Anda di halaman 1dari 24

BAB I

LAPORAN KASUS

Identitas pasien

Nama : Tn. K

Jenis kelamin : Laki- laki

Usia : 69 tahun

Agama : Islam

Satatus pernikahan : Menikah

Pekerjaan : Pensiunan Kepala Desa

Alamat : Semen, Kediri

Tanggal masuk RS : 21 Oktober 2019

Tanggal pemeriksaan : 21 Oktober 2019

Ruang perawatan : Panjalu A

Anamnesis

Keluhan utama

Nyeri wajah

Riwayat penyakit sekarang

Pasien datang ke IGD dengan nyeri wajah. Nyeri wajah sejak 2 tahun yll, nyeri

awalnya dirasakan tiba-tiba setelah beraktivitas biasa, nyeri dirasakan sangat

mengganggu 19 jam SMRS, nyeri dirasakan terutama pada bagian rahang dan pipi

kanan dan kiri, pasien juga mengeluh rahang seperti kaku mulut susah dibuka, nyeri

dirasakan terus – menerus seperti tertusuk jarum. Pasien mengatakan nyeri yang

sangat hebat dengan sekala nyeri 10, nyeri semakin berat saat terkena air, sikat gigi,

mengunyah dan mencukur kumis. Nyeri sempat mereda sedikit dengan minum obat
setelah itu kambuh lagi, kadang merasa seperti terbakar. Pasien mengeluh gusi dan

gigi juga terasa nyeri. Penglihatan pasien normal, hidung terasa tebal, flu (-), batuk

(-), bibir merot (-), pelo (-), badan dirasakan lebih lemah bagian kiri sejak 2 tahun

yang lalu, Mual (-), muntah (-), BAB dan BAK normal

Riwayat penyakit dahulu

• DM (-)

• Hipertensi (+) Rutin kontrol dan minum obat

• Riw. Penyakit jantung (-)

• Riw. Kejang (-)

• Riw. alergi (-)

• Riw. vertigo(+)

• Riw. Stroke (±) 2 tahun yang lalu

Riwayat penyakit keluarga

• DM (-)

• Hipertensi (+)

• Riw. alergi (-)

Riwayat pengobatan dan alergi

 Alergi obat (-)

PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan umum : Cukup

Vital sign TD : 150/90 mmhg

Nadi : 80x/menit

RR : 20x/menit

Suhu : 36.7oC

Kepala : Normocephal, distribusi rambut merata, tidak terdapat bekas


luka/massa

Mata : Mata simetris, sklera ikterik -/-, konjungtiva anemis-/-, reflex

cahaya +/+, pupil isokor 3mm/3mm.

Hidung : Bentuk hidung normal, tidak ada deviasi septum, ada sekret.

Mulut : Bibir dbn, lidah dbn.

Telinga : Bentuk simetris, tidak ada masa, tidak ada nyeri tekan, membran

timpani intak, tidak hiperemis.

Leher : Tidak terdapat pembesaran kelenjar tiroid, pembesaran kelenjar

getah bening (-), bruit -/-

Thoraks:

Inspeksi : simetris pada keadaan statis dan dinamis

Palpasi : fremitus tactil dan vokal simetris kanan dan

kiri Perkusi : sonor pada kedua lapang paru

Auskultasi :

Cor : bunyi jantung I/II regular, murmur (-), gallop (-)

Pulmo : suara napas vesikular, ronki(-), wheezing (-)

Abdomen :

Inpeksi : perut tidak buncit, kelainan kulit tidak ada

Palpasi : supel, hepar dan lien tidak membesar

Perkusi : timpani

Auskultasi : BU normal

Ekstremitas : Akral hangat,tidak ada deformitas, edema (-)


STATUS NEUROLOGIS

GCS : E4 V5 M6

Pupil

Kanan Kiri
Bentuk Bulat Bulat
Diameter 3 mm 3mm
Reflek cahaya langsung + +
Reflek cahaya tidak + +
langsung

