Anda di halaman 1dari 7

DOI: https://doi.org/10.17969/jtipi.v11i1.

11671

http://Jurnal.Unsyiah.ac.id/TIPI

Jurnal Teknologi dan Industri Pertanian Indonesia


Open Access Journal

PENGARUH LAMA FERMENTASI DAUN NILAM MENGGUNAKAN RAGI TEMPE TERHADAP


RENDEMEN DAN MUTU FISIK MINYAK NILAM
(POGOSTEMON CABLIN BENTH.)

EFFECT OF FERMENTATION TIME OF PATCHOULI LEAVES USING TEMPE YEAST ON YIELD


AND PHYSICAL QUALITY OF PATCHOULI OIL (POGOSTEMON CABLIN BENTH.)

Slamet, Ulyarti*, S. L Rahmi

INFO ARTIKEL
ABSTRACT
Submit: 26 Agustus 2018
This study aimeds to determine the effect of fermentation time of patchouli leaves by using tempe
Perbaikan: 02 April 2019
Diterima: 03 April 2019 yeast on the yield and the physical quality of patchouli oil and to obtain best fermentaion time in
order to get the highest obtain highest yield and best quality of patchouli oil. This research used a
Keywords:
group randomized design with 5 levels of treatments which were 0, 2, 4, 6, and 8 days of
fermentation. The results showed that the fermentation had a significant effect on yield, density
Fermentation, patchouli and refractive index of patchouli oil. The best of fermentation time on patchouli was 2 days with
oil, destilation. the average yield 0.98%, color characteristics L* 34 a* 29.75 b* 44.5 density 0.969 and ethanol
solubility 90% at ratio of 1:10.

2016). Dari hasil pengujian kadar minyak, di


1. PENDAHULUAN
berbagai lokasi perkebunan petani berkisar antara
Tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth.) 1-2% nilam kering (Rusli et al., 1993).
merupakan tanaman perdu wangi berdaun halus Minyak nilam dapat dihasilkan dengan
dan berbatang segiempat. Minyak nilam terdapat beberapa teknik antara lain teknik destilasi,
pada daun, batang, dan akar. Kandungan minyak ekstraksi dan fermentasi. Menurut Yuliana (2003)
nilam paling tinggi terdapat pada bagian daun dalam Halimah (2010) proses pengambilan
(Ketaren, 1975). minyak nilam dengan menggunakan pra
Di Indonesia daerah sentra produksi nilam perlakuan fermentasi dapat meningkatkan
terdapat di Pulau sumatera dengan produksi rendemen minyak nilam hingga 6,22%.
tertinggi pada tahun 2015 berasal dari Provinsi Proses destilasi yang dilakukan pada daun
Sumatera Barat dengan luas tanam 2.765 Ha. Luas nilam dapat mengakibatkan kehilangan minyak
areal tanaman nilam pada tahun 2015 di Indonesia atsiri karena terjadinya penguapan. Selain itu,
mencapai 18.626 ha, namun produktivitas masih proses ekstraksi minyak nilam dari daunnya tidak
rendah rata-rata 162 kg/ha (Ditjen Perkebunan sempurna karena minyak nilam masih terikat
pada jaringan daun sehingga rendemen yang
diperoleh rendah.
Slamet, Ulyarti, S. L Rahmi Menurut Ketaren (1985), perlakuan
Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Jambi, Kampus Pondok pendahuluan sebelum destilasi terhadap daun
Meja Jl. Tribrata Km 11, Jambi, Indonesia.
*E-mail:ulyarti@unja.ac.id nilam merupakan salah satu metode untuk
mempertinggi rendemen dan mutu minyak nilam.
Beberapa proses tersebut adalah pengeringan

