Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Seorang ilmuwan Jerman, Karl Landsteiner pada tahun 1900 telah

melakukan suatu serial pemeriksaan terhadap sampel darah dari 6 orang

kawannya. Dilakukan pemisahan serum dan dibuat suspensi eritrosit dalam

larutan salin. Dijumpai adanya aglutinasi pada beberapa campuran serum

dengan suspensi eritrosit. Hal ini disebabkan karena eritrosit memiliki antigen

yang bereaksi dengan antibody (dalam serum) yang sesuai. Atas dasar ada

tidakya aglutinasi tersebut. Maka penemu mengelompokkan darah manusia

menjadi 4 golongan, yaitu A, B, AB, dan O. Dan sejauh ini telah dikenal pula

sistem golongan darah lain dari ABO yaitu sistem rhesus karena memiliki

sifat antigenik yang kuat (Suyasa, dkk, 2017).

Darah adalah cairan jaringan yang dialirkan melalui pembuluh darah.

Volume darah secara keseluruhan sekitar 5 liter. Sekitar 55% adalah cairan,

sedangkan 45% sisanya terdiri atas sel darah. Darah terdiri atas sel darah

putih, sel darah merah, trombosit (keping darah), dan plasma darah. Ada

beberapa sistem penggolongan darah pada manusia, misalnya sistem ABO

dan rhesus (Rh). Dasar penggolongan darah adalah adanya aglutinogen

(antigen) didalam sel darah merah dan aglutinin (antibody) di dalam plasma

(serum). Aglutinogen adalah zat yang digumpalkan dan aglutinin adalah zat

yang menggumpalkan (Suyasa, dkk, 2017).

1
Golongan darah ABO merupakan sisitem golongan darah manusia yang

paling banyak ditemukan dan sampai saat ini merupakan golongan darah

yang penting dalam transfusi darah, karena terdapat pada regular antibody,

yaitu Anti-A dan Anti-B yang reaktif pada suhu 37°C. Regular antibody ini

mengaktifasi komplemen dan menyebabkan kehancuran sel darah merah

intravaskuler. Pemeriksaan golongan darah ABO merupakan salah satu

langkah sebelum melakukan proses transfusi darah. Oleh karena itu perlu

diketahui teknik dalam melakukan pemeriksaan golongan darah ABO, agar

mendapatkan hasil yang akurat sesuai dengan golongna darah pendonor dan

pasien. Sejak penemuan Landsteiner pada tahun 1901 sampai sekarang, telah

ditemukan lebih dari 400 antigen golongan darah dalam eritrosit. Tapi untuk

kegunaan praktek, klinis, yang terpenting hanya sistem golongan darah ABO

dan Rh. Pada sistem golongan darah ABO hanya ada 4 golongan darah yaitu.

A, B, AB dan O. Golongan tersebut. berdasarkan atas ada tidak adanya

antigen A dan antigen B. Dalam pelayanan kesehatan modern, transfusi darah

merupakan salah satu hal yang penting dalam menyelamatkan jiwa pasien dan

meningkatkan derajat kesehatan. Indikasi tepat transfusi darah dan komponen

darah adalah untuk mengatasi kondisi yang menyebabkan morbiditas dan

mortalitas bermakna yang tidak dapat diatasi dengan cara yang lain. Dalam

perkembangannya, transfusi darah harus dilaksanakan sesuai dengna prosedur

ketat oleh tenaga profesional menggunakan darah yang aman dan berkualitas.

Sebelum melakukan transfusi darah perlu diketahui syarat-syarat dalam

melakukan transfusi diantaranya pengujian golongan darah bagi yang

2
mendonorkan, agar proses transfusi dapat berlangsung seperti yang

diharapkan (Suyasa, dkk, 2017).

Berdasarkan uraian diatas maka yang melatarbelakanginya adalah

mengetahui serta dapat melakukan teknik pemeriksaan golongan darah

menggunakan uji aglutinasi dengan metode slide test, test tube, dan

microplate (cell typing dan serum typing).

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana cara melakukan pemeriksaan golongan darah menggunakan uji

aglutinasi dengan metode slide test, test tube, dan microplate (cell typing dan

serum typing).?

1.3 Tujuan Praktikum

Tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui golongan darah pasien

berdasarkan uji aglutinasi dengan menggunakan metode slide test, test tube,

dan microplate (cell typing dan serum typing).

1.4 Manfaat Praktikum

Manfaat dari praktikum ini yaitu agar mahasiswa dapat melakukan

pemeriksaan golongan darah berdasarkan uji aglutinasi dengan menggunakan

metode slide test, test tube, dan microplate (cell typing dan serum typing).

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Darah

Darah merupakan cairan yang terdapat pada tubuh seluruh makhluk hidup

kecuali tumbuhan. Darah meiliki banyak fungsi sebagai alat transportasi pada

tubuh. Darah mengirimkan berbagai macam zat hasil penyerapan pada

pencernaan keseluruh tubuh. Darah juga mengirimkan oksigen dari paru-paru

keseluruh tubuh. Pemantauan kesehatan khususnya yang berhubungan dengan

darah sangat diperlukan mengingat pentingnya darah bagi tubuh manusia.

