Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kawasan Waterfrontcity merupakan sebuah konsep dalam pengembangan
pada daerah tepian air baik itu tepian pantai, sungai, maupun tepian danau. Kawasan
Waterfront merupakan sebuah kawasan yang berbatasan langsung dengan perairan.
Kawasan Waterfrontcity biasanya memiliki kelebihan atau benefit yang lebih
menguntungkan dibandingkan dengan kawasan yang lainnya. Kelebihan atau
benefit yang terdapat di kawasan Waterfrontcity yaitu kawasan ini jika
dikembangkan akan menjadi suatu kawasan yang memiliki banyak potensi yang
bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Sehingga terdapat beberapa kriteria yang
menjadi acuan dalam penilaian kawasan tepi air atau yang biasa dikenal dengan
kawasan Waterfrontcity yaitu setidaknya terdapat enam kriteria penilaian kawasan
tepi air diantaranya Kawasan Komersial, Kawasan Budaya, Pendidikan dan
Lingkungan Hidup, Kawasan Peninggalan Bersejarah, Kawasan Wisata atau
Rekreasi, Kawasan Permukiman, Kawasan Pelabuhan dan Transportasi.
Dalam laporan praktikum ini akan lebih memfokuskan kepada kriteria
penilaian kawasan tepi air pada kawasan Komersialnya. Kawasan komersial
merupakan sebuah kawasan yang identik dengan adanya hubungan perdagangan
atau niaga didalamnya. Namun, dalam kriteria penilaian kawasan tepi terdapat
beberapa syarat didalamnya, sehingga wilayah tersebut dapat menjadi kawasan
waterfrontcity dari segi kawasan komersial yang dapat berpotensi dan bermanfaat
bagi masyarakat sekitar. Adapun beberapa syarat dalam kriteria penilaian tepi air
kawasan komersil adalah Harus mampu menarik pengunjung yang akan
memanfaatkan potensi kawasan pantai sebagai tempat bekerja, belanja maupun
rekreasi (wisata); Kegiatan diciptakan tetap menarik dan nyaman untuk dikunjungi
(dinamis); Bangunan harus mencirikan keunikan budaya setempat dan merupakan
sarana bersosialisasi dan berusaha (komersial); Mempertahankan keberadaan
golongan ekonomi lemah melalui pemberian subsidi. Keindahan bentuk fisik (profil
tepi pantai) kawasan pantai diangkat sebagai faktor penarik bagi kegiatan ekonomi,
sosial-budaya, dan lain sebagainya.

Kota Semarang berada pada kawasan pesisir utara Jawa mempunyai letak
sangat strategis karena terletak pada lalu lintas perdagangan internasional dan
mempunyai potensi besar untuk menjadi “water front city” berkelas dunia
(Ecolmantech, 2006). Pada tahun 2018 Kota Semarang memiliki jumlah penduduk
sebanyak 1.668.578 ( Dispendukcapil Kota Semarang, 2018). Jumlah penduduk
yang semakin meningkat setiap tahun akan membutuhkan sarana dan prasarana
yang memadai baik kebutuhan akan lahan untuk tempat tinggal maupun sebagai
kegiatan usaha. Sedangkan kawasan Kota Semarang “waterfront city” memiliki
kendala yang rutin terjadi setiap tahun yaitu banjir rob yang terjadi akibat pasang
surut air laut. Konversi lahan pertanian atau hutan yang ada di bagian hulu dan
saluran drainase yang kurang terawatt akan menyebabkan banjir local yang
diakibatkan oleh genangan air hujan. Selain itu pencemaran terhadap badan air yang
diakibatkan oleh limbah industry dan non-industri serta intrusi air laut menunjukkan
bahwa kebijakan Kota Semarang belum mempertimbangkan kesinambungan hidup
air.

