Anda di halaman 1dari 12

BAB IV

STRUKTUR GEOLOGI

4.1 Struktur Geologi Regional

Batuan tertua yang tersingkap di daerah ini adalah sedimen flysch Formasi

Marada, berumur Kapur Atas. Asosiasi batuannya memberikan petunjuk suatu

endapan lereng bawah laut, ketika Kegiatan magma berkembang menjadi suatu

gunungapi pada waktu kira-kira 63 juta tahun, dan menghasilkan Batuan

Gunungapi Terpropilitkan. Lembah Walanae di lembar Pangkajene dan

Watampone Bagian Barat sebelah utaranya menerus ke Lembar Ujung Pandang,

Benteng dan Sinjai, melalui Sinjai di pesisir timur Lembah ini memisahkan batuan

berumur Eosen yaitu sedimen klastika Formasi Salo Kalupang di sebelah timur

dan sedimen karbonat Formasi Tonasa di sebelah baratnya. Rupanya pada Kala

Eosen daerah sebelah barat Lembah Walanae menampakkan suatu paparan laut

dangkal, dan daerah sebelah timurnya merupakan suatu cekungan sedimentasi

dekat daratan. Paparan laut dangkal Eosen meluas hampir ke seluruh daerah

lembar peta, yang buktinya ditunjukkan oleh sebaran Formasi Tonasa di sebelah

barat Barru, sebelah timur Maros dan di sekitar Takalar. Endapan paparan

berkembang selama Eosen sampai Miosen Tengah. Sedimentasi klastika di

sebelah timur Lembah Walanae rupanya berhenti pada Akhir Oligosen, dan

diikuti oleh kegiatan gunungapi yang menghasilkan Formasi Kalamiseng.

Akhir dari pada kegiatan gunungapi Eosen Awal diikuti oleh tektonik yang

menyebabkan terjadinya pemulaan terban Walanae. yang kemudian menjadi

cekungan di mana Formasi Walanae terbentuk. Peristiwa ini kemungkinan besar

70
71

berlangsung sejak awal Miosen Tengah dan menurun perlahan selama sedimentasi

sampai kala Pliosen.

Menurunnya cekungan Walanae dibarengi oleh kegiatan gunungapi yang

terjadi secara luas di sebelah baratnya dan mungkin secara lokal di sebelah

timurnya. Peristiwa ini terjadi selama Miosen Tengah sampai Pliosen. Semula

gunungapinya terjadi di bawah muka laut, dan kemungkinan sebagian muncul di

permukaan pada kala Pliosen. Kegiatan gunungapi selama Miosen meghasilkan

Formasi Camba, dan selama Pliosen menghasilkan Batuan Gunungapi Baturape-

Cindako. Kelompok retas basal berbentuk radier memusat ke G. Cindako dan G.

Baturape, terjadinya mungkin berhubungan dengan gerakan mengkubah pada kala

Pliosen. Kegiatan gunungapi di daerah ini masih berlangsung sampai dengan kala

Plistosen, meghasilkan Batuan Gunungapi Lompobatang. Berhentinya kegiatan

magma pada akhir Plistosen, diikuti oleh suatu tektonik yang menghasilkan sesar-

sesar en echelon (merencong) yang melalui G. Lompobatang berarah utara-

selatan. Sesar-sesar en echelon mungkin sebagai akibat dari suatu gerakan

mendatar dekstral dari pada batuan alas di bawah Lembah Walanae. Sejak kala

Pliosen pesisir- barat ujung lengan Sulawesi Selatan ini merupakan dataran stabil,

yang pada kala Holosen hanya terjadi endapan aluvium dari rawa-rawa.

4.2 Struktur Geologi Daerah Penelitian

Pembahasan mengenai struktur geologi pada lokasi daerah penelitian

menjelaskan tentang pola struktur geologi, identifikasi jenis struktur, umur dari

struktur yang dihubungkan dengan stratigrafi daerah penelitian dan interpretasi

mekanisme gaya yang menyebabkan terjadinya struktur pada daerah penelitian.


