Anda di halaman 1dari 20

GIS (Geographic Information System )1

Oleh
Isah Bela Mulyawati2

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Perkembangan teknologi telah memberikan inovasi dan memperluas
pengetahuan dalam proses pengambilan keputusan dan penyebaran informasi.
Data - data yang merepresentasikan dunia nyata dapat disimpan dan diproses
sedemikian rupa sehingga dapat disajikan dalam bentuk-bentuk yang lebih
sederhana dan sesuai kebutuhan.
Sesuai dengan perkembangan teknologi, khususnya komputer grafik,
basisdata, teknologi informasi, dan teknologi satelit inderaja (penginderaan
jauh/remote sensing), maka kebutuhan mengenai penyimpanan, analisis, dan
penyajian data yang berstruktur kompleks dengan jumlah besar makin
mendesak. Struktur data kompleks tersebut mencakup baik jenis data spasial
maupun atribut.
Dengan demikian, untuk mengelola data yang kompleks ini, diperlukan
suatu sistem informasi yang secara terintegrasi mampu mengolah baik data
spasial maupun data atribut ini secara efektif dan efisien. Tidak itu saja, sistem
inipun harus mampu menjawab dengan baik pertanyaan spasial maupun atribut
secara simultan.
Dengan demikian, diharapkan keberadaan suatu sistem informasi yang
efisien dan mampu mengelola data dengan struktur yang kompleks dan dengan
jumlah yang besar ini dapat membantu dalam proses pengambilan keputusan
yang tepat. Salah satu sistem yang menawarkan solusi-solusi untuk masalah ini
adalah Sistem Informasi Geografis (SIG).

1
Artikel ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ilmu Ukur Tanah yang
dibimbing oleh Dr. Ir. H. Iskandar Muda Purwaamijaya, MT
2
Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Teknik Sipil Universitas Pendidikan
Indonesia Tahun 2017
1
2. Maksud dan Tujuan
Tujuan dari artikel ini yaitu dapat mengetahui :
1. Penjelasan tentang GIS (Geographic Information System)
2. Penjelasan aplikasi GIS dalam bidang teknik sipil.

METODOLOGI
Metodologi pengkajian yang digunakan adalah melakukan peninjauan dan
pengembangan secara teori terhadap materi yang ada didalam buku Teknik Survey
Pemetaan Jilid 3, khususnya mengenai GIS. Hasil peninjauan dan pengembangan
secara teori tersebut digunakan untuk menambah ilmu pengetahuan kita.

PEMBAHASAN
A. GIS (Geographic Information System)
Sistem Informasi Geografis (bahasa Inggris: Geographic
Information System disingkat GIS) adalah sistem informasi khusus yang
mengelola data yang memiliki informasi spasial (bereferensi keruangan).
Atau dalam arti yang lebih sempit, adalah sistem komputer yang memiliki
kemampuan untuk membangun, menyimpan, mengelola dan menampilkan
informasi berefrensi geografis, misalnya data yang diidentifikasi menurut
lokasinya, dalam sebuah database. Para praktisi juga memasukkan orang
yang membangun dan mengoperasikannya dan data sebagai bagian dari
sistem ini.
Teknologi Sistem Informasi Geografis dapat digunakan untuk
investigasi ilmiah, pengelolaan sumber daya, perencanaan pembangunan,
kartografi dan perencanaan rute. Misalnya, SIG bisa membantu perencana
untuk secara cepat menghitung waktu tanggap darurat saat terjadi bencana
alam, atau SIG dapat digunaan untuk mencari lahan basah (wetlands) yang
membutuhkan perlindungan dari polusi.
SIG dapat didefinisikan sebagai kombinasi perangkat keras dan
perangkat lunak komputer yang memungkinkan untuk mengelola
(manage), menganalisa, memetakan informasi spasial berikut data
atributnya (data deskriptif) dengan akurasi kartografi (Basic, 2000 dalam
Eddy Prahasta, 2002). Dari definisi ini dapat diuraikan menjadi beberapa
2
subsistem yaitu data input, dasa otput, data manajemen, dan data
manipulasi dan analisis. Jika subsistem SIG di atas diperjelas berdasarkan
uraian jenis masukan, proses, dan jenis keluaran yang ada di dalamnya,
maka subsistem SIG juga dapat digambarkan seperti tersaji seperti
dibawah ini:

