Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH BANK DAN LEMBAGA KEUANGAN

SYARIAH NON BANK

KOPERASI SYARIAH DAN BMT

Di Susun Oleh:
KELOMPOK 4 / MBS 4C
1. Nur Alfie Wahyu A.P (185211083)
2. Aji Saputro (185211084)
3. Febriana Tri Ratna Sari (185211090)
4. Anjarwati (185211101)
5. Teuku Farhan Husain (185211107)
6. Nafisa Ekalya Putri S (185211109)

Dosen Pengampu:
Nur Hidayah AL Amin, M.E.SY.

MANAJEMEN BISNIS SYARIAH


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM SURAKARTA
2020
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha

Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah

melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat

menyelesaikan makalah dasar-dasar ekonomi islam ini tentang konsep dan fungsi

kebijakan fiskal dalam ekonomi syariah.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan

dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk

itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah

berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada

kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena

itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca

agar kami dapat memperbaiki makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah makalah dasar-dasar ekonomi

islam tentang konsep dan fungsi kebijakan fiskal dalam ekonomi syariah ini dapat

memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.

Surakarta, 25 Januari 2020

Penyusun

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................. 1

DAFTAR ISI ................................................................................................................. 2

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................. 3

A. Latar Belakang ................................................................................................... 3

B.Rumusan Masalah ............................................................................................... 3

C.Tujuan ................................................................................................................. 3

BAB II PEMBAHASAN .............................................................................................. 4

A.KOPERASI ........................................................................................................ 4

1.Pengertian koperasi secara umum ......................................................................... 4

2.Sejarah koperasi syariah ........................................................................................ 5

3.Koperasi syariah .................................................................................................... 6

4.Landasan hukum koperasi syariah ........................................................................ 8

5.Transaksi dalam koperasi syariah ................................................................... 9

B.BAITUL MAAL WA TAMWIL (BMT) ....................................................... 11

1.Pengertian BMT ............................................................................................... 11

2.Badan hukum BMT ......................................................................................... 11

3.Fungsi, prinsip, dan ciri-ciri BMT ................................................................... 12

4.Penyaluran dana BMT ..................................................................................... 14

5.Modal dan sumber modal BMT ....................................................................... 18

6.Akad BMT ....................................................................................................... 19

2
BAB III PENUTUP .................................................................................................... 21

A.Kesimpulan .......................................................................................................... 21

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Lembaga keuangan Islam yang berbentuk non bank di antaranya ialah


asuransi syariah, pegadaian syariah, baitul mal wa tamwil (BMT), dan koperasi
syariah. Lembaga yang disebut terakhir ini (koperasi syariah) merupakan salah
satu dari pranata sosial hukum Islam yang dipraktikan dan dikembangkan di
Indonesia yang cikal bakalnya sudah ada sejak berdirinya sarekat dagang islam
tahun 1913. Di samping itu, ditengah perkembangan masyarakat muslim yang
mulai sadar dan membutuhkan pengelolaan secara syariah, nampaknya menjadi
lahan subur koperasi syariah untuk tumbuh dan berkembang sehingga dari
pengelolaan koperasi syariah tersebut dapat manfaat berganda bagi para anggota
dan pengelolanya. Menurut Suryadharma Ali, di saat lembaga keuangan
perbankan umumnya masih sulit untuk diakses Krlompok Usaha Kecil Menengah
(UMKM) saat ini, pola koperasi syariah yang dikenal juga dengan Koperasi Jasa
Keuangan (KJKS) bisa menjadi lembaga keuangan yang potensial bagi
anggotanya untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan dan pengembangan
usahanya yang produktif.

B. RUMUSAN MASALAH

3
1. Apa yang dimaksud dengan koperasi?

