Anda di halaman 1dari 22

BAB I

LATAR BELAKANG

Kehamilan merupakan anugerah istimewa yang diberikan Tuhan untuk


wanita. Dalam perjalanan kehamilannya, wanita akan mengalami perubahan
terutama pada fisik dan psikologisnya. Perubahan pada ibu hamil dapat
menyebabkan ketidaknyamanan ibu hamil. Ketidaknyamanan tersebut dapat
berupa mual muntah, nyeri punggung, sering miksi, kecemasan, oedema, dan
sesak nafas.1

Mual muntah terjadi pada 80% pada ibu hamil, mual muntah yang tidak
segera diatasi akan menimbulkan gejala yang lebih parah seperti dehidrasi berat
dan ketidakseimbangan elektrolit yang biasa disebut hiperemesis gravidarum. 2
Hiperemesis gravidarum membutuhkan perawatan dan monitor dokter dan
petugas kesehatan lain di rumah sakit.

Selain mual dan muntah, ketidaknyamanan yang sering dikeluhkan ibu


hamil adalah nyeri punggung. Nyeri punggung pada ibu hamil dirasakan oleh ibu
hamil trimester 3. Hal ini dikarenakan hipertropi dan peregangan ligamentum
selama kehamilan, penambahan berat badan, fisiologi dan lengkungan tulang
belakang ibu hamil yang menyebabkan perubahan postur tubuh, dan uterus yang
membesar memperparah derajat lordosis ibu hamil.3–5 Nyeri punggung pada ibu
hamil menurunkan mobilitas yang menghambat aktifitas seperti mengendarai
kendaraan, merawat anak dan mempengaruhi pekerjaan ibu, insomnia yang
menyebabkan keletihan dan iritabilitas.6 Kejadian nyeri punggung meningkat
seiring dengan bertambahnya usia kehamilan.7

Bertambahnya usia kehamilan juga menyebabkan kecemasan pada ibu


hamil terutama menjelang persalinan. Ibu cenderung merasa cemas dengan
kehamilannya, merasa gelisah, dan takut menghadapi persalinan, mengingat
ketidaktahuan menjadi faktor penunjang terjadinya kecemasan. Sedangkan ibu
yang pernah hamil sebelumnya (multigravida), mungkin kecemasan berhubungan
dengan pengalaman masa lalu yang pernah dialaminya.8

Penelitian yang dilakuakan oleh Danuatmaja dan Meiliasari menyatakan


bahwa kecemasan menimbulkan rasa nyeri yang mengakibatkan menurunnya
kontraksi uterus, sehingga persalinan akan bertambah lama.9 Kecemasan sangat
mengganggu homeostasis dan fungsi individu, karena itu perlu segera dihilangkan
dengan berbagai macam cara penyesuaian.10

Salah satu cara untuk mengurangi ketidaknyamanan ibu hamil yang aman
adalah aromaterapi. Aromaterapi merupakan salah satu pelayanan holistik yang
meliputi penanganan fisik, psikis, dan jiwa. Aromaterapi menggunakan minyak
atsiri yang dapat langsung mempengaruhi tubuh serta memiliki efek menenangkan
sehingga digunakan untuk terapi kesejahteraan emosi dan mental. Penggunaan
aromaterapi juga mengurangi pemberian farmakologi atau obat-obatan pada ibu
hamil, sehingga mengurangi terjadinya efek negatif yang ditimbulkan dari obat.
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kehamilan
1. Pengertian
Kehamilan didefinisikan sebagai fertilitas atau penyatuan dari
spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implementasi
hingga lahirnya bayi.11 Lama kehamilan normal diperkirakan kurang lebih
280 hari atau 40 minggu atau 10 bulan, berdasarkan perputaran bulan atau
lunar, atau 9 bulan sejak hari pertama haid.12

Kehamilan merupakan proses mata rantai yang berkesinambungan


yang terdiri atas ; (1) ovulasi; (2) migrasi spermatozoa dan ovum; (3)
nidasi (implementasi) pada uterus; (4) pembentukan plasenta; serta (5)
pertumbuhan dan perkembangan hasil konsepsi sampai cukup bulan
(aterm).13

2. Ketidaknyamanan Selama Kehamilan


Proses kehamilan akan menimbulkan perubahan fisik dan psikologis
yang sering kali menimbulkan ketidaknyamanan selama kehamilan.
Beberapa ketidaknyamanan yang sering dan menganggu selama kehamilan
adalah sebagai berikut :

a. Mual muntah
Pada masa awal kehamilan, biasanya ibu merasa tidak nyaman
dengan adanya rasa mual dan muntah karena pengaruh perubahan
hormon pada sistem pencernaan. Gejala ini muncul karena adanya
perubahan hormon selama kehamilan (hormon hCG (human chorionic
gonadotropin), progesterone dan estrogen), penurunan tekanan sfingter
esofagus bawah, penurunan motilitas lambung, efek mekanik uterus
gravid hingga faktor psikologis.14
b. Nyeri Pinggang
Nyeri pinggang pada kehamilan terjadi karena pertumbuhan
uterus yang sejalan dengan perkembangan kehamilan mengakibatkan
teregangnya ligamen penopang yang ibu rasakan dengan sangat
nyeri.15 Selain itu nyeri punggung juga dikarenakan perubahan postur
tubuh seperti membesarnya perut dan payudara akibat penambahan
beban pada tubuh menyembabkan kondisi lordosis, selain itu juga
adanya perubahan hormon Esterogen akan merangsang pengeluaran
hormon relaksin yang menyebabkan relaksasi dan peningkatan
mobilitas sendi-sendi panggul (simpisis pubis, sakroiliaka dan
sakrokoksigeal) dengan derajat bervariasi sehingga menyebabkan nyeri
dan kesulitan dalam berjalan.16

