Anda di halaman 1dari 30

TUGAS KELOMPOK

METODE KHUSUS

DOSEN PENGAMPU: NISLAWATY, SST.M.Kes

OLEH:

JENNY FAMILI

MEILA ANUGERAH

RIKA JULIANA

RINA SEPTIANI

PRODI DIV KEBIDANAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS PAHLAWAN TUANKU TAMBUSAI

TP 2019- 2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan Rahmat
dan Karunia-nya sehingga makalah ini dapat kami selesaikan tepat pada waktunya. Kami juga
menghaturkan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah METODE KHUSUS yang telah
memberikan kesempatan kepada kami untuk menyusun makalah ini
Harapan kami semoga makalah dapat memberikan kontribusi positif bagi mata kuliah METODE
KHUSUS ini. Kami mengucapkan terima kasih terhadap semua pihak yang melakukan koreksi
dan memberikan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan makalah ini.

Bangkinang , 20 Oktober 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................................................... i

DAFTAR ISI.................................................................................... Error! Bookmark not defined.

BAB 1 ............................................................................................................................................. 1

PENDAHULUAN .......................................................................................................................... 1

1.1. LATAR BELAKANG....................................................................................................... 1

1.2 TUJUAN ............................................................................................................................. 1

BAB II............................................................................................................................................. 2

PEMBAHASAN ............................................................................................................................. 3

2.1. Perkembangan Pembelajaran Di Laboratorium ................................................................ 3

2.2. Tujuan Dan Kegunaan Pembelajaran Laboratorium ........................................................ 3

2.3. Metode Pembelajaran Di Laboratorim .............................................................................. 4

2.4. Cara Konvensional Pembelajaran Di Laboratorium ....................................................... 11

2.5. Peningkatan Pembelajaran Di Laboratorium ................................................................. 12

2.6. Pelaksanaan Pratikum .................................................................................................... 13

BAB III ......................................................................................................................................... 24

PENUTUP..................................................................................................................................... 24

3.1. KESIMPULAN ............................................................................................................... 25

3.2. SARAN .......................................................................................................................... 26

DAFTRA PUSTAKA ................................................................................................................... 26

ii
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Seperti layaknya pemahaman umum,yyang dimaksud laboratorium adalah suatu sarana
atau gedung yang dirancang khusus untuk melaksanakan pengukuran, penetapan, dan pengujian
untuk keperluan penelitian ilmiah dan praktik pembelajaran. Tetapi akhir –akhir ini analog
dengan batasan itu berbagai disiplin ilmu pengetahuan sering mangganggap bahwa lapangan
tempat mereka bekerja dan melakukan penelitian juga dianggap sebagai laboratorium.
Pembelajaran laboratorium merupakan proses pembelajaran termahal di antara proses
pembelajaran yang lain. Selain itu sebagian besar pembelajaran di laboratorium berhubungan
dengan peralatan yang mahal.
Dalam luasnya pengertian tentang laboratorium, maka dalam makalah ini terutama akan
diuraikan tentang seluk beluk laboratorium yang dirancang dan diatur secara khusus utuk
melaksanakan pekerjaan-pekerjaan ilmiah dam pembelajaran. Baik dalam bidang eksata maupun
non eksata.

1.2 TUJUAN
1.2.1. Tujuan umum
Memahami konsep pembelajaran pratika (laboratorium)

1.2.2. Tujuan khusus


1. Mahasiswa dapat memahami tentang perkembangan pembelajaran di
laboratorium
2. Mahasiswa dapat memahami tentang tujuan dan kegunaan pembelajaran
laboratorium
3. Mahasiswa dapat memahami tentang metode pembelajaran di laboratorim
4. Mahasiswa dapat memahami cara konvensional pembelajaran di laboratorium

1
5. Mahasiswa dapat memahami tentang peningkatan pembelajaran di laboratorium
6. Mahasiswa dapat memahami tentang pelaksanaan pratikum.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Perkembangan Pembelajaran Di Laboratorium


penggunaan laboratorium untuk sarana pembelajaran di Universitas mulai
diperkenalkan pada pertengahan abad sembilan belas dalam rangka mendukung meningkatnya
jumlah mahasiswa yang mempelajari ilmu pengetahuan alam dan teknologi. Beberapa penelitian
membandingkan pembelajaran di laboratorium dengan metoda pembelajaran yang lain
menunjukkan bahwa pratikum dilaboratorium lebih efektif untuk kemampuan pengamatan dan
keterampilan teknik

2.1.1 Tujuan Dan Kegunaan Pembelajaran Laboratorium


Dalam rangka mencapai tujuan yang bersifat multi dimensi dalam proses
pembelajaran di laboratorium, maka pembelajaran dilaboratorium sangat efektif
untuk mencapai tiga ranah secara bersama-sama , sebagai berikut

1. Keterampilan kognitif yang tinggi


a. Berlatih agar mendapatkan teori
b. Berlatih agar segi-segi teori yang berlainan dapat diintegrasikan
c. Berlatih agar teori dapat diterapakan pada permasalahan nyata

2. Keterampilan afektif
a. Belajar merencanakan kegiatan secara mandiri
b. Belajar bekerja sama
c. Belajar mengkomunikasikan informasi melalui bidangnnya
d. Belajar menghargai bidangnya

3. Keterampilan psikomotor
a. Belajar memasang peralatan sehingga betul-betul berjalan

3
b. Belajar memakai peralatan dan instrumen tertentu

4. Kegunaan pembelajaran di laboratorium


a. Mengajarkan materi teori yang tidak bisa diajarkan di tempat lain
b. Menyajikan danmenjelaskan bahan ajar
c. Menumbuhkembangkan bahan ajar
d. Meningkatkan kemampuandalam mengikuti petunjuk
e. Membiasakan mahasisiwa dengan peralatan dan perlengkapan pratikum
f. Membiasakan mahasisiwa merancang dan mengkontruksi peralatan percobaan
g. Meningkatkan keahlian pengamatan
h. Meningkatkan keahlian dalam mengumpulkan dan interprestasi data
i. Meningkatkan kemampuan menjelaskan hasil percobaan
j. Meningkatkan kemampuan menulis secara koheren dan argumentasi yang bagus
dan terarah

2.1.2 Metode Pembelajaran Di Laboratorim


Pembelajaran di laboratorium merupakan salah satu proses pembelajaran melalui
pendekatan pengalaman, karenanya para dosen/instruktur perlu memberi bimbingan terhadap
mahasiswa dalam melakukan pratikum agar mahasiswa dapat mengungkapkan percobaan
mereka secara kritis dan dapat menggali kemandirian untuk menemukan sesuatu.

