Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH FARMASI RUMAH SAKIT

“PENGEMASAN KEMBALI BETADINE DAN ALKOHOL”

DISUSUN OLEH :
MURNIATI HA N014191027
ERICHA APRIYANTI N014191028
NUR IRMA N014191030
KELOMPOK V (KELAS B)

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Kesehatan merupakan salah satu unsur kesejahteraan umum yang harus dapat

di wujudkan melalui pembangunan yang berkesinambungan. Pembangunan

kesehatan merupakan salah satu upaya pembangunan nasional diarahkan guna

tercapainya kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang

agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal (DepKes RI, 1992).

Dalam peraturan pemerintah nomor 25 tahun 1980, yang dimaksud dengan

apotek adalah suatu tempat tertentu dimana dilakukan pekerjaan kefarmasian dan

penyaluran obat kepada masyarakat. Tugas dan fungsi apotek adalah sebagai

tempat pengabdian profesi seorang apoteker yang telah mengucapkan sumpah

jabatan, sarana farmasi yang melaksanakan peracikan, pengubahan bentuk,

pencampuran dan penyerahan obat atau bahan obat, dan sarana penyalur

perbekalan farmasi yang harus menyebarkan obat yang diperlukan masyarakat

secara meluas dan merata (Anonim, 1980).

Rumah sakit adalah salah satu dari sarana kesehatan tempat menyelenggarakan

upaya kesehatan. Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan

meningkatkan kesehatan, bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang

optimal bagi masyarakat. Upaya kesehatan diselenggarakan dengan pendekatan

pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif),


penyembuhan penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif), yang

dilaksanakan secaramenyeluruh, terpadu dan berkesinambungan

Rumah sakit mempunyai peranan yang penting untuk meningkatkan derajat

kesehatan masyarakat. Di Indonesia rumah sakit merupakan rujukan pelayanan

kesehatan untuk puskesmas terutama upaya penyembuhan dan pemulihan. Mutu

pelayanan di rumah sakit sangat dipengaruhui oleh kualitas dan jumlah tenaga

kesehatan yang dimiliki rumah sakit tersebut.

Pelayanan kefarmasian sebagai salah satu unsur dari pelayanan utama di rumah

sakit, merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari sistem pelayanan di

rumah sakit yang berorientasi kepada pelayanan pasien, penyediaan obat yang

bermutu, termasuk pelayanan farmasi klinik yang terjangkau bagi semua lapisan

masyarakat. Praktek pelayanan kefarmasian merupakan kegiatan terpadu, dengan

tujuan untuk mengidentifikasi, mencegah dan menyelesaikan masalah yang

berkaitan dengan obat dan kesehatan.

Apoteker harus mengelola apotek secara tertib, teratur dan berorientasi bisnis.

Tertib artinya disiplin dalam mentaati peraturan perundangan dalam pelayanan

obat, membuat laporan narkotika, tidak membeli maupun menjual obat-obat yang

tidak terdaftar, memberikan informasi obat kepada pasien dan sebagainya. Teratur

artinya pemasukan dan pengeluaran uang dan obat dicatat dengan baik untuk

evaluasi dan pembuatan laporan keuangan. Berorientasi bisnis artinya tidak lepas

dari usaha dagang, yaitu harus mendapatkan keuntungan supaya usaha apotek bisa

terus berkembang.
Pelayanan farmasi rumah sakit merupakan salah satu kegiatan di rumah sakit

yang menunjang pelayanan kesehatan yang bernutu. Hal tersebut di perjelaskan

dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1333/Menkes/SK/XII/1999 tentang

Standar Pelayanan Rumah Sakit, yang menyebutkan bahwa pelayanan farmasi

rumah sakit adalah bagian yang tidak terpisahkan dari system pelayanan

kesehatan rumah sakit yang berorientasi kepada pelayanan pasien, penyedian obat

yang bermutu, termasuk pelayanan farmasi klinik, yang tejangkau bagi semua

lapisan masyarakat.

