Anda di halaman 1dari 123

PENGARUH PERUBAHAN ANGGARAN KAS TERHADAP

TINGKAT LIKUIDITAS PADA


PT. PLN (Persero) JAWA BARAT

SKRIPSI

Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Sidang Skripsi


Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi pada Program Studi Akuntansi
Fakultas Ekonomi Universitas Pasundan

Oleh :
SUPIANDI
054020181

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PASUNDAN
BANDUNG
2012
PENGARUH PERUBAHAN ANGGARAN KAS TERHADAP
TINGKAT LIKUIDITAS PADA
PT. PLN (Persero) JAWA BARAT

SKRIPSI
Untuk memenuhi salah satu syarat sidang skripsi
Guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada
Program Studi Akuntansi
Fakultas Ekonomi Universitas Pasundan

Bandung, Agustus 2012

Mengetahui,

Pembimbing,

Taty Sariwulan, SE.,MSi

Dekan, Ketua Program Studi,

Dr. H.R. Abdul Maqin, SE., MP. H. Sasa S. Suratman,, SE., MSc.
ABSTRAK

Tingkat likuiditas suatu perusahaan merupakan salah satu faktor yang


sangat penting dan memerlukan perhatian khusus dalam penanganannya, karena
tingkat likuiditas suatu perusahaan mencerminkan kemungkinan kemampuan
perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban jangka pendeknya. Dalam
pengukuran tingkat likuiditas suatu perusahaan diperlukan norma-norma untuk
mengukur keadaan tingkat likuiditas tersebut. Dalam kenyataannya pengendalian
anggaran kas tidak jarang menimbulkan masalah-masalah seperti adanya
likuiditas yang berlebihan (Over Liquid) dan likuiditas yang rendah (Under
Liquid). Pengelolaan likuiditas perusahaan dalam menghadapi kondisi Over
Liquid maupun Under Liquid pada tiap-tiap perusahaan berbeda.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya pengaruh
perubahan anggaran kas terhadap likuiditas PT PLN (Persero) Jawa Barat.
Adapun metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif
dengan menggunakan pendekatan kuantitatif.
Pengaruh Perubahan Anggaran Kas Terhadap Tingkat Likuiditas Pada PT
PLN (Persero) berdasarkan perhitungan statistic dengan SPSS maka dapat
diketahui nilai koefisien korelasi yaitu sebesar 0.449. Dari pernyataan di atas
dapat diartikan bahwa tingkat korelasi anggaran kas dengan tingkat proyeksi
likuiditas bersifat positif. Dan sesuai dengan pedoman untuk memberikan
interpretasi terhadap koefisien korelasi internal seperti yang sudah dijabarkan
pada tabel 3.2 di Bab III, dapat dilihat bahwa hubungan antara anggaran kas
terhadap tingkat proyeksi likuiditas memiliki hubungan sedang. Adapun koefisien
determinasi diketahui r Square adalah 0.201, hal ini berarti koefisien determinasi
yaitu sebesar 0.201 atau 20.1%. Dari penghitungan tersebut menunjukkan
besarnya pengaruh anggaran kas terhadap tingkat proyeksi likuiditas perusahaan
adalah sebesar 20.1%. Sedangkan sisanya 79.9% merupakan besarnya pengaruh
dari faktor lain di luar anggaran kas.

Kata kunci : Anggaran kas, proyeksi likuiditas


KATA PENGANTAR

Assalamu’ alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang

telah memberikan rahmat, hidayah, serta karunia-Nya, shalawat serta salam

semoga selalu tercurah kepada Nabi Besar Muhammad SAW beserta para

sahabatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

“PENGARUH PERUBAHAN ANGGARAN KAS TERHADAP TINGKAT

LIKUIDITAS” sebagai tugas akhir yang merupakan salah satu syarat dalam

menempuh ujian Sidang Sarjana Ekonomi Program Studi Akuntansi Fakultas

Ekonomi Universitas Pasundan.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis menyadari masih banyak kekurangan

dan kelemahan yang disebabkan karena keterbatasan kemampuan penulis.

Walaupun demikian, penulis telah berusaha segenap kemampuan dan pengetahuan

yang dimiliki untuk menyajikan skripsi ini sebaik-baiknya. Hal ini juga dapat

terwujud berkat bimbingan, bantuan, pengarahan, petunjuk, dorongan, dan do’a

dari berbagai pihak yang begitu besar manfaatnya bagi penulis sampai akhirnya

penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada semua

pihak dengan tulus ikhlas membantu penulis dari awal penyusunan skripsi ini

sampai dengan selesai. Dengan segala kerendahan hati perkenankanlah penulis


mengucapkan terima kasih yang tak terhingga, khususnya yang tercinta kedua

orang tua, buat bapak dan ibu yang telah memberikan do’a, kasih sayang,

dorongan, bimbingan, perhatian, dan pengorbanannya yang tiada pernah henti,

semoga segalanya menjadi berkah, taufiq, rahmat, dan hidayah-Nya.

Penyusunan skripsi ini dapat penulis selesaikan berkat bantuan dan

bimbingan dari pembimbing, oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih

terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Taty Sariwulan, SE., MSi, Selaku Dosen Pembimbing yang di sela-sela

kesibukannya beliau senantiasa memberikan koreksi, saran-saran, dan

bimbingan yang sangat berharga kepada penulis sampai dapat tersusunnya

skripsi ini.

2. Prof. H. M. Didi Turmudzi, MSi, Rektor Universitas Pasundan beserta

jajarannya.

3. Dr. R. Abdul Maqin, SE., MP, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas

Pasundan.

4. Dr. Liza Laila Nurwulan, SE., MSi., Ak., Ketua Program Studi Akuntansi

Fakultas Ekonomi Universitas Pasundan

5. H. Sasa S. Suratman, SE., MSc., Sekretaris Program Studi Akuntansi Fakultas

Ekonomi Universitas Pasundan.

Ucapan terima kasih secara khusus disampaikan untuk kedua orang tua

tercinta, yang telah mendidik, memotivasi, dan mencurahkan kasih saying yang

sangat dalam.
Akhir kata, semoga amal baik yang telah mereka berikan kepada penulis

mendapatkan limpahan rahmat yang berlimpah ganda dari Allah SWT.Amin.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Bandung, Agustus 2012

Penulis,
DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PENGESAHAN ……………………………………………. i

MOTTO ……………………………………………………………….. ii

ABSTRAK................................................................................................... iii

KATA PENGANTAR................................................................................. iv

DAFTAR ISI.................................................................................................. vi

DAFTAR TABEL.........................................................................................vii

DAFTAR GAMBAR.....................................................................................viii

DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................ix

BAB I PENDAHULUAN ……………………………………….. 1

1.1 Latar Belakang Penelitian…………………………….. 1

1.2 Identifikasi dan Rumusan Masalah…………………… 7

1.3 Tujuan Penelitian ………………………………………. 8

1.4 Kegunaan Penelitian ………………………………….. 8

1.4.1 Kegunaan Praktis ……………………………………….. 8

1.4.2 Kegunaan Teoritis …………………………………… 9

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN

HIPOTESIS ……………………………………………….. 10

2.1 Kajian Pustaka …………………………………………. 10

2.1.1 Anggaran …………………………………………. 10

2.1.1.1 Pengertian Anggaran …………………. 10

2.1.1.2 Karakteristik Anggaran …………….. 11


2.1.1.3 Macam-macam Anggaran ………. 12

2.1.1.4 Fungsi dan Manfaat Anggaran………… 14

2.1.1.5 Keterbatasan Anggaran ……………. 16

2.1.1.6 Prosedur Penyusunan Anggaran ………17

2.1.1.6.1 Persiapan Sebelum Penyusunan Anggaran 17

2.1.1.6.2 Pemilihan Prosedur Penyusunan Anggaran 17

2.1.1.7 Hubungan Anggaran Dengan Akuntansi 18

2.1.2 Anggaran Kas ………………………………………19

2.1.2.1 Pengertian Anggaran Kas…………………….. 19

2.1.2.2 Tujuan Penyusunan Anggaran Kas………….. 21

2.1.2.3 Manfaat Penyusunan Anggaran Kas…………. 22

2.1.2.4 Pengelompokan Anggaran Kas………………. 24

2.1.2.5 Penyusunan Anggaran Kas…………………… 24

2.1.2.6 Tahap-tahap Penyusunan Anggaran Kas …….. 25

2.1.2.7 Pendekatan Penyusunan Anggaran Kas …….. 26

2.1.2.8 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi

Penyusunan Anggaran Kas …………………… 26

2.1.2.9 Hubungan Anggaran Kas Dengan Anggaran

Lain …………………………………………… 27

2.1.3 Rasio Keuangan………………………………………... 29

2.1.4 Tingkat Likuiditas……………………………………. 31

2.1.4.1 Pengertian Tingkat Likuiditas………………….31

2.1.4.2 Macam-macam Likuiditas …………………. 32


2.1.4.3 Rasio Tingkat Likuiditas 33

2.1.4.3.1 Tingkat Rasio Lancar (Current Ratio) 34

2.1.4.3.2 Rasio Cepat (Quick Ratio/ Acid Test Ratio) 36

2.1.4.3.3 Rasio Kas (Cash Ratio) 37

2.1.5 Pengaruh PerubahanAnggaran Kas Terhadap Tingkat

Likuiditas 38

2.2 Kerangka Pemikiran 40

2.3 Hipotesis 47

BAB III METODE PENELITIAN 48

3.1 Metode Penelitian Yang Digunakan 48

3.1.1 Objek Penelitian 48

3.2 Definisi Variabel dan Operasionalisasi Variabel 49

3.2.1 Definisi Variabel 49

3.2.2 Operasionalisasi Variabel 49

3.3 Populasi dan Sampel 50

3.3.1 Kerangka Sampling, Unit Sampling dan Ukuran Sampel 50

3.3.2 Teknik Sampling 52

3.4 Sumber Data Penelitian 52

3.5 Teknik Pengumpulan Data 53

3.6 Analisis Data dan Rancangan Pengujian Hipotesis Penelitian 55

3.6.1 Analisis Data 55

3.6.2 Rancangan Pengujian Hipotesis 59

3.7 Lokasi dan Waktu Penelitian 61


BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN 63

4.1 Hasil Penelitian 63

4.1.1 Gambaran Umum Perusahaan 63

4.1.1.1 Sejarah PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat

dan Banten 63

4.1.1.2 Struktur Organisasi dan Uraian Tugas PT.

PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten 69

4.1.1.3 Aktivitas Perusahaan PT. PLN (Persero) Distribusi

Jawa Barat dan Banten 76

4.1.2 Kondisi Anggaran Kas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa

Barat dan Banten 77

4.1.2.1 Komponen Anggaran Penerimaan Kas 79

4.1.2.2 Komponen Anggaran Pengeluaran Kas 80

4.1.3 Kondisi Tingkat Proyeksi Likuiditas PT. PLN (Persero) 82

4.1.3.1 Tingkat Likuiditas Current Ratio 82

4.1.3.2 Tingkat Likuiditas Quick Ratio/ Acid Test Ratio 84

4.2 Pembahasan 86

4.2.1 Analisis Perubahan Anggaran Kas Pada PT. PLN

(Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten 86

4.2.2 Analisis Tingkat Proyeksi Likuiditas Pada

PT. PLN (Persero) 89

4.2.2.1 Analisis Tingkat Likuiditas Current Ratio 90


4.2.3 Analisis Pengaruh Perubahan Anggaran Kas Terhadap

Tingkat Likuiditas Pada PT PLN (Persero) 96

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 103

5.1 Kesimpulan 103

5.2 Saran 105

DAFTAR PUSTAKA 107


DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1.0 Analisis Tingkat Likuiditas Tahun 2000 – Tahun 2005 3

Tabel 1.1 Hasil Pengukuran Variabel 4

Tabel 3.1 Operasionalisasi Variabel 50

Tabel 3.2 Pedoman Interprestasi Koefisien Korelasi 58

Tabel 4.1 PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten

Anggaran Penerimaan Kas Periode Tahun 2001 sampai dengan

2009 79

Tabel 4.2 PT PLN (Persero) Anggaran Pengeluaran Kas Periode

Tahun 2000 sampai dengan 2009 81

Tabel 4.3 PT. PLN (Persero) Kondisi Proyeksi Likuiditas Current Ratio 83

Tabel 4.4 PT. PLN (Persero) Kondisi Proyeksi Likuiditas Quick Ratio 85

Tabel 4.5 PT. PLN (Persero) Anggaran Kas (Akhir) Periode Tahun 2000

sampai dengan 2009 86

Tabel 4.6 Anggaran Kas PT. PLN (%) 88

Tabel 4.8 PT. PLN (Persero) Analisis Proyeksi Current Ratio 90

Tabel 4.9 Proyeksi Current Ratio PT. PLN (Persero) Periode tahun

2003 s/d 2009 93

Tabel 4.14 Hasil Regresi Linier Melalui SPSS 17.0 Proyeksi Current Ratio 98

Tabel 4.15 Hasil Perhitungan Korelasi Melalui SPSS 17.0 Proyeksi

Current Ratio 99
Tabel 4.16 Hasil Penghitungan Determinasi Melalui SPSS 17.0

Proyeksi Current Ratio 100

Tabel 4.17 Hasil Penghitungan Uji Hipotesis Melalui SPSS 17.0

Proyeksi Current Ratio 101


DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1.1 Bagan Kerangka Pemikiran 46

Gambar 3.1 Model Penelitian 51

Gambar 4.1 Pengujian Hipotesis 102


DAFTAR LAMPIRAN

1. SK BIMBINGAN

2. KARTU BIMBINGAN

3. Surat Izin Penelitian

4. Surat Keterangan Penelitian dari Perusahaan

5. Laporan Keuangan
BAB I

PENDAHULUAN

1.2 Latar Belakang Penelitian

Perusahaan merupakan tulang punggung bagi perekonomian dunia usaha,

dengan semakin pesatnya dunia industri, maka semakin meningkat aktivitas yang

dilakukan oleh perusahaan. Selain mempertahankan keberadaannya juga agar

mampu bersaing dengan perusahaan yang menghasilkan produk atau jasa sejenis.

Perusahaan juga harus dapat menentukan strategi yang tepat agar dapat

meningkatkan penghasilannya. Untuk itu perusahaan harus mampu membuat

rencana yang dituangkan dalam anggaran.

Setiap perusahaan dalam menjalankan usahanya selalu membutuhkan kas.

Oleh karena itu pengelolaan kas sangat penting bagi suatu perusahaan. Kegiatan

yang dilakukan perusahaan tersebut sebenarnya selain untuk menghasilkan kas,

juga menggunakan kas tersebut, termasuk di antaranya untuk pembelian bahan

mentah, pembayaran utang-utang yang telah jatuh tempo, pembayaran gaji

karyawan, pengeluaran untuk biaya-biaya penjualan, biaya administrasi dan

umum, biaya iklan, pembelian aktiva tetap dan pengeluaran lainnya atau dapat di

katakan untuk membiayai kegiatan operasional perusahaan sehari-hari.

Salah satu rencana kegiatan yang di buat oleh manajemen dalam upaya

menentukan kas minimal ini adalah dengan menyusun anggaran kas. Anggaran

kas adalah estimasi terhadap posisi kas untuk periode tertentu di masa yang akan
datang. Dengan menyusun anggaran kas dapat diketahui kapan perusahaan dalam

keadaan defisit kas dan surplus kas.

Anggaran kas dapat membantu manajemen di dalam mengatasi perubahan-

perubahan yang dapat mempengaruhi posisi kas yang mungkin membahayakan

kredit kas yang beredar. Oleh karena itu, penyusunan anggaran kas bagi

perusahaan cukup penting guna menjaga tingkat proyeksi likuiditas perusahaan.

Semakin besar jumlah kas dalam perusahaan artinya perusahaan tersebut semakin

tinggi pula tingkat proyeksi likuiditasnya. Dengan anggaran kas pula maka akan

dapat diketahui apabila terdapat perbedaan di dalam waktu dan volume dari aliran

kas masuk (cash inflow) dan aliran kas keluar (cash outflow) yang dapat

menimbulkan kesulitan, karena hal ini berpengaruh terhadap besarnya uang kas

yang tertahan di dalam perusahaan.

Tingkat likuiditas suatu perusahaan merupakan salah satu faktor yang

sangat penting dan memerlukan perhatian khusus dalam penanganannya, karena

tingkat likuiditas suatu perusahaan mencerminkan kemungkinan kemampuan

perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban jangka pendeknya. Dalam

pengukuran tingkati likuiditas suatu perusahaan diperlukan norma-norma untuk

mengukur keadaan tingkat likuiditas tersebut. Dalam kenyataannya pengendalian

anggaran kas tidak jarang menimbulkan masalah-masalah seperti adanya tingkat

likuiditas yang berlebihan (Over Liquid) dan likuiditas yang rendah (Under

Liquid). Pengelolaan tingkat likuiditas perusahaan dalam menghadapi kondisi

Over Liquid maupun Under Liquid pada tiap-tiap perusahaan berbeda.


Kelebihan atau kekurangan dana untuk mempunyai dampak yang kurang

baik terhadap kelancaran perusahaan di dalam menjalankan kegiatan usahanya,

dan pada akhirnya akan mempengaruhi laba operasi, kekurangan dana tunai akan

berpengaruh pada kemungkinan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban

lancarnya sehubungan dengan kegiatan produksi.

Tingkat likuiditas perusahaan berbanding sejajar dengan produktivitasnya,

di mana keadaan tingkat likuiditas tersebut yaitu adanya selisih jumlah yang

cukup antara aliran kas yang likuid dan produktif di dalam saldo kas yang

tertahan. Dengan adanya saldo kas yang likuid dan produktif , maka akan dapat di

pastikan bahwa untuk menetapkan saldo kas tiap periode akan mempengaruhi

pada kegiatan operasional perusahaan.

Tabel 1.0
Analisis Tingkat Likuiditas
Tahun 2000 – Tahun 2005

Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005


Defensive asset 249.070.000 447.067.000 445.054.000 310.817.000 615.619.000 625.496.000
Rata-rata
2.954.526,03 4.782.515,07 5.016.815,89 3.602.959,86 6.290.179,73 6.480.751,37
pengeluaran harian
Defensive interval
84 hari 93 hari 89 hari 86 hari 98 hari 97 hari
rasio

Sumber: Perusahaan Genteng Pres di Jatiwangi yang memiliki sifat mass


production.

Dari data tersebut diatas dapat dilihat bahwa perusahaan dalam memenuhi

kegiatan pokok perusahaannya dari defensive asset pada tahun 2000 dengan

tingkat perputaran persediaan 3,96 kali mampu menutup kegiatan pokoknya

selama 84 hari, sedangkan pada tahun 2001 dengan perputaran persediaan 6,16

kali mampu menutup kegiatan pokoknya selama 93 hari. Tahun 2002 dengan
tingkat perputaran persediaan 6,54 kali kemampuan memenuhi kegiatan pokoknya

89 hari yang lebih singkat dari tahun 2001, hal ini terjadi karena pada tahun 2002

perusahaan menetapkan harga pokok penjualan yang tinggi dikarenakan biaya-

biaya meningkat tajam sehingga rata-rata pengeluaran kas untuk biaya harian

perusahaan meningkat yaitu sebesar Rp. 234.300,82. Pada tahun 2003 tingkat

perputaran persediaan perusahaan mengalami penurunan yaitu hanya 4,15 kali

dengan kemampuan perusahaan untuk menutup kegiatan pokoknya selama 86

hari, penurunan tingkat perputaran persediaan terjadi karena perusahaan

menetapkan harga pokok penjualan yang rendah dengan rata-rata persediaan yang

tinggi yang mengakibatkan penuruanan rata-rata pengeluaran biaya harian

perusahaan yang lebih rendah dari tahun 2002. Pada tahun 2004 dengan tingkat

perputaran persediaan 7,47 kali kemampuan perusahaan untuk menutup kegiatan

pokoknya yaitu 98 hari, lebih lama satu hari dibandingkan dengan tahun 2005

dimana dengan tingkat perputaran 7,40 kali perusahaan mampu menutup kegiatan

pokoknya selama 97 hari, hal ini terjadi karena pada tahun 2005 rata-rata

pengeluaran biaya harian perusahaan lebih tinggi yang juga disebabkan karena

harga pokok penjualan yang tinggi, biaya penjualan yang lebih tinggi dan biaya

umum yang lebih besar dari tahun 2004.

Tabel 1.1
Hasil Pengukuran Variabel
Perputaran Likuiditas
Tahun
Persediaan (X) (Y)
2000 3,96 84
2001 6,16 93
2002 6,54 89
2003 4,15 86
2004 7,47 98
2005 7,40 97
Berdasarkan hasil pengukuran variabel-variabel penelitian yang dianalisis

lebih lanjut dengan menggunakan Analisis Regresi dan Korelasi diperoleh

persamaan Regresi sebagai berikut :

Y = 70,603 +3,458 X

Persamaan tersebut menunjukkan bahwa tingkat likuiditas cenderung

meningkat berdasarkan peningkatan pada tingkat perputaran persediaan. Hal ini

dapat diinterpretasikan bahwa perputaran persediaan dapat digunakan untuk

menaksir kemampuan perusahaan dalam menutup semua biaya yang digunakan

dalam kegiatan pokok perusahaan dalam jangka pendek.

Dari analisis korelasi diperoleh koefisien korelasi (r) sebesar +0,928 yang

berarti dimana kenaikan perputaran persediaan akan diikuti dengan naiknya

kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek (likuiditas).

Berdasarkan uji hipotesis dua sisi pada tingkat keyakinan 95% diperoleh nilai

sebesar 4,966 dan nilai sebesar 2,776 dimana lebih besar dari Hal tersebut

menunjukkan bahwa koefisien korelasi tersebut memiliki makna (signifikan).

Dengan demikian pengaruh perputaran persediaan terhadap likuiditas perusahaan

yang besarnya 86,12% (r2 * 100%) pada tingkat keyakinan 95% adalah

signifikan.

Dengan kejadian di atas peneliti tertarik meneruskan penelitian tersebut

dengan perusahaan yang berbeda.

Perusahaan PT. PLN (Persero) sesuai kebijakan restrukturisasi sektor

ketenagalistrikan yang ditetapkan oleh Pemerintah (Departemen Energi & Sumber


Daya Mineral) pada tanggal 25 Agustus 1998, PLN bertujuan memulihkan

kelayakan keuangan, mengedepankan kompetisi, meningkatkan transparansi,

meningkatkan partisipasi swasta dalam sektor kelistrikan.

Untuk mewujudkan salah satu tujuan pemerintah pusat di bidang

kelayakan keuangan seperti tersebut di atas PT. PLN melakukan kegiatan

penganggaran kas yang merupakan suatu fungsi penting bagi keberhasilan usaha.