Pean dosen/ instruktur dan mahasiswa dalam memperoleh pengalaman dalam proses
pembelajaran dituliskan sebagai berikut :

4
Mahasiswa Dosen/instruktur
 Secara aktif mencari pengalaman  Merencanakan dna membagi tugas-
 Menggambarkan/menguji ide dan tugas
asumsi-asumsi  Mengamati, memberi umpan balik,
 Membagi pengalaman, menjelaskan, membimbing dan membantu
memilih cara kerja  Memberi bantuan jika diperlujkan
 Membangun rasa percaya diri dan membantu menghubungkan dengan
kenyataan
 Mendorong, mendukung, dan
memastikan

Prinsip dasar pembelajaran di laboratorium adalah mahasisiwa belajar sendiri dan saling
belajar dengan mahasisiwa lain dalam tim. Meskipun secara prinsip dalam pembelajaran di
laboratorium mahasisiwa belajar dengan cara mereka sendiri, tetapi dosen menyediakan
percobaan, tugas, instruksi, dan petunjuk pelaksanaan.

2.1.3. Penggunaan Papan Tulis

Perencanaan proses pembelajaran yang disusun oleh para guru selalu mencantumkan
media papan tulis di tiap-tiap kelas. Walaupun penggunaan media pembelajaran sudah mulai maju
seperti menggunakan projektor, tetapi penggunaan papan tulis masih tetap disediakan di ruang
pembelajaran. Papan tulis yang disediakan juga bervariasi pada tiap sekolah. Bentuk yang
tradisional adalah menggunakan papan tulis hitam. Sedangkan versi yang lebih baru adalah papan
tulis putih atau whiteboard. Penggunaan papan tulis untuk media pembelajaran juga dilengkapi
dengan alat tulis seperti kapur atau spidol, serta penggunaan penggaris. Papan tulis tidak hanya
berperan sebagai media pembelajaran, tetapi juga dapat dikatakan sebagai alat pembelajaran serta
pembelajar, karena papan tulis merupakan media untuk menyampaikan informasi atau materi
pembelajaran.

5
Manfaat Penggunaan Papan Tulis

a. Dapat digunakan untuk menjelaskan hal-hal yang sesaat seperti ketika ada peserta
didik yang mengajukan pertanyaan.
b. Tidak perlu melakukan persiapan yang lama untuk membuat bahan pembelajaran
c. Dapat dimanfaatkan di berbagai tingkatan jenjang pendidikan, mulai pendidikan
dasar sampai perguruan tinggi.
d. Digunakan untuk memperjelas materi pembelajaran yang belum terlalu dipahami
oleh peserta didik.
e. Dapat dimanfaatkan dengan mudah untuk keperluan guru dan juga keperluan
siswa.

Kerugian Penggunaan Papan Tulis

a. Debu dari kapur papan tulis bisa mengganggu kesehatan, terutama saluran
pernafasan.
b. Beberapa pengajar kurang menyukai media papan tulis jika mereka kurang
percaya diri dengan bentuk tulisannya.
c. Tampilan yang kurang menarik sehingga dapat membuat peserta belajar jenuh.
d. Kurang efektif jika digunakan untuk menyampaikan materi yang cukup banyak.
e. Seringkali pembelajar kurang leluasa saat melihat materi yang disampaikan oleh
pendidik karena beberapa sisi papan tulis yang kerap terhalang.
f. Tidak cukup praktis jika digunakan sebagai media pembelajaran karena pengguna
papan tulis harus senantiasa membersihkan sebelum dan sesudah penggunaan.
g. Siswa harus segera mencatat materi yang dituliskan di papan tulis, terutama jika
materi yang disampaikan cukup banyak sehingga harus segera menghapus dan
melanjutkan dengan tulisan baru.

2.1.4. Ruang Lingkup Media Pembelajaran Infokus

Infokus merupakan alat output yang berfungsi untuk menampilkan gambar atau visual hasil
pemrosesan dan data komputer. Infokus memerlukan objek lain sebagai media penerima pancaran
signal gambar yang dipancarkan, biasanya dinding putih, whiteboard ataupun kain atau layar putih

6
yang dibentangkan dan media datar lainnya. Biasanya infokus digunakan untuk memaparkan
materi dalam presentasi.

Media pembelajaran adalah segala bentuk teknologi yang digunakan sebagai penghantar
ilmu kepada peserta didik. media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang digunakan dalam
kegiatan belajar-mengajar agar dapat merangsang pikiran, perasaan, minat, dan perhatian siswa
sehingga interaksi komunikasi edukasi antara guru dan siswa dapat berlangsung tepat guna dan
berdaya guna. Media pembelajaran ini akan membantu guru dalam mengkomunikasikan materi-
materi yang akan diajarkan.Media pembelajaran ini sangat penting bagi setiap proses
pembelajaran, dimana kegiatan belajar-mengajar tanpa media pembelajaran akan terlihat monoton,
sehingga sebagian besar siswa akan mengalami kebosanan.

Melalui media pembelajaran, siswa akan antusias dalam belajarnya, serta akan menjadikan
pembelajaran yang bermakna, menurut Ausubel, bahan subjek yang dipelajari siswa mestilah
“bermakna” (meaningfull). Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengaitkan
informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang.
Struktur kognitif ialah fakta-fakta, konsep-konsep, dan generalisasi-generalisasi yang telah
disiswai dan diingat siswa.

Infokus guru dan media pembelajaran merupakan suatu satu-kesatuan, dimana satu sama
lainnya memiliki hubungan yang tidak bisa terpisahkan. Dalam pembelajaran, seorang guru
memerlukan media pembelajaran yang tujuannya membantu agar siswa lebih dapat mengerti akan
suatu konsep yang akan diberikan oleh guru. Media pembelajaran yang digunakan guru ini harus
sesuai, harus selaras dengan materi apa yang akan di berikan kepada siswa. Media pembelajaran
ini beragam, mulai dari yang bersifat audio, visual, dan audio-visual. infokus merupakan salah satu
bentuk alat elektronik yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran oleh guru. Penggunaan
infokus sebagi media pembelajaran ini mempunyai kelebihan dan kekurangannya, diantaranya
sebagai berikut:

Kelebihan infokus sebagai media pembelajaran:

a. Dapat digunakan untuk semua bidang studi


b. Infokus dapat memancarkan berbagai jenis bahan audio-visual termasuk gambar
diam, film, objek, spesimen, drama.

7
c. Infokus ukuran tampilannya dapat disesuaikanl besar atau kecilnya.

