Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

FARMAKOTERAPI II
“DEPRESI”

DISUSUN OLEH :

1. ISTI RAHMATIKA HALID G70117101


2. SRI MUSTIKA G70117127
3. WIDYA D PRATIWI G70117022

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS TADULAKO

PALU

2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat serta karunia-Nya
lah penyusun dapat menyelesaikan tugas membuat makalah mengenai Depresi ini tepat pada waktu
yang telah ditentukan. Yang mana tugas ini adalah tugas yang diberikan oleh dosen pengampuh
mata kuliah Farmakoterapi II kepada saya sebagai Penulis. Tidak lupa pula penulis mengucapkan
terima kasih sehingga Penulis dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik.
Makalah ini disusun agar Pembaca serta Penulis sendiri dapat memperluas pengetahuan dan
pemahaman mengenai Depresi. Pengetahuan itu dapat berupa mengenai apa itu depresi?, apa saja
penyebab depresi?, bagaimana cara penanggulangan depresi?, serta hal-hal penting lainnya yang
menyangkut dan yang menunjang peningkatan pemahaman kita mengenai Depresi dengan lebih
baik.

Penulis juga berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, maupun dapat
pula digunakan sebagai bahan belajar dan sebagai prasarana penunjang tercapainya pemahaman
yang baik mengenai depresi itu sendiri. Penulis juga menyadari bahwa makalah ini masih banyak
memiliki kekurangan. Oleh sebab itu, Penulis sangat mengharapkan adanya kritik serta saran
positif yang membangun, agar makalah ini menjadi lebih baik dan berdaya guna dimasa yang akan
datang.

Palu, 1 Februari 2020

Penulis
DAFTAR ISI

Daftar Isi

Kata Pengantar ..................................................................................................................

Daftar Isi ...........................................................................................................................

BAB I Pendahuluan ..........................................................................................................

Latar Belakang ..................................................................................................................

Tujuan ...............................................................................................................................

BAB II Pembahasan .........................................................................................................

Definisi Depresi ................................................................................................................

Epidemiologi Depresi .......................................................................................................

Etiologi Depresi.................................................................................................................

Patofisiologi dan Patogenesi Depresi.................................................................................

Faktor risiko Depresi .........................................................................................................

Klasifikasi Depresi ............................................................................................................

Tanda/gejala dan diagnosa Depresi ...................................................................................

Prognosis-Monitoring Depresi............................................................................................

Tatalaksana terapi depresi……………………………………………………..………….

-Terapi farmakologi (algoritma terapi)……………………………………….………….

-Terapi non farmakologi…………………………………………………………………

BAB III Penutup ..............................................................................................................................

Kesimpulan ........................................................................................................................

Saran ..................................................................................................................................