Penerapan prinsip penganggaran yang tepat dan pelaksanaan fungsi penganggaran

yang efisien dan efektif akan menunjang tercapainya tujuan perusahaan.

Penelitian yang penulis lakukan merupakan replikasi dari penelitian

sebelumnya yang dilakukan oleh Ii Irawan (2002) dengan hasil penelitian

mengatakan bahwa pengaruh anggaran kas terhadap tingkat likuiditas cukup

signifikan. Persamaan dan perbedaan dengan peneletian sebelumnya dijelaskan

dalam bentuk tabel sebagai berikut:


No. Judul Persamaan Perbedaan

1 “Pengaruh perubahan 2. Alat ukur yang 1. Alat ukur pada variabel


Anggaran Kas digunakan pada dependent yaitu tingkat
Terhadap Tingkat variabel independent proyeksi likuiditas
Likuiditas Pada PT sama menggunakan penelitian sebelumnya
Nusantara Turbin dan anggaran kas menggunakan current
Propulsi (PT NTP) ratio, sedangkan
Bandung “. penulis menggunakan
quic ratio.
2. Objek penelitian
berbeda, penelitian
sebelumnya di PT NTP
Bandung, sedangkan
penulis PT. PLN
(Persero)
3. Penelitian sebelumnya
Sampel yang digunakan
5 tahun, sedangkan
yang akan diteliti 10
tahun.

Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik melakukan penelitian skripsi

dengan judul : “Pengaruh Perubahan Anggaran Kas Terhadap Tingkat Likuiditas

(Suatu Studi pada PT PLN (Persero) Jawa Barat)“.

2.2 Identifikasi dan Rumusan Masalah

Atas dasar latar belakang penelitian di atas maka penulis mengidentifikasi

dan merumuskan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana anggaran kas pada PT PLN (Persero) Jawa Barat.

2. Bagaimana tingkat likuiditas pada PT PLN (Persero) Jawa Barat.

3. Seberapa besar pengaruh anggaran kas terhadap tingkat likuiditas pada PT

PLN (Persero) Jawa Barat.


2.3 Tujuan Penelitian

Adapun dari tujuan penelitian yang penulis lakukan adalah :

1. Untuk mengetahui anggaran kas PT PLN(Persero) Jawa Barat.

2. Untuk mengetahui tingkat likuiditas PT PLN (Persero) Jawa Barat.

3. Untuk mengetahui besarnya pengaruh perubahan anggaran kas terhadap

tingkat likuiditas PT PLN (Persero) Jawa Barat.

2.4 Kegunaan Penelitian

Kegunaan yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

1.4.1 Kegunaan Praktis

Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat memberikan kegunaan,

diantaranya:

1. Bagi perusahaan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan

yang bermanfaat bagi peningkatan anggaran kas perusahaan, sehingga dapat

membantu dalam menentukan keputusan-keputusan keuangan lebih lanjut.

2. Bagi Penulis

Sebagai bahan perbandingan antara teori yang penulis dapat dari

perkuliahan dengan prakteknya di lapangan dan untuk informasi guna melengkapi

kemampuan yang penulis miliki serta sebagai salah satu syarat sidang Sarjana

(S1) pada Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Pasundan

Bandung.
3. Bagi Peneliti Lain

Sebagai bahan dokumentasi untuk melengkapi dalam penyediaan

tambahan bacaan, dan pengetahuan serta dapat dijadikan referensi bagi rekan-

rekan mahasiswa atau pihak-pihak lain yang mungkin melakukan penelitian

dengan tema permasalahan yang sama.

1.4.2 Kegunaan Teoritis

Penulis berharap kajian tentang pengaruh perubahan anggaran kas

terhadap tingkat likuiditas dapat memberikan sumbangan teori bagi

perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya bidang akuntansi dan diharapkan

dapat memberikan masukkan/ informasi pada perusahaan PT PLN (Persero) Jawa

Barat.
BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

2.2 Kajian Pustaka

2.2.1 Anggaran

2.2.1.1 Pengertian Anggaran

Pengertian anggaran yang dikemukakan para ahli pada dasarnya sama

yaitu merupakan suatu rencana yang menyatakan dalam bentuk tertulis mengenai

kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh suatu perusahaan untuk periode waktu

tertentu. Periode yang biasanya digunakan oleh perusahaan dalam penyusunan

anggaran umumnya tidak lebih dari satu tahun, hal ini dikarenakan perusahaan

sering dihadapkan pada unsur ketidakpastian.

Definisi anggaran banyak yang dikemukakan oleh para pakar ekonomi di

antaranya adalah seperti yang dikemukakan oleh M. Nafarin (2008:12), adalah :

“ Anggaran adalah suatu rencana keuangan periodik yang disusun

berdasarkan program yang telah disahkan. “

Pengertian serupa tentang anggaran dikemukakan oleh Gleen A. Welsch, Ronald

W. Hilton, dan Paul N. Gordon yang dalam Purwatiningsih dan Maudy Warouw

(2003:1), sebagai berikut :

“Anggaran adalah suatu pendekatan yang sistematis dan formal untuk

tercapainya pelaksanaan fungsi perencanaan sebagai alat membantu

pelaksanaan tanggung jawab manajemen. “

Pengertian anggaran juga dikemukakan oleh M. Munandar (2001:1), yaitu:


“Budget (anggaran) ialah suatu rencana yang disusun secara sistematis,

yang meliputi seluruh kegiatan perusahaan, yang dinyatakan dalam unit

(kesatuan) moneter dan berlaku untuk jangka waktu (periode) tertentu

yang akan datang. “

Dari definisi di atas bahwa anggaran merupakan suatu rencana manajemen

mengenai perolehan dan penggunaan sumber daya perusahaan yang dinyatakan

secara formal dan terperinci dalam bentuk kuantitatif dan dalam suatu periode

tertentu. Dalam anggaran itu termasuk juga serangkaian tindakan antisipasi untuk

menyesuaikan keadaan di masa mendatang dengan rencana yang telah ditetapkan,

karena itu anggaran juga dipakai sebagai alat koordinasi dan implementasi antara

rencana awal dengan aktivitas yang sedang berlangsung.

Anggaran merupakan rencana tertulis mengenai kegiatan suatu organisasi

yang dinyatakan secara kuantitatif dan umumnya dinyatakan dalam satuan uang

untuk jangka waktu tertentu.

2.2.1.2 Karakteristik Anggaran

Menurut pendapat yang dikemukakan oleh Robert N. Anthony, John

Dearden dan Robert M. Bedford dalam Agus Maulana (2005:44-45) anggaran

memiliki karakteristik sebgai berikut :

“ 1. Dinyatakan dalam satuan uang (moneter) walaupun angkanya


berasal dari angka bukan satuan keuangan
2. Mencakup kurun waktu satu tahun
3. Isinya menyangkut komitmen manajemen yaitu manajer setuju
untuk menerima tanggung jawab untuk mencapai sasaran yang
telah dianggarkan
4. Usulan anggaran dinilai dan disetujui oleh orang yang mempunyai
wewenang lebih tinggi dari yang menyusunnya
5. Jika anggaran sudah disahkan, maka anggaran tersebut tidak dapat
diubah, kecuali dalam hal khusus
6. Hasil aktual akan dibandingkan dengan anggaran secara periodik
dan varian yang terjadi dianalisis dan dijelaskan. “

Menurut Mulyadi (2005:511) karakteristik anggaran yang baik adalah :

“ Anggaran yang baik memiliki karakteristik sebagai berikut :


1. Anggaran disusun berdasarkan program
2. Anggaran disusun berdasarkan karakteristik pusat
pertanggungjawaban yang dibentuk dalam organisasi perusahaan.
3. Anggaran berfungsi sebagai alat perencana dan alat pengendali. “

2.2.1.3 Macam-macam Anggaran

Sebagai alat bantu manajemen anggaran perusahaan mempunyai ruang

lingkup yang luas. Seluruh kegiatan yang ada di dalam perusahaan akan terkait

dengan anggaran perusahaan tersebut. Karena banyak macamnya anggaran yang

satu akan berbeda dengan anggaran lain baik dari segi isi, bentuk, maupun

fungsinya.

Berdasarkan jenis pertanggung jawabannya, menurut Robert N. Anthony,

John Dearden dan Robert M. Bedford dalam Agus Maulana (2005:46)

mengemukakan bahwa anggaran digolongkan menjadi tiga, yaitu :

“ Penggolongan Anggaran :

1. Anggaran Biaya (Expense Budget) terdiri dari :


a. Anggaran yang menyangkut pengeluaran terukur (engineered
expense) dalam pusat tanggung jawab dimana keluaran dapat
diukur.
b. Anggaran yang menyangkut pengeluaran dikresioner
(discretiory expense) di pusat tanggung jawab, di mana
keluaran tidak dapat diukur.

2. Anggaran Pendapatan (Revenue Budget)


Diantara semua elemen dari anggaran laba, anggaran pendapatan
merupakan elemen yang paling penting, padahal sekaligus anggaran ini
merupakan elemen yang mengandung ketidak pastian yang paling
besar. Pertimbangan manajemen yang penting mengenai anggaran
pendapatan adalah bahwa anggaran ini biasanya mengandung ramalan
tentang beberapa kondisi tertentu yang berada di luar kendali manajer
penjualan.
3. Anggaran Laba (Profit Budget)
Anggaran laba merupakan rencana laba tahunan, anggaran ini terdiri
dari seperangkat proyeksi ikhtisar keuangan untuk tahun mendatang
dengan jadwal pendukung yang berkaitan. “

Pengelompokan jenis-jenis anggaran dapat dilakukan dari berbagai sudut

pandang, M. Nafarin (2008:17) membagi anggaran ke dalam beberapa kelompok

berdasarkan beberapa sudut pandang sebagai berikut :

“ 1. Menurut dasar penyusunan, anggaran terdiri dari :


a. Anggaran Variabel, yaitu anggaran yang disusun berdasarkan
interval kapasitas tertentu dan pada intinya merupakan suatu seri
anggaran yang dapat disesuaikan pada tingkat aktivitas (kegiatan)
yang berbeda.
b. Anggaran tetap, yaitu anggaran yang disusun berdasarkan suatu
tingkat kapasitas tertentu disebut juga anggaran statis.

2. Menurut cara penyusunan, anggaran terdiri dari :


a. Anggaran Periodik, adalah anggaran yang disusun untuk satu
periode tertentu. Umumnya periode satu tahun yang disusun
setiap akhir periode anggaran.
b. Anggaran Kontinyu, adalah anggaran yang dibuat untuk
memperbaiki anggaran yang telah dibuat.

3. Menurut jangka waktu, anggaran terdiri dari :


a. Anggaran jangka pendek (anggaran taktis), adalah anggaran yang
dibuat dengan jangka waktu paling lama sampai satu tahun.
b. Anggaran jangka panjang (anggaran strategis), adalah anggaran
yang dibuat untuk jangka waktu lebih dari satu tahun.

4. Menurut bidangnya, anggaran terdiri dari :


a. Anggaran Operasional, adalah anggaran untuk menyusun
anggaran laporan laba rugi. Anggaran operasional antara lain
terdiri dari :
 Anggaran penjualan
 Anggaran biaya pabrik yang terdiri dari anggaran biaya bahan
baku, anggaran biaya tenaga kerja langsung, anggaran biaya
overhead pabrik.
 Anggaran beban usaha
 Anggaran laporan laba rugi
b. Anggaran Keuangan, adalah anggaran untuk menyusun anggaran
neraca. Anggaran keuangan, antara lain terdiri dari :
 Anggaran kas
 Anggaran piutang
 Anggaran persediaan
 Anggaran hutang
 Anggaran neraca

5. Menurut kemampuan menyusun, anggaran terdiri dari :


a. Anggaran Komprehensif, merupakan rangkaian dari berbagai
macam anggaran yang disusun secara lengkap.
b. Anggaran Parsial, adalah anggaran yang disusun tidak secara
lengkap, anggaran hanya menyusun bagian anggaran tertentu saja.

6. Menurut fungsinya, anggaran terdiri dari :


a. Anggaran Apropriasi (Appropriation Budget), adalah anggaran
yang dibentuk bagi tujuan tertentu dan tidak boleh digunakan
untuk tujuan lain.
b. Anggaran Kinerja (Performance Budget), adalah anggaran yang
disusun berdasarkan fungsi kegiatan yang dilakukan dalam
organisasi (perusahaan) yang dikeluarkan oleh masing-masing
aktivitas tidak melampaui batas. “

2.2.1.4 Fungsi dan Manfaat Anggaran

Anggaran sebagai alat manajemen untuk keperluan perencanaan dan

pengawasan mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Perkembangan ini

diukur dari segi manfaat yang ingin diperoleh dari penggunaan sistem itu di dalam

pelaksanaannya.

Fungsi anggaran menurut Gleen A. Welsch, Ronald W. Hilton, dan Paul

N. Gordon dalam Purwatiningsih dan Maudy Warouw (2003:377), yaitu :

“ Ada tiga fungsi yaitu :


1. Fungsi Perencanaan
Anggaran merupakan alat perencanaan tertulis yang menuntut
pemikiran yang teliti dan akan memberikan gambaran yang lebih nyata
dan jelas dalam unit dan uang.
2. Fungsi Pelaksanaan
Anggaran merupakan pedoman dalam pelaksanaan pekerjaan, sehingga
pekerjaan dapat dilaksanakan secara selaras dalam mencapai tujuan.
Jadi anggaran penting untuk menyelaraskan (koordinasi) setiap bagian
kegiatan, seperti : bagian pemasaran, bagian umum, bagian produksi
dan bagian keuangan.
3. Fungsi Pengawasan
Anggaran merupakan alat pengawasan (controlling). Pengawasan
berarti mengevaluasi atau menilai terhadap pelaksanaan pekerjaan,
dengan cara membandingkan realisasi dengan anggaran, dan
melakukan tindakan perbaikan apabila dipandang perlu atau apabila
terdapat penyimpangan yang merugikan. “

Menurut Gunawan Adisaputro (2003:56) manfaat yang dapat diperoleh dari

anggaran adalah:

“ Manfaat anggaran adalah :


1. Anggaran bisa dijadikan sebagai “alat penaksir”
Dengan disusunnya suatu anggaran, perusahaan akan dapat
mengetahui dan menaksirkan sesuatu dari pengalaman yang lalu.
Selain itu anggaran dapat menaksirkan beberapa besar misalnya laba
yang akan didapat dalam satu periode kegiatan perusahaan.
2. Anggaran sebagai “plafon” atau bisa juga dijadikan sebagai “alat
pengatur otorisasi” pengeluaran kas.
Dengan disusunnya suatu anggaran maka perusahaan akan mempunyai
data yang cukup dan tersedia sehingga memungkinkan dilakukannya
suatu estimasi dengan cukup akurat. Dan anggaran juga mampu
mengatur otorisasi karena dengan adanya anggaran akan terlihat jelas
bagian mana yang berhak untuk melakukan kegiatan perusahaan sesuai
dengan bidangnya, dan manajemen tidak menghendaki diubahnya
anggaran yang telah disahkan.
3. Anggaran sebagai “pengukur efisiensi”
Dari segi pengendalian jumlah anggaran yang didasarkan atas angka
standar yang benar akan berfungsi sebagai alat penilai efisiensi, karena
angka standar yang dipakai memang efektif dan fleksibel, sehingga
biaya realisasi biaya yang melebihi atau kurang dari jumlah uang yang
dianggarkan dianggap merupakan pemborosan/penghematan yang
sebenarnya. Dengan demikian selisih biaya benar-benar dapat dinilai
sebagai penyimpangan dari yang seharusnya “.
2.2.1.5 Keterbatasan Anggaran

Walaupun anggaran mempunyai banyak manfaat dan kegunaan, namun

perlu disadari bahwa anggaran tidak lepas dari keterbatasan, sebagaimana yang

dikemukakan oleh Sofyan Syafri Harahap (2001:125-127) keterbatasan anggaran

antara lain :

“ 1. Budget berdasarkan pada taksiran


Budget harus disadari bahwa ia merupakan taksiran saat ini tentang
apa yang bakal terjadi di masa yang akan datang. Dalam
penyusunannya tentu apa yang akan dijadikan dasar ada
pengetahuan dan informasi kita berdasarkan masa lalu dan analisis
serta taksiran
2. Memerlukan penyesuaian yang terus-menerus
Karena sifatnya taksiran dan arena situasi bergerak dan berubah
terus maka mau tidak mau kita harus terus-menerus secara periodik
melakukan perbaikan dan penyesuaian, mengikuti perkembangan
yang mempengaruhi budget itu.
3. Pelaksanaan budget tidak berjalan secara otomatis.
Sistem budget tidak akan bisa dibiarkan tanpa terus-menerus
dikendalikan oleh pimpinan. Ia bukan alat otomatis yang bisa
berjalan sendiri. Budget harus dianalisis, direvisi, dan diikuti, tidak
boleh dibiarkan berjalan sendiri.
4. Tidak bisa mengambil alih tugas manajemen/administrasi
Karena sifatnya yang harus diikuti, dinilai, diperbaiki maka budget
tidak akan dapat menggantikan posisi pimpinan dan tidak dapat
pula menggantikan posisi administrasi
5. Memerlukan dana/perhatian/resources
Sistem budget tentu memerlukan dana, perhatian, sumber lainnya
untuk bisa berjalan efektif. Ia perlu konsultan, perlu rapat, perlu
kertas, perlu tambahan alat, dan lain sebagainya.
6. Dapat mempengaruhi perilaku
Sistem budget dapat mempengaruhi perilaku manusia bisa positif
dan bisa negatif.
7. Dapat menimbulkan “Slack Budgeting”
Slack berarti menggunakan sesuatu bukan menurut fungsinya.
Slack Budgeting berarti situasi dimana orang menyalahgunakan
budget untuk kepentingannya.
8. Harus memenuhi berbagai persyaratan yang kadang sukar
disiapkan
Sistem budget hanya dapat berjalan jika terpenuhi beberapa
persyaratan yang ditetapkan, hal ini mutlak. Seandainya
persyaratan ini tidak bisa dipenuhi maka tujuan budget bisa saja
tidak dapat dicapai secara efisien.
9. Tidak menjamin tercapainya target
Budget hanya rencana dan fokus. Budget tidak dapat menjamin
secara mutlak bahwa ia akan tercapai “.

2.2.1.6 Prosedur Penyusunan Anggaran

2.2.1.6.1 Persiapan Sebelum Penyusunan Anggaran

Menurut Mulyadi (2007:507) persiapan sebelum penyusunaan anggaran

adalah :

“ 1. Membuat dan menetapkan asumsi-asumsi atau prediksi tentang


prospek yang akan dihadapi di masa yang akan datang serta cara
mengatasinya.
2. Mengevaluasi kembali tentang kebijakan dan strategi perencanaan
jangka panjang serta tujuan yang akan dicapai.
3. Menyusun prioritas usaha-usaha dan pekerjaan.
4. Menyebarluaskan informasi ke bagian-bagian yang berkompeten
dalam penyusunan anggaran “.

2.1.1.6.2 Pemilihan Prosedur Penyusunan Anggaran

Adapun pemilihan prosedur penyusunan anggaran menurut Mulyadi

(2007:718) adalah :

“ Prosedur penyusunan anggaran ada dua macam yaitu :


1. Top Down Approach (pendekatan dari atas ke bawah), dimana dalam
penyusunan anggaran, dimulai dari manajemen tingkat atas atau
manajemen puncak.
2. Bottom Up Approach (pendekatan dari bawah ke atas), dimana dalam
penyusunan anggaran ini melibatkan manajemen tingkat bawah
(operasional) “.

Metode Bottom Up Approach menurut Mulyadi (2007:720) lebih banyak


digunakan karena mempunyai keuntungan sebagai berikut :
“ 1. Bawahan akan merasa diikutsertakan dalam proses penyusunan
anggaran, sehingga rasa tanggung jawab pada perusahaan sangat
besar.
2. Banyaknya saran, ide yang didapat dalam keterlibatan bawahan
dalam penyusunan anggaran tersebut.
3. Bawahan akan mudah memahami tugas yang akan diberikan , karena
terlibat dalam penyusunan anggaran tersebut “.

2.2.1.7 Hubungan Anggaran Dengan Akuntansi

Akuntansi bagi suatu perusahaan merupakan alat informasi agar orang

mengerti dan mengetahui tentang keadaan perusahaan. Alat informasi akuntansi

berupa laporan keuangan yang terdiri dari neraca, laporan rugi-laba, laporan

perubahan modal, laporan sumber dan penggunaan dana.

Laporan keuangan tersebut merupakan suatu realisasi (aktual) yang akan

diperbandingkan dengan anggaran (rencana). Agar dapat memperbandingkan

antara realisasi dengan anggaran maka rekening-rekening yang dipergunakan

dalam penyusunan akuntansi harus sama dengan rekening-rekening yang

dipergunakan dalam penyusunan anggaran. Suatu anggaran harus mengikuti

format laporan akuntansi yang berkaitan dengan operasi, input, output, dan posisi

keuangan yang digunakan dalam perusahaan.

Metode dan teknik yang diterapkan dalam akuntansi harus diterapkan juga

dalam penyusunan anggaran. Dengan demikian seorang penyusun anggaran

mutlak harus menguasai metode dan teknik akuntansi, terutama dalam

penyusunan anggaran laporan laba rugi dan anggaran neraca.

Penyusunan anggaran didasarkan pada data-data masa lalu yang sebagian

besar dihasilkan oleh sistem akuntansi dan pengawasan yang menyangkut

pengukuran hasil-hasil yang telah direalisir. Akibatnya untuk dapat

menyelenggarakan perencanaan dan pengendalian laba perusahaan yang sehat


harus diselenggarakan sistem akuntansi pertanggungjawaban. Sistem akuntansi

pertanggungjawaban adalah suatu sistem akuntansi yang dipola lebih dulu sesuai

dengan tanggung jawab dari tiap bagian dalam organisasi.

Perbandingan antara realisasi dengan anggaran tidak ada gunanya bila

pengelompokan rekening harus dikembangkan menurut pusat-pusat pertanggung

jawaban dan harus dilengkapi dengan perintah-perintah standar untuk penetapan

beban dan pendapatan pada tiap jenis rekening.