Kelemahan infokus sebagai media pembelajaran:

a. Dalam penggunaanya harus memerlukan perangkat lain


b. Harus digunakan dalam ruangan yang digelapkan supaya tampilan lebih jelas
terlihat.
2.1.5. Papan lembar balik (flip chart)

Papan lembar balik merupakan papan tulis yang ditempeli dengan lembar-lembar kertas lebar dan
disatukan dengan penjepit di ujung atas papan. Papan lembar balik ini cocok digunakan bila konsep
yang dibahas perlu dilihat berulang-ulang. Dengan papn ini guru tidakperlu berulang kali menulis
atau menggambar karena guru dapat membalik lembaran-lembaran kertas untuk kembali kepada
materi yan sedang dibahas. Sebagai salah satu media pembelajaran, papan balik (Flipchart)
mempunyai beberapa kelebihan. Menurut Susilana.dkk (2009:88) kelebihan tersebut diantaranya:
a. Mampu menyajikan pesan pembelajaran secaramringkas dan praktis yaitu Mampu
menyajikan pesanpembelajaran secara ringkas dan praktis karena pada umumnya
berukuran sedang lebih kecil dari standart ukuran whiteboard, maka pesan pembelajaran
disajikan secara ringkas mencakup pokok-pokok materi pembelajaran. Hal ini penting
dilakukan dalam pembelajaran dimana pokok-pokok sajian informasi Penerapan Media
Papan Balik (Flipchart) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Sekolah Dasar 5
disajikan melalui media presentasi yang bertujuan untuk memfokuskan perhatian siswa
dan membimbing alur materi yang disajikan.
b. Dapat digunakan di dalam ruangan atau luar ruangan yaitu media ini tidak menggunakan
arus listrik sehingga jika harus digunakan di luar ruangan yang tidak ada saluran listrik
tidak jadi masalah.
c. Bahan pem``buatan relatif murah yaitu Bahandasar pembuatan papan balik (Flipchart)
adalah kertas sebagai media untuk menuangkan gagasan ide dan informasi pembelajaran.
Media papan balik (Flipchart) juga mempunyai beberapa kelemahan. Menurut Indriana (2011:67)
beberapa kelemahan media papan balik (Flipchart) antara lain sebagai berikut:
a. Hanya bisa digunakan untuk kelompok siswa yang berisi sekitar 30 orang

8
b. Penyajiaanya harus disesuaikan dengan jumlah dan jarak maksimum siswa yang melihat
media papan balik (Flipchart)
c. Tidak tahan lama karena bahan dasar pembuatan Flipchart adalah kertas. Sebelum
menggunakan media pembelajaran papan balik (Flipchart) langkah awal yang harus
dilakukan adalah mendesain media papan balik (Flipchart). Cara mendesain media
pembelajaran papan balik (Flipchart) menurut Susilana,dkk. (2009: 89) antara lain sebagai
berikut: (1) Tentukan tujuan pembelajaran yaitu Seperti pada umumnya dalam pembuatan
media pembelajaran, langkah pertama adalah menentukan tujuan.

Cara menggunakan papan balik (Flipchart) menurut Susilana,dkk. (2009: 93) antara lain
sebagai berikut:
a. Mempersiapkan diri yaitu Dalam hal ini guru perlu menguasai bahan
pembelajaran dengan baik, memiliki
keterampilan untuk menggunakan media tersebut. Untukmemperlancar lakukan berulang-
ulang meski tidak
langsung dihadapan siswa. Siapkan alat dan bahan yang mungkin diperlukan.
b. Penempatan yang tepat yaitu
Perhatikan posisi penampilan, atau sedemikian rupa sehingga dapat dilihat dengan baik
oleh semua siswa yang ada di ruangan kelas tersebut.
c. Pengaturan siswa yaitu yaitu Untuk hasil yang lebih baik, perlu pengaturan siswa
misalnya siswa dibentuk menjadi setengah lingkaran. Perhatikan juga siswa dengan baik
agar memperoleh pandangan yang baik.
d. Perkenalkan pokok materi yaitu Materi yang disajikan terlebih dahulu
diperkenalkan kepada siswa pada saat awal membuka pembelajaran. Cara yang dapat
dilakukan misalnya dengan bercerita atau mengkaitkan pembelajaran dengan kejadian
yang ada di lingkungan.
e. Sajikan gambar yaitu Setelah masuk pada materi, mulailah memperlihatkan
lembaran-lembaran papan balik (Flipchart) dan berikanlah keterangan yang cukup.
Gunakan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami siswa.

2.1.6. STUDENT CENTRED LEARNING (SCL)

9
SCL merupakan strategi pembelajaran yang menempatkan mahasiswa sebagai peserta
didik (subyek) aktif dan mandiri, dengan kondisi psikologik sebagai adult learner,
bertanggung jawab sepenuhnya atas pembelajarannya, serta mampu belajar beyond the
classroom. Kelak, para alumni diharapkan memiliki dan menghayati karakteristik life-
long learning yang menguasai hard skills, soft skills, dan life-skills yang saling mendukung. Di
sisi lain, para dosen beralih fungsi, dari pengajar menjadi mitra pembelajaran maupun sebagai
fasilitator (from mentor in the center to guide on the side).

Materi dan model penyampaian pembelajaran dalam SCL secara lengkap meliputi
3 aspek, yaitu (a) isi ilmu pengetahuan (IPTEK), (b) sikap mental dan etika yang
dikembangkan, dan (c) nilai-nilai yang diinternalisasikan kepada para mahasiswa. Di dalam
proses SCL terdapat hubungan “tarik-menarik” antara learner support dan learner control.

Taksonomi intelligent tutoring systems meliputi hubungan fungsional dosen terhadap


mahasiswa (tutor, penasihat, kritik, memberi bantuan, konsultan, agen) dan aktivitas dosen
(mengajar, membimbing, memberi visualisasi, menjelaskan, memberi kritik, beradu pendapat, dan
bahkan “menghambat ”). Memperhatikan taksonomi tadi maka dosen yang terlibat di dalam proses
pembelajaran yang berorientasi SCL perlu memiliki kompetensi yang sesuai dengan proses yang
sedang berjalan. Di lain pihak, penanggung jawab institusi terdepan perlu memperhatikan seluruh
aspek yang terkait dan terlibat dalam proses pembelajaran (lihat gambar) agar seluruh kebijakan
(policy) didasarkan untuk menjamin terselenggaranya proses pembelajaran secara kondusif,
efisien, dan efektif. Didalam proses SCL bukan hanya kompetensi dosen yang harus meningkat,
tetapi perubahan paradigma dan mindset adalah merupakan hal utama. Berkaitan dengan
perubahan mindset, Jordan & Spencer menyatakan bahwa “… student-centered learning demands
that not only that teachers are experts in their fields but also – and more importantly -that they
understand how people learn”. Lebih jauh Harmon dan Hirumi menegaskan bahwa “ …because of
new emerging technologies such as networking and rapid access to vast stores of knowledge, the
students can become active seekers rather than passive