2. Bagaimana sejarah koperasi syariah?

3. Apa yang dimaksud koperasi syariah?

4. Bagaimana landasan hukum koperasi syariah?

5. Bagaimana transaksi dalam koperasi syariah?

6. Apa yang dimaksud dengan BMT?

7. Bagaimana badaan hukum dalam BMT?

8. Apa fungsi, prinsip, dan ciri-ciri BMT?

9. Bagaimana penyaluran dana dana dalam BMT?

C. TUJUAN

1. Untuk mengetahui pengertian koperasi

2. Untuk mengetahui sejarah koperasi syariah

3. Untuk mengetahui pengertian koperasi syariah

4. Untuk mengetahui landasan hukum koperasi syariah

5. Untuk mengetahui transaksi dalam koperasi syariah

6. Untuk mengetahui pengertian BMT

7. Untuk mengetahui badan hukum BMT

8. Untuk mengetahui fungsi, prinsip dan ciri-ciri BMT

9. Untuk mengetahui penyakuran dana dalam BMT

4
BAB II

PEMBAHASAN

A. KOPERASI

1. Pengertian koperasi secara umum


Koperasi sendiri berasal dari bahasa Inggris yaitu co-operation
yang artinya bekerja sama. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,
koperasi adalah perserikatan yang bertujuan untuk memenuhi keperluan
anggotanya dengan harga murah.1
Para ahli mengemukakan pendapatnya tentang koperasi. Menurut
Emory S. Bogordus, bahwa koperasi adalah suatu proses sosial dimana
anggota masyarakat berfikir dan bekerja bersama-sama untuk mencapai
tujuan yang sifatnya universal dan yang sangat menguntungkan manusia.
Menurut Marquist Childs, koperasi adalah suatu organisasi sosial ekonomi
yang berusaha untuk mematahkan sistem kapitalis dengan cara
mengadakan distribusi barang-barang kualitas tinggi dengan harga murah
yang dalam usahanya itu mencari keuntungan sekecil mungkin. Sedangkan
menurut Moh. Hatta sebagai Bapak Koperasi Indonesia, menyatakan
bahwa koperasi adalah suatu perkumpulan orang yang merdeka keluar dan
masuk atas dasar hak dan tanggung jawab yang sama untuk menjalankan
bersama perusahaan ekonomi, yang anggota-anggotanya memberikan
jasanya tidak menurut besar modalnya, melainkan menurut kegiatannya
bertindak didalam perusahaan mereka itu.2

1
Lindiawatie dan Dhona Shahreza, "Peran Koperasi Syariah BMT Bumi dalam Meningkatkan
Kualitas Usaha Mikro". Al-Urban. Vol.2, No.1 Juni 2018, hal:2
2
Nazaruddin A. Wahid, Wahana Kajian Hukum Islam dan Pranata Sosial". Media Syari'ah. Vol. 14
No. 1 Januari-Juni 2012. hal:44

5
Menurut pasal 1 UU RI No. 25 Tahun 1992 tentang perkoperasian
dan pasal 3 UU RI No. 12 Tahun 1967 tentang pokok-pokok koperasi
menyatakan bahwa koperasi adalah sebagai badan usahayang
beranggotakan orang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan
kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan
ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan. Berdasarkan
definisi diatas dapat ditegaskan bahwa yang dimaksud dengan koperasi
adalah setiap badan usaha bersama yang dimiliki oleh sekelompok orang
yang dioperasikan berdasarkan prinsip-prinsip kerjasama.3

