Anda di halaman 1dari 4

Lex Crimen Vol. V/No.

1/Jan/2016

UJARAN KEBENCIAN DALAM SURAT EDARAN PENDAHULUAN


KAPOLRI NOMOR: SE/6/X/2015 TENTANG A. Latar Belakang
PENANGANAN UCAPAN KEBENCIAN Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
(HATE SPEECH)1 (KUHPidana) memiliki beberapa pasal yang
Oleh: Veisy Mangantibe2 dikenal sebagai pasal-pasal penyebaran
kebencian (haatzaai artikelen), yaitu Pasal 154
ABSTRAK tentang barangsiapa di muka umum
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk menyatakan perasaan permusuhan, kebencian
mengetahui bagaimana lingkup ujaran atau penghinaan terhadap Pemerintah
kebencian (hate speech) dalam Surat Edaran Indonesia, Pasal 155 tentang penyiaran dari
Kapolri Nomor: SE/6/X/2015 dan bagaimana tindak pidana Pasal 154, dan Pasal 156 tentang
kedudukan Surat Edaran Kapolri Nomor: barangsiapa di muka umum menyatakan
SE/6/X/2015tentang ujaran kebencian (hate perasaan permusuhan, kebencian atau
speech). Dengan menggunakan metode penghinaan terhadap suatu atau beberapa
penelitian yuridis normatif, maka dapat golongan rakyat Indonesia. Pasal-pasal
disimpulkan: 1. Lingkup ujaran kebencian (hate tersebut dengan tegas melarang pernyataan
speech) dalam Surat Edaran Kapolri Nomor: yang antara lain berupa pernyataan perasaan
SE/6/X/2015 adakah keseluruhan perbuatan kebencian terhadap Pemerintah Indonesia
yang bersifat menghina, mencemarkan nama (Pasal 154 dan Pasal 155) atau suatu/beberapa
baik, menista, perbuatan tidak menyenangkan, golongan rakyat Indonesia (Pasal 156).
memprovokasi, menghasut atau menyebarkan Pasal 154 dan Pasal 155 KUHPidana
berita bohong, baik dalam KUHPidana maupun kemudian telah diputuskan sebagai
luar KUHPidana, yang: 1) bertujuan atau bertentangan dengan Undang-Undang Dasar
berdampak pada tindak diskriminasi, Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan
kekerasan, penghilangan nyawa dan/atau karenanya tidak mempunyai kekuatan hukum
konflik sosial; serta 2) bertujuan menghasut mengikat oleh putusan Mahkamah Konstitusi
dan menyulut kebencian terhadap individu Nomor 6/PUU-V/2007.3 Dasar pertimbangan
dan/atau kelompok masyarakat dalam berbagai Mahkamah Konstitusi dalam putusannya
komunitas yang dibedakan dari aspek: suku, tersebut, yaitu,
agama, aliran keagamaan, … bahwa ketentuan Pasal 154 dan 155
keyakinan/kepercayaan, ras, antargolongan, KUHP, di satu pihak, tidak menjamin adanya
warna kulit, etnis, gender, kaum difabel (cacat), kepastian hukum sehingga bertentangan
orientasi seksual. 2. Kedudukan Surat Kapolri dengan Pasal 28D Ayat (1) UUD 1945, di
Nomor: SE/6/X/2015 adalah suatu surat edaran pihak lain, sebagai konsekuensinya, juga
sebagai suatu instruksi internal dalam secara tidak proporsional menghalang-
lingkungan kepolisian yang berada pada tingkat halangi kemerdekaan untuk menyatakan
operasional kepolisian untuk penanganan pikiran dan sikap serta kemerdekaan
praktis perbuatan-perbuatan yang dipandang menyampaikan pendapat sehingga
sebagai ujaran kebencian, sepanjang perbuatan bertentangan dengan Pasal 28 dan 28E Ayat
itu memiliki tujuan atau bisa berdampak pada (2) dan Ayat (3) UUD 1945. 4
tindak diskriminasi, kekerasan, penghilangan Pertimbangan Mahkamah Konstitusi, yaitu:
nyawa, dan/atau konflik sosial; sehingga surat (1) Pasal 154 dan 155 KUHPidana tidak
edaran ini tidak membuat kaidah (norma) baru menjamin adanya kepastian hukum
dalam hukum pidana melainkan hanya (bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) UUD
menunjuk tindak pidana yang sudah ada 1945), dan (2) secara tidak proporsional
sebelumnya. menghalang-halangi kemerdekaan untuk
Kata kunci: Penanganan, ucapan kebencian.
3
Mahkamah Konstitusi, “Putusan Nomor 6/PUU-V/2007
1
Artikel skripsi. Dosen Pembimbing : Toar Neman (Tanggal 17-7-2007)”
Palilingan, SH, MH; Marnan A.T. Mokorimban, SH, M.Si http://www.mahkamahkonstitusi.go.id/, diakses tanggal
2
Mahasiswa pada Fakultas Hukum Unsrat, NIM. 25-11-2015.
4
080711025 Ibid.

