Anda di halaman 1dari 36

Skill Lab

(Semester IV)

Penanggung jawab:
dr Zulkarnaen A. M., SpKJ
dr Woro Pramesti, SpKJ

Anggota:
dr Nurlis Mahmud, MM
dr Marisa Anggraini, M.Pd. Ked
Octa Reni S., M.Psi., Psikolog
Anisa Kuswandari Banuwa, S.Psi

Fakultas Kedokteran
Universitas Malahayati
Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang berkat rahmat dan karuniaNya maka
penulisan modul Behaviour dapat terlaksana. Modul Behaviour ini
merupakan rangkaian modul ilmu kedokteran klinis yang terdapat pada
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).

Modul behaviour diajarkan pada semester 4, dan meliputi Diagnosis &


Management in General of behaviour Disorders, Child behaviour, Phychiatric
Disorders, Medicine forensic.

Tim penulis berharap, modul behaviour ini dapat membuka pemahaman


mahasiswa terhadap dunia kedokteran, sehingga dapat menghasilkan dokter-
dokter yang berkualitas di kemudian hari, berdasarkan standar kompetensi
pendidikan dokter.

Penulisan modul ini masih memerlukan perbaikan-perbaikan, karena itu kami


tim penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran demi peningkatan mutu
pendiikan dokter di FK Malahayati

Akhir kata kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua
pihak yang telah membantu penulisan modul ini, terutama pihak yayasan Alih
Teknologi dan MEU (Medical Education) Fakultas Kedokteran Universitas
Malahayati

Bandar Lampung, Februari 2012

TIM PENYUSUN

2
DAFTAR ISI

Pertemuan ke Materi Halaman

1 Anamnesis in Psychiatry 4
2 Examination in Psychiatry 16
3 Conseling in Psychiatry 24
4 Penyuluhan NAPZA 33

3
Skill Lab 1

Anamnesa Psikiatri

Sasaran pembelajaran utama


1. Mahasiswa dapat menjalin komunikasi dengan pasien / keluarganya.
2. Mahasiswa dapat melakukan anamnesis / alloanamnesis pada kasus
gangguan jiwa secara sistematik dan lengkap.

Sasaran pembelajaran penunjang


1. Mahasiswa dapat mengumpulkan informasi tentang identitas pasien.
2. Mahasiswa dapat mengumpulkan informasi tentang keluhan utama
(pada gangguan jiwa ringan) atau sebab dibawa ke rumah sakit (pada
gangguan jiwa berat).
3. Mahasiswa dapat mengumpulkan informasi tentang riwayat perjalanan
penyakit dan hal-hal yang mendahului penyakit (faktor organik, faktor
psikososial) pada kasus gangguan jiwa.
4. Mahasiswa dapat mengumpulkan informasi tentang riwayat penyakit
dahulu pada kasus gangguan jiwa.
5. Mahasiswa dapat mengumpulkan informasi tentang riwayat keluarga
(pola keluarga, riwayat penyakit keluarga dan silsilah keluarga) pada
kasus gangguan jiwa.
6. Mahasiswa dapat mengumpulkan informasi tentang riwayat pribadi
(riwayat kelahiran, pertumbuhan dan perkembangan masa kanak-
kanak dan remaja, kepribadian pre morbid, perkembangan seksual,
riwayat pendidikan dan pekerjaan, riwayat pernikahan, riwayat militer,
riwayat hukum, riwayat keagamaan) pada kasus gangguan jiwa.
7. Mahasiswa dapat mengumpulkan informasi tentang perkembangan
seksual pada penderita gangguan jiwa.
8. Mahasiswa dapat mengumpulkan informasi tentang fantasi, mimpi dan
nilai yang dianut pasien.

4
ANAMNESIS DALAM PSIKIATRI

Salah satu alat yang paling penting yang dimiliki oleh dokter adalah
kemampuan untuk melakukan wawancara secara efektif. Wawancara yang
dilakukan dengan terampil mampu untuk menggali data yang diperlukan
untuk menegakkan diagnosis dan dalam proses terapi pada pasien
khususnya pasien dengan gangguan jiwa.

Pada gangguan jiwa ringan, anamnesis dapat dilakukan langsung pada


penderita, walaupun kadang-kadang informasi dari pihak lain juga berguna
untuk mendapatkan kelengkapan riwayat penyakit penderita. Pada gangguan
jiwa berat, anamnesis untuk mendapatkan data-data tentang pasien dan
riwayat penyakitnya mungkin harus kita gali dari orang lain (alloanamnesis)
misalnya dari keluarga, teman atau tetangga penderita.

Data yang harus kita gali dari anamnesis ataupun aloanamnesis adalah :

1. Identitas Pasien
Identitas yang perlu kita dapatkan adalah: nama, umur, jenis kelamin,
agama, alamat, pendidikan, pekerjaan, status pernikahan. Perlu juga
untuk diketahui apakah sumber aloanamnesa dapat dipercaya artinya
benar-benar memahami tentang pasien, apakah pasien dating sendiri,
rujukan dari dokter lain atau datang dengan dibawa oleh orang lain
(keluarga, polisi, petugas panti, dll).

2. Keluhan utama (pada gangguan jiwa ringan) atau sebab dibawa ke


rumah sakit (pada gangguan jiwa berat).
Pada gangguan jiwa ringan, penderita menyadari bahwa dirinya baik
(insight/ tilikan dirinya baik) sehingga biasanya ia akan datang sendiri ke
dokter dan menceritakan keluhan utamanya. Berbeda dengan penderita
gangguan jiwa berat yang insight/ tilikan dirinya jelek. Ia tidak merasa
dirinya sakit, sehingga biasanya keluarganya/ pihak lain yang
membawanya ke dokter.

5
Pada gangguan jiwa berat, biasanya penderita akan dibawa ke rumah
sakit jika sudah melakukan tindakan-tindakan yang tidak bisa ditoleransi
lagi oleh lingkungannya. Misalnya mengamuk tanpa sebab, menyerang
orang lain, merusak barang-barang atau melakukan hal-hal yang
membahayakan/ menyakiti dirinya termasuk upaya bunuh diri. Ketika
penderita gangguan jiwa berat sudah mulai menunjukkan perubahan
perilaku awal (gejala prodomal) seperti mengurung diri, banyak
melamun, tidak mau bersosialisasi, malas untuk beraktivitas, dll,
keluarga kadang belum merasa perlu membawa ke rumah sakit. Tapi jika
penderita sudah mengalami agitasi, agresif, melakukan upaya bunuh
diri, dll, barulah keluarga membawanya ke rumah sakit. Hal ini yang
seringkali jadi penyebab terlambatnya tindakan medis pada penderita
gangguan jiwa berat.
Contoh keluhan utama :
“ Saya sering merasa cemas, berdebar-debar, keluar keringat dingin,
sulit tidur sehingga mengganggu aktivitas saya sehari-hari.”
“ Ia mengamuk tanpa sebab, memecah barang-barang yang ada di
rumah dan mengancam akan membunuh saudaranya.”
“ Ia hanya diam saja, jarang bicara, tidak mau makan dan tampak sangat
sedih, kadang menangis dan sering merasa sangat berdosa.”