Tanda rangsang meningeal

Kanan Kiri
Kaku kuduk - -
Brudzinky 1 - -
Kernig - -
Brudzinsky 2 - -

Saraf kranial

Kanan Kiri
N.I dbn dbn
N.II
Visus 1/300 1/60
Lapang pandang dbn dbn
Warna dbn dbn
Funduskopi Tidak dilakukan Tidak dilakukan
N.III
M.rectus medius dbn dbn
M.rectus superior dbn dbn
M.rectus inferior dbn dbn
M.Obliqus inferior dbn dbn
M.levator palpebra dbn dbn
M.obliqus superior dbn dbn
N.IV dbn dbn
N.VI dbn dbn
N.V
Sensorik dbn dbn

V1

Motorik Nyeri Nyeri


N.VII
V3
Sensorik dbn
Motorik dbn

N.VIII Tidak dilakukan


Vestibularis Tidak
geger dilakukan
Cochlearis
Tidak dilakukan
Rhinne

Weber
N.IX & N.X
Swabach
Arcus faring Tidak dilakukan
Gag refleks Tidak dilakukan
Pengecapan 1/3 post. Tidak dilakukan
lidah
N.XI
M.XI Tidak dilakukan Tidak dilakukan
N.XII dbn
Motorik

Kanan Kiri
Kekuatan
Ekstremitas atas 5 4
Ekstremitas bawah 5 4
Tonus
Ekstermitas atas normotonus Normotonus
Ekstremitas bawah normotonus Normotonus
Trofi
Ekstremitas atas Normotrofi Normotrofi
Ekstremitas bawah Normotrofi Normotrofi
Refleks
Fisiologis Positif/Normal (+2) Positif/Normal (+2)
Biceps Positif/Normal (+2) Positif/Normal (+2)
Triceps Positif/Normal (+2) Positif/Normal (+2)
Patella Positif/Normal (+2) Positif/Normal (+2)
Achilles Positif/Normal (+2) Positif/Normal (+2)

Patologis
Hoffmann-tromner Negatif Negatif
Babinski Negatif Negatif
Sensorik

Kanan Kiri
Raba halus
Ekstremitas atas Normoestesia Normoestesia
Ekstremitas bawah Normoestesia Normoestesia
Nyeri
Ekstremitas atas Normoestesia Normoestesia
Ekstremitas bawah Normoestesia Normoestesia
Suhu
Ekstremitas atas Normoestesia Normoestesia
Ekstremitas bawah Normoestesia Normoestesia
Getar Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Ekstremitas atas
Ekstremitas bawah
Proprioseptif (Tidak dilakukan)
Ekstremitas atas
Ekstremitas bawah

Otonom

Alvi Normal
Uri Normal
Hidrosis Normal

Gait dan kordinasi

Kanan Kiri
Romberg Tidak dilakukan
Disdiadokokinesis Tidak dilakukan
Tes jari- hidung Tidak dilakukan
Tes tumit- lutut Tidak dilakukan
Pemeriksaan penunjang

 CT Scan

 EKG

 MRI

Resume
Pasien laki-laki usia 69 tahun datang dengan keluhan wajah terasa nyeri sejak 2 th

yang lalu. Nyeri terasa seperti ditusuk-tusuk dan panas. Nyeri dirasakan

terutama pada bagian rahang dan pipi, pasien juga mengeluh rahang seperti

kaku dan mulut susah untuk dibuka. Pasien memiliki riwayat hipertensi

sejak dan rutin control serta riwayat stroke 2 tahun yang lalu.

Pada pemeriksaan fisik ditemukan hemiparesis sinistra dengan

kekuatan motorik atas 5555/4444 motorik bawah 5555/4444.

