Anda di halaman 1dari 59

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keadaan lingkungan dapat mempengaruhi kondisi kesehatan masyarakat. Banyak
aspek kesehatan manusia dipengaruhi oleh lingkungan, dan banyak penyakit dapat
dimulai, didukung, ditopang atau dirangsang oleh factor-faktor lingkungan.
Limbah adalah semua benda yang berbentuk padat , cair, maupun gas, merupakan
bahan buangan yang berasal dari aktivitas manusia secara perorangan maupun hasil
aktivitas kegiatan lainnya diantaranya industri, rumah sakit, laboratorium, reactor nuklir
dan lain-lain. Menurut Willgooso (1979) air limbah adalah water carrying waste from
homes, bussines and industries that is mixture of water and dissolved or suspended
solids. Menurut USEPA 1977 wastewater is water carrying dissolved or suspended
solids from homes, farm, bussinesess and industries.
Ada beberapa jenis limbah diantaranya : Limbah rumah tangga,Limbah
industri,Limbah rumah sakit,Limbah nuklir
Pengelolaan lingkungan hidup merupakan kewajiban bersama berbagai pihak
baik pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat luas. Hal ini menjadi lebih penting lagi
mengingat Indonesia sebagai negara yang perkembangan industrinya cukup tinggi dan
saat ini dapat dikategorikan sebagai negara semi industri (semi industrialized country).
Sebagaimana lazimnya negara yang masih berstatus semi industri, target yang lebih
diutamakan adalah peningkatan pertumbuhan output, sementara perhatian terhadap
eksternalitas negatif dari pertumbuhan industri tersebut sangat kurang. Beberapa kasus
pencemaran terhadap lingkungan telah menjadi topik hangat di berbagai media masa,
misalnya pencemaran Teluk Buyat di Sulawesi Utara yang berdampak terhadap
timbulnya bermacam penyakit yang menyerang penduduk yang tinggal di sekitar teluk
tersebut.
Para pelaku industri kadang mengesampingkan pengelolaan lingkungan yang
menghasilkan berbagai jenis-jenis limbah dan sampah. Limbah bagi lingkungan hidup
sangatlah tidak baik untuk kesehatan maupun kelangsungan kehidupan bagi masyarakat
umum, limbah padat yang di hasilkan oleh industri-industri sangat merugikan bagi
lingkungan umum jika limbah padat hasil dari industri tersebut tidak diolah dengan baik
untuk menjadikannya bermanfaat.

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu pengertian Air Limbah?
2. Apa saja klasifikasi limbah cair?
3. Apa sumber air limbah?
4. Bagaimana karakteristik air limbah?
5. Apa saja parameter air limbah?
6. Apa dampak pembuangan air limbah?
7. Bagaimana cara pengolahan air limbah?
8. Apa tujuan pengolahan air limbah?
9. Apa syarat sistem pengolahan air limbah?
10. Bagaimana metode pengolahan air limbah?
11. Apa itu limbah industri?
12. Bagaimana sistem pengolahan air limbah?
13. Bagaimana pengolahan air limbah dengan menggunakan teknologi bioseptic?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian air limbah
2. Untuk mengetahui klasifikasi air limbah
3. Untuk mengetahui sumber air limbah
4. Untuk mengetahui karakteristik air limbah
5. Untuk mengetahui parameter air limbah
6. Untuk mengetahui dampak pembuangan air limbah
7. Untuk mengetahui cara pengolahan air limbah
8. Untuk mengetahui tujuan pengolahan air limbah
9. Untuk mengetahui syarat sistem pengolahan air limbah
10. Untuk mengetahui metode limbah industri
11. Untuk mengetahui limbah industri
12. Untuk mengetahui sistem pengolahan air limbah
13. Untuk mengetahui pengolahan air limbah dengan menggunakan teknologi
bioseptic

2
BAB II
PENDAHULUAN
A. Pengertian Air Limbah
Menurut Ehless dan Steel, Air limbah atau air buangan adalah sisa air dibuang
yang berasal dari rumah tangga, industri maupun tempat-tempat umum lainnya, dan pada
umumnya mengandung bahan-bahan atau zat-zat yang dapat membahayakan bagi
kesehatan manusia serta mangganggu lingkungan hidup.
Batasan lainnya mengatakan bahwa air limbah adalah kombinasi dari cairan dan
sampah cair yang berasal dari daerah pemukiman, perdagangan, perkantoran dan
industri, bersama-sama dengan air tanah, air pemukiman dan air hujan yang mungkin ada
(Haryoto Kusnoputranto, 1985).
Dari batasan tersebut dapat disimpulkan bahwa air buangan adalah air yang
tersisa dari kegiatan manusia, baik kegiatan rumah tangga maupun kegiatan lain seperti
industri, perhotelan, dan sebagainya. Meskipun merupakan air sisa, namun volumenya
besar, karena kurang lebih 80% dari air yang digunakan bagi kegiatan-kegiatan manusia
sehari-hari tersebut dibuang lagi dalam bentuk yang sudah kotor (tercemar). Selanjutnya
air limbah ini akhirnya akan kembali ke sungai dan laut dan akan digunakan oleh
manusia lagi. Oleh karena itu, air buangan ini harus dikelola dan atau diolah secara baik
B. Klasifikasi Limbah Cair
Limbah cair diklasifikasikan menjadi 4 kelompok yaitu :

1. Limbah cair domestic ( domestic wastewater)

Yaitu limbah cair yang dihasilkan dari kegiatan rumah tangga, restoran,
penginapan, mall dan lain-lain.Contoh : air bekas cucian pakaian atau peralatan
makan, air bekas mandi, tinja, sisa makanan berwujud cair dll.

2. Limbah cair industry (industrial wastewater)

Yaitu limbah cair hasil buangan industri.Contoh ; air sisa cucian daging, buah
atau sayur dari industry pengolahan makanan, air sisa pewarnaan pada industry tekstil
dll.

3
3. Air Hujan

Air hujan dikategorikan sebagai limbah apabila hujan terjadi pada daerah yang
tercemar udaranya oleh gas-gas sulfur maupunnitrogen sehingga ketika hujuan turun,
terjadilah hujan asam sebagai akibat terjadinya reaksi antara gas-gas belerang dan
nitrogen di udara dengan air hujan.Hujan asam pHnya rendah, berasa masam, bersifat
korosif dan kadang-kadang terasa gatal di kulit.

4. Rembesan dan Luapan ( infiltration and inflow )

Rembesan yaitu : limbah cair yang berasal dari berbagai sumber saluran
pembuangan yang rusak, pecah atau bocor sehingga merembes ke dalam
tanah.Luapan yaitu : limbah cair yang meluap dari saluran pembuangan yang terbuka
karena debitnya melebihi daya tampungnya.

Contoh : air buangan dari talang atap, AC, tempat parker, halaman, bangunan
industry/perdagangan, pertanian dan perkebunan dll.

C. Sumber Limbah
Air limbah ini dapat berasal dari berbagai sumber, secara garis besar dapat
dikelompokkan menjadi sebagai berikut :
1. Air buangan yang bersumber dari rumah tangga (domestic wastes water), yaitu
air limbah yang berasal dari pemukiman penduduk
2. Air buangan industri (industrial wastes water), yang berasal dari berbagai
jenis industry akibat proses produksi. Zat-zat yang terkandung di dalamnya
sangat bervariasi sesuai dengan bahan baku yang dipakai oleh masing-masing
industri, antara lain: nitrogen, sulfide, amoniak, lemak garam-garam zat
pewarna, mineral, logam berat, zat pelarut dan sebagainya. Oleh sebab itu,
perlu dilakukan pengolahan jenis air limbah ini, agar tidak menimbulkan
polusi lingkungan menjadi lebih rumit.
3. Air buangan kotapraja (municipal wastes water), yaitu air buangan yang
berasal dari daerah; perkantoran,perdagangan, hotel, restoran, tempat-tempat
umum, tempat-tempat ibadah, dan sebagainya. Pada umumnya zat-zat yang
terkandung dalam jenis air limbah ini sama dengan jenis air limbah rumah
tangga.

4
D. Karakteristik Air Limbah
Karakteristik air limbah penting untuk diketahui, karena hal ini akan menentukan
pengolahan yang tepat, sehingga tidak mencemari lingkungan hidup. Secara garis
besar dapat digolongkan sebagai berikut:
1. Karakteristik fisik
Air limbah terdiri dari 99,9% air, sedangkan kandungan bahan padatnya
mencapai 0,1% dalam bentuk suspensi padat (suspended solid) yang volumenya
bervariasi antara 100-500 mg/l. Apabila volume suspensi padat kurang dari
100mg/l, air limbah disebut lemah, sedangkan bila lebih dari 500mg/l disebut
kuat. Terutama air limbah rumah tangga, biasanya berwarna suram seperti larutan
sabun, bekas cucian beras dan sayur, dan sebagainya.
2. Karakteristik kimiawi
Biasanya air buangan ini mengandung campuran zat-zat kimia anorganik
yang berasal dari air bersih serta bermacam-macam zat organik berasal dari
penguraian tinja, urine, dan sampah-sampah lainnya. Oleh sebab itu, pada
umumnya bersifat basa pada waktu masih baru, dan cenderung ke asam apabila
sudah mulai membusuk. Substansi organik dalam air buangan terdiri dari 2
golongan, yakni:
a) Gabungan yang mengandung nitrogen, misalnya; urea, protein, atau
asam amino.
b) Gabungan yang tidak mengandung nitrogen, misalnya: lemak, sabun,
atau karbohidrat
3. Karakteristik bakteriologis
Bakteri dalam air limbah berfungsi untuk menyeimbangkan DO dan BOD.
Sedangkan bakteri pathogen banyak terdapat dari hasil buangan dari peternakan,
rumah sakit, laboratorium, sanatorium, buangan rumah tangga khususnya dari
kamar mandi/wc. Kandungan bakteri pathogen serta organism golongan E. coli
terdapat juga dalam air limbah tergantung dari mana sumbernya, namun
keduanya tidak berperan dalam proses pengolahan air limbah. Limbah industri
tidak banyak mengandung bakteri kecuali dari bahan produksinya memang
berhubungan dengan potensi adanya bakteri diantaranya industri
makanan/minuman, pengalengan ikan dan daging, abbatoir.
Beberapa mikroorganisme dalam air limbah, antara lain:

5
 Kelompok protista : virus, bakteri, jamur, protozoa
 Kelompok tanaman dan bintang :algae, cacing
E. Parameter Air Limbah
Berikut adalah parameter yang dapat digunakan berkaitan dengan air limbah.
 Kandungan zat padat (total solid, suspending solid, dissolved solid)
 Kandungan zat organic
 Kandungan zat anorganik (mis; P, Pb, Cd, Mg)
 Kandungan gas (mis: O2, N, CO2)
 Kandungan bakteri (mis: E.coli)
 Kandungan pH
 Suhu

Berikut beberapa parameter yang digunakan untuk mengukur kandungan


oksigen dalam air limbah.
• Chemical Oxygen Demand
Chemical Oxygen Demand adalah jumlah oksigen yang
dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan-bahan organik yang terdapat di
dalam air secara sempurna.

