Anda di halaman 1dari 20

TUGAS

ISLAM DISIPLIN ILMU APOTEKER

RANGKUMAN

NAMA : DEVY NUR AZALIA HASANUDDIN


STAMBUK : 15120190107

DOSEN : Prof. Dr. H. Tadjuddin Naid, S.Si., M.Sc., Apt

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2020
PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 51 TAHUN
2009
TENTANG PEKERJAAN KEFARMASIAN
 Pekerjaan Kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian
mutu Sediaan Farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan
pendistribusi atau penyaluranan obat, pengelolaan obat, pelayanan
obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan
obat, bahan obat dan obat tradisional.

 Sediaan Farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan


kosmetika. 


 Tenaga Kefarmasian adalah tenaga yang melakukan Pekerjaan


Kefarmasian, yang terdiri atas Apoteker dan Tenaga Teknis
Kefarmasian. 


 Pelayanan Kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan


bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan Sediaan
Farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk
meningkatkan mutu kehidupan pasien. 


 Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai Apoteker dan
telah mengucapkan sumpah jabatan Apoteker. 


 Fasilitas Pelayanan Kefarmasian adalah sarana yang digunakan untuk


menyelenggarakan pelayanan kefarmasian, yaitu apotek, instalasi
farmasi rumah sakit, puskesmas, klinik, toko obat, atau praktek
bersama.

 Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek


kefarmasian oleh Apoteker. 


 Standar Profesi adalah pedoman untuk menjalankan praktik profesi


kefarmasian secara baik. 
 

 Organisasi Profesi adalah organisasi tempat berhimpun para Apoteker
di Indonesia. 


 Surat Tanda Registrasi Apoteker selanjutnya disingkat STRA adalah


bukti tertulis yang diberikan oleh Menteri kepada Apoteker yang telah
diregistrasi. 


 Surat Izin Praktik Apoteker selanjutnya disingkat SIPA adalah surat izin
yang diberikan kepada Apoteker untuk dapat melaksanakan Pekerjaan
Kefarmasian pada Apotek atau Instalasi Farmasi Rumah Sakit. 


 Rahasia Kefarmasian adalah Pekerjaan Kefarmasian yang menyangkut


proses produksi, proses penyaluran dan proses pelayanan dari
Sediaan Farmasi yang tidak boleh diketahui oleh umum sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang- undangan. 


 Tujuan pengaturan Pekerjaan Kefarmasian untuk:

 memberikan perlindungan kepada pasien dan masyarakat dalam


memperoleh dan/atau menetapkan sediaan farmasi dan jasa
kefarmasian.
 mempertahankan dan meningkatkan mutu penyelenggaraan
Pekerjaan Kefarmasian sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi serta peraturan perundangan-undangan;
dan 

 memberikan kepastian hukum bagi pasien, masyarakat dan Tenaga
Kefarmasian. 

 Pelaksanaan Pekerjaan Kefarmasian meliputi:

 Pekerjaan Kefarmasian dalam Pengadaan Sediaan 
 Farmasi; 


 Pekerjaan Kefarmasian dalam Produksi Sediaan 
 Farmasi; 


 Pekerjaan Kefarmasian dalam Distribusi atau 
 Penyaluran Sediaan

Farmasi; dan 

 Pekerjaan Kefarmasian dalam Pelayanan Sediaan 
 Farmasi. 


 Pekerjaan Kefarmasian dalam Produksi Sediaan Farmasi harus


memiliki Apoteker penanggung jawab. 


 Apoteker penanggung jawab sebagaimana dimaksud pada pasal 7 ayat


(1) dapat dibantu oleh Apoteker pendamping dan/atau Tenaga Teknis
Kefarmasian. 


 Industri farmasi harus memiliki 3 (tiga) orang Apoteker sebagai


penanggung jawab masing-masing pada bidang pemastian mutu,
produksi, dan pengawasan mutu setiap produksi Sediaan Farmasi.