3. Riwayat perjalanan penyakit


Dalam riwayat perjalanan penyakit, harus digali onset penyakitnya.
Apakah termasuk akut (kurang dari 1 bulan), subakut (antara 1-6 bulan )
atau kronis (lebih dari 6 bulan). Mulai munculnya penyakit paga gangguan
jiwa berat kadang-kadang tidak langsung ditunjukkan dengan adanya
gejala yang menonjol (full blown psychotik) tapi sering didahului oleh
gejala-gejala prodomal. Misalnya mengurung diri, aktivitas mulai
berkurang, penurunan interaksi social, dll. Sehingga kita harus
menanyakan adanya gejala-gejala prodomal pada pasien dan sejak kapan
gejala itu mulai ada. Perjalanan penyakit dimulai sejak adanya gejala
prodomal.

6
Gejala-gejala yang ada harus kita gali selengkap mungkin. Misalnya,
keluarga menceritakan bahwa penderita tampak aneh, kita harus
menanyakan apa yang dimaksud dengan aneh tersebut. Misalnya :
“ Penderita merasa sangat ketakutan, karena sering merasa dikejar-kejar
orang lain hendak dibunuh, penderita sangat curiga pada orang-orang di
sekitarnya sehingga ia tidak mau berkomunikasi dan tidak mau makan. Ia
curiga jangan-jangan makanan /minuman yang diberikan padanya
mengandung racun yang hendak dipakai membunuh dirinya.”
Pada pasien dengan cemas, maka harus kita tanyakan : bagaimana
frekuensinya, apakah ada gejala-gejala fisik yang menyertai
kecemasannya (keringat dingin, berdebar-debar, sulit tidur, dll, apakah
berhubungan dengan situasi tertentu, dll.
Adanya factor-faktor presipitasi juga harus kita gali dari pasien dan
keluarganya. Sehingga kita bisa memahami tentang permasalahan yang
dihadapi oleh pasien. Dengan demikian akan berguna bagi kita dalam
mengelola penatalaksanaan pasien.
Riwayat pengobatan yang telah dilakukan juga harus kita gali. Jenis
pengobatan, keteraturan / kepatuhan dan respon penderita terhadap
terapi tersebut. Mengapa baru sekarang dibawa ke rumah sakit.
Jika sakitnya bukan sakit yang pertama, maka harus dipastikan apakah
sakit yang sekarang ini merupakan kelanjutan sakit yang sebelumnya
ataukah sudah dipisahkan oleh adanya kesembuhan sehingga sakit yang
sekarang merupakan episode penyakit baru. Kesembuhan secara klinis
ditunjukkan jika pasien dapat kembali ke fungsi normalnya sebelum dia
sakit. Jika ia adalah seorang mahasiswa dengan prestasi yang baik, maka
setelah sakit ia akan kembali menjadi mahasiswa yang berprestasi baik
pula. Jika ia karyawan, maka ia kembali berfungsi seperti sedia kala.

4. Riwayat penyakit dahulu


Riwayat penyakit dahulu terdiri dari riwayat gangguan jiwa sebelumnya
atau riwayat penyakit medis umum yang pernah diderita sebelumnya. Kita
gali informasinya selengkap mungkin. Jika ada gangguan jiwa
sebelumnya, apa gejalanya, riwayat pengobatannya, jika dirawat di RS,
tanyakan di RS mana, berapa lama, efek dari pengobatan, akibat dari

7
sakitnya, apakah bisa kembali ke fungsi normalnya atau tidak setelah
sakit.
Pada penyakit medis umum perlu digali apakah ada riwayat beberapa
penyakit berat atau riwayat pembedahan atau trauma berat yang sampai
membutuhkan perawatan di rumah sakit. Perlu juga ditanyakan tentang
adanya kejang, penurunan kesadaran, perubahan pola nyeri kepala,
perubahan pada penglihatan, adanya kebingungan dan disorientasi,
adanya demam. Beberapa gangguan psikiatrik berkaitan erat dengan
beberapa kondisi medis di atas.
Kita juga harus menanyakan tentang riwayat penggunaan alcohol dan
obat-obatan serta zat lainnya termasuk kuantitas dan frekuensi
penggunaannya.

5. Riwayat Keluarga
Harus kita gali tentang riwayat penyakit yang ada dalam keluarga
terutama tentang adanya riwayat gangguan jiwa pada keluarganya.
Keluarga sangat penting di dalam penatalaksanaan penderita gangguan
jiwa, perlu kita cari data tentang :
 apakah anggota keluarga memberikan dukungan social bagi pasien
atau tidak.
 Bagaimana hubungan antara pasien dengan orang tua, saudara dan
anggota keluarga yang lainnya. Beberapa pasien mempunyai problem
dengan keluarganya, maka harus kita pertimbangkan dalam
penatalaksanaan penderita.
 Dengan siapa penderita punya huungan jiwa yang paling dekat dalam
keluarganya
 Bagaimana pola asuh yang didapatkan penderita sejak kecil
 Bagaimana pola hubungan antar masing-masing anggota keluarga
yang ada
 Bagaimana tingkat social ekonomi keluarga

6. Riwayat Pribadi
Riwayat kehidupan pribadi pasien bisa kita pakai untuk memahami
perjalanan hidup pasien sejak dalam kandungan hingga sekarang. Banyak

8
informasi penting yang harus kita dapatkan dalam riwayat kehidupan
pribadi pasien. Data-data ini akan dapat menggambarkan beberapa factor
penting yang berhubungan dengan kondisi emosi pasien serta beberapa
factor predisposisi yang ada. Kita pahami bersama, bahwa terjadinya
gangguan jiwa tidak semata-mata disebabkan oleh adanya factor
presipitasi saja, tetapi sangat kompleks (multifaktorial). Faktor-faktor
predisposisi yang ada akan menguatkan kita pada penegkan diagnosis
maupun penatalaksanaannya.

6.1. Riwayat Prenatal dan Perinatal


Riwayat tentang kehamilan akan memberikan data apakah penderita
merupakan anak yang diharapkan oleh orang tuanya atau tidak. Hal ini
akan berpengaruh terhadap bagaimana sikap orang tua selanjutnya
dalam pengasuhan anak. Perlu kita gali tentang adanya masalah pada
saat proses persalinan, bagaimana kondisi kesehatan fisik dan mental
ibu saat mengandung, apakah ibunya menggunakan alcohol atau
substansi yang lain selama kehamilan.

6.2. Usia 0-3 tahun (masa kanak awal)


Dalam masa ini hal penting yang harus kita perhatikan adalah
bagaimana kualitas hubungan antara ibu dan anak yang berkaitan
dengan masa penyusuan dan toilet training. Apakah anak hanya
diasuh oleh orang tuanya atau diasuh oleh orang lain, apakah orang
tuanya mempunyai masalah sehingga mempengaruhi pola hubungan
antara orang tua dengan anaknya, dll.
Hal penting dalam masa ini adalah :
 Kebiasaan makan : apakah anak mendapat ASI atau susu botol,
apakah ada problem kesulitan makan pada anak.
 Toilet training : berapa umur anak mulai dilakukan toilet training
(terlalu dini atau terlambat akan menimbulkan masalah bagi anak),
bagaimana orang tua bersikap dalam toilet training (terlalu keras
akan menimbulkan masalah pada anak), bagaimana sikap anak
dalam toilet trainingnya (ada anak yang berhasil namun juga ada

9
yang bermasalah dalam toilet trainingnya sehingga sering terjadi
konstipasi, BAB di celana, dll).
 Adanya gejala-gejala yang berhubungan dengan masalah perilaku :
menghisap jempol, mudah marah, tik, mimpi-mimpi buruk,
menggigit kuku, ketakutan.
 Kepribadian anak : rewel, mudah bergaul, bersahabat, aktivitas
berlebihan dan pola-pola permainan yang disukai.

