Anda di halaman 1dari 17

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/334454662

PENERAPAN TEORI KELUARGA DALAM KEHIDUPAN TEORI KELUARGA

Article · July 2019

CITATIONS READS
0 675

1 author:

Siti Fadhillah Husna


Jakarta State University
1 PUBLICATION   0 CITATIONS   

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

Teori Keluarga View project

All content following this page was uploaded by Siti Fadhillah Husna on 14 July 2019.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


PENERAPAN TEORI KELUARGA DALAM KEHIDUPAN
TEORI KELUARGA

Siti Fadhillah Husna


1504617022

PENDIDIKAN VOKASIONAL KESEJAHTERAAN KELUARGA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
JULI 2019
Ringkasan
Teori Struktural Fungsional merupakan teori yang menekankan pada keseimbangan
sistem pada keluarga dan masyarakat. Setiap anggota keluarga memiliki peran, tugas dan
tanggungjawabnya masing-masing. Seperti ayah yang berperan sebagai pencari nafkah, ibu
yang berperan sebagai ibu rumah tangga untuk mengurus anak, memasak dan merapihkan
rumah serta anak yang berperan untuk belajar dan membantu orang tua. Teori Sosial Konflik
adalah teori yang mentang teori struktural fungsional, dimana teori ini menganggap bahwa
konflik merupakan sesuatu hal yang biasa terjadi di dalam keluarga. Dapat dikatakan hal
yang biasa karena konflik merupakan suatu perubahan sosial. Selain perubahan sosial,
ketidaksamaan struktural dan kompetisi di dalam keluarga juga dapat menimbulkan konflik.
Teori Ekologi merupakan proses interaksi beberapa sistem lingkungan yang
mempengaruhi perkembangan manusia. Dimana interaksi manusia dibagi ke dalam beberapa
subsitem yaitu mikrosistem (keluarga, teman sebaya dan lingkungan), mesosistem
(hubungan pengalaman keluarga dengan sekolah), exosistem (lingkungan kerja orang tua),
makrosistem (peraturan pemerintah, adat istiadat dan budaya) dan crhonosistem (alam
semesta). Teori Pertukaran Sosial merupakan teori yang berpaku kepada imbalan (rewards)
yang di peroleh dan biaya (cost) yang dikeluarkan dalam melakukan suatu kegiatan tersebut.
Jadi dalam melakukan suatu kegiatan setiap individu memikirkan terlebih dahulu imbalan
dan biaya yang harus dikeluarkan. Teori Feminis merupakan teori yang membahas bahwa
perempuan ingin mengadakan defungsional keluarga. Artinya perempuan ingin mengubah
suatu fungsi yang ada di dalam keluarga. Teori ini menginginkan bahwa perempuan
memiliki kesetaraan dengan laki-laki dalam berbagai sektor. Teori ini juga tidak mengakui
adanya perbedaan biologi antara laki-laki dan perempuan meskipun perempuan sebenarnya
memiliki perbedaan biologi yaitu 3M (mestruasi, melahirkan dan menyusui).
Teori Gender adalah perbedaan laki-laki dan perempuan dalam peran, fungsi,
persifatan, kedudukan, tanggungjawab dan hak perilaku baik perempuan maupun laki-laki
yang dibentuk, dibuat, dan disosialisasikan oleh norma, adat istiadat, dan kepercayaan
masyarakat setempat. Teori Perkembangan merupakan teori yang menjelaskan bahwa setiap
individu, kelompok maupun masyarakat akan mengalami perkembangan yang terjadi
sepanjang waktu. Pada teori ini terdapat delapan tahapan perkembangan keluarga menurut
Duval yaitu The Married Couple, Childbearing, Preschool-aged Children, School-aged
Children, Teenage Children, Launching The Children, Aging Family Members dan Middle-
aged Parents.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keluarga diartikan sebagai sekelompok orang yang diikat oleh pernikahan, darah dan
adopsi yang tinggal dalam satu rumah, saling berinteraksi dan berkomunikasi satu dengan
yang lain dalam menjalankan peran sosialnya (Silitonga, Puspitawati, & Muflikhati, 2018).
Seperti yang kita tahu, secara umum keluarga biasanya terbagi menjadi tiga jenis yaitu
keluarga inti, keluarga konjugal dan keluarga luas. Keluarga inti biasanya terdiri dari ayah,
ibu dan anak. Keluarga konjugal merupakan keluarga yang terdiri dari keluarga inti dan
dilengkapi dengan keberadaan orang tua dari ayah maupun ibu (kakek dan nenek).
Sedangkan keluarga luas merupakan jenis keluarga yang memiliki jumlah yang banyak dan
lebih luas cakupannya, seperti bibi, paman, sepupu dan lain-lain.
Burgest dan Locke (1960) dalam (Puspitawati, 2013) mengemukakan 4 (empat) ciri
keluarga yaitu (a) Keluarga adalah susunan orang-orang yang disatukan oleh ikatan
perkawinan (pertalian antar suami dan istri), darah (hubungan antara orangtua dan anak) atau
adopsi; (b) Anggota-anggota keluarga ditandai dengan hidup bersama dibawah satu atap dan
merupakan susunan satu rumahtangga. Tempat kos dan rumah penginapan bisa saja menjadi
rumahtangga, tetapi tidak akan dapat menjadi keluarga, karena anggota-anggotanya tidak
dihubungkan oleh darah, perkawinan atau adopsi, (c) Keluarga merupakan kesatuan dari
orang-orang yang berinteraksi dan berkomunikasi yang menciptakan peranan-peranan sosial
bagi si suami dan istri, ayah dan ibu, anak laki-laki dan perempuan, saudara laki-laki dan
saudara perempuan; Peranan-peranan tersebut diperkuat oleh kekuatan tradisi dan sebagian
lagi emosional yang menghasilkan pengalaman; dan (d) Keluarga adalah pemelihara suatu
kebudayaan bersama yang diperoleh dari kebudayaan umum. Stephens mendefiniskan
keluarga sebagai suatu susunan sosial yang didasarkan pada kontrak perkawinan termasuk
dengan pengenalan hak-hak dan tugas orangtua; tempat tinggal suami, istri dan anak-anak;
dan kewajiban ekonomi yang bersifat reciprocal antara suami dan istri.
Dalam penerapannya di kehidupan, ada beberapa teori mengenai keluarga diantaranya:
yang pertama Teori Struktural Fungsional. Teori ini memiliki konsep bahwa keluarga
memiliki struktur, adanya pembagian peran, tugas dan tanggung jawab, hak dan kewajiban,
menjalankan fungsi keluarga, mempunyai aturan dan nilai atau norma yang harus diikuti,
dan mempunyai tujuan. Kedua Teori Sosial Konflik, teori ini lahir dari adanya dual
revolution yaitu demokrasi dan industrialisasi. Konsep teori ini menekankan adanya
kompetisi, ketidaksamaan struktural dan perubahan sosial. Ketiga Teori Gender, teori ini
merupakan teori yang menyatakan bahwa adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan
dalam peran, fungsi, hak dan tanggung jawab. Konsep teori ini menekankan bahwa adanya
perbedaan laki-laki dan perempuan akibat hasil konstruksi sosial budaya (nurture),
perbedaan laki laki dan perempuan sebagai kodrat dan harus diterima serta tidak dapat
dirubah (nature) dan perempuan dan laki-laki memiliki kesempatan yang sama di dalam
berbagai sektor (kesetaraan dan keadilan gender). Keempat Teori Feminisme, teori ini
merupakan teori turunan dari adanya teori gender. Teori ini menginginkan perempuan dan
laki-laki memiliki kesetaraan dalam berbagai bidang. Perempuan tidak megakui adanya
perbedaan biologis, seperti menyusui, melahirkan dan menstruasi.
Kelima adanya Teori Social Exchange, teori ini mendorong seseoang untuk melakukan
suatu kegiatan atau aktivitas yang berasal dari keinginannya sendiri. Konsep teori ini didasari
oleh paham utilitarianisme, yaitu dalam menentukan pilihannya seseorang memikirkan
dahulu imbalan (rewards) yang di peroleh dan biaya (cost) yang dikeluarkan dalam
melakukan suatu kegiatan tersebut. Keenam yaitu Teori Ekologi, teori ini merupakan
seseorang tumbuh dan berkembang dengan bergantung pada lingkungannya. Dalam teori ini,
terdapat ruang lingkup yaitu ruang lingkup mikrosistem, mesosistem, eksosistem,
makrosistem dan chronosistem. Dan yang terakhir ada Teori Development atau Teori
Perkembangan, dimana dalam teori ini setiap individu, kelompok maupun masyarakat akan
mengalami perkembangan yang terjadi sepanjang waktu.

