Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH TENTANG PENYIMPANGAN PERILAKU

SEKSUAL, HIV/AIDS DAN PERILAKU MEROKOK

DISUSUN OLEH:

DEEKA MOHAMMED M. (2018717033)


SRI WAHYUNINGSIH (2018717039)
AI YOLANDARI (2018717001)
FAJAR MAULANA (2018717009)

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2018
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah,
dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang,
penyimpangan perilaku seksual, HIV/AIDS dan perilaku merokok.
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai
pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan
banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah
ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan
baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka
kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah
ilmiah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang penyimpangan perilaku seksual,
HIV/AIDS dan perilaku merokok ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap
pembaca.

Jakarta, Desember 2018

Penyusun

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ....................................................................................................... i


Daftar Isi .................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................... 1
1.1.Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2.Rumusan Masalah ....................................................................................
1.3.Tujuan .....................................................................................................

BAB II TINJAUAN TEORI....................................................................................


2.1. Pengertian penyimpangan perilaku seksual ...........................................
2.1.1 Penyebab perilaku penyimpangan seksual ...................................
2.1.2 Macam-macam bentuk penyimpangan seksual .............................
2.1.3 Bentuk-bentuk perilaku menyimpang ..........................................
2.1.4 Pencegahan …………………………………………….. .............
2.1. Pengertian HIV/AIDS ……………………………………………… ..
2.2.1 Penyebab HIV/AIDS ...................................................................
2.2.2 Tanda gejala pengidap HIV/AIDS ...............................................
2.2.3 Faktor resiko HI/AIDS .................................................................
2.2.4 Pencegahan ..................................................................................
2.3. Pengertian perilaku merokok ................................................................
2.3.1 Etiologi perilaku merokok pada remaja .......................................
2.3.2 Faktor yang mempengaruhi perilaku merokok ............................
2.3.4 Tipe perilaku merokok .................................................................
2.3.5 Dampak prilaku merokok ............................................................
BAB III PENUTUP .................................................................................................
3.1. Kesimpulan .............................................................................................
3.1. Saran ......................................................................................................

Daftar Pustaka

2
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Manusia diciptakan Tuhan sebagai makhkluk sempurna, sehingga mampu mencintai
dirinya (autoerotik), mencintai orang lain beda jenis (heteroseksual) namun juga yang
sejenis (homoseksual) bahkan dapat jatuh cinta pada makhluk lain ataupun benda,
sehingga kemungkinan terjadi perilaku menyimpang dalam perilaku seksual amat banyak.
Perilaku menyimpang dilihat dari berbagai sudut pandang sangat merugikan baik untuk
diri sendiri maupun orang lain yang berada di sekelilingnya. Di sini diharapkan
perkembangan pendidikan moral dapat menghasilkan perubahan yang tetap didalam
kebiasaan tingkah lakunya, pikiran dan perasaannya. Pendidikan sekarang ini adalah untuk
mempersiapkan manusia bagi suatu tipe masyarakat yang masih belum ada. Sistem
pendidikan mungkin dapat berubah sesuai dengan perkembangan masyarakat dan
pengalihan nilai-nilai kebudayaan. Konsep pendidikan saat ini juga tidak dapat dilepaskan
dari pendidikan yang harus sesuai dengan tuntutan kebutuhan pendidikan dimasa lalu,
sekarang dan masa yang akan datang. Jadi pemeliharaan dan perbaikan kehidupan suatu
masyarakat akan membawa warga masyarakat yang baru mengenal tanggung jawab
bersama di dalam suatu masyarakat. Jadi pendidikan merupakan suatu aktivitas sosial
yang memungkinkan masyarakat tetap ada dan berkembang.
Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan sekumpulan gejala dan
infeksi yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat
infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Penyakit infeksi HIV dan AID Shingga
kini masih merupakan masalah global karena penderita penyakit ini dari tahun ketahun
makin meningkat dan sampai saat ini HIV/AIDS belum ada vaksin maupun obat untuk
benar-benar dapat menyembuhkan penyakit ini. Penyebab HIV/AIDS sendiri disebabkan
diantaranya yaitu selama melakukan hubungan seks vaginal anal atau oral dengan
pasangan yang terinfeksi darah, air mani atau cairan vagina memasuki tubuh. kedua
transfusi darah dalam beberapakasus virus dapat ditularkan melalui transfusi darah. ketiga
yaitu berbagi jarum

3
Virus HIV dapat ditularkan melalui jarum suntik terkontaminasi dengan darah yang
terinfeksi dari ibu ke anak. Ibu yang terinfeksi dapat menginfeksi bayi selama kehamilan
atau persalinan atau melalui menyusui.
Dalam kehidupan sehari-hari seringkali ditemui orang merokok di mana-mana, baik
di kantor, di pasar ataupun tempat umum lainnya atau bahkan di kalanganrumah tangga
sendiri. Kebiasaan merokok dimulai dengan adanya rokok pertama.Umumnya rokok
pertama dimulai saat usia remaja. Sejumlah studi menemukanpenghisapan rokok pertama
dimulai pada usia 11-13 tahun (Smet, 1994). Studi Mirnet(Tuakli dkk, 1990) menemukan
bahwa perilaku merokok diawali oleh rasa ingin tahu dan pengaruh teman sebaya. Smet
(1994) bahwa mulai merokok terjadi akibatpengaruh lingkungan sosial.
Modelling (meniru perilaku orang lain) menjadi salah satu determinan dalam memulai
perilaku merokok (Sarafino, 1994).Oskamp (1984) menyatakan bahwa setelah mencoba
rokok pertama, seorang individu menjadi ketagihan merokok, dengan alasan-alasan seperti
kebiasaan menurunkan kecemasan, dan mendapatkan penerimaan. Studi Mirnet (Tuakli
dkk, 1990) juga menambahkan bahwa dari survei terhadap para perokok, dilaporkan
bahwa orang tua dan saudara yang merokok, rasa bosan, stres dankecemasan, perilaku
teman sebaya merupakan faktor yang menyebabkan keterlanjutan perilaku merokok
pada remaja.Jika dilihat data-data mengenai keterlibatan remaja dalam berbagai perilaku
negatif, maka kita akan menemukan angka-angka yang mengejutkan dan
mengkhawatirkan. Kelompok Smoking and Health memperkirakan sekitar enam
riburemaja mencoba rokok pertamanya setiap hari dan tiga ribu di antaranya menjadi
perokok rutin (“Stop,” 2000). Perilaku merokok pada remaja umumnya semakin lama
akan semakin meningkat sesuai dengan tahap perkembangannya yang ditandai dengan
meningkatnya frekuensi dan intensitas merokok, dan sering mengakibatkan mereka
mengalami ketergantungan nikotin (Laventhal dan Cleary dalam Mc Gee, 2005).Efek dari
merokok hanya meredakan kecemasan selama efek dari nikotin masih ada,malah
ketergantungan nikotin dapat membuat seseorang menjadi tambah stres (Parrot,2004).

