Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

PENYEBAB TERJADINYA ADVERSE EVENTS TERKAIT PROSEDUR

INVASIVE MEDICATION SAFETY

DISUSUN OLEH :
Kelompok 3 (Kelas A1)

Novita Setyawati (131711133004)


Oktavianti Noor Rachmadi (131711133048)
Kadek Aprilia Savitri (131711133066)
Neli Widia Astuti (131711133081)
Rizqon Hasanan Soamole (131711133084)
Achmad Haidar Ulinuha (131711133104)
Wiwik Uswatun Hasanah (131711133106)
Luthfi Nurwidianti (131711133122)

Dosen :
Iqlima Dwi Kurnia S.Kep.Ns., M.Kep.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS

FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

SURABAYA

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang Penyebab
Terjadinya Adverse Events Terkait Prosedur Invasif Medication Safety ini dengan baik
meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada Iqlima Dwi
Kurnia S.Kep.Ns., M.Kep. selaku Dosen mata kuliah Keselamatan Kesehatan Kerja Dan
Keselamatan Pasien Dalam Keperawatan yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita mengenai Penyebab Terjadinya Adverse Events Terkait Prosedur Invasif
Medication Safety. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran
dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat
tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang
berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi perbaikan
makalah ini di waktu yang akan datang.

Surabaya, 19 Oktober 2018

Penulis

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ……………………………………………………………….1


Daftar Isi ……………………………………………………………………..2

BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang …………………………………………………………...3
1.2 Rumusan Masalah ………………………………………………………..4
1.3 Tujuan ……………………………………………………………………4

BAB II Pembahasan
2.1 Pengertian Invasive Medication Safety dan Adverse Event ……………….5
2.2 Pengertian dan Tujuan Identifikasi Pasien ………………………………5
2.3 Pengertian dan Tujuan Komunikasi pada Pasien ......................................6
2.4 Identifikasi pasien tentang Adverse Event terkait Prosedur Invasif
Medication Safety ….…………………………………………………….6
2.4.1 Ketetapan Identifikasi Pasien ……………………………………...7
2.4.2 Prosedur Identifikasi Pasien …………………………………….....7
2.4.3 Jenis-Jenis Identifikasi Pasien …………………………………......11
2.5 Komunikasi secara efektif mengenai Adverse Event …………………….11
2.6 Prosedur Identifikasi Pasien terkait Adverse Event ……………………...12
2.7 Prosedur Komunikasi Efektif terkait Adverse Event …………………….14
2.8 Prosedur Hand-off Communication (Serah Terima Informasi Pasien) ......16
2.9 Kesalahan yang sering terjadi dalam identifikasi dan komunikasi ………18

BAB III Penutup


3.1 Kesimpulan ………………………………………………………………19
3.2 Saran ……………………………………………………………………..19

Daftar Pustaka ………………………………………………………………..20

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Setiap tindakan medis menyimpan potensi resiko. Banyaknya jenis
pemeriksaan, jenis obat, dan prosedur, serta jumlah pasien dan staff Rumah Sakit yang
cukup besar merupakan hal yang potensial bagi terjadinya kesalahan medis (medical
errors). Menurut Institute of Medicine (1999), medical error didefinisikan sebagai suatu
kegagalan tindakan medis yang telah direncanakan untuk diselesaikan tidak seperti
yang diharapkan (yaitu, kesalahan tindakan) atau perencanaan yang salah untuk
mencapai suatu tujuan (yaitu, kesalahan perencanaan). Kesalahan yang terjadi dalam
proses asuhan medis ini akan mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera
pada pasien, bisa berupa Near Miss atau Adverse Event (Kejadian Tidak
Diharapkan/KTD).

Keselamatan pasien menjadi isu terkini dalam pelayanan rumah sakit yang
didasarkan makin meningkatnya kejadian yang tidak diharapkan (KTD)/adverse event.
Adverse Event merupakan suatu kejadian yang mengakibatkan cedera yang tidak
diharapkan pada pasien karena suatu tindakan (commission) atau tidak mengambil
tindakan yang seharusnya diambil (omission), dan bukan karena “underlying disease”
atau kondisi pasien. Kesalahan bisa terjadi dalam tahap diagnostic seperti kesalahan
keterlambatan diagnosa, tidak menerapkan pemeriksaan yang sesuai, menggunakan
cara pemeriksaan yang sudah tidak dipakai atau tidak bertindak atas hasil pemeriksaan,
tahap pengobatan seperti kesalahan pada prosedur pengobatan, pelaksanaan terapi,
metode penggunaan obat, dan keterlambatan merespon hasil pemeriksaan asuhanyang
tidak layak atau pada hal teknis yang lain yaitu kegagalan berkomunikasi.