10
2.1.7. Cara Konvensional Pembelajaran Di Laboratorium

a. Peragaan (Demonstration)
Peragaan umumnya dirancang untuk mengilustrasikan garis besar prinsip-prinsip
teoritik dalam perkuliahan. Peragaan sebaiknya dilakukan secara singkat di akhir kuliah. Dengan
peragaan ini prinsip-prinsip yang berkaitan denga materi perkuliahan dapat tidak mudah
dilupakan. Oleh karena itu peragaan sebaiknya dilakukan diawal kuliah, karena prinsip-prinsip
dari materi tersebut belum diketahui oleh mahasiswa.

b. Latihan (exercises)
Latihan adalah percobaan terstruktur agar mahasiswa dapat mengikuti suatu instruksi
dengan tepat, memperoleh kemampuan observasi,dan menjadi terampil. Latihan
dimaksudkan juga untuk menjelaskan teori dan dengan sarana yang relatif terbatas dapat
menanmkan informasi ilmu pengetahuan baru. Latihan yang diulang-ulang secara terus menerus
dimaksudkan agar mahasiswa dapat mengerti tujuan pembelajaran tersebut.
1. Penyelidikan terstruktur (structured enquiries)
Penyelidikan terstruktur merupakan bagian dari percobaan terstruktur dimana
mahasiswa diminta mengembangkan prosedur sendiri danmenginterpretasikan hasilnya. Mereka
harus terampil dalam pemecahan masalah juga terampil dalam interpretasi, observasi, dan
pekerjaan tangan.
2. Penyelidikan secara terbuka (open ended enquries)
Penyelidkan secara terbuka dimaksudkan agar mahasiswa dapat mengidentifikasi
sebuah problema, memformulasikan penyelesaian, mengembangkan/menyusun pelaksanan
percobaan, menginterpretasikan hasil dan mengetahui penerapannya. Pembelajaran ini
dimaksudkan untuk lebih meingkatkan keterampilan pemecahan masalah dengan derajat lebih
tinggi dan untuk peningkatan kaeahlian meneliti dengan derajat yang lebih rendah.
3. Proyek (project)
Proyek didasarkan pada percobaan jangka waktu panjang. Belajar dilapangan, atau
rangkaian percobaan yang biasanya sebagai tugas akhir untuk syarat lulus.

11
2.1.8. Peningkatan Pembelajaran Di Laboratorium
Menurut Brown and Atkins (1988) ada 5 kategori yang diperlu diperhatikan dalam peningkatan
pembelajaran di laboratorium, yaitu
a. Tujuan atau sasaran
Tujuan dan sasaran dari setiap sesi pratikum perlu dirumuskan dengan jelas. Hal ini untuk
meminimalisasikan kemungkinan terjadi suatu keadaan yaitu sasaran yang kurang penting
tercapai tetapi sasaran yang penting tidak tercapai.
b. Petunjuk pelaksanaan
Petunjuk/perintah pelaksanaan kegiatan harus jelas dan tidak membingingkan. Hal ini
harus dirancang agar mahasisw dapat menangkap dengan jelas gambaran penting tentang
peralatan atau bahan-bahan yang diperlukan.
c. Asisten laboratorium terlatih
Asisten laboratorium perlu terlatih sehingga mampu melaksanakan tugas dengan baik. Tugas
asisten laboratorium adalah membantu mahasiswa dalam melakukan kegiatan sebagai
berikut :
1. Melaksanakan kegiatan sesuai dengan petunjuk
2. Menyelesaikan permasalan yang muncul
3. Mengatur peralatan
4. Memeriksa fungsi peralatan
5. Mendapatkan, mengamati, dan mencatat hasil percobaan
6. Mencatat metode atau hasil
7. Menghubungkan hasil percobaan dengan dasar-dasar teori atau dengan
hasil percobaan lainnya.

d. Cara memfasilitasi
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, metode pembelajaran di laboratorium sedapat mungkin
membuat mahasiswa belajar mansiri dan saling belajar dengan temannya. Banyak cara untuk
memfasilitasi hal tersebut dapat tercapai.

2.1.9. Pertanyaan dan daftar pengecekan untuk evaluasi diri

12
Mahasiswa harus didorong untuk membaca dan berfikir tentang semua aspek aktivitas di
laboratorim. Daftar pengecekan untuk evaluasi diri dapat digunakan sebagai alat bantu yang
sangat berguna dalam hal peningkatan pembelajaran di laboratorium. Hal ini dapat
digunakan oleh mahasiswa untuk menguji apakah tugas telah dilakukan dengan benar.

2.6. Pelaksanaan Pratikum


1. Rencana pembelajaran pratikum
Dalam pembelajaran pratikum diperlukan prosedur yang disusun secara logis dan
sesuai untuk melatih keterampilan, agar tujuan benar-benar dapat tercapai.
2. Metodologi pratikum
Metode pratikum mencakup semua kegiatan yang harus dipelajari dalam pratikum.
Mahasiswa harus melaksanakan tugas-tugas pratikum secara berangsur meningkat dalam
kesukaran. Dengan tugas-tugas tersebut mahasiswa melatih diri. Dalam berlatih mahasiswa akan
memerlukan petunjuk-petunjuk yang heuristik.
3. Penyusunan tugas problema
Suatu tuga pratikum harus mencakup suatu problema pada tingkat kemampuan mahasiswa,
yang memungkinkan melatih semua keterampilan yang penting dalam pratikum tersebut.
Kemampuan mahasiswa berbeda maka suatu tugas tidak dapat sesuai untuk semua mahasiswa.
Karena itu, para asisten harus menyesuaikannya, misalnya suatu tugas dapat dibuat lebih mudah
atau lebih sukar.
4. Organisasi pratikum
Pratikum harus berhubungan dengan teori yang sudah dipelajari, yang bertujuan untuk
mendalaminya.
5. Bimbingan pada pratikum
Pelalsanaan pratikum memerliakn organisasi yang baik dan cara bimbingan yang tepat,
sehingga mahasiswa apat belajar dari kesalahannya. Terutama bimbingan harus diarahkan agar
mahasiswa sibuk secara sadar. Bimbingan hanya akan berjalan baik, bila kelompok
mahasiswa tidak terlalu besar.