Darah memiliki perbedaan golongan sehingga perlu adanya tes golongan

darah (Muhyanto, 2016).

2.2 Sejarah Perkembangan Golongan Darah

Sejak ratusan tahun lalu, para ahli berpendapat bahwa penderita kurang

darah karena beberapa kasus, seperti pendarahan hebat akibat kecelakaan,

peperangan, persalinan, atau penyakit darahdapat di tolong dengan cara

menembahkan darah ke dalam tubuh penderita tersebut. Awalnya, William

Harvey telah melakukan transfusi darah pada penderita kurang darah, tetapi

penderitanya banyak yang meninggal, selain ada juga yang berhasil karena

kebetulan (Ariffriani, dkk, 2016).

Pemindahan darah binatang, sepeti darah kelinci dan domba perna juga

dilakukan, tetapi percobaan tersebut juga gagal. Percobaan lain dilakukan

oleh dokter pribadi raja Perancis XIV, dengan memberikan darah domba pada

orang gila, karena ia berpendapat, sebagaimana kebanyakan orang waktu itu,

4
domba adalah hewan yang ‘ramah’. Nyatanya, percobaan tersebut lagi-lagi

menemui jalan buntu, bahkan sejak itu, diberlakukan pelarangan untuk

melakukan pemindahan darah (transfusi darah) (Ariffriani, dkk, 2016).

Tahun 1900, Dr. Karl Landsteiner, ilmuan asal Australia, mengumumkan

penemuanya tentang golongan darah manusia. Sejak penemuan tersebut,

pemindahan darah atau transfusi darah tersebut tidak lagi di anggap

“berbahaya”, karena penderita kurang darah dapat tertolong. Berkat

penemuan itu pula, sebab kematian yang dulu terjadi akibat transfusi darah

dapat dijelaskan. Selain itu, ia dapat menemukan zat yang dapat menghalangi

pembekuan darah sehingga darah yang diambil dari tubuh tidak segera

membeku. Penambahan larutan glukosa kedalam darah yang dilakukany,

ternyata mampu memperpanjang hidup eritrosit diluar tubuh manusia.

Dengan demikian, darah dapat disimpan sebelum ditransfusikan ke dalam

tubuh penderita. Sejak tahun 1900 hingga tahun 1962, telah dikenal 12

macam sistem golongan darah yang penting dalam bidang transfusi darah dan

kehamilan (Ariffriani, dkk, 2016).

2.3 Golongan Darah

Golongan darah merupakan ciri khusus dari individu karena adanya

perbedaan jenis karbohidrat dan protein pada permukaan membran sel darah

merah. Golongan darah ditentukan oleh jumlah zat atau antigen, yang

terkandung dalam sel darah merah (Ariffriani, dkk, 2016).

Golongan darah menurut sistem A-B-O dapat diwariskan dari orang tua

kepada anaknya. Landsteiner akhirnya membedakan darah manusia menjadi

5
empat golongan, yaitu A, B, AB, dan O. pengolongan darah tersebut

disebabkan oleh jenis antigen yang dikandung oleh eritrosit atau sel darah

merah. Sebagian besar gen yang ada dalam populasi sebenarnya dapat muncul

lebih dari dua bentuk alel. Golongan darah ABO pada manusia merupakan

contoh alel bergandan dari gen tunggal (Ariffriani, dkk, 2016).

Sebagimana kebanyakan hasil pengamatan, pencampuran darah yang

berasal dari dua orang berbeda dapat menyebabkan pengendapan sel darah

merah. Peristiwa pengendapan sel tersebut kemudian dinamakan aglutinasi.

Pengamatan selanjutnya menunjukan bahwa peristiwa tersebut melibatkan sel

darah merah dan bagian cair dari darah, yaitu serum atau plasma. Penemuan

golongan darah itu dilandasi oleh adanya interaksi antigen-antibodi

(Ariffriani, dkk, 2016).

Antibody adalah molekul protein atau immunoglobulin yang memiliki satu

atau lebih tempat perlekatan (combining sites) atau disebut juga paratope.

Antigen adalah molekul asing yang dapat membangkitkan respons spesifik

dari limfosit dalam suhu kurang dari 30°C, dengan demikian antigen A dan B

pada sel darah merah, atau disebut juga golongan A dan B, tidak mempunyai

arti klinis, sehingga golongan darah individu bisa saja A, B, AB, dan O

(Ariffriani, dkk, 2016).

Huruf pada golongan darah menunjukan dua karbohidrat, yaitu substansi

A dan substansi B, yang dapat ditemukan pada permukaan sel darah merah.