6
• Biochemical Oxygen Demand
Boichemical Oxygen Demand adalah jumlah oksigen yang
dibutuhkan oleh bakteri untuk melakukan proses dekomposisi aerobik
terhadap bahan organik dari larutan, di bawah kondisi suhu tertentu
(umumnya 200 C) dan waktu tertentu (umumnya 5 hari). Hasil
pengukuran BOD dinyatakan dalam mg/L. Kebutuhan BOD bervariasi
antara 100-300 mg/L. Apabila hasil pengukuran menunjukkan angka
lebih dari 300 mg/L, BOD dikatakan kuat, sedangkan bila kurang dari
100 mg/L disebut lemah.
F. Dampak Buangan Air Limbah
Air limbah yang tidak menjalani proses pengolahan yang benar tentunya dapat
menimbulkan dampak yang tidak diinginkan. Dampak tersebut antara lain:
1. Gangguan Kesehatan
Air limbah dapat mengandung bibit penyakit yang dapat menimbulkan
penyakit bawaan air. Selain itu di dalam air limbah mungkin juga terdapat zat-zat
berbahaya dan beracun yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan bagi
makhluk hidup yang mengkonsumsinya. Adakalanya, air limbah yang tidak
dikelola dengan baik juga dapat menjadi sarang vector penyakit (misalnya
nyamuk, lalat, kecoa, dan lain-lain)
2. Penurunan Kualitas Lingkungan
Air limbah yang dibuang langsung ke air permukaan (misalnya sungai dan
danau) dapat mengakibatkan pencemaran air permukaan tersebut. Sebagai contoh,
bahan organic yang terdapat dalam air limbah bila dibuang langsung ke sungai
dapat menyebabkan penurunan kadar oksigen yang terlarut didalam sungai
tersebut. Dengan demikian menyebabkan kehidupan di dalam air yang
membutuhkan oksigen akan terganggu, dalam hal ini akan mengurangi
perkembangannya. Adakalanya, air limbah juga dapat merembes ke dalam air
tanah, sehingga menyebabkan pencemaran air tanah. Bila air tanah tercemar,
maka kualitasnya akan menurun sehingga tidak dapat lagi digunakan sesuai
peruntukannya.

7
3. Gangguan Terhadap Keindahan
Adakalanya air limbah mengandung polutan yang tidak mengganggu
kesehatan dan ekosistem, tetapi mengganggu keindahan. Contoh : air limbah yang
mengandung pigmen warna yang dapat menimbulkan perubahan warna pada
badan air penerima. Walaupun pigmen tersebut tidak menimbulkan gangguan
terhadap kesehatan, tetapi terjadi gangguan keindahan terhadap badan air
penerima tersebut.
Kadang-kadang air limbah dapat juga mengandung bahan-bahan yang bila
terurai menghasilkan gas-gas yang berbau. Bila air limbah jenis ini mencemari
badan air, maka dapat menimbulkan gangguan keindahan pada badan air tersebut.
4. Gangguan terhadap kerusakan benda
Adakalanya air limbah mengandung zat-zat yang dapat dikonversi oleh
bakteri anaerobik menjadi gas yang agresif seperti H2S. Gas ini dapat
mempercepat proses perkaratan pada benda yang terbuat dari besi (mis. Pipa
saluran air. limbah) dan bangunan air kotor lainnya. Dengan cepat rusaknya air
tersebut maka biaya pemeliharaannya akan semakin besar juga, yang berarti akan
menimbulkan kerugian material.
Untuk menghindarkan terjadinya gangguan-gangguan diatas, air limbah
yang dialirkan ke lingkungan harus memenuhi ketentuan seperti yang disebutkan
dalam Baku Mutu Air Limbah. Apabila air limbah tidak memenuhi ketentuan
tersebut, maka perlu dilakukan pengolahan air limbah sebelum mengalirkannya ke
lingkungan.
G. Pengolahan Air Limbah
Air limbah sebelum dilepas ke pembuangan akhir harus menjalani pengolahan
terlebih dahulu. Untuk dapat melaksanakan pengolahan air limbah yang efektif
diperlukan rencana pengelolaan yang baik. Pengelolaan air limbah dapat dilakukan secara
alamiah maupun dengan bantuan peralatan. Pengolahan air limbah secara alamiah
biasanya dilakukan dengan bantuan kolam stabilisasi sedangkan pengolahan air dengan
bantuan peralatan misalnya dilakukan pada Instalasi Pengolahan Air Limbah/ IPAL
(Waste Water Treatment Plant / WWTP).

8
Pengolahan limbah bertujuan untuk menetralkan air dari bahan-bahan
tersuspensi dan terapung, menguraikan bahan organic biodegradable, meminimalkan
bakteri patogen, serta memerhatikan estetika dan lingkungan. Pengolahan air limbah
dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :
a. Secara Alami
Pengolahan air limbah secara alamiah dapat dilakukan dengan
pembuatan kolam stabilisasi. Dalam kolam stabilisasi, air limbah diolah
secara alamiah untuk menetralisasi zat-zat pencemar sebelum air limbah
dialirkan ke sungai. Kolam stabilisasi yang umum digunakan adalah
kolam anaerobik, kolam fakultatif (pengolahan air limbah yang tercemar
bahan organik pekat), dan kolam maturasi (pemusnahan mikroorganisme
patogen).

b. Secara Buatan
Pengolahan air limbah dengan buantan alat dilakukan pada
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Pengolahan ini dilakukan
melalui tiga tahapan, yaitu primary treatment (pengolahan pertama),
secondary treatment (pengolahan kedua), dan tertiary treatment
(pengolahan lanjutan).
 Primary treatment merupakan pengolahan pertama yang bertujuan
untuk memisahkan zat padat dan zat cair dengan menggunakan
filter (saringan) dan bak sedimentasi. Beberapa alat yang
digunakan adalah saringan pasir lambat, saringan pasir cepat,
saringan multimedia, percoal filter, mikrostaining, dan vacum
filter.
 Secondary treatment merupakan pengolahan kedua, bertujuan
untuk mengkoagulasikan, menghilangkan koloid, dan
menstabilisasikan zat organik dalam limbah. Pengolahan limbah
rumah tangga bertujuan untuk mengurangi kandungan bahan
organik, nutrisi nitrogen, dan fosfor. Penguraian bahan organik ini
dilakukan oleh makhluk hidup secara aerobik (menggunakan
oksigen) dan anaerobik (tanpa oksigen). Secara aerobik,

9
penguraian bahan organik dilakukan mikroorganisme dengan
bantuan oksigen sebagai electon acceptor dalam air limbah.
Selain itu, aktivitas aerobik ini dilakukan dengan bantuan
lumpur aktif (activated sludge) yang banyak mengandung bakteri
pengurai. Hasil akhir aktivitas aerobik sempurna adalah CO2, uap
air, dan excess sludge. Secara anaerobik, penguraian bahan
organik dilakukan tanpa menggunakan oksigen. Hasil akhir
aktivitas anaerobik adalah biogas, uap air, dan excess sludge.
 Tertiary treatment merupakan lanjutan dari pengolahan kedua,
yaitu penghilangan nutrisi atau unsur hara, khususnya nitrat dan
posfat, serta penambahan klor untuk memusnahkan
mikroorganisme patogen.
Dalam pengolahan air limbah dapat dilakukan secara alami atau secara
buatan, perlu dilakukan berbagai cara pengendalian antara lain menggunakan
teknologi pengolahan limbah cair, teknologi peroses produksi, daur ulang, resure,
recovery dan juga penghematan bahan baku dan energi

H. Tujuan Pengolahan Air Limbah


Adapun tujuan dari pengelolaan air limbah itu sendiri, antara lain:
 Mencegah pencemaran pada sumber air rumah tangga.
 Melindungi hewan dan tanaman yang hidup didalam air.
 Menghindari pencemaran tanah permukaan.
 Menghilangkan tempat berkembangbiaknya bibit dan vektor penyakit.
I. Syarat Sistem Pengolahan Air Limbah
Sementara itu, sistem pengelolaan air limbah yang diterapkan harus memenuhi
persyaratan berikut:
a. Tidak mengakibatkan kontaminasi terhadap sumber-sumber air minum.
b. Tidak mengakibatkan pencemaran air permukaan.
c. Tidak menimbulkan pencemaran pada flora dan fauna yang hidup di air di
dalam penggunaannya sehari-hari.
d. Tidak dihinggapi oleh vektor atau serangga yang mengakibatkan penyakit.
e. Tidak terbuka dan harus tertutup.
10
f. Tidak menimbulkan bau atau aroma tidak sedap.
J. METODE PENGOLAHAN AIR LIMBAH
Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengelolah air limbah,
diantaranya:
a. Pengenceran (disposal by dilution)
Air limbah dibuang ke sungai, danau, atau laut agar mengalami
pengenceran. Dengan cara ini air limbah akan mengalami purifikasi alami.
Namun, cara semacam ini dapat mencemari air permukaan dengan bakteri
pathogen, larva dan telur cacing, serta bibit penyakit lain yang ada di
dalam air limbah itu.
Apabila hanya cara ini yang dapat diterapkan, maka persyaratan
berikut harus dipenuhi:
 Air sungai atau danau tidak boleh digunakan untuk
keperluan lain.
 Volume air mencukupi sehingga pengenceran berlangsung
kurang dari 30-40 kali
 Air harus cukup mengandung oksigen. Dengan kata lain air
harus mengalir (tidak boleh stagnan) agar tidak
menimmbulkan bau.
b. Cesspool
Bentuk cesspool ini menyerupai sumur tetapi digunakan untuk
pembuangan air limbah. Dibuat pada tanah yang berpasir agar air buangan
mudah meresap kedalam tanah. Bagian atas ditembok agar tidak tembus
air. Apabila ceespool sudah penuh (±60bulan), lumpur didalamnya dapat
dihisap keluar atau dari semula dibuat cesspool secara berangkai, sehingga
bila yang satu penuh, air akan mengalir ke cesspool berikutnya. Jarak
cesspool dengan sumur air bersih adalah 45 meter dan minimal 6 meter
dari pondasi rumah.
c. Sumur resapan (seepage pit)
Sumur resapan merupakan sumur tempat menampung air limbah
yang telah mengalami pengolahan dalam system lain, misalnya dari aqua

