Anda di halaman 1dari 62

LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT

Laporan F1. Upaya Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

Topik : Penyuluhan hipertensi

Diajukan dalam rangka praktek klinis Dokter Internsip sekaligus sebagai bagian
dari persyaratan menyelesaikan Program Internsip Dokter Indonesia di Puskesmas
Pasundan Samarinda

Disusun oleh :

dr. Andhika Wicaksana Saputra

Program Dokter Internsip Indonesia

Samarinda

Kalimantan Timur

2018
HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN KEGIATAN INTERNSIP


LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT
LAPORAN F1. PROMOSI KESEHATAN DAN PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT

TOPIK :
PENYULUHAN HIPERTENSI

Diajukan dalam rangka praktek klinis Dokter Internsip sekaligus sebagai bagian
dari persyaratan menyelesaikan Program Internsip Dokter Indonesia di Puskesmas
Pasundan Kota Samarinda.

Disusun Oleh:
dr. Andhika Wicaksana Saputra

Telah diperiksa dan disetujui pada Agustus 2019


Oleh:
Pendamping Dokter Internsip Puskesmas Pasundan

dr. Deni Wardani


NIP. 198310062011011001
F1. UPAYA PROMOSI KESEHATAN DAN PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT
1.1. Kegiatan
 Topik : Hipertensi
 Bentuk Kegiatan : Penyuluhan Hipertensi

1.2. Perencanaan dan Pemilihan Intervensi


Kegiatan penyuluhan ini ditujukan kepada pasien lanjut usia (lansia) yang
datang berobat ke Puskesmas Pasundan Kota Samarinda. Penyakit hipertensi
termasuk salah satu penyakit terbanyak selain penyakit diabetes mellitus yang
diderita oleh pasien yang berusia 40 tahun ke atas hingga lanjut usia. Isi dari
materi berupa definisi, faktor resiko, gejala, dan penatalaksanaan hipertensi pola
diet hipertensi. Narasumber adalah dr. Andhika Wicaksana Saputra, dokter
internship yang bertugas di Puskesmas Pasundan Kota Samarinda.

1.3. Pelaksanaan
Nama Peserta dr. Andhika Wicaksana Saputra TTd.
Nama Wahana Puskesmas Pasundan Samarinda
Tema Penyuluhan Hipertensi
Tujuan Penyuluhan - Meningkatkan pengetahuan masyarakat, mengenai gejala dan
tanda, faktor resiko, pencegahan, penatalaksanaan, serta cara
mengontrol hipertensi melalui pola makan.
- Mencegah terjadinya perluasan penyakit hipertensi serta
komplikasinya.
- Memberikan informasi seputar penyakit-penyakit yang ingin
diketahui oleh warga, antara lain penyakit degeneratif dan
penyakit yang sering diderita oleh warga seperti penyakit
diabetes melitus, osteoartritis, dan lain-lain.
Hari/ Tanggal Rabu, 19 Juni 2019
Waktu 08.00- Selesai.
Tempat Puskesmas Pasundan
Jumlah Peserta 15 Orang

1.4. Monitoring dan Evaluasi


Setelah kegiatan penyuluhan diadakan sesi tanya jawab dengan peserta
penyuluhan. Terdapat pertanyaan mengenai berapa nilai tekanan darah yang
termasuk dalam kategori hipertensi, jadwal makan dan daftar menu makanan yang
dianjurkan bagi penderita hipertensi. Peserta penyuluhan sangat antusias
mengikuti penyuluhan dan sesi tanya jawab yang diadakan karena sebagian besar
penyakit hipertensi sering dialami langsung oleh masyarakat lanjut usia sehingga
diharapkan melalui penyuluhan ini dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat
mengenai penyakit hipertensi dan meningkatkan perilaku masyarakat lanjut usia
dalam menjaga pola makan dan pola hidup sehat agar dapat mencegah
perkembangan penyakit hipertensi beserta komplikasinya. Demikian kegiatan
tersebut dilaksanakan sebagai upaya promosi kesehatan dan pemberdayaan
masyarakat.

Samarinda, Juni 2019

Pendamping, Peserta,

dr. Deni Wardani dr. Andhika Wicaksana Saputra


NIP. 198310062011011001

Monitoring dan evaluasi dari pendamping:

1.5. Dokumentasi Penyuluhan Diabetes Mellitus


LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT

Laporan F2. Upaya Kesehatan Lingkungan

Topik : Edukasi Dan Pelayanan Kesehatan Berbasis Lingkungan

Diajukan dalam rangka praktek klinis Dokter Internsip sekaligus sebagai bagian
dari persyaratan menyelesaikan Program Internsip Dokter Indonesia di Puskesmas
Pasundan Samarinda

Disusun oleh :

dr. Ekky Malisan

Program Dokter Internsip Indonesia

Samarinda

Kalimantan Timur

2018
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN KEGIATAN INTERNSIP
LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT
LAPORAN F2. UPAYA KESEHATAN LINGKUNGAN

TOPIK :
EDUKASI DAN PELAYANAN KESEHATAN BERBASIS LINGKUNGAN

Diajukan dalam rangka praktek klinis Dokter Internsip sekaligus sebagai bagian
dari persyaratan menyelesaikan Program Internsip Dokter Indonesia di Puskesmas
Pasundan Kota Samarinda.

Disusun Oleh:
dr. Ekky Malisan

Telah diperiksa dan disetujui pada Januari 2019


Oleh:
Pendamping Dokter Internsip Puskesmas Pasundan

dr. Deni Wardani


NIP. 198310062011011001
F2. UPAYA KESEHATAN LINGKUNGAN
2.1 Kegiatan
 Topik : Perilaku hidup bersih dan sehat di sekolah
 Bentuk Kegiatan : Penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan

F3. Perencanaan dan Pemilihan Intervensi


Kegiatan ini dilakukan dalam upaya kesehatan lingkungan yang dilakukan
di SDN 003 Jl. Raudah. Kegiatan ini dilakukan oleh dr. Ekky Malisan selaku
dokter internship yang bertugas di Puskesmas Pasundan Samarinda, dengan
bantuan petugas di puskesmas dan petugas sekolah. Pada kegiatan ini dilakukan
penyuluhan tentang perilaku hidup sehat dan bersih di sekolah serta pemeriksaan
kesehatan terhadap penerima penyuluhan yang meliputi pemeriksaan tinggi
badan, berat badan, pemeriksaan gigi dan mulut, pemeriksaan kesehatan mata,
dan kesehatan telinga, pemeriksaan kesehatan kulit, rambut, dan kuku. Tujuan
diadakan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan perilaku hidup sehat sejak usia
dini terutama di sekolah, mencegah penyebaran penyakit berbasis lingkungan, dan
mendeteksi dini siswa yang mengalami masalah kesehatan agar mendapatkan
penganan sedini mungkin.

F4. Pelaksanaan
Nama Peserta dr. Ekky Malisan TTd.
Nama Wahana Puskesmas Pasundan Samarinda
Tema Kegiatan Eduksi perilaku hidup sehat dan bersih dan skrining
kesehatan di sekolah
Kegiatan yang dilakukan Melakukan penyuluhan tentang perilaku hidup sehat
dan bersih di sekolah serta pemeriksaan kesehatan
terhadap penerima penyuluhan yang meliputi
pemeriksaan tinggi badan, berat badan, pemeriksaan
gigi dan mulut, pemeriksaan kesehatan mata, dan
kesehatan telinga, pemeriksaan kesehatan kulit,
rambut, dan kuku
Hari / tanggal Kamis, 20 September 2018
Waktu Pukul 08.00 - selesai
Tempat SDN 003 Samarinda

F5. Monitoring dan Evaluasi


Kegiatan ini terlaksana dengan bantuan petugas puskesmas baik petugas di
puskesmas pasundan maupun petugas di sekolah SDN 003. Pada kegiatan ini
dilakukan penyuluhan tentang perilaku hidup sehat dan bersih di sekolah serta
pemeriksaan kesehatan umum, kesehatan mata dan kesehatan telinga,
pemeriksaan kulit, rambut, dan kuku. Peserta yang hadir berjumlah 80 siswa yang
dibagi dalam 4 kelas. Kegiatan ini berjalan lancar dimana seluruh siswa tidak
memiliki penyakit berbasis lingkungan.

Samarinda, Januari 2019


Pendamping, Peserta,

dr. Deni Wardani dr. Ekky Malisan


NIP. 198310062011011001

Monitoring dan evaluasi dari pendamping:

Dokumentasi Kegiatan
2.5. Dokumentasi Kegiatan Edukasi PHBS dan Skrining Kesehatan
LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT

Laporan F3. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) serta Keluarga
Berencana

Topik : Pijat Bayi

Diajukan dalam rangka praktek klinis Dokter Internsip sekaligus sebagai bagian
dari persyaratan menyelesaikan Program Internsip Dokter Indonesia di Puskesmas
Pasundan Samarinda

Disusun oleh :

dr. Andhika Wicaksana Saputra

Program Dokter Internsip Indonesia

Samarinda

Kalimantan Timur

2018
HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN KEGIATAN INTERNSIP


LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT
LAPORAN F3.UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA) SERTA
KELUARGA BERENCANA

TOPIK :
PIJAT BAYI

Diajukan dalam rangka praktek klinis Dokter Internsip sekaligus sebagai bagian
dari persyaratan menyelesaikan Program Internsip Dokter Indonesia di Puskesmas
Pasundan Kota Samarinda.

Disusun Oleh:
dr. Andhika Wicaksana Saputra

Telah diperiksa dan disetujui pada Januari 2019


Oleh:
Pendamping Dokter Internsip Puskesmas Pasundan

dr. Deni Wardani


NIP. 198310062011011001
F3. UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA) SERTA
KELUARGA BERENCANA
3.1 Kegiatan
 Topik : Pijat Bayi
 Bentuk Kegiatan : Penyuluhan dan Edukasi

3.2 Perencanaan dan Pemilihan Intervensi


Penyuluhan Pijat Bayi dilakukan di Puskesmas Pasundan Kota Samarinda
oleh dr. Andhika Wicaksana Saputra, dokter internship Puskesmas Pasundan.
Penyuluhan ditujukan kepada ibu-ibu yang memiliki bayi yang datang kontrol dan
berobat di Puskesmas Pasundan Samarinda. Pada ANC terpadu dilakukan
penyuluhan dan edukasi mengenai pijat bayi. Setelah dilakukan penyuluhan dan
edukasi pada ibu-ibu yang memiliki bayi juga akan diberikan kesempatan untuk
memberikan pertanyaan apabila ada informasi yang belum jelas tentang informasi
yang telah diberikan.

