Anda di halaman 1dari 6

Beberapa Kelemahan Wirausaha Indonesia

Heidjarachman Ranu Pandojo (1982:16) menulis bahwa sifat-sifat kelemahan orang


kita bersumber pada kehidupan penuh raga, dan kehidupan tanpa pedoman, dan tanpa
orientasi yang tegas.
Lebih rinci kelemahan tersebut sebagai berikut:
1. Sifat mentalitet yang meremehkan mutu
2. Sifat mentalitet yang suka menerabas
3. Sifat tak percaya kepada diri sendiri
4. Sifat tak berdisiplin yang murni
5. Sifat mentalitet yang suka mengabaikan tanggung-jawab yang kokoh
Sifat mentalitet seperti yang diungkapkan di atas sudah banyak kita saksikan dalam
praktek pembangunan di negara ini. SDd inpres yang roboh sebelum waktunya, jalan dan
jembatan yang kembali rusak hanya dalam beberapa waktu sesudah diperbaiki, barang-
barang yang kurang berfungsi dan sebagainya adalah cermin sifat meremehkan mutu.
Korupsi dan main pungli yang masih dipraktikkan meskipun sudah ada aparat pengawasan
adalah pengejawantahan dari sikap suka menerabas. Sikap ikut-ikutan dalam berinvestasi
sehingga dalam waktu yang relatif singkat suatu obyek akan sudah jenuh sehingga semuanya
akan menderita rugi, hal ini merupakan petunjuk betapa para kaum usahawan kurang mampu
menemukan dirinya sendir dan lebih suka mengekor pendapat orang llain.
Disiplin yang murni juga sukar ditegakkan, kita ambil saja contoh pada waktu ada
kontrol semuanya berusaha baik, berusaha disiplin, tetapi sesudah tidak dikontrol lagi
semuanya berjalan brantakan lagi, tidak ada disiplin lagi, tidak ada ketertoban lagi. Akhirnya,
banyak hal-hal yang berjalan secara tersendat-sendat hanya karena tidak ada kesinambungan
dalam penggarapannya yang disebabkan para pelaksana memiliki pekerjaan yang berangkap-
rangkap, ini adalah cermin dari sikap tidak bertanggungjawab yang masih banyak
menghinggapi bangsa kita.
Di zaman orde baru sering diadakan lomba kebersihan antar kota, memperebutkan
Prasamnya Nugraha. Tapi setelah orde baru jatuh tak ada lagi lomba-lomba., maka kita lihat
kota besar di Indonesia, mulai semrawut, kumuh, sampah bertebaran dimana-mana. Pak
walikota diam, tak ada motivasi lagi, nama jalan banyak yang hilang tak diganti dengan yang
baru, sungai-sungai dalam kota penuh sampah, jika hujan got tersumbat banjir dan
sebagainya.
Kelemahan bangsa kita banyak dibicaarakan oleh para pakar, yaitu terletak pada
superstrukturnya. Di dalam ekonomi pembangunan, ada 3 elemen penting yang penunjang
pembangunan yatiu Infra Struktur, struktur ekonomi, dan superstruktur. Infra struktur adalah
prasarana yang tersedia, jalan, jembatan, pelabuhan, irigasi, alat transportasi, telepon, dan
sebagainya. Struktur ekonomi adalah tersedianya faktor produksi dalam masyarakat, serta
tenaga manajemen yang berpandangan luas, kemampuan mengadaptasi teknologi dan juga
tersedia pasar produksi. Ada suatu penelitian terhadap pengusaha pribumi dan non pribumi
mengebai 16 item yang menyangkut motivasi, hasilnya sebagai berikut:
NO Kondisi Psikologis/Motivasi/Need Pribumi Non pribumi
1 Untuk berprestasi 42 43
2 Untuk mengikuti pendapat orang lain 44 41
3 Untuk melakukan sesuatu secara rapi 43 36
4 Untuk menonjolkan diri 39 45
5 Untuk berdiri sendiri 47 57
6 Untuk bekerja sama dengan orang lain 41 53
7 Untuk memahami tingkah laku orang lain 35 30
8 Untuk mrminta pertolongan kepada orang lain 32 30
9 Untuk menguasai orang lain 62 59
10 Untuk mawas diri 62 54
11 Untuk berbuat baaik kepada orang lain 51 61
12 Untuk mencari sesuatu yang baru 46 56
13 Untuk bertahan pada satu pekerjaan 64 59
14 Untuk mendekati lawan jenis 58 58
15 Untuk mengkritik orang lain 51 54
16 Untuk berpegang teguh pada pendiriannya 54 56
Nilai normal diatas angka 50, dibawah 50 berarti tidak normal
Sumber: Heidjrahman Ranu Pandojo (1982: 20)

