Anda di halaman 1dari 48

LAPORAN

PRAKTIK KLINIK KEPERAWATAN ANAK

ASUHAN KEPERAWATAN An. S DENGAN DIAGNOSA BRONCHOPNEUMONIA

DI RUANG CENDANA RS KENCANA SERANG

MAHASISWA PROGRAM PENDIDIKAN NERS


TAHAP PROFESI

Koordinator MA :

Ns. Riris Andriati, S.Kep., M. Kep

Di susun Oleh :

NAMA : MOCH DHARMAWAN

NIM : 191030200137

PROGRAM PROFESI NERS KEPERAWATAN


STIKES WIDYA DHARMA HUSADA TANGERANG
TAHUN AJARAN 2019/2020
LAPORAN PENDAHULUAN
BRONKOPNEUMONIA PADA ANAK

A. PENGERTIAN
Bronchopneumoni merupakan salah satu jenis pneumonia yang
memiliki pola penyebaran berbercak, teratur dalam satu atau lebih area
terlokalisasi di dalam bronchi & meluas ke parenkim paru yang berdekatan
di sekitarnya (Smeltzer & Suzanne C, 2002). Bronkopneumonia menurut
Ngastiyah (1997) merupakan salah satu pembagian dari pneumonia menurut
dasar anatomis. Pneumonia adalah radang paru-paru yang dapat disebabkan
oleh bermacam-macam, seperti bakteri, virus, jamur, dan benda-benda asing
(Ngastiyah, 1997).
Pneumonia merupakan peradangan alveoli atau pada parenchim paru
yg umumnya terjadi pada anak. (Suriadi Yuliani, 2001). Pneumonia ialah
suatu peradangan yg mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus
terminalis yg mencakup bronkiolus respiratorius, alveoli, serta dapat
menimbulkan konsolidasi jaringan paru & menimbulkan gangguan
pertukaran gas setempat. (Zul, 2001).

B. ETIOLOGI
1. Bakteri : Pneumokokus merupakan penyebab utama pneumonia, dimana
pada anak-anak serotipe 14, 1, 6, dan 9, Streptokokus dimana pada anak-
anak dan bersifat progresif, Stafilokokus, H. Influenza, Klebsiela, M.
Tuberkulosis, Mikoplasma pneumonia.
2. Virus : Virus adeno, Virus parainfluenza, Virus influenza, Virus
respiratori sinsisial.
3. Jamur : Kandida, Histoplasma, Koksidioides.
4. Protozoa : Pneumokistis karinii. Biasanya menjangkiti pasien yang
mengalami immunosupresi (Reeves, 2000)
5. Bahan kimia :
a. Aspirasi makanan/susu/isi lambung
b. Keracunan hidrokarbon (minyak tanah, bensin, dan sebagainya).

C. KLASIFIKASI
Berikut merupakan klasifikasi pneumonia :
1. Community Acquired Pneunomia dimulai juga sebagai penyakit
pernafasan umum & dapat berkembang menjadi sebuah pneumonia.
Pneumonia Streptococal ialah suatu organisme penyebab umum. Type
pneumonia ini umumnya menimpa kalangan anak-anak atau kalangan
orang lanjut usia
2. Hospital Acquired Pneumonia dikenal juga sebagai pneumonia
nosokomial. Organisme seperti ini ialah suatu aeruginisa pseudomonas.
Klibseilla / aureus stapilococcus, ialah bakteri umum penyebab hospital
acquired pneumonia.
3. Lobar & Bronkopneumonia dikategorikan berdasarkan lokasi anatomi
infeksi. Saat Ini ini pneumonia diklasifikasikan berdasarkan organisme,
bukan cuma menurut lokasi anatominya.
4. Pneumonia viral, bakterial & fungi dikategorikan berdasarkan dari agen
penyebabnya, kultur sensifitas dilakukan untuk dapat
mengidentifikasikan organisme perusak.(Reeves, 2001).

D. MANIFESTASI KLINIK
Bronchopneumonia biasanya didahului oleh suatu infeksi di saluran
pernafasan bagian atas selama beberapa hari. Pada tahap awal, penderita
bronchopneumonia mengalami tanda dan gejala yang khas seperti menggigil,
demam, nyeri dada pleuritis, batuk produktif, hidung kemerahan, saat
bernafas menggunakan otot aksesorius dan bisa timbul sianosis (Barbara C.
long, 1996). Terdengar adanya krekels di atas paru yang sakit dan terdengar
ketika terjadi konsolidasi (pengisian rongga udara oleh eksudat).
Tanda gejala yang muncul pada bronkopneumonia adalah:
1. Kesulitan dan sakit pada saat pernafasan
a. Nyeri pleuritik
b. Nafas dangkal dan mendengkur
c. Takipnea
2. Bunyi nafas di atas area yang menglami konsolidasi
a. Mengecil, kemudian menjadi hilang
b. Krekels, ronki,
c. Gerakan dada tidak simetris
3. Menggigil dan demam 38,8 ° C sampai 41,1°C, delirium
4. Diafoesis
5. Anoreksia
6. Malaise
7. Batuk kental, produktif Sputum kuning kehijauan kemudian berubah
menjadi kemerahan atau berkarat
8. Gelisah
9. Sianosis Area sirkumoral, dasar kuku kebiruan
10. Masalah-masalah psikososial : disorientasi, ansietas, takut mati (Martin
tucker, Susan. 2000)

E. PATOFISIOLOGI
Sebagian besar penyebab dari bronkopneumonia ialah
mikroorganisme (jamur, bakter, virus) & sebagian kecil oleh penyebab lain
seperti hidrokarbon (bensin, minyak tanah, & sejenisnya). Serta aspirasi
(masuknya isi lambung ke dalam saluran napas). Awalnya mikroorganisme
dapat masuk melalui percikan ludah (droplet) infasi ini dapat masuk ke
saluran pernapasan atas & menimbulkan reaksi imunologis dari tubuh.
Reaksi ini menyebabkan peradangan, di mana ketika terjadi peradangan ini
tubuh dapat menyesuaikan diri maka timbulah gejala demam pada penderita.
Reaksi peradangan ini dapat menimbulkan secret. Semakin lama sekret
semakin menumpuk di bronkus maka aliran bronkus menjadi semakin
sempit & pasien dapat merasa sesak. Tidak Hanya terkumpul di bronkus,
lama kelamaan secret dapat sampai ke alveolus paru & mengganggu sistem
pertukaran gas di paru. Tidak Hanya menginfeksi saluran napas, bakteri ini
dapat juga menginfeksi saluran cerna ketika ia terbawa oleh darah. Bakteri
ini dapat membuat flora normal dalam usus menjadi agen patogen sehingga
timbul masalah GI tract.
Bagan Pathway