Sel darah individu dapat mempunyai satu substansi (tipe A atau B), kedua-

duanya (tipe AB), atau tidak sama sekali (tipe O). Golongan darah yang

6
berbeda, yaitu A, B, AB, dan O ditentukan oleh sepasang gen, yang

diwariskan oleh kedua orang tua. Setiap golongan darah dapat dikenal dari zat

kimia yang disebut antigen, yang terletak pada permukaan sel darah merah

(Ariffriani, dkk, 2016).

Pemeriksaan golongan darah mempunyai berbagai manfaat dan

mempersingkat waktu identifikasi. Apabila darah donor mempunyai faktor (A

atau B) yang dianggap asing oleh resipien, protein spesifik atau antibody

yang dihasilkan oleh resipien dapat mengikatkan diri pada molekul asing

sehingga menyebabkan penggumpalan sel darah donor, yang akhirnya dapat

membunuh resipien (Ariffriani, dkk, 2016).

Karl Landsteiner berhasil menemukan tiga dari empat golongan darah

dalam sistem ABO dengan cara memeriksa golongan darah beberapa teman

kerjanya. Percobaan sederhana tersebut dilakukan dengan mereaksikan sel

darah merah dengan serum dari para donor. Hasilnya, didapatkan dua macam

reaksi yang menjadi dasar penemuan antigen A dan B atau golongan darah A

dan B, dan satu macam tanpa reaksi (tidak memiliki antigen,atau dikenal

dengan golongan darah O). kesimpulannya, ada dua macam antigen A dan B

pada sel darah merah atau golongan darah A dan B, atau sama sekali tidak

ada reaksi yang kemudian dikenal dengan golongan darah O (Ariffriani, dkk,

2016).

Selanjutnya, Alfred Von Decastello dan Adriano Sturli yang masih kolega

dari Landsteiner, menemukan golongan darah AB pada tahun 1901. Pada

golongan darah AB, antigen A dan B ditemukan secara bersamaan pada sel

7
darah merah, sedangkan antibody tidak ditemukan pada serum. Golongan

darah manusia ditentukan berdasarkan jenis antigen dan antibodi yang

terkandung dalam darah. Sebagai contoh, individu dengan golongan darah A

memiliki sel darah merah dengan antigen A pada permukaan membran selnya

dan menghasilkan antibodi terhadap antigen B dalam serum darahnya. Karena

itu, individu mempunyai golongan darah A- atau O- (Ariffriani, dkk, 2016).

Individu yang memiliki golongan darah B memiliki antigen B pada

permukaan sel darah merahnya dan menghasilkan antibody terhadap antigen

A dalam serum darahnya. Dengan demikian, individu tersebut mempunyai

golongan darah B- atau O-. Sementara itu, individu yang mempunyai

golongan darah AB memiliki sel darah merah antigen A dan B serta tidak

menghasilkan antibodi terhadap antigen A maupun B. Karena itu, individu

yang mempunyai golongan darah AB+ dapat menerima darah dari individu

lain yang bergolongan darah ABO apapun sehingga disebut resipien

universal. Akan tetapi, individu bergolongan AB+ tidak dapat mendonorkan

darah, kecuali kepada sesama AB+ (Ariffriani, dkk, 2016).

Individu yang mempunyai golongan darah O memiliki sel darah tanpa

antigen, tepai memproduksi antibodi terhadap antigen A dan B sehingga

individu bergolongan darah O- dapat mendonorkan darahnya kepada individu

bergolongan darah ABO apapun, atau disebut juga donor universal, walaupun

ia hanya bisa menerima darah dari sesama O- (Ariffriani, dkk, 2016).

8
Tabel jenis golongan darah beserta antigennya

Golongan Serum Plasma


A Antigen A Antibody B
B Antigen B Antibody A
AB Antigen A dan B Tidak ada antibody
O Tidak ada antigen Antibody A dan B

Menurut Ariffriani, dkk, (2016), penentuan golongan darah memerlukan

serum penguji yang disebut tes serum. Tes serum terdiri atas tes serum A dan

tes serum B. darah yang akan diperiksa dimasukkan kedalam tabung yang

berisi 2 cc larutan fisiologis, lalu dikocok. Darah tersebut ditaruh di atas kaca

objek, kemudian diteteskan serum A dan serum B. Selanjutnya, golongan

darah dapat ditentukan dengan cara sebagai berikut:

1. Jika darah di A menggumpal, sedangkan di B tidak menggumpal,

termasuk golongan darah A.

2. Jika darah di A tidak menggumpal, sedangkan di B menggumpal,

termasuk golongan dara B.

3. Jika darah di A dan B menggumpal, termasuk golongan darah AB.

4. Jika darah di A dan B tidak menggumpal, termasuk golongan darah O.

2.4 Golongan Darah Rhesus

Sistem Rhesus (Rh) merupakan sistem yang sangat kompleks. Aspek

genetika, nomenklatur maupun interaksi antigenetiknya masih banyak

diperdebatkan. Rhesus positif (Rh+) berarti individu mempunyai Rh-antigen

pada eritrositnya, sedangkan Rhesus negative adalah individu yang tidak

mempunyai Rh-antigen pada eritrositnya. Antigen pada amanusia tersebut

9
dinamakan antigen-D, dan merupakan antigen yang berperan penting dalam

transfuse darah. Tidak seperti pada ABO, sistem pada individu yang tidak

mempunyai antigen A/B akan mempunyai antibodi yang berlawan dalam

plasma sehingga pada sistem Rhesus, pembentukan antibodi selalu

disebabkan oleh exposure, baik transfuse atau kehamilan (Ariffriani, dkk,

2016).