B. Sejarah Pengembangan GIS


35000 tahun yang lalu, di dinding gua Lascaux, Perancis, para
pemburu Cro-Magnon menggambar hewan mangsa mereka, dan juga garis
yang dipercaya sebagai rute migrasi hewan-hewan tersebut. Catatan awal
ini sejalan dengan dua elemen struktur pada sistem informasi gegrafis
modern sekarang ini, arsip grafis yang terhubung ke database atribut.
Pada tahun 1700-an teknik survey modern untuk pemetaan
topografis diterapkan, termasuk juga versi awal pemetaan tematis, misalnya
untuk keilmuan atau data sensus.
Awal abad ke-20 memperlihatkan pengembangan "litografi foto"
dimana peta dipisahkan menjadi beberapa lapisan (layer). Perkembangan
perangkat keras komputer yang dipacu oleh penelitian senjata nuklir
membawa aplikasi pemetaan menjadi multifungsi pada awal tahun 1960-an.
Tahun 1967 merupakan awal pengembangan SIG yang bisa
diterapkan di Ottawa, Ontario oleh Departemen Energi, Pertambangan dan

3
Sumber Daya. Dikembangkan oleh Roger Tomlinson, yang kemudian
disebut CGIS (Canadian GIS - SIG Kanada), digunakan untuk menyimpan,
menganalisis dan mengolah data yang dikumpulkan untuk Inventarisasi
Tanah Kanada (CLI - Canadian land Inventory) - sebuah inisiatif untuk
mengetahui kemampuan lahan di wilayah pedesaan Kanada dengan
memetakaan berbagai informasi pada tanah, pertanian, pariwisata, alam
bebas, unggas dan penggunaan tanah pada skala 1:250000. Faktor
pemeringkatan klasifikasi juga diterapkan untuk keperluan analisis.

Gambar 1. GIS dengan gvSIG.


CGIS merupakan sistem pertama di dunia dan hasil dari perbaikan
aplikasi pemetaan yang memiliki kemampuan timpang susun (overlay),
penghitungan, pendijitalan/pemindaian (digitizing/scanning), mendukung
sistem koordinat national yang membentang di atas benua Amerika ,
memasukkan garis sebagai arc yang memiliki topologi dan menyimpan
atribut dan informasi lokasional pada berkas terpisah. Pengembangya,
seorang geografer bernama Roger Tomlinson kemudian disebut "Bapak
SIG".
CGIS bertahan sampai tahun 1970-an dan memakan waktu lama
untuk penyempurnaan setelah pengembangan awal, dan tidak bisa bersaing
denga aplikasi pemetaan komersil yang dikeluarkan beberapa vendor seperti
Intergraph. Perkembangan perangkat keras mikro komputer memacu vendor
lain seperti ESRI, CARIS, MapInfo dan berhasil membuat banyak fitur SIG,
menggabung pendekatan generasi pertama pada pemisahan informasi
spasial dan atributnya, dengan pendekatan generasi kedua pada organisasi
data atribut menjadi struktur database. Perkembangan industri pada tahun