F. KOMPLIKASI
1. Emfisema : terdapatnya pus pada rongga pleura.
2. Atelektasis : pengembangan paru yang tidak sempurna.
3. Abses paru : pengumpulan pus pada jaringan paru yg mengalami
peradangan.
4. Meningitis : peradangan pada selaput otak.
5. Infeksi sistomik
6. Endokarditis : peradangan pada endokardium.
G. PEMERIKSAAN
1. Pemeriksaan Laboratorium
a. Leukosit meningkat mencapai 15.000-40.000/mm3
b. Laju endap darah meningkat mencapai 100mm
c. Urin biasanya berwarna lebih tua, mungkin terdapat adanya albumin
urin ringan
lantaran adanya peningkatan suhu tubuh.
d. ASTO meningkat pada adanya infeksi streptococcus.
e. GDA menunjukkan adanya hipoksemia tanpa hiperkapnea atau sebuah
retensi CO2
2. Pemeriksaan Radiologi
Tampak adanya bercak- bercak pada bronkus hingga lobus.

H. PENATALAKSANAAN
1. Terapi oksigen (O2)
2. Antibiotic seperti ; penisilin, kindomisin, eritromicin, dan sefalosforin.
Pada penyakit yang ringan, mungkin virus tidak perlu antibiotic. Pada
penderita yang rawat inap (penyakit berat) harus segera diberi antibiotic.
Pemilihan jenis antibiotic didasarkan atas umur, keadaan umum penderita
dan dugaan kuman penyebab.
a. Umur 3 bulan-5 tahun, bila toksis mungkin disebabkan oleh
Streptokokus pneumonia, Hemofilus influenza atau Stafilokokus. Pada
umumnya tidak dapat diketahui kuman penyebabnya, maka secara
praktis dipakai :
Kombinasi :
Penisilin prokain 50.000-100.000 KI/kg/24jam IM, 1-2 kali sehari,
dan Kloramfenikol 50-100mg/kg/24 jam IV/oral, 4 kali sehari.
atau kombinasi :
Ampisilin 50-100 mg/kg/24 jam IM/IV, 4 kali sehari dan Kloksasilin
50 mg/kg/24 jam IM/IV, 4 kali sehari.
atau kombinasi :
Eritromisin 50 mg/kg/24 jam, oral, 4 kali sehari dan Kloramfenikol
(dosis sda).
b. Umur < bulan, biasanya disebabkan oleh : Streptokokus pneumonia,
Stafilokokus atau Entero bacteriaceae.
Kombinasi :
Penisilin prokain 50.000-100.000 KI/kg/24jam IM, 1-2 kali sehari,
dan Gentamisin 5-7 mg/kg/24 jam, 2-3 kali sehari.
atau kombinasi :
Kloksasilin 50 mg/kg/24 jam IM/IV, 4 kali sehari dan Gentamisin 5-7
mg/kg/24 jam, 2-3 kali sehari.
Kombinasi ini juga diberikan pada anak-anak lebih 3 bulan dengan
malnutrisi berat atau penderita immunocompromized.
c. Anak-anak > 5 tahun, yang non toksis, biasanya disebabkan oleh :
Streptokokus pneumonia :
- Penisilin prokain IM atau
- Fenoksimetilpenisilin 25.000-50.000 KI/kg/24 jam oral, 4 kali
sehari atau
- Eritromisin (dosis sda) atau
- Kotrimoksazol 6/30 mg/kg/24 jam, oral 2 kali sehari.
Mikoplasma pneumonia : Eritromisin (dosis sda).
d. Bila kuman penyebab dapat diisolasi atau terjadi efek samping obat
(misalnya alergi) atau hasil pengobatan tidak memuaskan, perlu
dilakukan reevaluasi apakah perlu dipilih antibiotic lain.
e. Lamanya pemberian antibiotic bergantung pada :
- kemajuan klinis penderita
- jenis kuman penyebab
3. Nebulizer, agar dapat mengencerkan dahak yang kental dan pemberian
bronkodilator.
4. Kemoterafi untuk mikoplasma pneumonia dapat diberikan therapy
eritromicin 4x 500 mg / hari atau tetrasiklin 3-4 x 500mg/ hari.
5. Istirahat yang cukup.

I. PENCEGAHAN
1. Hindari anak dari adanya paparan asap rokok, polusi dan tempat
keramaian yang berpotensi terjadinya penularan.
2. Hindari kontak langsung anak dengan penderita ISPA
3. Membiasakan melakukan pemberian ASI
4. Segera berobat apabila terjadi demam, batuk, dan pilek, terlebih disertai
suara sesak dan sesak pada anak.
5. Imunisasi Hb untuk kekebalan terhadapa hameophilus influenza.

J. ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
a. Identitas.
b. Riwayat Keperawatan.
1) Keluhan utama.
Biasanya anak sangat gelisah, terjadi dispnea, pernapasan cepat dan
dangkal, diserai adanya pernapasan cuping hidupng, serta sianosis
disekitar hidung & mulut. Kadang disertai muntah serta diare, tinja
berdarah dengan atau tanpa adanya lendir, dan anoreksia
2) Riwayat penyakit sekarang.
Bronkopneumonia umumnya didahului oleh infeksi saluran
pernapasan pada bagian atas selama beberapa hari. Suhu tubuh bisa
saja meningkat sangat mendadak mencapai 39-40oC dan kadang
pula disertai adanya kejang akibat demam yang tinggi.
3) Riwayat penyakit dahulu.
Biasanya pernah menderita penyakit infeksi yang menyebabkan
menurunnya sistem imun
4) Riwayat kesehatan keluarga.
Apabila ada anggota keluarga yg menderita penyakit ispa mka
keluarga lain dapat tertular.
5) Riwayat kesehatan lingkungan.
Pneumonia umumnya sering terjadi pada musim hujan dan awal
musim semi. Selain itu pemeliharaan kesehatan & kebersihan
lingkungan yg kurang juga dapat menyebabkan anak menderita
sakit.
6) Imunisasi.
Anak yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap sangat beresiko
tinggi untuk mendapat penyakit ispa atas atau bawah lantaran sistem
pertahanan tubuh yang tidak cukup kuat untuk dapat melawan
infeksi sekunder.
c. Pemeriksaan persistem.
1) Sistem kardiovaskuler.
Takikardi, iritability.
2) Sistem pernapasan.
Adanya sesak napas, retraksi dada, pernapasan cuping hidung, ,
takipnea, ronki, wheezing, batuk produktif atau non produktif,
pernapasan tidak teratur/ireguler, pergerakan dada asimetris, perkusi
redup pada daerah terjadinya konsolidasi, terdapat adanya
sputum/sekret.
3) Sistem pencernaan.
Anak biasanya malas minum/makan, muntah, berat badan
mengalami penurunan, lemah.
4) Sistem eliminasi.
Anak atau bayi menderita diare, atau dehidrasi, orang tua mungkin
belum bisa memahami mengenai alasan anak menderita diare sampai
terjadi adanya dehidrasi (ringan sampai berat).
5) Sistem saraf.
Biasanya anak mengalami demam, kejang, sakit kepala yang
ditandai dengan menangis terus pada anak-anak atau malas minum.
6) Sistem lokomotor/muskuloskeletal.
Tonus otot menurun, lemah secara umum,
7) Sistem endokrin.
Tidak ada kelainan atau masalah.
8) Sistem integumen.
Turgor kulit menurun, membran mukosa kering, sianosis, pucat,
akral hangat, kulit kering.
9) Sistem penginderaan.
Tidak ada masalah attau kelainan.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
- Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan produk
mukus berlebihan dan kental, batuk tidak efektif.
- Hipertermi berhubungan dengan adanya bakteri dan infeksi virus
- Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara
pemasukan dan pengeluaran oksigen.
3. INTERVENSI KEPERAWATAN
N Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi
o Keperawatan hasil
1. Bersihan jalan Setelah dilakukan 1. Latihan batuk efektif
Tindakan :
nafas tindakan keperawatan
Observasi
berhubungan dalam waktu 2x 24
- identifikasi kemampuan batuk
dengan jam,diharapkan
- monitor adanya retensi sputum
hipersekresi masalah bersihan jalan
- monitor tanda dan gejala infeksi
jalan nafas napas tidak efektif
saluran napas
teratasi dengan kriteria
- monitor input dan output cairan
hasil : bersihan jalan
(mis. Jumlah dan karakteristik )
napas :
Terapeutik
- Batuk efektif
- atur posisi semi fowler atau
meningkat 5
fowler
- Produksi sputum
- pasang perlak dn bengkok
menurun 5
dipangkuan pasien
- Ronchi menurun 5
- buang sekret pada tempat sputum
- Gelisah menurun 5
Edukasi
- Frekuensi napas
- jelaskan tujuan dan prosedur
membaik 5
batuk efektif
- anjurkan tarik napas dalam
melalui hidung selama 4 detik,
ditahan selama 2 detik, kemudian
keluarkan dari mulut dengan bibir
mencucu ( dibulatkan ) selama 8
detik
- anjurkan mengulangi tarik napas
dalam hngga 3 kali
- anjurkan batuk dengan kuat
langsung setelah tarik napas
dalam yang ke 3
Kolaborasi
- kolaborasi pemberian mukolitik
atau ekspektoran, jika perlu

2. manajemen jalan napas


Tindakan :
Observasi
- monitor pola napas (frekuensi,
kedalamam, usaha napas )
- monitor bunyi napas tambahan
( mis. Gurgling,mengi, wheezing,
ronchi kering )
- monitor sputum ( jumlah, warna,
aroma )
Terapeutik
- pertahankan kepatenan jalan
napas dengan head-tilt dan chin-
lift (jaw-trust jika curiga trauma
servikal )
- posisikan semi fowler atau fowler
- berikan minum hangat
- lakukan fisiotherapi dada, jika
perlu
- lakukan penghisapan lendir
kurang dari 15 detik
- lakukan hiperoksigenesai sebelum
penghisapan ebdotrakeal
- keluarkan sumbatan benda padat
dengan forsep McGill
- berikan oksigen, jika perlu

Edukasi
- anjurkan asupan cairan
2000ml/hari, jika tidak
kontraindikasi
- ajarkan teknik batuk efektif
Kolaborasi
kolaborasi pemberian
bronkodilator,mukolitik jika di
perlukan.

2. Hipertermia Setelah dilakukan Manajemen hipertermia :


Tindakan
berhubungan tindakan keperawatan
Observasi
dengan proses selama 2 x 24 jam - Identifikasi penyebab hipertermi
penyakit diharapkan masalah (misal: dehidrasi)
- Monitor suhu tubuh
Hipertermi dapat
- Monitor kadar elektrolit
teratasi dengan kriteria - Monitor haluaran urine
- Monitor komplikasi akibat
hasil :
hipertermia
- Menggigil menurun
Terapeutik
(5)
- Suhu tubuh
membaik (5) - Sediakan lingkungan yang dingin
- Suhu kulit - Longgarakan atau lepaskan
membaik(5 ) pakaian
- Tekanan darah - Basahi dan kipasi permukaan
membaik ( 5 ) tubuh
- Berikan cairan oral
- Ganti linen setiap hari atau lebih
sering jika mengalami
hyperhidrosis (keringat
berlabihan)
- Lakukan pendinginan eksternal
(mis: selimut hipotermia atau
kompres dingin pada dahi, leher,
dada, abdomen, aksila)
- Hindari pemberian anti piretik
atau aspirin
- Berikan oksigen, jika perlu

Edukasi

- Anjurkan tirah baring

Kolaborasi

- Kolaborasi pemberian cairan dan


elektrolit intravena, jika perlu

3. Defisit nutrisi Setelah dilakukan Manajemen nutrisi :


Tindakan
berhubungan tindakan keperawatan
Observasi :
dengan selama 2 x 24 jam - Identifikasi status nutrisi
- Identifikasi alergi dan intoleransi
kurangnya diharapkan masalah
makanan
asupan deficit nutrisi dapat
- Identifikasi makanan yang di
makanan teratasi dengan kriteria
sukai
hasil : - Monitor asupan makanan
- Monitor hasil pemeriksaan
- Porsi makanan yang laboratorium
dihabiskan
Meningkat (5) Teurapetik
- Pengetahuan tentang
pilihan makanan - Lakukan oral hygene sebelum
yang sehat makan, jika perlu
- Sajikan makanan secara menarik
meningkat ( 5 )
- Pengetahuan tentang dan suhu yang sesuai
- Berikan makanan tinggi serat
pilihan minuman
untuk mencegah konstipasi
yang sehat
- Berikan makanan tinggi kalori
meningkat ( 5 )
dan tinggi protein
- Frekuensi makan
- Berikan suplemen makanan, jika
membaik ( 5 )
perlu
- Nafsu makan
membaik (5)
- Bising usus Edukasi
membaik (5)
- Membran mukosa - Ajurkan posisi duduk, jika perlu
- Ajarkan diet yang di programkan
membaik (5)
Kolaborasi