Diagnosis kerja

Diagnosis klinik : Nyeri neuropatik wajah dextra dan sinistra

Hemiparesis sinistra

Diagnosis topis : N V1, V2, V3

perifer

Diagnosis etiologis : Trigeminal Neuralgia

DD: Glossopharyngeal neuralgia,

Cluster headache

Tatalaksana

Medikamentosa :

• Inf NaCl 0,9% 14 tpm

• Carbamazepin 3 x 200 mg

• Neurosanbe tab 2dd1

• Mecobalamin 500 mcg caps 3dd1


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

TRIGEMINAL NEURALGIA

A. Definisi

Neuralgia trigeminal merupakan gangguan dari nervus trigeminal yang

menyebabkan nyeri pada wajah, juga di kenal sebagai tic douloureux atau

Fothergill syndrome.1

Dalam Konsensus Nasional II kelompok studi nyeri kepala Perdossi,

neuralgia trigeminal dideskripsikan sebagai suatu serangan nyeri wajah

dengan gejala khas berupa nyeri unilateral, tiba – tiba, seperti tersengat aliran

listrik berlangsung singkat, jelas terbatas pada satu atau lebih distribusi cabang

nervus trigeminus. Nyeri umumnya dicetuskan oleh stimulus ringan dan

timbul spontan. Terdapat “trigger area” di plika nasolabialis dan atau dagu.

Pada umumnya terjadi remisi dalam jangka waktu yang bervariasi.2

B. Epidemiologi

Neuralgia Trigeminal banyak diderita pada usia diatas sekitar 40 tahun

dengan rata – rata antara 50 sampai 58 tahun , walaupun kadang – kadang

ditemukan pada usia muda terutama jenis atipikal atau sekunder, danada yang

melaporkan kasus neuralgia trigeminal pada anak laki – laki usia 9 tahun.

Umunya N.V2 dan V3 dan < 5% N.V1. Pada wanita sedikit lebih banyak

dibandingkan dengan laki- laki dengan perbandingan 1,6: 1. Faktor ras dan

etnik tampaknya tidak terpengaruh terhadap kejadian Neuralgia Trigeminal.

Prevalensi lebih kurang 155 per 100.000 penduduk dan insidensi 40 per

1.000.000. Angka prevalensi maupun insidensi untuk Indonesia belum pernah


dilaporkan. Bila insidensi dianggap sama dengan Negara lain maka terdapat ±

8000 penderita baru pertahun. Akan tetapi mengingat harapan hidup orang

Indonesia makin tinggi maka diperkirakan prevalensi penderita Neuralgia

Trigeminal akan meningkat.2,3

C. Anatomi

Nervus trigeminus adalah saraf otak motorik dan sensorik. Serabut

motoriknya mempersarafi muskulus maseter, temporalis, pterigoideus internus

et eksternus, tensor timpani, omohioideus dan bagian anterior muskulus

digastrikus. 4

inti motoriknya terletak di pons. Serabut-serabut motoriknya

bergabung dengan serabut-serabut sensorik nervus trigeminus yang berasal

dari ganglion Gasseri. Serabut-serabut sensoriknya menghantarkan impuls

nyeri, suhu, raba dan perasaan proprioseptif. Kawasannya ialah wajah dan

selaput lendir lidah dan rongga mulut serta gusi, dan rongga hidung. Impuls

proprioseptif, terutama berasal dari otot-otot yang dipersarafi oleh cabang

mandibular, dihantarkan oleh serabut sensorik cabang mandibular sampai ke

ganglion Gasseri.4

Cabang pertama ialah cabang oftalmikus. Ia menghantarkan impuls

protopatik dari bola mata serta rung orbita, kulit dahi sampai vertex. Impuls

sekretomotorik dihantarkan ke glandula lakrimalis. Serabut-serabut dari dahi

menyusun nervus frontalis. Ia masuk melalui ruang orbita melalui foramen

supraorbitale. Serabut-serabut dari bola mata dan rongga hidung bergabung

menjadi seberkas saraf yang dikenal sebagai nervus nasosiliaris. Berkas saraf
yang menuju ke glandula lakrimalis dikenal sebagai nervus lakrimalis. Ketiga