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Apakah itu Pengertian perilaku menyimpang?


2. Apa macam-macam bentuk penyimpangan seksual itu?
3. Apa Faktor-fator penyebab perilaku menyimpang itu?
4. Apakah itu Definisi HIV/AIDS?

4
5. Apa Etiologi dan faktor risiko HIV/AIDS?
6. Bagaimana Pencegahan dan Pengendalian HIV/AIDS?
7. Apakah itu perilaku?
8. Apa pengertian perilaku merokok?
9. Apa tipe perilaku merokok?

1.3 TUJUAN
1. Untuk mengetahui pengertian perilaku menyimpang.
2. Untuk mengerti macam-macam bentuk penyimpangan seksual.
3. Untuk mengetahui Faktor penyebab perilaku menyimpang
4. Untuk mengetahui Definisi HIV/AIDS
5. Untuk mengetahui Etiologi dan faktor risiko HIV/AIDS
6. Untuk mengetahui Pencegahan dan Pengendalian HIV/AIDS
7. Untuk mengetahui maksud dan tujuan HIV/AIDS.
8. Untuk mengerti tentang penyebaran dan tanda-tanda terserang HIV/AIDS
9. Untuk memahami cara pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN PENYIMPANGAN PERILAKU SEKSUAL


Istilah penyimpangan perilaku sering digunakan pada istilah gangguan emosional
(emotional disturbance) dan ketidak mampuan penyesuaian diri (maladjusment) dengan
berbagai bentuk variasinya. Perilaku menyimpang yang juga biasa dikenal dengan nama
penyimpangan sosial adalah perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan atau
kepatutan, baik dalam sudut pandang kemanusiaan (agama) secara individu maupun
pembenarannya sebagai bagian daripada makhluk sosial. Ada beberapa sudut tinjauan
mengenai faktor penyebab perilaku menyimpang. Menurut tinjauan secara biologis,
retardasi mental adalah penyimpangan perilaku yang semata-mata disebabkan oleh faktor
biologis, termasuk faktor gen dan unsur kimiawi-fisik. Psikodinamik memandang konflik
emosional yang berhubungan dengan kepuasan mengenai dorongan instintif yang
menimbulkan frustasi.
Penyimpangan seksual adalah aktivitas seksual yang ditempuh seseorang untuk
mendapatkan kenikmatan seksual dengan tidak sewajarnya. Biasanya, cara yang
digunakan oleh orang tersebut adalah menggunakan obyek seks yang tidak wajar.
Penyebab terjadinya kelainan ini bersifat psikologis atau kejiwaan, seperti pengalaman
sewaktu kecil, dari lingkungan pergaulan, dan faktor genetik.

2.1.2 Penyebab Penyimpangan Perilaku Seksual


Susan Noelen Hoeksema dalam bukunya Abnormal Psychology, mengatakan
bahwa perilaku penyimpangan seksual 90% lebih diderita oleh pria. Namun, saat para
peneliti mencoba menemukan ketidaknormalan pada hormon testoteron ataupun
hormon-hormon lainnya yang diduga menjadi penyebab perilaku seks menyimpang,
hasilnya tidak konsisten. Artinya, kecil kemungkinan perilaku seks menyimpang
disebabkan oleh ketidaknormalan hormon seks pria atau hormon lainnya. Ada pun
beberapa factor penyimpangan seksual adalah :
1. Meningkatnya libido seksualitas
2. Penyalahgunaan obat dan alcohol

6
3. Lingkunagan, keluarga, dan budaya, dimana seoran anak dibesarkan
mempengaruhi perilaku seksnya.
4. Anak yang orang tuanya sering mendpatkan hukuman fisik dan mendapat kontak
seksual yang agresif
5. Mengalami pelecehan sesksual di masa anak-anak
6. Penundaan usia perkawinan
7. Tabu-larangan
8. Kurangnya informasi tentang seks
9. Pergaulan yang makin bebas

2.1.3 Macam-macam bentuk penyimpangan seksual


1. Homoseksual
Homoseksual merupakan kelainan seksual berupa disorientasi pasangan
seksualnya. Disebut gay bila penderitanya laki-laki dan lesbi untuk penderita
perempuan. Hal yang memprihatinkan disini adalah kaitan yang erat antara
homoseksual dengan peningkatan risiko AIDS. Pernyataan ini dipertegas dalam
jurnal kedokteran Amerika (JAMA tahun 2000), kaum homoseksual yang
“mencari” pasangannya melalui internet, terpapar risiko penyakit menular
seksual (termasuk AIDS) lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak.
2. Sadomasokisme
Sadisme seksual termasuk kelainan seksual. Dalam hal ini kepuasan seksual
diperoleh bila mereka melakukan hubungan seksual dengan terlebih dahulu
menyakiti atau menyiksa pasangannya. Sedangkan masokisme seksual
merupakan kebalikan dari sadisme seksual. Seseorang dengan sengaja
membiarkan dirinya disakiti atau disiksa untuk memperoleh kepuasan seksual.
3. Ekshibisionisme
Penderita ekshibisionisme akan memperoleh kepuasan seksualnya dengan
memperlihatkan alat kelamin mereka kepada orang lain yang sesuai dengan
kehendaknya. Bila korban terkejut, jijik dan menjerit ketakutan, ia akan semakin
terangsang. Kondisi begini sering diderita pria, dengan memperlihatkan
penisnya yang dilanjutkan dengan masturbasi hingga ejakulasi.
4. Voyeurisme
Istilah voyeurisme (disebut juga scoptophilia) berasal dari bahasa Prancis yakni

