Anda di halaman 1dari 13

Lampiran :

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Rumah sakit (RS) diakui merupakan institusi yang sangat kompleks dan
berisiko tinggi, terlebih dalam kondisi lingkungan regional dan global yang sangat
dinamis perubahannya. Keberadaan tenaga medis, tenaga keperawatan dan tenaga
kesehatan professional lainnya dalam rumah sakit merupakan suatu keniscayaan
karena kualitas pelayanan rumah sakit sangat ditentukan oleh kinerja para tenaga
medis, tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan professional lainnya di rumah
sakit tersebut. Yang lebih penting lagi kinerja tenaga medis, tenaga keperawatan
dan tenaga kesehatan profesional lainnya akan sangat mempengaruhi keselamatan
pasien di rumah sakit. Untuk itu rumah sakit perlu menyelenggarakan tata kelola
klinis (clinical governance) yang baik untuk melindungi pasien. Hal ini sejalan dengan
amanat peraturan perundang-undangan yang terkait dengan kesehatan dan
perumahsakitan. Undang-undang tentang Rumah Sakit yang baru ditetapkan
menuntut rumah sakit untuk melindungi keselamatan pasien, antara lain dengan
melaksanakan clinical governance tersebut bagi para klinisnya. Setiap tenaga medis,
tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan profesional lainnya di rumah sakit harus
bekerja dalam koridor kewenangan klinis (clinical privilege) yang ditetapkan oleh
direktur rumah sakit.
Salah satu faktor krusial dalam keselamatan pasien adalah kewenangan
tenaga medis, tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan profesional lainnya untuk
melakukan tindakan medis yang saat ini tidak dikendalikan dengan adekuat oleh
komite masing-masing profesi di rumah sakit. Dalam hal seorang kurang kompeten
dalam melakukan tindakan medis tertentu karena sebab apapun, belum ada
mekanisme yang mencegah tenaga medis, tenaga keperawatan dan tenaga
kesehatan profesional lainnya untuk melakukan tindakan medis tersebut di rumah
sakit. Pada gilirannya kondisi ini dapat menimbulkan kecelakaan pada pasien.
Demi menjaga keselamatan pasien dari tindakan medis yang dilakukan oleh
tenaga medis, tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan profesional lainnya yang
kurang kompeten, rumah sakit perlu mengambil langkah-langkah pengamanan

1
dengan cara pemberian kewenangan klinis melalui mekanisme kredensial yang
dilaksanakan oleh komite masing-masing profesi. Beberapa pihak yang terkait
dengan upaya ini adalah organisasi masing – masing profesi di Indonesia dan
komite masing – masing profesi di rumah sakit. Organisasi masing – masing profesi
di Indonesia dapat menjadi acuan untuk menentukan lingkup dan jenis-jenis
kewenangan klinis bagi setiap tenaga medis, tenaga keperawatan dan tenaga
kesehatan profesional lainnya. Komite masing – masing profesi akan menentukan
jenis-jenis kewenangan klinis bagi setiap profesi yang bekerja di rumah sakit
berdasarkan kompetensinya melalui mekanisme kredensial.
Untuk menjaga kualitas mutu staf medik, RSUD AMURANG membentuk
Komite - komite yang terdiri dari beberapa sub komite, salah satunya yaitu Sub
Komite Kredensial yang tugasnya yaitu mendapatkan dan memastikan tenaga medis,
tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan professional lainnya yang profesional dan
akuntabel bagi pelayanan di RSUD AMURANG. Dengan terkendalinya tindakan medis
di RSUD AMURANG maka pasien lebih terlindungi dari tindakan medis yang dilakukan
oleh setiap profesi yang tidak kompeten.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Panduan ini diterbitkan dengan tujuan utama untuk melindungi keselamatan
pasien melalui mekanisme penerbitan surat penugasan klinis dan rincian
kewenangan klinis tenaga medis, tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan
profesional lainnya di RSUD AMURANG.
2. Tujuan Khusus
 Membantu divisi SDM dalam proses mendapatkan dan memastikan tenaga
medis, tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan profesional lainnya yang
kompeten dan profesional di RSUD AMURANG.
 Memberikan panduan mekanisme kredensial dan rekredensial bagi para
tenaga medis, tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan profesional lainnya
di RSUD AMURANG.
 Merekomendasikan kewenangan klinis bagi setiap tenaga medis, tenaga
keperawatan dan tenaga kesehatan profesional lainnya di RSUD AMURANG.
 Merekomendasikan untuk diterbitkan kewenangan klinis bagi setiap tenaga
medis, tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan profesional lainnya untuk
melakukan tindakan medis di RSUD AMURANG.