1.2 Tujuan
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui penerapan teori-teori
keluarga yang ada dalam kehidupan melalui beberapa contoh kasus.

1.3 Manfaat
Dari hasil penulisan makalah ini, diharapkan dapat memberi manfaat, baik secara
teoritis maupun praktis.
1. Manfaat secara teoritis
Makalah ini diharapkan dapat digunakan untuk menjadi acuan atau referensi dan dapat
memperkuat teori yang berkaitan dengan teori kajian keluarga.
2. Manfaat secara praktis
a. Bagi Mahasiswa
Makalah ini dapat dijadikan sumber informasi, serta dapat menambah wawasan dan
pengetahuan mengenai teori-teori keluarga.
b. Bagi Masyarakat
Makalah ini dapat menambah pengetahuan bagi masyarakat mengenai teori-teori
keluarga serta dapat diterapkan pada kehidupan.
BAB II
ISI
2.1 Teori Struktural Fungsional
Struktural-fungsionalisme lahir sebagai reaksi terhadap teori evolusionari. Jika tujuan
dari kajian-kajian evolusionari adalah untuk membangun tingkat-tingkat perkembangan
budaya manusia, maka tujuan dari kajian-kajian struktural-fungsionalisme adalah untuk
membangun suatu sistem sosial, atau struktur sosial, melalui pengajian terhadap pola
hubungan yang berfungsi antara individu-individu, antara kelompok-kelompok, atau antara
institusi-institusi sosial di dalam suatu masyarakat, pada suatu kurun masa tertentu
(Marzali, 2018).
Konsep struktural-fungsionalis yaitu masyarakat sebagai bagian suatu sistem yang
berinteraksi untuk mempromosikan stabilitas atau transformasi melalui interaksi mereka.
Pendekatan konseptual ini menunjukkan bahwa, untuk memahami sistem sosial, kita harus
melihat bagian-bagian dari sistem yang mendukung kegiatan tertentu dan keterkaitan
mereka (Chilcott, 1998 dalam Potts, Vella, Dale, & Sipe, 2014).
Pendekatan struktural fungsional adalah pendekatan teori sosiologi yang diterapkan
dalam institusi keluarga. Keluarga sebagai sebuah institusi dalam masyarakat mempunyai
prinsip-prinsip serupa yang terdapat dalam kehidupan sosial masyarakat. Pendekatan ini
mempunyai warna yang jelas, yaitu mengakui adanya segala keragaman dalam kehidupan
sosial. Keragaman ini merupakan sumber utama dari adanya struktur masyarakat. Dan
akhirnya keragaman dalam fungsi sesuai dengan posisi seseorang dalam struktur sebuah
system (Megawangi dalam Lestari & Pratiwi, 2018).
Persyaratan struktural yang harus dipenuhi menurut Levy dalam (Lestari & Pratiwi,
2018) agar struktur keluarga sebagai sistem dapat berfungsi:
1. Diferensiasi peran. Dari serangkaian tugas dan aktivitas yang harus dilakukan dalam
keluarga, maka harus ada alokasi peran untuk setiap aktor dalam keluarga. Terminologi
diferensiasi peran bisa mengacu pada umur, gender, generasi, juga posisi status ekonomi
dan politik dari masing-masing aktor.
2. Alokasi solidaritas. Distribusi relasi antaranggota keluarga menurut cinta, kekuatan, dan
intensitas hubungan. Cinta atau kepuasan menggambarkan hubungan antaranggota.
Misalnya, keterikatan emosional antara seorang ibu dan anaknya. Kekuatan mengacu
pada keutamaan sebuah relasi relatif terhadap relasi lainnya. Hubungan antara bapak
dan anak lelaki mungkin lebih utama daripada hubungan antara suami dan istri pada
suatu budaya tertentu. Sedangkan intensitas adalah kedalaman relasi antaranggota
menurut kadar cinta, kepedulian, ataupun ketakutan.
3. Alokasi ekonomi. Distribusi barang-barang dan jasa untuk mendapatkan hasil yang
diinginkan. Diferensiasi tugas juga ada dalam hal ini terutama dalam hal produksi,
distribusi dan konsumsi dari barang dan jasa dalam keluarga.
4. Alokasi politik. Distribusi kekuasaan dalam keluarga dan siapa yang bertanggung jawab
atas setiap tindakan anggota keluarga. Agar keluarga dapat berfungsi maka distribusi
kekuasaan pada tingkat tertentu diperlukan.
5. Alokasi integrasi dan ekspresi. Distribusi teknik atau cara untuk sosialisasi, internalisasi,
dan pelestarian nilai-nilai dan perilaku yang memenuhi tuntutan norma yang beriaku
untuk setiap anggota keluarga.
Teori struktural fungsional ini menekankan pada keseimbangan sistem pada keluarga
dan masyarakat. Setiap anggota keluarga memiliki peran, tugas dan tanggungjawabnya
masing-masing. Seperti ayah yang berperan sebagai pencari nafkah, ibu yang berperan
sebagai ibu rumah tangga untuk mengurus anak, memasak dan merapihkan rumah serta
anak yang berperan untuk belajar dan membantu orang tua.
Dalam penelitian (Agiani, Nursetiawati, & Muhariyati, 2015) membahas mengenai
analisis manajemen waktu pada ibu bekerja. Ibu bekerja adalah ibu yang melakukan suatu
kegiatan di luar rumah dengan tujuan untuk mencari nafkah untuk keluarga. Selain itu salah
satu tujuan ibu bekerja adalah suatu bentuk aktualisasi diri guna menerapkan ilmu yang
telah dimiliki ibu dan menjalin hubungan sosial dengan orang lain dalam bidang pekerjaan
yang dipilihnya (Santrock, 2007 dalam Agiani, Nursetiawati, & Muhariyati, 2015). Dari
hasil penelitian yang dilakukan menyatakan bahwa ibu bekerja (guru) di Kecamatan
Cibinong dalam pelaksanaan pekerjaan domestik pada ibu bekerja dapat terselesaikan
dengan baik ketika anaknya sudah berusia dewasa. Pada ibu yang masih mempunyai anak
balita pekerjaannya terkadang terhambat dengan tangisan anak atau ketika anak sedang
sakit. Maka pekerjaan domestik ibu terpaksa ditangguhkan sementara dan ibu juga harus
pintar mencuri-curi waktu untuk istirahat dan menyelesaikan tugas rumahnya dengan baik.
Berdasarkan kasus diatas, terdapat penyimpangan atas teori struktural fungsional.
Dimana bahwa dalam teori struktural fungsional yang bekerja di sektor publik adalah ayah
dan ibu hanya bekerja pada sektor domestik. Peran ibu hanyalah untuk mengurus anak dan
membersihkan rumah. Apabila suatu struktur di dalam keluarga sudah bergeser maka
keluarga tersebut sudah mengalami perubahan atau pergeseran struktur. Dari pergeseran
struktur ini biasanya dapat menimbulkan berbagai masalah atau konflik yang terjadi di
dalam keluarga.