Sistem golongan darah Rhesus merupakan antigen terkuat daripada sistem

golongan darah lainnya. Pemberian darah Rhesus positif (D+) hanya satu kali

sebanyak ± 0,1 ml secara fariental pada individu menimbulkan Rhesus positif

(-D) telah dapat menimbulkan anti rhesus positif (anti-D), walaupun golongan

darah ABO nya sama. Anti-D merupakan antibodi imun tipe IgG yang

mempunyai berta molekul 160.000, daya endap, (sedimentation coefficient) 7

detik, termo-stabil, yang dapat ditemukan dalam serum serta cairan tubuh,

seperti aor ketuban, air susu, dan air liur. Imun antibodi IgG anti-D dapat

melewati plasenta dan memasuki sirkulasi janin sehingga janin dapat

menderita penyakit hemolisis (Ariffriani, dkk, 2016).

Penyakit hemolisis pada janin dan bayi yang baru lahir adalah anemia

hemolitik akut yang disebabkan oleh autoimum antibodi (anti-D atau

inkomplet IgG antibodi golongan darah ABO) dan merupakan salah satu

komplikasi kehamilan. Sementara itu, antibodi maternal isoimun bersifat

spesifik terhadap eritrosit janin, dan timbul reaksi antigen eritrosit janin.

Penyebab hemolisis tersering pada neonates adalah passage transplasental

antibodi maternal yang rusak eritrosit janin (Ariffriani, dkk, 2016).

10
Pada tahun 1892, Ballantyne membuat kriteria untuk menegakkan

diagnosis hidrops petalis. Anemia pada janin yang ditandai oleh sejumlah

eritoblas dalam darah berkaitan dengan petalis. Pada tahun 1940 Landsteiner

menemukan faktor rhesus yang berperan dalam pathogenesis pada kelainan

hemolisi pada janin dan bayi (Ariffriani, Dwi, 2016).

Setiap orang terlahir dengan golongan darah A, B, AB, atau O dan faktor

rhesus positif atau negatif. Faktor rhesus ini menggambatrkan vartikel protein

dalam sel darah seseorang. Individu yang memiliki rhesus (-) berarti

kekurangan protein dalam sel darah merahnya. Sebaliknya, jika rhesus (+)

berarti individu memiliki protein yang cukup (Ariffriani, dkk, 2016).

Masalah dapat timbul jika ibu hamil memiliki rhesus (-), sedangkan ayah

memiliki rhesus (+). Dalam kondisi tersebut, bayi kemungkinan memiliki

darah dengan rhesus (+) atau (-). Akan tetapi, bayi biayasanya dapat mewarisi

rhesus (+) karena lebih bersifat dominan. Lantaran janin mewarisi rhesus yag

berbeda dengan rhesus ibunya, ketidakcocokan rhesus bayi dengan ibu yang

lazim disebut erythroblastosis foetalis dapat terjadi (Ariffriani, dkk, 2016).

2.5 Ketidakcocokan Rh

Ketidakcocokan atau inkomplatibilitas Rh dapat menyebabkan kematian

pada janin dan keguguran berulang. Karena itu, pemeriksaan faktor Rh ibu

dan ayah perlu dilakukan sedini mungkin sehingga inkomplatibilitas yang

mungkin muncul dapat segera ditangani (Ariffriani, dkk, 2016).

Perbedaan Rh antara ibu dan bayi membuat tubuh ibu memproduksi anti-

rhesus untuk melindungi tubuhnya sekaligus menyerang calon bayi. Rh darah

11
janin dapat masuk melalui plasenta menuju aliran darah ibu. Selain melalui

plasenta, anti-rhesus yang diproduksi ibu dapat menyerang calon bayi, lalu

menghancurkan sel darah calon bayi. Kerusakan sel darah merah dapat

memicu kerusakan otak, bayi kuning, gagal jantung, dan anemia dalam

kandungan, maupun setelah lahir. Kasus kehamilan engan kelainan Rh

tersebut lebih banyak ditemui pada orang asing atau mereka yang memiliki

garis keturunan asing, sepertu Eropa dan Arab. Sementara itu, kasus yang

sama mungkin juga ditemukan di Indonesia (Ariffriani, dkk, 2016).

2.6 Pemeriksaan Golongan Darah

Menurut Ariffriani, dkk, (2016), terdapat tiga metode manual yang dapat

digunakan dalam melakukan pemeriksaan golongan darah, diantaranya

metode slide atau kartu golongan darah, tabung reaksi, dan microplate.