2
C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup kredensial dan rekredensial staf medis, yaitu :
1. Tenaga medis, tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan profesional lainnya
yang akan bergabung di RSUD AMURANG.
2. Tenaga medis, tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan profesional lainnya
yang sudah bekerja di RSUD AMURANG yang masa kewenangan klinisnya
berakhir sesuai kebijakan yaitu setiap 3 (tiga) tahun sekali.

D. Landasan Hukum
Landasan hukum proses penerbitan surat penugasan klinis dan rincian kewenangan
klinis tenaga medis, tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan profesional lainnya
di RSUD AMURANG adalah :
1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor
755/MENKES/PER/IV/2011 tentang Penyelenggaraan Komite Medik di Rumah
Sakit.
2. Pedoman Kredensial dan Kewenangan Klinis (Clinical Privilege) di Rumah Sakit
dari Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia tahun 2009.
3. Undang-undang Rumah Sakit pasal 29 ayat (1) butir r. telah ditetapkan bahwa
setiap rumah sakit wajib menyusun dan melaksanakan hospital bylaws, yang
dalam penjelasan undang-undang tersebut ditetapkan bahwa setiap rumah sakit
wajib melaksanakan tata kelola klinis yang baik (good clinical governance). Hal
ini harus dirumuskan oleh setiap rumah sakit dalam peraturan staf medis Rumah
Sakit (medical staff bylaws) antara lain diatur kewenangan klinis (clinical
privilege).
4. Kebijakan Pelayanan Rumah sakit.
5. Medical Staff By Laws RSUD AMURANG

3
BAB II
DEFINISI

A. Proses Kredensial (Credentialing)


Proses kredensial (credentialing) adalah proses evaluasi oleh suatu rumah
sakit terhadap seseorang untuk menentukan apakah yang bersangkutan layak diberi
kewenangan klinis (clinical privilege) menjalankan tindakan medis tertentu dalam
lingkungan rumah sakit tersebut untuk suatu periode tertentu.
B. Proses Re-Kredensial (Re-Credentialing)
Proses rekredensial (re-credentialing) adalah proses re-evaluasi oleh suatu
rumah sakit terhadap setiap profesi yang telah bekerja dan memiliki kewenangan
klinis di rumah sakit tersebut untuk menentukan apakah yang bersangkutan masih
layak diberi kewenangan klinis tersebut untuk suatu periode tertentu.
C. Kewenangan Klinis (Clinical Privilege)
Kewenangan klinis (clinical privelege) adalah kewenangan klinis untuk
melakukan tindakan medis tertentu dalam lingkungan sebuah rumah sakit tertentu
berdasarkan penugasan yang diberikan direktur rumah sakit.
D. Surat Penugasan (Clinical Appointment)
Surat penugasan (clinical appoinment) adalah surat yang diterbitkan oleh
direktur rumah sakit kepada seorang tenaga medis, tenaga keperawatan dan tenaga
kesehatan profesional lainnya untuk melakukan tindakan medis di rumah sakit
tersebut berdasarkan daftar kewenangan klinis yang ditetapkan baginya.