JURNAL TEKNOLOGI DAN INDUSTRI PERTANIAN INDONESIA – Vol. 11 , No. 01 , 2019 19


©Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Universitas Syiah Kuala
(pelayuan), pengecilan ukuran, dan fermentasi. etanol 90%, etanol 70%, larutan perak nitrat 0,5
Proses ekstraksi minyak nilam dengan ml (AgNO3) 0,1 N, natrium khlorida (NaCl) 0,0002
pengeringan langsung belum sempurna karena N, asam nitrat (HNO3) encer 25%, dan aquadest.
minyak nilam masih terikat pada jaringan daun. Alat-alat yang digunakan adalah alat
Oleh karena itu, diperlukan suatu metode untuk penyulingan, wadah fermentasi, sentrifus, kain
menghancurkan jaringan daun nilam agar jumlah monel, pisau perajang, serta alat untuk analisa
minyak nilam yang dapat diisolasi semakin adalah piknometer, refraktometer, pipet tetes,
optimal. Fermentasi merupakan salah satu metode gelas piala, batang pengaduk, neraca analitik,
untuk menghancurkan jaringan daun nilam termometer, erlenmeyer 250ml, gelas ukur 50ml,
(Halimah, 2010). Menurut Khasanah (2015) labu ukur 10ml dan hot plate.
proses fermentasi dapat mendegradasi komponen
dinding sel jaringan pada daun nilam sehingga Rancangan Penelitian
hasil rendemen yang diperoleh selama proses Penelitian dilakukan dalam tiga tahapan.
destilasi lebih banyak. Fermentasi memerlukan Tahapan pertama adalah proses persiapan bahan
bantuan mikroorganisme sebagai sumber enzim, baku nilam. Tahap kedua adalah proses fermentasi
baik mikroorganisme alami maupun nilam dengan menggunan ragi tempe (Rhizopus
mikroorganisme yang ditambahkan (Nasruddin, oligosporus). Tahap ketiga adalah proses
2009). penyulingan minyak nilam. Percobaan ini
Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK)
penggunaan metode fermentasi dengan ragi tempe dengan perlakuan lama fermentasi yang terdiri
dapat meningkatkan rendemen minyak atsiri. dari 5 taraf yaitu 0, 2, 4, 6, dan 8 hari. Masing-
Halimah (2010) mengisolasi minyak nilam dengan masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali.
fermentasi daun, batang, campuran daun:batang Data yang diperoleh dianalisis dengan
segar (1:1) dengan kantong pembungkus selama menggunakan sidik ragam pada taraf 5% dan 1%,
24 jam mendapatkan rendemen sebesar 2,97%, apabila menunjukkan ada pengaruh perlakuan
0,15%, dan 2,00%. Nilai ini cukup tinggi dilakukan uji lanjut dengan menggunakan uji
dibandingkan proses pengeringan langsung tanpa Duncan’s New Multiple Range Test (DNMRT) pada
fermentasi dengan rendemen sebesar 0,73%. taraf 5%. Data karakteristik warna dan uji
Meuthia dan Fitriana (2015) mengisolasi minyak kelarutan etanol dianalisis secara deskriptif
nilam dengan fermentasi jamur Rhizopusoriaze 1% dengan cara menampilkan data hasil penelitian
mendapatkan rendemen minyak nilam terbesar yang disajikan dalam bentuk tabel dan gambar.
yaitu 1,50%. Laurita dan Herawati (2016)
mengisolasi minyak atsiri kulit jeruk Prosedur Penelitian
menggunakan ragi tempe dan mendapatkan waktu Persiapan bahan baku nilam
fermentasi terbaik selama 6 hari dengan hasil Bahan yang digunakan dalam penelitian ini
rendemen sebesar 0,42%. Khasanah et al., (2015) adalah batang dan daun nilam (Pogostemon cablin
mengisolasi minyak atsiri daun kayu manis Benth.). Tanaman nilam yang digunakan telah
menggunakan ragi tempe dan mendapatkan waktu berumur 4 bulan dan waktu pemanenan dilakukan
fermentasi terbaik 4 hari dengan rendemen 0,10% pada pagi hari, setelah itu nilam dipotong
dan 0,12%. Berdasarkan latar belakang tersebut, sepanjang 30 cm dari pucuk.
penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk Nilam dilakukan perajangan menjadi irisan-
mengetahui pengaruh lama fermentasi daun nilam irisan kecil setelah itu dilakukan penjemuran
dengan menggunakan ragi tempe terhadap dibawah sinar matahari selama 2 hari, kemudian
rendemen dan mutu fisik minyak nilam dan untuk ditimbang batang dan daun nilam kering 5 kg.
mendapatkan lama fermentasi yang tepat untuk Kemudian air, batang dan daun nilam tersebut
menghasilkan minyak nilam dengan rendemen dimasukan dalam wadah fermentasi.
tertinggi dan mutu fisik minyak nilam yang baik. Proses Fermentasi
Nilam yang telah dimasukkan dalam wadah
2. BAHAN DAN METODE fermentasi, ditambahkan air dengan suhu 45°C
dengan perbandingan 1:5 (b/v) untuk
Bahan menciptakan kondisi yang cocok untuk
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini pertumbuhan ragi tempe. Ragi tempe (Rhizopus
adalah daun nilam yang diperoleh dari petani Desa oligosporus) ditaburkan dengan perbandingan 5%
Pondok Meja Km 11, Kabupaten Muaro Jambi, (b/b) dari nilam kering. Ragi tempe agar dapat
Provinsi Jambi, ragi tempe (merk Reprima), serta tumbuh optimal perlu adanya agitasi
bahan untuk pengujian yang digunakan adalah