berkas saraf, yakni nervus frontali, nervus nasosiliaris dan nervus lakrimalis

saling mendekat pada fisura orbitalis superior dan di belakang fisura tersebut

bergabung menjadi cabang oftalmikus nervi trigemini. Cabang tersebut

menembus duramater dan melanjutkan perjalanan di dalam dinding sinus

kavernosus. Pada samping prosesus klinoideus posterior ia keluar dari dinding

tersebut dan berakhir di ganglion Gasseri. Selain serebut serabut tersebut

diatas, cabang maksilar n. V. Menerima juga serabut – serabut sensorik yang

berasal dari dura fosa cranii dan fossa pterigopalatinum.4

Cabang mandibularis (cabang III N.V. tersusun oleh serabut

somatomotorik dan sensorik serta sekretomotorik (parasimpatetik). Serabut-

serabut somatomotorik muncul dari daerah lateral pons menggabungkan diri

dengan berkas serabut sensorik yang dinamakan cabang mandibular ganglion

gasseri. Secara eferen, cabang mandibular keluar dari ruang intracranial

melalui foramen ovale dan tiba di fossa infratemporalis. Di situ nervus

meningea media (sensorik) yang mempersarafi meninges menggabungkan diri

pada pangkal cabang madibular. Di bagian depan fossa infratemporalis,

cabang III N.V. bercabang dua.Yang satu terletak lebih belakang dari yang

lain. Cabang belakang merupakan pangkal dari saraf aferen dari kulit daun

telinga (nervus aurikulotemporalis), kulit yang menutupi rahang bawah,

mukosa bibir bawah, dua pertiga bagian depan lidah (nervus lingualis),

glandula parotis dan gusi rahang bawah ( nervus dentalis inferior) dan serabut

eferen yang mempersarafi otot-otot omohioideus dan bagian anterior

muskulus digastrikus Cabang anterior dari cabang madibular terdiri dari


serabut aferen yang menghantarkan impuls dari kulit dan mukosa pipi bagian

bawah dan serabut eferen yang mempersyarafi otot-otot temporalis, masseter,

pterigoideus dan tensor timpani. Serabut-serabut aferen sel-sel ganglion

gasseri bersinaps di sepanjang wilayah inti nukleus sensibilis prinsipalis

(untuk raba dan tekan)serta nukleus spinalis nervi trigemini (untuk rasa nyeri)

dan dikenal sebagai tractus spinalis nervi trigemini. 4

Gambar 1

Area Persarafan N. Trigeminus

D. Etiologi

Saat ini, terdapat tiga teori etiologi neuralgia trigeminal yang dikenal.

Pertama berdasarkan hubungan dengan penyakit, kedua, trauma langsung ke

nervus dan teori ketiga menyatakan asal polietiologi dari penyakit. Pada

umumnya sebagian besar pasien dengan neuralgia trigeminal tidak memiliki

penyebab yang pasti. 5

Karena pasien dengan neuralgia trigeminal cenderung memiliki

penyakit vaskuler seperti atherosclerosis, arterial hypertonia, beberapa peneliti


mengajukan teori vaskular sebagai salah satu etiologi. Dari hasil penelitian

ditemukan gangguan morfologikal dan fungsional pada pembuluh darah yang

meng-suply bagian perifer dan bagian sentral dari Nervus Trigeminal. Namun

belum ada bukti yang mendukung hubungan langsung antara gangguan

pembuluh darah terhadap Neuralgia trigeminal. Meskipun, secara nyata

ditemukan gangguan morfologikal namun neuralgia trigeminal tidak

terdiagnosis. Itulah mengapa peneliti mendukung konsep perubahan organik

atau fungsional dari pembuluh darah yang mengsuply nervus trigeminus tidak

dapat menjadi penyebab utama dari neuralgia trigeminal, namun hal tersebut

dapat mempengaruhi pathogenesis penyakit.5

Beberapa peneliti juga mengusulkan pentingnya multiple sklerosis

dalam etiologi neuralgia trigeminal, namun peneliti lain juga meperdebatkan

hal tersebut karena neuralgia trigeminal terjadi hanya 0.9% sampai 4.5% pada

pasien dengan multiple sklerosis.5

Pada studi elektrofisiologi mengindikasikan Diabetes mellitus dapat

mempengaruhi nervus trigeminal. Finestone Te la melaporkan Siantar 40

pasien dengan neuralgia trigeminal, 19 pasien (48%) mengidap DM.