4
BAB III
TATA LAKSANA

A. Proses Kredensial
Direktur RSUD AMURANG menetapkan berbagai kebijakan dan prosedur bagi
untuk memperoleh kewenangan klinis dengan berpedoman pada peraturan internal
tenaga medis, tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan profesional lainnya. Selain
itu, direktur rumah sakit bertanggung jawab atas tersedianya berbagai sumber daya
yang dibutuhkan agar kegiatan ini dapat terselenggara. Untuk melaksanakan
kredensial dibutuhkan beberapa instrumen, antara lain daftar rincian kewenangan
klinis untuk setiap tenaga medis, tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan
professional lainnya. Setiap rumah sakit mengembangkan instrumen tersebut sesuai
dengan kebutuhannya.
Secara garis besar proses kredensial di RSUD AMURANG, yaitu sebagai
berikut:
1. Tenaga medis, tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan profesional lainnya
yang telah dinyatakan baik hasil psikotest, MCU dan interview oleh KTU diajukan
kepada direktur untuk dilakukan kredensial.
2. Direktur membuat surat kepada Komite masing – masing profesi dan diteruskan
ke Sub Komite Kredensial perihal permohonan untuk mengkredensial tenaga
medis, tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan profesional lainnya.
3. Berkas permohonan tenaga medis, tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan
profesional lainnya yang telah lengkap disampaikan oleh direktur rumah sakit
kepada komite masing – masing profesi melalui sekretariat komite.
4. Sekretariat komite masing – masing profesi melakukan pengecekan berkas
verifikasi berkas tenaga medis, tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan
professional lainnya yang terdiri dari :
a. Ijasah pendidikan masing – masing profesi.
b. Surat Tanda Registrasi (STR) masing – masing profesi.
5. Sebelum kredensial dimulai, tenaga medis, tenaga keperawatan dan tenaga
kesehatan professional lainnya mengajukan permohonan kewenangan klinis
kepada direktur dengan mengisi form daftar kewenangan klinis yang telah
disediakan RSUD AMURANG.
6. Pada saat kredensial, sub komite kredensial membentuk panel atau panitia ad-
hoc yang sesuai dengan kewenangan klinis yang diminta.

5
7. Permohonan kewenangan klinis yang diajukan oleh tenaga medis, tenaga
keperawatan dan tenaga kesehatan profesional lainnya tersebut dikaji oleh sub
komite kredensial tersebut yang meliputi cakupan derajat kompetensi dan
praktik.
8. Sub komite kredensial mengajukan rekomendasi kewenangan klinis tenaga
medis, tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan professional lainnya kepada
komite masing – masing profesi.
9. Komite masing – masing profesi merekomendasikan kewenangan klinis tenaga
medis, tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan professional lainnya kepada
direktur.
10. Direktur menerbitkan surat penugasan klinis (clinical appointment) kepada
tenaga medis, tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan professional lainnya
tersebut jika tenaga medis, tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan
professional lainnya tersebut sudah bergabung dengan RSUD AMURANG.
Berkas Kredensial dan Rekredensial tenaga medis, tenaga keperawatan dan
tenaga kesehatan professional lainnya akan diserahkan kepada staf
SDM/kepegawaian untuk dimasukan ke dalam file karyawan.

B. Proses Rekredensial
Rekredensial adalah proses re-evaluasi terhadap tenaga medis, tenaga
keperawatan dan tenaga kesehatan profesional lainnya yang telah memiliki
kewenangan klinis (clinical privilege) dan surat penugasan klinis (clinical
appointment) untuk menentukan kelayakan kembali pemberian kewenangan klinis
tersebut.
Walaupun seorang tenaga medis, tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan
professional lainnya telah mendapatkan surat penugasan (clinical appointment) dari
direktur namun surat penugasan tersebut mempunyai masa berlaku. Masa berlaku
surat penugasan dari Direktur RSUD AMURANG yaitu selama 3 tahun, hal tesebut
sesuai dengan kebijakan bidang pelayanan medis. Selain itu, surat penugasan dapat
berakhir setiap saat bila tenaga medis, tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan
professional lainnya tersebut dinyatakan tidak kompeten untuk melakukan tindakan
medis tertentu.
Pada akhir masa berlakunya surat penugasan tersebut, rumah sakit harus
melakukan rekredensial terhadap tenaga medis, tenaga keperawatan dan tenaga
kesehatan profesional lainnya. Proses rekredensial ini lebih sederhana dibandingkan

