Anda di halaman 1dari 44

F1.

UPAYA PROMOSI KESEHATAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

1.1 Kegiatan
 Topik : Pentingnya Skrinning Pada Lansia

 Bentuk Kegiatan : Penyuluhan

1.2 Perencanaan dan Pemilihan Intervensi

Kegiatan penyuluhan ini ditujukan kepada peserta di Puskesmas Pasundan Kota


Samarinda. Pada penyuluhan ini menggunakan presentasi sebagai media informasi kepada
peserta penyuluhan. Isi dari materi berupa pengenalan arti skrining ,element yang diperiksa,
kapan waktu yang tepat,berapa kali dalam setahun,. Narasumber adalah dr. Nico Michael
Muliawan, dokter internship yang bertugas di Puskesmas Pasundan Kota Samarinda.

1.3 Pelaksanaan

Nama Peserta dr. Nico Michael Muliawan TTd.

Nama Wahana Puskesmas Pasundan

Tema Penyuluhan Pentingnya Skrining Pada Lansia

Mengupayakan masyarakat, yang berusia 50 tahun ke atas dan yang


juga masih dalam usia produktif
Tujuan Penyuluhan
berupa pengenalan arti skrining ,element yang diperiksa, kapan waktu
yang tepat,berapa kali dalam setahun

1
Hari/ Tanggal Senin,24 Juli 2019

Waktu 07.30-08.00

Tempat Puskesmas Pasundan

Jumlah Peserta ± 30 orang

1.4 Monitoring dan Evaluasi

Setelah kegiatan penyuluhan diadakan sesi tanya jawab dengan peserta penyuluhan.
Terdapat beberapa pertanyaan mengenai kapan dirujuk jika mengalami gangguan,kapan harus
kontrol, kapan dosis dinaikan atau diturunkan. Narasumber memberikan beberapa pertanyaan
mengenai gejala penyakit kolesterol dan asam urat dan 80% peserta penyuluhan dapat
menjawab dengan benar. Demikian kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai upaya promosi
kesehatan dan pemberdayaan masyarakat.

Pendamping,

Samarinda, Senin 26 Agustus 2019

Peserta

dr. Nico Michael


dr. Deni Wardani Muliawan

NIP. 198310062011011001

2
Monitoring dan evaluasi dari pendamping:

Dokumentasi Penyuluhan Tentang Pentingnya Skrinning

F2. UPAYA KESEHATAN LINGKUNGAN

2.1 Kegiatan

 Topik : Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

3
 Bentuk Kegiatan : Penyuluhan

2.2 Perencanaan dan Pemilihan Intervensi

Upaya kesehatan lingkungan dilakukan di TLI, kecamatan Samarinda Ulu, Kota Samarinda
tepatnya di Balai Desa Teluk Lerong. Kegiatan ini dilakukan dr. Nico Michael Muliawan,
dokter internship Puskesmas Pasundan. Pada kegiatan ini menggunakan presentasi sebagai
media informasi dan peserta juga dibagikan booklet yang berisi mengenai materi Jumantik. Isi
dari materi dari materi berupa pengenalan definisi, tujuan, dampak dan manfaat dari Jumantik.

2.3 Pelaksanaan

dr. Nico Michael


Nama Peserta Muliawan TTd.

Nama Wahana Puskesmas Pasundan

Tema Kegiatan Jumantik

Mengupayakan agar masyarakat mengetahui definisi


dan tujuan PHBS sehingga hal ini dapat berguna sebagai
Tujuan Penyuluhan langkah dalam upaya pencegahan penyakit

Hari / tanggal Rabu, 7 Agustus 2019

Waktu Pukul 08.30 - selesai

Tempat dan Jumlah Peserta Balai Desa Teluk Lerong  ± 15 orang

4
2.4 Monitoring dan Evaluasi

Sebelum penyuluhan diadakan pre-test dan setelah kegiatan penyuluhan diadakan sesi
Tanya jawab dengan pesserta penyuluhan dan post-test. Terdapat beberapa pertanyaan antara
lain apa itu 3M,kapan dilakukan jumantik,kapan harus lapor k puskesmas jika terdapat
peningkatan kejadian. Demikian kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai upaya kesehatan
lingkungan

Samarinda, Senin 26 Agustus 2019


Pendamping,
Peserta

dr. Nico Michael


dr. Deni Wardani Muliawan

NIP. 198310062011011001

Monitoring dan evaluasi dari pendamping:

5
Dokumentasi Kegiatan PSN

6
F3. UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA) SERTA KELUARGA
BERENCANA

3. Kegiatan
 Topik : Senam Ibu Hamil

 Bentuk Kegiatan : Penyuluhan dan Pelatihan Senam

3.2 Perencanaan dan Pemilihan Intervensi

Senam Ibu Hamil dilakukan di Puskesmas Pasundan Kota Samarinda oleh dr. Nico
Michael Muliawan, dokter internship Puskesmas Pasundan. Senam ditujukan kepada ibu-ibu
hamil yang datang ke poli kandungan Puskesmas Pasundan dan yang mendapat undangan Pada
ANC terpadu dilakukan pemeriksaan klinis dan laboratorium berupa Hb, urin lengkap, dan VCT
serta IMS. Program ANC terpadu ini diharapkan dapat mendeteksi dini resiko-resiko kehamilan
tinggi dan mencegah terjadinya kematian ibu dan bayi. Setelah dilakukan pemeriksaan, ibu
hamil juga akan diberikan untuk memberikan pertanyaan apabila ada informasi yang belum
jelas tentang informasi yang telah diberikan. Kegiatan juga dilakukan di puskesmas pasundan
namun pada waktu yang berbeda yaitu mengenai pentingnya pemeriksaan ANC pada kehamilan
dan juga perencanaan untuk jarak kehamilan berikutnya.

3.3 Pelaksanaan

Nama Peserta dr. Nico Michael Muliawa TTd.

Nama Wahana Puskesmas Pasundan

Tema Penyuluhan Senam Ibu Hamil

Tujuan Penyuluhan Senam Ibu Hamil bertujuan mengurangi rasa nyeri saat kehamilan

Serta meningkatkan kesadaran ibu hamil

terhadap kehamilannya, ibu hamil tahu kapan akan melahirkan,

kondisi janin dan tanda bahaya dalam kehamilannya.

