Anda di halaman 1dari 7

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN

PRIAPISMUS
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kemajuan ilmu dan teknologi di segala bidang dalam kehidupan ini
membawa dampak sangat signifikan terhadap peningkatan kualitas hidup,W1
status
kesehatan, umur harapan hidup dan bertambahnya usia lanjut yang melebihi
perkiraan statistik. Kondisi tersebut akan merubah komposisi dari kasus – kasus
mengenai alat reproduksi khususnya pria, adapun kasus dari alat reproduksi pria
sering juga mengakibatkan terjadinya gangguan seksual teutama pada kaum pria
tersebut.
Pada pria, beberapa organ berfungsi sebagai bagian dari traktus urinakus
maupun sistem reproduksi, kelainan maupun gangguan pada organ –
organ
reproduksi pria dapat mengganggu fungsi salah satu atau kedua sistem. Akibatnya
gangguan dan penyakit sistem reproduktif biasanya ditangani oleh ahli urologi,
struktur dan reproduktif pria adalah testis, vas deferen (duktus deferen), vesika
seminalis, penis dan kelenjar asesori tertentu, seperti kelenjar prostat dan kelenjar
cowper (kelenjar bulbouretral). Kasus gangguan seksual yang derita oleh kaum
pria salah satunya adalah kasus Priapismus menyebabkan terjadinya ereksi yang
berkepanjangan tanpa di sertai hasrat seksual dan sering disertai rasa nyeri
(Sutapa
2009).
Priapismus adalah suatu gangguan berupa ereksi penis yang terjadi terus-
menerus dalam waktu lebih dari 6 jam. Ereksi yang berkepanjangan ini terjadi
tanpa adanya rangsangan seksual. Keadaan ini jelas merupakan gangguan, bukan
sesuatu yang layak dibanggakan. Berdasarkan penyebab dan proses terjadinya
priapismus terjadi karena tersumbatnya jalan keluar aliran darah dari
penis.
Akibatnya, aliran darah yang masuk ke dalam penis terus tertumpuk dan tidak
dapat keluar. Dan priapismus karena kebocoran pembuluh darah nadi di dalam
penis. Akibatnya, darah terus mengalir di dalam penis walaupun masih
mengalami aliran keluar.
Kedua jenis priapismus tersebut mempunyai perbedaan. Priapismus karena
tersumbatnya aliran darah keluar sangat kaku dan menimbulkan rasa sakit.
Sedang priapismus karena kebocoran pembuluh darah nadi tidak terlalu kaku dan
tidak menimbulkan rasa sakit.
Beberapa tahun terakhir ini, kejadian priapismus di Indonesia cukup sering
dan penyebabnya antara lain setelah menerima suntikan pada penis, kelainan
pembekuan darah, dan obat- obatan. Fenomena ini cukup menarik perhatian
karena sebelumnya sangat jarang terjadi, bahkan tidak pernah diberitakan.
Fenomena ini menjadi semakin menarik pada kalangan medis, baik
dokter
maupun perawat dalam melakukan tindakan pengobatan dan asuhan keperawatan
dalam upaya untuk mengatasi disfungsi ereksi atau impotensi yang berkaitan
dengan priapismus.

B. IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas dapat diidentifikasikan masalah sebagai
berikut : “Bagaimana Mengetahui tentang gangguan seksual pada pria
dan
Memberikan Tindakan Asuhan Keperawatan pada klien dengan gangguan
seksual
terutama Priapismus.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN PRIAPISMUS