6
dengan proses kredensial awal sebagaimana diuraikan diatas karena rumah sakit
telah memiliki informasi setiap tenaga medis, tenaga keperawatan dan tenaga
kesehatan professional lainnya yang melakukan tindakan medis dirumah sakit
tersebut.
Proses Rekredensial mempertimbangkan
a. Perawatan pasien-praktis menyediakan perawatan pasien dengan
belas kasih, tepat, dan efektif untuk promosi kesehatan, pencegahan
penyakit, pengobatan penyakit, dan perawatan pasien terminal.
b. Pengetahuan medis/klinis akan bidang biomedis, klinis dan ilmu sosial
yang ada dan berkembang serta aplikasi pengetahuan tersebut pada
perawatan pasien dan menyalurkan ilmu kepada orang lain.
c. Pembelajaran dan perbaikan berbasis praktik dengan menggunakan
bukti dan metode ilmiah untuk menyelidiki, mengevaluasi dan
memperbaiki praktik-praktik perawatan pasien.
d. Keterampilan interpersonal dan komunikasi yang memungkinkan
mereka untuk membangun dan mempertahankan hubungan
profesional dengan pasien, dan anggota-anggota tim perawatan
kesehatan lainnya.
e. Profesionalisme tercermin dari komitmen untuk pengembangan
profesional berkelanjutan, praktik etis, pemahaman dan kepekaan
terhadap keragaman, sikap bertanggung jawab terhadap pasien,
profesi mereka, dan masyarakat.
f. Praktik berbasis sistem melalui pemahaman konteks dan sistem
dimana pelayanan kesehatan disediakan.

Proses rekredensial didokumentasikan dalam formulir penilaian kinerja


tenaga medis, tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan profesional lainnya (On
Going Professional Review).
Berdasarkan hasil kesepakatan dari Komite masing – masing profesi dan Sub
Komite Kredensial, secara garis besar proses rekredensial di RSUD AMURANG yaitu
sebagai berikut :
1. Direktur rumah sakit mengajukan permohonan kepada Komite masing –
masing profesi dan dilanjutkan kepada Sub Komite Kredensial untuk
melakukan rekredensial kepada tenaga medis, tenaga keperawatan dan
tenaga kesehatan professional lainnya.

7
2. Sub Komite Kredensial dan sekretariat komite masing – masing profesi
mengumpulkan berkas para kandidat rekredensial yaitu :
a. STR yang masih berlaku
b. Surat sehat atau hasil Medical Check Up
c. Surat rekomendasi dari Sub Komite Etik
d. Kandidat rekredensial mengajukan permohonan kewenangan klinis
kembali kepada direktur dengan mengisi formulir daftar
kewenangan klinis yang telah disediakan RSUD AMURANG
3. Berkas di evaluasi oleh Sub Komite Kredensial (tim rekredensial).
4. Tim rekredensial mengajukan rekomendasi penambahan atau
pengurangan kewenangan klinis tenaga medis, tenaga keperawatan dan
tenaga kesehatan professional lainnya tersebut kepada Ketua Komite
masing – masing profesi.
5. Ketua Komite masing – masing profesi meneruskan dan
merekomendasikan kewenangan klinis tersebut kepada Direktur RSUD
AMURANG untuk dijadikan penugasan klinis.
6. Direktur RSUD AMURANG menetapkan dan menerbitkan kembali surat
penugasan klinis (clinical appointment) kepada para tenaga medis,
tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan profesional lainnya tersebut.

C. MEKANISME KREDENSIAL DAN PEMBERIAN KEWENAGAN KLINIS BAGI


TENAGA MEDIS, TENAGA KEPERAWATAN DAN TENAGA KESEHATAN
PROFESIONAL LAINNYA DI RSUD AMURANG
Proses utama kredensial ditujukan untuk mengendalikan kewenagan
melakukan tindakan medis yang terinci bagi setiap tenaga medis, tenaga
keperawatan dan tenaga kesehatan professional lainnya yang bertumpu pada tiga
tahap. Pertama, tenaga medis, tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan
profesional lainnya melakukan permohonan untuk memperoleh kewenangan klinis
dengan metode self assessment. Kedua, tim kredensial mengkaji dan memberikan
rekomendasi tindakan medis yang diajukan oleh pemohon. Ketiga, direktur
menerbitkan surat penugasan berdasarkan rekomendasi tim akreditasi yang berlaku
untuk periode tertentu. Secara periodik, tenaga medis, tenaga keperawatan dan
tenaga kesehatan profesional lainnya akan melalui proses rekredensial saat masa
berlaku surat penugasannya berakhir, di mana tiga proses inti tersebut akan
berulang.