7
vayeur yang artinya mengintip. Penderita kelainan ini akan memperoleh
kepuasan seksual dengan cara mengintip atau melihat orang lain yang sedang
telanjang, mandi atau bahkan berhubungan seksual. Setelah melakukan kegiatan
mengintipnya, penderita tidak melakukan tindakan lebih lanjut terhadap korban
yang diintip. Dia hanya mengintip atau melihat, tidak lebih. Ejakuasinya
dilakukan dengan cara bermasturbasi setelah atau selama mengintip atau melihat
korbannya. Dengan kata lain, kegiatan mengintip atau melihat tadi merupakan
rangsangan seksual bagi penderita untuk memperoleh kepuasan seksual. Yang
jelas, para penderita perilaku seksual menyimpang sering membutuhkan
bimbingan atau konseling kejiwaan, disamping dukungan orang-orang
terdekatnya agar dapat membantu mengatasi keadaan mereka.
5. Fetishisme
Fatishi berarti sesuatu yang dipuja. Jadi pada penderita fetishisme, aktivitas
seksualnya disalurkan melalui bermasturbasi dengan BH (breast holder), celana
dalam, kaos kaki, atau benda lain yang dapat meningkatkan hasrat atau dorongan
seksual. Sehingga, orang tersebut mengalami ejakulasi dan mendapatkan
kepuasan. Namun, ada juga penderita yang meminta pasangannya untuk
mengenakan benda-benda favoritnya, kemudian melakukan hubungan seksual
yang sebenarnya dengan pasangannya tersebut.
6. Pedophilia
Adalah orang dewasa yang yang suka melakukan hubungan seks / kontak fisik
yang merangsang dengan anak di bawah umur.
7. Bestially
Bestially adalah manusia yang suka melakukan hubungan seks dengan binatang
seperti kambing, kerbau, sapi, kuda, ayam, bebek, anjing, kucing, dan lain
sebagainya.
8. Incest
Adalah hubungan seks dengan sesama anggota keluarga sendiri non suami istri
seperti antara ayah dan anak perempuan dan ibu dengna anak cowok
9. Necrophilia/Necrofil
Adalah orang yang suka melakukan hubungan seks dengan orang yang sudah
menjadi mayat / orang mati.

8
10. Sodomi
Sodomi adalah pria yang suka berhubungan seks melalui dubur pasangan seks
baik pasangan sesama jenis (homo) maupun dengan pasangan perempuan.
11. Frotteurisme/Frotteuris
Yaitu suatu bentuk kelainan sexual di mana seseorang laki-laki mendapatkan
kepuasan seks dengan jalan menggesek-gesek / menggosok-gosok alat
kelaminnya ke tubuh perempuan di tempat publik / umum seperti di kereta,
pesawat, bis, dll.
12. Gerontopilia
adalah suatu perilaku penyimpangan seksual dimana sang pelaku jatuh cinta dan
mencari kepuasan seksual kepada orang yang sudah berusia lanjut (nenek-nenek
atau kakek-kakek). Gerontopilia termasuk dalam salah satu diagnosis gangguan
seksual, dari sekian banyak gangguan seksual seperti voyurisme, exhibisionisme,
sadisme, masochisme, pedopilia, brestilia, homoseksual, fetisisme, frotteurisme,
dan lain sebagainya. Keluhan awalnya adalah merasa impoten bila menghadapi
istri/suami sebagai pasangan hidupnya, karena merasa tidak tertarik lagi.
Semakin ia didesak oleh pasangannya maka ia semakin tidak berkutik, bahkan
menjadi cemas. Gairah seksualnya kepada pasangan yang sebenarnya justru bisa
bangkit lagi jika ia telah bertemu dengan idamannya (kakek/nenek). Manusia itu
diciptakan Tuhan sebagai makhkluk sempurna, sehingga mampu mencintai
dirinya (autoerotik), mencintai orang lain beda jenis (heteroseksual) namun juga
yang sejenis (homoseksual) bahkan dapat jatuh cinta makhluk lain ataupun
benda, sehingga kemungkinan terjadi perilaku menyimpang dalam perilaku
seksual amat banyak. Manusia walaupun diciptakanNya sempurna namun ada
keterbatasan, misalnya manusia itu satu-satunya makhluk yang mulut dan
hidungnya tidak mampu menyentuh genetalianya; seandainya dapat dilakukan
mungkin manusia sangat mencintai dirinya secara menyimpang pula. Hal itu
sangat berbeda dengan hewan, hampir semua hewan mampu mencium dan
menjilat genetalianya, kecuali Barnobus (sejenis Gorilla) yang sulit mencium
genetalianya. Barnobus satu-satunya jenis apes (monyet) yang bila bercinta
menatap muka pasangannya, sama dengan manusia. Hewanpun juga banyak
yang memiliki penyimpangan perilaku seksual seperti pada manusia, hanya saja
mungkin variasinya lebih sedikit, misalnya ada hewan yang homoseksual,
sadisme, dan sebagainya. Kasus Gerontopilia mungkin jarang terdapat dalam

9
masyarakat karena umumnya si pelaku malu untuk berkonsultasi ke ahli, dan
tidak jarang mereka adalah anggota masyarakat biasa yang juga memiliki
keluarga (anak & istri/suami) serta dapat menjalankan tugas-tugas hidupnya
secara normal bahkan kadang-kadang mereka dikenal sebagai orang-orang yang
berhasil/sukses dalam karirnya. Meski jarang ditemukan, tidaklah berarti bahwa
kasus tersebut tidak ada dalam masyarakat Indonesia. Perilaku seksual
merupakan hasil interaksi antara kepribadian dengan lingkungan sekitarnya.

2.1.4 Bentuk-bentuk Perilaku Menyimpang


1. Penyimpangan primer
Penyimpangan perimer adalah penyimpangan yang bersifat temporer atau
sementara dan hanya menguasai sebagian kecil kehidupan seseorang. Menurut
Edwin M. Lemerd yang berpendapat bahwa seseorang yang telah melakukan
penyimpangan tahap primer (pertama) lalu oleh masyarakat sudah diberikan cap
sebagai penyimpang, maka orang tersebut terdorong untuk melakukan
penyimpangan sekunder (tahap lanjut) denagn alas an “kepalang tanggung”.
Ciri-ciri penyimpangan primer antara lain:
a) Bersifat sementara
b) Gaya hidupnya tidak didominasi oleh prilaku menyimpang
c) Masyarakat masih mentolelir/menerima
2. Penyimpangan sekunder
Penyimpangan sekunder adalah perbuatan yang dilakukan secara khas dengan
memperlihatkan perilaku menyimpang.
Ciri-ciri penyimpangan sekunder antara lain:
a. Gaya hidup didominasi oleh perilaku menyimpang
b. Masyarakat tidakbisa mentolelir perilakumenyimpang tersebut.

2.1.5 Pencegahan dan Penanggulangan


1. Sikap dan pengertian orang tua
Pencegahan abnormalitas masturbasi sesungguhnya bias secara optimal
diperankan oleh orang tua. Sikap dan reaksi yang tepat dari orang tua terhadap
anaknya yang melakukan masturbasi sangat penting. Di samping itu, orang tua
perlu memperhatikan kesehatan umum dari anak-anaknya juga kebersihan di

10
sekitar daerah genitalia mereka. Orangb tua perlu mengawasi secara bijaksana
hal-hal yang bersifat pornografis dan pornoaksi yang terpapar pada anak.
Menekankan kebiasaan masturbasi sebagai sebuah dosa dan pemberian
hukuman hanya akan menyebabkan anak putus asa dan menghentikan usaha
untuk mencontohnya. Sedangkan pengawasan yang bersifat terang-terangan
akan menyebabkan sang anak lebih memusatkan perhatiannya pada kebiasaan
ini; dan kebiasaan ini bias jadi akan menetap. Orang tua perlu memberikan
penjelasan seksual secara jujur, sederhana dan terus terang kepada anaknya pada
saat-saat yang tepat berhubungan dengan perubahan-perubahan fisiologik
seperti adanya ereksi, mulai adanya haid dn fenomena sexual secunder lainnya.
Secara khusus, biasanya anak remaja melakukan masturbasi jika punya
kesempatan melakukannya. Kesempatan itulah sebenarnya yang jadi persoalan
utama. Agar tidak bermasturbasi, hendaklah dia (anak) jangan diberi
kesempatan untuk melakukannya. Kalau bisa, hilangkan kesempatan itu.