159
Lex Crimen Vol. V/No. 1/Jan/2016

menyatakan pikiran dan sikap serta demikian merupakan suatu penelitian yang
kemerdekaan menyampaikan pendapat bersifat hukum positif.
(bertentangan dengan Pasal 28 dan 28E Ayat
(2) dan Ayat (3) UUD 1945). Mahkamah telah PEMBAHASAN
menggunakan dasar pertimbangan ini untuk A. Lingkup Ujaran Kebencian dalam Surat
menjatuhkan putusan bahwa Paasl 154 dan Edaran Kapolri Nomor: SE/6/X/2015
Pasal 155 KUHPidana bertentangan dengan Lingkup dari ujaran kebencian dikemukakan
UUD 1945 dan karenanya tidak mempunyai dalam angka 2 huruf f Surat Edaran Kapolri
kekuatan hukum mengikat. Nomor: SE/6/X/2015 tentang Penanganan
Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor Ujaran Kebencian (Hate Speech) sebagai
6/PUU-V/2007 menimbulkan atau memperkuat berikut:
pandangan umum bahwa di Indonesia telah Bahwa ujaran kebencian dapat berupa
diakui dan dilindungi kebebasan menyatakan tindak pidana yang diatur dalam Kitab Undang-
pendapat. Orang-orang dapat dengan bebas Undang Hukum Pidana (KUHP) dan ketentuan
menyatakan pendapat dan media massa juga pidana lainnya di luar KUHP, yang berbentuk
bebas untuk memuat berita dengan tidak perlu antara lain:
takut lagi diperlakukan sebagai pelaku tindak 1) penghinaan
pidana penyebaran kebencian. Oleh karenanya 2) pencemaran nama baik
merupakan hal yang cukup mengagetkan 3) penistaan
masyarakat ketika dipublikasikan bahwa Kepala 4) perbuatan tidak menyenangkan
Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) 5) memprovokasi
telah menerbitkan suatu produk hukum yang 6) menghasut
berkenaan dengan ancaman pidana terhadap 7) penyebaran berita bohong
apa yang disebut ujaran kebencian atau hate dan semua tindakan di atas memiliki
speech. tujuan atau bisa berdampak pada tindak
Adanya produk hukum yang diterbitkan diskriminasi, kekerasan, penghilangan
Kapolri tentang ujaran kebencian (hate speech) nyawa dan/atau konflik sosial.5
telah menimbulkan pertanyaan-pertanyaan
antara lain mengenai lingkup cakupan dan B. Kedudukan Surat Edaran Kapolri Nomor:
kedudukan dari ujaran kebencian yang SE/6/X/2015tentang Ujaran Kebencian
dikemukakan dalam produk hukum tersebut. Surat Edaran Kapolri Nomor: SE/6/X/2015
Oleh karenanya dalam rangka penulisan skripsi, dalam angka 1 menunjuk bahwasebagai
pokok ini telah dipilih untuk dibahas dengan rujukan pembuatan surat edaran ini, yaitu:
mengambil sebagai judul “Lingkup dan a. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
kedudukan Ujaran Kebencian dalam Surat b. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999
Edaran Kapolri Nomor: SE/6/X/2015 tentang tentang Hak Asasi Manusia
Penanganan Ucapan Kebencian”. c. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002
tentang Kepolisian Negara Republik
B. Rumusan Masalah Indonesia
1. Bagaimana lingkup ujaran kebencian (hate d. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2005
speech) dalam Surat Edaran Kapolri tentang Ratifikasi Konvensi Internasional
Nomor: SE/6/X/2015? Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya
2. Bagaimana kedudukan Surat Edaran e. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005
Kapolri Nomor: SE/6/X/2015tentang tentang Ratifikasi Konvensi Internasional
ujaran kebencian (hate speech)? Hak-hak Sipil dan Politik
f. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008
C. Metode Penelitian tentang Informasi dan Transaksi Elektronik
Jenis penelitian yang digunakan disini, yaitu
penelitian hukum normatif. Penelitian hukum
normatif merupakan suatu penelitian yang
meletakkantitik berat penelitian pada hukum 5
Surat Edaran Kepala Kepolisian Negara Republik
sebagai seperangkat norma (kaidah), dengan Indonesia Nomor: SE/6/X/2015 tentang Penanganan
Ujaran Kebencian (Hate Speech).