Daftar Pustaka……………………………………………………………………………
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa banyak masalah kesehatan mental
yang muncul pada akhir masa kanak-kanak dan awal remaja. Studi terbaru menunjukkan bahwa
masalah kesehatan mental, khususnya depresi, merupakan penyebab terbesar dari beban
penyakit di antara individu pada usia awal (WHO, 2016). Depresi pada remaja bukan sekedar
perasaan stres ataupun sedih sebagaimana hal yang datang dan pergi begitu saja, melainkan
merupakan sebuah kondisi yang serius yang dapat memengaruhi perilaku, emosi, dan cara
berpikir para remaja tersebut, serta sifatnya yang permanen yang membutuhkan penanganan
serius dari berbagai pihak untuk mengatasinya. Berawal dari kondisi stres itulah yang jika tidak
segera teratasi dapat masuk ke fase depresi. Depresi adalah gangguan mental yang umumnya
ditandai dengan perasaan depresi, kehilangan minat atau kesenangan, penurunan energi,
perasaan bersalah atau rendah diri, sulit tidur atau nafsu makan berkurang, perasaan kelelahan
dan kurang konsentrasi. Kondisi tersebut dapat menjadi kronis dan berulang, dan secara
substansial dapat mengganggu kemampuan individu dalam menjalankan tanggung jawab
seharihari. Di tingkat yang paling parah, depresi dapat menyebabkan bunuh diri (Ktut
Dianovinina,2018).
B. Tujuan
1. Mengetahui definisi depresi
2. Mengetahui epidemiologi depresi
3. Mengetahui etiologi depresi
4. Mengetahui patofisiologi dan patogenesis depresi
5. Mengetahui faktor risiko depresi
6. Mengetahui klasifikasi depresi
7. Mengetahui tanda/gejala dan diagnosa depresi
8. Mengetahui prognosis-monitoring depresi
9. Mengetahui tatalaksana terapi depresi
-Terapi farmakologi (algoritma terapi)
-Terapi non farmakologi
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Depresi
Depresi merupakan salah satu masalah kesehatan yang serius di masyarakat. Menurut
World Health Organization (WHO), depresi merupakan suatu gangguan mental umum yang
ditandai dengan suasana hati yang tertekan, kehilangan kesenangan atau minat,merasa kurang
energi, perasaan bersalah atau rendah diri, gangguan makan atau tidur, dan konsentrasi yang
rendah. Pada tahun 2015, lebih dari 300 juta orang diperkirakan menderita depresi atau setara
dengan 4,4% populasi dunia. Depresi dapat terjadi pada siapa saja(Ayu Utami, dkk, 2018).

B. Epidemiologi Depresi
Depresi adalah ganguan yang umum terjadi di semua negara. Prevalensi lamanya hidup
penderita depresi sangat bervariasi antar negara. Prevalensi terjadinya depresi lebih tinggi di
negara berpenghasilan tinggi dibandingkan dengan negara berpenghasilan rendah. Usia yang
memiliki resiko terkena depresi terbanyak adalah usia awal dewasa. Jika dibandingkan wanita
dan pria, wanita di seluruh dunia menunjukkan nilai konsisten memiliki resiko depresi kira kira
dua kali dari pria. Korelasi sosio-demografi lainnya tidak menunjukkan nilai konsisten
(Ningtyas, A, R, dkk, 2018).

C. Etiologi Depresi
Faktor penyebab depresi dapat secara buatan dibagi menjadi faktor biologi, faktor
genetik, dan faktor psikososial. Dari faktor biologi, beberapa penelitian menunjukkan bahwa
terdapat kelainan pada amin biogenik, seperti: 5 HIAA (5-hidroksi-indol-asetic-acid), HVA
(homo-vanilic-acid), MPGH (5-methoxy-0-hydroksi-phenil-glikol), di dalam darah, urin dan
cairan serebrospinal pada pasien gangguan mood. Neuro-transmiter yang terkait dengan
patologi depresi adalah serotonin dan epineprin. Penurunan serotonin dapat mencetuskan
depresi, dan pada pasien bunuh diri, beberapa pasien memiliki serotonin yang rendah. Pada
terapi despiran mendukung teori bahwa norepineprin berperan dalam patofisiologi depresi.
Selain itu aktivitas dopamin pada depresi adalah menurun. Hal tersebut tampak pada
pengobatan yang menurunkan konsentrasi dopamine, seperti respirin, dan penyakit dimana
konsentrasi dopamin menurun, seperti parkinson, adalah disertai gejala depresi. Obat yang
meningkatkan konsentrasi dopamin, seperti tyrosin, amphetamine, dan bupropion, menurunkan
gejala depresi (Haryanto, dkk, 2015).