Masturbasi biasanya dilakukan di tempat-tempat yang sunyi, sepi dan


menyendiri. Maka, jangan biarkan anak untuk mendapatkan kesempatan
menyepi sendiri. Usahakan agar dia tidak seorang diri dan tidak kesepian. Beri
dia kesibukan dan pekerjaan menarik yang menyita seluruh perhatiannya,
sehingga ia tidak teringat untuk pergi ke tempat sunyi dan melakukan
masturbasi. Selain itu, menciptakan suasana rumah tangga yang dapat
mengangkat harga diri anak, hingga ia dapat merasakan harga dirinya.
Hindarkan anak dari melihat, mendengar dan membaca buku-buku dan gambar-
gambar porno. Suruhlah anak-anak berolah raga, khususnya olah raga bela diri,
yang akan menyalurkan kelebihan energi tubuhnya. Atau membiasakan mereka
aktif dalam organisasi kepemudaan dan keolahragaan.

2. Pendidikan seks
Sex education (pendidikan seks) sangat berguna dalam mencegah remaja pada
kebiasaan masturbasi. Pendidikan seks dimaksudkan sebagai suatu proses yang
seharusnya terus-menerus dilakukan sejak anak masih kecil. Pada permulaan
sekolah diberikan sex information dengan cara terintegrasi dengan pelajaran-
pelajaran lainnya, dimana diberikan penjelasan-penjelasan seksual yang
sederhana dan informatif. Pada tahap selanjutnya dapat dilanjutkan dengan
diskusi-diskusi yag lebih bebas dan dipimpin oleh orang-orang yang

11
bertanggung jawab dan menguasai bidangnya. Hal penting yang ingin dicapai
dengan pendidikan seks adalah supaya anak ketika sampai pada usia adolescent
telah mempunyai sikap yang tepat dan wajar terhadap seks.

3. Pengobatan
Biasanya anak-anak dengan kebiasaan masturbasi jarang dibawa ke dokter,
kecuali kebiasaan ini sangat berlebihan. Masturbasi memerlukan pengobatan
hanya apabila sudah ada gejala-gejala abnormal, bias berupa sikap yang tidak
tepat dari orang tua yang telah banyak menimbulkan kecemasan, kegelisahan,
ketakutan, perasaan bersalah/dosa, menarik diri atau adanya gangguan jiwa
yang mendasari, seperti gangguan kepriadian neurosa, perversi maupun
psikosa.
a) Farmakoterapi
 Pengobatan dengan estrogen (eastration) Estrogen dapat mengontrol
dorongan-dorongan seksual yang tadinya tidak terkontrol menjadi lebih
terkontrol. Arah keinginan seksual tidak diubah, diberikan peroral. Efek
samping tersering adalah ginecomasti.
 Pengobatan dengan neuroleptic
1) Phenothizine
Memperkecil dorongan sexual dan mengurangi kecemasan.
Diberikan peroral.
2) Fluphenazine enanthate
Preparat modifikasi Phenothiazine. Dapat mengurangi dorongan
sexual lebih dari dua-pertiga kasus dan efeknya sangat cepat.
Diberikan IM dosis 1cc 25 mg. Efektif untuk jangka waktu 2
pekan.
3) Pengobatan dengan tranquilizer
Diazepam dan Lorazepam berguna untuk mengurangi gejala-
gejalan kecemasan dan rasa takut. Perlu diberikan secara hati-hati
karena dalam dosis besar dapat menghambat fungsi sexual secara
menyeluruh. Pada umumnya obat-obat neuroleptik dan
transquilizer berguna sebagai terapi adjuvant untuk pendekatan
psikologik.

12
b) Psikoterapi

Psikoterapi pada kebiasaan masturbasi mesti dilakukan dengan pendekatan


yang cukup bijaksana, dapat menerima dengan tenang dan dengan sikap
yang penuh pengertian terhadap keluhan penderita. Menciptakan suasana
dimana penderita dapat menumpahkan semua masalahnya tanpa ditutup-
tutupi merupakan tujuan awal psikoterapi. Pada penderita yang datang
hanya dengan keluhan masturbasi dan adanya sedikit kecemasan, tindakan
yang diperlukan hanyalah meyakinkan penederita pada kenyataan yag
sebenarnya dari masturbasi. Pada kasus-kasus adolescent, kadang-kadang
psikoterapi lebih kompleks dan memungkinkan dilakukan semacam
interview sex education. Psikotherapi dapat pula dilakukan dengan
pendekatan keagamaan dan keyakinan penderita.

c) Hypnoterapi

Self-hypnosis (auto-hypnosis) dapat diterapkan pada penderita dengan


masturbasi kompulsif, yaitu dengan mengekspose pikiran bawah sadar
penderita dengan anjuran-anjuran mencegah masturbasi.

d) Genital Mutilation (Sunnat)

Ini merupakan pendekatan yang tidak lazim dan jarang dianjurkan secara
medis.Pada beberapa daerah dengan kebudayaan tertentu, dengan tujuan
mengurangi/membatasi/meniadakan hasrat seksual seseorang, dilakukan
mutilasi genital dengan model yang beraneka macam.

e) Menikah

Bagi remaja/adolescent yang sudah memiliki kesiapan untuk menikah


dianjurkan untuk menyegerakan menikah untuk menghindari/mencegah
terjadinya kebiasaan masturbasi.

13
2.2 PENGERTIAN HIV/AIDS
Human Immuno Deficiency virus (HIV) adalah virus yang merusak system kekebalan
tubuh manusia, sedangkan Aquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) adalah
kumpulan gejala-gejala penyakit yang disebabkan atau didapat karena hilangya kekebalan
tubuh terhadap berbagai penyakit.
AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah merupakan penyakit yang
timbul akibat defisiensi imunitas tubuh. Ditandai dengan timbulnya serangkaian infeksi dan
serangan berbagai penyakit terhadap tubuh, tanpa adanya pertahan dan kekebalan tubuh
sehingga daya tahan tubuh menurun drastis.