c. Stress
Stres selama kehamilan dapat menyebabkan depresi, peningkatan
risiko kelahiran premature, dan bayi berat lahir rendah. Hormon stres,
yang ditransmisikan melalui plasenta, dapat menyebabkan efek
neurologis pada janin dan neonatus. Oleh karena itu, penting untuk
mengurangi stres pada wanita hamil.17

3. Penanganan
Beberapa penanganan yang dapat dilakukan untuk mengatasi
ketidaknyamanan selama kehamilan adalah salah satunya dengan metode
komplementer. Beberapa metode komplementer yang digunakan dalam
pelayanan kebidanan adalah sebagai berikut :

a. Yoga
b. Akupuntur
c. Hipnoterapi
d. Massage
e. Aromaterapi
Salah satu metode komplenter yang relatif aman digunakan untuk
ibu hamil dalam mengatasi ketidaknyaman selama kehamilan adalah
aromaterapi

B. Aromaterapi
1. Pengertian
Aromaterapi dapat didefinisikan dengan penggunaan minyak atsiri
(esensial) untuk tujuan terapeutik yang mencakup pikiran, tubuh, dan jiwa.
Secara luas definisi aromaterapi disebut sebagai salah satu dari praktik
pelayanan kesehatan holistik. Menurut The National Cancer Institute
Amerika Serikat, aromaterapi adalah metode terapi dengan menggunakan
minyak atsiri dari bunga, tumbuhan, maupun pohon yang bertujuan untuk
peningkatan fisik, emosional, dan kesejahteraan spiritual. Minyak atsiri
dapat ditemukan di bunga, daun, batang, kulit kayu, akar, biji, damar, atau
kulit buah.18
Aromaterapi merupakan salah satu pelayanan holistik yaitu
pelayanan yang memperhatikan seluruh aspek baik fisik, pikiran dan
spritual. Secara fisik, aromaterapi menggunakan minyak atsiri yang
dioleskan ke tubuh dapat langsung mempengaruhi kulit, otot, sendi hingga
limfa. Minyak atsiri juga memiliki efek menenangkan sehingga digunakan
untuk terapi kesejahteraan emosi dan mental. Walaupun demikian dalam
konteks kehamilan, persalinan, hingga nifas, semua terapi harus saling
melengkapi sesuai dengan standar pelayanan. Ketika bidan atau tenaga
kesehatan lainnya menggunakan metode komplementer dengan
aromaterapi yang diterapkan pada kehamilan, bersalin, dan atau nifas
normal hal tersebut haruslah sudah benar – benar terintegrasi dengan
standar pelayanan maupun pengobatan.18
2. Sejarah
Aromaterapi dikembangkan oleh para dokter dan kimiawan muslim
sejak ditemukan teknik penyulingan/destilasi minyak esensial untuk
pengobatan oleh Ibnu Sina (Avicenna) pada abad ke 7 masehi.19
Aromaterapi sempat ditinggalkan ketika ilmu kedokteran mulai
berkembang pesat, namun kemudian pada tahun 1928 atas jasa Gattefosse,
seorang ahli kimia berkebangsaan Perancis yang kemudian
mempopulerkan kembali aromaterapi lewat bukunya yang berjudul Aroma
Therapie.20
Di Indonesia sendiri sebelum merambah ke bidang kesehatan,
awalnya aromaterapi lebih diperuntukan dalam bidang kecantikan.
Aromaterapi dipopulerkan oleh beberapa ahli penata kecantikan Indonesia
setelah menimba pengalaman di Eropa pada acara post XXXV Cidesco
World Congress Aromatherapy Course pada tahun 1981 di Wina , Austria
dan terus berkembang hingga saat ini dan banyak diteliti dalam bidang
kesehatan.20
3. Cara Kerja
Aktivitas farmakologis dimulai ketika minyak atsiri masuk ke dalam
tubuh melalui penciuman, pernapasan, pencernaan, ataupun kulit. Ketika
molekul minyak atsiri mencapai pernafasan dan sistem saraf maka hampir
seluruh tubuh akan berdampak walau dengan cara apapun minyak atsiri
tersebut diberikan. Namun tentu saja derajat penyerapannya akan berbeda
tergantung metode pemberian yang dilakukan.18
Ukuran molekul dari minyak atsiri sangat kecil sehingga dapat
dengan mudah menembus kulit dan masuk ke dalam aliran darah.
Diperlukan waktu sekian detik hingga dua jam bagi minyak atsiri untuk
memasuki kulit. Dalam waktu empat jam racun dapat keluar dari tubuh
melalui urin, keringat, dan pembuangan lain.21
Setiap jenis minyak atsiri memiliki molekul yang berbeda yang
bertindak sebagai stimulan penciuman ketika dihirup. Proses penciuman
sangat mempengaruhi impuls atau rangsangan yang akan dikirim ke otak.
Ketika hidung menghirup sesuatu, impuls akan dikirim ke otak dan
mencapai Amigdala dan Hippocampus. Amigdala berfungsi untuk
mengatur respon emosional sedangkan hippocampus berfungsi untuk
membentuk memori dan memanggil kembali memori yang disimpan.
Hippocampus dan amigdala adalah bagian dari sistem limbik di otak.
Sistem limbik berfungsi untuk mengatur penciuman, emosi,
motivasi, perilaku, dan memori jangka panjang serta merupakan tempat
penyimpanan jutaan bau yang diingat. Ketika sistem limbik berinteraksi
dengan korteks serebral, maka hal tersebut akan berkontribusi langsung ke
bagian-bagian otak yang mengendalikan detak jantung, tekanan darah,
pernapasan, tingkat stres, dan hormon. Meskipun inhalasi minyak atsiri
dianggap mempengaruhi pikiran dan tubuh melalui proses penciuman,
beberapa molekul dari minyak atsiri tertentu yang dihirup juga dapat
masuk ke paru-paru dan mengatur sistem pernapasan, bahkan beberapa
molekul juga dapat diserap dalam sistem peredaran darah.18
4. Keunggulan
Aromaterapi merupakan salah satu diantara metode pengobatan
kuno yang masih bertahan hingga kini. Metode pengobatan ini sudah
berlangsung turun temurun, sehingga wajar jika ketertarikan dan respon
masyarakat akan aromaterapi menjadi semakin besar. Meskipun metode
yang digunakan sederhana, namun cara terapi ini memiliki beberapa
keunggulan dan kelebihan dibandingkan metode penyembuhan lainnya,
antara lain:
a. Biaya yang dikeluarkan relatif murah
b. Bisa dilakukan dalam beragai tempat dan keadaan
c. Tidak mengganggu aktifitas yang bersangkutan
d. Dapat menimbulkan rasa senang pada orang lain
e. Cara pemakaiannya tergolong praktis dan efisien
f. Efek zat yang ditimbulkan tergolong cukup aman bagi tubuh.20
5. Metode Penggunaan
Dalam melakukan pengobatan dengan aromaterapi, tidak hanya
menyesuaikan jenis wewangian dengan jenis penyakit yang diderita
namun juga memilih metode yang paling sesuai. Beberapa metode
penggunaan aromaterapi diantaranya :
a. Inhalasi
Inhalasi merupakan cara terapi aroma yang paling simpel dan
cepat. Inhalasi juga merupakan metode yang paling tua dalam
penggunaan aromaterapi. Aromaterapi masuk dari luar tubuh ke
dalam tubuh lewat pernafasan dalam satu tahap yang mudah,
melewati paru-paru dialirkan ke pembuluh darah melalui alveoli.22
Gambar 1. Inhalasi
aromaterapi dengan
humidifier
b. Campuran untuk mandi
Metode ini merupakan salah satu metode yang paling populer.
Metode ini digunakan sebagai penenang, relaksasi, pendinginan, dan
pemanasan. Digunakan untuk menghilangkan nyeri otot dan masalah
kulit, juga dapat menurunkan stress. Cara pemakaian yang bermanfaat
dengan melibatkan air dan inhalasi adalah penambahan 6-8 tetes
minyak esensial ke dalam air untuk berendam setelah air tersebut
diatur suhunya dengan benar. Minyak esensial tidak sepenuhnya larut
di dalam air, kita dapat mencampurkannya dengan mudah lewat
pengocokan air kuat-kuat.23