2.2 Teori Sosial Konflik


Teori Sosial Konflik adalah teori yang mentang teori struktural fungsional, dimana teori
ini menganggap bahwa konflik merupakan sesuatu hal yang biasa terjadi baik di dalam
keluarga maupun di masyarakat. Dapat dikatakan hal yang biasa karena konflik merupakan
suatu perubahan sosial. Selain perubahan sosial, ketidaksamaan struktural dan kompetisi
di dalam keluarga juga dapat menimbulkan konflik. Teori konflik muncul sebagai bentuk
reaksi atas tumbuh suburnya teori fungsionalisme struktural yang dianggap kurang
memperhatikan fenomena konflik sebagai salah satu gejala di masyarakat yang perlu
mendapatkan perhatian.
Konflik yang terjadi pada masyarakat disebabkan masalah perbedaan kepentingan yang
sering kali membuat ketakutan, keresahan, kehilangan, dan kehancuran. Salah satu efek
konflik adalah masyarakat tidak dapat beraktifitas sebagaimana keharusan untuk mencari
rezeki. Meskipun demikian, hanya karena sesuatu yang berbeda, misalnya sebuah
kelompok atau persoalan pribadi yang pada dasarnya tidak terlalu membuat terjadinya
konflik akan tetapi dengan mudahnya menciptakan suasana konflik terhadap kelompok
atau pribadi lain tanpa mempertimbangkan akibat yang ditimbulkan (Ahmadin, 2017).
Perubahan-perubahan yang serba cepat ditengah perbedaan kebudayaan,
mengakibatkan ketidak mampuan banyak individu untuk menyesuaikan diri,
mengakibatkan timbulnya disharmoni, konflik-konflik eksternal dan internal, juga
disorganisasi dalam masyarakat dan diri pribadi serta timbulnya kesenjangan sosial,
ekonomi, hukum yang tidak sedikit mempengaruhi aspek politik (Sukardi, 2016).
Terdapat kasus dalam konflik social, yaitu konflik dalam perkawinan. Konflik dalam
perkawinan bergantung pada kebahagiaan salah satu pasangan dengan hubungan mereka,
sensitivitas mereka satu sama lain, validasi mereka terhadap perasaan satu sama lain, serta
keterampilan komunikasi dan manajemen konflik mereka (Rosita, Tarma, & Hasanah,
2017). Berdasarkan hasil penelitian (Rosita et al., 2017) dapat disimpulkan bahwa terdapat
hubungan positif antara Coping dengan Konflik Perkawinan pada istri yang bekerja
maupun tidak bekerja di Kota Bogor. Nilai ini menunjukkan bahwa semakin tinggi Coping
maka semakin tinggi Konflik Perkawinan pada Istri yang bekerja maupun tidak bekerja di
Kota Bogor. Suatu konflik di dalam keluarga dapat muncul ketidakharmonisan hubungan
antara suami dan istri, gangguan pihak ketiga dan persoalan ekonomi. Istri yang ikut
bekerja juga disebabkan oleh kurangnya pendapatan suami, sehingga istri bekerja untuk
membantu untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Kasus sosial konflik lain dapat dilihat dari adanya kelengkapan dan keharmonisan pada
orang tua. Kehadiran kedua orang tua dapat membawa pengaruh baik dan buruk
tergangtung dengan pola asuh yang diberikan. Keluarga ayah tunggal merupakan bagian
kecil dari semua keluarga orang tua tunggal. Anak-anak dalam keluarga ayah tunggal,
menunjukkan lebih banyak perilaku dan masalah akademik daripada anak-anak di salah
satu ibu tunggal atau keluarga tiri (Penatua, 2000) dalam (Dronkers & Hampden-
Thompson, 2003). Anak yang hanya tinggal bersama ayah lebih banyak memiliki masalah
terutama pada perilaku dan bidang akademis karena sang ayah sibuk bekerja untuk
memenuhi kebutuhan sehingga sang anak tidak diperhatikan dalam hal akademis dan
pergaulan dengan teman-temannya.