2. Sejarah Koperasi Syariah


Pada awal tahun 1980-an, diskusi mengenai bank Syariah senagai
pilar ekonomi Islam mulai dilakukan. Indonesia baru terfokus untuk
menyelenggarakan bank syariah pada tahun 1990. Pada tahun itupun
Majelis Ulama Indonesia menyelenggarakan lokakarya tentang bunga
bank dan perbankan. Di antara hasil lokakarya tersebut dibentuk suatu
kelompok kerja untuk mendirikan bank Islam di Indonesia dan bertugas
untuk melakukan pendekatan dan konsultasi dengan para pihak terkait.
Hasil pokja tersebut melahirkan Bank Muamalat Indonesia, akte pendirian
bank ditandatangani pada tanggal 1 November 1991 dan mulai beroperasi
pada tanggal 1 Mei 1992.4
Sejak tahun 1992, sistem ekonomi Islam di Indonesia secara lebih
gigih mulai dikembangkan hingga dalam waktu yang singkat bermunculan
lembaga-lembaga keuangan Islam lainnya baik dalan bentuk bank maupun
non bank. Lembaga keuangan islan yang berbentuk non bank diantaranya
yaitu asuransi syariah, pegadaian syariah, dan koperasi syariah. 5 Koperasi
dilahirkan bukan berasal dari ajaran dan kultur Islam, melainkan dari
pemikiran barat. Koperasi mulai dipraktekkan di negara kapitalis dan

3
Ibid., hlm 44
4
Ibid., hlm 41
5
Wahid, Loc. Cit

6
negara sosialis. Namun pemanfaatan koperasi hanya untuk mendukung
dan memperkuat sistem perekonomian kapitalis itu sendiri.6

3. Koperasi Syariah
a. Pengertian
Koperasi syariah lebih dikenal dengan nama KJKS (Koperasi Jasa
Keuangan Syariah) dan UJKS (Unit Jasa Koperasi Syariah). Koperasi
jasa keuangan syariah adalah koperasi yang kegiatan usahanya
bergerak di bidang pembiayaan, investasi, dan simpanan sesuai pola
bagi hasil (syariah). Koperasi syariah adalah badan usaha yang
beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi dengan
melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip syariah sekaligus
sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan.
(Triana Sofiani, kontruksi norma hukum koperasi syariah dalam
7
kerangka sistem hukum koperasi nasional". Secara sosiologis
koperasi syariah di Indonesia sering disebut dengan Baitul Maal Wa At
Tamwil atau BMT, karena dalam realitasnya koperasi syariah banyak
yang berasal dari konversi Baitul Maal Wa At Tamwil. Namun,
sebenarnya ada perbedaan antara KTJS/UJKS koperasi dengan BMT
yaitu terletak pada lembaganya. Koperasi syariah hanya terdiri dari
satu lembaga, sedangkan BMT terdapat dua lembaga yaitu lembaga
zakat dan lembaga keuangan (syariah).8
Keberadaan koperasi syariah pada hakekatnya merupakan sebuah
konversi dari koperasi konvensional dengan menambahkan muatan
berupa prinsip-prinsip koperasi atau musyarakat yang sesuai dengan
syariat Islam dan peneladanan terhadap perilaku ekonomi yang
dilakukan Rasulullah dan para sahabatnya.9
Menurut Hafidz dan Yahya munculnya koperasi syariah bisa
dikatakan sebagai koperasi atas koperasi konvensional yang dinilai

6
Ropi Marlina dan Yoka Yunisa Pratami, "Koperasi syariah sebagai solusi penerapan akad syirkah
yang sah". Amwaluna, Vol. 1, No. 2 Juli 2017, hal:264
7
Jurnal Hukum Islam, Vol. 12 Edisi Desember 2014, hal: 136
8
Ibid.
9
Wahid, Op.Cit., 43

7
tidak sejalan dengan prinsip-prinsip syariah 10 . Konsep pendirian
koperasi syariah pada dasarnya menggunakan konsep syirkah
mutawadhoh yakni sebuah usaha yang didirikan secara bersama-sama
oleh dua orang atau lebih, masing-masing memberikan kontribusi dana
dalam porsi yang sama besar dan berpartisipasi dalam kerja dengan
bobot yang sama pula. Masing-masing partner saling menanggung satu
sama lain dalam hak dan kewajiban. Dan tidak diperkenankan salah
seorang memasukkan modal yang lebih besar dan memperoleh
keuntungan yang lebih besar pula dibandingkan dengan partner
lainnya11.
b. Fungsi koperasi syariah
Koperasi syariah didirikan untuk meningkatkan kesejahteraan
bersama antara anggota koperasi pada khususnya dan masyarakat pada
umumnya, serta turut membangun tatanan perekonomian yang berbasis
kerakyatan dan keadilan serta sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.
Pangsa pasar koperasi syariah yang terus meningkat didorong untuk
melakukan pemberdayaan kalangan masyarakat menengah ke bawah
yang diwujudkan melalui pemberian pembiayaan usaha mikro, kecil
dan menengah12.

