Anda di halaman 1dari 6

‫ل َلشللررييلك َللللهَه‬ ‫ل َاهَلل َلويحلللدهَه َ ل‬ ‫ل َإرللللله َإر ل‬‫ُ َأليشلللههَد َألين َ ل‬.

ن َ ل‬.‫ت‬ َ‫ظهَم َرفييلهاَ َالليجهَر َواللحلسلناَ ه‬ ‫ضاَرئرل َهَيلع ل‬ ‫ض َالششهَهيورر َلوالللياَرم َلوالللَلياَرليِ َربلملزالياَ َلولف ل‬ َ‫ص َلبيع ه‬ ‫ض َلفلخ ل‬ ‫ضهَه َلعللَىَ َلبيع ض‬ ‫ضلل َلبيع ل‬ ‫اللحيمهَد َ ررل َاللرذيي َلخللَلق َالززلماَلن َلولف ل‬
‫ل‬ ‫ي‬ ‫ل‬
َ‫ُ َفليلاَ َأشيلهللا‬،‫ُ َألملاَ َبيعللهَد‬.‫صلحاَربره َهَهلدارة َاللناَرم َفيِ َأنلحاَرء َالربللرد‬‫ل‬ ‫صلل َلولسلَليم َعللَىَ َلعيبردلك َلولرهَسيولرلك َهَملحزمضد َلولعلَىَ َآرله َوأ ي‬
‫ل‬ ‫ُ َاللَزهَهلم َ ل‬.‫لوأليشلههَد َأللن َلسليلدناَ َهَملحلمددا َلعيبهَدهَه َلولرهَسيولهَهَه َاللدارعىَ َربلقيولرره َلورفيعلَرره َإرللىَ َاللرلشاَرد‬
َ َ َ َ َ ‫ض َرمينلهاَ َأليرلبلعمة َهَحهَرمم‬ ‫ت َلوايللير ل‬ ‫ا َلييولم َلخلَللق َاللسلماَلوا ر‬ ‫ب َ ل ر‬ ‫ا َايثلناَ َلعلشلر َلشيهدرا َرفيِ َركلتاَ ر‬ ‫ِ َإرلن َرعلدلة َالششهَهورر َرعينلد َ ل ر‬:‫ا َلتلعاَللىَ َرفيِ َركلتاَربره َايللكررييرم‬ َ‫ت َلفلقيد َلقاَلل َ ه‬ ‫طاَلعاَ ر‬ ‫ا َلتلعاَللىَ َربرفيعرل َال ل‬ ‫س َالتهَقوا َ ل‬ َ‫اللناَ ه‬
Jamaah shalat Jumat hafidhakumullâh, Pada zaman jahiliah, berkembang anggapan bahwa bulan Safar adalah bulan sial atau dikenal dengan istilah
tasyâ-um. Bulan yang tidak memiliki kehendak apa-apa ini diyakini mengandung keburukan-keburukan sehingga ada ketakutan bagi mereka untuk
melakukan hal-hal tertentu. Pikiran semacam ini juga masih menjalar di zaman sekarang. Sebagian orang menganggap bahwa hari-hari tertentu
membawa hoki alias keberuntungan, sementara hari-hari lainnya mengandung sebaliknya. Padahal, seperti bulan-bulan lainnya, bulan Safar netral dari
kesialan atau ketentuan nasib buruk. Jika pun ada kejadian buruk di dalamnya, maka itu semata-mata karena faktor lain, bukan karena bulan Safar itu
sendiri. Dari Abu Hurairah, Rasulullah ‫ َﷺ‬pernah bersabda: ‫صلفلر َ لورفلر َ رمين َايللميجهَذورم َ لكلماَ َ لترفشر َ رمين َايلللسرد‬ ‫" َ َ َلل َ لعيدلوىَ َ لولل َ رطليلرلة َ لولل َ لهاَلملة َ لولل َ ل‬Tidak ada 'adwa,
thiyarah, hamah, shafar, dan menjauhlah dari orang yang kena penyakit kusta (lepra) sebagaimana kamu menjauh dari singa." (HR Bukhari dan Muslim)
'Adwa adalah keyakinan tentang adanya wabah penyakit yang menular dengan sendirinya, tanpa sebuah proses sebelumnya dan tanpa seizin Allah.
Thiyarah adalah keyakinan tentang nasib baik dan buruk setelah melihat burung. Dalam masyarakat jahiliah ada mitos yang mengatakan, bila seorang
keluar rumah dan menyaksikan burung terbang di sebelah kanannya, maka tanda nasib mujur bakal datang. Sementara bila melihat burung terbang di
sebelah kirinya maka tanda kesialan akan tiba sehingga sebaiknya pulang. Sedangkan hamah adalah semacam anggapan bahwa ketika terdapat
burung hantu hinggap di atas rumah maka pertanda nasib sial akan tiba kepada pemilik rumah tersebut. Tak beda jauh dengan shafar yang diyakini
sebagai waktu khusus yang bisa mendatangkan malapetaka. Jamaah shalat Jumat hafidhakumullâh, Islam tidak mengenal hari, bulan, atau tahun
sial. Sebagaimana seluruh keberadaan di alam raya ini, waktu adalah makhluk Allah. Waktu tidak bisa berdiri sendiri. Ia berada dalam kekuasaan dan
kendali penuh Rabb-nya. Setiap umat Islam wajib berkeyakinan bahwa pengaruh baik maupun buruk tidak ada tanpa seizin Allah ‫ﷻ‬. Begitu juga
dengan bulan Safar. Ia adalah bagian dari dua belas bulan dalam satu tahun hijriah. Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Qamariyah, terletak
sesudah Muharram dan sebelum bulan Rabiul Awwal. Ibnu Katsir ketika menafsirkan Surat at-Taubah ayat 36 yang membicarakan tentang bilangan
bulan dalam satu tahun, menjelaskan bawah nama shafar terkait dengan aktivitas masyarakat Arab terdahulu. Shafar berarti kosong. Dinamakan
demikian karena di bulan tersebut masyarakat kala itu berbondong-bondong keluar mengosongkan daerahnya, baik untuk berperang ataupun menjadi
musafir. Rasulullah sendiri menampik anggapan negatif masyarakat jahiliah tentang bulan Safar dengan sejumlah praktik positif. Habib Abu Bakar
al-‘Adni dalam Mandhûmah Syarh al-Atsar fî Mâ Warada 'an Syahri Shafar memaparkan bahwa beberapa peristiwa penting yang dialami Nabi terjadi
pada bulan Safar, di antaranya pernikahan beliau dengan Sayyidah Khadijah, menikahkah putrinya Sayyidah Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib, hingga
mulai berhijrah dari Makkah ke Madinah. Artinya, Rasulullah membantah keyakinan masyarakat jahiliah bukan hanya dengan argumentasi tapi juga
pembuktian bagi diri beliau sendiri. Dengan melaksanakan hal-hal sakral dan penting di bulan Safar, Nabi seolah berpesan bahwa bulan Safar tidak
berbeda dari bulan-bulan lainnya. Hadirin, Manusia diperintahkan untuk senantiasa melakukan proses-proses dan tahapan-tahapan yang wajar. Islam
adalah agama yang sangat menghargai fungsi akal sehat. Karena itu, tiap pekerjaan amat dianjurkan melalui satu perencanaan yang matang dan ikhtiar
yang maksimal. Selebihnya adalah doa dan kepasrahan total kepada Allah. Sial atau beruntung merupakan kelanjutan dari proses dan tahap tersebut,
bukan pada mitos-mitos khayal yang tak masuk akal. Untuk terbebas dari penyakit, manusia diperintahkan untuk hidup bersih dan menghindari pengidap
penyakit menular. Agar selamat dari bangkrut, pedagang disarankan untuk membuat perhitungan yang teliti dan hati-hati. Agar lulus ujian, pelajar mesti
melewati belajar secara serius. Dan seterusnya. Menolak adanya "bulan sial" dan "bulan beruntung" akan mengantarkan kita menjadi pribadi yang
wajar. Tidak malas ikhtiar karena merasa hari-harinya pasti diliputi keberuntungan. Juga tidak dicekam kecemasan karena dihantui hari-hari penuh sial.