6.3. Usia 3-11 tahun (Masa kanak pertengahan)


Pada masa ini informasi yang kita butuhkan diantaranya adalah
tentang identifikasi gender, bagaimana perilaku orang tua dalam
mengajarkan aturan-aturan dalam keluarga dan hukuman jika
melanggarnya. Masa awal anak mulai masuk sekolah juga kita
perlukan, bagaimana anak beradaptasi dan bagaimana ketika anak
harus berpisah dari orang tua atau pengasuhnya. Apakah ia dapat
bergaul dengan orang-orang baru di sekitarnya, apakah termasuk anak
yang bersahabat atau pemalu, apakah anak bisa mengikuti aturan-
aturan yang ada, riwayat tentang kemampuan membaca,
perkembangan intelektual dan psikomotor yang lain.

6.4. Masa kanak akhir (Pubertas – remaja)


Pada masa ini merupakan masa pembentukan identitas diri seseorang.
Seseorang sudah mulai meninggalkan ketergantungannya kepada
orang tuanya dan mulai mebangun hubungan dengan teman sebaya
dalam aktivitasnya.
Kita perlu menggali riwayat sekolahnya , hubungannya dengan guru
dan teman-temannya, kegiatan-kegiatan lain selain aktivitas
sekolahnya, hobinya dan masalah-masalah yang dihadapinya pada
masa ini.
 Masalah identitas dirinya
 Masalah penggunaan alcohol dan zat lainnya
 Perkembangan dan aktivitas seksualnya
 Interaksi dengan teman-temannya, apakah ia diterima atau
dikucilkan lingkungannya

10
 Hubungan dengan orang tua
 Masalah-masalah yang dihadapinya
 Permasalahan berhubungan dengan kenakalan remaja
 Perasaannya berkaitan dengan perkembangan seksualnya

6.5. Dewasa
a. Riwayat pekerjaan
Digambarkan tentang pekerjaan yang dimiliki pasien, kualitas
pekerjaan dan keluasan pasien dengan pekerjaannya. Sejak
kapan dan berapa lama pasien bekerja, apakh dengan
pekerjaan yang tetap atau berganti-ganti/ berpindah-pindah
pekerjaan dan apa lasannya. Apakah ada masalah yang
berkaitan dengan pekerjaan itu sendiri atau pimpinan dan
teman-teman kerjanya.

b. Riwayat Pernikahan
Dari riwayat pernikahan pasien, kita cari informasi tentang
berapa lama pasien menikah dan masalah-masalah yang
berkaitan dengan pernikahan. Jika terjadi perceraian, maka kita
harus gali apakah sebab dari perceraian itu. Perceraian bisa
sebagai faktor presipitasi jika pasien mengalami gangguan jiwa
setelah prose situ. Namun kita juga harus berfikir, jangan-jangan
adanya gangguan jiwa pada diri pasienlah yang menjadi
penyebab pasangannya meminta cerai. Ataukah disebabkan
adanya masalah-masalah seksual dalam pernikahan.

c. Riwayat Militer
Riwayat tentang keterlibatan pasien dalam kegiatan militer jika
ada.

d. Riwayat Pendidikan
Riwayat tentang peproses pendidikan pasien, motivasi, kualitas
dan masalah-masalah yang timbul berkaitan dengan
sekolahnya. Umur berapa pasien berhenti dari sekolahnya, apa

11
sebabnya apakah karena ketidakmampuan intelektualnya atau
masalah social ekonominya. Bagaimana prestasi sekolahnya
selama ini, apakah relative konstan ataukah mengalami
penurunan dan apa sebabnya. Apakah pemilihan disiplin ilmu
adalah sesuai keinginanya atau paksaan dari pihak lain. Apakah
penderita pernah mengalami kegagalan dalam proses
pendidikannya (misal tidak naik kelas, DO, nilai menurun drastis,
dll).

e. Aktivitas Keagamaan
Perlu kita cari informasi tentang aktivitas keagamaan dalam
keluarga, latar belakang keagamaan kedua orang tuanya,
apakah orang tuanya termasuk keras atau permisif terhadap
aktivitas keagamaan anaknya, apakah ada konflik antara
keagamaan anak dengan orang tuanya. Bagaimana ketaatan
pasien dalam agamanya. Kepahaman kita terhadap data-data
ini sangat bermanfaat terutama dalam penatalaksanaan pasien.

f. Aktivitas Sosial
Bagaimana pasien selama ini berhubungan dengan lingkungan
sosialnya, bagaimana sikap pasien dengan teman sesame jenis
dan lawan jenisnya, apakah pasien termasuk orang-orang yang
lebih suka mengisolasi diri atau pasien termasuk antisosial,
kalau pasien lebih memilih mengisolasi diri harus kita cari
informasi mangapa ia berlaku demikian apakah karena rendah
dirinya, kecemasannya atau ketakutannya terhadap orang lain.

g. Situasi Kehidupan Sekarang


Kehidupan pasien saat sekarang, apakah tinggal bersama
orang tuanya atau bersama orang lain, apakah hidup di panti
rehabilitasi atau asrama atu rumah keluarga sendiri. Apakah di
tempat tinggalnya, ia dapat mempunyai privasi, bagaimana
hubungan pasien dengan orang-orang yang ada di tempat
tinggalnya dan bagaimana kondisi tempat tinggalnya termasuk

12
sosial ekonomi keluarga pasien. Hal ini diingat berkaitan dengan
family support terhadap pasien.

h. Riwayat hukum
Apakah pasien pernah berurusan dengan masalah hukum, apa
sebabnya?

7. Riwayat Perkembangan Seksual


Perlu kita tanyakan darimana pasien mandapatkan informasi tentang
masalah seksual dan bagaimana sikap pasien terhadap perkembangan
seksualnya. Masalah-masalah yang muncul berhubungan dengan
perkembangan seksualnya termasuk kekerasan seksual yang mungkin
pernah terjadi pada pasien mulai dari masa kecilnya dan mungkin sampai
saat sekarang serta adnya hubungan seks pranikah.

8. Fantasi, impian dan nilai-nilai


Kita tanyakan tentang fantasi, impian dan nilai-nilai yang dianut pasien,
data-data ini bermanfaat membantu kita untuk memahami pasien dan
memudahkan dalam penegakan diagnosis serta penatalaksanaannya.

SKENARIO
Seorang remaja laki-laki, usia 15 tahun, pendidikan SMP tidak tamat. Pada
bulan April 2010, pasien mulai sering membantah nasehat kakek dan
neneknya. Malam hari menjadi sering merokok dan sulit tidur. Pertengahan
bulan Mei 2010, pasien menjadi kurang berinteraksi dengan tetangganya dan
wajahnya terlihat murung serta sering melamun. Pasien sering pergi keluar
rumah pada malam hari tanpa izin pada kakek ataupun neneknya, ketika
ditegur pasien menjadi marah dan tersinggung. Pada awal Desember 2010,
kondisi pasien bertambah parah, dimana emosinya semakin labill, semakin
sulit tidur dan sering keluyuran keluar rumah tanpa izin di malam hari. Pasien
sering dipergoki berbicara dan tertawa sendiri. Menurut pasien, ia mendengar
suara-suara bisikan yang tidak ada wujudnya, dan tiba-tiba melihat bayangan
api. Keluarga membawa pasien ke dukun, tetapi tidak ada perubahan pada
diri pasien.