11
privy atau septic tank. Dengan cara ini, air hanya tinggal mengalami
peresapan ke dalam tanah. Sumur resapan ini dibuat pada tanah yang
berpasir, dengan diameter 1-2,5 meter dan kedalaman 2,5 meter. Lama
pemakaian dapat mencapai 6-10 tahun.
d. Septic tank
Septic tank, menurut WHO, merupakan metode terbaik untuk
mengelolah air limbah walau biayanya mahal, rumit, dan memerlukan
tanah yang luas. Septic tank memiliki 4 bagian, antara lain:
1. Ruang pembusukan
Dalam ruang ini, air kotor akan tertahan 13 hari dan
akan mengalami penguraian oleh bakteri pembusuk yang
akan menghasilkan gas, cairan, dan lumpur. Gas dan cairan
akan masuk kedalam dosing chamber melalui pipa. Lumpur
akan masuk ke ruang lumpur.
2. Ruang lumpur
Ruang lumpur merupakan tempat penampungan
lumpur. Apabila ruang sudah penuh, lumpur dapat dipompa
keluar.
3. Dosing chamber
Dalam dosing chamber terdapat siphon McDonald
yang berfumgsi untuk mengatur kecepatan air yang akan
dialirkan ke bidang resapan agar merata.
4. Bidang resapan
Bidang ini akan menyerap cairan keluar dari dosing
chamber dan menyaring bakteri pathogen maupun bibit
penyakit lain. Panjang minimal bidang resapan ini 10meter
dan dibuat pada tanah berpasir.
e. System Riool (sewage)
System riool menampung semua air kotor dari rumah maupun
perusahaan, dan terkadang menampung kotoran dari lingkungan.
Apabila dipakai untuk menampung air hujan, sistem riool ini disebut

12
combined system, sedangkan jika bak penampung air hujannya
dipisahkan maka disebut separated system. Agar tidak merugikan
kepentingan lain, air kotor dialirkan ke ujung kota, misalnya ke daerah
peternakan, pertanian, atau perikanan darat. Air kotor itu masih
memerlukan pengolahan.
Proses pengolahan yang dilakukan, antara lain:
1. Penyaringan (screening)
Penyaringan ditujukan untuk menangkap benda-benda
yang terapung diatas permukaan air.
2. Pengendapan (sedimentation)
Pada proses ini, air limbah dialirkan ke dalam bak besar
(sand trap) sehingga aliran menjadi lambat dan lumpur
serta pasir mengendap.
3. Proses biologis
Proses ini menggunakan mikroba untuk memusnahkan zat
organic di dalam limbah baik secara aerob maupun anaerob.
4. Disaring dengan saringan pasir (sand filter)
5. Desinfeksi
Desinfeksi dengan kaporit (10kg/1 juta air limbah) untuk
membunuh mikroba patogen.
6. Pengenceran
Terakhir, air limbah dibuang ke sungai, danau atau laut
sehingga mengalami pengenceran.
K. LIMBAH INDUSTRI
Limbah industri (industrial waste) yang berbentuk cair dapat berasal dari
pabrik yang biasanya banyak menggunakan air pada proses produksinya. Selain itu
libah cair juga dapat berasal dari bahan baku yang mengandung air sehingga di dalam
proses pengolahannya, air harus dibuang. Jenis-jenis industry yang menghasilkan
limbah cair antara lain, industri pulp dan rayon, pengolahan cramb rubber, minyak
kelapa sawit, baja dan besi, minyak goring, kertas, tekstil, kaustik soda, elektor

13
plating, plywood, tepung tapioka, pengalengan, pencelupan dan pewarna, daging dan
lain-lain.
Limbah cair industri mengandung bahan pencemar yang bersifat racun dan
berbahaya yang dikenal dengan sebutan B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya).
Menurut Undang-undang RI No. 23/ 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan
Hidup, Limbah B3 adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan
berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau
jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau
merusakkan lingkungan hidup dan/atau dapat membahayakan lingkungan hidup,
kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain. Bahan ini
dirumuskan sebagai bahan yang dalam jumlah relative sedikit tetapi mempunyai
potensi untuk mencemarkan dan merusak kehidupan dan sumber daya. Apabila
ditinjau secara kimia, bahan-bahan tersebut mengandung 60.000 jenis bahan kimia dari
5 juta jenis bahan kimia yang sudah dikenal.
Tingkat bahaya keracunan yang disebabkan limbah ini bergantung pada jenis
dan karakteristiknya, baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang.
Mengingat sifat, karakteristik dan akibat yang ditimbulkan limbah di masa sekarang
maupun di masa akan datang, diperlukan langkah-langkah pencegahan,
penanggulangan, dan pengelolaannya secara efektif.
Air dari pabrik membawa sejumlah padatan dan partikel baik yang larut
maupun yang mengendap. Bahan ini ada yang kasar dan halus. Kerapkali air dari
pabrik berwarna keruh dan temperaturnya tinggi,
Air yang mengandung senyawa kimia beracun dan berbahaya mempunyai sifat
tersendiri. Air limbah yang telah tercemar memberikan ciri yang dapat diidentifikasi
secara visual maupun melalui pemeriksaan laboratorium. Identifikasi secara visual
dapat diketahui melalui: kekeruhan, warna air, rasa, bau yang ditimbulkan, dan
indikasi lain. Sementara itu, identifikasi secara laboratorium ditandai dengan
terjadinya perubahan sifat kimia air karena air telah mengandung bahan kimia beracun
dan berbahaya dalam konsentrasi yang melebihi batas yang dianjurkan.
Jumlah limbah yang dikeluarkan masing-masing industri bergantung pada
banyaknya produksi yang dihasilkan serta jenis produknya. Sebagai gambaran, industri

14
pulp dan rayon menghasilkan limbah air sebanyak 30 m3 setiap ton pulp yang
diproduksi. Contoh lainnya, industri ikan dan makanan laut menghasilkan limbah air
berkisar antara 79-500 m3 per hari, sedangkan industri pengolahan crumb rubber
menghasilkan antara 100-1000 m3 limbah air per hari.
L. Pengolahan Limbah Cair Industri
Pengolahan limbah cair industri dapat dibagi menjadi dua, pengolahan
menurut tingkat perlakuan dan pengolahan menurut karakteristiknya.
a. Pengolahan berdasarkan tingkat perlakuan
Menurut tingkatan prosesnya, pengolahan limbah dapat
digolongkan menjadi 5 tingkatan. Namun, tidak berarti bahwa semua
tingkatan harus dilalui karena pilihan tingkatan proses tetap bergantung
pada kondisi limbah yang diketahui dari hasil pemeriksaan laboratorium.
Dengan mengetahui jenis-jenis parameter dalam limbah, dapat ditetapkan
jenis peralatan yang dibutuhkan. Berikut beberapa tahapan pengolahan air
limbah.
1) Pra-pengolahan (pre-treatment)
Pada tahap ini, saringan kasar yang tidak mudah berkarat
dan berukuran ± 30×30 cm untuk debit air 100 m2 per jam sudah
cukup baik. Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, saringan
dapat dipasang secara seri sebanyak dua atau tiga saringan. Ukuran
messnya (besar lubang kawat tikus) dapat dibandingkan dengan
kawat kasa penghalang nyamuk. Saringan tersebut diperiksa setiap
hari untuk mengambil bahan yang terjaring. Contoh bahan-bahan
yang terjaring dapat berupa padatan terapung atau melayang yang
ikut bersama air. Bahan lainnya adalah lapisan minyak dan lemak
di atas permukaan air.
2) Pengolahan primer (primary treatment)
Pada tahapan ini dilakukan penyaringan terhadap padatan
halus atau zat warna terlarut maupun tersuspensi yang tidak
terjaring pada penyaringan terdahulu.

15
Pengolahan secara kimia dilakukan dengan cara
mengendapkan bahan padatan melalui penambahan zat kimia.
Reaksi yang terjadi akan menyebabkan berat jenis bahan padatan
menjadi lebih besar daripada air. Tidak semua reaksi dapat berlaku
untuk semua senyawa kimia (terutama senyawa organik).
Pengolahan secara fisika dilakukan melalui pengendapan
maupun pengapungan yang ditujukan untuk bahan kasar yang
terkandung dalam air limbah. Penguapan dilakukan dengan
memasukkan udara ke dalam air dan menciptakan gelembung gas
sehingga partikel halus terbawa bersama gelembung ke permukaan
air. Sementara itu, pengendapan (tanpa penambahan bahan kimia)
dilakukan dengan memanfaatkan kolam berukuran tertentu untuk
mengendapkan partikel-partikel dari air yang mengalir di atasnya.
3) Pengolahan sekunder (secondary treatment)
Tahap ini melibatkan proses biologis yang bertujuan untuk
menghilangkan bahan organik melalui proses oksidasi biokimia. Di
dalam proses biologis ini, banyak dipergunakan reactor lumpur
aktif dan trickling filter
4) Pengolahan tersier (tertiary treatment)
Pengolahan tersier merupakan tahap pengolahan tingkat
lanjut yang ditujukan terutama untuk menghilangkan senyawa
organik maupun anorganik. Proses pada tingkat lanjut ini
dilakukan melalui proses fisik (filtrasi, destilasi, pengapungan,
pembekuan, dan lain-lain), proses kimia (absorbs karbon aktif,
pengendapan kimia, pertukaran ion, elektrokimia, oksidasi, dan
reduks), dan proses biologi (pembusukan oleh bakteri dan
nitrifikasi alga).
b. Pengolahan berdasarkan karakteristik
Proses pengolahan berdasarkan karakteristik air limbah dapat
dilakukan secara:
1) Proses fisik, dapat dilakukan melalui:

16
 Penghancuran
 Perataan air (misalnya: mengubah system saluran dan
membuat kolam)
 Penggumpalan (misalnya: menggunakan alumunium
sulfat dan ferrosulfat)
 Sedimentasi
 Pengapungan
 Filtrasi’

Proses flotasi banyak digunakan untuk menyisihkan bahan-bahan yang


mengapung seperti minyak dan lemak agar tidak mengganggu proses pengolahan
berikutnya. Flotasi juga dapat digunakan sebagai cara penyisihan bahan-bahan
tersuspensi (clarification) atau pemekatan lumpur endapan (sludge thickening)
dengan memberikan aliran udara ke atas (air flotation).

17
Proses filtrasi di dalam pengolahan air buangan, biasanya dilakukan untuk
mendahului proses adsorbsi atau proses reverse osmosis-nya, akan dilaksanakan
untuk menyisihkan sebanyak mungkin partikel tersuspensi dari dalam air agar tidak
mengganggu proses adsorbsi atau menyumbat membran yang dipergunakan dalam
proses osmosa.

Proses adsorbsi, biasanya dengan karbon aktif, dilakukan untuk


menyisihkan senyawa aromatik (misalnya: fenol) dan senyawa organik terlarut
lainnya, terutama jika diinginkan untuk menggunakan kembali air buangan tersebut.

Teknologi membran (reverse osmosis) biasanya diaplikasikan untuk


unit-unit pengolahan kecil, terutama jika pengolahan ditujukan untuk
menggunakan kembali air yang diolah. Biaya instalasi dan operasinya sangat mahal.

c. Proses kimia, dapat dilakukan melalui:


 Pengendapan dengan bahan kimia
 Pengolahan dengan logoon atau kolam
 Netralisasi
 Penggumpalan atau koagulasi
 Sedimentasi (misalnya dengan discretesettling,floculant settling,
dan zone settling)
 Oksidasi dan reduksi
 Klorinasi Penghilangan klor (biasanya menggunakan karbon
aktif atau natrium sulfat)
 Pembuangan fenol
 Pembuangan sulfur

18
Pengendapan bahan tersuspensi yang tak mudah larut dilakukan dengan
membubuhkan elektrolit yang mempunyai muatan yang berlawanan dengan muatan
koloidnya agar terjadi netralisasi muatan koloid tersebut, sehingga akhirnya dapat
diendapkan. Penyisihan logam berat dan senyawa fosfor dilakukan dengan
membubuhkan larutan alkali (air kapur misalnya) sehingga terbentuk endapan
hidroksida logam-logam tersebut atau endapan hidroksiapatit. Endapan logam
tersebut akan lebih stabil jika pH air > 10,5 dan untuk hidroksiapatit pada pH> 9,5.
Khusus untuk krom heksavalen, sebelum diendapkan sebagai krom hidroksida
[Cr(OH)3], terlebih dahulu direduksi menjadi krom trivalent dengan membubuhkan
reduktor (FeSO4, SO2, atau Na2S2O5).

