Anda di halaman 1dari 36

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN Tn.

A DENGAN DIAGNOSA
MEDIS DENGUE HAEMORRHAGIC FEVER DAN DIAGNOSA
KEPERAWATAN HIPERTERMI DI PAVILLIUM 2
RSK BUDI RAHAYU
BLITAR

Oleh:
Julsinbeth Claudian Putri Anin 201202029
Montanus Pelipus Tu Sake 201302033
Ni Made Ary Kristianti 201302035
Ni Putu Vera Sawitri 201302037
Stefania Efenhilda Tefa 201302050

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KATOLIK
ST. VINCENTIUS A PAULO
SURABAYA
2017
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) di Indonesia dikenal dengan
istilah Demam Berdarah Dengue (DBD). Penyakit DHF termasuk penyakit
menular yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Agepty. Saat ini DHF
masih merupakan masalah kesehatan yang ditakuti masyarakat karena sering
menimbulkan kematian pada orang dewasa (Ngastiyah, 1997: 563).
Pusat Informasi Departemen Kesehatan mencatat, jumlah kasus DBD di
Indonesia selama 2009 mencapai 77,489 kasus dengan 585 korban meninggal
(Depkes RI, 2009). Angka insiden DHF per 100.000 penduduk Jawa Timur tahun
2009 adalah 50 kasus (Soepardi, 2010: 8).
Kondisi penyakit DHF di Indonesia yang sering menimbulkan wabah
dengan angka kesakitan yang masih cukup tinggi, sangat membutuhkan
penanganan yang serius. Pola penularan DBD dipengaruhi iklim dan kelembaban
udara. Kelembaban udara yang tinggi dan suhu panas justru membuat nyamuk
Aedes aegypti bertahan lama sehingga kemungkinan pola waktu terjadinya
penyakit mungkin akan berbeda-beda dari satu tempat dengan tempat yang lain
tergantung dari iklim dan kelembaban udara. Di Jawa, umumnya kasus DBD
merebak mulai awal Januari sampai dengan April-Mei setiap tahun (Dinas
Kesehatan Propinsi Jawa Tengah, 2006).
Nyamuk Aedes Agepty mempunyai keistimewaan dari jenis nyamuk
lainnya, karena berkembang biak di genangan air bersih. Oleh karena itu, tempat
bersarangnya vektor nyamuk ini terutama di bejana-bejana yang berisi air jernih
seperti bak mandi, drum penampung air, kaleng bekas dan lain-lain. Kondisi yang
mendukung berkembang biaknya vektor lain karena perilaku hidup masyarakat
yang mendukung ke arah itu. Perilaku tersebut, tidak menutup tempat-tempat
penampungan air bersih dan membiarkan begitu saja kaleng-kaleng bekas
berserakan pada musim hujan. Selain itu lingkungan pemukiman yang padat ikut
membiarkan kontribusi yang besar terhadap berkembang biaknya vektor (Fahmi,
2006:8).

1
2

Telah banyak upaya dan berbagai strategi untuk mengatasi masalah ini yang
dilakukan pemerintah melalui Departemen Kesehatan seperti memberantas
nyamuk dewasa melalui tehnik pengasapan (fogging), menggunakan larvasida
“Abate” yang ditaburkan ke tempat penampungan air/ bak mandi yang sulit
dibersihkan, namun kedua metoda tersebut tidak efektif, sehingga perlu
diupayakan cara atau metoda lain untuk menanggulangi penyebaran dan
perkembangbiakan kedua jenis nyamuk vektor virus dengue tersebut. Oleh karena
itu upaya penanggulangan penyakit ini tidak hanya bergantung pada sektor
kesehatan semata tetapi kerjasama lintas program, lintas sektoral dan peran serta
masyarakat sangat penting dilakukan secara terpadu (Hanim, 2013: 25-29).
1.2 Rumusan Masalah
1) Apa sajakah data fokus yang harus dikaji pada pasien dengan Diagnosa Medis
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) di RS Budi Rahayu Blitar?
2) Apa diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan Diagnosa Medis
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) di RS Budi Rahayu Blitar?
3) Apa sajakah intervensi keperawatan yang dapat dilaksanakan pada pasien
dengan diagnosa medis Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) di RS Budi
Rahayu Blitar?
4) Bagaimanakah keberhasilan tindakan keperawatan yang telah dilakukan pada
pasien dengan diagnosa medis Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) di RS Budi
Rahayu Blitar?
1.3 Tujuan
1) Mengidentifikasi data fokus yang harus dikaji pada pasien dengan diagnosa
medis Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) di RS Budi Rahayu Blitar.
2) Mengidentifikasi diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan
diagnosa medis Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) di RS Budi Rahayu
Blitar.
3) Menyusun inttervensi keperawatan yang akan dilaksanakan pada pasien
dengan diagnosa medis Dengue Hemorhragic Fever (DHF) di RS Budi
Rahayu Blitar.
3

4) Menilai keberhasilan tindakan keperawatan yang telah dilakukan pada pasien


dengan diagnosa medis Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) di RS Budi
Rahayu Blitar.
1.4 Manfaat Penelitian
1) Manfaat Teoritis
Mengaplikasikan teori asuhan keperawatan pada pasien dengan diagnosa
medis Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) dan jurnal Plague Ground :
Healthcare Managemen Of Dengue/Dengue Hemorrhagic Fever (Wabah:
Manajemen Kesehatan Penyakit Demam Berdarah).
2) Manfaat Praktis
Menambah wawasan dan pengalaman dalam pemberian asuhan
keperawatan pada pasien dengan diagnosa medis Dengue Hemorrhagic
Fever (DHF) di RS Budi Rahayu Blitar.
BAB 2
TINJAUAN KASUS

2.1 Pengkajian
TanggalPengkajian : 05Mei 2017 Jam : 13.30 WIB
Tanggal MRS : 05Mei 2017 No. RM : 84XXX
DiagnosaMasuk : Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)

2.1.1 IdentitasPasien
Nama : Tn. A
Usia : 20 tahun
JenisKelamin : Laki-Laki
Status : Belum menikah
Suku : Jawa
Agama : Islam
Bangsa : Indonesia
Alamat :Blitar