8
Tahap pertama: permohonan untuk memperoleh kewenangan klinis
Setiap tenaga medis, tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan profesional
lainnya mengajukan permohonan kepada direktur untuk melakukan tindakan medis.
Tenaga medis, tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan profesional lainnya
tersebut mengisi beberapa formulir yang disediakan rumah sakit, antara lain daftar
tindakan medis yang ingin dilakukannya sesuai dengan bidang keahliannya. tenaga
medis, tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan professional lainnya tersebut
memilih tindakan medis yang tertera dalam formulir daftar tindakan medis tersebut
dengan cara mencontreng, dan menyerahkan copy semua dokumen yang
dipersyaratkan kepada rumah sakit. Syarat – syarat tersebut meliputi juga kesehatan
fisik dan mental untuk melakukan tindakan medis tertentu. Setelah formulir lengkap,
rumah sakit menyerahkannya kepada komite masing – masing profesi untuk ditindak
lanjuti.
Tahap kedua: kajian tim kredensial
Komite masing – masing profesi menugaskan subkomite kredensial untuk
memproses permohonan tersebut. Subkomite kredensial menyiapkan tim kredensial
yang berjumlah sekitar 4 hingga 6 orang sesuai dengan bidang keahlian yang akan
dinilai. Tim kredensial tersebut tidak harus anggota subkomite kredensial, bahkan
dapat berasal dari luar rumah sakit bila diperlukan. Para tim kredensial yang
bertugas tersebut dapat terdiri dari beberapa bidang spesialisasi sesuai dengan
kewenangan klinis yang diminta.
Tim kredensial mengkaji setiap tindakan medis yang diajukan oleh pemohon.
Pengkajian setiap tindakan medis yang diajukan oleh pemohon tersebut dilakukan
secara obyektif.
Selain menilai kompetensi, tim kredensial juga menilai kemampuan pemohon
berdasarkan kesehatan fisik dan mental untuk setiap tindakan medis yang diajukan.
Rumah sakit mempersiapkan sarana dan prasarana dan panel dokter untuk
melakukan uji kesehatan fisik dan mental tersebut.
Pada akhir proses kredensial, tim kredensial merekomendasikan sekelompok
tindakan medis tertentu yang boleh dilakukan oleh pemohon di rumah sakit tersebut.
Selanjutnya komite masing – masing profesi mengkaji kembali rekomendasi tersebut
dan mengadakan beberapa modifikasi bila diperlukan dan selanjutnya diserahkan
kepada direktur rumah sakit.

9
Tahap ketiga: penerbitan surat penugasan
Direktur menerbitkan surat penugasan kepada tenaga medis, tenaga
keperawatan dan tenaga kesehatan profesional lainnya pemohon berdasarkan
rekomendasi tersebut. Direktur rumah sakit dapat saja meminta komite masing –
masing profesi untuk mengkaji ulang rekomendasi tersebut bersama pihak
manajemen rumah sakit bila dianggap perlu. Surat penugasan tersebut memuat
daftar sejumlah kewenangan klinis untuk melakukan tindakan medis bagi tenaga
medis, tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan professional lainnya pemohon.
Suatu tindakan medis tertentu di rumah sakit hanya boleh dilakukan oleh tenaga
medis, tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan professional lainnya yang telah
memiliki surat kewenangan klinis berdasarkan surat penugasan.
Daftar kewenangan klinis seorang tenaga medis, tenaga keperawatan dan
tenaga kesehatan professional lainnya dapat dimodifikasi setiap saat. Seorang
tenaga medis, tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan professional lainnya dapat
saja mengajukan tambahan kewenangan klinis yang tidak dimiliki sebelumnya
dengan mengajukan permohonan kepada direktur rumah sakit. Selanjutnya komite
masing – masing profesi akan melakukan proses kredensial khusus untuk tindakan
tersebut, dan akan memberikan rekomendasinya kepada direktur rumah sakit.
Namun sebaliknya, kewenangan klinis tertentu dapat saja dicabut, baik untuk
sementara atau seterusnya karena alasan tertentu seperti.