Sebagai hamba, manusia didorong untuk berencana, berjuang, dan berdoa; sementara ketentuan hasil dipasrahkan kepada Allah. Dengan demikian,
saat menuai hasil, kita tetap bersyukur; dan tatkala mengalami kegagalan, kita tidak lantas putus asa. Kemudaratan dan kesialan dapat menimpa kita
kapan saja, tidak mesti pada bulan-bulan tertentu. Dari sinilah kita diharapkan untuk selalu menjaga diri, melakukan usaha-usaha pencegahan, termasuk
dengan doa memohon perlindungan kepada Allah setiap hari. Doa yang bisa dibaca adalah: ‫ض َلولل َرفيِ َاللسلماَرء َلوهَهلو‬ ‫ضشر َلملع َايسرمره َلشييِمء َرفيِ َايللير ر‬ َ‫ا َاللرذي َلل َلي ه‬ ‫ربيسرم َ ل ر‬
‫“ َ َ َاللسرميهَع َ ايللعرلَيهَم‬Dengan menyebut nama Allah yang bersama nama-Nya tidak akan ada sesuatu di bumi dan di langit yang sanggup mendatangkan
mudarat. Dialah Maha-mendengar lagi Maha-mengetahui.” Barangsiapa yang membaca doa tersebut pagi dan sore, maka ia tidak akan menerima
akibat buruk dari malapetaka. Keterangan tentang doa ini bisa ditemukan dalam hadits riwayat Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah. Jamaah shalat
Jumat hafidhakumullâh, Keberuntungan sejati adalah ketika seorang hamba mengisi waktunya, kapan saja itu, untuk menjalankan ketaatan kepada
Allah. Sebaliknya, kerugian terjadi adalah saat seseorang menyia-nyiakan waktunya, termasuk ketika di bulan-bulan mulia sekalipun. Tidak ada bulan
sial atau tidak, yang ada adalah apakah perbuatan kita membawa maslahat atau tidak, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Inilah momentum baik
untuk lebih menghargai waktu, dengan membangun optimisme dan gairah menghamba kepada Allah setulus-tulusnya. Syekh Ibnu Rajab al-Hanbali
dalam Lathâif al-Ma’ârif fîmâ li Mawâsim al-‘Am min al-Wadhâif, berpesan melalui syair: ‫ظلفهَر‬ ‫ُ َ لشيهمر َ ربره َايللفيوهَز َ لواللتيورفييهَق َ لوال ل‬.ُ.ُ.َ ‫صلفهَر‬ ‫ َ َلكيم َ لذا َاللتلماَردي َ لفلهاَ َ لقيد َ لجاَلءلناَ َ ل‬
“Betapa banyak orang yang memiliki tuntutan, maka ini telah datang bulan Safar kepada kita. Bulan yang disertai dengan kemenangan, taufik, dan
keberhasilan.” ‫ُ َلييولم َايللملعاَرد َلفرفييره َايللخييهَر َليينلترظهَر‬.ُ.ُ.َ ‫ت َرمين َرفيعضل َلتهَسشر َربره‬ ‫“ َ َ َلفاَيبلديأ َربلماَ َ رشيئ ل‬Maka mulailah berbuat sesuatu yang akan membuatmu senang di hari kembali
(hari kiamat), maka disana engkau akan melihat kebaikan.” ‫ُ َرمين َ لقيبهَل َلييبلَ هَهَغ َ رفييهَكيم َ لحشدهَه َايلهَعيمهَر‬.ُ.ُ.َ ‫ا َ رفييره َرمين َ هَذهَنيوربهَكيم‬ ‫“ َ َ َهَت يوهَبوا َ إرللىَ َ ر‬Bertaubatlah kepada Allah di bulan
Safar dari dosa-dosa, sebelum batas akhir usia menghampiri pada kalian.” Semoga kita semua menjadi peribadi-pribadi yang senantiasa dianugerahi
kekuatan untuk menghormati waktu-waktu yang Allah anugerahkan kepada kita untuk perbuatan dan pikiran yang berfaedah, membawa maslahat, baik
di dunia maupun di akhirat. Âmîn. ‫ُ َلوألقهَيوهَل‬،‫ا َرملناَ َلورمينهَكيم َرتلللولتهَه َلوإرلنهَه َهَهلو َاللسرمييهَع َاللعلَرييهَم‬ َ‫ُ َلولنلفلعرنيِ َلوإرلياَهَكيم َربلماَرفييره َرمين َآليرة َلورذيكرر َايللحركييرم َلولتلقلبلل َ ه‬،‫لباَلرلك َا َرليِ َلوللهَكيم َرفىَ َيالقهَيرآرن َياللعرظييرم‬
َ‫ه‬ ‫ل‬ ‫ل‬
‫ا َاللعرظييلم َإرنهَه َهَهلو َالغف يوهَر َاللررحييم‬ ‫ي‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬
‫ َ َ َقيورليِ َلهذا َفأَيستغرفهَر َ ل‬Khutbah II ‫ا َلويحلدهَه َل َشررييلك َلهَه َلوأشلهد َألن‬ َ‫ه‬ ‫ي‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ َ‫ا َلو ه‬ َ‫ل َ ه‬ ‫ل َراللله َإر ل‬ ‫ُ َلوأليشلههَد َألين َ ل‬.‫ل َلعلَلىَ َإريحلساَرنره َلوالششيكهَر َللهَه َلعلَلىَ َلتيورفييرقره َلورايمرتلناَرنره‬ ‫اليللحيمهَد َ ر‬
َ‫الل َرفييلمللاَ َأللملللر َلواينلتهَهلليوا َلعلمللاَ َلنلهللى‬ ‫ل‬ َ ‫للوا‬ َ‫ه‬ ‫ق‬ ‫ل‬
‫ت‬ ‫ا‬
‫ر‬ َ ‫س‬ َ‫ه‬ ‫ل‬
َ‫للا‬
‫ن‬ ‫هاَ َال‬ ‫ل‬ ‫ي‬
‫ش‬ ‫ل‬ ‫ا‬ َ َ‫ا‬ ‫ل‬ ‫في‬‫ل‬ َ ‫د‬َ‫ه‬ ‫ع‬‫ي‬ ‫ب‬
‫ل‬ َ َ‫ما‬‫ل‬ ‫ل‬ ‫أ‬ َ َ ‫د‬
َ ‫را‬ ‫ي‬
‫ي‬ ‫كث‬ َ َ‫ما‬‫د‬ ‫ي‬
‫ي‬
‫ل رر ل ل ي ر ر‬ َ‫ل‬ ‫ي‬
‫س‬ ‫ل‬
‫ت‬ َ ‫م‬ ‫ل‬ َ‫ل‬ ‫س‬ ‫و‬َ ‫ه‬ ‫ب‬ َ‫حا‬ ‫ي‬
‫ص‬ ‫ل‬ ‫أ‬‫و‬ َ ‫ه‬
‫رر ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ا‬ َ َ‫لَى‬‫ل‬ ‫ع‬ ‫و‬
‫ل ر ل‬ َ ‫د‬ ‫ض‬ ‫م‬‫ل‬ ‫ح‬ ‫م‬
َ‫ه‬ َ َ‫نا‬ ‫ل‬ ‫د‬ ‫ي‬
‫ل‬
‫ل ر‬ ‫س‬ َ َ‫لَى‬ ‫ل‬ ‫ع‬ َ ‫ل‬
‫ل ل ل‬ ‫ل‬ ‫ص‬ َ ‫م‬ ‫ه‬
َ‫ه‬ َ‫ل‬‫ل‬ ‫ُ َا‬.‫ه‬ ‫ن‬‫وا‬
‫ل ر ل رر‬ ‫ض‬ ‫ي‬ ‫ر‬ َ َ‫ى‬ ‫عىَ َإل‬ ‫ر‬ ‫دا‬ ‫ل‬ ‫ه َال‬َ‫ه‬ َ‫ه‬ ‫ل‬ ‫و‬ ‫ي‬ ‫س‬َ‫ه‬ ‫ر‬
‫ل ل ل‬‫و‬ َ ‫ه‬
َ‫ه‬ َ‫ه‬
‫د‬ ‫ب‬‫ي‬ ‫ع‬ َ ‫دا‬‫د‬ ‫م‬
‫ل‬ ‫ح‬ ‫لسليلدلناَ َهَم ل‬
َ‫صلل َلعللَللىَ َلسللليردلنا‬ ‫ُ َاللَهَهلم َ ل‬.َ‫صلَش يوا َلعللَييره َلولسلَلهَم يوا َلتيسلَرييدما‬ ‫صلَشيولن َلعلَلىَ َاللنربىَ َيآ َالشيلهاَ َاللرذييلن َآلمهَنيوا َ ل‬ ‫ا َلولملَرئلكلتهَه َهَي ل‬ ‫ل‬ َ ‫ن‬ ‫ل‬ ‫ر‬ ‫إ‬ َ َ‫لى‬ ‫ل‬ ‫ل‬ َ‫ا‬ ‫تع‬‫ل‬ َ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬
َ‫قا‬ ‫و‬ ‫ل‬ َ ‫ه‬‫ر‬ ‫س‬
‫ر‬ ‫د‬ ‫ي‬ َ‫ه‬ ‫ق‬ ‫ب‬
‫ر‬ َ ‫ه‬
‫ر‬ ‫ت‬
‫ر‬ ‫ك‬‫ل‬ ‫ئ‬
‫ر‬ َ َ‫مل‬ ‫ل‬ ‫ب‬
‫ر‬ َ َ‫نى‬ ‫ل‬ ‫ل‬
‫ثل‬ ‫و‬
‫ل‬ َ ‫ه‬
‫ر‬ ‫س‬‫ر‬ ‫ي‬
‫ف‬ ‫ل‬
‫ن‬ ‫ب‬
‫ر‬ َ ‫ه‬
‫ر‬ ‫ي‬
‫ي‬ ‫ف‬
‫ر‬ ‫ل‬
َ ‫أ‬ ‫د‬
‫ل‬ ‫ب‬‫ل‬ َ ‫ر‬ ‫م‬
‫ي ر ض‬‫ي‬ ‫ل‬ َ‫أ‬ ‫ب‬ َ ‫م‬ َ‫ه‬
‫ك‬ ‫ر‬
‫ل‬ ‫م‬
‫ل‬ ‫ل‬ ‫أ‬ َ ‫ا‬ ‫ل‬ َ ‫ن‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫أ‬ َ ‫يوا‬ ‫لوايعللَهَم‬
‫صلللحاَلبرة‬‫ض َاللَزهَهلم َلعرن َيالهَخللَلفاَرء َاللرارشردييلن َألربللىَ َلبيكللضر َلوهَعلمللر َلوهَعيثلمللاَن َلولعلَرللىَ َلولعللين َلبرقليللرة َال ل‬ ‫ا َلعللَييره َلولسلَليم َلولعللَىَ َآرل َلسليردنلاَ َهَملحلمضد َلولعللَىَ َالينربيآرئلك َلوهَرهَسلَرلك َلولملَرئلكرة َيالهَملقلرربييلن َلواير ل‬ َ‫ه‬ َ َ‫لَى‬ ‫ل‬ ‫ص‬‫ل‬ َ ‫د‬ ‫هَملحلم ض‬
‫ت‬‫ت َاللليحيللآهَء َرمينهَهلليم َلويالليملللوا ر‬ ‫ت َلويالهَميسلللَررمييلن َلويالهَميسلللَرلماَ ر‬ ‫ض َلعلناَ َلملعهَهيم َربلريحلمرتلك َلياَ َأليرلحلم َاللرارحرمييلن َ َ َلاللَهَهلم َايغرفير َلريلَهَملليؤرمرنييلن َلويالهَميؤرملنللاَ ر‬ ‫لواللتاَربرعييلن َلولتاَربرعيِ َاللتاَربرعييلن َللهَهيم َربراَيحلساَضن َراللىَلييورم َاللدييرن َلواير ل‬
ُ.‫صلر َاللدييلن َلوايخهَذيل َلمين َلخلذلل َيالهَميسلَررمييلن َلو َلدلمير َأليعلدالء َاللدييرن َلوايعرل َلكلَرلماَرتلللك َإرللللىَ َليلليولم َالللدييرن‬ ‫صير َلمين َلن ل‬ َ‫صير َرعلباَلدلك َيالهَملولحردليلة َلواين ه‬ َ‫اللَهَهلم َألرعلز َيالريسلللم َلويالهَميسلَررمييلن َلوألرذلل َاللشيرلك َلويالهَميشررركييلن َلواين ه‬
‫ل‬
َ‫ُ َلرلبلنللاَ َآرتنللاَ َرفلى‬.‫ب َاللعللاَلرمييلن‬‫ي‬ ‫د‬ ‫ي‬
‫صة َلولساَرئرر َالهَبلَلدارن َالهَميسلَررمييلن َعآلمللة َليللاَ َلر ل‬ ‫ي‬ ‫ي‬ ‫د‬ ‫ي‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ي‬ ‫ل‬
‫اللَهَهلم َايدلفيع َلعلناَ َياللبلللء َلوياللولباَلء َلواللزللرزلل َلويالرملحلن َلوهَسيولء َيالرفيتلنرة َلوالرملحلن َلماَ َظلهلر َرمنلهاَ َلولماَ َلبطلن َلعين َلبلَردلناَ َرانهَدورنييرسلياَ َخآ ل‬
‫ي‬
‫ي‬ َ‫ه‬ ‫ي‬ ‫ي‬
َ‫ا َليأَهَمهَر َرباَللعيدرل َلوالريحلساَرن َلوإرييتآرء َرذي َالقيربلللىَ َلولينلهللى‬ ‫ي‬ ‫ي‬ ‫ُ َرعلباَلد ر‬.‫ُ َلرلبلناَ َلظلَليملناَ َالينفهَلسلناَ َلواإين َلليم َلتيغرفير َلللناَ َلولتيرلحيملناَ َلللنهَكيولنلن َرملن َياللخاَرسررييلن‬.‫ب َاللناَرر‬ ‫الشدينلياَ َلحلسلندة َلورفىَ َيالْرخلررة َلحلسلندة َلورقلناَ َلعلذا ل‬
‫ا َ! َإرلن َ ل‬
َ‫ه‬ ‫ي‬ َ‫ه‬ ‫ي‬