2.2. Pengertian Evaluasi Pembelajaran

13
Secara harafiah evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berarti penilaian atau
penaksiran (John M. Echols dan Hasan Shadily: 1983). Menurut Stufflebeam, dkk. (1971)
mendefinisikan evaluasi sebagai “The process of delineating, obtaining, and providing useful
information for judging decision alternatives”. Artinya evaluasi merupakan proses
menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk merumuskan suatu
alternativekeputusan.
Guba dan Lincoln (Hamid Hasan, 1988) mendefinisikan evaluasi itu merupakan suatu proses
memberikan pertimbangan mengenai nilai dan arti sesuatu yang dipertimbangkan. Sesuatu yang
dipertimbangkan itu bisa berupa orang, benda, kegiatan, keadaan, atau sesuatu kesatuan tertentu.
Evaluasi menurut Kumano (2001) merupakan penilaian terhadap data yang dikumpulkan
melalui kegiatan asesmen. Sementara itu menurut Calongesi (1995) evaluasi adalah suatu
keputusan tentang nilai berdasarkan hasil pengukuran. Sejalan dengan pengertian tersebut. Zainul
dan Nasution (2001) menyatakan bahwa evaluasi dapat dinyatakan sebagai suatu proses
pengambilan keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil
belajar, baik yang menggunakan instrumen tes maupun non tes.
Menurut Bloom dan kawan-kawan dalam buku yang terkenal, yaitu Handbook Onformative
and Summative Evaluation of Student Learning yang khusus membicarakan evaluasi hasil belajar.
Evaluasi adalah pengumpulan bukti-bukti yang cukup untuk dijadikan dasar dalam menetapkan
ada atau tidak perubahan-perubahan dan tingkat perubahan yang terjadi pada diri anak didik. Dari
penjelasan di atas disimpulkan bahwa evaluasi adalah suatu kegiatan pengumpulan data mengenai
belajar yang dilakukan secara sistematis dan menurut prosedur tertentu untuk dapat memberikan
arti mengenai berbagai aspek belajar yaitu aspek perolehan dalam belajar.
Secara garis besar dapat dikatakan bahwa evaluasi adalah pemberian nilai terhadap kualitas
sesuatu. Selain dari itu, evaluasi juga dapat dipandang sebagai proses merencanakan, memperoleh,
dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif-alternatif keputusan.
Dengan demikian, Evaluasi merupakan suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau
membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa
(Purwanto, 2002).
Arikunto (2003) mengungkapkan bahwa evaluasi adalah serangkaian kegiatan yang
ditujukan untuk mengukur keberhasilan program pendidikan. Tayibnapis (2000) dalam hal ini

14
lebih meninjau pengertian evaluasi program dalam konteks tujuan yaitu sebagai proses menilai
sampai sejauhmana tujuan pendidikan dapat dicapai.
Dalam sistem pembelajaran (maksudnya pembelajaran sebagai suatu sistem), evaluasi
merupakan salah komponen penting dan tahap yang harus ditempuh oleh guru untuk mengetahui
keefektifan pembelajaran. Hasil yang diperoleh dapat dijadikan balikan (feed-
back) bagi guru dalam memperbaiki dan menyempurnakan program dan kegiatan
pembelajaran. Di sekolah, Anda sering mendengar bahwa guru sering memberikan ulangan harian,
ujian akhir semester, ujian blok, tagihan, tes tertulis, tes lisan, tes tindakan, dan sebagainya. Istilah-
istilah ini pada dasarnya merupakan bagian dari sistem evaluasi itu sendiri.
Sesuai pendapat Grondlund dan Linn (1990) mengatakan bahwa evaluasi pembelajaran
adalah suatu proses mengumpulkan, menganalisis dan menginterpretasi informasi secara
sistematik untuk menetapkan sejauh mana ketercapaian tujuan pembelajaran. Untuk memeperoleh
informasi yang tepat dalam kegiatan evaluasi dilakukan melalui kegiatan pengukuran. Pengukuran
merupakan suatu proses pemberian skor atau angka-angka terhadap suatu keadaan atau gejala
berdasarkan aturan-aturan tertentu. Dengan demikian terdapat kaitan yang erat antara pengukuran
(measurment) dan evaluasi (evaluation) kegiatan pengukuran merupakan dasar dalam kegiatan
evaluasi.
Dengan demikian, pengertian evaluasi pembelajaran adalah suatu proses
atau kegiatan yang sistematis, berkelanjutan dan menyeluruh dalam rangka pengendalian,
penjaminan dan penetapan kualitas (nilai dan arti)
pembelajaran terhadap berbagai komponen pembelajaran, berdasarkan
pertimbangan dan kriteria tertentu, sebagai bentuk pertanggungjawaban guru
dalam melaksanakan pembelajaran.
2.2.1. Jenis-Jenis Evaluasi Pembelajaran
Dilihat dari pengertian, tujuan, fungsi, prosedur dan sistem pembelajaran, maka pada
hakikatnya pembelajaran adalah suatu program. Artinya, evaluasi yang digunakan dalam
pembelajaran adalah evaluasi program, bukan penilaian
hasil belajar. Penilaian hasil belajar hanya merupakan bagian dari evaluasi pembelajaran.
Sebagai suatu program, evaluasi pembelajaran dibagi menjadi lima jenis, yaitu :
a.Evaluasi perencanaan dan pengembangan. Hasil evaluasi ini sangat
diperlukan untuk mendisain program pembelajaran. Sasaran utamanya

15
adalah memberikan bantuan tahap awal dalam penyusunan program pembelajaran. Persoalan
yang disoroti menyangkut tentang kelayakan dan kebutuhan. Hasil evaluasi ini dapat meramalkan
kemungkinan implementasi program dan tercapainya keberhasilan program pembelajaran.
Pelaksanaan evaluasi dilakukan sebelum program sebenarnya disusun dan dikembangkan.
b. Evaluasi monitoring, yaitu untuk memeriksa apakah program pembelajaran mencapai
sasaran secara efektif dan apakah program pembelajaran terlaksana
sebagaimana mestinya. Hasil evaluasi ini sangat baik untuk mengetahui
kemungkinan pemborosan sumber-sumber dan waktu pelaksanaan pembelajaran, sehingga
dapat dihindarkan.
c. Evaluasi dampak, yaitu untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan oleh suatu program
pembelajaran. Dampak ini dapat diukur berdasarkan kriteria keberhasilan sebagai indikator
ketercapaian tujuan program pembelajaran.
d. Evaluasi efisiensi-ekonomis, yaitu untuk menilai tingkat efisiensi program
pembelajaran. Untuk itu, diperlukan perbandingan antara jumlah biaya,
tenaga dan waktu yang diperlukan dalam program pembelajaran dengan program lainnya
yang memiliki tujuan yang sama.
e. Evaluasi program komprehensif, yaitu untuk menilai program pembelajaran secara
menyeluruh, seperti pelaksanaan program, dampak program, tingkat keefektifan dan
efisiensi.Sedangkan penilaian proses dan hasil belajar, dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu
penilaian formatif, penilaian sumatif, penilaian diagnostik, dan penilaian penempatan.
Adapun pembagian lain dari jenis-jenis evaluasi pembelajaran dapat dibagi kedalam
bagian-bagian sebagai berikut:
1) Jenis evaluasi berdasarkan tujuan dibedakan atas lima jenis evaluasi:
a. Evaluasi diagnostik, evaluasi yang ditujukan untuk menelaah kelemahan-kelemahan
siswa beserta faktor-faktor penyebabnya.
b. Evaluasi selektif, adalah evaluasi yang digunakan untuk memilih siswa yang paling tepat
sesuai dengan kriteria program kegiatan tertentu.
c. Evaluasi penempatan, adalah evaluasi yang digunakan untuk menempatkan siswa dalam
program pendidikan yang sesuai dengan karakteristik siswa.
d. Evaluasi formatif, adalah evaluasi yang dilaksanakan untuk memperbaiki dan
meningkatkan proses belajar mengajar.