D. Patofisiologi dan Patogenesis Depresi


1. Hipotesis Biogenik Amin Hipotesis ini melibatkan hasil dari beberapa penemuan yang
dilakukan pada awal tahun 1950. Ditemukan bahwa obat antihipertensi reserpine
menurunkan kadar neurotransmitter dari norefinefrin, 5-HT, dan dopamin dan
memperlihatkan gejala klinis pada 15% atau lebih pasien. Lalu ditemukan bahwa
halusinogen asam lisergik dietilamin menghalangi reseptor periferal dari serotonin, dan efek
halusinogen dari asam lisergik dietilamin memiliki efek yang serupa pada sistem saraf pusat
(SSP) reseptor serotonin.
2. Teori perubahan postsinaptik pada sensitivitas reseptor Teori ini menjelaskan beberapa studi
tentang antidepresan yang menyebabkan terjadinya desensitisasi atau perubahan dari
norefinefrin atau reseptor 5HT1A yang berhubungan dengan efek antidepresan.
3. Hipotesis disregulasi Dalam teori ini terjadi kegagalan regulasi homeostatik dari sistem
neurotransmitter daripada peningkatan atau penurunan absolut. Menurut hipotesis ini, agen
antidepresan yang efektif adalah agen antidepresan yang dapat mengembalikan regulasi
sistem neurotransmitter.
4. Hipotesis 5-HT/Norefinefrin Teori ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara 5-HT
dan aktivitas norefinefrin, dan kedua sistem serotonergik dan noradrenergik terlibat dalam
respon antidepresan.
5. Peran dopamin Beberapa penelitian menunjukkan bahwa peningkatan neurotransmisi
dopamin pada jalur mesolimbik terkait dengan mekanisme kerja antidepresan (Ningtyas, A,
R, dkk, 2018).

E. Faktor Risiko Depresi


Depresi disebabkan oleh beberapa faktor, baik faktor genetik, biologi, lingkungan, dan
faktor psikologis. Para peneliti terdahulu menemukan bahwa depresi melankolis, gangguan
bipolar, dan depresi postpartum, berkaitan dengan peningkatan kadar sitoksin yang
berkombinasi dengan penurunan sensitivitas kortisol, Sedangkan penelitian lainnya
menemukan bahwa depresi tidak hanya dikarenakan oleh terlalu sedikit atau banyaknya bahan
kimia tertentu di otak. Banyak kemungkinan penyebab dari depresi termasuk terganggunya
fungsi otak terkait dengan regulasi suasana hati, kerentanan genetik, peristiwa kehidupan yang
penuh stres, obat-obatan, dan adanya indikasi medis. Diyakini bahwa interaksi faktorfaktor
inilah yang menyebabkan terjadinya depresi. Peristiwa hidup yang negatif, yang salah satunya
berupa pengalaman di-bully juga diduga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan
terjadinya depresi. Berdasarkan penelitian Uba, Yaacob, dan Juhari (2010), terdapat korelasi
yang signifikan antara bullying dan depresi pada remaja. Selain itu, juga ditemukan dari 75
laporan yang berasal dari 49 penelitian yang dilakukan secara longitudinal juga menunjukkan
adanya asosiasi antara perilaku bullying yang dialami korban dengan depresi di kemudian hari.
Selain beberapa faktor di atas, tampaknya kondisi keluarga juga dapat menjadi salah satu faktor
risikonya. faktor risiko yang berkaitan dengan berkembangnya depresi antara lain
perceraian/perpisahan orangtua, memiliki orangtua tunggal, finansial orangtua, memiliki
masalah dengan teman sekolah, dan tidak puas dengan kondisi keluarga. Penelitian lainnya juga
menunjukkan bahwa berdasarkan hasil analisis multivariabel diperoleh bahwa kekerasan yang
terjadi di dalam keluarga, komposisi keluarga, masalah-masalah yang terjadi pada saat remaja,
dan rendahnya kohesivitas keluarga menjadi faktor yang dominan terjadinya depresi (Ktut
Dianovinina, 2018).

