Anda di halaman 1dari 5

TUGAS PEMINATAN ONKOLOGI

RESUME KEPERAWATAN

PASIEN CA OVARIUM POST OPERASI LAPARATOMI DI RU POLI


KEBIDANAN RSUP Dr.M.DJAMIL PADANG

CI KLINIK : Ns. Lidya,M.Kep,Sp.Kep MB

CI AKADEMIK : Ns.Rika Fatmadona,M.Kep,Sp.Kep.MB

Oleh : VILDA RIYENA

1821312018

PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN

PEMINATAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS ANDALAS

TAHUN 2019
LAPORAN RESUME ASUHAN KEPERAWATAN
Pada Ny. L dengan Ca Ovarium post Laparatomi
Di Ruang Rawat Melati Rumah Sakit Umum Pusat Kanker Dharmais

1. BIODATA PASIEN
Nama : Ny.DH Umur : … Tahun
NO RM : JK : Perempuan
Diagnosa Medis : Ca Ovarium
Tanggal Masuk : November 2019
Tanggal Pengkajian : November 2019

2. DATA FOKUS PENGKAJIAN PASIEN


Klien datang dengan keluhan pemebengkakan pada abdoment sekitar 2 tahun yang . Dilakukan
pemantauan USG Abdoment dan dilakukan operasi laparatomi pada 25/11/2019. Saat ini
kesadaran pasien CM, terdapat balutan luka post operasi pada abdomen secara horizontal. Pasien
masih terlihat lemah, mengeluh nyeri (skala 3: sedang) pada bagian abdoment yag selesai di
operasi. Tanda vital RR : 19x/mnt, TD :110/70 mmHg, denyut nadi : 92 x/mnt, suhu 36,6ºC.
Akral hangat, JVP 5+4 H2O, Abdomen : terdapat luka opersai post laparatomy secera horizontal
luka di tutup perband, luka dalam keadaan baik tidak terdapat tanda-tanda infeksi, bising usus
18x/mnit, supel, timpani, BAB (+), BAK (+). Mobilisasi duduk jalan. Balance cairan +100.
Pemeriksaan Laboratorium Hematologi 25/11/14, Leu(7,42), Eritrosit (4,20), Hb (13,0),
Hematokrit 37,9%, Trom (264), BT (3 menit), CT (11 menit), SGOT(15 U/L), SGPT (10 U/L).
GDS (73 mg/dL), Ur (21 mg/dL), Cr (0,83 mg/dL), Na+ (143), K+ (4,0), Cl- (102).
Pemeriksaan EKG : Sinus Rhytm, HR 82 x/mnt
Medikasi, IVFD RL 500cc/8jam, Stibixilin 2 x 1 gr, Ketorolac 3 x 30 mg.

3. DIAGNOSA KEPERAWATAN UTAMA


Nyeri akut berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan pasca operasi

4. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI


Intervensi Tanggal 26/11/2019 :
Mengidentifikasi nyeri secara komprehensif, membantu pasien dan keluarga untuk
mencari dan menemukan dukungan, mengontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi
nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan, mengajarkan tekhnik
relaksasi dan distraksi untuk mengurangi nyeri, memberikan terapi ketorolac 30 mg iv,
memantau keefektifan kontrol nyeri, termasuk tanda-tanda vital.
Evaluasi 26/11/2014:
Klien mengatakan nyeri berkurang (Skala 2-3), TD 110/70 mmHg, Nadi: 80 x/mnt, R: 18
x/mnt, S: 36,5°C, Keluarga tampak memberikan motivasi kepada klien, Lingkungan
kondusif, klien mampu melakukan tekhnik relaksasi dan distraksi, Injeksi Ketorolac 3 x 30
mg IV. Masalah teratasi sebagian.
Intervensi Tanggal 27/11/2014 :
Mengidentifikasi nyeri secara komprehensif, membantu pasien dan keluarga untuk
mencari dan menemukan dukungan, mengontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi
nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan, mengajarkan tekhnik
relaksasi dan distraksi untuk mengurangi nyeri dengan mendengarkan musik yang
disukainya, memberikan terapi ketorolac 30 mg iv, memantau keefektifan kontrol nyeri,
termasuk tanda-tanda vital.
Evaluasi 27/11/2014:
Klien mengatakan nyeri berkurang (Skala 1-2), TD 110/80 mmHg, Nadi: 82 x/mnt, R: 18
x/mnt, S: 36,6°C, Keluarga tampak memberikan motivasi kepada klien, Lingkungan
kondusif, klien mampu melakukan tekhnik relaksasi dan distraksi dengan mendengarkan
musik yang disukainya, Injeksi Ketorolac 3 x 30 mg IV. Masalah teratasi.