160
Lex Crimen Vol. V/No. 1/Jan/2016

g. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 masyarakat” dan agar “mengefektifkan


tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan dan mengedepankan fungsi intelijen untuk
Etnis mengetahui kondisi riil di wilayah-wilayah
h. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2012 yang rawan konflik”.
tentang Penanganan Konflik Sosial 2. Apabila tindakan preventif sudah dilakukan
i. Peraturan Kepala Kepolisian Negara oleh anggota Polri namun tidak
Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2009 menyelesaikan masalah yang timbul akibat
tentang Implementasi Prinsip dan Standar tindakan ujaran kebencian, maka
Hak Asasi Manusia dalam Penyelenggaraan penyelesaian dapat dilakukan melalui:
Tugas Kepolisian Negara Republik 1) Penegakan hukum atas dugaan
Indonesia terjadinya tindak pidana ujaran
j. Peraturan Kepala Kepolisian Negara kebencian dengan mengacu pada
Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2013 ketentuan.
tentang Teknis Penanganan Konflik Sosial. 2) Dalam hal telah terjadi konflik sosial
Selanjutnya, dalam Surat Edaran Kapolri yangdilatarbelakangi ujaan kebencian
Nomor: SE/6/X/2015 pada angka 2 huruf a dalam penanganannya tetap
dinyatakan bahwa “ujaran kebencian dapat berpedoman pada:
berupa tindak pidana yang diatur dalam Kitab a) Undang-Undang Nomor 7 Tahun
Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan 2012 tentang Penanganan Konflik
ketentuan pidana lainnya di luar KUHP…”. Sosial; dan
Dengan demikian, surat edaran Kapolri ini b) Peraturan Kepala Kepolisian
hanya menunjuk pada tindak-tindak pidana Negara Republik Indonesia Nomor
yang sudah ada, baik yang ada dalam 8 Tahun 2013 tentang Teknis
KUHPidana maupun tindak pidana di luar Penanganan Konflik Sosial.
KUHPidana seperti tindak pidana yang ada
dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 PENUTUP
tenang Informasi dan Transaksi Elektronik. A. Kesimpulan
Surat edaran ini tidak membuat kaidah-kaidah 1. Lingkup ujaran kebencian (hate speech)
atau norma-norma baru dalam bidang hukum dalam Surat Edaran Kapolri Nomor:
pidana. SE/6/X/2015 adakah keseluruhan
Selain itu, bentuk produk hukum ini adalah perbuatan yang bersifat menghina,
suatu Surat Edaran, yaitu Surat Edaran Kapolri, mencemarkan nama baik, menista,
bukan suatu Peraturan Kapolri.Dilihat dari perbuatan tidak menyenangkan,
sudut ini, Surat Edaran Kapolri Nomor: memprovokasi, menghasut atau
SE/6/X/2015 adalah sebagai suatu instruksi menyebarkan berita bohong, baik dalam
internal dalam lingkungan kepolisian yang KUHPidana maupun luar KUHPidana,
berada pada tingkat operasional kepolisian yang: 1) bertujuan atau berdampak pada
untukpenanganan praktis perbuatan-perbuatan tindak diskriminasi, kekerasan,
yang dipandang sebagai ujaran kebencian penghilangan nyawa dan/atau konflik
sepanjang perbuatan itu memiliki tujuan atau sosial; serta 2) bertujuan menghasut dan
bisa berdampak pada tindak diskriminasi, menyulut kebencian terhadap individu
kekerasan, penghilangan nyawa, dan/atau dan/atau kelompok masyarakat dalam
konflik sosial. berbagai komunitas yang dibedakan dari
Tingkat operasional dari surat edaran ini aspek: suku, agama, aliran keagamaan,
tampak dalam tata cara penanganan yang keyakinan/kepercayaan, ras,
diatur dalam surat edaran, yaitu: antargolongan, warna kulit, etnis,
1. Melakukan tindakan preventif, dimana gender, kaum difabel (cacat), orientasi
tindakan preventif antara lain “setiap seksual.
anggota Polri agar memiliki pengetahuan 2. Kedudukan Surat Kapolri Nomor:
dan pemahaman mengenai bentuk-bentuk SE/6/X/2015 adalah suatu surat edaran
ujaran kebencian yang timbul di sebagai suatu instruksi internal dalam