Supperstruktur atau struktur atas adalah faktor mental masyarkat, semangat kerja ulet,
tak kenal putus asa, tekun, jujur, bertanggungjawab, dapat dipercaya. Bangsa Jepang dan
Jerman berhasil dalam membangun negaranya setelah Perang Dunia II, adalah karena mereka
unggul dalam suprastruktur ini. Bandingkan dengan negara kita dengan segala kelemahannya,
kurang bertanggung jawab, ingin cepat kaya, mencuri, memalsukan dokumen-dokumen, cuci
tangan, cepat puas, ingin santai. Demikian pula bangsa kita, apabila sudah memperoleh
uang/gaji lumayan, mereka cenderung memperbanyak waktu santai. Soetrisno
Prawirohardjono (1988: 1.16) menggambarkan dalam sebuah kurva, bagaimana perubahan
upah berpengaruh pada waktu santai (lihat gambar pada halaman berikutnya).
Sumbu vertikal menggambarkan pendapatan atau roti ekonomi (economic pie) dan
absis menggambarkan penggunaan tenaga kerja dalam waktu sehari (24 jam). Pada waktu
pendapatan rendah jumlah jam kerja yang digunakan hanya sebesar 0W1 jam kerja dengan
mendapatkan roti ekonomi 0R1. Dengan meningkatnya pembangunan jumlah jam kerja yang
digunakan menjadi 0W2 dengan mendapatkan pendapatan 0R2, dimana leisure time hanya
tinggal W2W (katakan 7 jam). Dengan meningkatnya pendapatan (upah makin tinggi) maka
orang cenderung mengurangi jam kerjanya yaitu dimana pendapatan setiggi 0R3 maka jam
kerja yang digunakan hanya 0W3 dan waktu istirahat yang dinikmati sekarang menjadi W3W
yang berarti ada pertambahan sebesar W3W2. Kecenderungan demikian adalah bersifat
niversal atau bersifat “human”. Perbedaan bagi setiap bangsa terletak pada penawaran yang
berbelok ke kiri tersebut (antara BL dalam kurva0L). Bagi bangsa Indonesia (khususnya
Jawa) yang dikatakan ‘mudah puas” lamban dan lain-lain misalnya dapat ditunjukan dengan
kurva penawaran tenaga kerja 0L1. Dengan hanya mendapatkan upah 0R4, kurva sudah
berbelok ke kiri yaitu dimulai dari titik B1.

Masyarakat kita begitu cepat ingin menikmati waktu santai, walaupun penghasilannya
belum begitu tinggi. Lihatlah pada hari Jumat sore, sabtu dan Minggu jalan-jalan ke daerah
tujuan wisata macet total. Kebiasaan lain yang kurang baik yaitu, memanfaatkan hari-hari
‘terjepit’ untuk bolos, minta ijin tidak masuk kantor. Perilaku ini semua akan menurunkan
prestasi kerja. Sebaiknya waktu istirahat atau leisure dapat dimanfaatkan untuk pendidikan
mental dan keterampilan peningkatan kebudayaan bangsa, meningkatkan kesejahteraan, dan
lain-lain.
Bagi para mahasiswa, hari-hari libur dan waktu senggang dapat dimanfaatkan untuk
berbagai kegiatan, seperti embersihkan kamar, membongkar tumpukan buku dan
menyusunyya kembali, membersihkan rumah, menyapu halaman depan dan belakang rumah,
memperbaiki atap yang bocor. Bagi wanita dapat mencoba resep-resep makanan baru, belajar
menjahit, dan sebagainya. Kegiatan kreatif ini menjadi kebiasaan positif kelak kemudian hari
dan akan berpengaruh baik terhadap semangat kerja, dimanapun anda kerja.