2.1.2 RiwayatKeperawatan
2.1.2.1 KeluhanUtama
Pasien mengeluh badan panas
2.1.2.2 RiwayatPenyakitSekarang
Pasien mengeluh panas sejak 4 hari yang lalu dimana pada tanggal 01 Mei
2017 pasien merasa badannya panas dan mual, kemudian pada tanggal 02 Mei
2017 pasien pergi ke dokter praktek untuk memeriksa keadaanya dan dokter
memberikan obat tuzalos dan cefadroxil untuk dikonsumsi pasien, tetapi pada
tanggal 03 Mei 2017 belum ada perubahan pada kondisi pasien dimana pasien
masih merasakan panas, pusing, mual dan lemas. Pada tanggal 04 Mei 2017
pasien diantar oleh ibunya ke poli RSK Budi Rahayu untuk diperiksa kembali
keadaan pasien kemudian dokter memberikan obat pada pasien, pasien pulang
dan menjalani perawat rawat jalan. Pada tanggal 05 Mei 2017, pukul 12.00
WIB pasien di antar oleh ibunya ke IGD RSK Budi Rahayu dengan keluhan

5
6

panas, pusing,mual dan lemas. Diagnosa medis pasien di IGD Dengue Fever.
KU pasien saat di IGD : lemah, TD : 110/80 mmHg, nadi : 82x/menit, suhu
39,9 0C, RR : 24x/menit. Pasien mendapat terapi 1 infus RL/24jam 30
tetes/menit, BB 81 kg.
Hasil pemeriksaan Laboratorium adalah sebagai berikut:
Tanggal 05Mei 2017
No Jenis Nilai normal Hasil
1 WBC/Leko x10 g/L 4,0 ±11,0 2,3
2 HGB/Hb g/dL 13,5-17,5 14,6
3 HCT/PCV % 35-47 41,4
4 PLT/Trombo x10g/L 150-400 88
5 Ig6 Salmonella - Negative
6 Igm Salmonella - Negative

Pasien disarankan rawat inap oleh dr. D di RSK Budi Rahayu Pavilium II pada
pukul 13.00 WIB.
2.1.2.3 RiwayatPenyakitDahulu.
Tn. Amengungkapkan tidak pernah menderita demam typoid sebelumnya
2.1.2.4 RiwayatPenyakitKeluarga.
Tn. Amengungkapkan anggota keluarga yang serumah tidak ada yang
menderita DHF dalam waktu dekat ini.
2.1.2.5 Riwayat Psikososial dan Spiritual
Tn. A adalah seorang mahasiswa, aktifitasnya dari senin-jumat mengikuti
perkulihan, setiap hari sabtu sore Tn.A sering mengikuti olaragah futsal. Tn.A
mengungkapkan ingin cepat sembuh supaya bisa pulang kerumah dan bisa
beraktivitas seperti biasanya.Pasien sering ditunggu oleh ibu, bapak dan
kakaknya. Tn. A memeluk agama Islam dan selalu menjalankan ibadah sholat
5 waktu. Pasien kooperatif terhadap perawat saat dilakukan pengkajian.
2.1.2.6 RiwayatAlergi
Tn. A mengungkapkan tidak mempunyai riwayat alergi terhadap obat-obatan,
makanan, minuman, debu maupun cuaca.
7

2.1.2.7 Perilaku yang mempengaruhi kesehatan


Tn. A mengungkapkan tinggal di daerah yang padat penduduk, di rumah
sering mengantungkan pakian dibelakang pintu kamar, di rumah mereka juga
mempunyai penampungan air yang tidak tertutup.
2.1.3 Pola Pemenuhan Kebutuhan Dasar
2.1.3.1 Nutrisi
Sebelum sakit: Tn. A mengungkapkan sering terlambat makan kalau jadwal
kuliahnya padat. Makan 3 kali sehari dengan menunya adalah nasi, sayur, ikan
daging. Minum air putih kurang lebih 5-8 gelas per hari.
Saat sakit: Tn. A tidak menghabiskan makanan dan hanya menghabiskan 3
sendok karena merasa mual. Mengkonsumsi air putihkurang lebih 2-3gelas per
hari.
2.1.3.2 Eliminasi
Sebelum sakit: Tn. M mengatakan, BAK 4-5 kali sehari, BAK spontan, dengan
warna kuningjernih, BAB 1-2 kali sehari dengan frekuensi lembek, warna
kuning.
Saat sakit: Saat dikaji pasien sudah BAB dengan konsistensi cair warna kuning
kehitaman dan BAK sudah 2 kali.
2.1.3.3 Aktivitas dan Istirahat
Sebelum sakit: Tn.A mengungkapkan tidur malam 6 jam sekitar pukul 23.00
atau 24.00. Tn. A berangkat kekampus dari jam 06.30 sampai jam 15.00 baru
pulang kekosan.
Saat sakit: Saat dikaji Tn. A mengungkapkan tidur sering terbangun karena
mengeluh mual dan badan panas.
2.1.3.4 Hygiene Perseorangan
Sebelum sakit: Tn. Amengungkapkan mandi 2 kali sehari, cuci rambut 3 kali
dalam seminggu dan bisadilakukan secara mandiri.
Saat sakit: Tn. M mengungkapkan mandi, gosok gigidan ganti pakaian 2 kali
sehari dibantu oleh kelurga dan perawat.
2.1.4 PemeriksaanFisik
2.1.4.1 Keadaan Umum: Tn. A tampak lemah.
8

2.1.4.2 Sistem Pernapasan (B1)


RR 24x/menit,pasien batuk,bentuk dada simetris, retraksi dada ringan, tidak
ada otot bantu napas, tidak ada napas cuping hidung,suara napas
vesikuler.tidak terdengar suara napas tambahan dikedu lapang paru.
2.1.4.3 Sistem Kardiovaskuler (B2)
Konjungtiva merah muda, sklera putih, mukosa bibir agak kering dan
memerah, turgor < 2 detik, tidak ada sianosis, irama jantung reguler, CRT <2
detik, akral hangat,TD 110/80mmHg, suhu 39,4ºC, nadi 84 x/menit, nadi teraba
lemah dan teratur.
2.1.4.4 Sistem Persyarafan (B3)
Pupil isokor ka/ki, diameter pupil 3/3 mm, reaksi cahaya +/+, GCS 4-5-6,
kesadaran composmentis.
2.1.4.5 Sistem Perkemihan (B4)
Tidak ada distensi kandung kemih.
2.1.4.6 Sistem Pencernaan (B5)
Abdomen simetris, tidak nyeri, mual, napsu makan menurun, tidak ada
distensi abdomen, tidak asites, tidak ada hepatomegali.
2.1.4.7 Sistem Integumen & Muskuluskeletal (B6)
Tidak tampak petichie, tidak tampak purpura, tidak tampak ekimosis tidak
Edema, pasien mampu menggerakkan ekstremitas atas dan bawah dengan baik,
skala kekuatan otot ekstermitas atas dan bawah bagian kiri dan kanan kekuatan
otot utuh.
5 5
5 5

