Anda di halaman 1dari 27

Terminologi mud diapir dan mud volcano sebagai struktur pembubungan (piercement

structures):

Diapir Lumpur dan mud volcano adalah struktur pembubungan (Mud diapir and mud volcano are
piercement structures).

Faktor sedimen overpressure karena adanya daya apung dan perbedaan tekanan:

Menunjukkan adanya pelepasan dari sedimen dengan kondisi tekanan


berlebih (overpressured) (release of overpressured sediments).

Membumbung ke atas dari bawah permukaan ke permukaan bumi, karena adanya daya apung dan
perbedaan tekanan (piercing upward from subsurface to the Earth’s surface due to buoyancy and
differential pressure).

Struktur pembubungan (diapir dan gunung lumpur) umum terjadi pada cekungan elisional:

Struktur ini terjadi pada cekungan “elisional” terutama dicirikan oleh:

 Pengendapan sedimen muda yang cepat dan tebal (by rapid deposition of thick young sediments),
 Adanya cairan dengan kondisi overpressures (presences of fluid overpressures),
 Pada sedimen-sedimen yang berada di bawah-pemadatan (under-compacted sediments),
 Pembentukan minyak bumi (petroleum generation); dan
 Kondisi kompresi yang muda (recently compressed).

Zona Depresi sumbu P. Jawa-Madura sebagai sistem Cekungan Elisional:

Zona Bogor Utara Serayu-Kendeng-Madura Strait adalah depresi pada sumbu Pulau Jawa-
Madura (an axial depression of Java to Madura Islands) dengan karakteristik elisional.

Karakteristik Jawa-Madura Elisional adalah pengendapan pengendapan sedimen Miosen-


Pliosen yang cepat dan mengalami kompresi:

Sedimen berumur Mio-Pliosen dan Pleistosen telah diendapkan dengan cepat pada depresi ini dan
selanjutnya mengalami dikompresi (The Mio-Pliocene and Pleistocene sediments were rapidly
deposited into the depression and compressed).

Karena kedudukan tektoniknya berada pada bagian depan dari batas lempeng konvergen (the
islands have been located frontal to the plate convergent boundary).
Banyak ditemukan mud diapir dan mud volcano sebagai cekungan Elisional:

Banyak diapir lumpur dan gunung lumpur yang ditemukan di sepanjang zona tersebut (Numerous
mud diapirs and mud volcanoes are found along the zone).

Cakupan studi asal-usul MD dan MV di sepanjang depresi:

Penulis telah meneliti asal-usul dan sifat dari diapir lumpur dan gunung lumpur yang terdapat di
sepanjang depresi (the origins and natures of mud diapirs and mud volcanoes found along the
depression), yaitu:

Gunung lumpur Ciuyah (Kuningan, timur Jawa Barat), diapir di Utara Serayu (Jawa Tengah bagian
utara), gunung lumpur Bledug Kuwu, Bledung Kesongo, Bledug Kropak (ke selatan Purwodadi,
Jawa Tengah), lumpur diapir dan mud volcano Sangiran Dome (Jawa Tengah), LUSI (semburan
gunung lumpur, Sidoarjo, Jawa Timur), Porong, Kalang Anyar, Pulungan (Sidoarjo), Gunung
Anyar (Surabaya), Socah (Bangkalan, Madura), dan diapir lumpur dan gunung lumpur di bawah
permukaan dari Selat Madura.

Asal-usul pada dasarnya sama (The origins were basically same), yang berkaitan dengan faktor-
faktor dalam sistem elisional (to factors in elisional system).

Asal usul, tipe morfologi permukaan, dan Tahap Perkembangan mud volcano:

Adapun tipe morfologi permukaan gunung lumpur umumnya:

 daerah seperti rawa (swamp-like area),


 kawah danau berlumpur (crater muddy lake),
 berbentuk kerucut klasik (classic cone edifice), dan
 depresi sinklin yang runtuh (collapsed synclinal depression).

Empat tahapan perkembangan dari pra-semburan sampai pasca semburan:

Tahap perkembangan meliputi tahap-2 (pra-semburan), tahap-3 (saat-semburan), dan tahap-4


(pasca-semburan).
Diapir dan gunung lumpur mempunyai hubungan mesra dengan sistem minyak bumi:

Diapir lumpur dan gunung lumpur tampaknya memiliki tata ruang dan genetik hubungan yang
khas dengan minyak bumi (mud diapirs and mud volcanoes apparently have spatial and genetic
relationship with petroleum).

Rembesan minyak dan gas (Oil and gas seeps), lapangan produksi minyak dan gas
bumi (producing oil and gas fields) mempunyai lokasi yang sama dengan lokasi berkembangnya
diapir lumpur dan gunung lumpur dari Zona Bogor-Serayu Utara-Kendeng-Selat Madura.

Implikasi diapirisme dan volkanisme lumpur pada sistem petroleum:

Pada studi ini diapirisme lumpur dan volkanisme lumpur vulkanik dipandang mempunyai
implikasi pada sistem petroleum, terutama pada aspek-aspek:

 Pematangan batuan sumber menghasilkan minyak bumi (maturing the source rocks generating
petroleum), dan
 Membentuk kemiringan struktural dan patahan-patahan untuk migrasi minyak bumi dan
menghasilkan perangkap struktural diapirpada horizon yang dangkal (forming structural dips
and faults for petroleum migration and generating diapiric structural traps at shallow horizons).

Kasus diapir dan volkanisme lumpur di Jawa dan Madura merupakan kecenderungan di dunia:

Kasus di seluruh dunia menunjukkan bahwa diapirisme dan volkanisme lumpur memiliki
hubungan yang dekat dengan petroleum (Worldwide cases show that diapirism and mud volcanism
have close relationship to petroleum) dan di Jawa dan Madura mempunyai kasus yang sama.