4
1980-an dan 1990-an memacu lagi pertumbuhan SIG pada
workstationUNIX dan komputer pribadi. Pada akhir abad ke-20,
pertumbuhan yang cepat di berbagai sistem dikonsolidasikan dan
distandarisasikan menjadi platform lebih sedikit, dan para pengguna mulai
mengekspor menampilkan data SIG lewat internet, yang membutuhkan
standar pada format data dan transfer.
Indonesia sudah mengadopsi sistem ini sejak Pelita ke-2 ketika LIPI
mengundang UNESCO dalam menyusun "Kebijakan dan Program
Pembangunan Lima Tahun Tahap Kedua (1974-1979)" dalam
pembangunan ilmu pengetahuan, teknologi dan riset.
Jenjang pendidikan SMU/senior high school melalui kurikulum
pendidikan geografi SIG dan penginderaan jauh telah diperkenalkan sejak
dini. Universitas di Indonesia yang membuka program Diploma SIG ini
adalah D3 Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografi, Fakultas
Geografi, Universitas Gadjah Mada, tahun 1999. Sedangkan jenjang S1 dan
S2 telah ada sejak 1991 dalam Jurusan Kartografi dan Penginderaan Jauh,
Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada. Penekanan pengajaran pada
analisis spasial sebagai ciri geografi. Lulusannya tidak sekedar
mengoperasikan software namun mampu menganalisis dan menjawab
persoalan keruangan. Sejauh ini SIG sudah dikembangkan hampir di semua
universitas di Indonesia melalui laboratorium-laboratorium, kelompok
studi/diskusi maupun mata pelajaran.

C. Komponen Sistem Informasi Geografis


Komponen-komponen pendukung SIG terdiri dari lima komponen
yang bekerja secara terintegrasi yaitu perangkat keras (hardware),
perangkat lunak (software), data, manusia, dan metode yang dapat diuraikan
sebagai berikut:

5
Gambar 2. Komponen GIS

Perangkat Keras (hardware)

Gambar 3. Konfigurasi Perangkat Keras Gis

Perangkat keras SIG adalah perangkat-perangkat fisik yang


merupakan bagian dari sistem komputer yang mendukung analisis
goegrafi dan pemetaan. Perangkat keras SIG mempunyai kemampuan
untuk menyajikan citra dengan resolusi dan kecepatan yang tinggi serta
mendukung operasioperasi basis data dengan volume data yang besar
secara cepat. Perangkat keras SIG terdiri dari beberapa bagian untuk
menginput data, mengolah data, dan mencetak hasil proses. Berikut ini
pembagian berdasarkan proses :
6
 Input data: mouse, digitizer, scanner
 Olah data: harddisk, processor, RAM, VGA Card
 Output data: plotter, printer, screening.

Perangkat Lunak (software)

Perangkat lunak digunakan untuk melakukan proses menyimpan,


menganalisa, memvisualkan data-data baik data spasial maupun non-
spasial. Perangkat lunak yang harus terdapat dalam komponen software
SIG adalah:

 Alat untuk memasukkan dan memanipulasi data SIG


 Data Base Management System (DBMS)
 Alat untuk menganalisa data-data
 Alat untuk menampilkan data dan hasil analisa

Data

Pada prinsipnya terdapat dua jenis data untuk mendukung SIG


yaitu : Data Spasial

 Data Spasial

Data spasial adalah gambaran nyata suatu wilayah yang terdapat di


permukaan bumi. Umumnya direpresentasikan berupa grafik, peta,
gambar dengan format digital dan disimpan dalam bentuk koordinat
x,y (vektor) atau dalam bentuk image (raster) yang memiliki nilai
tertentu.

 Data Non Spasial (Atribut)

Data non spasial adalah data berbentuk tabel dimana tabel tersebut
berisi informasi- informasi yang dimiliki oleh obyek dalam data
spasial. Data tersebut berbentuk data tabular yang saling terintegrasi
dengan data spasial yang ada.

7
Manusia

Manusia merupakan inti elemen dari SIG karena manusia adalah


perencana dan pengguna dari SIG. Pengguna SIG mempunyai tingkatan
seperti pada sistem informasi lainnya, dari tingkat spesialis teknis yang
mendesain dan mengelola sistem sampai pada pengguna yang
menggunakan SIG untuk membantu pekerjaannya sehari-hari.

Metode

Metode yang digunakan dalam SIG akan berbeda untuk setiap


permasalahan. SIG yang baik tergantung pada aspek desain dan aspek
realnya.