Menurut DepKes (2004), produksi merupakan kegiatan membuat, merubah

bentuk, dan pengemasan kembali sediaan farmasi steril atau non steril untuk

memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di rumah sakit.

Produksi sendiri dilakukan oleh Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS), bila

produk obat atau sediaan farmasi tersebut tidak diperdagangkan secara komersial

atau jika diproduksi sendiri akan lebih menguntungkan. Produksi obat sediaan

farmasi yang dilakukan merupakan produksi lokal untuk keperluan rumah sakit itu

sendiri. Dalam proses produksi tersebut dilakukan berbagai tahap mencakup

desain dan pengembangan produk, pengadaan, perencanaan dan pengembangan

proses, produksi, pengujian akhir, pengemasan, penyimpanan, sampai dengan

penghantaran produk tersebut pada penderita atau profesional kesehatan. Oleh

karena itu IFRS perlu menerapkan standar sistem mutu ISO 9001 dan dilengkapi

dengan cara pembuatan obat yang baik (CPOB).


Pengemasan kembali produk farmasi pada suatu rumah sakit seperti betadine

dan alkohol biasanya dilakukan untuk memperkecil volume sediaan atau

dilakukan pengenceran alkohol.

1.2 Rumusan masalah

Bagaimana Standar Operasional Prosedur (SOP) penemasan kembali atau

Repacking Produk Farmasi di rumah sakit seperti betadine dan alkohol ?

1.3 Tujuan

Untuk mengetahui bagaimana Standar Operasional Prosedur (SOP) mengenai

Repacking betadine dan alkohol.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Repacking Betadine

Repacking Betadine merupakan salah satu cara pengemasan kembali

betadine atau salah satu contoh kegiatan produksi sediaan nonsteril di rumah sakit

untuk menjalankan peran Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS). Tujuan dari

repacking yaitu Menghemat biaya penggunaan obat.

2.1.1 Pengertian Betadine

Betadine adalah nama merek dagang produk antiseptik yang dijual bebas,

dengan bahan aktif Povidon-iodin. Bahan aktif Betadine adalah Povidon-iodin,

yang merupakan zat antimikroba dengan spektrum paling luas yang mampu

membunuh bakteri, jamur, protozoa dan virus. Povidon-iodin secara efektif

mampu mengendalikan penyebaran infeksi topikal bagi penggunanya. Studi In-

Vitro menunjukkan bahwa Povidon-iodin sebagai bahan aktif utama Betadine

dapat mengatasi 99.99% kuman penyebab infeksi dalam 15 detik seperti virus

MERS-CoV, SARS-CoV, EBOLA, dan Influenza; dan tidak menimbulkan

resistensi yang bermakna secara klinis[8] yang artinya dapat sering digunakan

tanpa perlu khawatir kehilangan efektivitasnya dalam membunuh bakteri, jamur,

protozoa ataupun virus (Mayer,1993).

2.1.2. Kegunaan Betadin

Betadin (povidon-Iodin )adalah antiseptik yang memiliki spektrum

kegunaan luas untuk mengobati luka dan pencegahan infeksi. Povidon Iodin dapat

digunakan sebagai pertolongan pertama pada luka kecil, luka gores, luka bakar,
abrasi dan lecet. Povidon Iodin juga dipakai secara luas dalam profesi medik

sebagai obat pencuci tangan baik sebelum maupun sesudah operasi; untuk

pengobatan luka dan luka bakar; untuk pengobatan infeksi yang ditimbulkan dari

banyak sebab. Untuk itu sediaan iodin povidon di pasaran mengandung

konsentrasi zat aktif sebanyak 0,45 hingga 10% dalam wujud larutan seperti

semprot, scrub, salep/krim, stik, obat kumur, pembersih daerah kewanitaan hingga

pembersih kulit untuk mandi/cuci-tangan. Salah satu perusahaan medis yang

menggunakan dan mengembangkan iodin povidon sebagai zat yang terkandung di

dalam produknya adalah Mundipharma B.V. dari Belanda( Septi,2010).