F. Klasifikasi Depresi
Terdapat beberapa jenis depresi yaitu,
a. Gangguan depresi mayor
b. Gejala-gejala dari gangguan depresi mayor berupa perubahan dari nafsu makan dan
berat badan, perubahan pola tidur dan aktivitas, kekurangan energi, perasaan
bersalah, dan pikiran untuk bunuh diri yang berlangsung setidaknya kurang lebih 2
minggu (Kaplan, et al, 2010)
c. Gangguan dysthymic
Dysthymia bersifat ringan tetapi kronis. Gejala-gejala dysthymia berlangsung lama
daripada MDD yaitu selama 2 tahun atau lebih. Namun, pasien penderita gangguan
ini masih bisa berinteraksi dengan aktivitas sehari-harinya (National Institute
Mental Health, 2010)
d. Gangguan depresi minor
Gejalanya mirip dengan 2 jenis depresi sebelumnya, namun bersifat lebih ringan
atau berlangsung lebih singkat (National Institute Mental Health, 2010)
e. Gangguan depresi psikotik
Gangguan depresi berat yang ditandai dengan gejala seperti halusinasi dan delusi
(National Institute Mental Health, 2010)
f. Gangguan depresi musiman
Gangguan depresi yang muncul pada saat musim dingin dan hilang pada musim
semi dan musim panas (National Institute Mental Health, 2010)
g. Gangguan depresi postpartum
Perasaan kesedihan yang ekstrem, kecemasan, dan kelelahan setelah melahirkan
yang membuat terganggunya aktivitas sehari-harinya dalam merawat dirinya
sendiri atau/dan bayinya juga (National Institute Mental Health, 2010)
h. Atipikal depresi (Medscape, 2020)
a. Bertambahnya nafsu makan dan berat badan
b. Bertambahnya waktu tidur
c. Pola sensitivitas penolakan interpersonal yang telah lama berlangsung yang
melampaui episode gangguan suasana hati dan menghasilkan penurunan
signifikan dalam fungsi sosial atau pekerjaan
d. Perasaan berat di tangan atau kepekaan berlebihan pada kaki yang bisa
mempengaruhi mood dan mengganggu aktivitas.

G. Tanda/gejala dan diagnosa Depresi


 Tanda/gejala
Perubahan mood atau disforia adalah salah satu gejala yang dapat digunakan untuk
mendiagnosis depresi. Sebagai tambahan, terdapat beberapa gejala dari depresi, termasuk
kehilangan minat terhadap suatu aktivitas, perubahan tidur dan nafsu makan, merasa
bersalah, putus asa, lelah, permasalahan konsentrasi, dan keinginan bunuh diri, retardasi
fisikomortor, dan agitasi. Namun, gejala depresi tiap pasien bisa berbeda beda antara satu
pasien dengan yang lain. Contohnya, beberapa pasien merasakan gejala vegetatif dari depresi
(penurunan nafusi makan dan insomnia), terdapat juga beberapa pasien yang mengalami
kebalikan dari gejala vegatatif ini (peningkatan nafsu makan dan hypersomnia) (Ningtyas,
A, R, dkk, 2018).
Seseorang dikatakan depresi jika setidaknya selama dua minggu mengalami minimal
lima dari sembilan kriteria berikut, yaitu :
1. Adanya perasaan depresi yang muncul di sebagian besar waktu, bahkan hampir setiap
hari
2. Adanya penurunan minat dan kesenangan di hampir sebagian besar kegiatan dan hampir
setiap hari
3. Adanya perubahan berat badan atau nafsu makan yang signifikan
4. Adanya perubahan tidur: menjadi insomnia atau hypersomnia
5. Adanya perubahan aktivitas
6. Merasa kelelahan dan kehilangan energi
7. Munculnya perasaan bersalah atau tidak berharga yang berlebihan dan sebenarnya tidak
pantas muncul
8. Mengalami penurunan konsentrasi
9. Memiliki pikiran berulang tentang kematian (tidak hanya takut mati), adanya keinginan
bunuh diri berulang tanpa rencana spesifik, usaha bunuh diri, atau rencana spesifik untuk
melakukan bunuh diri.

