Anda di halaman 1dari 14

KOHESI DAN KOHERENSI

MATA KULIAH ANALISIS WACANA

DOSEN
Dr. Nurlaksana Eko Rusminto, M. Pd

DISUSUN OLEH:

1. Nabila Dwi Putri (NPM : 17130410 )


2. Septi Mustika Rani (NPM : 1713041018)
3. Refie Lutfie Anissa (NPM : 1753041006)

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2019

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kepada ke hadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita berupa ilmu dan amal sehingga
kami dapat menyelesaikan makalah Analisis Wacana yang berjudul “Kohesi dan
Koherensi”.
Terima kasih kami ucapkan kepada dosen pengampu mata kuliah Analisis
Wacana Dr. Nurlaksana Eko Rusminto, M. Pd yang telah memberikan arahan
terkait tugas makalah ini. Tanpa bimbingan dari beliau, mungkin kami tidak
dapat menyelesaikan tugas ini sesuai dengan format yang telah ditentukan.
Kami menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab
itu, kami mengharapkan kritik dan saran pembaca demi kesempurnaan makalah
untuk kedepannya. Mudah-mudahan makalah ini bermanfaat bagi pembaca.

Bandar lampung, 17 September 2019

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i


KATA PENGANTAR ..................................................................................... ii
DAFTAR ISI ..................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................... 2
1.3 Tujuan Penulisan ........................................................................................ 2

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Kohesi ........................................................................................ 3
2.2 Piranti Kohesi ............................................................................................... 3
2.3 Pengertian Koherensi ................................................................................... 7
2.4 Pengertian Koherensi ................................................................................... 7
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan ..................................................................................................... 9
3.2 Saran ............................................................................................................. 9
DAFTAR PUSTAKA

iii
iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Wacana merupakan tataran yang paling besar dalam hierarki
kebahasaan. Sebagai tataran terbesar dalam hierarki kebahasaan, wacana tidak
merupakan susunan kalimat secara acak, tetapi merupakan satuan bahasa, baik
lisan maupun tulis. Untuk wacana yang disampaikan secara tertulis,
penyampaian isi atau informasi disampaikan secara tertulis. Hal ini
dimaksudkan agar tulisan tersebut dipahami dan diinterpretasikan oleh
pembaca. Hubungan antarkalimat dalam sebuah wacana tulis tersusun
berkesinambungan dan membentuk suatu kepaduan. Oleh karena itu,
kepaduan makna dan kerapian bentuk pada wacana tulis merupakan salah satu
faktor yang penting dalam rangka meningkatkan tingkat keterbacaan.
Membina interaksi sosial yang baik antara siswa dengan guru dan antara
sesama siswa harus terus dikembangkan. Apabila interaksi sosial tersebut
terjalin dengan baik, hal itu akan sangat bermanfaat. Siswa akan merasa
percaya, nyaman, dan hubungan dengan guru maupun siswa lain juga terjalin
dengan baik. Selain itu, proses belajar mengajarpun akan berjalan dengan
lancar. Untuk itu kemampuan siswa dalam berinteraksi sosial sangat penting
untuk ditingkatkan.
Seperti halnya bahasa, maka wacana pun mempunyai bentuk (form) dan
makna (meaning). Kepaduan makna dan kerapian bentuk merupakan faktor
penting untuk menentukan tingkat keterbacaan dan keterpahaman wacana.
Kepaduan (kohesi) dan kerapian (koherensi) merupakan unsur hakikat
wacana,unsur yang turut menentukan keutuhan wacana. Dalam kata kohesi,
tersirat pengertian kepaduan dan keutuhan, dan pada kata koherensi
terkandung pengertian pertalian dan hubungan.
Jika dikaitkan dengan aspek bentuk dan makna, kohesi mengacu kepada
aspek bentuk, dan koherensi kepada aspek makna wacana. Selanjutnya dapat
juga dikatakan bahwa kohesi mengacu kepada aspek formal bahasa,

1
sedangkan koherensi mengacu kepada aspek ujaran. Salah satunya adalah
kohesi dan koherensi. Tetapi tidak semua paragraf mengandung kedua unsur
tersebut. Kadang hanya memiliki salah satu dari keduanya, sehingga kita
harus lebih cermat untuk menyempurnakan kalimat tersebut agar menjadi
kalimat yang logis dan tepat.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan kohesi ?
2. Bagaimana piranti di dalam kohesi ?
3. Apa yang dimaksud dengan koherensi ?
4. Bagaimana piranti di dalam koherensi ?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Mengetahui dan memahami pengertian kohesi.
2. Mengetahui dan memahami piranti kohesi.
3. Mengetahui dan memahami pengertian koherensi.
4. Mengetahui dan memahami piranti koherensi.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Kohesi