 Industri obat tradisional dan pabrik kosmetika harus memiliki sekurang-


kurangnya 1 (satu) orang Apoteker sebagai penanggung jawab. 


 Setiap Fasilitas Distribusi atau Penyaluran Sediaan Farmasi berupa


obat harus memiliki seorang Apoteker sebagai penanggung jawab.

 Apoteker sebagai penanggung jawab sebagaimana dimaksud pada


pasal 14 ayat (1) dapat dibantu oleh Apoteker pendamping dan/atau
Tenaga Teknis Kefarmasian. 


 Dalam melakukan Pekerjaan Kefarmasian, Apoteker sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 14 harus menetapkan Standar Prosedur
Operasional. 


 Dalam menjalankan Pekerjaan kefarmasian pada Fasilitas Pelayanan


Kefarmasian, Apoteker dapat dibantu oleh Apoteker pendamping dan/
atau Tenaga Teknis Kefarmasian.

 Dalam menjalankan praktek kefarmasian pada Fasilitas Pelayanan


Kefarmasian, Apoteker harus menerapkan standar pelayanan
kefarmasian. 


 Penyerahan dan pelayanan obat berdasarkan resep dokter


dilaksanakan oleh Apoteker. 
 


 Dalam melakukan Pekerjaan Kefarmasian pada Fasilitas Pelayanan


Kefarmasian, Apoteker dapat:

 mengangkat seorang Apoteker pendamping yang memiliki SIPA; 



 mengganti obat merek dagang dengan obat generik yang sama
komponen aktifnya atau obat merek dagang lain atas persetujuan
dokter dan/atau pasien; dan 

 menyerahkan obat keras, narkotika dan psikotropika kepada
masyarakat atas resep dari dokter sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan. 


 Apoteker dapat mendirikan Apotek dengan modal sendiri dan/atau


modal dari pemilik modal baik perorangan maupun perusahaan. 


 Dalam hal Apoteker yang mendirikan Apotek bekerja sama dengan


pemilik modal maka pekerjaan kefarmasian harus tetap dilakukan
sepenuhnya oleh Apoteker yang bersangkutan. 


 Tenaga Kefarmasian melaksanakan Pekerjaan Kefarmasian pada:

 Fasilitas Produksi Sediaan Farmasi berupa industri farmasi obat,


industri bahan baku obat, industri obat tradisional, pabrik kosmetika
dan pabrik lain yang memerlukan Tenaga Kefarmasian untuk
menjalankan tugas dan fungsi produksi dan pengawasan mutu; 


 Fasilitas Distribusi atau Penyaluran Sediaan Farmasi dan alat


kesehatan melalui Pedagang Besar Farmasi, penyalur alat
kesehatan, instalasi Sediaan Farmasi dan alat kesehatan milik
Pemerintah, pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah daerah
kabupaten/kota; dan/atau 


 Fasilitas Pelayanan Kefarmasian melalui praktik di Apotek, instalasi


farmasi rumah sakit, puskesmas, klinik, toko obat, atau praktek
bersama. 

 Apoteker sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (1) huruf a
merupakan pendidikan profesi setelah sarjana farmasi. 

 Pendidikan profesi Apoteker hanya dapat dilakukan pada perguruan
tinggi sesuai peraturan perundang-undangan.
 Standar pendidikan profesi Apoteker terdiri atas:
 komponen kemampuan akademik; dan
 kemampuan profesi dalam mengaplikasikan Pekerjaan
Kefarmasian.
 Apoteker yang menjalankan Pekerjaan Kefarmasian harus memiliki
sertifikat kompetensi profesi. 

 Bagi Apoteker yang baru lulus pendidikan profesi, dapat memperoleh
sertifikat kompetensi profesi secara langsung setelah melakukan
registrasi. 