Joint Commission International (JCI) menyebutkan komunikasi merupakan


salah satu akar penyebab terjadinya kesalahan pemberiantindakan medis dalam
kejadian sentinel (Wachter,2008). Banyak penelitian yang menunjukkan pentingnya
komunikasi, baik secara verbal maupun non verbal. Komunikasi tidak akan berlangsung
dengan baik jika tenaga medis sedang terburu-buru, marah atau sedang dibawah
tekanan pekerjaan lain. Komunikasi dalam keadaan tersebut akan meningkatkan resiko
terjadinya adverse events.

3
1.2 Rumusan Masalah
1) Apa yang dimaksud dengan Invasive Medication Safety dan Adverse Event?
2) Apa yang dimaksud dengan identifikasi pasien dan tujuan identifikasi pasien?
3) Apa yang dimaksud dengan komunikasi pasien dan tujuan komunikasi pada
pasien?
4) Bagaimana identifikasi pasien tentang adverse event terkait prosedur invasif
medication safety?
5) Bagaimana komunikasi efektif mengenai adverse event?
6) Bagaimana prosedur identifikasi pasien terkait adverse event?
7) Bagaimana prosedur komunikasi efektif terkait adverse event?
8) Apa saja kesalahan yang sering terjadi dalam identifikasi pasien dan komunikasi?
1.3 Tujuan
1) Menjelaskan pengertian Invasive Medication Safety dan Adverse Event
2) Menjelaskan tentang identifikasi pasien dan tujuan identifikasi pasien
3) Menjelaskan tentang komunikasi pasien dan tujuan komunikasi pada pasien
4) Menjelaskan identifikasi pasien tentang adverse event terkait prosedur invasif
medication safety
5) Menjelaskan komunikasi efektif mengenai adverse event
6) Menjelaskan prosedur identifikasi pasien terkait adverse event
7) Menjelaskan prosedur komunikasi efektif terkait adverse event
8) Menjelaskan kesalahan yang sering terjadi dalam identifikasi pasien dan
komunikasi

4
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Invasive Medication Safety dan Adverse Event

Medication safety bukan masalah baru. Banyak organisasi kesehatan memfokuskan


perhatian pada medication safety. The Institute of Medicine (IOM) melaporkan bahwa dari
medication error yang diidentifikasi, 32-69% adalah kejadian yang semestinya atau mungkin
dapat dicegah. Medication safety mempunyai tujuan agar tercapainya keselamatan pasien
atau Patient safety. Patient safety adalah identifikasi, penilaian, analisis, dan manajemen
risiko dan patient safety incident, agar pelayanan pasien lebih aman dan
meminimalkan harm pada pasien.

Adverse Event adalah suatu peristiwa yang menyebabkan, atau memiliki potensi yang
dapat menyebabkan, atau menyebabkan hal yang terduga atau tidak diinginkan sehingga
membahayakan keselamatan pengguna alat kesehatan (termasuk pasien) atau orang lain.
Kejadian tak terduga atau tidak diinginkan sebagai akibat negatif dari manajemen di bidang
kesehatan, tidak terkait dengan perkembangan alamiah penyakit atau komplikasi penyakit
yang mungkin terjadi (London Health Sciences Centre).

2.2 Pengertian dan Tujuan Identifikasi Pasien

Identifikasi adalah pengumpulan data dan pencatatan segala keterangan tentang bukti –
bukti dari seseorang sehingga kita dapat menetapkan dan mempersamakan keterangan
tersebut dengan individu seseorang.
Identifikasi pasien adalah proses mencocokkan gelang pasien pada pergelangan tangan
kiri/kanan yang tercantum nama lengkap, tanggal lahir dan nomor Rekam Medis dengan
identitas orang yang akan diberikan, dilakukan tindakan/prosedur, diambil darah/sample,
diberikan darah atau produk darah, dilakukan pengobatan.
Tujuan Identifikasi Pasien :