2.1.5 Terapi
2.1.5.1 ObatInjeksi
1) 2 Infus RL/24 jam
- Indikasi : Untuk mempertahankan sirkulasi yang efektif selama periode
plasma leakage, mengganti cairan yang hilang diruang intravasculer.
9

- Cara kerja : keunggulan terpenting dari larutan Ringer Laktat adalah


komposisi elektrolit dan konsentrasinya yang sangat serupa dengan yang
dikandung cairan ekstraseluler, natrium merupakan kation utama dari
plasma darah dan menentukan tekanan osmotik, klorida merupakan anoin
utama di plasma darah, kalium merupakan kation terpenting di intraseluler
dan berfungsi untuk menggantikan cairan yang hilang pada dehidrasi dan
syok hipvolemik termasuk syok perdarahan.
2) Ondancentron 3x4 mg IV
- Indikasi : pencegahan mual dan muntah
- Komposisi: Ondansentron HCL
- Penyajian : sesudah atau sesudah makan
- Cara kerja : mekanisme kerja obat ini sebenarnya belum diketahui dengan
pasti, meskipun demikian yang saat ini sudah diketahui adalah bahwa
ondancentron bekerja sebagai antagonis reseptor 5HT3, dengan cara
menghambat aktivitas aferan-aferan vagal sehingga menekan terjadinya
muntah.
3) Ceftriaxson 1x2 gr IV
- Indikasi : infeksi serius saluran napas bawah, kulit dan struktur kulit, tulang
dan sendi, intra-abdomen.
- Komposisi : Ceftriaxone Na
- Cara kerja : Dengan menghambat sintesis mucopeptide didinding sel
bakteri, beta-laktam bagian dari ceftriaxson mengikat carboxypeptidases,
endopeptidases dan transpeptidases dalam membran sitoplasma, enzim ini
terlibat dalam sintesis se-dinding dan pembelahan sel dengan mengikat
enzim ini. Ceftriaxson menghasilkan pembentukan dinding sel yang rusak
dan kematian sel. Menghambat sintesis dinding sel bakteri dengan
berkaitan dengan satu atau lebih ikatan protein-penisilin yang selanjutnya
akan menghambat tahap transpeptidasi sintesis peptidoglikan dinding sel
bakteri sehingga menghambat biosintesis dinding sel, bakteri akan
mengalami lisis karena aktivitas enzim autolitik saat dinding sel bakteri
terhambat.
10

2.1.5.2 Obat Oral


1) Cholescor 3x1 tab
- Indikasi : Membantu mengurangi kadar lemak darah,
- Kandungan : Monoscur purpureus (Red yeast rice )
- Penyajian : Dikonsumsi bersamaan dengan makanan, berikan sesaat
sesudah atau saat makan pagi dan malam
2) Dumin 4x1 tab (Bila perlu)
- Indikasi : Demam, nyeri, sakit kepala, nyeri otot
- Komposisi : Paracetamol
- Penyajian : sesudah atau sesudah makan
- Cara kerja : menghambat kerja enzim cyclooxygenase (COX), enzim ini
berperan pada pembentukan prostaglandin yaitu senyawa penyebab nyeri,
dengan dihambatnya kerja enzim COX, maka jumlah prostaglandin pada
sistem saraf pusat menjadi berkurang sehingga respon tubuh terhadap nyeri
berkurang, paracetamol menurunkan suhu tubuh dengan cara menurunkan
hipotalamus set-point dipusat pengendali suhu tubuh diotak.
11

2.2 ANALISA DATA


Nama : Tn. A
Umur : 20 tahun
No.RM : 84XXX
Diagnosa : Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)

NO Data Problem Etiologi


1 Tanggal 05 Mei 2017 Hipertermi Virus Dengue masuk
S: Pasien mengungkapkan
badan panas.
O: Pasien tampak lemah, Menstimulasi sel host inflamasi
mukosa bibir kering. (makrofag, neotrofil, sel kuffer)
TTV :
Nadi : 84x/menit
Suhu : 39,4 0C Memproduksi emdogenus
RR : 24x/menit pirogen (IL-1,IL-6)

Endotelium hipotalamus
meningkatkan produks
prostaglandin dan
naeurotransmiter

Prostaglandin berikatan dengan


neuro preoptik di hipotalamus
anterior

Meningkatkan termostat “set


point ” pada pusat
termoregulator

Hipertermi
12

2 Tanggal 05 Mei 2017 Resiko Perdarahan Virus Dengue masuk


S: Pasien mengungkapkan
pusing,mual dan BAB 1 kali
konsistensi cair dan warnanya
kuning kehitaman. kompleks antibod-virus
O: Pasien tampak lemah,
Trombosit 88 g/dl, BAB 1 kali
konsistensi cair warna hitam
kekuningan.Nadi : 84x/menit aktivasi komplmen C3 dan C5
Tensi : 110/80 mmHg.