 Sertifikat kompetensi profesi berlaku 5 (lima) tahun dan dapat
diperpanjang untuk setiap 5 (lima) tahun melalui uji kompetensi profesi
apabila Apoteker tetap akan menjalankan Pekerjaan Kefarmasian. 

 Untuk memperoleh STRA, Apoteker harus memenuhi persyaratan:
 memiliki ijazah Apoteker;
 memiliki sertifikat kompetensi profesi;
 mempunyai surat pernyataan telah mengucapkan sumpah/janji
Apoteker; 

 mempunyai surat keterangan sehat fisik dan mental dari dokter yang
memiliki surat izin praktik; dan 

 membuat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan
etika profesi. 

 STRA dikeluarkan oleh Menteri.
 Apoteker lulusan luar negeri yang akan menjalankan Pekerjaan
Kefarmasian di Indonesia harus memiliki STRA setelah melakukan
adaptasi pendidikan. 

 STRA, STRA Khusus, dan STRTTK tidak berlaku karena:
 habis masa berlakunya dan tidak diperpanjang oleh yang
bersangkutan atau tidak memenuhi persyaratan untuk diperpanjang;
 dicabut atas dasar ketentuan peraturan perundang-undangan; 

 permohonan yang bersangkutan;
 yang bersangkutan meninggal dunia; atau 

 dicabut oleh Menteri atau pejabat kesehatan yang berwenang. 

 Apoteker yang telah memiliki STRA, atau STRA Khusus, serta Tenaga
Teknis Kefarmasian yang telah memiliki STRTTK harus melakukan
Pekerjaan Kefarmasian sesuai dengan pendidikan dan kompetensi
yang dimiliki.
 Pelayanan Kefarmasian di Apotek, puskesmas atau instalasi farmasi
rumah sakit hanya dapat dilakukan oleh Apoteker. 

 Apoteker wajib memiliki STRA. 

 Dalam melaksanakan tugas Pelayanan Kefarmasian, Apoteker dapat
dibantu oleh Tenaga Teknis Kefarmasian yang telah memiliki STRTTK.
 Setiap Tenaga Kefarmasian yang melaksanakan Pekerjaan
Kefarmasian di Indonesia wajib memiliki surat izin sesuai tempat
Tenaga Kefarmasian bekerja. 

 Surat izin sebagaimana dimaksud pada pasal 52 ayat (1) dapat berupa:
 SIPA bagi Apoteker yang melakukan Pekerjaan Kefarmasian di
Apotek, puskesmas atau instalasi farmasi rumah sakit;
 SIPA bagi Apoteker yang melakukan Pekerjaan Kefarmasian
sebagai Apoteker pendamping; 

 SIK bagi Apoteker yang melakukan Pekerjaan Kefarmasian di
fasilitas kefarmasian diluar Apotek dan instalasi farmasi rumah sakit;
atau
 SIK bagi Tenaga Teknis Kefarmasian yang melakukan Pekerjaan
Kefarmasian pada Fasilitas Kefarmasian. 


 Apoteker sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (2) huruf a


hanya dapat melaksanakan praktik di 1 (satu) Apotik, atau puskesmas
atau instalasi farmasi rumah sakit.

 Apoteker pendamping sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (2)


huruf b hanya dapat melaksanakan praktik paling banyak di 3 (tiga)
Apotek, atau puskesmas atau instalasi farmasi rumah sakit. 


 Apoteker dan Asisten Apoteker yang dalam jangka waktu 2 (dua) tahun
belum memenuhi persyaratan sebagaimana diatur dalam Peraturan
Pemerintah ini, maka surat izin untuk menjalankan Pekerjaan
Kefarmasian batal demi hukum.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR


35 TAHUN 2009
TENTANG NARKOTIKA
 Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan
tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan
penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi
sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan
ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan-golongan
sebagaimana terlampir dalam Undang-Undang ini 


 Prekursor Narkotika adalah zat atau bahan pemula atau bahan kimia
yang dapat digunakan dalam pembuatan Narkotika yang dibedakan
dalam tabel sebagaimana terlampir dalam Undang-Undang ini. 