161
Lex Crimen Vol. V/No. 1/Jan/2016

lingkungan kepolisian yang berada pada Soekanto, S. dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum
tingkat operasional kepolisian untuk Normatif Suatu Tinjauan Singkat, ed. 1, cet.
penanganan praktis perbuatan- 16, Rajawali Pers, Jakarta, 2014.
perbuatan yang dipandang sebagai Tim Penerjemah BPHN, Kitab Undang-Undang
ujaran kebencian, sepanjang perbuatan Hukum Pidana, Sinar Harapan, Jakarta, 1983.
itu memiliki tujuan atau bisa berdampak Utrecht, E.,Hukum Pidana I, Penerbitan
pada tindak diskriminasi, kekerasan, Universitas, Bandung, 1967.
penghilangan nyawa, dan/atau konflik
sosial; sehingga surat edaran ini tidak Sumber Internet/Dokumen Elektronik:
Bpos, “Jangan Sebarkan Ujaran Kebencian Di
membuat kaidah (norma) baru dalam
Facebook Atau Anda Berurusan Dengan
hukum pidana melainkan hanya
Hukum” http://batampos.co.id/19-11-
menunjuk tindak pidana yang sudah ada 2015/jangan-sebarkan-ujaran-kebencian-di-
sebelumnya. facebook-atau-anda-berurusan-dengan-
hukum/, kunjungan 25-11-2015.
B. Saran Mahkamah Konstitusi, “Putusan Nomor 013-
1. Istilah “perbuatan tidak menyenangkan” 022/PUU-IV/2006 (tanggal 6-12-2006)”
tidak perlu dicantumkan dalam Surat http://www.mahkamahkonstitusi.go.id/,
Edaran Kapolri Nomor: SE/6/X/2015 diakses tanggal 4-12-2015
karena tindak pidana itu oleh Putusan Mahkamah Konstitusi, “Putusan Nomor 6/PUU-
Mahkamah Konstitusi Nomor 1/PUU- V/2007”(Tanggal 17-7-2007)”
XI/2013, tanggal 16 Januari 2014 telah http://www.mahkamahkonstitusi.go.id/,
dinyatakan bertentangan dengan UUD diakses tanggal 25-11-2015.
1945 dan tidak mempunyai kekuatan Mahkamah Konstitusi, “Putusan Nomor 1/PUU-
hukum mengikat. XI/2013 (tanggal 16-1-2014)”
2. Perlu publikasi lebih luas untuk http://www.mahkamahkonstitusi.go.id/,
menekankan Surat Edaran Kapolri diakses tanggal 4-12-2015
Nomor: SE/6/X/2015 merupakan Sekretariat Jenderal Majelis Permusyaawaratan
instruksi internal yang berada pada Rakyat, “Undang-Undang Dasar Negara
tingkat operasional kepolisian, bukan Republik Indonesia Dalam Satu Naskah”,
http://www.mpr.go.id, diakses tanggal 28-11-
merupakan pembentukan kaidah
2015.
(norma) baru.
Peraturan Perundang-undangan:
DAFTAR PUSTAKA
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang
Apeldoorn, L.J. van, Pengantar Ilmu Hukum,
Informasi dan Transaksi Elektronik (Lembaran
terjemahan Oetarid Sadino dari Inleiding tot
Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor
de studie van het Nederlandse recht, cet.29,
58, Tambahan Lembaran Negara Republik
Pradnya Paramita, Jakarta, 2001.
Indonesia Nomor 4843.
Gokkel, H.R.W. dan N. van der Wal, Istilah Hukum
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang
Latin-Indonesia, terjemahan S. Adiwinata dari
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan
Juridisch Latijn, Intermasa, Jakarta, 1977.
(Lembaran negara Republik Indonesia Tahun
Lamintang, P.A.F. dan C.D. Samosir, Hukum
2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara
Pidana Indonesia, Sumur Bandung, Bandung,
Republik Indonesia Nomor 5234).
1983.
Surat Edaran Kepala Kepolisian Negara Republik
Moeljatno, Azas-azas Hukum Pidana, cet.2, Bina
Indonesia Nomor: SE/6/X/2015 tentang
Aksara, Jakarta, 1984.
Penanganan Ujaran Kebencian (Hate Speech).
Prodjodikoro, Wirjono, Tindak-tindak Pidana
Tertentu Di Indonesia, ed.3 cet.4, Rafika
Aditama, Jakarta, 2012.
Seno Adji, Oemar, Hukum Pidana Pengembangan,
Erlangga, Jakarta, 1985.
Sianturi, S.R., Tindak Pidana di KUHP Berikut
Uraiannya, Alumni AHM-PTHM, Jakarta, 1983.

162