Pelepasan komplemen (C3, C5)

Sel mast melepaskan


histamin(bradikinin,
prostaglandin)

permeabilitas kapiler

Resiko Perdarahan
13

2.3 DIAGNOSA KEPERAWATAN


Nama : Tn. A
Umur : 20 tahun
No.RM : 84XXX
Diagnosa : Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)

No Diagnosa Keperawatan
1 Hipertermi berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme ditandai dengan Pasien
mengungkapkan panas, Pasien tampak lemah, mukosa bibir kering dan memerah, nadi :
84x/menit, suhu : 39,4 0C, RR : 24x/menit
2 Resiko perdarahan berhubungan dengan trombositopenia..
2.4 RENCANA KEPERAWATAN
Nama : Tn. A
Umur : 20 tahun
No.RM : 84XXX
Diagnosa : Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)

NO Tanggal Diagnosa Perencanaan Implementasi Evaluas Sumatif


Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional
1 05 Mei 2017 Hipertermi Pasien 1. Berikan penjelasan 1. Pendidikan 1. Jam 13.40 10 Mei 2017
berhubungan menunjukkan kepada keluarga kesehatan diberikan Menjelaskan kepada
dengan suhu tubuh dan pasien agar kooperatif keluarga dan pasien Jam 07.00
peningkatan laju dalam batas tindakan yang akan dalam terapi tentang dindakan yang S:
metabolisme normal setelah dilakukan akan dilakukan Pasien
ditandai dengan dilakukan mengungkapkan
Pasien tindakan tidak panas
mengungkapkan keperawatan 2. Anjurkan pasien 2. Penggunaan pakaian 2. Jam 13.45
panas, Pasien 5x24 jam dengan untuk memakai yang tipis dapat Memberitahukan pasien O:
tampak lemah, kriteria hasil : pakaian yang tipis membantu proses untuk tidak memakai Keadaan
mukosa bibir - Suhu dalam dan mudah penguapan tubuh selimut dan pakian yang pasienmulai
kering dan rentang menyerap keringat tebal membaik, tidak
memerah, nadi : normal (36,5 lemah, nadi

14
0
84x/menit, suhu C-37,50C) 3. Anjurkan pada 3. Peningkatan suhu 3. Jam 13.50 68x/menit, RR
: 39,4 0C, RR : - Nadi (60- pasien untuk tubuh dapat Memberitahukan pasien 16x/menit, suhu
24x/menit 100x/menit) banyak minum mengakibatkan untuk banyak minum 36,0C.
dan RR (18- kurang lebih 1,5-2 penguapan tubuh kurang lebih 1,5-2
20x/menit)dal liter/hari. meningkat sehingga liter/hari. A:
am rentang perlu diimbangi Masalah teratasi
normal asupan cairan yang
banyak untuk P:
mengganti cairan Intervensi
tubuh yang hilang dihentikan
akibat evaporasi

4. Berikan kompres 4. Dengan 4. Jam 15.00


hangat menggunakan Melakukan pemberian
kompres hangat kompres hangat pada
dapat terjadi pasien
vasodilatasi sehingga
dapat meningkatkan
penguapan yang
mempercepat
penurunan suhu
tubuh

15
5. Kolaborasi dengan 5. Ceftriaxon obat 5. Jam 14.00
dokter dalam merupakan antibotik Pemberian obat injeksi
pemberian untuk infeksi, dumin ceftriaxson 2 gr IV
ceftriaxson 1x2 gr merupakan obat
IV, dumin 4x1 tab untuk demam. Jam 16.30
Pemberian obat oral
cholescor 1 tab.

6. Observasi keadaan 6. Untuk mengetahui 6. Jam 19.00


umum pasien, keberhasilan dari Melakukan observasi
suhu, nadi dan RR. tindakan keadaan umum pasien:
keperawatan, untuk pasien tampak lemah,
evaluasi dan untuk suhu 36,60C, nadi
menentukan 86x/menit, RR
intervensi 22x/menit.
selanjutnya.

7. 7. 7. S:
2 05 Mei 2017 Resiko Pasien tidak 1. Berikan penjelasan 1. Pendidikan 1. Jam 14.05 Pasien mengungkan

16
perdarahan mengalami kepada keluarga kesehatan diberikan Menjelaskan kepada tidak pusing, tidak
berhubungan perdarahan dan pasien agar pasien mengerti keluarga dan pasien mual
dengan dengan kriteria : tindakan dan kooperatif dalam tindakan keperawatan
trombositopenia. - Tidak keperawatan yang terapi yang akan dilakukan O:
ditemukan akan dilakukan Keadaan pasien
petichei, mulai membaik,
purpura, 2. Berikan penjelasan 2. Membantu pasien 2. Jam 14.10 tidak lemah, tidak
ekimosis, kepada pasien dan dalam mendapat Memberitahukan kepada pusing, mual,
epitasis, keluarga untuk penanganan sedini pasien dan keluarga trombosit62g/dl, TD
hematemesis/ segera melaporkan mungkin untuk melaporkan jika 110/70 mmHg, nadi
melena jika terdapat tanda- terdapat tanda-tanda 68x/menit, tidak ada
selama dalam tanda perdarahan perdarahan seperti tanda-tanda
perawatan mimisan dan berak darah perdarahan seperti
- Pasien tidak petichei, purpura,
pusing 3. Anjurkan pada 3. Aktifitas yang 3. Jam 14.10 ekimosis, epitasis,
- Jumlah pasien untuk berlebihan dapat Menberitahukan pasien hematemesis/
trombosit banyak beristirahat memperburuk untuk istirahat yang melena.
pasien keadaan pasien cukup
meningkat A : masalah tidak
- TD (120-80 terjadi
mmHg) dan 4. Kolaborasi dengan 4. Ondancentron 4. Jam 16. 30
nadi (60- dokter dalam merupakan obat Pemberian dumin 1 tab. P:

17
100x/menit) pemberian obat untuk mengatasi Intervensi
dalam ondancentron 3x4 mual dan muntah, dihentikan
rentang mg IV dan cholescor merupakan
normal dumin3x1 tab. obat untuk
membantu
peningkatan
trombosit.

5. Observasi tanda- 5. Penurunan jumlah 5. Jam 17.00


tanda perdarahan trombosit merupakan Melakukan observasi
seperti petichei, tanda-tanda adanya tanda-tanda perdarahan
purpura, ekimosis, perforasi pembuluh seperti petichei, purpura,
epitasis, darah yang pada ekimosis, dengan
hematemesis, tahap tertentu dapat melakukan rumple lite
melena dan menimbulkan tanda-
trombosit yang tanda klinis berupa
disertai dengan perdarahan seperti
tanda-tanda klinis petichei, purpura,
seperti TD dan ekimosis, epitaksis
nadi dan melena

18
6. Observasi keadaan 6. Untuk mengetahui 6. Jam 19.00
umum pasien, keberhasilan dari Melakukan observasi
tanda-tanda tindakan keadaan umum pasien:
perdarahan seperti keperawatan, untuk pasien tanpak lemah,
petichei, purpura, evaluasi dan untuk tidak tanpak tanda-tanda
ekimosis, menentukan perdarahan seperti
hematesis dan intervensi petichei, purpura,
melena, TD dan selanjutnya. ekimosis, hematesis dan
nadi. melena, TD 110/60, nadi
86x/menit.