1. Mengidentifikasi dengan benar pasien tertentu yang akan diberi layanan atau
pengobatan tertentu.

2. Mencocokkan layanan atau perawatan dengan individu tersebut.

Identifikasi pasien wajib dilakukan sebelum :

 Pemberian obat

5
 Pemberian darah/ produk darah

 Pengambilan darah dan specimen lain untuk pemeriksaan klinis

 Sebelum memberikan pengobatan

 Sebelum memberikan tindakan

2.3 Pengertian dan Tujuan Komunikasi pada Pasien

Komunikasi adalah suatu proses pertukaran informasi atau proses pemberian arti sesuatu
antara dua atau lebih orang dan lingkungannya bisa melalui simbol, tanda atau perilaku yang
umum, dan biasanya terjadi dua arah. Komunikasi yang digunakan perawat untuk
berkomunikasi dengan pasiennya adalah komunikasi terapeutik.
Komunikasi terapeutik merupakan suatu proses untuk membina hubungan terapeutik
antar perawat-klien dan kualitas asuhan keperawatan yang diberikan perawat kepada klien.
Komunikasi perawat yang baik akan meningkatkan citra profesionalisme pada diri perawat.
Sebaliknya, jika komunikasi perawat kurang baik, hal ini akan berimbas pada penilaian klien
terhadap perawat.

Tujuan komunikasi terapeutik adalah:


a. Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran
serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada bila pasien percaya
pada hal yang diperlukan.
b. Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif dan
mempertahankan kekuatan egonya.
c. Memengaruhi orang lain, lingkungan fisik, dan dirinya sendiri.

Identifikasi pasien dan komunikasi pada pasien sangat diperlukan untuk menghindari
Kejadian Tidak Diinginkan atau Adverse Event yang sering terjadi di Rumah Sakit. Perawat
harus mampu untuk mengidentifikasi dan berokomunikasi kepada pasien dengan benar dan
tepat.

2.4 Identifikasi pasien tentang Adverse Event terkait Prosedur Invasif Medication Safety

Identifikasi pasien dan pencocokan pasien dengan pengobatan merupakan kegiatan


yang dilakukan secara rutin di semua rangkaian perawatan (Australian Commission on
Safety and Quality Health Care 2017). Kegiatan ini dilakukan agar tidak terjadi kesalahan
identifikasi pasien, seperti medication errors, kesalahan pemberian obat, salah dalam

6
transfusi darah, pemberian prosedur pengobatan pada orang yang salah, bahkan juga bisa
menyebabkan penyerahan bayi pada keluarga yang salah. Untuk itu, sebelum melakukan
tindakan, pasien harus diidentifikasi terlebih dahulu dengan dua kali pengecekan, yaitu
pertama, untuk identifikasi pasien sebagai individu yang akan menerima pelayanan atau
pengobatan, dan kedua, untuk kesesuaian pelayanan atau pengobatan terhadap individu
tersebut. Kebijakan dan/atau prosedur yang secara kolaboratif dikembangkan untuk
memperbaiki proses identifikasi, khususnya pada proses untuk mengidenti fikasi pasien
ketika pemberian obat, darah, atau produk darah; pengambilan darah dan spesimen lain
untuk pemeriksaan klinis; atau pemberian pengobatan atau tindakan lain. Kebijakan
dan/atau prosedur memerlukan sedikitnya dua metode untuk mengidentifikasi seorang
pasien,misalnya dengan menanyakan nama pasien, nomor rekam medis, tau tanggal lahir
dan juga dengan melihat gelang pasien.

2.4.1 Ketetapan Identifikasi Pasien

Ketepatan identifikasi pasien merupakan salah satu sasaran keselamatan pasien


dalam akreditasi rumah sakit. Terdapat 5 elemen yang harus dipenuhi pada sasaran
ketepatan identifikasi pasien, yaitu :

1. Pasien diidentifikasi menggunakan dua identitas pasien, tidak boleh menggunakan


nomor kamar atau lokasi pasien.
2. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian obat, darah, atau produk darah.
3. Pasien diidentifikasi sbelum pengambilan darah dan spesimen lain untuk pmeriksaan
klinis.
4. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian pengobatan dan tindakan/prosedur.
5. Kebijakan dan prosedur mendukung praktik identifikasi yang konsisten pada semua
situasi dan lokasi.