13
Pada awal Januari 2011, pasien mengaku bahwa ia pernah menghisap lem
aibon bersama teman-temannya, tetapi tidak memberi tahu sudah berapa
lama melakukan hal tersebut. Kondisi pasien semakin parah, dimana
frekuensi bicara dan tertawa sendiri semakin sering, semakin sulit tidur
bahkan pernah tidak tidur sama sekali, nafsu makan menurun, jarang mandi,
bahkan mengamuk apabila tidak mendapat rokok yang dimintanya.

Pada saat pasien berumur 8 tahun, ia sering menyaksikan pertengkaran ayah


dan ibunya yang berujung pada perceraian. Akibat perceraian tersebut,
pasien harus berpisah dengan ayahnya, dan tinggal bersama ibu dan adik
perempuannya di rumah kakek dan neneknya.

Pada akhir tahun 2009, saat pasien duduk di bangku kelas 2 SMP, pasien
berhenti sekolah dikarenakan kondisi ekonomi keluarga dan pasien merasa
tidak sanggup mengikuti pelajaran yang diberikan di sekolah. Semenjak
berhenti sekolah, pasien sering main keluar rumah bersama teman-temannya
tanpa diketahui kemana tujuannya. Akibat kondisi perekonomian keluarga
maka ibu pasien memutuskan untuk bekerja ke luar negeri sebagai TKI.
Setelah ditinggalkan ibunya, pasien hidup bersama kakek, nenek, dan adik
perempuannya. Ia tumbuh tanpa kasih sayang orang tuanya, sementara
ayahnya sudah menikah, bercerai, dan menikah lagi.

CHECK LIST ANAMNESIS

Skor
NO MATERI
0 1 2
Mengucapkan salam sebelum memulai anamnesis
1.
/alloanamnesis
2. Memperkenalkan diri
3. Melakukan sambung rasa
2. Menanyakan identitas pasien dengan lengkap
Mengetahui keluhan utama/sebab dibawa ke rumah
3.
sakit
4. Mengumpulkan informasi tentang riwayat perjalanan
penyakit Sekarang
 onset penyakit
 gejala-gejala
 upaya pengobatan yang telah dilakukan

14
 adanya gejala-gejala prodomal
 factor presipitasi
Mengumpulkan informasi riwayat penyakit dahulu
 gangguan psikiatrik
5.
 penyakit medis umum
 penggunaan alkohol dan zat lain
Mengumpulkan informasi tentang riwayat keluarga (pola
6.
keluarga, riwayat penyakit & silsilah keluarga
Mengumpulkan informasi tentang riwayat pribadi
 Pre natal & Prinatal
7.  masa kanak-kanak awal
 kanak pertengahan
 pubertas - remaja
Informasi tentang masa dewasa
 riwayat pekerjaan
 Riwayat perkawinan
8.  Riwayat pendidikan
 Riwayat kagamaan
 Aktivitas sosial
 Situasi hidup sekarang
9. Riwayat perkembangan seksual
10. Fantasi, impian dan nilai-nilai
11. Merangkum anamnesa
Mendoakan pasien serta memotivasi penderita dan
12. keluarganya untuk tidak lupa atau bosan berdoa, agar
mendapatkan yang terbaik

Keterangan :
0 : tidak dilakukan
1 : dilakukan tetapi kurang benar
2 : dilakukan dengan benar

Skill Lab 2

Physical Diagnosis

15
Sasaran Pembelajaran utama:
1. Mahasiswa dapat membina komunikasi (bina raport) dengan pasien
untuk melakukan pemeriksaan psikiatrik
2. Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan status mental pada
penderita gangguan jiwa berat

Sasaran Pembelajaran tambahan


1. Mahasiswa dapat melakukan pembinaan hubungan dalam
melakukan wawancara / pemeriksaan psikiatrik.
2. Mahasiswa dapat memberikan diskripsi kesan umum pasien
gangguan jiwa.
3. Mahasiswa dapat memeriksa pembicaraan pada penderita
gangguan jiwa.
4. Mahasiswa dapat memeriksa sikap dan tingkah laku penderita
gangguan jiwa (aktivitas psikomotor)
5. Mahasiswa dapat memeriksa mood dan afek penderita gangguan
jiwa.
6. Mahasiswa dapat memeriksa proses pikir penderita gangguan jiwa .
 Mahasiswa dapat memeriksa isi pikir penderita gangguan
jiwa .
 Mahasiswa dapat memeriksa bentuk pikir penderita
gangguan jiwa.
7. Mahasiswa dapat memeriksa persepsi penderita gangguan jiwa
8. Mahasiswa dapat memeriksa sensori dan fungsi intelektual :
orientasi, memori, konsentrasi, perhatian, penjumlahan, pikiran
abstrak, kemampuan visuospatial
9. Mahasiswa dapat memeriksa judgment penderita gangguan jiwa
10. Mahasiswa dapat memeriksa insight penderita gangguan jiwa

PEMERIKSAAN STATUS MENTAL

Pemeriksaan satus mental pada penderita gangguan jiwa adalah bagian


penting yang harus dilakukan untuk menegakkan dianosi gangguan jiwa.

16
Pemeriksaan status mental kita lakukan dengan mengamati/memperhatikan
penderita dan melakukan wawancara. Biasanya mulai kita lihat sejak pasien
berhadapan dengan kita. Berbeda dengan riwayat perjalanan penyakit yang
relatif tetap, status mental penderita gangguan jiwa bisa berubah dari waktu
ke waktu. Pemeriksaan status mental meliputi penampilan, pembicaraan,
perilaku dan pemikiran pasien selama wawancara berlangsung.
Hal-hal yang termasuk dalam pemeeriksaan status mental adalah :
1. Kesan umum tentang pasien meliputi sikap dan penampilan
2. Pembicaraan
3. Perilaku dan aktivitas psikomotor
4. Mood dan afek
5. bentuk pikir
6. Isi pikir
7. Progresi pikir
8. Persepsi
9. Fungsi sensori dan intelektual meliputi : orientasi, memori, konsentrasi,
perhatian, pemikiran abstrak
10. Daya nilai
11. Insight (tilikan diri)

1. KESAN UMUM
Kita harus memperhatikan pasien secara menyeluruh dan cermat,
termasuk di dalamnya adalah postur tubuh, pakaian, rambut, kuku, sikap
dan penampilan pasien. Kita juga harus mendiskripsikan apakah pasien
tampak sakit, tampak lebih muda/tua dari usianya, apakah pasien
kooperatif, apakah bersahabat ,dll. Dalam kesan umum juga termasuk
tingkah laku bizare (aneh) yang dilakukan penderita. Dengan kesan umum
yang kita dapatkan, secara sekilas kadang sudah dapat petunjuk ke arah
differential diagnosis.
Contoh :
1. Pasien Skizofrenia
Kesan umum : Seorang laki-laki sesuai umur, tampak sakit jiwa, rawat
diri jelek, tidak kooperatif, bicara dan senyum-senyum sendiri,
bertingkah laku aneh

17
2. Pasien Gangguan afektif tipe manik
Kesan umum : Seorang perempuan, sesuai umur, make up berlebihan,
memakai perhiasan berlebihan, tidak kooperatif, tampak senang sambil
bernyanyi-nyanyi
3. Pasien Gangguan afektif
Kesan umum : Seorang perempuan sesuai umur, tampak menyendiri di
sudut kamar, tidak kooperatif, banyak diam, saat wawancara
pandangan selalu ke bawah dan menghindar tatapan mata pemeriksa.