‫الللللللل َاللعرظييلللللللللم َليللللللللذكيركيم َلواشللللللللكهَر يوهَه َلعلَلللللللللىَ َرنلعرمللللللللره َليرزدكلللللللليم‬ َ‫ه‬ َ‫ه‬ ‫ي‬ ‫ي‬ َ‫ه‬ ‫ي‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ َ‫ه‬ ‫ل‬
‫لعللللللللرن َياللفيحشللللللللآرء َلويالهَمينلكللللللللرر َلوياللبيغلللللللليِ َليرعظكلللللللليم َللعلَكلللللللليم َتللللللللذكهَريولن َلواذكللللللللهَروا َ ل‬
‫ل‬ َ‫ه‬ َ‫ه‬

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/97428/khutbah-jumat-bulan-safar-dan-momentum-menghargai-waktu
Konten adalah milik dan hak cipta www.islam.nu.or.idKHUTBAH Khutbah Jumat: Bulan Safar dan Momentum Menghargai Waktu Kamis 18 Oktober
2018 9:30 WIB Share: (Ilustrasi: NU Online) Khutbah I ‫ظهَم‬ ‫ض َالششهَهيورر َلوالللياَرم َلوالللَلياَرليِ َربلملزالياَ َلولف ل‬
‫ضاَرئرل َهَيلع ل‬ َ‫ص َلبيع ه‬ ‫ض َلفلخ ل‬ ‫ضهَه َلعللَىَ َلبيع ض‬‫ضلل َلبيع ل‬ ‫اللحيمهَد َ ررل َاللرذيي َلخللَلق َالززلماَلن َلولف ل‬
‫ل‬ ‫ُ َاللَزهَهلم َ ل‬.‫ل َلشررييلك َللهَه َلوأليشلههَد َأللن َلسليلدناَ َهَملحلمددا َلعيبهَدهَه َلولرهَسيولهَهَه َاللدارعىَ َربلقيولرره َلورفيعلَرره َإرللىَ َاللرلشاَرد‬
‫صلل َلولسلللَيم َعللَللىَ َلعيبللردلك َلولرهَسلليولرلك َهَملحزمللضد‬ ‫ا َلويحلدهَه َ ل‬َ‫ل َ ه‬‫ل َإرللله َإر ل‬ َ‫رفييلهاَ َالليجهَر َواللحلسلناَ ه‬
‫ُ َأليشلههَد َألين َ ل‬.‫ت‬
‫ي‬
ِ‫ا َاثلناَ َلعلشلر َلشيهدرا َرفللي‬ ‫ل‬ ‫ي‬ ‫ش‬ ‫ي‬
‫ِ َإرلن َرعلدلة َالشهَهورر َرعنلد َ ر‬:‫ا َلتلعاَللىَ َرفيِ َركلتاَربره َاللكررييرم‬ َ‫ت َلفلقيد َلقاَلل َ ه‬ ‫ل‬ ‫ل‬
‫ا َلتلعاَلىَ َربرفيعرل َالطاَلعاَ ر‬ َ‫ه‬
‫س َاتقوا َ ل‬‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ي‬ ‫ل‬ ‫ل‬
َ‫ُ َفلياَ َأشيلهاَ َالناَ ه‬،‫ُ َألماَ َبيعهَد‬.‫صلحاَربره َهَهلدارة َاللناَرم َفيِ َأنلحاَرء َالربللرد‬ ‫لولعللَىَ َآرله َوأ ي‬
‫م‬ ‫ل‬ ‫ي‬
‫ض َ رمنلهاَ َ أيرلبلعة َ هَحهَرمم‬ ‫ل‬ ‫ي‬
‫ت َ لوالير ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬
‫ا َ لييولم َ خلَلق َاللسلماَلوا ر‬ ‫ل‬
‫ب َ ر‬ ‫ل‬
‫ َ َ َ َ َركتاَ ر‬Jamaah shalat Jumat hafidhakumullâh, Pada zaman jahiliah, berkembang anggapan bahwa bulan
Safar adalah bulan sial atau dikenal dengan istilah tasyâ-um. Bulan yang tidak memiliki kehendak apa-apa ini diyakini mengandung keburukan-
keburukan sehingga ada ketakutan bagi mereka untuk melakukan hal-hal tertentu. Pikiran semacam ini juga masih menjalar di zaman sekarang.
Sebagian orang menganggap bahwa hari-hari tertentu membawa hoki alias keberuntungan, sementara hari-hari lainnya mengandung sebaliknya.
Padahal, seperti bulan-bulan lainnya, bulan Safar netral dari kesialan atau ketentuan nasib buruk. Jika pun ada kejadian buruk di dalamnya, maka itu
semata-mata karena faktor lain, bukan karena bulan Safar itu sendiri. Dari Abu Hurairah, Rasulullah ‫ َﷺ‬pernah bersabda: ‫لل َلعيدلوىَ َلولل َرطليلرلة َلولل َلهاَلملة َلولل‬
‫صلفلر َلورفللر َرملين َايللميجلهَذورم َلكلملاَ َلترفلشر َرملين َايلللسلرد‬
‫" َ َ َ ل‬Tidak ada 'adwa, thiyarah, hamah, shafar, dan menjauhlah dari orang yang kena penyakit kusta (lepra)
sebagaimana kamu menjauh dari singa." (HR Bukhari dan Muslim) 'Adwa adalah keyakinan tentang adanya wabah penyakit yang menular dengan
sendirinya, tanpa sebuah proses sebelumnya dan tanpa seizin Allah. Thiyarah adalah keyakinan tentang nasib baik dan buruk setelah melihat burung.
Dalam masyarakat jahiliah ada mitos yang mengatakan, bila seorang keluar rumah dan menyaksikan burung terbang di sebelah kanannya, maka tanda
nasib mujur bakal datang. Sementara bila melihat burung terbang di sebelah kirinya maka tanda kesialan akan tiba sehingga sebaiknya pulang.
Sedangkan hamah adalah semacam anggapan bahwa ketika terdapat burung hantu hinggap di atas rumah maka pertanda nasib sial akan tiba kepada
pemilik rumah tersebut. Tak beda jauh dengan shafar yang diyakini sebagai waktu khusus yang bisa mendatangkan malapetaka. Jamaah shalat Jumat
hafidhakumullâh, Islam tidak mengenal hari, bulan, atau tahun sial. Sebagaimana seluruh keberadaan di alam raya ini, waktu adalah makhluk Allah.
Waktu tidak bisa berdiri sendiri. Ia berada dalam kekuasaan dan kendali penuh Rabb-nya. Setiap umat Islam wajib berkeyakinan bahwa pengaruh baik
maupun buruk tidak ada tanpa seizin Allah ‫ﷻ‬. Begitu juga dengan bulan Safar. Ia adalah bagian dari dua belas bulan dalam satu tahun hijriah. Safar
merupakan bulan kedua dalam kalender Qamariyah, terletak sesudah Muharram dan sebelum bulan Rabiul Awwal. Ibnu Katsir ketika menafsirkan
Surat at-Taubah ayat 36 yang membicarakan tentang bilangan bulan dalam satu tahun, menjelaskan bawah nama shafar terkait dengan aktivitas
masyarakat Arab terdahulu. Shafar berarti kosong. Dinamakan demikian karena di bulan tersebut masyarakat kala itu berbondong-bondong keluar
mengosongkan daerahnya, baik untuk berperang ataupun menjadi musafir. Rasulullah sendiri menampik anggapan negatif masyarakat jahiliah tentang
bulan Safar dengan sejumlah praktik positif. Habib Abu Bakar al-‘Adni dalam Mandhûmah Syarh al-Atsar fî Mâ Warada 'an Syahri Shafar memaparkan
bahwa beberapa peristiwa penting yang dialami Nabi terjadi pada bulan Safar, di antaranya pernikahan beliau dengan Sayyidah Khadijah, menikahkah
putrinya Sayyidah Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib, hingga mulai berhijrah dari Makkah ke Madinah. Artinya, Rasulullah membantah keyakinan
masyarakat jahiliah bukan hanya dengan argumentasi tapi juga pembuktian bagi diri beliau sendiri. Dengan melaksanakan hal-hal sakral dan penting di
bulan Safar, Nabi seolah berpesan bahwa bulan Safar tidak berbeda dari bulan-bulan lainnya. Hadirin, Manusia diperintahkan untuk senantiasa
melakukan proses-proses dan tahapan-tahapan yang wajar. Islam adalah agama yang sangat menghargai fungsi akal sehat. Karena itu, tiap pekerjaan
amat dianjurkan melalui satu perencanaan yang matang dan ikhtiar yang maksimal. Selebihnya adalah doa dan kepasrahan total kepada Allah. Sial
atau beruntung merupakan kelanjutan dari proses dan tahap tersebut, bukan pada mitos-mitos khayal yang tak masuk akal. Untuk terbebas dari
penyakit, manusia diperintahkan untuk hidup bersih dan menghindari pengidap penyakit menular. Agar selamat dari bangkrut, pedagang disarankan
untuk membuat perhitungan yang teliti dan hati-hati. Agar lulus ujian, pelajar mesti melewati belajar secara serius. Dan seterusnya. Menolak adanya
"bulan sial" dan "bulan beruntung" akan mengantarkan kita menjadi pribadi yang wajar. Tidak malas ikhtiar karena merasa hari-harinya pasti diliputi
keberuntungan. Juga tidak dicekam kecemasan karena dihantui hari-hari penuh sial. Sebagai hamba, manusia didorong untuk berencana, berjuang, dan
berdoa; sementara ketentuan hasil dipasrahkan kepada Allah. Dengan demikian, saat menuai hasil, kita tetap bersyukur; dan tatkala mengalami
kegagalan, kita tidak lantas putus asa. Kemudaratan dan kesialan dapat menimpa kita kapan saja, tidak mesti pada bulan-bulan tertentu. Dari sinilah
kita diharapkan untuk selalu menjaga diri, melakukan usaha-usaha pencegahan, termasuk dengan doa memohon perlindungan kepada Allah setiap hari.