19
20

2.5 CATATAN PERKEMBANGAN

No Tanggal Diagnosa Keperawatan SOAPIE


1 06 Mei 2017 Hipertermi berhubungan S:
dengan peningkatan laju Pasien mengungkapkan panasnya
metabolisme ditandai mulai menurun
dengan Pasien
mengungkapkan panas, O:
Pasien tampak lemah, Keadaan pasien masih tampakl emah,
mukosa bibir kering dan nadi 86x/menit, RR 22x/menit, suhu
memerah, nadi : 84x/menit, 36,60C.
0
suhu : 39,4 C, RR :
24x/menit A : Masalah teratasi sebagian

P:
Intervensi 1, 2, dan 4 dihentikan,
intervensi 3, 5 dan 6 dilanjutkan

I:
- Jam 07.30
Memberitahukan pasien untuk
banyak minum kurang lebih 1,5-2
liter/hari
- Jam 08.00
Pemberian obat oral cholescor 1
tab
- Jam11.00
Melakukan observasi keadaan
umum, suhu, nadi, RR
- Jam 13.00
Pemberian obat oral cholescor 1
tab
Resiko perdarahan
berhubungan dengan E:
penurunan trombositopenia. Jam 14.00
Keadaan pasien masih lemah, nadi
82x/menit, RR 22x/menit, suhu
36,50C.
21

S:
Pasien mengungkapkan masih lemah,
pusing dan mual

O:
Keadaan pasien masih tampak lemah,
TD110/60 mmHg, nadi 86x/menit,
tidak nampak adanya tanda-tanda
perdarahan seperti petichei, purpura,
ekimosis, hematesis dan melena

A:
Masalah tidak terjadi

P:
Intervensi 1 dan 2 dihentikan,
intervensi 3, 4, 5 dan 6 dilanjutkan

I:
- Jam 07. 40
Memberitahukan pasien untuk
banyak beristirahat
- Jam 08.00
Pemberian obat oral dumin 1 tab
- Pukul 09.00
Pemberian obat injeksi
ondancentron 4mg IV
- Jam 10.00
Melakukan observasi tanda-tanda
perdarahan seperti petichei,
purpura, ekimosis, epitasis,
hematemesis, melena dan trombosit
Jam 11.00
Melakukan observasi keadaan
22

umum pasin, tanda-tanda


perdarahan, TD dan Nadi

E:
Jam 14.00
Pasien mengungkapkan tidak terlalu
pusing,masih mual, pasien tampak
lemah, tidak nampak adanya tanda-
tanda perdarahan seperti petichei,
purpura, ekimosis, hematesis dan
melena, trombosit 56g/dl ,TD110/60
mmHg, nadi 82x/menit.
2 07 Mei 2017 Hipertermi berhubungan S:
dengan peningkatan laju Pasien mengungkapkan tidak panas
metabolisme ditandai
dengan Pasien O:
mengungkapkan panas, Keadaan pasien masih lemah, nadi
Pasien tampak lemah, 82x/menit, RR 22x/menit, suhu
0
mukosa bibir kering dan 36,5 C.
memerah, nadi : 84x/menit,
0
suhu : 39,4 C, RR : A : Masalah teratasi sebagian
24x/menit
P:
Intervensi 1, 2, dan 4 dihentikan,
intervensi 3, 5 dan 6 dilanjutkan
I:
- Jam 07.30
Memberitahukan pasien untuk
banyak minum kurang lebih 1,5-2
liter/hari
- Jam 08.00
Pemberian obat oral cholescor 1
tab
- Jam 11.00
Melakukan observasi keadaan
umum pasien, suhu, nadi, RR
- Jam 13.00
Pemberian obat oral cholescor 1 tab
23

E:
Jam14.00
Keadaan pasien tidak lemah, nadi
88x/menit, RR 18x/menit, suhu
36,30C.

Resiko perdarahan S:
berhubungan dengan Pasien mengungkapkan tidak pusing
trombositopenia. dan sedikit mual saat posisi berbaring

O:
Keadaan pasien masih lemah,
trombosit 56g/dl, TD 110/60 mmHg,
nadi 82x/menit, tidak nampak adanya
tanda- tanda perdarahan seperti
petichei, purpura, ekimosis, epitasis,
hematemesis/ melena.

A:
Masalah tidak terjadi

P:
Intervensi 1 dan 2 dihentikan,
intervensi 3, 4, 5 dan 6 dilanjutkan

I:
- Jam 07. 40
Memberitahukan pasien untuk
banyak beristirahat
- Pukul 09.00
Pemberian obat injeksi
ondancentron 4mg IV
- Jam 10.00
Melakukan observasi tanda-tanda
perdarahan seperti petichei,
purpura, ekimosis, epitasis,
hematemesis, melena dan
24

trombosit
- Jam 11.00
Melakukan observasi keadaan
umum pasien, tanda-tanda
perdarahan, TD dan nadi

E:
Jam14.00
Keadaan pasien masih tampak lemah,
pasien mengungkapkan mualnya
berkurang,trombosit 28 g/dl,TD
100/70 mmHg, nadi 88x/menit, tidak
nampak adanya tanda-tanda
perdarahan seperti petichei, purpura,
ekimosis, hematesis dan melena.

3 08 Mei 2017 Hipertermi berhubungan S:


peningkatan laju metabolik Pasien mengungkapkan tidak panas
ditandai dengan Pasien
mengungkapkan panas, O:
Pasien tampak lemah, Keadaan pasien tidak lemah, nadi
mukosa bibir kering dan 88x/menit, RR 18x/menit, suhu
memerah, nadi : 84x/menit, 36,30C.
0
suhu : 39,4 C, RR :
24x/menit A : Masalah teratasi sebagian

P:
Intervensi 1, 2, dan 4 dihentikan,
intervensi 3, 5 dan 6 dilanjutkan
I:
- Jam 07.30
Memberitahukan pasien untuk
banyak minum kurang lebih 1,5-2
liter/hari
- Jam 08.00
Pemberian obat oral cholescor 1
tab
25

- Jam 11.00
Melakukan observasi keadaan
umum pasien, suhu, nadi dan RR
- Jam 13.00
Pemberian obat oral cholescor 1
Tab

E:
Jam14.00
Keadaan pasien tidak lemah, nadi
70x/menit, RR 18x/menit, suhu
36,10C.