19
d. Proses biologi, dapt dilakukan dengan:
 Kolam oksidasi
 Lumpur aktif (mixed liquid suspende solid / MLSS)
 Trickling filter
 Lagoon
 Fakultatif
 Proses fisika kimia biologi
 Pengolahan tingkat lanjut
M. Sistem Pengolahan Limbah Cair
Tujuan utama pengolahan air limbah ialah untuk mengurai kandungan bahan
pencemar di dalam air terutama senyawa organik, padatan tersuspensi, mikroba
patogen, dan senyawa organik yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme yang
terdapat di alam. Bila dilihat dari tingkat perlakuan pengolahan air limbah maka
sistem pengolahan limbah cair dikalisifikasikan menjadi ;
1. Primary Treatment System

Gambar Skema Flow Proses

20
Pada gambar diatas memperlihatkan proses pengolahan permulaan yang
sering pula didahuli denga pengolahan awal (pretreatment) atau pra perlakuan ;
yang mana limbah cair dari sumber lewat (1) sanitary sewer, (2) pretreatmen,(3)
primary treatment tanks, (4) aeration tanks, (5) secondary treatment tank, (6)
disinfectant
a. Pengolahan Awal (Pretreatment)
Tahap pengolahan ini melibatkan proses fisik yang bertujuan untuk
menghilangkan padatan tersuspensi dan minyak dalam aliran air limbah.
Beberapa proses pengolahan yang berlangsung pada tahap ini ialah screen
and grit removal, equalization and storage, serta oil separation.
b. Pengolahan Tahap Pertama (Primary Treatment)
Pada dasarnya, pengolahan tahap pertama ini masih memiliki tujuan
yang sama dengan pengolahan awal. Letak perbedaannya ialah pada proses
yang berlangsung. Proses yang terjadi pada pengolahan tahap pertama
ialah menghilangkan partikelartikel padat organik dan organik melalui proses
fisika, yakni neutralization, chemical addition and coagulation, flotation,
sedimentation, dan filtration . Sehingga partikel padat akan mengendap
(disebut sludge) sedangkan partikel lemak dan minyak akan berada di atas /
permukaan (disebut grease).
c. Aerasi

Teknik Pengolahan air limbah banyak ragamnya. Salah satu


dari teknik Air limbah adalah proses lumpur aktif dengan aerasi
oksigen murni. Pengolahan ini termasuk pengolahan biologi,
karena menggunakan bantuan mikroorganisma pada proses
pengolahannya. Cara Kerja alat ini adalah sebagai berikut : Air
21
limbah setelah dilakukan penyaringan dan equalisasi dimasukkan
kedalam bak pengendap awal untuk menurunkan suspended solid.
Air limpasan dari bak pengendap awal dialirkan ke kolam aerasi
melalui satu pipa dan dihembus dengan udara sehingga
mikroorganisma bekerja menguraikan bahan organik yang ada di air
limbah. Dari bak bak aerasi air limbah dialirkan ke bak pengendap
akhir, lumpur diendapkan, sebagian lumpur dikembalikan ke kolam
aerasi.
Keuntungannya :
 daya larut oksigen dalam air limbah lebih besar;
 efisiensi proses lebih tinggi; dan
 cocok untuk pengolahan air limbah dengan debit
kecil untuk polutan organik yang susah terdegradasi
2. Pengolahan Sekunder (Secondary Treatment)
Pada tahap ini air limbah menggunakan bahan-bahan kimia agar
senyawa- senyawa dalm pencemar dalam limbai diikat melalui reaksi kimia.
Karena itu sitem operasinya disebut juga dengan cara kimia yaitu
methoda pengolahan dengan menghilangkan atau mengubah senyawa
pencemar dalam air limbah dengan menambahkan bahan kimia.
Zat-zat pencemar pada umumnya berada pada jenis padan suspensi
Padatan terlarut dalam kolidal. Padatan ini tidak mengalami pengendapan
secara alami walaupun dalam jangka waktu relative lama . Oleh karena itu
diperlukan bahan kimia yang direaksikan agar terjadi pengingkatan senyawa
pencemar baik dalam bentukgumpalan atau pengapungan.
Menggunakan bahan kimia membutuhkan perkiraan dari sudut biaya
mengingat diantara bahan- bahan tersebut harganya cukup mahal. Dengan
menggunakan bahan kmia berarti akan timbul unsur bau dalam air buangan
dan diharapakan semakin mudah mengambilnya, atau bahan tersebut
befungsi sebagai katalisator. Proses ini mempunyai kelemahan yaitu bagai
mana mengambil unsur baru yang terjadi akibat reaksi terjadi.
Pengendapan dengan kapurakan menimbulkan lumpur yang

22
harus direncanakan cara mengambil dan sarana pembuangannya.
Pengolahan limbah dengan tingkatan kedua atau menggunakan bahan
kimia bertujuan mengendapkan bahan, mematikan bakteri pathogen mengikat
dengan cara oksidasi atau reduksi menetralkan kosentrasi kelarutan asam
dan desinfektasia.

Gambar Secondary Sewage Treatment Process


Tiga cara pendekatan yang umum digunakan pada tahap mengurangi
bahan kimia pencemar dalam air limbah ; Perlakuan pertama yaitu
penambahan bahan kimia koagulasi dengan pengadukan cepat 1000 rpm,
bahan yang umum digunakan adalah alum (tawas), poyaluminium cholorida.
Perlakuan kedua menambahkan bahan flokulanmelalui pengadukan
lambat 200 rpm, bahan yang digunakan polyelectrolit. Perlakuan ketiga yaitu
klarifikasi pemisahan padatan lumpur yang telah terjadi flok- flok dan mulai
mengendap .
Bahan-bahan pencemar yang dapat dihilangkan atau dikurangi
dengan penambahan bahan kimia adalah :
 Padatan tersuspensi dalam limbah cair baik yang terdiri dari
material organik maupun anorganik yang masih ada pada air

23
limbah
 Phospat terlarut dapat direduksi bila kadar kurang dari pada 1
mg/l dengan bahan pengendap alum (tawas), ferry sulfat .
 Calcium, magnesium, silicon, dapat dihilangkan dengan kapur
CaOH. Khusus untuk Calcium dan magnesium efesien lebih
tinggi tercapai bila kapur dalam air buangan terdiri dari
carbonat yang tinggi

 Beberapa logam berat dapat dihilangkan dengan penambahan


kapaur (lime) seperti dalam pengendapan cadium, chromium,
cooper nikel, plumbum.
 Pengurangan bakteri dan virus dapat dicapai dengan kapur pada
kondisi pH 10,5 – 11,5 dengan cara pengumpulan dan simentasi .
3. Tertiary Treatment
Pengolahan ini merupakan kelanjutan dari pengolahan sekunder
(Secondary Treatment) . Pada system ini pengolahan limbah dengan
kosentrasi bahan pencemar tinggi atau limbah dengan parameter yang
bervariasi banyak dengan volume yang relative banyak .
Sistim operasinya dikenal dengan operasi biologi yaitu metode
pengolahan dengan menghilangkan senyawa pencemar melalui aktivitas
biological yang dilakukan pada peralatan unit proses biologi . Metode ini
dipakai terutama untuk menghilangkan bahan organic biodegaradable dalam
limbah cair. Senyawa-senyawa organic tersebut dikonversikan menjadi gas
dan air yang kemudian dilepaskan di atmosfir. Zat- zat organic dengan rantai
korban panjang diubah menjadi rantai ikatan karbon sederhana dan air yang
berbentuk gas.
Untuk menghilangkan senyawa nitrogen dalam air dipakai proses
aerasi dengan menggunakan metode biologi . Unit proses dipakai pada proses
biologi yaitu : kolam aerobic, aerasi, lumpur aktif, kolan oksidasi, dan
saringan biologi dan kolam anaerobic (jenis bahan pencemar dan peralatan
yang dipergunakan untuk menghilangkan bahan pencemar)

24
N. Pengolahan Air Limbah dengan Teknologi Bioseptic
1. Bioseptic Tank
Bio Septic Tank, adalah septic tank yang mampu mengolah kotoran
manusia menjadi cair, tidak berbau, berwarna jernih, dan dengan proses yang
cepat. Di dalam Bio Septic Tank terdapat biofilter, yaitu alat yag dilengkapi
dengan banyak bakteri. Bakteri pada biofilter, berfungsi sebagai pengolah limbah
dan mengubahnya menjadi cair. Setelah itu, limbah kotoran manusia dirubah
menjadi bening dan tidak berbau setelah melalui pipa desinfektan. Adanya air dan
tanah yang tercemar tersebut tidak hanya dipicu oleh limbah sampah dan pabrik,
namun juga dapat berasal dari limbah kotoran manusia yang kurang bersih saat
difilter oleh septic tank biasa
Bio Septic Tank adalah tangki septik modern berbentuk bulat / silinder
yang terbuat dari bahan fiberglass frp. Bahan fiber memiliki kekuatan tahan
pecah, tidak akan berkarat, tidak kropos dan ringan. Tangki septik ini digunakan
untuk pengolahan dan pengurai limbah domestik tinja. Ramah lingkungan karena
tidak ada sumur resapan dan hasil pembuangan sudah dilengkapi dengan
disinfektan.
Septic Tank Septic Tank atau sering disebut sebagai tangki septik adalah
bangunan pengolah dan pengurai kotoran tinja manusia cara setempat (onsite)
dengan menggunakan bantuan bakteri. Tangki ini dibuat kedap air sehingga air
dalam tangki septik tidak dapat meresap ke dalam tanah dan akan mengalir keluar
melalui saluran yang disediakan. Septic tank (dengan disertai bidang resapan)
merupakan salah satu bentuk pengolahan limbah setempat yang umum digunakan
di Indonesia dan direkomendasikan sebagai pilihan teknologi yang relatif aman
apabila memenuhi persyaratan tertentu.
Kerja bakteri dalam melakukan pengolahan limbah yang memadai dalam
tangki septik sangat bergantung pada pengoperasian dan perawatan yang benar
yang dilakukan oleh rumah tangga bersangkutan. Mengingat pentingnya peran
bakteri tersebut maka perlu dihindari masuknya bahan-bahan yang berbahaya bagi
keberadaan bakteri ke dalam septic tank. Bahan-bahan itu di antaranya adalah
pemutih pakaian, bahan-bahan kimia, cat, maupun deterjen.