2.4.2 Prosedur Identifikasi Pasien

Berikut adalah prosedur-prosedur apa saja yang dilakukan saat melakukan


identifikasie pasien, yaitu :

1. Setiap pasien baru harus diidentifikasi secara lengkap, benar, jelas dan terperinci
2. Identifikasi pasien meliputi :
A. Penulisan nomor rekam medis

7
B. Penulisan Indentitas pasien disesuaikan dengan e-KTP/SIM/ Kartu Keluarga/
PASPOR yang berlaku
C. Penulisan identitas pasien meliputi :
− Nama Lengkap
− Tempat /Tanggal Lahir
− Jenis Kelamin
− Alamat lengkap
− Agama
− Status Perkawinan
− Pekerjaan
− Nama Suami/Istri/keluarga terdekat
− Nama Ibu/Ayah
− Penanggung Jawab pasien
− Tanggal Registrasi
− Status pendidikan
D. Jika ada perubahan data identitas pasien pada kunjungan berikutnya maka identitas
pertama harus dirubah dengan identitas yang baru (up to date)
E. Identifikasi pada gelang pasien, meliputi :
− Pencantuman nomor rekam medis
− Pencantuman nama lengkap
− Pencantuman tanggal lahir
− Warna gelang disesuaikan dengan kondisi pasien
− Gelang warna biru untuk pasien laki – laki dan warna pink untuk pasien
perempuan

8
− Gelang warna merah untuk pasien alergi

− Gelang warna kuning untuk pasien resiko jatuh

− Gelang warna ungu untuk pasien tidak boleh resusitasi

9
− Gelang warna putih untuk pasien jenis kelamin ganda (ambigu)

− Gelang warna abu-abu untuk pasein dengan pemasangan bahan radioaktif


(kemoterapi)

− Gelang warna hijau untuk pasien alergi latek

F. Setiap dilakukan pemasangan gelang petugas harus menjelaskan manfaat gelang


pasien dan bahaya jika menolak, melepas, dan menutupi gelang
G. Sebelum pemberian pelayanan kepada pasien petugas harus mengidentifikasi
pasien terlebih dahulu, meliputi sebelum pemberian obat, darah atau produk darah,
mengambil darah dan spesimen lain untuk pemeriksaan klinis serta pemberian
tindakan, petugas harus menganamnesa identitas pasien dan mengecek gelang
pasien secara teliti dan terperinci
3. Pasien baru harus dibuatkan kartu identitas berobat dengan mencantumkan nama
pasien, nomor rekam medik, tanggal lahir dan alamat rumah
4. Setiap pasien akan di daftarkan pada buku registrasi pasien dan atau dimasukkan dalam
database pasien (KIUP komputerisasi) secara up to date.

10
2.4.3 Jenis – Jenis Identifikasi Pasien

2.5 Komunikasi secara efektif mengenai Adverse Event

Sesuai dengan standar keselamatan pasien, yaitu identifikasi pasien dengan tepat,
meningkatkan komuniasi efektif, meningkatkan keamanan obat-obat yang dengan
kewaspadaan tinggi, memastikan lokasi operasi, benar prosedur, dan benar pasien,
mengurangi resiko infeksi terkait dengan pelayanan kesehatan, mengurangi resiko akibat
pasien jatuh. Komuniasi efektif yaitu komunikasi yang mampu menghasilkan perubahan
sikap (attitude change) pada orang lain yang bisa terlihat dalam proses komunikasi.
Sedangkan kejadian tidak diinginkan(adverse event)merupakan suatu kejadian yang
mengakibatkan cedera yang tidak diharapkan pada pasien karena suatu tindakan
(commission) atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (ommission) dan
bukan karena “underlying disese” atau kondisi pasien.Permasalahan komunikasi merupakan
penyebab utama sekitar ⅔ dari semua kejadian sentinel. Terdapat banyak kejadian tidak
diinginkan di rumah sakit yang disebabkan karena masalah komunikasi termasuk pada
keperwatan. Data hasil dari RCA salah satu rumah sakit di Amerika menunjukkan 65%
sentinel event, 90% penyebabnya dalah komunikasi, 50% terjadi pada saat serah terima
informasi pasien.