PEMANFAATAN WAKTU
Dengan tidak disadari selama hidup kita, katakanlah sampai 60 tahun, banyak sekali
waktu yang kita habiskan untuk berbaga keperluan. Kegiatan yang dilakukan ada yang
bersifat sangat produktif, sedang dan kurang produktif. Ada waktu untuk bekerja, ada waktu
untuk santai. Tapi seyogianyalah kita menggunakan waktu lebih banyak untuk kegiatan
produktif, daripada waktu untuk bersenang-senang.istilah yang terlontar dari mulut marilah
kita bersenang-senang menikmati hidup yang hanya sebentar, adalah ucapan yang tidak
bermutu, ucapan orang putus asa apalagi diikuti dengan perbuatan mabuk-mabukan,
menggunakan obat-obat terlarang.
Namun tidak dipungkiri waktu santai, berlibur cukup berperan dalam mencegah
kebosanan, dan menunjang semangat kerja baru, penuh energik stelah liburan. Namun
sebaliknya banyak pula orang yang lelah, malah loyo setelah liburan karena kurang tidur,
menguras tenaga, dsb. Hari-hari libur di negara kita cukup banyak, hari libur agama, hari
libur nasional, hari libur lain-lain sehubungan dengan kegiatan lokal di perkantoran, dsb.
Bisakah hari libur itu dikurangi? Agar bangsa kita lebih produktif, tidak banyak santai, kita
harus bekerja keras mencapai kemajuan disegala bidang? Jawabannya tergantuk pada pihak
yang berwenang. Bagi wirausaha hari libur tidak banyak, bahkan mereka menganggap hari
libur sebagai peluang bisnis, mereka tidak libur, tapi melayani kebutuhan masyarakat yang
sedang berlibur. Pada waktu yang tepat mereka juga akan mengatur liburannya.

Waktu Yang Terbuang


Sekarang cobalah nilai diri kita sendiri, berapa banyak waktu yang kita habiskan
dengan percuma, tanpa kita sadari. Buat anak-anak muda, disinyalir banyak sekali waktu
terbuang, mereka hanya hidup, menghirup nafas, tanpa menghasilkan sesuatu bagi masa
depannya, ataupun kurang maksimal penggunaan waktunya, bangun siang hari, ngobrol tidak
ada ujung pangkalnya, materi obrolan tidak menunjang masa depan, dan sebagainya.
Perkiraan waktu yang dihabiskan selama hidup
NO KEPERLUAN WAKTU
1 Memakai sepatu 8 Hari
2 Tertahan lampu merah 1 Bulan
3 Babershop 1 Bulan
4 Menekan nomor telepon 1 Bulan
5 Naik lift 3 Bulan
6 Sikat gigi 3 Bulan
7 Menunggu bus 5 Bulan
8 Urusan di kamar mandi/WC 6 Bulan
9 Membaca buku 2 Tahun
10 Makan 4 Tahun
11 Mencari rizki 9 Tahun
12 Menonton TV 10 Tahun
13 Tidur 20 Tahun

Silahkan evaluasi berapa banyak kita menghabiskan waktu untuk:


- Berbicara di telepon/HP, apalagi ngerumpi di telepon, mengungkapkan rasa cinta
- Menghadiri undangan, pernikahan, ulang tahun, upacara kantor dsb
- Acara rapat macam-macam, yang menghabiskan banyak waktu, apalagi yang
disebabkan peserta rapat datang terlambat sehingga waktu rapat diskors, atau karena
panitia belum membuat persiapan acara rapat, materi belum ada konsep, masih
meraba-raba bagaimana maunya peserta
- Naik kendaraan, di kota besar, ini paling merugikan, berjam-jam seseorang
berkendaraan dari rumah sampai tempat bekerja, seringkali datang terlambat,
karena alasan klasuk seperti macet
- Habis waktu untuk menunggu berbagai keperluan, seperti menunggu dokter, antri di
bank, antri menghadap pejabat, antri unuk membayar kasir dsb

Simaklah Firman Allah yang artinya demi waktu, sungguh manusia itu merugi kecuali
orang-orang yang beriman, yang sholat, saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran.
Artinya kita harus menggunakan waktu untu kegiatan-kegiatan produktif sekarang dan masa
yang aka datang. Ungkapan lain menyatakan waktu adalah uang, waktu adalah bekerja,
waktu adalah beribadah, waktu adalah untuk beribadah dan bekerja, yang semuanya
menyiratkan pengetian bahwa waktu adalah sangat berharga, jangan dibuang-buang, jangan
menjadi korban karena kelalaian menggunakan waktu.