4. Landasan hukum koperasi Syariah


Landasan normatif koperasi syariah adalah Al-Qur'an dan Sunnah,
serta Pancasila dan UUD 1945. Sedangkan azasnya adalah tolong
menolong (gotong royong)13.
Hal ini didasarkan pada salah satu dalil Al-Quran yang menjelaskan
mengenai syirkah dalam QS. Shad: 24:
“... dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu
sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-

10
Marlina Pratami, Op.Cit., 265.
11
Wahid, Op.Cit, 43
12
Marlina Pratami, Op.Cit, 265
13
Ibid., hlm: 52-55.

8
orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; dan amat sedikit
mereka ini... “
Begitu pula dengan dalil As-Sunnah yang menjelaskan tentang kebolehan
bertransaksi dengan akad syrikah yaitu:
“Dulu pada zaman jahiliyah engkau menjadi mitraku. Engkau mitra yang
paling baik, engkau tidak mengkhianatiku dan tidak membantahku” (HR
Abu Dawud, An Nasau, dan Al Hakim, dan dia menafsirkannya)14.
Landasan operasional mengacu pada Peraturan Pemerintah No. 9
Tahun 1995 tentang pelaksanaan kegiatan usaha simpan pinjam oleh
koperasi serta Kepmen Koperasi dan UKM No. 91/kep/M.
KUKM/IX/2004 tentang petunjuk pelaksanaan kegiatan usaha koperasi
jasa keuangan syariah (KJKS)15.

Proses pendaftaran simpan pinjam dalam ini menggunakan system mudhrobah


dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

a. Calon anggota datang langsung ke koperasi untuk mendaftarkan diri


menjadi anggota.

14
Ropi Marlina, op. Cit. hlm 266.
15
Wahid, Op.Cit. hlm 60.

9
b. Sebelum calon anggota bisa mendaftar, calon anggota diberitahu syarat-
syarat untuk menjadi anggota nasabah simpan pinjam mudhoribah dan
dimintai melengkapi syarat-syarat tersebut sebelum mendaftar oleh
customer service.
Syarat-syarat tersebut diantaranya:
o Syarat anggota nasabah simpan pinjam adalah:
1). Anggota maupun calon anggota yang memenuhi
kriteria.
2). Mempunyai usaha produktif atau penghasilan tetap
3). Mempunyai simpanan aktif pada koperasi
4). Lulus wawancara dan kelayakan kuantitatif
o Plafon (besarnya) pinjaman per nasabah besarnya pinjaman yang
dapat diberikan kepada seorang anggota ditetapkan berdasarkan
keputusan manajer dan atau pengurus.
o Jika persyaratan calon anggota kurang lengkap, maka diminta
untuk melenghkapinya. Dan jika persyaratan calon nasabah sudah
lengkap, maka customer service menginput data calon nasabah dan
melakukan analisis awal.
c. Setelah itu, admin membuat jadwal survey kepada anggota, melakukan
wawancara dengan anggota, melakukan investigasi, melakukan penilaian
jaminan, menyususn laporan analisa pinjaman, menyususn laporan
penilaian jaminan dan memo komite simpan pinjam.
d. Kemudian jika disetujui maka customer service membuat file simpan
pinjam dan menyerahkannya kepada bagian admin.
e. Kemudian admin mengajukan hasil analisa kepada komite simpan pinjam
untuk memberikan surat persetujuan penolakan secara sirkulasi.
f. Jika persetujuan penolakan tidak disetujui, maka surat persetujuan
penolakan diserahgkan kepada admin untuk menginformasikan penolakan
pengajuan simpan pinjam kepada calon anggota.
g. Jika persetujuan penolakan disetujui, maka surat persetujuan penolakan
diserahkan ke admin untuk menyampaikan surat persetujuan pengajuan
simpan pinjam kepada customer service dan disampaikan kepada calon