16
e. Evaluasi sumatif, adalah evaluasi yang dilakukan untuk menentukan hasil dan kemajuan
berkarya siswa.

2) Jenis evaluasi berdasarkan sasaran, di bagi menjadi tiga bagian yaitu:


a. Evaluasi konteks, adalah evaluasi yang ditujukan untuk mengukur konteks program baik
mengenai rasional tujuan, latar belakang program, maupun kebutuhan –kebutuhan yang muncul
dalam perencanaan.
b. Evaluasi input, adalah evaluasi yang ditujukan untuk meihat proses pelaksanaan, baik
mengenai kelancaraan proses, kesesuain dengan rencana, faktor pendukung dan faktor hambatan
yang muncul dalam proses pelaksanaan.
c. Evaluasi hasil atau produk, adalah evaluasi yang diarahkan untuk melihat proses hasil
program yang dicapai sebagai dasar untuk menentukan keputusan akhir, diperbaiki, dimodifikasi,
ditingkatkan, atau dihentikan.

3) Jenis evaluasi berdasarkan lingkup pembelajaran, dibagi menjadi tiga bagian, yaitu sebagai
berikut:
a. Evaluasi program pembelajaran, adalah evaluasi yang mencakup terhadap tujuan
pembelajaran, isi program pembelajaran, starategi belajar, aspek-aspek program pemebelajaran
yang lain.
b. Evaluasi proses pembelajaran, adalah evaluasi yang mencakup kesesuain antara proses
pembelajaran dengan garis besar pembelajaran yang ditetepkan, kemampuan guru dalam
melaksanakan proses pembelajaran, kemampuan siswa mengikuti proses pembelajaran.
c. Evaluasi hasil pembelajaran, adalah evaluasi yang mencakup tingkat penguasaan siswa
terhadap tujuan pembelajaran yang ditetapkan, baik umum maupun khusus, ditinjau dari aspek
afektif dan psikomotorik.

2.2.2. Cara Mengevaluasi Setiap Ranah atau Domain


1. Langkah-Langkah Evaluasi Pembelajaran
Adapun langkah-langkah dalam pelaksanaan evaluasi pembelajaran adalah sebagai berikut:
a) Langkah Perencanaan

17
Tidak akan berlebihan kiranya kalau diketahui di sini bahwa, sukses yang akan dapat dicapai
oleh suatu program evaluasi telah turut ditentukan oleh memadai atau tidaknya langkah-langkah
yang dilaksanakan dalam perencanaan ini. Sukses atau tidaknya suatu program evaluasi pada
hakikatnya turut menentukan oleh baik tidaknya perencanaan. Makin sempurna kita melakukan
langkah pokok perencanaan ini makin sedikitlah kesulitan-kesulitan yang akan kita jumpai dalam
melaksanakan langkah-langkah berikutnya.

b) Langkah Pengumpulan Data


Soal pertama yang kita hadapi dalam melakukan langkah ini ialah menentukandata apa saja
yang kita butuhkan untuk melakukan tugas evaluasi yang kita butuhkan untuk melakukan tugas
evaluasi yang kita hadapi dengan baik. Kalau kita rangkumkan kembali uraiannya maka kita dapat
jalan pikiran yaitu rumusan tentang tugas kita sebagai seorang pengajar dalam suatu usaha
pendidikan menghasilkan ketentuan-ketentuan tentang tujuan yang harus kita capai dengan materi
yang kita ajarkan.

c) Langkah Penelitian Data


Data yang telah terkumpul harus disaring lebih dahulu sebelum diolah lebih lanjut, proses
penyaringan ini kita sebut penelitian data atau verifikasi data dan maksudnya ialah untuk
memisahkan data yang “baik” yang akan dapat memperjelas gambaran yang akan kita peroleh
mengenai individu yang sedang kita evaluasi, dari data yang kurang baik yang hanya akan merusak
atau mengaburkan gambaran yang akan kita peroleh apa bila turut kita olah juga. Oleh karna
itu kita selalu menyadari baik buruknya setiap data yang kita pergunakan untuk memperoleh data
langsung dari orang yang bersangkutan oleh karena itu dalam evaluasi yang baik, kkita selalu
berusaha untuk hanya mempergunakan alat-alat yang sebaik-baiknya yang tersedia bagi kita.

d) Langkah-Langkah Pengolahan Data


Langkah pengolahan data dilakukan untuk memberikan “makna” terhadap data yang pada kita.
Jadi hal ini berarti bakwa tanpa kita olah, dan diatur lebih dulu data itu sebenarnya tidak dapat
menceritakan suatu apapun kepada kita. Sering sekali seorang memiliki data yang cukup lengkap
tentang seorang murid atau sekelompok murid yang sedang dievalusinya tetapi karena ia kurang
pandai mengolah data yang dimilikinya tadi tidak banyaklah arti atau makna yang dapat

18
dikeluarkannya dari datanya. Fungsi pengolahan data dalam proses evaluasi yang perlu disadari
benar-benar pada tarafmemperoleh gambaran yang selengkap-lengkapnya tentang diri orang yang
sedang di evaluasi.

e) Langkah Penafsiran Data


Kalau kita perhatikan segenap uraian yang telah di sajikan mengenai langkah data tadi akan
segera tampak pada kita bahwa memisahkan langkah penafsiran dari langkah pengolahan
sebenarnya merupakan suatu pemisahan yang terlalu dibuat-buat. Memang dalam praktek kedua
langkah ini tidak dipisah-pisahkan kalau kita melakukan suatu pengolahan terhadap sekumpulan
data, dengan sendirinya kita akan memperoleh “tafsir” makna data yang kita hadapi.

f) Langkah Meningkatkan Daya Serap Peserta Didik


Hasil pemikiran memiliki fungsi utama untuk memperbaiki tingkat penguasaan peserta didik.
Hasil pengukuran secara umum dapat dikatakan bisa membantu, memperjelas tujuan instruksional,
menentukan kebutuhan peserta didik, dan menentukan keberhasilan peserta didik dalam suatu
proses pembelajaran.

g) Laporan Hasil Penelitian


Pada akhir penggal waktu proses pembelajaran, antara lain akhir catur wulan, akhir semester,
akhir tahun ajaran, akhir jenjang per sekolahan, diperlukan suatu laporan kemajuan peserta didik,
yang selanjutnya merupakan laporan kemajuan sekolah. Laporan ini akan memberikan bukti
sejauh mana pendidikan yang diharapkan oleh anggota masyarakat khususnya orang tua peserta
didik dapat tercapai.