Keberadaan gunung lumpur fenomena di dunia:

Gunung lumpur adalah fenomena di seluruh dunia (Mud volcanoes are worldwide phenomena).

Milkov (2003) melaporkan terdapat sekitar 1.100 gunung lumpur telah didokumentasikan di darat
dan di laut dangkal pada paparan kontinental (onshore and in shallow water on continental
shelves), dan sekitar milyaran gunung lumpur mungkin terdapat di lereng benua dan dataran
abyssal (volcanoes may exist on continental slopes and abyssal plains).
Kondisi ideal daerah mud volcano berkembang:

Fitur-fitur ini yang paling umum di daerah dengan kondisi:

 sedimentasi yang cepat (rapid sedimentation),


 kompresi tektonik lateral (lateral tectonic compression), dan
 aktivitas magmatik geologis baru-baru ini (geologically recent magmatic activity).

Migrasi fluidasasi sedimen:

Gunung lumpur sering terjadi di permukaan dan dasar laut sebagai akibat migrasi dari fluidasasi
sedimen (often occur at the surface and the seafloor as a result of migration of fluidized sediment).

Overpressure pada bidang patahan aktif:

Terjadi sepajang sesar aktif karena overpressure (along active faults due to overpressure), dan

Pembubungan diapir:

Juga dapat terbentuk di atas dasar laut - pembubungan serpih diapir (form on top of seafloor-
piercing shale diapirs).

Pentingnya studi mud volcano:

Studi tentang gunung lumpur ini penting untuk berbagai alasan:

 indikator sistem petroleum aktif (is important for a variety of reasons indicator of active
petroleum systems),
 sumber gas metana di atmosfer dan laut (a source of methane in the atmosphere and ocean), dan
 bahaya geologi, ( a geohazard.).
Zona Depresi Sumbu Pulau Jawa-Madura:

Dari depresi ke perlipatan dan sesar naik:

Depresi Jawa ke Madura disebut Bogor Utara Serayu-Kendeng Trough atau Zona (Depression of
Java to Madura called the Bogor-North Serayu-Kendeng Trough or Zone) yang saat ini telah
mengalami tektonik kompresi menjadi suatu sabuk lipatan dan sesar naik di bagian tengah pulau.

Sedimen tebal mengalami pengendapan cepat:

Adalah zona dimana sedimen yang berlimpah telah diendapkan dengan cepat selama waktu Mio-
Pliosen dan Pleistosen (substantial sediments were rapidly deposited mainly during Mio-Pliocene
and Pleistocene time).

Lokasi depresi pararel dengan pola tektonik kompresi:

Lokasi ini membentuk pola yang paralel dengan tektonik kompresi (The site has been trending
parallel with the tectonic compression).

Subduksi menghasilkan busur volkanik:

Karena subduksi di selatan Jawa dan bersamaan merupakan lokasi dari busur vulkanik sebaya (due
to subduction to the south of Java and sharing same place with coeval volcanic arcs).

Sistem Elisional implikasi terbentuknya mud diapir dan mud volcano:

Kondisi ini telah mengakibatkan terbentuknya sistem “elisional” (This condition has resulted in
“elisional” system).

Kondisi sedimentasi dan rezim tektonik yang menguntungkan untuk terjadinya diapir lumpur dan
gunung lumpur (sedimentary and tectonic regimes favorable for the occurrences of mud diapirs
and mud volcanoes).

Zona Bogor Utara Serayu-Kendeng dari Jawa Barat ke Selat Madura, lokasi mud diapir
dan mud volcano.

Dengan demikian, diapir lumpur dan gunung lumpur sering terjadi di sepanjang Zona Bogor Utara
Serayu-Kendeng dari Jawa Barat ke Selat Madura (mud diapirs and mud volcanoes commonly
occur along the Bogor-North Serayu-Kendeng Zone from West Java to the Madura Strait).
Lokasi mud diapir dan gunung lumpur bersamaan lapangan produksi migas:

Di Jawa, minyak bumi telah ditemukan dan diproduksi selama lebih dari 100 tahun di daerah di
mana diapir dan gunung lumpur terjadi (In Java, petroleum has been discovered and produced for
more than 100 years in areas where diapirs and mud volcanoes occur).

Rembesan minyak dan gas dan lapangan berukuran kecil telah ditemukan dan diproduksi (Oil and
gas seeps and minor fields have been discovered and produced) di bagian timur dari Zona Bogor
dan Serayu Zona Utara.

Zona Rembang-Kendeng, yang merupakan bagian dari Cekungan Jawa Timur, merupakan salah
satu daerah minyak tertua dan terkaya di Indonesia (The Rembang—Kendeng Zone, which is part
of the East Java Basin, is one of the oldest and richest petroleum areas in Indonesia.).

Temuan Minyak selat Madura:

Penemuan dan produksi minyak bumi baru-baru ini juga telah terjadi di Selat Madura (Recent
discoveries and production of petroleum have also taken place in the Madura Strait).

Rasionalisasi hubungan mud diapir dan mud volcano dengan migas menjadi menarik untuk
diselidiki:

Berbagi tempat antara minyak bumi dan diapirs dan gunung berapi lumpur karena itu, menarik
untuk memeriksa.

