Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Diabetes Mellitus (DM) adalah penyakit metabolisme yang terdiri atas

beberapa gejala pada seseorang karena adanya peningkatan kadar glukosa

darah di atas nilai normal akibat kekurangan insulin baik secara absolut

maupun relatif. Ada 2 tipe diabetes melitus yaitu DM Tipe 1 (DMT 1) /

diabetes juvenile yaitu diabetes yang umumnya didapat sejak masa kanak-

kanak dan DM Tipe 2 (DMT 2) yaitu diabetes yang didapat setelah dewasa.

DM merupakan sekelompok kelainan kadar glukosa dalam darah atau

hiperglikemia. Kemampuan tubuh orang dengan diabetes untuk bereaksi

terhadap insulin dapat menurun, atau bahkan pankreas tidak memproduksi

insulin.

DM tidak hanya terjadi pada orang dewasa ataupun remaja, akan

tetapi bisa terjadi pada kondisi tertentu, seperti pada ibu hamil. DM dengan

kehamilan atau yang biasa disebut Diabetes Mellitus Gestational (DMG)

adalah kehamilan normal disertai dengan peningkatan insulin resistance

dimana ibu hamil gagal mempertahankan euglycemia.DMG bisa juga

dikatakan hiperglikemia pada ibu hamil.

Pada kehamilan kemungkinan komplikasi terhadap kontrol glukosa

adalah 3%-10%. Prevalensi terjadinya prediabetes di Indonesia pada tahun

2007 sebesar 10%, sedangkan prevalensi diabetes melitus gestasional sebesar

1,9%-3,6% (Soewardono dan Pramono, 2011). Bila dibandingkan negara

1
lainangka ini lebih rendah, meskipun demikian, masalah diabetes gestasional

di Indonesia masih membutuhkan penanganan yang serius melihat jumlah

penderita yang cukup banyak serta dampak yang ditimbulkan pada ibu hamil

dan janin.

B. Rumusan Masalah

1. Apa Definisi DM Hipoglikemia dan Hiperglikemia

2. Apa Etiologi DM Hipoglikemia dan Hiperglikemia

3. Bagaimana Klasifikasi Hipoglikemia dan Hiperglikemia

4. Bagaimana Tanda Gejala Dan Pemeriksaan Penunjang Hipoglikemia dan

Hiperglikemia

5. Patogenesis Hipoglikemia dan Hiperglikemia

6. Bagaimana Tatalaksana dan obat-obatan Hipoglikemia dan Hiperglikemia

C. Tujuan

1. Untuk Mengetahui Definisi DM Hipoglikemia dan Hiperglikemia

2. Untuk Mengetahui Etiologi DM Hipoglikemia dan Hiperglikemia

3. Untuk Mengetahui Klasifikasi Hipoglikemia dan Hiperglikemia

4. Untuk Mengetahui Tanda Gejala Dan Pemeriksaan Penunjang

Hipoglikemia dan Hiperglikemia

5. Untuk Mengetahui Hipoglikemia dan Hiperglikemia

6. Untuk Mengetahui Tatalaksana dan obat-obatan Hipoglikemia dan

Hiperglikemia

2
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. DM Hipoglikemia

1. Definisi

Hipoglikemia ialah suatu penurunan abnormal kadar gula darah

atau kondisi ketidaknormalan kadar glukosa serum yang rendah. Keadaan

ini dapat didefinisikan sebagai kadar glukosa di bawah 40 mg/dL setelah

kelahiran berlaku untuk seluruh bayi baru lahir atau pembacaan strip

reagen oxidasi glukosa di bawah 45 mg/dL yang dikonfirmasi dengan uji

glukose darah.

Hipoglikemia adalah salah satu komplikasi yang dihadapi oleh

penderita diabetes melitus. Tidak seperti nefropati diabetik ataupun

retinopati diabetik yang berlangsung secara kronis, hipoglikemia dapat

terjadi secara akut dan tiba – tiba dan dapat mengancam nyawa.Hal

tersebut disebabkan karena glukosa adalah satu – satunya sumber energi

otak dan hanya dapat diperoleh dari sirkulasi darah karena jaringan otak

tidak memiliki cadangan glukosa.Kadar gula darah yang rendah pada

kondisi hipoglikemia dapat menyebabkan kerusakan sel – sel otak.Kondisi

inilah yang menyebabkan hipoglikemia memiliki efek yang fatal bagi

penyandang diabetes melitus, di mana 2% – 4% kematian penderita

diabetes melitus disebabkan oleh hipoglikemia.