3.3 Pelaksanaan
Nama Peserta dr. Andhika Wicaksana Saputra TTd.
Nama Wahana Puskesmas Pasundan Samarinda
Tema Kegiatan Penyuluhan pijat bayi
Tujuan Kegiatan Penyuluhan dan edukasi pijat bayi ini bertujuan merelaksasikan
otot dan peredaran darah pada bayi serta meningkatkan sentuhan
antara bayi dan ibu.
Hari/ Tanggal Kamis, 20 Juni 2019
Waktu 08.00- Selesai
Tempat Puskesmas Pasundan Samarinda
Jumlah Peserta 10 orang
3.4 Monitoring dan Evaluasi
Kegiatan ini terlaksana dengan baik dengan bantuan petugas Puskesmas
Pasundan dan kerjasama pasien yang sangat kooperatif. Kegiatan ini meliputi
penyuluhan dan edukasi pijat bayi. Dari hasil penyuluhan dan edukasi pijat bayi
didapatkan kondisi bayi yang sehat. Ibu yang memiliki bayi juga sangat antusias
mengikuti kegiatan ini dan memberikan pertanyaan yang berupa cara dan
bagaimana melakukan pijat bayi yang benar. Demikian tindakan pelayanan
tersebut dilaksanakan sebagai upaya kesehatan ibu dan anak (KIA) serta keluarga
berencana.

Samarinda, Juni 2019


Pendamping, Peserta,

dr. Deni Wardani dr. Andhika Wicaksana Saputra


NIP. 198310062011011001

Monitoring dan evaluasi dari pendamping:


3.5 Dokumentasi Kegiatan penyuluhan pijat bayi di Puskesmas Pasundan
Samarinda
LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT

Laporan F4. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat

Topik : Pemantauan Tumbuh Kembang dan Perbaikan Status Gizi Anak

Diajukan dalam rangka praktek klinis Dokter Internsip sekaligus sebagai bagian
dari persyaratan menyelesaikan Program Internsip Dokter Indonesia di Puskesmas
Pasundan Samarinda

Disusun oleh :

dr. Andhika Wicaksana Saputra

Program Dokter Internsip Indonesia

Samarinda

Kalimantan Timur

2018

HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN KEGIATAN INTERNSIP
LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT
LAPORAN F4. UPAYA PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT

TOPIK :
PEMANTAUAN TUMBUH KEMBANG DAN PERRBAIKAN STATUS
GIZI ANAK

Diajukan dalam rangka praktek klinis Dokter Internsip sekaligus sebagai bagian
dari persyaratan menyelesaikan Program Internsip Dokter Indonesia di Puskesmas
Pasundan Kota Samarinda.

Disusun Oleh:
dr. Andhika Wicaksana Saputra

Telah diperiksa dan disetujui pada Januari 2019


Oleh:
Pendamping Dokter Internsip Puskesmas Pasundan

dr. Deni Wardani


NIP. 198310062011011001
F4. UPAYA PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT
4.1 Kegiatan
 Topik : Pemantauan Tumbuh Kembang dan Perbaikan
Status Gizi Anak
 Bentuk Kegiatan : Pemeriksaan keadaan umum, pengukuran berat
badan, tinggi badan, penilaian perkembangan dan
pertumbuhan, pemberian makanan tambahan.

4.2 Perencanaan dan Pemilihan Intervensi


Pemantauan tumbuh kembang dan perbaikan gizi anak dilakukan di Poli
KIA Puskesmas Pasundan Kota Samarinda oleh dr. Andhika Wicaksana Saputra,
dokter internship Puskesmas Pasundan. Pemeriksaan dengan bantuan petugas
Puskesmas Pasundan dan Posyandu. Pemantauan tumbuh kembang dan perbaikan
gizi ini ditujukan kepada pasien yang datang berobat ke Puskesmas Pasundan
Samarinda dengan tujuan untuk memantau tumbuh kembang sejak dini pada anak
agar segera ditangani apabila mengalami keterlambatan tumbuh kembang dan
meningkatkan status gizi anak yang mengalami kekurangan gizi yang dapat dilihat
berdasarkan Kartu Menuju Sehat (KMS). Kegiatan ini meliputi pemeriksaan
keadaan umum, pengukuran berat badan, tinggi badan, penilaian perkembangan
dan pertumbuhan, dan permberian makanan tambahan (PMT). Sebelum diberikan
makanan tambahan (PMT) perlu diberikan edukasi kepada orang tua tentang
pentingnya gizi bagi perkembangan dan pertumbuhan anak sejak usia dini.

4.3 Pelaksanaan
Nama Peserta dr. Andhika Wicaksana Saputra TTd.
Nama Wahana Puskesmas Pasundan Samarinda
Tema Kegiatan Pemantauan tumbuh kembang dan perbaikan status gizi anak
Tujuan Kegiatan 1. Untuk memperbaiki dan meningkatkan status gizi balita
2. Memantau pertumbuhan anak
3. Memantau perkembangan anak dan deteksi dini
keterlambatan perkembangan pada anak
4. Konseling mengenai pertumbuhan perkembangan anak
Hari / tanggal Rabu, 12 Juli 2019
Waktu 08.00 – selesai

Tempat Poli KIA Puskesmas Pasundan Samarinda


Jumlah Peserta 6 orang

4.4 Monitoring dan Evaluasi


Kegiatan ini terlaksana dengan bantuan petugas Puskesmas Pasundan
Samainda khususnya petugas di Poli KIA dan petugas dari bagian gizi Puskesmas
Pasundan Samarinda serta orang tua. Makanan tambahan yang diberikan berupa
biskuit yang diolah sesuai dengan kebutuhan balita yan membutuhkan tambahan
gizi. Dari kegiatan ini didapatkan seluruh anak tumbuh dan kembangnya baik,
tidak ada yang mengalami keterlambatan perkembangan dan 6 orang anak dengan
gizi kurang sehingga perlu diberikan makanan tambahan.

Samarinda, Januari 2019

Pendamping, Peserta,

dr. Deni Wardani dr. Andhika Wicaksana Saputra


NIP. 198310062011011001

Monitoring dan evaluasi dari pendamping:


4.5 Dokumentasi Kegiatan Pemeriksaan Tumbuh Kembang dan
Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di Poli KIA Puskesmas
Pasundan Samarinda
LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT

Laporan F5. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular dan Tidak


Menular

Topik : Vaksinasi Campak dan DT/TT

Diajukan dalam rangka praktek klinis Dokter Internsip sekaligus sebagai bagian
dari persyaratan menyelesaikan Program Internsip Dokter Indonesia di Puskesmas
Pasundan Samarinda

Disusun oleh :

dr. Ekky Malisan

Program Dokter Internsip Indonesia

Samarinda

Kalimantan Timur

2018
HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN KEGIATAN INTERNSIP


LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT
LAPORAN F5. PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT
MENULAR DAN TIDAK MENULAR

TOPIK :
VAKSINASI CAMPAK DAN DT/TT

Diajukan dalam rangka praktek klinis Dokter Internsip sekaligus sebagai bagian
dari persyaratan menyelesaikan Program Internsip Dokter Indonesia di Puskesmas
Pasundan Kota Samarinda.

Disusun Oleh:
dr. Ekky Malisan

Telah diperiksa dan disetujui pada Januari 2019


Oleh:
Pendamping Dokter Internsip Puskesmas Pasundan

dr. Deni Wardani


NIP. 198310062011011001
F5. PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT
MENULAR DAN TIDAK MENULAR
5.1 Kegiatan
 Topik : Vaksinasi Campak dan DT/TT
 Bentuk Kegiatan : Pemberian vaksin

5.2 Perencanaan dan Pemilihan Intervensi


Kegiatan vaksinasi ini dilakukan oleh dr.Ekky Malisan, dokter internship
Puskesmas Pasundan, petugas Puskesmas Pasundan Samarinda dan Posyandu
Antorium. Vaksinasi yang diberikan terdiri dari vaksin campak dan DT/TT.
Vaksinasi campak dilakukan di Posyandu Antorium yang ditujukan kepada
seluruh anak yang belum mendapatkan vaksinasi campak, sedangkan vaksinasi
DT/TT dilakukan di SDN 019 Samarinda yang ditujukan kepada anak sekolah
dasar yang ada di wilayah kerja Puskesmas Pasundan Samarinda. Vaksinasi yang
diberikan adalah DT untu anak kelas 1 dan TT untuk anak kelas 2-6.

5.3 Pelaksanaan
Nama Peserta dr. Ekky Malisan TTd.
Nama Wahana Puskesmas Pasundan Samarinda
Tema Kegiatan Vaksinasi Campak dan DT/TT
Tujuan Penyuluhan Untuk memberikan pencegahan dan perlindungan dari penyakit
campak dan difteri pada anak
Hari/ Tanggal Sabtu, 22 September dan Senin, 12 November
Waktu 08.00-selesai
Tempat Posyandu Antorium dan SDN 019 Samarinda
Jumlah Peserta Posyandu Antorium : 10 orang, SDN 019 kelas 1-6: 100 orang
5.4 Monitoring dan Evaluasi
Setelah dilakukan pemberian vaksin campak dan DT/TT dilakukan
monitoring dan evaluasi untuk menilai apakah ada kejadian ikutan paska vaksinasi
yang terjadi pada anak di posyandu dan anak sekolah dasar yang disuntik dan
hasilnya tidak ditemukan kejadian pasca vaksinasi yang terjadi pada anak-anak
yang disuntik. Demikian kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai upaya
pencegahan dan pemberantasan penyakit menular dan tidak menular.

