaksanakan Asuhan Keperawatan pada Ny. A dengan
masalah Gangguan Sensori Persepsi Halusinasi Pendengaran dan Penglihatan pada
tanggal 20 Oktober – 28 Oktober 2015, kelompok mencoba menyimpulkan dan
mengajukan beberapa saran yang mungkin akan bermanfaat untuk peningkatan
Asuhan Keperawatan Jiwa di masa yang akan datang.

A. Kesimpulan
Menurut hasil pengkajian pada Ny. A didapatkan ada sedikit perbedaan
antara teori dan kasus yaitu faktor predisposisi untuk persepsi sensori:
Halusinasi adalah faktor sosial budaya dan kultural dimana keluarga dan
lingkungan pasien sangat menerimanya sejak bayi. Diagnosa keperawatan
yang ditemukan telah sesuai antara teori dan kasus. Perencanaan dilakukan
sesuai dengan standar asuhan keperawatan secara teoritis yang ada menurut
standar asuhan keperawatan secara teoritis menurut standar Asuhan
Keperawatan Jiwa.
Implementasi keperawatan pada klien sesuai dengan rencana asuhan
keperawatan yang telah kelompok lakukan dengan kebutuhan klien. Klien
telah mengimplementasikan lima diagnosa, yaitu diagnosa pertama telah
dilakukan TUK 1 sampai dengan TUK 4, diagnosa kedua telah dilakukan
TUK 1 sampai dengan TUK 4, diagnosa ketiga telah dilakukan TUK 1 sampai
dengan TUK 5, diagnosa keempat TUK 1 sampai dengan TUK 3 dan diagnosa
kelima TUK 1 sampai TUK 4.
Evaluasi keperawatan yang telah kelompok lakukan adalah diagnosa
pertama yaitu dapat membina hubungan saling percaya, mengenal halusinasi,
mengontrol halusinasi dengan cara menghardik, manfaat penggunaan obat
dengan benar, bercakap-cakap dengan orang lain dan melakukan aktivitas
yang dapat dilakukan secara mandiri.
Diagnosa kedua yaitu klien dapat membina hubungan saling percaya,
mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan, tanda dan gejala perilaku
kekerasan, mengidentifikasi perilaku kekerasan yang dilakukan,
mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan, mempraktekan tarik napas dalam
dan memukul bantal, mengontrol perilaku kekerasan dengan minum obat
secara benar dan teratur, mengontrol perilaku kekerasan dengan cara verbal
dan menontrol perilaku kekerasan dengan cara spiritual.
Diagnosa ketiga yaitu mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki
klien dan melatih klien melakukan kegiatan harian yang telah direncanakan,
diagnosa keempat yaitu mengidentifikasi kemampuan klien untuk berinteraksi
dengan orang lain dengan cara berkenalan dan melakukannya sesuai dengan
yang telah direncanakan dan diagnosa kelima yaitu klien dapat menjaga
kebersihan diri dengan cara berdandan dan berpakaian serta cara makan yang
benar dan sesuai.

B. Saran
Dalam pembuatan makalah ini, kelompok memberikan saran atau masukkan
kepada :
a) RS Dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor diharapkan fasilitas rumah
sakit ditingkatkan, seperti lampu penerangan di jalan sekitar rumah
sakit, rumput-rumput ilalang yang berada di sekitar rumah sakit
seharusnya diurus, air di asrama sering tidak ada, kurangnya keamanan
dan kenyamanan, dan perawat-perawat serta karyawan rumah sakit
lebih ditingkatkan kesabarannya dan keramahannya.
b) Ruangan Kresna Wanita
Lebih memperhatikan kebersihan dan penampilan pasien,
memperlakukan pasien sesuai Asuhan Keperawatan, alat-alat
kebutuhan pasien harus lebih bersih lagi.
c) CI Ruangan
Lebih memperhatikan penugasan yang telah dikerjakan mahasiswa,
agar ketika mahasiswa melakukan kesalahan tidak berdampak besar
terhadap penugasannya yang akan dikumpulkan.
d) Institusi Pendidikan
Diharapkan agar institusi dapat menyediakan sumber edisi terbaru,
mengatur jadwal praktek dengan baik, kehadiran dosen pembimbing
mata Ajaran Keperawatan Jiwa II minimal dua kali dan diharapkan
mengajarkan TAK lebih dahulu sebelum kami praktek ke Bogor.