Kohesi merupakan suatu unsur pembentuk keutuhan teks dalam sebuah
wacana. Djajasudarma (1994: 46) mengemukakan bahwa kohesi adalah
keserasian hubungan antara unsur yang satu dan unsur yang lain dalam sebuah
wacana sehingga tercipta suatu keutuhan makna. Kohesi wacana mengacu
pada keserasian hubungan dari segi bentuk yang tampak secara konjret dalam
wacana. Rani dkk (2008: 88) menyatakan bahwa kohesi adalah hubungan
antarbagian dalam teks yang ditandai oleh penggunaan unsur bahasa tertentu.
Dengan cara lebih tegas Brown dan Yulle (1983: 191) menyatakan bahwa
unsur pembentuk teks itulah yang membedakan sebuah rangkaian kalimat
sebagai teks atau bukan teks.
Selanjutnya, Tarigan (1987: 117-118) menyatakan bahwa untuk dapat
memahami wacana dengan baik, diperlukan pengetahuan dan penguasaan
kohesi yang baik pula, yang tidak saja bergantung pada pengetahuan tentang
realitas, dan pengetahuan tentang proses penalaran yang disebut penyimpulan
sintaktik. Dapat dikatakan bahwa suatu teks atau wacana benar-benar bersifat
kohesif apabila terdapat kesesuaian secara bentuk bahasa (language form)
terdapat ko-teks (situasi dalam bahasa) dan konteks (situasi di luar bahasa).
Dengan kata lain, ketidaksesuaian bentuk bahasa dengan ko-teks dan konteks
akan menghasilkan teks yang tidak kohesif.

2.2 Piranti Kohesi


Sebuah wacana dikatakan memenuhi syarat kepaduan atau kohesi jika
hubungan antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain dalam wacana
tersebut kompak atau padu. Untuk mewujudkan kekompakan dan kepaduan
hubungan antarunsur dalam sebuah wacana diperlukan suatu penanda

3
kepaduan yang sering disebut dengan istilah piranti kohesi atau unsur penanda
kohesi. Halliday dan Hasan (1976) menyatakan bahwa piranti kohesi atau
sarana-sarana kohesi suatu wacana dapat dikelompokkan ke dalam lima
kategori, yaitu (1) pronominal atau kata ganti, (2) substitusi (penggantian), (3)
elipsi, (4) konjungsi, dan (5) leksikalisasi.
Dengan cara lebih sederhana, Soedjito dan Mansur Hasan (1991)
menemukakan bahwa kepaduan dan kekompakan hubungan ini ditandai
dengan adanya piranti kohesi wacana tertentu, baik secara implicit maupun
secara eksplisit. Penanda kohesi wacana secara implicit ditunjukkan dengan
adanya keruntutan dan keserasian masalah yang dikembangkan, sedangkan
penanda kohesi eksplisit dilakukan dengan menghadirkan kata atau frasa
tertentu sebagai penghubung antar kalimat. Piranti kohesi wacana secara
eksplisit dapat berupa
1. Pengulangan kata atau frasa kunci
2. Penggunaan kata ganti yang meliputi kata ganti orang, kata ganti milik, dan
kata ganti petunjuk; dan
3. Penggunaan kata atau frasa transisi.

2.2.1 Pengulangan Kata atau Frasa Kunci


Pengulangan kata/ frasa kunci dilakukan dengan cara mengulang
kata-kata atau frasa-frasa kunci yang terdapat dalam satu kalimat pada
kalimat berikutnya. Wujud pengulangan kata/frasa kunci ini dapat
berupa
a. Pengulangan kata/frasa kunci dengan kata/frasa yang sama,
misalnya tujuan dengan tujuan , jatuh cinta dengan jatuh cinta;
b. Pengualnagn kata/frasa kunci dengan sinonimnya, misalnya benar
dengan betul, kesuksesan dengan keberhasilan;
c. Pengulangan kata kunci dengan menggunakan bentuk kata dari
bentuk dasar yang sama, misalnya bertani dengan pertanian,
membangun dengan pembangunan.

Berikut ini contoh piranti kohesi wacana secara eksplisit.