25
Dalam perawatan septic tank, salah satu indikator yang digunakan untuk
mengetahui bahwa tangki septik memenuhi standar adalah dilakukan atau
tidaknya pengurasan rutin terhadap lumpur tinja (indikator ini digunakan dalam
studi Environmental Health Risk Assessment Penilaian Resiko Kesehatan
Lingkungan yang dilakukan Kabupaten/Kota dalam rangka penyusunan Buku
Putih Sanitasi). Septic Tank yang tidak pernah dikuras (ataupun memiliki periode
pengurasan lumpur yang panjang) mengindikasikan bangunan yang tidak standar
dan berpotensi mencemari air tanah setempat.
Pengurasan lumpur dari septic tank secara teratur akan menjamin proses
pengolahan air limbah berjalan optimal. Lumpur yang berlebih akan mengurangi
lamanya air limbah tinggal di dalam septic tank sehingga mengurangi kinerja
proses pengolahan. Waktu tinggal yang disyaratkan agar air limbah mengalami
proses pengolahan yang optimal di dalam septic tank adalah 1,5 hari.
Standar Nasional Indonesia (SNI) nomor mengenai Perencanaan Septic
Tank dengan sistem resapan, memberikan pedoman mengenai ukuran (dimensi)
septic tank dengan periode pengurasan tiga tahun untuk digunakan bagi satu
keluarga (terdiri atas 5 jiwa). Apabila ukuran (dimensi) septic tank telah sesuai
dengan apa yang terdapat dalam SNI, maka pengurasan dapat mengikuti periode
yang disarankan tersebut. Untuk septic tank yang tidak mengikuti ukuran standar
maupun septic tank yang tidak diketahui dimensinya, salah satu cara untuk
mengetahui apakah tangki septik tersebut perlu dikuras atau tidak adalah dengan
melakukan pengecekan sederhana terhadap ketinggian lumpur. Pengecekan ini
sangat sederhana yang dapat dilakukan oleh siapa saja dan perlu dilakukan secara
teratur (sekitar 6 bulan sekali).
Langkah-langkah pengecekan ini adalah sebagai berikut:
a. Gunakan tongkat panjang yang dibungkus kain katun warna putih pada
ujungnya
b. Selanjutnya ukur kedalaman lumpur Apabila tinggi lumpur sudah
mencapai setengah dari kedalaman tangki, maka tangki septik sudah perlu
untuk dikuras.

26
c. Pengurasan lumpur dari tangki septik dapat dilakukan dengan bantuan
mobil sedot tinja milik pemerintah maupun dari pihak swasta.
Septic Tank adalah bangunan pengolah dan pengurai kotoran tinja
manusia cara setempat, tangki ini dibuat dengan bahan yang kedap air sehingga
air dalam tangki septik tidak dapat meresap ketanah dan akan mengalir keluar
melalui saluran yang disediakan. Air yang keluar dari tangki septik ini masih
tidak aman bagi manusia dan lingkungan, oleh karena itu masih diperlukan unit
pengolahan lainnya yang pada umumnya berupa :
a. Bidang Resapan.
b. Sumur Resapan.
c. Filter Aliran ke atas dengan pasir dan kerikil.

Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan dalam Perencanaan Dan Kontruksi :

a. Septik tank Bisa digunakan secara individu maupun bersama (komunal )


sampai dengan 5 (lima) rumah, jika menggunakan sumur resapan / bidang
resapan tergantung dari ketersediaan lahan, jika digunakan untuk
pemakaian lebih dari 5 (lima) rumah bidang resapan yang diperlukan akan
memerlukan lahan yang cukup luas, untuk mengatasi kebutuhan lahan
yang luas ini di bangun suatu Filter untuk menggantikan fungsi bidang
resapan. Dibuat pada lahan yang memudahkan untuk dilakukan
pengurasan Ukuran dan volume hanya dipengaruhi oleh : 1. Jumlah
pemakai 2. Periode pengurasan yang direncanakan 3. Asumsi jumlah
kotoran manusia/tahun yang masuk dan diolah tangki septik Ukuran dan
Volume tangki septik tidak dipengaruhi oleh jenis tanah, daya serap tanah,
maupun tinggi muka air tanah Air yang keluar dari tangki septik masih
harus diolah dalam bidang resapan, sumur resapan atau filter
b. Bidang Resapan / Sumur Resapan
1) Kontruksi dan ukuran tergantung pada tinggi muka air tanah dan
jenis tanah Jarak dengan sumber air bersih > 10 m Hanya
digunakan untuk pelayanan sampai 5 rumah

27
2) Penggunaan Tangki septik hanya menerima buangan kakus / tinja
saja, tidak untuk air bekas (mandi dan cuci) Pengurasan tangki
septic dilakukan secara berkala setiap 3 tahun sekali
3) Pemeliharaan Tidak membuang bahan-bahan kimia berbahaya
kedalam tangki septik, seperti insektisida, karbol pembersih lantai,
pemutih pakaian. Lumpur tinja hasil pengurasan tangki septik
masih berbahaya bagi manusia dan lingkungan, pengurasan
sebaiknya dilakukan oleh orang / petugas yang mempunyai
peralatan penguras yang memenuhi syarat. Lumpur hasil
pengurasan tidak boleh dibuang ke sungai, atau ketempat terbuka
akan tetapi harus dibuang ketempat yang telah direncanakan untuk
menampung lumpur tinja ( misal Instalasi Pengolah Lumpur Tinja
/IPLT).
4) Keuntungan Bangunan kuat dan biaya pembangunan murah
Kotoran tidak mencemari lingkungan
5) Kerugian Membutuhkan biaya pengurasan Dibutuhkan perawatan
agar tidak tersumbat Tergantung dari muka air tanah

28
2. Keunggulan dan Kekurangan Bioseptic
a. Keunggulan Bioseptic
 Limbah yang diolah tidak berwarna dan tidak berbau, sehingga
tidak akan mencemari lingkungan.
 Air dan limbah kotoran akan langsung keluar ke selokan, setelah
isinya terlalu banyak.
 Tidak memerlukan resapan lagi.
 Pemasangan mudah dan dapat langsung dipakai.
 Lebih murah karena hanya bayar ongkos gali dan pasang beberapa
pipa yang siap pasang.
 Ukuran dan harga yang bervariasi, tergantung kebutuhan si
pembeli.
 Anti korosi dan tahan lama.
 Tidak bocor karena terbuat dari serat fiber.

29
 Dan yang pasti, ramah lingkungan karena limbah tidak berbau dan
tidak berwarna
b. Kekurangan Bioseptic
 Rembesan limbah yang dapat mencemari air dan tanah.
 Tidak ada sistem filterisasi yang baik dalam mengolah limbah
kotoran.
 Adanya bahan beton pada septic tank, dapat membuat kotoran
mengendap da mencemari lingkungan.
 Harus menunggu kering baru bisa digunakan. Beda dengan Bio
Septic Tank yang dapat langsung digunakan.
3. Cara Memilih Bioseptic Tank
 Pilih Bio Septic Tank dengan bahan serat fiber yang kuat. Untuk rumah
bakteri, sebaiknya pilih yang berbahan PVC atau HDPE agar anti korosif.
 Pilih Bio Septic Tank yang dilengkapi cairan desinfektan. Karena tidak
semua Bio Septic Tank dilengkapi cairan desinfektan.
 Septic tank akan bermasalah dalam pemasangan, jika berada di daerah
dengan debit air tinggi. Septic tank akan mengambang, karena galian
tertutupi air. Pilih Bio Septic Tank dengan bobot agak berat untuk
menanggulanginya.
 Perhatikan bahan kimia yang ada pada cat fiber Bio Septic Tank. Biasanya
penjual tidak memberikan detail bahan yang terkandung, sehingga dapat
mengancam pencemaran lingkungan.
 Pilih Bio Septic Tank dengan pemasangan yang mudah.
 Dimensi yang terlalu besar, akan memakan tempat yang terlalu banyak.
 Pilihlah Bio Septic Tank dengan garansi lama. Biasanya, garansi lama
pada Bio Septic Tank yakni 10 tahun. Karena akan sangat disayangkan,
jika kita baru saja membeli namun sudah terdapat beberapa masalah.

30
4. Kapasitas BioSeptic Tank
Kapasitas bio septic tank yang beragam dapat memenuhi keperluan anda
terhadap bio septic tank dalam berbagai ukuran. Anda dapat memilih bio septic
tank yang memiliki kapasitas besar di lahan yang luas. Sementara untuk anda
yang memiliki lahan terbatas, anda bisa memilih bio septic tank yang berkapasitas
kecil. Pada dasarnya, bio septic tank tidak memerlukan lahan yang luas apabila
dibandingkan dengan septic tank konvensional. Tipe septic tank konvensional ini
memang membutuhkan lahan yang lebih luas daripada bio septic tank.
Dari segala sektor, menggunakan bio septic tank memang lebih
menguntungkan. Terlebih lagi, bio septic tank didesain dengan inovasi tinggi dan
sistem pengolahan yang canggih. Hal inilah yang membuatnya aman dan ramah
lingkungan. Bio septic tank membuat lingkungan tetap sehat karena tidak
menciptakan bau sehingga layak dibuang tanpa mencemari lingkungan di
sekitarnya. Tipe septic tank ini tidak mencemari air bawah tanah. Dengan begitu
tetap aman dan juga nyaman ketika mengkonsumsi air tanah.
Bio septic tank tersedia dalam berbagai kapasitas unggulan yang bisa anda
pilih sesuai kebutuhan. Adapun kapasitas bio septic tank tersebut mulai dari 500
liter, 800 liter, 1000 liter, 1200 liter, sampai dengan 5000 liter. Pemakaian
masing-masing ukuran tersebut tergantung dari jumlah orang. Sebagai contohnya,
bio septic tank yang memiliki ukuran 500 liter untuk 4 orang. Dengan banyaknya
varian ukuran bio septic tank ini tentu saja memudahkan anda dalam
memilih septic tank modern sesuai keperluan anda.
Berbagai bio septic tank dalam beragam kapasitas ini juga tidak
membutuhkan perawatan khusus. Dengan begitu, anda tidak akan dibebani
dengan biaya perawatannya. Bio septic tank tidak akan mampet, tidak macet, dan
juga tidak mudah penuh. Yang perlu anda lakukan hanyalah memasang bio septic
tank dengan benar dan menggunakannya sesuai kapasitas yang dibawanya.
Pemasangan bio septic tank itu sendiri sangat mudah dilakukan. Dengan
demikian, anda juga akan lebih hemat waktu dan tenaga.

31
5. Bioseptic Tank System
Septic Tank Bio Adalah Septic Tank BioTechnology System Dengan
Memanfaatkan Sistem BioTechnology Sistem Pengolahan Limbah Domestik
Sehingga Tinja Akan Diolah Menjadi Cairan Yang Layak Buang Langsung ke
Got atau Saluran Drainase.
Septic tank Bio mempunyai 3 sekat dan Berbagai Media Seperti Honney
Comb – BioBall – Rumah Bakteri.