sehinggan DM dapat menjadi factor penyebab neuralgia trigeminal.5

Beberapa peneliti megajukan penyebab dari neuralgia trigeminal dapat

dihubungkan dengan syndrom decompression, dan yang paling populer adalah

neurovascular compression pada jalur masuk nervus yang dapat terjadi akibat

malformasi arteriovenous. Ada banyak lesi kompresi lain yang dapat

menyebabkan lesi kompresi seperti vestibular schwannomas, meningiomas,

epidermoid cysts, tuberculoma dan beragam kista lain dan tumor. Neuralgia
trigeminal dapat terjaid akibat adanya aneurisma, agregasi pembuluh darah,

dan penyumbatan akibat arachnoiditis. 5

Peneliti juga mengajukan hipotesis alergi sebagai salah satu etiologi

dari neuralgia trigeminal. Namun hanya bukti tidak langsung yang mendukung

alergi sebagai salah satu penyebab neuralgia trigeminal. Hal ini sering

disebabkan karena peningkatan tak terduga dan irregular dari gejala klinis,

remisi dan rekuren sensitif terhadap faktor profokatif endogen dan eksogen

dan akhirnya peningkatan serum histamin. Peneliti memperhatikan dibawah

pengaruh beragam faktor perusak seperti dingin, tonsilitis, rinitis kronik,

sinusitis maxilla dan infalmasi kronik yang terjadi pada regio maxillofaical

dapat meng-trigger timbulnya respons imun lokal, sehingga terjadi

peningkatan sekresi IgE, mastcell yang mengalami degranulasi akan

melepaskan substansi biologi aktif seperti histamin, serotonin dan lainnya ke

ruang intercellular. Sehingga histamin yang terlepas dan berkumpul pada

nervus trigeminal selama terjadi reaksi alergi lokal memegang peranan penting

dalam patogenesis neuralgia trigeminal.5

Hipotesa lain menjelaskan tibulnya neuralgia trigeminal adalah

demielinisasi pada serabut – serabut nervus trigemius, karena demielinisasi

mungkin terjadi Short circuit, sehingga impuls – impuls perasaan apapun, baik

proprioseptif maupun propatik terpaksa menghantarkan listrik melalui serabut

– serabut halus saja, yang sudah dikenal sebagai penghantar impuls yang
4,5
mewujudkan perasaan nyeri.

Tabel 1 : Etiologi Neuralgia Trigeminal


Luka langsung pada nervustrigeminal
Disease Related Polyetiologicorigin
Bagian perifer N.V Bagian Sentral N.V

Penyakit “Hipotesis Allergi” “Hipotesis kompresi Semua faktor etiologi yang

vaskular, akibat penyakit neurovascular” yang dapat mempengaruhi

multiple inflamasiodontogenic, dapat terjadi akibat nervustrigeminal dan

sklerosis, otolaryngological malformasiarteriovenous. menyebabkan demyelinasi

Diabetes patologi dingin, dan vestibularschwannomas, dan dystrofi

Mellitus, dan lainnya. meningiomas,

lainnya. “Hipotesis sindrom epidermoid cysts,

kompresi” akibat tuberculomas, tumor,

penyempitan kanal aneurisma, agregasi

osseous, trauma. pembuluh darah,

danpenyumbatan akibat

arachnoiditis.

