Anda di halaman 1dari 8

Rangkaian proses pembuatan blok preparat jaringan terdiri atas :

1. Fiksasi (Fixation)
2. Dehidrasi (Dehydration)
3. Pembeningan (Clearing)
4. Pembenaman (Impregnasi/Embedding)
5. Pengecoran (Blocking)
6. Pemotongan jaringan (Cutting)
7. Pewarnaan (Staining)
8. Perekatan (Mounting)
9. Pelabelan (Labelling)

A. ISOLASI / PENGAMBILAN JARINGAN TUBUH


Cara Pengambilan Jaringan Tubuh:
1. Pemeriksaan Jaringan
Sebelum di lakukan pembuatan blok preparat dilakukan pencocokan identitas. Identitas
pasien harus sesuai dengan sampel.
2. Pemotongan Jaringan
Jaringan yang akan diperiksa harus diambil dari bagian yang representatif (mewakili)
seluruh, yang paling abnormal. Apabila jaringan besar dipotong dengan pemotongan
‘gross’ tebalnya 0,4 cm lalu dimasukan ke dalam ‘cassette’

3. Cairan Fiksasi
Cairan yang sering digunakan adalah Formalin Buffer 10% dengan perbandingan (1:10)
Jaringan harus direndam dengan cairan fiksasi volume 10 kali, hal ini bertujuan agar
seluruh permukaan jaringan meresap dengan sempurna. Karena pada tahap ini akan
mempengaruhi pada tahapan selanjutnya.

B. PEMBUATAN SEDIAAN JARINGAN


1. Fiksasi
Jaringan yang telah dimasukan ke dalam cassete selanjutnya di fiksasi selama 24 jam
dengan menggunakan alat Tissue Automatic Prossesor.
Tujuan dari fiksasi adalah untuk :
a. Mengawetkan jaringan
Fiksasi bertujuan untuk mempertahankan susunan jaringan agar mendekati kondisi
seperti sewaktu hidup.
b. Mengeraskan jaringan
Fiksasi bertujuan untuk mengeraskan jaringan terutama jaringan lunak agar
memudahkan pembuatan irisan tipis.
c. Mempertahankan morfologi jaringan agar sama dengan tubuh.
2. Dehidrasi
Proses ini bertujuan untuk mengeluarkan seluruh cairan yang terdapat dalam jaringan
yang telah difiksasi sehingga jaringan nantinya dapat diisi dengan parafin atau zat
lainnya yang dipakai untuk membuat blok preparat.
Cara melakukan dehidrasi :
Proses dehidrasi dijalankan secara perlahan-lahan menggunakan alkohol bertingkat,
dimulai dengan alkohol presentase rendah sampai dengan alkohol absolute. Dimulai
dengan alkohol 30 %, kemudian 50 %, 70 %, 80 %, 95 %, alkohol absolute. Waktu
yang dipergunakan untuk setiap tingkat alkohol tergantung dari besar kecilnya jaringan.
Alkohol absolute mempunyai kemampuan memperkeras jaringan. Sebagai ancar-ancar
jaringan jangan ditinggalkan didalam alkohol tersebut lebih dari 1 atau 2 jam untuk
jaringan berukuran biasa ( tebal 2-4 mm)
3. Clearing (Pembeningan) dan Infiltrasi Parafin
Pembeningan adalah suatu tahap untuk mengeluarkan alkohol dari jaringan dan
menggantinya dengan suatu larutan yang dapat berikatan dengan parafin. Jaringan tidak
dapat langsung dimasukkan ke dalam parafin karena alkohol dan parafin tidak bisa
saling melarutkan.
Bahan atau reagen pembening yang paling sering dipakai adalah sebagai berikut:
a. Chloroform
b. Benzene/ benzol
c. Xylene/ xylol
d. Cedar wood oil
e. Benzil benzoat
f. Methyl benzoat
Cara melakukan Clearing:
a. Setelah jaringan dikeluarkan dari cairan dehidrasi (alkohol) jaringan dimasukkan
kedalam xylol I selama 1 jam.
b. Perhatikan jaringan akan menjadi bening
c. Untuk menyakinkan bahwa seluruih cairan alkohol telah keluar, jaringan kemudian
dipindahkanke cairan xylol II. Lama inkubasi dalam xylol tergantung pada besarnya
jaringan, tetapi biasanya berkisar antara ½ - 1 jam.
d. Jaringan kemudian direndam dalam parafin cair di dalam oven selama kira-kira ½
jam. Setelah itu jaringan siap untuk dimasukkan kedalam blok parafin.
4. Embedding (Pembenaman)
Pembenaman (impregnasi) adalah proses untuk mengeluarkan cairan pembening
(clearing agent) dari jaringan dan diganti dengan parafin. Pada tahap ini jaringan harus
benar-benar bebas dari cairan pembening karena sisa cairan pembening dapat
mengkristal dan sewaktu dipotong dengan mikrotom akan menyebabkan jaringan
menjadi mudah robek.
Cara melakukan Embedding:
Mengeluarkan jaringan yang sudah impregnasi dari moldtray, kemudian
menempelkannya ke dalam lempengan blok yang berisi parafin cair. Setelah itu tutup
menggunakan casette lalu didinginkan pada cold plate. Disebut blok preparat.
5. Cutting (Pemotongan)
Pemotongan adalah proses pemotongan blok preparat dengan menggunakan mikrotom.
Pemotongan ada 2:
a. Pemotongan kasar, berguna untuk mendapatkan penampang atau dasar jaringan
dengan ketebalan 25-30 mikron.
b. Pemotongan halus/Section, berguna untuk mendapatkan lembaran pita dengan
ketebalan 5 mikron (Standar Internasional)