A. Definisi
sering disertai rasa nyeri (Sutapa 2009).
menerus dalam waktu lebih dari 6 jam.
menerus ereksi dan sangat sakit.
disebabkan oleh menghambat aliran keluar dari darah yang penuh
kavernosum (dua pembengkakan tubuh dari penis).
B. Etiologi
Menurut Sutapa (2009), priapismus dibedakan atas dua macam
berdasarkan etiologinya.
1. Priapismus primer (idiopatik); tidak diketahui pasti penyebabnya.
2. Priapismus sekunder; dapat disebabkan oleh:
a. Kelainan pembekuan darah (anemia bulan sabit, leukemia dan emboli
lemak),
b. Trauma perineum/genitalia, neurogenik (anestesi regional),
c. Keganasan,
d. Obat-obatan (alkohol, psikotropik, antihipertensi), dan
e. Injeksi intrakavernosa dengan zat vasoaktif untuk diagnosis dan terapi
impotensia.
C. Patofisiologi
Menurut Sutapa (2009), kegagalan penis untuk melemas kembali ini dapat
terjadi karena adanya gangguan mekanisme veno-oklusi (outflow) sehingga
darah
tidak dapat keluar dari jaringan erektil (di dalam corpora cavernosa), atau akibat
peningkatan aliran darah ke jaringan erektil (inflow).
1. “Low-flow” priapismus (ischemic), berupa ereksi berkepanjangan &
diikuti rasa nyeri.
2. “High-flow” priapismus (non-ischemic), yang sering tanpa rasa nyeri dan
prognosanya baik.
D. Manifestasi Klinis
Ereksi dengan nyeri berlangsung lebih dari 6 jam (Lewis et al. 2000).
E. Pemeriksaan Penunjang
Berikut adalah pemeriksaan penunjang untuk pripismus menurut Sutapa
(2009).
1. Pulsasi arteri kavernosa (Doppler Sonografi),
2. Analisa gas darah intrakavernosa dapat membedakan jenis “ischemic”
atau “non ischemic”.
F. Komplikasi
Menurut Lewis et al. (2000), komplikasi dapat meliputi:
1. Nekrosis jaringan penis yang disebabkan oleh berkurangnya aliran darah,
atau
2. Hidronefrosis akibat distensi kandung kemih.
G. Prognosis
“High-flow” priapismus (non-ischemic) memiliki prognosa yang baik
(Sutapa 2009).

H. Pengobatan
Menurut Lewis et al. (2000), pengobatan dapat meliputi:
1. Sedatif,
2. Injeksi relaksan otot halus langsung ke dalam penis,
3. Aspirasi dan irigasi corpora cavernosa dengan jarum besar, atau
4. Pembuatan saluran (shunt) surgikal untuk menguras corpora.

I. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Berikut adalah pengkajian priapismus menurut Sutapa (2009).
a. Ereksi berkepanjangan 4-6 jam,
b. Nyeri biasanya terjadi 6-8 jam,
c. Edema jaringan interstitial trabekula,
d. Batang penis tegang tanpa disertai ketegangan pada glans penis,
e. Pulsasi arteri kavernosa (Doppler Sonografi),
f. Analisa gas darah intrakavernosa dapat membedakan jenis “ischemic”
atau “non ischemic”.
2. Diagnosa Keperawatan
Berikut adalah diagnosa keperawatan menurut Nanda (2005) yang dapat
diangkat pada klien dengan priapismus.
a. Retensi urin berhubungan dengan adanya halangan akibat penekanan
uretra oleh jaringan erektil yang ditunjukkan oleh
DS: Haluaran urin sedikit, tertahan, atau tidak ada.
DO: Distensi kandung kemih
Ereksi penis
b. Nyeri akut berhubungan dengan ereksi berkepanjangan yang ditunjukkan
oleh
DS: Nyeri di daerah penis.
DO: Wajah tampak meringis
Ereksi penis
c. Disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan fungsi penis; ereksi
berkepanjangan tanpa disertai hasrat seksual yang ditunjukkan oleh
DS: Tidak ada hasrat seksual.
DO: Ereksi penis berkepanjangan
3. Patoflow

4. Rencana Keperawatan

a. Diagnosa Keperawatan 1:
Retensi Urin Berhubungan Dengan Adanya
Halangan Akibat Penekanan Uretra Oleh Jaringan Erektil yang
Ditunjukkan Oleh
DS: Haluaran urin sedikit, tertahan, atau tidak ada
DO: Distensi kandung kemih
Ereksi penis
Hasil yang diharapkan – Klien akan:
1) Menyatakan buang air kecil (BAK) lancar.
2) Menunjukkan tidak ada distensi kandung kemih.

Intervensi dan Rasional :


1) Kaji pola BAK termasuk haluaran urin.
R/: Memantau kelancaran BAK.

2) Palpasi kandung kemih.


R/: Retensi urin dapat menyebabkan distensi kandung kemih.

3) Berikan enema dengan es salin (NaCl 0,9%).


R/: Larutan es salin menyebabkan vasokonstriksi.