7
Hari/ Tanggal Kamis dan Jumat, 14 dan 15 Maret 2019

Waktu 08.00-11.00

Tempat

± 2 orang di poli kandungan Puskesmas


Pasundan,4 orang mahasiswa yang
sedang belajar dan dr.Nico Michael
Muliawan di Puskesmas Pasundan
mengenai pentingnya pemeriksaan ANC
pada kehamilan untuk mengetahui adanya
indikasi kehamilan risiko tinggi, juga
perencanaan program KB dan pelatihan
senam ibu hamil.
Jumlah Peserta

8
3. 4 Monitoring dan Evaluasi

Demikian tindakan pelayanan tersebut dilaksanakan sebagai upaya kesehatan ibu dan
anak (KIA) serta keluarga berencana.

Samarinda, Senin 26 Agustus 2019


Pendamping,
Peserta.

dr. Nico Michael


dr. Deni Wardani Muliawan

NIP. 198310062011011001

Monitoring dan evaluasi dari pendamping:

9
Dokumentasi Penyuluhan Posyandu Balita dengan Senam Ibu Hamil

10
F4.UPAYA PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT
4.1 Kegiatan
 Topik : Pemberian Vitamin A

 Bentuk Kegiatan : Pengukuran berat badan, tinggi badan, pengisian KMS,


dan pemberian vitamin A

4.2 Perencanaan dan Pemilihan Intervensi

Penilaian Status Gizi Balita pada Balita dimulai dengan perkenalan kepada orangtua,
menanyakan kepada orang tua identitas anak dan meminta Kartu Menuju Sehat (KMS),
melakukan penimbangan berat badan dan pengukuran panjang badan balita, menuliskan
hasil penimbangan dan pengukuran dalam KMS, melakukan interpretasi dan
menjelaskan kondisi anak ke Orangtua serta memberikan edukasi kepada orangtua
balita dan pemberian vitamin A. Kegiatan ini berjalan lancar, orang tua mengerti status
gizi anaknya dengan baik. Para orang tua diberi pengetahuan yang cukup mengenai
pentingnya melakukan penimbangan balita, pengisian KMS di posyandu dan manfaat
pemberian vitamin A.

4.3 Pelaksanaan

Nama Peserta dr. Nico Michael Muliawan TTd.

Nama Wahana Puskesmas Pasundan

Tema Kegiatan Penilaian Status Gizi Balita Posyandu Kenanga dan Tanjung

Tujuan Kegiatan 1. Untuk memantau pertumbuhan anak

2. Konseling mengenai status gizi anak

3. Edukasi pentingnya menilai status gizi anak dan kegiatan

Posyandu

4. Pemberian Vitamin A

11
Hari / tanggal Sabtu , 3 Agustus 2019

Waktu 08.30 – selesai

Tempat Posyandu Kelapa Hibrida

Jumlah Peserta ± 15 Balita beserta orang tua

4.5 Monitoring dan Evaluasi

Dari kegiatan posyandu didapatkan 14 orang gizi baik dan 1 orang T1. Orang tua balita
dengan T1 diberi edukasi mengenai peningkatan asupan gizi agar berat badan anak naik dengan
diet tinggi kalori dan tinggi protein. Dilakukan pemberian makanan tambahan dan pembagian
vitamin B kompleks pada seluruh balita yang datang di posyandu. Demikian kegiatan tersebut
dilaksanakan sebagai upaya perbaikan gizi masyarakat

Samarinda, Senin 26 Agustus 2019

Peserta

Pendamping,

dr. Nico Michael


dr. Deni Wardani Muliawan

NIP. 198310062011011001

12
Monitoring dan evaluasi dari pendamping:

Dokumentasi Posyandu Kenanga dan Tanjung

13
F5. PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT
MENULAR DAN TIDAK MENULAR

5.1 Kegiatan
 Topik : Hipertensi

 Bentuk Kegiatan : Pertemuan dan Penyuluhan di Posyandu Abadi Puskesmas


Pasundan

5.2 Perencanaan dan Pemilihan Intervensi

Kegiatan pertemuan ini ditujukan kepada posyandu lansia abadi kelurahan jawa. Pada
pertemuan ini. Pada pertemuan ini diadakan penyuluhan menggunakan media presentasi
sebagai sumber informasi dan juga menggunakan booklet yang dibagikan ke masing-
masing peserta penyuluhan yang dilakukan oleh dr. Nico Michael Muliawan, dokter
internsip Puskesmas Pasundan. Peserta penyuluhan diberikan penjelasan mengenai
pengertian, tanda dan gejala, faktor risiko, komplikasi, penanganan serta upaya
pencegahan hipertensi oleh narasumber. Setelah narasumber selesai menjelaskan,
peserta penyuluhan diberikan waktu untuk bertanya kepada narasumber.

5.3 Pelaksanaan

Nama Peserta dr. Nico Michael Muliawan TTd.

Nama Wahana Puskesmas Pasundan

Tema Kegiatan Hipertensi

Meningkatkan pemahaman peserta penyuluhan dalam hal ini posyandu


abadi terhadap hipertensi dan juga memberikan pemahaman kepada
peserta untuk memulai pola hidup sehat yang tepat untuk penderita
hipertensi sehingga diharapkan dapat menurunkan angka morbiditas
dan mortalitas
Tujuan Penyuluhan

14
Hari/ Tanggal Sabtu, 20 Juli 2019

23

15
Waktu 09.00-selesai

Tempat Posyandu Cempaka RT 30 dan RT 31

Jumlah Peserta ± 30 orang

5.4 Monitoring dan Evaluasi

Pada proses pelaksanaan peserta cukup aktif mengajukan pertanyaan seputar hipertensi
kepada narasumber, hal ini menunjukkan kepedulian peserta terhadap status kesehatan
cukup baik. Kemudian di akhir sesi narasumber juga mengajukan beberapa pertanyaan
kepada peserta mengenai topic yang telah diberikan dan lebih dari 70 % peserta dapat
menjawab pertanyaan yang diberikan. Harapannya agar kegiatan ini dapat dilakukan
secara rutin setiap bulannya dengan metode dan topik yang lebih bervariasi agar peserta
tidak jenuh ataupun bosan.