Doa yang bisa dibaca adalah: ‫ض َلولل َ رفيِ َاللسلماَرء َلوهَهلو َاللسرميهَع َايللعرلَيهَم‬ ‫ضشر َلملع َايسرمره َ لشييِمء َ رفيِ َايللير ر‬ َ‫ا َاللرذي َ لل َلي ه‬ ‫“ َ َ َربيسرم َ ل ر‬Dengan menyebut nama Allah yang bersama
nama-Nya tidak akan ada sesuatu di bumi dan di langit yang sanggup mendatangkan mudarat. Dialah Maha-mendengar lagi Maha-mengetahui.”
Barangsiapa yang membaca doa tersebut pagi dan sore, maka ia tidak akan menerima akibat buruk dari malapetaka. Keterangan tentang doa ini bisa
ditemukan dalam hadits riwayat Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah. Jamaah shalat Jumat hafidhakumullâh, Keberuntungan sejati adalah ketika
seorang hamba mengisi waktunya, kapan saja itu, untuk menjalankan ketaatan kepada Allah. Sebaliknya, kerugian terjadi adalah saat seseorang
menyia-nyiakan waktunya, termasuk ketika di bulan-bulan mulia sekalipun. Tidak ada bulan sial atau tidak, yang ada adalah apakah perbuatan kita
membawa maslahat atau tidak, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Inilah momentum baik untuk lebih menghargai waktu, dengan membangun
optimisme dan gairah menghamba kepada Allah setulus-tulusnya. Syekh Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Lathâif al-Ma’ârif fîmâ li Mawâsim al-‘Am min al-
Wadhâif, berpesan melalui syair: ‫ظلفهَر‬ ‫ُ َ لشيهمر َ ربره َايللفيوهَز َ لواللتيورفييهَق َ لوال ل‬.ُ.ُ.َ ‫صلفهَر‬ ‫“ َ َ َلكيم َ لذا َاللتلماَردي َ لفلهاَ َ لقيد َ لجاَلءلناَ َ ل‬Betapa banyak orang yang memiliki tuntutan, maka ini
telah datang bulan Safar kepada kita. Bulan yang disertai dengan kemenangan, taufik, dan keberhasilan.” ‫ُ َ لييولم َايللملعاَرد َ لفرفييره‬.ُ.ُ.َ ‫ت َ رمين َ رفيعضل َ لتهَسشر َ ربره‬ ‫لفاَيبلديأ َ ربلماَ َ رشيئ ل‬
‫ل‬ ‫ي‬ ‫ل‬ ‫ي‬
‫“ َ َ َالخيهَر َلينترظهَر‬Maka mulailah berbuat sesuatu yang akan membuatmu senang di hari kembali (hari kiamat), maka disana engkau akan melihat kebaikan.”
‫ي‬
‫ُ َرمين َلقيبهَل َلييبلَ هَهَغ َرفييهَكيم َلحشدهَه َايلهَعيمهَر‬.ُ.ُ.َ ‫ا َرفييره َرمين َهَذهَنيوربهَكيم‬ ‫“ َ َ َهَت يوهَبوا َإرللىَ َ ر‬Bertaubatlah kepada Allah di bulan Safar dari dosa-dosa, sebelum batas akhir usia menghampiri
pada kalian.” Semoga kita semua menjadi peribadi-pribadi yang senantiasa dianugerahi kekuatan untuk menghormati waktu-waktu yang Allah
anugerahkan kepada kita untuk perbuatan dan pikiran yang berfaedah, membawa maslahat, baik di dunia maupun di akhirat. Âmîn. َ‫لباَلرلك َا َرليِ َلوللهَكيم َ رفى‬
‫ا َاللعرظييلم َإرلنهَه َهَهلو َاللغفهَلل يوهَر َاللررحييللم‬ ‫ُ َلوألقهَ يوهَل َلقيورليِ َلهلذا َلفأَيسلتيغرفهَر َ ل‬،‫ا َرملناَ َلورمينهَكيم َرتلللولتهَه َلوإرلنهَه َهَهلو َاللسرمييهَع َاللعلَرييهَم‬ َ‫ُ َلولنلفلعرنيِ َلوإرلياَهَكيم َربلماَرفييره َرمين َآليرة َلورذيكرر َايللحركييرم َلولتلقلبلل َ ه‬،‫ َ َ َيالقهَيرآرن َياللعرظييرم‬Khutbah
II َ‫صلل َلعللَى‬ ‫ُ َاللَهَهلم َ ل‬.‫ضلوارنره‬ ‫ل َلشررييلك َللهَه َلوأليشلههَد َألن َلسليلدلناَ َهَملحلمددا َلعيبهَدهَه َلولرهَسيولهَهَه َاللدارعىَ َإللىَ َرر ي‬ ‫ا َلويحلدهَه َ ل‬ َ‫ا َلو ه‬ َ‫ل َ ه‬ ‫ل َراللله َإر ل‬ ‫ُ َلوأليشلههَد َألين َ ل‬.‫ل َلعلَلىَ َإريحلساَرنره َلوالششيكهَر َللهَه َلعلَلىَ َلتيورفييرقره َلورايمرتلناَرنره‬ ‫اليللحيمهَد َ ر‬
َ‫ه‬ ‫ل‬ ‫ي‬ ‫ل‬
‫ا َألملركيم َربأَيمضر َلبلدأ َرفييره َربلنفرسره َلوثللنىَ َربلملَ َرئلكرتره َربقيدرسللره َلولقللاَلل‬ ‫ل‬ َ‫ه‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ي‬
‫ا َرفييلماَ َألملر َلوانلتهَه يوا َلعلماَ َلنلهىَ َلوايعلَهَميوا َألن َ ل‬ ‫ل‬ ‫س َراتقوا َ ل‬ َ‫ه‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬
َ‫صلحاَربره َلولسلَيم َلتيسلَرييدماَ َركثييدرا َ َ َألماَ َلبيعهَد َلفيلاَ َالشيلهاَ َالناَ ه‬ ‫ل‬ ‫ل‬
‫لسليردلناَ َهَملحلمضد َرولعلَىَ َاللرره َلوأ ي‬
‫ك‬ ‫ا َلعلَلييره َلولسلَليم َلولعللَىَ َآرل َلسليردنلاَ َهَملحلمضد َلولعللَىَ َالينربيآرئلك َلوهَرهَسلَر ل‬ َ‫صللَىَ َ ه‬ ‫صلل َلعللَىَ َلسليردلناَ َهَملحلمضد َ ل‬ ‫ُ َاللَهَهلم َ ل‬.َ‫صلَش يوا َلعلَلييره َلولسلَلهَم يوا َلتيسلَرييدما‬ ‫صلَشيولن َلعلَلىَ َاللنربىَ َيآ َالشيلهاَ َاللرذييلن َآلمهَن يوا َ ل‬ ‫ا َلولملَرئلكلتهَه َهَي ل‬ ‫لتعاَ لللىَ َإرلن َ ل‬
‫ل‬
‫ض َلعنلاَ َلملعهَهليم‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬
‫صللحاَلبرة َلوالتلاَربرعييلن َلوتلاَربرعيِ َالتلاَربرعييلن َلهَهليم َربراَيحلسلاَضن َرالىَليلليورم َاللدييرن َلواير ل‬ ‫ل‬ ‫ي‬ ‫ي‬ ‫ل‬
‫ض َاللَهَهلم َلعرن َالخلَفاَرء َاللرارشردييلن َأربىَ َلبكضر َلوهَعلمر َلوهَعثلماَن َلولعرلَلىَ َلولع ين َلبرقليلرة َال ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ َ‫ه‬ ‫ي‬ ‫ز‬ ‫لولملَرئلكرة َيالهَمقلرربييلن َلواير ل‬
‫ل‬
‫ك‬‫رل ل‬ ‫د‬
‫ل‬ َ‫للا‬ ‫ب‬‫ع‬ َ ‫ر‬ ‫ي‬ ‫لل‬‫ص‬
َ‫ه‬ ‫ي‬
‫ن‬ ‫وا‬ َ ‫ن‬
‫ر ر ل ل‬‫ي‬
‫ي‬ ‫ك‬ ‫ر‬ ‫لل‬ ‫ي‬
‫ش‬ ‫م‬
َ‫ه‬ ‫ي‬
‫ال‬ ‫و‬َ ‫ك‬
‫ل ل‬ ‫ي‬
‫ر‬ ‫لل‬‫ل‬
‫ش‬ ‫ل َال‬
‫ل‬ ‫ذ‬ ‫ل‬ ‫أ‬ ‫و‬
‫رر ل ل ر‬ َ ‫ن‬ ‫ي‬
‫ي‬ ‫م‬ َ‫ل‬ ‫لل‬
‫س‬‫ي‬ ‫م‬
َ‫ه‬ ‫ي‬
‫ال‬ ‫و‬ َ ‫م‬
‫ر ل ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ي‬
‫س‬ ‫ل‬ ‫ي‬
‫ا‬ ‫ل‬
َ ‫ز‬ ‫ع‬
‫ل ر‬‫ل‬ ‫أ‬ َ ‫م‬ ‫ه‬
َ‫ه‬ َ‫ل‬‫ل‬ ‫ت َا‬
‫ل ر‬‫وا‬ ‫ي‬
‫م‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ي‬
‫ا‬ ‫و‬َ ‫م‬
‫ر ي ل‬ ‫ه‬
َ‫ه‬ ‫ي‬
‫ن‬ ‫م‬َ ‫ء‬َ‫ه‬ ‫حيآ‬‫ي‬ ‫ل‬ ‫ل‬‫ل‬ ‫ا‬َ ‫ت‬‫رل ر‬ َ‫ما‬ َ‫ل‬ ‫س‬ ‫ي‬ ‫م‬ َ‫ه‬ ‫ي‬
‫ال‬ ‫و‬ َ ‫ن‬
‫رر ل ل‬ ‫ي‬
‫ي‬ ‫م‬َ‫ل‬ ‫ي‬
‫س‬ ‫م‬َ‫ه‬ ‫ي‬
‫ال‬ ‫و‬َ ‫ت‬
‫ر ر ل‬ َ‫نا‬‫ل‬ ‫م‬‫ؤ‬‫ي‬ ‫م‬
َ‫ه‬ ‫ي‬
‫ال‬ ‫و‬َ ‫ن‬ ‫ي‬
‫ي‬ ‫ن‬‫م‬ ‫ؤ‬‫ي‬
‫ل ر ر رر ل ل‬ ‫م‬
َ‫ه‬ ‫ي‬
َ‫ل‬‫ل‬ َ ‫ر‬ ‫ي‬ ‫ف‬‫غ‬‫ي‬ ‫م َا‬ ‫ه‬
َ‫ه‬ ‫ل‬
َ‫الل‬ َ َ ‫ربلريحلمرتلك َلياَ َأليرلحلم َاللرارحرميي ل‬
َ ‫ن‬
َ‫ُ َاللَهَهلم َايدلفيع َلعلناَ َياللبلللء َلوياللولباَلء َلواللزللرزلل َلويالرملحلن َلوهَسيولء َيالرفيتلنرة َلويالرملحلللن َلمللا‬.‫صلر َاللدييلن َلوايخهَذيل َلمين َلخلذلل َيالهَميسلَررمييلن َلو َلدلمير َأليعلدالء َاللدييرن َلوايعرل َلكلَرلماَرتلك َإرللىَ َلييولم َاللدييرن‬ ‫صير َلمين َلن ل‬ َ‫يالهَملولحردليلة َلواين ه‬
‫ُ َلرلبلناَ َلظللَيملناَ َالينفهَلسلناَ َلواإين َلللليم‬.‫ب َاللناَرر‬ ‫ُ َلرلبلناَ َآرتنلاَ َرفىَ َالشدينلياَ َلحلسلندة َلورفىَ َيالْرخلررة َلحلسلندة َلورقلناَ َلعلذا ل‬.‫ب َياللعاَللرمييلن‬ ‫صدة َلولساَرئرر َيالهَبيلَلدارن َيالهَميسلَررمييلن َعآلمدة َلياَ َلر ل‬ ‫لظلهلر َرمينلهاَ َلولماَ َلبلطلن َلعين َلبللَردلناَ َراينهَدورنييرسلياَ َخآ ل‬
‫الل َياللعرظييلللم‬ ‫ظهَكلليم َلللعلَلهَكلليم َلتلللذلكهَريولن َلوايذهَكللهَروا َ ل‬ َ‫ا َليأَيهَمهَر َربياَللعيدرل َلوياليحلساَرن َلوإرييتآرء َرذي َيالقهَيربلىَ َلوليينلهىَ َلعرن َياللفيحشآرء َلويالهَمينلكر َلوياللبيغلليِ َليرع ه‬ ‫ا َ! َإرلن َ ل‬ ‫ُ َرعلباَلد ر‬.‫لتيغرفير َلللناَ َلولتيرلحيملناَ َلللنهَكيولنلن َرملن َياللخاَرسررييلن‬
‫ر‬ ‫ر‬
‫ليللللللللللللللللللللللللللللللللللللللللللليذهَكيرهَكيم َلوا يشلللللللللللللللللللللللللللللللللللللللللللهَكهَر يوهَه َ لعلَللللللللللللللللللللللللللللللللللللللللللللىَ َرنلع رملللللللللللللللللللللللللللللللللللللللللللره َليرزيد هَكللللللللللللللللللللللللللللللللللللللللللليم‬