Penjelasannya yakni sebagai berikut:

1. Metode slide

Teknik penggolongan darah ABO ini dapat dilakukan dalam keadaan

darurat. Metode tersebut direkomendasikan penggunaan rutin, karena

terdapat beberapa kekuranga, diantaranya reaksi antigen lemah pada sel

dan kelompok serum dengan titer anti-A dan anti-B yang rendah.

Metode slide kurang sensitif dibandingkan dengan uji tabung karena

proses pengeringan pada campuran dapat menyebabkan agregasi sel

sehingga dapat memberikan hasil positif palsu. Selain itu, reaksi yang

terjadi lemah sehingga sulit untuk di tafsirkan.

12
2. Metode Tabung

Tabung reaksi yang ternuat dari kaca atau plastik dapat digunakan.

Teknik tabung lebih sensitif disbanding teknik slide untuk penetuan

golongan darah ABO.

a) Keuntungan metode tabung meliputi:

1) Memungkinkan ingkubasi cukup lama tanpa mengeringkan isi

tabung.

2) Sentrifugasi dapat meningkatkan reaksi yang memungkinkan deteksi

antigen dan antibodi yang lemah.

3) Grading untuk membaca hasil cukup sederhana.

4) Bersih dan lebih higenis.

5) Memerlukan volume reagen yang lebhi sedikit.

6) Lebih sensitif dibandingkan teknik slide.

3. Microplate

Microwell plate terdiri atas nampan kecil dengan 96 susmur masing–

masing data menampung sekitar 200 – 300 mikron reagen. Popularitas

teknologi tersebiut telah meluas karena dapat mengurangi beban kerja di

laboratorium trnasfusi darah dengan tersedianya sistem otomatis terbaru

yang mendukung.

Terdapat tiga jenis microplate, yaitu U-type well, V-type well, dan flat-

bottom. U-type well umumnya digunakan dalam tes serologi sritrosit,

karena lebih mudah membaca hasilnya. Keuntungan penentuan ABO

dengan microplate adalah sebagai berikut:

13
a. Hanya memerlukan volume kecil eritrosit dan konsentrasi sera yang

rendah, sehingga biayanya relatif murah.

b. Penanganan plate yang mudah, sehingga dapat menggantikan 96 tabung

reaksi.

c. Lamanya pemeriksaan menjadi lebih singkat, bila di laboratorium

dilengkapi dengan dispenser raegen, sample hander, dan cell washer.

Teknik microplate dapat digunakan dengan secara otomatis dengan

data online di laboratorium yang lebih besar sehingga membantu dalam

menguragi kesalahan dan transkripsi, menghemat waktu stap,

menggunakan barcode untuk sampel dan identifikasi plate, setelah

terintegrasi kedalam sistem computer yang komprehensif untuk

penyimpanan data (Ariffriani, dkk, 2016).

A. Terdapat 2 pemeriksaan golongan darah ABO, yakni:

1. Cell Grouping/cell typing, yakni untuk memeriksa antigen sel darah

merah dengan cara menambahkan anti-A, anti-B, dan anti-AB

2. Serum grouping/serum typing, yakni untuk memeriksa antibody dalam

serum dengan cara mereaksikannya dengan sel golongan A, B, dan O.

B. Cara interpretasi hasil pemeriksaan golongan darah:

a. Metode Cell Typing

1) Golongan darah A: Aglutinasi pada anti-A karena golongan darah A

mempunyai antigen A dan antibody B.

2) Golongan darah B: Aglutinasi pada anti-B karena golongan darah B

mempunyai antigen B dan antibody A.

14
3) Golongan darah AB: Aglutinasi pada anti-A dan anti-B karena

golongan darah AB mempunyai antigen A dan B tetapi tidak

mempunyai antibody.

4) Golongan Darah O: Tidak terjadi aglutinasi karena golongan darah O

tidak mempunyai antigen A dan B tetapi mempunyai antibody A dan

B.

b. Metode Serum Typing

1) Golongan darah A: Aglutinasi pada sel B karena mempunyai

antibody B.

2) Golongan darah B: Aglutinasi pada sel A karena mempunyai

antibody A.

3) Golongan darah AB: Tidak terjadi aglutinasi karena tidak

mempunyai antibody.

4) Golongan darah O: Aglutinasi pada sel A dan sel B karena

mempunyai antibody A dan B.

2.7 Reaksi Aglutinasi

Mekanisme terjadi aglutinasi tidak berbeda dengan mekanisme presipitasi.

Pada reaksi ini antibody bersifat multivalent, artinya tiap antibody didapatkan

paling sedikit 2 reseptor antigen. Oleh karena antibodinya bersifat

multivalent, terjadi ikatan silang dengan antigen yang sesuai. Apabila

rasionya sesuai maka akan membentuk kisi-kisi 3 dimensi dan terjadilah

aglutinasi. Perbedaannya, antigen pada reaksi presipitasi berupa larutan

15
molekuler atau suspensi koloidal, sedangkan antigen pada reaksi aglutinasi

berupa partikel yang tidak larut (Utari, dkk, 2016).