4) Kompres dingin pada skrotum dan penis


R/: Untuk menghasilkan vasokonstriksi di penis
5) Lakukan tindakan kolaboratif; pemberian sedatif, injeksi relaksan
otot halus langsung ke dalam penis, aspirasi dan irigasi corpora
cavernosa dengan jarum besar, serta pembuatan saluran (shunt) surgikal.
R/: Mengatasi ereksi berkepanjangan secara definitif, terutama untuk keadaan
gawat darurat.

b. Diagnosa Keperawatan 2: Retensi Urin Berhubungan Dengan Adanya


Halangan Akibat Penekanan Uretra Oleh Jaringan Erektil yang
Ditunjukkan Oleh
DS: Nyeri di daerah penis
DO: Wajah tampak meringis
Ereksi penis
Hasil yang diharapkan – Klien akan:
1) Menyatakan nyeri hilang/berkurang (skala 0-10).
2) Menunjukkan wajah tenang.

Intervensi dan Rasional :


1) Kaji intensitas nyeri setiap 4 jam.
Memantau efektifitas terapi.

2) Observasi wajah klien.


Memantau respon non-verbal terhadap nyeri.

3) Berikan enema dengan es salin


(NaCl 0,9%).
Larutan es salin menyebabkan
vasokonstriksi.

4) Kompres dingin pada skrotum dan penis.


Untuk menghasilkan vasokonstriksi di penis.

5) Ajarkan teknik relaksasi (napas dalam).


Untuk penanganan nyeri non- farmakologis.

6) Berikan analgesik sesuai anjuran.


Untuk penanganan nyeri farmakologis.

7) Berikan epidural anestesi sesuai anjuran.


Mengatasi nyeri dan ereksi berkepanjangan.

8) Lakukan tindakan kolaboratif; pemberian sedatif, injeksi relaksan otot


halus langsung ke dalam penis, aspirasi dan irigasi corpora cavernosa dengan
jarum besar, serta pembuatan saluran (shunt) surgikal.
R/: Mengatasi ereksi berkepanjangan secara definitif, terutama untuk keadaan
gawat darurat.

c. Diagnosa Keperawatan 3:
Disfungsi Seksual Berhubungan Dengan
Perubahan Fungsi Penis; Ereksi Berkepanjangan Tanpa Disertai Hasrat
Seksual yang Ditunjukkan Oleh
DS: Tidak ada hasrat seksual.
DO: Ereksi penis berkepanjangan
Hasil yang diharapkan – Klien akan:
1) Menyatakan pola hubungan seksual yang memuaskan.
2) Menunjukkan bebas ereksi berkepanjangan.

Intervensi dan Rasional :


1) Kaji pola hubungan seksual.
Mengidentifikasi adanya disfungsi seksual.

2) Periksa penis.
Ereksi penis berkepanjangan dapat mengganggu pola hubungan
seksual.

3) Berikan enema dengan es salin


(NaCl 0,9%).
Larutan es salin menyebabkan vasokonstriksi.

4) Kompres dingin pada skrotum dan penis.


Untuk menghasilkan vasokonstriksi di penis.

5) Diskusikan dengan pasangan untuk menemukan alternatif mengungkapkan


kepuasan seksual.
Ungkapan emosional dan kasih sayang dapat membantu mengungkapkan
kepuasan seksual.

6) Lakukan tindakan kolaboratif, pemberian sedatif, injeksi relaksan otot


halus langsung ke dalam penis, aspirasi dan irigasi corpora cavernosa dengan
jarum besar, serta pembuatan saluran (shunt) surgikal.
Mengatasi ereksi berkepanjangan secara definitif, terutama untuk keadaan
gawat darurat.

DAFTAR PUSTAKA
Lewis et al. 2000. Medical-surgical nursing: Assessment and management of
clinical problems, 5th ed. Mosby. St. Louis
Sutapa, H. 2009. Kegawatdaruratan urologi non-trauma. Web,
http://hentapa.blogspot.com/2009/11/kegawatdaruratan-urologi-non-
trauma.html, May 9, 2010, 14:23 WIT
Wadhe, O. 2010. Priapismus .Web,
http://thiazone.blogspot.com/2009/12/priapismus-priapism.html,
Oktober 11,2010, 22;10 WIT
Marthia, P. 2009. Priapismus
Web,http://wadheomara.blogspot.com/2010/04/priapismus.html,
Oktober 12,2010,14:01 WIT