Pengolahan Air Limbah dengan menggunakan Septic Tank Bio


a. Limbah tinja masuk dari closet ke septic tank bio
b. Tinja akan melalui media filter yang di rancang khusus sehingga menjadi
lebih kecil
c. Tinja yang lebih kecil akan diurai dan dimangsa oleh bakteri yang ada di
dalam media ini serta akan di uraikan sampai habis sehingga yang keluar
nanti hanya air.

32
d. Air hasil olahan difilter / disaring kembali dengan media filter kedua
sehingga menjadi lebih ramah lingkungan sebelum dialirkan .
e. Air akan keluar melalui lubang outlet septic tank bio dan dapat dialirkan
langsung ke got umum, aman dan sangat ramah lingkungan karena
sebelum dialirkan ke saluran air atau got , air sudah melewati media
disinfectan sehingga bakteri-bakteri yang ada di dalam tinja sudah
terbunuh atau mati
6. Cara Memasang Tangki Bioseptic Tank
a. Tentukan lokasi tanah yang akan digali untuk menempatkan tangki septik.
Kemudian gali tanah lebih besar +60cm dari ukuran tangki biofilter.
b. Pada saat pemasangan kedalam lubang galian tangki harus dalam keadaan
kosong.
c. Perhatikan arah sambungan pipa dan lakukan penyeimbangan dengan pipa
dari WC. Sambungkan pipa inlet, outlet dan ventilasi.
d. Setelah posisi tangki septik seimbang, masukan air kedalam bio septik
hingga penuh, kemudian timbun pasir yang bercampur kerikil.
e. Masukan Bakteri pengurai dan tablet desinfektan setelah tangki
digunakan. ( Lakukan penambahan secara rutin 6 bulan sekali )
7. Kapasitas Bioseptic Tank
Bio Septic Tank terdiri dari dua kapasitas. Kapasitas untuk 6 dan
12 orang. Meski memiliki kapasitas yang berbeda, teknologi dan tahapan
pengolahan limbah toilet sama dan limbah tetap dapat dialirkan ke selokan
secara langsung.
Bio Septic Tank tipe PB 06 memiliki diameter 83 cm yang mampu
menampung limbah toilet 6 orang. Sedangkan tipe PB 12 memiliki
diameter 117 cm yang dapat menampung limbah toilet 12 orang. Meski
berbeda, limbah hasil pemrosesan tetap dapat dialirkan ke selokan secara
langsung.

33
8. Bioseptic Tank untuk Rumah Tangga
Hasil pembuangan biologis manusia dapat mencemari air tanah di
sekitarnya. Agar kualitas air dan udara tetap terjaga, Bio Septic Tank Pennyu akan
mengolah sisa pembuangan rumah tangga menjadi cairan yang ramah lingkungan.
9. Bioseptic Tank untuk Industri
Bio Septic Tank dari Pennyu mampu menampung limbah hingga 12 orang
sehingga meminimalisir pencemaran tanah dan lingkungan. Selain itu, produk
kami juga turut membantu mengurangi bau hasil produksi kedelai
10. Tipe-tipe Bioseptic Tank
a. Bioseptic Tank Tipe B
Septictank bio type b-series adalah “ Septic Tank Biological
Filter ” yang terbuat dari fiberglass berbentuk tangki yang di
lengkapi media biofilter sebagai penyaring dan penghancur tinja yang di
rancang khusus. Di lengkapi sistem disinfektan yang penggunaannya
dapat disesuaikan dengan kebutuhan sehingga buangannya tidak
menyebabkan pencemaran lingkungan.
Type bio berbentuk bulat dengan tampilan kasar luar seperti kulit
jeruk. type ini merupakan produksi yang paling murah.

34
b. Bioseptic Tank Tipe BCR
Type bcr mempunyai 3 model ukuran yang dapat dijadikan satu
sistem yaitu 4m3, 5m3 dan 6m3. Dalam penempatan ke lubang galian dapat
menggunakan sistem transfer atau paralel yang dapat disesuaikan dengan
lahan yang ada.
Selain sistem anaerob, model ini dapat juga diaplikasikan pada stp
with extended aeration atau ipal untuk hotel, restoran, rumah sakit,
apartemen, dll
Bioseptic Tank tipe BCR memiliki beberapa kelebihan dibanding
dengan model lain diantaranya :

35
 mampu menampung kapasitas besar
 mobilisasi lebih mudah
 ringan
 tidak membutuhkan crane dalam penempatan ke lubang

c. Bioseptic Tank Tipe BCX


Septic tank biomusi type BCX memiliki model capsul berlapis
serat filament wending sehingga menjadikan lebih kuat. Type ini dapat
dibuat dari ukuran kecil hingga besar.
Selain sistem anaerob, model ini dapat juga diaplikasikan pada stp
with extended aeration atau ipal untuk hotel, restoran, rumah sakit,
apartemen, dll.

36
d. Bioseptic Tank Tipe BHT
Bioseptic Tank type BHT memiliki model tidak jauh beda dengan
type bcx, hanya saja pada type bht permukaan luar tangki ini licin dan
lebih tebal. Sehingga pada penempatannya type ini dapat juga di letakan di
atas permukaan tanah
Selain sistem anaerob, model ini dapat juga diaplikasikan pada stp
with extended aeration atau ipal untuk hotel, restoran, rumah sakit,
apartemen, dll.

37
e. Bioseptic Tank Tipe BK

f. Bioseptic Tank Tipe RC


Septic tank bio type RC-series ini merupakan septic tank modern
yang didesign/dirancang muktahir, berdasarkan hasil riset dan penelitian
dari tenaga-tenaga ahli yang dimiliki. Sehingga septic tank ini sangat
cocok bagi yang sayang dan peduli terhadap lingkungan di sekitar
khususnya lingkungan di rumah agar terhindar dari kontaminasi bakteri
ecoli yang berbahaya bagi tubuh kita.

38
39
g. Bioseptic Tank Tipe RCK
Untuk type RCK model dan ukurannya sama dengan type RC,
yang membedakan adalah pada model rck memiliki permukaan luar yang
kasar seperti kulit jeruk. Disamping itu type rck lebih tipis dibandingkan
dengan type RC dan harganya lebih murah dibanding type RC.
O. Pengelolaan Limbah Domestik Dalam Rumah Tangga
Pengelolaan yang paling sederhana ialah pengelolaan dengan menggunakan pasir
dan benda-benda terapung melalui bak penangkap pasir dan saringan. Benda yang
melayang dapat dihilangkan oleh bak pengendap yang dibuat khusus untuk
menghilangkan minyak dan lemak. Lumpur dari bak pengendap pertama dibuat stabil
dalam bak pembusukan lumpur, di mana lumpur menjadi semakin pekat dan stabil,
kemudian dikeringkan dan dibuang.
Pengelolaan sekunder dibuat untuk menghilangkan zat organik melalui oksidasi
dengan menggunakan saringan khusus.Pengelolaan secara tersier hanya untuk
membersihkan saja. Cara pengelolaan yang digunakan tergantung keadaan setempat,
seperti sinar matahari, suhu yang tinggi di daerah tropis yang dapat dimanfaatkan.
Berikut ini adalah pengelolaan limbah rumah tangga untuk limbah cair, padat dan
gas.
1. Pengelolaan air limbah kakus I.
2. Pengelolaan air limbah kakus II.
3. Pengelolaan air limbah cucian.
4. Pembuatan saluran bekas mandi dan cuci.
5. Pengelolaan sampah.
6. Pengelolaan limbah industri rumah tangga.
7. Pengelolaan air limbah rumah tangga I
8. Pengelolaan air limbah rumah tangga II
9. Pengelolaan air limbah

Air limbah dialirkan melalui saluran ke drum dan air dalam drum akan disaring
dengan koral/ijuk ke luar, dan kemudian meresap ke dalam tanah.

a. Bahan :

40
 Drum
 Koral
 Kayu
 IjuK
 Pipa pralon
b. Peralatan
 Palu
 Besi runcing
 Cangkul
 Parang
 Gergaji
c. Pembuatan
Drum dilubangi dengan garis tengah 1 cm, jarak antara lubang 10 cm.
Pembuatan lubang di luar dapur dengan ukuran panjang, lebar dan dalam masing-
masing 110 cm. Di dasar lubang diberi koral/ijuk setebal 20 cm dan drum
dimasukkan ke dalam lobang tersebut. Sela-sela drum diselingi dengan koral/ijuk.
Kemudian dibuat saluran air limbah ukuran ½ bis, atau dari pasangan batu bata.
Drum ditutup dengan kayu/bambu atau kalau ingin lebih tahan lama dicor dengan
campuran semen dan pasir yang diberi penguat besi.

Kualitas Air Limbah Dosmetik

Limbah cair domestik (rumah tangga) merupakan limbah cair hasil buangan dari
perumahan (rumah tangga), bangunan perdagangan, perkantoran dan sarana sejenis.
Contoh limbah cair domestic adalah air deterjen sisa cucian, air sabun, dan air
tinja.Meningkatkan kegiatan manusia dalam rumah tangga mengakibatkan bertambahnya
jumlah limbah cair. Sumber limbah cair rumah tangga bersifat organic yaitu dari sisa-sia
makanan dan deterjen yang mengandung fosfor. Limbah cair dapat meningkatkan kadar
BOD (Biochemical Oxygen Demand) dan pH air. Keadaan tersebut menyebabkan
terjadinya pencemaran yang banyak menimbulkan kerugian bagi manusia dan
lingkungan.

41
Jenis – Jenis Unit Pengolahan Limbah Domestik.
1. Septictank
Sistem septictank sebenarnya adalah sumur rembesan atau sumur kotoran.
Septic tank merupakan sitem sanitasi yang terdiri dari pipa saluran dari kloset,
bak penampungan kotoran cair dan padat, bak resapan, serta pipa pelepasan air
bersih dan udara.
Hal-hal yang yang harus diperhatikan saat pembangunan septic tank agar
tidak mencemari air dan tanah sekitarnya adalah :
a. Jarak minimal dari sumur air bersih sekurangnya 10m
b. Untuk membuang air keluaran dari septic tank perlu dibuat daerah resapan
dengan lantai septictank dibuat miring kearah ruang lumpur antara lain
sebagai berikut :
 Septic tank direncanakan utuk pembuangan kotoran rumah tangga
dengan jumlah air limbah antara 100 – 200 liter/orang/hari dari
volume penggunaan air bersih.
 Waktu tinggal air limbah didalam tangki diperkirakan minimal ± 3
hari.
 Besarnya ruang lumpur diperkirakan untuk dapat menampung
lumpur yang dihasilkan setiap orang rata-rata 30-40
liter/orang/tahun dan waktu pengambilan lumpur diperhitungkan 5
tahun.
 Pipa air masuk kedalam tangki hendaknya selalu lebih tinggi
kurang lebih 2.5 cm dari pipa air keluar.
 Septic tank harus dilengkapi dengan lubang pemeriksaan dan
lubang penghawaan untuk membuang gas hasil penguraian.
 Proses pengolahan yang secara biologi dilakukan oleh mikro
organisme / bakteri pengurai.
c. Agar septic tank tidak mudah penuh dan mampat, awet dan tahan lama
perlu diperhatikan hal berikut :
 Kemiringan Pipa

42
Kemiringan pipa menentukan kelancaran proses
pembuangan limbah. Selisih ketinggian kloset dan permukaan air
bak penampung kotoran minimal 2 %, artinya setiap 100cm
terdapat perbedaan ketinggian 2cm.
 Pemilihan Pipa yang tepat
Pipa saluran sebaiknya berupa PVC. Ukuran minimal
adalah 4 inchi. Rumah yang memiliki jumlah toilet yang banyak
sebaiknya menggunakan pipa yang lebih besar. Perancangan
saluran diusahakan dibuat lurus tanpa belokan, karena belokan
atau sudut dapat membuat mampat.
 Sesuaikan Kapasitas Septic tank
Untuk rumah tinggal dengan jumlah penghuni empat orang,
cukup dibuat septic tank dengan ukuran (1.5×1.5×2)m. bak
endapan dan sumur resapan bias dibuat dengan ukuran (1x1x2)m.
semakin banyak penghuni rumah maka semakin besar ukuran yang
dibutuhkan.
 Bak Harus Kuat dan Kedap Air
Septic tank harus terbuat dari bahan yang tahan terhadap
korosi, rapat air dan tahan lama. Konstruksi septic tank harus kuat
menahan gaya-gaya yang timbul akibat tekanan air, tanah maupun
beban lainnya.