D. Fungsi GIS
Berdasarkan desain awalnya fungsi utama SIG adalah untuk
melakukan analisis data spasial. Dilihat dari sudut pemrosesan data
geografik, SIG bukanlah penemuan baru. Pemrosesan data geografik sudah
lama dilakukan oleh berbagai macam bidang ilmu, yang membedakannya
dengan pemrosesan lama hanyalah digunakannya data dijital. Adapun
fungsi -fungsi dasar dalam SIG adalah sebagai berikut :

ƒ Akuisisi data dan proses awal meliputi: digitasi, editing, pembangunan


topologi, konversi format data, pemberian atribut dll.
ƒ Pengelolaan database meliputi : pengarsipan data, permodelan bertingkat,
pemodelan jaringan pencarian atribut dll.
ƒ Pengukuran keruangan dan analisis meliputi : operasi pengukuran,
analisis daerah penyanggga, overlay, dll.
ƒ Penayangan grafis dan visualisasai meliputi : transformasi skala,
generalisasi, peta topografi, peta statistic, tampilan perspektif.

Kemampuan SIG dapat juga dikenali dari fungsi-fungsi analisis


yang dapat dilakukannya. Secara umum terdapat dua jenis fungsi analisis,
yaitu fungsi analisis spasial dan fungsi analisis atribut. Fungsi analisis

8
atribut terdiri dari operasi dasar basisdata yang mencakup create database,
drop database, create table, drop table, record dan insert, field , seek, find,
search, retrieve, edit, update, delete, zap, pack, memmbuat indeks untuk
setiap tabel basisdata, dan perluasan operasi basisdata yang mencakup
export dan import, structured query language, dan operasi- operasi atau
fungsi analisis lain yang sudah rutin digunakan di dalam sistem basisdata.
Fungsi analisis spasial terdiri dari reclassify, overlay, dan buffering. (Eddy
Prahasta, 2002).

Salah satu fungsi tools SIG yang paling powerful dan mendasar
adalah integrasi data dengan cara baru. Salah satu contohnya adalah overlay,
yang memadukan layers data yang berbeda. SIG juga dapat
mengintegrasikan data secara matematis dengan melakukan operasi-operasi
terhadap atribut- atribut tertentu dari datanya (Eddy Prahasta, 2002).

E. Data Vektor dan Data Raster


1. Data Raster
Data raster adalah data yang disimpan dalam bentuk kotak segi
empat (grid)/sel sehingga terbentuk suatu ruang yang teratur. Foto
digital seperti areal fotografi atau foto satelit merupakan bagian dari
data raster pada peta. Raster mewakili data grid continue. Nilainya
menggunakan gambar berwarna seperti fotografi, yang di tampilkan
dengan level merah, hijau, dan biru pada sel. Pada data raster, obyek
geografis direpresentasikan sebagai struktur sel grid yang disebut
sebagai pixel (picture element). Resolusi (definisi visual) tergantung
pada ukuran pixel-nya, semakin kecil ukuran permukaan bumi yang
direpresentasikan oleh sel, semakin tinggi resolusinya. Data raster
dihasilkan dari sistem penginderaan jauh dan sangat baik untuk
merepresentasikan batas-batas yang berubah secara gradual seperti
jenis tanah, kelembaban tanah, suhu, dan lain-lain.Peta Raster adalah
peta yang diperoleh dari fotografi suatu areal, foto satelit atau foto
permukaan bumi yang diperoleh dari komputer. Contoh peta raster yang
diambil dari satelit cuaca.

9
2. Data Vektor
Data vektor adalah data yang direkam dalam bentuk koordinat
titik yang menampilkan, menempatkan dan menyimpan data spasial
dengan menggunakan titik, garis atau area (polygon) . Ada tiga tipe data
vector (titik, garis, dan polygon) yang bisa digunakan untuk
menampilkan informasi pada peta. Titik bisa digunakan sebagai lokasi
sebuah kota atau posisi tower radio. Garis bisa digunakan untuk
menunjukkan route suatu perjalanan atau menggambarkan boundary.
Poligon bisa digunakan untuk menggambarkan sebuah danau atau
sebuah Negara pada peta dunia. Dalam format vektor, bumi
direpresentasikan sebagai suatu mosaik dari garis (arc/line), poligon
(daerah yang dibatasi oleh garis yang berawal dan berakhir pada titik
yang sama), titik/ point (node yang mempunyai label), dan nodes
(merupakan titik perpotongan antara dua baris). Setiap bagian dari data
vector dapat saja mempunyai informasi-informasi yang bersosiasi satu
dengan lainnya seperti penggunaan sebuah label untuk menggambarkan
informasi pada suatu lokasi. Peta Vektor terdiri dari titik, garis, dan area
polygon. Bentuknya dapat berupa peta lokal jalan.