Gejala depresi ini muncul dalam berbagai perilaku, ada yang menunjukkan tidak
bersemangat ketika di sekolah, tidak mau berinteraksi dengan teman-teman sebaya,
menangis tanpa sebab, ataupun menjadi sangat sensitif dan mudah marah. Berdasarkan
penelitian Dopheide (2006) diketahui bahwa beberapa gejala yang dimuculkan adalah
adanya mood depresi atau anhedonia, banyaknya keluhan somatik, atau perubahan perilaku
seperti bullying, agresi, atau menarik diri dari lingkungan sosialnya. Oleh karena perilaku
yang ditunjukkan tidak memiliki kekhasan tertentu, seringkali gejala depresi ini tidak
terdeteksi oleh orang-orang di sekitar remaja. Orangtua, keluarga, ataupun teman seringkali
tidak peka terhadap perubahan yang ditunjukkan oleh remaja yang mengalami depresi (Ktut
Dianovinina, 2018).
 Diagnosa Depresi
Kriteria untuk diagnosa episode depresi menurut ICD-10 dan DSM-IV hampir sama
namun memilik beberapa perbedaan. Menurut ICD-10, pasien harus mempunyai dua dari
tiga gejala awal (suasana hati yang tertekan, kehilangan minat dalam kegiatan sehari – hari
dan penurunan energi) ditambah dengan setidaknya dua dari tujuh gejala yang lain.
Sedangkan menurut DSM-IV, pasien harus mempunyai lima atau lebih gejala dari sembilan
gejala yang ada dengan satu dari dua gejala utama (suasana hati yang tertekan dan kehilangan
minat). Kriteria gejala yang muncul menurut ICD-10 dan DSM-IV harus mengakibatkan
gangguan fungsional yang meningkat seiring dengan peningkatan keparahan episode
depresi.
Selain gejala, terdapat alat bantuan yang dapat digunakan untuk mendiagnosis
depresi yaitu kuisoner PHQ-9 (Patient Health Questionnaire). PHQ-9 adalah kuisoner yang
diisi sendiri oleh pasien yang terdiri dari 9 pertanyaan seputar gejala depresi. Batas minimal
skor untuk deteksi depresi dapat berbeda tiap negara. Skor 0-4 tidak depresi, skor 5-9 depresi
ringan, skor 10-14 depresi sedang, skor15-19 depresi sedang menuju berat, skor 20-27
depresi berat. Kuisoner ini telah digunakan diberbagai negara dan terbukti efektif untuk
diagnosis depresi. Namun skor minimal ≥ 11 untuk deteksi depresi di Jepang (Ningtyas, A,
R, dkk, 2018).

H. Prognosis-Monitoring Depresi
I. Tatalaksana Terapi Depresi
 Terapi farmakologi (algoritma terapi)
Pengobatan depresi biasanya menggunakan obat antidepresan. Pembagian obat
antidepresan dibedakan berdasarkan mekanisme kerjanya yaitu :
1. Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRI)
Mekanisme kerja dari SSRI adalah menghambat pengambilan 5-HT ke dalam neuron
presinaptik. Sering digunakan sebagai lini pertama karena efek samping yang cenderung
aman. Obat jenis ini memiliki afinitas tinggi terhadap reseptor monoamine tetapi tidak
memiliki afinitas terhadap adrenoreseptor α, histamin, muskarinik atau asetilkolin yang
terdapat juga pada obat antidepresan trisiklik obat yang termasuk ke dalam golongan
SSRI adalah citalopram, fluvoxamine, paroxetine, fluoxetine, sertraline Efek samping
dari SSRI adalah sakit kepala, insomnia, kelelahan, kecemasan, disfungsi seksual,
peningkatan berat badan Penelitian terbaru menyebutkan terdapat obat golongan SSRI
yaitu vortioxetine yang dapat ditoleransi dengan baik dan prevalensi efek samping kecil.
Vortioxetine dapat meningkatkan kualitas hidup pasien yang menderita depresi dengan
signifikan (Ningtyas, A, R, dkk, 2018).