2.3 Teori Ekologi


Teori Ekologi dikemukakan oleh Urie Bronfenbrenner (1917-2005) dalam
(Gamayanti, 2005) menggambarkan tentang proses interaksi beberapa sistem lingkungan
yang mempengaruhi perkembangan manusia, yaitu mikrosistem, mesosistem, exosistem,
makrosistem dan crhonosistem. Melalui teori ini, bisa dipahami proses dan konteks
perkembangan manusia dengan menekankan pada faktor lingkungan.
Masing-masing subsistem dalam teori Brefenbrenner tersebut dapat diuraikan
sebagaimana berikut:
a. Mikrosistem
Mikrosistem merupakan lingkungan yang paling dekat yaitu meliputi keluarga,
teman-teman sebaya, sekolah, lingkungan tempat tinggal, dan hal-hal lain yang sehari-
hari ditemui. Dalam mikrosistem inilah terjadi interaksi yang paling langsung dengan
agen-agen sosial tersebut. Keluarga terutama orangtua dan lingkungan masyarakat
merupakan agen sosialisasi terdekat dalam kehidupan seseorang, sehingga keluarga
mempunyai pengaruh besar pada pembentukan karakter dan kebiasaan seseorang
(Salsabila, 2018).
b. Mesosistem
Mesosistem mencakup interaksi di antara mikrosistem di mana masalah yang
terjadi dalam sebuah mikrosistem akan berpengaruh pada kondisi mikrosistem yang
lain (Bronfenbrenner dalam Salsabila, 2018). Misalnya hubungan antara pengalaman
keluarga dengan pengalaman sekolah, pengalaman sekolah dengan pengalaman
keagamaan, dan pengalaman keluarga dengan pengalaman teman sebaya, serta
hubungan keluarga dengan tetangga (Salsabila, 2018).
c. Ekosistem
Eksosistem adalah sistem sosial yang lebih besar di mana seseorang tidak terlibat
interaksi secara langsung (Salsabila, 2018). Sebagai contoh, ketika seorang ayah yang
sedang mengalami masalah di tempat kerjanya, kemudian ketika pulang ia
melampiaskannya kepada anaknya dengan melakukan tindakan kekerasan.
d. Makrosistem
Makrosistem adalah sistem lapisan terluar. Subsistem makrosistem terdiri dari
ideologi negara, pemerintah, tradisi, agama, hukum, adat istiadat, budaya, nilai
masyarakat secara umum, dan lain sebagainya, di mana individu berada. Prinsip-
prinsip yang terdapat dalam lapisan makrosistem tersebut akan berpengaruh pada
keseluruhan interaksi di semua lapisan. Misalnya, jika kebudayaan masyarakat
menggariskan bahwa orangtua bertanggungjawab untuk membesarkan anak-anaknya,
maka hal tersebut akan mempengaruhi struktur di mana orangtua akan menjalankan
fungsi psikoedukasinya. Budaya yang dimaksud dalam subsistem ini adalah pola
tingkah laku, kepercayaan, dan semua produk dari sekelompok manusia yang
diwariskan dari generasi ke generasi (Berk dalam Salsabila, 2018)
e. Kronosistem
Kronosistem mencakup pengaruh lingkungan dari waktu ke waktu beserta caranya
mempengaruhi perkembangan dan perilaku (Purnama dalam Salsabila, 2018)
Contohnya seperti perkembangan teknologi dengan produk-produk turunannya,
seperti internet dan gadget, membuat seseorang mahir, nyaman, dan terbiasa
menggunakannya untuk pendidikan maupun hiburan. Demikian halnya dengan
maraknya fenomena semakin berkembangnya teknologi. Dimana uang tunai di ganti
dengan pembayaran digital. Kronosistem meliputi keterpolaan peristiwa-peristiwa
sepanjang rangkaian kehidupan dan keadaan sosiohistoris (Salsabila, 2018).
Perkembangan anak meliputi beberapa domain penting seperti fisik, sosial, emosi,
kognitif, dan bahasa / komunikasi yang banyak berkaitan tidak hanya dari predisposisi
genetik, tetapi juga dari interaksi dengan lingkungan terdekat seperti pengaturan fisik di
rumah, sekolah, dan di masyarakat pada umumnya. Interaksi antara individu anak dan atau
lingkungannya sebagian besar dikenal baik interaksi aktif genetik lingkungan atau interaksi
pasif genetik lingkungan (Kail & Cavanaugh, 2013) dalam (Ismail, Badayai, & Rubini,
2017).
Berdasarkan uraian terori diatas, dapat kita ketahui bahwa teman sebaya merupakan
bagian dari subsistem mikrosistem. Teman sebaya dapat mempengaruhi secara langsung
karena merupakan agen sosial terdekat. Dewasa ini, seorang anak lebih banyak
menghabiskan waktunya dengan teman sebaya dibandingkan dengan keluarga ataupun
orang tua. Ceritapun lebih terbuka kepada teman sebaya dibandingkan kepada orangtuanya
sendiri ataupun keluarganya. Sehingga apa yang dilakukan atau disarankan oleh teman
langsung diikuti tanpa berpikir panjang.
Dari hasil penelitian (Ummah, Nursetiawati, & Putri, 2016) megatakan bahwa
semakin tinggi pergaulan teman sebaya maka semakin tinggi pula tingkat kenakalan
remaja. Demikian sebaliknya semakin rendah pergaulan teman sebaya maka semakin
rendah pula tingkat kenakalan remaja. Remaja pada lapas anak wanita memiliki pergaulan
yang luas dan memiliki jumlah teman yang banyak, berdampingan dengan hasil skor
tingkat kenakalan remaja yang juga tinggi. Hal tersebut menandakan bahwa pengaruh
pergaulan teman sebaya dengan tingkat kenakalan remaja di Lapas Anak Wanita
Tangerang saling berpengaruh positif tetapi tidak besar. Mereka memiliki kesadaran untuk
saling menghargai pendapat temannya di dalam kelompok, di dalam Lapas mereka
menemukan hal-hal baru dari teman yang memiliki nasib yang sama, sebagian dari mereka
prihatin dengan keadaan yang mereka alami di dalam Lapas, mereka mulai belajar dan
berubah untuk saling mendengarkan, menceritakan pengalaman masing-masing oleh
karena itu mereka menganggap pendapat teman dibutuhkan dalam sebuah kelompok.

