Anda di halaman 1dari 60

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN – SB184512

PENGARUH FOTOTROPISME TERHADAP


PERTUMBUHAN Phaseolus radiatus

KELOMPOK 12
Nabilah Anindya S. 01311740000007
Mifthakul Sefti R. 01311740000011
Indah Fajarwati 01311740000019
Elshinta Riantica 01311740000048
Ayunda Novita R. 01311740000062

DosenPengampu:
Dr. Nurul Jadid, S.Si., M.Sc.
Dini Ermavitalini, S.Si., M.Si.
TutikNurhidayati, S.Si., M.Si.

Asisten Prkatikum:
Mia Maharani

DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA 2019
i
ii
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN – SB184512

PENGARUH FOTOTROPISME TERHADAP


PERTUMBUHAN Phaseolus radiatus

KELOMPOK 12
Nabila Anindya S. 01311740000007
Mifthakul Sefti R. 01311740000011
Indah Fajarwati 01311740000019
Elshinta Riantica 01311740000048
Ayunda Novita Rani 01311740000062

DosenPengampu :
Dr. Nurul Jadid, S.Si., M.Sc.
Dini Ermavitalini, S.Si., M.Si.
TutikNurhidayati, S.Si., M.Si.

Asisten Praktikum :
Mia Maharani

DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA 2019

iii
iv
REPORT OF PLANT PHYSIOLOGY – SB184512

THE EFFECT OF PHOTOTROPISM ON THE


GROWTH OF Phaseolus radiatus

KELOMPOK 11
Eris DwiNovitasari 01311740000003
May FiatusSholihah 01311740000015
FitrianiNurilAzizah 01311740000017
MaulindaKhasanatuz Z 01311740000031
Refer Iqbal Tawakkal 01311740000037

Lecturer :
Dr. Nurul Jadid, S.Si., M.Sc.
Dini Ermavitalini, S.Si., M.Si.
TutikNurhidayati, S.Si., M.Si..

Laboratory Assistant :
Mia Maharani

BIOLOGY DEPARTEMENT
FACULTY OF SCIENCE
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA 2019

v
vi
Abstrak
Gerak tumbuhan merupakan suatu respon yang
disebabkan oleh suatu rangsangan. Fototropisme adalah gerak
menuju atau menjauhi rangsangan berupa cahaya yang mengenai
bagian tubuh tumbuhan tersebut. Praktikum ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh cahaya terhadap arah gerak pertumbuhan
suatu tumbuhan. Sampel yang digunakan adalah tanaman
Phaseolus radiatus. Tanaman tersebut diberi perlakuan berbeda,
diletakkan di tempat tanpa cahaya, di tempat dengan sedikit
cahaya serta di tempat terbuka. Perlakuan tersebut dilakukan
untuk mengetahui perbedaan respon yang terjadi pada tanaman
Phaseolus radiatus. Hasil yang didapatkan adalah tanaman yang
diletakkan di tempat terbuka dapat tumbuh subur memanjang ke
arah atas, dengan warna batang dan daun hijau segar. Tanmaan
yang diletakkan di tempat dengan sedikit cahaya berwarna pucat
dan arah tumbuh batangnya membengkok menuju sumber cahaya.
Sedangkan tanaman yang diletakkan di tempat gelap cenderung
layu dan berwarna pucat karena pengaruh penyiraman yang
terlalu banyak.

Kata kunci : Cahaya, Fototropisme, Phaseolus radiatus,

vii
viii
Abstract
Plant motion is a response, caused by stimulation.
Phototropism is the movement towards or away from stimuli that
are part of the plant's body. This practicum aims to determine the
effect of light on the direction of motion of a plant's growth. The
sample used was the Phaseolus radiatus plant. These plants are
given different permits, placed in a place without light, in a place
with little light in the open place. This treatment was carried out to
determine differences in responses that occur in Phaseolus
radiatus plants. The results obtained are plants that are placed in
a place that can be opened to grow extending towards the top, with
fresh green color for the stems and leaves. The plant which placed
in a place with a little pale light and the direction of growth of the
stem is bent towards the light source. While plants that are in a
dark place hung withered and pale because of the influence of too
much watering.

Key words : Light, Phaseolus radiatus, Phototropism

ix
10
11

KATA PENGANTAR

Puji syukurpenulis panjatkankehadirat Allah SWT, karena atas


rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan
praktikum dengan judul “Pengaruh Fototropisme terhadap
Pertumbuhan Phaseolus radiatus” sebagai salah satu syarat
kelulusan mata kuliah FisiologiTumbuhan di Departemen Biologi,
FakultasSains, InstitutTeknologiSepuluhNopember, Surabaya.
Penulis mendapatkan banyak bantuan dari berbagai pihak dalam
menyelesaikan laporan Praktikum ini. Atas berbagai bantuan dan
dukungan tersebut, pada kesempatan ini penulis menghaturkan
ucapan terimakasih kepada :
1. Allah SWT yang telah memberikan kesempatan kepada
penulis untuk menyelesaikan laporan Praktikum hingga
selesai.
2. Dosen pengampu praktikum Bapak Dr. Nurul Jadid,
S.Si.,M.Sc., Ibu Dini Ermavitalini, S.Si., M.Si., Ibu Tutik
Nurhidayati, S.Si., M.Si.dan selaku asisten praktikum
yang telah memberikan ilmu dan waktu dalam proses
praktikum.
Penulis menyadari bahwa laporan Praktikum ini masih
memiliki banyak kekurangan. Namun, besar harapan penulis agar
laporan Praktikum ini dapat bermanfaat.

Surabaya, 01 November 2019

Penulis
12

DAFTAR ISI

Halaman
Abstrak……………………………………………………………………………....……vii
Abstract……………………………………………………………………………………. ix
KATA PENGANTAR……………………………………………………………. . xi
DAFTAR ISI……………………………………………………………….…………. xii
DAFTAR GAMBAR……………………………………………………………… xiv
DAFTAR TABEL……………………………………………………………………xv
DAFTAR GRAFIK…………………………………………………………… ......xvi
BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………….. . 1
1.1 Latar Belakang………………………………………………………………… .... 1
1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………….......... 2
1.3 Batasan Masalah……………………………………………………………....... 2
1.4 Tujuan……………………………………………………............................... 2
1.5 Manfaat…………………………………………………. .............................. 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA………………………………… ............... 4


2.1 Macam-macam Gerak Pada Tumbuhan ……..………………………..4
2.2 Fototropisme…………................................................................. 5
2.3 Fotoreseptor untuk Fototropisme……………............................... 6
BAB III METODOLOGI……………………………………………..…………. . 9
3.1 Waktu dan Tempat Praktikum……………………….…….................. 9
3.2 Alat dan Bahan……………………………………………………. ................ 9
3.3 Cara Kerja………………………….………… ........................................ 9
3.4 Analisis Data………………………….………… .................................. 10

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN…………………..……………..11


4.1 Tinggi Tanaman……………………….………………………………………..11
4.2 Jumlah Daun…......................................................................17
4.3 Warna Batang dan Daun..................................……………..19
4.4 Transduksi Sinyal Fototropisme…........................................22

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN……………………………..……. 25


13

5.1 Kesimpulan……………………………………………….……………………….25
5.2 Saran……………………………………………………………………………….…25

DAFTAR PUSTAKA…………………………………..………..……………….26
LAMPIRAN…………………………………………………………………..……….31
14

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 4.1 Pengaruh Auksin Terhadap