Landry (2006), mengatakan bahwa pengembangan konsep kota tepian air


merupakan cara pemecahan masalah perkotaan yang terfokus pada masalah kultur
dan budaya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan membuat keseimbangan antara
kemajuan ekonomi dengan cara preservasi pada daerah pesisir untuk dijadikan
kawasan terpadu (mixed used) dengan cara mendorong revitalisasi tepian air dan
meningkatkan terhadap pemanfaatan air sambal melindungi ikan dan margasatwa,
ruang terbuka hijau dan daerah permai, akses publik terhadap garis pantai dan lahan
pertanian, serta meminimalisasi perubahan system ekologi yang merugikan seperti
erosi dan bahaya yang diakibatkan oleh banjir. Menurut Rotledge (1999),
peningkatan kualitas air merupakan pedorong sangat penting terhadap kemajuan
perekonomian. Menurut Vollmer (2009) mengemukakan bahwa waterfront dapat
menyumbangkan kemajuan perbaikan lingkungan di dunia yang berkembang.
Sebagai contoh Toronto merupakan wilayah tepian danau tercemar berat, dengan
penggunaan konsep kota tepian air, dalam waktu singkat dari tahun 1980 sampai
tahun 2000 telah bisa meningkatkan tahapan pengelolaan dari semula pendekatan
ekosistem dengan semboyannya: lingkungan sehat, pemulihan ekonomi,
keberlanjutan, dan menjaga kesejahteraan masyarakat menjadi pendekatan global
yang sangat penting dengan semboyan peningkatan efektifitas dan kreatifitas
(Laidley, 2007).
Sesuai Undang-undang UU No. 23/1997 tentang Ketentuan Pokok Pengelolaan
Lingkungan Hidup; UU No 7/2004 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air; UU No
26/2007 tentang Penataan Ruang, dan Permendagri No 1/2007 tentang Penataan
RTH Kawasan Perkotaan, hal tersebut akan memaksa Kota Semarang untuk
membangun kota ramah air dengan menghidupkan kembali air di dalam tata
kotanya sebagai “water front city” yang dikembangkan dan dikelola dengan
paradigma pembangunan berkelanjutan.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan, terdapat beberapa
masalah yang menjadi fokus dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
1.3.Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum kali ini adalah;
1.
2.
3.
4.
1.4.Manfaat
Beberapa manfaat dari penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut ;
a. Manfaat teoritis
• Sebagai sumber literasi untuk menambah wawasan dan pengetahuan
• Sebagai informasi tambahan bagi peneliti selanjutnya
b. Manfaat praktis
• Sebagai bahan masukan bagi pemerintah setempat dalam melakukan tindakan
mitigasi bencana
• Sebagai ilmu praktis yang dapat dimiliki masyarakat untuk menghadapi
bencana alam.
1.5.Sistematika Laporan
Untuk memahami lebih jelas mengenai laporan ini, maka materi yang tertera dalam
laporan praktikum Mitigasi Bencana ini dikelompokkan menjadi beberapa sub bab
dengan sistematika sebagai berikut
a. BAB 1 PENDAHULUAN
Berisi mengenai latar belakang penulisan laporan, perumusan masalah, tujuan
penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan laporan
b. BAB II KAJIAN PUSTAKA
Berisi teori yang diperoleh dengan cara mencari, membaca dan mendengarkan
laporan-laporan penelitian dan bahan pustaka yang memuat teori-teori yang
relevan denan penelitian yang dilakukan
c. BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Berisi mengenai lokasi dan waktu penelitia, variabel yang diukur dalam
praktikum dilapangan, alat dan bahan yang digunakan selama melakukan
pengukuran, teknik pengumpulan data dan teknik analisis data.
d. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
Berisi hasil dan analisis dari penelitian dengan data kualitatif dan pembahasan
yang menyajika deskripsi yang menjawab rumusan masalah yang telah ditentukan
dengan analisis yang didukung oleh teori-teori pada kajian pustaka
e. BAB V PENUTUP
Berisi kesimpulan dan rekomendasi yang berakitan dengan analisis dan
pembahasan juga laporan secara keseluruhan berdasarkan yang telah dipaparkan
pada bab-bab sebelumnya
f. DAFTAR PUSTAKA
g. LAMPIRAN