Samarinda, Januari 2019


Pendamping, Peserta.

dr. Deni Wardani dr. Ekky Malisan


NIP. 198310062011011001

Monitoring dan evaluasi dari pendamping:

DokumentasiPosbindu Kader Puskesmas Pakusari


5.5 Dokumentasi Kegiatan Pemberian Vaksin Campak dan DT/TT

Vaksinasi Campak di
Posyandu Antorium

Vaksinasi DT/TT di SDN 019


ss
LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT

Laporan F6. Upaya Pengobatan Dasar

Topik : Skabies

Diajukan dalam rangka praktek klinis Dokter Internsip sekaligus sebagai bagian
dari persyaratan menyelesaikan Program Internsip Dokter Indonesia di Puskesmas
Pasundan Samarinda

Disusun oleh :

dr. Ekky Malisan

Program Dokter Internsip Indonesia

Samarinda

Kalimantan Timur

2018
HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN KEGIATAN INTERNSIP


LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT
LAPORAN F6. UPAYA PENGOBATAN DASAR

TOPIK :
SKABIES

Diajukan dalam rangka praktek klinis Dokter Internsip sekaligus sebagai bagian
dari persyaratan menyelesaikan Program Internsip Dokter Indonesia di Puskesmas
Pasundan Kota Samarinda.

Disusun Oleh:
dr. Ekky Malisan

Telah diperiksa dan disetujui pada Januari 2019


Oleh:
Pendamping Dokter Internsip Puskesmas Pasundan

dr. Deni Wardani


NIP. 198310062011011001
F6. UPAYA PENGOBATAN DASAR
Topik : Skabies
Bentuk Kegiatan : Laporan Kasus

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit skabies cukup sering dijumpai pada pasien yang berobat di
Puskesmas Pasundan. Karena sifatnya yang sangat menular, maka skabies ini
populer dikalangan masyarakat padat penduduk. Distribusi epidemiologisnya
kosmopolitan terutama pada penduduk dengan keadaan sosial ekonomi rendah. Di
wilayah kerja Puskesmas Pasundan Kota Samarinda terdapat banyak pondok
pesantren yang merupakan tempat yang sering menjadi tempat endemis skabies,
karena kurangnya hygiene dan kesadaran untuk menciptakan lingkungan yang
bersih.
Skabies merupakan penyakit kulit pruritik yang disebabkan oleh tungau
Sarcoptes scabieivar hominis. Diperkirakan sekitar 300 juta kasus skabies
dilaporkan di seluruh dunia. Penyebab penyakit ini ditemukan oleh Benomo pada
tahun1687, kemudian oleh Mellanby dilakukan percobaan induksi pada
sukarelawan selama perang dunia II.
Skabies mudah menular baik secara langsung maupun tidak
langsung.Secara langsung misalnya ibu yang menggendong anaknya yang
menderita skabies atau penderita yang bergandengan tangan dengan teman-
temannya. Secara tidak langsung misalnya melalui tempat tidur, handuk, pakaian
dan lain-lain. Masa siklus hidupnya mulai dari telur sampai bentuk dewasa
memerlukan waktu antara 8-12 hari. Predileksi skabies adalah pada axilla, areola
mammae, sekitar umbilikus, genital, pantat, pergelangan tangan bagian volar,
sela-sela jari tangan, flexor siku. Skabies yang terjadi pada anak balita biasanya
terdapat pada leher, kepala telapak tangan dan telapak kaki sehinga sering
dikelirukan dengan gambaran eksema atopik.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana definisi, etiologi, patofisiologi, diagnosis dan penatalaksanaan
skabies?

1.3 Tujuan
Mengetahui definisi, etiologi, patofisiologi, diagnosis dan penatalaksanaan
skabies.

1.4 Manfaat
1. Menambah wawasan mengenai ilmu kedokteran pada umumnya, dan ilmu
kulit dan kelamin pada khususnya.
2. Sebagai proses pembelajaran bagi dokter yang sedang mengikuti program
internsip.
3. Sebagai masukan kepada Puskesmas Pasundan demi meningkatkan kualitas
pelayanan.
BAB II

DATA PASIEN

2.1 IDENTITAS PASIEN

No.Registrasi : 01.17.P.16

Nama : An.G.E

Umur : 6 tahun

Jenis kelamin : Perempuan

Agama : Kristen protestan

Pendidikan : Kelas II SD

Alamat : Jalan Pasundan RT.29 Kelurahan Jawa

Tanggal Pemeriksaan : 18 Desember 2018

2.2 ANAMNESA

1. Keluhan Utama : Gatal disertai bintik-bintik kemerahan


2. Riwayat Penyakit Sekarang
Gatal diseratai munculnya bintik – bintik kemerahan dialami pasien sejak
± 1 bulan yang lalu. Bintik – bintik kemerahan ini awalnya timbul pada
kedua tungkai, kemudian ± 2 minggu yang lalu timbul di daerah sela-sela
jari kanan dan kiri, tangan kanan dan kiri, perut, dan bokong. Gatal yang
dialami pasien memberat saat malam hari, namun tidak disertai nyeri.
Batuk dan demam disangkal penderita. Kakak perempuan pasien juga
mengalami sakit yang sama. Pasien diketahui tidur bersama kakaknya, dan
menggunakan handuk yang sama dengan pasien. Kebiasaan mengganti
sprei tidak tentu (kadang-kadang lebih dari 4 minggu), handuk digunakan
sekitar 1 minggu.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien belum pernah mengalami penyakit seperti ini sebelumnya
4. Riwayat Penyakit Keluarga
Kakak perempuan pasien juga sakit seperti ini.
5. Riwayat Alergi
Riwayat alergi makanan dan obat tidak ada.
6. Riwayat Atopi
Alergi debu, asma, dan bersin di pagi hari tidak ada.
7. Riwayat Pengobatan
Pasien belum pernah mendapatkan pengobatan
8. Riwayat Pekerjaan
Pelajar kelas 2 SD. Di sekolah tidak terdapat teman pasien yang
mengalami keluhan sakit yang sama seperti pasien.
9. Riwayat Kebiasaan
Pasien mandi 1-2 kali sehari, memakai sabun batang, handuk dipakai
bersama dengan kakak perempuan, ganti baju setelah mandi dan biasa
berkeringat banyak, pasien juga tidur 1 kamar dengan kakaknya, sprei
diganti tidak tentu (kadang-kadang lebih dari 4 minggu).
10. Riwayat Sosial
Pasien merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Pasien tinggal di
rumah permanen, lantai tegel, atap seng juga genteng. Kamar 2 buah,
jumlah penghuni 4 orang yang terdiri dari ayah, ibu, dan 2 orang anak, 1
kamar mandi. Sumber air : PAM. Penanganan sampah dengan cara
dibuang di tempat pembuangan sampah. Pasien berasal dari keluarga
menengah ke bawah.
2.3 PEMERIKSAAN FISIK

A. Status Generalisata

Keadaan Umum : Tampak sakit ringan


Kesadaran : Compos Mentis
Tanda vital : Tekanan darah = tidak dilakukan
Nadi = 80 x/menit, reguler isi cukup
Respirasi = 20 x/menit
Suhu badan = 36,30C
Kepala : Konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-)
Mulut : Karies gigi (-)
Leher : Trakea letak tengah, pembesaran KGB (-)

Thorax : Inspeksi : Pergerakan dinding dada simetris, retraksi (-),


ictus cordis tidak tampak

Palpasi : Stem fremitus kiri = kanan

Perkusi : Sonor kiri = kanan

Auskultasi :Suara pernapasan bronkovesikuler, Ronkhi


-/-, Wheezing -/-

Abdomen : Inspeksi : Cembung, Striae (+)

Auskultasi : Bising usus (+) normal

Perkusi : Timpani

Palpasi : Hepar dan lien tidak teraba, DM (-)

Ekstremitas : Akral hangat, Edema -/-


B. Status Dermatologis

Regio brachi et antebrachi deskta/sinistra, regio dorsum manus


deksta/sinistra, regio interdigiti manus dekstra/sinistra, regio
abdominalis, regio glutea, regio cruris dekstra/sinstra, regio dorsum
pedis et intergiti pedis dekstra/sinistra : Papul eritema, multipel, diskret,
bentuk anular, ukuran miliar sampai lentikuler, berbatas tegas,
sebagian terdapat erosi.

FOTO KLINIS PASIEN


2.4 Diagnosis

Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik maka pasien ini didiagnosis


banding dengan prurigo, skabies, dan dermatitis. Diagnosis mengarah pada skabies
dengan infeksi sekunder. Ditemukan 3 dari 4 tanda kardinal skabies yaitu pruritus
nokturna, menyerang secara kelompok dimana pasien dan adik serta ibunya
menderita sakit yang sama, adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat
predileksi. Hanya 1 tanda kardinal yang tidak dibuktikan yaitu menemukan tungau.
Pemeriksaan tungau ini tidak dilakukan karena tidak dilakukan pemeriksaan
penunjang rutin di puskesmas.

2.5 Penatalaksanaan

Medikamentosa

 Scabimite salep 2-4 dipakai selama 3 hari berturut-turut, kemudian


diulang lagi 1 minggu kemudian. Dipakai malam hari, minimal waktu
kontak dengan kulit 8 jam, dioles tipis merata seluruh badan kecuali
muka sampai kepala.
 Loratadin 1 x 10 mg diminum malam hari

Non medikamentosa

 Menjelaskan kepada pasien/keluarga mengenai penyakit pasien.