- Kolaborasi pemberian medic


sebelum makan ( mis : pereda
nyeri,antiemetic) jika perlu
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
menentukan jumlah kalori dan
jenis nutrient yang dibutuhkan,
jika perlu

Manajemen imunisasi/vaksinasi
4. Risiko infeksi Setelah dilakukan Tindakan
berhubungn tindakan keperawatan Observasi
dengan selama 3x24 jam risiko -Identifikasi riwayat kesehatan dan
penyakit kronis infeksi tidak terjadi riwayat alergi
dengan kreiteria hasil -Identifikasi riwayat pemberian
imunisasi (mis.reaksi anafilaksis
- Kebersihan tangan
terhadap vaksin sebelumnya atau
sakit parah dengan atau tanpa
meningkat (5)
demam)
- Kebersihan badan - identifikasi status imunisasi setiap
meningkat (5) kunjungan kepelayanan kesehatan.
Terapeutik
- Nafsu makan
-Berikaan suntikan pada bayi di
meningkat (5)
bagian paha anterolateral
- Demam menurut -Dokumentasikan informasi
(5) vaksinasi (mis.nama
produsen,tanggal kadaruasa)
- Kemerahan
- jadwalkan imunisasi pada interval
menurun (5)
waktu yang tepat.
- Nyeri menurun (5) Edukasi
- jelaskan tujuan,manfaat reaksi yang
terjadi,jadwal dan efek samping.
- Informasikan imunisasi yang
diwajibkan pemerintah
( mis.Hepatitis
B,BCG,difteri,tetanus,pertussis,H.inf
luensa,polio,campak,measles,rubela)
-Informasikan imunisasi yang
melindungi terhadap penyakit namun
saat ini tidak diwajibkan pemerintah
(mis.influensa,pneumokokus)
-Informasikan vaksinasi untuk
kejadian khusus (mis.rabies,tetanus)
-Informasikan penundaan pemberian
imunisasi tidak berarti mengulang
jadwal imunisasi kembali.
-Informasikan penyedia layanan
pekan imunisasi nasional yang
menyediakan vaksin gratis.
Pencegahan infeksi
Tindakan
Observasi
- - Monitor tanda dan gejala infeksi
local dan sistemik
- Terapeutik
- - Batasi jumlah pengunjung
- - Berikan perawatan kulit pada area
edema
- - Cuci tangan sebelum dan sesudah
kontak dengan pasien dan
lingkungan pasien
- - Pertahankan teknik aseptic pada
pasien berisiko tinggi
- Edukasi
- - Jelaskan tanda dan gejala infeksi
- - Ajarkan cara mencuci tangan
dengan benar
- - ajarkan etika batuk
- - Ajarkan cara memeriksa kondisi
luka atau luka operasi
- - Anjurkan meningkatkan asupan
nutrisi
- - Anjurkan meningkatkan asupan
cairan
- Kolaborasi
- - Kolaborasi pemberian
imunisasi,jika perlu.

DAFTAR PUSTAKA

Martin Tucker, Susan. 2000. Standar Perawatan Pasien: Proses Keperawatan,


Diagnosis, dan Evaluasi. Jakarta: EGC

SDKI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta: Dewan


Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.

SIKI. (2017). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta: Dewan


Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.

SLKI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta: Dewan


Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
Smeltzer, Suzanne. 2000. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta:
EGC
Suriadi, Yuliani. 2001. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Jakarta: CV Sagung
Seto
Reevers, Charlene J et all. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta:
Salemba Medica

STIKES WIDYA DHARMA HUSADA


ILMU KEPERAWATAN ANAK DALAM KONTEKS KELUARGA

FORMAT PENGKAJIAN ANAK

I. Identitas Pasien Dan Orang Tua


Nama Anak : An . S Nama Ayah/ Ibu : Tn. Y / Ny. T
Tempat/ Tanggal lahir : Serang,01/11/18 Usia Ayah/ Ibu : 30 th/ 25 th
Usia : 9 bulan Agama : Islam
Jenis kelamin : Laki-laki Suku Bangsa : Jawa
Anak ke : 2 Alamat : Kragilan
Tanggal masuk : 18-11-2019 Pendidikan Ayah/ Ibu : SMA/SMA
Diagnosa Medis : BP Pekerjaan Ayah/ Ibu : Karyawan/IRT
II. Keluhan Utama
Batuk dan demam
III. Keadaan Sakit Saat Ini
Pasien datang dibawa oleh ibunya ke RS Kencana dengan keluhan batuk
sejak satu bulan sebelum masuk rumah sakit. Batuk di sertai dahak,ibu
pasien mengatakan sudah berobat ke klinik tapi batuk kembali
kambuh.Batuk disertai pilek.batuk tidak disertai sesak nafas.
Keluhan pasien disertai dengan demam sejak 1minggu sebelum masuk
rumah sakit.
Keluhan pasien dengan demam satu minggu sebelum masuk rumah sakit.
Demam dirasakan naik turun,demam turun karena diberi obat penurun
demam dan akan naik kembali kurang lebih 4 jam kemudian.
Demam tertinggi pada suhu 38,4℃ dan terendah pada suhu 36,5℃.Demam
tidak disertai mengigil dan juga tidak di sertai kejang.
Ibu pasien mengatakan anaknya tidak mau makan. Mual ada muntah 1x di
UGD .