2. PEMBICARAAN
Pembicaraan pada penderita gangguan jiwa, menjadi salah satu petunjuk
ke arah diagnosis gangguan jiwa. Dalam hal ini termasuk masalah kualitas
dan kuantitasnya.
Kuantitas : logorhoe, remming, blocking, mutisme (tidak mau bicara sama
sekali)
Kecepatan produksinya : spontan atau tidak
Kuantitas : inkoherensi (pembicaraan kacau, jika apa yang dikatakan
penderita tidak bisa kita pahami), irrelevansi (pembicaraan tidak
nyambung, jika jawaban penderita tidak sesuai dengan pertanyaan
pemeriksa/orang lain)

3. PERILAKU DAN AKTIVITAS PSIKOMOTOR


Termasuk kualitas dan kuantitas psikomotor pasien. Termasuk di
dalamnya stereotipi sikap, hiperaktif, ekopraksi, agitasi, stupor, hipoaktif,
katalepsi, rigiditas dan manifestasi yang lainnya.
Contoh :
 Pasien dapat mempertahankan sikap seperti patung berjam-jam tanpa
lelah dan tanpa berubah posisi  stupor katatonik
 Pasien melompat-lompat, berlari-lari, gerak berlebihan  hiperaktif

4. MOOD DAN AFEK


Mood didefinikan sebagai suatu emosi yang meresap dan dipertahankan
yang dialami secara subyektif dan dilaporkan oleh pasien dan terlihat oleh
orang lain. Contoh : disforik, eutimik, iritabel, euphori, dll

18
Afek didefinisikan sebagai ekspresi emosi yang terlihat, ada kemungkinan,
kadang tidak konsisten dengan emosi yang dikatakan pasien.
Contoh : apropiate, inapropiate, menyempit, tumpul, datar.
 Pasien menceritakan kesedihan tapi malah tertawa atau sebaliknya 
afek inapropiate
 Pesien tidak berekspresi walau orang sekitarnya menceritakan hal-hal
yang menggembirakan maupun menyedihkan, ia tetap diam saja tanpa
ekspresi sama sekali  afek datar

5. BERPIKIR
Proses pikir dibagi menjadi proses/bentuk pikir dan isi pikir. Contoh bentuk
pikir adalah : non realistik, realistik/normal, autistik. Sedangkan yang
termasuk isi pikir adalah adanya waham atau ide. Yang dimaksud waham
adalah kepercayaan palsu yang tidak sesuai kenyataan (tidak realistik),
yang sangat diyakini, tidak konsisten dengan kecerdasan dan latar
belakang budaya, tidak dapat dikoreksi dan dipertahankan. Contoh
waham adalah waham curiga, waham bizare/aneh (siar pikir, sedot pikir,
kendali pikir, sisip pikir), waham somatik, waham kebesaran, waham
cemburu, waham bersalah, dll.
Contoh :
 Penderita sangat ketakutan, selalu di dalam kamarnya, dikunci rapat-
rapat, tidak berani keluar rumah karena merasa orang-orang di
sekitarnya mengejar-ngejar dan akan membunuhnya (waham kejar).
 Penderita merasa mendapat wahyu dari Tuhan, bahwa ia lah yang
dapat menyelamatkan seluruh manusia di bumi ini dari kehancuran
(waham kebesaran)
 Penderita sering marah ketika menonton televisi atau mendengarkan
radio karena merasa bahwa penyisrnya selalu menyindir dan
memberitakan tentang dirinya dalam berita-beritanya. Bahka ketika
menonton sinetron, ia merasa menjadi salah satu pemainnya. (waham
bizare  siar pikir)
Contoh kasus : keluarga dalam aloanamnesa menceritakan bahwa
penderita memanjat pohon kelapa dan tidak mau turun selama 2 hari.

19
Kita harus memeriksa pasien untuk mendapatkan gejalanya, misalnya
dengan menanyakan pada pasien mengapa waktu itu ia naik pohon
kelapa dan tidak turun. Pasien mungkin akan menjawab :
 Karena ia merasa ketakutan, polisi mengejar-ngejar dia dengan
membawa pistol dan ingin menembaknya padahal ia tidak bersalah,
ia merasa dikejar-kejar akan dibunuh  waham kejar
 Pasien mendengar suara-suara tanpa wujud yang menyuruhnya
untuk naik pohon kelapa dan tidak boleh turun, kalau tidak mungkin
ibunya akan celaka, sehingga pasien menuruti suara-suara tersebut
 halusinasi auditorik
 Pasien merasa seolah ada yang mengendalikan dirinya dan ia tak
bisa melawannya sehingga ia naik pohon dan semua itu terjadi di
luar kendali dirinya.  wahan bizare (kendali pikir).

6. PERSEPSI
Persepsi adalah proses pengubahan stimuli fisik menjadi informasi
psikologik. Yang termasuk gangguan persepsi diantaranya adalah
halusinasi dan ilusi. Halusinasi adalah suatu gangguan persepsi dimana
tidak adanya obyek/stimulus eksternal dipersepsikan/dianggap ada oleh
seseorang. Terdiri dari halusinasi auditorik, halusinasi visual, halusinasi
taktil, halusinasi penciuman.
Contoh :
 Penderita sering mendengar suara-suara banyak orang namun tidak
ada wujudnya yang berisi komentar terhadap setiap tingkah lakunya
sehingga penderita merasa sangat jengkel dan marah-marah
(halusinasi auditorik).
 Penderita sering mencium bau kemenyan dan bunga-bunga kuburan
terutama pada malam hari sementara di sekitarnya orang-orang tidak
menciumnya, sehingga ia sering merasa ketakutan akan kematian
(halusinasi penciuman)
 Penderita sering seperti didatangi arwah orang-orang yang sudah
meninggal, yang nampak wujudnya di hadapannya (halusinasi visual).
 Penderita merasa seseorang yang dicintainya sering datang dan
membelai-belai tubuhnya. Ia tidak melihat wujudnya tapi dapat

20
merasakan jelas sentuhan-sentuhan tangan di tubuhnya (halusinasi
taktil).

Sedangkan ilusi adalah kesalahan persepsi dimana obyek lain


dipersepsikan secara salah (ada obyeknya, sedangkan pada halusinasi
tidak ada obyeknya). Contoh :
 Penderita minta semua pohon di depan rumahnya ditebang karena jika
malam hari ia melihat pohon-pohon itu berubah menjadi setan yang
menakutkan.

7. SENSORI DAN FUNGSI INTELEKTUAL


Pemeriksaan ini dilakukan untuk menilai fungsi otak, termsuk di dalamnya
adalah intelegensia, kemampuan berfikir abstrak, orientasi, memori,
kemampuan membaca dan menulis, penjumlahan, visuospatial dan
bahasa.

A. Kesadaran
Gangguan kesadaran biasnya mengindikasikan adanya gangguan otak
organik. Termasuk didalamnya adalah somnolen, koma, letargi, dll.

B. Orientasi dan memori


Orientasi terdiri dari orientasi orang, tempat, waktu dan situasi. Sedangkan
memori meliputi memori jangka pendek, memori jangka panjang, memori
segera.
Contoh :
 Orientasi waktu baik jika pasien bisa menunjukkan waktu secara tepat,
siang malam, pagi.
 Orientasi tempat baik jika pasien tahu di mana sekarang ia berada
C. Konsentrasi dan Perhatian
Konsentrasi pasien bisa terganggu karena beberapa alasan. Adanya
gangguan fungsi kognitif, kecemasan, depresi, adanya stimulus internal
seperti halusinasi juga berperan dalam gangguan konsentrasi.

