Anda di halaman 1dari 3

Nama saya Iswanto,lahir di Madiun, 04 Februari 1975,harinya sabtu Pon,tepatmya jam 06

pagi saat matahari terbit, ibuku melahirkan dibantu oleh seorang dukun bayi bernama Mbah
Hirkami, kalo di daerah kami bayi yg lahir pada pagi hari disebut julung kembang, kalo yang lahir
pada sore atau matahari terbenam disebut julung caplok.
Julung kembang kata orang-orang tua suatu saat nanti atau di mana-mana akan disukai orang karena
bau kembang, padahal kenyataannya bau keringet….asem.

Ithik nama panggilan kecilku, hidup di dusun Bakalan, desa Wayut, kecamatan Jiwan,
Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Daerahku pedesaan yang penghidupannya dari bertani padi dan
kedelai.
Dalam 1 tahun biasanya panen 3 kali, 2 kali ditanam padi, 1 kali pada musim kemarau ditanami
palawija yaitu kedelai.

Saya sekolah TK pada umur 5 tahun 5 bulan, kemudian masuk SD pada umur 6 tahun 5
bulan, SDN 04 Wayut, Jiwan, Madiun.Jaman saya sekolah tidak semua pake sepatu, bahkan teman-
teman banyak banget yang pake sandal jepit bahkan nyeker.mereka punya sepatu tapi lebih banyak
dipakai saat di dalam sekolahan saja, kalo kami berangkat sama pulang sekolah sepatunya di tenteng
karena panas katanya lebih nyaman pada nyeker, singkat cerita saya lulus SD pada tahun 1987,
dapet Nilai Ebtanas Murni (NEM) dengan nilai tertinggi di sekolah kami 37,98. Kalo ditingkat desa
NEM saya termasuk kecil karena 1 desa Wayut ada 4 SD, sedang SD 04 tempat saya sekolah
termasuk paling rendah tingkat pendidikanya.

Saya lanjut sekolah ke SMP, kebetulan di desa saya baru berdiri sekolahan SMP Negeri,
daftarlah saya ke SMP tersebut dan diterima, alangkah bangganya waktu itu karena sudah tidak
memakai celana merah sudah naik tingkat memakai celana warna biru.sangat bersemangatlah
menjadi murid SMP karena banyak teman-teman dari desa lain.
Singkat cerita lagi lulus SMP pada tahun 1990. Bingung mau lanjut sekolah kemana STM, SMEA, atau
SMA. Setelah Tanya-tanya dan berdiskusi dengan orang tua dan saudara-saudara akhirnya
memutuskan lanjut ke STM. Sayang mau daftar ke STM negeri sudah tutup karena kelamaan
mengambil keputusan antara lanjut sekolah atau pengen bekerja.
Daftarlah ke sekolah swasta, STM Taman Siswa Madiun. Diterima dan mulai sekolah. Di STM lebih
banyak lagi mengenal teman-teman baru, bukan Cuma lain desa lagi bahkan lain kecamatan dan juga
ada yang dari Kabupaten lain. Ambil jurusan Mesin Tenaga, padahal juga tidak tahu mesin tenaga itu
apa. Ternyata mesin tenaga itu mesin bubut, urusannya sama besi.kelas 1 STM saya dan teman-
teman bisa membuat palu dan tang, yang kami kerjakan dengan cara manual yaitu pakai gergaji besi,
kikir, sigmad atau jangka sorong. Kelas 2 mulai kerja praktek menggunakan mesin bubut,
menghasilkan baut-bat dan mur-mur berbagai ukuran. Di kelas 2 juga saya bersama 10 orang kerja
praktek lapangan di bengkel mobil. Tiga saudara nama bengkel mobil tersebut dan mendapat
beberapa pengalaman yang baru. Banyak pengalaman baru saat PKL karena berhubungan langsung
dengan Bapak-bapak montir yang rata-rata sudah tua, usia nya diatas 50 tahun. Kami membantu
buka mesin mobil, ganti oli mobil dan juga cuci mobil. Naik kelas 3 mulai belajar lebih serius untuk
mendapatkan nilai hasil akhir yang harus bagus. Singkatnya saya lulus STM pada tahun 1993.

Lulus STM bingung mau kemana, kerja apa?


ngelamar kerjaan di pabrik gula Redjo Agung tapi tidak ada panggilan, ngelamar kerja di INKA
(Industri kereta Api) Madiun tidak ada panggilan. Akhirnya merantau ke Surabaya bersama teman
dan juga tetangga. Kerja sebagai kuli bangunan di sebuah pembangunan gedung, Hotel Sangrila
Surabaya.
Jadilah kerja di Surabaya, tapi hanya bertahan sekitar 1,5 bulan saja.karena panas sekali kota
Surabaya, sudah begitu saya juga tidak ada Family di Surabaya, sehingga membuat saya semakin
tidak betah kerja di sana. Pulanglah ke Madiun lagi, jadi pengangguran, siang tidur malem
nongkrong,bergadang.
Setelah lama menganggur, pengen mencari kerja di daerah Madiun, tiap hari keliling Tanya
lowongan sana-sini akhirnya tidak dapat juga.

