Anda di halaman 1dari 6

BAB IV

PEMBAHASAN

Kelompok akan membahas tentang asuhan keperawatan pada Ny. R dengan


Diagnosa medis Hiperemesis Gravidarum di ruang Nifas 2 Rumah Sakit Ansari
Saleh Banjarmasin. Proses asuhan keperawatan yang dilakukan dimulai dari tahap
pengkajian hingga evaluasi yang telah dilaksanakan pada tanggal 14 Januari 2020
sampai tanggal 15 Januari 2020
Pembahasan dalam BAB ini juga akan dimulai dari pengkajian sampai
dengan evaluasi, sehingga dapat diketahui adanya kesenjangan antara teori dengan
pelaksanaan tindakan asuhan keperawatan dalam kasus nyata.
A. Pengkajian
Pada tahap pengkajian, Kelompok melakukan pengkajian dengan
pendekatan kepada klien, keluarga klien, perawat ruangan dan status medik
klien. Pengkajian awal dilakukan pada tanggal 14 Januari 2020, dengan
menggunakan metode observasi, wawancara, pemeriksaan fisik, dan
mempelajari status klien dan pemeriksaan penunjang. Format pengkajian yang
digunakan oleh penulis adalah format pedoman pengkajian pada masa
kehamilan. Adapun tahap tersebut dimulai dari observasi atau identifikasi,
bertanya (wawancara) dan melakukan pengkajian fisik untuk menemukan
masalah khususnya masalah ginekologi pada klien.
kelompok merasa format yang digunakan sudah mencakup seluruh aspek
secara komprehensif dan didalam format yang digunakan juga terdapat
pengkajian ginekologi yang berhubungan dengan masalah klien.
Dari hasil pengkajian pada Ny. R kelompok menemukan data Ny. R
mengalami keluhan utama mual dan muntah, tanda dan gelaja yang paling
sering dijumpai pada klien dengan Hiperemesis Gravidarum adalah mual dan
muntah terus menerus, klien tampak lemah dan sampai kesadaran menurun
Pada pengkajian Ny. R juga di dapatkan pemeriksan penunjang yang
dimiliki Ny. R berupa pemeriksaan laboratorium (darah rutin, kimia darah dan
darah lengkap) dan hal ini tidak berbeda dengan teori yang ada menurut

59
(Hazlynpote, 2013) pemeriksaan diagnostic pada hipremesis Gravidarum
meliputi ultrasonografi, pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan kadar gula
darah, analisa gas darah, urinalisis, dan pemeriksaan fungsi hepar.
Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat
perbedaan antara teori dan kasus nyata pada Ny. R begitu pula pada saat proses
pengkajian kelompok tidak mendapatkan hambatan ataupun kesulitan yang
membuat penulis tidak bisa mendapatkan data, keluarga klien cukup kooperatif
dan bisa diajak kerjasama. Sedangkan klien Ny. R juga sangat kooperatif dan
sangat terbuka tentang riwayat penyakitnya sehingga penulis dengan mudah
mendapatkan data-data untuk melengkapi pengkajian yang sesuai dengan
kondisi klien.

B. Diagnosa
Diagnosa keperawatan merupakan keputusan klinik tentang respon
individu, keluarga dan masyarakat tetang masalah kesehatan aktual atau
potensial, dimana berdasarkan pendidikan dan pengalamannya, perawat secara
akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti
untuk menjaga, menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah status
kesehatan klien (Herdman, 2015)
Dalam pembuatan diagnosa kelompok telah menyesuaikan berdasarkan
problem (masalah), etiologi (penyebab), sign/symptom (tanda dan gejala). Hal
ini sesuai dengan Yudha (2013) yang mengatakan bahwa diagnosa
keperawatan dibuat berdasarkan analisa dan interpretasi data yang diperoleh
dari pengkajian dimana seorang perawat akan menemukan masalah yang aktual
atau masalah yang mungkin terjadi (resiko) dan akan mulai menganalisa
penyebab dari masalah tersebut dan didukung oleh tanda dan gejala yang
muncul pada klien tersebut.
Pada kasus Ny. R kelompok dapat membuat diagnosa yang didapatkan
dari hasil pengkajian dan analisa data pada Ny. R yaitu didapatkan 3 diagnosa
aktual, adapun diagnosa keperawatan yang didapatkan pada kasus Ny. R, yaitu:

60
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan faktor biologis.
2. Keletihan berhubungan dengan kelesuan fisik
3. Defisit perawatan diri berhubungan dengan keletihan.
Penetapan diagnosa keperawatan prioritas yang penulis lakukan adalah
berdasarkan teori Hirarki Abraham Maslow (Hidayat & Uliyah, 2014), dimana
kebutuhan manusia yang pertama adalah kebutuhan fisiologis (Oksigenasi,
sirkulasi, nutrisi, eliminasi, aktivitas), rasa aman dan nyaman, cinta dan kasih
sayang, integritas dan aktualisasi diri.
Dalam kasus Ny. Hj. R ini penulis menemukan 2 pemenuhan kebutuhan
sesuai teori yang perlu diperhatikan secara khusus padaNy. R, yakni kebutuhan
fisiologis dan kebutuhan rasa aman dan nyaman yang tertuang dalam 3
diagnosa keperawatan. Setelah masalah ditetapkan, selanjutnya adalah
merumuskan tujuan dan kriteria hasil pencapaian asuhan keperawatan,
rasionalisme penetapan tujuan dan kriteria hasil yang penulis tetapkan adalah
sesuai dengan indikator SMART. Diharapkan hasil yang di inginkan tercapai
dan tindakan yang dilakukan tidak menyimpang dari masalah.
Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan baahwa tidak ada perbedaan
antara teori dan kasus nyata dalam menegakkan teori dan kasus nyata dalam
menegakan diagnosa keperawatan karena disesuaikan kondisi dengan batasan
karakteristik yang terdapat pada NANDA (2018). Setelah 3 diagnosa
keperawatan ditegakkan, selanjutnya dilakukan pembuatan rencana asuhan
keperawatan untuk mengatasi masalah keperawatan klien.