Pendamping Samarinda, Senin 26 Agustus 2019

Peserta

dr. Nico Michael


dr. Deni Wardani Muliawan

NIP. 198310062011011001

Monitoring dan evaluasi dari pendamping:

16
Foto Penyuluhan Hipertensi

17
LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT

Laporan F6. Upaya Pengobatan Dasar

Topik : Campak (Morbili)

Diajukan dalam rangka praktek klinis Dokter Internsip sekaligus sebagai bagian dari persyaratan
menyelesaikan Program Internsip Dokter Indonesia di Puskesmas Pasundan Samarinda

Disusun oleh :

dr. Nico Michael Muliawan

Program Dokter Internsip Indonesia

Samarinda

Kalimantan Timur

2019

18
HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN KEGIATAN INTERNSIP LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT


LAPORAN F6. UPAYA PENGOBATAN DASAR

TOPIK : CAMPAK (MORBILI)

Diajukan dalam rangka praktek klinis Dokter Internsip sekaligus sebagai bagian dari persyaratan
menyelesaikan Program Internsip Dokter Indonesia di Puskesmas Pasundan Kota Samarinda.

Disusun Oleh:

dr. Nico Michael Muliawa

Telah diperiksa dan disetujui pada April 2019

Oleh:

Pendamping Dokter Internsip Puskesmas Pasundan

dr. Deni Wardani

NIP. 198310062011011001

19
F6. UPAYA PENGOBATAN DASAR

Topik : Campak (Morbili)

Bentuk Kegiatan : Laporan Kasus

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Penyakit Campak dikenal juga dengan istilah morbili dalam bahasa latin dan measles calam
bahasa Inggris. Campak, pada masa lalu dianggap sebagai suatu hal yang harus dialami oleh setiap
anak, mereka beranggapan, bahwa penyakit Campak dapat sembuh sendiri bila ruam sudah keluar,
sehingga anak yang sakit Campak tidak perlu diobati. Ada anggapan bahwa semakin banyak ruam
keluar semakin baik. Bahkan ada upaya dari masyarakat untuk mempercepat keluarnya ruam, dan
ada pula kepercayaan bahwa penyakit Campak akan berbahaya bila ruam tidak keluar pada kulit
sebab ruam akan muncul dirongga tubuh lain seperti dalam tenggorokan, paru-paru, perut atau
usus. Hal ini diyakini akan menyebabkan sesak napas atau diare yang dapat menyebabkan
kematian.1,2

Campak adalah infeksi akut yang disebabkan oleh virus Campak dan merupakan penyakit
yang sangat menular yang biasanya menyerang anak-anak. Penyakit ini ditandai dengan batuk,
koriza, deman dan ruam makulopapular yang timbul beberapa hari sesudah gejala awal. Campak
merupakan salah satu penyakit penyebab kematian tertinggi pada anak, sangat infeksius, dapat
menular sejak awal masa prodromal (4 hari sebelum muncul ruam) sampai lebih kurang 4 hari
setelah munculnya ruam. Campak timbul karena terpapar droplet yang mengandung virus campak.
Penyakit Campak adalah yang sangat potensial untuk menimbulkan wabah, penyakit ini dapat
dicegah dengan pemberian imunisasi Campak. Tanpa imunisasi, 90% dari mereka yang mencapai
usia 20 tahun pernah menderita Campak. Dengan cakupan Campak yang mencapai lebih dari 90%
dan merata sampai ke tingkat desa diharapkan jumlah kasus Campak akan menurun oleh karena
terbentuknya kekebalan kelompok (herd immunity).1,2

20
1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana definisi, etiologi, patofisiologi, penegakan diagnosis dan


penatalaksanaan morbili?

1.3 Tujuan

Memahami penegakan diagnosis klinis morbili berdasarkan anamnesis,


temuan klinis, serta pemeriksaan tambahan bila diperlukan .

1.4 Manfaat

1. Meningkatkan pengetahuan dokter dalam menegakkan diagnosis


morbili

2. Untuk meningkatkan pemahaman mengenai penatalaksanaan yang


yang tepat untuk morbili terutama pada tingkat layanan kesehatan
primer agar menurunkan risiko terjadinya komplikasi

21
BAB II

DATA PASIEN

2.1 Identitas Pasien

No Reg : 01.74/S/19

Nama : An. SMR

Umur : 11 Tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Alamat : Jl. Pasundan RT 27

Tanggal pemeriksaan : 20 Agustus 2019

2.2 Anamnesa

1. Keluhan Utama : Pasien datang dengan keluhan muncul bintik-bintik kemerahan


pada wajah dan badan sejak 3 hari sebelum datang ke Puskesmas Pasundan

2. Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien dibawa oleh ibu kandung ke Puskesmas


Pasundan Samarinda dengan keluhan muncul bintik-bintik kemerahan pada wajah dan badan
sejak 3 hari yang lalu. Awalnya bintik-bintik kemerahan muncul dibelakang telinga lalu
menjalar ke pipi dan bagian wajah kemudian ke leher dan badan. Bintik-bintik kemerahan
tersebut terasa sedikit panas dan gatal. Keluhan bintik-bintik kemerahan disertai dengan

22
mata merah. 3 hari sebelum muncul bintik-bintik kemerahan, ibu pasien mengaku bahwa
pasien mengalami demam dan batuk. Demam yang dialami pasien cukup tinggi dan langsung
turun saat ibu pasien memberikan obat penurun demam yaitu parasetamol sirup tetapi
demam akan muncul kembali. Batuk yang dialami pasien berupa batuk kering, tidak disertai
dengan sesak nafas dan tarikan dinding dada, dan tidak disertai dengan pilek. Nyeri
tenggorokan (-), nyeri dan pembengkakan sendi (-), pembengkakan kelenjar limfe belakang
telinga (-). Keluhan diare disangkal, keluhan telinga sakit dan keluar cairan dari telinga
disangkal, keluhan kejang disangkal. Riwayat penggunaan obat-obatan sebelumnya
disangkal. Tetangga pasien ada yang mengalami keluhan seperti yang dialami pasien.