Komponen komunikasi efektif menunjukkan presentase yang cukup besar pengaruhnya


dalam adverse event yaitu (66,7%). Dengan presentase tersebut maka untuk mengurangi
angka kejadian tidak diinginkan (adverse event) perlu ditingkatkan komunikasi secara
efektif antara semua yang terlibat dalam lingkungan rumah sakit. WHO menetapkan
komunikasi efektif merupakan salah satu fokus utama dalam perawatan pasien untuk
menjamin keselamatan pasien ((WHO), 2009). Teknik komunikasi efektif yang biasa
digunakan di rumah sakit yaitu komunikasi SBAR, komunikasi SBAR dinilai sangat ideal
diterapkan sebagai komunikasi standar pada saat perawat melaporkan situasi/kondisi pasien
dalam praktek sehari-hari. Komunikasi yang efektif, tepat waktu, akurat, lengkap, jelas, dan
dipahmi oleh penerima informasi dapat mengurangi kejadian tidak diinginkan atau adverse
event dan meningkatkan angka keselamatan pasien.

11
2.6 Prosedur Identifikasi Pasien terkait Adverse Event
Keselamatan pasien (patient safety) merupakan suatu variable untuk mengukur dan
mengevaluasi kualitas pelayanan di rumah sakit. Depkes melaporkan setiap tenaga
kesehatan di Rumah Sakit termasuk di dalamnya perawat wajib menerapkan keselamatan
pasien (Patient safety) untuk mencegah insiden keselamatan pasien, salah satu cara
mencegah terjadinya insiden adalah dengan identifikasi pasien yang benar dan sesuai
dengan prosedur. Identifikasi pasien dan pencocokan pasien dengan pengobatan merupakan
kegiatan yang dilakukan secara rutin di semua rangkaian perawatan (Australian
Commission on Safety and Quality in Health Care 2017). Untuk itu sebelum melakukan
tindakan, pasien harus diidentifikasi terlebih dahulu dengan dua kali pengecekan, yaitu:
pertama, untuk identifikasi pasien sebagai individu yang akan menerima pelayanan atau
pengobatan, dan kedua, untuk kesesuaian pelayanan atau pengobatan terhadap individu
tersebut. Rumah sakit perlu menyediakan kebijakan dan/atau prosedur yang secara
kolaboratif dikembangkan untuk memperbaiki proses identifikasi (KARS 2011).

Identifikasi pasien dilakukan pada saat pemberian obat, darah, atau produk darah;
pengambilan darah atau spesimen lain untuk pemeriksaan klinis; atau pemberian
pengobatan atau tindakan lain. Kebijakan dan/atau prosedur memerlukan sedikitnya dua
cara untuk mengidentifikasi seorang pasien, seperti nama pasien, dengan dua nama pasien,
tanggal lahir, dan nomor rekam medis, dan tidak diperbolehkan menggunakan nomor kamar
atau lokasi pasien. Kebijakan dan/atau prosedur juga menjelaskan penggunaan dua identitas
berbeda di lokasi yang berbeda di rumah sakit, seperti di pelayanan rawat jalan, unit gawat
darurat, atau ruang operasi, termasuk identifikasi pasien koma tanpa identitas. Alur
identifikasi pasien pada saat pasien masuk ke rumah sakit dapat dilihat di halaman
selanjutnya.

12
Alur Identifikasi Pasien
Pasien masuk ke Rumah Sakit

Melalui UGD sebagai pasien UGD atau Ke ruang rawat inap, HD, Endoscopie sebagai pasien
melalui poliklinik operasi/ pasien rawat umum

Apakah pasien memiliki catatan di medical record (MR)

Ya Tidak

Identitas pasien diperiksa berdasarkan data


Rincian pasien telah ditanyakan melalui formulir
MR. Gelang identitas dilengkapi dan berisi
admission. Gelang identitas telah dilengkapi, dan
nama lengkap, tanggal lahir dan no MR,
diperiksa dengan pasien
rincian tersebut diperiksa langsung ke pasien

Gelang identitas sudah dipasang pada pergelangan tangan pasien, biasanya pada tangan yang
dominan, contoh tangan untuk menulis

Gelang identitas pasien telah diperiksa, meminta pasien untuk menyebutkan nama dan tanggal lahirnya, sebelum
intervensi berikut:

1. Pengambilan sampel darah2. Transfuse darah dan produk darah(saat pemberian obat dan saat akan melakukan
tindakan keperawatan)3. Pengambilan sampel cairan tubuh pasien pemberian semua obat4. Intervensi bedah dan
setiap prosedur invasive5. Transport/ transfer dari pasien6. X-ray dan prosedur pencitraan (sebelum memberikan
therapie radiasi)7. Dua professional harus memeriksa identitas dari pasien (saat pemberian nampan makanan)