D. Pemikiran abstrak

21
Contoh :
 Kita tanyakan pada pasien apakah bisa membedakan 2 benda yang
mirip misalnya apakah bedanya antara jeruk dengan appel.
E. Informasi dan Intelegensi
Dalam hal ini kita tanyakan pada pasien tentang pengetahuan umum yang
kita sesuaikan dengan tingkat pendidikan dan sosial ekonomi keluarga.

8. DAYA NILAI
Selama wawancara berlangsung, sebagai dokter, kita dapat sekalian
menilai bagaimanakan daya nilai pasien terhadap lingkungan sosialnya.

9. INSIGHT
Insight adalah tilikan diri atau pemahaman pasien tentang sakitnya.
Secara sederhana adalah apakah seseorang merasa bahwa dirinya sakit
atau tidak. Penderita gangguan jiwa berat mempunyai insight jelek, ia
tidak merasa bahwa dirinya sakit dan mungkin ia akan menyangkalnya,
sedangkan penderita gangguan jiwa ringan mempunyai insight yang baik.
Contoh :
 Pasien mungkin akan cerita bahwa ia heran mengapa di bawa ke
rumah sakit, padahal ia tidak sakit
 Pasien mungkin akan bilang bahwa ia hanya sakit pusing saja dan
tidak perlu dirawat di rumah sakit

CHECK LIST
PEMERIKSAAN STATUS MENTAL

Skor
NO MATERI
0 1 2
1. Mengucap salam , memperkenalkan diri
2 Sambung rasa

22
3. Diskripsi/kesan umum
4. Pembicaraan
5. Perilaku dan aktivitas psikomotor
6. Emosi :
. a. Mood
b. Afek
7. Proses pikir
a. bentuk pikir
b. isi pikir
8. Persepsi
9. Sensori dan fungsi intelektual
a. Orientasi
b. Daya ingat
c. Pemikiran abstrak
10. Insight
11. Merangkum hasil pemeriksaan
12. Mengucap salam penutup dan membaca hamdalah
setelah melakukan pemeriksaan

Keterangan :
0 : tidak dilakukan
1 : dilakukan tetapi kurang benar
2 : dilakukan dengan benar

Skill Lab 3

KONSELING

Sasaran Pembelajaran Utama:


1. Mahasiswa mampu menjalin komunikasi efektif dengan klien
2. Mahasiswa mampu mengidentifikasi masalah yang berhubungan
dengan perilaku pada klien

23
3. Mahasiswa dapat melakukan konseling terhadap lkien

Sasaran Pembelajaran Tambahan:


1. Mahasiswa mampu mendiagnosa kelainan perilaku
2. Mahasiswa mampu menganalisa kasus yang berhubungan dengan
masalah kejiwaan
3. Mahasiswa dapat mempraktekkan keterampilan mendengarkan aktif.
4. Mahasiswa dapat mempraktekkan keterampilan empati.
5. Mahasiswa dapat mempraktekkan ketrampilan mengajukan
pertanyaan (terbuka, tertutup dan mengarahkan).
6. Mahasiswa dapat mempraktekkan ketrampilan mendengarkan aktif.
7. Mahasiswa dapat mempraktekkan menciptakan suasana nyaman.
8. Mahasiswa dapat mempraktekkan perilaku non verbal
9. Mahasiswa mampu mengadakan penyuluhan kepada masyarakat

KONSELING DALAM PSIKIATRI

Konseling merupakan suatu proses untuk membantu seseorang belajar


menyelesaikan permasalahan atau membuat keputusan dengan memahami
fakta-fakta dan emosi yang terlibat. Dalam hal ini peran konselor adalah
membantu klien. Konseling dapat dilakukan secara perorangan, pasangan
atau keluarga.

Tujuan Konseling
Konseling dapat membantu setiap individu untuk mampu berperan sendiri
dalam hidupnya, seperti:

24
 Merawat dan menjaga kesehatan jiwa seseorang
 Menyelesaikan masalah-masalah sehingga seseorang kembali dapat
meneruskan hidupnya (berfungsi) dengan lebih baik lagi.
 Menemukan berbagai cara / teknik untuk menyelesaikan masalah
 Memberikan kemampuan untuk dapat memahami sesuatu (insight) dan
pemahaman diri yang memungkinkan seseorang menemukan jalan keluar
bagi masalah yang dimilikinya serta mengaplikasikannya
 Membangun kemampuan dalam mengambil keputusan yang tepat dan
realistik.

Karakteristik Konseling
 Berfokus pada klien : spesifik terhadap kebutuhan, masalah dan
lingkungan dari masing-masing klien
 Proses timbal-balik, kerjasama, dan menghargai
 Berfokus pada tujuan
 Memperhatikan situasi interpersonal, sesuai sosial, budaya, agama dan
bahasa
 Mengajukan pertanyaan, menyediakan informasi, mengulas informasi, dan
mengembangkan rencana aksi.

Ketrampilan Dasar Konseling


Keterampilan konseling merupakan komponen komunikasi efektif yang
penting dalam rangka mengembangkan relasi suportif antara klien-konselor.
Karena ini merupakan dasar konseling maka setiap konselor perlu memiliki
dan mengembangkan keterampilan konseling dasar. Termasuk didalamnya:
 Mendengar dengan penuh perhatian dan empati
 Mengajukan pertanyaan
 Menciptakan suasana nyaman
 Perilaku non verbal

MENDENGARKAN DENGAN PENUH PERHATIAN:


Untuk dapat menjadi pendengar yang baik, dibutuhkan beberapa hal dibawah
ini:

25
 Kontak mata (disesuaikan dengan norma, budaya dan agama)
 Memberikan perhatian, misal dengan anggukan kepala
 Satu-dua kata penerimaan lanjutan, misal dengan “Mm-hmm”, “Ya”
 Kurangi hal-hal yang menarik perhatian, misal TV, telephone, bising
 Jangan melakukan kegiatan lain pada saat konseling.
 Kenali perasaan klien, misal dengan mengatakan “Nampaknya Anda
sedih”(refleksi perasaan)
 Jangan menginterupsi, jika tidak diperlukan
 Jika tidak mengerti, ajukan pertanyaan
 Jangan ambil alih pembicaraan dan menceritakan tentang diri anda sendiri
 Ulangi kembali pokok-pokok dalam diskusi secara ringkas dengan
menggunakan kata-kata konselor sendiri untuk menunjukkan bahwa
konselor mengerti apa yang dikatakan klien (paraphrasi, refleksikan
perasaan, klarifikasi, menyimpulkan)
“Anda mengatakan anda sangat khawatir ........”
“Dengan kata lain, anda merasa orang-orang tidak memperhatikan
anda ...”
“Anda merasa putus asa ....... karena semua orang menyalahkan anda .”
“Nampaknya anda marah ........ Apa yang telah terjadi? Apa yang anda
pikirkan?”
“ Saya merasa anda ......... karena .................... ?
“ Kalau tidak salah tangkap tadi anda mengatakan ............... ?
“Coba saya ulangi, barangkali saya salah pemahaman. Apakah
benar ..............?
“Saya dengan anda mengatakan .................”

Faktor penting dari keterampilan mendengar yang baik adalah kemampuan


konselor untuk berempati. Empati memungkinkan individu memahami diri
sendiri dari dunianya. Tunjukkan empati untuk membantu membina hubungan
baik dengan klien, memfasilitasi rasa aman, dan rasa percaya kepada
konselor serta lingkungannya.