Kelebihan dan Kekurangan Data Raster dan Data Vektor


a. Data Raster
Kelebihan Data Raster:
1) Memiliki struktur data yang sederhana
2) Mudah dimanipulasi dengan menggunakan fungsi-fungsi
matematis sederhana
3) Teknologi yang digunakan cukup murah dan tidak begitu
kompleks sehingga pengguna dapat membuat sendiri program
aplikasi yang mengunakan citra raster.
4) Compatible dengan citra-citra satelit penginderaan jauh dan
semua image hasil scanning data spasial.
5) Overlay dan kombinasi data raster dengan data inderaja mudah
dilakukan

10
6) Memiliki kemampuan-kemampuan permodelan dan analisis
spasial tingkat lanjut
7) Metode untuk mendapatkan citra raster lebih mudah
8) Gambaran permukaan bumi dalam bentuk citra raster yang
didapat dari radar atau satelit penginderaan jauh selalu lebih
actual dari pada bentuk vektornya
9) Prosedur untuk memperoleh data dalam bentuk raster lebih
mudah, sederhana dan murah.
10) Harga system perangkat lunak aplikasinya cenderung lebih
murah.

Kekurangan Data Raster :

1) Secara umum memerlukan ruang atau tempat menyimpan


(disk) yang besar dalam computer, banyak terjadi redudacy
data baik untuk setiap layer-nya maupun secara keseluruhan.
2) Penggunaan sel atau ukuran grid yang lebiih besar untuk
menghemat ruang penyimpanan akan menyebabkan
kehilangan informasi dan ketelitian.
3) Sebuah citra raster hanya mengandung satu tematik saja
sehingga sulit digabungkan dengan atribut-atribut lainnya
dalam satu layer.
4) Tampilan atau representasi dan akurasi posisi sangat
bergantung pada ukuran pikselnya (resolusi spasial).
5) Sering mengalami kesalahan dalam menggambarkan bentuk
dan garis batas suatu objek, sangat bergantung pada resolusi
spasial dan toleransi yang diberikan.
6) Transformasi koordinat dan proyeksi lebih sulit dilakukan
7) Sangat sulit untuk merepresentasikan hubungan topologi (juga
network).
8) Metode untuk mendapatkan format data vector melalui proses
yang lama, cukup melelahkan dan relative mahal.
b. Data Vektor

11
Kelebihan Data Vektor :
1) Memerlukan ruang atau tempat menyimpan yang lebih
sedikit di computer.
2) Satu layer dapat dikaitkan dengan atau mengunakan atribut
sehingga dapat menghemat ruang penyimpanan secara
keseluruhan.
3) Dengan banyak atribut yang banyak dikandung oleh satu
layer, banyak peta tematik lain yang dapat dihasilkan sebagai
peta turunannya.
4) Hubungan topologi dan network dapat dilakukan dengan
mudah.
5) Memiliki resolusi spasial yang tinggi.
6) Representasi grafis data spasialnya sangat mirip dengan peta
garis buatan tangan manusia.
7) Memiliki batas-batas yang teliti, tegas dan jelas sehingga
sangat baik untuk pembuatan peta-peta administrasi dan
persil tanah milik.
8) Transformasi koordinat dan proyeksi tidak sulit dilakukan.

Kekurangan Data Vektor :

1) Memiliki struktur data yang kompleks.


2) Datanya tidak mudah untuk dimanipulasi.
3) Pengguna tidak mudah berkreasi untuk membuat
programnya sendiri untuk memenuhi kebutuhan aplikasinya.
Hali ini disebabkan oleh struktur data vector yang lebih
kompleks dan prosedur fungsi dan analisisnya memerlukan
kemampuan tinggi karena lebih sulit. Pengguna harus
membeli system perangkat lunaknya karena teknologinya
masih mahal. Prosedurnyapun terkadang lebih sulit.
4) Karena proses keseluruhan untuk mendapatkannya lebih
lama, peta vector seringkali mengalami out of date atau
kadaluarsa.