Sistematika pembahasan:

Makalah ini akan membahas:

 Terlebih dahulu dibahas secara umum tentang diapirsme lumpur dan gunung lumpur,
 Selanjutnya diskusi tentang aksial depresi / zona Jawa disebut sebagai Zona Bogor Utara Serayu-
Kendeng-Madura Strait,
 Memeriksa kondisi untuk terbentuknya diapir dan gunung lumpur,
 Akan dibahas Asal-usul dan sifat individu diapir lumpur yang dan gunung lumpur yang diamati
sepanjang zona ini, dan
 Diskusi tentang bagaimana struktur diapir ini telah terkait sistem petroleum di Jawa ke Madura.
LUSI dan Gunung Lumpur lain di Timur Zona Kendeng

Awal kejadian Lusi, 29 Mei 2009:

Semburan tak terduga lumpur dan cairan (An unexpected eruption of mud and fluids) telah
berlangsung pada tanggal 29 Mei 2006 di daerah Porong, Sidoarjo, Jawa Timur (Gambar 4, 6, 7).

Penamaan sebagai LUSI:

Lokasi semburan lumpur Sidoarjo, selanjutnya oleh banyak pihak diberi nama sebagai LUSI
(singkatan dari “Lumpur Sidoarjo” atau lumpur Sidoarjo).

Kesimpulan LUSI sebagai suatu mud volcano:

Berdasarkan karakteristik semburan (Based on the characteristics of eruption) dan dikaitkan


dengan data geologi (related geologic data), telah disimpulkan bahwa LUSI sebagai suatu
semburan gunung lumpur (LUSI was concluded as eruption of mud volcano).

Semburan masih terjadi pada saat makalah ini ditulis (Maret 2008).

Variasi kecepatan semburan atau volume lumpur tahun 2006 antara 5000-180.000m3/hari:

Volume lumpur yang semburkan (volumes of erupted mud):

 Mei 2006, 5000 m3 / hari di tahap awal


 Agustus 2006, meningkat menjadi 000 m3 / hari,
 September 2006, memuncak menjadi 170.000 m3 / hari,
 Desember 2006, mencapai tingkat rekor tertinggi pada 000 m3 / hari ( Mazzini et al., 2007).

Dinamika Lusi 2007, semburan Desember 80.000m3/hari, volume 1 miliar kaki kubik, luas 2,5
mil persegi:

Desember 2007, LUSI masih aktif dengan mengeluarkan lumpur dan air lebih dari 80.000 m3
/hari.

Per Desember 2007 total volume lumpur yang telah dimuntahkan (the total volume of expelled
mud) diperkirakan 1 miliar kaki kubik, menutupi daerah seluas 2,5 mil persegi.
Dampak akibat luapan lumpur pada pengungsian dan infrastruktur:

Luapan lumpur telah mengubur sebelas desa dan menyebabkan setidaknya 16.000 orang telah
diungsikan.

Disamping itu luapan lumpur juga telah menimbulkan kerusakan pada infrastruktur Transportasi
(Jalan tol an rel Kreta api) dan transmisi tenaga listrik dan energy (Transportation and power
transmission infrastructure has been damaged extensively in the area).

Perkiraan semburan berlangsung lama dan akan mengalami depresi membentuk kaldera yang
besar:

Diperkirakan bahwa semburan lumpur (It is expected that the mud eruption) akan berlangsung
lama pada tahun-tahun mendatang (will last for years to come).

Daerah akan mengalami depresi yang signifikan, sehingga membentuk kaldera besar (the area will
experience a significant depression, forming a large caldera).

LUSI salah satu gunung lumpur dari beberapa lainnya berkembang di Zona Depresi Kendeng:

LUSI adalah salah satu dari banyak gunung lumpur di bagian timur dari Zona/Depresi
Kendeng (the eastern part of the Kendeng Zone/Depression).

Gunung lumpur telah berkembang di banyak lokasi pada Zona Kendeng, tersebar dari Bledug
Kuwu di perbatasan barat dari zona ini, sampai ke gunung lumpur dibawah permukaan laut di
Selat Madura (submarine mud volcanoes in the Madura Strait).

Mud volcano lain berkembang di dekat LUSI dengan bervariasi status:

Gunung lumpur lain yang telah dikenal sebelumnya dan berlokasi dekat dengan lokasi LUSI
(bervariasi aktif, punah, atau istiraha) (Other recognized mud volcanoes close to LUSI (variably
active, extinct, or dormant), yaitu:

Porong, Kalang Anyar (Sidoarjo), Gunung Anyar (dekat Surabaya), Socah (Bangkalan, Madura),
Wringin Anom (perbatasan Gresik-Mojokerto), Semolowaru , Pulungan, dan Sedati (Sidoarjo).
Mud volcano berkembang pada sejarah Jenggala-Majapahit:

Berdasarkan sejarah, cerita rakyat, dan data geologi (Based on historical chronicles, folklore, and
geologic data) juga pada Makalah Satyana (2007), telah diuraikan adanya komplek gunung
lumpur yang menyembur pada waktu sejarah selama periode Kerajaan Jenggala dan Majapahit di
Indonesia (abad ke-12 ke-15) (elaborated the presence of mud volcanoes complex erupted in
historical time during the periods of Jenggala and Majapahit Kingdom in Indonesia (12th-
15th century)).

Selanjutnya ditunjukkan adanya gunung lumpur di periode ini di zona yang disebut sebagai
Tunggorono – Jombatan – Segunung – Canggu – Bangsal di Jombang-Tarik, sebagian besar di
daerah Sidoarjo, seluas 25 km-an.

Hal penting dari Zona Kendeng fitur tektonik termuda di Jatim:

Zona Kendeng adalah salah satu fitur tektonik termuda di wilayah Jawa Timur (The Kendeng Zone
is one of the youngest tectonic features in the eastern Java area).

Zona ini dibentuk hampir pada awal sampai akhir Pliosen (Lunt et al., 1996).

Merupakan bagian dari suatu cekungan yang terus mengalami sejarah amblesan dari Miosen
sampai pada akhir Pleistosen tengah (a continuously subsiding basin from Miocene to the end of
the middle Pleistocene).