Menurut M. Nafarin (2008:12) anggaran memang berkaitan secara unik

dengan sistem akuntansi perusahaan dalam hal-hal :

“ 1. Komponen keuangan dari suatu anggaran yang umumnya disusun


dalam suatu format akuntansi.
2 Anggaran perusahaan mempunyai kaitan erat dengan akuntansi
manajemen, yaitu berupa akuntansi harga pokok standar, akuntansi
harga pokok variabel.
3 Akuntansi keuangan mencatat transaksi waktu yang lalu, sedangkan
anggaran perusahaan mencatat transaksi waktu yang akan datang.
4 Untuk memperbandingkan anggaran dengan realisasi diperlukan data
yang dihasilkan oleh akuntansi keuangan.
5 Akuntansi keuangan memberikan input-input data historis yang
relevan terutama untuk tujuan-tujuan analisis dalam pengembangan
anggaran perusahaan. “

2.1.3 Anggaran Kas

2.1.3.1 Pengertian Anggaran Kas

Arthur J. Keown dkk., dalam Marcus Prihminto Widodo (2008:122)

mengemukakan pengertian anggaran kas, adalah :

“Anggaran kas menggambarkan suatu rencana yang terperinci tentang arus


kas masa depan dan terdiri dari empat unsure: penerimaan kas,
pengeluaran kas, perubahan bersih dalam kas untuk suatu periode, dan
kebutuhan dana yang baru. “
Sedangkan M. Nafarin (2008:82) menyatakan anggaran kas dalam

realisasinya disebut laporan arus kas atau laporan sumber dan belanja kas. Dalam

anggaran kas terdapat istilah cash inflow dan cash outflow.

M. Munandar (2001:311) mendefinisikan anggaran kas sebagai berikut :

“ Anggaran kas adalah anggaran yang merencanakan secara lebih


terperinci tentang jumlah kas beserta perubahan-perubahannya dari waktu
ke waktu selama periode yang akan datang, baik perubahan yang berupa
penerimaan kas maupun perubahan yang berupa pengeluaran kas. “

Selanjutnya Mundar (Munandar, 2001:311-312) menjelaskan budget kas

mencakup dua sektor yaitu:

(1) Sektor Penerimaan Kas, yang pada umumnya berasal dari:


(a) Penjualan tunai Barang Jadi yang diproduksikan.
(b) Penagihan Piutang.
(c) Penjualan Aktiva Tetap
(d) Penerimaan Lain-lain (Non-Operating), seperti misalnya
penghasilan bunga, penghasilan sewa, penghasilan dividend, dan
sebagainya.
(2) Sektor Pengeluaran Kas, yang pada umumnya berupa pengeluaran
untuk biaya-biaya, baik biaya-biaya utama (Operationg), maupun
biaya-biaya bukan utama (Non-Operating), seperti, misalnya:
(a) Pembelian tunai Bahan Mentah.
(b) Pembayaran Utang.
(c) Pembayaran Upah Tenaga Kerja Langsung.
(d) Pembayaran Beaya Pabrik Tidak Langsung
(e) Pembayaran Beaya Administrasi.
(f) Pembayaran Beaya Penjualan
(g) Pembelian Aktiva Tetap
(h) Pembayaran Lain-lain (Non-Operating), seperti misalnya
pembayaran Beaya Bunga, pembayaran Beaya Sewa, dan
sebagainya.

Dari pengertian di atas menjelaskan bahwa anggaran kas merupakan

rencana yang disusun oleh manajemen tentang kas beserta perubahan-

perubahannya yaitu tentang kas masuk dan kas keluar yang direncanakan pada

akhir periode tertentu.


Bagi manajer keuangan, anggaran kas memberikan kerangka untuk

menilai dan mengendalikan penerimaan dan pengeluaran kas masa sekarang dan

merupakan suatu tinjauan tentang pola arus kas yang mungkin terjadi di masa

yang akan datang.

Dalam usaha untuk mengendalikan penerimaan dan pengeluaran kas, jika

anggaran kas menunjukan bahwa perusahaan membutuhkan tambahan biaya,

manajer keuangan masih mempunyai cukup waktu untuk mengambil tindakan

yang diperlukan dalam rangka mengatasi pembiayaan di masa yang akan datang.

2.1.2.2 Tujuan Penyusunan Anggaran Kas

Tujuan penyusunan anggaran kas menurut Gleen A. Welsch, Ronald W.

Hilton, dan Paul N. Gordon dalam Purwatiningsih dan Maudy Warouw

(2003:378), antara lain untuk :

“ 1. Memberikan taksiran posisi kas pada setiap akhir periode sebagai


hasil dari operasi yang dijalankan.
2. Mengetahui kelebihan atau kekurangan kas pada waktunya.
3. Menentukan kebutuhan pembiayaan dan atau kelebihan kas
menganggur untuk investasi.
4. Menyelaraskan kas dengan total modal kerja, pendapatan penjualan,
biaya, investasi, hutang.
5. Menetapkan dasar yang sehat untuk pemantauan posisi kas secara
terus menerus “.

Sementara menurut Maryono S. U dan D. Agus Harjito (2002:212) tujuan

anggaran kas adalah :

“ 1. Membuat taksiran posisi kas pada setiap akhir periode sebagai hasil
dari kegiatan operasi perusahaan baik periode bulanan maupun
tahunan.
2. Mengetahui adanya kelebihan atau kekurangan kas yang terjadi pada
periode tertentu.
3. Merencanakan besarnya kas untuk menutup kekurangan atau defisit
yang terjadi, yang dapat digunakan untuk melakukan investasi.
4. Menentukan besarnya kas untu pembayaran hutang dan kelebihan
kas yang dapat digunakan untuk melakukan investasi.
5. Mengetahui waktu kapan suatu pinjaman atau kewajiban lainnya
yang harus dibayar “.

Dengan demikian perencanaan anggaran kas akan menunjukkan :

1. Kebutuhan untuk membiayai kekurangan kas yang mungkin terjadi atau

2. Kebutuhan terhadap perencanaan investasi yaitu untuk menanamkan kelebihan

uang pada penggunaan yang menguntungkan.

2.1.4.3 Manfaat Penyusunan Anggaran Kas

Anggaran kas memiliki manfaat pokok antara lain sebagai pedoman kerja,

sebagai alat pengkoordinasian kerja, dan sebagai alat pengawasan kerja atau dapat

diuraikan lebih jelas menurut M. Munandar (2001:10), yaitu :

“ a. Sebagai Pedoman Kerja


Anggaran berfungsi sebagai pedoman kerja dan memberikan arah
serta sekaligus memberikan target-target yang harus dicapai oleh
kegiatan perusahaan di waktu yang akan datang.
b. Sebagai Alat Pengkoordinasian Kerja
Anggaran befungsi sebagai alat untuk pengkoordinasian kerja agar
semua bagian-bagian yang terdapat di dalam perusahaan dapat
saling menunjang, saling bekerja sama dengan baik untuk menuju
sasaran yang telah ditetapkan. Dengan demikian kelancaran jalannya
perusahaan akan lebih terjamin.
c. Sebagai Alat Pengawasan Kerja
Anggaran berfungsi pula sebagai tolok ukur, sebagai alat
pembanding, untuk menilai (evaluasi) realisasi kegiatan perusahaan
nanti. Dengan membandingkan antara apa yang terutang di dalam
anggaran dengan apa yang dicapai oleh realisasi kerja perusahaan,
dapatlah dinilai apakah perusahaan telah sukses bekerja ataukah
kurang sukses bekerja. Dari perbandingan tersebut dapat pula
diketahui sebab-sebab penyimpangan antara anggaran dan
realisasinya, sehingga dapat pula diketahui kelemahan-kelemahan
dan kekuatan-kekuatan yang dimiliki perusahaan. Hal ini akan dapat
dipergunakan sebagai bahan pertimbangan yang sangat berguna
untuk menyusun rencana-rencana (budget) selanjutnya secara lebih
matang dan lebih akurat “.

Menurut Sofyan Syafri Harahap (2001:177) terdapat banyak manfaat yang

diperoleh dari anggaran kas, yaitu :

“ 1. Menilai kemampuan perusahaan menghasilkan, merencanakan,


mengontrol arus kas keluar perusahaan yang lalu maupun proyeksi
pada masa datang.
2. Menilai kemungkinan keadaan arus kas masuk dan keluar, arus kas
bersih perusahaan, termasuk kemampuan membayar dividen di
masa yang datang.
3. Mengajukan informasi bagi investor, kreditor, memproyeksikan
return dari sumber kekayaan perusahaan.
4. Menilai perusahaan untuk memasukan kas ke perusahaan di masa
yang akan datang.
5. Menilai alasan perbedaan antara laba bersih akuntansi dikaitkan
dengan penerimaan dan pengeluaran kas.
6. Menilai pengaruh investasi baik kas maupun bukan kas dan
transaksi lainnya terhadap posisi keuangan perusahaan selama satu
periode tertentu.
7. Melihat kegiatan kas yang menonjol di dalam perusahaan “.

Dengan adanya anggaran kas juga perusahaan akan dapat mengetahui

kapan perusahaan sedang mengalami defisit atau surplus kas sebagai akibat dari

operasi perusahaan, mengetahui kelebihan atau kekurangan kas yang sedang

terjadi pada kas perusahaan, mengetahui kemana seharusnya perusahaan mencari

pinjaman jika memang perusahaan sedang membutuhkan dana, mengetahui

tersedianya kas yang menganggur untuk investasi, dapat menetapkan dasar

perkreditan yang sehat untuk penilaian posisi kas, mengetahui atau

memperhitungkan serta memperkirakan Safety Cash Balance (SCB) yaitu jumlah

minimal kas yang harus dipertahankan agar dapat memenuhi kewajiban

finansialnya setiap saat. Safety Cash Balance ini dipengaruhi oleh faktor
perbandingan antara aliran kas masuk dan aliran kas keluar, penyimpangan aliran

kas yang diperkirakan, dan adanya hubungan baik dengan bank.

2.1.4.4 Pengelompokan Anggaran Kas

Menurut Gunawan Adi Saputro (2003:74-75) terdapat anggaran kas yang

diperlukan oleh perusahaan yaitu :

“ 1. Anggaran kas jangka pendek


Merupakan alat operasional pengendalian sehari-hari (Tactical
Short-term Plan) yang biasanya berupa rencana tahunan, oleh sebab
itu anggaran kas jangka pendek sering disebut anggaran tahunan.
2. Anggaran kas jangka panjang
Anggaran ini mempunyai jangka waktu lima tahun sampai sepuluh
tahun. Bilamana menyusun rencana jangka panjang (Strategic Long-
term Plan), maka jangka waktu anggaran kas jenis ini disesuaikan
dari rencana tahapan jangka panjang tersebut “.

2.1.4.5 Penyusunan Anggaran Kas

Penyusunan anggaran kas menjadi tanggung jawab bagian keuangan

perusahaan. Karena penyusunan anggaran kas berdasarkan pada anggaran-

anggaran lain, maka bagian keuangan harus bekerja sama dengan manajer-

manajer lain. Penyusunan anggaran kas harus realistis dan harus ada

keseimbangan antara tersedianya kas dengan kegiatan-kegiatan yang memerlukan

kas. Perencanaan dan pengendalian cash inflow, cash outflow dan yang berkaitan

dengan pembelanjaan adalah penting di dalam perusahaan.

Penyusunan anggaran kas menurut M. Nafarin (2008:309) adalah sebgai

berikut :
“ Penyusunan anggaran kas adalah cara yang efektif untuk merencanakan
dan mengendalikan cash flow, taksiran kebutuhan kas, dan penggunaan
kelebihan kas secara efektif. Tujuan utama penyusunan anggaran kas
adalah merencanakan posisi likuiditas perusahaan sebagai dasar penentuan
pinjaman atau investasi “.

Anggaran kas menunjukkan kebutuhan kas dalam jangka pendek yang

merupakan bagian dari financial planning perusahaan. Periode anggaran kas

umumnya disusun untuk jangka waktu satu tahun, yang dibagi dalam interval

setiap bulanan, kwartalan dan enam bulanan. Pada dasarnya anggaran kas dapat

dibedakan dalam dua bagian, yaitu estimasi penerimaan kas dan estimasi

pengeluaran kas.

2.1.4.6 Tahap-tahap Penyusunan Anggaran Kas

Menurut Bambang Riyanto (2001:97) penyusunan anggaran kas biasanya

dilakukan beberapa tahap yaitu :

“ 1. Menyusun estimasi penerimaan dan pengeluaran menurut rencana


operasi perusahaan. Transaksi-transaksi pada tahap ini merupakan
transaksi operasi (operating transaction). Pada tahap ini diketahui
adanya defisit atau surplus karena rencana operasinya perusahaan.
2. Menyusun perkiraan atau estimasi kebutuhan dana atau kredit dari
bank atau sumber-sumber dana lainnya yang diperlukan untuk
menutup defisit kas karena rencana operasi perusahaan. Juga
disusun estimasi pembayaran bunga kredit beserta waktu
pembayarannya kembali. Transaksi-transaksi disini merupakan
transaksi finansial (financial transaction)
3. Menyusun kembali estimasi keseluruhan penerimaan dan
pengeluaran setelah adanya transaksi finansial, dan budget kas yang
final ini merupakan gabungan dari transaksi operasi dan transaksi
finansial yang menggambarkan estimasi penerimaan dan
pengeluaran kas keseluruhan “.
2.1.4.7 Pendekatan Penyusunan Anggaran Kas

Ada dua pendekatan yang dapat digunakan dalam menyusun anggaran kas

menurut M. Nafarin (2008:312), yaitu :

“ 1. Pendekatan penerimaan dan pengeluaran kas (cash receipt and


disbursement approach) :
Sumber-sumber penerimaan kas muncul dari transaksi seperti
penjualan tunai,pengumpulan piutang dagang dan piutang wesel,
bunga yang diterima dari investasi, penjualan aktiva tetap, dan
penghasilan lain-lain. Pengeluaran kas muncul dari berbagai
pembayaran tunai, misalnya pembelian bahan baku, upah
tenaga kerja langsung, biaya-biaya tunai, misalnya pembelian aktiva
tetap untuk periode yang bersangkutan, pajak, dan pembayaran
dividen.
Pada pendekatan ini, semua pos yang bersifat accrual harus
dijabarkan terlebih dahulu ke dalam cash basis. Pandekatan ini
mudah digunakan jika perusahaan telah membuat rencana laba
komprehensif, karena semua data telah tersedia secara terinci.
Pendekatan ini berguna untuk menyusun anggaran aliran kas jangka
pendek.

2. Pendekatan akuntansi keuangan (financial accounting


approach/income statement approach) “.
Pendekatan akuntansi keuangan banyak digunakan oleh
perusahaan terutama untuk penyusunan anggaran kas jangka
panjang. Pendekatan ini tidak memerlukan data yang terlalu rinci.
Pada pendekatan ini, penyusunan aliran kas mulai dari laporan rugi
laba, kemudian laporan tersebut disesuaikan dengan cara mengubah
dari accrual basis menjadi cash basis “.
.

2.1.4.8 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penyusunan Anggaran Kas

Agar suatu anggaran dapat berfungsi dengan baik, maka taksiran-taksiran

yang termuat di dalamnya harus cukup akurat, sehingga tidak jauh berbeda

dengan realisasinya nanti. Untuk bisa melakukan penaksiran secara lebih akurat ,

diperlukan data, informasi dan pengalaman yang merupakan faktor-faktor yang

harus dipertimbangkan di dalam menyusun anggaran kas.


Menurut pendapat Munandar (2001:54) terdapat faktor-faktor yang harus

diperhatikan di dalam menyusun anggaran kas yaitu sebagai berikut :

“ 1. Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan kas adalah sebagai


berikut :
a. Budget penjualan
b. Keadaan pesaing di pasar
c. Posisi perusahaan dalam persaingan
d. Syarat pembayaran
e. Kebijaksanaan perusahaan dalam penagihan piutang
f. Budget perubahan aktiva tetap
g. Rencana-rencana perusahaan tentang penerimaan-penerimaan
kas dari sumber lain-lain (non operating)
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengeluaran kas antara lain :
a. Budget pembelian bahan mentah
b. Keadaan persaingan para supplier bahan mentah di pasar
c. Posisi perusahaan terhadap pihak supplier bahan mentah
d. Syarat pembayaran (term of payment) yang ditawarkan oleh
supplier bahan mentah
e. Budget upah tenaga kerja langsung
f. Budget biaya pabrik tidak langsung
g. Budget biaya administrasi
h. Budget perusahaan aktiva tetap
i. Rencana-rencana perusahaan tentang pengeluaran-pengeluaran
kas untuk keperluan lain-lain “.

2.1.4.9 Hubungan Anggaran Kas Dengan Anggaran Lain

Dalam menyusun anggaran kas tidak terlepas dari hubungannya dengan

penyusunan anggaran perusahaan lainnya, ini berarti bahwa dalam suatu

perusahaan terdapat hubungan timbal balik antara satu kegiatan dengan kegiatan

lainnya. Menurut James D. Wilson dan John B. Campbell dalam Tjintjin Fenix

Tjendera (1996:402) hubungan anggaran kas dengan anggaran lain adalah :

“Penyusunan anggaran kas pada umumnya bergantung pada anggaran lain,

yaitu anggaran penjualan, laporan perhitungan laba rugi yang ditaksirkan,

berbagai anggaran operasi dan rencana strategis jangka panjang. Sebenarnya


anggaran kas merupakan program penjualan dan biaya yang terkoordinasi serta

yang dikorelasikan dengan perubahan-perubahan neraca, penghasilan serta

pengeluaran yang diharapakan. Dapat pula diperkirakan bahwa anggaran kas

adalah suatu alat pengecek terhadap seluruh program anggaran. Apabila sasaran-

sasaran anggaran operasi tercapai maka hasilnya akan tercermin dalam posisi kas,

sebaliknya apabila gagal mencapai sasaran anggaran maka bagian keuangan

terpaksa harus mencari sumber tambahan kas. Anggaran kas dapat menduduki

prioritas yang tergantung dari pada posisi kas atau posisi keuangan perusahaan.

Banyak para eksekutif yang lebih suka menelaah anggaran kas mendahului

laporan-laporan lain yang diproyeksikan, dan oleh karena itu dapat mengambil

tempat nomor satu dalam laporan lengkap tentang operasi-operasi yang

diharapkan. Jadi anggaran kas meskipun hanya merupakan awal sekaligus akhir

dari setiap aktivitas perusahaan. “

Menurut M. Nafarin (2008:316) hubungan anggaran kas dengan anggaran

lain dikemukakan sebagai berikut :

“ Penyusunan anggaran kas menggunakan pendekatan akunting keuangan


atau metode tak langsung dapat dilakukan dengan cara menganalisis
perubahan yang terjadi dalam anggaran neraca dan anggaran laba rugi
yang diperbandingkan antara dua periode serta informasi lain yang
mendukung terjadinya perubahan tersebut. “

Jadi anggaran kas meskipun merupakan bagian dari rencana induk, setiap

fungsinya sangat penting. Karena merupakan awal dan sekaligus akhir dari setiap

aktivitas perusahaan. Jelaslah bahwa anggaran kas harus selalu didahului dengan

penyusunan anggaran-anggaran lain seperti anggaran penjualan, persediaan, biaya

operasi, dan lain sebagainnya.


2.1.5 Rasio Keuangan

Rasio keuangan dapat dijadikan dalam dua cara yang pertama, untuk

membuat perbandingan keadaan keuangan pada saat yang berbeda. Dan kedua,

untuk membuat perbandingan keadaan keuangan dengan perusahaan lain. Analisis

rasio merupakan alat analisis yang berguna apabila dibandingkan dengan rasio

standar, terdapat dua macam rasio standar yang lazim digunakan. Yang pertama

adalah rasio yang sama dari laporan keuangan tahun-tahun lalu, yang kedua

adalah rasio dari perusahaan lain yang mempunyai karakteristik yang sama

dengan perusahaan yang dianalisis. Rasio standar kedua ini lazim disebut rata-rata

rasio standar.

Suatu rasio mengungkapkan hubungan matematik antara suatu jumlah

dengan jumlah lainnya atau perbandingan antara satu pos dengan pos lainnya.

Suatu rasio akan menjadi bermanfaat, bila rasio tersebut memperlihatkan suatu

hubungan yang mempunyai makna. Rasio merupakan teknik analisis laporan

keuangan yang paling banyak digunakan.

Rasio keuangan menurut Mohamad Muslich (2003:47), mengemukakan


sebagai berikut :
“ Rasio keuangan dapat disajikan dalam dua cara yaitu :
1. Untuk membuat perbandingan keadaan keuangan pada saat yang
berbeda.
2. Untuk membuat perbandingan keadaan keuangan dengan
perusahaan lain.
Terdapat dua macam rasio standar yang lazim digunakan :
1. Rasio yang sama dari laporan keuangan tahun-tahun yang lampau.
2. Rasio dari perusahaan lain yang mempunyai karakteristik yang
sama dengan perusahaan yang dianalisis. “
Menurut Dwi Prastowo & Rifka Juliaty (2002:76) mengatakan analisis

laporan

keuangan dapat dibagi menjadi lima, yaitu :

“ 1. Likuiditas, yang mengukur kemampuan suatu perusahaan dalam


memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
2. Solvabilitas (struktur modal), yang mengukur kemampuan suatu
perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya atau
mengukur tingkat proteksi kreditur jangka panjang.
3. Return on Investment, yang mengukur tingkat kembalian investasi
yang telah dilakukan oleh perusahaan.
4. pemanfaatan aktiva, yang mengukur efisiensi dan efektivitas
pemanfaatan setiap aktiva yang dimiliki perusahaan.
5. Kinerja operasi yang mengukur efisiensi operasi perusahaan. “

Menurut Mohamad Muslich (2003:47-51), mengemukakan bahwa rasio

keuangan dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu :

“ 1. Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas menunjukan tingkat kemudahan relatif suatu aktiva
untuk segera dikonversikan ke dalam kas dengan sedikit atau tanpa
penurunan nilai, serta tingkat kepastian tentang jumlah kas yang
dapat diperoleh.
2. Rasio Efisiensi
Rasio efisiensi digunakan untuk mengukur seberapa efisien
perusahaan mempergunakan aktivanya.
3. Rasio Leverage
Rasio leverage digunakan untuk menjelaskan penggunaan utang
untuk membiayai sebagian daripada aktiva perusahaan.
4. Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas digunakan untuk mengukur tingkat profitabilitas
dapat dilakukan dengan membandingakan tingkat Return on
Investment (ROI) yang diharapkan dengan tingkat return yang
diminta oleh investor dalam pasar modal. “
2.1.6 Likuiditas

2.1.4.4 Pengertian Likuiditas

Likuiditas merupakan salah satu faktor yang menentukan sukses atau

gagalnya suatu perusahaan. Penyediaan kebutuhan uang tunai untuk memenuhi

kewajiban jangka pendek menentukan sampai sejauh mana perusahaan itu

menanggung risiko. Atau dengan perkataan lain, kemampuan suatu perusahaan

untuk mendapatkan kas atau kemampuannya merealisasikan aktiva non kas

menjadi kas. Dengan mengukur likuiditas dapatlah diketahui berapa banyak uang

tunai yang dimiliki atau dapat dicapainya uang tunai dengan jalan menjual

kekayaannya.