2. Cara Evaluasi Setiap Ranah atau Domain


a. Kognitif
Tujuan aspek kognitif berorientasi pada kemampuan berpikir yang mencakup kemampuan
intelektual yang lebih sederhana, yaitu mengingat, sampai pada kemampuan memecahkan masalah
yang menuntut siswa untuk menghubungkan dan menggabungkan beberapa ide, gagasan, metode,
atau prosedur yang dipelajari untuk memecahkan masalah tersebut. Dengan demikian aspek

19
kognitif adalah subtaksonomi yang mengungkapkan tentang kegiatan mental yang sering berawal
dari tingkat pengetahuan sampai ke tingkat yang paling tinggi yaitu evaluasi.
Aplikasi aspek kognitif pada pengembangan keterampilan berbahasa dan bersastra.
TINGKAT DESKRIPSI APLIKASI
Pengetahuan ( Siswa mampu Menyampaikan persetujuan,
Knowledge) mengingat berbagai sanggahan, dan penolakan
informasi yang pendapat dengan disertai
diterima bukti/alasan (SMP kelas VIII,
smt 2)
Pemahaman Kemampuan untuk Menemukan gagasan utama
(Comprehension) menjelaskan (SMP kelas VII, smt 2)
pengetahuan,
informasi yang telah
diketahui dengan
kata-kata sendiri
Penerapan Menerapkan Menulis pantun sesuai dengan
(Application) informasi ke dalam syarat-syarat pantun (SMP
situasi yang baru kelas VII, smt 1)
Analisis Kemampuan Menemukan pokok-pokok
(Analysis) mengidentifikasi, berita (5W+1H) yang didengar
memisahkan dan melalui radio/televisi (SMP
membedakan elemen kelas VIII, smt 2)
suatu fakta.
Sintesis Mengaitkan dan Mengungkapkan hal yang
(Synthesis) menyatukan berbagai dapat dipelajari dari buku
elemen sehingga biografi (SMP kelas VII, smt 2)
terbentuk pola baru
yang menyeluruh.

20
Evaluasi Mampu mebuat Mengevaluasi pemeran tokoh
(Evaluation) penilaian dan dalam pementasan drama Seorang guru
keputusan tentang (SMP kelas VIII, smt 1) dituntut
nilai suatu gagasan, mendesain
metode, dengan
menggunakan kriteria
tertentu.
program rencana pembelajaran termasuk di dalamnya rencana penilaian (tes) diantaranya
membuat soal-soal berdasarkan kisi-kisi soal yang telah ditetapkan. Bentuk tes kognitif
diantaranya; (1) tes atau pertanyaan lisan, (2) pilihan ganda, (3) uraian obyektif, (4) uraian bebas,
(5) jawaban atau isian singkat, (6) menjodohkan, (7) portofolio, dan (8) performans.

b. Afektif
Tujuan dilaksanakannya penilaian hasil relajar afektif ádalah untuk mengetahui capaian
hasil belajar dalam hal penguasaan domain afektif dari kompetensi yang diharapkan dikuasai oleh
setiap peserta didik setelah kegiatan pembelajaran berlangsung. Teknik pengukuran dan penilaian
hasil belajar afektif terdiri atas dua yakni teknik testing, yaitu penilaian yang menggunakan tes
sebagai alat ukurnya, dan teknik non- testing, yaitu teknik penilaian yang menggunakan bukan tes
sebagai alat ukurnya.
Kompetensi siswa dalam ranah afektif yang perlu dinilai utamanya menyangkut sikap dan
minat siswa dalam belajar. Secara teknis penilaian ranah afektif dilakukan melalui dua hal yaitu:
a) laporan diri oleh siswa yang biasanya dilakukan dengan pengisian angket anonim, b)
pengamatan sistematis oleh guru terhadap afektif siswa dan perlu lembar pengamatan.

Ranah afektif tidak dapat diukur seperti halnya ranah kognitif, karena dalam ranah afektif
kemampuan yang diukur adalah:
1. Menerima (memperhatikan), meliputi kepekaan terhadap kondisi, gejala, kesadaran, kerelaan,
mengarahkan perhatian.
2. Merespon, meliputi merespon secara diam-diam, bersedia merespon, merasa puas dalam
merespon, mematuhi peraturan.

21
3. Menghargai, meliputi menerima suatu nilai, mengutamakan suatu nilai, komitmen terhadap
nilai.
4. Mengorganisasi, meliputi mengkonseptualisasikan nilai, memahami hubungan abstrak,
mengorganisasi sistem suatu nilai.

Karakteristik suatu nilai, meliputi falsafah hidup dan sistem nilai yang dianutnya.
Contohnya mengamati tingkah laku siswa selama mengikuti proses belajar mengajar berlangsung.
Skala yang sering digunakan dalam instrumen (alat) penilaian afektif adalah Skala Thurstone,
Skala Likert, dan Skala Beda Semantik.
Contoh Skala Thurstone: Minat terhadap pelajaran Bahasa Indonesia
7 6 5 4 3 2 1
Saya senang balajar Bahasa Indonesia
Pelajaran Bahasa Indonesia bermanfaat
Pelajaran Bahasa
Indonesia membosankan
Dst….

Contoh Skala Likert: Minat terhadap pelajaran Bahasa Indonesia


1. Pelajaran Bahasa Indonesia bermanfaat SS S TS STS
2. Pelajaran Bahasa Indonesia sulit
3. Tidak semua harus belajar Bahasa Indonesia
4. Sekolah saya menyenangkan
Keterangan:
SS : Sangat setuju
S : Setuju
TS : Tidak setuju
STS : Sangat tidak setuju

Contoh Lembar Penilaian Diri Siswa


Minat Membaca

22
Nama Pembelajar:_____________________________
No Deskripsi Ya/Tidak
Saya lebih suka membaca dibandingkan dengan
1
melakukan hal-hal lain
Banyak yang dapat saya ambil hikmah dari buku yang
2
saya baca
3 Saya lebih banyak membaca untuk waktu luang saya
4 Dst…………..