4
Contoh 1 : pengulangan kata/frasa kunci

Tujuan penulisan tidak sama dengan maksud penulisan. Tujuan


penulisan adalah perubahan tingkah laku yang kita inginkan terjadi
dalam diri pembaca setelah mereka selesai membaca tulisan kita.
Misalnya, setelah selesai membaca tulisan kita seseorang berubah dari
tidak tahu sesuatu menjadi tahu sesuatu yang kita informasikan dalam
tulisan kita. Di pihak lain, maksud penulisan adalah motivasi yang
mendorong kiita untuk melakukan kegiatan menulis, baik yang timbul
dari dalam diri kita sendiri (intrinsik) maupun yang timbul oleh karena
rangsangan dari luar (ekstrinsik). Misalnya, kita menulis dengan
maksud agar memperoleh keuntungan berupa uang, popularitas, atau
mengubah pandangan masyarakat terhadap suatu nilai.

Kata/frasa bercetak miring dalam wacana diu atas merupakan contoh


piranti kohesi dengan pengulangan kata/frasa kunci.

2.2.2 Penggunaan Kata Ganti


Penggunaan kata ganti untuk menjaga kepaduan bentuk gramatikal
dimaksudkan untuk menghindari pengulangan penyebutan secara
berlebihan sehingga tidak menimbulkan kejenuhan pada pembaca. Kata
ganti yang biasa digunakan untuk menjaga kepaduan bentuk ini adalah.
a. Kata ganti orang, seperti ia/dia, beliau, mereka, saya, kamu
b. Kata ganti milik, seperti nya, beliau, mereka, dan
c. Kata ganti penunjuk, yaitu ini dan itu.

Contoh 2 : piranti kohesi berupa penggunaan kata ganti

Atun adalah seseorang pedagang sayur yang rajin. Dia tinggal


di sebuah desa kecil bernama Desa Suka Menanti. Setiap pagi, Atun
dan teman-temannya pergi ke pasar unutk menjual sayuran. Sore
harinya, mereka memetik sayuran di kebun warga desa yang menjadi
langganan mereka. Mereka selalu bergembira melakukan pekerjaan itu.

5
Kata bercetak miring dalam wacana di atas merupakan contoh piranti
kohesi dengan menggunakan kata ganti.

2.2.3 Penggunaan Kata/Frasa Transisi


Kata/ frasa transisi yang digunakan untuk menjaga kepaduan
bentuk gramatikal suatu wacana dapat dikelompokkan menjadi
beberapa kelompok sebagai berikut:
a. Kata/frasa transisi penanda hubungan tambahan, misalnya tambahan
lagi, demikian pula, begitu pula, bahkan;
b. Kata/ frasa transisi penanda hubungan perbandingan, misalnya
sebaliknya, meskipun demikian, akan tetapi, sedangkan, melainkan;
c. Kata/frasa transisi penanda hubungan akibat atau hasil, misalnya
maka, jadi,akibatnya, dnegan demikian;
d. Kata/frasa transisi penanda hubungan waktu, misalnya sebelum
itu,sesudah itu, kemudian, sementara itu;
e. Kata/frasa transisi penanda hubungan tujuan, mislanya untuk itu,
untuk tujuan itu, untuk maksud tertentu;
f. Kata/frasa transisi penanda hubungan contoh, misalnya contohnya,
misalnya, wujudnya;
g. Kata/frasa transisi penanda hubungan ringkasan, misalnya
singkatnya, ringkasannya, kesimpulannya, demikianlah;
h. Kata/frasa transisi penanda hubungan urutan, misalnya pertama,
kedua, ketiga.

Contoh 3 : piranti kohesi penggunaan kata/ frasa transisi

Penyebutan atau penanaman suatu rujukan pada umumnya


menggunakan lambing yang terdiri atas satu kata. Meskipun demikian,
ada juga suatu rujukan yang memerlukan nama yang lebih dari satu
kata. Sebagai contoh, jika kita memiliki kata “kuda”, rujukannya adalah
‘kuda’. Akan tetapi, kalau kita menyebut ‘kuda betina’ rujukannya tetap

6
‘kuda’. Penyebutan dan penanaman “kuda betina” karena kita ingin
membedakannya dengan “kuda jantan”.

Kata/frasa bercetak miring pada wacana 3 merupakan contoh piranti


kohesi dengan menggunakan kata/frasa transisi.