IV. Riwayat Kehamilan dan Persalinan


1. Prenatal :Sebelumnya ibu pasien KB suntik selama dua tahun.Selama
hamil ibu kontrol rutin setiap 4 minggu di dokter SPOG tiap bulan sejak
usia kehamilan dua bulan,tidak imunisasi,USG diperiksakan mendapat
suplemen tambah darah dan vitamin
2. Intra Natal :
Anak lahir spontan pervagina di dokter Sp OG pada usia kehamilan 38
minggu,presentasi kepala, ketuban jernih,setelah lahir anak langsung
menangis gerak aktif,BBL 2800 gram dan panjang badan 48 cm
3. Post Natal :
Anak kontrol dan mendapat imunisasi di puskesmas
v. Riwayat Kesehatan Masa Lalu
1. Penyakit masa kanak-kanak
Ibu pasien mengatakan selama kanak-kanak anaknya tidak pernah sakit
parah.hanya demam biasa.
2. Pernah dirawat di RS
Pasien tidak pernah dirawat di Rumah Sakit
3. Obat-obatan yang digunakan
Bila anak demam hanya diberi paracetamol
4. Tindakan (Operasi)
Sebelumnya anak belum pernah mengalami tindakan operasi
5. Alergi
Pasien tidak pernah mengalami alegi obat dan makanan
6. Kecelakaan
Pasien tidak pernah mengalami kecelakaan

7. Imunisasi
Hepatitis B 1 kali, BCG 1 kali pada usia 2 minggu,DPT 4 kali pada usia
2,3,4 bulan polio 3 kali pada usia 2,3,4bulan,Campak pada usia 9 bulan

VI.Riwayat Keluarga (Disertai Genogram)


Genogram
Keterangan :
: Menikah
: Laki laki
: Perempuan
: Pasien

VII.Riwayat Sosial
1. Yang mengasuh
Anak diasuh oleh kedua orang tua
2. Hubungan dengan anggota keluarga
Hubungan anak dengan anggota keluarga yang lain baik
3. Hubungan dengan teman sebaya
Pasien sering di ajak bermain dengan teman sebayanya oleh ibu pasien
4. Pembawaan secara umum
Anak tampak tenang,jika ada orang asing anak menatapnya anak lebih
sering bersama ibunya.
5. Lingkungan rumah
Anak menempati rumah dengan dinding tembok,lantai
keramik,ventilasi dan penerangan cukup,kamar mandi dan jamban
sendiri,sumber air minum dari sumur

VIII.Kebutuhan Dasar
1. Makanan yang disukai/ tidak disukai
Ibu pasien mengatakan anaknya minum ASI mau dan makan nasi tim
Selera : ibu pasien mengatakan anaknya minum ASI
Alat makan yang dipakai : Pasien menggunakan piring sendok dan
gelas
Pola makan/ jam : Pasien makan 3x/hari ditambah buah
Makan pagi jam 06 30 wib
Makan buah jam 10 00 wib
Makan siang jam 12 00 wib
Makan buah atau snack ringan jam 16 00 wib
Makan malam jam 18 00 wib

2. Pola tidur
Anak tidur 9 jam sehari ,selama dalam perawatan anak susah tidur dan
sering terbangun pada malam hari. Lama tidur 8 jam sehari
Kebiasaan sebelum tidur (perlu mainan, dibacakan cerita, benda yang
biasa dibawa saat tidur, dll) : Anak mempunyai kebiasaan sebelum tidur
yaitu harus diusap punggungnya oleh ibu
Tidur siang : kurang lebih 2 jam

3. Mandi
Pasien Selama dirawat mandi/di lap dua kali pagi dan sore

4. Eliminasi
BAB 1x sehari warna kuning konsistensi lembek berbau khas
BAK 5-6x/hari warna kuning jernih berbsu khas.

5. Aktivitas bermain
Selama dirawat pasien aktivitas bermain pasien tidak ada masalah

XI. Keadaan Kesehatan Saat Ini


1. Diagnosa Medis
Bronchopenemonia

2. Tindakan Operasi
Tidak ada tindakan operasi

3. Status Nutrisi
Ibu pasien mengatakan anaknya tidak mau makan ,mual ada muntah 1x
saat di UGD,makan hanya 3 sendok
Diet makan lunak

4. Status Cairan
Infus terpaang tridek 10 tpm

5. Obat-obatan
Ceftriaxone 2x450 mg
Parasetamol 3x4ml

6. Aktifitas
Tidak ada masalah

7. Tindakan Keperawatan

8. Hasil Laboratorium
Hb 9,3 g/dl
Leucosit 19. 350 g
Ht 28 %
Trombosit 439. 000
Hasil Rontgen
Adanya spesifik proses belum dapat di inginkan

X. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan Umum
Keadaan umum : pasien tampak lemah
Kesadaran : Composmentis
Tanda vital : Nadi : 120x/mnt
Respirasi : 30x/mnt
Suhu : 38,4 ℃

2. TB/BB (percentile)
Berat badan : 10 kg
Panjang badan : 84,5 cm

3. Lingkar Kepala
44 cm
4. Mata
Edema palpebra (-), mata cekung (-), Konjungtiva anemis (-), ikterik
(-), pupil bulat isokor, refleks cahaya langsung & tidak langsung (+/
+).

5. Hidung
Bentuk normal, sekret yang keluar (-), POC (-), PCH (+).
6. Mulut
Bentuk normal, bibir kering kemerahan , lidah kotor (-)
7. Telinga
Bentuk normal, sekret yang keluar (-).
8. Tengkuk
Fungsi menelan baik ,tidak ada nyeri,tampak pembesaran kelenjar
thyroid dan tidak ada pembesaran vena jugularis
9. Dada
Tidak ada kelainan tampak simetris
10.Jantung
Inspeksi : iktus kordis tidak tampak
Palpasi : iktus kordis teraba pada sela iga ke 4 garis midclavicula kiri
Auskultasi : BJ I-II regular,murmur (-) gallop
11.Paru-paru
Bunyi nafas normal ( vesikuler )
12.Perut
Inspeksi : Simetris, Supel, Tampak cembung, Sikatrik (-)
Auskultasi : Bising usus (+)
Palpasi : Nyeri tekan (-), turgor kulit baik
Hepar : Hepar tidak teraba
Lien : Lien tidak teraba
13.Punggung
Tidak ada kelainan bentuk lordosis dan tidak ada nyeri
14.Genitalia
Tidak ditemukan kelainan,fungsi baik.
15.Ekstremitas
- Atas
Akral hangat,terpasang IV kanul tangan kanan,tonus otot baik,tidak
ada kelumpuhan,capillary refill time < 2 detik
- Bawah
Tonus otot baik,tidak ada kelumpuhan,dapat berjalan dengan baik
kaki kanan dan kiri simetris.
16.Kulit
Warna kulit sawo mateng,turgor kulit baik, kelembaban baik,sianosis
tidak ada,ikterik tidak ada dan petechie tidak ada
17.Tanda Vital
Suhu : 38,4℃
Nadi : 120x/mnt
Respirasi : 30x/mnt
XI.Pemeriksaan Tingkat Perkembangan
1. Kemandirian dan Bergaul
Pasien dapat bermain dengan temen sebaya
2. Motorik Halus
Pasien sudah mampu menggenggam benda contohnya pasien sudah bisa
mempertemukan dua kubus kecil yang ia pegang.
3. Kognitif dan Bahasa
Pasien sudah biasa bersuara 2 suku kata,misalnya ma-ma, da-da atau
pa-pa.
4. Motorik Kasar
Pasien sudah bias berdiri tanpa pegangan.
VII. Informasi lain
Tidak ada kelainan
VIII. Ringkasan Riwayat Keperawatan
Ibu pasien mengatakan anaknya batuk sejak satu bulan sebelum di rumah
sakit, batuk disertai dahak,filek ada, sesak tidak ada.Demam sudah satu
minggu, suhu : 38,4 ℃ Nadi : 120 x/mnt Respirasi : 30x/mnt. Ibu pasien
mengatakan anaknya tidak mau makan ,mual , muntah 1x di UGD.

