Anda di halaman 1dari 4

Hakekat Etnomatematika

Etnomatematika adalah sebuah studi yang mengkaji hubungan antara matematika dan
budaya. Matematika sebagai ilmu dasar pun berkembang di seluruh negara. Setiap negara
mempunyai budaya (culture) yang berbeda sehingga perkembangan matematika pun berbeda-
beda karena dipengaruhi oleh culture yang ada.Study etnomatematika adalah suatu kajian
yang meneliti cara sekelompok orang pada budaya tertentu dalam memahami,
mengekspresikan, dan menggunakan konsepkonsep serta praktik-praktik kebudayaannya
yang digambarkan oleh peneliti sebagaisesuatu yang matematis. Sebagaimana dikemukakan
oleh Barton bahwa “Ethnomathematics is a field of study which examines the way people
from other cultures understand, articulate and use concepts and practices which are from their
culture and which the researcher describes as mathematical” (Barton, 1994).
Etnomatematika pertama kali diperkenalkan oleh pendidik dan matematikawan dari
Brazil yaitu Ubiratan D’Ambrioso pada tahun 1997 dalam sebuah presentasi untuk American
Association for the Advancement of Science. D'Ambrosio (2006) menerapkan nama program
ini dengan menggunakan etimologi akar Yunani, etno, mathema, dan tics untuk menjelaskan
apa yang ia memahami menjadi ethnomathematics. Dia mengatakan bahwa
ethnomathematics didefinisikan sebagai matematika yang dilakukan oleh para anggota
kelompok yang berbeda budaya, yang diidentifikasi sebagai masyarakat adat, kelompok
pekerja, kelas profesional, dan kelompok anak-anak dari kelompok usia tertentu, dll
(D'Ambrosio, 2006).
Etnomatematika juga diartikan sebagai penelitian yang menghubungkan antara
matematika atau pendidikan matematika dan hubungannya dengan bidang sosial dan latar
belakang budaya, yaitu penelitian yang menunjukkan bagaimana matematika dihasilkan,
ditransferkan, disebarkan, dan dikhususkan dalam berbagai macam sistem budaya (Zhang &
Zhang, 2010).Sistem budaya dan politik yang dimaksud tentunya bukan hanya sistem budaya
dan politik yang berlaku di dalam masyarakat berpendidikan, tetapi juga menyangkut sistem
budaya atau ide matematika dari masyarakat yang tidak atau belum melek huruf. Kajian
ethomathematics yang begitu luas, menyebabkan ethnomathematics dianggap sebagai salah
satu dari dua pusat pemikiran untuk memahami matematika (Wedege, 2010). Hal tersebut
menimbulkan gagasan bahwa peranan etnomatematika seharusnya memiliki pengaruh yang
lebih luas dalam masyarakat dan pendidikan khususnya pendidikan matematika. Jika kita
dapat melakukannya, maka akan terciptalah sebuah pendekatan etnomatematika dalam
pembelajaran matematika dan diharapkan mampu membuat matematika di sekolah lebih
relevan dan penuh makna bagi siswa dan kualitas pendidikannya.
Menurut Francois (2012), perluasan penggunaan etnomatematika yang sesuai dengan
keanekaragaman budaya siswa dan dengan praktik matematika dalam keseharian mereka
membawa matematika lebih dekat dengan lingkungan siswa karena etnomatematika secara
implisit merupakan program atau kegiatan yang menghantarkan nilai-nilai dalam matematika
dan pendidikan matematika. D’Ambrosio (2006) menambahkan bahwa, penggunaan
etnomatematika dalam kegiatan pembelajaran seharusnya dapat digunakan sebagai alat
penyokong solidaritas dan kerjasama antar siswa. Selain itu, tujuan utama etnomatematika
adalah membangun masyarakat yang bebas dari kebiadaban, arogansi, intoleransi,
diskriminasi, ketidakadilan, kefanatikan, dan rasa kebencian, sehingga etnomatematika