 Produksi adalah kegiatan atau proses menyiapkan, mengolah,


membuat, dan menghasilkan Narkotika secara langsung atau tidak
langsung melalui ekstraksi atau non-ekstraksi dari sumber alami atau
sintetis kimia atau gabungannya, termasuk mengemas dan/atau
mengubah bentuk Narkotika. 


 Peredaran Gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika adalah setiap


kegiatan atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tanpa hak
atau melawan hukum yang ditetapkan sebagai tindak pidana Narkotika
dan Prekursor Narkotika. 


 Pedagang Besar Farmasi adalah perusahaan berbentuk badan hukum


yang memiliki izin untuk melakukan kegiatan pengadaan,
penyimpanan, dan penyaluran sediaan farmasi, termasuk Narkotika
dan alat kesehatan. 


 Industri Farmasi adalah perusahaan berbentuk badan hukum yang


memiliki izin untuk melakukan kegiatan produksi serta penyaluran obat
dan bahan obat, termasuk Narkotika. 


 Transito Narkotika adalah pengangkutan Narkotika dari suatu negara


ke negara lain dengan melalui dan singgah di wilayah Negara Republik
Indonesia yang terdapat kantor pabean dengan atau tanpa berganti
sarana angkutan. 


 Pecandu Narkotika adalah orang yang menggunakan atau


menyalahgunakan Narkotika dan dalam keadaan ketergantungan pada
Narkotika, baik secara fisik maupun psikis. 


 Ketergantungan Narkotika adalah kondisi yang ditandai oleh dorongan


untuk menggunakan Narkotika secara terus-menerus dengan takaran
yang meningkat agar menghasilkan efek yang sama dan apabila
penggunaannya dikurangi dan/atau dihentikan secara tiba-tiba,
menimbulkan gejala fisik dan psikis yang khas. 


 Penyalah Guna adalah orang yang menggunakan Narkotika tanpa hak


atau melawan hukum. 


 Rehabilitasi Medis adalah suatu proses kegiatan pengobatan secara


terpadu untuk membebaskan pecandu dari ketergantungan Narkotika.

 Rehabilitasi Sosial adalah suatu proses kegiatan pemulihan secara


terpadu, baik fisik, mental maupun sosial, agar bekas pecandu
Narkotika dapat kembali melaksanakan fungsi sosial dalam kehidupan
masyarakat. 


 Undang-Undang tentang Narkotika bertujuan:

 menjamin ketersediaan Narkotika untuk kepentingan pelayanan


kesehatan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi; 

 mencegah, melindungi, dan menyelamatkan bangsa Indonesia dari
penyalahgunaan Narkotika; 

 memberantas peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika;
dan 

 menjamin pengaturan upaya rehabilitasi medis dan sosial bagi
Penyalah Guna dan pecandu Narkotika. 

 Narkotika sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 digolongkan ke
dalam:

 Narkotika Golongan I; 

 Narkotika Golongan II; dan 

 Narkotika Golongan III. 


 Narkotika Golongan I dilarang digunakan untuk kepentingan pelayanan


kesehatan. 


 Dalam jumlah terbatas, Narkotika Golongan I dapat digunakan untuk


kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan
untuk reagensia diagnostik, serta reagensia laboratorium setelah
mendapatkan persetujuan Menteri atas rekomendasi Kepala Badan
Pengawas Obat dan Makanan. 


 Badan Pengawas Obat dan Makanan melakukan pengawasan


terhadap bahan baku, proses produksi, dan hasil akhir dari produksi
Narkotika sesuai dengan rencana kebutuhan tahunan Narkotika
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9. 