2.1.3 Bentuk-Bentuk Sediaan Betadine

Di Indonesia Betadine diproduksi dan dipasarkan oleh PT Mahakam Beta

Farma di bawah lisensi dari Mundipharma sebagai pemilik merek global.

Terdapat berbagai bentuk sediaan betadine, misalnya betadin yang dicampur

dengan larutan alkohol, biasanya digunakan sebagai pembersih kulit sebelum

tindakan operasi, Sedangkan pada kondisi terdapat darah atau nanah dan jaringan

yang mati, betadine masih memiliki efek jika warnanya masih tampak. Sehingga

jika luka diberikan betadine tetapi masih muncul nanah, artinya pembersihan luka

menggunakan betadine harus diulang kembali. Berdasarkan data Indonesia Total

Market Audit (ITMA) 2015 Betadine tercatat sebagai antiseptik nomor satu di

Indonesia. Di Indonesia sendiri, Betadine memiliki empat kategori produk, yakni

perawatan luka, perawatan area kewanitaan, perawatan kesehatan rongga mulut

serta produk sabun antiseptik untuk memenuhi berbagai kebutuhan pelanggan

untuk mengatasi infeksi (Septi.,2010).


Berikut beberapa contoh bentuk sediaan betadine dan kegunaannya:

1. Produk Perawatan Luka

Untuk perawatan luka, Betadine menghadirkan produk berupa Betadine

Antiseptic Solution dengan kandungan Povidon-iodin 10%, Betadine

Antiseptic Ointment atau Salep Antiseptik dengan kandungan Povidon-iodin

10%, dan Betadine Stick dengan kandungan Povidon-iodin 10% yang hadir

dengan kemasan praktis dan mudah digunakan.

2. Produk Perawatan Kesehatan Rongga Mulut

Betadine Obat Kumur adalah obat kumur antiseptik untuk menjaga kesehatan

rongga mulut dengan kandungan Povidon-iodin 1% untuk membantu

mengatasi sakit tenggorokan, sariawan, gusi bengkak, sakit gigi dan bau

napas tak sedap. Betadine Obat Kumur dapat digunakan dengan 3 – 5 kali

sehari saat infeksi rongga mulut terjadi dengan cara gargle atau kumur

sampai dengan tenggorokan. Betadine Obat Kumur ini dapat digunakan

sebagai pencegahan sakit tenggorokan, influenza / batuk hingga infeksi

rongga pernapasan bagian atas seperti MERS-CoV dan SARS. Di beberapa

Negara lain telah hadir juga dalam kemasan spray (throat spray)

3. Produk Perawatan Area Kewanitaan

Betadine Feminine Hygiene adalah antiseptik khusus kewanitaan dengan

kandungan Povidon-iodin 10%, yang dapat digunakan untuk mengatasi

kuman penyebab keputihan, gatal dan iritasi ringan dimana biasanya risiko

infeksi meningkat saat menstruasi.


4. Produk Pembersih Antiseptik

Betadine Antiseptic Skin Cleanser adalah pembersih kulit dengan kandungan

Povidon-iodin 7,5% untuk mengatasi kuman penyebab penyakit termasuk Flu

Singapura / HMFD yang biasa menyerang anak usia 10 tahun ke

bawah. Betadine Antiseptic Skin Cleanser dapat digunakan saat mandi / cuci

tangan termasuk cuci tangan para dokter sebelum melakukan operasi.

Betadine tidak boleh digunakan jika pasien terbuksi alergi terhadap yodium, tanda

dan alergi diantaranya kulit tampak merah, bengkak atau terasa gatal. Penggunaan yang

sering, dan teru-menerus harus dihindari jika pada saat yang bersamaan penderita juga

mengkonsumsi obat lithium (biasanya mereka yang mengalami gangguan jiwa).