 Merendam pakaian, handuk, sprei yang dipakai oleh penderita dengan
air mendidih, kemudian dicuci dengan deterjen (dicuci terpisah),
selanjutnya dijemur dibawah sinar matahari dan diseterika.
 Kasur dan bantal yang digunakan pasien dijemur dibawah sinar
matahari.
 Menjaga kebersihan badan (mandi minimal 2x sehari)
 Membatasi bermain dengan teman-teman sekitar sampai penyakit
sembuh.
 Menggunakan obat sesuai penjelasan dokter.
2.6 Prognosis

Prognosis quo advitam: ad bonam, karena didapati keadaan umum


penderita baik; quo ad functionam: ad bonam karena tidak dijumpai adanya
gangguan fungsi;quo ad sanationam ad bonam karena akan sembuh dengan
eradikasi tungau. Akan tetapi, bila orang yang serumah tidak diobati ataupun bila
PHBS tidak dijalankan dengan baik maka ada kemungkinan terjadi kekambuhan.
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Definisi
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan
sensitisasi terhadap tungau Sarcoptes scabiei varietas hominis.1 Sarcoptes scabiei
ini dapat ditemukan di dalam terowongan lapisan tanduk kulit pada tempat-tempat
predileksi. Wabah scabies pernah terjadi pada zaman penjajahan Jepang (1942-
1945),2 kemudian menghilang dan timbul lagi pada tahun 1965. Hingga kini,
penyakit tersebut tidak kunjung reda dan insidensnya tetap tinggi.3 pengetahuan
dasar tentang penyakit ini diletakkan oleh Von Hebra, bapak dermatologi modern.
Penyebabnya ditemukan pertama kali oleh Benomo pada tahun 1667, kemudian
oleh Mellanby dilakukan percobaan induksi pada sukarelawan selama perang
dunia II.1
Skabies menduduki peringkat ke-7 dari sepuluh besar penyakit utama di
puskesmas dan menempati urutan ke-3 dari 12 penyakit kulit tersering di
Indonesia.3 Ada dugaan bahwa setiap siklus 30 tahun terjadi epidemi skabies.
Banyak faktor yang menunjang perkembangan penyakit ini, antara lain keadaan
sosial ekonomi yang rendah, higiene yang buruk, hubungan seksual yang sifatnya
promiskuitas, kesalahan diagnosis dan perkembangan dermografik seperti
keadaan penduduk dan ekologik.1 Penyakit ini juga dapat dimasukkan dalam
Infeksi Menular Seksual (IMS).5

3.2 Sejarah
Kepustakaan tertua mengenai skabies menyatakan bahwa orang pertama
yang menguraikan skabies adalah dokter Aboumezzan Abdel Malek ben Zohar
yang lahir di Spanyol pada tahun 1070 dan wafat di Maroko pada tahun 1162.
Dokter tersebut menulis sesuatu yang disebut “soab” yang hidup pada kulit dan
menimbulkan gatal. Bila kulit digaruk muncul binatang kecil yang sulit dilihat
dengan mata telanjang.3
Pada tahun 1687, Giovan Cosimo Bonomo menulis surat kepada Fransisco
Redi dan menyatakan bahwa seorang wanita miskin dapat mengeluarkan “little
bladder of water” dari lesi skabies anaknya.3
Surat Bonomo ini kemudian dilupakan orang dan pada tahun 1812 Gales
melaporkan telah menemukan Sarcoptes scabiei dan tungau yang ditemukannya
dilukis oleh Meunir. Sayangnya, penemuan Gales ini tidak dapat dibuktikan oleh
ilmuwan lainnya. Pada tahun 1820 Raspail menyatakan bahwa tungau yang
ditemukan Gales identik dengan tungau keju sehingga Gales dinyatakan sebagai
penipu. Penemuan Gales baru diakui pada tahun 1839 ketika Renucci seorang
mahasiswa dari Corsica berhasil mendemonstrasikan cara mendapatkan tungau
dari penderita skabies dengan sebuah jarum.3

3.3 Etiologi
Penyebab penyakit skabies sudah dikenal lebih dari 100 tahun yang lalu
sebagai akibat infestasi tungau yang dinamakan Acarus scabiei dan Sarcoptes
scabiei varian hominis.2 Sarcoptes scabiei termasuk kedalam filum Arthropoda,
kelas Arachnida, ordo Ackarima, superfamili Sarcoptes. Pada manusia disebut
Sarcoptes scabiei var. hominis.1 Kutu ini khusus menyerang dan menjalani siklus
hidupnya dalam lapisan tanduk kulit manusia. Selain itu terdapat S. scabiei yang
lain, yakni varian animalis. Sarcoptes scabiei varian animalis menyerang hewan
seperti anjing, kucing, lembu, kelinci, ayam, itik, kambing, macan, beruang dan
monyet. Sarcoptes scabiei varian hewan ini dapat menyerang manusia yang
pekerjaannya berhubungan erat dengan hewan tersebut diatas, misalnya peternak,
gembala, dll. Gejalanya ringan, sementara, gatal kurang, tidak timbul terowongan-
terowongan, tidak ada infestasi besar dan lama serta biasanya akan sembuh sendiri
bila menjauhi hewan tersebut dan mandi yang bersih.2
Secara morfologik merupakan tungau kecil, berbentuk oval, punggungnya
cembung dan bagian perutnya rata. Tungau ini translusen, berwarna putih kotor
dan tidak bermata. Ukurannya, yang betina berkisar antara 330-450 mikron x 250-
350 mikron, sedangkan yang jantan lebih kecil, yakni 200-240 mikron x 150-200
mikron. Bentuk dewasa mempunyai 4 pasang kaki, 2 pasang kaki di depan
sebagai alat untuk melekat dan 2 pasang kaki kedua pada betina berakhir dengan
rambut, sedangkan pada yang jantan pasangan kaki ketiga berakhir dengan rambut
dan keempat berakhir dengan alat perekat yang dapat dilihat pada gambar
berikut.1

Gambar 1. Tungau Scabies Betina

Tungau skabies tidak dapat terbang namun dapat berpindah secara cepat
saat kontak kulit dengan penderita. Tungau ini dapat merayap dengan kecepatan
2,5 cm – 1 inch per menit pada permukaan kulit. Belum ada studi mengenai waktu
kontak minimal untuk dapat terjangkit penyakit skabies namun dikatakan jika ada
riwayat kontak dengan penderita, maka terjadi peningkatan resiko tertular
penyakit skabies.4
Yang menjadi penyebab utama gejala – gejala pada skabies ini ialah
Sarcoptes scabiei betina. Bila tungau betina telah mengandung (hamil), ia
membuat terowongan pada lapisan tanduk kulit dimana ia meletakkan telurnya.2
Untuk lebih memahaminya, berikut siklus hidup tungau ini. Setelah kopulasi
(perkawinan) yang terjadi di atas kulit, yang jantan akan mati, kadang-kadang
masih dapat hidup beberapa hari dalam terowongan yang digali oleh yang betina.
Tungau betina yang telah dibuahi, menggali terowongan dalam stratum korneum,
dengan kecepatan 2-3 milimeter sehari dan sambil meletakkan telurnya 2 atau 4
butir sehari sampai mencapai jumlah 40 atau 50. Bentuk betina yang dibuahi ini
dapat hidup sebulan lamanya. Telur akan menetas, biasanya dalam waktu 3-5 hari
dan menjadi larva yang mempunyai 3 pasang kaki. Larva ini dapat tinggal dalam
terowongan tetapi dapat juga ke luar. Setelah 2-3 hari larva akan menjadi nimfa
yang mempunyai 2 bentuk, jantan dan betina dengan 4 pasang kaki. Seluruh
siklus hidupnya mulai dari telur sampai bentuk dewasa memerlukan waktu antara
8-12 hari tetapi ada juga yang menyebutkan selama 8-17 hari.1 Studi lain
menunjukkan bahwa lamanya siklus hidup dari telur sampai dewasa untuk tungau
jantan biasanya sekitar 10 hari dan untuk tungau betina bisa sampai 30 hari.4
Berikut dipaparkan gambar siklus hidup skabies.

Gambar 2. Siklus Hidup Tungau Skabies

Tungau betina ini dapat hidup lebih lama dari tungau jantan yaitu hingga
lebih dari 30 hari.4 Tungau skabies ini umumnya hidup pada suhu yang lembab
dan pada suhu kamar (210C dengan kelembapan relatif 40-80%) tungau masih
dapat hidup di luar tubuh hospes selama 24-36 jam.5
Sarcoptes scabiei varian hominis betina, melakukan seleksi bagian-bagian
tubuh mana yang akan diserang, yaitu bagian-bagian yang kulitnya tipis dan
lembab, seperti di lipatan-lipatan kulit pada orang dewasa, sekitar payudara, area
sekitar pusar dan penis. Pada bayi-bayi karena seluruh kulitnya tipis, telapak
tangan, kaki. Wajah dan kulit kepala juga dapat diserang.2 Tungau biasanya
memakan jaringan dan kelenjar limfe yang disekresi dibawah kulit. Selama
makan, mereka menggali terowongan pada stratum korneum dengan arah
horizontal.4 Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan beberapa ahli
memperlihatkan bahwa tungau skabies khususnya yang betina dewasa secara
selektif menarik beberapa lipid yang terdapat pada kulit manusia. lipid tersebut
diantaranya adalah asam lemak jenuh odd-chain-length (misalnya pentanoic dan
lauric) dan tak jenuh(misalnya oleic dan linoleic) serta kolesterol dan tipalmitin.
Hal tersebut menunjukkan bahwa beberapa lipid yang terdapat pada kulit manusia
dan beberapa mamalia dapat mempengaruhi baik insiden infeksi maupun
distribusi terowongan tungau di tubuh. Bila telah terbentuk terowongan maka
tungau dapat meletakkan telur setiap hari. Tungau dewasa meletakkan baik telur
maupun kotoran pada terowongan dan analog dengan tungau debu, tampaknya
enzim pencernaan pada kotoran adalah antigen yang penting untuk menimbulkan
respons imun terhadap tungau skabies.5