XII Analisa Data

No Tgl/jam Data Penunjang Masalah Etiologi

1. 18-11- Ds : Keluarga mengatakan Bersihan jalan Hipersekresi


2019 anaknya batuk sudah 1 bulan nafas tidak jalan nafas
15 30
efektif
Do :
wib
- Batuk tidak
efektif
- Sputum berlebih
- Wheezing tidak
ada
- Ronkhi kering
ada
- Gelisah
- Suhu : 38,4 ℃
- Nadi : 120x/mnt
- Rr : 30x/mnt

2. 18-11- Ds :Keluarga mengatakan Hipertermi Proses


2019 anakny demam kurang lebih penyakit
15 30
sudah satu minggu,demam
wib
turun bila di berikan
parasetamol.

Do :
- Suhu 38,4 ℃
- Nadi 120x/mnt
- Rr 28x/mnt
- Pasien teraba hangat
- Kulit kemerahan
- Mukosa bibir kering

3 15-10- Ds : Keluarga mengatakan Defisit nutrisi Kurangnya


2019 anaknya tidak mau asupan
15 30
makan,mual ada muntah 1 makanan
wib
kali di UGD

Do :
. - Mual
- Muntah
- Makan hanya 3
sendok
- Bb=10 kg,
sebelum dirawat
11kg
4. 15-10- Ds : - Risiko infeksi Penyakit
2019 kronis
Do :
15 30
- Suhu 38,4℃
wib
- Leucosit 19. 350
g
- dahak

XIII Prioritas Masalah

1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan hipersekresi jalan


nafas
2. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit
3. Defisit nutrisi berhubungan dengan kurangnya asupan makanan
4. Risiko infeksi berhubungn dengan penyakit kronis

XIX Rencana Asuhan Keperawatan

N Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi


o Keperawatan hasil
1. Bersihan jalan Setelah dilakukan 1. Latihan batuk efektif
Tindakan :
nafas tindakan keperawatan
Observasi
berhubungan dalam waktu 2x 24
- identifikasi kemampuan batuk
dengan jam,diharapkan
hipersekresi masalah bersihan jalan - monitor adanya retensi sputum
jalan nafas napas tidak efektif - monitor tanda dan gejala infeksi
teratasi dengan kriteria saluran napas
hasil : bersihan jalan - monitor input dan output cairan
napas : (mis. Jumlah dan karakteristik )
- Batuk efektif Terapeutik
meningkat 5 - atur posisi semi fowler atau
- Produksi sputum fowler
menurun 5 - pasang perlak dn bengkok
- Ronchi menurun 5 dipangkuan pasien
- Gelisah menurun 5 - buang sekret pada tempat sputum
- Frekuensi napas Edukasi
membaik 5 - jelaskan tujuan dan prosedur
batuk efektif
- anjurkan tarik napas dalam
melalui hidung selama 4 detik,
ditahan selama 2 detik, kemudian
keluarkan dari mulut dengan bibir
mencucu ( dibulatkan ) selama 8
detik
- anjurkan mengulangi tarik napas
dalam hngga 3 kali
- anjurkan batuk dengan kuat
langsung setelah tarik napas
dalam yang ke 3
Kolaborasi
- kolaborasi pemberian mukolitik
atau ekspektoran, jika perlu
2. manajemen jalan napas
Tindakan :
Observasi
- monitor pola napas (frekuensi,
kedalamam, usaha napas )
- monitor bunyi napas tambahan
( mis. Gurgling,mengi, wheezing,
ronchi kering )
- monitor sputum ( jumlah, warna,
aroma )
Terapeutik
- pertahankan kepatenan jalan
napas dengan head-tilt dan chin-
lift (jaw-trust jika curiga trauma
servikal )
- posisikan semi fowler atau fowler
- berikan minum hangat
- lakukan fisiotherapi dada, jika
perlu
- lakukan penghisapan lendir
kurang dari 15 detik
- lakukan hiperoksigenesai sebelum
penghisapan ebdotrakeal
- keluarkan sumbatan benda padat
dengan forsep McGill
- berikan oksigen, jika perlu

Edukasi
- anjurkan asupan cairan
2000ml/hari, jika tidak
kontraindikasi
- ajarkan teknik batuk efektif
Kolaborasi
kolaborasi pemberian
bronkodilator,mukolitik jika di
perlukan.