Antiseptik jenis ini memiliki keunggulan dengan antiseptic jenis lain. Karena variasi

kuman yang dapat diatasi lebih banyak (M. Eggers, 2015).

2.1.4 Uraian bahan betadine (Povidon-iodin)

Iodin povidon, atau dikenal juga dengan iodopovidon, adalah suatu

antiseptik yang dipergunakan sebagai disinfektan pada kulit sebelum dan sesudah

pembedahan. Iodin povidon merupakan bahan organik berbahan aktif polivinil

pirolidon yang merupakan kompleks iodine yang larut dalam air.

Mengandung tidak kurang dari 9,0% dan tidak lebih dari 12,0% iodium,

dihitung terhadap zatyang telah dikeringkan.

Rumus kimia : (C6H9NO)n X 1

Rumus struktur :

Titik lebur : 300°C


Pemerian : serbuk amorf, coklat kekuningan, sedikit berbau khas.

Kelarutan : larut dalam air dan dalam etanol (95%)P, praktis tidak

larut dalam kloroform P, dalam eter P, dalam aseton P, dan

dalam heksan P.

Penyimpanan : Simpan pada suhu di bawah 300C dalam wadah tertutup

rapat dan terlindung dari cahaya.

Kegunaan : Antiseptik lokal

(Dirjen POM 1979 dan 1995)

2.2 Repacking alkohol

Repacking alkohol merupakan salah satu cara pengemasan kembali

alkohol, baik itu dalam konsentrasi 70% atau konsentrasi lainnya atau salah satu

contoh kegiatan produksi sediaan nonsteril di rumah sakit untuk menjalankan

peran Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS). Tujuan dari repacking yaitu

Menghemat biaya penggunaan obat.

2.2.1 Pengertian Alkohol

Alkohol adalah senyawa yang memiliki gugus fungsional –OH yang

terikat pada rantai karbon alifatik. Dalam molekul alkohol, Gugus fungsi –

OH berikatan secara kovalen dengan atom karbon.Alkohol yang memiliki satu

gugus –OH disebut dengan monoalkohol, sedangkan yang memiliki lebih dari

satu gugus –OH disebut dengan polialkohol. Alkanol merupakan monoalkohol

turunan alkana. Rumus umum dari alkohol aalah CnH2n+1 OH atau ditulis R-OH,

satu atom H dari alkana diganti oleh gugus OH( Septi,2010).


Alkohol merupakan jenis antiseptik yang cukup poten. Bekerja dengan

cara menggumpalkan protein, struktur penting sel yang ada pada kuman sehingga

kuman mati. Kulit manusia biasanya tidak terpengaruh oleh alkohol, sehingga

kulit tidak mengalami penggumpalan protein. Keuntungan lain alkohol adalah

kemampuan dalam mematikan kuman dengan cara meracuni, bukan melarutkan,

sehingga relative aman untuk kulit( Septi,2010).

Sifat-Sifat Senyawa Alkohol

Alkohol merupakan zat yang memiliki titik didih relatif tinggi

dibandingkan dengan senyawa hidrokarbon yang jumlah atom karbonnya sama.

Hal ini disebabkan oleh adanya gaya antarmolekul dan adanya ikatan hidrogen

antarmolekul alkohol akibat gugus hidroksil yang polar. Senyawa alkohol

memiliki sifat-sifat fisika dan sifat-sifat kimia sebagai berikut:

1. Alkohol memiliki sifat yang mudah terbakar

2. Alkohol memiliki sifat yang mudah tercampur, terlarut dengan air,

kelarutan ini disebabkan oleh adanya kemiripan struktur antara alkohol

(R–OH) dan air (H–OH).

3. Alkohol dengan jumlah atom karbon sebanyak satu sampai empat berupa

gas atau cair. Alkohol dengan jumlah atom lima sampai sembilan berupa

cairan kental seperti minyak, sedangkan yang memiliki atom sepuluh atau

lebih berupa zat padat.