Secara umum likuiditas dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang

meliputi perkiraan secara terus menerus akan kebutuhan kas langsung yang di

perlukan dari perusahaan, perkiraan atau kebutuhan kas jangka pendek serta

perkiraan kas jangka panjang.

Menurut Lukman Syamsudin (2004:41) mengatakan bahwa likuiditas

adalah :

“ Likuiditas merupakan suatu indikator mengenai kemampuan perusahaan

untuk membayar semua kewajiban finansial jangka pendek pada saat

jatuh tempo dengan menggunakan aktiva lancar yang tersedia. “

Likuiditas menurut Sofyan Syafri Harahap (2002:301), adalah sebagai

berikut :

“Likuiditas menggambarkan kemampuan perusahaan untuk

menyelesaikan kewajiban jangka pendeknya. “


Pengertian likuiditas menurut Bambang Riyanto (2001:27), menyebutkan

bahwa :

“ Untuk mendapatkan kepastian yang lebih besar seringlah kita mengukur


tingkat likuiditas suatu perusahaan selain dengan menggunakan rasio
current ratio, tetapi dilengkapi dengan menggunakan acid test-ratio, cash
ratio, dan working capital to asset ratio sebagai alat ukurnya. “

Tingkat likuiditas merupakan suatu indikator mengenai kemungkinan

kemampuan perusahaan untuk membayar semua kewajiban finansial jangka

pendek pada saat jatuh tempo dengan menggunakan aktiva lancar yang tersedia.

likuiditas tidak hanya berkenaan dengan kemampuannya untuk mengubah aktiva

lancar tertentu menjadi uang kas.

Dengan demikian, perusahaan yang mampu memenuhi kewajiban secara

tepat waktu artinya perusahaan dalam keadaan likuid dan perusahaan tersebut

mempunayi alat pembayaran ataupun aktiva lancar yang lebih besar dari hutang

lancarnya. Jadi dengan melihat likuiditas suatu perusahaan, pihak kreditur dengan

Bank dapat menilai baik buruknya perusahaan tersebut. Oleh karena itu, sangat

penting bagi perusahaan untuk dapat mempertahankan likuiditasnya.

2.1.4.5 Macam-macam Likuiditas

Menurut Bambang Riyanto (2001:25), likuiditas dapat dibedakan menjadi


dua macam :
“ 1. Likuiditas badan usaha, yaitu kemampuan untuk membayar
kewajiban-kewajibannya yang dihubungkan dengan kewajiban
kepada pihak ekstern (para kreditur). Dengan demikian,maka
likuiditas badan usaha berarti kemampuan perusahaan untuk dapat
menyediakan alat-alat likuid sedemikian rupa sehingga dapat
memenuhi kewajiban finansialnya pada saat ditagih.
2. Likuiditas perusahaan, yaitu kemampuan perusahaan untuk
membayar finansialnya yang segera harus dibayar dalam
menyelenggarakan proses produksi. Dengan kata lain, apakah
perusahaan pada setiap saat dapat memenuhi pembayaran-
pembayaran yang diperlukan untuk kelancaran kegiatan
operasional perusahaan misalnya, untuk pembelian bahan baku,
membayar upah gaji dan pegawai. Untuk menjaga likuiditas
perusahaan perlu membuat estimasi mengenai aliran kas yang
disusun dalam suatu anggaran yang disebut Cash Budget. “

2.1.4.6 Rasio Tingkat Likuiditas

Rasio merupakan alat analisis laporan keuangan yang dapat memberikan

jalan keluar dan menggambarkan symptom (gejala-gejala yang tampak) suatu

keadaan. Dalam hubungannya dengan keputusan yang diambil oleh perusahaan,

analisis rasio bertujuan untuk menilai efektivitas keputusan yang telah diambil

oleh perusahaan dalam rangka menjalankan aktivitas perusahaannya yang

kemudian dapat memberikan informasi mengenai kekuatan dan kelemahan

perusahaan.

Tidak hanya bank dan para kreditor jangka pendek saja yang tertarik

terhadap angka-angka rasio modal kerja (likuiditas), yaitu rasio yang digunakan

untuk menganalisa dan menginterpretasikan posisi keuangan jangka pendek, tetapi

juga sangat membantu bagi manajemen untuk mengecek efisiensi modal kerja

yang digunakan dalam perusahaan, juga penting bagi kreditur jangka panjang dan

pemegang saham yang akhirnya atau setidak-tidaknya ingin mengetahui prospek

dari dividen dan pembayaran bunga di masa yang akan datang.

Menurut Eugene F. Brigham dan Joel F. Houston dalam Dodo Suharto dan

Herman Wibowo (2001:79), rasio likuiditas adalah :


“ Rasio likuiditas merupakan rasio yang menunjukan hubungan kas dan

aktiva lancar lainnya dengan kewajiban lancar. “

Menurut Munawir (2007:71) pengertian rasio likuiditas adalah sebagai

berikut :

“ Rasio yang digunakan untuk menganalisa dan menginterpretasikan posisi

keuangan jangka pendek, tetapi juga sangat membantu bagi management

untuk mengecek efisiensi modal kerja yang digunakan dalam perusahaan“

Untuk menilai posisi keuangan jangka pendek (likuiditas) berikut ini

diberikan beberapa rasio yang dapat digunakan sebagai alat untuk menganalisa

dan menginterpretasikan data tersebut.

2.1.4.3.1 Proyeksi Rasio Lancar (Current Ratio)

Proyeksi current ratio merupakan rasio yang membandingkan antara

jumlah seluruh aktiva lancar yang meliputi kas, piutang dan persediaan, dengan

seluruh jumlah hutang lancar (ternasuk di dalamnya hutang jangka panjang yang

jatuh tempo). Proyeksi Current ratio ini merupakan ukuran yang menunjukan

kesanggupan bagi perusahaan untuk membayar seluruh hutangnya yang jatuh

tempo.

Menurut Lukman Syamsudin (2001:43), mengartikan Rasio Lancar

(Current Ratio) sebagai berikut :

“ Current Ratio merupakan salah satu rasio finansial yang sering

digunakan. Current Ratio adalah perbandingan antara jumlah aktiva lancar

(current asset) dengan hutang lancar (current liabilities).


Menurut Mamduh M. Hanafi & Abdul Halim (2003:77), mengartikan

bahwa rasio lancar yaitu :

“ Rasio lancar mengukur kemampuan perusahaan memenuhi hutang

jangka pendeknya dengan menggunakan aktiva lancarnya (aktiva yang

akan berubah menjadi kas dalam waktu satu tahun atau satu siklus

bisnis).”

Bambang Riyanto (2001:26) menyebutkan pengertian Current ratio

sebagai berikut :

“ Current ratio ini merupakan ukuran berharga untuk mengukur

kesanggupan suatu perusahaan untuk memenuhi current obligationnya “.

Berdasarkan pengertian di atas bahwa Proyeksi Rasio Lancar (Current

Ratio) adalah perbandingan antara jumlah aktiva lancar dengan hutang lancar.

Rumus Current ratio (Bambang Riyanto ,2001:332)


Aktiva Lancar
Current Ratio =
Hutang Lancar

Rasio ini menunjukan besarnya kas yang dipunyai perusahaan ditambah


aset-aset yang bisa berubah menjadi kas dalam waktu satu tahun, relatif terhadap
besarnya hutang-hutang yang jatuh tempo dalam jangka waktu dekat, pada tanggal
tertentu seperti tercantum pada neraca.
Rasio ini menunjukkan sejauh mana aktiva lancar menutupi kewajiban-
kewajiban lancar. Semakin besar perbandingan aktiva lancar dengan hutang lancar
semakin tinggi kemampuan perusahaan menutupi kewajiban jangka pendek.
Rasio ini dapat dibuat dalam bentuk berapa kali atau dalam bentuk persentasi.

2.1.5.3.2 Rasio Cepat (Quick Ratio/ Acid Test Ratio)

Seperti halnya pada Current ratio, rasio ini juga digunakan untuk

mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya yang jatuh


tempo. Namun pada rasio ini, ukuran kemampuan membayar yang ditunjukkan

lebih realistis dibanding current ratio , karena pada quick ratio tidak seluruh

aktiva lancar turut diperhitungkan, yakni dengan menyisihkan elemen persediaan

barang lebih dahulu kemudian diperbandingkan dengan total hutang lancar.

Rasio cepat ini menggunakan aset-aset yang akan berubah menjadi kas

dengan lebih cepat. Karena persediaan dianggap sebagai aktiva lancar yang paling

lama untuk berubah menjadi kas, persediaan dikeluarkan dari angka yang dibagi

dalam perhitungan rasio lancar.

Menurut Lukman Syamsudin (2001:45), mengartikan Rasio Cepat (Quick

Ratio) sebagai berikut :

“ Quick Ratio adalah perbandingan antara aktiva lancar dikurangi

persediaan dengan hutang lancar. “

Pengertian Quick Ratio menurut Mamduh M.Hanafi & Abdul Halim

(2003:204),

yaitu :
“ Quick Ratio sering juga disebut Acid-test Ratio, rasio ini menggunakan
aset-aset yang akan berubah menjadi kas dengan lebih cepat. Karena
persediaan dianggap sebagai aktiva lancar yang paling lama untuk berubah
menjadi kas, maka dalam perhitungan Quick ratio persediaan dikeluarkan
dari angka yang dibagi (numerator). “

Menurut Bambang Riyanto (2001:27) menyebutkan Quick ratio adalah

sebagai berikut :

“ Elemen persediaan barang (Inventory) tidak diperhitungkan, karena


inventory dipandang sebagai aktiva lancar yang tingkat likuiditasnya
rendah dan lagi pula yang paling sering mengalami fluktuasi harga “.
Dari definisi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Quick Ratio adalah

perbandingan aktiva lancar dengan hutang lancar setelah dikurangi persediaan.

Rumus Quick Ratio (Bambang Riyanto,2001:333)

Aktiva Lancar - Persediaan


Quick Ratio =
Hutang Lancar

Rasio ini menunjukan kemampuan aktiva lancar yang paling likuid

mampu menutupi hutang lancar, semakin besar rasio ini semakin baik . Rasio ini

disebut juga Acid-test Ratio.

2.1.5.3.3 Rasio Kas (Cash Ratio)

Cash Ratio menunjukkan kemampuan suatu perusahaan untuk membayar

hutang perusahaan yang harus segera terpenuhi dengan kas yang tersedia dalam

perusahaan dan efek yang dapat segera diuangkan. Pada rasio ini, yang

diperhitungkan hanya elemen-elemen aktiva lancar lain yang benar-benar dapat

direalisasi secepatnya menjadi uang kas. Uang kas disini yang dimaksud adalah

uang kas yang ada pada perusahaan maupun uang kas yang disimpan di Bank.

Menurut Lukman Syamsudin (2001:46), mengartikan Rasio Kas (Cash

Ratio) sebagai berikut :

“ Rasio kas merupakan perbandingan antara kas dengan total utang lancar.

Atau dapat juga dihitung dengan mengikut sertakan surat-surat berharga “.

Sedangkan pengertian Cash Ratio menurut Mamduh M. Hanafi & Abdul

Halim (2003:204), yaitu :


“ Cash Ratio yaitu perbandingan aliran kas dalam suatu periode dibagi

rata-rata hutang lancar pada periode tersebut “.

Berdasarkan definisi di atas dapat diketahui bahwa Cash Ratio adalah

perbandingan antara kas dengan hutang lancar.

Kas dan surat-surat berharga merupakan alat likuid yang paling dipercaya.

Rasio kas juga menunjukkan kemampuan perusahaan untuk membayar utang yang

segera harus dipenuhi dengan kas yang tersedia dalam perusahaan dan surat-surat

berharga yang dapat segera diuangkan.

Rumus Cash Ratio (Bambang Riyanto,2001:333)

Efek + Kas
Cash Ratio =
Hutang Lancar

Bertambah tinggi Cash Ratio berarti jumlah uang tunai yamg tersedia

makin besar sehingga pelunasan utang pada saatnya tidak akan mengalami

kesulitan tetapi bila terlalu tinggi akan mengurangi potensi untuk mempertinggi

Rate Of Return.

2.1.6 Pengaruh Anggaran Kas Terhadap Tingkat Likuiditas

Anggaran kas yang disusun oleh perusahaan dalam suatu periode

mempunyai peranan besar dalam menentukan kelancaran kegiatan perusahaan

antara lain kegiatan yang berhubungan dengan kemampuan perusahaan dalam

memenuhi kewajiban finansial yang segera harus dipenuhi. Dengan menyusun

anggaran kas, perusahaan dapat merumuskan srategi dan kebijakan yang tepat

dalam memenuhi kewajiban lancarnya dengan segera. Kemampuan membayar ini


dapat diketahui dengan membandingkan antara kekuatan membayar di satu pihak

dengan kewajiban finansial yang harus dipenuhi oleh perusahaan dalam dua atau

lebih periode di masa yang akan datang. Dengan kata lain likuiditas perusahaan

dapat di maksudkan sebagai perbandingan antara jumlah uang tunai dengan aktiva

lain yang dapat dipersamakan dengan uang tunai di satu pihak dengan jumlah

hutang lancar atau pengeluaran-pengeluaran untuk menyelenggarakan kegiatan

perusahaan di lain pihak. Hasil perbandingan tersebut merupakan ukuran untuk

mengukur kesanggupan suatu perusahaan dalam memenuhi kewajiban

finansialnya.

Agar tujuan perusahaan dapat dicapai secara efisien dan efektif maka

harus diterapkan prinsip manajemen yang sehat dan baik. Hal ini berlaku pula

manajemen kas sebagai bagian dari manajemen perusahaan salah satu usaha yang

dilakukan sehubungan dengan itu adalah menerapkan manajemen kas.

Sebagai salah satu alat manajemen kas, anggaran kas dapat menyediakan

informasi yang sangat dibutuhkan oleh manajemen keuangan dalam menentukan

tingkat proyeksi likuiditas perusahaan. Informasi-informasi tersebut meliputi

seluruh rencana penerimaan dan pengeluaran serta posisi kas pada saat tertentu,

sehingga dapat diperkirakan adanya surplus atau defisit serta jumlah dana saat hal

itu terjadi.

Harahap (2001:175) mengemukakan bahwa :

“ Anggaran kas sangat penting untuk mengatur suatu perusahaan sehingga

tidak mengalami masalah likuiditas, idle capacity atau over liquid, dan

keadaan negatif lainnya “


Efisiensi anggaran kas dapat dilihat dari pola cash inflow (cash receipt)

dan cash outflow (cash disbursement) yang terjadi dalam perusahaan. Apabila

cash inflow telah seimbang dapat diramalkan dengan derajat ketetapan yang

cukup tinggi maka saldo kas dapat ditentukan sampai tingkat yang optimal.

Seimbangnya arus penerimaan dan pengeluaran didasari oleh kebijakan-

kebijakan yang dianut perusahaan dalam mengelola arus kasnya, baik terhadap

pelanggan sebagai sumber utama perusahaan maupun terhadap lembaga atau

organisasi di mana perusahaan membayarkan kewajiban kasnya. Di samping itu

perusahaan juga perlu menentukan metode apa yang akan digunakan untuk

menjamin terjadinya aliran kas yang tepat dalam hal waktu maupun kuantitasnya

sesuai dengan kebijakan yang telah disepakati.

Evaluasi tehadap peramalan arus kas yang dinyatakan dalam anggaran kas

akan memberikan gambaran bagi pihak pengambil keputusan mengenai prospek

persediaan dana kas atas perusahaan di masa mendatang.

2.2 Kerangka Pemikiran

Setiap badan usaha milik pemerintah, maupun perusahaan swasta berusaha

untuk melaksanakan kegiatan operasinya dengan lancar dalam hal peningkatan

efisiensi dan efektivitas kinerjanya dan demi tercapainya kegiatan perusahaan

yang telah ditetapkan. Untuk dapat melaksanakan kegiatan operasi tersebut

dengan lancar akan sangat dipengaruhi oleh keadaan kas perusahaan tersebut. Kas

adalah modal kerja yang memiliki tingkat likuiditas yang paling tinggi di mana
semakin besar jumlah kas yang ada dalam perusahaan berarti semakin tinggi

tingkat likuiditasnya, kas juga sebagai alat untuk menjaga berbagai kesempatan

yang mungkin timbul dalam memperoleh keuntungan seperti adanya pembelian

tunai yang memperoleh potongan harga dengan persentase tertentu. Tetapi ini

tidak berarti perusahaan harus mempertahankan jumlah kas yang sangat besar,

karena semakin banyak jumlah kas perusahaan, berarti semakin banyak jumlah

uang yang menganggur sehingga memperkecil tingkat profitabilitasnya bahkan

bisa menimbulkan pemborosan yang dapat merugikan bagi perusahaan tersebut.

Di dalam mengelola suatu perusahaan, manajemen menetapkan sasaran

yang akan dicapai di masa yang akan datang dalam proses yang sering disebut

dengan perencanaan yang kemudian membandingkan hasil aktual atau

realisasinya dengan anggaran.

Rencana biasanya tercantum dalam anggaran. Anggaran merupakan suatu

rencana kerja yang disusun secara sistematis yang meliputi seluruh kegiatan

perusahaan yang dinyatakan secara kuantitatif yang berlaku untuk jangka waktu

tertentu di masa yang akan datang. Pada dasarnya penggunaan anggaran adalah

sebagai alat bantu manajemen dalam mengambil keputusan.

Dalam rangka mewujudkan apa yang menjadi tujuan dari perusahaan,

maka sebagai salah satu alat yang digunakan manajemen dalam menyusun

perencanaan yang tepat serta pengendalian kas yang memadai tanpa harus

menunggu perusahaan berada dalam keadaan keuangan yang kritis adalah dengan

melakukan penerapan anggaran kas di dalam perusahaan.

Pengertian anggaran menurut M. Nafarin (2008:15) yaitu :


“ Anggaran merupakan rencana tertulis mengenai kegiatan suatu

organisasi yang dinyatakan secara kuantitatif dan umumnya dinyatakan

dalam satuan jangka waktu tertentu “.

Salah satu anggaran yang penting dibuat oleh setiap perusahaan adalah

penyusunan anggaran kas, berikut pengertian anggaran kas antara lain :

Anggaran kas menurut Bambang Riyanto (2001:97) yaitu :

“ Anggaran kas adalah estimasi terhadap posisi kas untuk suatu periode

tertentu yang akan datang “.

Dari definisi di atas bahwa anggaran kas merupakan suatu rencana

anggaran tentang posisi kas untuk suatu periode tertentu untuk digunakan di masa

yang akan datang.

Penggunaan anggaran kas dalam perusahaan menurut Bambang Riyanto

(2001:97) berfungsi sebagai berikut :

“ 1. Secara umum, semua anggaran termasuk anggaran kas mempunyai


tiga kegunaan pokok, yaitu sebagai pedoman kerja, sebagai alat
pengkoordinasian kerja, dan sebagai alat pengendalian kerja yang
membantu manajemen dalam melakukan tugasnya.
3. Secara khusus, anggaran kas berguna sebagai dasar penyusunaan
anggaran induk neraca “.

Pengertian likuiditas menurut Munawir (2002:31), sebagai berikut:

“Likuiditas adalah menunjukan kemampuan suatu perusahaan untuk


memenuhi kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi, atau
kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan pada saat
ditagih “.

Menurut Lukman Syamsudin (2002:41) menyebutkan pengertian likuiditas

yaitu :
“ Likuiditas merupakan suatu indikator mengenai kemampuan perusahaan

untuk membayar semua kewajiban finansial jangka pendek pada saat jatuh

tempo dengan menggunakan aktiva lancar yang tersedia “.

Dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa proyeksi likuiditas yaitu

kemungkinan kemampuan perusahaan untuk menyelesaikan kewajiban-kewajiban

jangka pendek.

Untuk menjaga proyeksi likuiditas, perusahaan perlu membuat perkiraan

atau estimasi mengenai aliran kas dalam perusahaan yaitu dari saldo awal yang

merupakan anggaran kas. Anggaran kas yang terdiri dari penerimaan kas dan

pengeluaran kas akan diperoleh saldo akhir. Saldo akhir penerimaan dan

pengeluaran kas tahun sekarang akan dijadikan pedoman untuk membuat

anggaran untuk tahun yang akan datang.

Untuk mengetahui sejauh mana perusahaan memungkinkan dapat

memenuhi kewajiban-kewajibannya dan juga perkembangan suatu perusahaan,

dapat kita ketahui dari tingkat proyeksi likuiditasnya dan dapat dihitung dengan

menggunakan metode dan teknik analisis yang tepat melalui alat ukur yang ada

pada likuiditas, antara lain rasio lancar (Current Ratio), rasio kas (Cash Ratio) dan

rasio cepat (Quick Ratio).

Selain daripada itu anggaran kas dapat juga melihat bagaimana

kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya.

Menurut Sofyan Syafri Harahap (2001:175) menerangkan hubungan

anggaran kas dengan tingkat proyeksi likuiditas adalah sebagai berikut :


“ Anggaran kas sangat penting untuk mengatur suatu perusahaan sehingga

tidak mengalami masalah likuiditas, idle capacity atau over liquid, dan

keadaaan negatif lainnya “

Dengan disusunnya anggaran kas perusahaan, akan dapat diketahui sampai

sejauh mana pengaruhnya terhadap tingkat proyeksi likuiditasnya. Apabila tingkat

proyeksi likuiditasnya yang dimiliki perusahaan tersebut telah sesuai dengan

target yang diharapkan, maka tujuan anggaran kas dalam mengukur tingkat

proyeksi likuiditas pun tercapai.

Anggaran kas bagi PT PLN (Persero) sangatlah penting artinya bagi

penjagaan likuiditasnya. Dengan adanya anggaran kas dapat diketahui kapan

perusahaan dalam keadaan defisit kas atau surplus kas karena operasinya

perusahaan.

Berdasarkan Irma Rahmayanti (2004) dalam penelitiannya yang berujudul

“Pengaruh Anggaran Kas (Cash Budget) terhadap Rasio Likuiditas pada PT.