3
Hipoglikemia (kadar gula darah yang abnormal rendah) terjadi

apabila kadar glukosa darah turun dibawah 50 mg/ dl. Keadaan ini dapat

terjadi akibat pemberian insulin atau preparat oral yang berlebihan,

konsumsi makanan yang terlalu sedikit atau karena aktivitas fisik yang

berat.Hipoglikemia dapat terjadi setiap saat pada siang atau malam

hari.Hipoglikemia merupakan komplikasikomplikasi yang tersering dan

paling serius pada terapi insulin. Keparahan dan lamanya hipoglikemia

bisa diperkirakan dari dosis, aktivitas puncak dan lama aksi jenis insulin

yang diberikan secara S.C (Anonim, 1995).

2. Etiologi

Penyebab Hipoglikemia Pada Ibu Hamil

Ada banyak penyebab Hipoglikemia, terutama pada ibu hamil. Dengan

mengetahui penyebab turunnya kadar gula darah, maka diharapkan ibu

dapat selalu menjaga kesehatannya. Penyebab tersebut, antara lain :

1. Ibu hamil yang menderita diabetes dan berlebihan menggunakan

obat insulin

Beberapa ibu yang memang sebelum kehamilan mengalami tanda-

tanda diabetes pada ibu hamil, umumnya selama kehamilan akan terus

diberi obat diabetes untuk menjaga agar kadar gula darahnya tidak

tinggi. Namun, penggunaan suntikan insulin pada diabetes tipe 1 dan

penggunaan obat-obatan oral pada diabetes tipe 2 secara berlebihan

justru membuat insulin dilepas secara berlebihan. Akibatnya, kadar

gula turun melebihi batas normal.

4
2. Ibu hamil yang menderita diabetes dan menggunakan obat secara

normal

Ibu hamil yang menderita gestational diabetes, meskipun

menggunakan suntikan insulin atau obat secara oral dengan normal,

tetap dapat mengakibatkan hipoglikemia. Ini dapat terjadi jika ibu

hamil kekurangan asupan karbohidrat. Padahal umumnya, penderita

diabetes memang menghindari asupan karbohidrat secara berlebihan.

Selain hal tersebut, hipoglikemia ini dapat juga terjadi karena ibu lupa

makan, menunda waktu makan, dan aktivitas yang berlebihan. Dalam

hal ini kadar gula darah digunakan terus menerus, tanpa ada

penggantinya.

3. Ibu hamil yang minum alcohol

Pada dasarnya bahaya alkohol saat hamil sangat banyak bagi ibu dan

janin. Ada berbagai akibat yang dapat diuraikan. Salah satunya adalah

menurunkan kadar gula darah dalam tubuh. Ini dapat terjadi karena zat

yang terkandung dalam alkohol menyebabkan gula tidak terserap

dengan baik oleh tubuh.

4. Produksi insulin yang terlalu banyak

Insulin dapat diproduksi terlalu banyak oleh tubuh sehingga banyak

insulin yang justru dilepaskan, membuat zat gula yang ada pada

makanan dan sudah masuk pencernaan tidak terserap oleh tubuh. Ini

dialami oleh orang yang bukan penderita diabetes. Biasa terjadi pada

penderita bahaya obesitas bagi ibu hamil, orang yang mengkonsumsi

5
terlalu banyak karbohidrat dalam makanan sehari-hari, penderita tumor

pankreas, dan efek samping dari operasi bypass lambung.

5. Puasa

Ibu hamil yang berpuasa dan tidak mengatur konsumsi / diet

makanannya dapat menyebabkan kadar gula darahnya menjadi rendah.

Oleh karena itu ibu hamil harus mengetahui makanan ibu hamil saat

puasa dan menu buaka puasa ibu hamil.

6. Kekurangan nutrisi

Sama halnya dengan berpuasa, bila ibu hamil kekurangan nutrisi ibu

hamil trimester 1 terutama karbohidrat karena tidak mengatur pola

makannya, maka akan menurunkan kadar gula darah dalam tubuh.

7. Menderita penyakit tertentu

Kadar gula darah rendah pada ibu hamil dapat terjadi karena penyakit

yang menyerang produksi hormon insulin. Di antara penyakit tersebut,

yaitu kelenjar tiroid, kelenjar adrenal, ginjal, hati dan

penyakit addison (kelainan pada kelenjar adrenal).