2.2.1 PENYEBAB HIV/AIDS


Penyebab penyakit AIDS adalah sejenis virus yang tergolong Retrovirus
yang disebut Human Immunodeficiency Virus (HIV). Virus ini pertama kali diisolasi
oleh Montagnier dan kawan-kawan di Prancis pada tahun 1983 dengan nama
Lymphadenopathy Associated Virus (LAV), sedangkan Gallo di Amerika Serikat
pada tahun 1984 mengisolasi (HIV) III. Kemudian atas kesepakatan internasional
pada tahun 1986 nama virus dirubah menjadi HIV. Human Immunodeficiency Virus
adalah sejenis Retrovirus RNA. Dalam bentuknya yang asli merupakan partikel yang
inert, tidak dapat berkembang atau melukai sampai ia masuk ke sel target. Sel target
virus ini terutama sel Lymfosit T, karena ia mempunyai reseptor untuk virus HIV
yang disebut CD-4. Didalam sel Lymfosit T, virus dapat berkembang dan seperti
retrovirus yang lain, dapat tetap hidup lama dalam sel dengan keadaan inaktif.
Walaupun demikian virus dalam tubuh pengidap HIV selalu dianggap infectious
yang setiap saat dapat aktif dan dapat ditularkan selama hidup penderita tersebut.
Secara mortologis HIV terdiri atas 2 bagian besar yaitu bagian inti (core) dan bagian
selubung (envelop). Bagian inti berbentuk silindris tersusun atas dua untaian RNA
(Ribonucleic Acid). Enzim reverce transcriptase dan beberapa jenis protein. Bagian
selubung terdiri atas lipid dan glikoprotein (gp 41 dan gp 120). Gp 120 berhubungan
dengan reseptor Lymfosit (T4) yang rentan. Karena bagian luar virus (lemak) tidak
tahan panas, bahan kimia, maka HIV termasuk virus sensitif terhadap pengaruh
lingkungan seperti air mendidih, sinar matahari dan mudah dimatikan dengan
berbagai desinfektan seperti eter, aseton, alkohol, jodium hipoklorit dan sebagainya,
tetapi relatif resisten terhadap radiasi dan sinar utraviolet. Virus HIV hidup dalam

14
darah, saliva, semen, air mata dan mudah mati diluar tubuh. HIV dapat juga
ditemukan dalam sel monosit, makrotag dan sel glia jaringan otak.

2.2.2 Tanda dan Gejala pengidap HIV(AIDS)


Gejala AIDS beraneka ragam dan tergantung ada manifestasi khusus penyakit
tersebut. Sebagai contoh pasien AIDS dengan infeksi paru dapat mengalami demam
dan keluar keringat malam sementara pasien tumor kulit akan menderita lesi kulit
gejala non spesifik pada pasien AIDS mencakup rasa letih yang mencolok
pembengkakan kelenjar leher ketiak serta lipat paha penurunan berat badan yang
tidak jelas sebabnya dan diare yang berlarut larut. Karena gejala-gejala yang
belakangan ini dapat dijumpai pada banyak kondisi lainnya maka hanya kalau
kondisi ini sudah disingkirkan dan gejala tersebut tetap ada barulah diagnisis AIDS
di pertimbangkan khususnya pada orang-orang yang bukan termasuk kelompok
resiko tinggi. berikut Tanda dan gejala klinis penderita AIDS :
 Berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan
 Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan.
 Demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan
 Penurunan kesadaran dan gangguan-gangguan neurologis.

2.2.3 FAKTOR RESIKO HIV/AIDS

Pada dasarnya, HIV dapat ditularkan melalui cairan tubuh, termasuk darah, air
mani, cairan vagina, dan air susu ibu yang terinfeksi HIV. Siapapun dari segala usia,
ras, maupun jenis kelamin bisa terinfeksi HIV, termasuk bayi yang lahir dari ibu
yang terinfeksi HIV.

Beberapa metode penularan HIV yang dapat terjadi adalah sebagai berikut:

1. Hubungan seks tampa pengaman (sek tampa kondom)

Penularan dengan melakukan hubungan seksual dapat terjadi dari pria ke wanita
atau sebaliknya, serta pada sesama jenis kelamin melalui hubungan seksual
yang berisiko. Penularan HIV dapat terjadi saat hubungan seks melalui vagina,
anal, maupun seks oral dengan pasangan yang terinfeksi HIV. Salah satu cara
terbaik untuk mencegah penularan HIV adalah menggunakan kondom saat
berhubungan seks dan tidak berganti-ganti pasangan seksual.

15
2. Penggunaan jarum suntik secara bersamaan

HIV dapat ditularkan melalui jarum suntik yang terkontaminasi dengan darah
yang terinfeksi. Berbagi pakai jarum suntik atau menggunakan jarum suntik
bekas, membuat seseorang memiliki risiko sangat tinggi tertular penyakit,
termasuk HIV.
3. Tindik atau tattoo yang tidak steril
Untuk menghindari penularan HIV ketika memiliki tindik tubuh dan tato:
Pergi ke studioyang memilikisurat ijin (tempat terdaftar) di mana jarum dan
peralatan lainnya disterilkan atau dibuang setelah digunakan. Ini juga
melindungi Anda dari virus lain seperti hepatitis B dan hepatitis C.
4. Ibu dan Anak Selama masa kehamilan, persalinan atau menyusui
Seorang ibu yang terinfeksi HIV dan mengandung atau menyusui berisiko
tinggi untuk menularkan HIV kepada bayinya. Penting untuk berkonsultasi
dengan dokter agar dapat dilakukan pemeriksaan dan pengobatan HIV selama
kehamilan, guna menurunkan risiko penularan HIV pada bayi. Disarankan
bahwa ibu dengan HIV tidak menyusui. Berkonsultasi dengan dokter tentang
cara-cara lain menyusui bayi.
5. Transfusi Darah
Dalam sebagian kasus, penularan HIV juga bisa disebabkan oleh transfusi
darah. Namun, kejadian ini semakin jarang terjadi karena kini diterapkan uji
kelayakan donor, termasuk donor darah, organ ataupun donor jaringan tubuh.
Dengan pengujian yang layak, penerima donor darah memiliki risiko yang
rendah untuk terinfeksi HIV.

2.2.4 Pencegahan dan penanganan


a. Pencegahan
1. Hindarkan hubungan seksual diluar nikah.
2. Pergunakan kondom bagi resiko tinggi apabila melakukanhubungan seksual.
3. Ibu yang darahnya telah diperiksa dan ternyata mengandung virus,hendaknya
jangan hamil. Karena akan memindahkan virus AIDS pada janinnya.
4. Kelompok resiko tinggi di anjurkan untuk menjadi donor darah.