Tatanan stratigrafi ciri dominasi sedimen marin dan dipengaruhi aktivitas volkanisme:

Sedimen Akhir Miosen dan yang lebih tua dan di Zona Kendeng biasanya tebal, selingan
batulumpur dan pasir gunung api (interbedded mudstones and volcaniclastic sands).

Satuan napal dan batugamping dari Formasi Kalibeng Bawah dan Atas (The marls and limestones
of the Lower and Upper Kalibeng Formation) telah diendapkan pada lingkungan hampir
seluruhnya pada lingkungan laut selama Pliosen (were deposited in almost entirely marine
environment during the Pliocene).

Pengaruh kegiatan volkanisme pada Zona Kendeng bagian timur:

Pada bersamaan, terjadi aktivitas gunung berapi mungkin dimulai pada busur vulkanik ke
selatan (volcanic activity probably began in the volcanic arc to the south) (gunung berapi Wilis
dan Lawu).
Kegiatan ini mempengaruhi bagian barat dari Zona Kendeng bagian timur pada awal Pleistosen.

Berikutya awal sedimen klastik volkanik Formasi Pucangan berumur Pleistosen yang menumpang
secara selaras di atas Satuan Kalibeng Kalibeng (Pucangan volcaniclastic sediments conformably
above the Upper Kalibeng).

Di atas ini dengan kontak yang selaras terjadi batupasir vulkanik dari Formasi Kabuh berumur
Pleistosen Tengah dan kemudian Formasi Notopuro.

Selama awal Pleistosen, lempung biru laut dari Pucangan telah diendapkan di timur (marine blue
clays of Pucangan were deposited in the east) di mana endapan vulkanik berprogradasi (Duyfjes,
1936).

Pentingnya peran masukan sediman klastik volkanik:

Bahan vulkanik awalnya diendapkan dalam lingkungan laut di bagian barat (The volcanic material
was initially deposited in a marine environment in the west). Namun pengisian cekungan
berlangsung dengan sangat cepat (filled the basin very fast), sehingga masukan sedimen dekat
pusat vulkanik segera melebihi daya tampungnya (so that sediment input near the volcanic centers
soon exceeded the accommodation).

Di timur, ketika sedimen vulkanik sampai kemudian, masukan gunung api itu tidak cukup untuk
mengisi cekungan sampai Pliosen akhir.

Karakteristik geofisika, Zona Kendeng Basement dalam:

Data gravitasi dari Zona Kendeng menunjukkan anomali negatif sangat kuat (shows strongly
negative anomalies) hal ini menunjukkan di Zona Kendeng kedalaman batuan dasar cukup
besar (indicating considerable depth to the basement).
Mengalami deformasi struktur geologi yang kuat:

Zone Kendeng adalah bagian terdalam dari depresi Jawa (The Kendeng Zone is the deepest part of
the Java’s depression) yang menyebar barat-timur dari Bogor-Utara Serayu-Kendeng-Selat
Madura.

Zona Kendeng sangat terlipat sangat kuat dan kadang-kadang sangat kuat terpatahkan (is strongly
folded and sometimes heavily faulted) di bagian barat.

Perkembangan struktur sangat Resen dan mungkin masih aktif (Structuring is very recent and is
probably still active).

Perubahan tiba-tiba dari Sungai Brantas di zaman Raja Airlangga (abad ke-11) adalah karena
deformasi terbaru dari lipatan mendasari sungai (Satyana, 2007).

Sumbu lipatan di daerah ini berorientasi dengan arah kelurusan Timur-Barat; sebagai suatu
indikator kedekatan dengan rangkaian vulkanik yang paralel (the adjacent and parallel volcanic
chain).

Setidaknya sebagian diantaranya, bertanggung jawab untuk membangkitkan daya kompresi (at
least in part, is responsible for compression).

Struktur lipatan Zona Kendeng tertutup oleh lapisan Aluvial tebal:

Di timur, selatan dari Surabaya dimana banyak terdapat gunung lumpur (where numerous mud
volcanoes occur).

Lipatan-lipatan hampir hilang di bawah alluvium yang berumur baru-baru ini dan bahkan endapan
Pleistosen jarang tersingkap keluar (the folds are nearly lost under recent alluvium and
even Pleistocene rarely crops out).

Karakteristik signifikan Zona Kendeng sebagai cekungan elisional terbaik di Indonesia:

Zona atau Depresi Kendeng adalah suatu cekungan elisional yang terbaik di Indonesia (The
Kendeng Depression/Zone is the best elisional basin in Indonesia therefor).

Sehingga sebagai konsekuensi, di sini banyak terjadi diapir lumpur dan gunung lumpur (numerous
mud diapirs and mud volcanoes occur here).
Beberapa mekanisme pengendali sebagai cekungan elisional terbaik, yaitu:

 Fitur tektonik muda (Young tectonic feature),


 cekungan yang mengalami penurunan (subsided basin),
 kondisi tektonik kompresi,
 sedimen muda sangat tebal diendapkan dalam waktu cepat di waktu yang relatif singkat (very
thick young sediments deposited rapidly in relatively short period), dan
 suhu yang signifikan karena lokasi dekat dengan busur vulkanik (thermally significant due to
nearby volcanic arc).

Pengendapan sedimen yang cepat dan tebal:

Tingginya kecepatan sedimentasi dimulai pada Miosen – Pliosen Awal (High sedimentation rate
initiated during Upper Miocene – Early Pliocene time) menyebabkan pengendapan urut-urutan
sedimen yang sangat tebal dan yang sangat overpressured (deposition of a very thick highly
overpressured sedimentary succession).

Sedimen lempungan dan lanauan yang berselingan dengan lapisan pasir (interbedded with sand
beds) mengandung sejumlah besar cairan.