8. Efek samping dari berbagai obat

Ibu hamil yang memiliki kondisi gangguan kesehatan tertentu dan

mengkonsumsi obat secara rutin dapat menurunkan kadar gula

darahnya. Contoh obat-obatan yang dikonsumsi dan menyebabkan

kadar gula darah menurun, yaitu propanol untuk obat hipertensi pada

ibu hamili, asam salisilat untuk obat rematik, dan obat kina untuk

6
malaria. Itu sebabnya ibu hamil harus konsultasi dengan dokter apabila

akan mengkonsumsi obat-obatan.

3. Klasifikasi

a. Hipoglikemia ringan

Ketika kadar glukosa darah menurun, sistem saraf simpatis akan

terangsang. Pelimpahan adrenalin kedalam darah menyebabkan gejala

seperti perspirasi, tremor, takikardia, palpitasi, kegelisahan dan rasa

lapar.

b. Hipoglikemia Sedang

Penurunan kadar glukosa darah menyebabkan sel-sel otak tidak

mendapatkan cukup bahan bakar untuk bekerja dengan baik. Tanda-

tanda gangguan fungsi pada sistem saraf pusat mencakup

ketidakmampuan berkonsentrasi, sakit kepala, vertigo, confuse,

penurunan daya ingat, mati rasa didaerah bibir serta lidah, bicara rero,

gerakan tidak terkoordinasi, perubahan emosional, perilaku yang tidak

rasional, penglihatan ganda, dan perasaan ingin pingsan.

c. Hipoglikemia Berat

Fungsi sitem saraf pusat mengalami gangguan yang sangat berat

sehingga pasien memerlukan pertolongan orang lain untuk mengatasi

Hipoglikemia yang dideritanya. Gejala dapat mencakup perilaku yang

mengalami disorientasi, serangan kejang, sulit dibangunkan, atau

bahkan kehilangan kesadaran.

7
4. Tanda Gejala Dan Pemeriksaan Penunjang

Hipoglikemia pada hamil seperti telah dikemukaan di atas, memiliki

gejala yang mirip dengan tekanan darah rendah. Gejala-gejala tersebut,

yaitu :

- Merasa cepat lelah

- Pusing

- Bibir dan wajah terlihat pucat

- Kesemutan pada bibir

- Berkeringat secara berlebihan, meskipun udara cukup dingin

- Gemetar

- Selalu merasa lapar

- Jantung berdebar-debar

- Sulit berkonsntrasi atau fokus terhadap sesuatu

- Emosional tidak stabil, mudah sekali marah

Dengan mengenali gejala tersebut, ibu hamil dapat langsung

berkonsultasi dengan dokter dan mengatasinya. Apalagi bila ibu

menyadari bahwa salah satu penyebab hipoglikemia terdapat pada dirinya.

Karena meskipun belum dala penelitian yang menyatakan dampak

berbahaya dari kadar gula darah rendah pada ibu hamil, kondisi ini harus

tetap diwaspadai. Kondisi ibu yang terganggu kesehatannya, akan

memudahkan gangguan-gangguan kesehatan lain. Selain itu, ibu hamil

yang hipoglikemia menyebabkan janin dalam perut menjadi besar. Janin

8
yang lebih besar dari normal menyebabkan kelahiran atau tanda bahaya

persalinan.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan penunjang pada pasien dengan hipoglikemia antara

lain dengan pemeriksaan glukosadarah sebelum dan sesudah suntikan

dekstrosa.

5. Patogenesis

Price (2006) mengutarakan bahwa hipoglikemia terjadi karna

ketidak mampuan hati memproduksi glukosa yang dapat disebabkan karna

penurunan bahan pembentuk glukosa, penyakit hati atau

ketidakseimbangan hormonal. Pada pasien hipoglikemi, terdapat defisit sel

β Langerhans, pengeluaran kedua hormon pengatur insulin dan glukagon

benar-benar terputus. Respon epinefrin terhadap hipoglikemi juga semakin

melemah.Frekuensi hipoglikemia berat, menurunkan batas glukosa sampai

ke tingkat plasma glukosa yang paling rendah.