Gambar 2. Mandi dengan aromaterapi


c. Pemijatan
Terapi aroma apabila digunakan melalui pijat dilakukan dengan
langsung mengoleskan minyak terapi aroma yang telah dipilih di atas
kulit. Sebelum menggunakan minyak tersebut perlu diperhatikan
adanya kontraindikasi maupun adanya riwayat alergi yang dimiliki
pasien. Terapi aroma dengan cara pijat merupakan cara yang sangat
digemari untuk menghilangkan rasa lelah pada tubuh, memperbaiki
sirkulasi darah dan merangsang tubuh untuk mengeluarkan racun
serta meningkatkan kesehatan pikiran. Dalam penggunaannya
dibutuhkan dua tetes esensial oil ditambah 1 ml minyak pijat.23
Gambar 3. Pijat dengan menggunakan minyak atsiri bahan dasar aromaterapi

d. Diminum
Pedoman pemakaian yang aman dengan dosis maksimal adalah
tiga tetes per gelas sebanyak tiga kali sehari selama tiga minggu.
Meskipun cara ini tidak berbahaya jika dilakukan dengan benar,
pemakaian terus menerus dalam waktu yang lama akan menumpuk di
hati dan menyebabkan keracunan. Terutama pada jenis minyak yang
kuat. Sehingga setelah pemberian tiga minggu, pasien harus berhenti
menggunakan minyak esensial untuk memberikan waktu pada hati
agar memperoleh kesempatan menghilangkan bahan-bahan yang
toksik.23 Keadaan pasien dan jenis minyak yang digunakan juga harus
dipertimbangkan.