3.4 Patogenesis
Sarcoptes scabiei dapat menyebabkan reaksi kulit yang berbentuk eritem,
papul atau vesikel pada kulit dimana mereka berada. Timbulnya reaksi kulit
disertai perasan gatal.2
Masuknya S. scabiei ke dalam epidermis tidak segera memberikan gejala
pruritus. Rasa gatal timbul 1 bulan setelah infestasi primer serta adanya infestasi
kedua sebagai manifestasi respons imun terhadap tungau maupun sekret yang
dihasilkan terowongan di bawah kulit. Tungau skabies menginduksi antibodi IgE
dan menimbulkan reaksi hipersensitivitas tipe cepat. Lesi-lesi di sekitar
terowongan terinfiltrasi oleh sel-sel radang. Lesi biasanya berupa eksim atau
urtika, dengan pruritus yang intens, dan semua ini terkait dengan hipersensitivitas
tipe cepat. Pada kasus skabies yang lain, lesi dapat berupa urtika, nodul atau
papul, dan ini dapat berhubungan dengan respons imun kompleks berupa
sensitisasi sel mast dengan antibodi IgE dan respons seluler yang diinduksi oleh
pelepasan sitokin dari sel Th2 dan/atau sel mast.5
Di samping lesi yang disebabkan oleh Sarcoptes scabiei secara langsung,
dapat pula terjadi lesi-lesi akibat garukan penderita sendiri.2 Dengan garukan
dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta, dan infeksi sekunder.1
3.5 Epidemiologi
Beberapa sumber menuliskan bahwa skabies merupakan penyakit yang
terdapat diseluruh dunia dengan insiden yang berfluktuasi akibat pengaruh faktor
yang belum diketahui sepenuhnya.3 Untuk suatu sebab yang sulit dimengerti,
penyakit skabies ternyata sering menyebabkan epidemi yang diperkirakan setiap
30 tahun sekali. Sekitar tahun 1940-1970 pernah terjadi pandemi terbesar di
seluruh dunia. Penyakit ini sering terjadi terutama pada daerah beriklim tropis dan
subtropis.5
Di beberapa Negara yang sedang berkembang, prevalensi skabies sekitar
6-27% dari populasi umum dan cenderung tinggi pada anak usia sekolah serta
remaja. Menurut data Departemen Kesehatan RI prevalensi skabies di puskesmas
di seluruh Indonesia pada tahun 1986 adalah 4,5-12,9% dan menduduki urutan ke-
3 dari 12 penyakit kulit terbanyak. Di Divisi Dermatologi Anak Unit Rawat Jalan
RSU Dr. Soetomo selama 6 tahun (1996 sampai 2001) skabies menduduki urutan
ke-3 diantara 10 penyakit kulit terbanyak (10,5-12,3%). Jumlah penderita skabies
anak usia 1-14 tahun di Divisi Dermatologi Anak Unit Rawat Jalan RSU Dr.
Soetomo tahun 2003 sebanyak 80 penderita.6
Insiden penyakit skabies di Negara berkembang memperlihatkan siklus
berfluktuasi yang tidak dapat dijelaskan secara memuaskan, mungkin
berhubungan dengan teori herd immunity. Skabies dapat diderita semua orang
tanpa membedakan usia dan jenis kelamin; akan tetapi lebih serin ditemukan pada
anak-anak usia sekolah dan dewasa muda (remaja). Di beberapa Negara
berkembang, penyakit ini dapat menjadi endemik secara kronis pada beberapa
negara.5 Insidens penyakit skabies ini sangat tinggi terutama pada lingkungan
dengan tingkat kepadatan penghuni yang tinggi dan kebersihan yang kurang
memadai. Pada beberapa penelitian menemukan bahwa di suatu pesantren yang
padat penghuninya, prevalensi skabies mencapai 78,7% dimana prevalensi yang
lebih tinggi terdapat pada kelompok yang higienenya kurang baik (72,7%) dan
pada kelompok yang higienenya baik prevalensi skabies hanya 3,8% dan 2,2%.3
Penelitian lain yang dilakukan di Pondok Pesantren di kabupaten lamongan
menunjukkan bahwa dari 338 santri, 64,20 % menderita skabies yang dimana
angka ini lebih tinggi dari prevalensi pada Negara sedang berkembang yang hanya
6-27% atau bahkan prevalensi di Indonesia yang hanya 4,60-12,75% saja. Dari
penelitian tersebut didapati bahwa penyebab paling sering adalah karena higiene
yang buruk, sanitasi lingkungan yang kurang baik, serta perilaku para santri yang
tidak menjaga kesehatan.7
Di kelompok usia dewasa muda, cara penularan yang paling sering terjadi
adalah melalui kontak seksual. Meskipun demikian rute infeksi agak sulit
ditentukan karena periode “inkubasi” yang lama dan asimptomatis. Apabila dalam
satu keluarga terdapat beberapa anggota mengeluh adanya gatal-gatal, maka
penegakan diagnosis menjadi lebih mudah. Dan tidak seperti penyakit menular
seksual lainnya, skabies dapat menular melalui kontak non seksual di dalam satu
keluarga. Kontak kulit dengan orang yang tidak serumah dan transmisi tidak
langsung seperti lewat handuk dan pakaian sepertinya tidak menular, kecuali
pada skabies yang berkrusta/skabies Norwegia. Sebagai contoh, meskipun skabies
sering dijumpai pada anak-anak usia sekolah, penularan yang terjadi di sekolah
jarang didapatkan. Penularan di pegawai rumah sakit juga jarang, tetapi beberapa
kasus pernah dilaporkan terutama yang bentuk krusta/skabies Norwegia.5,8

3.6 Beberapa Bentuk Skabies


Terkadang diagnosis skabies sukar ditegakkan karena lesi kulit bisa
bermacam-macam. Selain bentuk skabies yang klasik, terdapat pula bentuk-
bentuk khusus skabies antara lain :
a. Skabies Nodula
Bentuk ini sangat jarang dijumpai dan merupakan suatu bentuk
hipersensitivitas terhadap tungau skabies, dimana pada lesi tidak
ditemukan Sarcoptes scabiei. Lesi berupa nodul yang gatal, merah cokelat,
terdapat biasanya pada genitalis laki-laki, inguinal dan ketiak yang dapat
menetap selama berbulan-bulan. Untuk menyingkirkan dengan limfoma
kulit diperlukan biopsi. Bentuk ini juga terkadang mirip dengan beberapa
dermatitis atopik kronik. Apabila secara inspeksi, kerokan atau pun biopsi
tidak jelas, maka penegakan diagnosis dapat melalui adanya riwayat
kontak dengan penderita skabies atau lesi membaik denngan pengobatan
khusus untuk skabies.5
b. Skabies Incognito
Seperti semua bentuk dermatitis yang meradang, skabies juga memberi
respons terhadap pengobatan steroid baik topikal maupun sistemik. Pada
kebanyakan kasus, skabies menjadi lebih parah dan diagnosis menjadi
lebih mudah ditegakkan. Tetapi pada beberapa kasus, pengobatan steroid
membuat diagnosis menjadi kabur, dan perjalanan penyakit menjadi kronis
dan meluas yang sulit dibedakan dengan bentuk ekzema generalisata.
Penderita ini tetap infeksius, sehingga diagnosis dapat ditegakkan dengan
adanya anggota keluarga lainnya.2,5
c. Skabies Pada Bayi
Skabies pada bayi dapat menyebabkan gagal tumbuh atau menjadi ekzema
generalisata. Lesi dapat mengenai seluruh tubuh termasuk kepala, leher,
telapak tangan dan kaki. Pada anak-anak seringkali timbul vesikel yang
menyebar dengan gambaran suatu impetigo atau infeksi sekunder oleh
Staphylococcus aureus yang menyulitkan penemuan terowongan.2,5,8

Gambar 3. Skabies pada Bayi (regio Pedis)

Gambar 4. Skabies Pada masa kanak-kanak (regio palmaris)


d. Skabies Norwegia
Skabies jenis ini sering disebut juga skabies berkrusta (crusted scabies)
yang memiliki karakteristik lesi berskuama tebal yang penuh dengan
infestasi tungau. Istilah skabies Norwegia merujuk pada Negara yang
pertama mendeskripsikan kelainan ini yang kemudian diganti dengan
istilah skabies berkrusta. Bentuk lesi jenis skabies ini ditandai dengan
dermatosis berkrusta pada tangan dan kaki, pada kuku dan kepala.
Penyakit ini dikaitkan dengan penderita yang memiliki defek imunologis
misalnya usia tua, debilitas, disabilitas pertumbuhan, contohnya seperti
sindrom Down, juga pada penderita yang mendapat terapi imunosupresan.
Tidak seperti skabies pada umumnya, penyakit ini dapat menular melalui
kontak biasa. Masih belum jelas apakah hal ini disebabkan jumlah tungau
yang sangat banyak atau karena galur tungau yang berbeda. Studi lain
menunjukkan pula bahwa transmisi tidak langsung seperti lewat handuk
dan pakaian paling sering menyebabkan skabies berkrusta. Terapi yang
5
dapat diberikan selain skabisid adalah terapi suportif dan antibiotik.
Berikut dipaparkan gambaran skabies berkrusta.

Gambar 5. Skabies berkrusta pada regio abdomen

e. Skabies Pada Penderita HIV/AIDS


Gejala skabies pada umumnya tergantung pada respons imun, karena itu
tidak mengherankan bahwa spektrum klinis skabies penderita HIV
berbeda dengan penderita yang memiliki status imun yang normal.
Meskipun data yang ada masih sedikit, tampaknya ada kecenderungan
bahwa penderita dengan AIDS biasanya menderita bentuk skabies
berkrusta (crusted scabies). Selain itu, skabies pada penderita AIDS
biasanya juga menyerang wajah, kulit, dan kuku dimana hal ini jarang
didapatkan pada penderita status imunologi yang normal.5
Gambaran klinis yang tidak khas ini kadang membingungkan
dengan diagnosis penyakit Darier White atau keratosis folikularis yaitu
suatu penyakit dengan lesi popular yang berskuama pada area seboroik
termasuk badan, wajah, kulit kepala dan daerah lipatan. Skabies juga harus
dipikirkan sebagai diagnosis banding penderita AIDS dengan lesi
psoriasiform, yang terkadang didiagnosis sebagai ekzema. Pada penderita
dengan status imunologi yang normal, pruritus merupakan tanda khas,
sedangkan pada beberapa penderita AIDS, pruritus tidak terlalu dirasakan.
Hal ini mungkin disebabkan status imun yang berkurang dan kondisi ini
berhubungan dengan konversi penyakit menjadi bentuk lesi berkrusta.5
Seperti pada penderita umumnya, lesi skabies berkrusta pada
penderita AIDS mengandung tungau dalam jumlah besar dan sangat
menular. Beberapa kasus penularan nosokomial kepada penderita lain dan
juga petugas kesehatan pernah dilaporkan. Pada penderita AIDS, skabies
berkrusta juga berhubungan dengan bakteremia, yang biasanya disebabkan
oleh S. aureus, dan Streptococcus grup A, Streptococcus grup lain bakteri
gram negatif seperti Enterobacter cloacae dan Pseudomonas aeroginosa.
Sebagian ahli menyarankan pemberian antibiotika profilaksis pada
penderita AIDS dengan skabies untuk mencegah sepsis sedangkan
sebagian lain menganjurkan tindakan yang tepat ada dengan pengawasan
ketat.5
Pengobatan skabies berkrusta pada penderita AIDS memerlukan
waktu yang lebih lama. Pada beberapa aplikasi lindane selama 6 minggu
dengan dosis seminggu sekali berhasil dengan baik, seperti halnya aplikasi
2 atau 3 kali dengan interval 48 atau 72 jam. Permetrin juga pernah
dipakai pada beberapa kasus. Selain itu, secara bersamaan dianjurkan
penggunaaan keratolitik seperti asam salisilat 6%. Akibat tebalnya krusta,
penetrasi topikal skabisid pada penderita AIDS terkadang tidak begitu
baik. Selain itu, jumlah tungau yang banyak juga membuat obat topikal
kurang efektif. Sehingga dianjurkan untuk penggunaan terapi skabisid
orang yaitu ivermektin.5