Kombinasi dari ketiadaan glukosa dan respon epinefrin yang

lemah dapat menyebabkan gejala klinis ketidaksempurnaan pengaturan

glukosa yang meningkatkan resiko hipoglikemia berat.Penurunan respon

epinefrin pada hipoglikemia adalah sebuah tanda dari melemahnya respon

saraf otonom yang dapat menyebebkan gejala klinis ketidaksadaran pada

hipoglikemia (shafiee, 2012).

9
Selain itu, pada pasien dengan hipoglikemi terjadi kematian

jaringan yang disebabkan karna kekurangan oksigen pada jaringan tersebut

yang bahkan dapat mengancam kehidupan. Keadaan ini terjadi karna

adanya gangguan hematologi/hemoglobin yang berperan sebagai transport

oksigen. Hemoglobin yang kekurangan glukosa akan mempengaruhi

kualitas transport oksigen. Terapi oksigen adalah memasukkan oksigen

tambahan dari luar ke paru melalui saluran pernafasan dengan

menggunakan alat sesuai kebutuhan (Narsih, 2007).

6. Tatalaksana Dan Obat-Obatan

Penatalaksanaan hipoglikemia dapat dibedakan sesuai derajat

hipoglikemia.

a. Hipoglikemia Ringan-Sedang

Pemberian karbohidrat sebanyak 15 gram dalam bentuk tablet

atau larutan glukosa maupun sukrosa diperlukan sebagai pertolongan

pertama hipoglikemia ringan hingga sedang pada orang dewasa.

Terapi awal ini cukup untuk memicu kenaikan glukosa darah hingga

38 mg/dL dalam 20 menit dan perbaikan gejala pada sebagian besar

individu dengan hipoglikemia ringan-sedang. Pilihan rejimen terapi

awal lainnya seperti susu dan jus jeruk kurang cepat dalam menaikkan

kadar glukosa darah dan memperbaiki gejala.

Apabila pasien memiliki riwayat DM, pengukuran kadar

glukosa dilakukan dalam 15 menit sejak pemberian terapi glukosa

awal. Jika kadar glukosa darah masih di bawah 70 mg/dL, pemberian

10
15 gram glukosa atau sukrosa dapat diulang. Apabila tablet glukosa

tidak tersedia, sediaan karbohidrat 15 gram oral lainnya yang ekivalen

adalah 15 mL gula pasir yang dilarutkan dalam air, 5 kubus kecil gula,

dan 15 mL madu.

b. Hipoglikemia Berat

Apabila pasien mengalami hipoglikemia berat namun masih

sadar penuh dan memiliki riwayat diabetes, pemberian karbohidrat

oral 20 gram dilakukan dalam bentuk glukosa tablet dan sediaan lain

yang ekivalen. kadar glukosa darah kemudian diperiksa dalam kurun

waktu 15 menit setelah pemberian terapi glukosa awal. Pemberian

glukosa 15 gram dapat diulang apabila kadar glukosa darah masih <

70 md/dL.

Jika pasien mengalami hipoglikemia berat dan tidak sadarkan

diri, pemberian 10-25 gram glukosa atau 20-50 mL dekstrosa 50%

dalam air (D50W) dapat diberikan secara intravena selama 1-3 menit

apabila pasien memiliki akses intravena. Jika pasien tidak memiliki

akses intravena, 1 mg glukagon dapat diberikan secara subkutan atau

intramuskular.Pedoman klinis di Amerika Serikat dan Kanada

menyarankan agar pasien dengan DM dan keluarga yang merawat

memiliki sediaan glukagon serta mampu memberikan obat tersebut

sesuai indikasi.Namun, sediaan glukagon saat ini belum tersedia di

Indonesia dan bahkan di negara maju harganya masih sangat mahal.

c. Jika Hipoglikemia telah Teratasi

11
Apabila hipoglikemia telah teratasi, pasien harus mendapatkan

makanan atau kudapan yang semestinya dia dapatkan sesuai jadwal

makan harian guna mencegah hipoglikemia berulang. Apabila jadwal

makan lebih dari 1 jam sejak kejadian hipoglikemia, kudapan

(termasuk karbohidrat 15 gram dan protein) perlu diberikan bagi

pasien.

B. Hyperglikemia

A. Konsep Hiperglikemia pada Ibu hamil

1. Kadar Gula Darah

Kadar gula (glukosa) darah adalah kadar gula yang terdapat dalam

darah yang terbentuk dari karbohidrat dalam makanan dan disimpan

sebagai glikogen di dalam hati dan otot rangka. Kadar gula darah

merupakan sumber energi utama bagi sel tubuh dalam otot dan

jaringan.16 Kenaikan kadar gula darah atau sering disebut hiperglikemia.