Mengapa kawasan ini vaforit berkembangnya mud diapir dan mud volcano:

Faktor yang mumpuni mengapa fenomena diapir lumpur dan gunung lumpur berkembang di
daerah ini (favors the mud diapirs and mud volcanoes development in the region).

 Hadirnya sedimen mengalami tekanan berlebih (overpressured sediments),


 terdapatnya urut-urutan sedimen serpih yang plastis dan kurang padat dimana mendasari lapisan
yang lebih padat dan jenuh dengan cairan (less dense plastic shale succession underlying more
dense beds and saturated with the fluids),
 disamping itu dengan aktivitas tektonik tinggi (high tectonic activity).

Diapirisme lumpur dan volkanisme lumpur tampaknya telah memainkan peran penting dalam
membentuk tatanan geologi regional di daerah ini (plays important role in the regional geology of
the area).

Diapirisme lumpur dan volkanisme lumpur juga penting dalam pembentukan lipatan
pada kedalaman dangkal (the formation of folds at shallow depth).
Bagian dari penampang seismik (Seismic sections) menunjukkan bahwa banyak lipatan-lipatan di
Zona Kendeng dengan berintikan dengan diapir (many folds in the Kendeng Zone are cored by
diapirs).

LUSI mud volcano

Awal semburan Lusi mud volcano:

LUSI mud volcano, mulai menyembur tanggal 29 Mei 2006 (LUSI mud volcano, began erupting
on 29 May 2006).

Namun tidak dapat secara langsung memberikan penjelasan terhadap asal-usulnya (can not
provide straightforward explanation on its origin).

Apakah dikaitkan dengan kemungkinannya LUSI bisa dihubungkan dengan pengeboran sumur
eksplorasi yang terletak 200 meter jaraknya dari lokasi semburan LUSI (due to possibility that
LUSI may relate to drilling of exploration well located 200 meters away from LUSI).

Kontroversi terkait asal mula Lusi mud volcano:

Asal mula gunung lumpur LUSI telah menjadi bahan perdebatan yang mengemuka (The origin of
LUSI mud volcano has been a matter of debate).

Tiga mekanisme pemicu, yang umumnya telah diusulkan:

 Tektonik reaktivasi oleh gempa Yogyakarta 27 Mei tahun 2006 (tectonic re-activation by the
May 27th2006’s Yogyakarta earthquake),
 Operasi pengeboran sumur (Sumur Banjar Panji-1 oleh Lapindo Brantas), terutama karena lokasi
awal semburan yang berdekatan dengan kegiatan (in progress near the initial eruption site at the
time of the eruption), dan
 Kombinasi gempa dan operasi pengeboran (a combination of earthquake and drilling
operations).

Lusi mud volcano dipicu gempa bumi:

Pemicu gempa telah diusulkan antara lain oleh Mazzini et al. (2007) dan Svensen et al. (2007).
Lusi mud volcano dipicu sumur eksplorasi:

Operasi pengeboran sebagai pemicu menjadi alasan antara lain oleh Davies et al. (2007).

Mekanisme semburan Lusi dipicu oleh gempa juga telah ditantang antara lain oleh Brumm et al.
(2007).

Kombinasi gempa dan pemboran:

Mori et al. (2007) menunjukkan bahwa pemicu LUSI mungkin kombinasi keduanya gempa
Yogyakarta 27 Mei tahun 2006 dan pengeboran Banjar Panji-1 (Mori et al. (2007) indicated that
the trigger of LUSI may a combination of both the 27th May 2006’s Yogyakarta earthquake and
drilling of Banjar Panji-1).

Kontroversi asal-usul Lusi pada aspek Hukum di Pengadilan:

Kontroversi tentang asal-usul LUSI telah menjadi hal yang rumit pada aspek hukum dari LUSI di
pengadilan (The controversy on the origin of LUSI has complicated the legal aspect of LUSI in the
court.).

Pengendali mekanisme Lusi dipicu gempabumi:

Awal dari gempabumi Yoygakarta:

Berdasarkan hasil geokimia dan lapangan (Based on geochemical and field results), Mazzini et al.
(2007) mengusulkan mekanisme semburan gunung lumpur LUSI berawal mengikuti gempa
Yogyakarta 27 Mei 2006 (proposed a mechanism that LUSI mud volcano eruptions started
following the May 27th 2006’s Yogyakarta earthquake).

Rekahan dan penguranan tekanan pada 1700m:

Karena terjadi rekahan dan disertai depressurization> 100º C cairan pori dari> kedalaman 1.700
meter (due to fracturing and accompanied depressurization of > 100º C pore fluids from > 1700
meters depth).

Membentuk semburan kuasi hidrotermal seperti geyser:

Hal ini mengakibatkan pembentukan sistem kuasi-hidrotermal (the formation of a quasi-


hydrothermal system) dengan ekspresi permukaan seperti geyser (a geyser-like surface
expression).
Diperngaruhi kegempaan regional:

Dengan kegiatan dipengaruhi oleh kegempaan regional (and with an activity influenced by the
regional seismicity)

Kelemahan Lusi dipicu gempa Yogya:

Brumm et al. (2007) menantang ide ini, mengingat gempa terlalu jauh dan terlalu kecil untuk
memicu semburan LUSI (the earthquake is too distant and too small to trigger the LUSI
eruption), dan plotting dari LUSI pada plot dari Manga dan Brodsky (2006) yang merupakan
hubungan statistik antara terjadi gempa bumi dan pencairan terkait dan gunung lumpur (plotting
of LUSI to cross plot of Manga and Brodsky (2006) which is a statistic cross plot between occurred
earthquakes and related liquefaction and mud volcanoes) menunjukkan bahwa LUSI berada di
luar dari kecenderungan umum (that LUSI plotting is out of general trend.).