E. Patofisiologi

Patofisiologi kondisi ini masih belum dipahami, ada dua pendapat,

yang pertama mengatakan gangguan mekanisme perifer sebagai penyebab

Neuralgia trigeminal dan pendapat kedua mengatakan gangguan mekanisme

sentral. Peneliti mengungkapkan neuralgia trigeminalis sebagai akibat

kompresi radiks trigeminalis oleh pembuluh darah, biasanya arteri superior

serebelli, yang melingkar dan mengelilingi bagian proksimal radiks yang tidak

bermielin segera setelah keluar dari pons. Hipotesis ini di dukung oleh

observasi bahwa keadaan bebas nyeri dapat dicapai hingga 80% pada pasien
dengan tindakan pembedahan saraf yang dikenal dengan dekompressi

mikrovaskular.6

Gangguan saraf tepi sebagai penyebab NT didukung oleh data-data klinis

berupa:

1. Ditemukannya peregangan atau kompresi nervus V.

2. Ditemukannya malformasi vaskular pada beberapa penderita NT.

3. Adanya tumor dengan pertumbuhan yang lambat.

4. Adanya proses inflamasi pada N.V.2

Mekanisme sentral sebagai penyebab NT didukung oleh data-data klinis

sebagai berikut:

1. Adanya periode laten yang dapat diukur antara waktu stimulus

terhadap trigger poin dan onset NT.

2. Serangan tak dapat dihentikan apabila sudah berlangsung.

3. Setiap serangan selalu diikuti oleh periode refrakter dan selama

periode ini pemicu apapun tidak dapat menimbulkan serangan.

4. Serangan seringkali dipicu oleh stimulus ringan yang pada orang

normal tidak menimbulkan gejala nyeri.

5. nyeri yang menyebar keluar daerah yang diberi stimulus.2

F. Klasifikasi

Menurut klasifikasi IHS ( International Headache Society )

membedakan NT klasik dan NT simptomatik. Termasuk NT klasik adalah


semua kasus yang etiologinya belum diketahui ( idiopatik ) Sedangkan NT

simptomatik dapat akibat tumor, multipel sklerosis atau kelainan di basis

kranii. Sebagai indikator NT simptomatik adalah defisit sensorik n.

Trigeminus, terlibatnya nervus trigeminus bilateral atau kelainan refleks

trigeminus. Tidak dijumpai hubungan antara NT simptomatik dengan

terlibatnya nervus trigeminus cabang pertama, usia muda atau kegagalan

terapi farmakologik.2

Perbedaan neuralgia trigeminus idiopatik dan simptomatik.

Neuralgia Trigeminus Idiopatik.

1. Nyeri bersifat paroxysmal dan terasa diwilayah sensorik cabang

maksilaris, sensorik cabang maksilaris dan atau mandibularis.

2. Timbulnya serangan bisa berlangsung 30 menit yang berikutnya menyusul

antara beberapa detik sampai menit.

3. Nyeri merupakan gejala tunggal dan utama.

4. Penderita berusia lebih dari 45 tahun, wanita lebih sering mengidap

dibanding laki-laki.2,4

Neuralgia Trigeminus simptomatik.

1. Nyeri berlangsung terus menerus dan terasa dikawasan cabang optalmikus

atau nervus infra orbitalis.

2. Nyeri timbul terus menerus dengan puncak nyeri lalu hilang timbul

kembali.

3. Disamping nyeri terdapat juga anethesia/hipestesia atau kelumpuhan saraf

kranial, berupa gangguan autonom ( Horner syndrom ).


4. Tidak memperlihatkan kecendrungan pada wanita atau pria dan tidak

terbatas pada golongan usia.2,4

G. Diagnosis

Kriteria diagnostik pada neuralgia trigeminal idiopatik, antara lain :

1. Bersifat paroxysmal, beberapa detik sampai 2 menit melibatkan 1 atau

lebih cabang N. Trigeminus dan memenuhi kriteria 2 dan 3.

2. Nyeri paling sedikit 1 memenuhi kriteria berikut :

a. Kuat, tajam, superfisial atau rasa menikam.

b. Dipresipitasi dari trigger area atau oleh faktor pencetus.

3. Jenis serangan Stereotyped pada masing – masing individu.

4. Tidak ada defisit neurologik.

5. Tidak berkaitan dengan gangguan lain.3

Kriteria diagnostik pada neuralgia trigeminal simptomatik, antara lain :

1. Bersifat paroxysmal, beberapa detik sampai 2 menit melibatkan 1 atau

lebih cabang N. Trigeminus dan memenuhi kriteria 2 dan 3.