10
anggota, kemudian admin menyiapkan akad simpan pu njam dan
diserahkan kepada manajer untuk menandatangani akad simpan pinjam.
h. Setelah manajer menandatangani akad simpan pinjam, kemudian serah
terima jaminan kepada admin.
i. Setelah proses telah selesai, kemudian Teller melakukan pencairan dana.16

B. BAITUL MAAL WA TAMWIL (BMT)

1. Pengertian BMT

Secara harfiah/lughowi, Baitulmaal berarti rumah dana, dan baitul


tamwil berarti rumah usaha. Baitulmal berfungsi sebagai pengumpulan
dana dan men-tasyaruf-kan ubtuk kepentingan sosial, sedangkan baitul
tamwil merupakan lembaga bisnis yang bermotif keuntungan (laba). Jadi,
dalam baitul maal wa tamwil adalah lembaga yang bergerak di bidang
sosial, sekaligus juga bisnis yang mencari keuntungan. Menurut
Ensiklopedi Hukum Islam, baitulmal adalah lembaga keuangan negara
yang bertugas menerima, menyimpan, dan mendistribusikan uang negara
sesuai dengan aturan syariat.17

2. Prisip dan Ciri - Ciri BMT

 Prinsip-prinsip utama BMT, yaitu:


a. Keimanan dan ketawaan pada Allah SWT dengan
mengimplementasikan prinsip – prinsip syariah dan muamalah
islam dalam kehidupan nyata.
b. Keterpaduan (kaffah) di mana nilai – nilai spiritual berfungsi
mengarahkan dan menggerakan etika dan moral yag dinamis,
prokatif, progesif, adil dan berakhlak mulia.
c. Kekeluargaan ( koperatif)
d. Kebersamaan

16
Anggi Mawaddah dan Nur Aeni Hidayah dan Zulfiandri, “Rancang Bangun Sistem Informasi
Simpan Pinjam Mudharabah pada Koperasi Baitul Maal Wat Tamwil Ar-Rum”, Jurnal Sistem
Informasi, Vol. 4 No. 2, 2011, hal 1-6.
17
Abdul Manan, Hukum Ekonomi Syariah: Dalam Perspektif Kewenangan Peradilan Negara,
(Jakarta: Kencana, 2012), hlm 353.

11
e. Kemandirian
f. Profesionalisme
g. Istiqomah, konsisten, kontuinitas/berkelanjutan tanpa henti dan
tanpa pernah putus asa. Setelah mencapai suatu tahap, maju ke
tahap berikutnya, dan hanya kepada Allah berharap.
 Ciri – ciri utama BMT, yaitu:
a. Berorientasi bisnis, mencari laba bersama, meningkatkan
pemanfaatan ekonomi paling banyak untuk anggota dan
lingkungan.
b. Bukan lembaga sosial tetapi dapat dimanfaatkan untuk
mengefektifkan penggunaan zakat, infak, dan sedekah bagi
kesejahteraan orang banyak.
c. Ditumbuhkan dari bawah berlandaskan peran serta masyarakat di
sekitarnya.
d. Milik bersama masyarakat kecil dan bawah dari lingkungan BMT
itu sendiri, bukan milik orang seorang atau orang dari luar
masyarakat.