4. Alkohol bersifat heterepolar. Memiliki sifat polar dari gugus –OH dan

nonpolar dari gugus –R (alkil). Sifat polarnya tergantung dari panjang

rantai alkilnya. Semakin panjang rantai alkilnya, maka sifat kepolarannya


berkurang. Hal ini menyebabkan berkurangnya sifat kelarutannya. Alkohol

dengan suku rendah seperti metanol dan etanol lebih mudah larut dalam

pelarut-pelarut yang polar seperti air.

5. Titik didih alkohol lebih tinggi daripada titik didih alkana. Hal ini

disebabkan oleh gugus fungsi –OH yang sangat polar, sehingga gaya tarik-

menarik antarmolekul alkohol mejadi sangat kuat (Darouiche,2010).

2.2.2 Kegunaan Alkohol

Alkohol sering digunakan dalam produk cuci tangan, baik di rumah sakit

dan rumah. Dalam konteks ini, mereka sering dipasarkan sebagai botol gel

berbasis alkohol untuk digosok pada kulit. Staf rumah sakit didorong untuk sering

mencuci tangan mereka dengan persiapan antiseptik untuk meminimalkan risiko

infeksi berbahaya pada pasien yang rentan. Bentuk lain yang umum adalah tisu, di

mana bahan kimia diresapi menjadi potongan-potongan kain katun yang dapat

digunakan untuk menghapus permukaan atau mencuci tangan. Etanol dan

isopropanol sering digunakan untuk mensterilkan kulit sesaat sebelum operasi(

Septi,2010).

2.2.3 Jenis-Jenis Sediaan Alkohol

Jenis alkohol yang digunakan sebagai antiseptic adalah etanol (60-90%),

propanol (60-70%) dan isopropanol (70-80%) atau campuran dari ketiganya

dengan konsentrasi optimum 70%.Alkohol 70% merupakan cairan yang

digunakan sebagai antiseptik (membunuh atau menghambat pertumbuhan

mikroorganisme), untuk membersihkan luka dan pembersih alat-alat medis. Metil

alcohol (methanol) tidak boleh digunakan sebagai antiseptic karena dalam kadar
rendah pun dapat menyebabkan gangguan saraf dan masalh penglihatan. Methanol

banyak digunakan untuk keperluan industry, sedangakan alkohol yang paling

banyak diguankan adalah isopropyl alkohol( Septi,2010)..

Nama lain dari isoprofil alkohol adalah isopropanol, 2-propanol, dan

dimetil karbinol merupakan cairan yang mudah terbakar, tidak berwarna, mudah

menguap dan berbau alkohol. isoprofilalkohol dapat bercampur dengan air,

alkohol, kloroform, eter dan gliserol, memiliki rasa yang tidak enak dan bersifat

racun. Oleh karena itu isoprofil alkohol tidak diperbolehkan untuk penggunaan

oral dan hanya digunakan untuk pemakaian luarM. Eggers, 2015).

isoprofilalkohol juga memiliki efektifitas bakteriosida dan banyak

digunakan sebagai antiseptic. isoprofil alcohol dalam konsentrasi 70%

merupakan konsentrasi yang optimal sebagai antiseptic. Selain itu isoprofil

alcohol merupakan senyawa yang paling banyak digunakan sebagai natiseptik jika

dibandingkan dengan senyawa alcohol lainnya seperti etanol dan methanol karena

efek bakteriosida yang diberikan oleh isoprofil alcohol jauh lebih besar dan lebih

baik jika dibandingkan dengan etanol dan methanol M. Eggers, 2015).

2.2.4 Urain Bahan Alkohol

Nama resmi : AETHANOLUM

Nama lain : Etanol

Berat molekul : 46,07 g/mol

Rumus molekul : C2H6O

Rumus struktur :
Pemerian : Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap, mudah

bergerak, bau khas, rasa panas, dan terbakar dengan

memberikan warna biru yang tidak berasap.

Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air,kloroform P, dan eter P

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya,

ditempat sejuk, jauh dari api.