2. Nyeri paling sedikit 1 memenuhi kriteria berikut :

a. Kuat, tajam, superfisial atau rasa menikam.

b. Dipresipitasi dari trigger area atau oleh faktor pencetus.

3. Jenis serangan Stereotyped pada masing – masing individu.

4. Lesi penyebab adalah selain kompresi pembuluh darah, juga kelainan

struktural yang nyata terlihat pada pemeriksaan canggih dan atau

eksplorasi fossa posterior.3

Stimulasi atau perangsangan pada wajah, bibir, atau gusi seperti


berbicara, makan (mengunyah), bercukur, sikat gigi, sentuhan atau bahkan

aliran angin dapat menimbulkan neuralgia trigeminal dengan sifatnyeri seperti

teriris atau tersengat listrik. Trigger zone dapat berukuran beberapa milimeter

persegi, atau besar dan diffus. Nyeri umumnya dimulai dari zona trigger

namun bisa juga di tempat lain. Sekitar 17% pasien mengalami nyeri tumpul

selama beberapa hari sebelum onset nyeri paroksismal dikenal sebagai

pretrigemnal neuralgia.1

Tidak ada tes spesifik terhadap neuralgia trigeminal. Studi pencitraan

seperti computed tomography(CT) scans ataumagnetic resonance imaging

(MRI) dapat membantu menegakkan diagnosis dengan mengeliminasi

penyebab lain timbulnya nyeri. High-definition MRI angiography dari nervus

trigeminal dan batang otak dapat menyemukan kompresi nervus trigeminal

oleh arteri atau vena.Praktisi juga dapat menegakkan diagnosis dengan

pemberian Carbamazepine untuk melihat apakah nyerinya menghilang. Jika

menghilang, maka hal tersebut menjadi bukti positif untuk menegakkan

diagnosis neuralgia trigeminal.1

H. Pengobatan

1. Farmakologi

Jika sudah yakin bahwa hanya neuralgia saja yang ditemukan tanpa

gejala defisit sensibilitas atau motorik, maka pengobatannya terdiri dari

bermberiancarbamazepine (Tegretol, Geigy). Dimulai dengan tiga kali 100 mg

carbamazepine (1½ tablet Tegretol) sehari, bila perlu dosis dapat dinaikkan

sampai tiga kali 1 – 2 tablet sehari. Pada dosis tinggi, pasien menjadi lemas dan