20 JURNAL TEKNOLOGI DAN INDUSTRI PERTANIAN INDONESIA – Vol. 11 , No. 01 , 2019


©Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Universitas Syiah Kuala
(pembalikan) secara manual pada proses refraktometer yang digunakan tidak dapat
fermentasi. Agitasi dilakukan sehari sekali selama membaca indeks bias minyak nilam karena
5 menit. Proses fermentasi dilakukan selama 0, 2, viskositas yang tinggi.
4, 6, dan 8 hari. Pengenceran dilakukan dengan menggunakan
etanol 70%, setelah itu dilakukan pengukuran
Penyulingan minyak Nilam minyak nilam yang diteteskan pada prisma
Daun nilam yang telah difermentasi refraktometer yang sudah distabilkan pada suhu
(biomassa) dilakukan penyulingan dengan suhu tertentu, dibiarkan selama 1-2 menit untuk
dipertahankan 100°C selama 8 jam. Minyak nilam mencapai suhu refraktometer, lalu dilakukan
yang didapatkan, kemudian disaring dengan kain pembacaan indeks bias. Sebelum dan sesudah
monel dan kertas saring, setelah itu minyak nilam digunakan prisma refraktometer dibersihkan
disentrifugasi untuk menghilangkan air dan zat dengan toluene/alkohol.
pengotor yang masih tertinggal dalam minyak Indeks bias perlu dikoreksi untuk temperatur
dengan kecepatan 4000 rpm selama 2 menit. standar dengan menggunakan rumus sebagai
berikut:
Analisis Parameter
Rendemen (SNI 06-2385-1998) R = R’ – K (T’- T)
Rendemen minyak dihitung berdasarkan Keterangan:
perbandingan antara volume minyak (ml) yang R = Indeks bias pada suhu standar
dihasilkan dengan berat bahan (gram) yang R’= Indeks bias pada suhu pembacaan
disuling dan dinyatakan dalam satuan persen. T = Suhu standar (°C)
T’= Suhu pembacaan (°C)
Penentuan Bobot Jenis (SNI 06-2388-2006) K = 0,0004 konstanta minyak
Bobot jenis merupakan perbandingan antara
berat minyak pada volume dan suhu yang sama Kelarutan Dalam Etanol (SNI 06-2388-2006)
(25°C). Kelarutan minyak nilam dalam etanol absolut
atau etanol 90% membentuk larutan yang jernih
Karakteristik Warna (Leon et al., 2006) dalam perbandingan-perbandingan seperti yang
Pengukuran tingkat warna minyak nilam dinyatakan. 1 ml minyak nilam dimasukkan dalam
dilakukan secara objektif dengan menggunakan gelas ukur yang berukuran 10 ml, kemudian
Color box. Color box yang digunakan berbentuk ditambahkan etanol 90% setetes demi setetes,
segiempat dengan panjang sisi 50 cm dan setiap setelah itu setiap penambahan diperoleh suatu
sisi dalam kotak dilapisi dengan karton berwarna larutan yang sebening mungkin pada suhu 20°C.
hitam. Color box terbuat dari triplek dengan tinggi Kemudian dibandingkan kekeruhan yang terjadi
50 cm dan terdiri dari 4 lampu neon 8 watt dengan dengan kekeruhan larutan pembanding, melalui
panjang 10 cm yang diletakkan di setiap sisi kotak cairan yang sama tebalnya, bila larutan tidak
dengan kemiringan 45°. Sampel diletakkan bening.
didalam kotak dan di foto dengan posisi kotak
tertutup dan jarak kamera dengan sampel 15 cm. Analisis Data
Kamera yang digunakan yaitu 16 megapixel tanpa Data yang diperoleh dianalisis dengan