Pertumbuhan
Batan………………………………… 15

Gambar 4.3 Morfologi Phaseolus radiatus pada hari


ke 7…………………………................ 20

Gambar 4.4.1 Transduksi Sinyal Fototropisme


………………………...…................ 23

Gambar 4.4.2 Transduksi Sinyal Fototropisme


……….…………………………........ 24
15

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 4.3 Warna Batang dan Daun Phaseolus


radiatus………...……...…....... 20
16

DAFTAR GRAFIK

Halaman

Grafik 4.1.1 Tinggi Batang Phaseolus radiatus


Pada Hari Ke
0……………………………………… 11

Grafik 4.1.2 Tinggi Batang Phaseolus radiatus Pada


Hari Ke
0…………………………................ 12

Grafik 4.2.1 Jumlah Daun Phaseolus radiatus Pada


Hari Ke
0………………………...….............. 17

Grafik 4.2.2 Jumlah Daun Phaseolus radiatus Pada


Hari Ke 7

……….…………………………........ 18
17

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap organisme mampu menerima dan menanggapi
suatu rangsang. Salah satu bentuk tanggapan yang umum adalah
gerakan. Gerak merupakan perubahan posisi tubuh atau
perpindahan yang meliputi seluruh atau sebagian dari tubuh. Jika
pada hewan rangsang disalurkan melalui saraf, maka pada
tumbuhan rangsang disalurkan melalui benang plasma
(plasmodema) yang masuk ke dalam sel melalui dinding yang
disebut noktah (Reece et al., 2014). Gerak pada tumbuhan bersifat
pasif, artinya tidak terjadi perpindahan tempat. Macam-
macamgerak dibedakan menjadi gerak endonom dan esionom.
Gerak endonom merupakan bagian tubuh tumbuhan yang
disebabkan oleh rangsangan dari dalam. Gerak endonom dibagi
menjadi gerak nutasi (tanpa pengaruh rangsang dari luar, misalnya
gerak sitoplasma pada tanaman air) dan gerak higroskopis (gerak
yang terjadi karena adanya perubahan kadar air. Gerak esionom
adalah gerakan yang terjadi pada tumbuhan karena adanya
rangsangan dari luar seperti air, suhu, gravitasi bumi, sentuhan, zat
kimia, dan lain-lain (Eriawati, 2016).
Rangsangan tersebut ada yang menentukan arah gerak
tumbuhan dan ada pula yang tidak menentukan arah gerak
tumbuhan. Rangsangan yang menentukan arah gerak akan
menyebabkan tumbuhan bergerak menuju atau menjauhi sumber
rangsangan (Advinda, 2018). Gerak esionom dibagi menjadi 3
jenis, yakni nasti, taksis, dan tropisme (Eriawati, 2016). Praktikum
yang telah dilakukan mebuktikan adanya gerak tropisme pada
tumbuhan yang disebabkan oleh faktor atau rangsangan berupa
cahaya, yang selanjutnya gerak tersebut disebut fototropisme.
Fototropisme merupakan adaptasi tumbuhan untuk mengarahkan
18

tajuknya ke arah cahaya cahaya yang sangat penting


untuk berlangsungnya proses fotosintesis (Advinda, 2018). Selain
itu, fototropisme berkaitan erat dengan hormon auksin yang
bekerja secara antagonis terhadap cahaya. Sisi batang yang terkena
cahaya, jumlah auksin lebih sedikit dari pada sisi batang yang tidak
terkena cahaya. Oleh karena itu, sisi batang yang terkena cahaya
mengalami pertumbuhan lebih lambat dibandingkan dengan sisi
batang yang tidak terkena cahaya sehingga menyebabkan batang
membelok ke arah cahaya (Liscum et al., 2014). Praktikum
fototropisme dilakukan untuk mengetahui respon tumbuhan dalam
menerima rangsangan berupa cahaya.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah
sebagai berikut :
1. Bagaimana mekanisme terjadinya fototropisme?
2. Bagaimana arah gerak fototropisme pada tanaman
Phaseolus radiatus?

1.3 Batasan Masalah


Batasan masalah pada praktikum ini sebagai berikut :
1. Biji yang digunakan pada penelitian kali ini menggunakan
biji Phaseolus radiatus
2. Perlakuan yang diberikan pada biji adalah diletakkan pada
tempat yang disinari cahaya matahari dan tidak disinari
cahaya matahari.

1.4 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui arah perkecambahan karena pengaruh cahaya
2. Mengetahui mekanisme yang terjadi pada gerak
fototropisme.
19

1.5 Manfaat
Manfaat dari praktikum ini adalah
1. Manfaat dari penelitian ini adalah pembaca dan penulis
dapat mengetahui mekanisme terjadinya gerak pada
tumbuhan yaitu fototropisme.
2. Untuk pembaca, dapat menjadi referensi mengenai studi
ekofisiologi mengenai mekanisme buka-tutup stomata
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Macam-macam Gerak Pada Tumbuhan


Gerak tropisme merupakan salah satu bagian dari gerak
pada tumbuhan. Gerak tropisme merupakan gerak tumbuhan
atau bagian tumbuhan yang arah geraknya dipengaruhi oleh
arah datangnya rangsangan. Berdasarkan jenis
rangsangannya, gerak tropisme dibedakan menjadi
fototropisme, geotropisme, tigmotropisme, hidrotropisme
dan kemotropisme (Rina, 2013):

a. Gerak fototropisme adalah gerak pada tubuh tumbuhan


yang arah geraknya ditentukan oleh sinar matahari atau
intensitas cahaya yang di terima oleh tanaman. Mekanisme
terjadinya gerak fototropisme ini disebabkan oleh
kecepatan pemanjangan sel yang berbeda dari sisi yang
berlawanan. Contohnya gerak ujung batang kearah
cahaya matahari (Advinda, 2018).
b. Gerak geotropisme adalah gerak pada tubuh tumbuhan
yang dipengaruhi oleh faktor gravitasi bumi. Fakta
menunjukan bahwa gerak tumbuh ujung akar selalu
menuju ke pusat bumi, oleh karena itu gerak akar yang
menuju ke pusat rangsang yang merupakan gravitasi bumi
disebut gerak geotropisme positif. Sebaliknya, gerak tubuh
tumbuhan yang menjauhi gravitasi bumi disebut gerak
geotropisme negatif misalnya gerak tumbuh batang
tumbuhan. Gerak tumbuh ujung akar menuju ke pusat
bumi disebabkan oleh pengendapan statolit, yaitu plastida
khusus pada ujung akar yang mengandung tepung. Statolit
ini mengendap pada titik-titik terbawah sel tudung akar.

4
21

Contohnya gerak tumbuh akar menuju pusat bumi


(Advinda, 2018).
c. Gerak tigmotropisme adalah gerak pada tubuh tumbuhan
yang ditentukan oleh rangsangan yang berupa singgungan
ataupun sentuhan. Arah gerak tumbuh sulur tanaman ini
sangat menarik perhatian. Sulur yang telah membuat
beberapa lingkaran kemudian memutar ke arah yang
berlawanan. Hal ini berulang sampai beberapa kali. Mula-
mula terjadi pembelitan ujung akar ke kiri. Setelah
membelit beberapa lingkaran ke kiri, ujung sulur ini lurus
sebentar, kemudian membelit ke kanan beberapa
lingkaran, lalu lurus kembali, kemudian membelit ke kiri,
dan seterusnya. contohnya gerak melilitnya sulur
tanaman markisa, sirih, mentimun, anggur, semangka
pada ajir (Advinda, 2018).
d. Gerak hidrotropisme adalah gerak bagian tubuh
tumbuhan yang arah geraknya dipengaruhi oleh air atau
faktor kelembapan. Selain cahaya, air merupakan salah
satu faktor yang dapat menjadi rangsang gerak.
Contohnya akar akan bergerak menuju sumber air
(Advinda, 2018).
e. Gerak kemotropisme rangsangannya berupa zat
kimia. Jika gerakannya mendekati zak kimia tertentu
disebut kemotropisme positif. Contohnya gerak akar
menuju pupuk, gerak akar menjauhi racun (Advinda,
2018).