2.4 Teori Pertukaran Sosial


Manusia sebagai makhluk individu dan sosial akan menampilkan tingkah laku tertentu,
akan terjadi peristiwa pengaruh mempengaruhi antara individu yang satu dengan individu
yang lain. Hasil dari peristiwa saling mempengaruhi tersebut maka timbulah perilaku sosial
tertentu yang akan mewarnai pola interaksi tingkah laku setiap individu. Jadi perilaku sosial
terdiri atas pertukaran paling sedikit antara dua orang berdasarkan perhitungan untung-rugi
(Mighfar, 2015).
Analogi dari hal tersebut yaitau pada suatu ketika anda merasa bahwa setiap teman anda
yang di satu kelas selalu berusaha memperoleh sesuatu dari anda. Pada saat tersebut anda
selalu memberikan apa yang teman anda butuhkan dari anda, akan tetapi hal sebaliknya
justru terjadi ketika anda membutuhkan sesuatu dari teman anda. Setiap individu menjalin
pertemanan tentunya mempunyai tujuan untuk saling memperhatikan satu sama lain.
Individu tersebut pasti diharapkan untuk berbuat sesuatu bagi sesamanya, saling membantu
jikalau dibutuhkan, dan saling memberikan dukungan dikala sedih. Akan tetapi
mempertahankan hubungan persahabatan itu juga membutuhkan biaya (cost) tertentu,
seperti hilang waktu dan energi serta kegiatan-kegiatan lainnya yang tidak jadi dilaksanakan.
Meskipun biaya-biaya ini tidak dilihat sebagai sesuatu hal yang mahal atau membebani
ketika dipandang dari sudut penghargaan (reward) yang didapatkan dari persahabatan
tersebut. Namun, biaya tersebut harus dipertimbangkan apabila kita menganalisis secara
obyektif hubungan-hubungan transaksi yang ada dalam persahabatan. Apabila biaya yang
dikeluarkan terlihat tidak sesuai dengan imbalannya, yang terjadi justru perasaan tidak enak
dipihak yang merasa bahwa imbalan yang diterima itu terlalu rendah dibandingkan dengan
biaya atau pengorbanan yang sudah diberikan (Mighfar, 2015).
Dalam menganalisa pertukaran sosial antar individu dalam kelompok kecil, Homans
dalam (Syafar, 2016) menjelaskan ada 3 (tiga) konsep untuk menjelaskan kelompok kecil
dalam teori pertukaran, yaitu : kegiatan, interaksi, dan perasaan. Kegiatan adalah perilaku
aktual yang digambarkan pada tingkat yang sangat kongkret. Interaksi adalah kegiatan apa
saja yang merangsang atau dirangsang oleh kegiatan orang lain. Sedangkan perasaan adalah
sebagai suatu keadaan yang tidak hanya bersifat subyektif, tetapi juga sebagai tanda yang
bersifat eksternal atau yang bersifat perilaku yang menunjukkan suatu keadaan internal.
Dalam menjadi seorang istri dalam keluarga Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang
meninggalkan keluarga akan menimbulkan berbagai masalah di dalam keluarganya.
Puspitawati (2013) dalam (Silitonga et al., 2018) menjelaskan benefits dan cost istri bekerja
sebagai TKW, adapun benefits istri bekerja sebagai TKW adalah dapat berkontristrisi
terhadap kesejahteraan keluarga; merasa diri berguna, mengaktualkan potensi, dan
kompetensi diri; dapat berinteraksi dengan orang lain di tempat kerja dan menjadi bagian
dari jaringan kerja; menambah wawasan dan pembelajaran hidup, peluang naik haji;
memberi contoh pada anak. Sementara cost istri bekerja sebagai TKW adalah harus
meninggalkan rumah selama dua tahun; meninggalkan anak untuk dirawat/ dijaga orang lain;
ada anak terganggu tumbuh dan kembangnnya; ada resiko suami tidak bahagia/ kawin lagi;
rumah kurang terurus; resiko teraniaya; merugi; mati. Dapat disimpulkan seorang istri yang
ingin menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) telah memikirkan reward dan cost yang akan
dikeluarkan saat ia menjalani pekerjaannya. Kepergian istri ini terjadi karena adanya rasa
ketidak puasan istri dengan ekonomi yang didapat dari suaminya sehingga istri memilih
bekerja untuk meningkatkan perekonomian keluarganya sehingga akan berpengaruh
terhadap kepuasan pernikahan yang didapat dari suami ataupun istri.

2.5 Teori Feminis


Teori feminis merupakan suatu turunan dari teori gender. Teori feminis ini membahas
bahwa perempuan ingin mengadakan defungsional keluarga. Artinya ingin mengubah suatu
fungsi yang ada di dalam keluarga. Teori ini menginginkan bahwa perempuan memiliki
kesetaraan dengan laki-laki dalam berbagai sector. Tidak mengakui pula adanya perbedaan
biologi antara laki-laki dan perempuan meskipun perempuan sebenarnya memiliki
perbedaan biologi yaitu 3M (mestruasi, melahirkan dan menyusui).
Feminisme berawal dari suatu gerakan sosial yang membela dan memperjuangkan
kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Perkembangan gerakan sosial feminis
selanjutnya berkembang menjadi suatu gerakan radikal, dari awalnya yang menuntut
kesetaraan gender secara fundamental dalam pekerjaan dan aktivitas domestik, berubah
secara revolusioner melalui berbagai bentuk liberalisasi, marxisme, dan posmodernisme.
Secara umum teori feminisme berusaha memahami dan menjelaskan posisi perempuan di
dalam situasi dan kondisi tertentu dalam masyarakat (Pertiwi, 2015).
Feminisme merupakan perjuangan untuk mengakhiri penindasan terhadap perempuan
(Jenainati dan Groves, 2007: 3) dalam (Suwastini, 2013). Namun perlu diingat bahwa
feminisme bukanlah gerakan universal dengan konsep homogen yang dapat mewakili
seluruh perempuan. Seperti yang ditekankan Tong (2009) dalam (Suwastini, 2013),
feminisme merupakan sebuah kata yang memayungi berbagai pendekatan, pandangan, dan
kerangka berpikir yang digunakan untuk menjelaskan penindasan terhadap perempuan dan
jalan keluar yang digunakan untuk meruntuhkan penindasan tersebut. Membawa perspektif
feminis ke dalam studi keluarga juga memerlukan pemeriksaan bagaimana ideologi dan
praktik feminis menghadapi ideologi dan praktik disiplin. Dalam studi keluarga, tujuan
utama adalah untuk membawa studi feminisme dan keluarga ke dalam percakapan dengan
satu sama lain (Allen, 2016).
Berkembangnya paham feminis dalam pola migrasi di dunia mulai abad ke-19
memiliki dampak pada pergeseran nilai-nilai budaya dan pola asuh ibu terhadap anak yang
ditinggalkan dalam keluarga (Prasetyo, 2017). Ibu yang melakukan migrasi juga tidak dapat
melakukan pengasuhan secara maksimal bagi anak-anak mereka di kampung halaman
karena waktu kerja yang padat. Hal tersebut pula yang menimbulkan ancaman kerusakan
kualitas pengasuhan yang akhirnya akan berdampak terhadap tekanan emosiona dan
gangguan kelekatan antara orang tua dan anak (Zhou dkk., 2014) dalam (Prasetyo, 2017).
Keputusan ibu untuk menjalani migrasi seringkali menjadi masalah tersendiri yang
sulit dipisahkan dengan status ekonomi keluarga menengah ke bawah. Sebagian besar ibu
yang menjadi buruh migran biasanya didukung oleh keadaan tidak adanya suami, kondisi
suami yang sakit kronis sehingga tidak dapat bekerja serta faktor lain yang berasal dari dalam
dirinya. Munculnya fenomena feminisme dalam pola migrasi memang banyak dimanfaatkan
oleh beberapa wanita yang telah berkeluarga seperti halnya di negara Filipina (Prasetyo,
2017). Dapat disimpulkan bahwa fenomena feminis mendorong seorang ibu yang
seharusnya bekerja pada sektor domestik menjadi ibu yang bekerja pada sektor publik karena
faktor ekonomi keluarga yang tidak mendukung.