Gambar 4.
Minyak atsiri
yang ditetes untuk
diminum

6. Jenis Aromaterapi
Beberapa macam bahan aromaterapi dan fugsinya19 :

a. Avocado : Berasal dari ekstrak biji alpukat berfungsi sebagai filter


terhadap kulit dari pengaruh sinar matahari karena kaya akan vitamin
A, B, protein, asam lemak, dan lecitin bagus untuk semua jenis kulit
terutama kulit yang kering dan dehidrasi.
b. Basil : Mengatasi sakit perut, kejang otot dan pegal linu
c. Chamomile Roma : Menenangkan emosi marah, sebagai anti
imflamantori pada masalah kulit seperti jerawat, alergi, luka bakar,
peradangan kulit.
d. Clove/Cengkeh : Mengurangi sakit gigi, diare, kudis, dan penyakit
kulit lain.
e. Cypress : Mengatasi tekanan darah yang rendah, wasir, konstipasi,
mengurangi gejala pengeluaran keringat yang berlebihan.
f. Eucalyptus : Mengurangi gejala gangguan pernafasan, sebagai anti
virus dan diuretik, dapat menghangatkan dan medinginkan melalui
kompres pada arthritis dan mengurangi nyeri otot.
g. Ginger : Melindungi tubuh dari kedinginan, demam, mual-mual, anti
implamatori pada saluran perkencingan, membasmi parasit pada usus
dan menormalkan tekanan darah.
h. Geranium : Efektif sebagai penyeimbang pada gangguan emosional,
penyakit kulit seperti jerawat, gangguan menstruasi dan menopause.
i. Grafefruit : Banyak mengandung vitamin C, efektif mengatasi flu,
jerawat, memperbaiki jaringan, meningkatkan emosi/ mengurangi
depsresi.
j. Lavender : Secara alami sebagai anti bakteri, jamur, virus, seperti
infeksi saluran pernafasan, saluran reproduksi, gigitan serangga,
menrunan amarah, cemas, depresi, meningkatkan seimbangan jiwa
dan raga (memberikan rasa nyaman, tenang, sedatif).
k. Lemon : Sebagai pembersih dan tonik, penurun panas, meningkatkan
sistem imun pada kondisi tubuh yang demam, anti oksidan, antiseptik,
mencegah hipertensi, menurunkan kemarahan.
l. Jasmine (melati) : Pembangkit gairah cinta, baik untuk kesuburan
wanita, mengobati impotensi, anti depresi, sakit saat menstruasi, pegal
linu, dan radang selaput lendir.
m. Peppermint : Mengurangi mual, perut bergas, menghaluskan dan
menyegarkan kulit, menyegarkan saluran pernafasan, pikiran,
menghindarkan tikus dan serangga.
7. Kontraindikasi
Aromaterapi adalah terapi komplementer yang sangat aman jika
digunakan sesuai dengan pedoman yang telah diuji. Sebagian besar
minyak atsiri yang digunakan secara klinis sebagai bahan dalam
aromaterapi telah diberikan status Generally Regarded as Safe (GRASS)
atau yang berarti secara umum telah dianggap aman. Namun, bidan atau
perawat tidak boleh memberikan minyak atsiri secara oral, karena ini di
luar ruang lingkup praktik.18
Minyak atsiri bersifat sangat pekat dan termasuk senyawa keras,
sehingga dalam pengunaanya beberapa jenis minyak atsiri harus
diencerkan dengan pelarut. Beberapa jenis minyak atsiri juga diketahui
bersifat karsinogenik dan dapat berpotensi mengurangi efek obat. Pada
pasien yang menerima kemoterapi perlu perawatan tambahan karena
dapat mempengaruhi tingkat penyerapan dan pengobatan kanker.
Beberapa faktor yang mempengaruhi keselamatan penggunaan dan
kualitas aromaterapi adalah sebagai berikut18:
a. Individu (alasan menggunakan minyak atsiri, pengetahuan, status
kesehatan, penggunaan komplenter lain secara bersamaan, dan obat-
obatan konvensional)
b. Praktisi (pengetahuan, kompetensi)
c. Minyak atsiri dan zat pelarut (label, kualitas, kemurnian, penyimpanan
kondisi, dan proses pembuatan)
d. Metode aplikasi (penggunaan internal atau eksternal)
e. Lingkungan (tempat aromaterapi dibuat dan disimpan )

C. Penelitian Aromaterapi
Beberapa penelitian terbukti bahwa aromaterapi dapat mengurangi
berbagai keluhan selama kehamilan, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. The Effect Of Topical Rose Damasce (Rose) Oil On Pregnancy-Related


Low Back Pain : A Randomized Controlled Clinical Trial
Oleh : Shirazi M, Mohebitabar S, Bioos S, Yekaninejad M.S, Rahimi R, Shahpiri Z,
Malekshahi F, Nejatbakhsh F. : Journal of Evidence Based Complementary and
24
Alternative Medicine. 2016.
Penelitian dilakukan untuk melihat pengaruh minyak mawar
terhadap nyeri punggung selama kehamilan. Penelitian dilakukan pada 120
ibu hamil dengan usia kehamilan 12-33 minggu yang memiliki keluhan
nyeri pinggang tanpa adanya komplikasi kehamilan di unit Departemen
Obstetri Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Kesehatan Teheran.
120 Ibu hamil kemudian dibagi menjadi tiga grup, masing-masing 40 orang.
Grup I diberikan intervensi minyak rose ditambah minyak almond sebagai
minyak pelarut, grup II hanya mendapat intervensi minyak pelarut almond
dan grup III tidak mendapat intervensi apapun. Grup I dan II masing-masing
diberikan tujuh tetes oil secara topikal untuk 100 cm2 pada bagian kulit yang
nyeri, tanpa pemijatan, dua sehari selama empat minggu.