72

Penentuan struktur geologi yang bekerja pada daerah penelitian berdasarkan data

struktur primer dan data struktur sekunder serta interpretasi kontur pada peta

topografi.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di lapangan maka diperoleh data

penciri struktur berupa data kekar, kedudukan batuan yang kemiringannya

bertolak belakang dan mata air. Melalui data penciri struktur yang ditemukan di

lapangan tersebut maka dapat diasumsikan struktur geologi yang berkembang

pada daerah penelitian berupa:

1. Struktur lipatan

2. Struktur kekar

3. Struktur sesar

4.2.1 Struktur Lipatan

Menurut Lisle (2004), lipatan adalah sebuah permukaan geologi yang

berbentuk kurva. Bentuk pelengkungan yang terjadi pada suatu benda atau

material tersebut disebabkan oleh dua mekanisme (Asikin, 1979), yaitu buckling

dan bending.

 Buckling (melipat) adalah lipatan yang disebabkan gaya tekanan yang arahnya

sejajar permukaan lempeng.

 Bending (pelengkungan) adalah pelengkungan yang arah gayanya tegak lurus

permukaan lempeng.

Selama seabad terakhir terminologi yang cukup rinci telah dikembangkan

untuk mendeterminasi aspek geometri dari lipatan. Banyak teori yang berdasarkan

pada kenampakan lipatan yang diamati di penampang vertical yang tegak lurus
73

terhadap strike axial plane dari lipatan. Penamaan struktur lipatan pada

penampang terutama didasari pada sikap atau posisi axial plane dan limb

(Billings, 1946).

Untuk pengamatan struktur lipatan pada daerah penelitian digunakan

metode pengambilan data lapangan secara langsung. Pola kedudukan batuan pada

peta menampakkan secara jelas adanya struktur perlipatan pada daerah penelitian

yang selanjutnya digunakan metode busur lingkaran menurut Higgins (1962)

untuk penentuan sumbu lipatan. Pengambilan data dilakukan dengan melihat

kedudukan yang bertolak belakang seperti pada daerah Dumpu yaitu pada stasiun

16 dengan stasiun 56 (Tabel 4.1).

Tabel 4.1 Data hasil pengolahan lipatan


Limb Kiri Limb Kanan Axial Line Axial Plane
No.
Strike
Strike Dip Dip Direction Plunge Strike
(N…°E) Dip (°)
(N…°E) (°) (°) (N…°E) (°) (N…°E)
1 295 15 95 22 102 3 282 89

2 95 22 291 19 102 3 282 84

σ1 σ1

A B
Gambar 4.1 Hasil Analisis Lipatan dengan Menggunakan Aplikasi Stereonet Window
pada daerah Dumpu (A) dan Lamantang (B).
74

Hasil analisis yang dilakukan menunjukan bahwa terjadi struktur lipatan

berupa lipatan antiklin (Dumpu) dan sinklin (Lamantang) pada litologi Tufa Halus

yang diakibatkan oleh tegasan maksimum (σ1) (N 1950E/220) yang bekerja pada

daerah penelitian.

4.2.2 Struktur Kekar

Batuan secara karakteristik merekah oleh retakan-retakan halus yang

dikenali sebagai kekar. Kekar merupakan rekahan pada batuan dimana tidak ada

atau sedikit sekali mengalami pergeseran (Billings,1968). Kekar dapat disebabkan

oleh gejala tektonik maupun nontektonik. Jika suatu batuan terus mengalami gaya

hingga melebihi batas elastisitasnya, maka akan terbentuk struktur kekar pada

batuan tersebut.

Kekar terdapat pada Basal di daerah sungai Salu Lakahang (Gambar 4.2)

dan juga pada daerah sungai Salu Kalukku (Gambar 4.3).


75

Gambar 4.2 Kekar pada litologi batuan beku Basalt di daerah Manyingkulu dengan arah
foto N 30 oE.

Gambar 4.3 Kekar pada litologi Tufa Kasar di Sungai Kaloro Dampang Kayu dengan
arah foto N 16 oE.

Kekar ini pada umumnya memiliki bukaan antara 0.1 cm - 1 cm. Jarak

antara kekar antara lain 2 cm - 30 cm, dimana kekar-kekarnya tampak saling

berpotongan. Kedua kekar tersebut memiliki genetik yang berbeda jika dilihat dari

bentuk/jenis dari kekarnya. Kekar pada Basal Porfiri secara genetis merupakan

extension joint yang umumnya terbentuk pada saat pembekuan batuan beku

ekstrusif (lava) sedangkan kekar pada Tufa Kasar secara genetis merupakan kekar

gerus atau shear joint yang terbentuk akibat dari adanya gaya tektonik.