2.2 Fototropisme
Gerak fototropisme merupakan gerak tumbuhan yang arah
geraknya ditentukan oleh sinar matahari atau intensitas cahaya
22

yang di terima oleh tanaman. Mekanisme terjadinya gerak


fototropisme ini disebabkan oleh kecepatan pemanjangan sel yang
berbeda dari sisi yang berlawanan. Contohnya gerak ujung
batang kearah cahaya matahari (Advinda, 2018). Terdapat dua
jenis gerak fototropisme, yaitu :
6

a. Fototropisme positif

Fototropisme positif yaitu gerak tumbuhan menuju arah


datangnya cahaya. Contohnya yaitu pertumbuhan tunas ke
arah datangnya cahaya. Tunas tumbuh mengikuti arah
datangnya cahaya ini disebabkan oleh pertumbuhan sel-sel
yang tidak seimbang pada sisi koleoptil yang berlawanan,
sehingga sel-sel pada sisi lebih gelap memanjang lebih cepat
dibandingkan dengan sel-sel pada sisi lebih terang (Campbell,
dkk., 2008).

b. Fototropisme negative

Fototropisme negatif yaitu gerak tumbuhan menjauhi arah


datangnya cahaya. Contohnya yaitu pertumbuhan tunas yang
tumbuh menjauhi arah datanngnya cahaya, yaitu gerak tumbuh
akar yang mejauhi cahaya karena akibat rangsangan gaya tarik
bumi (gravitasi) (Campbell, dkk., 2008).

2.3 Fotoreseptor untuk Fototropisme


Respon tanaman terhadap arah rangsangan cahaya yang
disebut fototropisme diperantarai oleh tiga jenis fotoreseptor
cahaya, yaitu fototropin, fitokrom dan kriptokrom. Fototropin dan
kriptokrom merupakan fotoreseptor cahaya biru/UV-A, sedangkan
fitokrom merupakan fotoreseptor cahaya merah.

1. Fototropin adalah fotoreseptor cahaya biru untuk


tanggapan tropik, relokasi kloroplas, dan pembukaan
stomata pada tumbuhan. Peran fototropin adalah sebagai
a. Pergerakan daun
Tanaman yang diberi cahaya biru menyebabkan daun
bergerak diantara tangkai dan helaian daun dan mendorong
24

gerakan daun membengkok sampai pulvinar karena cahaya


biru diserap oleh pulvinus laminar.
b. Pergerakan Inflorescence Batang dan Petiolus
Tanaman diiradiasi sebagian dengan cahaya biru, maka
tanaman akan memberikan respon fototropik pada
inflorescence batang dan petiolus. Dalam gelap, batang
dan petiolus tumbuh vertikal menunjukkan gerakan rotasi
selama 24 jam setelah di transfer ke gelapan. Jika tanaman
diiradiasi terus-menerus dengan cahaya biru, setelah 12
jam diinkubasi dalam gelap, maka batang dan petiolus
tumbuh membengkok ke arah sumber cahaya.
2. Fitokrom adalah Informasi-pentransduksi fotoreseptor,
cahaya merah (R) dan cahaya merah-jauh (FR) merupakan
cahaya yang diserap fitokrom dan cahaya UV-A/cahaya
biru merupakan cahaya yang diserap kriptokrom dan
fototropin. Fitokrom(phy) merupakan fotoreseptor
Photochromicbiliproteins yang reversibel, sebagai dimer
dengan masing-masing monomer yang terdiri dari suatu
apoprotein kovalen yang melekat padacahaya-menyerap
linier tetrapyrrole kromofor, phytochromobilin. Fitokrom
disintesis dalam gelap yang secara biologi dalam bentuk
R-absorbsi inaktif(Pr). Aktivitas secara biologis terjadi
pada fotokonversi serapan cahaya dalam bentuk merah-
jauh (Pfr) pada panjang gelombang merah.
3. Kriptokrom memperantarai fototropisme, atau
pertumbuhan menuju sumber cahaya sebagai respon
terhadap cahaya biru. Tanggapan ini sekarang dikenal
sebagai fotoreseptor. Tidak seperti fitokrom dan
fototropin, kriptokrom tidak bersifat kinase. Flavin
kromofor berkurang oleh cahaya dan diangkut ke dalam
inti sel, di mana hal itu mempengaruhi tekanan turgor dan
25

menyebabkan pemanjangan batang berikutnya. Secara


khusus, Cry2 bertanggung jawab untuk memperantarai
cahaya biru pada perkembangan kotiledon dan perluasan
daun. Cry2 berlebih pada tanaman transgenik
meningkatkan cahaya biru yang mendorong
perkembangan kotiledon, menghasilkan banyak daun lebar
dan tidak ada bunga, daripada daun utama dengan
beberapa bunga (Asbur,2017).
BAB III
METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian fototropisme dilaksanakan pada hari Senin, 28
Oktober 2019 pukul 07.00-10.00 namun untuk perlakuan
dilakukan sejak hari Senin, 21 Oktober 2019 di Laboratorium
Biosains dan Teknologi Tumbuhan dan Greenhouse, Departemen
Biologi, Fakultas Sains, Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya.

3.2 Alat dan Bahan


Alat yang digunakan pada penelitian fototropisme adalah
nampan, botol air mineral 1,5L, gunting, penggaris, alat tulis,kertas
label, cutter, solasi, ember, kardus dan sprayer.
Bahan yang digunakan adalah biji Phaseolus radiatus
yang telah direndam selama semalam, tanah, pupuk kompos, dan
air.

3.3 Cara Kerja


Diambil biji Phaseolus radiatus yang baik dengan cara
direndam dalam air selama semalam, biji yang tenggelam
merupakan biji yang baik dan layak digunakan untuk percobaan.
Biji yang telah direndam kemudian disemai pada nampan yang
sebelumnya sudah diberi campuran tanah dan pupuk kompos.
Kemudian ditunggu selama satu minggu dan setiap harinya disiram
agar tetap lembap. Setelah satu minggu, Phaseolus radiatus yang
sudah tumbuh dipindahkan pada botol air mineral 1,5L yang sudah
dibagi dua dan diberi tanah serta pupuk kompos. Diletakkan
masing-masing 5 tanaman pada setiap botol, botol perlakuan di
tempat terang, gelap dan sedang serta diberi label tiap botol agar
memudahkan saat pengamatan. Diukur panjang batanag setiap
tanaman dan dicatat sebagai data perbandingan antara hari ke-0 dan
hari ke-7. Selanjutnya yaitu diberikan perlakuan dengan diletakkan
di tempat terang (tanpa diberi penutup kardus), di tempat sedang
(diberi penutup kardus yang diberi lubang pada bagian samping)

9
dan di tempat gelap (ditutup kardus sepenuhnya). Perlakuan
tersebut dilakukan selama satu minggu dan setiap harinya diamati
dan disiram agar tanah tetap lembap dan tanaman memperoleh
nutrisi. Setelah satu minggu tanaman diamati keadaan batangnya
dan diukur panjang batangnya kemudian dianalisis hasilnya.
Metode yang digunakan adalah metode observasi yakni dengan
cara pengamatan secara langsung terhadap objek percobaan.

3.4 Analisis Data

Analisa data yang dilakukan yakni dengan cara


pengukuran panjang batang, keadaan batang (warna batang dana
rah pembelikan batang). Teknik analisanya dengan menggunakan
referensi dari berbagai sumber, baik dari buku-buku yang relevan,
internet maupun data yang diperoleh dari hasil penelitian tersebut.

9
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Tinggi Tanaman


Pengukuran tanaman uji Phaseolus radiatus dilakukan pada
hari ke 0 dan hari ke 7. Berikut adalah hasil perhitungan rata-rata
tinggi batang disajikan dalam grafik dengan membandingkan
antara perlakuan cahaya gelap, cahaya sedang dan cahaya terang.