3. Riwayat Penyakit Dahulu : Pasien tidak pernah mengalami penyakit yang sama
sebelumnya

4. Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada keluarga yang pernah mengalami penyakit
yang sama sebelumnya, tidak ada riwayat penyakit asma, dan tidak ada riwayat alergi

5. Riwayat Pengobatan: Pasien hanya meminum obat penurut demam yaitu


paracetamol sirup

6. Riwayat Keluarga &Lingkungan Sosial : Tetangga pasien ada yang mengalami


keluhan yang sama dengan pasien

Pasien anak kedua dari 2 bersaudara, ayah bekerja sebagai pekerja swasta, ibunya seorang ibu
rumah tangga.

2.3 Pemeriksaan Fisik

1. Keadaan umum : Tampak sakit ringan

Kesadaran : Compos mentis


2. Pengukuran Tanda Vital :

Nadi : 88x per menit, reguler, isi cukup


Suhu : 37,8°C
Respirasi : 28x/menit, reguler
BB : 13 kg
Status Gizi : Baik
3. Status Generalisata :

23
Kepala
Bentuk : Simetris, Normocephal
Mata : Sklera ikterik -/-, Konjungtiva hiperemis +/+
Telinga : Otorea -/-, Serumen prop +/+, Nyeri (-),
Pembesaran KGB retroaurikula (-)
Hidung : Sekret -/-, Epistaksis -/-
Mulut : Lidah kotor (-), Bercak koplik (-)
Leher : Tidak ada perbesaran KGB
Thoraks
Inspeksi : Simetris, Retraksi (-)
Palpasi : Krepitasi (-), Fremitus sama ka/ki
Perkusi : Sonor
Auskultasi : Vesikuler +/+, Rhonki -/-, Wheezing -/-
BJ I dan II regular, Gallop (-), Murmur (-)
Abdomen
Inspeksi : Datar, Sikatrik (-), Dilatasi vena(-)
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Palpasi : Soepel, Hepar lien tidak teraba
Perkusi : Timpani (+)
Ekstremitas : Akral hangat +/+, edema -/-, tampak rash eritomatosus di sekitar
leher tengkuk sebagian pipi, wajah hingga ke tangan dan badan

Riwayat Imunisasi

Hepatitis B (+)

BCG (+)

Polio (+)

DPT (+)

Campak (+) usia 9 bulan namun usia 2 tahun (-)

24
2.4 Diagnosis

Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik maka pasien ini didiagnosis banding
dengan morbili, rubella, rosella infantum, Scarlet Fever. Diagnosis lebih mengarah ke campak
(morbili). Berdasarkan temuan yang ditemukan melalui gejala klinis dan pemeriksaan fisik
diagnosis pasien lebih mengarah ke morbili.

2.5 Penatalaksanaan

Promotif :
- Makan secara teratur 3 kali sehari dengan menu makanan yang bervariasi.

- Mencuci tangan sebelum makan, setelah BAB, dan setelah bermain kotor.

- Menjaga kebersihan diri (personal hygiene).

Preventif :
- Menghindari kontak dengan penderita campak (jika anak menderita campak,
isolasi anak didalam ruangan/rumah agar tidak menularkan penyakit campak ke
anak yang lainnya)
- Mendapatkan vitamin A setiap bulan Februari dan bulan Agustus dengan dosis
sesuai usia anak (< 6 bulan : ½ kapsul biru (50.000 IU), 6 -11 bulan : kapsul
biru (100.000 IU), 12 – 59 bulan : kapsul merah (200.000 IU)
- Mendapatkan vaksinasi campak pada usia 9 bulan (pemberian pertama), 15
bulan (vaksin MMR/measles mumps rubela) atau 24 bulan (pemberian
ulangan), dan 6 tahun (pemberian ulangan saat anak kelas 1 SD dan dilakukan
saat BIAS/bulan imunisasi anak sekolah)

Kuratif :
Non Farmakologi :
- Makan secara teratur 3 kali sehari dengan menu makanan yang bervariasi.

- Mencuci tangan sebelum makan, setelah BAB, dan setelah bermain kotor.

- Menjaga kebersihan diri (personal hygiene).

- Minum air putih yang banyak.


25
- Tirah baring.

- Isolasi anak didalam ruangan/rumah agar tidak menularkan penyakit campak


ke anak yang lainnya.

Farmakologi :
- Vitamin A dosis 200.000 IU (kapsul merah) satu kali per hari selama 2 hari.

- Parasetamol syr (125 mg/5ml) 3 x Cth I

Terapi farmakologis ini dipilih menyesuaikan ketersediaan obat di Puskesmas


Pasundan Kota Samarinda.

2.6 Prognosis

- Ad Vitam : Bonam
- Ad Functionam : Bonam
- Ad Sanationam : Bonam

26
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Definisi Campak


Penyakit Campak dikenal juga dengan istilah morbili dalam bahasa latin dan measles calam
bahasa Inggris. Campak, pada masa lalu dianggap sebagai suatu hal yang harus dialami oleh setiap
anak, mereka beranggapan, bahwa penyakit Campak dapat sembuh sendiri bila ruam sudah keluar,
sehingga anak yang sakit Campak tidak perlu diobati. Ada anggapan bahwa semakin banyak ruam
keluar semakin baik. Bahkan ada upaya dari masyarakat untuk mempercepat keluarnya ruam, dan
ada pula kepercayaan bahwa penyakit Campak akan berbahaya bila ruam tidak keluar pada kulit
sebab ruam akan muncul dirongga tubuh lain seperti dalam tenggorokan, paru-paru, perut atau
usus. Hal ini diyakini akan menyebabkan sesak napas atau diare yang dapat menyebabkan
kematian.1,2

Campak adalah infeksi akut yang disebabkan oleh virus Campak dan merupakan penyakit
yang sangat menular yang biasanya menyerang anak-anak. Penyakit ini ditandai dengan batuk,
koriza, deman dan ruam makulopapular yang timbul beberapa hari sesudah gejala awal. Campak
merupakan salah satu penyakit penyebab kematian tertinggi pada anak, sangat infeksius, dapat
menular sejak awal masa prodromal (4 hari sebelum muncul ruam) sampai lebih kurang 4 hari
setelah munculnya ruam. Campak timbul karena terpapar droplet yang mengandung virus campak.
Penyakit Campak adalah yang sangat potensial untuk menimbulkan wabah, penyakit ini dapat
dicegah dengan pemberian imunisasi Campak. Tanpa imunisasi, 90% dari mereka yang mencapai
usia 20 tahun pernah menderita Campak. Dengan cakupan Campak yang mencapai lebih dari 90%
dan merata sampai ke tingkat desa diharapkan jumlah kasus Campak akan menurun oleh karena
terbentuknya kekebalan kelompok (herd immunity). 1,2