Gelang identitas harus diperiksa pada setiap pergantian shift oleh perawat pada shift berikutnya
untuk memastikan gelang tersebut terpakai dengan baik dan terbaca. Ganti gelang tersebut jika
terdapat perubahan atau kesalahan rincian data. Jangan di coret atau ditimpa

Lepaskan gelang identitas pada saat pasien akan pulang dari ruang gawat atau unit tertentu
13
2.7 Prosedur Komunikasi Efektif terkait Adverse Event

Komunikasi adalah bagian esensial dalam pelayanan kesehatan, dan juga esensial
untuk patient safety. Komunikasi bias mengancam pasien tetapi juga bias mencegah pasien
dari ancaman kesehatan. Dalam pelayanan kesehatan, komunikasi menjadi dasar untuk
memastikan bahwa pasien mendapatkan proses perawatan yang terbaik, menjelaskan tujuan
pengobatan dan mendiskusikan proses perawatan pasien dengan professional lain yang
terlibat. Sering kali komunikasi berlangsung dalam situasi yang tingkat stress-nya tinggi dan
harus dilakukan segera. Tetapi komunikasi juga menjadi sarana untuk mengatasi situasi
tersebut, dengan komunikasi yang baik bias terjalin kolaborasitim yang baik pula.

Data yang dikumpulkan oleh Joint Commision on Accreditation of Health care


Organization menunjukkan bahwa komunikasi yang buruk memberikan kontribusi pada
hampir 70% dari sentinel event yang dilaporkan di US pada tahun 2005. Penelitian di
Germany mengidentifikasi 15% dari semua event berhubungan langsung dengan masalah
komunikasi dan pada lebih dari 50% event, komunikasi menjadi factor pendukung.
Penelitian-penelitian dibidang bedah juga menunjukkan banyaknya masalah komunikasi
pada periode perioperatif. Penelitian observational terhadap 48 kasus bedah yang dilakukan
Lingard et.al., berhasil mengidentifikasi 421 masalah komunikasi, dan hamper sepertiganya
diklasifikasikan sebagai “failures”.Observasi terhadap 10 tindakan operasi yang dilakukan
oleh Christian et.al., juga menunjukkan adanya kesalahan komunikasi di kesepuluh operasi
yang diobservasi.

Prosedur dalam melaksanakan komunikasi efektif kepada pasienya itu


menggunakan data SBAR, komunikasi SBAR adalah kerangka teknik komunikasi yang
disediakan untuk petugas kesehatan dalam menyampaikan kondisi pasien serta merupakan
komunikasi terstruktur untuk mengkomunikasikan informasi penting yang membutuhkan
perhatian segera. Komunikasi SBAR ini juga merupakan komunikasi serah terima shift.
Prosedur komunikasi efektif SBAR yaitu sebagai berikut:

1. Situation (S)

Kondisi terkini yang terjadi pada pasien

No Komponen Komunikasi
1 Perawat menyebutkan nama dan umur pasien

14
2 Perawat menyebutkan tanggal pasien masuk ruangan dan hari perawatannya
3 Perawat menyebutkan nama dokter yang menangani pasien
4 Perawat menyebutkan diagnose medis pasien/masalah kesehatan yang dialami pasien
(penyakit)
5 Perawat menyebutkan masalah keperawatan pasien yang sudah dan belum teratasi

2. Background (B)

Info penting yang berhubungan dengan kondisi pasien terkini

No Komponen Komunikasi
1 Perawat menjalankan intervensi/tindakan dari setiap masalah keperawatan pasien
2 Perawat menyebutkan riwayat alergi, riwayat pembedahan
3 Perawat menyebutkan pemasangan alat invasive (infus, dan alat bantu lain seperti
kateter dll) serta pemberian obat dan cairan infus.
4 Perawat menjelaskan dan mengidentifikasi pengetahuan pasien terhadap diagnose
medis/penyakit yang dialami pasien

3. Assessment (A)

Hasil pengkajian dari kondisi pasien terkini

No Komponen Komunikasi
1 Perawat menjelaskan hasil pengkajian pasien terkini
2 Perawat menjelaskan kondisi klinik lain yang mendukung seperti hasil lab. Rontgen
dll