c. Psikomotor
Dalam penilaian hasil belajar psikomotor atau keterampilan harus mencakup persiapan,
proses, dan produk. Penilaian dapat dilakukan pada saat proses berlangsung yaitu pada waktu
peserta didik melakukan praktik, atau sesudah proses berlangsung dengan cara mengetes peserta
didik.Penilaian psikomotorik dapat dilakukan dengan menggunakan observasi atau pengamatan.
Dengan kata lain, observasi dapat mengukur atau menilai hasil dan proses belajar atau
psikomotorik. Misalnya tingkah laku peserta didik ketika praktik,kegiatan diskusi peserta didik,
partisipasi peserta didik dalam simulasi, dan penggunaan alins ketika belajar. Tes untuk mengukur
ranah psikomotorik adalah tes untuk mengukur penampilan atau kinerja (performance) yang telah
dikuasai oleh peserta didik.
Ranah ketrampilan motorik atau psikomotor dapat diartikan sebagai serangkaian gerakan otot-
otot yang terpadu untuk dapat menyelesaikan suatu tugas. Sejak lahir manusia memperoleh
ketrampilan-ketrampilan yang meliputi gerakan-gerakan otot yang terpadu atau terkoordinasi
mulai yang paling sederhana misalnya berjalan, sampai ke hal yang lebih rumit ; berlari, memanjat,
dan sebaginya. Akan tetapi ketrampilan motor atau psikomotorik yang diperlukan oleh seorang
tenaga profesional seperti mengemudi mobil, berenang, mengambil darah dari pembuluh vena,
mengajar, harus dikembangkan secara sadar melalui suatu proses pendidikan. Ranah psikomotor
(dalam Subyantoro, 2008) terdiri atas persepsi, kesiapan melakukan pekerjaan, mekanisme,
respons terbimbing, kemahiran, adaptasi, dan organisasi.
Penilaian ketrampilan psikomotor memang lebih rumit dan subjektif dibandingkan dengan
penilaian dalam aspek kognitif. Karena penilaian ketrampilan psikomotor memerlukan teknik
pengamatan dengan keterandalan (reliabilitas) yang tinggi terhadap demensi-demensi yang akan

23
diukur. Sebab bila tidak demikian unsur subjektivitas menjadi sangat dominan. Oleh karenanya
upaya untuk menjabarkan ketrampilan psikomotor ke dalam demensi-demensinya melalui analisis
tugas (Task analyisis) merupakan langkah penting sebelum melakukan pengukuran. Dengan
analisis tugas itu akan dapat dipelajari ciri-ciri demensi itu dan dapat tidaknya demensi itu untuk
diobservasi dan diukur.

Tahap penilaian keterampilan sebagai berikut.


1) Penyusunan Instrumen
a) Tahap Analisis Tugas : upaya untuk menjabarkan ketrampilan psikomotor kedalam
demensi-demensinya, ini merupakan langkah penting sebelum melakukan pengukuran. Dengan
analisis tugas akan dapat dipelajari ciri-ciri demensi itu dan dapat tidaknya demensi itu untuk
diobservasi dan diukur.
b) Tahap penentuan Dimensi Psikomotorik : disini demensi diartikan sebagai komponen
penyusun suatu ketrampilan yang dapat diamati dan diukur. Agar demensi dapat diukur harus
memenuhi syarat sebagai berikut : demensi itu harus secara umum didapatkan pada suatu
kelompok benda atau manusia, demensi itu harus dapat memberikan data sensorik yang dapat
ditangkap oleh indera manusia, demensi itu harus dapat dirumuskan dengan jelas, demensi itu
harus memiliki nilai variasi, demensi itu harus dapat memberikan respons yang mirip pada
berbagai pengamat yang berbeda.
Instrumen atau Alat ukur ketrampilan psikomotor:
a. Daftar Cek (check list)
b. Skala Nilai (Rating Scale)
c. Catatan Anekdotal (Anecdotal record),dll.

BAB III

PENUTUP

24
3.1. KESIMPULAN
3.1.1. Perkembangan Pembelajaran Di Laboratorium
penggunaan laboratorium untuk sarana pembelajaran di Universitas mulai diperkenalkan
pada pertengahan abad sembilan belas dalam rangka mendukung meningkatnya jumlah
mahasiswa yang mempelajari ilmu pengetahuan alam dan teknologi. Beberapa penelitian
membandingkan pembelajaran di laboratorium dengan metoda pembelajaran yang lain
menunjukkan bahwa pratikum dilaboratorium lebih efektif untuk kemampuan pengamatan dan
keterampilan teknik.

3.1.2. Tujuan Dan Kegunaan Pembelajaran Laboratorium


Meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam pengalaman nyata yang tercipta dari
pembelajaran laboratorium.

3.1.3. Metode Pembelajaran Di Laboratorim


Pembelajaran di laboratorium merupakan salah satu proses pembelajaran melalui
pendekatan pengalaman, karenanya para dosen/instruktur perlu memberi bimbingan terhadap
mahasiswa dalam melakukan pratikum agar mahasiswa dapat mengungkapkan percobaan
mereka secara kritis dan dapat menggali kemandirian untuk menemukan sesuatu.

3.1.4. Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa evaluasi adalah suatu
kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan suatu objek dengan menggunakan instrumen
dan hasilnya dibandingkan dengan suatu tolak ukur untuk memperoleh suatu
kesimpulan. Sedangkan jika berbicara mengenai pembelajaran, evaluasi pembelajaran
adalah suatu proses atau kegiatan yang sistematis, berkelanjutan dan menyeluruh dalam
rangka pengendalian, penjaminan dan penetapan kualitas (nilai dan arti)
pembelajaran terhadap berbagai komponen pembelajaran, berdasarkan
pertimbangan dan kriteria tertentu, sebagai bentuk pertanggung jawaban guru
dalam melaksanakan pembelajaran.
Sebagai suatu program, evaluasi pembelajaran dibagi menjadi lima jenis, yaitu :
1. Evaluasi perencanaan dan pengembangan.
2. Evaluasi monitoring.

25
3. Evaluasi dampak.
4. Evaluasi efisiensi-ekonomis.
5. Evaluasi program komprehensif.
Dalam kegiatan evaluasi, evaluasi hasil belajar kognitif dapat dilakukan dengan menggunakan tes
objektif maupun tes uraian. Teknik pengukuran dan penilaian hasil belajar afektif terdiri atas dua
yakni teknik testing, yaitu penilaian yang menggunakan tes sebagai alat ukurnya, dan
teknik. Penilaian psikomotorik dapat dilakukan dengan menggunakan observasi atau pengamatan.

3.2. SARAN
Karena pembelajaran dengan hanya penjelasan kurang efektif terhadap proses belajar
mengajar maka pembelajaran pratika (laboratorium) bisa menjadi pendamping untuk teori
sehingga teori dapat diterapkan secara langsung. Pengalaman langsung tersebut dapat melatih
keahlian mahasiswa menjadi lebih baik.

DAFTRA PUSTAKA

Brown and Atkins, 1998, Effective teaching in Hingher Education, London: Marthuen, 1998.
Direktorat Pendidikan Tinggi, 1982, Pratikum, Jakarta

26
Djuli Onggo, PhD, 2002 http://www.chem.itb/safety/tim keselamatan kerja Departeman
Kimia,Institute Technology Bandung.
Hachette, 1998, Le Dictionnaire Pratique du Francais, hlm. 621

27