diharapkan dapat menumbuhkan perdamaian di antara umat manusia.
Pembahasan di atas membawa kita kedalam sebuah kesimpulan bahwa
etnomatematika penting untuk dikaji dan dipelajari. Begitu pentingnya kajian tentang
etnomatematika yang secara khusus disebutkan oleh D’Ambrosio (2006) sebagai program
penelitian tentang sejarah dan filsafat matematika, dengan implikasi langsungnya untuk
pembelajaran, membawa kita ke dalam pembahasan tiga bidang kajian tentang kajian dalam
etnomatematika yang tentuya tidak memandang bahwa kajian tentang sejarah cerita
tradisional pada matematika tidak penting untuk dipelajari atau dibahas.
Secara praktis, studi etnomatematika berarti melakukan dengan cara dua hal: (1)
menginvestigasi aktivitas matematika yang terdapat dalam kelompok budaya tertentu; (2)
mengungkap konsep matematis yang terdapat dalam aktivitas tersebut (Barton, 1994).
Mengadopsi etnomatematika ke dalam kegiatan pembelajaran matematika merupakan sesuatu
yang sangat mungkin dilakukan (Zhang & Zhang, 2010). Kedua pendapat tersebut menjadi
inspirasi bagi praktisi dalam dunia pendidikan matematika untuk mengaplikasikan
etnomatematika dalam kegiatan pembelajaran matematika.
Bonner (2010), melakukan kegiatan pembelajaran berbasis etnomatematika dengan
subjeknya adalah para calon guru. Pembelajaran ini dilakukan dengan cara pengkonstruksian
pengalaman bermakna baik di dalam maupun di luar kelas yang memfokuskan pada budaya.
Kegiatan ini telah meningkatkan dan memperdalam pemahaman calon guru dalam pengajaran
matematika dengan berbagai macam budaya. Selain itu, kegiatan seminar yang dilakukan
Massarwe, Verner, & Bshouty (2012) menyimpulkan bahwa, pemahaman tentang geometri
para siswa/peserta seminar meningkat dan mereka paham terhadap pentingnya aktivitas
pembelajaran etnomatematika yang berhubungan dengan siswa dan budaya yang lain.
Kegiatan lain yang masih menggunakan calon guru sebagai subjek penelitiannya,
menunjukkan bahwa etnomatematika telah memberi pengaruh terhadap pengembangan
profesionalisme calon guru matematika (Katsap & Silverman, 2008). Hal tersebut
menunjukkan bahwa etnomatematika sangat penting dalam kegiatan pembelajaran bagi calon
guru, baik kegiatan di kelas maupun kegiatan di lapangan. Calon guru pada saat di
lapangan/sekolah dapat langsung mengaplikasikan apa yang telah mereka dapat dalam
kegiatan pembelajaran dengan siswanya yang tentunya juga berasal dari berbagai macamlatar
belakang budaya yang berbeda (DeKam, 2007). Perbedaan latar belakang budaya yang ada
telah menginspirasi Duranczyk &Higbee dalam penelitiannya.Duranczyk & Higbee (2012),
telah mengintegrasikandesain pembelajaran multi-budaya dan aplikasinya dalam berpikir
matematissiswa. Kegiatan tersebut tentunya untuk mengakomodasi peranan etnomatematika
dalam pengajaran matematika. Hal yang perlu diingat adalah guru matematika
harusmengetahui peranannya sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran, dan bukan
sebagai sumber dan pengantar pengetahuan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan
pemanfaatan pengetahuan siswa tentang etnomatematika di dalam pembelajaran danini akan
mendorong pegembangan dasar pengatahuan konseptual siswa. Selain itu, kegiatan ini juga
memungkinkan siswa mengembangkan perluasan strategi pemecahan masalah, sehingga
membuat matematika menjadi pelajaran yang penuh arti dan reflektif (Matang, 2002).

 Etnomatematika pembelajaran matematika dengan konteks kebudayaan.

Anda mungkin juga menyukai