HARI KE 0
25 7 7,3 7,7 6,8
6,4
TINGGI BATANG

20 7,7 7,4 8,4


6,7 6,7
15
7,4 6,6 6,9 6,4 7
10
5
0
PENGULANGAN

TERANG SEDANG GELAP

Grafik 4.1.1 Tinggi Batang Phaseolus radiatus Pada Hari Ke 0

11
HARI KE 7
TERANG SEDANG GELAP

15
TINGGI BATANG

10

0
1 2 3 4 5
PENGULANGAN

Grafik 4.1.2 Tinggi Batang Phaseolus radiatus Pada Hari Ke 7

Berdasarkan perhitungan rata-rata tinggi batang Phaseolus


radiatus antara perlakuan cahaya gelap, cahaya sedang dan cahaya
terang memiliki perbedaan tinggi batang pada setiap perlakuannya.
Pada perlakuan cahaya gelap didapatkan rata-rata tinggi batang
hari ke 0 yaitu 7,04 cm dan mengalami kenaikan hingga hari ke 7
menjadi 7,26 cm. Sedangkan pada cahaya sedang didapatkan rata-
rata tinggi batang hari ke 0 yaitu 7,38 cm dan mengalami kenaikan
hingga hari ke 7 menjadi 8,56 cm dan pada cahaya terang
didapatkan rata-rata tinggi batang hari ke 0 yaitu 6,78 dan
mengalami kenaikan hingga hari ke 7 menjadi 11,4 cm.

Hasil pada kecambah yang diberi perlakuan pada cahaya


terang atau terpapar sinar matahari langsung mengalami
pemanjangan batang yang signifikan. Secara morfologi memiliki
diameter batang yang lebih besar dan segar, memiliki daun yang
lebih lebar dan berwarna hijau segar. Arah pertumbuhan batang
pada cahaya terang yaitu tumbuh lurus ke atas. Hasil ini sesuai

11
13

dengan literatur yang menjelaskan bahwa radiasi yang diterima


permukaan daun tanaman dipengaruhi oleh lingkungan,
diantaranya yaitu distribusi cahaya yang berbeda. Distribusi
cahaya akan memberikan respons yang berbeda pula terhadap
pertumbuhan tanaman (Myrna dan Lestari,2010). Cahaya mampu
mengendalikan wujud tumbuhan dalam perkembangan
morfogenesisnya. Fitokrom dan penerima cahaya lainnya
berfungsi untuk mengatur berbagai proses morfogenesis dimulai
dari perkecambahan biji, perkembangan kecambah dan
pembentukan bunga serta buah dan biji (Muhar dkk, 2015). Dalam
keadaan banyak cahaya auksin mengalami kerusakan, sehingga
pertumbuhan tumbuhan terhambat. Cahaya menyebabkan auksin
rusak terdispersi ke sisi gelap. Laju tumbuh memanjang pada
tumbuhan dengan segera berkurang sehingga batang lebih pendek,
namun tumbuhan lebih kokoh, daun berkembang sempurna, dan
berwarna hijau (Maghfiroh,2017).

Hasil pada kecambah yang diberi perlakuan pada cahaya


sedang didapatkan data grafik dengan panjang batang yang berbeda
pada tiap pengulangan dengan peningkatan antara hari ke 0 dan ke-
7 yang kurang signifikan. Setelah diamati, arah gerak tumbuh
batang mengikuti arah datangnya cahaya matahari. Karakter
tersebut disebabkan oleh fototropisme. Fototropisme adalah gerak
pada tumbuhan yang dipengaruhi oleh arah rangsang berupa
cahaya yang datang. Hal itu menjelaskan adanya mekanisme
transduksi dasar dalam fototropisme (Draseffi dkk, 2015).
Pergerakan pertumbuhan kearah cahaya disebut fototropisme
positif. Pucuk dan kuncup ujung beberapa tanaman merupakan
fototropisme positif, namun akan sangat sensitif dengan cahaya
(Wisnuwati dan Nugroho,2018).
Hasil yang didapatkan pada perlakuan lokasi gelap adalah
panjang tanaman yang mengalami kenaikan. Arah tumbuhnya
kebawah. Secara morfologi memiliki batang yang rapuh, batang
13

atau daun berwarna pucat, daun yang kecil dan akar yang tidak kuat
tertanam ditanah. Berdasarkan literatur hasil ini sesuai karena
akibat kekurangan cahaya tumbuhan menjadi pucat karena
kekurangan klorofil, kurus, dan daun tidak berkembang.
Tumbuhan seperti itu disebut mengalami etiolasi (Mardi dkk,
2016). Diameter batangnya kecil karena kurangnya distribusi hasil
fotosintesis serta spektrum cahaya matahari yang kurang
merangsang aktivitas hormon dalam pembentukan sel
meristematik yang membentuk diameter batang (Suci & Hedi,
2018). Arah tumbuh kebawah diduga hasil dari mekanisme respon
fototropisme. Literatur menjelaskan bahwa mekanisme ini diawali
dengan pertumbuhan diferensial pada bagian atas dan bawah dari
organ yang berposisi arah horisontal melibatkan
ketidakseimbangan distribusi auksin pada bagian yang menerima
rangsangan. Pergerakan distribusi auksin terhadap rangsangan
gravitasi adalah kearah bawah. Pada tanaman yang diletakkan
secara horisontal, konsentrasi auksin yang terbentuk pada bagian
bawah lebih tinggi daripada bagian atas sehingga menyebabkan
pelengkungan kearah bawah (Hapsari,2011).
Peranan auksin adalah mendorong perpanjangan sel (sel
elongation) dengan cara mempengaruhi metabolisme dinding sel.
Efeknya adalah banyak bahan dinding sel primer yang dihasilkan
dan didepositkan pada ke dua ujung sel, kemudian struktural sel
diregangkan sehingga dimungkinkan deposit dinding sel yang
lebih banyak. Dengan demikian ujung tunas terjadi perpanjangan
sel. Mekanisme auksin terhadap pertumbuhan jaringan tanaman
yaitu dengan cara menginduksi sekresi H+ ke luar sel melalui
dinding sel. Pengasaman dinding sel menyebabkan susunan matrix
dinding sel merenggang (wall lossening), akibatnya air menjadi
masuk ke dalam sel, sehingga sel membesar (Mulyono,2010).
Auksin dalam jaringan tanaman dapat bekerja dengan aktif
meskipun dalam keadaan gelap, tetapi sintesis auksin berlangsung
dalam keadaan terang. Adanya cahaya yang terlalu terang juga
dapat menyebabkan rusaknya hormon tanaman ini (Buntoro,2014).
Membengkoknya batang tumbuhan ke arah sumber cahaya
15

disebabkan adanya perbedaan konsentrasi auksin . Pada daerah


gelap, konsentrasi auksin lebih tinggi sehingga sel akan
memanjang lebih cepat dibandingkan dengan kecepatan
pemanjangan sel di daerah yang lebih terang . Oleh karena
pemanjangan yang tidak seimbang dari kedua sisi batang ini,
batang menjadi bengkok (Wisnuwati dan Nugroho,2018)

Gambar 4.1 Pengaruh Auksin Terhadap Pertumbuhan Batang


(Wisnuwati dan Nugroho,2018)
Proses pertumbuhan tanaman sangat dipengaruhi oleh
lingkungannya. Lingkungan merupakan faktor eksternal yang
sangat mengganggu pertumbuhan tanaman apabila kondisi
lingkungan tidak sesuai dengan sifat tumbuh tanaman. Kondisi
lingkungan ini meliputi intensitas sinar matahari, temperatur, dan
tekanan udara serta adanya mikroorganisme yang mengganggu
tanaman (Maghfiroh,2017). Selain itu juga dipengaruhi oleh faktor
intrinsik antara lain adalah faktor genetik dan hormon. Gen
berfungsi mengatur sintesis enzim
untuk mengendalikan proses kimia dalam sel. Hal ini yang
menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan
(Raharjeng,2015). Pembentukan protein yang merupakan bagian
dasar penyusun tubuh tumbuhan, dikendalikan oleh gen secara
langsung. Dengan kata lain, gen dapat mengatur pola pertumbuhan
15