2.6 Teori Gender


Kata “gender‟ dapat diartikan sebagai perbedaan peran, fungsi, status dan
tanggungjawab pada laki-laki dan perempuan sebagai hasil dari bentukan (konstruksi) sosial
budaya yang tertanam lewat proses sosialisasi dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dengan demikian gender adalah hasil kesepakatan antar manusia yang tidak bersifat kodrat
(Puspitawati, 2013). Gender adalah perbedaan peran, fungsi, persifatan, kedudukan,
tanggungjawab dan hak perilaku baik perempuan maupun lakilaki yang dibentuk, dibuat,
dan disosialisasikan oleh norma, adat kebiasaan, dan kepercayaan masyarakat setempat
(Analysis & Families, 2008).
Konsep gender terbagi menjadi tiga, yaitu nurture, nature serta kesetaraan dan
keadilan gender. Nurture yang dimaksud disini adalah perbedaan laki-laki dan perempuan
dilihat sebagai hasil konstruksi budaya. Nature adalah perbedaan laki-laki dan perempuan
yang bersifat kodrati, tidak dapat dirubah. Sedangkan kesetaraan dan keadilan gender adalah
laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan
mempunyai hak di berbagai bidang.
Konsep gender dirumuskan oleh Fakih (1999: 8) dalam (Rahmawaty, 2015) sebagai
suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara
sosial dan kultural. Sifat gender yang melekat pada perempuan, misalnya perempuan itu
dikenal lemah lembut, cantik, emosional atau keibuan atau sering disebut dengan istilah
”feminim”, sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan dan perkasa atau sering
disebut dengan istilah ”maskulin”. Ciri dari sifat-sifat tersebut merupakan sifat yang dapat
dipertukarkan antara kaum laki-laki dan perempuan. Dengan kata lain, ada laki-laki yang
emosional, lemah-lembut, keibuan, sementara juga ada perempuan yang kuat, rasional dan
perkasa.
Perubahan gender dan keluarga sedang berlangsung, tetapi untuk siapa dan untuk
hubungan apa perubahan tertentu merupakan krisis atau peluang dan harus diperdebatkan.
Sirkuit waktu dan penghasilan yang dilacak sehubungan dengan perawatan hanya satu
contoh apa yang mungkin melibatkan politik semacam itu. Banyak masalah multi-
institusional lintas sektoral lainnya dengan implikasi substansial bagi keluarga (seperti
sebagai seksualitas remaja, hak reproduksi, atau kekerasan antarpribadi) dapat digunakan
untuk menerangi kekuatan analisis gender institusional dan interseksional untuk peneliti
keluarga, dan juga menyediakan arena tempat studi keluarga memiliki banyak kontribusi
untuk memahami gender dan ketidaksetaraan materi dan diskursif lainnya. Tetapi penting
untuk mengenali itu, dalam konteks perjuangan, tidak setiap perubahan adalah kemajuan dan
hampir semua perubahan memiliki efek diferensial mereka yang lebih atau kurang kuat dan
istimewa. Inilah sebabnya mengapa mempelajari perjuangan dan perjuangan mereka hasil
sangat penting namun sulit (Ferree, 2010).
Secara umum seorang suami berperan sebagai kepala keluarga yang bertugas mencari
nafkah untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan. Suami juga berperan
sebagai mitra istri yaitu menjadi teman setia yang menyenangkan dan selalu ada di saat suka
maupun duka dengan selalu menyediakan waktu untuk berbincang dan menghabiskan waktu
senggang dengan sang istri. Sebagai suami juga harus berperan untuk mengayomi atau
membimbing istri agar selalu tetap berada di jalan yang benar. Selain menjadi rekan yang
baik untuk istri, suami juga dapat membantu meringankan tugas istri, seperti mengajak anak-
anak bermain atau berekreasi serta memberikan waktu-waktu luang yang berkualitas untuk
anak di sela-sela kesibukan suami dalam mencari nafkah. Selain peran suami, istri juga
mempunyai peran yang sangat penting, yaitu sebagai pendamping suami di setiap saat dan
ibu yang siap menjaga dan membimbing anak-anaknya. Sama seperti suami, istri juga
berperan sebagai mitra atau rekan yang baik dan menyenangkan bagi pasangan hidupnya.
Istri dapat diajak untuk berdiskusi mengenai berbagai macam permasalahan yang terjadi dan
juga berbincang tentang hal-hal yang ringan. Istri sebagai pendorong dan penyemangat demi
kemajuan suami di bidang pekerjaannya (Dewi, 2011) dalam (Kusumaning & Lestari, 2015).
Pada masa kini utamanya setelah munculnya gerakan seperti “kesetaraan gender,
emansipasi wanita, dan feminisme”. Wanita telah memberikan sumbangan yang penting
untuk kesejahteraan keluarga, sebagian dengan pekerjaan di dalam rumah dan yang lainnya
mencari nafkah di luar rumah. Adanya gerakan kesetaraan gender dan emansipasi itu, kaum
wanita sekarang bisa bekerja di luar rumah dalam bidang apa saja, bahkan sampai ada yang
menjadi wanita karir yang menduduki jabatan penting di birokrasi maupun di perusahaan
(Amirullah, 2012 dalam Aisyah, Putri, & Mulyati, 2012). Dapat disimpulkan bahwa sudah
banyak wanita yang ingin mengutarakan hak kesetaraan gender dalam bidang pekerjaan.
Namun, ada beberapa alasan seorang wanita ingin menjadi seorang pekerja diantaranya
merupakan tuntutan dari faktor ekonomi yang kurang mendukung untuk kebutuhan sehari-
hari dan adapula yang hanya ingin bekerja karena gengsi akan status ibu rumah tangga atau
ingin memiliki kedudukan yang sama seperti laki-laki.