D. BERAKHIRNYA KEWENANGAN KLINIS


Kewenangan klinis akan berakhir bila surat penugasan habis masa berlakunya
atau dicabut oleh direktur rumah sakit. Surat penugasan untuk setiap tenaga medis,
tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan professional lainnya memiliki masa
berlaku untuk periode tertentu yaitu tiga tahun. Pada akhir masa berlakunya surat
penugasan tersebut rumah sakit harus melakukan rekredensial terhadap tenaga
medis, tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan professional lainnya yang
bersangkutan.
Surat penugasan dapat berakhir setiap saat bila tenaga medis, tenaga
keperawatan dan tenaga kesehatan professional lainnya tersebut dinyatakan tidak
kompeten untuk melakukan tindakan medis tertentu. Walaupun seorang tenaga
medis, tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan professional lainnya pada awalnya
telah memperoleh kewenangan klinis untuk melakukan tindakan medis tertentu,
namun kewenangan itu dapat dicabut oleh rumah sakit berdasarkan pertimbangan

10
komite masing – profesi. Pertimbangan pencabutan kewenangan klinis tertentu
tersebut didasarkan pada kinerja profesi di lapangan, misalnya tenaga medis, tenaga
keperawatan dan tenaga kesehatan professional lainnya yang bersangkutan
terganggu kesehatannya, baik fisik maupun mental. Selain itu, pencabutan
kewenangan klinis juga dapat dilakukan bila terjadi kecelakaan medis yang diduga
karena inkompetensi atau karena tindakan disiplin dari komite masing – masing
profesi.
Namun demikian, kewenangan klinis yang dicabut tersebut dapat diberikan
kembali bila tenaga medis, tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan professional
lainnya tersebut dianggap telah pulih kompetensinya.

11
BAB IV
PENUTUP

Rumah sakit memiliki proses efektif untuk mengumpulkan, memverifikasi dan


mengevaluasi kredensial (lisensi, pendidikan, pelatihan, kompetensi dan pengalaman)
tenaga medis, tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan professional lainnya yang
diizinkan untuk memberikan perawatan pasien tanpa pengawasan. Untuk itu rumah sakit
perlu menyelenggarakan tata kelola klinis yang baik untuk melindungi pasien. Demi menjaga
keselamatan pasien dari tindakan medis yang dilakukan oleh tenaga medis, tenaga
keperawatan dan tenaga kesehatan professional lainnya yang kurang kompeten, rumah
sakit perlu mengambil langkah-langkah pengamanan dengan cara pemberian kewenangan
klinis melalui mekanisme kredensial yang dilaksanakan oleh komite masing – masing profesi.
Untuk menjaga kualitas mutu pelayanan yang diberikan oleh tenaga medis, tenaga
keperawatan dan tenaga kesehatan profesional lainnya, maka RSUD AMURANG melakukan
penerbitan surat penugasan klinis dan rincian kewenangan klinis untuk para tenaga medis,
tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan profesional lainnya.
Kredensial dilakukan untuk tenaga medis, tenaga keperawatan dan tenaga
kesehatan professional lainnya. Tujuannya membantu Direktur RSUD AMURANG untuk
menentukan kewenangan klinis hingga diterbitkan surat penugasan klinis yang sesuai
dengan kompetensinya. Selain itu dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun atau sesuai dengan
masa diberlakukannya surat penugasan klinis sebelumnya, tenaga medis, tenaga
keperawatan dan tenaga kesehatan professional lainnya tersebut di evaluasi kembali melalui
proses rekredensial.
Sehingga diharapkan dapat tercapai dan terjaganya mutu pelayanan medis yang baik untuk
diberikan kepada pasien.
Ditetapkan di Amurang
Pada Tanggal 17 Desember 2018
Direktur,
RSUD Amurang

dr. Erwin Schouten


NIP. 19790227 201001 1 007

12
13