2. Serotonine Norepinephrine Reuptake Inhibitor (SNRI)


SNRI bekerja dengan melakukan pengangkutan serotonin dan norepinedrin.
Pengangkutan norepinefrin secara struktur mirip dengan pengangkutan serotonin.
Pengangkutan norepinefrin memiliki afinitas ringan terhadap dopamine. Afinitas
sebagaian besar SNRI cenderung lebih besar untuk pengangkut serotonin daripada
norepinedrin. Beberapa contoh obat yang termasuk ke dalam golongan SNRI adalah
venlafaxine, duloxetine, desvenlafaxine, milnacipran, levomilnacipran (Ningtyas, A, R,
dkk, 2018).

3. Monoamine Oxidase Inhibitors (MAOIs)


Bekerja dengan mekanisme meningkatkan konsentrasi norepinefrin, 5-HT, dan dopamine
dalam neuron sinaps melalui penghambatan sistem enzim monoamine oxidase (MAO).
Monoamin oksidase dalam tubuh memiliki fungsi deaminasi oksidatif katekolamin di
mitokondria. Proses ini dihambat oleh MAOI karena terbentuknya suatu kompleks antara
MAOI dan MAO sehingga mengakibatkan peningkatan kadar epinefrin, norepinefrin, dan
serotonin. MAOI tidak hanya menghambat MAO, tetapi menghambat juga enzim
lainyang mengakibatkan terganggunya metabolisme obat di hati. Penggunaan obat
golongan MAOI sudah sangat jarang dikarenakan efek toksik. Efek samping yang sering
terjadi adalah hipotensi dan hipertensi. Contoh obat MAOI adalah
isocarboxazid,phenelzine, tranylcypromine, selegiline (Ningtyas, A, R, dkk, 2018).

4. Trisiklik (TCA)
Obat golongan trisiklik efektif untuk penyakit depresi, tetapi penggunaanya telah
berkurang karena telah tersedia obat yang mempunyai efektivitas terapi yang sama tetapi
mempunyai dosis yang lebih aman dan lebih toleransi. Mekanisme obat golongan trisklik
ini bekerja adalah dengan mennghambat ambilan dari norephinefrin dan 5-HT,
menghambat adrenergik, kolinergik, dan reseptor histaminergik (Ningtyas, A, R, dkk,
2018).

5. Terapi Elektrokonvulsif (ECT)


Elektrokonvulsif adalah salah satu pengobatan yang efektif untuk mengobati depresi
mayor. Pengobatan ini efektif karena repson relative tinggi dibandingkan dengan
pengobatan menggunakan antidepresan. Walaupun memiliki efikasi yang tinggi,
kambuh depresi juga tinggi. Untuk melindungi dari kambuhnya depresi, terdapat 2
strategi yaitu augmentasi ECT dengan farmakoterapi pada saat fase akut, atau
melanjutkan terapi dengan salah satu dari terapi
 Terapi Non Farmakologi
 Psikoterapi mungkin merupakan terapi lini pertama untuk episode depresi mayor ringan
hingga sedang. Kemanjuran psikoterapi dan antidepresan dianggap aditif. Psikoterapi
saja tidak dianjurkan untuk pengobatan akut gangguan depresi berat yang parah dan /
atau psikotik. Untuk gangguan depresi mayor nonkronik tanpa komplikasi, pengobatan
kombinasi mungkin tidak memberikan keuntungan unik. Terapi kognitif, terapi
perilaku, dan psikoterapi interpersonal tampaknya memiliki kemanjuran yang sama.
 Terapi electroconvulsive (ECT) adalah pengobatan yang aman dan efektif untuk
gangguan depresi mayor. Dipertimbangkan ketika diperlukan respons cepat, risiko
perawatan lain lebih besar daripada manfaat potensial, ada riwayat respons buruk
terhadap obat, dan pasien lebih memilih ECT. Respons terapeutik yang cepat (10-14
hari) telah dilaporkan.
 Stimulasi magnetik transkranial berulang telah menunjukkan kemanjuran dan tidak
memerlukan anestesi seperti halnya ECT.
BAB III