Intensitas nyeri punggung diukur dengan Visual Analogue Scale


(VAS) untuk mengukur intensitas nyeri dan Roland – Morris Disability
Questionaires (RMDQ) untuk mengetahui gangguan fisik dan dampak nyeri
pinggang pada kegiatan sehari-hari. Hasil penelitian dengan VAS
menunjukan pada grup I dan II terjadi penurunan intensitas nyeri yang
signifikan dengan hasil skor awal pada grup I adalah 5,86 turun menjadi
3,51 dengan ρ value = 0.001 dan skor VAS grup II awalnya 5,18 turun
menjadi 3,95 dengan ρ value = 0.001, sedangkan pada grup III (kelompok
kontrol) terjadi peningkatan intensitas nyeri dari 5,05 meningkat menjadi
6,10 ρ value = 0 .001. Berdasarkan hasil RMDQ terdapat penurunan skor
RMDQ pada grup I dan II. Pada grup I skor awal 9,97 turun menjadi 6,2571
dengan ρ value =0.001 dan pada grup II skor awal 8,15 turun menjadi 4,76
dengan ρ value= 0.001). Sedangkan skor RMDQ pada grup III mengalami
peningkatan 6,00 menjadi 7,07 dengan ρ value = 0.001, sehingga dapat
disimpulkan penggunaan minyak mawar dapat menurunkan intensitas nyeri
dan meningkatkan kemampuan fungsional ibu hamil dengan keluhan nyeri
pinggang.

Mekanisme minyak mawar untuk menghilangkan rasa nyeri masih


belum dapat dijelaskan secara jelas, namun mekanisme yang mungkin
terjadi adalah minyak mawar merangsang indera penciuman sehingga
mengurangi aktifitas simpatik dan meningkatkan aktifitas parasimpatik. Hal
ini menyebabkan terjadinya pelepasan endorfin yang kemudian
mengakibatkan penurunan ambang nyeri. Penggunaan minyak mawar
sebagai pengurang rasa nyeri juga populer digunakan pada pengobatan
tradisional Persia. Minyak mawar menunjukkan efek analgesi dan anti
inflamasi pada penelitian dengan uji coba hewan.

2. Effectiveness Of Lavender Aromatherapy And Classical Music Therapy In


Lowering Blood Pressure In Pregnant Women With Hypertension
Oleh : Sri Maisil, Suryono, Melyana Nurul Widyawati, Ari Suwondo, Suryati
Kusworowulan : Belitung Nursing Jurnal : 201725

Penelitian dilakukan untuk melihat pengaruh aromaterapi lavender


dan musik klasik terhadap hipertensi pada ibu hamil. Penelitian dilakukan
pada ibu hamil dengan usia kehamilan > 20 minggu dan tidak mengikuti
pengobatan alternatif lain. Total sampel sebanyak 52 orang yang dibagi ke
dalam empat kelompok, yaitu kelompok I diberikan intervensi
aromaterapi Lavender sebanyak lima tetes yang dicampurkan dengan 20
ml air dan dimasukkan dalam diffuser uap yang diberikan di rumah selama
20 menit, kelompok II dengan intervensi musik klasik Mozart selama 20
menit, kelompok III diberikan kombinasi aromaterapi dan terapi musik
klasik, dan Kelompok IV adalah kelompok kontrol yang menerima
layanan standar untuk wanita hamil.

Hasil penelitian menunjukan semua kelompok mengalami penurunan


tekanan darah sistolik yang signifikan setelah diberikan intervensi, namun
penurunan paling signifikan terjadi pada kelompok kombinasi. Penurunan
rata-rata sistolik pada kelompok lavender adalah 5,77 mmHg, kelompok
musik 7,23 mmHg, kelompok kombinasi 9,54 mmHg, dan kelompok
kontrol 3,67 mmHg, dan penurunan rata-rata tekanan darah diastolik pada
kelompok lavender adalah 2,77 mmHg, kelompok musik 0,61 mmHg,
kelompok kombinasi 8,23 mmHg, dan kelompok kontrol 3,42 mmHg. Hal
tersebut menyimpulkan bahwa aromaterapi yang dikombinasikan dengan
metode komplementer lain dapat memberikan hasil yang lebih baik.
Menghirup aromaterapi lavender akan meningkatkan gelombang alfa
di otak, gelombang ini menciptakan perasaan rileks yang dapat
menyebabkan penurunan tekanan darah . Selain itu, aromaterapi juga dapat
meningkatkan kualitas tidur. Aromaterapi memiliki efek langsung pada
otak manusia dengan cara ditangkap oleh reseptor di hidung, kemudian
mengirimkan informasi lebih lanjut ke area otak yang mengontrol dan
berhubungan dengan suasana hati, emosi, dan memori. Setelah itu
informasi diberikan kepada hipotalamus yang merupakan pengatur sistem
internal tubuh, termasuk sistem pengaturan suhu tubuh dan detak jantung.