Sebelum melakukan pemotongan serangakaian persiapan yang harus dilakukan adalah :


a. Persiapan pisau mikrotom
1) Pisau mikrotom harus diasah sebelum dipakai agar jaringan dapat dipotong
dengan baik dan tidak koyak sehingga didapatkan jaringan yang baik.
2) Pisau mikrotom kemudian diletakan pada tempatnya di mikrotom dengan sudut
tertentu.
3) Rekatkan blok parafin pada holder dengan menggunakan spatula atau scalpel.
Letakkan tempat duduk blok parafin beserta blok preparat pada tempatnya pada
mikrotom.
b. Persiapan Kaca Objek
Kaca objek yang akan direkatkan preparat harus telah dicoated (disalut) dengan zat
perekat seperti albumin (putih telur), gelatin atau tespa
c. Persiapan
Waterbath atau wadah berisi air hangat dengan temperatur 37-400C
d. Persiapan sengkelit atau kuas

Teknik pemotongan parafin yang mengandung preparat adalah sebagai berikut :


a. Rekatkan blok parafin yang mengandung preparat pada tempat duduknya di
mikrotom. Tempat duduk blok parafin beserta blok parafinnya kemudian diletakkan
pada pemegangnya (holder) pada mikrotom dan dikunci dengan kuat.
b. Letak pisau mikrotom pada tempatnya dan atur sudut kemiringannya. Biasanya
sudut kemiringan berkisar 20-30 derajat.
c. Atur ketebalan potongan yang diinginkan, biasanya dipakai ketebalan antara 5-7
mikrometer
d. Gerakkan blok preparat ke arah pisau sedekat mungkin dan potonglah blok preparat
secara teratur dan ritmis. Buang pita-pita parafin yang awal tanpa jaringan hingga
kita mendapatkan potongan yang mengandung preparat jaringan.
e. Pita parafin yang mengandung jaringan lalu dipindahkan secara hati-hati
menggunakan sengkelit atau kuas kedalam waterbath yang temperaturnya diatur 37-
40C dan biarkan beberapa saat hingga poita parafin tersebut mengembang.
f. Setelah pita parafin terkembang dengan baik, tempelkan pita parafin tersebut pada
kaca objek yang telah dicoated dengan cara memasukkan kaca objek itu kedalam
waterbath dan menggerakkannya ke arah pita parafin. Dengan menggunakan
sengkelit atau kuas pita parafin ditempelkan pada kaca objek. Setelah melekat kaca
objek digerakkan keluar dari waterbath dengan hati-hati agar pita parafin tidak
melipat.
g. Letakkan kaca objek yang berisi pita parafin di atas hotplate dengan temperatur 40-
45C, biarkan selama beberapa jam. Cara lainnya adalah dengan melewatkan kaca
objek di atas api sehingga pita parafin melekat erat di atas kaca objek.
h. Setelah air kering dan pita parafin telah melekat dengan kuat, simpan kaca objek
berisi potongan parafin dan jaringan sampai saatnya untuk diwarnai.
6. Steaning (Perwarnaan)
Pewarnaan ini yaitu memberikan warna yang kontras terhadap jaringan sehingga
apabila diamati dengan bantuan mikroskop bagian-bagian dari jaringan tersebut tampak
jelas. Tujuannya untuk mewarnai jaringan sehingga mudah diamati di mikroskop.
Pewarnaan Hematoksilin-Eosin (HE)
Menggunakan 2 macam zat warna yaitu:
a. Hematoksilin -memulas inti sel dan memberikan warna biru (basofilik).
b. Eosin yang merupakan counterstaining hematoksilin, memulas sitoplasma sel dan
jaringan penyambung dan memberikan warna merah muda dengan nuansa yang
berbeda.