26
EMPATI
Kualitas hubungan penting ini disampaikan dengan menggunakan
keterampilan mendengar yang diciptakan oleh konselor untuk membuat klien
merasa bahwa konselor memahami mereka secara mendalam dan akurat,
dimana konselor:
 Menempatkan dirinya pada posisi klien
 Memandang dan memahami dunia dari sudut pandang klien
 Konselor tetap memiliki jarak dengan klien, untuk menjaga agar konselor:
tetap berada pada posisinya sebagai konselor

Beberapa teknik penting dibawah ini dapat digunakan:


 Mengulangi frasa (paraphrasing) dengan kata sendiri, atau dengan apa
yang dikatakan klien sendiri. Menggunakan isi pembicaraan yang
disampaikan klien, namun diucapkan dengan kalimat konselor sendiri.
Melalui frasa akan membuat klien merasa konselor telah
mendengarkannya, dan membantu klien menceriterakan masalah /
situasinya dengan jelas.
Klien: “Saya merasa putus asa. Saya tidak bisa
melakukan pekerjaan rumah, mengasuh 2 orang anak saya.
Saya tidak dapat melakukan apa yang dulu dikerjakan
isteri saya.”

Konselor : “Anda merasa tidak mampu mengerjakan apa yang dulu tidak
pernah anda kerjakan ketika isteri anda masih hidup.”

 Merefleksikan perasaan : Hal ini sama dengan mengulangi frasa kecuali,


fokusnya pada ekspresi perasaan klien. Refleksi emosi dapat membantu
klien untuk menjadi sadar bagaimana perasaan mereka, dan untuk
menggali reaksi mereka terhadap berbagai peristiwa yang diceritakannya.
Klien : “ Saya tidak tahu apa yang akan dilakukan,
semua sudah hancur. Saya tinggal sebatang kara, suami,
anak-anak dan saudara saya meninggal semua. Saya merasa
bersalah, saya tidak bisa menolong anak-anak saya

27
ketika bencana itu datang. Mengapa semua ini terjadi
pada saya, lebih baik saya mati saja?”

Konselor :”Anda kelihatannya merasa sangat putus asa saat ini?”

 Mengajukan Pertanyaan
Mengajukan pertanyaan adalah bagian penting dalam konseling. Hal ini
dapat membantu konselor mengerti situasi klien dan menilai kondisi klinis
terkait.
Ketika bertanya:
- Tanyakan hanya satu pertanyaan pada satu waktu
- Pandanglah klien
- Singkat dan jelas
- Gunakan pertanyaan yang bertujuan
- Gunakan pertanyaan untuk membantu klien berbicara tentang
perasaan dan perilakunya
- Gunakan pertanyaan untuk menggali dan memahami masalah dan
meningkatkan kesadaran.
- Jangan mengajukan pertanyaan hanya untuk memenuhi keingintahuan
konselor, pertanyaan tidak relevan, membuat klien enggan menjawab
atau merasa didesak. Bila demikian terjadi pemborosan waktu untuk
bertanya dan membuat lupa untuk menjadi pendengar aktif.
Pertanyaan yang terlalu banyak akan membuat orang seperti
diinterogasi.

 Menciptakan suasana hening dan nyaman


- Memberi waktu pada klien untuk berpikir tentang apa yang akan
dikatakan
- Memberi kesempatan pada klien untuk dapat merasakan perasaannya
sendiri
- Memberi kesempatan pada klien berbicara sesuai iramanya
- Memberi waktu pada klien untuk mengatasi ambivalensi antara ingin
mengatakan perasaannya atau tidak pada konselor

28
- Memberikan kebebasan pada klien memilih untuk melanjutkan atau
menghentikan proses konseling.

 Perilaku non-verbal
Klien mengetahui bahwa dirinya dipahami dari sikap dan perilaku konselor,
misalnya:
- Dari apa yang dikatakan
- Cara berbicara
- Bahasa tubuh dan perilaku non verbal

Komunikasi non verbal


Bahasa tubuh
 Gerakan tubuh
 Ekspresi wajah
 Postur
 Orientasi tubuh
 Kedekatan tubuh/jarak
 Kontak mata
 Menjadi cermin
 Menghilangkan jarak/pembatas (misal:kursi)
 Hembusan nafas
 Bersungut-sungut
 Berkeluh kesah
 Perubahan tinggi nada
 Perubahan keras suara
 Kelancaran suara
 Senyum yang dipaksakan

Perilaku Suportif

VERBAL NON-VERBAL
Gunakan bahasa yang dipahami klien Nada suara sesuai dengan klien
Ulangi cerita pasien dengan kata-kata lain Tatap mata klien (jika sesuai norma,
budaya dan agama)
Klarifikasi pertanyaan klien Mengangguk

29
Katakan dengan jelas dan cukup Gunakan ekspresi wajah
Kesimpulan Gunakan gerakan tubuh yang sesuai
Merespon atas pesan utama Jaga jarak nyaman
Buat satu-dua kata penerimaan yang Irama bicara yang tepat
mendukung: “ya”, “Mmm”,
Tanggapan sesuai usia klien Tubuh santai
Berikan informasi yang diperlukan Sikap tubuh terbuka

SKENARIO
Ny. P, 47 tahun, pendidikan S1 fakultas ekonomi jurusan manajemen.
Sebelum menikah pasien bekerja sebagai guru honorer, namun setelah
menikah pasien dilarang oleh suaminya untuk bekerja lagi. Sebenarnya
pasien merasa terpaksa untuk meninggalkan pekerjaannya dan menjadi ibu
rumah tangga saja, karena ia merasa sudah sekolah tinggi-tinggi, mengapa
hanya untuk di rumah saja. Di samping itu uang untuk biaya sekolah sebagian
merupakan jerih payahnya bekerja saat kuliah. Pada akhir tahun 1997, pasien
mendapat informasi adanya pendaftaran tes PNS, kemudian ia mencoba
untuk mendaftar dan mendapatkan tawaran masuk PNS dengan cara
membayar sejumlah uang kepada seseorang. Ternyata setelah pengumuman,
ia tidak diterima menjadi PNS, dan saat ia menemui orang yang berjanji akan
meluluskannya tetapi orang tersebut tidak mau mengembalikan uangnya.

Hal ini membuat pasien menjadi berpikir terus dan emosinya menjadi labil dan
sering terbangun pada malam hari. Pasien terlihat seperti orang bingung,
sebagian besar waktunya dihabiskan dngan melamun, komunikasi dengan
tetangga dan keluarganya tidak pernah dilakukan lagi. Melihat keadaan
pasien seperti tersebut di atas, suaminya membawa pasien ke RSJ.

Pertengahan tahun 2003 suami pasien menceraikan pasien dengan alasan


sudah tidak tahan lagi hidup dengan pasien yang berkali-kali mengalami
serangan dan dirawat di rumah sakit jiwa. Sebelum bercerai, pasien
memohom kepada suaminya untuk tidak menceraikannya. Ia rela dimadu
asalkan tidak dicerai, tetapi suaminya tetap menceraikannya. Setelah bercerai
hak asuh anaknya pun jatuh ke tangan suaminya.

30
Pada awal tahun 2004, pasien mengeluh nyeri pada perut bagian bawahnya
dan menstruasinya terganggu. Menurut keterangan pasien keluhan ini
dirasakan sudah cukup lama, tetapi pasien tidak menghiraukannya karena ia
terlarut dalam masalah rumah tangganya. Akhirnya keluarganya membawa
pasien periksa ke dokter kandungan dan ternyata pasien menderita kanker
kandungan. Lalu pasien dianjurkan untuk menjalani operasi pengangkatan
rahim.