Brumm et al. (2007) juga berpendapat bahwa dalam 35 tahun terakhir, puluhan hingga ratusan
gempa lain yang menggoyang tanah di lokasi letusan tapi mengapa tidak memicu letusan.

Bukti pemboran menembus batugamping overpressure kedalaman ~2830 sebagai pemicu Lusi:

Davies et al. (2007) mengemukakan bahwa semburan LUSI tampaknya telah dipicu (Davies et
al. (2007) (suggested that LUSI eruption appears to have been triggered) oleh pengeboran pada
batugamping overpressured berpori dan permeabel pada kedalaman ~ 2830 m di bawah
permukaan (by drilling of overpressured porous and permeable limestones at depths of ~2830 m
below the surface.).

Lubang bor sebagai koneksi akuifer batugamping dan lumpur overpresure: Mereka
mengusulkan bahwa lubang bor yang menyediakan koneksi tekanan antara akuifer di batugamping
dan satuan lumpur overpressured di atasnya (the borehole provided a pressure connection between
the aquifers in the limestones and overpressured mud in overlying units.).

Aspek lubang sumur tidak dilindungi selubung:

Karena ini tidak dilindungi oleh casing baja (As this was not protected by steel casing), sehingga:

 tekanan menyebabkan rekahan hidrolik (the pressure induced hydraulic fracturing),


 dan rekahan menyebar ke permukaan,
 dimana cairan pori dan beberapa sedimen yang tertahan mulai menyembur (where pore fluid and
some entrained sediment started to erupt).
Lingkup makalah tidak untuk mendalami mekanisme pemicu Lusi:

Sebagai catatan bahwa pada makalah ini bukan bertujuan memeriksa secara rinci mekanisme yang
bertanggung jawab memicu gunung lumpur LUSI (the mechanism responsible triggering the LUSI
mud volcano).

Pernyataan fakta kuat mendukung Gempa Yogya sebagai pemicu LUSI:

Namun, ada fakta yang menunjukkan bahwa gempa Yogyakarta (there are facts indicating that
the Yogyakarta earthquake) secara signifikan memicu semburan gununglumpur LUSI (was
significant triggering the LUSI mud volcano eruption).

Fakta-fakta, Luai dipicu Gempa Yogyakarta, yaitu:

 Hilangnya lumpur pengeboran 10 menit pasca gempa:

Data dari urutan operasi pengeboran, menunjukkan bahwa hilangnya sebagian lumpur pengeboran
di sumur Banjar Panji-1 (partial loss of drilling mud in Banjar Panji-1 well) juga terjadi sepuluh
menit setelah gempa (occurred ten minutes after the earthquake).

 Total hilang lumpur pasca gempa susulan:

Total hilangnya lumpur dalam sumur (total mud loss in the well) terjadi setelah beberapa gempa
susulan (occurred after several the earthquake’s aftershocks),

 Lusi menyembur 2 hari setelah gempa:

Lumpur menyembur dua hari setelah gempa,

 Awal semburan teradi beberapa titik semburan searah Bidang Patahan: semburan awal
lumpur panas dan air garam terjadi di beberapa daerah (early eruptions of hot mud and salt water
occurred in several localities), membentuk tren paralel arah SW-NE merupakan arah struktural
utama dari patahan di daerah ini (forming the SW-NE trend parallel with the main structural
trend of faults or fractures in this area),
 Semburan bukan keluar dari lubang sumur tapi 200m, tidak ada hubungan:

Semburan lumpur tidak pernah meluap dari sumur (mud eruption never expel from the well), itu
berjarak 200 meter ke barat daya dari sumur (it is 200 meters to the southwest of the well) dan
pengujian teknik menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara lokasi semburan lumpur dengan
lokasi sumur (and engineering test showed that there is no communication between the site of mud
eruption and the wellsite),

 Semburan Lusi terletak pada bidang patahan utama Watukosek:

LUSI terletak didalam patahan utama (Watukosek Fault) tren SW-NE (LUSI lies within major
faults (Watukosek Fault) trending SWNE) memanjang dari gunung Penanggungan ke Selat
Madura (from Penanggungan volcano to the Strait of Madura).

Patahan menjadi lokasi dari situs gunung lumpur yang punah atau aktif (the fault becomes the
sites of extinct or dormant mud volcanoes) dari Kalang Anyar, Pulungan di daerah Sidoarjo,
Gunung Anyar di daerah Surabaya, dan Socah di Bangkalan, Madura daerah barat,

 Berkembang struktur rekahan-rekahan dekat lokasi sumur:

Terjadinya rekahan di lokasi sumur dengan panjang ratusan meter dan puluhan sentimeter
lebar (the occurrence of a fracture in the wellsite hundreds meters long and tens of centimeters
wide ) dengan arah NE-SW beberapa hari setelah semburan (wide trending NE-SW a few days
after the eruption)

 Terjadi penurunan kecepatan aliran gas di lapangan produksi gas Carat: Terjadi penurunan
laju aliran gas di dekat sumur Carat (there was a decrease in gas flow rate at nearby Carat
well) pada waktu gempa Yogyakarta berlangsung (at about the time of the Yogyakarta
earthquake took place,),
 Gempa Yogya mengaktifkan Gunung Semeru:

Gempa Yogyakarta mengaktifkan gunungapi Semeru tiga hari setelah gempa (the Yogyakarta
earthquake re-activated the Semeru volcano three days after the earthquake) dengan peningkatkan
suhu di permukaannya dan erupsi s abu vulkanik (data satelit Terra NASA),

 Rekaman seismik refleksi eksplorasi terganggu gelombang gempa Yogya:

Gempa Yogyakarta tercatat 34 detik setelah guncangan utama di perairan Ujung Pangkah ke laut
baratlaut dari Surabaya (the Yogyakarta earthquake was recorded 34 seconds after the main shock
in Ujung Pangkah waters to the northwest of Surabaya).