flash. Pengukuran dan analisis warna di lakukan menggunakan sidik ragam pada taraf 5% dan 1%,
dengan: apabila menunjukkan ada pengaruh perlakuan
1. Gambar yang telah di-crop, dipisahkan dan dilakukan uji lanjut dengan menggunakan uji
ditampilkan pada program Adobe Photoshop. Duncan’s New Multiple Range Test (DNMRT) pada
2. Pengukuran warna dilakukan dengan taraf 5 %.
menggunakan histogram window untuk
menentukan distribusi warna atau untuk
menampilkan nilai L*, a* dan b*. 3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Indeks Bias (Modifikasi Apriyantono et al., 1989)
Indeks bias menunjukkan kemampuan minyak Rendemen
nilam dalam membiaskan atau membelokkan Berdasarkan analisa ragam perlakuan lama
cahaya yang dilewatkan sehingga mendekati atau fermentasi nilam berpengaruh sangat nyata pada
menjauhi garis normal. Pada penelitian ini rendemen minyak nilam yang dihasilkan.
sebelum pengukuran indeks bias dilakukan Rendemen minyak nilam pada berbagai perlakuan
pengenceran terlebih dahulu, karena lama fermentasi nilam terhadap minyak nilam
dapat dilihat pada Tabel 1.
JURNAL TEKNOLOGI DAN INDUSTRI PERTANIAN INDONESIA – Vol. 11 , No. 01 , 2019 21
©Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Universitas Syiah Kuala
Hasil analisa ragam terhadap rendemen minyak Bobot jenis
nilam menunjukkan bahwa perlakuan tanpa Bobot jenis merupakan perbandingan antara
fermentasi berbeda sangat nyata dengan berat minyak dengan berat air pada volume dan
perlakuan lama fermentasi 2, 4, 6, dan 8 hari. suhu yang sama. Kisaran bobot jenis untuk minyak
Perlakuan lama fermentasi 2 hari tidak berbeda nilam menurut SNI 06-2385-2006 adalah 0,950 –
nyata dengan perlakuan lama fermentasi 4 dan 6 0,975. Pada Tabel 1 perlakuan tanpa fermentasi
hari, tetapi berbeda nyata dengan perlakuan lama dan perlakuan fermentasi 2 dan 4 hari memenuhi
fermentasi 8 hari. Perlakuan lama fermentasi 4 standar mutu minyak nilam yaitu dengan nilai
hari berbeda nyata dengan lama fermentasi 6, dan bobot jenis 0,955, 0,969 dan 0,971, tetapi pada
8 hari. Perlakuan lama fermentasi 6 hari berbeda lama fermentasi 6 dan 8 hari tidak memenuhi
nyata dengan lama fermentasi 8 hari. kriteria mutu minyak nilam yaitu dengan nilai
Hasil analisa sidik ragam menunjukkan bahwa bobot jenis 0,991 dan 0,986.
lama fermentasi 2 hari sudah memberikan Hasil analisa ragam terhadap bobot jenis
pengaruh nyata pada rendemen minyak nilam minyak nilam menunjukkan bahwa perlakuan
yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan tanpa fermentasi berbeda nyata dengan perlakuan
peningkatan rendemen minyak nilam pada lama lama fermentasi 2, 4, 6, dan 8 hari. Perlakuan lama
fermentasi 2 dan 4 hari, tetapi mengalami fermentasi 2 hari berbeda nyata dengan perlakuan
penurunan rendemen pada lama fermentasi 6 dan lama fermentasi 4, 6 dan 8 hari. Perlakuan lama
8 hari. fermentasi 4 hari berbeda nyata dengan lama
Perlakuan lama fermentasi akan fermentasi 6, dan 8 hari. Perlakuan lama
mempengaruhi hasil rendemen minyak dimana fermentasi 6 hari tidak berbeda nyata dengan