2.7 Teori Perkembangan


Teori perkembangan menjelaskan bahwa setiap individu, kelompok maupun
masyarakat akan mengalami perkembangan yang terjadi sepanjang waktu. Duval dalam
(Defrain et al., 2012) menguraikan delapan tahapan perkembangan keluarga sebagai berikut:
1. The Married Couple
Dimana pada tahap pertama ini merupakan proses seorang laki-laki dan perempuan
membentuk sebuah keluarga melalui proses perkawinan. Pada tahap ini suami dan istri
melakukan proses penyesuaian atau beradaptasi terhadap perilaku dan kebiasaan sendiri
dan pasangannya, seperti pola makan, tidur, bangun pagi, kebiasaan berpakaian,
bepergian dan lain-lain. Tugas perkembangan yang terpenuhi pada tahapan awal
membangun keluarga akan mengarahkan pada tugas-tugas perkembangan selanjutnya
dan mengarahkan pada kebahagiaan serta kesuksesan keluarga (Rahmaita, Krisnatuti,
& Yuliati, 2016).
2. Childbearing
Tahap ini merupakan tahap dimana suatu keluarga yang baru menikah diberikan
buah hati. Semulanya hanya ada seorang suami dan istri, sekarang ada kehadiran buah
hati dan berubah menjadi seorang ayah dan ibu.
3. Preschool-aged Children
Tahap dimana seorang ayah dan ibu beradaptasi dengan anak pertama yang sudah
memasuki usia prasekolah. Pada tahap ini orang tua disibukkan dengan mulai
mempersiapkan anaknya untuk memasuki bangku sekolah atau pendidikan anak usia
dini.
4. School-aged Children
Dimana anak memasuki usia sekolah, sehingga orang tua harus beradptasi dengan
kebutuhan anak usia sekolah. Orang tua harus mempersiapkan keperluan sekolah dan
meluangkan waktunya untuk membantu anak mengerjakan PR.
5. Teenage Children
Tahap ini dimana anak memasuki usia remaja. Pada tahap ini biasanya orang tua
sudah bisa memberikan tanggungjawab dan kepercayaan kepada anaknya yang sudah
remaja. Orang tua seharusnya dapat terbuka mengenai hal apapun terutama dalam
edukasi seks agar anak tidak terjerumus pada hal yang negatif.
6. Launching The Children
Tahap dimana orang tua melepaskan anaknya untuk melanjutkan sekolah atau
pekerjaan di luar kota. Bisa pula melepaskan anak karena sudah menikah dan tidak
tinggal bersama.
7. Middle-aged Parents
Tahap ini merupakan tahap proses dimana orang tua mulai ditinggalkan anaknya
yang menikah dan hidup bersama keluarga barunya. Tahap ini merupakan tahap yang
sulit karena adanya perubahan suasana dan orang tua sudah mulai memasuki usia lanjut.
8. Aging Family Members
Tahap ini merupakan tahapan terakhir dalam sebuah perjalanan keluarga. Dimana salah
satu dari suami atau istri sudah mulai pension dari kerjaan sampai salah satunya
meninggal dunia. Sebagian dari pasangan usia lanjut hidup berdua, karena tidak
memiliki anak atau cucu atau keluarga lain yang tingga bersama.
Tugas-tugas perkembangan keluarga terjadi apabila keluarga sebagai sebuah unit
berupaya memenuhi tuntutan-tuntutan perkembangan mereka secara individual. Tugas-tugas
perkembangan keluarga juga diciptakan oleh tekanan-tekanan komunitas terhadap keluarga
dan anggotanya untuk menyesuaikan diri dengan harapan-harapan kelompok acuan keluarga
dan masyarakat yang lebih luas (Rahmaita et al., 2016).
Peran seorang ibu dalam pengasuhan anak, juga dalam pemberian stimulasi pada anak
sangat besar. Interaksi antara anak dan orang tua terutama peranan ibu, sangat bermanfaat
bagi proses perkembangan anak secara keseluruhan karena ibu dapat sesegera mungkin
mengenali kelainan proses perkembangan anaknya dan sedini mungkin untuk memberikan
stimulasi pada anak secara menyeluruh (Mitayani, T, & Nursetiawati, 2015).
Berdasarkan hasil survey penelitian (Mitayani et al., 2015) ibu yang memiliki
pekerjaan selain pekerjaan domestik dalam mengurus dan merawat anak sangat berbeda
dengan ibu dengan karakteristik responden yang mengurus dan merawat anaknya dalam
pengasuhan ibu sepenuhnya. Ibu bekerja tidak memiliki cukup waktu untuk mengurus,
merawat bahkan memperhatikan perkembangan anak- ankanya. Ibu yang mengurus dan
merawat anak memiliki banyak kesempatan yang lebih baik, disetiap waktunya dengan anak.
Hasil data menunjukkan rata- rata pengetahuan ibu secara keseluruhan tentang stimulasi
terhadap anak termasuk dalam kategori cukup baik.
Dapat disimpulkan bahwa ibu yang bekerja pada bidang domestic saja memiliki
kesempatan yang sangat besar untuk menikmati tahap perkembangan anaknya. Apabila
terjadi gangguan dalam perkembangan anaknya, ibu sigap untuk merawat anak dan tidak
menyalahkan orang lain atas gangguan yang terjadi kepada anaknya.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Keluarga adalah sekumpulan orang yang tinggal dalam satu atap dan memiliki ikatan
perkawinan, ikatan dan dan adopsi. Keluarga merupakan unit terkecil di dalam masyarakat.
Keluarga inti biasanya terdiri dari ayah, ibu dan anak. Di dalam keluarga masing-masing
anggotanya memiliki tugas dan fungsi yang dijalankan masing-masing, dan setiap anggota
tersebut harus melaksanakan tugas dan fungsinya tersebut untuk mencapai tujuan bersama.
Berdasarkan teori-teori keluarga yang telah dijelaskan, dapat disimpulkan bahwa terdapat
tujuh teori diantaranya yaitu teori struktural fungsional, teori sosial konflik, teori ekologi,
teori pertukaran soaial, teori feminis, teori gender dan teori perkembangan. Teori Struktural
Fungsional merupakan teori yang menekankan pada keseimbangan sistem pada keluarga dan
masyarakat. Teori Sosial Konflik adalah teori yang mentang teori struktural fungsional,
dimana teori ini menganggap bahwa konflik merupakan sesuatu hal yang biasa terjadi di
dalam keluarga. Teori Ekologi merupakan proses interaksi beberapa sistem lingkungan yang
mempengaruhi perkembangan manusia. Teori Pertukaran Sosial merupakan teori yang