Kereta Api (Persero)”, menjelaskan bahwa salah satu alat perencanaan dalam

keuangan adalah anggaran, salah satunya Anggaran Kas (Cash budget).pada setiap

perusahaan, kas diperlukan untuk membiayai operasional perusahaan maupun

mengadakan investasi dan pembelian aktiva tetap. Kas merupakan salah satu

unsur aktiva lancar yang paling tinggi tingkat Likuiditasnya. Dengan demikian

adanya Anggaran Kas (Cash Budget) menunjukkan perusahaan dapat mengelola

penerimaan kas dan mampu mengendalikan pengeluaran kas. Metode penelitian

yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dan kuantitatif. Teknik

pengujian statistik yang digunakan adalah perhitungan korelasi Pearson Product


Moment (r), Koefisien determinasi (KD), Uji Hipotesis dan juga menggunakan

aplikasi Statistical Product and Service Solution (SPSS) 11.0 for Windows untuk

memperkuat perhitungan secara manual. Adapun hasil pengujian korelasi

Anggaran Kas (Cash Budget) terhadap Tingkat Likuiditas pada PT. Kereta Api

(Persero) yang diukur menggunakan Current Ratio, Cash Ratio, dan Quick Ratio

adalah sebagai berikut :

1. Terdapat korelasi positif yang rendah antara Anggaran Kas (Cash Budget)

dengan Current Ratio pada PT. Kereta Api (persero), yaitu sebesar 0,526,

sedangkan KD yang dihasilkan adalah 27,67% sisanya sebesar73,33%

dipengaruhi oleh faktor lain. Thitung = 1,258 < t tabel = 3,182.

2. Terdapat korelasi positif yang rendah antara Anggaran Kas (Cash Budget)

dengan Cash Ratio pada PT. Kereta Api (persero), yaitu sebesar 0,46,

sedangkan KD yang dihasilkan adalah 21,70% sisanya

sebesar78,30%dipengaruhi oleh faktor lain. Thitung = 0,916 < t tabel = 3,182.

3. Terdapat korelasi positif yang rendah antara Anggaran Kas (Cash Budget)

dengan Quick Ratio pada PT. Kereta Api (persero), yaitu sebesar 0,512,

sedangkan KD yang dihasilkan adalah 26,20% sisanya

sebesar73,80%dipengaruhi oleh faktor lain. Thitung 1,032 = < t tabel = 3,182.

Berdasarkan hasil penelitian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa thitung <

ttabel artinya H ditolak dan H diterima dengan kata lain bahwa Anggaran Kas

(Cash Budget) tidak berpengaruh terhadap Tingkat Likuiditas pada PT. Kereta

Api (Persero).
Adapun penelitian yang akan penulis lakukan adalah untuk mengetahui

pengaruh anggaran kas terhadap tingkat proyeksi likuiditas pada PT. PLN

Distribusi Jawa Barat (Persero).

Selanjutnya kerangka pemikiran diatas dapat dilihat pada gambar 1.1 sebagai

berikut :

Saldo Akhir

Anggaran Kas
Penerimaan Kas Pengeluaran Kas

Tingkat Likuiditas

Tingkat Current Ratio Tingkat Quick Ratio

Pengaruh Perubahan Anggaran Kas Terhadap Tingkat Likuiditas

Terpenuhi Tidak Terpenuhi

Gambar 1.1
Bagan Kerangka Pemikiran
3.3 Hipotesis

Berdasarkan uraian kerangka pemikiran di atas maka hipotesis yang

dirumuskan adalah :

“Terdapat pengaruh Perubahan Anggaran Kas terhadap Tingkat Likuiditas”.


BAB III

METODE PENELITIAN

3.3 Metode Penelitian Yang Digunakan

3.3.1 Objek Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian

deskriptif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif.

Sugiyono, (2008:8) mengatakan Metode Deskriftif adalah menggambarkan

kondisi sebenarnya obyek penelitian ketika melakukan penelitian.

Kuantitatif/statistic dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.

Jadi deskriptif artinya yaitu suatu metode analisis yang dilaksanakan dengan cara

mengumpulkan data, kemudian berdasarkan fakta dan kejadian yang ada termasuk

masalah yang dihadapi perusahaan, dan membandingkannya dengan teori-teori

mengenai hal tersebut. Data yang dikumpulkan kemudian disusun dan diolah

secara statistik, kemudian selanjutnya dilakukan suatu analisis dengan

menggunakan perhitungan statistik, dan berusaha untuk memecahkan

permasalahan tersebut sehingga dapat menghasilkan kesimpulan.

Artinya penelitian yang dilakukan adalah penelitian yang menekankan

analisisnya pada data numeric (angka) yang diolah dengan menggunakan

pendekatan penelitian ini akan diperoleh hubungan yang signifikan antar variabel

yang di teliti.
3.4 Definisi Variabel dan Operasionalisasi Variabel

3.2.1 Definisi Variabel

Sesuai dengan judul penelitian yaitu mengenai “Pengaruh Perubahan

Anggaran Kas Terhadap Tingkat Likuiditas” maka, terdapat dua variabel yaitu :

1. Variabel Bebas (Independent Variable)

Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi variabel lain atau variabel

yang dianggap berpengaruh terhadap variabel lainnya, dalam kaitannya

dengan masalah yang diteliti, maka yang menjadi variabel independen adalah

Anggaran Kas

2. Variabel Tidak Bebas (Dependent Variable)

Variabel tidak bebas adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel lain,

dalam kaitannya dengan masalah ini maka yang menjadi variabel dependen

adalah Tingkat Likuiditas.

3.2.2 Operasionalisasi Variabel

Variabel-variabel penelitian ini akan dijabarkan ke dalam kriteria-kriteria

dan indikator-indikator, indikator-indikator tersebut diukur berdasarkan skala

rasio. Operasionalisasi variabel dapat dilihat pada tabel 3.1 di bawah ini
Tabel 3.1
Operasionalisasi Variabel

Variabel Konsep Indikator Skala

Anggaran Kas Anggaran kas merupakan Perubahan realisasi proyeksi Rasio


(Variabel X) arus uang masuk dan keluar saldo akhir dari saldo awal
yang direncanakan dan ditambah rencana penerimaan
posisi terakhir pada akhir kas dikurangi rencana
periode tertentu. pengeluaran kas
Gleen A. Welsch, Ronald
W. Hilton dan Paul N.
Gordon dengan alih bahasa
Purwatiningsih dan Maudy
Warouw,(2003:377)
Tingkat Tingkat Likuiditas adalah Tingkat proyeksi likuiditas
Likuiditas kemungkinan kemampuan - Proyeksi Current Ratio Rasio
(Variabel Y) perusahaan untuk memenuhi - Proyeksi Quick Rasio
kewajiban jangka Ratio/Acid Test Ratio
pendeknya.
Sofyan Syafri Harahap
(2002:301)

Operasionalisasi varaibel tersebut dapat digambarkan dalam model

penelitian. Model penelitian merupakan observasi dan fenomena-fonomena yang

diteliti. Model penelitian bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai

masalah yang diteliti, yaitu variabel independen dan variabel dependen. Dalam hal

ini sesuai dengan judul “Pengaruh Anggaran Kas Terhadap Tingkat Proyeksi

Likuiditas”, maka model penelitian dapat digambarkan sebagai berikut :


Sofyan Syafri Tingkat Likuiditas
Perubahan
Anggaran Kas (Y)
(2002:175)
(X)

Gambar 3.1
Model Penelitian
Secara matematis sebagai berikut :

Y = ƒ (X)

Dimana :

X = Perubahan Anggaran Kas

Y = Tingkat likuiditas

ƒ = fungsi

3.8 Populasi dan Sampel

3.3.1 Kerangka Sampling, Unit Sampling dan Ukuran Sampel

Populasi adalah keseluruhan (totality) objek psikologi yang dibatasi oleh

kriteria tertentu dan dapat dikategorikan ke dalam objek, yang bisa berupa

manusia, file-file atau dokumen-dokumen yang dapat dipandang sebagai objek

penelitian.

Populasi dalam penelitian ini adalah Laporan anggaran kas dan laporan

keuangan berupa neraca PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat berdasarkan

laporan terbaru, sesuai dengan kondisi keuangan PT. PLN saat ini.
Ukuran sampel yaitu merupakan suatu langkah dalam pelaksanaan suatu

penelitian. Dimana dalam suatu penelitian sampel harus bersifat representatif,

artinya sampel harus dapat mencerminkan, mewakili, melingkupi semua ciri dan

karakteristik yang ada pada populasi

Pada penelitian ini sampel yang diambil adalah berupa Laporan Anggaran

Kas dari tahun 2000 sampai dengan 2009 (10 tahun), dan data Laporan Keuangan

berupa neraca dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2009 (10 tahun).

Alasan pengambilan sampel pada 10 tahun terakhir adalah karena pada

periode tersebut terjadi krisis listrik, akibat terbatasnya kapasitas pembangkit,

perseroan juga menghadapi keterbatasan kemampuan membeli energi. Dengan

keterbatasan itu, PLN tidak mampu mengimbangi pertumbuhan penggunaan

tenaga listrik. Harga bahan bakar, baik BBM maupun batu bara, terus melejit.

Akibatnya, rentang harga jual listrik dengan biaya produksi makin jauh.

3.3.2 Teknik Sampling

Pada penelitian ini akan digunakan sampling nonprobability sampling

yaitu teknik sampling yang tidak memberikan peluang/ kesempatan yang sama

bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel.

Pada penelitian di sini peneliti menggunakan sampling purposive yaitu

teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu, dengan sampel laporan

anggaran kas PT. PLN Distribusi Jawa Barat dari tahun 2000 sampai dengan

tahun 2009 (10 tahun), dan laporan neraca PT. PLN Distribusi Jawa Barat dari

tahun 2000 sampai dengan tahun 2009 (10 tahun).


3.9 Sumber Data Penelitian

Data yang diperoleh selama melakukan penelitian, penulis mengunakan :

1. Data Primer

Data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada

pengumpul data. Data ini diperoleh langsung dari PT. PLN (Persero)

Distribusi Jawa Barat, baik dari hasil wawancara ataupun hasil dari observasi

langsung dengan bagian-bagian terkait untuk memperoleh data yang

diperlukan. Data yang diperoleh antara lain adalah data laporan Anggaran Kas

dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2009 (10 tahun) dan Laporan Keuangan

berupa neraca dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2009 (10 tahun).

3.10 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah time

series yaitu pengambilan data pada beberapa waktu tertentu. Pengumpulan data

ini dilakukan dengan cara :

1. Studi Lapangan ( Field Researh )

Adalah pengumpulan data dengan cara melakukan observasi langsung ke

perusahaan yang menjadi objek penelitian untuk memperoleh data serta

informasi, adapun cara-cara yang dilakukan yaitu :

a. Wawancara ( interview ). Wawancara adalah merupakan pertemuan dua

orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawaba, sehingga

dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topic tertentu.

pengumpulan data dengan cara mengadakan wawancara atau tanya jawab

secara langsung dengan pihak yang berhubungan dengan objek yang


sedang diteliti. Menurut Esterberg (2002) dalam Sugiyono (2008:412-414)

mengemukakan beberapa macam wawancara, yaitu wawancara terstruktur,

semi terstruktur, dan tidak terstruktur.

- wawancara terstruktur digunakan sebagai teknik pengumpul data, bila

peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tentang

informasi apa yang akan diperoleh.

- wawancara semi terstruktur digunakan untuk menemukan permasalahan

secara lebih terbuka, dimana pihak yang diajak wawancara diminta

pendapat, dan ide-idenya.

- wawancara tak terstruktur adalah wawancara yang bebas di mana peneliti

tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara

sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya.

b. Observasi (pengamatan). Observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan.

Para ilmuwan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai

dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi. Jadi observasi dalam

penelitian ini yaitu melakukan pencatatan data dari sumber-sumber tertulis

yang tersedia dan yang diberikan oleh perusahaan dengan melakukan

observasi langsung.

c. Dokumentasi

Yaitu mengadakan pencatatan dan pengumpulan data yang diidentifikasi

dari dokumentasi yang ada kaitannya dengan masalah yang akan dibahas

dalam laporan penelitian ini.


2. Studi Kepustakaan ( library Research )

Dengan maksud untuk menggali teori-teori yang berhubungan dengan

penulisan laporan penelitian sebagai data sekunder dengan cara membaca dan

mempelajari buku-buku atau laporan yang dapat membantu kelancaran

mahasiswa dalam menyusun laporan penelitian.

3.11 Analisis Data dan Rancangan Pengujian Hipotesis Penelitian

3.11.1 Analisis Data

Dalam analisis data ini, penulis menggunakan metode analisis sebagai

berikut :

a. Asumsi Klasik

Dalam regresi linier perlu menghindari penyimpangan asumsi klasik. Dalam

penelitian ini hanya diuji tiga asumsi klasik yang dianggap peneliti yang

sangat penting yaitu : mautokorelasi, dan heteroskedatisitas.

1) Uji Autokorelasi

Uji kedua yang akan dilakukan adalah uji autokorelasi untuk mendeteksi

ada tidaknya korelasi serial antara disturbance term. Terjadinya

autokorelasi atau tidak, dapat dilihat pada nilai d statistik. Apabila (4 –

dL) < d < 4 atau 0 < d < dL maka terdapat autokorelasi di dalam model

regresi, tapi jika 2 < d < (4 – du) atau du < d < 2 maka tidak ada

autokorelasi di dalam model regresi. Jika dL  d  du atau 4 – du  d  4 –

dL, maka pengujian tidak meyakinkan (grey area). Jika nilai d

jatuh pada grey area maka orang tidak dapat menyimpulkan apakah
autokorelasi ada atau tidak ada. Dalam kasus ini orang bisa melanjutkan

tes berikutnya atau diperbaiki (Gujarati, 1995, 217-218).

2) Outlier (Residual Statistik)

Outlier adalah pengamatan yang jauh dari pusat data yang mungkin

berpengaruh besar terhadap koefesien regresi. Dalam statistik ruang, data

pencilan harus dilihat terhadap posisi dan sebaran data yang lainnya

sehingga akan dievaluasi apakah data pencilan tersebut perlu dihilangkan

atau tidak. Metoda yang digunakan dalam hubungannya dengan outlier

(pencilan) adalah analisis residual. Residual banyak memegang peranan

penting dalam pengujian untuk model regresi karena residual itu sendiri

merupakan sisa pada suatu pengamatan ei = Yi – Y. Umumnya pengamatan

yang dicurigai sebagai outlier, influential observations, dan high leverage

dikategorikan ke dalam pelanggaran asumsi. Maka lebih tepat jika digunakan

analisis residual. (Soemartini, 2007).

b. Analisis Regresi

Analisis regresi digunakan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan kedua

variabel sekaligus untuk menaksir nilai variabel Y berdasarkan variabel X yang

diketahui, serta taksiran perubahan nilai variabel Y untuk setiap perubahan

variabel X. Hubungan tersebut umumnya dinyatakan dalam bentuk matematik

yang mempunyai hubungan fungsional antara variabel-variabel tersebut.

Penulis dalam hal ini menganalisis regresi linear dengan persamaan menurut

Sugiyono (2008 : 204-206 ) adalah sebagai berikut :

Y = a + bX
∑ X2 ∑ Y – ∑ X ∑XY
a =
n ∑ X2 – ﴾ ∑ X ﴿2

n ∑ XY – ∑ X ∑ Y
b =
n ∑ X2 – ﴾ ∑X ﴿2

Keterangan : Y = Variabel dependen (tingkat proyeksi likuiditas)

X = Variabel independen (anggaran kas)

a = Konstan

b = Koefisien regresi

n = Jumlah Sampel

c. Analisis Korelasi

Analisis korelasi digunakan untuk mengetahui kekuatan hubungan korelasi

antara kedua variabel dan ukuran yang dipakai untuk menentukan derajat atau

kekuatan hubungan korelasi tersebut. Pengukuran koefisien ini dilakukan

dengan menggunakan koefisien korelasi Pearson Product Moment, karena

mempunyai satu variabel dependen dan satu variabel independen. Adapun

rumus yang digunakan menurut Sugiyono (2008 : 210) adalah sebagai

berikut:

n ∑ XY – ∑ X ∑Y
r =
√ [ n ∑ X2 – ( ∑ X ﴿2 ] [ n ∑Y² – ( ∑ Y )2 ]

Keterangan : r = Koefisien Korelasi

n = Jumlah Data
X = Variabel Independen (anggaran kas)

Y = Variabel Dependen (tingkat proyeksi likuiditas)

Pada dasarnya r dapat bervariasi -1 sampai dengan +1 atau sistematis

dapat ditulis -1 < r > +1.

 Bila r = 0 atau mendekati 0, maka hubungan kedua variabel sangat lemah atau

tidak terdapat hubungan sama sekali sehingga tidak memungkinkan terdapat

pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen.

 Bila 0 < r > 1, maka korelasi antara kedua variabel dapat dikatakan positif

atau searah, dengan kata lain kenaikan atau penurunan nilai-nilai variabel

independen yang terjadi bersama-sama dengan kenaikan atau penurunan

variabel dependen.

 Bila -1 < r < 0, maka korelasi antara kedua variabel dapat dikatakan negatif

atau bersifat kebalikan, dengan kata lain kenaikan nilai-nilai variabel

independen akan terjadi bersama-sama dengan penurunan nilai variabel

dependen dan sebaliknya.

Untuk dapat memberikan penafsiran terhadap koefisien korelasi yang

ditemukan besar atau kecil, maka dapat berpedoman pada ketentuan berikut.
Tabel 3.2
Pedoman Interprestasi Koefisien Korelasi

Interval Koefisien Tingkat Hubungan

0,00 – 0,199 Sangat Rendah

0,20 – 0.399 Rendah

0,40 – 0,599 Sedang

0,60 – 0,799 Kuat

0,80 – 1,00 Sangat Kuat

Sumber : Sugiyono (2008:214)

Untuk membantu dalam pengolahan data, penulis menggunakan aplikasi

software komputer SPSS 17.0 for windows

d. Analisis Determinasi

Analisis koefisien determinasi digunakan untuk menghitung seberapa

besarnya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen,

digunakan nilai koefisien determinasi yang diperoleh dengan rumus menurut

Subana (2001 : 174) sebagai berikut :

Kd = r² X 100 %

Keterangan : Kd = Koefisien Determinasi

r = Nilai Koefisien Korelasi

3.11.2 Rancangan Pengujian Hipotesis

Penelitian ini menggunakan uji signifikan atau parameter, dimana untuk

menguji tingkat signifikasi maka harus dilakukan pengujian parameter, dengan :


 Penetapan hipotesis :

Penetapan hipotesis nol dengan hipotesis alternatif pengujian-pengujian

hipotesis dimaksud untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh yang signifikan

antara anggaran kas terhadap tingkat proyeksi likuiditas.

Hipotesis nol (Ho) yaitu suatu hipotesis yang menyatakan bahwa tidak ada

pengaruh yang signifikan antara variabel independen dengan variabel

dependen.

Hipotesis alternatif (Ha) yaitu hipotesis yang menyatakan bahwa adanya

pengaruh yang signifikan antara variabel independen dan variabel dependen.

Hipotesisnya menurut Sugiyono (2008:58) adalah :

Ho : ß = 0 : tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara perubahan

anggaran kas dengan tingkat likuiditas perusahaan.

Ha : ß ≠ 0 : terdapat pengaruh yang signifikan antara perubahan anggaran kas

dengan tingkat likuiditas.

 Penetapan tingkat signifikan

Penelitian ini menggunakan tingkat signifikan œ = 0,05 artinya kemungkinan

kebenaran hasil penarikan kesimpulan mempunyai profitabilitas 95 % , dalam

ilmu sosial tingkat signifikan œ = 0,05 sudah lazim digunakan karena dinilai

cukup ketat untuk mewakili perbedaan antara variabel-variabel yang diuji.

 Penetapan statistik ujinya

Untuk menguji apakah koefisien korelasi (r) signifikan atau tidak, maka

dilakukan pengujian melalui uji t, dengan rumus sebagai berikut :


r√n–2
t =
√ 1 – r²

Keterangan : t = Nilai Uji t

r = Koefisien Korelasi

n = Jumlah Sampel

 Penetapan kriteria penerimaan dan penolakan hipotesis

Hipotesis yang telah ditetapkan sebelumnya diuji dengan menggunakan

metode statistik uji t, maka dapat dibuat kriteria penerimaan dan penolakan

hipotesis :

Ho : diterima, jika – ta/2 ≤ thitung ≤ ta/2 , yang artinya Ho diterima (Ha

ditolak) jika – ttabel ≤ thitung ≤ ttabel

Ho : ditolak, jika thitung > ﴾ – ta/2 ≤ thitung ≤ ta/2 ﴿ yang artinya Ho ditolak

(Ha diterima) jika thitung > ttabel atau thitung < – ttabel

 Penarikan kesimpulan

Analisis dan pengujian hipotesis yang telah dilakukan pada dasarnya untuk

menarik kesimpulan atas penelitian yang telah dilakukan. Dengan analisis ini

akan diketahui perubahan yang akan terjadi pada variabel Y , jika terjadi

perubahan pada variabel X sebesar 1 unit. Selain itu akan diketahui juga

bagaimana hubungan antara variabel X dan variabel Y apakah searah atau

berlawanan arah.
3.12 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penulis melaksanakan penelitian untuk penyusunan skripsi ini pada PT

PLN (Persero) di Jl. Asia Afirika No 8 Bandung. Sedangkan waktu pelaksanaan

penelitian tersebut dilaksanakan pada bulan Oktober tahun 2011 sampai dengan

bulan Desember tahun 2011. Alasan penelitian dilakukan di PLN adalah karena

PLN terus mengalami kerugian. Sekitar 40% pendapatan PLN berasal dari subsidi

pemerintah. Hal tersebut tidak baik bagi kondisi keuangan PLN, membuat PLN

tidak kredibel di mata perbankan. (http://www.suarapembaruan.com/index.php)


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

4.2 Hasil Penelitian

4.2.1 Gambaran Umum Perusahaan

4.2.1.1 Sejarah PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten

Sejak masa penjajahan Belanda sampai tahun 1942, di Indonesia dikenal

suatu badan atau perusahaan yang menyediakan pasokan tenaga listrik milik

pemerintah, daerah otonom (gemeente) atau gabungan keduanya. Di Jawa Barat,

khususnya Bandung, perusahaan pengelola serta penyediaan tenaga listrik bagi

kepentingan umum itu adalah Bandoengsche Electriciteit Maatschappij (BEM)

yang Berdiri tahun 1905. pada tanggal 1 januari 1920, Perusahaan Perseroan NV,

Gemeenschappelijk Electriciteit Bedrijf Bandoeng en omstreken (GEBEO NV)

menggantikan BEM. Penggantian ini dikukuhkan ddengan akte pendirian notaris

MR. Andriaan Hendrik Van Ophuysen – Nomor 213 Tanggal 31 Desember 1919.

Pada masa pendudukan Jepang antar 1942-1945, pendistribusian tenaga listrik

dilasanalkan Djawa Denki Djigyo Sha Bandoeng Shi Sha, dengan wilayah kerja di

seluruh pulau jawa.