2. Hipertermia Setelah dilakukan Manajemen hipertermia :


Tindakan
berhubungan tindakan keperawatan
Observasi
dengan proses selama 2 x 24 jam - Identifikasi penyebab hipertermi
penyakit diharapkan masalah (misal: dehidrasi)
- Monitor suhu tubuh
Hipertermi dapat
- Monitor kadar elektrolit
teratasi dengan kriteria - Monitor haluaran urine
- Monitor komplikasi akibat
hasil :
hipertermia
- Menggigil menurun
Terapeutik
(5)
- Suhu tubuh
membaik (5) - Sediakan lingkungan yang dingin
- Suhu kulit - Longgarakan atau lepaskan
membaik(5 ) pakaian
- Tekanan darah - Basahi dan kipasi permukaan
membaik ( 5 ) tubuh
- Berikan cairan oral
- Ganti linen setiap hari atau lebih
sering jika mengalami
hyperhidrosis (keringat
berlabihan)
- Lakukan pendinginan eksternal
(mis: selimut hipotermia atau
kompres dingin pada dahi, leher,
dada, abdomen, aksila)
- Hindari pemberian anti piretik
atau aspirin
- Berikan oksigen, jika perlu

Edukasi

- Anjurkan tirah baring

Kolaborasi

- Kolaborasi pemberian cairan dan


elektrolit intravena, jika perlu

3. Defisit nutrisi Setelah dilakukan Manajemen nutrisi :


Tindakan
berhubungan tindakan keperawatan
Observasi :
dengan selama 2 x 24 jam - Identifikasi status nutrisi
- Identifikasi alergi dan intoleransi
kurangnya diharapkan masalah
makanan
asupan deficit nutrisi dapat
- Identifikasi makanan yang di
makanan teratasi dengan kriteria
sukai
hasil : - Monitor asupan makanan
- Monitor hasil pemeriksaan
- Porsi makanan yang laboratorium
dihabiskan
Meningkat (5) Teurapetik
- Pengetahuan tentang
pilihan makanan - Lakukan oral hygene sebelum
yang sehat makan, jika perlu
- Sajikan makanan secara menarik
meningkat ( 5 )
- Pengetahuan tentang dan suhu yang sesuai
- Berikan makanan tinggi serat
pilihan minuman
untuk mencegah konstipasi
yang sehat - Berikan makanan tinggi kalori
meningkat ( 5 )
- Frekuensi makan dan tinggi protein
- Berikan suplemen makanan, jika
membaik ( 5 )
- Nafsu makan perlu
membaik (5)
- Bising usus Edukasi
membaik (5)
- Membran mukosa
- Ajurkan posisi duduk, jika perlu
membaik (5) - Ajarkan diet yang di programkan

Kolaborasi

- Kolaborasi pemberian medic


sebelum makan ( mis : pereda
nyeri,antiemetic) jika perlu
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
menentukan jumlah kalori dan
jenis nutrient yang dibutuhkan,
jika perlu
Manajemen imunisasi/vaksinasi
4. Risiko infeksi Setelah dilakukan Tindakan
berhubungn tindakan keperawatan Observasi
dengan selama 3x24 jam risiko -Identivikasi riwayat kesehatan dan
penyakit kronis infeksi tidak terjadi riwayat alergi
dengan kreiteria hasil -Identifikasi riwayat pemberian
imunisasi (mis.reaksi anafilaksis
- Kebersihan tangan
terhadap vaksin sebelumnya atau
meningkat (5)
sakit parah dengan atau tanpa

- Kebersihan badan demam)


meningkat (5) - identifikasi status imunisasi setiap
kunjungan kepelayanan kesehatan.
- Nafsu makan
Terapeutik
meningkat (5)
-Berikan suntikan pada bayi di
bagian paha anterolateral
- Demam menurut
-Dokumentasikan informasi
(5)
vaksinasi (mis.nama
- Kemerahan produsen,tanggal kadaruasa)
menurun (5) - jadwalkan imunisasi pada interval
waktu yang tepat.
- Nyeri menurun (5)

Edukasi
- jelaskan tujuan,manfaat reaksi yang
terjadi,jadwal dan efek samping.
- Informasikan imunisasi yang
diwajibkan pemerintah ( mis.Hepatiti
B, BCG, difteri, tetanus, pertussis,
H.influensa,polio,campak,measles,
rubela)
-Informasikan imunisasi yang
melindungi terhadap penyakit namun
saat ini tidak diwajibkan pemerintah
(mis.influensa,pneumokokus)
-Informasikan vaksinasi untuk
kejadian khusus (mis.rabies,tetanus)
-Informasikan penundaan pemberian
imunisasi tidak berarti mengulang
jadwal imunisasi kembali.
-Informasikan penyedia layanan
pekan imunisasi nasional yang
menyediakan vaksin gratis.
Pencegahan infeksi
Tindakan
Observasi
- - Monitor tanda dan gejala infeksi
local dan sistemik
- Terapeutik
- - Batasi jumlah pengunjung
- - Berikan perawatan kulit pada area
edema
- - Cuci tangan sebelum dan sesudah
kontak dengan pasien dan
lingkungan pasien
- - Pertahankan teknik aseptic pada
pasien berisiko tinggi
- Edukasi
- - Jelaskan tanda dan gejala infeksi
- - Ajarkan cara mencuci tangan
dengan benar
- - ajarkan etika batuk
- - Ajarkan cara memeriksa kondisi
luka atau luka operasi
- - Anjurkan meningkatkan asupan
nutrisi
- - Anjurkan meningkatkan asupan
cairan
- Kolaborasi
- - Kolaborasi pemberian
imunisasi,jika perlu.
CATATAN PERKEMBANGAN

No Diagnosa Implementasi Evaluasi


Keperawatan
1 Bersihan jalan Latihan batuk efektif S :Keluarga
18-11- Tindakan :
napas tidak efektif mengatakan
2019 Observasi
berhubungan anaknya masih
- Mengidentifikasi kemampuan
dengan batuk
batuk O : Keadaan umum
hipersekresi jalan
- memonitor adanya retensi
pasien lemah,batuk
nafas
sputum
masih, dahak masih
- memonitor tanda dan gejala
ada
infeksi saluran napas
A : masalah belum
Terapeutik
teratasi
- mengatur posisi semi fowler
P : Intervensi
Edukasi
keperawatan
- menjelaskan tujuan dan
dilanjutkan
prosedur batuk efektif
- menganjurkan tarik napas
dalam melalui hidung selama
4 detik, ditahan selama 2
detik, kemudian keluarkan
dari mulut dengan bibir
mencucu ( dibulatkan )
selama 8 detik
Kolaborasi
- mengkolaborasi pemberian
mukolitik atau ekspektoran

manajemen jalan napas


Tindakan :
Observasi
- memonitor pola napas
(frekuensi, kedalamam, usaha
napas )
- memonitor bunyi napas
tambahan ( mis.
Gurgling,mengi, wheezing,
ronchi kering )
- memonitor sputum ( jumlah,
warna, aroma )
Terapeutik
- memposisikan semi fowler
atau fowler
- memberikan minum hangat
Edukasi
- mengajarkan teknik batuk
efektif
Kolaborasi
- mengkolaborasi pemberian
ekspektoran, atau mukolitik