Salah satu tanda penyandang Diabetes Mellitus (DM) adalah

hiperglikemia, yang diakibatkan produksi insulin yang tidak adekuat atau

penggunaan insulin secara tidak efektif pada tingkat seluler.

Penderita dengan hiperglikemia biasanya ditandai dengan sering

berkemih (polyuria), sering haus (polydipsia) dan berat badan turun

secara tiba-tiba.Hiperglikemia biasanya disebabkan oleh berbagai faktor

diantaranya makananan dan obat yang dikonsumsi, salah memilih

makanan atau lebih banyak dari biasanya, aktivitas fisik yang kurang

aktif dari biasanya, sedang sakit dan stress. Ibu yang mengalami

12
hiperglikemia atau kadar glukosa tinggi bisa mengakibatkan atau

dikatakan menyandang diabetes mellitus gestasional atau DMG.

2. Definisi Hiperglikemia pada Ibu Hamil

Hiperglikemia pada ibu hamil atau Diabetes Mellitus Gestasional

(DMG) didefinisikan sebagai intoleransi karbohidrat dengan keparahan

bervariasi dan serangan atau pertama kali diketahui saat hamil.Pengertian

lainnya, hiperglikemia pada ibu hamil adalah intoleransi karbohidrat

ringan maupun berat, terjadi atau diketahui pertama kali saat kehamilan

berlangsung. Hiperglikemia pada ibu hamil adalah kehamilan normal

yang disertai dengan peningkatan insulin resisten (ibu hamil gagal

mempertahankan euglyocemia). Hiperglikemia pada ibu hamil biasanya

muncul atau terdiagnosis pada trimester 2 atau trimester 3 kehamilan

tanpa DMT 1 maupun DMT 2.

3. Klasifikasi Hiperglikemia pada Ibu Hamil

Pada klasifikasi WHO, sub kelompok hiperglikemia pada ibu hamil

sesungguhnya masuk kelompok toleransi glukosa pernah

abnormal.Hiperglikemia pada ibu hamil, memiliki risiko terjadi Non-

insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) menetap 10-15 tahun

kemudian lebih tinggi daripada ibu hamil normal.

a. Klasifikasi menurut White (1986)

Klasifikasi ini berdasarkan umur, waktu penyakit timbul, lama,

berat dan komplikasi yang menyertai untuk diagnosis ibu dan anak.

13
1) Kelas A1, hiperglikemia pada kehamilan yang dikarakteristikkan

melalui tes toleransi glukosa (TTG) abnormal tanpa gejala

menyertai dan glukosa puasa normal.

2) Kelas A2, hiperglikemia pada ibu hamil dengan TTG abnormal dan

glukosa puasa meningkat. Nilai kadar glukosa ketika puasa >105

mg/dL dan 2 jam postprandial >120 mg/dL dan dapat dikontrol

dengan insulin dan latihan-latihan.

3) Kelas B, serangan diabetes diketahui secara klinis setelah usia 20

tahun dan berlangsung kurang dari 10 tahun, tanpa kelainan

pembuluh darah

4) Kelas C, diabetes yang diderita antara usia 10-19 tahun dan tidak

disertai kelainan pembuluh darah.

5) Kelas D, diabetes yang diderita sebelum usia 10 tahun atau diabetes

lama yang berlangsung lebih dari 20 tahun dan disertai dengan

retinopati ringan.

6) Kelas E, serangan diabetes terjadi berbagai kelompok usia dan

disertai kelainan pembuluh darah pada panggul

7) Kelas F, serangan diabetes pada berbagai usia disertai dengan

nefropati

8) Kelas R, serangan diabetes pada berbagai usia dengan retinopati

proliferative

9) Kelas RF, Serangan diabetes pada berbagai usia disertai nefropati

dan retinopati

14
10)Kelas H, serangan diabetes pada berbagai usia, yang disertai

penyakit jantung atherosclerosis

11) Kelas T, serangan diabetes pada berbagai usia yang terjadi setelah

transplantasi ginjal

b. Klasifikasi menurut The National Diabetes Data Group Classification

DMT 1 dan DMT 2 merupakan diabetes pra-gestasional,

yaitu wanita yang mengalami diabetes sebelum kehamilan.Sedangkan

hiperglikemia pada ibu hamil, ibu hamil yang didapati intoleransi

karbohidrat yang terdeteksi pertama kali pada masa kehamilan.