Di samping ciri – ciri utama di atas, BMT juga memiliki ciri – ciri khusus,
yaitu:

a. Staff dan karyawan BMT bertindak aktif, dinamis, berpandangan


produktif, tidak menunggu tetapi menjemput nasabah, baik sebagai
penyetor dana maupun sebagai penerima pembiyaan usaha.
b. Kantor dibuka dalam waktu tertentu dan ditunggu oleh sejumlah staff
terbatas, karena sebagai besar staff harus bergerak di lapangan untuk
mendapatkan nasabah penyetor dana, memonitor, dan menyupervisi usaha
nasabah.
c. BMT mengadakan pengajian rutinsecara berkala yang waktu dan
tempatnya, biasanya madrasah, masjid, atau mushola, ditentukan sesuai
kegiatan nasabah dan anggota BMT. Setelah pengajiaan biasaya
dilanjutkan dengan perbincangan bisnis dari para nasabah BMT.
d. Manajema BMT diselenggarakan secara profesional dan islami, dimana:

12
a) Administarasi keuangan, pembukuan dan prosedur ditata dan
dilaksanan dengan sistem akutansi sesuai dengan standar akutasi
Indonesia yang disesuaikan dengan prinsip – prinsip syariah.
b) Aktif, menjempu bola, berajangsna, berprakarsa, pro aktif,
menemukan masalah dengan bijak, bijaksana, yeng memegangkan
semua pihak.
c) Berfikir, bersikap dan berperilaku ahsanu amala ( servise
excellence).

Berdasarkan uraian di atas dapat dilihat bahwa tata kerja BMT


harus dirumuskan secara sederhana sehingga mudah untuk didirikan dan
ditangani oleh para nasabah yang sebagai besar berpendidikan rendah.
Aturan dan mekanisme kerjanyadibuat dengan lentur, efesiensi, dan efektif
sehingga memudahkan nasabahmemanfaatkan fasilitasnya.18

18
Andri Soemitro, Bank dan Lembaga Non Bank, (Depok: Kencana, 2009), hlm 475-476.

13
3. Struktur organisasi BMT

RAT

(Rapat Tahunan Anggota)

uu

Badan pengurus PENGURUS DEWAN PENGAWAS

Badan pengelola
MANAJER

Bagian Pembiayaan dan Bagian pemasaran


Penggalangan Dana

Bagian Bagian Bagian Bagian Bagian Bagian


Administrasi kasir Pembinaan Penghimpun Pembiayaan penanggula
dan Pembukuan anggota Dana ngan

14
4. Alur operasiona BMT

5. Penghimpunan Dana

BMT sebagai lembaga usaha bersama, dalam mengelola dana anggotanya, harus
memiliki komitmen dan integritas terhadap prinsip muamalah. Oleh karena itu, dalam
proses penghimpunan dana harus memperhitungkan dua hal penting yaitu a) asas dana
sehat dan benar, serta b) prosedur persetujuan, dokumentasi, administrasi, dan
pengawasan penghimpunan dana. Sumber penghimpunan dana harus diketahui
sumbernya. Penghimpunan dana terdiri dari:

a. Wadiah
Wadiah dapat diartikan sebagai titipan murni dari satu pihak ke pihak lain, baik
individu maupun badan hukum, yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja
apabila si penitip menghendaki.
Dalam BMT menerapkan prinsip wadiah yad dhamamah, yaitu pihak yang
dititipkan dalam hal ini BMT bertanggung jawab secara penuh atas harta yang
dititipkan dana BMT boleh memanfaatkan harta yang dititipkan tersebut. BMT
akan mendapatkan bagi hasil dari dana nasabah yang digunakan serta dapat
memberikan insentif atau bonus kepada pihak yang mempercayakan dananya.

15
Skema Wadiah

1. Barang atau uang titipan

Anggota BMT BMT

4. Beri bonus

3. Bagi Hasil

Anggota BMT

2. Pemanfaatan barang atau


uang titipan

16
b. mudharabahah

Prinsip penghimpunan dana yang kedua adalah mudharabah. Dalam prinsip ini,
penyimpan bertindak sebagai pemilik dana, sedangkan BMT bertindak sebagai pengelola
usaha.