Energi yang ditumbulkan mempengaruhi rekaman seismik yang sedang disurvei di daerah itu pada
saat terjadi gempa di Yogyakarta (its energy affected the seismic recording which was being
surveyed at the area at the time of earthquake occurred in Yogyakarta),
 Arah energi gempa Yogya ke timur:

Penyebaran energi gempa terutama ke arah timur dan timur laut di seperti yang ditunjukkan oleh
tren gempa susulan dan yang daerah yang terkena,

 Rekaman citra satelit kenampakan Patahan utama dan rekahan:

Data satelit daerah menunjukkan kehadiran dari patahan utama dan rekahan (regional satellite
data show the presences of major faults and fractures) dari Yogyakarta ke daerah Sidoarjo dalam
pola bertanga ke kanan (from Yogyakarta to Sidoarjo area in a right-stepping pattern,),

 Korelasi Hubungan tingkat kecepatan semburan dan goyangan gempa:

Terindikasi adanya korelasi positif antara tingkat kecepatan semburan lumpur LUSI dan “swarn”
gempa bumi diukur 300 kms di sekitar lokasi, tingginya menyusul kejadian gempa bumi,

 Terdapat magma statik sumber dalam dihubungkan oleh patahan pada batuan dasar:

Data deuterium isotop baru-baru ini dari semburan air (recent deuterium isotope data of erupted
water showing a mixing with static magmatic fluids from depth deeper than 20,000
feet) menunjukkan pencampuran dengan cairan magmatik statis dari kedalaman lebih dari 20.000
kaki.

Menunjukkan adanya patahan batuan alas (basement faults) atau rekahan pada lokasi sebagai suatu
saluran penghubung (indicating the presence of deep basement faults or fractures within the site
as the conduits).

 Terjadi pelengkungan tiba-tiba rel kereta api pada persimpangan Patahan Watukosek:

Pembelokan tiba-tiba rel kereta api ke selatan dari lokasi semburan yang terjadi setelah gempa
tanggal 27 Mei (the sudden bending of railway to south of the eruption site occurring after the
May 27th earthquake).

Tepat berada pada persimpangan antara Patahan Watukosek dan rel kereta api dan sejalan dengan
pembelokan arah dari Kali Porong.

Membenarkan bahwa patahan Watukosek telah diaktifkan kembali oleh aktivitas


seismik (confirming that the fault was re-activated by seismic activity).
 Usulan sumur menembus akuifer batugamping Kujung dinilai kurang mempunyai fakta:

Di sisi lain, argumen Davies et al. (2007) berdasarkan pada asumsi bahwa total kedalaman Banjar
Panji-1 di akuifer berpori batu kapur Kujung tidak didukung oleh data sumur (based on the
assumption that Banjar Panji-1 total depth in porous Kujung aquifer limestone is not supported
by the well data).

 Tidak ada hubungan langsung lubang bor dan batugamping Kujung:

Logging sumur tidak menunjukkan bukti langsung bahwa Formasi Kujung telah berpotongan di
lubang bor (Well logging data show no direct evidence that the Kujung Formation has been
intersected in the borehole).

 Tidak ada pembuktian dari cutting adanya karbonat:

Cutting terdalam tidak mengungkapkan apapun adanya karbonat (The deepest cuttings did not
reveal the presence of any carbonate), dan data calcimetry menunjukkan hanya 4% kalsit tanpa
peningkatan yang signifikan atau perubahan (and calcimetry data indicate only 4 % calcite with
no significant increase or changes.).

 Tidak ada kehadiran Formasi Kujung Oligo-Miosen:

Kehadiran Formasi Kujung Oligo-Miocene di daerah ini juga salah konsepsi (The presence of
Oligo-Miocene Kujung Formation in this area is also mis-conception).

 Kesimpulan tidak meyakinkan gagasan semburan LUSI dipicu sepenuhnya oleh Pengeboran
BJP-1:

Berdasarkan data yang tersedia dan fakta yang dijelaskan di atas, gagasan bahwa semburan LUSI
dipicu sepenuhnya oleh pengeboran tidak meyakinkan (Based on the available data and facts
explained above, the idea that LUSI eruption is triggered entirely by drilling is inconclusive.).

 Pentingya pemicu gempabumi tektonik pada sistem Cekungan Elisional:

Gempa terkait tektonik reaktivasi dari patahan (Earthquake-related tectonic reactivation of


fault) di mana sumur berlokasi dan kondisi elisional (where the well is located and the elisional
condition) menjadi hal penting untuk volkanisme lumpur di daerah dan mungkin memainkan
peran penting untuk kelahiran gununglumpur LUSI (which has been critical for mud volcanism in
the area may play significant role for the birth of LUSI mud volcano.).
Morfologi LUSI mud volcano

Tipe kombinasi:

Dalam hal morfologi, gunung lumpur LUSI adalah jenis tipe kombinasi antara daerah seperti rawa
dan danau kawah berlumpur (LUSI mud volcano is of the type of combination between swamp-like
area and crater muddy lake).

Tahap-3 Fase Erupsi:

Hal ini jelas tahap-3 pembangunan (pada fase erupsi).

Sejenis morfologi ditunjukkan oleh gunung lumpur Kalang Anyar. Sedangkan, gunung lumpur
Pulungan, Gunung Anyar, dan Socah menunjukkan morfologi klasik bangunan vulkanik
kerucut (volcanoes show morphology of classic conic volcanic edifice).