3. Physical And Psychologic Effects Of Aromatherapy Inhalation On


Pregnant Women: A Randomized Controlled Trial
Oleh : Igarashi Toshiko : Journal of Alternative and Complementary Medicine. 2012.17

Penelitian dilakukan untuk melihat pengaruh aromaterapi terhadap


fisik dan psikis ibu hamil. Penelitian dilakukan pada 13 ibu hamil dengan
usia kehamilan 28 minggu dan tanpa komplikasi kehamilan di Departemen
Kebidanan dan Ginekologi Rumah Sakit Kyoto, Jepang. Kemudian
responden dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok aromaterapi
sebanyak tujuh orang dengan aromaterapi yang diberikan yaitu lavender,
petitgrain, dan bargamon, sebanyak lima tetes aromaterapi dimasukan
pada diffuser uap dan diberikan selama 30 menit. Sedangkan kelompok
kontrol sebanyak enam orang tidak diberi perlakuan hanya istirahat
dengan waktu yang sama sesuai kelompok intervensi.

Hasil diukur dengan POMS (Profil Of Mood States) yaitu


kuesioner yang berisi 30 item untuk mengukur keadaan perasaan dengan
enam skala. Skala Tension-Anxiety (T-A) menunjukkan bahwa semakin
tinggi skor, semakin tegang subjeknya. Skala Depression-Dejection (D)
menunjukkan bahwa semakin tinggi skor, semakin percaya diri peserta.
Skala Anger-Permusuhan (A-H) menunjukkan bahwa semakin tinggi skor,
semakin banyak kemarahan yang dirasakan subjek. Skala Vigor (V) adalah
item terbalik dan menunjukkan bahwa semakin rendah skor, semakin
banyak energi yang hilang. Skala Fatigue (F) menunjukkan bahwa
semakin tinggi skor, semakin banyak kelelahan yang dirasakan peserta.
Skala Confused (C) menunjukkan bahwa semakin tinggi skor, semakin
bingung peserta dan semakin sulit bagi peserta untuk menertibkan pikiran
mereka.

Pada kelompok aromaterapi, nilai rata-rata TA yang menunjukkan


tingkat ketegangan menurun dari 3 menjadi 1 (T = -10,5, p <0,05) dan AH
yang menunjukkan perasaan marah secara signifikan menurun dari 2 ke 0
(T = -10,5, p <0,05). Namun berdasarkan pada perbandingan antara
kelompok berkenaan dengan skala F tidak ada perbedaan skor yang
signifikan. Selain pengaruh aromaterapi terhadap fisik ibu hamil dilakukan
dengan pengukuran jumlah aktivitas saraf simpatis (LF/HF) dan saraf
parasimpatis (HF) yang dinilai melalui pengukuran detak jantung sebagai
indikator fisiologis namun berdasarkan hasil tidak ada perbedaan yang
signifikan terhadap dua kelompok, hal ini bisa jadi karena ukuran sampel
yang belum cukup untuk merepresentasikan hasil penelitian.

Aromaterapi yang digunakan mengandung linalool dan lynalil


yang dapat meningkatkan komponen parasimpatis sehingga menyebabkan
perubahan dalam gelombang otak dan aktivitas saraf otonom. Aromaterapi
merangsang kerja endorfin pada kelenjar pituitary. Beta endorfin memiliki
efek positif pada tubuh dan pikiran, dimana saat beta endorfin dilepaskan
akan menghasilkan efek afrodisiak yang mampu mengurangi stress dan
rasa sakit.

4. The effect of aromatherapy inhalation on nausea and vomiting in early


pregnancy: A pilot Randomizzed Controlled Trial.
Oleh : Ghani, R., et al : Journal Of Natural Sciences Research Vol 3 No.6. 2013.26

Penelitian dilakukan untuk melihat pengaruh inhalasi aromaterapi


terhadap mual dan muntal pada awal kehamilan. Penelitian terdiri dari
kelompok sampel 101 ibu hamil usia kehamilan 6-12 minggu pada bulan
September 2012 sampai Januari 2013 di Rumah Sakit Pendidikan Bersalin
Abha-University King Khalid, Arab Saudi. Sampel penelitian ini adalah
ibu hamil yang mengalami ketidaknyamanan kehamilan mual dan muntah
yang dibagi dalam dua kelompok, 51 orang kelompok kontrol dan 50
orang kelompok intervensi yang dipilih secara acak. Pada kelompok
intervensi diberikan aromaterapi kombinasi antara minyak lavender dan
minyak peppermint, yang diberikan dengan metode inhalasi dengan
memanaskan lima tetes terlarut yaitu empat tetes minyak lavender, satu
tetes minyak peppermint dan satu sendok besar berisi air menggunakan oil
burner dengan frekuensi dua kali sehari selama tiga hari sebelum tidur
siang atau tidur malam selama 20 menit. Pada kelompok kontrol diberikan
pengaturan posisi tidur lateral kiri dengan ruangan berventilasi.
Evaluasi diukur dengan Rode’s score untuk menilai mual dan
muntah, Visual Analogue Mood Scale untuk menilai suasana hati, The
Fatigue Severity Scale untuk mengevaluasi dampak kelelahan aktivitas
sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi antara minyak
lavender dan minyak peppermint signifikan menurunkan mual dan
muntah dengan total Rode’s Score dengan P = 0,0001, Mood score dengan
p = 0,0001 , Fatigue severity score dengan p = 0,0001. Dapat disimpulkan
bahwa inhalasi dari percampuran minyak lavender dan minyak peppermint
dapat menjadi alternatif untuk mengatasi mual dan muntah pada masa
awal kehamilan dengan meminimalkan keparahan mual, dan
meningkatkan energi dan mengurangi kelelahan.
Aromaterapi kombinasi dari minyak lavender dan peppermint
mengakibatkan molekul-molekul berjalan ke saluran penciuman sistem
limbik, kemudian mengirimkan input ke sistem daraf pusat, hal tersebut
akan menghasilkan keluaran dengan pengenalan bau dan menimbulkan
ingatan yang bersifat menenangkan dan menyenangkan. Dengan itu
mengakibatkan pengurangan terhadap perubahan mual dan muntah pada
ibu hamil.