2.3 Pengertian Koherensi


Koherensi atau kepaduan makna (coherence in meaning) sebuah wacana
ditentukan oleh dua hal utama, yaitu (1) keutuhan kalimat-kalimat penjelas
dalam mendukung kalimat utama dan (2) kelogisan urutan peristiwa, waktu,
tempat, dan proses dalam wacana yang bersangkutan.
Tarigan (1987: 104) menyatakan bhawa koherensi adalah hubungan yang
cocok dan sesuai atau ketergantungan satu sama lain secara rapi, beranjak dari
hubungan-hubungan alamiah bagian-bagian atau hal-hal satu sama lain,
seperti dalam bagian-bagian wacana, atau argument-argumen suatu rentetan
penalaran. Koherensi juga diartikan sebagai perbuatan atau keadaan
menghubungkan atau memperhatikan. Dengan demikian, koherensi dapat
diartikan sebagai pengaturan secara rapi kenyataan dan gagasan atau fakta dan
ide menjaid suatu untaian yang logis sehingga peran yang dikandung oleh
wacana tersebut mudah untuk dipahami maknanya.

2.4 Piranti Koherensi


Seperti halnya kohesi, kekoherensian suatu wacana juga ditandai dengan
adanya piranti koherensi atau sering juga disebut dengan istilah sarana
keutuhan wacana dari segi makna. Dengan merangkum tulisan Harimurti
Kridalaksana, Tarigan (1987: 110-117) mengemukakan bahwa sarana
keutuhan wacana dari segi makna dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Sarana kepaduan wacana penanda hubungan sebab-akibat
b. Sarana kepaduan wacana penanda hubungan alasan-alasan
c. Sarana kepaduan wacana penanda hubungan sarana-hasil
d. Sarana kepaduan wacana penanda hubungan sarana-tujuan

7
e. Sarana kepaduan wacana penanda hubungan latar-kesimpulan
f. Sarana kepaduan wacana penanda hubungan hasil-kegagalan
g. Sarana kepaduan wacana penanda hubungan syarat-hasil
h. Sarana kepaduan wacana penanda hubungan perbandingan
i. Sarana kepaduan wacana penanda hubungan parafrasis
j. Sarana kepaduan wacana penanda hubungan aplikatif
k. Sarana kepaduan wacana penanda hubungan aditif temporal
l. Sarana kepaduan wacana penanda hubungan aditif nontemporal
m. Sarana kepaduan wacana penanda hubungan identifikasi
n. Sarana kepaduan wacana penanda hubungan generik-spesifik
o. Sarana kepaduan wacana penanda hubungan ibarat

Berikut ini disajikan salah satu contoh piranti koherensi dalam wacana, yaitu
piranti koherensi wacana penanda hubungan perbandingan.

Contoh :

Istilah kesalahan dan kekeliruan dalam analisis berbahasa memilki persamaan


dan perbedaan. Keduanya sama-sama merupakan bentuk bahasa yang
menyimpang dari kaidah yang berlaku. Penyimpang pada kesalahan yang
bersifat sistematis, sedangkan pada kekeliruan bersifat tidak sistematis. Durasi
penyimpangan pada kesalahan bersifat lama, dan pada kekeliruan bersifat
sementara. Dari segi perbaikannya, kesalahan hanya dapat diperbaiki dengan
bantuan dari luar, kekeliruan dapat diperbaiki sendiri oleh pemakai bahasa
yang bersangkutan.

8
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Kohesi dan koherensi merupakan unsur wacana yang memegang
peranan sangat penting. Kedua unsur tersebut digunakan untuk
membangun keutuhan wacana, wacana yang baik ditandai dengan adanya
kepaduan dari segi bentuk (kohesi) dan kepaduan dari segi makna
(koherensi). Kekohesifan sebuah wacana ditandai dengan adanya piranti
kohesi yang berupa pengulangan kata atau frasa kunci, penggunaan kata
ganti, dan penggunaan kata atau frasa transisi.
Sementara itu, kekoherensian sebuah wacana ditandai dengan
adanya hubungan makna. Penanda hubungan makna tersebut dapat
diklasifikasikan sebagai berikut : penanda hubungan sebab-akibat, alasan-
alasan, sarana hasil dan lain-lain.

3.2 Saran

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam makalah


ini, baik dari pemaparan, landasan teori dan sumber data yang belum
cukup banyak. Untuk kesempurnaan makalah ini kedepannya, penulis
mengaharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun.

9
DAFTAR PUSTAKA

10