3.2 Penyebab Penyakit Campak


Penyakit Campak disebabkan oleh virus Campak yang termasuk golongan paramyxovirus.
Virus ini berbentuk bulat dengan tepi yang kasar dan beRgaris tengah 140 mm, dibungkus oleh
selubung luar yang terdiri dari lemak dan protein, didalamnya terdapat nukleokapsid yang bulat
lonjong terdiri dari bagian protein yang mengelilingi asam nukleat (RNA), merupakan sruktur

27
heliks nukleoprotein yang berada dari myxovirus. Selubung luar sering menunjukkan tonjolan
pendek, satu protein yang berada di selubung luar muncul sebagai hemaglutinin. 1,2

Gambar 3.1 Virus Campak

Virus campak terdiri dari 6 protein struktural, 3 tergabung dalam RNA yaitu nukleoprotein
(N), polymerase protein (P), dan large protein (L); 3 protein lainnya berhubungan dengan sampul
virus. Membran sampul terdiri dari M protein {glycosylated protein) yang berhubungan dengan
bagian dalam lipid bilayer dan 2 glikoprotein H dan F. Giikoprotein H menyebabkan adsorbsi virus
pada resptor host. CD46 yang merupakan complement regulatory protein dan tersebar !uas pada
jaringan primata bertindak sebagai resptor glikoprotein H. Glikoprotein F menyebabkan fusi virus
pada sel host, penetrasi virus dan hemolisis. Dalam kultur set virus campak mengakibatkan
cytopathic elect yang terdiri dari stellate cell dan mult/nucleated giant cells. 1,2

Virus Campak adalah organisme yang tidak memiliki daya tahan yang kuat, apabila berada
diluar tubuh manusia virus Campak akan mati. Pada temperatur kamar virus Campak kehilangan
60% sifat infektisitasnya selama 3 – 5 hari. Tanpa media protein virus Campak hanya dapat hidup
selama 2 minggu dan hancur oleh sinar ultraviolet. Virus Campak termasuk mikroorganisme yang
bersifat ether labile karena selubungnya terdiri dari lemak, pada suhu kamar dapat mati dalam 20%
ether selama 10 menit, dan 50% aseton dalam 30 menit. 1,2

Sebelum dilarutkan, vaksin Campak disimpan dalam keadaan kering dan beku, relatif stabil
dan dapat disimpan di freezer atau pada suhu lemari es (2-8°C; 35,6-46,4°F) secara aman selama
setahun atau lebih. Vaksin yang telah dipakai harus dibuang dan jangan dipakai ulang.1,2

28
3.3 Cara Penularan Penyakit Campak

Virus Campak ditularkan dari orang ke orang, manusia merupakan satu-satunya reservoir
penyakit Campak. Virus Campak berada disekret nasoparing dan di dalam darah minimal selama
masa tunas dan dalam waktu yang singkat setelah timbulnya ruam. Penularan terjadi melalui udara,
kontak langsung dengan sekresi hidung atau tenggorokan dan jarang terjadi oleh kontak dengan
benda-benda yang terkontaminasi dengan sekresi hidung dan tenggorokan. 1,2,3

Penularan dapat terjadi antara 1 – 2 hari sebelum timbulnya gejala klinis sampai 4 hari
setelah timbul ruam. Penularan virus Campak sangat efektif sehingga dengan virus yang sedikit
sudah dapat menimbulkan infeksi pada seseorang. Masa inkubasi berkisar antara 8 – 13 hari atau
rata-rata 10 hari.1,2,3

3.4 Patogenesis

Virus campak menginfeksi dengan invasi epitel traktus respiratorius mulai dari hidung
sampai traktus respiratorius bagian bawah. Multiplikasi lokal pada mukosa respiratorius segera
disusul dengan viremia pertama dimana virus menyebar dalam leukosit pada sistern
retikukoendotelial. Setelah terjadi nekrosis pada sel retikuloendotelial sejumlah virus terlepas
kembali dan terjadilah viremia kedua. Sel yang paling banyak terinfeksi adalah monosit. Jaringan
yang terinfeksi termasuk timus, lien. kelenjar limfe, hepar, kulit, konjungtiva dan paru. Setelah
terjadi viremia kedua seluruh mukosa respiratorius terlibat dalam perjalanan penyakit sehingga
menyebabkan timbulnya gejala batuk dan koriza. Campak dapat secara langsung menyebabkan
croup, bronchiolitis dan pneumonia, selain itu adanya kerusakan respiratorius seperti edema dan
hilangnya silia menyebabkan timbulnya komplikasi otitis media dan pneumonia Setelah beberapa
hari sesudah seluruh mukosa respiratorius terlibat, maka timbullah bercak koplik dan kemudian
timbul ruam pada kulit. Kedua manifestasi ini pada pemeriksaan mikroskopik menunjukkan
multinucleated giant cells, edema inter dan intraseluler, parakeratosis dan dyskeratosis. 1,2,3

Timbulnya ruam pada campak bersamaan dengan timbulnya antibodi serum dan penyakit
menjadi tidak infeksius. Oleh sebab itu dikatakan bahwa timbulnya ruam akibat reaksi
hipersensitivitas host pada virus campak. Hal ini berarti bahwa timbulnya ruam ini lebih ke arah
imunitas seluler. Pernyataaan ini didukung data bahwa pasien dengan defisiensi imunitas seluler
yang terkena campak tidak didapatkan adanya ruam makulopapuler, sedangkan pasien dengan
agamaglobulinemia bila terkena campak masih didapatkan ruam makulopapuler. 1,2,3

29
Gambar 3.2 Patogenesis Penyakit Campak

3.5 Epidemiologi Penyakit Campak

Penyakit campak bersifat endemik di seluruh dunia, pada tahun 2013 terjadi 145.700
kematian yang disebabkan oleh campak di seluruh dunia (berkisar 400 kematian setiap hari atau
16 kematian setiap jam) pada sebagian besar anak kurang dari 5 tahun. Berdasarkan laporan DirJen
PP&PL DepKes RI tahun 2014, masih banyak kasus campak di Indonesia dengan jumlah kasus
yang dilaporkan mencapai 12.222 kasus. Frekuensi KLB sebanyak 173 kejadian dengan 2.104
kasus. Sebagian besar kasus campak adalah anak-anak usia pra-sekolah dan usia SD. Selama
periode 4 tahun, kasus campak lebih banyak terjadi pada kelompok umur 5-9 tahun (3591 kasus)
dan pada kelompok umur 1-4 tahun (3383 kasus).3,4