5. The Effect of Lemon Inhalation Aromatherapy on Nausea and Vomiting of


Pregnancy: A Double-Blinded, Randomized, Controlled Clinical Trial
Oleh : Parisa Yavari kia, Farzaneh Safajou, Mahnaz Shahnazi, Hossein Nazemiyeh :
Iran Red Crescent Medical Journal : 2014.27
Penelitian dilakukan untuk melihat pengaruh aromaterapi lemon
terhadap mual dan muntah dalam kehamilan. Penelitian dilakukan pada
100 ibu hamil dengan mual dan muntah di Pusat Kesehatan Medis Kota
Birjand, Iran. Responden penelitian ini adalah ibu hamil yang mengalami
mual ringan hingga sedang, dengan atau tanpa muntah dan usia kehamilan
antara 6 sampai 16 minggu, kehamilan tunggal (bukan gemelli), tanpa
tanda-tanda aborsi yang mengancam dan penyakit lainnya yang memiliki
gejala mual dan muntah dan ibu hamil tidak menggunakan obat antiemetik
dalam 24 jam terakhir. Sampel dibagi dalam dua kelompok masing –
masing berjumlah 50 orang. Kelompok intervesi diberikan aromaterapi
lemon yang dicampur minyak almond sebagai pelarut, masing – masing
10 cc per botol dan ditetesi pada kapas sebanyak dua tetes dihirup berjarak
tiga sentimeter dari hidung, dihirup sebanyak tiga kali setiap lima menit
selama lima hari. Sedangkan kelompok kontrol diberikan placebo berupa
minyak pelarut almond oil dengan wadah yang sama dengan kelompok
intervensi dan ukuran kapas yang sama.
Evaluasi menggunakan kuesioner PUQE (Pregnancy Unique
Quantification of Emesis and Nausea)-24. Kuesioner terdiri dari tiga
pertanyaan yang mengukur durasi mual dan frekuensi muntah serta
muntah dalam 24 jam terakhir melalui skala Likert lima poin. Uji statitik
menggunakan ANCOVA 2 jalur dengan variabel perancu yang dikontrol
adalah graviditas. Hasil penelitian menunjukan ada perbedaan skor
signifikan pada hari ke dua dan ke empat dengan ρ value = 0.017 pada hari
pertama dan ρ value = 0.039 pada hari keempat. Penurunan skor mual dan
muntal lebih tinggi pada kelompok intervensi. Hal tersebut menyimpulkan
bahwa aromaterapi lemon efektif menurunkan mual dan muntah pada ibu
hamil.
Aromaterapi lemon memiliki sensifitas aroma yang tinggi dan sangat
efektif. Saat dihirup, aromaterapi lemon memancarkan molekul bau
sehingga sel-sel reseptor di hidung akan mengirim impuls langsung ke
daerah penciuman otak. Daerah tersebut berkaitan erat dengan sistem lain
yang mengontrol ingatan, emosi, hormon, seks, dan detak jantung. Akibat
dari adanya impuls tersebut akan merangsang keluarnya hormon yang
bersifat menenangkan atau menggembirakan. Sehingga terdapat
perubahan-perubahan fisik dan mental yang positif pada ibu hamil dengan
mual dan muntah.
BAB III

A. Simpulan
Aromaterapi merupakan pelayanan komplementer yang terbuat dari
bahan alami sehingga aman untuk ibu hamil. Efek kerja yang cepat pada
aromaterapi mengurangi keluhan-keluhan secara cepat pula pada ibu hamil.
Penggunaan aromaterapi untuk mengatasi ketidaknyamanan kehamilan
banyak dilakukan dengan metode inhalasi. Proses penciuman sangat
mempengaruhi impuls atau rangsangan yang akan dikirim ke otak. Sistem
limbik berinteraksi dengan korteks serebral, yang berkontribusi langsung ke
bagian-bagian otak yang mengendalikan detak jantung, tekanan darah,
pernapasan, tingkat stres, dan hormon. Sehingga dapat mengurangi
ketidaknyamanan yang dirasakan seperti nyeri punggung bawah, mual
muntah, dan stress.
Efek yang maksimal akan didapatkan jika penggunaan aromaterapi
meliputi jenis, dosis, dan metode penggunaannya disesuaikan dengan keluhan
yang dirasakan ibu hamil. Aromaterapi sangat menguntungkan bagi ibu hamil
karena tidak memiliki efek samping, bisa dilakukan di mana saja, membuat
ibu merasa nyaman, dan tidak mengganggu aktivitas.