Resiko perdarahan S:
berhubungan dengan Pasien mengungkapkan tidak pusing
trombositopenia. dan sedikit mual saat posisi berbaring

O:
Keadaan pasien masih tampak lemah,
pasien mengungkapkan mualnya
berkurang, trombosit 28 g/dl, TD
100/70 mmHg, nadi 88x/menit, tidak
nampak adanya tanda-tanda
perdarahan seperti petichei, purpura,
ekimosis, hematesis dan melena

A:
Masalah tidak terjadi

P:
Intervensi 1 dan 2 dihentikan,
intervensi 3, 4, 5 dan 6 dilanjutkan

I:
- Jam 07. 40
Memberitahukan pasien untuk
banyak beristirahat
26

- Pukul 09.00
Pemberian obat injeksi
ondancentron 4mg IV
- Jam 10.00
Melakukan observasi tanda-tanda
perdarahan seperti petichei,
purpura, ekimosis, epitasis,
hematemesis, melena dan trombosit
- Jam 11.00
Melakukan observasi keadaan umum
pasien, tanda-tanda perdarahan, TD
dan nadi

E:
Jam14.00
Keadaan pasien tidak tampak lemah,
tidak pusing, tidak mual, trombosit 29
g/dl,TD 110/90 mmHg, nadi
70x/menit, tidak nampak adanya
tanda-tanda perdarahan seperti
petichei, purpura, ekimosis, hematesis
dan melena.

4 09 Mei 2017 Hipertermi berhubungan S:


dengan peningkatan laju Pasien mengungkapkan tidak panas
metabolik ditandai dengan
Pasien mengungkapkan O:
panas, Pasien tampak Keadaan pasien tidak lemah, nadi
lemah, mukosa bibir kering 70x/menit, RR 18x/menit, suhu
dan memerah, nadi : 36,10C.
84x/menit, suhu : 39,4 0C,
RR : 24x/menit A : Masalah teratasi

P:
Intervensi 1, 2, dan 4 dihentikan,
intervensi 3, 5 dan 6 dilanjutkan
27

I:
- Jam 07.30
Memberitahukan pasien untuk
banyak minum kurang lebih 1,5-2
liter/hari
- Jam 08.00
Pemberian obat oral cholescor 1
tab
- Jam 11.00
Melakukan observasi keadaan
umum pasien, suhu, nadi dan RR
- Jam 13.00
Pemberian obat oral cholescor 1
tab

E:
Jam14.00
Keadaan pasien mulai membaik, nadi
68x/menit, RR 16x/menit, suhu 36,0C.

Resiko perdarahan S:
berhubungan dengan Pasien mengungkapkan tidak pusing,
trombositopenia. tidak mual

O:
Keadaan pasien tidak tampak lemah,
trombosit 29 g/dl, TD 110/90 mmHg,
nadi 70x/menit, tidak nampak adanya
tanda-tanda perdarahan seperti
petichei, purpura, ekimosis, hematesis
dan melena

A:
Masalah tidak terjadi

P:
Intervensi 1 dan 2 dihentikan,
28

intervensi 3, 4, 5 dan 6 dilanjutkan

I:
- Jam 07. 40
Memberitahukan pasien untuk
banyak beristirahat
- Pukul 09.00
Pemberian obat injeksi
ondancentron 4mg IV
- Jam 10.00
Melakukan observasi tanda-tanda
perdarahan seperti petichei,
purpura, ekimosis, epitasis,
hematemesis, melena dan trombosit
- Jam 11.00
Melakukan observasi keadaan
umum pasien, tanda-tanda
perdarahan, TD dan nadi

E:
Jam14.00
Keadaan pasien mulai membaik, tidak
pusing, mual, trombosit62g/dl, TD
110/70 mmHg, nadi 68x/menit, tidak
nampak adanya tanda-tanda
perdarahan seperti petichei, purpura,
ekimosis, hematesis dan melena.
BAB 3
RIVIEW JURNAL

No Aspek Isi
1 Daftar Pustaka Jurnal Jon Ignatius B. Lacsina. Et all (2015). Plague Ground:
Healthcare Management of
Dengue/Dengue Hemorrhagic Fever.International Journal of
Nursing Science 2015, 5(3): 103-109
DOI: 10.5923/j.nursing.20150503.03

2 Judul Plague Ground: Healthcare Management of


Dengue/Dengue Hemorrhagic Fever
Wabah ; Manajemen kesehatan dari penyakit demam Berdarah.

3 Tujuan Penelitian Bertujuan untuk menguji atau menilai manajemen kesehatan pada
pasien dengan DHF atau tentang tindakan perawat dan tenaga
kesehatan lain pada awal pasien DHF berada diruangan
perawatan sampai pasien keluar Rumah sakit.
4 Metode Penelitian Jenis Penelitian: Desain penelitian yang digunakan adalah
Deskriptif Kualitatif dengan rancangan penelitian fenomenologis
deskriptif dan mengintegrasikan strategi Colaizzi
Metode Pengumpulan Data: dengan metode wawancara
terstruktur atau semi struktur dan pemisahan cerita
Tempat Penelitian: Rumah sakit Provinsi Kalinga
Jumlah Responden : Populasi penelitian adalah perawat-
perawat yang bekerja di RS dimana penelitian dilakukan, perawat
tersebut bersedia untuk berpartisipasi serta bisa berbagi
pengetahuan dan pengalaman, mampu memberikan asuhan
keperawatan pada pada pasien dengan DHF dan juga responden
lainnya adalah pasien-pasien yang menderita DHF.
Kriteria Inklusi:
- Perawat dari institusi dimana penelitian ini dilakukan
- Mereka yang bersedia untuk berpartisivasi dan berbagi
pengetahuan dan pengalaman mereka
- Perawat yang bisa dan pernah merawat pasien DBD
Proses: Pada penelitian ini terdapat 3 orang staf perawat yang
dipilih dan dibuat sebuah surat persetujuan tertulis. Hal yang
menjadi penilaian dalam penelitian ini mencakup 3 hal yaitu:

29
30

1. Pada tahap Pertama adalah tahap pemeriksaan. Tahap ini


mencakup tentang apa yang dilakukan oleh tenaga medis
termasuk perawat saat pasien tiba dibangsal perawatan.
Pertama-tama yang harus dilakukan oleh perawat adalah
menganamnesa keluhan dan menilai tanda-tanda gejala
demam berdarah yang muncul terlebih untuk menilai
adanya tanda-tanda perdarahan. Data ini berfungsi untuk
mengidentifikasi tanda dan gejala dari demam berdarah
sedini mungkin untuk mencegah kondisi yang lebih
fatal. Setelah itu perawatpun mulai membuat rencana
keperawatan yang akan dilakukan.
2. Tahap kedua adalah tahap pengobatan. Pada tahap ini
meliputi perawatan yang pasien dapat diruangan dari
perawat dan juga dokter. Pada proses ini pasien selalu
dipantau dan diobservasi keadaanya, terlebih
pemeriksaan laboratorium untuk menilai kerapuhan
dinding kapiler dan mengidentifikasi adanya
trombositopenia (jumlah trombosit yang menurun).
Pasien diberikan obat-obatan dan cairan untuk
mengurangi dan menurunkan gejala-gejala yang timbul.
3. Tahap ketiga merupakan tahap dimana pasien keluar
dari rumah sakit. Tahap ini merupakan tahap
pengamatan pada pasien saat pasien akan meninggalkan
bangsal karena sudah sembuh ataupun karena kondisi
yang semakin mmburuk sehingga harus dirujuk ke
Rumah sakit lain.

5 Hasil Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa pada pasien dengan


DHF harus mendapat perawatan yang lebih intensif untuk
menghindari keadaan yang mengancam. Maka dari itu sebagai
tenaga kesehatan, perawat harus melihat dan mengobservasi
keadaan umum dan gejala-gejala DHF sejak pasien tiba di Rs,
kemudian memberikan asuhan keperawatan secara tepat sehingga
pasien bisa sembuh dan meninggalkan RS dengan keadaan yang
sehat.

6 Apa Kelebihan dari Kelebihan dari penelitian ini dimana untuk memberikan dan
penelitian ini? meningkatkan suatu manejemen yang baik maka perlu ada
31

kerjasama antar semua tenaga kesehatan. Selain itu penelitian ini


juga bisa menjadi masukan dan bahan penilaian kepada tenaga
medis dari pasien tentang perawatan yang mereka dapat di
Rumah sakit.

`7 Kesimpulan Dari jurnal tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam menangani


pasien dengan DHF maka sebagai tenaga kesehatan perlu untuk
melakukan pemeriksaan dengan mengkaji keluhan pasien dan
tanda-tanda perdarahan, melaksanakan asuhan keperawatan dan
mengobservasi pasien secara terus-menerus serta pemeriksaan
laboratorium yang rutin untuk mengetahui hasil trombositnya dan
pada tahap terakhir merupakan tahap pengamatan untuk menilai
sejauh mana kondisi pasien saat keluar dari Rumah sakit.
8 Manfaat jural dalam Dari jurnal ini manfaat yang dapat dilihat dalam bidang
bidang keperawatan keperawatan yaitu sebagai masukan kepada para tenaga medis,
khususnya perawat untuk lebih mengoptimalkan asuhan
keperawatan yang diberikan kepada pasien, terlebih pasien yang
membutuhkan observasi yang terus-menerus seperti pasien
dengan diagnosa medis DHF
BAB 4
PEMBAHASAN
Pada kasus nyata, saat pasien berada di IGD perawat menganamnese
keluhan-keluhan pasien dimana pasien mengungkapkan badan panas  4
hari,terasa lemah, pusing dan mual. Setelah pasien dianamnese dan sesuai dengan
instruksi dari dokter kemudian pasien dilakukan pemeriksaan LAB tanggal 05-05-
2017 dengan hasil :

No Jenis Nilai normal Hasil

1 WBC/Leko x10 g/L 4,0 ±11,0 2,3


2 HGB/Hb g/dL 13,5-17,5 14,6
3 HCT/PCV % 35-47 41,4
4 PLT/Trombo x10g/L 150-400 88

5 Ig6 Salmonella - Negative


6 Igm Salmonella - Negative

Di IGD pasien mendapat terapi 1 infus RL/24 jam 30 tetes/menit. Sebelum


dibawah ke Paviliun 2 Pesanan dari dokter IGD untuk dilakukan lagi pemeriksaan
Laboratorium.
Di paviliun 2 pasien diobservasi secara rutin oleh perawat dan mendapat
asuhan keperawatan sesuai dengan diagnosa keperawatan dari keluhan-keluhan
pasien dan diagnosa medis. Pada pemeriksaan Lab berikutnya dimana hasil
trombositnya :
Tanggal Hematologi Normal Hasil

6-05-2017 OLT/Trombo x10g/L 150-400 56

7-05-2017 OLT/Trombo x10g/L 150-400 28

8-05-2017 OLT/Trombo x10g/L 150-400 29

9-05-2017 OLT/Trombo x10g/L 150-400 62

Selama berada di paviliun 2 pasien mendapat terapi infus 2 RL/24 jam 30


tetes/menit, Ondancentron 3x4 mg IV, Cefriaxson 1x2 gr IV, cholescor 3x1 tab
dan dumin 4x1 tab (bila perlu). Pasien dirawat di Paviliun 2 kurang lebih 5 hari
dari tanggal 5 sampai tanggal 10 Mei 2017 dimana saat keluar rumah sakit