2. Sumur Resapan
Sumur Resapan Air merupakan rekayasa teknik konversi air yang berupa bangunan
yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk sumur gali dengan
kedalaman tertentu yang digunakan sebagai tempat penampung air hujan diatas atap
rumah dan meresapkannya ke dalam tanah.
Konstruksi Sumur Resapan Air (SRA) merupakan alternatif pilihan dalam mengatasi
banjir banjir dan menurunnya permukaan air tanah pada kawasan perumahan, karena
dengan pertimbangan :
 Pembuatan konstruksi SRA sederhana.

43
 Tidak memerlukan biaya yang besar
 Bentuk konstruksi SRA sederhana.

Manfaat pembangunan Sumur Resapan Air antara lain :

 Mengurangi aliran permukaan dan mencegah terjadinya genangan air, sehingga


mengurangi terjadinya banjir dan erosi
 Mempertahankan tinggi muka air tanah dan menambah persediaan air
 mencegah menurunnya lahan sebagai akibat pengambilan air tanah yang
berlebihan.
Metode Pembuatan Pengolahan Air Limbah Domestik
1. Metode Pembuatan Air Limbah Domestik secara Individual
a. Pengertian
Pengolahan individual adalah pengolahan air limbah yang dilakukan
secara sendiri-sendiri pada masing-masing rumah terhadap air limbah yang
dihasilkan, dengan diagram system penanganannya sebagai berikut :

b. Kriteria Perencanaan Pembuatan IPAL


Di dalam merancang IPAL domestik individual yang paling penting
adalah menetukan jumlah air limbah yang akan diolah. Cara yang paling
akurat adalah menghitung jumlah rata-rata air bersih sebenarnya yang
digunakan per hari. Atau dapat dilakukan dengan menetukan debit air limbah
perkapita. Selanjutnya menetukan besarnya polutan organik (BOD) inlet,
BOD air olahan yang diharapkan, efisiensi pengolahan serta beban
pengolahan atau waktu tinggal di dalam reaktor IPAL serta jenis proses yang
digunakan.

44
KRITERIA
PERENCANAAN
PARAMETER : NILA
I
Debit Air limbah per: 250 liter/org.hari
kapita
BOD Inlet : 250 mg/l
BOD Outlet : 50 mg/l
Efisiensi Penurunan BOD : 80 %
Waktu tinggal air :  1 – 3 hari Untuk Proses Anaerobik
limbah di dalam  Minimal 1 hari untuk proses Aerobik atau kombinasi
reaktor Anaerbik- Aerobik.
Jenis air limbah yang: Toilet, kamar mandi, air bekas cuci, dapur, wastafel dll.
diolah
Proses Anaerobik : Hanya menurunkan polutan organik (BOD, COD) dan
Padatan Tersuspensi (SS). Efluen BOD < 60 mg/l.
Proses Aerobik atau : menurunkan polutan organik (BOD, COD) dan Padatan
Kombinasi Proses Tersuspensi (SS), amoniak, sulfida, deterjen dll.). Efluen
Anaerobik- Aerobik BOD < 30 mg/l.
Kendala : Sistem ini memerlukan luas area tertentu sehingga tidak
sesuai untuk kawasan dengan kepadatan penduduk tinggi.
Kriteria Perencaan IPAL Domestik Individual

c. Cara Pemasangan IPAL Individual


1) Untuk IPAL Skala Rumah Tangga
 Air limbah toilet dialirkan langsung ke IPAL.
 Air limbah non toilet dialirkan ke bak kontrol, selanjutnya
dilairkan ke IPAL.
 Lubang outlet IPAL harus berada di atas saluran penerima.

45
Metode Pembuatan Pengolahan Air Domestik Secara Komunal
a. Pengertian
Pengolahan air limbah komunal adalah pengolahan air limbah yang
dilakukan pada suatu kawasan pemukiman, industri, perdagangan seperti
kota-kota besar, yang pada umumnya dilayani/dibuang melalui jaringan riool
kota untuk kemudian dialirkan menuju ke suatu Instalasi Pengolahan Air
Limbah dengan kapasitas besar. Diagram sistem penanganannya adalah
sebagai berikut :

b. Jenis-jenis Pengolahan Air Limbah Domestik Komunal


1) Pengolahan Limbah Grey Water Komunal
Pada pengelolaan grey water, masyarakat dapat membuat SPAL
besar yang tertanam di dekat tempat masyarakat biasa melakukan
akitifitas mencuci. Karena beberapa kampung di Indonesia, tidak
setiap rumah memiliki WC pribadi, sehingga keberadaan WC umum
menjadi tempat mandi sekaligus mencuci pakaian.
SPAL yang di buat demi kepentingan komunal, harus berukuran
besar, dan mampu menampung limbah yang di keluarkan oleh setiap
individu.
Limbah grey water akan ditempatkan terpisah dengan limbah black
water. berbeda dengan limbah black water, limbah grey water
komunal hanya menghasilkan air bersih pada proses akhir
penyaringan. Akan tetapi jika air hasil dari SPAL disterilkan kembali,

46
maka air tersebut dapat di pakai lagi untuk mencuci. Selain memakai
SPAL, warga dapat menanam tanaman yang mampu meyerap zat
pencemar disekitar selokan. Tanaman tersebut adalah bunga ungu,
lidi air, bunga coklat, melati air, dan lili air. Selain dapat menyerap zat
pencemar, lingkungan kampung akan akan semakin asri dengan
adanya tanaman.

2) Pengolahan Limbah Black Water Komunal


limbah black water tidak dapat disatukan, karena sifat limbah yang
berbeda. oleh karena itu black water tidak dapat memakai sistem
SPAL. Pada black water, pengelolaannya dapat dilakukan dengan
memakai system biogas. Biogas adalah energy alternative yang
berasal dari kotoran. Pada biogas, proses biologisnya dilakukan secara
anaerobic, tanpa oksigen, dan pada hasil akhirnya akan menghasilkan
gas yang dapat dipakai untuk memasak.
Limbah yang dapat dipakai dan diolah menjadi biogas adalah
kotoran manusia, limbah yang berasal dari pabrik tahu dan tempe,
kotoran dari hewan ternak serta rumah pemotongan hewan.
Pengolahan limbah black water sebagai energi alternatif, dapat
membantu meringkan pengeluaran warga.
Karena alat yang dibutuhan tidak mahal, dan perawatannya juga
tidak membutuhkan banyak waktu. Akan tetapi kekurangan dari
pengolahan black water adalah bau yang ditumbulkan. Sehingga

47
tangki penampungan limbah harus benar- benar tertutup rapat agar
bau tidak keluar.

2. Pengolahan Limbah Domestik Rumah Tangga


a. Pengolahan Limbah Grey Water
SPAL adalah salah satu solusi pengolahan limbah grey water.
SPAL adalah salah satu system pengolahan air limbah yang murah,
sederhana dan ramah lingkungan. Pada SPAL dibutuhkan dua bagian,
yaitu bak pengumpul dan tangki resapan. Pada bak pengumpul, di beri
ruang dengan sekat sebuah kassa. Sekat kassa ini bertugas menyaring dan
mengendapkan minyak, sampah dan pasir.
Pada tangki resapan, dipasang batu koral dan arang, untuk
menyering air, sehingga air yang keluar menjadi lebih bersih. cara kerja
dari SPAL adalah, air limbah akan masuk di dalam bak penampungan.
Pada bak penampungan, minyak, pasir, maupun sampah akan terendap di
dalam saringan kassa, sedangkan airnya akan jatuh ke dalam tangki
resapan. Di dalam tangki resapan, air akan keluar dengan terlebih dahulu
tersaring oleh arang dank oral, sehingga air yang keluar menjadi lebih
bersih.

48
b. Pengolahan Limbah Black Water
Sedangkan pada limbah domestic rumah tangga black water atau
yang berasal dari kotoran manusia, memerlukan sebuah septi tank. Limbah
dari grey water tidak dapat disatukan dengan limbah dari black water.
Karena sabun pada grey water dapat menyebabkan bakteri pengurai pada
septi tank akan mati. Septi tank yang baik adalah septi tank yang mampu
memberikan tempat bagi bakteri untuk tumbuh dan berkembang biak.
Salah satu teknologi septi tank adalah Biority. Keunggulan dari
biority adalah ukurannya yang tidak terlalu besar, ramah lingkungan,
material yang terbuat drai bahan yang tahan korosi, serta makai technocell.
Yaitu sebuah teknologi yang mampu memberikan ruang pada bakteri
pengurai untuk berkembang biak dan mempercepat sedimen lumpur. Serta
air buangan dari biority ini bersih, dan ramah lingkungan. Fungsi dari
bakteri pengurai pada septi tank adalah untuk mengurangi lumpur tinja
yang terbuang.