4. Recommendation (R)

Memberikan rekomendasi serta penjelasan kepada pasien tentang tindakan yang sudan atau
belum dilaksanakan

No Komponen Komunikasi
1 Perawat menjelaskan intervensi/tindakan yang sudah teratasi dan belum teratasi serta
tindakan yang harus dihentikan, dilanjutkan, atau dimodifikasi

15
Selain prosedur berkomunikasi yang efektif, terdapat beberapa aspek yang harus
dibangun oleh perawat seperti :
a) Kejelasan
Kejelasan dimana dalam komunikasi harus menggunakan bahasa yang jelas sehingga
mudah diterima dan dipahami oleh komunikan.
b) Ketepatan
Dimana menyangkut penggunana bahasa yang benar dan tepat dan sesuai dengan
informasi yang disampaikan dan tepat dimana komunikasi itu terjadi.
c) Faktor Alur
Bahasa dan informasi yang disajikan harus disusun dengan alur atau sistematika yang
benar dan jelas, sehingga pihak yang menerima informasi cepat tanggap.
d) Aspek Budaya
Aspek ini tidak hanya berkaitan dengan bahasa dan informasi saja, tetapi juga berkaitan
dengan tata karma dan etika dimana perawat harus bias menyesuaikan dengan budaya
orang yang diajak berkomunikasi, baik dalam bahasa verbal maupun non verbal agar
tidak menimbulkan kesalahan persepsi.

2.8 Prosedur Hand-off Communication (Serah Terima Informasi Pasien)


Serah terima terjadi kapanpun pada saat ada pengalihan tanggung jawab pasien dari
satu tenaga kesehatan ke tenaga kesehatan lain terutama perawat.
Tujuan dari hand-off communication adalah untuk menyediakan informasi secara
akurat tepat waktu tentang rencana keperawatan, pengobatan, kondisi terkini, dan
perubahan kondisi pasien yang baru saja terjadi ataupun yang dapat diprediksi
selanjutnya.
Prosedur hand-off communication mengacu pada kerangka SBAR , yaitu :
a) Situation, kondisi terkini yang terjadi pada pasien
b) Background, Informasi penting apa yang yang berhubungan dengan kondisi
pasien terkini
c) Assessment, hasil pengkajian kondisi pasien terkini
d) Recommendation, apa yang perlu dilakukan untuk mengatasi masalah pasien saat
ini.

16
Format pendokumentasian model SBAR untuk serah terima antar shift dapat sebagai
berikut:

S (Situation)  Diagnosa medis


 Masalah keperawatan
B (Background)  Sign and symptom dari masing-masing masalah keperawatan :
data subjektif dan data objektif
A (Assessment)  Analisa dari data-datra yang ada di Background sesuai masalah
keperawatan
 Mengacu kepada tujuan dan kriteria hasil masing-masing
diagnose keperawatan
R (Recommendation)  Intervensi mandiri/kolaborasi yang prioritas dikerjakan
 Hal-hal khusus yang harus menjadi perhatian

Contoh untuk penulisan SBAR hand-off pasien sebagai berikut :

S (Situation)  Anak post operasi hari 1 dengan Craniotomo removal e.c


Astrocitoma post pemasanagan Vp Shunt
 Masalah keperawatan :
- Gangguan perfusi jaringan cerebral
- Tidak efektifnya bersihan jalan nafas
- Resiko infeksi
- Resiko gangguan keseimbangan cairan : kurang
B (Background) Ibu pasien mengatakan anak cenderung tidur, ubun-ubun tampak
cekung, reflex menghisap kurang, tidak ada muntah. Breast feeding
hanya 20 ml. feeding susu 8x50ml. GCS; E 3 M 5 V menangis,
pupil 2/2 reaksi positif, suhu 37,3oC, RR 24x/menit, ronchi dikedua
lapang paru, HR 144X/menit. BAB tidak ada, hasil PA belum ada.
Sedang terpasang D5i/4 NaCl/12 jam. Berat badan 5,8kg.
A (Assessment) Perfusi jaringan serebral belum adekuat pasien masih cenderung
tidur. Tidak anda tanda-tanda peningkatan TIK, slem masih
banyak, batuk tidak efektif, tanda-tanda infeksi tidak ditemukan.
R (Recommendation) - Monitor status neurologi dan tanda-tanda peningkatan TIK