3.7 Gejala Klinis


Ada 4 tanda kardinal :
1. Pruritus nokturnal, artinya gatal pada malam hari yang disebabkan karena
aktivitas tungau ini lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan panas.1
Pada awalnya gatal terbatas hanya pada lesi tetapi seringkali menjadi
menyeluruh. Pada infeksi inisial, gatal timbul setelah 3 sampai 4 minggu,
tetapi paparan ulang menimbulkan rasa gatal hanya dalam waktu beberapa
jam.5 Namun studi lain menunjukkan pada infestasi rekuren, gejala dapat
timbul dalam 4-6 hari karena telah ada reaksi sensitisasi sebelumnya.9
2. Penyakit ini menyerang secara kelompok, misalnya dalam sebuah
keluarga biasanya seluruh angota keluarga terkena infeksi. Begitu pula
dalam sebuah perkampungan yang padat penduduknya, sebagian besar
tetangga yang berdekatan akan diserang oleh tungau tersebut.1 Penularan
skabies terutama melalui kontak langsung seperti berjabat tangan, tidur
bersama dan hubungan seksual. Penularan melalui kontak tidak langsung,
misalnya melalui perlengkapan tidur, pakaian atau handuk.3
3. Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang
berwarna putih atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok,
rata-rata panjang 1 cm, pada ujung terowongan itu ditemukan papul atau
vesikel. Jika timbul infeksi sekunder ruam kulitnya menjadi polimorf
(pustul, ekskoriasi, dan lain-lain).1 Berikut dipaparkan gambaran kelainan
kulit pada skabies.
Gambar 6. Kelainan kulit pada sela-sela jari dan penis

Gambar 7. Kelainan kulit pada bagian punggung

Gambar 8. Kelainan kulit pada mammae

Tempat predileksinya biasanya merupakan tempat dengan stratum


korneum yang tipis, yaitu : sela-sela jari tangan, pergelangan tangan
bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan, areola mamae
(wanita), umbilikus, bokong, genitalia eksterna (pria), dan perut bagian
bawah. Skabies jarang ditemukan di telapak tangan, telapak kaki, dibawah
kepala dan leher namun pada bayi dapat menyerang telapak tangan dan
telapak kaki.1 Berikut dipaparkan gambaran tempat predileksi skabies.

Gambar 9. Tempat Predileksi Skabies

4. Menemukan tungau, merupakan hal yang paling diagnostik. Dapat


ditemukan satu atau lebih stadium hidup tungau ini. Berikut merupakan
gambaran mikroskopik tungau skabies.1

Gambar 10. Tungau Skabies pada Stratum Korneum


Gambar 11. Tungau Skabies Dewasa

Terdapat berbagai variasi dalam gambaran klinis, mulai dari bentuk-


bentuk yang tidak khas pada orang-orang yang tingkat kebersihannya tinggi,
berupa papul-papul saja pada tempat predileksi. Tidak jarang terjadi infeksi
sekunder akibat garukan dengan kebersihan kuku yang kurang baik. Pada kasus-
kasus yang kebersihannya kurang baik dapat terlihat ektima, impetigo, selulitis,
folikulitis, dan furunkulosis.2

3.8 Penegakan Diagnosis


Beberapa sumber menyebutkan bahwa penegakan diagnosis skabies masih
menjadi persoalan dalam dermatologi. Disebutkan bahwa jika gejala klinisnya
khas, diagnosis skabies mudah ditetapkan, tetapi gejala klinis skabies sering
menyerupai penyakit kulit lainnya sehingga dapat menimbulkan salah diagnosis
dan selanjutnya dapat menyebabkan kesalahan pengobatan.3
Diagnosis klinis ditetapkan berdasarkan anamnesis yaitu adanya pruritus
nokturna dan erupsi kulit berupa papul, vesikel, dan pustule di tempat predileksi,
distribusi lesi yang khas, terowongan-terowongan pada predileksi, adanya
penyakit yang sama pada orang-orang sekitar.3 Terowongan terkadang sulit
ditemukan, dan petunjuk yang lazim adalah penyebaran yang khas. Diagnosis
definitif bergantung pada identifikasi mikroskopis adanya tungau, telur atau fecal
pellet.5 Seringkali tungau tidak dapat dapat ditemukan ditemukan walau terdapat
lesi skabies nodula yang klasik di genitalia, atau ruam yang khas dengan riwayat
gatal-gatal pada anggota keluarga yang lain. Dari beberapa penelitian yang telah
lama dilakukan beberapa ahli menemukan bahwa dari sebagian besar penderita
skabies hanya dapat ditemukan sedikit tungau dari setiap penderita.5 Hal ini yang
terkadang menimbulkan kesalahan diagnosis. Selain itu, kesalahan diagnosis juga
disebabkan oleh pemeriksaan yang tidak adekuat.3 Infestasi skabies sering disertai
infeksi sekunder sehingga erupsi kulit tidak khas lagi dan menyulitkan
pemeriksaan. Karena sulitnya menemukan tungau, maka Lyell menyatakan
diagnosis skabies harus dipertimbangkan pada setiap penderita dengan keluhan
gatal yang menetap walalupun dengan cara ini dikatakan perevalensi skabies
menjadi lebih tinggi dari yang sebenarnya.3
Diagnosis pasti skabies ditegakkan dengan ditemukannya tungau melalui
pemeriksaan mikroskop, yang dapa dilakukan dengan beberapa cara antara lain:5
1. Kerokan kulit
Kerokan kulit dilakukan dengan mengangkat atap terowongan atau papula
menggunakan scalpel nomor 15. Kerokan diletakkan pada kaca objek,
diberi minyak mineral atau minyak imersi, diberi kaca penutup dan dengan
pembesaran 20X atau 100X dapat dilihat tungau, telur atau fecal pellet.3,5
2. Mengambil tungau dengan jarum
Jarum dimasukkan ke dalam terowongan pada bagian yang gelap (kecuali
pada orang kulit hitam pada titik yang putih) dan digerakkan tangensial.
Tungau akan memegang ujung jarum dan dapat diangkat keluar.3,5
3. Epidermal shave biopsy
Menemukan terowongan atau papul yang dicurigai antara ibu jari dan jari
telunjuk, dengan hati-hati diiris puncak lesi dengan scalpel nomor yang 15
dilakukan sejajar dengan permukaan kulit. Biopsi dilakukan sangat
superfisial sehingga tidak terjadi perdarahan dan tidak perlu anestesi.
Spesimen diletakkan pada gelas objek lalu ditetesi minyak mineral dan
diperiksa dengan mikroskop.5
4. Kuretase terowongan
Kuretase superfisial mengikuti sumbu panjang terowongan atau puncak
papula kemudian kerokan diperiksa dengan mikroskop, setelah diletakkan
di gelas objek dan ditetesi minyak mineral.3,5
5. Tes tinta Burowi
Papul skabies dilapisi dengan tinta pena, kemudian segera dihapus dengan
alkohol, maka jejak terowongan akan terlihat sebagai garis yang
karakteristik, berbelok-belok, karena ada tinta yang masuk. Tes ini tidak
sakit dan dapat dikerjakan pada anak dan pada penderita yang non-
kooperatif.5
6. Tetrasiklin topikal
Larutan tetrasiklin dioleskan pada terowongan yang dicurigai. Setelah
dikeringkan selama 5 menit kemudian hapus larutan tersebut dengan
isopropilalkohol. Tetrasiklin akan berpenetrasi ke dalam melalui stratum
korneum dan terowongan akan tampak dengan penyinaran lampu wood,
sebagai garis linier berwarna kuning kehijauan sehingga tungau dapat
ditemukan.3,5
7. Apusan kulit
Kulit dibersihkan dengan eter, kemudian diletakkan selotip pada lesi dan
diangkat dengan gerakan cepat. Selotip kemudian diletakkan di atas gelas
objek (enam buah dari lesi yang sama pada satu gelas objek) dan
diperiksa dengan mikroskop.5
8. Biopsi plong (punch biopsy)
Biopsy berguna pada lesi yang atipik, untuk melihat adanya tungau atau
telur. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa jumlah tungau hidup pada
penderita dewasa hanya sekitar 12, sehingga biopsi berguna bila diambil
dari lesi yang meradang. Secara umum digunakan punch biopsy, tetapi
biopsy mencukur epidermis adalah lebih sederhana dan biasanya
dilakukan tanpa anestetik local pada penderita yang tidak kooperatif.5
Selain itu, alat lain yang dapat dipakai untuk diagnostik adalah
dermoskopi. Argenziano melaporkan bahwa alat ini cukup efektif. Pembesaran
gambar menunjukkan struktur triangular kecil berwarna gelap yang berhubungan
dengan bagian anterior tungau yang berpigmen, dan suatu segmen linier haus di
belakang segitiga yang mengandung gelembung udara kecil, dimana kedua
gambaran ini menyerupai “jet with contrail”dan dianggap sebagai bentuk
terowongan beserta telur dan fecal pellet. Dilaporkan juga oleh Bezold bahwa
penggunaan polymerase chain reaction (PCR) untuk membuktikan adanya
skabies pada penderita yang secara klinis menunjukkan eczema atipikal. Skuama
epidermal positif untuk DNA Sarcoptes scabiei sebelum terapi dan menjadi
negatif 2 minggu setelah terapi.5
Dari berbagai cara pemeriksaan diatas, kerokan kulit merupakan cara yang
paling mudah dilakukan dan memberikan hasil yang paling memuaskan.
Mengambil tungau dengan jarum memerlukan keterampilan khusus dan jarang
berhasil karena biasanya terowongan sulit diidentifikasi dan letak tungau sulit
diketahui. Swab kulit mudah dilakukan tetapi memerlukan waktu lama karena dari
1 lesi harus dilakukan 6 kali pemeriksaan sedangkan pemeriksaan dilakukan pada
hampir seluruh lesi. Tes tinta Burowi dan uji tetrasiklin jarang memberikan hasil
positif karena biasanya penderita datang pada keadaan lanjut dan sudah terjadi
infeksi sekunder sehingga terowongan tertutup oleh krusta dan tidak dapat
dimasuki tinta atau salep.3