Setelah proklamasi kemerdekaan RI, Indonesia mengalami periode

perjuangan fisik sampai tibanya saat penyerahaan kedaulatan RI dari pemerintah

Hindia Belanda. Tahun 1959 Merupakan awal penguasaan pengelolaan pelistrikan

diseluruh Indonesia, dengan dimulainya nasionalisasi perusahaan asing di

Indonesia.
Maka pada 27 Desember 1957, GEBEO diambil alih oleh Pemerintah RI

dengan dikukuhkannya peraturan pemerintah nomor 18 tahun 1958 j.o peraturan

pemerintah nomor 18 tahun 1959 tentang Penentuan Perusahaan Listrik dan Gas

Milik Belanda. Tahun 1961, berdasarkan peraturan pemerintah nomor 67 dibentuk

Badan Pimpinan Umum Perusahaan Listrik Negara (BPU – PLN) sebagai wadah

pimpinan PLN. PLN Bandung pun diganti dengan nama PLN Exploitasi wadah

kesatuan BPU – PLN Jawa Barat, di luar DKI Jaya dan Tangerang.

Tahun 1972, pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah nomor 18

tahun 1972 tentang Perusahaan Umum Listrik Negara, yang menyebutkan status

PLN menjadi perusahaan Umum listrik negara. Kemudian mengacu pada

peraturan Menteri PUTL nomor 013/PRT/1957 tanggal 8 September 1957 tentang

Organisasi dan tata kerja Perusahaan Umum Listrik Negara, maka PLN

Mengadakan reorganisasi menyangkut nama, tugas dan wilayah kerja daerah.

Berdasarkan pengumumman PLN Exploitasi XI nomor 05/DIII/Sek/1975 tanggal

14 juli 1975, PLN Exploitasi XI diubah namanya menjadi Perusahaan listrik

Negara Distribusi jawa Barat.

Dengan adanya peraturan peraturan pemerintah Republik Indonesia nomor

23 tahun 1994 tanggal 16 juni 1994 maka bentuk Perusahaan Umum Listrik

Negara Distribusi Jawa Barat diubah lagi menjadi Perusahaan Perseroan (Persero)

dengan sebutan PT PLN (persero) Distribusi Jawa Barat sejak tanggal 30 juli

1994, akta pendirian. Selanjutnya sesuai keputusan Direksi PT PLN (Persero)

nomor 28.K/010/DIR/2001 tanggal 20 Februari 2001, PT PLN (Persero)


Distribusi Jawa Barat diubah menjadi PT PLN (Persero) Unit Bisnis Distribusi

Jawabarat.

Kemudian, melalu Surat Keputusan PT. PLN (Persero) Nomor :

120.K/010/DIR/2002 tanggal 27 Agustus 2002, PT PLN (Persero) Unit Bisnis

Distribusi Jawa Barat berubah menjadi PT. PLN (Persero) DISTRIBUSI

JAWABARAT DAN BANTEN hingga saat ini.

Profil Perusahaan Sekilas PLN

Kelistrikan di Indonesia dimulai pada akhir abad ke-19, pada saat beberapa

perusahaan Belanda, antaralain pabrik gula dan pabrik teh mendirikan

pembangakit tenaga listrik untuk keperluan sendiri. Kelistrikan untuk keman

paatan umum mulai pada saat perusahaan swasta Belanda yaitu NV NIGN yang

semula bergerak dibidang gas memperluas usahanya dibidang listrik untuk

kemanfaatan umum. Pada tahun 1927 pemeritah Belanda membetuk s’ Lands

Waterkracht Bedrijven (LB) yaitu perusahaan listrik negara yang menelola PLTA

Giringan diMadiun, PLTA Tes di Bengkulu, PLTA Tonsea lama di Sulawesi

Utara dan PLTU di Jakarta. Selain itu di beberapa kotapraja di bentuk perusahaan

– perusahaan Listrik kotapraja.

Dengan menyerakan pemerintahan Belanda kepada Jepang dalam perang

Dunia II maka Indonesia Dikuasi Jepang, oleh karna itu Perusahaan Listrik dan

Gas yang ada diambil alih oleh orang – orang Jepang. Dengan jatuhnya Jepang ke

tangan Sekutu dan diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17

Agustus 1945, maka kesempatan yang baik dimanfaatkan oleh pemuda serta
buruh Listrik dan gas untuk mengambil alih perusahaan listrik dan gas yang

dikuasai Jepang.

Setelah berhasil merebut perusahan Listrik dan gas dari tangan kekuasaan

Jepang, kemudian pada buan September 1945, Delelegasi dari buruh / Pegawai

listrik dan gas yang diketuai oleh kobarsjih menghadap Pimpinan KNI Pusat yang

waktu diketuai oleh Mr. Kasman Singodimejo untuk melaporkan hasil perjuangan

mereka. Selanjutnya Delegasi Kobarsjih bersama – sama dengan pimpinan KNPI

Pusat menghadap Presiden Soekarno, untuk menyerahkan perusahaan –

perusahaan Listrik dan gas kepada Pemerintah Republik Indonesia. Penyerahan

tersebut diterima oleh Presiden Soekarno dan kemudian dengan Penetapan

Pemerintahan tahun 1945 No. 1 tertanggal 27 Oktober 1945 maka dibentuklah

Jawatan Listrik dan Gas dibawah Departemen Pekerjaan umum dan Tenaga.

Dengan adanya agresi Belanda I dan II sebagai besar perusahaan -

perusahaan listrik dikuasai kembali oleh pemerintahan Belanda atau pemiliknya

semula. Pegawai pegawai yang tidak mau bekerjasama kemudian mengungsi dan

menggabungkan diri pada kantor – kantor jawatan listrik dan Gas di daerah-

daerah Republik Indonesia yang bukan daerah penduduk Belanda untuk

meneruskan perjuangan. Para pemuda kemudian mengajukan Mosi Kobarsjih

tentang Nasionalisasi Perusahaan Listerik dan Gas Swasta kepada Pemerintah.

Selanjutnya kristalisasi dari semangat jiwa mosi tersebut tertuang dalam ketetapan

Parlemen RI No 163 tanggal 3 Oktober 1953 tentang Nasionalisasi Perusahaan

Listrik milik bangsa asing di Indonesia, jika waktu konsensinya habis.


Sejalan meningkatnya perjuang bangsa Indonesia untuk membebaskan irian

jaya dari cengkraman penjajah Belanda maka dikeluarkan undang – undang

Nomor 86 tahun 1958 tentang Nasionalisasi semua perusahaan Belanda dan

peraturan Pemerintah Nomor 18 tahun 1958 tentang nasionalisasi listrik dan gas

milik Belanda. Dengan Undang – Undang tersebut, maka perusahaan listrik

Belanda ada ditangan bangsa Indonesia.

Sejarah ketenaga listrikan di Indonesia mengenai pasang surut sejalan

sejalan dengan pasang surutnya perjuangan bangsa. Tangal 27 Oktober 1945

kemudian dikenal sebagai Hari Listrik dan Gas, hari tersebut telah diperingati

untuk pertama kali pada tanggal27 Oktober 1946 bertempat di Gedung Badan

Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BPKNIP) Yogyakarta. Penetapan

secara resmi tanggal 27 Oktober 1945 sebagai Hari Listrik dan Gas berdasarkan

keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga, Nomor 20 tahun 1960. Namun

kemudian berdasarkan keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik,

nomor 235/KPTS/1975 tanggal 30 September 1975 peringatan hari Listrik dan

Gas digabung dengan hari Kebaktiaan pekerja Umum dan Tenaga Listrik yang

jatuh pada 3 Desember , Mengingat pentingnya semangat dan nilai – nilai hari

listrik, maka berdasarkan keputusan Menteri Pertambangan dan Energi, Nomor

1134.K/43/MPE/1992 tanggal 31 Agustus 1992 ditetapkan pada tanggal 27

Oktober sebagai hari listrik nasional.

Sumber : Direktur Jendral Listrik dan Pemanfaatan Energi No :

2769/04/600.1/2002.
 Visi, Misi dan Tujuan Perusahaan

1. Visi Perusahan

PT. PLN (Persero) Distibusi Jawa barat dan Banten Bandung, mengemban

suatu visi tertentu yang dirumuskan sebagai berikut :

DIAKUI SEBAGAI PERUSAHAAN KELAS DUNIA YANG

BERTUMBUH KEMBANG, UNGGUL, DAN TERPERCAYA DENGAN

BERTUMPU PADA POTENSI INSANI.

2. Misi Perusahaan

a. Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidanglain yang terkait, berorientasi

pada kepuasan pelanggan, anggota perusahaan, dan pemegang saham.

b. Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas

kehidupan masyrakat.

c. Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan ekonomi.

d. Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan.

3. Tujuan Perusahaan

a. Meningkatkan kemapuan berlaba (Profitability) dan nilai tambah

b. Mengimplementasikan kebijakan stratejik yang mempertimbangkan

kepentingan jangka panjang demi kesehatan dan kelangsungan hidup

perusahaan

c. Mencari dan memanfaatkan peluang usaha secara kesinambungan dibisnis

kelistrikan dan usaha lain yang terkait.

d. Mengembangkan kompetensi personil

e. Memperbaiki dan membangun fasilitas fisik


f. Menghadirkan suatu hubungan yang baik terhadap pelanggan dengan

suatu keterbukaan (Transparansi)

g. Meningkatkan pendapatan dan menumbuhkan loyalitas pelanggan.

4.1.1.2 Struktur Organisasi dan Uraian Tugas PT. PLN (Persero) Distribusi

Jawa Barat dan Banten

Keputusan General Manager PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat

Banten Nomor : 101 . K / 021 / GM . DJBB / 2004 Tentang Susunan Organisasi

Jenjang Pertama Lapisan Ketiga, Keempat, dan Pejabat Fungsional pada Kantor

Distribusi di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa barat dan Banten.

1. Menimbang

a. Bahwa sesuai Organisasi PT. PLN (Persero) Distribusi yang diatur dalam

keputusan Direksi PT. PLN (Persero) Nomor 010. K/010/DIR/2003

tanggal 16 Januari dan Organisasi PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa

Barat dan Banten yang di atur dalam keputusan Direksi PT. PLN (Persero)

Nomor 014.K/010/DIR/2003 tanggal 16 Januari 2003 serta Daftar Sebuah

Jabatan di Lingkungan PT. PLN (Persero) Nomor 196.K/010/DIR/2003,

maka dipandang perlu menetapkan Susunan Organisasi Jenjang pertama

Lapis Ketiga, Keempat dan Pejabat Fungsional pada Kantor Distribusi di

PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten.

b. Bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut pada a di atas, perlu adanya

penetapan tentang Susunan Organisasi Jenjang Pertama Lapisan Ketiga,


Keempat dan Pejabat Fungsional pada Kantor Distribusi di PT. PLN

(Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten.

c. Bahwa penepatan tersebut pada huruf b di atas, perlu ditetapkan dengan

Keputusan General Manager PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan

Banten.

2. Mengingat

1. Peraturan Pemerintah RI Nomor 23 Tahun 1994

2. Anggaran Dasar PT. PLN (Persero)

3. Keputusan Direksi PT. PLN (Persero) Nomor 001.K/030/DIR/19994.

4. Keputusan Direksi PT. PLN (Persero) Nomor 010.K/010/DIR/2003.

5. Keputusan Direksi PT. PLN (Persero) Nomor 014.K/010/DIR/2003.

6. Keputusan Direksi PT. PLN (Persero) Nomor 196.K/010/DIR/2003.

7. Keputusan Direksi PT. PLN (Persero) Nomor 197.K/010/DIR/2003.

8. Keputusan Direksi PT. PLN (Persero) Nomor 198.K/010/DIR/2003

9. Keputusan Direksi PT. PLN (Persero) Nomor 1339.K/440/DIR/2003.

10. Keputusan Direksi PT. PLN (Persero) Nomor 293.K/010/DIR/2003.

3. Menetapkan

Pertama : Keputusan General Manager PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa

Barat dan Banten tentang Susunan Oraganisasi Jenjang Pertama

Lapisan Ketiga, Keempat pada Pejabat Fungsional pada Kantor

Distribusi di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten.

Kedua : Susunan Oraganisasi Jenjang Pertama Lapisan Ketiga, Keempat

dan Pejabat Fungsional pada Kantor Distribusi di PT. PLN


(Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten adalh sebagqaimana

tercantum dalam Lampiran I Keputusan ini.

Ketiga : Uraiyan Fungsi Bidang – Bidang dan Audit Internal pada Kantor

Distribusi di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten

sebagaimana tercantum dalam lampiran II keputusan ini.

Keempat : Seluruh Bidang dan Audit Intenal merupakan keputusan suatu

kesatuan sinergi dalam koordinasi General Manager Untuk

memfasiltasi akuntabilitas, sistem pengukiran dan apresiasi kinerja

unit – unit di lingkungan PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat

dan Banten secara propesional untuk Memaksimalkan Kinerja PT

PLN (Persero) Distribusu Jawa Barat dan Banten.

Kelima : Dengan di tetapkannya Keputusan General Manager ini, maka

Keputusan General Manager Nomor 035.K/021/GM.DJBB/2004

Tanggal 29 Maret 2004 dan 053.K/021/GM.DJBB/2004 tanggal 07

Juni 2004 dinyatakan tidak berlaku lagi.

Keenam : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan, dengan

ketentuan bahwa segala sesuatu akan diubah dan diperbaiki

sebagaimana mestinya apabila ternyata dikemudian hari terdapat

kekeliruan dalam penetapan ini.

Selanjutnya Uraian Fungsi Bidang-Bidang Internal pada kantor PT PLN

(persero) Distribusi Jawa Barat Banten.


1. Bidang Perencanaan

a. Menyusun Rencana Umum Pengembangan Tenaga Listrik (RUPTL),

rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJP), dan Rencana Kerja Anggaran

Perusahaan (RKAP)

b. Menyusun rencana pengembangan sistem ketenagalistrikan

c. Menyusun sistem manajemen kinerja unit – unit kerja

d. Menyusun metode evaluasi kelayakan investasi dan melakukan penilaian

finansialnya

e. Mengembangkan hubungan kerja sama dengan pihak lain dan

menyandang dana, baik secara bilateral maupun multilateral

f. Menyusun rencana pengembangan sistem teknologi informasi

g. Menyusun rencana pengembangan aplikasi sistem informasi

h. Mengendalikan aplikasi – aplikasi teknologi informasi

i. Menyiapkan SOP pengelolaan aplikasi sistem informasi

j. Menyusun laporan Manajemen

k. Menyusun rencana pengembangan usaha baru serta penepatan

pengaturannya

2. Bidang Niaga

a. Menyusun ketentuan dan strategi pemasaran

b. Menyusun rencana penjualan energi dan rencana pendapatan

c. Mengevaluasi harga jual listrik

d. Menghitung biaya penyediaan tenaga listrik

e. Menyusun strategi dan pengembangan pelayanan pelanggan


f. Menyusun setandart dan produk pelayanan

g. Menyusun ketentuan data induk pelanggan (DIL) dan data induk saldo

(DIS) serta kontrak jual beli tenaga listrik

h. Mengkaji pengelolaan pencatatan meter dan menyusun rencanaan

penyempurnaannya

i. Mengkordinasikan pelaksanaan penagihan kepada pelanggan tertentu,

antara lain TNI / POLRI dan intansi vertikal

j. Melakukan pengendalian DIS dan opname saldo piutang

k. Menyusun konsep kebijakan sistem iformasi pelayanan pelanggan

l. Menyusun mekanisme interaksi antar unit pelaksanaan

m. Menyusuan rencana pengembangan usaha baru serta penganturannya

n. Menyusun laporan manajemen di bidangnya

3. Bidang Distribusi

a. Menyusun rencana pengembangan sistem jaringan distribusi dan pembina

penerapan nya

b. Menyusun strategi pengoperasian dan pemeliharaan jaringan distribusi dan

mem bina penerapan nya

c. Menyusun SOP untuk peneraan danpengujiaan peralatan distribusi, serta

SOP untuk opersai dan pemeliharaan jaringan distribusi

d. Menyusun desain standart konstruksi jaringan distribusi dan peralatan

kerjanya serta memberikan penerapannya

e. Mengevaluasi susut energi listrik dan gangguaan sarana distribusian

tenaga listrik saran perbaikannya


f. Menyusun metode kegiatan kontruksi dan administasi pekerjaan serta

membina penerapannya

g. Menyusun kebijakan manajemen jaringan distribusi dan kebijakan

manajemen perbekalan distribusi serta membina penerapannya

h. Menyusun pengembangan sarana komunikasi dan otomatisasi oprasi

jaringan distribusi

i. Menyusun regulasi untuk penyempurnaan data induk jaringan (DIJ)

j. Memantau dan mengvaluasi data induk jaringan

4. Bidang Keuangan

a. Mengendalikan aliran kas pendapatan dan membuat laporan rekonsilasi

keuangan

b. Mengendalikan anggaran investasi dan operasi serta aliran kas pembiayaan

c. Melakuan analisis dan evaluasi laporan keuangan unit – unit serta

menyusun laporan keuangan konsolidasi

d. Menyusun dan menganalisa kebijakan resiko dan menghapus asset

e. Melakukan pengelolaan keuangan

f. Menyusun laporan manajemen di bidangnya

5. Bidang ASDM dan Organisasi

a. Menyusun kebijakan pengembangan organisasi dan mengelola

pelaksanaannya

b. Menyusun kebijakan manajemen sumber daya manusia dan mengelola

pelaksanaannya
c. Menyusun kebijakan pengembangan sumber daya manusia dan mengelola

pelaksanaannya

d. Mengkaji usulan pengembangan organisasi pengembangan sumberdaya

manusia

e. Menyusun laporan di bidangnya

6. Bidang Komunikasi, Hukum dan Administrasi

a. Menyusun kebijakan dan mengelola komunikasi kemasyarakatan dan

pelanggan baik internal maupun eksternal

b. Menyusun kebijakan dan mengelola fasilitas kerja, sistem pengamanan

dan manajemen kantor

c. Menyusun kebijakan K3, lingkungan dan komunity development

d. Menyusun kebijakan administrasi

e. Menyusun dan mengkaji produk-produk hukum dan peraturan-peraturan

perusahaan

f. Memberikan advokasi dalam bisnis energi listrik dan ketenaga kerjaan

g. Mmenyusun standart fasilitas kantor

h. Mengelola asset tanah dan bangunan serta sarana kerja

i. Mengelola kesekertariatan dan rumah tangga kantor induk

j. Menyusun laporan manajemen di bidangnya

7. Audit Internal

a. Menyusun program kerja pemeriksaan tahunan, sesuai progaram kerja

perusahaan
b. Melaksanakan audit internal, meliputi keuangan, teknik, manajemen dan

sumber daya manusia

c. Memberikan masukan dan rekomendasi yang menyangkut proses

manajemen dan operasional

d. Memonitor tindak lanjut temuan audit internal

e. Menyusun laporan manajemen di bidangnya

4.1.1.3 Aktivitas Perusahaan PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan

Banten

PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Bandung. Merupakan

sebuah badan usaha milik negara yang bergerak dalam bidang ketenagalistrikan

berupa pelayanan jasa, diantaranya :

a) Memberkan informasi tentang hal-hal yang berhubungan penyambungan

tenaga listrik kepada calon pelanggan dan masyarakat umum.

b) Melayani permintaan penyambungan baru, perubahan daya, penyambungan

sementara, perubahan tarif, ganti nama pelanggan, balik nama pelanggan seta

pengaduan pelanggan yang berhubungan dengan pemberiaan penyambungan

tenaga listrik

c) Memberi pelayanan pembayaran Biaya Pembayaran (BP), Uang Jaminan

Pelangan (UJL), Tagihan Susulan (TS), biaya penyambungan sementara, biaya

perubahan dan biaya lain yang ditetapkan sesuai ketentuan yang berlaku.

Kedudukan, Tugas Pokok dan Fungsi PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa

Barat dan Banten Bandung.


1. Kedudukan PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten

Bandung.

a. Kedudukan Perusahaan Umum Listrik Negara sebagaimana yang dimaksud

dalam PP No. 17 Tahun 1990 adalah ketenagalistrikan yang diserahi tugas

semata-mata untuk melaksanakan penyediaan ketenagalistrikan untuk

kepentingan umum.

b. PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Bandung dipimpin oleh

seorang Manajer. Yang bertanggung jawab kepada General Manajer.

2. Tugas Pokok PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten

Bandung.

a. Mewujudkan kinerja perusahaan dengan kualitas setaraf kelas dunia dalam

usaha kelas bisnis kelistrikan.

b. Berfokus pada peningkatan kualitas proses secara terus menerus memperoleh

hasil yang maksimal.

c. Membangun lingkungan kerja yang memungkinkan anggota perusahaan

mentrasformasikan potensi mereka menjadi kinerja perusahaan yang

dihargai tinggi.

d. Menghidari dari kerugian pencurian tenagalistrik oleh konsumen (Losses).

e. Meningkatkan pendapatan perusahaan

3. Fungsi PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten Bandung.
a. Memberikan pelayanan yang terbaik pada masyarakat sebagai konsumen

listrik.

b. Menjaga pasokan listrik dari gangguan secara teknis.

c. Membangun dan mengoperasikan fasilitas kelistrikan yang akrab

lingkungan alam dan lingkungan sosial.

d. Menjadga dan memelihara semua fasilitas kelistrikan sehinga tidak

mencemari lingkungan.

4.1.2 Kondisi Anggaran Kas PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan

Banten

PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten menyajikan laporan

anggaran kas, yang terdiri dari anggaran penerimaan kas dan anggaran

pengeluaran kas. Anggaran penerimaan kas antara lain berasal dari penjualan,

pembayaran piutang dan pinjaman bank. Sedangkan anggaran pengeluaran kas

antara lain berasal dari pengeluaran material langsung, angsuran pinjaman,

pengeluaran operasional dan investasi.

Laporan anggaran kas yang disajikan dalam laporan keuangan tahunan PT.

PLN selalu melaporkan anggaran kas tersebut dalam dua periode yaitu periode

tahun berjalan dan periode tahun sebelumnya. Anggaran kas perusahaan pada

tahun yang bersangkutan, akan dipakai sebagai langkah penyusunan anggaran kas

perusahaan untuk tahun yang akan datang.

4.1.3.2 Komponen Anggaran Penerimaan Kas


Adalah semua penerimaan uang perusahaan yang berasal dari hasil

penjualan produk/ program berjalan (exsisting program) dan dari hasil penjualan

produk/ program baru serta sumber-sumber penerimaan lainnya seperti jasa giro,

claim, dan lain-lain.