Kondisi tersebut diakibatkan oleh adanya proses metabolisme dan

perubahan hormonal selama kehamilan.

c. Pembagian hiperglikemia pada ibu hamil

Hiperglikemia pada ibu hamil terbagi atas 2 jenis, yaitu:

1) DM yang sudah diketahui sebelumnya dan kemudian tetap

berlanjut setelah melahirkan atau disebut DM Pragestasional

(DMPG). Sebagian besar termasuk golongan Insulin

DepedentDiabetes Mellitus (IDDM) atau DM yang bergantung

pada insulin.Sang ibu merupakan pengidap DMT 1 atau 2.

2) DM yang ditemukan pada saat kehamilan atau hiperglikemia pada

ibu hamil, sebelumnya tidak pernah didiagnosis diabetes atau

hiperglikemia pada ibu hamil. Kondisi ini akibat proses

metabolisme dan perubahan hormonal selama masa kehamilan

15
yang memiliki efek diabetogenik. Umumnya termasuk golongan

NIDDM atau DM yang tidak bergantung pada insulin.

4. Patofisiologi Hiperglikemia pada Ibu Hamil

Konteks kehamilan, pada wanita hamil terjadi perubahan

perubahan fisiologis yang berpengaruh terhadap metabolisme karbohidrat

karena adanya hormon plasenta yang bersifat resistensi terhadap insulin,

sehingga komposisi sumber energi dalam plasma ibu berubah atau

disebut bersifat diabetogenik.Meningkatnya umur kehamilan dapat

mengganggu keseimbangan metabolisme karbohidrat sehingga terjadi

gangguan toleransi glukosa akibat pemenuhan kebutuhan energi untuk

ibu dan janin.Perubahan hormonal ditandai dengan meningkatnya

hormon estrogen dan hormon progesteron yang mengakibatkan keadaan

jumlah atau fungsi insulin ibu tidak optimal dan resistensi terhadap efek

insulin. Efek dari resistensi insulin ini mengakibatkan kadar gula darah

ibu hamil tinggi sehingga terjadilah diabetes gestasional atau

hiperglikemia pada ibu hamil.

Setelah melahirkan, perubahan fisiologis saat hamil sudah hilang

maka ibu akan menjadi normal kembali dan berisiko dalam beberapa

tahun kedepan menetap menjadi DM. Apabila ibu sebelumnya sudah

menyandang DMT 1 atau DMT 2 dan baru diketahui hiperglikemia saat

hamil, maka setelah melahirkan ibu menyandang DM. selain itu juga

akan mengakibatkan obesitas dan terjadinya sindrom metabolic.

16
6. Komplikasi Hiperglikemia pada Ibu Hamil

Melalui difusi fertilisasi dalam membran plasenta, pada sirkulasi

janin juga ikut terjadi komposisi sumber energi yang abnormal, sehingga

menyebabkan risiko tinggi terjadinya berbagai komplikasi pada ibu dan

janin.

a. Risiko dan komplikasi pada ibu

Kehamilan diabetik lebih rentan disertai komplikasi, antara lain :

1) Abortus Spontan

Diabetes Mellitus meningkatkan risiko terjadinya keguguran,

karena ketidakadekuatan kontrol glikemik selama fase embrionik

(usia kehamilan 7 minggu pertama) diindikasi dengan peningkatan

HbA1c. Wanita hamil dengan hiperglikemia pada ibu hamil

memiliki risiko terjadinya abortus spontan 30−60%.

2) Preeklamsia (pregnancy inducedhi pretension)

Hiperglikemia pada ibu hamil memiliki 2 kali risiko

terjadinya preeklamsia.Hipertensi pada kehamilan menyebabkan

kelahiran prematur pada ibu diabetik.Angka kematian perinatal

meningkat 20 kali lipat pada ibu diabetik dengan preeklamsia

dibanding dengan ibu hamil yang tekanan darahnya normal.

3) Persalinan prematur

Diabetes yang sudah ada pada ibu sebelum kehamilan

termasuk faktor risiko tinggi bagi kelahiran prematur.Persalinan

prematur disebabkan karena ibu telah mengalami peningkatan

17
volume urin yangberkembang menjadi infeksi saluran kemih atau

infeksi ginjal, gangguan vaskuler.