3.9 Diagnosis Banding


Skabies dapat mirip berbagai macam penyakit sehingga disebut juga “The
great imitator”.1,3 Diagnosis banding skabies meliputi hampir semua dermatosis
dengan keluhan pruritus, yaitu dermatitis atopik, dermatitis kontak, prurigo,
urtikaria popular, pioderma, pedikulosis, dermatitis herpetiformis, ekskoriasi-
neurotik, liken planus, penyakit Darier, gigitan serangga, mastositosis, urtikaria,
dermatitis eksematoid infeksiosa, pruritis karena penyakit sistemik, dermatosis
pruritik pada kehamilan, sifilis dan vaskulitis.3

3.10 Terapi
Terapi skabies harus segera dilakukan setelah penegakan diagnosis.
Penundaan terapi dapat menyebabkan infestasi tungau yang semakin banyak dan
kemungkinan peningkatan keparahan gejala.9 Terapi skabies ini juga harus tuntas
bagi penderita dan juga dilakukan bagi keluarga penderita yang memiliki gejala
yang sama karena skabies yang tidak terobati biasanya memiliki hubungan dengan
peningkatan kejadian pyoderma oleh Streptococcus pyogenes.10 Terdapat
sejumlah terapi skabies yang efektif dan pemilihannya tergantung pada biaya dan
potensi toksiknya. Terkadang penderita menggunakan obat lebih lama dari waktu
yang dianjurkan, sehingga mengetahui kuantitas obat yang tepat untuk diresepkan
akan dapat mencegah timbulnya iritasi akibat pemakaian obat yang berlebihan,
yang pada akhirnya disalahartikan sebagai kegagalan terapi. Skabisid topikal
sebaiknya dipakai di seluruh tubuh kecuali wajah. Obat harus segera dibersihkan
secara menyeluruh setelah periode waktu yang dianjurkan. Pagi hari setelah
terapi, pakaian, sprei, dan handuk dicuci menggunakan air panas. Tungau akan
mati pada suhu 130oC. Pasien dapat diberikan edukasi untuk meningkatkan
kebersihan lingkungan dan perorangan.5
Penderita hendaknya diberikan pengertian bahwa meskipun penyakit telah
diobati secara adekuat, rasa gatal akan tetap ada sampai beberapa bulan. Seluruh
anggota keluarga yang memiliki gejala harus diterapi, termasuk pasangan seksual.
Para ahli merekomendasikan terapi untuk anggota keluarga bersifat simultan,
karena angka kesembuhan setelah 10 minggu lebih tinggi.5 Terapi topikal untuk
skabies yang sering digunakan adalah sebagai berikut :
1. Krim Permetrin ( Elimite, Acticin), yaitu suatu skabisid berupa piretroid
sintesis yang efektif pada manusia dengan toksisitas rendah, bahkan
dengan pemakaian yang berlebihan sekalipun dan obat ini telah
dipergunakan lebih dari 20 tahun.5,11 Krim permetrin ditoleransi dengan
baik, diserap minimal dan tidak diabsorbsi sistemik, serta dimetabolisasi
dengan cepat.5,10 Obat ini merupakan terapi pilihan lini pertama
rekomendasi dari CDC untuk terapi tungau tubuh.12 Penggunaan obat ini
biasanya pada sediaan krim dengan kadar 1% untuk terapi tungau pada
kepala dan kadar 5% untuk terapi tungau tubuh. Studi menunjukkan
Penggunaan permethrin 1% untuk tungau daerah kepala lebih baik dari
lindane karena aman dan tidak diabsorbsi secara sistemik.11 Cara
pemakaiannya dengan dioleskan pada seluruh area tubuh dari leher ke
bawah dan dibilas setelah 8-14 jam.12 Bila diperlukan, pengobatan dapat
diulang setelah 5-7 hari kemudian. Belum ada laporan terjadinya resistensi
yang signifikan tetapi beberapa studi menunjukkan adanya resistensi
permethrin 1% pada tungau kepala namun dapat ditangani dengan
pemberian permethrin 5%.5,11 Permetrin sebaiknnya tidak digunakan pada
bayi berumur kurang dari 2 bulan atau pada wanita hamil dan menyusui
namun studi lain mengatakan bahwa obat ini merupakan drug of choice
untuk wanita hamil.5,13 Dikatakan bahwa permethrin memiliki angka
kesembuhan hingga 97,8% jika dibandingkan dengan penggunaan
ivermectin yang memiliki angka kesembuhan 70%. Tetapi penggunaan 2
dosis ivermectin selama 2 minggu memiliki keefektifan sama dengan
permethrin. Efek samping yang sering timbul adalah rasa terbakar dan
yang jarang adalah dermatitis kontak dengan derajat ringan sampai
sedang.14
2. Lindane 1% (gamma-benzen heksaklorida), merupakan pilihan terapi lini
kedua rekomendasi CDC.12 Dalam beberapa studi memperlihatkan
keefektifan yang sama dengan permetrin. Studi lain menunjukkan lindane
kurang unggul dibanding permetrin.5 Lindane memiliki angka
penyembuhan hingga 98% dan diabsorbsi secara sistemik pada
penggunaan topikal terutama pada kulit yang rusak.10 Sediaan obat ini
biasanya sebanyak 60 mg.14 Cara pemakaiannya adalah dengan dioleskan
dan dibiarkan selama 8 jam. Sama seperti pada permetrin, kadang
diperlukan pengolesan ulang 1 minggu setelah terapi pertama. Salah satu
kekurangan obat ini adalah absorbsi secara sistemik terutama pada bayi,
anak dan orang dewasa dengan kerusakan kulit yang luas. Lindane
memiliki efek samping yaitu toksik pada sistem saraf pusat dengan
keluhan utama kejang.10 Lindane sebaiknya tidak digunakan untuk bayi,
anak dibawah 2 tahun, dermatitis yang meluas, wanita hamil atau
menyusui, penderita yang pernah mengalami kejang atau penyakit
neurologi lainnya. Sejak 1 januari 2002, Negara bagian California telah
meninggalkan pemakaian lindane. Belum ada laporan mengenai toleransi
yang signifikan terhadap pemakaian lindane.5,10
3. Sulfur, biasanya diresepkan sebagai sulfur presipitat (6%) dalam
petrolatum. Sulfur dipakai saat malam hari selama 3 malam dan
dibersihkan secara menyeluruh 24 jam terakhir. Kekurangannya adalah
sulfur berbau, meninggalkan noda dan berminyak, mengiritasi,
membutuhkan pemakaian berulang, namun relatif aman, efektif dan tepat
untuk bayi berumur kurang dari 2 bulan dan selama kehamilan atau
menyusui.5,10
4. Benzil benzoat 25%, merupakan produk alamiah, disebut juga balsam
Peru dan telah dipergunakan lebih dari 60 tahun. Obat ini merupakan
skabisid kerja cepat yang efektif terhadap semua stadium namun tidak
dijual bebas di Amerika Serikat. Penggunaannya diberikan setiap malam
selama 3 kali. Obat ini sulit diperoleh, sering memberi iritasi dan kadang-
kadang makin gatal setelah dipakai. Benzyl benzoate memiliki keefektifan
yang sama dengan lindane.1,5,10
5. Krim Krotamiton (Eurax) dianggap tidak cukup efektif untuk mengobati
skabies. Kualitas krim ini dibawah permetrin dan efektivitasnya setara
dengan benzyl benzoat atau sulfur.5