Skema penghimpunan mudhrobahah

Simpanan Berjangka Pembiayaan

Anggota BMT Aggota


Penyimpan Pembiayaan

Bagi Hasil Pendapatan

c. Lazis

Sumber dana zakat, infaq, dan shadaqah pada BMT ini berasal dari
internal dan eksternal. Sumber internal berasal dari pegawai yang di potong zakat
dari gaji. Dan dari eksternal berasal dari nasabah yang membayar, atau bahkan
pihak luar selain nasabah. Zakat yang diterima di salurkan oleh BMT kembali ke
mustahiq zakat melalui amil zakat.

Skema lazis

internal

BMT
SUMBER DANA ZIS MUSTAHIQ

eksternal

17
d. Tabungan Pokok
Tabungan pokok dibayar hanya untuk satu kali, yaitu pada
saat seseorang akan masuk menjadi anggota KSM-BMT.
Menyangkut jumlah tabungan pokok, sama antara satu anggota
dengan anggota yang lain. Lazimnya, tabungan pokok jumlahnya
selalu lebih besar dibandingkan dengan tabungan wajib.
Menyangkut cara pembayaran tabungan pokok dapat dibayar
secara sekaligus, atau dapat diangsur sesuai dengan ketentuan yang
ada di dalam anggaran rumah tangga (ART) KSM-BMT yang
bersangkutan. Menyangkut penambahan tabungan pokok pada
waktu-waktu tertentu dapat saja dilakukan, asal didasarkan atas
kesepakatan anggota perlu dikemukakan bahwa tabungan pokok
tidak dapat diambil selama anggota belum keluar dari keanggotaan
KSM-BMT.
e. Tabungan Wajib
Yang dimaksud dengan tabungan wajib adalah tabungan
yang dibayar secara teratur oleh anggota sesuai dengan waktu-
waktu yang ditentukan (harian. bulanan, mingguan, dan lain-lain).
besarnya tabungan wajib sama untuk setiap anggota, dan
ditetapkan melalui musyawarah anggota.

18
6. Penyaluran dana jual beli

System ini merupakan suatu tata cara jual beli yang dalam pelaksanaanya BMT
mengangkat nasabah sebagai agen yang di beri kuasa melakukan pembelian atas
nama BMT, kemudia bertindak sebagai penjual dan menjual barang yang telah
dibelinya tersebut dengan ditambah mark-up.

a. Murabahah
Akad murababah digunakan untuk memfasilitasi anggota BMT dalam
memenuhi kebutuhan hidup, seperti membeli rumah, kendaraan, dan barang-
barang elektronik, barang dagangan, dan lain-lain.

1. Negosiasi dan persyaratan

2. Akad Jual
BMT Anggota

6. Bayar

5. terima

Barang dan
Dokumen
Penyuplai
3. Beli Barang 4. kirim
atau penjual

19
b. assalam

Menurut bahasa assalam ialah pendahuluan. Sementara itu, menurut


istilah bai’ as-salam ialah penjualansuatu barang dengan pesanan dan barang
tersebut masih dalam kandungan penjual.

4. kirim pesanan

Produsen atau penjual


Anggota BMT

3. Kirim dolumen

2. pesanan barang anggota 1. Negoisasi pesanan

Dan dibayar tunai dengan kriteria

BMT

20
c. istisna

Menurut bahasa, istishna ialah meminta dibuatkan. Sementara menurut


istilahialah akad jual beli dimana presiden ditugaskan untuk membuat suatu
barang (pesanan) oleh mustashni.