B. Saran
Dengan mengetahui jenis-jenis, cara penggunaan, dan manfaat
aromaterapi diharapkan bidan sebagai pemberi pelayanan kepada ibu hamil
dapat memberikan terapi alternative dengan aromaterapi untuk mengatasi
ketidaknyamanan selama kehamilan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Purwaningsih, W. & Fatmawati, S. Asuhan Keperawatan Maternitas.


(Nuha Medika, 2010).

2. Einarson, T. R., Piwko, C. & Koren, G. Quantifying the global rates of


nausea and vomiting of pregnancy: a meta-analysis. J. Popul. Ther. Clin.
Pharmacol. 20, 171–183 (2013).

3. Yoo, H., SHin, D. & Song, Ch. Changes in the spinal curvature , degree of
pain , balance ability , and gait ability according to pregnancy period in
pregnant and nonpregnant women. J. Phys. Ther. Sci. 27, 279–284 (2015).

4. Schröder, G., Kundt, G., Otte, M., WendiG, D. & Schober, H. Impact of
pregnancy on back pain and body posture in women. J. Phys. Ther. Sci. 28,
1199–1207 (2016).

5. Siswosudarmo, R. & Emilia, O. Obstetri Fisiologi. (Pustaka Cendekia,


2010).

6. Robson, S. E. & Waugh, J. Patologi Pada Kehamilan: Manajemen &


Asuhan Kebidanan. (EGC, 2012).

7. Johnson, J. Y. Keperawatan Maternitas Demystified. (Rapha Publishing,


2014).

8. Pasaribu. Hubungan Paritas dan Usia Dengan Tingkat Kecemasan Ibu


Hamil Trimester III Dalam Menghadapi Persalinan Di Puskesmas Sipea-
Pea Kecamatan Sorkam Barat. J. Penelit. STIKES Nauli Husada Sibolga
(2014).

9. Pairman, S., Pincombe, J., Tracy, S. & Thorogood, C. Midwifery


Preparation for Practice. (Churchill Livingstone Australia, 2010).

10. Maramis, W. F. Ilmu Kedokteran Jiwa. (Airlangga University Press, 2010).

11. Prawirohardjo, S. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal


dan Neonatal. (PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2010).

12. Varney;, H., Kriebs;, J. M. & Gegor, C. L. Buku Ajar Asuhan Kebidanan
Edisi 4. (EGC, 2016).

13. Hidayati, R. Asuhan Keperawatan pada Kehamilan Fisiologis dan


Patologis. (Salemba Medika, 2009).

14. Firmansyah, M. A. Penatalaksanaan Gangguan Saluran Cerna dalam


Kehamilan. MEDICINUS 27, (2014).

15. Fraser, D. M. & Cooper, M. A. Buku Ajar Bidan. (EGC, 2009).

16. Widatiningsih, S. & Christina, H. Praktik Terbaik Asuhan Kehamilan.


(Trans Media, 2017).
17. Igarashi, T. Physical and Psychologic Effects of Aromatherapy. J. Altern.
Complement. Med. 19, 805–810 (2013).

18. Lindquist, R., Snyder, M. & Tracy, M. F. Complementary & Alternative


Therapies in Nursing. (Springer Publishing Company, 2014).

19. Nurgiawati, E. Terapi alternative dan Komplementer Dalam Keperawatan.


(In Media, 2015).

20. Jaelani. Aromaterapi. (Pustaka Populer Obor, 2009).

21. Sharma, S. Aroma Therapy (Terjemahan Alexander Sindoro). (Karisma


Publishing Group, 2009).

22. Agusta, A. Aroma Terapi Cara Sehat Dengan Wewangian Alami. (Penebar
Swadaya, 2009).

23. Walls, D. Herbs and Natural Therapies for Pregnancy , Birth and
Breastfeeding. Int. J. Childbirth Educ. 24, 29–38 (2009).

24. Shirazi, M. et al. The Effect of Topical Rosa damascena ( Rose ) Oil on
Pregnancy-Related Low Back Pain : A Randomized Controlled Clinical
Trial. J. Evid. Based. Complementary Altern. Med. 1–7 (2016).
doi:10.1177/2156587216654601

25. Maisi, S., Widyawati, M. N., Suwondo, A. & Kusworowulan, S.


EFFECTIVENESS OF LAVENDER AROMATHERAPY AND
CLASSICAL MUSIC THERAPY IN LOWERING BLOOD PRESSURE
IN PREGNANT. Belitung Nurs. J. 3, 750–756 (2017).

26. Ghani, R. M. A. & Ibrahim, A. T. A. The Effect of Aromatherapy Inhalation


on Nausea and Vomiting in Early Pregnancy : A Pilot Randomized
Controlled Trial. J. Nat. Sci. Res. 3, 192–205 (2013).

27. Yavari, P., Safajou, F., Shahnazi, M. & Nazemiyeh, H. The Effect of Lemon
Inhalation Aromatherapy on Nausea and Vomiting of Pregnancy : A
Double-Blinded , Randomized , Controlled Clinical Trial. Iran. Red
Crescent Med. J. 16, (2014).