Selain itu juga terdapat terapi sistemik, khususnya untuk penderita AIDS.
Ivermektin adalah suatu antiparasit yang disahkan oleh FDA untuk onchocerciasis
dan strongilodiasis pada manusia.5 Ivermectin dikatakan merupakan pilihan terapi
lini ketiga rekomendasi dari CDC.12 Ivermectin memiliki aktivitas spectrum luas
pada nematoda dan arthropoda yang dapat digunakan pada hewan dan manusia
serta obat ini dapat digunakan pada terapi filariasis.10 Jika dibandingkan dengan
permethrin, angka kesembuhan dengan penggunaan ivermectin masih lebih
rendah dibandingkan permethrin tetapi jika dibandingkan dengan lindane, pada
penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa 80% pasien mengalami
perbaikan gejala klinis lebih banyak dibandingkan dengan penggunaan lindane
yang hanya 44%.14 Sejak tahun 1993 dilaporkan bahwa ivermektin yang diberikan
1 atau 2 dosis oral 200 mg/kgBB menjadi terapi skabies yang efektif pada
penderita AIDS. Diperlukan studi control lebih lanjut dengan menentukan dosis
dan cara pemberian obat yang paling efektif, baik bagi penderita dengan status
imun normal ataupun pada penderita yang mengalami imunosupresi, serta
keefektifan kombinasi terapi oral dan topikal ivermektin.5,12 Penggunaan
Ivermectin ini tidak boleh pada wanita hamil dan menyusui.12 Sediaan ivermektin
topikal, yaitu larutan ivermektin 1% dalam propilen-glikol juga sedang diteliti
penggunaannya sebagai terapi alternatif.5 Walaupun demikian, ivermectin topikal
dilarang penggunaannya di UK.11 Pada beberapa sumber dikatakan bahwa sediaan
crotamiton, benzyl benzoate, malathion, sulfur, dan ivermectin masih belum
disetujui penggunaannya oleh FDA untuk indikasi terapi skabies namun sumber
lainnya mengatakan penggunaan telah dapat ditolerir dan mulai banyak beredar
namun di Negara tertentu penggunaan dibatasi bahkan dilarang.14
Penyakit yang serius akibat skabies jarang didapatkan, kecuali pada bayi
dan penderita skabies berkrusta. Tetapi pruritus dan infeksi yang ditimbulkan
dapat menjadi masalah dan memerlukan terapi khusus. Lesi dengan fecal pellet
terkadang memberi rasa gatal untuk beberapa saat setelah tungau mati. Hal ini
memerlukan pemberian antihistamin dan bila gatal tetap mengganggu dapat
diberikan steroid oral dalam waktu yang singkat. Bila didapatkan superinfeksi
oleh bakteri, antibiotic harus diberikan. Terdapat istilah acarofobia yaitu
penderita dengan delusi. Penderita mulai merasa bahwa pada kulit mereka masih
terdapat tungau meskipun telah diobati. Bila gangguan ini berkelanjutan maka
diperlukan pertolongan psikiater.5

3.11 Gejala Persisten


Semua pasien harus diberikan informasi bahwa bercak-bercak dan gatal
karena skabies tersebut mungkin akan menetap lebih dari 2 minggu setelah terapi
selesai. Ketika gejala dan tanda masih menetap lebih dari 12 minggu, terdapat
beberapa kemungkinan yang dapat dijelaskan diantaranya resistensi terapi,
kegagalan terapi, re-infeksi dari anggota keluarga lain atau teman sekamar, alergi
obat, atau perburukan gejala karena reaktivitas silang dengan antigen dari
penderita skabies lainnya.14
Respon yang buruk dan dugaan resistensi terhadap lindane pernah
dilaporkan di tempat lain. Kegagagalan terapi yang tidak berhubungan dengan
resistensi terapi bisa disebabkan karena kegagalan penggunaan terapi skabisid
topikal. Pasien dengan skabies berkrusta mungkin memiliki penetrasi obat
skabisid yang buruk kedalam lapisannya yang bersisik tersebut dan mungkin
karena tungau bersembunyi di lapisan yang sulit di penetrasi.14
Yang pasti, untuk menghindari infeksi berulang, direkomendasikan agar
seluruh kontak dekat dengan pasien harus dieradikasi. Seluruh kain, selimur,
pakaian harus dicuci jika memungkinkan selama penggunaan skabisid topikal.
Bahkan setelah terapi berhasil dan infeksi berulang telah dicegah, gejala mungkin
dapat memburuk karena terjadi dermatitis alergi. Komplikasi ini telah terlihat
pada penggunaan beberapa jenis skabisid topikal. Dan pada akhirnya, tungau
rumah tangga biasa mungkin masih dapat menyebabkan gejala yang menetap
sebagai akibat dari reaktivitas silang antara antigennya.14

3.12 Prognosis
Dengan memperhatikan pemilihan dan cara pemakaian obat, serta syarat
pengobatan dan menghilangkan faktor prediposisi (antara lain higiene), maka
penyakit ini dapat diberantas dan memberikan prognosis yang baik. Oleh karena
manusia merupakan penjamu (hospes) definitif, maka apabila tidak diobati
dengan sempurna, Sarcoptes scabiei akan tetap hidup tumbuh pada manusia.1,2
BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan


sensitisasi terhadap tungau Sarcoptes scabiei varietas hominis. Penyakit ini
terdapat di seluruh dunia dan menempati urutan ke-3 dari 12 penyakit kulit
tersering di Indonesia.
Tungau Sarcoptes scabiei membuat terowongan pada lapisan tanduk kulit
dengan siklus hidup dari telur sampai bentuk dewasa memerlukan waktu 8-12
hari. Tungau dapat menular melalui kontak langsung (seperti berjabat tangan,
tidur bersama dan hubungan seksual) dan kontak tidak langsung (misalnya
melalui perlengkapan tidur, pakaian atau handuk).
Sarcoptes scabiei menyebabkan reaksi kulit berupa eritem, papul atau
vesikel pada kulit. Selain bentuk tersebut, terdapat pula bentuk skabies lainnya
antara lain : skabies nodula (gambaran klinisnya berupa nodul berpigmen yang
terasa gatal), skabies incognito (gambaran klinis kabur, kronis dan meluas karena
penggunaan steroid), skabies pada bayi (dapat menjadi eksema generalisata),
skabies norwegia atau skabies berkrusta (lesi berskuama tebal yang penuh dengan
infestasi tungau) dan skabies pada penderita HIV/AIDS (biasanya skabies
berkrusta dan menyerang wajah, kulit dan kuku).
Gejala klinis skabies meliputi 4 tanda kardinal yaitu :
1) Pruritus nokturnal, artinya gatal pada malam hari.
2) Menyerang secara kelompok, misalnya dalam sebuah keluarga.
3) Adanya terowongan pada tempat-tempat predileksi seperti sela-sela jari
tangan, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak bagian
depan, areola mamae pada wanita, umbilikus, bokong, genitalia eksterna
pada pria, dan perut bagian bawah.
4) Menemukan tungau.
Diagnosis klinis ditetapkan berdasarkan anamnesis adanya tanda-tanda
kardinal. Diagnosis pasti ditegakan dengan ditemukannya tungau melalui
pemeriksaan mikroskopis melalui beberapa cara seperti kerokan kulit, mengambil
tungau dengan jarum, epidermal shave biopsy, kuretase terowongan, tes tinta
Burowi, tetrasiklin topikal, apusan kulit dan biopsi plong (punch biopsy).
Penatalaksanaan untuk skabies yang sering digunakan antara lain :
1) Krim permetrin (elimite, acticin), sediaan krim 1% untuk terapi tungau pada
kepala dan krim 5% untuk terapi tungau tubuh, dioleskan pada area tubuh
dan dibilas setelah 8-14 jam.
2) Lindane 1% (gamma-benzen heksaklorida), sediaan 60 mg, dioleskan dan
dibiarkan selama 8 jam.
3) Sulfur presipitat 6%, dipakai pada malam hari selama 3 malam dan
dibersihkan secara menyeluruh 24 jam terakhir.
4) Benzil benzoat 25%. Dipakai setiap malam selama 3 kali.
5) Krim krotamiton (eurax). Mulai jarang digunakan karena dianggap tidak
cukup efektif.
6) Ivermectin 1 atau 2 dosis oral 200 mg/kgBB untuk terapi skabies pada
penderita AIDS.
Lesi-lesi yang memberikan rasa gatal setelah tungau mati memerlukan pemberian
antihistamin, dan jika didapatkan superinfeksi oleh bakteri harus diberikan
antibiotik. Untuk menghindari infeksi berulang, seluruh kontak dekat dengan
pasien harus dieradikasi, seluruh kain, selimut, handuk dan pakaian harus dicuci
dengan air panas. Terapi harus tuntas bagi penderita dan keluarga penderita yang
memiliki gejala yang sama.
DAFTAR PUSTAKA

1. Handoko, R. Skabies. In : Djuanda, A. Hamzah, N. Aisah, S. Ilmu Penyakit


Kulit Dan Kelamin Edisi Kelima. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. 2009 : 119-122

2. Makatutu, H. Penyakit Kulit Oleh Parasit Dan Insekta. In : Harahap, M.


Penyakit Kulit. Jakarta : PT Gramedia. 1990 : 100-104

3. Sungkar S. Skabies. Jakarta : Yayasan Penerbitan Ikatan Dokter Indonesia.


1995 : 1-25

4. Beggs, J. dkk. Scabies Prevention And Control Manual. USA : Michigan


Department Of Community Health. 2005 : 4-6, 10

5. Murtiastutik D. Buku Ajar Infeksi Menular Seksual : Skabies. Edisi 1.


Surabaya : Airlangga University Press. 2005 : 202-208

6. Setyaningrum, T. Listiawan, M. Zulkarnain, I. Kadar Imunoglobulin E-


Spesifik Terhadap Tungau Debu Rumah Pada Penderita Skabies Nonatopi
Anak. Berkala Ilmu Kesehatan Dan Kelamin 2007 : 19 : 100

7. Ma’rufi, I. Keman, S. Notobroto, H. Faktor Sanitasi Lingkungan Yang


Berperan Terhadap Prevalensi Penyakit Scabies Studi Pada Santri di Pondok
Pesantren Kabupaten Lamongan. Jurnal Kesehatan Lingkungan 2005 : 2 : 11-
17

8. Chosidow, O. Scabies. The New England Journal Of Medicine 2006 : 1718-


1727

9. Department Of Public Health. Scabies. USA : Department Of Public Health


Division Of Communicable Disease Control. 2008 : 1-3
10. McCarthy, J. Kemp, D. Walton, S. Currie, B. Review Scabies : More Than
Just An Irritation. Postgrad Medical Journal 2004 : 80 : 382-386

11. Cox, N. Permethrin Treatment In Scabies Infestasion : Important Of Correct


Formulation. British Medical Journals 2000 : 320 : 37-38

12. Fox, G. Itching And Rash In A Boy And His Grandmother. The Journal Of
Family Practice 2006 : 55 : para. 26-27, 30

13. Johnston, G. Sladden, M. Scabies : Diagnosis And Treatment. British


Medical Journal 2005 : 331 : 619-622

14. Leone, P. Scabies And Pediculosis : An Update Of Treatment Regiments And


General Review. Oxford Journals 2007 : 44 : 154-159