melalui sifat yang diturunkan dan sintesis- sintesis yang


dikendalikannya(Wisnuwati dan Nugroho,2018). Sedangkan,
hormon merupakan senyawa organik tumbuhan yang mampu
menimbulkan respon fisiologi pada tumbuhan. Hormon
mempengaruhi respon pada tumbuhan, seperti pertumbuhan akar,
batang, pucuk, dan pembungaan. Respon tersebut tergantung
pada spesies, bagian tumbuhan, fase perkembangan, konsentrasi
hormon, interaksi antar hormon, dan berbagai faktor lingkungan
(Raharjeng,2015).
Tersedianya kandungan nutrisi yang diserap tumbuhan harus
mengandung N dalam membentuk sel-sel baru karenanya
pertumbuhan tidak dapat berlangsung tanpa unsur nitrogen.
Kalsium (Ca) berfungsi sebagai pengatur pengisapan air dari dalam
tanah. Kalsium juga berguna untuk menghilangkan (penawar)
racun dalam tanah. Kekurangan kalsium dapat menyebabkan
pertumbuhan pucuk ranting terhambat dan batang tanaman tidak
kokoh. Kalium (K) membantu pembentukan protein dan
karbohidrat selain itu juga berfungsi untuk memperkuat jaringan
tanaman dan berperan dalam pembentukan antibodi tanaman yang
bisa melawan penyakit dan kekeringan. Jika kekurangan kalium
tanaman tidak tahan terhadap penyakit, kekeringan dan udara
dingin (Suryawaty & Wijaya, 2012).
Namun pada hari ketujuh hasil pertumbuhan kecambah pada
cahaya sedang dan gelap mengalami kebusukan diduga karena
adanya cekaman tergenang karena proses penyiraman yang
berlebihan namun proses transpirasi tanaman rendah karena suhu
dan paparan sinar matahari yang rendah. Kondisi stress genangan
air didefinisikan ketika pori tanah jenuh yang menjadi over
kapasitas tanah setidaknya 20%. Cekaman genangan air
(waterlogging) dapat menyebabkan rendahnya pasokan oksigen
pada bagian perakaran, penuaan dini sehingga daun klorosis,
nekrosis dan gugur serta pertumbuhan tanaman terhambat yang
pada akhirnya menurunkan hasil (produktivitas). Besarnya
penurunan hasil ini juga tergantung pada varietas kedelai yang
ditanam, fase pertumbuhan tanaman, lamanya tergenang, tekstur
17

tanah, adanya penyakit (Mahendra dkk, 2019). Karakter morfologi


yang diamati didapati hasil bahwa daun menguning, batang
menyusut dan busuk. Hal ini telah sesuai dengan literatur bahwa
pada kondisi kelebihan air benih akan mengalami kekurangan
oksigen untuk berkecambah sehingga menjadi busuk,
penggenangan yang lebih lama akan mengurangi tinggi tanaman,
dan umumnya memiliki daun yang menguning (Hapsari dan
Adie,2010).

4.2 Jumlah Daun

Pengukuran tanaman uji Phaseolus radiatus dilakukan


pada hari ke 0 dan hari ke 7. Berikut adalah hasil perhitungan rata-
rata jumlah daun disajikan dalam grafik dengan membandingkan
antara perlakuan cahaya gelap, cahaya sedang dan cahaya terang.

Jumlah daun Hari Ke 0


3

0
1 2 3 4 5

TERANG SEDANG GELAP

Grafik 4.2.1 Jumlah Daun Phaseolus radiatus Pada Hari Ke 0


17

Jumlah Daun Hari ke 7


15 2
2
10 2 8
2 2 2
2
5
0 5
0 2
4
5 3

0
1 2 3 4 5

TERANG SEDANG GELAP

Grafik 4.2.2 Jumlah Daun Phaseolus radiatus Pada Hari Ke 7

Berdasarkan perhitungan rata-rata jumlah daun Phaseolus


radiatus antara perlakuan cahaya gelap, cahaya sedang dan cahaya
terang memiliki perbedaan jumlah daun pada setiap perlakuannya.
Pada hari ke 0, rata-rata jumlah daun antara perlakuan cahaya
gelap,sedang dan terang sama yaitu 2 helai daun. Sedangkan pada
hari ke 7, rata-rata jumlah daun terdapat perbedaan antar perlakuan
yaitu perlakuan cahaya gelap memiliki 2 helai daun, cahaya terang
memiliki 5 helai daun dan pada perlakuan cahaya sedang justru
mengalami penurunan jumlah daun yaitu dengan rata rata 1,2
karena beberapa mengalami kematian.

Hasil yang didapatkan telah sesuai dengan literatur yang


menyatakan bahwa perlakuan tanpa naungan atau intensitas cahaya
100% dapat menghasilkan jumlah daun dan jumlah anakan daun
terbanyak jika dibandingkan dengan perlakuan cahaya sedang dan
gelap. Semakin banyak daun dapat diartikan semakin banyak
cahaya yang ditangkap sehingga proses fotosintesis akan
meningkat sebaliknya jika tanaman diletakkan pada tempat yang
kekurangan cahaya matahari maka akan layu dan bisa juga mati,
19

hal ini dikarenakan proses fotosintesisnya tidak berlangsung


dengan baik akibat dari kekurangan cahaya matahari (Buntoro dkk,
2014). Hasil fotosintesis akan ditranslokasikan keseluruh jaringan
tanaman melalui floem yang selanjutnya energi akan digunakan
untuk mengaktifkan pertumbuhan daun,tunas, dan batang sehingga
tanaman tumbuh optimal (Suci dan Heddy,2018).

Hormon auksin mempunyai peran yang berkaitan dengan


pembentukan jumlah daun. Semakin banyak hormon auksin yang
diberikan pada suatu tanaman sampai mencapai batas maksimum
maka jumlah daun akan mengalami pertambahan jumlah. Namun,
pada saat perlakuan deetiolasi akan membuat jumlah daun semakin
sedikit, hal ini karena sebagian dari jumlah hormon auksin yang
ditransportasikan menuju ke zona pemanjangan sel. Percobaan
yang dilakukan menghasilkan data bahwa pemaparan hormonn
auksin dengan waktu yang lama dapat menghasilkan jumlah daun
yang menjadi semakin banyak (Purwanti dkk, 2014). Selain
intensitas cahaya dan hormone auksin jumlah daun dan anakan
daun juga dapat dipengaruhi oleh jumlah nutrisi yang diberikan
(Malik, 2015). Jika semakin banyak nutrisi atau pupuk yang
diberikan pada suatu tanaman semakin terpenuhi, maka dengan
demikian pertumbuhan anakan daun akan terpenuhi (Buntoro dkk,
2014).

4.3 Warna Batang dan Daun


19

Gambar 4.3 Morfologi Phaseolus radiatus pada hari ke 7

Tabel 4.3 Warna Batang dan Daun Phaseolus radiatus


21

Berdasarkan pengamatan morfologi yang telah dilakukan,


didapatkan hasil bahwa warna batang Phaseolus radiatus pada
kondisi terang adalah berwarna hijau muda , sedangkan pada
kondisi sedang dan gelap batang berwarna hijau pucat. Warna daun
pada kondisi terang, sedang dan gelap adalah sama, yaitu berwarna
hijau. Namun, seharusnya warna daun pada kondisi gelap adalah
pucat. Hal tersebut dikarenakan kualitas, intensitas, dan lamanya
radiasi yang mengenai tumbuhan mempunyai pengaruh yang besar
terhadap berbagai proses fisiologi tumbuhan. Cahaya
mempengaruhi pembentukan klorofil, fotosintesis, fototropisme,
dan fotoperiodisme. Efek cahaya meningkatkan kerja enzim untuk
memproduksi zat metabolik untuk pembentukan klorofil
(Raharjeng., 2015).

Perkembangan struktur tumbuhan juga dipengaruhi oleh


cahaya (fotomorfogenesis). Efek fotomorfogenesis ini dapat
dengan mudah diketahui dengan cara membandingkan kecambah
yang tumbuh di tempat terang dengan kecambah dari tempat gelap.
Kecambah yang tumbuh di tempat gelap akan mengalami etiolasi
atau kecambah tampak pucat dan lemah karena produksi klorofil
terhambat oleh kurangnya cahaya. Sedangkan, pada kecambah
yang tumbuh di tempat terang, daun lebih berwarna hijau, tetapi
batang menjadi lebih pendek karena aktifitas hormon pertumbuhan
auksin terhambat oleh adanya cahaya (Hartanti dan Budhiatuti.,
2015).