Kegunaan : antiseptik

(Dirjen POM , 1979dan 1995)


BAB III

PEMBAHASAN

Berdasarkan Pedoman Praktek Apoteker Indonesia Pengurus Pusat Ikatan


Apoteker Indonesia Tahun 2013, menyebutkan tahap pengelolaan meliputi
kegiatan
1) Pemilihan
2) Pengadaan
3) Peneriman
4) Pendistribusian
5) Penghapusan dan pemusnahan
6) Penarikan kembali sediaan Farmasi
7) Central Steril Supply Department
8) Produksi kala terbatas
9) Pengemasan kembali, dimana:
a. Kegiatan pengemasan kembali harus dapat menjamin bahwa kualitas,
stabilitas dan khasiat obat tidak mengalami perubahan.
b. Pengemasan kembali harus dilakukan dengan menggunakan bahan
yang tidak membahayakan kesehatan manusia dan tetap menjamin
mutu produk.
c. Pengemasan kembali harus memenuhi persyaratan CPOB Pedoman
Praktik Apoteker.
3.1 Standard Operating Procedure (SOP) PengemasanKembali Betadine®
Berikut Standard Operating Procedure (SOP) Pengemasan Kembali sediaan
Betadine® yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Standard Operating Procedure (SOP)


PengemasanKembaliBetadine®

Prosedur No.Pokok: - No. Revisi Halaman 1 dari 2


Tetap
Tgl Terbit. Makassar,
16 Oktober 2019

Direktur
Pengertian Pengemasan kembali adalah mengubah perbekalan farmasi dari
kemasan yang isinya lebih banyak kekemasan yang jumlahnya
lebih sedikit dengan mengganti kemasan dan melindungi
kemasan primer saat penyerahan obat maupun penyimpanan obat
dengan tidak mengabaikan stabilitas obat tersebut, sehingga
memudahkan distribusi obat kepada unit-unit lain di lingkungan
Rumah Sakit Umum maupun pasien.
Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah pengemasan kembali
untuk mengganti kemasan dan melindungi kemasan primer saat
penyerahan obat maupun penyimpanan obat dengan tidak
mengabaikan stabilitas obat tersebut, sehingga persediaan
perbekalan farmasi di rumah sakit dapat terpenuhi dan
memudahkan distribusi obat kepada unit-unit lain di lingkungan
Rumah Sakit.
Kebijakan Ditribusi dan penyerahan perbekalan farmasi kepada pasien
dilakukan dengan cara yang berdaya guna dan berhasil guna
dalam menunjang kesembuhan pasien, dengan mengutamakan
mutu dan kepuasan pasien, sesuai dengan Keputusan Direktur
no.217 tentang Pelayanan Instalasi Farmasi.
Prosedur 1. Bersihkan ruang kerja pengemasan kembali oleh petugas
IFRS.
2. Catat no batch dan tanggal kedaluwarsa dari Betadine®yang
akan dikemas kembali pada form yang ada.
3. Siapkan kemasan baru. Betadine® dalam kemasan asli utuh,
dibuka untuk dipindahkan dalam kemasan baru dengan
ukuran/volume lain yang dikehendaki.
4. Kemasan/wadah yang digunakan memenuhi syarat kemasan
seperti yang telah ditentukan dalam Farmakope Indonesia.
5. Siapkan alat-alat yang diperlukan dalam proses pengemasan
ulang.
6. Hitung volume atau jumlahBetadine® sesuai dengan
kebutuhan dan dikemas kembali dalam kemasan yang telah
disiapkan.
7. Letakkan Betadine® yang dikemas kembali pada tempat yang
telah disediakan.
8. Betadine® yang telah dipindahkan diberi label/etiket yang
berisi nama obat, volume/ukuran obat tersebut, dan nama
instalasi yang melakukan pengemasan.
9. Betadine® disimpan dalam keadaan seperti yang tertera pada
kemasan aslinya.
Referensi PMK No.58 Tahun 2014 Tentang Standar Pelayanan
Kefarmasian Di Rumah Sakit