Epidemiologi penyakit campak mempelajari tentang frekuensi, penyebaran dan faktor-


faktor yang mempengaruhinya. 1,2,3

3.5.1 Distribusi Frekuensi Penyakit Campak

a. Orang

Campak adalah penyakit menular yang dapat menginfeksi anak-anak pada usia dibawah
15 bulan, anak usia sekolah atau remaja. Penyebaran penyakit Campak berdasarkan umur berbeda
dari satu daerah dengan daerah lain, tergantung dari kepadatan penduduknya, terisolasi atau
tidaknya daerah tersebut. Pada daerah urban yang berpenduduk padat transmisi virus Campak
sangat tinggi.

30
b. Tempat

Berdasarkan tempat penyebaran penyakit Campak berbeda, dimana daerah perkotaan


siklus epidemi Campak terjadi setiap 2-4 tahun sekali, sedangkan di daerah pedesaan penyakit
Campak jarang terjadi, tetapi bila sewaktu-waktu terdapat penyakit Campak maka serangan dapat
bersifat wabah dan menyerang kelompok umur yang rentan. Berdasarkan profil kesehatan tahun
2008 terdapat jumlah kasus Campak yaitu 3424 kasus di Jawa barat, di Banten 1552 kasus, di Jawa
tengah 1001 kasus.

c. Waktu

Dari hasil penelitian retrospektif oleh Jusak di rumah sakit umum daerah Dr. Sutomo
Surabaya pada tahun 1989, ditemukan Campak di Indonesia sepanjang tahun, dimana peningkatan
kasus terjadi pada bulan Maret dan mencapai puncak pada bulan Mei, Agustus, September dan
Oktober.

3.5.2 Determinan Penyakit Campak

Faktor-faktor yang menyebabkan tingginya kasus Campak pada balita di suatu daerah
adalah :

a. Faktor Host
Status Imunisasi
Balita yang tidak mendapat imunisasi Campak kemungkinan kena penyakit Campak sangat
besar. Dari hasil penyelikan tim Ditjen PPM & PLP dan Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia tentang KLB penyakit Campak di Desa Cinta Manis Kecamatan Banyuasin Sumatera
Selatan tahun 1996 dengan desain cross sectional, ditemukan balita yang tidak mendapat imunisasi
Campak mempunyai risiko 5 kali lebih besar untuk terkena campak di banding balita yang
mendapat Imunisasi.

Status Gizi

Balita dengan status gizi kurang mempunyai resiko lebih tinggi untuk terkena penyakit
Campak dari pada balita dengan gizi baik. Menurut penelitian Siregar tahun 2003 di Bogor, anak
berumur 9 bulan sampai dengan 6 tahun yang status gizinya kurang mempunyai risiko 4,6 kali
untuk terserang Campak disbanding dengan anak yang status gizinya baik.

31
b. Faktor Environment

Keterjangkauan Pelayanan Kesehatan

Desa terpencil, pedalaman, daerah sulit, daerah yang tidak terjangkau pelayanan kesehatan
khususnya imunisasi, daerah ini merupakan daerah rawan terhadap penularan penyakit Campak.

3.6 Gejala Klinis Penyakit Campak

Penyakit campak dibagi dalam tiga stadium : 2,3

3.6.1 Stadium Kataral atau Prodromal

Biasanya berlangsung 4-5 hari, ditandai dengan panas, lesu, batuk-batuk dan mata merah.
Pada akhir stadium, kadang-kadang timbul bercak Koplik (Koplik’s spot) pada mukosa pipi/daerah
mulut, tetapi gejala khas ini tidak selalu dijumpai. Bercak Koplik ini berupa bercak putih kelabu,
besarnya seujung jarum pentul yang dikelilingi daerah kemerahan. Koplik spot ini menentukan
suatu diagnosa pasti terhadap penyakit campak. 2,3

3.6.2 Stadium Erupsi

Batuk pilek bertambah, suhu badan meningkat oleh karena panas tinggi, kadang-kadang
anak kejang-kejang, disusul timbulnya rash (bercak merah yang spesifik), timbul setelah 3 – 7 hari
demam. Rash timbul secara khusus yaitu mulai timbul di daerah belakang telinga, tengkuk,
kemudian pipi, menjalar keseluruh muka, dan akhirnya ke badan. Timbul rasa gatal dan muka
bengkak.2,3

3.6.3 Stadium Konvalensi atau Penyembuhan

Erupsi (bercak-bercak) berkurang, meninggalkan bekas kecoklatan yang disebut


hiperpigmentation, tetapi lama-lama akan hilang sendiri. Panas badan menurun sampai normal bila
tidak terjadi komplikasi.2,3

32
Gambar 3.3 Karakteristik Penyakit Campak

Gambar 3.4 Diagnosis Campak berdasarkan MTBS

3.7 Komplikasi Penyakit Campak

Adapun komplikasi yang terjadi disebabkan oleh adanya penurunan daya tahan tubuh
secara umum sehingga mudah terjadi infeksi tumpangan. Hal yang tidak diinginkan adalah
terjadinya komplikasi karena dapat mengakibatkan kematian pada balita, keadaan inilah yang
33
menyebabkan mudahnya terjadi komplikasi sekunder seperti : Otitis media akut, Ensefalitis,
Bronchopneumonia, dan Enteritis. 1,2,3

3.7.1 Bronchopneumonia

Bronchopneumonia dapat terjadi apabila virus Campak menyerang epitel saluran


pernafasan sehingga terjadi peradangan disebut radang paru-paru atau Pneumonia.
Bronchopneumonia dapat disebabkan virus Campak sendiri atau oleh Pneumococcus,
Streptococcus, dan Staphylococcus yang menyerang epitel pada saluran pernafasan maka
Bronchopneumonia ini dapat menyebabkan kematian bayi yang masih mudadan anak dengan
kurang kalori protein.1,2,3