Terdapat tiga komponen penerimaan kas dalam kebijakan laporan

anggaran kas PT. PLN (Persero) yang akan dijabarkan pada tabel 4.1 berikut ini :

Tabel 4.1
PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten
Anggaran Penerimaan Kas
Periode Tahun 2001 sampai dengan 2009
(dalam rupiah)
Tahun Anggaran Kas Masuk Jumlah
Penyambungan Lain-lain
Penjualan Tenaga Subsidi Listrik pelanggan
listrik Pemerintah

2000 5,759,580,821,677 0 52,244,069,887 6,658,657,378 5,818,483,548,942

2001 7,439,030,385,372 0 57,974,281,984 8,703,012,688 7,505,707,680,044

2002 14,945,881,637,048 590,009,606,997 83,750,621,068 89538227116 15,709,180,092,229

2003 12,548,524,672,181 0 73,809,019,561 9936882064 12,632,270,573,806


14,945,881,637,662 590,009,606,997 83,750,621,068 89,538,227,116
2004 15,709,180,092,843
16,154,258,782,358 2,421,224,137,862 96,917,034,080 13,824,112,294
2005 18,686,224,066,594
18,151,498,776,652 7,375,816,374,392 105,563,462,089 16,298,974,736
2006 25,649,177,587,869
19,344,280,341,174 8,182,798,660,713 120,559,954,247 25,381,126,536
2007 27,673,020,082,670
20,765,711,255,838 20,064,475,454,794 133,154,542,715 37,393,206,945
2008 41,000,734,460,292
21,277,946,366,302 13,431,873,657,153 148,317,243,546 15,982,223,909
2009 34,874,119,490,910
Sumber data : Laporan Keuangan PT PLN (Persero)

Berdasarkan tabel 4.1 komponen anggaran penerimaan kas dalam

kebijakan PT PLN untuk periode tahun 2001 sampai dengan tahun 2009, terdiri

dari penjualan tenaga listrik, subsidi listrik pemerintah, penyambungan pelanggan

dan lain-lain yang timbul sebagai kebijakan laporan anggaran kas PT. PLN.
Melihat kecenderungan komponen penerimaan kas, bahwa penerimaan kas

atas penjualan dapat menjadi faktor utama dalam kenaikan dan atau penurunan

penerimaan kas PT PLN (Persero) karena memiliki proporsi yang paling besar

dari seluruh jumlah komponen lainnya.

4.1.3.3 Komponen Anggaran Pengeluaran Kas

Adalah semua pengeluaran perusahaan untuk pembelian barang dan jasa

yang meliputi :

a. Pengeluaran operasional, yang terdiri dari pengeluaran untuk pembelian

material langsung produksi, yaitu pembelian bahan baku yang secara langsung

digunakan dalam proses produksi seperti :

 Bahan bakar dan minyak pelumas

 Pembelian tenaga listrik

b. Pengeluaran untuk biaya operasional lainnya yaitu biaya-biaya yang

mendukung proses produksi maupun biaya-biaya lainnya yang timbul di

dalam operasi perusahaan pada satu periode anggaran.

Biaya-biaya operasional lainnya tersebut diantaranya adalah : pembiayaan

material konsumsi, biaya personel dalam daftar gaji, tunjangan-tunjangan di

luar gaji, biaya perawatan personel, perjalanan dinas dalam negeri, perjalanan

dinas luar negeri, biaya personel lain-lain, biaya financial, biaya pajak, biaya

reparasi dan pemeliharaan, biaya pengangkutan, biaya asuransi, biaya

penjualan, biaya administrasi dan umum

c. Pengeluaran investasi yang meliputi :


 Pengeluaran untuk pembelian aktiva tetap tidak bergerak seperti : tanah,

bangunan dan hanggar, dan sebagainya.

 Pengeluaran untuk pembelian aktiva tetap bergerak seperti : mesin-mesin,

peralatan, tool & jig, kendaraan, dan sebagainya.

 Pengeluaran untuk pembelian aktiva tidak berwujud seperti : technical

assistant, pendidikan, penelitian dan pengembangan, lisensi, dan

sebagainya.

Komponen pengeluaran kas dalam kebijakan laporan anggaran kas PT

PLN (Persero), akan dijabarkan selanjutnya pada tabel 4.2 berikut ini :

Tabel 4.2
PT PLN (Persero)
Anggaran Pengeluaran Kas
Periode Tahun 2000 sampai dengan 2009
Bahan Bakar
Pembelian tenaga dan minyak Penyusutan
Thn listrik pelumas Pemeliharaan Kepegawaian Aktiva Tetap Lain-lain JUMLAH

2000 75284580 68891010116 148,030,921,613 140,795,874,558 67575415384 425,368,506,251

2001 4941485 121164625 100,369,641,229 176,710,737,866 151,420,056,604 97,022,619,624 525,649,161,433

2002 11833754156 229055 147309191 221355779 660946625 140518774 13004115582

2003 5,345,000 265,927,127,199 170,719,933,891 324,447,201,009 663,963,674,680 191,973,972,332 1,617,037,254,111

2004 12,565,927,127,199 265,906,775 210,574,381,639 369,003,524,991 597,801,102,439 308,615,462,514 14,052,187,505,557

2005 17,018,962,963,406 369,792,670 356,187,741,912 372,291,137,460 373,964,936,871 346,432,419,171 18,468,208,991,490

2006 23,785,080,004,246 656,974,710 349,284,596,277 448,067,525,593 391,358,998,580 348,055,390,997 25,322,503,490,403

2007 22,456,557,019,790 772,008,060 454,067,912,606 547,622,618,595 408,907,147,447 421,080,625,878 24,289,007,332,376

2008 27,897,285,344,669 1,289,312,200 463,604,756,062 609,386,833,486 443,300,529,609 526,707,845,147 29,941,574,621,173

2009 28,861,882,563,180 716,500,800 439,457,124,795 563,719,243,440 453,961,629,934 465,785,366,161 30,785,522,428,310


Sumber data : Laporan Keuangan PT PLN (Persero)

4.1.4 Kondisi Tingkat Likuiditas PT. PLN (Persero)

Tingkat likuiditas menunjukkan kemungkinan kemampuan perusahaan

untuk memenuhi seluruh kewajiban yang harus segera dibayar, di mana rasio
pengukurannya dikenal dengan rasio likuiditas. Sehubungan dengan fungsinya

sebagai alat ukur kemampuan perusahaan untuk membiayai hutang-hutangnya

yang segera dipenuhi dengan aktiva lancarnya, maka pengukuran dilaksanakan

dengan membandingkan aktiva lancar dengan hutang lancar perusahaan mulai dari

periode tahun penelitian 2000 sampai dengan tahun 2009.

Hasil penghitungan dianalisis untuk kemudian dipelajari guna memberikan

gambaran apakah ada kemajuan atau kemunduran kondisi keuangan perusahaan,

khususnya pada penelitian ini adalah PT. PLN (Persero) selama periode penelitian

yang telah ditentukan sebelumnya dan dilanjutkan dengan membandingkan sesuai

dengan standar likuiditas yang telah ditetapkan, dimana :

 Likuid (sesuai dengan standar likuiditas atau mendekati)

 Illikuid (dibawah tingkat likuiditas standar)

Kondisi tingkat proyeksi likuiditas yang dapat menunjukkan tingkat

keamanan bagi para kreditur jangka pendek terhadap PT. PLN dapat dilihat

melalui tabel dan penghitungan dengan menggunakan rasio-rasio likuiditas

berikut ini :

4.1.3.1 Tingkat Likuiditas Current Ratio

Rasio ini dihitung dari perbandingan antara aktiva lancar dengan hutang

lancar, dengan kata lain rasio ini adalah rasio yang menunjukkan kemampuan

untuk membayar hutang yang segera harus dipenuhi dengan menggunakan aktiva

lancar. Berikut ini adalah kondisi proyeksi Current Ratio PT. PLN (Persero)

periode tahun 2000 sampai dengan tahun 2009 :


Tabel 4.3

PT. PLN (Persero)


Kondisi Tingkat Likuiditas Current Ratio
(dalam rupiah)
Tahun Aktiva Lancar Hutang Lancar Proyeksi Kondisi
Current Ratio
A B C = (A/B) Likuiditas
2000 1,029,941,153,405 85287162125 Likuid
12.08
2001 1,015,878,244,107 93471790205 Likuid
10.87
2002 895,899,474,545 1.68663E+11 Likuid
5.31
2003 Likuid
546,787,551,145 353,515,214,601 1.55
2004 Likuid
642,939,399,724 374,402,367,115 1.72
2005 Likuid
534,891,826,875 450,908,475,611 1.19
2006 Likuid
500,297,544,699 456,725,056,032 1.10
2007 Likuid
739,513,406,702 574,619,351,987 1.29
2008 Likuid
514,643,849,614 340,897,561,500 1.51
2009 Likuid
567,637,812,403 138,372,555,264 4.10

Dalam menentukan tingkat likuiditas dari indikator proyeksi current ratio

perusahaan menetapkan standar 1:1, namun perusahaan berusaha untuk mencapai

tingkat proyeksi likuiditasnya sebesar mungkin.

Berdasarkan tabel 4.3, aktiva lancar perusahaan jauh lebih besar

jumlahnya dibandingkan dengan hutang lancar perusahaan. Aktiva lancar dan

hutang lancar yang dimiliki perusahaan setiap tahunnya tidak selalu sama.
 Aktiva lancar perusahaan terdiri dari : Kas, investasi sementara, piutang

usaha, persediaan, piutang lain-lain, uang muka pajak, piutang lain-lain

(jangka pendek), biaya yang dibayar dimuka dan uang muka.

 Hutang lancar perusahaan terdiri dari : hutang usaha, hutang dana pension,

hutang pajak, hutang lain-lain, dan biaya yang masih harus dibayar.

4.2.3.2 Tingkat Likuiditas Quick Ratio/ Acid Test Ratio

Tingkat likuiditas selanjutnya adalah quick ratio/ acid test ratio, ratio ini

merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi

kewajiban-kewajibannya dengan tidak memperhitungkan persediaan, biaya

dibayar di muka, pajak dibayar di muka serta pendapatan yang masih harus

diterima, dengan kata lain proyeksi quick ratio/ acid test ratio hanya

membandingkan atau memperhitungkan aktiva yang sangat likuid atau mudah

dicairkan dan diuangkan dengan hutang lancar. Berikut ini adalah kondisi

proyeksi quick ratio PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat dan Banten periode

tahun 2001 sampai dengan tahun 2009 :

Tabel 4.4
PT. PLN (Persero)
Kondisi Tingkat Likuiditas Quick Ratio
(dalam rupiah)
Tahun Aktiva Lancar Persediaan Jumlah Hutang Proyeksi
Lancar Quick
Ratio
A B C = (A-B) D E=(C/D)
2000 9864673153 85287162125
1,029,941,153,405 1,020,076,480,252 11.96
2001 11422244874 93471790205
1,015,878,244,107 1,004,455,999,233 10.75
2002 8904746467 1.68663E+11
895,899,474,545 886,994,728,078 5.26
2003
546,787,551,145 5,788,706,148 540,998,844,997 353,515,214,601 1.53
2004
642,939,399,724 12,210,005,034 630,729,394,690 374,402,367,115 1.68
2005
534,891,826,875 6,616,441,689 528,275,385,186 450,908,475,611 1.17
2006
500,297,544,699 9,667,387,516 490,630,157,183 456,725,056,032 1.07
2007
739,513,406,702 138,569,106,905 600,944,299,797 574,619,351,987 1.05
2008
514,643,849,614 146,479,027,422 368,164,822,192 340,897,561,500 1.08
2009
567,637,812,403 248,355,636,012 319,282,176,391 138,372,555,264 2.31

Berdasarkan tabel 4.4, kondisi aktiva lancar perusahaan setelah dikurangi

dengan persediaan masih tetap besar dibandingkan dengan hutang lancar

perusahaan. Hal ini disebabkan PT. PLN menggunakan modalnya untuk kegiatan

operasi perusahaan, maka PT. PLN tidak banyak mempunyai hutang. Aktiva

lancar perusahaan sangat kuat meskipun ada pengurangan dari pos-pos lainnya.

4.3 Pembahasan

4.2.2 Analisis Perubahan Anggaran Kas Pada PT. PLN (Persero) Distribusi

Jawa Barat dan Banten


Dari hasil penghitungan kedua komponen anggaran kas, yakni komponen

anggaran penerimaan kas dan komponen pengeluaran kas pada tabel 4.1 dan tabel

4.2, maka dapat diketahui besar anggaran kas PT PLN (Persero) yang dapat

diikhtisarkan dalam tabel 4.5 sebagai berikut :

Tabel 4.5
PT. PLN (Persero)
Anggaran Kas (Akhir)
Periode Tahun 2000 sampai dengan 2009
(dalam rupiah)
Tahun Anggaran Kas Jumlah
Saldo Awal Penerimaan Total Pengeluaran Saldo Akhir
A B C=A+B D E=C-D
2000 1,029,941,153,405 5,818,483,548,942 6,848,424,702,347 425,368,506,251 6,423,056,196,096

2001 1,015,878,244,107 7,505,707,680,044 8,521,585,924,151 525,649,161,433 7,995,936,762,718

2002 191,447,243,850 10,361,817,426,509 10,553,264,670,359 6.76926E+11 9,876,338,296,589

2003 202,630,797,974 12,632,270,573,806 12,834,901,371,780 1,351,382,877,537 11,483,518,494,243

2004 272,973,691,742 15,709,180,092,843 15,982,153,784,585 14,052,187,505,557 1,929,966,279,028

2005 237,428,969,626 18,686,224,066,594 18,923,653,036,220 18,468,208,991,490 455,444,044,730

2006 175,526,611,840 25,649,177,587,869 25,824,704,199,709 25,358,503,490,403 466,200,709,306

2007 242,377,411,327 27,673,020,082,670 27,915,397,493,997 24,289,007,332,376 3,626,390,161,621

2008 167,963,445,445 41,000,734,460,292 41,168,697,905,737 29,941,574,621,173 11,227,123,284,564

2009 139,599,306,831 34,874,119,490,910 35,013,718,797,741 30,785,522,428,310 4,228,196,369,431

Anggaran kas (akhir) merupakan selisih dari hasil saldo awal ditambah

rencana penerimaan kas dikurangi rencana pengeluaran kas.

Berdasarkan tabel 4.5, anggaran kas periode tahun 2000 sampai dengan

tahun 2009 cenderung mengalami peningkatan. Pada tahun 2000 sebesar Rp.

6,423,056,196,096 naik menjadi Rp. 7,995,936,762,718 pada tahun 2001. Pada

tahun 2001 Rp. 7.995.936.762.718, naik pada tahun 2002 menjadi Rp.

9,876,338,296,589. Pada tahun 2002 sebesar Rp. 9,876,338,296,589 naik menjadi


Rp. 11.483.518.494.243 pada tahun 2003. Pada tahun 2003 sebesar Rp

11,483,518,494,243,00 turun menjadi sebesar Rp 1,929,966,279,028,00 pada

tahun 2004. Pada tahun 2004 sebesar Rp 1,929,966,279,028,00 turun menjadi

sebesar Rp 455,444,044,730,00 pada tahun 2005. Pada tahun 2005 sebesar Rp

455,444,044,730,00 naik menjadi sebesar Rp 466,200,709,306,00 pada tahun

2006. Pada tahun 2006 sebesar Rp 466,200,709,306,00 naik menjadi sebesar Rp

3,626,390,161,621,00 pada tahun 2007. Pada tahun 2007 3,626,390,161,621,00

naik menjadi Rp. 11,227,123,284,564,00 pada tahun 2008. Pada tahun 2008 Rp.

11,227,123,284,564,00 turun menjadi Rp. 4,228,196,369,431,00.

Selama periode penelitian besar anggaran kas PT. PLN (Persero) memiliki

nilai anggaran yang paling besar terjadi pada tahun 2003 sebesar Rp

11,483,518,494,243,00. Sedangkan nilai anggaran kas yang paling kecil terjadi

pada tahun 2005 sebesar Rp 455,444,044,730.

Dari hasil penelitian dapat diketahui persentase anggaran kas dari tahun

2000 sampai dengan tahun 2009 yang terjadi pada PT. PLN (Persero). Dari hasil

penghitungan persentase dari periode waktu tersebut dapat dilihat pada tabel 4.6

sebagai berikut :

Tabel 4.6
Anggaran Kas PT. PLN (%)
Tahun Anggaran Kas (Item/total Persentase
itemX100) Perubahan
2000
6,423,056,196,096 11.13
2001
7,995,936,762,718 13.85 2.73
2002
9,876,338,296,589 17.11 3.26
2003
11,483,518,494,243 19.90 2.78
2004
1,929,966,279,028 3.34 (16.55)
2005
455,444,044,730 0.79 (2.55)
2006
466,200,709,306 0.81 0.02
2007
3,626,390,161,621 6.28 5.48
2008
11,227,123,284,564 19.45 13.17
2009
4,228,196,369,431 7.33 (12.13)
Total 57,712,170,598,326

Dari hasil penyusunan anggaran kas selama sepuluh tahun dapat dilihat

bahwa sebagian besar atau cenderung mengalami fluktuatif. Tahun 2001 naik

sebesar Rp. 1.572.880.566.622 atau naik sebesar 24.49% dari tahun sebelumnya.

Tahun 2002 naik sebesar Rp. 1.880.401.533.871 atau naik sebesar 23.52% dari

tahun sebelumnya. Tahun 2003 naik sebesar Rp. 1.607.180.197.654 atau naik

sebesar 16.27% dari tahun sebelumnya. Tahun 2004 anggaran kas mengalami

penurunan sebesar (Rp. 9.553.552.215.215) atau turun sebesar Rp. 83.19%. Tahun

2005 anggaran kas kembali mengalami penurunan sebesar (Rp.

1.474.522.234.298) atau turun sebesar 76.40% dari tahun 2004. Tahun 2006

anggaran kas mengalami kenaikan sebesar Rp. 10.756.664.576 atau naik sebesar

2.36% dari tahun 2005. Tahun 2007 anggaran kas mengalami kenaikan sangat

signifikan yaitu sebesar Rp. 3.160.189.452.315 atau naik sebesar 677.86% dari

tahun 2006. Tahun 2008 mengalami kenaikan sebesar Rp. 7,600,733,122,943 atau

kenaikan sebesar 209.60% dari tahun sebelumnya. Tahun 2009 anggaran kas
mengalami penurutnan sebesar (Rp. 6,998,926,915,133) atau turun sebesar

62.34% dari bulan sebelumnya.

Anggaran maksimum terjadi pada tahun 2007 dengan besar persentase

anggaran 677.86% dan anggaran minimum terjadi pada tahun 2004 dengan besar

persentase anggaran (83.19%).

Anggaran kas untuk setiap tahunnya sesuai dengan jumlah yang

dicantumkan oleh PT PLN (Persero), jumlah anggaran kas cenderung mengalami

kenaikan, hal ini disebabkan jumlah anggaran penerimaan kas yang banyak

mengalami peningkatan dari anggaran pengeluaran kas yang dapat merugikan.

Adapun perubahan anggaran kas dari sisi anggaran penerimaan kas dan

anggaran pengeluaran kas ini diakibatkan timbulnya pendapatan usaha dan beban

usaha. Beban usaha inilah yang mengakibatkan adanya pengeluaran kas yaitu

hutang yang harus dibayar.

4.2.2 Analisis Tingkat Likuiditas Pada PT. PLN (Persero)

Rasio tingkat likuiditas berguna untuk mengukur tingkat likuiditas suatu

perusahaan tentang cara menilai dan meningkatkan posisi keuangan perusahaan

tersebut.Alat ukur rasio tingkat likuiditas yang penulis gunakan adalah Current

ratio.

4.2.3.1 Analisis Tingkat Likuiditas Current Ratio


Current Ratio merupakan rasio antar aktiva lancar. Rasio ini dapat

menunjukkan kemampuan perusahaan untuk membiayai hutang-hutang lancarnya

pada saat jatuh tempo. Berikut rumus dari Current Ratio :

Aktiva Lancar
Current Ratio =
Hutang Lancar

Tabel 4.8
PT. PLN (Persero)
Analisis Current Ratio
(dalam rupiah)
Tahun Aktiva Lancar Hutang Lancar Proyeksi Current Kondisi
Ratio
A B C = (A/B) Likuiditas
2000 1,029,941,153,405 85287162125 Likuid
12.08
2001 1,015,878,244,107 93471790205 Likuid
10.87
2002 895,899,474,545 1.68663E+11 Likuid
5.31
2003 Likuid
546,787,551,145 353,515,214,601 1.55
2004 Likuid
642,939,399,724 374,402,367,115 1.72
2005 Likuid
534,891,826,875 450,908,475,611 1.19
2006 Likuid
500,297,544,699 456,725,056,032 1.10
2007 Likuid
739,513,406,702 574,619,351,987 1.29
2008 Likuid
514,643,849,614 340,897,561,500 1.51
2009 Likuid
567,637,812,403 138,372,555,264 4.10

Dari tabel 4.8 dapat diuraikan analisis proyeksi current ratio PT. PLN

periode tahun 2000 sampai dengan tahun 2009 sebagai berikut :

 Tingkat Current ratio PT PLN (Persero) pada tahun 2000 adalah sebesar

12,08 kali, hal ini menunjukkan bahwa proyeksi current ratio pada tahun 2000
berada pada titik likuid. Angka tersebut menunjukkan bahwa pada setiap Rp

1,00 hutang lancar dapat dijamin oleh Rp 12,08,00 aktiva lancar.

 Tingkat Current ratio PT PLN (Persero) pada tahun 2001 adalah sebesar

10,87 kali, hal ini menunjukkan bahwa proyeksi current ratio pada tahun 2001

berada pada titik likuid. Angka tersebut menunjukkan bahwa pada setiap Rp

1,00 hutang lancar dapat dijamin oleh Rp 10,87,00 aktiva lancar.

 Tingkat Current ratio PT PLN (Persero) pada tahun 2002 adalah sebesar 5,31

kali, hal ini menunjukkan bahwa proyeksi current ratio pada tahun 2002

berada pada titik likuid. Angka tersebut menunjukkan bahwa pada setiap Rp

1,00 hutang lancar dapat dijamin oleh Rp 5,31,00 aktiva lancar.

 Tingkat Current ratio PT PLN (Persero) pada tahun 2003 adalah sebesar 1,55

kali, hal ini menunjukkan bahwa proyeksi current ratio pada tahun 2003

berada pada titik likuid. Angka tersebut menunjukkan bahwa pada setiap Rp

1,00 hutang lancar dapat dijamin oleh Rp 1,55,00 aktiva lancar.

 Tingkat Current ratio PT PLN (Persero) pada tahun 2004 adalah sebesar 1,72

kali, hal ini menunjukkan bahwa proyeksi current ratio pada tahun 2004

berada pada titik likuid. Angka tersebut menunjukkan bahwa pada setiap Rp.

1,00 hutang lancar dapat dijamin oleh Rp 1,72,00 aktiva lancar.