Kandungan klorofil langsung berperan pada penangkapan


energi radiasi dan mengubahnya menjadi energi kimia, maka
jumlahnya akan menentukan kecepatan pertumbuhan. Adanya
naungan yang berbeda berakibat pada intensitas cahaya yang
diterima tumbuhan juga berbeda, sehingga mempengaruhi proses
perkecambahan biji. Jaringan di dalam kotiledon menunjukkan
struktur anatomi dengan kelompok-kelompok parenkim yang sel-
selnya banyak mengandung klorofil (Hartanti dan Budhiatuti.,
2015). Intensitas cahaya yang rendahternyata cenderung
mempengaruhi kandungan β karoten. Diduga hal ini
21

berhubungan dengan klorofil sebagai salah satu komponen


terpenting dalam proses fotosintesis. Intensitas cahaya
berpengaruh terhadap laju fotosintesis karena cahaya akan
diserap oleh fotosistem yang terdiri dari klorofil a,b dan pigmen-
pigmen pelengkap. Energi inilah yang digunakan untuk
biosintesis karotenoid. Tanaman berusaha melakukan adaptasi
penyerapan cahaya yang terbatas, namun fotosintesis harus
berjalan optimal (Wulandari dkk.,2016).

4.4 Transduksi Sinyal Fototropisme


Mekanisme transduksi sinyal fototropisme terbagi
menjadi dua kondisi yaitu Transduksi sinyal di dalam sel
hipokotil pada kondisi gelap dan transduksi sinyal di dalam
sel pada kondisi terpapar cahaya.
a. Transduksi sinyal di dalam sel hipokotil pada kondisi
gelap
Auksin berpindah dari ruang dinding sel menuju ke
sitoplasma melalui plasma membran, baik secara transpor
pasif (sebagai IAAH) maupun secara transpor aktif melalui
AUX/LAX–mediated H+-cotransport (sebagai IAA-).
Auksin anionik dalam sitoplasma hanya dapat meninggalkan
sel melalui PIN (protein yang memfasilitasi transportasi).
Protein PIN secara polar terlokalisasi lebih ke ujung basal sel
pada perkecambahan yang tumbuh di tempat gelap, meskipun
mereka juga menunjukkan siklus antara membran plasma dan
endosom melalui mekanisme yang diatur oleh ARF- GEF dan
kinase AGC3. Kestabilan protein PIN ditingkatkan oleh
keberadaan ABCB19. ABP bebas yang tidak berikatan
dengan auksin, pada permukaan luar membran plasma,
meningkatkan endositosis protein PIN. phot1 dalam keadaan
23

tidak aktif yang terdefosforilasi, sebagai kompleks Cullin 3-


RBX-E3 (CRL). phot1 ditunjukkan sebagai dua domain
fungsionalnya; FMN melekat pada output PKD melalui J∝-
helix. NPH3 hadir dalam keadaan tidak aktif terfosforilasi.
phot1, NPH3, PKS, dan ABCB19 adalah bagian dari
kompleks protein di membran plasma. Auksin terdistribusi
secara merata di sekitar dan di dalam sel (Liscum et al, 2014).

Gambar 4.4.1 Transduksi Sinyal Fototropisme


(Liscum et al, 2014)

b. Transduksi sinyal di dalam sel hipokotil yang terpapar


cahaya biru dari sisi kanan

phot1 dalam keadaan aktif, meningkatkan fosforilasi


dari ABCB19, PKS, dan phot1 itu sendiri. Aktivasi phot1
juga meningkatikan defosforilasi NPH3 oleh protein
fosfatase tipe 1 yang tidak teridentifikasi. Kompleks CRL
berinteraksi (biru muda) dengan NPH3 pada saat fotoaktivasi
dari phot1, menghasilkan ubiquitination dari phot1.
23

Fosforilasi dari phot1 selanjutnya diperlukan untuk


transduksi sinyal phot1. Auksin tidak terdistribusi secara
merata (Liscum et al, 2014).

Gambar 4.4.2 Transduksi Sinyal Fototropisme (Liscum et al,


2014)
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum pengaruh fototropisme terhadap
pertumbuhan tanaman Phaseolus radiatus dapat ditarik
kesimpulan bahwa batang dari biji yang berkecambah akan
membengkok ke arah datangnya cahaya. Phaseolus radiatus yang
berada di tempat terang memiliki batang yang kokoh dan memiliki
warna hijau, dau berwarna hijau, dan arah batangnya tegak lurus.
Sedangkan Phaseolus radiatus yang berada di tempat sedang dan
gelap memiliki batang yang tidak kuat dan memiliki warna hijau
pucat, daun berwarna hijau pucat, dan batangnya membelok kearah
datangnya cahaya. Hasil yang didapatkan pada perlakuan gelap dan
terang terlihat layu kare dipengaruhi oleh cekaman air yang
berlebihan pada media tanaman.

5.2 Saran
Berikut adalah beberapa saran yang kami berikan untuk arah
perkembangan selanjutnya:

1. Perlunya menguasai teori terlebih dahulu sebelum


menjalankan praktikum
2. Perlunya berhati-hati dalam menggunakan peralatan
laboratorium serta mengikuti standar operasional yang
berlaku di laboratorium

25
DAFTAR PUSTAKA

Advinda, L. 2018. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Yogyakarta :


Deepublish.
https://books.google.co.id/books?id=mcRcDwAAQBAJ&p
g=PA157&dq=fisiologi+fototropisme+positif+dan+negatif
&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwin1ryh4JnlAhUhIbcAHVJJ
A7AQ6AEILjAB#v=onepage&q=fisiologi%20fototropism
e%20positif%20dan%20negatif&f=false.
Asbur, Y. 2017. Peran Fotoreseptor Pada Tropisme Tanaman
Sebagai Respon Terhadap Cahaya. Agriland. Vol 6(2): 91-
98.https://www.google.com/search?q=Asbur%2C+Y.+2017
.+Peran+Fotoreseptor+Pada+Tropisme+Tanaman+Sebagai
+Respon+Terhadap+Cahaya.+Agriland.+Vol+6(2)%3A+91-
98.&oq=Asbur%2C+Y.+2017.+Peran+Fotoreseptor+Pada+T
ropisme+Tanaman+Sebagai+Respon+Terhadap+Cahaya.+A
griland.+Vol+6(2)%3A+91-
98.&aqs=chrome..69i57.834j0j7&sourceid=chrome&ie=UT
F-8.
Buntoro, B. H., Rogomulyo, R., & Trisnowati, S. (2014). Pengaruh
Takaran Pupuk Kandang dan Intensitas Cahaya Terhadap
Pertumbuhan dan Hasil Temu Putih (Curcuma zedoaria L.).
Vegetalika, 3(4), 29-
39.(https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j
&url=https://jurnal.ugm.ac.id/jbp/article/view/5759&ved=2
ahUKEwjX2mNoMzlAhUT5o8KHW2CAGQQFjAAegQI
CBAD&usg=AOvVaw3JRdLJv0PDTofHgdEtjlPd).

Campbell, N.A., dan Reece, J.B. 2012. Biologi edisi kedelapan jilid
2. Jakarta: Erlangga.