 Narkotika Golongan I dilarang diproduksi dan/atau digunakan dalam


proses produksi, kecuali dalam jumlah yang sangat terbatas untuk
kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 


 Pengawasan produksi Narkotika Golongan I untuk kepentingan


pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagaimana
dimaksud pada pasal 12 ayat (1) dilakukan secara ketat oleh Badan
Pengawas Obat dan Makanan. 


 Lembaga ilmu pengetahuan yang berupa lembaga pendidikan dan


pelatihan serta penelitian dan pengembangan yang diselenggarakan
oleh pemerintah ataupun swasta dapat memperoleh, menanam,
menyimpan, dan menggunakan Narkotika untuk kepentingan ilmu
pengetahuan dan teknologi setelah mendapatkan izin Menteri. 


 Narkotika yang berada dalam penguasaan industri farmasi, pedagang


besar farmasi, sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah,
apotek, rumah sakit, pusat kesehatan masyarakat, balai pengobatan,
dokter, dan lembaga ilmu pengetahuan wajib disimpan secara khusus.

 Industri Farmasi, pedagang besar farmasi, sarana penyimpanan


sediaan farmasi pemerintah, apotek, rumah sakit, pusat kesehatan
masyarakat, balai pengobatan, dokter, dan lembaga ilmu pengetahuan
wajib membuat, menyampaikan, dan menyimpan laporan berkala
mengenai pemasukan dan/atau pengeluaran Narkotika yang berada
dalam penguasaannya. 


 Peredaran Narkotika meliputi setiap kegiatan atau serangkaian


kegiatan penyaluran atau penyerahan Narkotika, baik dalam rangka
perdagangan, bukan perdagangan maupun pemindahtanganan, untuk
kepentingan pelayanan kesehatan dan pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi.

 Narkotika dalam bentuk obat jadi hanya dapat diedarkan setelah


mendapatkan izin edar dari Menteri. 


 Narkotika Golongan II dan Golongan III yang berupa bahan baku, baik
alami maupun sintetis, yang digunakan untuk produksi obat diatur
dengan Peraturan Menteri.

 Narkotika hanya dapat disalurkan oleh Industri Farmasi, pedagang


besar farmasi, dan sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah
sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini. 


 Industri Farmasi tertentu hanya dapat menyalurkan Narkotika kepada:

 pedagang besar farmasi tertentu; 



 apotek; 

 sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah tertentu; dan 

 rumah sakit. 


 Pedagang besar farmasi tertentu hanya dapat menyalurkan Narkotika


kepada:

 pedagang besar farmasi tertentu lainnya; 



 apotek; 

 sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah tertentu; 

 rumah sakit; dan 

 lembaga ilmu pengetahuan. 


 Sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah tertentu hanya dapat


menyalurkan Narkotika kepada:
 rumah sakit pemerintah; 

 pusat kesehatan masyarakat; dan 

 balai pengobatan pemerintah tertentu. 


 Narkotika Golongan I hanya dapat disalurkan oleh pedagang besar


farmasi tertentu kepada lembaga ilmu pengetahuan tertentu untuk
kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

 Penyerahan Narkotika hanya dapat dilakukan oleh:

 apotek; 

 rumah sakit; 

 pusat kesehatan masyarakat; 

 balai pengobatan; dan 

 dokter. 


 Apotek hanya dapat menyerahkan Narkotika kepada:

 rumah sakit; 

 pusat kesehatan masyarakat; 

 apotek lainnya; 

 balai pengobatan; 

 dokter; dan 

 pasien. 


 Rumah sakit, apotek, pusat kesehatan masyarakat, dan balai


pengobatan hanya dapat menyerahkan Narkotika kepada pasien
berdasarkan resep dokter. 


 Industri Farmasi wajib mencantumkan label pada kemasan Narkotika,


baik dalam bentuk obat jadi maupun bahan baku Narkotika. 