16
5. Penggunaan jarum suntik dan alat lainnya ( akupuntur, tato, tindik )harus
dijamin sterilisasinya.
Adapun usaha-usaha yang dapat dilakukan pemerintah dalam usahauntuk
mencegah penularan AIDS yaitu, misalnya : memberikan penyuluhan
penyuluhan atau informasi kepada seluruh masyarakat tentang segala
sesuatau yang berkaitan dengan AIDS, yaitu melalui seminar-seminar terbuka,
melalui penyebaran brosur atau poster-poster yang berhubungandengan AIDS,
ataupun melalui iklan diberbagai media massa baik mediacetak maupun media
elektronik.penyuluhan atau informasi tersebut dilakukansecara terus menerus
dan berkesinambungan, kepada semua lapisan masyarakat agar seluarh
masyarakat dapat mengetahui bahaya AIDS sehingga berusaha menghindarkan
diri dari segala sesuatu yang bisamenimbulkan virus AIDS.

b. Penanganan HIV/AIDS
 Setelah dilakukan diagnosa HIV, pengobatan dilakukanuntuk
memperlambat tingkat replikasi virus. Berbagaimacam obat diresepkan untuk
mencapai tujuan ini dan berbagai macam kombinasi obat
obatan terus diteliti.Untuk menemukan obat penyembuhannya.
 Pengobatan-pengobatan ini tentu saja memiliki efeksamping, namun
demikian ternyata mereka benar-benarmampu memperlambat laju
perkembangan HIV didalamtubuh.
 Pengobatan infeksi-infeksi appertunistik tergantung padazat-zat khusus
yang dapat menginfeksi pasien, obat anti biotic dengan dosis tinggi dan obat-
obatan anti virus seringkali diberikan secara rutin untuk mencegah infeksiagar
tidak menjalar dan menjadi semakin parah.

2.3 PENGERTIAN PERILAKU MEROKOK


Para ilmuwan psikologi umumnya sesuai dalam pendapat bahwa pokok
persoalan psikologi adalah perilaku, namun tetap terdapat perbedaan yang besar sekali
dalam pendapat mereka mengenai hal-hal apa saja tepatnya yang harus dimasukkan ke
dalam kategori perilaku tersebut. Dalam pengertian paling luas, perilaku ini mencakup
segala sesuatu yang dilakukan atau dialami seseorang. Ide-ide, impian-impian, reaksi-
reaksi kelenjar, lari, menggerakkan sesuatu, semuanya itu adalah perilaku. Dengan kata
lain, perilaku adalah sebarang respon (reaksi, tanggapan, jawaban, balasan) yang

17
dilakukan oleh suatu organisme. perilaku adalah aktivitas suatu organisme yang dapat
dideteksi. Munculnya perilaku dari organisme ini dipengaruhi oleh faktor stimulus yang
diterima, baik stimulus internal maupun stimulus eksternal.
Seperti halnya perilaku lain, perilaku merokok pun muncul karena adanya
faktor internal (faktor biologis dan faktor psikologis, seperti perilaku merokok
dilakukan untuk mengurangi stres) dan faktor eksternal (faktor lingkungan sosial,
seperti terpengaruh oleh teman sebaya). Perilaku merokok adalah aktivitas menghisap
atau menghirup asap rokok dengan menggunakan pipa atau rokok. Menurut Ogawa
(dalam Triyanti, 2006) dahulu perilaku merokok disebut sebagai suatu kebiasaan atau
ketagihan, tetapi dewasa ini merokok disebut sebagai tobacco dependency atau
ketergantungan tembakau. Tobacco dependency sendiri dapat didefinisikan sebagai
perlaku penggunaan tembakau yang menetap, biasanya lebih dari setengah bungkus
rokok per hari, dengan adanya tambahan distres yang disebabkan oleh kebutuhan akan
tembakau secara berulang-ulang. Perilaku merokok dapat juga didefinisikan sebagai
aktivitas subjek yang berhubungan dengan perilaku merokoknya, yang diukur melalui
intensitas merokok, waktu merokok, dan fungsi merokok dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara Leventhal & Cleary (1980) menyatakan bahwa perilaku merokok terbentuk
melalui empat tahap, yaitu: tahap preparation, initiation, becoming a
smoker, dan maintenance of smoking.

2.3.1 Etiologi Perilaku Merokok Pada Remaja


Sebelum membahas lebih lanjut mengenai etiologi perilaku merokok pada
remaja, akan dibahas terlebih dahulu definisi remaja. Remaja
atau adolescene berasal dari bahasa latin adolescere yang berarti “tumbuh” atau
“tumbuh menjadi dewasa.” Istilah ini mencakup kematangan mental, emosional,
sosial dan fisik. Secara psikologis masa remaja adalah usia di mana individu
berintegrasi dengan masyarakat dewasa. Masa remaja adalah usia di mana anak
tidak lagi merasa di bawah tingkat orang dewasa melainkan berada dalam
tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak, integrasi dalam
masyarakat, mempunyai banyak aspek efektif, kurang lebih berhubungan dengan
masa puber. Termasuk juga perubahan intelektual yang mencolok, tranformasi
yang khas dari cara berpikir remaja memungkinkan untuk mencapai integrasi
dalam hubungan sosial orang dewasa, yang kenyataannya merupakan ciri khas

18
yang umum dari periode perkembangan. Monks (1999) membagi masa remaja
menjadi tiga kelompok tahap usia perkembangan, yaitu early
adolescence (remaja awal) yang berada pada rentang usia 12 sampai 15
tahun, middle adolescence(remaja pertengahan) yang berada pada rentang usia 15
sampai 18 tahun, dan late adolescence (remaja akhir) yang berada pada usia 18
sampai 21 tahun.
Dalam membahas etiologi (penyebab) gangguan penyalahgunaan dan
ketergantungan zat  termasuk perilaku merokok, harus dipahami bahwa
seorang individu menjadi tergantung pada zat umumnya melalui suatu proses.
Pertama, orang yang bersangkutan harus mempunyai sikap positif terhadap zat
tersebut, kemudian mulai bereksperimen dengan menggunakannya, mulai
menggunakannya secara teratur, menggunakannya secara berlebihan, dan terakhir
menyalahgunakannya atau menjadi tergantung secara fisik padanya. Setelah
menggunakannya secara berlebihan dalam waktu lama, orang yang bersangkutan
akan terikat oleh proses-proses biologis toleransi dan putus zat. Perilaku merokok
merupakan fungsi dari lingkungan dan individu. Artinya, perilaku merokok selain
disebabkan faktor-faktor dari dalam diri juga disebabkan oleh faktor lingkungan.
Berbagai penelitian di beberapa negara telah dilakukan untuk mengetahui faktor
apa saja yang berperan terhadap perilaku merokok pada remaja.