menurut Guenther (1987) minyak atsiri dalam lama fermentasi 8 hari.
tanaman aromatik dikelilingi oleh kelenjar minyak, Hasil penelitian menunjukkan peningkatan
pembuluh-pembuluh, kantung minyak atau rambut bobot jenis minyak nilam selama fermentasi nilam.
granular. Apabila bahan dibiarkan utuh, minyak Peningkatan tersebut diduga karena adanya zat
atsiri hanya dapat diekstraksi apabila uap air asing dalam suatu cairan serta perubahan-
berhasil melalui jaringan tanaman dan perubahan lain yang mempengaruhi mutunya.
mendesaknya ke permukaan. Proses fermentasi Nilai bobot jenis dipengaruhi oleh komponen-
sebelum ekstraksi minyak, baik dilakukan dengan komponen kimia yang terkandung di dalamnya.
tujuan untuk memecahkan sel-sel minyak (Sumitra Bobot jenis juga menandakan perbandingan
dan Soesarsono, 2003). jumlah fraksi berat dan fraksi ringan yang
Menurut Jabbar (2015) secara umum, jamur terkandung di dalam minyak. Semakin banyak
memproduksi dua sistem enzim ekstraseluler yaitu fraksi berat yang terkandung, maka bobot jenisnya
sistem hidrolitik dan sistem oksidatif. sistem akan semakin tinggi. Fraksi berat ini dipengaruhi
hidrolitik menghasilkan hidrolase dan berfungsi oleh panjangnya rantai molekul senyawa yang
untuk degradasi selulosa dan hemiselulosa terkandung dalam minyak. Panjangnya molekul
sedangkan sistem oksidatif yang bersifat suatu senyawa berpengaruh pada bobot molekul
ligninolitik dan berfungsi mendepolimerasi lignin. senyawa tersebut. Senyawa golongan sesquiterpen
Jamur memproduksi enzim ekstraseluler termasuk fraksi berat jika dibandingkan dengan
untuk depolimerisasi senyawa berukuran besar golongan monoterpen. Penurunan nilai bobot jenis
menjadi kecil dan larut dalam air (subtrat bagi pada lama fermentasi 8 hari diduga karena
mikroba). Pada saat itu mikroba mentransfer komponen-komponen kimia minyak yang mudah
substrat tersebut ke dalam sel melalui membran menguap umumnya terdiri dari golongan
sitoplasma untuk menyelesaikan proses terpenoid yang mengandung 10 atom karbon,
dekomposisi bahan organik. Proses dekomposisi sedangkan senyawa kimia minyak nilam nilam
inilah yang diharapkan dapat terjadi pada proses yang mempunyai titik didih lebih tinggi terdiri dari
fermentasi sebelum dilakukan ekstraksi pada senyawa terpenoid yang memiliki 15 atom karbon.
minyak nilam sehingga dapat meningkatkan Menurut Guenther (1987) dalam Nasruddin
rendemen minyak nilam. (2009) bahwa persenyawaan kimia yang terikat
Peningkatan rendemen yang terjadi pada lama pada minyak atisiri umumnya bersifat tidak stabil,
fermentasi 2 dan 4 hari sesuai dengan penelitian sehingga selama proses fermentasi persenyawaan
yang telah dilaporkan oleh Khasanah (2014), kimia tersebut ada sebagian yang menguap karena
dimana pada lama fermentasi 2 hari merupakan suhu dan lama fermentasi.
fase adaptasi dan lama fermentasi 4 hari Bobot jenis yang dihasilkan pada penelitian ini
merupakan fase optimum pertumbuhan pada dengan perlakuan lama fermentasi lebih tinggi
kapang Rhizopus oligosporus. dibandingkan dengan tanpa fermentasi, hal ini