3.7.2 Otitis Media Akut

Otitis media akut dapat disebabkan invasi virus Campak ke dalam telinga tengah. Gendang
telinga biasanya hiperemia pada fase prodormal dan stadium erupsi. Jika terjadi invasi bakteri pada
lapisan sel mukosa yang rusak karena invasi virus terjadi otitis media purulenta. 1,2,3

3.7.3 Ensefalitis

Ensefalitis adalah komplikasi neurologic yang paling jarang terjadi, biasanya terjadi pada
hari ke 4 – 7 setelah terjadinya ruam. Kejadian ensefalitis sekitar 1 dalam 1.000 kasus Campak,
dengan CFR berkisar antara 30 – 40%. Terjadinya Ensefalitis dapat melalui mekanisme
imunologik maupun melalui invasi langsung virus Campak ke dalam otak. 1,2,3

3.7.4 Enteritis

Enteritis terdapat pada beberapa anak yang menderita Campak, penderita mengalami
muntah mencret pada fase prodormal. Keadaan ini akibat invasi virus ke dalam sel mukosa
usus.1,2,3

3.8 Pencegahan Penyakit Campak


3.8.1 Pencegahan Primer
Sasaran dari pencegahan primer adalah orang-orang yang termasuk kelompok beresiko,
yakni anak yang belum terkena Campak, tetapi berpotensi untuk terkena penyakit Campak. Pada
pencegahan primer ini harus mengenal faktor-faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya
Campak dan upaya untuk mengeliminasi faktor-faktor tersebut.2,3,4

34
a. Penyuluhan

Edukasi Campak adalah pendidikan dan latihan mengenai pengetahuan mengenai Campak.
Disamping kepada penderita Campak, edukasi juga diberikan kepada anggota keluarganya,
kelompok masyarakat beresiko tinggi dan pihak-pihak perencana kebijakan kesehatan. Berbagai
materi yang perlu diberikan kepada pasien Campak adalah definisi penyakit Campak, faktor-faktor
yang berpengaruh pada timbulnya Campak dan upaya-upaya menekan Campak, pengelolaan
Campak secara umum, pencegahan dan pengenalan komplikasi Campak. 2,3,4

b. Imunisasi

Di Indonesia sampai saat ini pencegahan penyakit campak dilakukan dengan vaksinasi
Campak secara rutin yaitu diberikan pada bayi berumur 9 – 15 bulan. Vaksin yang digunakan
adalah Schwarz vaccine yaitu vaksin hidup yang dioleh menjadi lemah. Vaksin ini diberikan secara
subkutan sebanyak 0,5 ml. Vaksin campak tidak boleh diberikan pada wanita hamil, anak dengan
TBC yang tidak diobati, penderita leukemia. 2,3,4

Vaksin Campak dapat diberikan sebagai vaksin monovalen atau polivalen yaitu vaksin
measles-mumps-rubella (MMR). Vaksin monovalen diberikan pada bayi usia 9 bulan, sedangkan
vaksin polivalen diberikan pada anak usia 15 bulan. 2,3,4

Penting diperhatikan penyimpanan dan transportasi vaksin harus pada temperature antara
2ºC - 8ºC atau ± 4ºC, vaksin tersebut harus dihindarkan dari sinar matahari. Mudah rusak oleh zat
pengawet atau bahan kimia dan setelah dibuka hanya tahan 4 jam. 2,3,4

35
Gambar 3.5 Jadwal Imunisasi 4

3.8.2 Pencegahan Sekunder

Pencegahan sekunder adalah upaya untuk mencegah atau menghambat timbulnya


komplikasi dengan tindakan-tindakan seperti tes penyaringan yang ditujukan untuk pendeteksian
dini Campak serta penanganan segera dan efektif. Tujuan utama kegiatan-kegiatan pencegahan
sekunder adalah untuk mengidentifikasi orang-orang tanpa gejala yang telah sakit atau penderita
yang beresiko tinggi untuk mengembangkan atau memperparah penyakit. 2,3,4

Memberikan pengobatan penyakit sejak awal sedapat mungkin dilakukan untuk mencegah
kemungkinan terjadinya komplikasi. Edukasi dan pengelolaan Campak memegang peran penting
untuk meningkatkan kepatuhan pasien berobat. 2,3,4

a. Diagnosa Penyakit Campak

Diagnosa dapat ditegakkan dengan anamnesa, gejala klinis dan pemeriksaan


laboratorium.2,3,4

Kasus Campak Klinis


36
Kasus Campak klinis adalah kasus dengan gejala bercak kemerahan di tubuh berbentuk
macula popular selama tiga hari atau lebih disertai panas badan 38ºC atau lebih (terasa panas) dan
disertai salah satu gejala bentuk pilek atau mata merah.

Kasus Campak Konfirmasi

Kasus Campak konfirmasi adalah kasus Campak klinis disertai salah satu kriteria yaitu :

a) Pemeriksaaan laboratorium serologis (IgM positif atau kenaikan titer antiantibodi 4 kali)
dan atau isolasi virus Campak positif.
b) Kasus Campak yg mempunyai kontak langsung dengan kasus konfirmasi, dalam periode
waktu 1 – 2 minggu.

b. Pengobatan Penyakit Campak

Penderita Campak tanpa komplikasi dapat berobat jalan. Tidak ada obat yang secara
langsung dapat bekerja pada virus Campak. Anak memerlukan istirahat di tempat tidur, kompres
dengan air hangat bila demam tinggi. Anak harus diberi cukup cairan dan kalori, sedangkan pasien
perlu diperhatikan dengan memperbaiki kebutuhan cairan, diet disesuaikan dengan kebutuhan
penderita dan berikan vitamin A 100.000 IU per oral satu kali. Apabila terdapat malnutrisi
pemberian vitamin A ditambah dengan 1500 IU tiap hari. Dan bila terdapat komplikasi, maka
2,3,4,5
dilakukan pengobatan untuk mengatasi komplikasi yang timbul seperti :

a. Otitis media akut, sering kali disebabkan oleh karena infeksi sekunder, maka perlu
mendapat antibiotik kotrimoksazol.
b. Ensefalitis, perlu direduksi jumlah pemberian cairan ¾ kebutuhan untuk mengurangi
oedema otak, di samping peomberian kortikosteroid, perlu dilakukan koreksi elektrolit dan
ganguan gas darah.
c. Bronchopneumonia, diberikan antibiotik ampisilin 100 mg/kgBB/hari dalam 4 dosis,
sampai gejala sesak berkurang dan pasien dapat minum obat per oral. Antibiotik diberikan
sampai tiga hari demam reda.
d. Enteritis, pada keadaan berat anak mudah dehidrasi. Pemberian cairan intravena dapat
dipertimbangkan apabila terdapat enteritis dengan dehidrasi.