berpaku kepada imbalan yang di peroleh dan biaya yang dikeluarkan dalam melakukan suatu
kegiatan tersebut. Teori Feminis merupakan teori yang membahas bahwa perempuan ingin
mengadakan defungsional keluarga. Teori Gender adalah perbedaan laki-laki dan
perempuan dalam peran, fungsi, persifatan, kedudukan, tanggungjawab dan hak perilaku
baik perempuan maupun laki-laki yang dibentuk, dibuat, dan disosialisasikan oleh norma,
adat istiadat, dan kepercayaan masyarakat setempat. Teori Perkembangan merupakan teori
yang menjelaskan bahwa setiap individu, kelompok maupun masyarakat akan mengalami
perkembangan yang terjadi sepanjang waktu.
Daftar Pustaka
Agiani, P., Nursetiawati, S., & Muhariyati, M. (2015). ANALISIS MANAJEMEN WAKTU
PADA IBU BEKERJA. Jurnal Kesejahteraan Keluarga Dan Pendidikan, 4(1).
Ahmadin. (2017). KONFLIK SOSIAL ANTAR DESA DALAM PERSPEKTIF SEJARAH DI
BIMA. Jurnal Ilmiah Mandala Education, 3(1), 1–14.
Aisyah, S. N., Putri, V. U. G., & Mulyati. (2012). Pengaruh Manajemen Waktu Ibu Bekerja
Terhadap Kecerdasan Emosional Anak. JKKP: Jurnal Kesejahteraan Keluarga Dan
Pendidikan, 3(1). https://doi.org/http://doi.org/10.21009/JKKP
Allen, K. R. (2016). Feminist Theory in Family Studies: History, Reflection, and Critique.
Journal of Family Theory and Review, 8(2), 207–224. https://doi.org/10.1111/jftr.12133
Analysis, G. R., & Families, F. (2008). Analisis pembagian peran gender pada keluarga petani.
1–10.
Defrain, J. D., Specialist, E., Development, C., Brand, G. L., Educator, E., Swanson, D. M., …
Educator, E. (2012). Families Across the Lifespan: The Normal, To-Be-Expected,
Satisfactions and Challenges Couples and Families Experience. Jur. Ilm. Kel. & Kons, 2–5.
Dronkers, J., & Hampden-Thompson, Gi. (2003). Family Policies and Children ’ s School
Achievement in Single- Versus Two-Parent Families. Journal of Marriage and Family 65,
681–699.
Ferree, M. M. (2010). Filling the Glass : Gender Perspectives on Families. Journal OfMarriage
and Family, 72(June), 420–439. https://doi.org/10.1111/j.1741-3737.2010.00711.x
Gamayanti, W. (2005). Usaha bunuh diri berdasarkan teori ekologi bronfenbrenner. 204–230.
Ismail, K. H., Badayai, A. R. A., & Rubini, K. (2017). Children Development and Well-Being: a
Review of Environmental Stressors in Children Physical Environment. Special Issue, 3(3),
1823–1884.
Kusumaning, D. P., & Lestari, P. S. (2015). Pembagian peran dalam rumah tangga pada
pasangan suami istri Jawa. Jurnal Penelitian Humaniora, 16(1), 72–85.
Lestari, P., & Pratiwi, P. H. (2018). PERUBAHAN DALAM STRUKTUR KELUARGA. Jurnal
Dimensia |, 7(1).
Marzali, A. (2018). Struktural-Fungsionalisme. Antropologi Indonesia, 0(52).
https://doi.org/10.7454/ai.v0i52.3314
Mighfar, S. (2015). SOCIAL EXCHANGE THEORY. JURNAL LISAN AL-HAL, 9(2), 261–287.
Mitayani, Y., T, N. R., & Nursetiawati, S. (2015). HUBUNGAN STIMULASI IBU DENGAN
PERKEMBANGAN MOTORIK PADA ANAK USIA 2-3 TAHUN (TODDLER). Jurnal
Kesejahteraan Keluarga Dan Pendidikan, 4(1), 59–67.
Pertiwi, C. (2015). PEREMPUAN YANG DILACURKAN Studi Kualitatif Penindasan Gender
pada Perempuan yang Dilacurkan di Wilayah Stren Kali Jagir Surabaya. JURNAL SOSIAL
DAN POLITIK.
Potts, R., Vella, K., Dale, A., & Sipe, N. (2014). Exploring the usefulness of structural–
functional approaches to analyse governance of planning systems. Planning Theory, 15(2),
162–189. https://doi.org/10.1177/1473095214553519
Prasetyo, D. T. (2017). PENGASUHAN ORANGTUA TERHADAP KONDISI PSIKOLOGIS
ANAK YANG DITINGGALKAN DALAM KELUARGA MIGRAN : SEBUAH STUDI
LITERATUR Abstrak. JKKP : Jurnal Kesejahteraan Keluarga Dan Pendidikan, 4(2), 58–
61. https://doi.org/http://doi.org/10.21009/JKKP
Puspitawati, H. (2013). KONSEP, TEORI DAN ANALISIS GENDER. 4, 1–13.
Rahmaita, Krisnatuti, D., & Yuliati, L. N. (2016). The Effects of Family Developmental Tasks
on Marital Satisfaction on First-Time. Jur. Ilm. Kel. & Kons, 9(1), 1–10.
Rahmawaty, A. (2015). Harmoni dalam Keluarga Perempuan karir : upaya mewujudkan
Kesetaraan dan Keadilan gender dalam Keluarga. PALASTREN, 8(1), 1–34.
Rosita, R., Tarma, T., & Hasanah, U. (2017). Pengaruh Coping Istri Terhadap Konflik
Perkawinan Di Kota Bogor. JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga Dan Pendidikan), 3(1),
20. https://doi.org/10.21009/jkkp.031.05
Salsabila, U. H. (2018). TEORI EKOLOGI BRONFENBRENNER SEBAGAI SEBUAH
PENDEKATAN DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA
ISLAM. Jurnal Komunikasi Dan Pendidikan Islam, 7(1), 139–158.
Silitonga, M., Puspitawati, H., & Muflikhati, I. (2018). Modal Sosial, Coping Ekonomi, Gejala
Stres Suami Dan Kesejahteraan Subjektif Keluarga Pada Keluarga Tkw. JKKP (Jurnal
Kesejahteraan Keluarga Dan Pendidikan), 5(1), 20–30.
https://doi.org/10.21009/jkkp.051.03
Sukardi. (2016). PENANGANAN KONFLIK SOSIAL DENGAN PENDEKATAN KEADILAN
RESTORATIF Sukardi. Jurnal Hukum & Pembangunan 46, 46(1), 70–89.
Suwastini, N. K. A. (2013). PERKEMBANGAN FEMINISME BARAT DARI ABAD
KEDELAPAN BELAS HINGGA POSTFEMINISME : SEBUAH TINJAUAN TEORETIS.
Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora, 2(1), 198–208.
Syafar, M. (2016). Memahami Penerapan dan Manfaat Teori Sistem, Life-Span, Interaksi
Simbolis, Pertukaran Sosial pada Masalah Sosial. Lembaran Masyarakat, II(1), 1–28.
Retrieved from http://jurnal.uinbanten.ac.id/index.php/lembaran/article/view/479/415
Ummah, Z. N., Nursetiawati, S., & Putri, V. U. G. (2016). PENGARUH PERAN TEMAN
SEBAYA TERHADAP TINGKAT KENAKALAN REMAJA DI LAPAS ANAK
WANITA KELAS II B TANGERANG. JKKP: Jurnal Kesejahteraan Keluarga Dan
Pendidikan, 28–32. https://doi.org/http://doi.org/10.21009/JKKP

View publication stats