PENUTUP
III.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pemaparan makalah ini tentang Deprsi ini maka dapat
disimpulkan bahwa :
1. Depresi merupakan salah satu masalah kesehatan yang serius di masyarakat. Menurut
World Health Organization (WHO), depresi merupakan suatu gangguan mental
umum yang ditandai dengan suasana hati yang tertekan, kehilangan kesenangan atau
minat,merasa kurang energi, perasaan bersalah atau rendah diri, gangguan makan
atau tidur, dan konsentrasi yang rendah.
2. Epidemiologi depresi adalah ganguan yang umum terjadi di semua negara. Prevalensi
lamanya hidup penderita depresi sangat bervariasi antar negara. Prevalensi terjadinya
depresi lebih tinggi di negara berpenghasilan tinggi dibandingkan dengan negara
berpenghasilan rendah.
3. Faktor resiko dan etiologi dari depresi yaitu factor genetic dan stressor.
4. Phatofisiologi dan phatogenesis dari depresi yaitu Hipotesis amina biogenik:
Penurunan kadar neurotransmiter otak norepinefrin, serotonin (5-HT), dan dopamin
otak dapat menyebabkan depresi.
5. Beberapa klasifikasi depresi yaitu depresi mayot, dysthymic, depresi minor, depresi
psikotik, depresi musiman, depresi postoartum dan atipikal depresi.
6. Gejala/tanda dari depresi gejala fisik, psikis dan sosial.
7. Secara teratur memonitor tekanan darah pasien yang diberi venlafaxine. Memesan
EKG pretreatment sebelum memulai terapi TCA pada pasien di atas 40 tahun, dan
melakukan EKG tindak lanjut secara berkala.
8. Tatalaksanya dengan terapi farmakologi dan terapi non farmakologi

III.2 Saran

Makalah ini masih banyak terdapat kekurangan,.Oleh sebab itu penulis berharap
agar pembaca dapat memakluminya.
DAFTAR PUSTAKA

APA, 2013. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th edition. Washington DC:
American Psychiatric Association. pp: 160-161.

DiPiro, J.T., et al.2012. Pharmacotherapy Handbook Ninth Edition. New York: Mc Graw Hill.

Friedman, Edward S.; Anderson, Ian M, 2014. Handbook of Depression, second Edition.

Kartawiria, R.2013. Raih 5 Mukjizat. Jakarta: Noura Books.

Kaplan, H.I., dkk.2010. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis Jilid Satu,
Editor Dr. I Made Wiguna S. Jakarta: Bina Rupa Aksara

Lubis, N.L.2016. DEPRESI TINJAUAN PSIKOLOGIS. Jakarta: KENCANA

Muhith, A.2015. PENDIDIKAN KEPERAWATAN JIWA. Yogyakarta: ANDI

Medscape.2020. Depression. diakses pada tanggal 01/02/2020.

Marwick,K; Birrel,M., 2013. The Mood (Affective) Disorders in Crash Course Psychiatry, 4th
Edition. Edinburgh: Elsevier Ltd. Pp:133-137

National Institute Mental Health.2010. Depression. Diakses pada tanggal 02/02/2020

Stahl, Stephen M.; Muntner, Nancy, 2013. Mood Disorders in Stahl‘s Essential
Psychopharmacology, Neuroscientific Basis and Practical Application, 4th edition. New
York : Cambridge University Press. Pp:237-282

Sadock, Benjamin J.; Sadock, Virginia A.; et al, 2017. Mood Disorders in Comprehensive
Textbook of Psychiatry, Volume I/II, 10th edition. Philadelphia : Wolters Kluwer. pp: 4099-
4403