Anggota BMT atau


Produsen atau pembuat
pembeli

1. 1. pesan

3.Jual 2. beli

BMT

21
Prinsip Bagi hasil
a. Mudharabah
Mudharabah ialah akad kerja sama usaha antara dua pihak, dimana pemilik
dana menyediakan dana kemudia menyeahkan kepada pengelola usaha
untuk diputae sebagai usaha yang keuntunganya dibagi menurut
kesepakatan bersama.

f. Musyarakah
Menurut bahasa musyarakah berasal dari kata syirkah yang berarti
percampuran. Menurut istilah, musyarakah ialah akad kerja sama dua pihak
atau lebih untuk suatu usaha tertentu dimana masing-masing pihak
memberikan kontribusi dana dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan
resiko akan ditanggung bersama sesuai kesepakatan.

22
Skema musyarakah

Dana Dana
BMT
Investor

Proyek Usaha Bersama

Pokok + Bagi Hasil Keuntungan Pokok + Bagi Hasil

3. prinsip ijarah

BARANG

1 4

3
BMT ANGGOTA BMT
5

23
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Koperasi sendiri berasal dari bahasa Inggris yaitu co-operation yang


artinya bekerja sama. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, koperasi adalah
perserikatan yang bertujuan untuk memenuhi keperluan anggotanya dengan harga
murah. Koperasi syariah lebih dikenal dengan nama KJKS (Koperasi Jasa
Keuangan Syariah) dan UJKS (Unit Jasa Koperasi Syariah). Koperasi jasa
keuangan syariah adalah koperasi yang kegiatan usahanya bergerak di bidang
pembiayaan, investasi, dan simpanan sesuai pola bagi hasil (syariah). Koperasi
syariah didirikan untuk meningkatkan kesejahteraan bersama antara anggota
koperasi pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, serta turut membangun
tatanan perekonomian yang berbasis kerakyatan dan keadilan serta sesuai dengan
prinsip-prinsip Islam.

Baitul maal wa tamwil adalah lembaga yang bergerak di bidang sosial,


sekaligus juga bisnis yang mencari keuntungan. Menurut Ensiklopedi Hukum
Islam, baitulmal adalah lembaga keuangan negara yang bertugas menerima,
menyimpan, dan mendistribusikan uang negara sesuai dengan aturan syariat.
Salah satu fungsi BMT yaitu mengidentifikasikan, memobilisasi, mengorganisir,
mendorong dan mengembangkan potensi serta kemampuan ekonomi anggota.
Untuk hal tersebut penyaluran dana dapat dilakukan dengan cara mudharabah dan

24
DAFTAR PUSTAKA

Lindiawatie, Dhona Shahreza. 2018. "Peran koperasi syariah BMT bumi dalam
meningkatkan kualitas usaha mikro". Al-Urban. Vol. 2, No. 1. hal:2.

Manan, Abdul. 2012. “Hukum Ekonomi Syariah: Dalam Perspektif Kewenangan


Peradilan Agama”. Jakarta: Kencana.

Marlina, Ropi, Yola Yunisa Pratami. 2017. "Koperasi syariah sebagai solusi
penerapan akad syirkah yang sah". Amwaluna. Vol. 1, No. 2. hal:264-
265.

Mawaddah, Anggi. dkk. 2011. “Rancang Bangun Sistem Informasi Simpan


Pinjam Mudharabah pada Koperasi Baitul Maal Wat Tamwil Ar-Rum”.
Jurnal Sistem Informasi. Vol. 4, No. 2. Hal: 1-6.

Soemitra, Andri. 2009. Bank dan Lembaga Non Bank. Depok: Kencana.

Sofiani,Triana. 2014. "Kontruksi norma hukum koperasi syariah dalam kerangka


sistem hukum koperasi nasional". Jurnal Hukum Islam. Vol. 12 Edisi
Desember. hal:136.

Wahid, Nazaruddin A. 2012. "Wahana kajian hukum islam dan pranata sosial".
Media Syari'ah. Vol. 14, No. 1. hal:41-45, 51-55 & 60.

25