12
5) Memerlukan perangkat keras dan perangkat lunak yang lebih
mahal.
6) Overlay beberapa layers vector secara simultan memerlukan
waktu yang relative lama.

F. Aplikasi dan Pemanfaatan SIG (Sistem Informasi Geografis )


Dapat dimanfaatkan untuk mempermudah dalam mendapatkan
data-data yang telah diolah dan tersimpan sebagai atribut suatu lokasi atau
obyek. Data-data yang diolah dalam SIG pada dasarnya terdiri dari data
spasial dan data atribut dalam bentuk dijital. Sistem ini merelasikan data
spasial (lokasi geografis) dengan data non spasial, sehingga para
penggunanya dapat membuat peta dan menganalisa informasinya dengan
berbagai cara. SIG merupakan alat yang handal untuk menangani data
spasial, dimana dalam SIG data dipelihara dalam bentuk digital sehingga
data ini lebih padat dibanding dalam bentuk peta cetak, table, atau dalam
bentuk konvensional lainya yang akhirnya akan mempercepat pekerjaan dan
meringankan biaya yang diperlukan (Barus dan Wiradisastra, 2000 dalam
As Syakur 2007). Ada beberapa alasan yang mendasari mengapa perlu
menggunakan SIG, menurut Anon (2003, dalam As Syakur 2007) alasan
yang mendasarinya adalah:
1. SIG menggunakan data spasial maupun atribut secara terintergarsi
2. SIG dapat memisahkan antara bentuk presentasi dan basis data
3. SIG memiliki kemampuan menguraikan unsure-unsur yang ada
dipermukaan bumi ke dalam beberapa layer atau coverage data spasial
4. SIG memiliki kemampuan yang sangat baik dalam menvisualisasikan
data spasial berikut atributnya
5. Semua operasi SIG dapat dilakukan secara interaktif 6. SIG dengan
mudah menghasilkan peta -peta tematik
6. SIG sangat membantu pekerjaan yang erat kaitanya dengan bidang
spasial dan geoinformatika. Posisi GIS dengan segala
kelebihannya, semakin lama semakin berkembang bertambah dan
bervarian.
13
Gambar 4. Contoh aplikasi SIG dalam 3 dimensi

Gambar 5 . Contoh Aplikasi SIG jalan di Web browser

G. Aplikasi GIS dalam Teknik Sipil


Pengaplikasian SIG dalam bidang keteknik sipilan secara nyata
dapat dilihat dari contoh rencana pembukaan suatu lahan baru di suatu
daerah untuk dijadikan suatu perumahan. Pertama-tama database untuk
daerah yang akan dijadikan permukiman tersebut telah diperoleh dari BPN
di kabupaten dimana daerah tersebut berada. Database mengenai daerah ini
tentunya sudah merupakan bentuk peta digital dengan data-data atributnya,
seperti data tanah, data banjir, data hujan, data lereng, dan data-data lainnya
yang diperlukan untuk merencanakan suatu perumahan.
Database yang telah diperoleh dari kabupaten dimana daerah
tersebut berada sudah berupa peta digital, yang dalam hal ini menggunakan
perangkat lunak ArcView GIS 3.2. Peta digital kabupaten tesebut kemudian
ditampilkan ke dalam view. Daerah yang akan dibangun perumahan
tersebut dipanggil/ditampilkan ke dalam view yang sama dengan
menggunakan query .