Draseffi D.L., Basuki N., Sugiharto A.N. 2015. Karakterisasi


Beberapa Galur Inbreed Generasi S5 Pada Fase
25
27

Vegetatif Tanaman Jagung (Zea Mays L.). Jurnal


Produksi Tanaman. Vol. 3 (3): 218.
https://www.neliti.com/id/publications/129443/karakteris
asi-beberapa-galur-inbreed-generasi-s5-pada-fase-
vegetatif-tanaman-jag.
Eriawati. 2016. Perbandingan Hasil Belajar Antara Siswa Yang
Diajarkan Dengan Media Audio Visual Dan Media Kartu Gambar
Pada Materi Gerak Pada Tumbuhan Di Smp 18 Banda Aceh. Pionir
Jurnal Pendidikan. Vol. 5(2). https://www.jurnal.ar-
raniry.ac.id/index.php/Pionir/article/view/3357/2349.
Hapsari, L. 2011. PERILAKU GEOTROPISME DAN
ORIENTASI TANDAN BUAH PADA BEBERAPA
KULTIVAR PISANG INDONESIA. Berk. Penel. Hayati
Edisi Khusus: 7A (119–123).
Hapsari,R.T. , dan Adie, M.M. 2010. PELUANG PERAKITAN
DAN PENGEMBANGAN KEDELAI TOLERAN
GENANGAN. Jurnal Litbang Pertanian, 29(2)
Haryanti, S., dan Budhiatuti, R. 2015. Morfoanatomi, Berat Basah
Kotiledon dan Ketebalan Daun Kecambah Kacang Hijau
(Phaseolus vulgaris L.) pada Naungan yang Berbeda.
Buletin Anatomi dan Fisiologi. 23 (1) : 47-56.
https://ejournal.undip.ac.id/index.php/janafis/article/view/8
735 .

Liscum, E., Askinosie, S.K., Leuchtman, D.L.,Morrow, J.,


Willenburg,K.T., and Coats, D.R. 2014. Phototropism:
Growing towards an Understanding of Plant Movement.
Plant Cell. 26(1) : 38-55 doi: 10.1105/tpc.113.119727

Magfiroh, J. 2017. PENGARUH INTENSITAS CAHAYA


TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN. Prosiding
Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Biologi : 1-
8.http://seminar.uny.ac.id/sembiouny2017/sites/seminar.un
y.ac.id.sembiouny2017/files/B%207a.pdf.
29

Mahendra B.A., Muslihatin W., Saputro T.P. 2019. Akar Adventif


Kedelai Teriradiasi Pada Cekaman Genangan.
JURNAL SAINS DAN SENI ITS. Vol. 8 (1): 2337-
3520ejurnal.its.ac.id/index.php/sains_seni/article/view/4226
2.
Malik, N. (2015). Pertumbuhan Jumlah Daun Tanaman Sambiloto
(Andrographis paniculata. Ness) Hasil Pemberian Pupuk
Dan Intensitas Cahaya Matahari Yang Berbeda. Jurnal
BioWallacea,
2(1).(https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j
&url=http://ojs.uho.ac.id/index.php/wallacea/article/downl
oad/529/350&ved=2ahUKEwi8hMz5oMzlAhUIv48KHdR
xBvwQFjAAegQIARAB&usg=AOvVaw08zOWIioFGOu7
3HagS14Ha)

Mardi C.T., Setiado H., Lubi K. 2016. Pengaruh Asal Stek


dan Zat Pengatur Tumbuh Atonik Terhadap
Pertumbuhan dan Produksi Dua Varietas Ubi jalar
(Ipomoea batatas L.) Lamb. Jurnal Agroekoteknologi.
Vol.4.No.4 : 2341-2345
https://media.neliti.com/media/publications/108797-ID-
pengaruh-asal-stek-dan-zat-pengatur-tumb.pdf.

Muhar T.J., Handayani T.T., Lande M.L. 2015. Pengaruh


KNO3 dan Cahaya Terhadap Perkecambahan dan
Pertumbuhan Kecambah Benih Padi (Oryza Sativa L.)
Varietas Ciherang. Prosiding Seminar Nasional
Swasembada Pangan. https://docplayer.info/55874802-
Pengaruh-kno-3-dan-cahaya-terhadap-perkecambahan-
dan-pertumbuhan-kecambah-benih-padi-oryza-sativa-l-
varietas-ciherang.html.
Mulyono,D. 2010. PENGARUH ZAT PENGATUR TUMBUH
AUKSIN: INDOLE BUTIRIC ACID (IBA) DAN
SITOKININ: BENZIL AMINO PURINE (BAP) dan
29

KINETIN DALAM ELONGASI PERTUNASAN


GAHARU (Aquilaria beccariana). Jurnal Sains dan
Teknologi Indonesia Vol. 12, No. 1
:1(https://media.neliti.com/media/publications/13007
6-ID-pengaruh-zat-pengatur-tumbuh-auksin-indo.pdf)

Myrna,N.E.F, dan Lestari, A.P. 2010. PENINGKATAN


EFISIENSI KONVERSI ENERGI MATAHARI PADA
PERTANAMAN KEDELE MELALUI PENANAMAN
JAGUNG DENGAN JARAK TANAM BERBEDA. Jurnal
Penelitian Universitas Jambi Seri Sains Vol 12(2) : 49-54.

Purwanti, G., Manurung, T. F., & Darwati, H. (2014). Pengaruh


Auksin terhadap Pertumbuhan Bibit Cabutan Alam Gaharu
(Aquilaria Malaccensis Lamk). Jurnal Hutan Lestari, 2(1).
(https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url
=http://jurnal.untan.ac.id/index.php/jmfkh/article/view/433
7&ved=2ahUKEwiq27yUoczlAhXEqI8KHac4AW8QFjA
AegQIBhAB&usg=AOvVaw0AZoXBaLIsOPQGCWwVur
fS).

Raharjeng, A. R. P. 2015. Pengaruh Faktor Abiotik Terhadap


Hubungan Kekerabatan Tanaman Sansevieria trifasciata L.
Jurnal Biota. 1(1) : 33-
41.http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/biota/article/vie
w/383

Reece, J.B., Urry, L.A., Cain, M.L., Wasserman, S.A., Minorsky,


P.V., and Jackson, R.B. 2014. Campbell Biology : Tenth
Edition. USA : Pearson Education, Inc.

Rina, P. 2013. Penggunaan Media Pembelajaran Dengan Program


Berbasis Lectora untuk Meningkatkan Minat dan Hasil Belajar
IPA dengan Konsep Gerak Fototropisme. Jurnal Ilmiah Guru.
Vol. 1 (2): 12-
19.https://journal.uny.ac.id/index.php/cope/article/view/3001
31

Suci, C.W. & Heddy, S. 2018. Pengaruh iNtensitas Cahaya


Terhadap Keragaman Tanaman Puring. Jurnal
ProduksiTanaman. Vol. 6 (1): 161-165
http://protan.studentjournal.ub.ac.id/index.php/protan/art
cle/view/627/630.
Suryawaty dan Wijaya R. 2012. RESPON PERTUMBUHAN
DAN PRODUKSI TANAMAN MELON (Cucumis melo
L.) TERHADAP KOMBINASI BIODEGRADABLE
SUPER ABSORBENT POLYMER DENGAN PUPUK
MAJEMUK NPK DI TANAH MISKIN HARA. Agrium.
Vol. 17 (3): 155-160
http://jurnal.umsu.ac.id/index.php/agrium/article/viewFile/
314/272
Widiastoety D. 2014. Pengaruh Auksin dan Sitokinin
Terhadap Pertumbuhan Planlet Anggrek Mokara. J.
Hort. 24(3):230-238
https://media.neliti.com/media/publications/98313-ID-
pengaruh-auksin-dan-sitokinin-terhadap-p.pdf
Wisnuwati dan Nugroho, C.P. 2018. BIOLOGI BIDANG
KEAHLIAN AGRIBISNIS DAN AGROTEKNOLOGI.
Jakarta : Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Wulandari,I., Haryanti, S. dan Izzati, M. 2016. PENGARUH
NAUNGAN MENGGUNAKAN PARANET TERHADAP
PERTUMBUHAN SERTA KANDUNGAN KLOROFIL
DAN β KAROTEN PADA KANGKUNG
DARAT(Ipomoea reptans Poir). Jurnal Biologi, Volume 5
No 3 : 71-79
DISKUSI
1. Jelaskan apa dan mengapa terjadi dengan fototropisme
2. Sebutkan gerak apa saja yang dilakukan oleh tumbuhan
dan penstimulusnya
3. Terangkan hasil praktikum anda berdasarkan perlakuan:
JAWAB:

1. Fototropisme adalah gerak yang terjadi pada tumbuhan


yang disebabkan oleh adanya rangsangan cahaya. Bila
cahaya yang datang dari atas tumbuhan, tumbuhan akan
tumbuh tegak mengarah ke atas (Rina, 2013). Terdapat
hormon yang mempengaruhi fototropisme yaitu
hormon auksin. Auksin berperan dalam mengatur
pertumbuhan dan morfogenesis. Auksin banyak digunakan
dalam kultur jaringan untuk perpanjangan sel,
pembentukan akar advent, dan mengambat pembentukan
tunas adventif dan tunas ketiak. Hormon auksin tidak aktif
apabila terdapat cahaya. Apabila intensitas cahaya tinggi
maka aktivitas auksin meningkat pula, sehingga
mengakibatkan tanaman tumbuh tinggi (Widiastuti et al.,
2004).