5. PEMBAHASAN
Terapi musik terdiri dari dua kata, yaitu kata “terapi” dan “musik”. Terapi (therapi)
adalah penanganan penyakit. Terapi juga diartikan sebagai pengobatan, sedangkan musik
adalah suara atau nada yang mengandung bermacam-macam melodi dan irama yang
disesuaikan dengan hukum harmoni serta pendengar (Westrup & Harrison, 1989 dalam
Kustiningsih, 2013).
Terapi musik adalah keahlian menggunakan musik atau elemen musik oleh seseorang
terapis untuk meningkatkan, mempertahankan dan mengembalikan kesehatan mental,
fisik, emosional dan spiritual. Terapi musik juga diartikan usaha meningkatkan kualitas
fisik dan mental dengan rangsangan suara yang terdiri dari melodi, ritme, harmoni,
timbre, bentuk dan gaya yang diorganisir sedemikian rupa hingga tercipta musik yang
bermanfaat untuk kesehatan fisik dan mental. Dalam dunia kedokteran dan keperawatan,
terapi musik disebut sebagai terapi pelengkap (Complementary Medicine / Therapy).
Potter & Perry (2006), mendefinisikan terapi musik sebagai teknik yang digunakan
untuk penyembuhan suatu penyakit dengan menggunakan bunyi atau irama tertentu.
Jenis musik yang digunakan dalam terapi musik dapat disesuaikan dengan keinginan.
Musik mempunyai manfaat sebagai berikut: (1) efek mozart, adalah salah satu istilah
untuk efek yang bisa dihasilkan sebuah musik yang dapat meningkatkan intelegensia
seseorang, (2) refresing, pada saat pikiran seseorang lagi kacau atau jenuh, dengan
mendengarkan musik walaupun sejenak, terbukti dapat menenangkan dan menyegarkan
pikiran kembali, (3) motivasi, hal yang hanya bisa dilahirkan dengan “feeling” tertentu.
Apabila ada motivasi, semangatpun akan muncul, (4) terapi, berbagai penelitian dan
literatur menerangkan tentang manfaat musik untuk kesehatan, baik untuk kesehatan
fisik maupun mental, beberapa penyakit yang dapat ditangani dengan musik antara lain:
kanker, stroke, dimensia, nyeri, gangguan kemampuan belajar, dan bayi premature
(Hanser dalam Putri 2012).
Menurut Turner dalam Apriyani (2010), musik dihasilkan dari stimulus yang dikirimkan
dari akson-akson serabut sensori assenden ke neuron-neuron Reticular Activating System
(RAS). Stimulus-stimulus ini akan ditransmisikan oleh nuclei spesifik dari thalamus
melewati area-area korteks serebral, system limbik dan sistem neuroendokrin. Sistem
saraf otonom berisi saraf simpatis dan para simpatis. Musik dapat memberikan rangsang
pada saraf simpatis dan para simpatis untuk menghasilkan respon relaksasi. Karakteristik
respon relaksasi yang muncul berupa penurunan nadi, otot relaksasi Sistem limbik
ditentukan oleh cincin yang berhubungan dengan cigulate girrus, hippocampus, forniks,
badan mamilari, hipothalamus, traktus mamilotalamik, thalamus anterior dan bulbus
olfaktorius. Saat musik dimainkan, maka semua area yang berhubungan dengan sistem
limbik akan terstimulasi sehingga menghasilkan perasaan dan ekspresi. Musik
menghasilkan sekresi phenylethylamin dari system limbik yang merupakan neuroamine
yang berperan dalam perasaan cinta. Efek musik pada sistem neuroendokrin adalah
memelihara keseimbangan tubuh melalui sekresi hormon dan zat kimia dalam darah.
Efek musik terjadi dengan cara:
1. Musik merangsang pengeluaran endhorphine yang merupakan opiate tubuh secara
alami yang dihasilkan dari gland pituitary yang berguna dalam mengurangi nyeri,
mempengaruhi mood dan memori.
2. Mengurangi pengeluaran katekolamin seperti ephinefrine dan norephinefrine dari
medulla adrenal. Pengeluaran katekolamin menurunkan frekuensi nadi, tekanan darah,
asam lemak bebas, mengurangi konsumsi O2.
3. Mengurangi kadar kortikosteroid adrenal, Corticotrophin Releasing Hormone (CRH)
dan Adrenocorticotropic Hormone (ACTH) yang menghasilkan stres.
Penggunaan terapi musik dapat dilakukan dalam berbagai cara, mulai dari mendengarkan
musik pilihan, menyanyikan, memainkan sebuah instrument musik yang disukai oleh
masing-masing pasien atau mendengarkan dan melihat musik secara visual. Banyak
faktor harus diperhatikan saat mempertimbangkan tehnik tertentu, jenis musik dan
kesukaan individu terlibat aktif atau pasif dalam terapi, penggunaan musik secara
kelompok atau individu, lama musik yang digunakan dan hasil yang diinginkan (Snyder
& Lindquist, 2002 dalam Apriyani 2010).

DAFTAR PUSTAKA

Apriyani, D. (2009). Pengaruh terapi musik terhadap mual muntah lambat akibat kemoterapi
pada anak usia sekolah yang menderita kanker di RSUP Dr Hasan Sadikin
Bandung, tesis FIK-UI : Depok.

Kustiningsih. (2013). Pengaruh Terapi Musik Audio Visual Terhadap Nyeri Dan Kecemasan
Anak Usia Sekolah Pasca Bedah Di Rsup Dr Sardjito Yogyakarta. tesis FIK UI:
Depok.

Potter, P.A dan Perry, A.G. (2006). Buku ajar fundamental keperawatan konsep, proses dan
praktik (terjemahan). Edisi 4. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Putri, G.M. (2012). Redam cemas & depresi dengan terapi musik, akses 26 November
2014, http://health.com/read/2012/06/21/482/651214/redam-cemas-depresi-dengan-
terapi-musik