Untuk menentukan arah tegasan utama yang bekerja dan mengontrol

struktur geologi yang berkembang pada daerah penelitian maka dilakukan

pengambilan data kekar berupa pengukuran kedudukan sebanyak 33 kali di daerah

sungai kaloro Dampang kayu. Pengambilan sampel kekar sebanyak ini dilakukan

agar data kekar yang telah diukur dapat mewakili singkapan yang dijumpai.
76

Setelah itu, dilakukan analisis data kekar menggunakan aplikasi stereonet.

Adapun hasil analisa data kekar tersebut sebagai berikut.

Tabel 4.2 Hasil pengukuran kedudukan kekar di daerah sungai kaloro Dampang Kayu
Strike/dip Strike/dip
No (N...OE/…) No (N...OE/…)
Strike Dip Strike Dip
1 296 52 18 47 66
2 287 60 19 8 58
3 295 59 20 10 66
4 287 58 21 232 56
5 291 61 22 294 64
6 290 61 23 264 63
7 310 57 24 290 57
8 249 57 25 298 58
9 223 53 26 34 59
10 290 64 27 216 42
11 317 61 28 205 53
12 15 62 29 354 56
13 10 65 30 223 64
14 27 62 31 60 60
15 7 63 32 81 55
16 26 61 33 129 64
17 84 61

Berikut ini merupakan hasil analisis data kekar dengan menggunakan

metode streografis (aplikasi stereonet window).

σ2

σ3

σ1

A B C

Gambar 4.4 Hasil pengukuran kekar di daerah sungai kaloro Dampang Kayu ; A. Kontur
populasi data kekar ; B. Analisis Tegasan; C. Arah Tegasan.
77

Arah tegasan pada sungai kaloro Dampang kayu berarah Selatan

Menenggara ke Utara Barat Laut dengan tegasan maksimum (σ1) (N 1520E/50),

tegasan menengah (σ2) (N 520E/560), dan tegasan minimum (σ3) (N 2420E/350).

4.2.3 Struktur Sesar

Dalam analisis stress dalam penelitian ini baik analisis manual maupun

analisis dengan program komputer digunakan pendekatan teori Anderson’s.

Dikenal ada tiga sumbu utama (principal stress) dalam analisis stress

hubungannya dengan sesar. Merujuk pada teori Anderson’s menerangkan bahwa

sesar terjadi dipermukaan bumi menujukkan tiga kombinasi arah utama gaya

(force) seperti diilustrasikan pada gambar 4.5 (van der pluijm dan Marshak, 2004;

Fossen, 2010). Sesar turun terbentuk ketika σ2 dan σ3 dalam posisi horizontal dan

σ1 adalah vertikal, sesar naik (thrust) terbentuk dimana σ1 dan σ2 pada posisi

horisontal dan σ3 vertikal (Gambar 4.5). Sedangkan sesar geser (strike-slip)

terbentuk ketika σ1 dan σ3 pada posisi horizontal dan σ2 vertikal. Lebih lanjut

bahwa dip sebuah sesar naik (thrust fault) harus sekitar 30° dan sesar turun

(normal fault) lebih vertikal atau kemiringannya sekitar 60°, sedangkan sesar naik

bidang sesarnya harus vertikal.


78

Gambar 4.5 Ilustrasi asumsi teori Anderson untuk prediksi sesar. a) Sesar turun dengan
bidang kemiringan tinggi, b) Sesar naik atau thrust fault dengan bidang
kemiringan landai, c) Sesar geser dengan bidang kemiringan vertikal. (van
der pluijm dan Marshak, 2004).

Gambar 4.6 Stereogram yang menggambarkan struktur dinamik asumsi dari teori
Anderson untuk analisis sesar (Ragan, 2009).
Keberadaan struktur dapat dikenali melalui indikasi atau ciri berdasarkan

kenampakan langsung di lapangan, kenampangan morfologi, serta interpretasi

pada peta topografi. Dari kenampakan morfologi secara langsung di lapangan

serta pada peta topografi, struktur sesar dapat ditunjukkan oleh adanya pelurusan

sungai, pergeseran aliran sungai (offset stream), kelokan sungai yang sangat

tajam, pergeseran punggung bukit (offset ridge), serta perbandingan kerapatan

kontur yang mencolok. Sedangkan pada pengamatan singkapan di lapangan,

struktur sesar dicirikan oleh mata air, zona hancuran, perubahan kedudukan

batuan, dan pergeseran batas litologi.