49
Tata cara perencanaan tangki septic tank dengan pengolahan lanjutan
1. Kriteria Perencanaan
a. Tangki Septic Tank Sistem Tercampur
Kriteria yang digunakan untuk merencanakan tangki septik sistem tercampur:
1. waktu detensi ( td ) : (2 - 3) hari
2. banyak lumpur (QL) : (30 - 40 ) L/orang/tahun;
3. periode pengurasan (PP) : (2 - 5 ) tahun;
4. pemakaian air : QL/orang/hari;
5. jumlah pemakai : n orang minimum 1 KK (5 orang);
6. perhitungan:
 debit air limbah(QA) = (60 - 80)% x q x n
 kapasitas tangki = (VA)+(VL)
 ruang pengendapan(VA) = (QA )x (td)
 ruang pengendapan = Ruang basah
= P x L x Tinggi ruang basah
 tinggi ruang basah = VA/ P x L
 volume lumpur VL = QL x n x PP
 tinggi ruang lumpur = VL/ P x L
 Tinggi total = tinggi ruang basah + tinggi lumpur + ambang bebas

50
b. Tangki Septic Tank Tercampur
Kriteria yang digunakan untuk merencanakan tangki septik sistem terpisah:
1. waktu detensi ( td ) : (2 - 3) hari
2. banyak lumpur (QL) : (30 - 40 ) L/orang/tahun;
3. periode pengurasan (PP) : (2 - 5 ) tahun;
4. pemakaian air : penggelontor = 20 L/orang/hari;
5. jumlah pemakai : n orang
6. perhitungan:
 debit air limbah(QA) = 20 L/orang/hari x n
 kapasitas tangki = (VA)+(VL)
 ruang pengendapan(VA) = (QA )x (td)
 ruang pengendapan = Ruang basah
= P x L x Tinggi ruang basah
 tinggi ruang basah = VA/ P x L
 volume lumpur VL = QL x n x PP
 tinggi ruang lumpur = VL/ P x L
 Tinggi total = tinggi ruang basah + tinggi lumpur + ambang bebas

2. Persyaratan Tangki Septictank


a. Bentuk dan ukuran tangki septik harus memenuhi ketentuan berikut:
 Tangki septik segi empat dengan perbandingan panjang dan lebar 2 : 1
sampai 3 : 1, lebar tangki septik minimal 0,75 m dan panjang tangki
septik minimal 1,50 m,tinggi tangki minimal 1,5 m termasuk ambang
batas 0,3 m.
 Bentuk tangki septik ditentukan dalam gambar 2 dan gambar 3,
sedangkan ukuran tangki septik berdasarkan jumlah pemakai dapat
dilihat pada Tabel

Ukuran tangki septik dengan periode pengurasan 3 tahun

51
Sistem tercampur Sistem terpisah

Pemakai Ukuran( m ) Ukuran ( m ) Volume


No Volume
(orang) total
P L T total ( m3) P L T
( m3 )

1 5 1,6 0,8 1,6 2,1

2 10 2,1 1,0 1,8 3,9 1,6 0,8 1,3 1,66

3 15 2,5 1,3 1,8 5,8 1,8 1,0 1,4 2,5

4 20 2,8 1,4 2 7,8 2,1 1,0 1,4 2,9

5 25 3,2 1,5 2 9,6 2,4 1,2 1,6 4,6

6 50 4,4 2,2 2 19,4 3,2 1,6 1,7 5,2

Keterangan : P= Panjang Tangki

L = Lebar Tangki

T = Tinggi Tangki

Bentuk Tangki Septictank

52
53
b. pipa penyalur air limbah rumah tangga harus memenuhi ketentuan berikut:
 diameter minimum 110 mm (4 in.) untuk pipa PVC;
 sambungan pipa antara tangki septik sistem pengolahan lanjutan harus
kedap air;
 kemiringan minimum ditetapkan 2 %;
 di setiap belokan yang melebihi 450 dan perubahan belokan 22,50 harus
dipasang lubang pembersih (clean out) untuk pengontrolan/pembersihan
pipa. Belokan 900 dilaksanakan dengan membuat dua kali belokan masing-
masing 450 atau menggunakan bak kontrol
c. pipa aliran masuk dan aliran keluar harus memenuhi ketentuan berikut:
 boleh berupa sambungan T atau sekat sesuai dengan Gambar 4;

54
 pipa aliran keluar diletakkan ( 63 – 110 ) mm lebih rendah dari pipa aliran
masuk;
 sambungan T atau sekat harus terbenam (200 - 315) mm dibawah
permukaan air dan menonjol minimal 160 mm diatas permukaan air
d. pipa udara harus memenuhi ketentuan berikut:
 tangki septik harus dilengkapi dengan pipa udara dengan diameter 63 mm
,tinggi minimal 250 mm dari permukaan tanah;
 ujung pipa udara perlu dilengkapi dengan pipa U atau pipa T sedemikian
rupa sehingga lubang pipa udara menghadap kebawah dan ditutup dengan
kawat kasa; Untuk mengurangi bau dapat ditambahkan serbuk arang yang
ditempatkan pada pipa U atau pipa T.

e. lubang pemeriksa harus memenuhi ketentuan berikut:


 tangki septik harus dilengkapi dengan lubang pemeriksa;
 permukaan lubang pemeriksa harus ditempatkan minimal 10 cm diatas
permukaan tanah;
 lubang pemeriksa yang berbentuk empat persegi dengan ukuran minimal
(0,40 x 0,40) m2, dan bentuk bulat dengan diameter minimal 0,4 m;
f. bahan bangunan yang digunakan untuk tangki septik harus memenuhi SNI -03-
6861.1-2002,

55
Dampak Pengolahan Air Limbah Domestik
Keberadaan limbah cair rumah tangga apabila tidak dikelola dengan baik akan
berpengaruh terhadap lingkungan, antara lain :
1. Pencemaran Pada Badan Air
Keberadaan limbah cair domestik / rumah tangga akan terus meningkat sesuai
dengan perkembangan jumlah penduduk, demikian juga limbah industri termasuk
industri rumah tangga mempunyai kontribusi yang cukup signifikan terhadap zat
pencemar organik pada badan-badan air.
Parameter BOD (Biochemical Oxigen Demand) adalah parameter yang digunakan
untuk tolok ukur kandungan senyawa organik yang dapat dirombak oleh
mikroorganisme. Tolok ukur ini dipilih karena kebutuhan oksigen untuk reaksi yang
dilakukan oleh sel ini setara dengan konsentrasi senyawa organik yang dirombak.
Perombakan ini akan terus berlangsung selama oksigen didalam air masih tersedia.
Hasil perombakan ini menghasilkan sel baru.
Jika air mengandung senyawa organik yang dapat dirombak oleh mikroorganisme,
maka peningkatan akan terjadi didalam air itu selama kandungan oksigen terlarut
dapat memenuhi kebutuhan untuk reaksi biokimiawi. Jadi nilai BOD yang tinggi dari
suatu limbah cair yang dibuang ke perairan alami akan menyusutkan kandungan
oksigen terlarut pada perairan itu.
2. Pencemaran Pada Tanah
Air limbah yang mencemari tanah dalam perjalanannya akan mengalami peristiwa
fisik mekanik, kimia, dan biologis. Peristiwa fisik mekanik yang terjadi karena adanya
distribusi larutan yang mengalir melalui pori-pori tanah yang tidak seragam, sehingga
terjadi efek penahanan oleh zat-zat padat dan pengendapan partikel-partikel padat
karena gaya berat. Peristiwa kimia terjadi penyebaran molekuler yang dihasilkan dari
potensi kimia, sedangkan proses biologis terjadi pada bahan pencemar organik yang
diuraikan oleh bakteri pembusuk.
Pada tanah kering gerakan bakteri horizontal ± 1 meter dan vertikal kebawah ± 3
meter.Pada tanah basah dengan kecepatan aliran tanah 1 – 3 meter perhari maka
gerakan atau perjalanan bakteri bersama aliran air secara horizontal mencapai
maksimum 11 meter dimana pada jarak 5 meter akan melebar maksimum 2 meter dan

56
kemudian menyempit kembali sampai jarak 11 meter. Adapun gerakan kebawah
tergantung dari kedalaman air limbah itu menembus kedalam tanah.
Gerakan pencemar bahan kimia dalam tanah secara horizontal mengikuti aliran air
akan melebar 9 meter pada jarak 25 meter dan menyempit lagi sampai jarak 95 meter.
Mengingat limbah cair rumah tangga kaya akan zat organik, maka jika debitnya
cukup besar, maka tingkat penetrasi di dalam tanah akan mencapai jarak yang cukup
jauh, sehingga berpotensi untuk mencemari air tanah / air sumur.
3. Air Limbah dan Kehidupan Vektor
Air limbah yang dibuang ke lingkungan baik di tanah atau pada badan air banyak
menimbulkan masalah vektor yaitu cocok untuk bersarang dan berkembang biaknya
nyamuk dan lalat. Tikus juga menyenangi tempat-tempat tersebut. Dengan demikian
akibat yang ditimbulkan selain mengganggu kenyamanan juga berpotensi terjadinya
penularan penyakit seperti penyakit perut, malaria, kecacingan dan lain-lain.

57
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Menurut Ehless dan Steel, Air limbah atau air buangan adalah sisa air dibuang
yang berasal dari rumah tangga, industri maupun tempat-tempat umum lainnya,
dan pada umumnya mengandung bahan-bahan atau zat-zat yang dapat
membahayakan bagi kesehatan manusia serta mangganggu lingkungan hidup
2. Klasifikasi air limbah dibagi menjadi 4 yaitu : limbah cair domestic,limbah cair
industri,air hujan,rembedan dan luapan
3. Parameter Air Limbah
Berikut adalah parameter yang dapat digunakan berkaitan dengan air limbah.
 Kandungan zat padat (total solid, suspending solid, dissolved solid)
 Kandungan zat organic
 Kandungan zat anorganik (mis; P, Pb, Cd, Mg)
 Kandungan gas (mis: O2, N, CO2)
 Kandungan bakteri (mis: E.coli)
 Kandungan pH
 Suhu
4. Tujuan Pengolahan Air Limbah
 Mencegah pencemaran pada sumber air rumah tangga.
 Melindungi hewan dan tanaman yang hidup didalam air.
 Menghindari pencemaran tanah permukaan.
 Menghilangkan tempat berkembangbiaknya bibit dan vektor penyakit.
5. Sistem pengolahan limbah cair yaitu primary treatment system,secondary
treatmen system dan tertiaty treatment
6. Bio Septic Tank, adalah septic tank yang mampu mengolah kotoran manusia
menjadi cair, tidak berbau, berwarna jernih, dan dengan proses yang cepat. Di
dalam Bio Septic Tank terdapat biofilter, yaitu alat yag dilengkapi dengan banyak
bakteri. Bakteri pada biofilter, berfungsi sebagai pengolah limbah dan
mengubahnya menjadi cair. Setelah itu, limbah kotoran manusia dirubah menjadi

58
bening dan tidak berbau setelah melalui pipa desinfektan. Adanya air dan tanah
yang tercemar tersebut tidak hanya dipicu oleh limbah sampah dan pabrik, namun
juga dapat berasal dari limbah kotoran manusia yang kurang bersih saat difilter
oleh septic tank biasa
7. Bio Septic Tank terdiri dari dua kapasitas. Kapasitas untuk 6 dan 12 orang. Meski
memiliki kapasitas yang berbeda, teknologi dan tahapan pengolahan limbah toilet
sama dan limbah tetap dapat dialirkan ke selokan secara langsung. Bio Septic
Tank tipe PB 06 memiliki diameter 83 cm yang mampu menampung limbah toilet
6 orang. Sedangkan tipe PB 12 memiliki diameter 117 cm yang dapat
menampung limbah toilet 12 orang. Meski berbeda, limbah hasil pemrosesan
tetap dapat dialirkan ke selokan secara langsung.

59