Akhirnya berangkat ke Jakarta, bulan Agustus 1993, naik kereta Mataremaja berangkat jam 2
siang, ongkosnya Rp.8500,- ijak ijuk ijak ijuk kereta berangkat, penumpang penuh, pedagang
mondar mandir kaya gosokan. Pengen tidur enggak bisa, panas pedagang hiruk pikuk kaya suasana
di pasar tradisional, sampailah Jakarta di Stasiun pasar Senen. Kumuh sekali,panas sekali banyak
pengamen di Stasiun, tambah toiletnya bau, inikah Jakarta yng kata orang kota Metropolitan, naik
metro mini warna orange jurusan pasar Senen blok M, ongkosnya Rp.300,- turun di halte Bendungan
hilir, kemudian jalan kaki nyebrang lewat jembatan sampailah di pasar Benhil,lanjut naik Bemo
warna biru muda arah Tanah Abang, turun di Rumah Sakit Mintoharjo,lalu nyebrang ke gang Mas, di
gang Mas inilah saya tinggal bersama kakak laki-laki saya.
Esok paginya di ajaklah saya kerja oleh kakak saya, sebagai tukang Gipsum sebutannya.
Sedangkan yang kita kerjakan adalah pasang plapon dan pasang dinding partisi mmenggunakan
rangkanya hollow dan papan gypsum sebagai dinding dan plat untuk plafonnya.
Kami bekerja cukup jauh dari gang Mas Benhil tempat kami tinggal menuju kalimalang Bekasi. Bank
Muamalat yang kami kerjakan. Sekitar satu setengah bulan kami mondar mandir Benhil kalimalang,
akhirnya proyeknya selesai.
kemudian pindah ke daerah BSD Serpong Tangerang, sama kami mengerjakan Bank Muamalat di
sana.Cukup sepi pada waktu itu tahun 1993 di daerah BSD Serpong, baru ada bangunan sedikit,
mobil transportasi umum masih jarang, tukang jual makanan juga sangat jauh dari proyek kami.
Susah sekali mau beli makanan.
Akhirnya kami mengerjakan proyek di BSD Serpong sekitar 2 bulan dan terus ber pindah-pindah dari
proyek 1 ke proyek 1 nya lagi. Rata-rata 2 bulan durasi setiap proyeknya.
Berlanjut sampai tahun 1995 bekerja sebagai tukang gypsum menurut saya tidak banyak kemajuan
yg saya dapat baik dari segi finansial maupun masa depan yang lebih baik, Akhirnya beralih profesi
sebagai Tarsan kota atau sebagai kenek Bus. Bus Mayasari Bakti, jurusan terminal Kampung
Rambutan ke terminal Tanjung priok.
Mulailah dengan kehidupan baru sebagai kenek Bus,ternyata lebih bagus dari segi
penghasilan, kalau biasanya kerja di proyek berpenghasilan Rp.10.000,- ditambah lembur 2 jam
Rp.3000,-/ harinya, kalo sebagai kenek bisa mendapatkan Rp.30.000,-/hari. Namun dari segi waktu
benar-benar terkuras, karena harus berangkat pagi-pagi sekali yaitu jam 03.00 dan pulangnya
sampai jam 22.00 minimal. Badan kurus kering, wajah kusut penuh debu, baju dekil itulah gambaran
bekerja sebagai Tarsan kota.
Bekerja berangkat sebelum subuh pulangnya orang sudah pada tidur, hampir satu tahun
kerja di jalanan banyak sekali suka dukanya, contohnya mobil mogok di jalan tol, kaca mobil pada
pecah karena yang naik di dalam bus anak sekolah STM dari Rawa Mangun berantem dengan anak
STM dari Cililitan, kalo jam 14.00 biasanya anak-anak sekolah STM pada naik bus tapi nggak mau
bayar saat ditagih malah ngajak berantem keneknya, ada orang belum bayar tapi malah minta
kembalian, pokoknya macam-macamlah. Tetep saya jalani dengan senang hati. Alih-alih setelah lama
sebagai kenek pengen juga kerja yang lain. Kemudian tanya sana sini cari lowongan kerja, akhirnya
ketemu juga pekerjaan sebagai security di proyek, tapi ada syaratnya yaitu harus punya sertifikat
garda pratama.
Dengan bantuan kenalan teman akhirnya bisa ikut pendidikan security di Brimob kelapa 2 Depok.
Pendidikan 2 Minggu selesai. Cukup melelahkan saat pendidikan, lari pagi, lari siang, lari malem
sebelum makn, push up, PBB, direndam di kolam jam 02 pagi dan lain-lain. Alhamdulillah lulus dan
mendapat sertifikat Garda Pratama sebagai bekal untuk melamar pekerjaan sebagai Security.
Melamar di perusahaan kontraktor PT.Total Bangun Persada dan di terima, kemudian ditempatkan
di proyek Graha Inti Fauzi di Daerah Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Pada tanggal 25 April
2007.
Semangat baru sebagai petugas keamanan, harus bersikap sopan,tegas dan selalu senyum, saat
menegur orang. Selalu waspada dan harus mentaati SOP sebagai seorang Security.