22 JURNAL TEKNOLOGI DAN INDUSTRI PERTANIAN INDONESIA – Vol. 11 , No. 01 ,


©Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Universitas Syiah Kuala
diduga semakin lama fermentasi jumlah fraksi dikarenakan kapang dapat mendegradasi lignin
berat atau senyawa berbobot molekul tinggi yang dan polutan aromatik selama proses fermentasi,
terkandung didalam minyak terekstrak lebih lama fermentasi menyebabkan lignin terpecah
banyak. semakin banyak sehingga fraksi berat yang
mempunyai rantai karbon panjang yang terambil.
Tabel 1. Nilai rata-rata rendemen, bobot jenis, dan Semakin banyak komponen berantai panjang
indeks bias minyak nilam pada berbagai perlakuan seperti sesquiterpen atau komponen bergugus
Lama Rendemen Bobot Indeks oksigen ikut terambil, maka kerapatan medium
fermentasi (%) jenis bias minyak atsiri akan bertambah sehingga cahaya
(hari) yang datang akan lebih sukar dibiaskan. Hal ini
0 0,81a 0,955a 1,369d menyebabkan indeks bias lebih besar. Dengan
2 0,98cd 0,969ab 1,375c demikian minyak atsiri yang mempunyai indeks
4 1,02d 0,971bc 1,378b bias tinggi lebih berkualitas dibandingkan dengan
6 0.97c 0,991c 1,382a minyak atsiri yang indeks biasnya kecil (Rulianah,
8 0,91b 0,986c 1,384a 2012). Salah satu faktor indeks bias tidak
Keterangan: angka- angka yang diikuti huruf kecil yang memenuhi standar Standar Nasional Indonesia
sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% pada uji (SNI) yaitu karena kemampuan alat refraktometer
DNMRT.
tidak terbaca karena tingkat kekentalan yang
Indeks Bias tinggi pada minyak nilam, sehingga analisa
Indek bias merupakan perbandingan antara dilakukan dengan pengenceran minyak dengan
kecepatan cahaya di dalam udara dengan menggunakan etanol 70% pada perbandingan
kecepatan cahaya di dalam zat tersebut pada suhu 1:10, sehingga minyak menjadi lebih encer dan
tertentu. Indek bias minyak atsiri berhubungan alat dapat membaca indeks bias, indeks bias
erat dengan komponen-komponen yang tersusun terbaca karena minyak yang mengandung
dalam minyak atsiri yang dihasilkan. Kisaran senyawa berantai larut dalam alkohol sehingga
indeks bias minyak nilam menurut SNI 06-2385- kerapatan minyak menjadi rendah.
2006 adalah 1,507 - 1,515. Indeks bias hasil
penelitian dapat dilihat pada Tabel 1. Perlakuan Karakteristik Warna
tanpa fermentasi dan lama fermentasi tidak Pengukuran warna dilakukan secara objektif
memenuhi standar mutu indeks bias minyak nilam menggunakan Cie-lab box berdasarkan satuan Cie-
yaitu 1,369-1,384. lab(L*, a*, dan b*). Nilai L* merupakan nilai
Hasil analisa ragam terhadap indeks bias kecerahan (Lightness). Nilai a* menunjukkan arah
minyak nilam menunjukkan bahwa perlakuan warna (-) berwarna kehijauan dan (+) berwarna
tanpa fermentasi berbeda nyata dengan perlakuan kemerahan. Sedangkan Nilai b* menunjukkan arah
lama fermentasi 2, 4, 6, dan 8 hari. Perlakuan lama warna (-) berwarna kebiruan dan (+) berwarna
fermentasi 2 hari berbeda nyata dengan perlakuan kekuningan. Hasil pengukuran nilai L* a* dan b*
lama fermentasi 4, 6 dan 8 hari. Perlakuan lama minyak nilam disajikan pada Tabel 2.
fermentasi 4 hari berbeda nyata dengan lama Tabel 2. menunjukkan nilai L*, a*, dan b* setiap
fermentasi 6, dan 8 hari. Perlakuan lama perlakuan warna minyak nilam yang dihasilkan.
fermentasi 6 hari tidak berbeda nyata dengan Nilai L* pada setiap perlakuan cenderung semakin
lama fermentasi 8 hari. Indeks bias dipengaruhi menurun yaitu 44,5 sampai 20 hal ini
oleh panjang rantai karbon senyawa yang menunjukkan bahwa warna minyak nilam dengan
terkandung dalam minyak serta ikatan semakin lama fermentasi semakin gelap, hal ini
rangkapnya. diduga disebabkan penyulingan yang tidak
Menurut Forma et al., (1979), semakin banyak terkontrol seperti tidak terkontrolnya suhu
senyawa yang berantai karbon panjang dan kondensor. Semakin tinggi suhu kondensor maka
semakin banyak ikatan rangkapnya, indeks semakin gelap warna minyak hasil penyulingan.
biasnya semakin besar. Fraksi berat membuat Perlakuan menghasilkan nilai a* positif yang
kerapatan minyak semakin tinggi sehingga sinar semakin naik, yang menunjukkan bahwa warna
yang datang akan dibiaskan mendekati garis merah dari minyak nilam cenderung berkurang,
normal. nilai a* yang dihasilkan dari setiap perlakuan yaitu
Menurut Rulianah (2012) bahwa lama 23,5 sampai 40,25. Nilai b* dari setiap perlakuan
fermentasi meningkatkan indeks bias yang yaitu nilai b* positif yang semakin meningkat yaitu
didapatkan, terlihat bahwa semakin lama 50,25 sampai 23,75; hal ini menunjukkan bahwa
fermentasi indeks bias semakin tinggi. Hal ini warna minyak nilam semakin berkurang tingkat