Beberapa bulan setelah operasi, pasien masih belum dapat menerima


keadannya, ia merasa terpuruk akan penyakitnya dan operasi pengangkatan
rahimnya. Pasien kembali menjadi sulit tidur, tidak mau makan, tidak mau
mandi, bingung, merasa ketakutan dan ia mendengar bisikan-bisikan yang
menyuruhnya untuk bunuh diri. Ia tersiksa dengan suara tersebut, ia
membatasi diri untuk berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya.

Check list konseling Psikiatri

Skor
NO MATERI
0 1 2
1. Menyampaikan salam
2. Memperkenalkan diri
3. Menciptakan suasana nyaman dan
membina sambung rasa
4. Membangun kepercayaan
5. Mengajukan pertanyaan (menggali permasalahan klien)
a. Pertanyaan tertutup
b. Pertanyaan terbuka
c. Pertanyaan mengarahkan
6. Empati
7. Mendengarkan aktif
8. Bahasa verbal
9. Bahasa non verbal
10. Mendorong klien memahami permasalahan dan potensi
dirinya
11. Membantu klien memilih alternatif pemecahan masalah
serta memotivasi untuk tetap berusaha dan berdoa

31
12. Membuat rencana pertemuan selanjutnya serta
mendoakan pasien agar mendapatkan jalan keluar yang
terbaik

Keterangan :
0 : tidak dilakukan
1 : dilakukan tetapi kurang sempurna
2 : dilakukan dengan sempurna

32
Skill Lab 4

Penyuluhan NAPZA

Teori singkat penyuluhan

Penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan kesehatan, yang dilakukan


dengan menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga masyarakat
tidak hanya sadar, tahu dan mengerti, tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu
anjuran yang ada hubungannya dengan kesehatan (Azwar, 1983). Dengan
pengertian seperti ini, maka petugas kesehatan harus menguasai ilmu
komunikasi dan materi pesan yang akan disampaikan.

Untuk dapat penyuluhan dengan baik, ada baiknya dibuat perencanaan


penyuluhan yang dibuat berdasarkan:
- Masalah kesehatan yang akan ditanggulangi
- Program kesehatan yang akan ditunjang
- Daerah masyarakat yang akan menjadi sasaran
- Sarana yang diperlukan dan bisa dimanfaatkan

Langkah-langkah dalam perencanaan


a. Mengenal masalah, masyarakat, dan wilayah
Tindakan pertama yang penting adalah mengumpulkan data atau keterangan
tentang berbagai hal, yang diperlukan baik untuk kepentingan perencanaan,
maupun data awal sebagai pembanding. Pelajari masalah yang akan
disampaikan, program penunjangnya, apakah penyuluhan bisa berperan
dalam memecahkan masalah. Pelajari karateristik masyarakat yang akan

33
diberi penyuluhan misalnya tingkat pendidikan, sosial budaya dan status
ekonominya. Kita juga harus mengenal wilayah, misalnya curah hujan, batas
dengan desa lain, jarak ke rumah sakit, ketersediaan tenaga medis dan
sebagainya

b. Menentukan prioritas
Prioritas dalam penyuluhan harus sejalan dengan prioritas masalah yang
ditentukan oleh program yang ditunjang. Janganlah penyuluhan menentukan
prioritas sendiri, karena hal ini akan menyebabkan program berjalan sendiri-
sendiri. Misalkan di suatu daerah banyak terdapat kasus gizi buruk,
penyuluhan sebaiknya tentang pencegahan dan penanganan gizi buruk.

c. Menentukan tujuan penyuluhan


Tujuan ada jangka panjang dan jangka pendek. Tujuan jangka panjang
biasanya untuk merubah norma, perilaku, sikap masyarakat. Tujuan jangka
pendek biasanya menjangkau kelompok sasaran. Tujuan haruslah realistis,
jelas dan dapat diukur agar keberhasilan penyuluhan dapat dinilai.

d. Menentukan sasaran penyuluhan


Sasaran tidaklah sama pada setiap penyuluhan. Dalam penyuluhan sasaran
adalah kelompok sasaran, yaitu kelompok atau individu yang akan diberi
penyuluhan. Menentukan kelompok sasaran menyangkut soal strategi.
Misalnya, sasarannya adalah menurunkan angka kematian ibu. Sasarannya
tidak hanya ibu-ibu dalam usia reproduksi, tapi juga orang-orang yang
berpengaruh dalam mengambil keputusan, misalnya suami.

e. Menentukan isi penyuluhan


Isi penyuluhan harus memuat apa untungnya jika pesan penyuluhan
disampaikan, dan kerugiannya. Pesan harus disampaikan dalam bahasa
yang jelas, tidak menggunakan kata-kata asing termasuk istilah kedokteran.

34
f. Menentukan metode penyuluhan yang akan dipergunakan
Metoda atau cara penyuluhan dipilih berdasarkan tujuan penyuluhan, apakah
pengertian, keterampilan atau tindakan. Kalau tujuan berupa pengertian,
maka penyuluhan cukup dengan tertulis atau diucapkan. Kalau untuk
mengembangkan sikap positif, peserta harus menyaksikan kejadian tersebut,
misalnya melalui foto. Untuk menumbuhkan simpati kepada korban bencana
alam perlu ditampilkan gambar/rekaman mengenai keadaan korban. Untuk
mengembangkan keterampilan, sasaran harus diberi kesempatan mencoba
sendiri.

g. Memilih alat-alat peraga atau media penyuluhan yang dibutuhkan.


Bisa digunakan alat bantu seperti leaflet, poster dan sebagainya.

h. Menyusun rencana penilaiannya.


Tentukan keberhasilan penyuluhan dengan evaluasi:
- Kapan, di daerah mana, dan kelompok sasaran.
- Indikator yang digunakan
- Apakah tujuan penyuluhan sudah sejalan dengan tujuan program
- Kegiatan penyuluhan mana yang akan dievaluasi
- Metode apa yang akan digunakan untuk evaluasi tersebut
- Siapa yang akan melaksanakan evaluasi
- Sarana yang diperlukan untuk evaluasi
- Adakah tenaga yang membantu evaluasi
- Rencana untuk memberikan umpan balik hasil evaluasi kepada pihak
terkait.

Sasaran pembelajaran utama :


- Mahasiswa mampu memberikan penyuluhan kepada masyarakat

Sasaran pembelajaran tambahan:


Setelah mengikuti skill lab penyuluhan, diharapkan mahasiswa:

35
- Mahasiswa mampu melakukan komunikasi yang efektif
- Mahasiswa mampu menerapkan prinsip dasar komunikasi
- Mahasiswa mampu menjelaskan jenis NAPZA pada masyarakat
- Mahasiswa mampu menjelaskan bahaya NAPZA pada masyarakat

Nilai
No Kegiatan
0 1 2 3 4
1 Mengucapkan salam kepada masyarakat
2 Memperkenalkan diri
3 Menyampaikan tujuan penyuluhan
4 Kesiapan materi
5 Alat peraga
6 Berdiri tegak
7 Kontak mata
8 Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti/tidak
menggunakan istilah medis
9 Memberi kesempatan untuk tanya jawab
10 Memberikan kesimpulan
11 Salam/ penutup
TOTAL 22

Keterangan :
0 : tidak dilakukan
1 : dilakukan tetapi kurang sempurna
2 : dilakukan dengan sempurna

36