3.8.3 Pencegahan Tersier

Pencegahan tersier adalah semua upaya untuk mencegah kecacatan akibat komplikasi.
Kegiatan yang dilakukan antara lain mencegah perubahan dari komplikasi menjadi kecatatan tubuh
dan melakukan rehabilitasi sedini mungkin bagi penderita yang mengalami kecacatan.2,3,4
37
Dalam upaya ini diperlukan kerjasama yang baik antara pasien pasien dengan dokter
mapupun antara dokter-dokter yang terkait dengan komplikasinya. Penyuluhan juga sangat
dibutuhkan untuk meningkatkan motivasi pasien untuk mengendalikan penyakit Campak. Dalam
penyuluhan ini yang perlu disuluhkan mengenai : 2,3,4

a. Maksud, tujuan, dan cara pengobatan komplikasi kronik


b. Upaya rehabilitasi yang dapat dilakukan
c. Kesabaran dan ketakwaan untuk dapat menerima dan memanfaatkan keadaan hidup
dengan komplikasi kronik.

3.9 Penatalaksanaan Campak

Pada campak tanpa komplikasi tatalaksana bersifat suportif, berupa tirah baring, antipiretik
(parasetamol 10-15 mg/kgBB/dosis dapat diberikan sampai setiap 4 jam), cairan yang cukup,
suplemen nutrisi, dan vitamin A.Vitamin A dapat berfungsi sebagai imunomodulator yang
meningkatkan respons antibodi terhadap virus campak. Pemberian vitamin A dapat menurunkan
angka kejadian komplikasi seperti diare dan pneumonia. 5,6

Vitamin A diberikan satu kali per hari selama 2 hari dengan dosis sebagai berikut : 200.000
IU pada anak umur 12 bulan atau lebih (kapsul merah), 100.000 IU pada anak umur 6 - 11 bulan
(kapsul biru), 50.000 IU pada anak kurang dari 6 bulan (1/2 kapsul biru). Pemberian vitamin A
tambahan satu kali dosis tunggal dengan dosis sesuai umur penderita diberikan antara minggu ke-
2 sampai ke-4 pada anak dengan gejala defisiensi vitamin A. 5,6

Gambar 3.6 Pemberian Vitamin A pada pasien campak 6


38
Gambar 3.7 Jadwal pemberian Vitamin A 6

Pada campak dengan komplikasi otitis media dan/atau pneumonia bakterial dapat diberi
antibiotik. Komplikasi diare diatasi dehidrasinya sesuai dengan derajat dehidrasinya. 5,6

39
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Pasien An. A, laki- laki , 3 tahun 2 bulan seorang berobat di poli anak Puskesmas Pasundan
Kota Samarinda pada 18 Agustus 2019 dengan keluhan muncul bintik-bintik kemerahan pada
wajah dan badan sejak 3 hari yang lalu. Awalnya bintik-bintik kemerahan muncul dibelakang
telinga lalu menjalar ke pipi dan bagian wajah kemudian ke leher dan badan. Bintik-bintik
kemerahan tersebut terasa sedikit panas dan gatal. Keluhan bintik-bintik kemerahan disertai
dengan mata merah. 3 hari sebelum muncul bintik-bintik kemerahan, ibu pasien mengaku bahwa
pasien mengalami demam dan batuk. Demam yang dialami pasien cukup tinggi dan langsung turun
saat ibu pasien memberikan obat penurun demam. Dari pemerikasaan fisik tampak rash
eritomatosus di sekitar leher tengkuk sebagian pipi, wajah hingga ke tangan dan badan.

Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik maka pasien ini didiagnosis morbili. Pasien
diberikan tatalaksana farmakologi Paracetamol sirup, Vitamin A dosis 200.000 IU (kapsul merah).
Pasien dan keluarga juga diberi tahu mengenai morbili, penyebabnya, cara penularannya,
komplikasi yang dapat terjadi dan pentingnya imunisasi campak sebagai upaya pencegahan
morbili. Prognosis bonam.

4.2 Saran
1. Menjelaskan kembali kepada pasien akan pentingnya mendapatkan imunisasi yang
lengkap sebagai upaya pencegahan penyakit
2. Berikan terapi secara tepat sehingga tidak terjadi komplikasi

40
LAMPIRAN

41
DAFTAR PUSTAKA

1. Dubey AP. Measles. In: Parthasarathy A, Menon PSN, Gupta P, Nair MKC, Agrawal R,
Sukumaran TU, editors. IAP Textbook of Pediatrics. 5th ed. New Delhi: Jaypee Brothers
Medical Publishers (P) Ltd.; 2013. p. 250-1.
2. World Health Organization. Measles [Internet]. 2015 February [cited 2015 June 11].
3. Maldonado Y. Measles. Dalam : Nelson WE, Behrman RE, Kliegman RM, Arvin AM, eds.
Textbook of pediatrics; 15th ed. Philadelphia : WB Saunders; 1996. p.868-70.
4. Soegijanto S, Salimo H. Campak. In: Ranuh IGNG, Suyitno H, Hadinegoro SRS,
Kartasasmita CB, Ismoedijanto, Soedjatmiko. Pedoman imunisasi di Indonesia. 4th ed.
Jakarta: Badan Penerbit IDAI; 2011. p. 341-5.
5. World Health Organization. Treating measles in children [Internet]. 2004 [cited 2015 June
11].
6. Departemen Kesehatan RI. Buku Bagan Manajemen Terpadu Balita Sakit. Jakarta: Depkes
RI; 2008.

42
Samarinda. Senin 26 Agustus 2019

Pendamping, Peserta.

dr. Nico Michael


dr. Deni Wardani Muliawan

NIP. 198310062011011001

Monitoring dan evaluasi dari pendamping:

43
44