pusing.7
Alergi obat dapat timbul dalam bentuk eksantema. Gejala efek

samping ini tidak terkait pada dosis. Obat lain yang juga bermanfaat adalah

clonazepam (Rivotril, Roche). Baik Tegretol maupun Rivotril adalah obat anti

konvulsi. Dosis clonazepam untuk memberantas neuralgia adalah 3 -4 dd ½ - 1

mg.Pada umumnya hasil pengobatan baik, sehingga kasus yang dahulu dianjurkan

untuk tindakan pembedahan, sekarang hampir tidak ada lagi. 7

Apabila carbamazepine 1200 mg sehari tidak menolong, dapat

diberikan kombinasi carbamazepine dengan phenylhydantoin (Dilantin, Parke

Davis) misalnya 3 x sehari.7

Terapi farmakologi lain yang dapat diberikan antara lain,

Okskarbasepin 600 – 2400 mg/ hari, Gabapentin 1200 – 3600 mg/hari, Fenitoin

200 – 400 mg/hari, Lamotrigin 150 – 400 mg/hari, Baklofen 30 – 80 mg/hari.3

Pasien dapat bebas dari neuralgia idiomatik tanpa menggunakan

obat. Tetapi sewaktu – waktu bisa kambuh lagi. “Stress” fisik dan mental dapat

mempermudah timbul kembalinya serangan neuralgia.7

2. Operasi

Tindakan operasi umumnya dilakukan pada pasien dengan nyeri yang

tidak menghilang dengan terapi farmakologi minimal dengan 3 obat termasuk di

dalammnya carbamazepine. Status medis dan usia pasien harus menjadi bahan

pertimbangan sebelum dilakukan operasi. Efek samping dan kontra indikasi dapat

menjadi alasan pertimbangan tindakan operasi. Studi menunjukkan hasil yang

baik pada pasien yang diberikan tindakan operasi dan menganjurkan operasi

dilakukan cepat pada pasien dengan neuralgia trigeminal. Saat ini tidak ada

standar protokol untuk menentukan waktu optimal untuk melakukan tindakan


operasi.8

Beberapa jenis tindakan operasi antara lain : Peripheral neurectomy,

Ablative procedures (Radiofrequency ablation. Balloon Compression. Glycerol

Injection.Radio surgery-Gamma knife surgery),Open procedures (Microvascular

Decompression, Trigeminal root section).8

Pada prosedur perifer dilakukan blok pada nervus trigeminus

bagian disatal ganglion gasseri yaitu dengan suntikan streptomisin,

lidokain, alkohol . Prosedur pada ganglion gasseri ialah rhizotomi melalui

foramen ovale dengan radiofrekwensi termoregulasi, suntikan gliserol atau

kompresi dengan balon ke dalam kavum Meckel. Terapi gamma knife

merupakan terapi radiasi yang difokuskan pada radiks nervus trigeminus di

fossa posterior. Dekompresi mikrovaskuler adalah kraniotomi sampai

nervus trigeminus difossa posterior dengan tujuan memisahkan pembuluh

darah yang menekan nervus trigeminus.2

I. Diagnosis Banding

Berikut adalah beberapa diferensial diagnosis neuralgia trigeminal :

1. Dental pathology.

2. Temporomandibular joint dysfunction.

3. Migrain.

4. Giant cell arteritis (temporal arteritis)

5. Cluster headaches.

6. Multiple sclerosis dan gangguan myelin lainnya.

7. AneurysmPembuluh darah

8. Tumourpada fossa posteriorcontohnya meningiomas.


9. Kista arachnoidpada cerebellopontine angle.

10. Neuralgia Posthepetika

11. Neuralgia Nasalis atau sindrom charlin.4,9

J. Prognosis

Neuralgia Trigeminal tidak mengancam nyawa, 1 : 3 pasien akan

mengalami gejala ringan dan beberapa hanya akan mengalami satu episode

serangan. Banyak pasien mengalami periode remisi tanpa nyeri selama

beberapa bulan hingga tahun. namun gangguan ini cenderung untuk

memburuk seiring dengan berjalannya waktu.1,9


DAFTAR PUSTAKA

1. Chamberlin SL, Narins B. The Gale Encyclopedia of neurological Disorder.

United State: Thomson Gale; 2005.

2. Sunaryo, Utoyo. Neuralgia Trigeminal. Seminar Sehari PDGI

CabangProbolinggo. Probolinggo;2010

3. Sjahrir, Hasan. KonsensusNasional II

DiagnostikdanPenatalaksanaanNyeriKepala. PERDOSSI;2005.

4. Mardjono M, Sidharta P. Neurologidasarklinis. Jakarta: Dian Rakyat; 2010.

5. Sabalys G, Juodzbalys G, Wang HL. Aetiology and Pathogenesis of

Trigeminal Neuralgia: a Comprehensive Review. Journal of oral and

maxillofacial research. 2012;3.

6. Baehr M, Frotscher M. Diagnosis topikneurologiDUUS :anatomi, fisiologi,

tanda, gejala. Jakarta: EGC; 2010.

7. Sidharta, Priguna. NeurologiKlinisDalamPraktekUmum. Dian Rakyat.

Jakarta:2014

8. Sreenivasan P, Raj SV, Ovallath S. Treatment Options in Trigeminal

Neuralgia an Update. Eur J Gen Med. 2014;11.

9. Rull G, Tidy C. Trigeminal Neuralgia. Patient. 2014;23.