Mengapa remaja merokok, antara lain:


a. Pengaruh Orang Tua
Menurut Baer and Corado, remaja perokok adalah anak-anak yang berasal
dari rumah tangga yang tidak bahagia, dimana orang tua tidak begitu
memperhatikan anak-anaknya dibandingkan dengan remaja yang berasal dari
lingkungan rumah tangga yang bahagia. Remaja yang berasal darikeluarga
konservatif akan lebih sulit untuk terlibat dengan rokok maupun obat-obatan
dibandingkan dengan keluarga yang permisif, dan yang paling kuat
pengaruhnya adalah bila orang tua sendiri menjadi figure contoh yaitu
perokok berat, maka anak-anaknya akan mungkin sekaliuntuk mencontohnya.
Perilaku merokok lebih banyak didapati pada mereka yang tinggal dengan
satu orang tua( Single Parent ). Remaja berperilaku merokok apabila ibu

19
mereka merokok dari pada ayah yang merokok. Hal ini lebih terlihat pada
remaja putri.
b. Pengaruh Teman
Berbagai fakta mengungkapkan bahwa semakin benyak remaja merokok
maka semakin besar kemungkinan teman-temannya adalah perokok juga
dan demikian sebaliknya. Ada dua kemungkinan yang terjadi dari fakta
tersebut, pertama remaja tersebut terpengaruh oleh teman-temannya atau
sebaliknya. Diantara remaja perokok terdapat 87 % mempunyai sekurang-
kurangnya satu atau lebih sahabat yang perokok begitu puladengan remaja
non perokok.
c. Faktor Kepribadian
Orang mencoba untuk merokok karena alasan ingin tahu atau ingin
melepaskan diri dari rasa sakit dan kebosanan. Satu sifat kepribadianyang
bersifat pada pengguna obat-obatan (termasuk rokok) ialahkonformitas sosial.
Pendapat ini didukung Atkinson (1999) yang menyatakan bahwa orang yang
memiliki skor tinggi pada berbagai teskonformitas sosial lebih menjadi
perokok dibandingkan dengan merekayang memiliki skor yang rendah.
d. Pengaruh Iklan
Melihat iklan di media massa dan elektronik yang menampilkan gambaran
bahwa perokok adalah lambang kejantanan atau glamour membuat remaja
seringkali terpicu untuk mengikuti perilaku sepertiyang ada dalam iklan
tersebut.

2.3.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Merokok


1. Faktor Biologis
Banyak Penelitian menunjukkan bahwa nikotin dalam rokok merupakan salah
satu bahan kimia yang berperan penting pada ketergantungan merokok.
nikotin dalam darah perokok cukup tinggi.
2. Faktor Psikologis
Merokok Dapat bermakna untuk meningkatkan konsentrasi, menghalaurasa
kantuk, Mengakrabkan suasana sehingga timbul rasa persaudaraan
, juga dapat memberikan kesan modern dan berwibawa, sehingga bagi
individu yang sering bergaul dengan orang lain, perilaku merokok sulit untuk
dihindari.

20
3. Faktor Lingkungan Sosial
Lingkungan sosial berpengaruh terhadap sikap, kepercayaan danperhatian
individu pada perokok. Seseorang akan berperilaku merokokdengan
memperhatikan lingkungan sosialnya.
4. Faktor Demografis
Faktor ini meliputi umur dan jenis kelamin. Orang yang merokok pada usia
dewasa semakin banyak , akan tetapi pengaruh jenis kelamin Zaman sekarang
sudah tidak terlalu berperan karena baik priamaupun wanita sekarang sudah
merokok.
5. Faktor Sosial-Kultural
Kebiasaan budaya, kelas sosial, tingkat pendidikan, penghasilan, dangengsi
pekerjaan akan mempengaruhi perilaku merokok pada individu.
6. Faktor Sosial Politik
Menambahkan kesadaran umum berakibat pada langkah-langkah politikyang
bersifat melindungi bagi orang-orang yang tidak merokok danusaha
melancarkan kampanye-kampanye promosi kesehatan untukmengurangi
perilaku merokok. Merokok menjadi masalah yang bertambah besar di
negara-negara berkembang seperti Indonesia.

2.3.3 Tipe perilaku merokok

Seperti yang diungkapkan oleh Leventhal & Clearly terdapat 4 tahap


dalam perilaku merokok sehingga menjadi perokok, yaitu :
1. Tahap Prepatory: Seseorang mendapatkan gambaran yangmenyenangkan
mengenai merokok dengan cara mendengar, melihat ataudari hasil bacaan. Hal-
hal ini menimbulkan minat untuk merokok
2. Tahap Initiation: Tahap perintisan merokok yaitu tahap apakahseseorang akan
meneruskan atau tidak terhadap perilaku merokok.
3. Tahap Becoming a Smoker: Apabila seseorang telah mengkonsumsirokok
sebanyak empat batang per hari maka mempunyai kecenderunganmenjadi
perokok.
4. Tahap Maintenance of Smoking: Tahap ini merokok sudah menjadi salahsatu
bagian dari cara pengaturan diri (self regulating). Merokokdilakukan untuk
memperoleh efek fisiologis yang menyenangkan.

21
Ada tiga tipe perokok yang dapat diklasifikasikanmenurut banyaknya rokok yang
dihisap. Tiga tipe perokok tersebut adalah :
a. Perokok berat yang menghisap lebih dari 15 batang rokok dalam sehari
b. Perokok sedang yang menghisap 5-14 batang rokok dalam sehari.
c. Perokok ringan yang menghisap 1-4 batang rokok dalam sehari

2.3.4 Dampak Perilaku Merokok


1. Dampak Positif
Merokok menimbulkan dampak positif yang sangat sedikit bagikesehatan.
Graham (dalam Ogden, 2000) menyatakan bahwa perokok meyebutkan dengan
merokok dapat menghasilkan mood positif dandapat membantu individu
menghadapi keadaan-keadaan yang sulit. Keuntungan merokok (terutama bagi
perokok) yaitumengurangi ketegangan, membantu berkonsentrasi, dukungan
sosial dan menyenangkan.
2. Dampak negative
Merokok dapat menimbulkan berbagai dampak negatif yang sangat berpengaruh
bagi kesehatan. Merokok bukanlahpenyebab suatu penyakit, tetapi dapat memicu
suatu jenis penyakitsehingga boleh dikatakan merokok tidak menyebabkan
kematian, tetapi dapat mendorong munculnya jenis penyakit yang dapat
mengakibatkankematian. Berbagai jenis penyakit yang dapat dipicu karena
merokokdimulai dari penyakit di kepala sampai dengan penyakit di telapak
kaki,antara lain : penyakit kardiolovaskular, neoplasma(kanker), saluran
pernafasan, peningkatan tekanan darah, memperpendekumur, penurunan
vertilitas (kesuburan) dan nafsu seksual, sakit mag,gondok, gangguan pembuluh
darah, penghambat pengeluaran air seni,ambliyopia (penglihatan kabur), kulit
menjadi kering, pucat dan keriput,serta polusi udara dalam ruangan.