4) Polihidramnion

Polihidramnion merupakan kelebihan cairan amnion /

ketuban sebesar 2000 ml. Kurang lebih sekitar 18% dari seluruh

ibu hamil diabetik mengalami polihidramnion saat kehamilan.

Hidramnion bisa menyebabkan distensi uterus yang berlebihan,

meningkatkan risiko rupture membran yang prematur (ketuban

pecah dini atau KPD), persalinan prematur dan pendarahan pasca

partum.

5) Infeksi

Infeksi lebih umum terjadi dan lebih berat pada wanita

diabetik yang hamil.Sekitar 80% wanita diabetes bergantung pada

insulin mengalami infeksi selama kehamilan.Infeksi yang sering

terjadi vulvovaginitis candida, infeksi saluran kemih, infeksi pada

jalan lahir dan infeksi panggul pada masa nifas.Infeksi pada

hiperglikemia saat kehamilan yang bersifat serius bisa

menyebabkan peningkatan resistensi insulin dan ketoasidosis.

Angka infeksi pascapartum wanita diabetik bergantung pada

insulin dilaporkan lima kali lebih besar daripada ibu hamil bukan

diabetik.

6) Risiko tinggi section caesaria

18
Hiperglikemia pada ibu hamil memiliki risiko tinggi

melahirkan dengan section caesaria, karena adanya komplikasi

yang terjadi bersamaan, gawat janin, makrosomia janin, dan

kegagalan induksi sebelum anterm.

a. Risiko dan komplikasi pada janin

1) Kelainan kongenital atau Malformasi

Risiko terjadinya kelaianan kongenital terjadi pada ibu

dengan DM sebesar 6−12%. Insiden malformasi pada ibu dengan

DMT 1 adalah 5−10%, 50% dari seluruh kematian perinatal

diantara bayi dari ibu yang mengalami hiperglikemia saat

kehamilan disebabkan malformasi kongenital. Peningkatan

malformasi berat disebabkan dari kurang terkontrolnya DM baik

sebelum kehamilan maupun saat awal kehamilan selama

pembentukan organogenesis.

2) Makrosomia

Makrosomia merupakan berat badan bayi lebih dari 4000

gram.Makrosomia disebabkan oleh peningkatan kadar glukosa

janin. Hal ini menstimulasi produksi insulin oleh pankreas janin

yang menyebabkan hyperinsulinemia.Hyperinsulinemia

meningkatkan pertumbuhan dan penyimpanan lemak, sehingga

mengakibatkan janin tumbuh melebihi normal. Makrosomia

berisiko tinggi terjadinya trauma persalinan, distosia bahu, injuri

pleksus brochialis, injuri saraf wajah dan asfiksia karena proses

19
persalinan yang lama dan sulit. Makrosomia juga mengakibatkan

peningkatan kelahiran section caesaria.

3) Pertumbuhan janin terhambat atau Intrauterin Growth Restriction

(IUGR)

Komplikasi hiperglikemia pada ibu hamil salah satunya

mengalami perubahan vaskuler yaitu gangguan sirkulasi

uteroplasental.Jumlah oksigen yang tersedia untuk janin berkurang

atau menurun sehingga bisa menyebabkan pertumbuhan janin

terhambat. IUGR akan menghasilkan neonatus yang kecil untuk

masa kehamilan.

4) Kematian janin tidak dapat dijelaskan atau Intrauterine Fetal Death

Terdapat risiko peningkatan terjadinya bayi lahir mati tanpa

sebab oleh ibu hamil dengan hiperglikemia saat

kehamilan.Kematian tersebut dianggap tidak jelas faktor

penyebabnya seperti insufisiensi plasenta, solusi plasenta,

pertumbuhan janin terhambat, meninggal sebelum persalinan.

20
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pada kehamilan kemungkinan komplikasi terhadap kontrol glukosa

adalah 3%-10%. Prevalensi terjadinya prediabetes di Indonesia pada tahun

2007 sebesar 10%, sedangkan prevalensi diabetes melitus gestasional sebesar

1,9%-3,6%. Bila dibandingkan negara lain angka ini lebih rendah, meskipun

demikian, masalah diabetes gestasional di Indonesia masih membutuhkan

penanganan yang serius melihat jumlah penderita yang cukup banyak serta

dampak yang ditimbulkan pada ibu hamil dan janin.

B. Saran

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna.

Maka penulis mohon kritik dan saran guna perbaikan untuk masa yang akan

datang.

21