17
- Gunakan tehnik anti septic dalam merawat luka
- Observasi balance cairan
- Kaji dan monitor status pernafasan
- Follow up dan diskusi hasil PA

2.9 Kesalahan yang sering terjadi dalam identifikasi dan komunikasi

Beberapa kesalahan – kesalahan dalam identifikasi pasien dan komunikasi:


a). Kesalahan pada administrasi
1. Salah memberikan label
2. Kesalahan mengisi formulir
3. Kesalahan memasukkan nomor/angka pada rekam medis
4. Penulisan alamat yang salam
5. Pencatatan yang tidak benar/tidak lengkap/tidak terbaca
b). Kegagalan verifikasi
1. Tidak adekuatnya/tidak ada protokol verifikasi
2. Tidak mematuhi protokol verifikasi
c). Kesulitan komunikasi
1. Hambatan akibat penyakit pasien, kondisi kejiwaan pasien, atau keterbatasan
bahasa
2. Kegagalan untuk pembacaan kembali
3. Kurangnya kultur/budaya organisasi.

18
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Adverse Event merupakan suatu kejadian yang mengakibatkan kejadian yang tidak
diharapkan pada pasien karena suatu tindakan (commission) atau tidak mengambil
tindakan yang seharusnya diambil (omission), dan bukan karena “underlying disease” atau
kondisi pasien. Identifikasi pasien dan pencocokan pasien dilakukan agar tidak terjadi
kesalahan identifikasi pasien, seperti medication errors, kesalahan pemberian obat, salah
dalam transfusi darah, pemberian prosedur pengobatan pada orang yang salah, bahkan juga
bisa menyebabkan penyerahan bayi pada keluarga yang salah, ketepatan identifikasi pasien
merupakan salah satu sasaran keselamatan pasien dalam akreditasi rumah sakit.
Sedangkan . komuniasi efektif yaitu komunikasi yang mampu menghasilkan perubahan
sikap (attitude change) pada orang lain yang bisa terlihat dalam proses komunikasi.
Permasalahan komunikasi merupakan penyebab utama sekitar ⅔ dari semua kejadian
sentinel.

3.2 Saran

Untuk menghindari terjadinya kejadian yang tidak diharapkan kita harus


melakukan identifikasi pasien agar tidak terjadi medication errors, dan juga melakukan
komunikasi efektif kepada pasien dan keluarga guna memberitahu kemungkinan yang
terjadi pada pasien, administrasi rumah sakit, dan lain sebagainya, dengan tujuan keluarga
dan pasien tidak mengalami syok dengan keadaan yang terjadi pada pasien setelah
mendapatkan perawatan di rumah sakit.

19
DAFTAR PUSTAKA

JCI, March 2006. Journal on Quality and Patient Safety Vol.32. JACHO

Sari, D. 2015. Potret Pelaksanaan Patient Safety Mahasiswa Profesi Ners. Jurnal
keperawatan dan Pemikiran Ilmiah. ISSN 2476-8987. Semarang

Pasaribu, Ade TrianiUtami. 2017. “Gambaran Pelaksanaan Ketepatan Identifikasi


Pasien Oleh Perawat di Instalasi Rawat Inap Kelas III RSUD Pasar Minggu Tahun 2017”
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. UIN Syarif Hidayatullah:Jakarta

Agus, Misroh, Suharmanto. (2015) IdentifikasiKomunikasiEfektif SBAR (Situation,


Background, Assessment, Recommendation) di RSUD Kota Mataram. STIKES YarsiMataram

The Joint Commission. Sentinel events statistics. 2008 10 October 2009];


Available from: http://www.jointcommission.org/SentinelEvents/Statistics/

JCI.2007.Communication during patient hand-over.Patient Safety Solution.

https://www.pikhospital.co.id/info/70/teknik-identifikasi

https://dokumen.tips/documents/identifikasi-pasien-5665befecd3c1.html

http://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/9000/6.%20BAB%20II.pdf?sequenc
e=6&isAllowed=y

http://binfar.depkes.go.id/bmsimages/1373252949.pptx

http://gamel.fk.ugm.ac.id/mod/resource/view.php?id=16238
http://repository.uinjkt.ac.id

http://apps.who.int

https://www.pikhospital.co.id/info/70/teknik-identifikasi

http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/37396/1/ADE%20TRIANI%20UT
AMI%20PASARIBU-FIKIK.pdf

20