Pewarnaan HE
Tahapan staining terdiri dari :
a. Proses deparafinasi atau penarikan parafin dari dalam jaringan.
b. Proses rehidrasi atau pemasukan molekul air ke dalam jaringan yang dilakukan
secara bertahap dengan menggunakan alkohol bertingkat dari konsentrasi tinggi ke
konsentrasi rendah. Proses ini sebagai media penghantar zat warna ke jaringan.
c. Selanjutnya proses infiltrasi zat warna. Menggunakan haematoxilin untuk mewarnai
sitoplasma dan eosin untuk mewarnai inti sel.
d. Lalu dehidrasi kembali yang bertujuan untuk mencegah kerusakan pada jaringan
karena mengakibatkan terjadinya pembusukan.
e. Setelah parafin dikeluarkan dengan menggunakan xilen selama 20 menit preparat
dikeringkan dan diolesi dengan entelan dan ditutup dengan deck glass. Kemudian
diamati di bawah mikroskop
Interpretasi hasil :
a. Inti sel bewarna biru
b. Sitoplasma bewarna kemerahan dengan adanya beberapa variasi warna pada
komponen tertentu

Perwarnaan Papanicalou
Cara fiksasi basah dengan alkohol 70 % selama 30 menit, terdapat 3 perwarnaan inti:
a. Hematosiklin, untuk mewarnai inti sel
b. OG6, untuk mewarnai sitoplasma yang selnya tua (mature) berwarna pink selama 5
menit
c. EA50, untuk mewarnai sel muda berwarna hijau.
7. Mounting (Perekatan)
Perekatan (mounting) menempelkan potongan jaringan yang baik ke obyek glass.
Proses Mounting
a. Obyek glass diberi albumin agar jar menempel dengan baik
b. Dimasukkan ke dalam water bath suhu 30 0C - lembaran pita tidak melipat
c. Bila sudah menempel dikeringkan/ diriskan (Bisa dengan hot plate)
8. Labelling
Yaitu untuk memberikan suatu tanda atau kode dengan tujuan untuk mencegah
kekeliruan terutama apabila banyak sediaan yang dikerjakan dalam label tersebut.
a. Jenis atau asal sediaan
b. Cairan fiksasi yang digunakan
c. Tanggal pembuatan
d. Pewarnaan yang digunakan
e. Nama petugas yang mengerjakan
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah tahapan pembuatan sediaan jaringan
adalah sebagai berikut:
1. Kami telah mengetahui pembuatan sediaan preparat dari tahap awal penerimaan sampel
hingga pelabelan dan siap untuk diperiksa.
2. Tahapan pembuatan preparat jaringan Tahapan dalam pembuatan sedian jaringan adalah
fiksasi, dehidrasi, pembeningan, pembenaman, pengecoran, pemotongan jaringan,
pewarnaan, perekatan (mounting), pelabelan (labelling).

DAFTAR PUSTAKA

George H. Fried, Ph.D., dkk. 2006. Biologi. Erlangga. Jakarta.


Mescher, Anthony L. 2012. Histologi Dasar. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Bahan Ajar Dosen Mata Kuliah Sitohistoteknologi. Diposkan oleh Marlita zainah.
Hasil Kunjungan Laboratorium Patologi Anatomi RSU Kab. Tangerang