 Pengaturan prekursor dalam Undang-Undang ini bertujuan:

 melindungi masyarakat dari bahaya penyalahgunaan Prekursor


Narkotika; 

 mencegah dan memberantas peredaran gelap Prekursor
Narkotika; dan 

 mencegah terjadinya kebocoran dan penyimpangan Prekursor
Narkotika. 


 Untuk kepentingan pengobatan dan berdasarkan indikasi medis, dokter


dapat memberikan Narkotika Golongan II atau Golongan III dalam
jumlah terbatas dan sediaan tertentu kepada pasien sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan. 


UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR


36 TAHUN 2009
TENTANG KESEHATAN
 Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual
maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif
secara sosial dan ekonomis. 


 Sumber daya di bidang kesehatan adalah segala bentuk dana, tenaga,


perbekalan kesehatan, sediaan farmasi dan alat kesehatan serta
fasilitas pelayanan kesehatan dan teknologi yang dimanfaatkan untuk
menyelenggarakan upaya kesehatan yang dilakukan oleh Pemerintah,
pemerintah daerah, dan/atau masyarakat. 


 Sediaan farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional, dan


kosmetika. 


 Alat kesehatan adalah instrumen, aparatus, mesin dan/atau implan


yang tidak mengandung obat yang digunakan untuk mencegah,
mendiagnosis, menyembuhkan dan meringankan penyakit, merawat
orang sakit, memulihkan kesehatan pada manusia, dan/atau
membentuk struktur dan memperbaiki fungsi tubuh. 


 Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam


bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan
melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu
memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. 


 Obat adalah bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang
digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau
keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan,
penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi,
untuk manusia. 


 Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan
tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau
campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah
digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan
norma yang berlaku di masyarakat. 


 Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan dan/atau serangkaian


kegiatan yang dilakukan secara terpadu, terintegrasi dan
berkesinambungan untuk memelihara dan meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat dalam bentuk pencegahan penyakit,
peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit, dan pemulihan
kesehatan oleh pemerintah dan/atau masyarakat. 


 Pelayanan kesehatan kuratif adalah suatu kegiatan dan/atau


serangkaian kegiatan pengobatan yang ditujukan untuk penyembuhan
penyakit, pengurangan penderitaan akibat penyakit, pengendalian
penyakit, atau pengendalian kecacatan agar kualitas penderita dapat
terjaga seoptimal mungkin. 


 Pelayanan kesehatan rehabilitatif adalah kegiatan dan/atau


serangkaian kegiatan untuk mengembalikan bekas penderita ke dalam
masyarakat sehingga dapat berfungsi lagi sebagai anggota masyarakat
yang berguna untuk dirinya dan masyarakat semaksimal mungkin
sesuai dengan kemampuannya. 


 Pelayanan kesehatan tradisional adalah pengobatan dan/atau


perawatan dengan cara dan obat yang mengacu pada pengalaman dan
keterampilan turun temurun secara empiris yang dapat
dipertanggungjawabkan dan diterapkan sesuai dengan norma yang
berlaku di masyarakat. 


 Tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 harus


memenuhi ketentuan kode etik, standar profesi, hak pengguna
pelayanan kesehatan, standar pelayanan, dan standar prosedur
operasional.

 Tenaga kesehatan berhak mendapatkan imbalan dan pelindungan


hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya. 


 Tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugasnya berkewajiban


mengembangkan dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
yang dimiliki. 


 Pemerintah menyusun daftar dan jenis obat yang secara esensial harus
tersedia bagi kepentingan masyarakat. 


 Daftar dan jenis obat sebagaimana dimaksud pada pasal 40 ayat (1)
ditinjau dan disempurnakan paling lama setiap 2 (dua) tahun sesuai
dengan perkembangan kebutuhan dan teknologi. 


 Pemerintah menjamin agar obat sebagaimana dimaksud pada pasal 40


ayat (1) tersedia secara merata dan terjangkau oleh masyarakat. 