JURNAL TEKNOLOGI DAN INDUSTRI PERTANIAN INDONESIA – Vol. 11 , No. 01 , 23


©Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Universitas Syiah Kuala
warna kuning dan kelarutan dalam air yang kecil. Menurut Guenther (1948), komponen kimia
Selain itu proses pendinginan yang hanya yang terkandung dalam minyak atsiri menentukan
dilakukan satu kali juga ikut menyebabkan kelarutan minyak tersebut dalam etanol. Minyak
oksidasi sehingga warna minyak menjadi gelap dengan kandungan terpen-O tinggi mudah larut
(Meuthia dan Fitriana, 2015). dalam etanol dibandingkan dengan minyak yang
kandungan terpennya tinggi. Minyak hasil
Tabel 2. Nilai hasil rata-rata L*, a* dan b* minyak penyulingan dengan tanpa fermentasi terjadi
nilam pada berbagai perlakuan opalesensi ringan (membentuk lapisan cincin)
Perlakuan Nilai Penampakan dalam perbandingan volume 1:10, sedangkan pada
L* +a* +b* lama fermentasi 2, 4, 6 dan 8 hari larut jernih
Tanpa 44,5a 23,5c 50,3a pada perbandingan volume etanol 1: 10. Hal ini
fermentasi menunjukkan kelarutan minyak tersebut dalam
Fermentasi 34,7b 31b 44,5b etanol lebih tinggi dan mengindikasikan
2 hari kandungan senyawa hidrokarbon teroksigenasi
Fermentasi 29,5c 40,25a 38,75c
dalam minyak tersebut. Menurut Khasanah
4 hari
(2015), komponen kimia dalam minyak
Fermentasi 22d 34b 23,75d
6 hari menentukan kelarutan minyak dalam etanol.
Fermentasi 18,5e 32b 29e Minyak atsiri yang mengandung senyawa terpen
8 hari teroksigenasi akan lebih mudah larut dalam etanol
Keterangan: angka-angka yang diikuti huruf kecil yang daripada terpena tak teroksigenasi, dikarenakan
sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji senyawa terpen tak teroksigenasi merupakan
DNMRT. senyawa nonpolar.

Kelarutan Dalam Etanol 90 % 4. KESIMPULAN


Minyak atsiri memiliki kemampuan untuk larut
di dalam etanol pada perbandingan tertentu. Perlakuan lama fermentasi daun dan batang
Menurut SNI 06-2385-2006, minyak nilam yang nilam berpengaruh nyata terhadap rendemen,
baik mampu larut dan membentuk larutan jernih bobot jenis, warna dan indeks bias minyak nilam,
atau opalensi ringan pada perbandingan volume tetapi tidak berpengaruh terhadap kelarutan
minyak dan etanol 90% sebesar 1:10. Kelarutan minyak dalam etanol 90%. Perlakuan lama
minyak dalam etanol 90% yang dihasilkan dalam fermentasi 2 hari merupakan perlakuan terbaik
penelitian ini dapat dilihat pada penampakan yang menghasilkan minyak nilam dengan rata-rata
visual minyak yang telah dilarutkan dalam etanol rendemen 0,98%, warna dengan nilai L* 34, a*
90% dapat dilihat pada Tabel 3. 29,75, b* 44,5, bobot jenis 0,969 dan larut jernih
pada perbandingan volume minyak : etanol 90%
Tabel 3. Kelarutan minyak nilam dalam etanol 1:10.
90% pada berbagai perlakuan
Perlakuan Kelarutan dalam Deskripsi DAFTAR PUSTAKA
alkohol 90%
Tanpa Opalesensi ringan Apriyantono, A.L., N.L. Fardiaz., Puspitasari., S. Budiyanto.
fermentasi 1: 10 1989. Analis pangan IPB press, Bogor.
Busthan, M., F. Djafar. 2010. Ekstraksi minyak nilam dengan
metode fermentasi menggunakan Rhizopus oryzae.
Fermentasi 2 Larutan jernih 1:10 Jurnal Hasil Penelitian Industri, 28 (1): 2089-5380
hari Ditjen Perkebunan, 2006. Statistik Perkebunan Indonesia
2003 - 2005, Nilam (Patchouli). Departemen Pertanian,
Jakarta. 19 hal.
Fermentasi 4 Larutan jernih 1:10 Forma, M. W. 1979. Physical Properties of Fats and Fatty
hari Acids, di dalam D. Swern (ed.). Bailey’s Industrial Oil and
Fats Products. John Willey and Sons, New York.
Fermentasi 6 Larutan jernih 1:10 Guenther, E. 1948. Minyak Atsiri. Jilid I. UI Press, Jakarta.
hari Halimah, D.P.P., Y. Zetra. 2010. Minyak atsiri dari tanaman
nilam (Pogostemon cablin Benth.) melalui metode
fermentasi dan hidrodistilasi serta bioaktivitasnya.
Fermentasi 8 Larutan jernih 1:10 Prosiding KIMIA FMIPA, ITS
hari Jabbar, A., A. Jayuska., Burhanuddin. 2015. Pengaruh
fermentasi Rhizopus sp. terhadap senyawa
seskuiterpena pada kayu gaharu (Aquilaria malaccensis),
JKK 4(2) : 2303-1077.
Ketaren, S. 1985. Pengantar teknologi minyak atsiri. Balai