rtama:
‫ وأشمهد أن محممدا‬،‫ لمه الملمك ولمه الحمد وهمو علمى كمل شميء قمدير‬،‫ وأشهد أن ل إله إل الم وحمده ل شمريك لمه‬،‫الحمد ل الذي له ما في السماوات وما في الرأض وله الحمد في الخآرة وهو الحكيم الخبير‬
‫ وسلم تسليما‬،‫ ومن تبعهم بإحسان‬،‫ وأصحابه‬،‫ وعلى آله‬،‫ صلى ال عليه‬،‫ والسراج المنير‬،‫عبده ورأسوله البشير النذير‬.
Ibadallah,
Bertakwalah kepada Allah Ta’ala. Selalu kaitkanlah amalan Anda dengan Allah. Bertawakkallah kepada-Nya. Berharaplah pahala pada-Nya. Dan
takutlah akan hukuman dari-Nya.
(‫ [ )نفابرمتْنمعغوا هعرنند ال لهه الررزنق نوارعبععدوهع نوارشعكعروا لنهع إهلنريهه تعمررنجععونن‬17 :‫]العنكبوت‬.
“Maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan.” [Quran Al-
Ankabut: 17].
Sebagian orang merasa pesimis dan khawatir menghadapi zaman. Dia menyangka waktu dan zaman itu bisa menimpakan keburukan kepadanya.
Mereka menafikan takdir Allah dan qadar-Nya. Ini meruapakan bentuk anggapan sial yang dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau
mengabarkan bahwa yang demikian ini termasuk syirik. Karena, orang yang menganggap sial dan merasa pesimis meyakini apa yang menimpanya ini
merupakan keburukan makhluk. Baik berupa waktu, tempat, atau person tertentu. Dengan keyakinan tersebut, ia pun membenci orang tertentu, waktu,
dan tempat tertentu. Membaralah di hatinya dan terus berprasangka bahwa hal tersebutlah yang memberinya keburukan atau sial. Dia lupa atau pura-
pura lupa kalau apa yang menimpanya tersebut sudah ditentukan oleh Allah dengan sebab dosanya.
Allah telah menyebutkan tentang orang-orang kafir, yang mereka itu sering beranggapan sial. Mereka sandarkan kesialan itu kepada orang-orang yang
baik. Semisal para nabi dan orang-orang yang beriman. Allah Ta’ala berfirman tentang kaum Firaun:
(‫صبرمعهرم نسيرئن ة ينطليلمعروا بهعمونسى نونمرن نمنعه‬ ‫)وإهرن تع ه‬
‫ن‬
“Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya.” [Quran Al-A’raf: 131].
Demikian juga kaum Tsamud, apabila mereka ditimpa kesusahan, mereka menganggap kesialan itu datang dari Nabi Shaleh ‘alaihissalam.
(‫ك‬‫ك نوبهنمرن نمنع ن‬ ‫)نقاعلوا اطليلمررننا به ن‬
“Mereka menjawab: “Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu”. [Quran An-Naml: 47].
Demikian juga orang-orang musyrik Arab, mereka menganggap kesialan itu datang dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana
yang Allah firmankan kepada mereka:
(‫صبمعهرم نسيرئن ة ينمعقوعلوا نههذهه همرن هعرنهدنك‬ ‫)نوإهرن تع ه ر‬
Dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. [Quran An-Nisa: 78].
Allah membantah mereka semua. Dia menjelaskan bahwa yang menimap mereka adalah hukuman dan makar Allah terhadap mereka. Sesungguhnya
Allah menetapkan keburukan untuk mereka dikarenakan dosa-dosa mereka:
‫ه ه‬
(‫ك‬‫ك همرن نسيرئنةة فنهمرن نمرفهس ن‬ ‫ه‬ ‫ك همن ح ة‬
‫سننة فنهمنن ال له نونما أن ن‬
‫صابن ن‬ ‫صابن ن ر ن ن‬
‫ه‬ ‫ه ه ه ه‬
‫)قعرل عكلل مرن عرند ال له فننماهل نهعؤلء الرنقروم ل يننكاعدونن ينمرفنقعهونن نحديثثا *نما أن ن‬
Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan
sedikitpun? Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.”
[Quran An-Nisa: 78-79].
Menganggap kesialan datang dari orang-orang yang baik hakikatnya bertentangan dengan nurani mereka sendiri. Karena secara logika dan nurani,
orang-orang yang baik akan mendatangkan kebaikan pula.
Ibadallah,
Di antara anggapan sial dan rasa pesimis yang dipraktikkan masyarakat jahiliyah adalah mereka meyakini bulan Safar ini sebagai bulan sial. Mereka
melarang diri mereka dan anggota keluarga mereka untuk melakukan pekerjaan yang biasa mereka lakukan di bulan lainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam membantah pandangan mereka ini dengan sabda beliau:
‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬
(‫صنفنر )أخآرجه البخارأي و مسلم‬ ‫صللى ال لهع نعلنريه نونس لنم نقانل نل نعردنوىَ نونل طينمنرنة نونل نهانمةن نونل ن‬ ‫نعرن أنهبي عهنريرمنرنة نرأضني ال لهع نعرنهع نعهن ن‬
Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah bersabda, “Tidak benar (meyakini) penyakit berpindah, tidak benar
mempercayai gerak-gerik burung, tidak benar meyakini burung hantu, tidak benar anggapan bulan Safar adalah bulan sial”. [HR al-Bukhari dan Muslim].
Beliau menafikan keyakinan jahiliyah bahwa penyakit itu menular karena tabiat penyakit itu sendiri. Tapi menular kepada orang lain atas takdir Allah.
Allah Ta’ala berfirman,
(‫ب همرن قنمربهل أنرن ن رمبمنرأننها‬
‫ض نول هفي أننرمعفهسعكرم هإل هفي كهنتْا ة‬ ‫صيبنةة هفي النررأ ه‬ ‫)ما أنصاب همن م ه‬
‫ن ن ن ر ع‬
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum
Kami menciptakannya.” [Quran Al-Hadid: 22].
Kemudian sabda beliau: gerak-gerik burung, tidak pula burung hantu. Di masyarakat kita jika ada burung gagak, burung hantu, sebagian masyarakat
menyangka itu pertanda musibah. Ada juga menabrang kucing. Bunyi tokek. Dll. Nabi hapuskan keyakinan-keyakinan jahiliyah ini untuk manusia. Dulu,
orang jahiliyah apabila ada burung tertentu melakukan perbuatan tertentu, mereka mengatakan, “Celaka aku, musibah akan menimpaku atau salah
seorang dari penghuni rumahku”.
Dia yakin bahwa dia atau salah seorang penghuni rumahnya akan wafat. Kesialan ini ditandai dengan burung tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
menafikan hal ini.
Kemudian orang-orang jahiliyah juga menganggap sial bulan Safar. Dan saat ini kita di bulan Safar. Mereka berkata tentang bulan Safar, “Sesungguhnya
itu adalah bulan sial.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sanggah keyakinan itu. Sesungguhnya bulan itu tidak memiliki pengaruh. Dia sama saja dengan
waktu-waktu yang lainnya, yang Allah jadikan suatu kesempatan untuk melakukan aktivitas yang bermanfaat.
Keyakinan seperti ini adalah keyakinan jahiliyah. Dan keyakinan ini senantiasa ada pada sebagian orang pada hari ini. Di antara mereka ada yang
menganggap sial bulan Safar. Ada lagi yang menganggap sial hari Rabu, hari Sabtu, atau hari-hari lainnya. Karena hari-hari tersebut dianggap sial,
mereka tidak mau melangsungkan pernikahan pada waktu-waktu tersebut.
Orang-orang jahiliyah juga menggap bulan Syawwal itu bulan sial. Mereka tidak mau melangsungkan pernikahan di bulan syawwal. Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam membatalkan keyakinan demikian. Beliau nikahi Aisyah radhiallahu ‘anha di bulan Syawwal. Dan beliau juga menikahi Ummu Salamah
radhiallahu ‘anha juga pada bulan Syawwal.
Ayyuhal muslimun,
Sesungguhnya kebaikan dan keburukan, kenikmatan dan musibah, semuanya adalah takdir Allah.