Bebera penyakit yang ditimbulkan oleh kebiasaan meroko :


1. Impotensi
Merokok dapat menyebabkan penurunan seksual karena aliran darah ke penis
berkurang sehingga tidak terjadi ereksi.

2. Osteoporosis

22
Kabon monoksida dalam asap rokok mengurangi daya angkut oksigen darah
perokok sebesar 15%, mengakibatkan kerapuhan tulang sehingga lenih
mudah parah dan membutuhkan wktu 80% lebih lama untuk penyembuhan.
3. Pada kehamilan
Merokok selama kehamilan menyebabkan pertumbuhan janin lambat dan
dapat mengakibatkan resiko Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Resiko
keguguran pada wnita peroko 2-3 kali lebih sering karena karbon mpnoksida
dalam asap rook dapat menurunkan kadar oksigen.
4. Jantung coroner
Penyakit jantung adaah salah satu penyebab kematian utama do Indonesia.
Sekitar 40% kematian disebabkan oleh gangguan sirkulasi darah, dimana 2,5
juta adalah peyakit jantung korone. Perlu diketauhi bahwa resiko kematian
akibat jantung coroner berkurang 50% pada tahun pertama sesudah rokok
dihentikan. Akibat penggumpalan (trombosit) dan pengapuran dinding
pembuluh darah (aterosklerosis). Meroko akan merusak pembuluh darah
perifer. Penyakit pembuluh darah perifer (PPDP) yang melibatkan pembuluh
darah rteri dan vena di tungkai bawah atau tangan sring ditemukan pada
dewasa muda perokok berat, biasanya akan berakhr dengan mputasi
5. Sistem pernapasan
Kerugian jangka pendek sistem pernapasan akibat rokok adalah kemampuan
rokok untuk membunuh sel rambut getar (silia), disaluran pernapasan. Ini
adalah awal dari bronchitis, iritasi, dan batuk. Sedangkan untuk jangka
panjang berupa kanker paru, emphycema atau hilangnya elastisitas paru-paru
dan bronchitis kronis.

23
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari penjelasan yang telah disajikan sebelumnya dapat ditarik kesimpulan:

1. Penyimpangan seksual adalah aktivitas seksual yang ditempuh seseorang untuk


mendapatkan kenikmatan seksual dengan tidak sewajarnya. Biasanya, cara yang
digunakan oleh orang tersebut adalah menggunakan obyek seks yang tidak wajar.
Penyebab terjadinya kelainan ini bersifat psikologis atau kejiwaan, seperti pengalaman
sewaktu kecil, dari lingkungan pergaulan, dan faktor genetik.
2. Tingkah laku menyimpang merupakan tingkah laku yang melanggar hukum, peraturan
dan nilai yang berlaku di masyarakat yang dijunjung tinggi, sehingga menimbulkan
kehancuran bagi kehidupan remaja itu sendiri, orang lain dan lingkungan alam
sekitarnya.
3. Penyebab tingkah laku menyimpang adalahgangguan psikologi atau kepribadian
seperti: tidak merasa puas dengan kehidupan dirinya sendiri karena potensi psikis
maupun fisik yang tidak tersalurkan, nilai atau filsafat hidup yang salah dan mengalami
gangguan emosi karena berbagai sebab.
4. HIV (Human Immuno Devesiensi) adalah virus yang hanya hidup dalamtubuh manusia,
yang dapat merusak daya kekebalan tubuh manusia. AIDS(Acguired Immuno Deviensi
Syndromer) adalah kumpulan gejalamenurunnya gejala kekebalan tubuh terhadap
serangan penyakit dari luar.
5. Tanda dan Gejala Penyakit AIDS seseorang yang terkena virus HIV padaawal
permulaan umumnya tidak memberikan tanda dan gejala yang khas, penderita hanya
mengalami demam selama 3 sampai 6 minggu tergantungdaya tahan tubuh saat
mendapat kontak virus HIV tersebut.
6. Hingga saat ini penyakit AIDS tidak ada obatnya termasuk serum maupunvaksin yang
dapat menyembuhkan manusia dari Virus HIV penyebab penyakit AIDS yang ada
hanyalah pencegahannya saja
7. Bahwa perokok pada umumnya dimulai pada usia remaja (diatas 13 tahun). Ada
beberapafaktor dan motif perokok, tetapi paling banyak disebabkan oleh faktor
psikologis
dan juga dalam mengatasi stres, jumlah rokok yang dikonsumsi berkaitan dengan stres

24
yang mereka alami, semakin besar stress yang dialami, semakin banyak rokok yang
mereka konsumsi. Selain itu dampak negatif dari merokok lebih banyak dari pada
dampak positif. Dampak negatif merokok dapat mendorong munculnya jenis
penyakityang dapat mengakibatkan kematian.

3.2 Saran
 Jangan melakukan hubungan seksual diluar nikah (berzinah), dan jangan berganti-ganti
pasangan seksual. Apabila berobat dengan menggunakan alat suntik, maka pastikan
dulu apakah alat suntik itu steril atau tidak.
 Orang yang mengetahui dirinya telah terinfeksi virus AIDS hendaknya menggunakan
kondom apabila melakukan hubungan seksual, agar virus AIDS tidak menular pada
pasangan seksualnya

25
DAFTAR PUSTAKA

1. Depkes RI. 2006. Pedoman Penyelenggaraan dan Prosedur Rekam Medis Rumah Sakit
di Indonesia. Jakarta: Depkes RI.
2. Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1993.
MikrobiologKedokteran. Jakarta Barat: Binarupa Aksara.
3. Djuanda, adhi. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: Balai PenerbitFKUI.
4. Mandal,dkk. 2008. Penyakit Infeksi. Jakarta: Erlangga Medical Series.
5. Muin Idanto, Sosiologi SMA/MA Untuk Kelas X, Jakarta; Erlangga, 2006
6. Rahman, Taupik, dkk, Sosiologi 1 Suatu Kajian Kehidupan MAsyarakat, Jakarta;
Yudistira, 2007
7. Thalib, Syamsul Bahri, Psikologi Pendidikan Berbasis Analisis Empiris Aplikatif, cet
ke 1, Jakarta; Kencana, 2010
8. Sarwono, Sarlito W, Pengantar Psikologi Umum,cet ke 2, Jakarta; RajaGrafindo
Persada, 2010
9. Azwar, S. 2002. Sikap Manusia, Teori Dan Pengukurannya. Yogyakarta. Pustaka
Pelajar Offset.
10. Kozier, B (1991). Fundamental of Nursing : Concept, Process, and Practice.
Fourth Edition. California : Addison-Wesley Publishing Company.

26