 Dalam keadaan darurat, Pemerintah dapat melakukan kebijakan


khusus untuk pengadaan dan pemanfaatan perbekalan kesehatan. 


 Ketentuan mengenai keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada


pasal 40 ayat (4) dilakukan dengan mengadakan pengecualian
terhadap ketentuan paten sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang mengatur paten. 


 Perbekalan kesehatan berupa obat generik yang termasuk dalam daftar


obat esensial nasional harus dijamin ketersediaan dan
keterjangkauannya, sehingga penetapan harganya dikendalikan oleh
Pemerintah. 


 Peningkatan kesehatan merupakan segala bentuk upaya yang


dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat
untuk mengoptimalkan kesehatan melalui kegiatan penyuluhan,
penyebarluasan informasi, atau kegiatan lain untuk menunjang
tercapainya hidup sehat. 


 Penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan dilakukan dengan


pengendalian, pengobatan, dan/atau perawatan. 


 Pengendalian, pengobatan, dan/atau perawatan dapat dilakukan


berdasarkan ilmu kedokteran dan ilmu keperawatan atau cara lain yang
dapat dipertanggungjawabkan kemanfaatan dan keamanannya. 


 Pelaksanaan pengobatan dan/atau perawatan berdasarkan ilmu


kedokteran atau ilmu keperawatan hanya dapat dilakukan oleh tenaga
kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu. 


 Pemerintah dan pemerintah daerah melakukan pembinaan dan


pengawasan terhadap pelaksanaan pengobatan dan/atau perawatan
atau berdasarkan cara lain yang dapat dipertanggungjawabkan. 


 Pemasangan implan obat dan/atau alat kesehatan ke dalam tubuh


manusia hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang
mempunyai keahlian dan kewenangan serta dilakukan di fasilitas
pelayanan kesehatan tertentu. 


 Sediaan farmasi dan alat kesehatan harus aman,


berkhasiat/bermanfaat, bermutu, dan terjangkau. 


 Setiap orang yang tidak memiliki keahlian dan kewenangan dilarang


mengadakan, menyimpan, mengolah, mempromosikan, dan
mengedarkan obat dan bahan yang berkhasiat obat. 


 Ketentuan mengenai pengadaan, penyimpanan, pengolahan, promosi,


pengedaran sediaan farmasi dan alat kesehatan harus memenuhi
standar mutu pelayanan farmasi yang ditetapkan dengan Peraturan
Pemerintah. 


 Sumber sediaan farmasi yang berasal dari alam semesta dan sudah
terbukti berkhasiat dan aman digunakan dalam pencegahan,
pengobatan, dan/atau perawatan, serta pemeliharaan kesehatan tetap
harus dijaga kelestariannya. 


 Masyarakat diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengolah,


memproduksi, mengedarkan, mengembangkan, meningkatkan, dan
menggunakan sediaan farmasi yang dapat dipertanggungjawabkan
manfaat dan keamanannya. 


 Pemerintah menjamin pengembangan dan pemeliharaan sediaan


farmasi. 


 Sumber obat tradisional yang sudah terbukti berkhasiat dan aman


digunakan dalam pencegahan, pengobatan, perawatan, dan/atau
pemeliharaan kesehatan tetap dijaga kelestariannya. 


 Pemerintah menjamin pengembangan dan pemeliharaan bahan baku


obat tradisional. 


 Masyarakat diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengolah,


memproduksi, mengedarkan, mengembangkan, meningkatkan, dan
menggunakan obat tradisional yang dapat dipertanggungjawabkan
manfaat dan keamanannya. 


 Penggunaan sediaan farmasi yang berupa narkotika dan psikotropika


hanya dapat dilakukan berdasarkan resep dokter atau dokter gigi dan
dilarang untuk disalahgunakan. 