Berdasarkan pengolahan data kekar yang dilakukan dengan

menggunakan bantuan aplikasi stereonet yang di korelasikan dengan principal

stress oleh Anderson (1951) dan terhadap data yang dijumpai di lapangan serta

korelasi terhadap tektonik regional, maka struktur sesar yang bekerja pada daerah

penelitian berupa sesar geser. Untuk mempermudah pembahasan maka sesar ini
79

diberi nama berdasarkan nama geografis daerah yang dilaluinya, yaitu Sesar

Geser Bontobiraeng.

4.2.3.1 Sesar Geser Bontobiraeng

Sesar ini dijumpai melewati Satuan Tufa Halus, Satuan Basalt dan Satuan

Aglomerat. Adapun ciri yang dijumpai di lapangan yang mengidentifikasikan

keberadaan struktur sesar geser adalah adanya perubahan kedudukan batuan

sepanjang garis sesar, penyebaran mata air, pergeseran aliran sungai (offset

stream), dan terdapat kelokan sungai yang tajam.

Gambar 4.7 Kenampakan mata air di daerah Ganta difoto relatif ke arah N 2050E.

Sesar Geser Bontobiraeng berarah Selatan Barat Daya ke Utara Timur

Laut dengan tegasan utama (σ1) (N 1950E/220) yang diperoleh dari hasil analisis

lipatan pada daerah Dumpu, dan dengan melihat hasil olah data kekar yang di

hubungkan dengan klasifikasi sesar Anderson (1951). Berdasarkan hasil analisis


80

diatas dan data yang dijumpai di lapangan, maka struktur sesar yang bekerja pada

daerah ini berupa sesar geser yang relatif menganan (dekstral).

Dalam penentuan umur sesar berdasarkan gejala-gejala struktur geologi

yang terdapat pada daerah penelitian dan berdasarkan umur batuan yang lebih

muda yang dilalui yaitu Satuan basal porfiri yang berumur Pleistosen, sehingga

dapat disimpulkan bahwa umur pembentukan Sesar Geser Bontobiraeng adalah

Post Pleistosen.

4.3 Mekanisme Struktur Geologi Daerah Penelitian

Pembentukan dan perkembangan struktur geologi pada daerah penelitian

banyak dipengaruhi oleh stuktur regional, yang sejarah tektoniknya dimulai dari

Zaman Kapur, yaitu saat Mandala Geologi Sulawesi Timur bergerak ke Barat

mengikuti gerakan tunjaman landai ke Barat di bagian Timur Mandala Sulawesi

Barat. Di daerah pemetaan pencenangaan ini diduga telah mengakibatkan

terbentuknya lipatan dengan sumbu berarah Barat Laut – Tenggara, serta sesar

naik dengan bidang sesar miring ke Timur. Setelah itu seluruh daerah Sulawesi

terangkat dan membentuk bentangalam seperti sekarang ini (Sukamto, 1975).

Untuk mengetahui mekanisme struktur daerah penelitian, maka data-data

dan hasil analisa struktur diinterpretasikan, kemudian hasil interpretasi itu

dihubungkan dengan teori Reidel dalam Mc.Clay 1987, karena hal ini akan

memudahkan kita dalam menarik kesimpulan mengenai struktur yang bekerja

pada daerah penelitian.


81

Gambar 4.8 Mekanisme pembentukan sesar daerah penelitian berdasarkan teori Riedel
dalam Mc Clay (1987).

Adapun mekanisme pembentukan struktur pada daerah penelitian ini

dapat dijabarkan sebagai berikut :

1. Tahapan pembentukan struktur geologi pada daerah penelititan diawali pada

kala Post Pleistosen . Akibat adanya gaya kompresi dengan tegasan berarah

Selatan Barat Daya ke Utara Timur Laut dengan tegasan utama maksimum

(σ1) (N 1950E/220) yang bekerja terus-menerus sehingga satuan batuan pada

daerah penelitian mengalami fase deformasi elastis membentuk lipatan pada

daerah Dumpu dan Lamantang, selanjutnya fase ini terlewati akibat gaya

yang terus bekerja menyebabkan batuan pada daerah ini mengalami retakan

dan hasil retakannya itulah yang disebut kekar.

2. Selanjutnya tekanan yang bekerja terus berlanjut, sehingga batuan melewati

fase deformasi elastis dan memasuki fase deformasi plastis, yaitu fase retakan

batuan yang telah terjadi sebelumnya mengalami perpindahan tempat atau

pergeseran atau yang lazim disebut Sesar Geser Bontobiraeng berarah

Selatan Barat Daya ke Utara Timur Laut yang bersifat dekstral (menganan).