24 JURNAL TEKNOLOGI DAN INDUSTRI PERTANIAN INDONESIA – Vol. 11 , No. 01 , 2019


©Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Universitas Syiah Kuala
Pustaka. Jakarta. Jurnal Riset Industri III (3): 94-102.
Ketaren, S. 1975. Pengantar teknologi minyak atsiri. Novalny, D. 2006. Pengaruh ukuran rajangan daun danlLama
Departemen Teknologi Hasil Pertanian. FATEMETA IPB. penyulingan terhadap rendemen dan karakteristik
Bogor. minyak sirih (Piper betle L.) Fakultas Teknologi
Khasanah., L. Umi., Kawiji, R. Utami. 2015. Pengaruh Pertanian. IPB. Bogor.
perlakuan pendahuluan terhadap karakteristik mutu Rulianah, S. 2012. Pembuatan minyak nilam dengan metode
minyak atsiri daun jeruk purut (Citrus Hystrix Dc.) Jurnal fermentasi. Politeknik Negeri Malang. Jurnal Seminar
Aplikasi Teknologi Pangan, 4 (2): 48-55. Nasional Teknik Kimia Soebardjo Brotohardjono XI: D4-
Laurita, L., M. Herawati. 2016. Pengaruh fermentasi padat 1 – D4-6.
terhadap karakteristik mutu fisik dan hasil rendemen Rusli, S., A. Hobir,. A. Hamid., S. Asman, Sufiani., M. Mansyur.
minya atsiri limbah kulit jeruk manis (Citrus sinensis Var. 1993. Evaluasi Hasil Penelitian Minyak Atsiri, Balittro.
Baby Pacitan). 15 hal.
Leon K., D. Mery., F. Pedreschi., J. Leon. 2006. Color Sorenson, W.G., C.W. Hesseltine. 1966. Carbon and nitrogen
measurement in L* a* b* units from RGB digital images. utilization by Rhizopus oligosporus, mycologia, didalam
J. Food Research International.,39: 1084-1091. Pangastuti., P. Hestining., S. Triwibowo. Proses
Nasruddin, N., G. Priyanto., B. Hamzah. 2009. Pengaruh Pembuatan Tempe Kedelai: III. Analisis Mikrobiologi.
delignifikasi daun nilam (Pogostemon cablin Benth.) Cermin Dunia Kedokteran No. 109.
dengan larutan NaOH dan fermentasi dengan kapang Standar Nasional Indonesia. 2006. Minyak Nilam. SNI-06-
Trichoderme viride terhadap minyak hasil destilasi. 2388-2006. Badan Standarisasi Nasional.

1 TEKNOLOGI DAN INDUSTRI PERTANIAN INDONESIA – Vol. 11 , No. 01 , 2019


JURNAL 25
©Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Universitas Syiah Kuala