Menurut Utari, dkk, (2016), macam-macam reaksi aglutinasi yaitu:

1. Direk: untuk menetapkan antibody tehadap antigen yang berupa

partikel/sel. Contohnya seperti pemeriksaan golongan darah, pemeriksaan

widal, tes Rf, tes kehamilan, dan tes sifilis.

Interpretasi hasil:

Hasil positif (+) → terjadi penggumpalan

Hasil negatif (-) → tidak terjadi gumpalan

2. Indirek: untuk antibody terhadap antigen yang larut dengan meletakkan

terlebih dahulu antigen dengan partikel (carrier) seperti: latex, eritrosit,

dan karbon. Contohnya seperi tes Streptococcus grup A, anti-HBs.

Interpretasi hasil:

Hasil positif (+) → tidak terjadi gumpalan

Hasil negatif (-) → terjadi gumpalan

2.8 Antigen

Antigen adalah bahan yang dapat bereaksi dengan produk respon imun dan

merupakan sasaran respon imun. Antigen yaitu bahan yang dapat

menimbulkan respon imun. Epitop atau determinan antigen adalah bagian

antigen yang menginduksi pembentukan antibody dan dapat diikat dengan

spesifik oleh bagian antibody pada limfosit. Hapten adalah determinan

antigen dengan berat molekul rendah dan baru menjadi imunogen apabila

16
diikat oleh molekul besar dan dapat mengikat antibody. Contoh hapten adalah

golongan antibiotik (Utari, dkk, 2016).

Menurut Utari, dkk, (2016), pembagian antibody menurut epitop dan

spesifitas:

1. Pembagian antigen menurut epitop:

a. Unideterminan, univalen: hanya 1 jenis epitop pada 1 molekul.

b. Unideterminan, multivalen: hanya 1 determinan tetapi 2 atau lebih

determinan ditemukan dalam 1 molekul.

c. Multideterminan, univalen: banyak epitop yang bermacam-macam tapi

hanya 1 dari tiap macamnya.

d. Multideterminan, multivalen: banyak determinan dan banyak macam

pada 1 molekul.

2. Pembagian antigen menurut spesivitas:

a. Heteroantigen, yang memiliki oleh banyak spesies.

b. Xenoantigen, yang hanya dimiliki spesies tertentu.

c. Alloantigen, yang spesifik untuk individu dalam suatu spesies.

d. Antigen organ spesifik, yang hanya dimiliki organ tertentu.

e. Autoantigen, yang memiliki alat tubuh sendiri.

2.9 Antibody

Imunoglobulin merupakan sustansi pertama yang di identifikasi sebagai

molekul dalam serum yang mampu menetralkan sejumlah mikroorganisme

penyebab infeksi. Molekul ini dibentuk oleh sel B dengan 2 bentuk yang

berbeda, yaitu sebagai reseptor permukaan antigen dan sebagai antibody yang

17
disekresikan ke cairan ektraseluler. Antibody yang disekresikan dapat

berfungsi sebagai adaptor yang mengikat antigen spesifik, sekaligus jembatan

yang menghubungkan antigen dengan sel sistem imun atau mengaktivasi

komplemen (Utari, dkk, 2016).

Menurut Ariffriani, dkk, (2016), antibody adalah bahan larut digolongkan

dala protein yang disebut globulin dan sekarang dikenal sebagai

imunoglobulin. Imunoglobulin dibentuk oleh sel plasma yang berasal dari

proliferasi sel B akibat adanya kontak dengan antigen. Semua molekul

imunoglobulin 4 rantai polipeptida dasar, yaitu:

1. Dua rantai polipeptida pendek yang identik. Rantai polipeptida ini

dinamakan rantai L (light chain) atau rantai ringan.

2. Dua rantai polipeptida panjang yang identik, rantai polipeptida ini disebut

rantai H (heavy chain) atau rantai berat.

Pada pertengahan rantai H didapatkan ikatan yang disebut ikatan disulfida.

Tiap rantai L diikat pada bagian tengah rantai H sebelahnya (Utari, dkk,

2016).

Imunoglobulin (Ig) dibentuk oleh sel plasma yang berasal dari proliferasi

sel B akibat adanya kontak dengan antigen. Antibody yang terbentuk spesifik

ini akan mengikat antigen baru lainnya yang sejenis. Bila serum protein

dipisahkan secara eletroforesis, maka imunoglobulin ditemukan terbanyak

dalam fraksi gammaglobulin meskipun ada pula yang ditemukan pada fraksi

alfa dan beta (Utari, dkk, 2016).

18
BAB III

METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin tanggal 4 maret 2019,

bertempat di lingkungan STIKES Bina Mandiri Gorontalo khususnya di

laboratorium Fitokimia.