32
33

keadaan umum pasien baik, badan tidak panas, tidak ada tanda-tanda perdarahan
seperti petichei, purpura, ekimosis, epitasis, hematemesis dan melena.
Pada jurnal dijelaskan bahwa DHF merupakan suatu penyakit yang harus
mendapatkan penanganan yang lebih.
Pada tahap Pertama adalah tahap pemeriksaan. Tahap ini mencakup tentang
apa yang dilakukan oleh tenaga medis termasuk perawat saat pasien tiba dibangsal
perawatan. Pertama-tama yang harus dilakukan oleh perawat adalah
menganamnesa keluhan dan menilai tanda-tanda gejala demam berdarah yang
muncul terlebih untuk menilai adanya tanda-tanda perdarahan. Data ini berfungsi
untuk mengidentifikasi tanda dan gejala dari demam berdarah sedini mungkin
untuk mencegah kondisi yang lebih fatal. Setelah itu perawat pun mulai membuat
rencana keperawatan yang akan dilakukan.
Tahap kedua adalah tahap pengobatan. Pada tahap ini meliputi perawatan
yang pasien dapat diruangan dari perawat dan juga dokter. Pada proses ini pasien
selalu dipantau dan diobservasi keadaanya, terlebih pemeriksaan laboratorium
untuk menilai kerapuhan dinding kapiler dan mengidentifikasi adanya
trombositopenia (jumlah trombosit yang menurun). Pasien diberikan obat-obatan
dan cairan untuk mengurangi dan menurunkan gejala-gejala yang timbul.
Tahap ketiga merupakan tahap dimana pasien keluar dari rumah sakit.
Tahap ini merupakan tahap dimana pasien mendapat pendidikan kesehatan
mengenai pencegahan, penanganan dan pengobatan yang dapat dilakukan pasien
saat sudah dirumah dalam bentuk leaflet.
Terdapat kesesuaian antara kasus DHF dipaviliun 2 dengan jurnal dimana
saat pasien masuk ke Paviliun 2 langkah pertama yang dilakukan perawat adalah
menganamnese semua keluhan dari Tn.A. Pasien juga dilakukan pemeriksaan
laboratorium secara bertahap untuk mengecek jumlah trombosit dari pasien.
Setelah itu pada tahap kedua Tn.A mendapat perawatan dan selalu
dipantau/diobservasi keadaan umumnya, tanda-tanda perdarahan serta diberikan
cairan infus, obat-obatan. Kemudian pada tahap terakhir saat keluar dari rumah
sakit keadaan umum pasien baik ,tidak panas, tidak pusing, tidak mual, tidak ada
tanda-tanda perdarahan seperti petichei, purpura, ekimosis, epitasis, hematemesis,
melena serta trombosit mulai meningkat.
BAB 5
SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan pembahasan yang sudah diuraikan pada bab 4 maka pada bab
ini penulis akan menyimpulkan dan memberikan saran-saran sebagai berikut:
5.1 Simpulan
5.1.1 Data Fokus
Tn. A umur 20 tahun dengan diagnosa medis DHF MRS di paviliun 2 tanggal 05
Mei 2017 dengan keluhan dengan keluhan panas, pusing,mual dan lemas. Pukul
13.30 WIB saat dilakukan pengkajian keadaan umum pasien tampak lemah,
mukosa bibir kering dan memerah, Tidak tampak petichie, tidak tampak purpura,
tidak tampak ekimosis, tidak Edema, TTV: TD 110/80 mmHg, suhu 39,4ºC, nadi
84 x/menit, nadi teraba lemah dan teratur. Px mendapat terapi Infus RL 2 flesh/24
jam, odancentron 3x4 mg IV, Ceftriaxson 1x2 gr IV, Cholescor 3x1 tablet,
Dumin 4x1 tablet (bila perlu).
5.1.2 Diagnosa Keperawatan
Pada asuhan keperawatan dengan DHF di dapatkan 2 masalah keperawatan yaitu:
1) Hipertermi berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme ditandai
dengan Pasien mengungkapkan panas, Pasien tampak lemah, mukosa bibir
kering dan memerah, nadi : 84x/menit, suhu : 39,4 0C, RR : 24x/menit
2) Resiko perdarahan berhubungan dengan trombositopenia
Adapun intervensi yang di implementasikan pada masalah yang dihadapi
klien adalah:
(1) Peningkatan suhu tubuh
Intervensi yang di implementasikan untuk mengatasi peningkatan suhu tubuh
adalah memberikan penjelasan kepada keluarga dan pasien tindakan yang akan
dilakukan karena lewat pendidikan kesehatan diberikan agar kooperatif dalam
terapi, menganjurkan pasien untuk memakai pakaian yang tipis dan mudah
menyerap keringat, menganjurkan pada pasien untuk banyak minum kurang lebih
1,5-2 liter/hari, memberikan kompres hangat, memberian obat injeksi ceftriaxson
2 gr IV dan obat oral cholescor 1 tablet serta mengobservasi keadaan umum
pasien, suhu, nadi dan RR.

34
35

(2) Resiko Perdarahan


Intervensi yang di implementasikan untuk mengatasi resiko perdarahan adalah
memberikan penjelasan kepada keluarga dan pasien tindakan keperawatan yang
akan dilakukan serta memberikan penjelasan kepada pasien dan keluarga untuk
segera melaporkan jika terdapat tanda-tanda perdarahan, menganjurkan pada
pasien untuk banyak beristirahat, memberikan obat dumin 1 tablet, melakukan
observasi tanda-tanda perdarahan seperti petichei, purpura, ekimosis, dengan
melakukan rumple lite.
5.1.3 Evaluasi
1) Dengan melakukan intervensi diatas selama 5x24 jam masalah peningkatan
suhu tubuh dapat teratasi yang ditandai dengan pasien pasien mengungkapkan
tidak panas, keadaan pasien mulai membaik, tidak lemah, nadi 68x/menit, RR
16x/menit, suhu 36,0C.
2) Dengan melakukan intervensi diatas selama 5x24 jam masalah risiko
perdarahan tidak terjadi yang ditandai dengan trombosit 62 g/dl, TD 110/70
mmHg, nadi 68x/menit, tidak ada tanda-tanda perdarahan seperti petichei,
purpura, ekimosis, epitasis, hematemesis/ melena.
5.2 Saran
5.2.1 Bagi Perawat
Menganjurkan perawat untuk memberikan health education tentang cara
pencegahan terjadi DHF berulang kepada pasien yaitu untuk tetap minum air
yang banyak dan memakan makanan yang bergizi serta menjaga kebersihan
ruangan atau kamar supaya terhindar dari sarang nyamuk Aedes Agepty.
36