2. Gerak tropisme merupakan gerak tumbuhan atau


bagian tumbuhan yang arah geraknya dipengaruhi
oleh arah datangnya rangsangan. Berdasarkan jenis
rangsangannya, gerak tropisme dibedakan menjadi
fototropisme, geotropisme, tigmotropisme,
hidrotropisme dan kemotropisme (Rina, 2013):
Fototropisme merupakan gerak bagian tumbuhan
yang disebabkan oleh adanya rangsangan cahaya.
Terdapat dua jenis gerak fototropisme, yaitu :
 Fototropisme positif
Fototropisme positif yaitu gerak tumbuhan
menuju arah datangnya cahaya.

31
Contohnya yaitu pertumbuhan tunas ke arah
datangnya cahaya. Tunas tumbuh mengikuti arah
datangnya cahaya ini disebabkan oleh
pertumbuhan sel-sel yang tidak seimbang pada sisi
koleoptil yang berlawanan, sehingga sel-sel pada
sisi lebih gelap memanjang lebih cepat
dibandingkan dengan sel-sel pada sisi lebih terang
(Campbell, dkk., 2012).
 Fototropisme negatif
Fototropisme negatif yaitu gerak tumbuhan
menjauhi arah datangnya cahaya.
Contohnya yaitu pertumbuhan tunas yang tumbuh
menjauhi arah datanngnya cahaya, yaitu gerak
tumbuh akar yang mejauhi cahaya karena akibat
rangsangan gaya tarik bumi (gravitasi) (Campbell,
dkk., 2012).
 Gerak geotropisme adalah gerak pada tubuh
tumbuhan yang dipengaruhi oleh faktor gravitasi
bumi. Fakta menunjukan bahwa gerak tumbuh
ujung akar selalu menuju ke pusat bumi, oleh
karena itu gerak akar yang menuju ke pusat
rangsang yang merupakan gravitasi bumi disebut
gerak geotropisme positif. Sebaliknya, gerak tubuh
tumbuhan yang menjauhi gravitasi bumi disebut
gerak geotropisme negatif. Gerak tumbuh ujung
akar menuju ke pusat bumi disebabkan oleh
pengendapan statolit, yaitu plastida khusus pada
ujung akar yang mengandung tepung. Statolit ini
mengendap pada titik-titik terbawah sel tudung
akar. Contohnya gerak tumbuh akar menuju
pusat bumi (Advinda, 2018).
 Gerak tigmotropisme adalah gerak pada tubuh
tumbuhan yang ditentukan oleh rangsangan yang

31
33

berupa singgungan ataupun sentuhan. Pada


umunya terjadi pada tumbuhan keluarga anggur
(Pasiflora) dan tumbuhan keluarga jiapang-
jipangan (Cucurbitaceae). Arah gerak tumbuh
sulur tanaman ini sangat menarik perhatian. Sulur
yang telah membuat beberapa lingkaran kemudian
memutar ke arah yang berlawanan. Hal ini
berulang sampai beberapa kali. Mula-mula terjadi
pembelitan ujung akar ke kiri. Setelah membelit
beberapa lingkaran ke kiri, ujung sulur ini lurus
sebentar, kemudian membelit ke kanan beberapa
lingkaran, lalu lurus kembali, kemudian membelit
ke kiri, dan seterusnya. contohnya gerak
melilitnya sulur tanaman markisa, sirih,
mentimun, anggur, semangka pada ajir
(Advinda, 2018).
 Gerak hidrotropisme adalah gerak bagian tubuh
tumbuhan yang arah geraknya dipengaruhi oleh air
atau faktor kelembapan. Contohnya akar akan
bergerak menuju sumber air (Advinda, 2018).
 Gerak kemotropisme rangsangannya berupa
zat kimia. Jika gerakannya mendekati zak
kimia tertentu disebut kemotropisme positif.
Contohnya gerak akar menuju pupuk, gerak
akar menjauhi racun (Advinda, 2018).

3. Phaseolus radiatus yang diletakkan pada tempat


terang cenderung memiliki batang yang kuat dan
memiliki warna hijau segar, daun berwarna hijau
dan arah batangnya tegak lurus. Pada Phaseolus
radiatus yang diletakkan pada tempat gelap dan
sedang memiliki batang yang tidak kuat dan
memiliki warna hijau kekuningan atau pucat, daun
berwarna hiaju pucat dan batang membelok ke
33

arah datangnya cahaya. Hasil yang didapatkan


pada perlakuan gelap dan terang terlihat layu
karena dipengaruhi oleh cekaman air pada
medium tumbuh dan ukuran panjang batang pada
perlakuan tempat gelap dan sedang tetap tumbuh
memanjang pada hari ke 7 serta warna daun dan
warna batang hijau pucat . Biji yang berkecambah
batangnya akan membengkok ke arah datangnya
cahaya.
LAMPIRAN
FOTO PERLAKUAN

NO FOTO PERLAKUAN KETERANGAN


1. Dipersiapkan alat dan
bahan yang akan
digunakan dalam
penelitian
fototropisme.
Membuat tempat
media tanam dengan
membelah botol aqua
1,5 L
(Dok. Pribadi, 2019)

2. Menyiapkan tanah dan


pupuk sebagai media
tanam

(Dok. Pribadi, 2019)

3. Dimasukkan media
tanam dalam botol
yang sudah dibelah

(Dok. Pribadi, 2019)

35
4. Biji Phaseolus
radiates yang
sebelumnya sudah
direndam selama 24
jam, disemai pada
nampan yang berisi
media tanam

(Dok. Pribadi, 2019)

5. Setelah 7 hari,
Phaseolus radiates
diambil dari nampan
semai untuk ditanam
ke media tanam pada
botol perlakuan

(Dok. Pribadi, 2019)

6. Dipindahkan
Phaseolus radiatus
yang sudah disemai (7
hari) ke botol aqua
yang telah diisi media
tanam pada 3 botol
berbeda yang masing-
masingnya berisi 5
tanaman
(Dok. Pribadi, 2019)

35
37

7. Diukur dengan
penggaris pada hari
ke-0 untuk
dibandingkan pada
ukuran batang setelah
hari ke-7

(Dok. Pribadi, 2019)

8. Disiram dengan air


Phaseolus radiatus
yang telah
dipindahkan dan
diukur

(Dok. Pribadi, 2019)

9. Letakkan pada tempat


terbuka untuk
perlakuan kondisi
terang

(Dok. Pribadi, 2019)


37

10. Letakkan pada tempat


yang ditutup seluruh
bagian botol dengan
kardus untuk
perlakuan kondisi
gelap

(Dok. Pribadi, 2019)

11. Letakkan di dalam


kardus yang telah
diberi lubang untuk
perlakuan sedang

(Dok. Pribadi, 2019)

12. Disiram setiap hari


selama 7 hari
pengamatan dan
dilihat arah
pertumbuhan dari
masing-masing
perlakuan

(Dok. Pribadi, 2019)


39

13. Setelah hari ke-7,


tanaman diukur untuk
dilihat hasil akhirnya
dari pertumbuhan
panjang batang dari
ketiga perlakuan

(Dok. Pribadi, 2019)


LAMPIRAN
LAPORAN SEMENTARA
LAMPIRAN
LAPORAN SEMENTARA

41
41
39
41

Anda mungkin juga menyukai