 Ketentuan mengenai narkotika dan psikotropika dilaksanakan sesuai


dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 


 Setiap orang yang memproduksi, menyimpan, mengedarkan, dan


menggunakan narkotika dan psikotropika wajib memenuhi standar
dan/atau persyaratan tertentu. 


 Ketentuan mengenai produksi, penyimpanan, peredaran, serta


penggunaan narkotika dan psikotropika sebagaimana dimaksud pada
pasal 103 ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan. 


 Pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan diselenggarakan


untuk melindungi masyarakat dari bahaya yang disebabkan oleh
penggunaan sediaan farmasi dan alat kesehatan yang tidak memenuhi
persyaratan mutu dan/atau keamanan dan/atau khasiat/kemanfaatan.

 Penggunaan obat dan obat tradisional harus dilakukan secara rasional.


 Sediaan farmasi yang berupa obat dan bahan baku obat harus
memenuhi syarat farmakope Indonesia atau buku standar lainnya. 


 Sediaan farmasi yang berupa obat tradisional dan kosmetika serta alat
kesehatan harus memenuhi standar dan/atau persyaratan yang
ditentukan. 


 Sediaan farmasi dan alat kesehatan hanya dapat diedarkan setelah


mendapat izin edar. 


 Penandaan dan informasi sediaan farmasi dan alat kesehatan harus


memenuhi persyaratan objektivitas dan kelengkapan serta tidak
menyesatkan. 


 Pemerintah berwenang mencabut izin edar dan memerintahkan


penarikan dari peredaran sediaan farmasi dan alat kesehatan yang
telah memperoleh izin edar, yang kemudian terbukti tidak memenuhi
persyaratan mutu dan/atau keamanan dan/atau kemanfaatan, dapat
disita dan dimusnahkan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan. 


 Praktik kefarmasiaan yang meliputi pembuatan termasuk pengendalian


mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan
pendistribusian obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan
informasi obat serta pengembangan obat, bahan obat dan obat
tradisional harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai
keahlian dan kewenangan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan. 

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR
44 TAHUN 2009
TENTANG RUMAH SAKIT
 Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna
yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat
darurat. 

 Gawat Darurat adalah keadaan klinis pasien yang membutuhkan
tindakan medis segera guna penyelamatan nyawa dan pencegahan
kecacatan lebih lanjut. 


 Pasien adalah setiap orang yang melakukan konsultasi masalah


kesehatannya untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang
diperlukan, baik secara langsung maupun tidak langsung di Rumah
Sakit. 


 Rumah Sakit harus memenuhi persyaratan lokasi, bangunan,


prasarana, sumber daya 
 manusia, kefarmasian, dan peralatan. 


 Persyaratan sumber daya manusia sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 7 ayat (1) 
 yaitu Rumah Sakit harus memiliki tenaga tetap yang
meliputi tenaga medis dan penunjang medis, tenaga keperawatan,
tenaga kefarmasian, tenaga manajemen Rumah Sakit, dan tenaga
nonkesehatan. 


 Setiap tenaga kesehatan yang bekerja di Rumah Sakit harus bekerja


sesuai dengan 
 standar profesi, standar pelayanan Rumah Sakit,
standar prosedur operasional yang berlaku, etika profesi, menghormati
hak pasien dan mengutamakan keselamatan pasien. 

 Persyaratan kefarmasian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat
(1) harus 
 menjamin ketersediaan sediaan farmasi dan alat kesehatan
yang bermutu, bermanfaat, aman dan terjangkau. 


 Pelayanan sediaan farmasi di Rumah Sakit harus mengikuti standar


pelayanan 
 kefarmasian. 


 Pengelolaan alat kesehatan, sediaan farmasi, dan bahan habis pakai di


Rumah Sakit 
 harus dilakukan oleh Instalasi farmasi sistem satu pintu.

 Besaran harga perbekalan farmasi pada instalasi farmasi Rumah Sakit


harus wajar 
 dan berpatokan kepada harga patokan yang ditetapkan
Pemerintah.