(‫)قعرل عكلل همرن هعرنهد اللله‬
“Katakanlah: semuanya dari sisi Allah.” [Quran An-Nisa: 78].
Dia menciptakan apa saja yang Dia kehendaki dan inginkan. Tidaklah seorang hamba ditimpa keburukan atau hukuman, kecuali hal itu merupakan
takdir Allah. Kecuali Allah telah menetapkan hal itu untuknya. Musibah ini dikarenakan dosa mereka dan kemaksiatan mereka.
(‫ت أنيرهديعكرم‬ ‫سبن ر‬ ‫ه ه ة ه‬
‫صابنعكرم مرن عمصيبنة فنبنما نك ن‬ ‫)نونما أن ن‬
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” [Quran Asy-Syura: 30].
Makhluk tak memiliki andil dalam takdir Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
‫ضصرونك إهلل به ن ة‬
‫ف‬‫صعح ع‬ ‫ت ال ص‬ ‫ت النقرلنعم نونجلف ر‬ ‫ رأفهنع ه‬،‫ك‬
‫شريء قنرد نكتْنبنهع ال لهع نعلنري ن ع‬ ‫شريةء لنرم ين ع‬
‫ضصرونك به ن‬ ‫شريةء قنرد نكتْنبنهع ال لهع لن ن‬
‫ نولنرو ارجتْننمععوا نعنلى أنرن ين ع‬،‫ك‬ ‫شري لنرم ينمنرمنفععونك إهلل به ن‬
‫ت نعنلى أنرن ينمنرمنفععونك به ن‬
‫“نوارعلنرم أنلن العلمةن لنرو ارجتْننمنع ر‬
“Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh manusia
bersatu-padu untuk membantumu, keinginan mereka tidak akan tercapai, kecuali bila Allah telah takdirkan hal itu. Dan seandainya mereka bersatu-padu
untuk mencelakaimu, niscaya keinginan mereka tidak akan tercapai, kecuali bila Allah telah takdirkan hal itu. Pena takdir telah diangkat dan tinta catatan
takdir telah kering”. [HR. Tirmidzi].
Namun demikian, jangan dipahami bahwa Allah tidak menjadikan makhluk sebagai lantaran terjadinya kebaikan dan keburukan. Perantara sehat ketika
sakit, pergi ke dokter dan minum obat. Tapi yang perlu dipahami adalah sebab dan lantaran ini bukanlah yang menjadikan sesuatu itu terjadi. Bisa jadi
seorang sembuh ketika ke dokter dan minum obat. Bisa jadi tidak sembuh. Lantaran dan sebab ini juga berada di tangan Allah. Seorang hamba hanya
dianjurkan melakukan usaha yang baik dan menjauhi usaha yang buruk. Allah Ta’ala berfirman,
(‫ب الرعمرحهسهنينن‬ ‫)نول تعمرلعقوا بهأنيرهديعكرم إهنلى التْلمرهلعنكهة نوأنرحهسعنوا إهلن ال لهن يعهح ص‬
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
berbuat baik.” [Quran Al-Baqarah: 195].
al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Adapun menjadikan waktu, seperti bulan Safar dan selainnya sebagai waktu yang buruk, hal ini tidak
benar. Waktu adalah makhluk Allah Ta’ala. Dalam waktu tersebut amalan anak Adam terjadi. Setiap waktu yang diisi oleh seorang mukmin untuk menaati
Allah, maka waktu-waktu tersebut adalah waktu yang berkah. Dan waktu-waktu yang diisi oleh seorang hamba dengan kemaksiatan keapda Allah, maka
itulah waktu yang buruk. Kesialan hakikatnya adalah maksiat kepada Allah Ta’ala. Dosa dan maksiat membuat Allah murka. Jika Allah murkan kepada
hamba-Nya, maka ia akan mengalami kesulitan di dunia dan akhirat. Sebagaimana ketaatan mendatangkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apabila
Allah ridha dengan hamba-NYa, maka ia akan berbahagia di dunia dan akhirat.
Kemaksiatan menyebabkan kesialan atau keburukan bagi si pelaku dan untuk orang lain. Karena ia dalam keadaan tidak aman dari adzab. Dan adzab
ini bisa jadi berdampak kepada masyarakat luas. Terlebih lagi apabila masyarakat tersebut tidak melakukan nahi mungkar.
Demikian juga tempat-tempat yang digunakan untuk bermaksiat, hendaknya seorang hamba menghindari tempat-tempat tersebut. Karena dikhawatirkan
akan turun adzab di sana. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya tentang negeri Tsamud.
‫صابنمعهرم فننل تنردعخآعلوا نعلنريهرم‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫إهرني أنرخآ ن‬
‫شى أنرن يعصيبنعكرم مثرعل نما أن ن‬
“Aku takut kalian ditimpa musibah yang pernah menimpa mereka, maka janganlah kalian masuk!”
Semestinya kita menghindari tempat-tempat maksiat dan juga menjauhi pelaku maksiat. Karena orang yang berhijrah adalah orang yang yang hijrah dari
apa yang dilarang oleh Allah. Ibrahim bin Adham rahimahullah mengatakan, “Siapa yang ingin bertaubat, hendaknya ia keluar dari tempat kezaliman.
Dan tidak berbaur dengan pelaku dosa. Jika tidak demikian, dia tidak akan mendapatkan apa yang dia ingingkan.”
Contohnya: kalau seseorang ingin berhenti dan taubat dari kebiasaan berjudi, maka ia harus meninggalkan tempat yang biasa diadakan perjudian. Dan
juga meninggalkan pergaulan dengan para penjudi. Seorang yang inign berhenti merokok, jauhi tempat dan teman-teman yang biasa merokok.
Waspadailah perbuatan dosa. Karena perbuatan dosa itulah yang mendatangkan keburukan dan kesialan. Sebagai hukuman bagi pelakunya. Waspadai
pula tempat-tempat dosa. Tempat dan waktu aslinya adalah suci, namun dosa-dosa manusia yang membuatnya rusak dan kotor. Tempat dan waktu itu
digunakan untuk berbuat kebajikan, tapi perbuatan mausia yang buruk berdampak buruk pula bagi waktu dan tempat. Sebagaimana dikatakan:
‫نعيب زماننا والعيب فينا وما لزماننا عيب سوانا‬
Kita mencela zaman kita, padahal kitalah yang buruk.
Zaman dan waktu tidak punya aib, tapi kitalah yang ber-aib.
Ibadallah,
Bertakwalah kepada Allah. Makmurkan rumah dan waktu kalian dengan ketaatan kepada Allah. Selalu kaitkan hati kalian kepada Allah; takut, harap, dan
cinta kepada-Nya. Ketauhilah! Apa yang menimpa kalian berupa hal-hal yang tidak kalian sukai, itu adalah karena dosa-dosa kalian. Bukan karena
waktu dan tempat yang sial. Karena itu salahkanlah diri kalian sendiri.
Siapa yang merasa sial karena bulan, hari, jam, atau sesuatu yang lain, maka pada hakikatnya dia telah menuduh Allah. Dia telah mencela Allah.
Sebagaimana sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi:
‫ب ال لرينل نوالنلمنهانرأ‬ ‫هه‬ ‫هه‬
‫ب اللدرهنر نوأنننا اللدرهعر بيندي ارلنرمعر أعقنملر ع‬ ‫سص‬ ‫يعمرؤذيني ابرعن آندنم ين ع‬
“Anak adam menyakiti-Ku dengan dia mencela masa, padahal Aku adalah masa, di tangan-Ku lah segala urusan. Akulah yang membolak-balikkan siang
dan malam.”
Dalam hadits lain, beliau bersabda:
‫سصبوا اللدرهنر فنهإلن ال لهن عهنو اللدرهعر‬ ‫نل تن ع‬
“Janganlah kalian mencela masa, karena sesungguhnya Allahlah masa.” (HR. Muslim).
‫ب نفارستْنمغرهفعرروهع إهنلهع عهنو الغنعفروعرأ النرهحريعم‬ ‫سائههر العمرسلههمرينن همرن عكرل نذنر ة‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه ر‬ ‫ه ه ه ههه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬
‫ِ أنقعمروعل قنمرولي نهنذا نوأنرستْنمغرفعر الن لري نولنعكرم نول ن‬.‫ نبانرأنك الع لري نولنعكرم في العقررآن النكهريرهم نونمنفرعني نوإلياعكرم بنما فريه منن النيات نوالذركهر النحكريهم‬.
Khutbah Kedua:
‫ساةن هفي النقروهل نوالهفرعهل‬ ‫ وأنرشهعد أنلن محلمداث نعبعدهع ورأسولعهع البهشيمر النلهذيمر؛ُ صللى ال نعلنيهه ونعنلى آلههه وأن ر ه ه‬،‫صيمر‬ ‫ه‬ ‫ب نشهديرهد العهنقا ه‬ ‫انلرنحرمعد لهلهه نغافههر النذنر ه‬
‫ه هه‬
‫صنحابه نونمرن تنبنععهرم بإرح ن‬ ‫ن‬ ‫ع ر ن‬ ‫ر نن عر ن ر ع رع ن‬ ‫عن‬ ‫ هذري الطلروهل نل إهلنهن إهلل عهنو إهلنريه النم ه ر ع ن ن‬،‫ب‬ ‫ب نقابههل التْلمرو ه‬
‫نواهلرعتْهنقاهد نونس لنم تنرسلهيرثما‬.
‫ه‬ ‫ه‬ ‫ أنيصمها اللنا ه‬:‫أنلما بمعد‬.
‫صروهع‬ ‫س اتلمعقروا الن نوأنطيرمععروهع نوارمتْثنملعروا أنرمنرهع نونل تنمرع ع‬‫ع‬ ‫نر ع ن‬
Ibadallah,
Al-Baghawi rahimahullah mengatakan, “Kebiasaan orang-orang Arab dulu, mereka mencela masa. Yakni ketika di masa tersebut datang musibah.
Karena mereka menisbatkan musibah dan derita itu kepada masa.”
‫سمننةة فنهممنن‬ ‫صبمهم سيرئ ة يمعقوعلوا ههذهه همن هعرنهدنك قعل عكلل همن هعرنهد ال لهه فنماهل هعؤلهء الرنقوهم ل ينكادونن يمرفنقهممونن حمهديثثا *ممما أنصماب ن ه‬ ‫ه‬ ‫هه ه ه ه ه‬
‫ك ممرن نح ن‬ ‫ن نن‬ ‫ر ن ع ن ع ن‬ ‫ن ن‬ ‫ر‬ ‫ر‬ ‫ر‬ ‫ن‬ ‫سنن ة ينمعقوعلوا نهذه مرن عرند ال له نوإهرن تع ر ع ر ن ن ن‬ ‫صبمعهرم نح ن‬ ‫ )نوإهرن تع ه ر‬:‫أعوذ بال من الشيطان الرجيم‬
[80-79-78 :‫ع ال لهن نونمرن تنمنوللى فننما أنررأنسرلننانك نعلنريهرم نحهفيثظا( ]النساء‬ ‫س نرأعسول نونكنفى هبال لهه نشههيثدا *نمرن يعهطهع اللرعسونل فنمنقرد أننطا ن‬ ‫ك نوأنررأنسرلننانك هلللنا ه‬ ‫ك همرن نسيرئنةة فنهمرن نمرفهس ن‬ ‫صابن ن‬ ‫ه‬
‫ال له نونما أن ن‬.
“Dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka
mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang
munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun? Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang
menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.
Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak
mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” [Quran An-Nisa: 78-80].
‫سراهج المنهيهر محلمةد صللى ال نعلنيهه وس لم فنمنقرد أنمرعكم ال بهمنذله ن ه ه ه‬
‫ ﴿ إهلن ال ل هن نونمنلئهنكتْنمهع‬:‫صملصرونن نعلنري هه فنمنقانل عسمربنحا نهع نوتنمنعانلى‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬
‫ك فمي كنتْابهه النعهزيرمهز بنمرعمند أنرن أنرخآبن منر عس ربنحا نهع أننملهع نونمنلئنكتْنمهع يع ن‬ ‫نن ع ع‬ ‫ع ر نن ن‬ ‫صلصروا نونسلرعمروا نعنلى البنشريهر الننذيرهر نوال ر ن ع ر ع ن ن‬ ‫نو ن‬
‫ه‬
(( ‫صلى ال هع نعلنيرمه نعرشمثرا‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ه‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ه‬ ‫ل‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ل‬ ‫ه‬ ‫ل‬ ‫ه‬ ‫ر‬ ‫ه‬ ‫ص‬ ‫ه‬ ‫ل‬ ‫ه‬ ‫ص‬
‫صلى نعلنلي نواحندثة ن‬ ‫ ))نمرن ن‬:‫صلى الع نعلنيره نونس نم‬ ‫صنلة نعلنيره بنقروله ن‬ ‫ضنل ال ل‬ ‫صلى الع نعلنيره نونس نم فن ر‬ ‫ نوبنميلنن ن‬، [٥٦:‫صلوا نعلنيره نونسلعموا تنرسليماث ﴾ ]الحزاب‬ ‫صلونن نعنلى النلبري نيا أنيصمنها ا ذينن آنمعنوا ن‬ ‫يع ن‬
.
‫ه‬ ‫هه ه ه‬ ‫ك نبهيرمنمنما محلممةد ه‬ ‫صمرل نونسملررم نوبمنماهرأرك نعلمنمى نعربمهدنك نونرأعسمروله ن‬
‫ض ال لعهملم نعمهن‬ ‫ نواررأ ن‬،‫ض ال لعهملم نعمرن عخآلننفمماءه اللراشمديرنن النهمماهديهرينن النمرهمديهرينن أنبمهمي بنركمةر نوععنممنر نوععثرنمممانن نونعلرمةي‬ ‫ض النممروعرأروهد نواررأ ن‬ ‫ب النمنقمماهم النمرحعممروهد نوالنحمرو ه‬ ‫صمماح ع‬ ‫ن‬ ‫عن‬ ‫نال لعهملم ن‬
‫ك نيا أنركنرنم النركنرهمرينن‬ ‫ك ونكرهم ن ه‬ ‫ه‬ ‫ نونمرن تنبهنععهرم بههإرح ة ه‬،‫صنحابنهة أنرجنمهعرينن‬
‫سانه ن‬ ‫ك نوإرح ن‬
‫ه‬
‫ نونعلنا نمنععهرم بنمنر ن ن ن‬،‫سان إنلى ينمروم الرديرهن‬ ‫ن‬ ‫ال ل‬.
‫صملرح أنئهلمتْنمننما نوعونلنة أععمروهرأننا نوارجنعرلعهمرم عهمنداةث عمرهتْن هديرنن ينمعقرولعمرونن هبالنحقق نوبهمهه‬‫ه‬ ‫ه‬ ‫ نوأنهذلل ال ر‬،‫نال لعهلم أنهعلز اهلرسنلنم نوالعمرسلههمرينن‬
‫ِ نال لعهملم آملنا هفمي أنرونطانهننما نوأن ر‬.‫ب النعالنهمرينن‬ ‫ نوارحمهم نحمرونزنة اهلرسمنلنم نيا نرأ ل‬،‫ نوندرمرر أنرعمنداءن المرديرنن‬،‫شررنك نوالعمرشهركهرينن‬
‫ت انرلنرحياهء همنرمعهم وارلنرموا ه‬ ‫ت والمرؤهمنهرين والمرؤهمننا ه‬ ‫ه ه‬ ‫ه ه هه‬ ‫ه‬
‫ت‬ ‫رن ن‬ ‫ن‬ ‫ِ نال لعهلم ارغفرر لرلعمرسلمرينن نوالعمرسلنما ن ع ن ن ع‬.‫ينمرعدلعرونن‬.
‫ِ نرأبلمننا ارغهفمرر لنننما نوههلرخآنوانهننما‬.‫ت نرأانح ةث لنننا هممرن عكمرل نشمرر‬ ‫ نوارجنعهل النحنيانة هزنياندثة لنننما فهمي عكمرل نخآيرمةر نوالنممرو ن‬،‫صلهرح لنننا آهخآنرتنمننا انلهتْي إهنرليمنها نمنعاعدننا‬ ‫ نوأن ر‬،‫صلرح لنننا عدنرمنياننا انلهتْي ه رفيمنها نمنعاعشننا‬
‫ وأن ه‬،‫نال لهلم أنصلهح لنننا هديمننمننا انلهذي هو هعصمةع أنمهرننا‬
‫ر عن ر ن ر ن ر‬ ‫ر‬ ‫ع ر ر‬
‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬
‫ك نرأرحنممةث إنمل ن‬ ‫ل‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ل‬ ‫ه‬ ‫ل‬ ‫ه‬
‫الهذيرنن نسبنمعقروننا باليرنمان نونل تنرجنعرل في قعملعروبننا غل ل ذيرنن آنمنعمروا نرأبلمننا إنل ن‬
‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ه‬
‫س ننةث‬‫س ننةث نوفمي الخآمنرة نح ن‬ ‫ِ نرأبلمننا آتننما فمي المصدنرمنيا نح ن‬.‫ب‬
‫ت النولها ع‬ ‫ك أننرم ن‬ ‫ب لنننا م رن عدنر ن‬ ‫غ قعملعروبنمننا بنمرعند إرذ نهنديرمتْنمننا نونه ر‬ ‫ِ نرأبلمننا نل تعهز ر‬.‫ف نرأحريةم‬‫ك نرأعؤرو ة‬
‫ب اللناهرأ‬ ‫ه‬
‫نوقننا نعنذا ن‬.
‫ نوارشمعكعرروهع نعلنمى نهنعهممهه ينهزردعكمرم ﴿نولنمهذركعر ال لمهه‬،‫شاهء نوالرعمرننكهر نوارلبنمغرهي ينهعظععكرم لننع لعكرم تننذلكعرونن ﴾ نفارذعكعرروا الن انلرنعهلعي النعهظريعم النجهليرمعل ينمرذعكررعكرم‬ ‫ساهن نوهإينتْاهء هذي الرعقررنبى نوينم رنمنهى نعهن الرنفرح ن‬ ‫ه ه‬ ‫ه ل‬
‫ ﴿ إلن ال هن ينأرعمعر بالرنعردل نوا رهلرح ن‬: ‫عنباند ال‬
‫ه‬ ‫ه‬
‫صننمععونن‬ ‫ ﴾ أنركبنمعر نوال لهع ينمرعلنعم نما تن ر‬.
BULAN Safar, yaitu bulan kedua setelah Muharam dalam kalendar Islam (Hijriyah) yang berdasarkan tahun Qamariyah (perkiraan bulan mengelilingi
bumi). Safar artinya kosong atau nol. Dinamakan Safar karena dalam bulan ini orang-orang Arab dulu sering meninggalkan rumah untuk menyerang
musuh.
Telah menjadi kepercayaan keliru oleh sebagian umat bahwa Safar adalah bulan sial atau bulan bencana. Padahal, mitos Safar bulan sial ini sebenarnya
sudah dibantah oleh Rasulullah Muhammad saw yang menyatakan bahwa bulan Safar bukanlah bulan sial.
Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw bersabda, “Tidak ada penyakit menular (yang berlaku tanpa izin Allah), tidak ada buruk sangka pada sesuatu
kejadian, tidak ada malang pada burung hantu, dan tidak ada bala (bencana) pada bulan Safar (seperti yang dipercayai).”
Rasulullah Saw juga bersabda: “Tidak ada wabah dan tidak ada keburukan binatang terbang dan tiada kesialan bulan Safar dan larilah (jauhkan diri)
daripada penyakit kusta sebagaimana kamu melarikan diri dari seekor singa” (HR. Bukhari)
Dalam sejarah Islam, bulan shafar menempatkan peristiwa-peristiwa penting yang berkaitan dengan perkembangan Islam dari zaman Rasulullah hingga
kejayaan dan keruntuhunnya. Berikut 11 peristiwa penting di bulan Safar.
1. Pernikahan Rasulullah saw dengan Khadijah binti Khuwailid
Menurut beberapa sumber Rasulullah saw menikahi khadijah rha pada bulan Shafar. Menurut Sirah Nabawiyah yang ditulis oleh Syeikh
Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri Rasulullah muda menikahi khadijah atas prakarsa Nafisah binti Munabbih. Mahar yang diberikan Rasulullah saw berupa
unta 20 ekor dengan jarak usia lebih tua khadijah 15 tahun.
2. Peristiwa Perang Al-Abwa
Dalam Zaadul Maad Peristiwa ini terjadi pada bulan Shafar tahun ke 12 Hijrah. Perang Al Abwa disebut pula dengan Perang Waddaan. Pembawa panji
perang saat itu Hamzah bin Abdul Muthalib. Ketika itu panji yang dibawa berwarna putih. Kepemimpinan kota Madinah sementara waktu diserahkan
kepada Saad bin Ubadah. Perang ini Dilakukan khusus untuk menyergap kafilah Quraisy namun tidak membuahkan hasil.
Pada peristiwa ini Nabi berpesan kepada Makhsyi bin Amr adh-Dhamari, yang merupakan pemimpin Bani Dhamrah kala itu, untuk tidak saling berperang
dan tidak membantu lawan. Perjanjian dibuat tertulis. Itu berlangsung selama lima belas malam.