3.2 Tujuan

Tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui golongan darah

seseorang dengan menggunakan uji aglutinasi yang terdapat dalam sel darah

merah.

3.3 Metode

Metode yang digunakan dalam praktikum ini yaitu slide test, test tube, dan

microplate.

3.4 Prinsip Kerja

Golongan darah diidentifikasikan dengan melihat aglutinasi, yaitu terjadi

penggumpalan pada sel darah merah (eritrosit) akibat reaksi antara antibody

dalam serum/plasma dengan antigen.

3.5 Pra Analitik

3.5.1 Alat

Pada praktikum ini menggunakan alat centrifuge, pipet pasteur, kaca

objek, dispo 3 ml, autoklik, lancet, gelas kimia, microplate, tabung

reaksi, tabung serologi, rak tabung dan lidi.

19
3.5.2 Bahan

Untuk bahannya yaitu reagen anti A, B, AB, dan Rhesus (anti-D),

NaCl 0,9%, Alkohol 70%, aquadest, tissu, dan sampel darah A-B-O.

3.6 Analitik

3.6.1 Pencucian dan Pembuatan Suspensi 5% dan 10%

a. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

b. Masukkan sampel darah yang berada dalam dispo 3 ml pada tabung

serologi.

c. Masukkan tabungnya pada centrifuge dengan kecepatan 10.000 rpm

dalam waktu 10 menit.

d. Buang serumnya, dan tambahkan larutan NaCl 0,9% pada tabung

serologi untuk kemudian di masukkan kedalam centrifuge dengan

kecepatan 10.000 rpm dalam waktu 10 menit. Lakukan pencucian

sebanyak 3X.

e. Buang supernatannya, yang diambil hanya endapannya.

f. Teteskan 19 tetes reagen NaCl 0,9% pada tabung reaksi yang lain

dan tambahkan 1 tetes darah (untuk suspensi 5%)

g. Sedangkan untuk suspensi 10%, teteskan 9 tetes reagen NaCl 0,9%

pada tabung reaksi yang lain dan tambahkan 1 tetes darah.

h. Larutan suspensi 5% dan 10% siap digunakan.

3.6.2 Pemeriksaan golongan darah metode slide test

a. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

20
b. Tusuk jari pasien menggunakan autoklik dan teteskan pada kaca

objek yang sebelumnya telah disterilkan menggunakan kapas

alkohol.

c. Teteskan darah pada 4 titik secara berbeda, dan kemudian teteskan

reagen anti-A, B, AB, dan Rh pada masing-masing 4 titik tetesan

darah.

d. Homogenkan menggunakan lidi dan kemudian digoyangkan hingga

melihat ada tidaknya aglutinasi.

3.6.3 Pemeriksaan golongan darah metode test tube

a. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

b. 1 tetes darah suspensi 5% dan 10% diteteskan pada masing-masing

tabung.

c. Tambahkan 2 tetes reagen anti-A, B, AB, dan Rh pada tabung yang

telah berisi suspensi.

d. Homogenkan, kemudian dicentrifuge dengan kecepatan 1000 rpm

dala waktu 10 menit.

e. Amati ada tidaknya aglutinasi.

f. Jika kurang jelas, maka ambil 1 tetes suspensi dan letakkan pada

kaca objek dan diperiksa secara mikroskopis.

3.6.4 Pemeriksaan golongan darah metode microplate (cell typing)

a. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

b. Teteskan 1 tetes suspensi darah 5% atau 10% pada mikroplate.

c. Tambahkan masing-masing reagen anti-A, B, AB, dan Rh.

21
d. Homogenkan sambil di goyangkan.

e. Amati aglutinasi yang terjadi.

3.6.5 Pemeriksaan golongan darah metode microplate (serum typing)

a. Teteskan 1 tetes serum pada plate yang telah diteteskan suspensi 5%

dan 10% dari golongan darah A, B, dan O.

b. Amati ada tidaknya aglutinasi pada microplate tersebut.

3.7 Pasca Analitik

1. Jika darah di A menggumpal, sedangkan di B tidak menggumpal, maka

termasuk golongan darah A.

2. Jika darah di A tidak menggumpal, sedangkan di B menggumpal, maka

termasuk golongan dara B.

3. Jika darah di A dan B menggumpal, maka termasuk golongan darah AB.

4. Jika darah di A dan B tidak menggumpal, maka termasuk golongan darah

O.

22
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Berdasarkan praktikum pemeriksaan golongan darah uji aglutinasi yang

telah dilaksanakan maka hasilnya seperti yang dilihat pada table 4.1.1

Cell typing Serum typing Interpretasi

Metode Anti Anti Anti Sel Sel Sel


Gol Darah
A B AB A B O

Slide - + - + - - B

Tabung + - - - + - B

Microplate + - - - + - B

4.2 Pembahasan

Golongan darah manusia ditentukan berdasarkan jenis antigen dan

antibody yang terkandung dalam darahnya. Individu dengan golongan darah

A, memiliki sel darah merah dengan antigen A dipermukaan membran sel dan

menghasilkan antibody terhadap antigen B dalam serum darahnya. Individu

dengan golongan darah B memilik antigen B pada permukaan sel darah

merahnya dan menghasilkan antibody terhadap antigen A dalam serum

darahnya. Individu dengan golongan darah AB memilii sel darah merah

dengan antigen A dan B serta tidak menghasilkan antibody terhadap antigen

A atau B. Sedangkan individu dengan golongan darah O memiliki sel darah

merah tanpa antigen A dan B, tapi memproduksi antibody terhadap antigen A

dan B (Oktari, Silvia, 2016).