14
Peta daerah tersebut kemudian dirubah skalanya menjadi 1 : 5000
dan rencana-rencana pembangunan perumahan diplotkan/dimasukkan ke
dalam peta tersebut dengan mendigitasi lokasi-lokasi rumah, jalan, tiang
listrik dan perencanaan lainnya. Setelah selesai, diperoleh peta perencanaan
pembangunan perumahan sekaligus dengan data-data atribut di daerah
tersebut. Peta perencanaan pembangunan perumahan tersebut dapat
dihasilkan dalam bentuk hardcopy dengan mencetaknya menggunakan
printer. Dan bila diperlukan secara langsung data-data atributnya dapat juga
dicetak dengan printer. Hal ini lebih memudahkan dibanding merencanakan
dengan menggunakan peta analog dari masing-masing data yang
diperlukan, dan memplotkan rencana pembangunan perumahan tersebut
satu persatu ke dalam peta-peta analog tersebut.
Cara ini membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan
memplotkan/memasukkan rencana pembangunan perumahan ke dalam peta
digital yang telah lengkap dengan data-data atribut yang dibutuhkan dalam
perencanaan.

H. Aplikasi Sistem Informasi Geografis dalam transportasi di Indonesia


Salah satu contoh penerapan aplikasi GIS di bidang trasportasi yaitu
Kementrian Perhubungan.Kementerian Perhubungan membangun Sistem
Informasi Geografis (SIG) Prasarana Transportasi sebagai simpul yang
berperan dalam pengumpulan, pengolahan serta penyajian data baik yang
bersifat spasial maupun non – spasial.

Aplikasi peta di atas adalah salah satu contoh layanan peta prasarana
transportasi berbasis web yang dipublikasikan oleh Pusat Data dan

15
Informasi Sekretariat Jenderal Kementerian Perhubungan. Layer Peta Dasar
yang digunakan didapat dari Web Map Service Google inc. Layer Prasarana
Transportasi diambil dari layanan Map Service Kementerian Perhubungan
Republik Indonesia yang terintegrasi dengan SIG Prasarana Transportasi
Kemenhub secara keseluruhan, sehingga data tersebut merupakan data
terbaru dan resmi.
Selain layanan peta berbasis web, melalui portal ini, masyarakat
maupun instansi lain dapat memanfaatkan layanan Web Map Service yang
dapat di-interoperabilitaskan dengan aplikasi lainnya. Portal ini juga
merupakan salah satu bentuk partisipasi Kementerian Perhubungan dalam
simpul Jaringan Data Spasial Nasional berdasarkan Peraturan Presiden
(Perpres) No. 85 Tahun 2007.
Portal ini juga menyajikan data prasarana perhubungan berbentuk
tabular seperti data terminal, bandara, pelabuhan dll. Serta data-data statistik
secara on-line terkait prasarana transportasi dan beberapa data pendukung
terkait. Data-data tersebut berbentuk data tabular, grafik dan spasial.
Berikut ini layanan yang disediakan pada aplikasi GIS tersebut:
Peta Prasarana Transportasi Perhubungan
Pemetaan prasarana perhubungan yang dipisahkan berdasarkan moda
transportasinya yakni darat, laut, udara dan keretaapi. Dari masing-masing moda
transportasi tersebut terdapat beberapa jenis prasarana transportasi terkait.
Peta ditampilkan dengan menggabungkan beberapa layer termasuk layer peta dasar
wilayah administratif Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Web Map Service Kementerian Perhubungan


Web Map Service (WMS) adalah protokol standar untuk melayani images peta
bergeoreferensi melalui internet yang dihasilkan oleh server peta (map server)
menggunakan data dari database SIG. Spesifikasi ini dikembangkan dan diterbitkan
pertama kali oleh Open Geospatial Consortium (OGC) pada tahun 1999.

Kementerian Perhubungan sebagai salah satu simpul dari Jaringan Data Spasial
Nasional (JDSN), melalui Pusat Data dan Informasi menerbitkan WMS terkait

16
prasarana transportasi perhubungan di wilayah Republik Indonesia. WMS tersebut
dapat di-interoperabilitaskan dengan aplikasi berbasis web baik di dalam maupun
di luar lingkungan Kementerian Perhubungan dan bertautan dengan JDSN. Salah
satu contoh website yang memanfaatkan WMS Kemenhub adalah
www.InformasiBandara.org.