Unit Terkait Gudang Farmasi


IFRS
3.2 Standard Operating Procedure (SOP) Pembuatan Alkohol 70%

Standard Operating Procedure (SOP)


Pembuatan Alkohol 70%

Prosedur No.Pokok: - No. Revisi Halaman 1 dari 1


Tetap
Tgl Terbit. Makassar,
16 Oktober
2019
Direktur
Pengertian Pembuatan alkohol 70% adalah prosedur pengenceran alkohol
induk (misalnya alkohol 96%) dengan sejumlah volume aquadest
steril sehingga menghasilkan kadar 70%.
Dapat digunakan rumus M1V1= M2V2
Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah dari kadar alkohol
yang ada pada distributor ke kadar yag dibutuhkan (alkohol
70%) dalam praktek ataupun pelayanan ke pasien.
Kebijakan Mengacu pada SK Direktur no.13/SK/RS/XXX/III/2009 tentang
Kebijakan Produksi atau Pengemaan Kembali.
Prosedur 1. Siapkan wadah bersih (misalnya jerigen; botol)
2. Ambil alkohol 96% (alkohol induk) sebanyak 3,65 liter.
3. Tambahkan aquadest steril hingga volume akhir yang
diinginkan 5 liter.
4. Petugas ditribusi farmasi mengemas kembali ke dalam
wadah/botol 100 mL.
5. Tutup rapat wadah.
6. Beri label/etiket dengan tulisan “ALKOHOL 70%”.
7. Letakkan Alkohol 70% yang telah diencerkan dan
dikemas kembali pada tempat yang telah disediakan.
Referensi -

Unit terkait Instalasi Farmasi


Logistik Farmasi
Distribusi Farmasi
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Salah satu contoh kegiatan produksi sediaan nonsteril di rumah sakit untuk

menjalankan peran Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) yaitu pengemasan

kembali (repacking). Tujuan dari repacking yaitu Menghemat biaya

penggunaan obat serta memperkecil volume sediaan seperti betadine dan

alkohol.

Dalam proses produksi tersebut dilakukan berbagai tahap mencakup

desain dan pengembangan produk, pengadaan, perencanaan dan

pengembangan proses, produksi, pengujian akhir, pengemasan, penyimpanan,

sampai dengan penghantaran produk tersebut pada penderita atau profesional

kesehatan. Oleh karena itu IFRS perlu menerapkan standar sistem mutu ISO

9001 dan dilengkapi dengan cara pembuatan obat yang baik (CPOB).

4.2 Saran

Perlu dilakukan pengembangan lebih lanjut mengenai Standar Operasional

Prosedur (SOP) Produksi farmasi di masing-masing rumah sakit.


DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim, 1979, Farmakope Indonesia, Edisi III, Departemen Kesehatan

Republik Indonesia, Jakarta.

2. Anonim, 1995, Farmakope Indonesia, Edisi IV, Departemen Kesehatan

Republik Indonesia, Jakarta

3. Boudouma M, Enjalbert L and Didier J. 1984..A simple method for the

evaluation of antiseptic and disinfectant virucidal activity. J Virological

Methods; 9: 271-276.

4. Darouiche,rabih O., dkk.2010. Chlorheksidin-alcohol versus povidone

iodine for surgical site antiseptis. The new England journal of medicine.

5. Mayer DA, et al.1993. Povidone-Iodine and wound healing: A Critical

Review. Wounds: A Compendium of Clinical Research and Practice;

5(1): 14-23..

6. M. Eggers, et al.2015. Can Oral Disinfection with Povidone Iodine

Prevent Viral Respiratoey Infections. 1st International Meeting on

Respiratory Pathogens (IMRP), Singapore.

7. Septi,N.2010. Mengenal antiseptic. Jakarta: Penerbit Gajah Mada.

Anda mungkin juga menyukai