 Tingkat Current ratio PT PLN (Persero) pada tahun 2005 adalah sebasar 1,19

kali, hal ini menunjukkan bahwa proyeksi current ratio pada tahun 2005

berada pada titik likuid. Angka tersebut menunjukkan bahwa pada setiap Rp

1,00 hutang lancar dapat dijamin oleh Rp 1,19,00 aktiva lancar.


 Tingkat Current ratio PT PLN (Persero) pada tahun 2006 adalah sebasar 1,10

kali, hal ini menunjukkan bahwa proyeksi current ratio pada tahun 2006

berada pada titik likuid. Angka tersebut menunjukkan bahwa pada setiap Rp

1,00 hutang lancar dapat dijamin oleh Rp 1,10,00 aktiva lancar.

 Tingkat Current ratio PT PLN (Persero) pada tahun 2007 adalah sebasar 1,29

kali, hal ini menunjukkan bahwa proyeksi current ratio pada tahun 2007

berada pada titik likuid. Angka tersebut menunjukkan bahwa pada setiap Rp

1,00 hutang lancar dapat dijamin oleh Rp 1,29,00 aktiva lancar.

 Tingkat Current ratio PT PLN (Persero) pada tahun 2008 adalah sebasar 1,51

kali, hal ini menunjukkan bahwa tingkat current ratio pada tahun 2008 berada

pada titik likuid. Angka tersebut menunjukkan bahwa pada setiap Rp 1,00

hutang lancar dapat dijamin oleh Rp 1,51,00 aktiva lancar.

 Tingkat Current ratio PT PLN (Persero) pada tahun 2009 adalah sebasar 4,10

kali, hal ini menunjukkan bahwa tingkat current ratio pada tahun 2009 berada

pada titik likuid. Angka tersebut menunjukkan bahwa pada setiap Rp 1,00

hutang lancar dapat dijamin oleh Rp 4,10,00 aktiva lancar.

Berdasarkan analisis uraian di atas dapat diketahui putaran tingkat

likuiditas (current ratio) perusahaan PT PLN (Persero) dari tahun 2001 sampai

dengan tahun 2009, yang dapat dilihat pada tabel 4.9 berikut :

Tabel 4.9
Tingkat Current Ratio PT. PLN (Persero)
Periode tahun 2003 s/d 2009
Tahun Current Ratio Naik (Turun)
2000 12.08

2001 10.87
(10.02)
2002 5.31
(51.15)
2003
1.55 (70.81)
2004 0.17
1.72
2005 -0.53
1.19
2006 -0.09
1.10
2007 0.19
1.29
2008 0.22
1.51
2009 2.59
4.10

Dari hasil penyusunan tingkat Current Ratio pada tabel 4.9 selama sepuluh

tahun pada PT PLN (Persero), penurunan terbesar terjadi antara tahun 2002 dan

tahun 2003, Penurunan terbesar sampai dengan (70.81). Sedangkan kenaikan

terbesar terjadi antara tahun 2008 sampai dengan tahun 2009, kenaikan tersebut

sebesar 2,59.

Dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2001, tingkat Current Ratio pada

PT. PLN mengalami penurunan sebesar 10.2 dari 12,08 pada tahun 2000 menjadi

10,87 pada tahun 2001.

Dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2002, tingkat Current Ratio pada

PT. PLN mengalami penurunan sebesar 51.15 dari 10,87 pada tahun 2001 menjadi

5,31 pada tahun 2002.


Dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2003, tingkat Current Ratio pada

PT. PLN mengalami penurunan sebesar 79.81 dari 5,31 pada tahun 2002 menjadi

1,55 pada tahun 2003.

Dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2004, tingkat Current Ratio pada

PT. PLN mengalami kenaikan sebesar 0.17 dari 1,55 pada tahun 2003 menjadi

1,72 pada tahun 2004.

Dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2005, tingkat Current Ratio pada

PT. PLN mengalami penurunan sebesar 0,53 dari 1,72 pada tahun 2004 menjadi

1,19 pada tahun 2005.

Dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2006, tingkat Current Ratio pada

PT PLN mengalami penurunan sebesar 0,09 dari 1,19 pada tahun 2005 menjadi

1,10 pada tahun 2006.

Dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2007, tingkat Current Ratio pada

PT PLN mengalami kenaikan sebesar 0,19 dari 1,10 pada tahun 2006 menjadi

1,29 pada tahun 2007.

Dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2008, tingkat Current Ratio pada

PT PLN mengalami kenaikan sebesar 0,22 dari 1,29 pada tahun 2008 menjadi

1,51 pada tahun 2009.

Dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2009, tingkat Current Ratio pada

PT PLN mengalami kenaikan sebesar 2,59 dari 1,51 pada tahun 2008 menjadi

4,10 pada tahun 2009.

Berdasarkan analisis di atas dapat diketahui bahwa tingkatan maksimum

terjadi pada tahun 2000 dengan putaran tingkatan sebesar 12,08 dan putaran
tingkatan minimum terjadi pada tahun 2005 sebesar -0,53 dengan rata-rata sebesar

1,78.

Walaupun tingkat likuiditas (current ratio) PT PLN (Persero) setiap

tahunnya berubah-ubah, namun jumlah tingkat proyeksi likuiditas dalam 10

(sepuluh) tahun ini dapat dikatakan likuid karena besarnya lebih dari standar

likuiditas 1,00, hal ini karena jumlah hutang lancar yang cenderung sangat kecil

tidak diimbangi dengan jumlah aktiva lancar yang sangat besar.

Tingkat likuiditas yang sangat besar ini diakibatkan PT PLN (Persero)

hanya mempunyai proporsi hutang lancar yang sangat kecil. Dimana PT PLN

(Persero) tidak melakukan pinjaman pada bank, untuk kegiatan operasi

perusahaan. PT PLN (Persero) hanya menggunakan dana kas/ modal yang dimiliki

perusahaan. Tetapi kendala yang dihadapi adalah ketika perusahaan ingin

berkembang, karena keterbatasan dana/modal yang tersedia perusahaan tidak

banyak berkembang.

4.2.4 Analisis Pengaruh Perubahan Anggaran Kas Terhadap Tingkat

Likuiditas Pada PT PLN (Persero)

Berdasarkan pembahasan tersebut di atas, maka diketahui variable x dan y

untuk dihitung statistic sebagai berikut:

Anggaran Kas X (Perubahan Tingkat


Tahun Anggaran Kas) Likuditas Y (Tingkat Likuiditas)
2000 11.13 29.67 -
2001 13.85 2.73 26.69 (2.97)
2002 17.11 3.26 13.04 (13.65)
2003 19.90 2.78 3.81 (9.23)
2004 3.34 (16.55) 4.22 0.42
2005 0.79 (2.55) 2.92 (1.30)
2006 0.81 0.02 2.70 (0.22)
2007 6.28 5.48 3.17 0.47
2008 19.45 13.17 3.71 0.54
2009 7.33 (12.13) 10.07 6.36

1. Asumsi Klasik

a. Auto Korelasi

b
Model Summary

Adjusted R Std. Error of the


Model R R Square Square Estimate Durbin-Watson
a
1 .449 .201 .087 5.77988 1.244

a. Predictors: (Constant), PERUBAHAN ANGGARAN KAS

b. Dependent Variable: TINGKAT LIKUIDITAS

Berdasarkan hasi perhitungan SPSS for window diketahui hasil Durbin-

Watson adalah 1.244, hal ini berarti adanya korelasi antara variabel X dan

variabel Y.

b. Residual Statistik

Untuk melakukan uji residual statistic maka digunakan diagram plot sebagai

berikut:
Dari table tersebut diketahui bahwa sebaran angka pada posisi 45 sehingga

data pada posisi normal.

2. Analisis Regresi

Analisis regresi linier digunakan untuk mengetahui arah dan hubungan

yang ada antara variabel X (anggaran kas) dengan variabel Y (tingkat proyeksi

likuiditas). Untuk dapat mencari regresi linier, maka penulis melakukan

pengolahan data dengan menggunakan SPSS 17.0, sebagai berikut :

Tabel 4.14
Hasil Regresi Linier Melalui SPSS 17.0
Proyeksi Current Ratio

a
Coefficients
Standardized
Unstandardized Coefficients Coefficients

Model B Std. Error Beta t Sig.

1 (Constant) -4.882 2.994 -1.631 .147

PERUBAHAN .460 .346 .449 1.329 .226


ANGGARAN KAS

a. Dependent Variable: TINGKAT LIKUIDITAS

Dari penghitungan regresi pada tabel 4.14 yang telah diolah, diperoleh

nilai a sebesar 0.460 dan nilai b sebesar -4.882. Dari hasil tersebut, maka dapat

dibuat persamaan regresi sebagai berikut :

Y = -4.882+ 0.460X

Dari persamaan regresi di atas, dapat diartikan bahwa :

 a sebesar 0.460 berarti bahwa regresi tidak memotong sumbu Y pada titik

0.460 dan juga merupakan nilai variabel dependen taksiran pada saat nilai X

= 0 atau dalam hal ini dapat diartikan anggaran kas = 0

 b sebesar -4.882 merupakan koefisien arah regresi linier, artinya bahwa jika

besarnya anggaran kas bertambah 1 unit, maka tingkat likuiditas bertambah

sebesar -4.882.

3. Analisis Korelasi

Hasil analisis korelasi adalah untuk mengetahui derajat hubungan antara

kedua variabel koefisien korelasi ini besar jika tingkat hubungan antar variabel

kuat sebaliknya demikian. Jika tingkat hubungan tidak kuat maka nilai koefisien

korelasi akan kecil. Untuk perhitungan korelasi dilakukan penulis dengan

menggunakan SPSS 17.0, berikut ini :


Tabel 4.15
Hasil Perhitungan Korelasi Melalui SPSS 17.0
Proyeksi Current Ratio
b
Model Summary

Adjusted R Std. Error of the


Model R R Square Square Estimate Durbin-Watson
a
1 .449 .201 .087 5.77988 1.244

a. Predictors: (Constant), PERUBAHAN ANGGARAN KAS

b. Dependent Variable: TINGKAT LIKUIDITAS

Dari hasil pengolahan data tersebut pada tabel 4.15 , maka dapat diketahui

nilai koefisien korelasi yaitu sebesar 0.449. Dari pernyataan di atas dapat diartikan

bahwa tingkat korelasi anggaran kas dengan tingkat likuiditas bersifat positif. Dan

sesuai dengan pedoman untuk memberikan interpretasi terhadap koefisien korelasi

internal seperti yang sudah dijabarkan pada tabel 3.2 di Bab III, dapat dilihat

bahwa hubungan antara anggaran kas terhadap tingkat likuiditas memiliki

hubungan sedang.

3. Analisis Determinasi

Koefisien determinasi dilakukan untuk mengetahui seberapa besar

pengaruh anggaran kas terhadap tingkat likuiditas dan seberapa besar yang

dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Untuk mencari koefisien determinasi maka

penulis menggunakan SPSS 17.0, sebagai berikut :

Tabel 4.16
Hasil Penghitungan Determinasi Melalui SPSS 17.0
Proyeksi Current Ratio
b
Model Summary
Adjusted R Std. Error of the
Model R R Square Square Estimate Durbin-Watson
a
1 .449 .201 .087 5.77988 1.244

a. Predictors: (Constant), PERUBAHAN ANGGARAN KAS

b. Dependent Variable: TINGKAT LIKUIDITAS

Dari hasil penghitungan pada tabel 4.16, r Square adalah 0.201, hal ini

berarti koefisien determinasi yaitu sebesar 0.201 atau 20.1%. Dari penghitungan

tersebut menunjukkan besarnya pengaruh anggaran kas terhadap tingkat likuiditas

perusahaan adalah sebesar 20.1%. Sedangkan sisanya 79.9% merupakan besarnya

pengaruh dari faktor lain di luar anggaran kas.

1. Uji Hipotesis

Pada tahap akhir, hipotesis yang telah diajukan akan diuji melalui

hipotesis nol (H0) dan hipotesis alternatif (Ha). Pengujian hipotesis dilakukan

untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh signifikan antara perubahan

anggaran kas terhadap tingkat likuiditas perusahaan.

Langkah-langkah dalam pengujian hipotesis ini adalah :

1) Penetapan hipotesis

H0 : ß = 0 : tidak terdapat pengaruh perubahan anggaran kas terhadap tingkat

likuiditas perusahaan.

Ha : ß ≠ 0 : terdapat pengaruh perubahan anggaran kas terhadap tingkat

likuiditas perusahan.

2) Penetapan kriteria penerimaan dan penolakan hipotesis

H0 diterima jika : thitung < ttabel

H0 ditolak jika : thitung > ttabel


3) Menetapkan thitung dengan menggunakan SPSS 17.0, sebagai berikut :

Tabel 4.17
Hasil Penghitungan Uji Hipotesis Melalui SPSS 17.0
Tingkat Current Ratio
a
Coefficients

Standardized
Unstandardized Coefficients Coefficients

Model B Std. Error Beta t Sig.

1 (Constant) -4.882 2.994 -1.631 .147

PERUBAHAN .460 .346 .449 1.329 .226


ANGGARAN KAS

a. Dependent Variable: TINGKAT LIKUIDITAS

Berdasarkaan penghitungan pada tabel 4.17, dapat diketahui data berikut :

1. Tingkat kesalahan α = 0,05 (5%)

2. Derajat kesalahan dk = n-2 atau sama dengan dk = 9-2 =7

3. thitung = 1,329 dan ttabel = 3,182

Dari hasil pengolahan hasil analisis pada tabel 4.10, maka t hitung < ttabel

(1,329 < 3,182) maka dapat disimpulkan bahwa H0 diterima dan Ha ditolak, maka

hipotesis statistik yang menyatakan terdapat pengaruh perubahan anggaran kas

terhadap tingkat likuiditas perusahan ditolak. Dan dihubungkan sesuai dengan

hipotesis penelitian yang telah ditetapkan sebelumnya juga terdapat pengaruh

perubahan anggaran kas terhadap tingkat likuiditas perusahaan dapat diterima.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat hasil penghitungan pada gambar 4.1 pengujian

hipotesis berikut :

Gambar 4.1
Pengujian Hipotesis
Daerah Penolakan Daerah Penolakan
Hipotesis H1 Hipotesis H1

Daerah Penerimaan
Hipotesis H0

-1,329 1,329

-5 -3,182 3,182

Dilihat pada gambar 4.1 thitung 1,296 berada di daerah penerimaan hipotesis

H0, yakni thitung < ttabel berarti adanya pengaruh antara variabel X terhadap variabel

Y.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN


5.3 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan pada Bab IV maka dapat disimpulkan

sebagai berikut :

1. Penyusunan perubahan anggaran kas PT. PLN (Persero) selama sepuluh

tahun dapat dilihat bahwa sebagian besar atau cenderung mengalami

fluktuatif. Tahun 2001 naik sebesar Rp. 1.572.880.566.622 atau naik

sebesar 24.49% dari tahun sebelumnya. Tahun 2002 naik sebesar Rp.

1.880.401.533.871 atau naik sebesar 23.52% dari tahun sebelumnya. Tahun

2003 naik sebesar Rp. 1.607.180.197.654 atau naik sebesar 16.27% dari

tahun sebelumnya. Tahun 2004 anggaran kas mengalami penurunan sebesar

(Rp. 9.553.552.215.215) atau turun sebesar Rp. 83.19%. Tahun 2005

anggaran kas kembali mengalami penurunan sebesar (Rp.

1.474.522.234.298) atau turun sebesar 76.40% dari tahun 2004. Tahun 2006

anggaran kas mengalami kenaikan sebesar Rp. 10.756.664.576 atau naik

sebesar 2.36% dari tahun 2005. Tahun 2007 anggaran kas mengalami

kenaikan sangat signifikan yaitu sebesar Rp. 3.160.189.452.315 atau naik

sebesar 677.86% dari tahun 2006. Tahun 2008 mengalami kenaikan sebesar

Rp. 7,600,733,122,943 atau kenaikan sebesar 209.60% dari tahun

sebelumnya. Tahun 2009 anggaran kas mengalami penurutnan sebesar (Rp.

6,998,926,915,133) atau turun sebesar 62.34% dari bulan sebelumnya.-

Tingkat proyeksi likuiditas (Current Ratio) PT Nusantara Turbin dan

Propulsi menunjukan kemampuan perusahaan untuk membayar setiap Rp

1,00 hutang lancar dijamin oleh aktiva lancarnya. Setiap tahunnya proyeksi
Current Ratio mengalami fluktuasi naik dan turun, namun secara

keseluruhan mengalami kecenderungan naik. Pada tahun 2002 sampai

dengan tahun 2003 mengalami kenaikan sebesar 4,21. Pada tahun 2003

sampai dengan tahun 2004 mengalami kenaikan sebesar 8,30. Pada tahun

2004 sampai dengan tahun 2005 mengalami penurunan sebesar 17,89. Pada

tahun 2005sampai dengan tahun 2006 mengalami kenaikan sebesar 7,87.

Diketahui dari data tingkat proyeksi likuiditas PT Nusantara Turbin dan

Propulsi dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2006 perusahaan tersebut

dalam keadaan likuid karena standar likuiditasnya lebih dari 2,00. Hal ini

karena jumlah hutang lancar yang cenderung sangat kecil tidak diimbangi

dengan jumlah aktiva lancar yang sangat besar.

2. Tingkat likuiditas (current ratio) PT PLN (Persero) setiap tahunnya

berubah-ubah, namun jumlah tingkat likuiditas dalam 10 (sepuluh) tahun

ini dapat dikatakan likuid karena besarnya lebih dari standar likuiditas 1,00,

hal ini karena jumlah hutang lancar yang cenderung sangat kecil tidak

diimbangi dengan jumlah aktiva lancar yang sangat besar. Tingkat proyeksi

likuiditas yang sangat besar ini diakibatkan PT PLN (Persero) hanya

mempunyai proporsi hutang lancar yang sangat kecil. Dimana PT PLN

(Persero) tidak melakukan pinjaman pada bank, untuk kegiatan operasi

perusahaan. PT PLN (Persero) hanya menggunakan dana kas/ modal yang

dimiliki perusahaan. Tetapi kendala yang dihadapi adalah ketika

perusahaan ingin berkembang, karena keterbatasan dana/modal yang

tersedia perusahaan tidak banyak berkembang.


3. Pengaruh Perubahan Anggaran Kas Terhadap Tingkat Likuiditas Pada PT

PLN (Persero) berdasarkan perhitungan statistic dengan SPSS maka dapat

diketahui nilai koefisien korelasi yaitu sebesar 0.449. Dari pernyataan di

atas dapat diartikan bahwa tingkat korelasi anggaran kas dengan tingkat

proyeksi likuiditas bersifat positif. Dan sesuai dengan pedoman untuk

memberikan interpretasi terhadap koefisien korelasi internal seperti yang

sudah dijabarkan pada tabel 3.2 di Bab III, dapat dilihat bahwa hubungan

antara anggaran kas terhadap tingkat likuiditas memiliki hubungan sedang.

Adapun koefisien determinasi diketahui r Square adalah 0.201, hal ini

berarti koefisien determinasi yaitu sebesar 0.201 atau 20.1%. Dari

penghitungan tersebut menunjukkan besarnya pengaruh anggaran kas

terhadap tingkat likuiditas perusahaan adalah sebesar 20.1%. Sedangkan

sisanya 79.9% merupakan besarnya pengaruh dari faktor lain di luar

anggaran kas.

5.4 Saran

Adapun saran yang akan Penulis sampaikan dari hasil pembahasan

sebelumnya , adalah sebagai berikut :


1. Laporan anggaran kas yang telah dibuat hendaknya dapat dijadikan sebagai

acuan secara optimal dalam pedoman kegiatan operasional perusahaan untuk 1

(satu) tahun ke depan.

2. Agar dalam pengambilan keputusan, perusahaan selalu memperhitungkan

posisi keuangan setiap waktunya dengan memanfaatkan penghitungan rasio

likuiditas, sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun kebijakan penentuan

likuiditas yang berpengaruh terhadap jalannya usaha di masa yang akan

datang agar lebih baik. Adapun tingkat likuiditas yang telah dicapai oleh

perusahaan hendaknya dapat terus dipertahankan.


DAFTAR PUSTAKA

Bambang Riyanto, 2001, Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi


Keempat, cetakan ketujuh, BPFE, Yogyakarta.

Brigham F. Eugene dan Housten F. Joel, 2001, alih bahasa Dodo Suharto dan
Herman Wibowo, Manajemen Keuangan, Erlangga, Jakarta

Dwi Prastowo dan Rifka Juliaty, 2002, Analisis Laporan Keuangan , Edisi
Kedua, UPP AMP YKPN, Yogyakarta.

Gunawan Adisaputro, 2003, Anggaran Perusahaan, BPFE, Yogyakarta.

Hartanto, 1993, Akuntansi Untuk Usahawan, Edisi Kedua, BPFE, Yogyakarta.

J. Supranto, 1993, STATISTIK Teori dan Aplikasi, Erlangga, Jakarta.

Lukman Syamsudin, 2002, Manajemen Keuangan Perusahaan, Edisi Baru,


PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Mamduh M. Hanafi dan Abdul Halim,2003, Analisis Laporan Keuangan, UPP


AMP YPKN, Yogyakarta

M. Nafarin, 2004, Penganggaran Perusahaan, Salemba Empat, Jakarta.

M. Munandar, 2001, Budgeting Perencanaan Kerja, Pengkoordinasian Kerja,


Pengawasan Kerja, Yayasan Badan Penerbit Gajah Mada, Jakarta.

Mohamad Muslich, 2003, Manajemen Keuangan Modern, Bumi Aksara,


Cetakan Ketiga, Jakarta.

Mulyadi, 1993, Akuntansi Manajemen, Edisi Kedua, STIE YKPN, Yogyakarta.

N. Robert, Anthony, Dearden John dan M. Bedford Norton, alih bahasa Agus
Maulana, Sistem Pengendalian Manajemen, Binapura Aksara, Jakarta.

Sofyan Syafri Harahap, 2001, Teori Akuntansi, Rajawali Pers, Jakarta.

Sugiyono, 2003, Metode Penelitian Bisnis, Cetakan Kelima, CV Alfabeta,


Bandung.

Syafaruddin Alwi, 1993, Alat Analisis Pembelanjaan Perusahaan, BPFE,


Yogyakarta.
Welsch , Hilton, Gordon, 2000, alih bahasa Purwatiningsih dan Maudy Warou,
Anggaran Perencanaan dan Pengendalian Laba, Salemba Empat,
Jakarta.

Wilson, R. James, Campbell B. John, 1996, alih bahasa Tjintjin Fenix Tjendera,
Controllership : Perencanaan dan Pengendalian, Erlangga, Jakarta