3. Tragedi Ar Raji’
Pada tahun 3 H bulan Shafar datanglah kepada Nabi saw kaum dari Bani ‘Adhal dan al-Qaaroh dan menyatakan bahwa mereka masuk Islam. Dalam
Zaadul Maad dikisahkan Kedua kabilah itu meminta dikirim orang-orang yang dapat mengajarkan mereka tentang Islam dan membacakan kepada
mereka al-Quran. Nabi saw mengutus kepada mereka enam orang. -Ibnu Ishaq dan al-Bukhari menyebutkan: sepuluh orang.- yang dipimpin oleh
Mursyid bin Abi Mursyid al-Ghanawi, yang salah satunya Khabib bin Adi. Namun, ketika rombongan sampai pada suatu tempat bernama Ar Raji’ dua
kabilah tersebut berkhianat. Para utusan Islam dibantai dengan dibantu oleh kabilah Hudzail dan menawan Khabib bin Adi dan Zaid bin ad-Datsiah.
Kemudian keduanya dijual di Mekkah. Mereka berdualah yang nantinya membunuh tetua kabilah Hudzail pada perang Badar.
4. Tragedi Bi’ir Ma’unah
Peristiwa Bi’ir Ma’unah terjadi pada bulan Shafar tahun 4 H selang beberapa saat setelah tragedi Ar Raji’. Diceritakan dalam Hayat Muhammad karya M
Husain Haikal pada waktu itu Rasulullah saw menawarkan keIslaman kepada Abu Bara’ Amr bin Malik. Namun Abu Bara’menolak dengan halus.
Kemudian ia menawarkan kepada Rasulullah saw agar mengutus sahabatnya ke Najd untuk mengajak kaum Najd memeluk Islam. Atas jaminan dari
Abu Bara’ Rasulullah saw kemudian mengutus Al Mundhir bin Amr dari Bani Sa’idah beserta 40 sahabat pilihan menuju Najd.
Ketika sampai di Bi’ir Ma’unah Para utusan berhenti dan mengutus Haram bin Milhan membawa dari Rasulullah kepada Amir bin Thufail. Namun surat
itu tidak dibaca Amr, bahkan Amr membunuh Haram bin Milhan. Kemudian Amir bin Thufail meminta bantuan kabilah Bani Amir yang akhirnya ditolaknya
karena ada jaminan perlindungan (suaka) dari Abu Bara’. Amir Bin Thufail kemudian mengajak kabilah Bani Sulaim dan mendapat sambutan. Pecahlah
pertempuran antara Amir dan sekutunya dengan utusan Rasululah, akhirnya semua utusan terbunuh kecuali Ka’ab bin Zaid bin an-Najjar walaupun
terluka dan bergelimpangan bersama jasad-jasad lain. Dia hidup hingga gugur pada peristiwa perang Khandak.
Pada pertempuran ini terbunuh pula ketua utusan Mundzir bin Uqbah bin Aamir sedangkan Amr bin Amiah adh-Dhamari ditawan. Ketika tahu bahwa Amr
dari kabilah Mudhar, Aamir memotong rambut dahinya (jambulnya) dan membebaskannya dengan jaminan yang ada pada Amiah.
Amr bin Amiahpun kembali ke Madinah. Ketika sampai di Qorqorah di Sodr Qonaah (nama tempat) dia berteduh di sebuah pohon. Pada saat yang sama
datanglah dua orang dari Bani Kilaab turut berteduh bersamanya. Manakala kedua orang dari bani Kilaab tertidur, Amr membunuh keduanya. Amr
merasa sedikit telah membalaskan apa yang telah dilakukan terhadap para sahabatnya. Tetapi ayalnya, ternyata kedua orang yang dibunuh itu telah
memiliki perjanjian dengan Rasulullah saw, dan dia tidak menyadarinya. Ketika sampai di Madinah Amr mengabarkan apa yang terjadi kepada
Rasulullah saw dan apa yang dia lakukan terhadap dua orang dari Bani Kilaab.
(Mendengar itu) Nabi pun bekata,
‫لمقميد ِقمتميلتْ ِقمدتيلمييدن ِ م ه‬
َ‫لوُأَدديمننههمما‬
“Sungguh engkau telah membunuh dua orang yang harus aku bayar diah (denda) pembunuhan keduanya”.
5. Kemengan Perang Khaibar
Menurut Ibnu Qayim Al Jauziyah dalam Zaadul Maad Sesungguhnya keluarnya Rasulullah r ke Khaibar adalah di akhir bulan Muharram, bukan
permulaannya. Fath (kemenangannya) adalah di bulan Shafar.
Perang Khaibar merupakan peperangan kaum muslimin dengan Yahudi di Khaibar karena bersekutu denga Raja Hiraklius. Kaum Muslimin menaklukkan
sebuag benteng yang berlapis dengan membutuhkan waktu berhari-hari untuk mengepung dan menembus masuk ke bentng tersebut.
6. Peristiwa Pengepungan di Khats’am
Peristiwan ini jatuh pada bulan Shafar tahun 9 H. Ibnu Mas’ud berkata, “Mereka menceritakan:
Rasulullah saw mengutus Qutbah bin Aamir dengan dua puluh orang ke distrik dari wilayah Khast’am pinggiran Tabbaalah. Nabi memerintahkannya
untuk mengepung tempat itu. Merekapun keluar dengan berbekal sepuluh onta. Mereka manawan seorang lelaki dan menginterogasinya. Tetapi bahasa
orang itu tidak dapat dimengerti dan dia berteriak-teriak. Karena membahayakan merekapun memenggal lehernya.
Ketika penduduk al-Hadiroh telah tertidur lelap, pengepunganpun dilakukan, sehingga terjadilah pertempuran yang sengit, banyak yang terluka dari
kedua belah pihak. Qutbah bin Aamir memerangi siapa saja yang melawan. Ternak, wanita dan apapun yang bisa dibawa digiring ke Madinah.
Dikisahkan bahwa lawan berkumpul untuk menyusul dan mengikuti jejak mereka, tetapi Allah swt mengirim banjir bandang yang mencegat mereka untuk
bisa sampai kepada para sahabat dan apa yang mereka bawa. Kaum itu hanya bisa menatap hingga rombongan menghilang dari pandangan mereka,
tidak dapat menyeberang (Zaadul Maad).
7. Masuk Islamnya Bani Udzrah
Bani Udzrah adalah salah satu bani yang mempunyai garis keturunan sampai kepada Qushai salah satu kakek Rasulullah saw. Pada waktu itu datang
kepada Rasulullah utusan dari Udzroh pada bulan Shafar, tahun kesembilan sebanyak dua belas orang. Di antaranya Jumroh bin an-Nu’maan. Mereka
menyatakan diri memeluk Islam. Rasulullah saw kemudian menceritakan kepada mereka akan datangnya kemenangan atas Syam dan diperanginya
Hiraklius hingga akhir imperiumnya.
8. Pengangkatan Usamah Bin Zaid
Pada bulan safar Rasulullah mempersiapkan kaum muslimin untuk berperang. Pasukan kaum muslimin yang berjumlah 3000 ribu dan didalamnya
terdapat banyak sahabat. Rasulullah memerintahkan untuk berangkat ke tanah al-Balqa yang berada di Syam, persisnya tempat gugur (syahidnya) Zaid
bin Haritsah. Keesokan hari, 29 Safar tahun 11 H atau 24 Mei 632 Rasululllah memanggil Usamah bin Zaid supaya menghadap beliau. Setelah Usamah
menghadap, Nabi mengangkatnya menjadi panglima perang untuk memimpin pasukan yang akan diberangkatkan itu.
Nabi bersabda, “Pergilah kamu ke tempat terbunuhnya bapakmu, injaklah mereka dengan kuda. Aku menyerahkan pimpinan ini kepadamu, maka
perangilah penduduk Ubna pada pagi hari dan bakarlah (hancur binasakanlah) mereka. Cepatlah kamu berangkat, sebelum berita ini terdengar oleh
mereka. Jika Allah memberi kemenangan kepadamu atas mereka, janganlah kamu berlama-lama bersama mereka. Bawalah bersamamu petunjuk-
petunjuk jalan dan dahulukanlah mata-matamu.”
Usamah Bin Zaid adalah sahabat Rasulullah saw yang masih belia usianya. Dikatakan belia karena usia Usamah ketika diangkat menjadi panglima
perang belum mencapai 20 tahun. Usamah diangkat menjadi panglima perang sudah dalam kondisi menikah dan siap perang.
9. Penaklukan Persia
Peristiwa ini terjadi pada masa kekhalifahan Umar bin Khatab pada tanggal 14 Safar 16 H atau 17 Maret 637 M. Kaum muslimin dibawah pimpinan Saad
bin Abi Waqash memperoleh kemenangan atas Persia. Sebelumnya kaum muslimin berperang hebat di qadisiyah (masuk negara Irak) serta menduduki
istananya. Saad Bin waqash sebelumnya sempat mengalami luka pedang cukup parah akibat pertempuran. Namun pertempuran berhasil dimenangkan
kaum muslimin.
10. Jatuhnya kota Baghdad ke tangan Hulakhu Khan
Kota Baghdad yang pada masa itu menjadi pusat pemerintahan Daulah Bani Abasiyah sungguh kehilangan daya. Pada tanggal 9 safar tahun 565 H/ 14
februari 1258 M, tentara Mongol yang berkekuatan sekitar 200.000 orang tiba di salah satu pintu Baghdad. Khalifah Al-Mu’tashim, penguasa terakhir
Bani Abbasiyah di Baghdad betul-betul tidak berdaya dan tidak mampu membendung tentara Hulughu Khan.Tentara tar tar ini membantai serta
menghancurkan seluruh isi kota Baghdad termasuk produk Ilmu pengetahuan. Jatuhnya kota Baghdad yang menandakan runtuhnya Daulah Bani
Umayah disebabkan oleh pengkhiantan yang dilakukan oleh al-wazir Umayyiduddien Muhammad bin al-Alqami ar-tafidhi seorang Syiah Rafidhah.
11. Meninggalnya Pembebas Jerusalem Shalahuddin Al Ayyubi
Pada tanggal 27 Safar 859 atau 15 Februari 1455 Sholahuddin menghembuskan nafas terakhir di damaskus. Para pengurus jenazah terkaget-kaget
karena Sholahuddin tidak memiliki harta. Ia hanya memiliki kain kafan dan uang senilai 66 dirham nasirian (mata uang suriah pada waktu itu). Menjelang
wafatnya beliau menyampaikan pesan yang luar biasa “Jangan Tumpahkan Darah, Sebab darah yang terpecik tak akan pernah tidur”. Beliau
meninggalkan penasihat yang merupakan ulama terkenal yakni Ibnu Qudamah, Ibnu Az-Zaki Asy-Syafi’i, dan Ibnu Naja’ al-Qadiri al Hambali.
[Sumber:www.facebook.com/groups/situskomunitasmuslim/permalink/461481123889675/]