2. manajemen jalan napas


Tindakan :
Observasi
- Memonitor pola napas
(frekuensi, kedalamam, usaha
napas )
- Memonitor bunyi napas
tambahan ( mis.
Gurgling,mengi, wheezing,
ronchi kering )
- Memonitor sputum ( jumlah,
warna, aroma )
Terapeutik
- Memberikan minum hangat
- Melakukan fisiotherapi dada,
jika perlu
Edukasi
- batuk efektif
Kolaborasi
- Berkolaborasi pemberian
bronkodilator, ekspektoran,
mukolitik, jika perlu

CATATAN PERKEMBANGAN
No Diagnosa Implementasi Evaluasi
Keperawatan
2 Hipertermi  Mengidentifikasi penyebab S :
18-11-
berhubungan hipertermi (misal:dehidrasi) - Keluarga
2019
dengan proses  memonitor suhu tubuh mengatakan
 memonitor komplikasi akibat
penyakit demamnya
hipertermia
 melonggarakan atau lepaskan masih
pakaian O:
 memberikan cairan oral
- Keadaan umum
 menganjurkan tirah baring
pasien lemah
 kolaborasi pemberian cairan dan
- Kesadaran
elektrolit intravena,jika perlu
compos mentis
- Suhu : 37,8℃
- Nadi :
110x/mnt
- Rr : 30x/mnt
A:
- Hipertermi
belum teratasi
P:
- Intervensi
keperawatan
dilanjutkan

CATATAN PERKEMBANGAN
No Diagnosa Implementasi Evaluasi
Keperawatan
3. Defisit nutrisi 1. Manajemen Nutrisi S:
18-11-
berhubungan - Keluarga
2019 Tindakan
dengan mengatakan mau
kurangnya Observasi makan roti
asupan - Mengidentifikasi status - Pasien mengatakan
makanan nutrisi mual berkurang
O:
- mengidentifikasi - Keadaan umum
kebutuhan kalori dan jenis
pasien lemah
nutrisi
- Muntah tidak ada
- Memonitor hasil
- Keinginan makan
pemeriksaan laboratorium
sudah ada
Terapeutik A:
- Melakukan oral hygiene - Defisit nutrisi
sebelum makan,jka perlu teratasi sebagian
P:
- Menyajikan makanan
- Intervensi
secara menarik dan suhu keperawatan
yang sesuai dipertahankan
- memberikan suplemen
makanan,jika perlu

Edukasi

4. - menganjurkan posisi
duduk jika mampu
Risiko infeksi
- mengajarkan diet yang
berhubungan
diprogramkan
dengan
Kolaborasi
penyakit
kronis - Kolaborasi pemberian
medikasi sebelum makan
(mis.pereda
nyeri,antiemetic)

Manajemen S :-
imunisasi/vaksinasi
Tindakan O :- leukosit : 11000
Observasi
- Suhu : 38℃
-Mengidentivikasi riwayat ke
sehatan dan riwayat alergi A: Masalah belum
-mengidentifikasi riwayat teratasi
pemberian imunisasi
(mis.reaksi anafilaksis P : Intervensi
terhadap vaksin sebelumnya keperawatan dilanjutkan
atau sakit parah dengan atau
tanpa demam)
- Mengdentifikasi status
imunisasi setiap kunjungan
kepelayanan kesehatan.
Terapeutik
- Menjadwalkan imunisasi
pada interval waktu yang
tepat.

Edukasi
- Mengiformasikan imunisasi
yang diwajibkan pemerintah
( mis.Hepatitis B, BCG,
difteri, tetanus, pertussis,
H.influensa,
polio,campak,measles,rubela)
-Menginformasikan penyedia
layanan pekan imunisasi
nasional yang menyediakan
vaksin gratis.
Pencegahan infeksi
Tindakan
Observasi
- - Memonitor tanda dan gejala
infeksi local dan sistemik
- Terapeutik
- - Membatasi jumlah
pengunjung
- -Mencuci tangan sebelum dan
sesudah kontak dengan pasien
dan lingkungan pasien
- - Mempertahankan teknik
aseptic pada pasien berisiko
tinggi
- Edukasi
- - Menjelaselaskan tanda dan
gejala infeksi
- - Mengajarkan cara mencuci
tangan dengan benar
- - Mengajarkan etika batuk
- - meningkatkan asupan nutrisi
- - Menganjurkan meningkatkan
asupan cairan
- Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian
imunisasi,jika perlu.
CATATAN PERKEMBANGAN

No Diagnosa Implementasi Evaluasi


Keperawatan
1 Bersihan jalan Latihan batuk efektif S:Keluarga mengatakan
19-11- Tindakan :
napas tidak anaknya batuk
2019 Observasi
efektif berkurang
- Mengidentifikasi O : Keadaan umum
berhubungan
kemampuan batuk pasien sedang,batuk
dengan
- memonitor adanya retensi
berkurang, dahak
hipersekresi
sputum
masih ada
jalan nafas - memonitor tanda dan
A : masalah teratasi
gejala infeksi saluran napas
P : Intervensi
Terapeutik
keperawatan dihentikan,
- mengatur posisi semi
fowler

Edukasi
- menjelaskan tujuan dan
prosedur batuk efektif
- menga
Kolaborasi
- mengkolaborasi pemberian
mukolitik atau ekspektoran

manajemen jalan napas


Tindakan :
Observasi
- memonitor pola napas
(frekuensi, kedalamam,
usaha napas )
- memonitor bunyi napas
tambahan ( mis.
Gurgling,mengi, wheezing,
ronchi kering )
- memonitor sputum
( jumlah, warna, aroma )
Terapeutik
- memposisikan semi fowler
atau fowler
- memberikan minum hangat
Edukasi
- mengajarkan teknik batuk
efektif

Kolaborasi
- mengkolaborasi pemberian
ekspektoran, atau mukolitik

2. manajemen jalan napas


Tindakan :
Observasi
- Memonitor pola napas
(frekuensi, kedalamam,
usaha napas )
- Memonitor bunyi napas
tambahan ( mis.
Gurgling,mengi, wheezing,
ronchi kering )
- Memonitor sputum
( jumlah, warna, aroma )
Terapeutik
- Memberikan minum
hangat
- Melakukan fisiotherapi
dada, jika perlu
Edukasi
- batuk efektif
Kolaborasi
Mengkolaborasi pemberian
bronkodilator, ekspektoran,
mukolitik, jika perlu

Anda mungkin juga menyukai