Simpul Jaringan Data Spasial Nasional


Sistem Informasi Geografis Prasarana Transportasi, sebagai salah satu simpul dari
Jaringan Data Spasial Nasional (JDSN), merupakan langkah yang strategis dalam
pembangunan infrastruktur data spasial nasional. Tautan di bawah ini merupakan
tautan yang mengaitkan JDSN di masing-masing instansi pemerintahan.

Statistik Perhubungan
Sektor Perhubungan adalah salah satu sektor yang penting dan menentukan dalam
menunjang suksesnya pelaksanaan pembangunan di Indonesia. Untuk mengetahui
kinerja Sektor Perhubungan dapat dilihat melalui data-data yang
terdokumentasikan.

17
Halaman ini menampilkan data-data statistik secara on-line terkait prasarana
transportasi dan beberapa data pendukung terkait. Data-data tersebut berbentuk data
tabular, grafik dan spasial. Data-data statistik tersebut terdiri dari:

 Perhubungan Darat
 Statistik Perhubungan Laut
 Statistik Perhubungan Udara
 Statistik Perhubungan Perkeretaapian
 Data Pendukung

Untuk keterangan lebih lanjut mengenai data-data diatas dapat menghubungi


gis@dephub.go.id

Data Prasarana Perhubungan


Menampilkan Data Prasarana Perhubungan secara tabular. Anda dapat mencari data
prasarana berdasarkan kata kunci nama prasarana, provinsi, nama kota, serta
pengelola data yang berwenang atas prasarana tersebut.
Data-data yang disajikan diantaranya adalah:

Prasarana Transportasi Darat

 Terminal
 Penyeberangan
 UPPKB

Prasarana Transportasi Laut

 Pelabuhan

Prasarana Transportasi Udara

 Bandara

Prasarana Transportasi Keretaapi

 Stasiun Keretaapi

18
PENUTUP
1. Kesimpulan
Sistem Informasi Geografis sebagai suatu sistem yang berbasis
komputer dan memiliki kemampuan dalam menangani data bereferensi
geografis yaitu penyimpanan data, manajemen data (penyimpanan dan
pemanggilan kembali), manipulasi dan analisis data, serta keluaran sebagai
hasil akhir (output). Hasil akhirnya dapat dijadikan acuan untuk pengambilan
keputusan.SIG bisa menjadi alat yang sangat penting pada pengambilan
keputusan untuk pembangunan berkelanjutan. Karena SIG memberikan
informasi pada pengambil keputusan untuk analiss dan penerapan database
keruangan. Saat ini SIG sudah dimanfaatkan oleh berbagai disiplin ilmu
seperti ilmu kesehatan, ilmu ekonomi, ilmu lingkungan, ilmu pertanian dan
lain sebagainya. Beberapa aplikasi dari SIG antara lain adalah untuk
perencanana fasilitas kota, pengeloaan sumber daya alam, jaringan
telekomunikasi dan juga untuk manajemen transportasi.

2. Saran
Sejalan dengan simpulan di atas, penulis merumuskan saran sebagai berikut:
1. Dosen hendaknya dapat memberikan penjelasan yang dapat
dimengerti oleh para mahasiswanya ketika masuk kepada Sistem
Informasi Geografis (GIS).
2. Mahasiswa hendaknya belajar memahami serta banyak membaca
khususnya mengenai materi Sistem Informasi Geografis (GIS) ini,
agar ada korelasi dari apa yang dijelaskan oleh dosen.

19
DAFTAR PUSTAKA

Wikipedia. 2016. Sistem Informasi Geografis [online]. Diakses dari


https://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_informasi_geografis. [Dikutip
pada 22 Mei 2016. 20.09 WIB].

Tanpa Nama. 2011. Artikel GIS untuk Teknik Survei dan Pemetaan [online].
Diakses dari http://zulnyablog.blogspot.co.id/2011/07/artikel-gis-
grographic-information.html. [Dikutip pada 22 Mei 2016. 20.15 WIB].

Tanpa Nama. 2013. Aplikasi GIS [online]. Diakses dari


https://aplikasigis.wordpress.com/category/artikel/. [Dikutip pada 22
Mei 2016. 20.45 WIB].

20