Tingkat Aktivitas aktif, dormant, mati dari Tahapan (2-4) Perkembangan Gunung Lumpur
lainnya :

Tahapan tersebut gunung lumpur adalah sebagai berikut: Kalang Anyar (dormant, stage 3 sampai
4), Pulungan (punah -stage 4), Gunung Anyar (punah-stage 4), Gresik (dormant- tahap 3), Socah
(dormant -stage 3 sampai 4), Porong (punah – tahap 4). Runtuhnya gunung lumpur kawah Porong
jelas ditunjukkan oleh cakrawala cekung berturut (Gambar 7).
LAMPIRAN GAMBAR

Tektonik penenggelaman yang cepat dan stabil dari suatu cekungan sedimentasi dari urut-urutan
yang sangat tebal. Sedimen termuda seluruhnya menutupi lapisan seri Cairan overpressure dan
sedimen dibawah kompaksi. Sedimen klastik dan lempungan berperan sebagai sumber gas dan
sumber air, melestarikan Air pori awal dan memproduksi cairan diagenetik di kedalaman.

Suatu gradien tekanan dan migrasi cairan dari bagian tengah cekungan kecabangnya. Sumber
utama air diagenesa dikubur oleh seri lempung dimana interval berpasir berfungsi sebagai
penyimpanan pasif.

Gambar 1: Kondisi lingkungan untuk kejadian diapir lumpur dan gunung lumpur disebut
cekungan elisional.

Mereka dicirikan oleh relatif tektonik penurunan yang cepat dan stabil mengakibatkan
pengendapan seri sedimen yang ultra tebal (hingga 15 km).

Gerakan tektonik positif, jika terjadi, sangat baru-baru ini. Dengan kedalaman penguburan itu
menyebabkan cairan overpressure dan sedimen undercompaction dan, sering suatu gradien
tekanan dan cairan bermigrasi dari bagian tengah cekungan ke bagin cabangnya. (Sumber
Akhmanov dan Mazzini, 2007)
Gambar 2. A. Perkembangan diapir lumpur ke gunung lumpur Tahap 1 adalah fase embrio, b.
Tahap 2: fase diapirik, c. Tahap 3: fase semburan volkanisme lumpur, d. Tahap 4: fase pasca-
erupsi/runtuh. (dari Waluyo, 2007 tidak diterbitkan)

Morfologi jenis gunung lumpur berdasarkan studi lapangan di Kaukasus, Krimea, Turkmenistan.
Hal ini berlaku di seluruh dunia. (Akhmanov dan Mazzini, 2007).

Gambar 3: Bagan skema penampang Jawa dari Samudera Hindia ke Laut Jawa (utara)
menunjukkan keberadaan depresi aksial sumbu Jawa termasuk: Bogor Trough di Jawa Barat,
Utara Serayu-Kendeng-Randublatung di Central-Jawa Timur, dan Selat Madura di Jawa Timur.

Depresi menjadi lokasi utama berkembangnya diapir lumpur dan gunung lumpur. (bagian untuk
Jawa Tengah dimodifikasi dari van Bemmelen, 1949).
Gambar 4: Distribusi diapir lumpur dan gunung lumpur di Jawa-Madura yang diamati, Nama
diapir lumpur dan gunung lumpur dilihat pada gambar 6 dan 7.

Sebagian besar diapir lumpur dan gunung lumpur terjadi di sepanjang Depresi dari Bogor –
Kendeng – bagian dari cekungan elisional Jawa.

Basemap Jawa di bawah ini peta gravitasi.


Gambar 5 : A. Posisi Jawa frontal terhadap subduksi dari kerak samudera India ke selatan Jawa.
Garis merah di Jawa darat yang sesar aktif sering diaktifkan kembali. (setelah Natawidjaja, 2007.

Seismisitas Jawa sejak tahun 1973 (data USGS) menunjukkan bahwa Jawa merupakan daerah-
rawan gempa. Tektonik aktif baru-baru ini dan kegempaan mendukung diapirisme lumpur dan
mud volkanisme. Banyak gunung lumpur yang terletak pada patahan yang diaktifkan kembali.
Gambar 6: Ekspresi permukaan (morfologi) dari gunung lumpur di Jawa ke Madura yang telah
diidentifikasikan.

Jenis morfologi meliputi seperti rawa daerah (swamp like area) Ciuyah, Bledug Kuwu, Bledug
Kropak, Gunung Anyar, Kalang Anyar, Pulungan, Gresik), kawah Danau berlumpur (“Lusi”) dan
bangunan vulkanik klasik (Socah).
Gambar 7: Karakteristik kegempaan dari diapir lumpur dan gunung lumpur Jawa-Madura.

Antiklin dangkal di daerah Purwodadi berintikan diapir lumpur. Gunung lumpur bawah laut
diamati di Selat Madura.

Gunung lumpur Porong adalah tahap-4 pasca letusan fase membentuk struktur kaldera runtuh.

Lumpur diapir dan gunung lumpur di Sangiran Dome mengangkat batuan basement ke atas.
(Sangiran Dome adalah setelah Watanabe dan Kadar, 1985)
Gambar 8. Distribusi ladang minyak dan gas dan rembesan hidrokarbon di Daerah Jawa-Madura,
menunjukkan kejadian spasial sama diapirs lumpur dan gunung lumpur.

Diapir lumpur dan gunung lumpur telah mempengaruhi beberapa elemen sistem petroleum dan
proses di daerah ini.

Gambar 9. Stratigrafi dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur menunjukkan kejadian
hidrokarbon di reservoir. Reservoir terjadi pada urutan lumpur/serpih di mana diapirisme lumpur
dan mud volkanisme lumpur dengan sumber lumpur terutama dari sedimen berumur Miosen
Tengah ke Pleistosen.