23
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan dengan menggunakan

3 metode dalam pemeriksaan golongan darah uji aglutinasi, maka dapat

diketahui bahwa dalam penggunaan metode slide test dimana pada saat

pemberian anti-A yang berwarna biru, anti-B yang berwarna kuning, anti AB

yang berwarna merah muda, serta anti-D berwarna bening, yang mengalami

aglutinasi yakni pada reagen anti-B, anti-AB, dan anti-D hal ini menandakan

bahwa pasien tersebut memiliki golongan darah B+ dimana antibody dalam

darah berikatan dengan antigen.

Dalam metode test tube, yang mengalami aglutinasi (penggumpalan) yaitu

pada reagen anti-A, anti-AB, dan anti-D hal ini menandakan bahwa pasien

tersebut memiliki golongan darah B+ dimana antibody dalam darah berikatan

dengan antigen.

Sedangkan dalam metode microplate (cell typing), yang mengalami

aglutinasi (penggumpalan) yaitu pada reagen anti-A, anti-AB, dan anti-D hal

ini menandakan bahwa pasien tersebut memiliki golongan darah B+ dimana

antibody dalam darah berikatan dengan antigen. Sama halnya yang terjadi

pada metode test tube. Untuk metode microplate (serum typing) serum yang

akan diperiksa bereaksi dengan suspensi sel darah merah golongan A

sehingga mengalami aglutinasi (penggumpalan) hal ini menandakan bahwa

hasil pemeriksaannya yakni golongan darah B+ karena terjadi reaksi antara

antibody dan antigen. Metode ini juga disebut sebagai teknik silang, apabila

terjadi penggumpalan pada suspensi darah A dan serum maka pasien tersebut

memiliki golongan darah B, jika yang menggumpal suspensi darah B maka

24
interpretasi hasilnya yaitu golongan darah A. Apabila tidak terjadi

penggumpalan pada serum yang dicampurkan dengan suspensi maka

golongan darahnya AB, sedangkan untuk golongan darah O akan mengalami

peggumpalan pada serum dan suspensi sel darah merah.

Metode test tube dan microplate juga merupakan uji aglutinasi untuk

mengkonfirmasi hasil yang didapatkan dari metode slide test, sehingga

didapatkan golongan darah yang sama.

25
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Jadi, dapat disimpulkan bahwa golongan darah yang diperoleh dengan uji

aglutinasi menggunakan metode slide test yakni golongan darah B+, adapun

metode test tube dan microplate bertujuan untuk mengkonfirmasi hasil yang

diperoleh dari metode slide test.

5.2 Saran

Sebaiknya, suspensi darah yang akan digunakan dalam kegiatan praktikum

dibuat sebelum kegiatan praktikum dilakukan agar tidak menghabiskan waktu

yang lama. Serta penusukkan jari pasien dilakukan sebaik mungkin agar

darah yang akan di periksa dapat mencukupi untuk ditetesi dengan reagen

anti-A, B, AB, dan D (Rh).

26
DAFTAR PUSTAKA

Ariffriani., Denny. Y., Dwi. G. 2016. Hematologi. Jakarta: Penerbit Buku


Kedokteran EGC.
Muhyanto, S. H. 2016. Alat Penggolongan Darah ABO Metode Slide Berbasis
ATmega16. ((Jurnal). Yogyakarta: Teknik Elektronika Fakultas Teknik
UNY.
Oktari, A., Silvia, N. D. 2016. Pemeriksaan Golongan Darah Sistem ABO Metode
Slide dengan Serum Golongan Darah A, B, O. Bandung: Sekolah Tinggi
Analis Bakti Asih Bandung. Jurnal Teknologi Laboratorium Vol.5, No.2:
49-54.
Suyasa, I Gede Putu. D., dkk. 2017. Pemeriksaan Golongan Darah dan Rhesus
Pada Anak Kelas 4, 5, dan 6 Sekolah Dasar di Desa Tribuana Kecamatan
Abang Kabupaten Karangasem. Bali: Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bali.
Jurnal Paradharma Vol.1, No.2: 115-119.
Utari, D., Mudiharso., Nurindah, T. 2016. Imunoserologi. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.

27
LAMPIRAN

Reagen anti-A, B, AB, dan D (Rh) Pemeriksaan golongan darah

metode slide test

Pemeriksaan golongan darah Pemeriksaan golongan darah

metode test tube metode microplate

28