C. Intervensi
Dalam pembuatan rencana tindakan keperawatan kelompok membuat
rencana asuhan keperawatan disesuaikan dengan yang ada pada teori
berdasarkan kondisi klien. Rencana tindakan yang dibuat kelompok adalah
sesuai dengan keperawatan komprehensif (promotif, preventif, kuratif, dan
rehabilitative) serta perencanaan disusun dengan unsur tindakan pengkajian
mandiri, kolaboratif dan pendidikan kesehatan. (Dosen KMBI, 2016).

61
perawatan pada klien Hiperemesis Gravidarum dilakukan secara
berkesinambungan, demi meningkatkan derajat kesehatan dan kemandirian
klien dalam perawatan diri dan aktivitas. Maka oleh sebab itu yang dibuat
berdasarkan pada kenyamanan dan kemampuan pada klien dalam
meningkatkan kemandirian perawatan diri dan aktivitas klien.
Sebelum melakukan intervensi keperawatan harus ditentukan tujuan
dilakukan tindakan sehigga rencana tindakan dapat terselesaikan dengan
metode SMART yaitu: Spesifik adalah rumusan tujuan harus jelas dan khusus,
Measurable adalah tujuan harus dapat diukur, Achievable adalah tujuan harus
dapat diterima, dicapai, dan ditetapkan bersama klien, rasional adalah tujuan
harus dapat tercapai dan nyata, dan Time adalah harus ada target waktu
(Asmadi, 2014). Selanjutnya akan diuraikan rencana keperawatan dari
diagnosa yang ditegakkan dan keriteria hasil hasil berdasarkan NOC (Nursing
Outcome Clasification) yaitu tindakan khusus atau detail yang dilaakukan oleh
perawat (Wilkinson, 2015).
Pada intervensi Ny. R penulis menggunakan prinsip SMART, untuk
kriteria hasil menggunaka NOC(Nursing Outcome Clasification) dan
intervensi keperawatan berdasarkan NIC (Nursing Intervention Clasificatin).
Intervensi keperawatan yang dilakukan mandiri sebanyak 19 intervensi
sedangkan yang direncanakan kolaborasi ada 2 intervensi. Pada kategori
tindakan mandiri paling banyak ditegakkan perawat karena kondisi klien perlu
dilakukan tindakan keperawatan untuk membantu proses pemulihan kesehatan
secara optimal.

62
D. IMPLEMENTASI
Implementasi merupakan komponen dari proses keperawatan dimana
proses ini dilakukan untuk mencapai tujuan dari asuhan keperawatan (Potter,
2013)
Implementasi pada Ny. R dilakukan berdasarkan rencana tindakan
keperawatan intervensi yang telah dibuat. Pada pelaksanaan tindakan
keperawatan Ny. Hj. R ini, kelompok tidak hanya melakukan tindakan secara
pribadi tetapi juga melibatkan keluarga klien untuk berperan serta dalam
melakukan perawatan pada klien. Pada proses pelaksanaan implementasi ini
kelompok tidak mendapatkan hambatan, klien dan keluarga kooperatif dan
mau di ajak kerjasama.
kelompok juga telah mengajari keluarga dan melibatkan keluarga dalam
tindakan implementasi. Implementasi yang diajarkan kepada keluarga adalah
mengajarkan keluarga untuk memenuhi ADL klien, seperti menyeka,
mengganti spray, oral hygine, selalu memasang pagar tempat tidur, selalu
mengawasi klien, dan semua berjalan lancar sesuai rencana.

E. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan yang terdiri dari
evaluasi formatif. Dimana evaluasi akan menghasilkan informasi untuk umpan
balik selama program berlangsung. Evaluasi dilakukan setelah program selesai
dan mendapatkan informasi tentang efektivitas pengambilann keputusan.
(Smeltzer, 2013)
Tahap ini merupakan pengumpulan data subjektif dan objektif dari klien
dan keluarga yang menunjukkan apakah tujuan/ hasil asuhan keperawatan
belum teratasi, sebagian teratasi atau sudah teratasi dan juga untuk menentukan
apakah masalah perlu dikaji, direncanakan, dilaksanakan, dilanjutkan, atau
dihentikan. Pada tahap evaluasi asuhan keperawatan pada Ny. R dengan
diagnosa medis Hiperemesis gravidarum adalah sebagai berikut:
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan faktor biologis. Hiperemesis Graavidarum memerlukan

63
pemantauan status nutrisi sehingga dengan penanganan yang baik maka
nutrisi bisa kembali membaik secara perlahan dengan perawatan mandiri
juga kolaboratif dengan tenaga kesehatan lainnya.
2. Keletihan berhubungan dengan kelesuan fisik, Hal ini dikarenakan klien
mengalami keletihan yang menyebabkan kelesuan pada klien, setelah
dilakukan intervensi keletihan berhubungan dengan kelesuan fisik,
masalah dapat teratasi di hari pertama diberikan intervensi keperawatan
3. Defisit perawatan diri berhubungan dengan keletihan, setelah diberikan
asuhan keperawatan, motivasi klien terhadap defisit perawatan diri teratasi
dan klien terpantau mau dan mampu mandi secara mandiri.

Dari ke tiga diagnosa keperawatan yang ditegakkan oleh kelompok dalam 2


hari perawatan, terdapat 3 diagnosa keperawatan sudah teratasi

64